ANALISIS TERHADAP KASUS AKUISISI INDOSAT OLEH QTEL
DAN KRITIK TERHADAP PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL
Nama
: ZIAD ABDULLAH
NIM
: E1AO12295
KELAS
:
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas ini yang berjudul ANALISIS TERHADAP KASUS AKUISISI INDOSAT OLEH QTEL DAN KRITIK TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BIDANG PENANAMAN MODAL
Kasus :
Baik BKPM maupun Bapepam-Lk memang telah menegakan tujuan dari pembatasan kepemilikan modal asing dalam suatu perusahaan PMA dalam kasus ini, akan tetapi apabila dilihat secara objektif dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka timbul beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1. Qtel memang telah melakukan akuisisi, walaupun tidak langsung yaitu melalui akuisisi ICLM dan ICLS sebagai pemegang saham indosat, walaupun demikian dipertanyakan apakah Qtel telah melakukan Penanaman Modal Asing langsung sehingga harus tunduk pada pembatasan kepemilikan modal asing sebagaimana diatur dalam Pepres 111 tahun 2007 yang telah diganti oleh Pepres 36 Tahun 2007? 2. Qtel membeli sisa saham Indosat melalui tender offer di pasar modal, mengapa jumlahnya dibatasi? dan mengapa tender offer dilakukan hingga dua kali dengan perbedaan presentse saham yang diizinkan untuk dibeli sedangkan berdasarkan peraturan di bidang pasar modal berkenaan dengan akuisisi perusahaan terbuka (Peraturan No. IX.H.1), dalam rangka akuisisi pengendali perusahaan wajib melakukan tender offer atas sisa saham atau efek bersifat ekuitas perusahaan terbuka kecuali efek yang dimiliki pemegang saham utama atau pengendali lain dalam perusahaan tersebut dimaksud adalah pembelian saham perusahaan PMA oleh pemodal baik atas saham yang baru diisukan atau saham pemegang saham perusahaan tersebut. Pembelian saham yang dilakukan oleh Qtel dalam proses akuisisi indosat adalah sebagai berikut:
a. Pembelian saham ICLM dan ICLS dari STT sehingga saham ICLM DAN ICLS secara total dimiliki oleh Qtel;
b. Pembelian saham Indosat melalui tender offer
yang dimiliki STT. Berkenaan dengan pembelian saham indosat melalui tender offer oleh Qtel, hal itu tidak memenuhi ketentuan UU penanaman Modal karena berdasarkan Pasal 2 UU Penanaman Modal jo Pasal 4 Pepres 36 Tahun 2010, hal itu tidak dikategorikan sebagai penanaman modal langsung. Berdasarkan uraian di atas maka penulis sepandangan dengan pendapat Erman Rajaguguk dalam suatu artikel di internet bahwa Qtel tidak melakukan investasi langsung. Adapun prihal Qtel menempatkan orangnya di dewan komisaris Indosat, menjadi pertanyaan apakah itu yang menjadi dasar dari anggapan pihak-pihak yang menganggap Qtel melakukan investasi langsung. Seharusnya undang-undang menetapkan unsure-unsur apa saja yang harus dipenuhi apabila suatu investasi disebut sebagai investasi langsung, sehingga tidak terjadi multitafsir. Dapat dicontoh undang-undang investasi Vietnam dan Korea Selatan yang menentukan dalam hal apa suatu investasi disebut sebagai investasi langsung.
Perlu diberi catatan berkenaan dengan dikeluarkannya Pepres 36 Tahun 2010 yang menggatikan Pepres 111 Tahun 2007, menurut penulis merupakan salah satu akibat mengemukanya kasus akuisisi Indosat oleh Qtel. Dalam salah satu ketentuan dalam aturan tersebut (Pepres 36 Tahun 2010), dinyatakan bahwa dalam hal terjadi akuisisi maka presentase kepemilikan modal asing dalam suatu perusahaan tidak boleh melebihi surat persetujuan yang diberikan pada perusahaan tersebut.Tentunya dala hal ini pemerintah akan melihat batasan prsentase dalam peraturan yang berlaku.
2. Dilakukannya tender offer sebanyak dua kali, terutama dikarenakan menyangkut presentase saham yang dapat dibeli oleh Qtel dalam tender offer menunjukan bahwa terdapat perbedaan pemahaman dan pandangan di antara pihak yang berwenang berkenaan dengan pengaturan penanaman modal asing langsung dikaitkan dengan penanaman modal asing melalui pasar modal. Pada tender offer yang pertama Qtel bermaksud membeli sekitar 34% saham indosat yang berada di tangan publik, hal itu menurut penulis diperkenankan berdasarkan dua peraturan yaitu:
· Keputusan Menteri Keuangan No. 455/KMK.01/1997 Tentang Pembelian Saham oleh Pemodal Asing Melalui Pasar Modal;
· Peraturan Nomor IX.H.I Tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka
Pada tender offer yang kedua, Qtel hanya diperkenankan membeli sekitar 24% saham indosat. Apabila dikaji hal itu menurut penulis berdasarkan pertimbangan berikut:
Pepres 111 Tahun 2007 maka Qtel hanya diiainkan membeli saham sekitar 24% melalui tender offer dalam hal ini, pemerintah menganggap Q tel, ICLM dan ICLS adalah satu yaitu Qtel karena memang ICLM dan ICLS dimiliki oleh Qtel, sehingga kepemilikan Indosat baik langsung atau tidak langsung oleh Qtel maksimal 65%. Adapun dapat saja pertimbangan pemerintah adalah dikarenakan ICLS dan ICLM merupakan perusahaan asing dengan kata lain di Indosat mereka merupakan pemodal asing ditambah lagi Qtel yang bermaksud memiliki Qtel sehingga dalam hal ini pemerintah melihat adal 3 perusahaan asing yang berkedudukan sebagai pemodal asing dan oemegang saham pengendali. Dalam hal ini pemerintah berusaha menegakan aturan bahwa maksimal kepemilikan asing baik secara total adalah 65% tanpa memperdulikan brapa masing presentase kepemilikan saham pemodal asing untuk menghindari perlakuan pembatasan kepemilikan modal asing yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal beda pula sehingga timbul disharmoni peraturan. Pemodal asing tentunya dapat berlindung pada ketentuan di bidang pasar modal dengan kata lain ia memiliki landasan pembenarannya. Hal tersebut didukung pula dengan adanya ketentuan dalam bidang penanaman modal langsung yang menyatakan pengaturan di dalamnya tidak berlaku terhadap penanaman tidak langsung dan penanaman modal melalui pasar modal.
asing tidak langsung serta penanaman modal asing melalui pasar modal dengan mencabut beberapa ketentuan dalam bidang penanaman modal langsung serta mengadakan pengaturan kiranya salah satu di antara dua hal berikut:
Bahwa pembatasan presentase kepemilikan modal asing yang diatur dalam pepres 36 tahun 2010 berlaku pula apabila perusahaan melakukan go public. Konsekuensi dari pengaturan ini maka perlu dilakukan deregulasi di bidang pasar modal. Perlu dipikirkan cara agar pemodal asing tidak memiliki saham perusahaan PMA yang go public melebihi batasan presentase kepemilikan saham yang berlaku.
Suatu perusahaan yang didirikan dalam rangka PMA dilarang untuk melakukan go public dengan dasar pertimbangan: