Dokumen Elektronik Sebagai Alat Bukti Dalam Perspektif Pembaruan Hukum Acara Perdata Indonesia

Teks penuh

(1)

BAB II

DASAR PENGATURAN DOKUMEN ELEKTRONIK SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM HUKUM ACARA PERDATA

DI INDONESIA

A. Tinjauan Umum Tentang Hukum Acara Perdata

1. Definisi Hukum Acara Perdata

Hukum merupakan kata yang memiliki banyak sisi dan segi sehingga

dalam perumusan definisi sangat sulit untuk memberikan sebuah keseragaman.51

Tidak hanya mengandung banyak sisi dan segi, hukum juga memiliki

bermacam-macam pembagian.52 Salah satu bentuk pembagiannya ialah menurut

cara mempertahankannya. Hukum menurut cara mempertahankannya terbagi

menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :53

b. hukum formil. a. hukum materil;

Ibrahim, Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia Publishing, 2012), hal. 393

51

L. J. Van Apeldoorn : De veelzijdegheid en veelomvattendheid van het recht bregen niet

allen met zich, dat het onmegelijkheid in een enhele definitie aan te geeven wat recht is, artinya bahwa

hukum yang banyak seginya dan meliputi segala macam hal yang menyebabkan tak mungkin orang membuat suatu definisi apa sebenarnya hukum itu. Lihat Ade Maman Suherman, Pengantar

Perbandingan Sistem Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hal. 6

52 C.S.T. Kansil, Op.Cit, hal. 73-75

53 Dalam literatur hukum lainnya, hukum menurut cara mempertahankannya menggunakan istilah hukum menurut cara pemeliharaannya. Lihat Surojo Wignjodipuro, Pengantar Ilmu Hukum:

(2)

Hukum materil yang merupakan aturan-aturan tertulis dan tidak tertulis

memiliki peranan mengatur hubungan kepentingan (hak dan kewajiban) antara

subjek hukum dengan isi berupa perintah dan larangan bila terlanggar maka akan

digunakan hukum formil untuk menegakkan hukum materil.54 Artinya, antara

hukum materil dan formil memiliki hubungan timbal balik. Tanpa hukum materil

maka hukum formil akan kehilangan lapangannya dalam proses penegakan

hukum begitu juga hukum formil jika tidak ada hukum materil yang terjadi, yaitu

hukum materil yang terlangar tidak memiliki tempat untuk menegakkannya.55

Salah satu bentuk hukum formil atau hukum acara ialah hukum acara

perdata.56 Hukum acara perdata yang meliputi ketentuan-ketentuan yang memberi

jalan cara bagaimana subjek hukum harus bertindak untuk dapat memulihkan

kembali haknya tanpa melanggar hukum57

54 C.S.T. Kansil, Op.Cit, hal. 73 55

Ibid, hal. 329

56 Hukum acara dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu : hukum acara perdata, hukum acara pidana dan hukum acara tata usaha negara. Lihat E. Utrecht, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Ichtiar, 1966), hal. 67

57

M. Abdurrachman, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Universitas Trisakti, 2008), hal. 3

, memiliki banyak definisi yang pada

dasarnya memiliki kesamaan antara satu sama lain.

Berikut beberapa definisi hukum acara perdata menurut para ahli, yaitu :

(3)

a. Sudikno Mertokusumo mengatakan, “hukum acara perdata adalah peraturan

hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum

perdata materiil dengan putusan hakim”.58

b. R. Supomo mengatakan, “dalam peradilan perdata tugas hakim ialah

mempertahankan tata hukum perdata (burgerlijke rechtsorde) memetapkan

apa yang ditentukan oleh hukum dalam suatu perkara”.59

c. Wirjono Projodikuro mengatakan, “hukum acara perdata adalah rangkaian

peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak di

muka pengadilan dan cara baaimana pengadilan harus bertindak satu sama

lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata”.60

d. Nawawi berpendapat, “hukum acara perdata adalah hukum yang memuat

peraturan-peraturan bagaimana cara-cara melaksanakan, mentaati dan

menegakkan hukum perdata materil”.61

e. Bambang Sugeng A.S dan Sujaandi, “hukum acara perdata adalah peraturan

hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum

perdata materiil dengan perantaraan hak”.62

58 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2006), hal. 2

59 R. Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1972), hal. 12

60 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2005), hal. 2

61 Nawawi, Taktik Dan Strategi Membela Perkara Perdata, (Jakarta: Fajar Agung, 1987), hal. 1

62 Bambang A.S dan Sujayadi, Hukum Acara Perdata dan Dokumen Litigasi Perkara

(4)

f. Laporan hasil simposium pembaharuan hukum perdata nasional yang

diselenggarakan BPHN (Badan Pembinaan Hukum Nasional) Departemen

Kehakiman tanggal 21-13 Desember 1981 di Yogyakarta, bahwa hukum

acara perdata adalah hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin

diteguhkannya atau dipertahankannya hukum perdata materiil.63

Berdasarkan beberapa buah definisi di atas maka hukum acara perdata

dapat juga disebut sistem perdata formil. Artinya, adalah sebuah perangkat yang

teratur dan memiliki kaitan satu sama lain (dari tahapan pengajuan gugatan

sampai putusan) yang bertujuan untuk menegakkan perdata materil melalui proses

peradilan.

2. Asas-asas Hukum Acara Perdata

Kata asas didalam bahasa Inggris disebut principle, yang memiliki

hubungan erat dengan kata principium (latin). Principium ialah permulaan, awal

mula, sumber, asal, pangkal, pokok, dasar, sebab.64

Sedangkan kata principle mengadung arti sebagai berikut:65

a. Moral rule or strong belief that influences your actions;

b. basic general truth, concerning the basic idea but perhaps not details.

63

Riduan Syahrani, Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 2

(5)

(a. Aturan moral atau keyakinan yang kuat yang mempengaruhi tindakan Anda;

b. kebenaran umum dasar, mengenai ide dasar tapi mungkin tidak detail.)

Kemudian menurut WJS. Poerwadarminta, asas dapat diterangkan sebagai

berikut :66

a. Dasar, alas, pondamen, misalnya batu yang baik untuk rumah;

b. Sesuatu kebenaran yang menjadi pokok, dasar atau tumpuan berfikir (berpendapat dan sebagainya, misalnya bertentangan dengan asas-asas hukum pidana);

c. Cita-cita yang menjadi dasar (perkumpulan, negara dan sebagainya, misalnya membicarakan asas dan tujuannya).

Mahadi dalam bukunya telah membahas asas dengan mengemukakan

pendapat dari C.W. Paton, a principle is the broad reason, which lies at the base

of rule or law (asas adalah suatu alam pikiran yang dirumuskan secara luas dan

yang mendasari adanya suatu norma).67

Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa asas merupakan suatu dasar

yang digunakan untuk tumpuan, sebagai tempat untuk menyandarkan dan

mengembalikan sesuatu hal yang hendak dijelaskan.68

66 Syamsul Arifin, Op.Cit, hal. 115 67 Ibid

68 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2001), hal. 5

Asas hukum sendiri bukan

merupakan hukum konkrit, melainkan pikiran dasar yang umum dan abstrak atau

merupakan latar belakang peraturan konkrit yang terdapat dalam dan dibelahan

(6)

putusan hakim yang merupakan hukum positif dan diketemukan dengan mencari

sifat-sifat atau ciri-ciri yang umum dalam suatu peraturan yang konkrit.69

Pada asas ini, mengandung pengertian bahwa inisiatif dalam

mengajukan tuntutan hak diserahkan sepenuhnya kepada yang

berkepentingan.

Hal tersebut menjelaskan dalam asas hukum, memiliki sifat yang dinamis dan

berkembang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Asas-asas dalam hukum acara perdata juga tidak jauh berbeda sifatnya

dengan asas hukum yang dinamis dan berkembang sesuai dengan peranturan

perundang-undangan.

Berikut asas-asas dalam hukum acara perdata, yaitu :

a. Hakim Bersifat Menunggu

70

69 Ibid, hal. 9

70 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2006), hal. 10

Karena mengenai mempertahankan kepentingan para

pihak sangat bergantung pada mereka sendiri, apakah hendak diajukan ke

pengadilan atau tidak. Hal ini, membawa kepada arah bahwa hakim tidak

dapat menolak setiap perkara yang diajukan kepadanya walaupun belum ada

aturan hukum yang mengaturnya.

Seperti yang tercantum dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang

(7)

“Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan

memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada

atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”.

Sehingga jika belum ada pengaturan tertulis dalam sebuah perkara

hakim wajib menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Hal ini

tertuang dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang

Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi :

“Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami

nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.

b. Hakim Bersifat Pasif

Maksud kalimat hakim bersifat pasif ialah hakim hanya akan

menyelenggarakan perkara yang diajukan oleh para pihak yang

berkepentingan sesuai dengan ruang lingkup dan luas pokok sengketa

dengan kata lain hakim hanya akan membantu pencari keadilan dan

berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya

peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.71

71 Ibid, hal. 12. Sebagai perbandingan asas hakim bersifat pasif diatas dengan penggalan kalimat”hakim hanya akan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan”, dianggap sebagai peran hakim perdata yang aktif sehingga asas yang dianut ialah asas hakim yang bersikap aktif bukan pasif. Lihat Bachsan Mustafa, Sistem Hukum Indonesia Terpadu, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 159

(8)

Pada prinsipnya persidangan harus dilakukan secara terbuka kecuali

ditentukan lain oleh undang-undang, misalnya pada perkara perdata

perceraian. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup akan tetapi dalam

pembacaan putusan persidangan kembali terbuka untuk umum. Jika sebuah

persidangan tidak dilakukan secara terbuka untuk umum maka persidangan

dianggap tidak sah. Pasal 13 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang No. 48

Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi :

“(1) Semua sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum, kecuali undang-undang menentukan lain.

(2) Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

(3) Tidak dipenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan putusan batal demi hukum”.

Tujuan adanya asas, agar dalam persidangan terdapat kontrol

masyarakat atau sosial sehingga persidangan dapat berjalan secara objektif.72

72

(9)

d. Mendengar Kedua Belah Pihak

Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang

Kekuasaan Kehakiman, berbunyi :

“Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan

orang”.

Pasal 156 R.Bg/132 H.I.R, berbunyi :

“Jika menurut pertimbangan ketua supaya perkara berjalan dengan baik dan

teratur, Ketua berwenang pada waktu memeriksa perkara memberi nasihat

kepada kedua belah pihak dan menunjukkan kepada mereka tentang upaya

hukum dan alat bukti yang dapat dipergunakan oleh mereka”.

Kedua peraturan di atas mengandung pengertian, setiap pihak-pihak yang

berperkara harus didengar atau diperlakukan sama serta diberikan

kesempatan yang sama untuk membela kepentingan mereka. Hal ini berarti

dalam pengajuan alat bukti baik berupa surat, saksi, persangkaan,

pengakuan dan sumpah harus dilakukan di muka sidang yang dihadiri oleh

kedua belah pihak yang bersengketa.73 Asas ini dalam bahasa asing disebut

audi et alteram partem atau eines mannes rede ist keines mannes rede.74

73 Ibid, hal. 15 74

(10)

e. Putusan Harus Disertai Dengan Alasan-Alasan

Asas ini bertujuan agar dalam menjatuhkan putusan hakim tidak

bertindak sewenang-wenang sehingga putusan itu memiliki wibawa.75

Dalam menjatuhkan putusan hakim dalam pertimbangannya tidak jarang

menggunakan doktrin atau yuriprudensi sebagai landasannya.76

Biaya perkara dalam acara perdata yang dikeluarkan meliputi

biaya kepaniteraan, biaya untuk panggilan, pemberitahuaan para pihak,

biaya materai dan biaya pengacara jika para pihak menggunakan

pengacara.

Asas ini tercantum dalam pasal 14 ayat (2) Undang-Undang No. 48

Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi :

“Dalam sidang permusyawaratan, setiap hakim wajib menyampaikan

pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang diperiksa

dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan”.

f. Beracara Dikenakan Biaya

77

75 Ibid

76 Riduan Syahrani, Op.Cit, hal. 22 77

Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 17

Hal tersebut tidaklah mutlak, jika para pihak tidak tidak

mampu untuk membayar biaya perkara maka dapat mengajukan gugatan

(11)

Perkembangan hukum acara sekarang telah membawa asas beracara

dikenakan biaya menjadi lebih ringan yang disebabkan karena peradilan

sekarang ini dituntut untuk melaksakan proses beracara secara sederhana,

cepat, dan biaya ringan.78

H.I.R tidak mewajibkan para pihak untuk mewakilkan kepada orang

lain, sehingga pemeriksaan dipersidangan terjadi secara langsung terhadap

para pihak yang berkepentingan. g. Tidak Ada Keharusan Mewakilkan

79

L. J. Van Apeldoorn berpendapat lain bahwa “dalam acara perdata

para pihak diwajibkan untuk didampingi oleh seorang kuasa atau Akan tetapi, jika para pihak mengiginkan

diwakili oleh kuasa atau pengacara dalam hukum acara perdata dibolehkan.

Pasal 147 R.Bg/123 H.I.R, berbunyi :

“Kedua belah pihak, jika mereka menghendaki dapat meminta bantuan atau

mewakilkan kepada seorang kuasa yang untuk maksud itu harus dilakukan

dengan suatu surat kuasa khusus kecuali badan yang memberi kuasa itu

hadir sendiri ”.

78 Pada literatur lain asas ini disebut asas pemeriksaan sederhana, cepat dan ringan. Lihat Bachan Mustafa, Op.Cit, 160. Kemudian terdapat pula literatur yang meyatukan asas beracara dikenakan biaya dengan asas hakim bersifat menunggu. Pada dasarnya hal ini tidak masalah akan tetapi jika dilihat asas ini berbeda satu sama lainn jadi dalam penggolongan dan penjelesannya seharusnya berbeda dan tidak disatukan. Lihat F. Tengker, Hukum Suatu Pendekatan Elementer, (Bandung: Nova, 1993), hal. 99

79

(12)

pengacara”.80

Asas ini menitik beratkan pembuktian pada alat bukti yang memiliki

kekuatan pembuktian penuh dan sempurna (Probatio Plena). Pada sistem

pembuktian hukum acara perdata Indonesia yang menganut positief wettelijk

bewijstheorie alat bukti yang memenuhi unsur penuh dan sempurna (Probatio

Plena) ialah alat bukti tulisan atau surat dalam bentuk akta otentik.

Hal ini disebabkan karena para pihak dianggap tidak dapat

melakukan tindakan-tindakan yang bersifat acara.

h. Probatio Plena

81

Asas ini membatasi hakim. Artinya hakim hanya boleh mengabulkan

sesuai yang dituntut, tidak boleh mengabulkan lebih daripada yang dituntut

penggugat dan hanya terikat pada alat bukti yang sah atau preponderance of

evidence.

i. Ultra Ne Petita

82

80

L.J. Van Apeldoorn, Inleiding Tot De Studie Van Het Nederlandse Recht, diterjemahkan

oleh Oetarid Sadino, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 2009), hal. 253

81 Eddy O.S. Hiariej, Teori Dan Hukum Pembuktian, (Jakarta: Erlangga, 2012), hal. 48-50 82 Achmad Ali dan Wiwie Heryani, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012) hal. 65

(13)

Secara harfiah arti kata unus testis nullus testis berarti seorang saksi

bukanlah saksi.83

Asas ini juga berlaku untuk hukum acara pidana.

Pasal 1905 KUHPerdata, berbunyi :

“Keterangan seorang saksi saja, tanpa suatu alat bukti lain, di muka

pengadilan tidak boleh dipercaya”.

Pasal 306 R.Bg/169 H.I.R, Berbunyi :

“Keterangan seorang saksi saja, dengan tidak ada suatu alat bukti lain tidak

dapat dipercaya didalam hukum”.

Kedua peraturan di atas dan dihubungkan dengan asas Unus Testis

Nullus Testis mengandung pengertian, dalam hukum acara perdata tidak

diperkenankan saksi hanya 1 (satu) orang saja akan tetapi minimal 2 (dua)

orang.

84

83 Eddy O.S. Hiariej, Op.Cit, hal. 45

(14)

Asas-asas hukum acara perdata di atas secara umum dapat juga dilihat

dalam hukum acara lainnya yang ada di Indonesia, seperti : beracara dikenakan

biaya, hakim bersifat menunggu, tidak ada keharusan mewakilkan dan

sebagainya. Kesamaan asas tersebut tidak langsung membuat hukum acara

perdata menjadi sempit. Dalam hukum acara perdata 6 (enam) asas tersebut

adalah asas pokok dalam pelaksanaan hukum acara perdata sedangkan dalam

hukum acara lain, misalnya hukum acara pidana asas-asas tersebut di atas tidak

menjadi asas-asas pokok dalam pelaksanaan hukum acara pidana.85

85 Asas-asas pokok dalam hukum acara pidana, yaitu asas praduga tak bersalah (presumption of innocence), asas oportunitas, pemeriksaan langsung dan lisan, dan sebagainya. Lihat Andi Hamzah,

Hukum Acara Pidana Indonesia, (Jakarta: Sapta Artha Jaya, 1996), hal. 10-24

B. Tinjauan Umum Tentang Alat Bukti

1. Definisi Alat Bukti

Alat bukti dalam hukum acara perdata diatur dalam Pasal 1865-1945

KUHPerdata jo 282 R.Bg/162 H.I.R-314 R.Bg/117 H.I.R. Dalam rumusan

pasal-pasal tersebut tidak ada yang menyebutkan secara tegas perihal pengertian

alat bukti. Hal ini dapat dilihat dalam rumusan pasal pertama dari ketentuan yang

(15)

Pasal 1865 KUHPerdata, berbunyi :

“Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna

meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk

pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa

tersebut”.

Pasal 283 R.Bg/163 H.I.R, berbunyi :

“Barangsiapa mengatakan mempunyai suatu hak atau mengemukakan suatu

perbuatan untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain,

haruslah membuktikan adanya hak itu atau adanya perbuatan itu”.

Bunyi 2 (dua) Pasal di atas cenderung menggambarkan tentang pihak

yang harus membuktikan bukan pengertian alat bukti. Pengertian alat

bukti sendiri dapat dilihat dari pendapat para ahli, kamus hukum atau kamus

bahasa.

Berikut beberapa Definisi dari alat bukti, yaitu :

a. Alat bukti dapat didefinisikan “sebagai segala hal yang dapat digunakan

untuk membuktikan perihal kebenaran suatu peristiwa di pengadilan”.86

86

(16)

b. Alat bukti adalah “apa saja yang menurut undang dapat dipakai untuk

membuktikan sesuatu, maksudnya segala sesuatu yang menurut

undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan benar atau tidaknya suatu

tuduhan/guagatan”.87

c. Kamus Besar Bahasa Indonesia, dalam merumuskan pengertian alat bukti

menggunakan istilah alat pembuktian yang mengandung arti “berbagai

macam bahan yang dibutuhkan oleh hakim, baik yang diketahui sendiri oleh

hakim maupun yang diajukan oleh saksi untuk membenarkan atau

menggagalkan dakwaan atau gugatan”.88

d. Alat bukti (bewijsmiddel) adalah “bermacam-macam bentuk dan jenis, yang

mampu memberi keterangan dan penjelasan tentang masalah yang

diperkarakan dipengadilan”.89

e. James Fitzjames Stephen mengatakan “Evidence may be given in any

proceeding of any fact in issue, and of any fact relevant to any fact in issue unless it is here in after declared to e relevant, and of any fact here in after declared to be deemed relevant to the issue: provided that the judge may exclude evidance of facts, which, though relevant or deemed to be relevat to the issue, appear to him too remote to be material under all the circumstances of the case”.90

87

Sudarsono, Kamus Hukum, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), hal. 28 88 Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit, hal. 37

89 M. Yahya Harahap, Loc.Cit

90 Solomon E. Salako, Evidance, Proof And Justice : Legal Philosophy And The Provable In

(17)

(Bukti merupakan hal-hal dapat diberikan dalam setiap persidangan

terhadap sebuah fakta dan semua fakta yang relevan dengan setiap fakta

dalam masalah yang dipersidangkan akan tetapi asalkan hakim dapat

mengecualikan bukti faktanya, yang meskipun relevan atau dianggap

relevan dengan masalah ini, tampak terlalu jauh untuk menjadi bahan dalam

semua keadaan dari kasus tersebut dapat dikecualikan)

Dari beberapa definisi diatas jelas bahwa alat bukti adalah bahan-bahan

yang diajukan oleh para pihak untuk membuktikan dakwaan atau gugatan yang

diajukan di pengadilan dan dapat pula berupa bahan-bahan yang digunakan untuk

membantah dakwaan atau gugatan. Jadi sifatnya, para pihak yang berperkara

harus secara maksimal membuktikan bahan-bahan yang digunakan sebagai alat

bukti dalam proses persidangan yang mana kesemuanya nanti akan dinilai oleh

hakim yang memimpin perkara.

Ada hal yang perlu dipahami dalam pengajuan alat bukti. Alat bukti yang

dibenarkan untuk diajukan dalam persidangan ialah yang ditentukan

undang-undang, jika tidak maka :91

91

(18)

a. Tidak sah sebagai alat bukti;

b. Oleh karena itu tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian untuk

menguatkan dalil atau bantahan yang dikemukakan.

2. Jenis-jenis Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian Alat Bukti

Alat bukti merupakan sebuah alat yang diajukan para pihak untuk

memberi keterangan dan penjelasan terhadap masalah yang diperkarakan di

pengadilan yang mana pada hukum acara perdata tidaklah dapat dipandang hanya

berlaku pada hukum acara perdata pengadilan umum saja akan tetapi berlaku juga

dalam hukum acara perdata di pengadilan agama.92 Sehingga alat bukti dalam

hukum acara perdata di pengadilan umum dan hukum acara di pengadilan agama

adalah sama. Hukum acara perdata yang ada di pengadilan agama adalah

cerminan dari Hukum Islam. Hukum Islam sebagai salah satu sistem hukum yang

ada di Indonesia memiliki pandangan tersendiri terhadap alat bukti yang berlaku

dalam hukum acara perdata Indonesia.93

92 Hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkup peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada pengadilan dalam lingkup peradilan umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini. Lihat Pasal 54 Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Pengadilan Agama.

(19)

Dalam hukum acara perdata Indonesia pengaturan alat bukti diatur dalam

Pasal 1866 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) jo Pasal 164

H.I.R/284 R.Bg, terdiri dari :

a. Surat atau bukti tulisan; b. Saksi;

c. Persangkaan; d. Pengakuan; e. Sumpah.

Berikut akan diuraikan mengenai alat bukti yang berlaku dalam hukum

acara perdata di Indonesia dipandang dari segi KUHPerdata, H.I.R/R.Bg dan

Hukum Islam, yaitu :

a. Surat Atau Bukti Tulisan

Alat bukti surat atau tulisan diatur, yaitu :

1) Pasal 163, 164, 285-305 R.Bg kecuali pasal 295 R.Bg telah dicabut

dengan stbld 1927 No. 576;

2) Pasal 137, 138, 165 dan 167 H.I.R;

3) Pasal 1867-1894 KUHPerdata kecuali Pasal 1882 KUHPerdata telah

dihapus.

Alat bukti surat atau tulisan, menurut Sudikno Mertokusumo adalah

“segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk

(20)

dipergunakan sebagai pembuktian”.94

Definisi bukti tulisan atau surat menurut Sudikno Mertokusumo di atas

sedikit berbeda dengan yang diutarakan oleh M. Yahya Harahap yang

menyatakan bahwa pengertian tulisan dari segi yuridis dalam kaitannya dengan

alat bukti harus memenuhi beberapa aspek, yaitu :

Sifat pengertian di atas bila dipahami

adalah kumulatif, artinya jika sebuah surat atau tulisan hanya berisi tanda-tanda

bacaan tidak berisi buah pikiran atau bukan berisi curahan isi hati seseorang

ataupun berisi buah pikiran atau curahan hati seseorang tetapi tidak memuat

tanda-tanda bacaan maka sebuah surat atau tulisan tidak dapat dijadikan alat

bukti, ia dapat dijadikan alat bukti jika memenuhi semua unsur yang diutarakan

oleh Sudikno Mertokusumo di atas.

