MAKALAH
POLITIK KEUANGAN NEGARA
‘KEBIJAKAN FISKAL’
Dosen Pengampu :
Drs. Ismono Hadi M.Si
Oleh
Alek Sanjaya
15160210
JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wb. Wb,
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat allah SWT yang telah membarikan segala karunia dan rahmat sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang kebijakan fiskal tepat pad waktunya.
Makalah ini berisi tentang deskripsi kebijakan fiskal, semua hal yang menyangkut perancangan, hingga asas yang digunakan dalam penyusunan APBN dan APBD di Indonesia. dalam penulisan makalah inipenulis merasa masih banyak
kekurangan baik dalam penyampaian materi maupun format penulisan, maka dari itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis butuhkan untuk terus menjadi acuan dalam proses belajar dan pengingat bagi penulis agar selalu menyempurnakan tulisannya.
Terlepas dari semua hal itu, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pribadi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya, amiin.
Wassalamualaikum wr.wb.
Bandar Lampung, 04 November 2016 Penulis,
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Pengertian Kebijakan Fiskal ...1
1.2 Pengertian APBN dan APBD...1
1.3 Fungsi APBN dan APBD...2
1.4 Penyusunan APBN dan APBD...2
1.5 Prinsip Dan Asas Penyusunan APBN/APBD...4
BAB II 2.1 Contoh Fakta Penyusunan APBD Di Kabupaten/Kota...6
BAB III KESIMPULAN...13
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Kebijakan Fiskal
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih mekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendapatkan dana-dana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan pembangunan. Atau dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah kebjakan pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran Negara. Dari semua unsure APBN hanya pembelanjaan Negara atau pengeluaran dan Negara dan pajak yang dapat diatur oleh pemerintah dengan kebijakan fiscal. Contoh kebijakan fiscal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi,pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran.
1.2 Pengertian APBN DAN APBD A. Pengertian APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disebut APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN ini merupakan rencana kerja pemerintahan Negara dalam rangka meningkatkan hasil-hasil pembangunan secara berkesinambungan serta melaksanakan desentralisasi fiskal.
B. Pengertian APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disebut APBD, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
1.3 Fungsi-Fungsi APBN DAN APBD A. Fungsi APBN
Anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen, dan kebijakan ekonomi. Sebagai instrumen kebijakan ekonomi anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan dan stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Dengan demikian APBN melaksanakan beberapa fungsi antara lain :
1. Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 4. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara harus
diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. 5. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara
harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
6. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.
B. Fungsi APBD
Sebagaimana fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, maka APBD berfungsi sebagai otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi.
Anggaran negara pada suatu tahun secara sederhana bisa dibaratkan dengan anggaran rumah tangga ataupun anggaran perusahaan yang memiliki dua sisi, yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran.
Dalam menyusun anggaran, penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dihadapkan dengan berbagai ketidak pastian. Setidaknya terdapat enam sumber ketidakpastian yang berpengaruh besar dalam penentuan volume APBN yakni (i) harga minyak bumi di pasar internasional; (ii) kuota produksi minyak mentah yang ditentukan OPEC; (iii) pertumbuhan ekonomi; (iv) inflasi; (v) suku bunga; dan (vi) nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika (USD).
Penetapan angka-angka keenam unsur diatas memegang peranan yang sangat penting dalam penyusunan APBN. Hasil penetapannya disebut sebagai asum-asumsi dasar penyusunan RAPBN. Penetapan angka asumsi ini dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari wakil-wakil dari Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kantor Menteri Koordinator Perekonomian, dan Badan Pusat Statistik, yang bersidang secara rutin untuk membahas dan menentukan angka asumsi. Angka-angka asumsi yang dihasilkan oleh tim ini selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk menyusun RAPBN. Perlu diketahui bahwa angka-angka yang tertera ini masih berupa usulan dari pihak eksekutif (pemerintah) kepada pihak legislatif (DPR).
