i
KEDUDUKAN KETETAPAN MPR (TAP MPR) DALAM HIERARKI PERATURAN PERUNDANGAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
T E S I S
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum (M.H)
Pada
Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
Oleh
F I D E L I A
NIM. 20102505028BKU: HTN/HAN
PASCASARJANA
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis : Kedudukan Ketetapan MPR (TAP MPR) Dalam Hierarki Peraturan Perundang-undangan Menurut Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Nama Mahasiswa : F I D E L I A
Nomor Induk Mahasiswa : 20102505028
Program Studi : Ilmu Hukum
Bidang Kajian utama : Hukum Tata Negara/ Hukum Administrasi Negara
Menyetujui:
Dosen Pembimbing,
Dr. Febrian,S.H., M.S Dr. Firman Muntaqo, S.H.,M.Hum Pembimbing Pertama Pembimbing Kedua
Ketua Program Studi Dekan
Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sriwijaya
Dr. Zen Zanibar MZ, S.H.,M.H. Prof. Amzulian Rifai, S.H.,LL.M.,Ph.D. NIP. 19521224 198012 1 002 NIP. 19641202 199003 1 003
iii
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama Mahasiswa : F I D E L I A
NIM : 20102505028
Program Studi : Ilmu Hukum
Bidang Kajian utama : Hukum Tata Negara/ Hukum Administrasi Negara
Dengan ini menyatakan bahwa tesis ini tidak memuat bahan-bahan yang
sebelumnya telah diajukan untuk memperoleh gelar di Perguruan Tinggi manapun
tanpa mencantumkan sumbernya. Tesis ini juga tidak memuat bahan-bahan yang
sebelumnya telah dipublikasi atau ditulis oleh siapapun tanpa mencantumkan
sumbernya dalam teks.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan apabila terbukti
dikemudian harinya bahwa saya telah melakukan hal-hal yang bertentangan
dengan pernyataan ini, maka saya bersedia bertanggung jawab atas segala
akibatnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagaimana mestinya.
Palembang, Mei 2013
iv
Penyelesaian tesis ini tidak lepas dari peran dan kebaikan berbagai pihak, untuk itu sudah sepatutnya penulis menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1. Rektor Universitas Sriwijaya Prof. Dr. Badia Perizade, MBA., yang telah memperkenankan penulis untuk mengikuti pendidikan Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Hukum di Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Prof. Amzulian Rifai, S.H., L.L.M , Ph.D.,atas segala bimbingan, arahan dan kemudahan dalam mengikuti pendidikan S2.
3. Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya, Dr. Zen Zanibar MZ, SH.,MH., atas segala bimbingan, bantuan dan
kemudahan dalam mengikuti pendidikan S2.
4. Bapak Dr. Febrian, S.H., M.S selaku Dosen Pembimbing I yang dengan ketulusan, kesabaran, kecerdasan, dan kebijaksanaannya telah berkenan membimbing dan terus memberi dorongan kepada penulis untuk segera menyelesaikan tesis ini.
5. Bapak Firman Muntaqo, S.H.,M.Hum selaku Dosen Pembimbing II yang telah berkenan membimbing, dan juga terus memberi dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
6. Para dosen, dan seluruh pengajar di Program Magister Ilmu Hukum Univeritas
Sriwijaya, yang dengan tulus telah memberikan ilmunya dan menumbuhkan motivasi kepada penulis untuk mendalami ilmu hukum;
7. Seluruh rekan-rekan seangkatan sesama mahasiwa S2 Angkatan 2010.
8. Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang terdekat dan kepada seluruh keluarga besar yang dengan berbagai
pengorbanan, do’a, harapan dan motivasi yang sungguh tak ternilai. yang selalu mendorong penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya penulis bersyukur kepada Allah SWT, karena atas izin dan ridhoNya-lah penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Palembang, Mei 2013
v Motto:
“Bukan sejauh mana kita mampu bermimpi, tapi sejauh
mana kita berusaha mewujudkannya.. ”
( Penulis )
Persembahan:
Dengan Segala Kerendahan Hati
Ku persembahkan Tesis ini kepada:
Orang-orang Terkasihku
vi ABSTRACT
In the reform period, the most fundamental repositioning occured the
People’s Consultative Assembly who had been positioned as the highest state
institution as the embodiment of popular sovereignty become a state institution that has the same with other state agencies. This status change also made the products of law of People's Consultative Assembly (MPR) to change. One 0f the
products of MPR is the TAP MPR which is also the form of MPR’s decrees
contain the matters of stipulation.