95

1) Memiliki tanda bacaan, berupa aksara; 2) Disusun berupa kalimat pernyataan; 3) Ditulis pada bahan tulisan;

4) Ditanda tangani pihak yang membuat; 5) Foto dan peta bukan tulisan;

6) Mencantumkan tanggal.

Akan tetapi, perlu dipahami walaupun terjadi perbedaan dalam

memberikan definisi bukti tulisan atau surat tetap merupakan alat bukti utama

dalam hukum acara perdata dibanding alat bukti yang lain. Alat bukti surat atau

94 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 149 95

(21)

tulisan dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu : akta dan surat-surat lain bukan akta

(surat biasa).96

1) Akta yang merupakan bagian dari alat bukti surat atau tulisan dibagi

menjadi 2 (dua), yaitu : akta otentik dan akta di bawah tangan.97

a) Akta otentik adalah suatu akta atau surat yang dibuat dalam bentuk

yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan

pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana

akta dibuatnya.98

Dari pengertian di atas, maka akta otentik dapat dibagi menjadi

2 (dua) macam, yaitu : akta yang dibuat oleh pegawai-pegawai

umum (acte ambtelijk) dan akta yang dibuat dihadapan oleh

pegawai-pegawai umum (acte partij).

(1) Akta yang dibuat oleh pegawai-pegawai umum (acte ambtelijk)

merupakan akta yang dibuat oleh pejabat yang diberi

wewenang. Artinya, inisiatif pembuatan akta berasal dari orang

yang namanya tercantum didalamnya. Misalnya, berita acara

yang dibuat oleh panitera pengganti.99

96 Sudikno Mertokusumo, Loc. Cit 97 Ibid

98 Lihat Pasal 1868 KUHPerdata 99

(22)

(2) Akta yang dibuat di hadapan oleh pegawai-pegawai umum

(acte partij) merupakan akta yang dibuat atas usulan dari para

pihak yang berkepentingan di hadapan para pejabat umum

yang berwenang. Misalnya akta notaril pelepasan ganti rugi

dan lain sebagainya.100

Dalam pembuktian di persidangan akta otentik baik

berupa akta yang dibuat oleh pegawai-pegawai umum (acte ambtelijk)

dan akta yang dibuat di hadapan oleh pegawai-pegawai umum

(acte partij) adalah sama, yaitu:101

100 Ibid 101

M. Yahya Harahap, Op.Cit, hal. 583-584

1) Bila terpenuhi syarat formil dan materiil maka :

a) Pada akta otentik itu langsung memenuhi batas minimal

pembuktian sehingga tanpa harus didampingi alat bukti

lain;

b) Langsung sah sebagai alat bukti;

c) Pada dirinya langsung melekat nilai kekuatan pembuktian :

sempurna (vooledig) dan mengikat (bindende)

(23)

(1) Menganggap akta otentik tersebut benar dan sempurna;

(2) Harus menganggap apa yang didalilkan atau

dikemukakan cukup terbukti;

(3) Hakim terikat atas kebenaran yang dibuktikan akta

tersebut, sehingga harus dijadikan dasar pertimbangan

mengambil putusan penyelesaian sengketa.

2) Kualitas kekuatan pembuktian akta otentik, tidak bersifat

memaksa (dwingend) atau menentukan (beslissend) dan

terhadapnya dapat diajukan bukti lawan disebut kekuatan bukti

luar.

b) Akta di bawah tangan adalah akta yang dibuat sendiri oleh para

pihak yang berkepentingan tanpa bantuan dari pejabat umum.102

102

Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 158

Kekuatan pembuktian akta dibawah tangan lebih rendah dari pada

akta otentik karena sifat pembuktiannya hanya harus memenuhi

syarat materil dan syarat formil saja. Walaupun demikian, akta di

bawah tangan memiliki kekuatan pembuktian sama dengan akta

otentik jika isi akta di bawah tangan itu diakui oleh orang-orang

(24)

para pihak yang menandatangani akta itu mengingkarinya maka

hakim memerintahkan agar kebenaran akta tersebut diperiksa.

2) Surat-surat lain bukan akta (surat biasa) terdiri atas surat-surat urusan

rumah tangga, register-register dan catatan-catatan yang dibubuhkan

oleh seorang kreditur pada suatu alas hak yang selama dipegangnya.103

Kekuatan pembuktian dari surat-surat lain bukan akta (surat biasa),

tergantung di tangan pertimbangan hakim.104

Sedangkan salinan suatu alat bukti surat atau tertulis dapat dikatakan

sesuai dengan aslinya, artinya dalam proses pengajuan alat bukti dipersidangan

salinan yang diajukan harus juga mengajukan bentuk asli dari salinan tersebut

akan tetapi jika tidak dapat mengajukan bentuk aslinya maka salinan sebagai

alat bukti dapat ditolak.105 Pengajuan salinan sebagai alat bukti juga harus

dibubuhi materai Rp. 6000,- (enam ribu rupiah).106

Dalam hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia jelas surat atau

bukti tulisan memiliki kedudukan utama sebagai alat bukti. Akan tetapi alat

bukti tulisan atau surat dalam Hukum Islam tidaklah dapat dikatakan sebagai

103 Lihat Pasal 1881 KUHPerdata 104

Bambang Waluyo, Sistem Pembuktian Dalam Peradilan Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996) hal.35