Selanjutnya RAPBN ini disampaikan oleh Presiden kepada DPR dalam suatu sidang paripurna yang merupakan awal dari proses pembahasan RAPBN antara pemerintah dan DPR. Tentunya perubahan terhadap angka asumsi RAPBN sangat mungkin terjadi selama berlangsungnya proses pembahasan antara Pemerintah dan DPR. Perubahan ini mencerminkan banyak hal diantaranya (i) Pemerintah dan DPR bertanggungjawab terhadap keputusan penetapan angka-angka asumsi dalam APBN; (ii) angka asumsi ditetapkan berdasarkan pertimbangan ekonomi dan politik; dan (iii) terjadi pergeseran secara riil status APBN, dari “milik pemerintah” menjadi “milik publik”.
Sesudah RAPBN disetujui oleh DPR, RAPBN kemudian ditetapkan menjadi APBN melalui Undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui Rancangan Undang-undang APBN, Pemerintah Pusat dapat melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBN tahun anggaran sebelumnya.
provinsi/kabupaten/kota dan alokasi subsidi sesuai dengan keperluan perusahaan/badan yang menerima.
B. Penyusunan APBD
APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan Peraturan Daerah. APBD terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan. Pendapatan daerah berasal dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah.
Sebagaimana penyusunan APBN, maka langkah-langkah penyusunan APBD adalah sebagai berikut :
Pemerintah Daerah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD, disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD pada minggu pertama bulan Oktober tahun sebelumnya. Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dilakukan selambat-lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.
Sesudah RAPBD disetujui oleh DPR, RAPBD kemudian ditetapkan menjadi APBD melalui Peraturan daerah. Apabila DPRD tidak menyetujui Rancangan Peraturan Daerah yang diajukan Pemerintah Daerah, maka untuk membiayai keperluan setiap bulan Pemerintah Daerah dapat melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya.
Setelah APBD ditetapkan dengan peraturan daerah, pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota.
1.5 Prinsip Dan Asas Penyusunan APBN DAN APBD A. Prinsip Penyusunan APBN
1. Prinsip Penyusunan APBN Berdasarkan Aspek Pendapatan
Intensifikasi penerimaan anggaran dalam hal jumlah dan kecepatan
penyetoran.
Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara, misalnya sewa
atas penggunaan barang-barang milik negara.
Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dari denda
yang telah dijanjikan.
2. Prinsip Penyusunan APBN Berdasarkan Aspek Pengeluaran Negara
Hemat, tidak mewah, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang
Terarah, terkendali sesuai dengan rencana, program/kegiatan.
Semaksimal mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan
memperhatikan kemampuan/potensi nasional.
B. Azas Penyusunan APBN
Penyusunan program pembangunan tahunan dituangkan dalam APBN denga berazaskan:
Kemandirian, artinya sumber penerimaan dalam negeri semakin
ditingkatkan.
Penghematan atau peningkatan efisiensi dan produktivitas. Penajaman prioritas pembangunan.
C. Prinsip Penyusunan APBD
Penyusunan APBD Tahun Anggaran harus didasarkan prinsip sebagai berikut:
1. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah
2. APBD harus disusun secara tepat waktu sesuai tahapan dan jadwal 3. Penyusunan APBD dilakukan secara transparan,dimana memudahkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi Iuasnya tentang APBD
4. Penyusunan APBD harus melibatkan partisipasi masyarakat 5. APBD harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
6. Substansi APBD dilarang bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi dan peraturan daerah lainnya.
D. Asas Umum Penyusunan Rancangan APBD
Penyusunan program pembangunan tahunan dituangkan dalam APBD denga berazaskan:
a. Asas pendanaan atas beban APBD sesuai urusan pemerintah dan kewenangan masing-masing. asas ini mengandung arti bahwa penyelengaraan urusan pemerintah yang menjadi kewengan daerah didanai dari dan atas beban APBD, penyelenggaraan urusan pemerintah provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada kabupaten/kota/desa, didanai dari dan atas beban APBD provinsi , penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa , didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota.
Asas ini mengandung arti bahwa seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah baik dalam bentuk uang , barang dan /atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD, penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasara hukum penganggaran , dan anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk u7ntuk melaksanakan kewajiban pemerintah daerah sebagaimana ditetapkan dalamperaturan perundang undangan
BAB II
2.1 CONTOH FAKTA PENYUSUNAN APBD DI KABBUPATEN/KOTA
Dalam menyusun APBD Tahun Anggaran, pemerintah daerah dan DPRD harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Penetapan APBD tepat waktu, yaitu paling lambat tanggal 31 Desember Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan APBD
N O
URAIAN WAKTU LAMA
1 Penyusunan RKPD Akhir bulan Mei
2 Penyampaian KUA dan PPAS oleh Ketua TAPD kepada kepala daerah
Minggu 1bulan
Juni 1minggu
3 Penyampaian KUA dan PPAS oleh kepala daerahkepada DPRD
Pertengahan bulan Juni
6
minggu 4 KUA dan PPAS disepakati antara
kepala daerahdan DPRD
5 Surat Edarankepala daerah
perihal Pedoman RKA-SKPD Awal bulanAgustus 1 Minggu 6 Penyusunan dan pembahasan
RKA-SKPD danRKA-PPKD serta penyusunan Rancangan APBD
Awal Agustus sampai dengan akhir September
7 Minggu
7 Penyampaian Rancangan APBD kepadaDPRD 9 Hasil evaluasi Rancangan APBD 15 hari kerja (bulan
Desember) 10 Penetapan Perda APBD dan
Perkada Penjabaran APBD sesuai denganhasil evaluasi
Paling Lambat Akhir Desember (31 Desember)
2. Substansi KUA mencakup hal-hal yang sifatnya kebijakan umum dan tidak menjelaskan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang sifatnya kebijakan umum,seperti:
(a) Gambaran kondisi ekonomi makro termasuk perkembangan indikator ekonomi makro daerah;
(b) Asumsi dasar penyusunan Rancangan APBD Tahun Anggaran 2012 termasuk laju inflasi,pertumbuhan PDRB dan asumsi lainnya terkait dengan kondisi ekonomi daerah; manifestasi darisinkronisasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintahserta strategi pencapaiannya;
(e) Kebijakan pembiayaan yang menggambarkan sisi defisit dan surplus anggaran daerah sebagai antisipasi terhadap kondisi pembiayaan daerah dalam rangka menyikapi tuntutan pembangunan daerahserta strategi pencapaiannya. 3. Substansi PPAS lebih mencerminkan prioritas pembangunan daerah yang
DPRD serta rancangan peraturan daerah tentang APBD tersebut ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD.
4. Untuk menjamin konsistensi dan percepatan pembahasan rancangan KUA dan rancangan PPAS, kepala daerah harus menyampaikan rancangan KUA dan rancangan PPAS tersebut kepada DPRD dalam waktu yang bersamaan, yang selanjutnya hasil pembahasan kedua dokumen tersebut disepakati bersama antara kepala daerah denganDPRD pada waktu yang bersamaan, sehingga keterpaduan substansi KUA dan PPAS dalam proses penyusunan RAPBD akan lebih efektif.
5. Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh RKA-SKPD danRKA-PPKD kepada Satuan Kerja Pengelola KEuangan Daerah (SKPKD)memuat prioritas pembangunan daerah, program dan kegiatan sesuai dengan indikator, tolok ukur dan target kinerja dari masing-masing program dan kegiatan, alokasi plafon anggaran sementara untuk setiap programdan kegiatan SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD, dan dokumen lainnya sebagaimana lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan standar satuan harga.
6. RKA-SKPD memuat rincian anggaran pendapatan, rincian anggaran belanja tidak langsung SKPD (gaji pokok dan tunjangan pegawai, tambahan penghasilan, khusus pada SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan juga Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD), rincian anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan SKPD.
7. RKA-PPKD memuat rincian pendapatan yang berasal dari dana perimbangan dan pendapatan hibah, belanja tidak langsung terdiri dari belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga, rincian penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
8. Dalam kolom penjelasan penjabaran APBD diisi lokasi kegiatan untuk kelompok belanja langsung, sedangkan khusus untuk kegiatan yang pendanaannya bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBH-DR), Dana Alokasi Khusus, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus, Hibah, Bantuan Keuangan yang bersifat khusus, Pinjaman Daerahserta sumber pendanaan lainnya yang kegiatannya telah ditentukan,agar mencantumkan sumberpendanaan dalam kolom penjelasan penjabaran APBD.
daerah dan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan realitas politik di daerah.