Though the Act of 12/2011 (as substitute of Act 10/2004) the MPR’s Decision was included as part of types and hierarchies of statutes under UUD 1945. although MPR was not authorized to make a stipulation, there were some categories of TAP MPR that was still valid and could not be revoked or changed with laws, and the category of TAP MPR that was still valid as long as it was not ruled in laws. The review on legal status and matter to temporarily assembly legislation (MPRS) and other which is established by official assembly legislation (MPR) of Indonesia Republic No. I/MPR/2003. moreover the existence of the MPR is not as supreme institution so that the law products can be examined by other state institutions.
The position of the Resolution of People's Consultative Assembly (TAP MPR) of Act 12/ 2011 until now still causes a number of questions. Such as how is the position of TAP MPR in the Act of 12/ 2011 in legal theory? As juridis
implication, who has authority to examine the MPR’s Decision if it was
considered contrary to UUD 1945?
The research method used is a method of normative legal research which aims to describe, explain and analyze the position of TAP MPR/MPRS that put back in the Act of . 12/2011. The research approach used is statutory regulation approach, a legal history approach,and conceptual approach
vii ABSTRAK
Pasca reformasi, terjadi perubahan secara fundamental pada lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang semula berkedudukan sebagai Lembaga Tertinggi Negara menjadi Lembaga Negara yang mempunyai kedudukan yang setara dengan Lembaga Negara lainnya. Perubahan status ini membuat produk hukum yang dihasilkan oleh MPR juga berubah. Salah satu produk hukum yang dihasilkan oleh MPR adalah Ketetapan MPR atau TAP MPR yang merupakan bentuk putusan MPR yang berisi hal-hal yang bersifat penetapan. Melalui Undang-undang Nomor 12 tahun 2011 (sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004) Ketetapan MPR (TAP MPR) termasuk ke dalam jenis dan hirarki peraturan perundang-undangan dibawah UUD 1945. Meskipun MPR tidak lagi berwenang membuat ketetapan, namun masih terdapat beberapa kategori TAP MPR yang masih tetap berlaku dan tidak dapat dicabut atau diganti dengan undang-undang, serta kategori TAP MPR yang masih berlaku sepanjang belum diatur dalam Undang-Undang. Dalam hal ini, kedudukan Materi dan Status Hukum TAP MPR/MPRS tersebut diatur dalam Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003. Dikarenakan Kedudukan MPR sekarang bukan lagi sebagai Lembaga Tertinggi Negara, maka produk hukum MPR dapat diujikan oleh lembaga negara lainnya.
Kedudukan TAP MPR pasca penetapan Undang-Undang No.12 Tahun 2011 hingga saat ini masih menimbulkan sejumlah pertanyaan, antara lain Bagaimana kedudukan TAP MPR dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 secara teoritis?, lembaga mana yang berwenang untuk menguji Ketetapan Majelis Persmusyawaratan Rakyat yang bertentangan dengan UUD 1945?
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. yang
menggambarkan, menelaah, menjelaskan serta menganalisis kedudukan ketetapan MPR/MPRS yang dicantumkan kembali dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2011. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan sejarah hukum dan pendekatan konseptual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara teoritis TAP MPR bukanlah merupakan peraturan perundang-undangan namun kedudukan TAP MPR sangat relevan dan memiliki nilai strategis dalam sistem hukum ketatanegaraan karena yang diatur dalam TAP MPR menyangkut hal-hal fundamental yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Secara yuridis bahwa tidak ada satu pun lembaga yang memiliki kewenangan untuk menguji Ketetapan MPR terhadap Undang-Undang Dasar, dengan melihat Undang-Undang Dasar sebagai
Aturan Dasar/Staatfundamental norm tidak menyebutkan lembaga mana yang