105 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 166

(25)

alat bukti yang utama, ia tergantung kondisi dan keadaan. Hal ini tergambar dari

pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, yaitu :107

Dalam Hukum Islam bukti surat atau tulisan tidak ada pembagiannya

sama sekali. Hal ini berbeda dengan hukum acara perdata yang berlaku di

Indonesia. Namun perlu dipahami dalam proses persidangan di pengadilan

agama alat bukti surat tidaklah boleh melangkahi Hukum Materil Islam, karena

Hukum Materil Islam memiliki kaidah-kaidah tertentu yang tidak boleh

dilanggar. Misalnya seorang muslim sebelum meninggal membuat akta hibah

dihadapan notaris dengan isi memberikan kepada anak angkatnya harta sebesar

⅔ dari yang dimilikinya. Kemudian merasa tidak adil akan hal ini anak kandung

pewaris menggugat ke pengadilan agama. Dalam hukum acara yang berlaku di

Indonesia akta hibah itu memiliki kekuatan sebagai akta otentik artinya 1) Bukti tulisan didalamnya oleh hakim dinilai telah terdapat sesuatu yang

bisa dijadikan dasar pertimbangan hukum dalam menjatuhkan putusan terhadap seseorang, sehngga imperatif sebagai alat bukti yang mengikat.

Para ulama dalam masalah ini telah berselisih pendapat, ada tiga riwayat dari Ahmad yang salah satunya menyebutkan apabila alat bukti tulisan itu telah diyakini sebagai tulisannya, dipandang sebagai alat bukti yang sah meskipun dia lupa isinya;

2) Bukti tulisan tersebut tidak dipandang sebagai alat bukti yang sah, sampai ia mengingatnya;

3) Bukti tulisan tersebut dipandang sebagai alat bukti yang sah apabila didapati arsipnya dan dia telah menympannya, jika tidak demikian maka tidak bisa dijadikan alat bukti yang sah.

(26)

pembuktiaanya sempurna namun dalam putusan hakim pengadilan agama justru

memenangkan gugatan anak kandung pewaris dengan alasan bahwa anak

angkat hanya berhak menerima ⅓ dari harta yang dimilikinya.

b. Saksi

Alat bukti saksi diatur dalam, yaitu :

1) Pasal 165-176 R.Bg, 178-179 R.Bg, dan 306-309 R.Bg;

2) Pasal 139-148 H.I.R, 150-152 H.I.R dan 169-172 H.I.R;

3) Pasal 1895-1912 KUHPerdata kecuali Pasal 1896-1901, 1904,

1913-1914 KUHPerdata dihapus.

Saksi dalam pengaturan pasal di atas tidak ditemukan sama sekali

definisinya. Namun, Sudikno Mertokusumo memberi pengertian tentang saksi

dengan menambah imbuhan ke- dan akhiran -an pada kata saksi sehingga

menjadi kata kesaksian. Kesaksian adalah “kepastian yang diberikan kepada

hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan

pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak

dalam perkara, yang dipanggil di persidangan”.108

Saksi atau kesaksian tidaklah boleh hanya 1 (satu) orang saja karena

keterangan seorang saksi saja, dengan tidak ada alat bukti lain tidak dapat

108

(27)

diterima dalam hukum yang disebut unus testis nullus testis.109 Selain sifat saksi

ini ada hal lain yang perlu diperhatikan dalam kesaksian, yaitu :110

1) Saksi dalam memberi keterangan harus berdasarkan peristiwa yang dialami sendiri;

2) Saksi dalam memberi keterangan bukan bersifat pendapat atau dugaan; 3) Kesaksian yang diperoleh atau didengar dari orang lain tidak dapat

diterima sebagai keterangan saksi disebut testimonium de auditu.

Dalam proses pembuktian saksi atau kesaksian di pengadilan setiap orang

yang mengalami peristiwa yang disengketakan dapat memberikan keterangan

akan tetapi dalam undang-undang tentukan lain. Di dalam undang-undang

secara garis besar ada 2 (dua) golongan yang memiliki kekhususan tersendiri.

Golongan tersebut, yaitu : 111

1) Golongan pertama ialah yang tidak dapat didengarkan sebagai saksi, terdiri dari :

a) Keluarga sedarah dan keluarga karena perkawinan menurut keturunan yang lurus dari salah satu pihak;

b) Saudara laki-laki dan saudara perempuan dari ibu dan keponakan di dalam daerah Bengkulu, Sumatera Barat dan Tapanuli diatur menurut adat setempat (R. Bg);

c) Istri atau suami salah satu pihak meskipun sudah bercerai;

d) Anak-anak yang idak dapat diketahui atau belum cukup umur 15 tahun;

e) Orang gila meskipun kadang-kadang terang ingatannya.