Dalam hal kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang APBD Tahun Anggaran 2012, maka kepala daerah harus memperhatikan hal-hal sebagaiberikut:
a. Anggaran belanja daerah dibatasi maksimum sama dengan anggaran belanja daerah dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2011. b. Belanja daerah diprioritaskan untuk mendanai belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib untuk terjaminnya
kelangsungan pemenuhan pelayanan dasar masyarakat sesuai dengan kebutuhan Tahun Anggaran 2012.
c. Pelampauan batas tertinggi dari jumlah pengeluaran hanya
diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji dan tunjanga PNSD serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah serta belanja bagi hasil pajak dan retribusi daerah yang mengalami kenaikan akibat adanya kenaikan target pendapatan daerah dari pajak dan retribusi dimaksud dari tahun anggaran 2011.
10. Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD paling lambat (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir, sedangkan persetujuan bersama terhadap rancangan peraturan daerah dimaksud paling lambat1 (satu) bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterimaoleh DPRD,
Dalam hal rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Tahun Anggaran2011 belum mendapatkan persetujuan bersama, kepala daerah dapat menetapkan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2011 dengan peraturan kepala daerah.Terkait denganuraian tersebut di atas, pelaksanaan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2012 harus dilakukan setelah penetapan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan
APBDTahun Anggaran 2011dan persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2012ditetapkan paling lambat pada akhir bulan September 2012, dengan tahapan penyusunan dan jadwal sebagai berikut:
Tahapan dan Jadwal Proses Penyusunan APBD
No Uraian Waktu Lama
1 Penyampaian Rancangan
Perubahan KUA dan PPAS kepada DPRD
Minggu pertama
Agustus 2 Kesepakatan Perubahan
KUA dan PPAS antara Kepala Daerah dan DPRD
Minggu kedua Agustus 7 hari kerja
3 Pedoman Penyusunan RKA-SKPD Perubahan APBD
Minggu ketiga Agustus
berserta lampiran kepada DPRD September 5 Pengambilan persetujuan bersama
DPRD dan kepala daerah terhadap Raperda Perubahan 6 Penyampaian kepada Menteri
Dalam Negeri/gubernur untuk dievaluasi
Pertengahan Oktober 15 hari kerja
8 Pengesahan PerdaPAPBDyang telah dievaluasi dan dianggap sesuai dengan ketentuan
Pertengahan Oktober
9 Penyempurnaan perda sesuai hasil evaluasi apabila dianggap bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan yang lebih tinggi
Minggu ke-III Oktober 7 hari kerja
10 Pembatalan Perda PAPBD apabila tidak dilakukan penyempurnaan
11 Pencabutan Raperda PAPBD Minggu ke-I Nopember 7 hari kerja
12 Pemberitahuan untuk diperkenankan untuk menganggarkan kegiatan pada kelompok belanja langsung dan jenis belanja bantuan keuangan yang bersifat khusus kepada kabupaten/kota/desapada kelompok belanja tidak langsung, apabila dari aspek waktu dan tahapan kegiatan sertabantuan keuangan yang bersifat khusus tersebut tidak cukup waktu sampai dengan akhir Tahun Anggaran 2012.
12. Dalam rangka mengantisipasi pengeluaran untuk keperluan pendanaan keadaan daruratdan keperluan mendesak, pemerintah daerah harus mencantumkan kriteria belanja untuk keadaan daruratdan keperluan mendesakdalam peraturan daerah tentang APBD.
daerah wajib dilakukan evaluasi sesuai ketentuan Pasal 185, Pasal 186, dan Pasal 188 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, jo. Pasal 110, Pasal 111, Pasal 173, Pasal 174, Pasal 303, dan Pasal 306 Peraturan
BAB III KESIMPULAN
a. kebijakan fiskal adalah kebjakan pemerintah yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran Negara
b. APBN dan APBD ini merupakan rencana kerja pemerintahan Negara dalam rangka meningkatkan hasil-hasil pembangunan secara berkesinambungan serta melaksanakan desentralisasi fiskal.
c. Sebagaimana fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, maka APBD berfungsi sebagai otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Republik Indonesia (http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kolom/detailkolom.asp?
NewsID=N119258959)
http://bappeda.banjarmasinkota.go.id/2015/03/proses-penyusunan-apbd-i-provinsi-dan.html
http://dppkd.gorontalokab.go.id
http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-fungsi-tujuan-apbn-dan-apbd.html?showComment=1463541684211
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 tahun 2011 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012