2) Golongan kedua ialah yang dapat mengundurkan diri sebagai saksi, terdiri dari :112

a) Saudara laki-laki dan perempuan dan ipar laki-laki dan perempuan dari salah satu pihak;

109 Ibid, hal. 170 110 Ibid, hal. 167-168

111 Pasal 172 R. Bg/145 H.I.R. Lihat dalam K. Wantjik Saleh, Op. Cit, hal. 31 112

(28)

b) Keluarga sedarah menurut keturunan lurus dari saudara laki-laki dan perempuan dari suami atau istri dari salah satu pihak;

c) Orang yang karena martabat, pekerjaan atau jabatannya yang sah diwajibkan menyimpan rahasia, dalam hal yang semata-mata tentang hal itu saja yang dipercayakan karena martabat, pekerjaan dan jabatannya itu.

Dalam proses pembuktiannya saksi atau kesaksian memiliki kekuatan

pembuktian tersendiri, yaitu :113

1) berkualitas sebagai bukti bebas (vrij bewijskracht) dalam arti, hakim

bebas menerima atau menolaknya;

2) tidak berkualitas sebagai alat bukti yang memiliki nilai kekuatan

pembuktian sempurna atau memaksa (dwingende bewijskracht).

Hal di atas menunjukkan bahwa saksi atau kesaksian dalam kekuatan

pembuktiaannya bukan dari keterangan yang diberikan akan tetapi berdasarkan

pertimbangan hakim.

Dalam Hukum Islam alat bukti saksi dikenal dengan istilah as

syahadah114 atau Bayyinah115

113 M. Yahya Harahap, Op.Cit, hal. 683 114 Anshoruddin, Op.Cit, hal. 73 115

Basiq Djalil, Peradilan Islam, (Jakarta: Amzah, 2012), hal. 44-45

. Saksi dalam Hukum Islam bukanlah pelengkap

seperti dalam hukum acara perdata di Indonesia, ia berkedudukan sama dengan

bukti tulisan atau surat bersifat diajukan bukan diwajibkan. Hal ini jelas

(29)

adalah berdasarkan pertimbangan hakim. Selain itu, dalam hukum acara perdata

Islam dibolehkan saksi testimonium de auditu dibenarkan, dimana hal ini

berbanding terbalik dengan hukum acara perdata Indonesia yang tidak

memperbolehkan hal tersebut.116

1) Pasal 310 R.Bg; c. Persangkaan

Persangkaan diatur dalam, yaitu :

2) Pasal 173 H.I.R;

3) Pasal 1915-1922 KUHPerdata.

Persangkaan adalah kesimpulan-kesimpulan yang oleh undang-undang

atau oleh hakim ditariknya dari suatu peristiwa yang terkenal ke arah peristiwa

yang tidak terkenal.117

Persangkaan oleh undang-undang atau yang disebut wettelijke atau

rechtsvermoedens, praesumptiones juris adalah persangkaan yang berdasarkan

Definisi persangkaaan di atas, menerangkan bahwa

secara umum persangkaan dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

1) Persangkaan oleh undang-undang

116 Ibid, hal. 80-82 117

(30)

suatu ketentuan khusus undang-undang, dihubungkan dengan

perbuatan-perbuatan tertentu-atau peristiwa-peristiwa tertentu. 118

Persangkaan-persangkaan di atas diantaranya, yaitu :

119

a) Perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan batal, karena semata-mata demi sifat dan wujudnya, dianggap telah dilakukan untuk menyelundupi suatu ketentuan undang-undang;

b) Hal-hal dimana oleh undang-undang diterangkan bahwa hak milik atau pembebasan utang disimpulkan dari keadaan-keadaan tertentu;

c) Kekuatan yang oleh undang-undang diberikan kepada suatu putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan mutlak;

d) Kekuatan yang oleh undang-undang diberikan kepada pengakuan atau kepada sumpah salah satu pihak.

Sudikno Mertokusumo membagi persangkaan oleh undang-undang

dibagi menajdi 2 (dua), yaitu :120

a) Praesumptiones juris tantum, yaitu persangkaan berdasarkan hukum

yang memungkinkan adanya pembuktian lawan;

b) Praesumptiones juris et de jure, yaitu persangkaan berdasarkan hukum

yang tidak memungkinkan pembuktian lawan.

2) Persangkaan oleh hakim

Persangkaan oleh hakim atau yang disebut feitelijke atau rechterlijke

vermoedens, praesumptiones facti merupakan persangkaan yang dilakukan

118 Sudikno Mertokusumo, Op.Cit, hal. 179 119 Ibid, hal. 179-180

120

(31)

oleh hakim setelah memeriksa perkara.121

Hukum Islam, persangkaan disebut qarinah. Tidak jauh berbeda

dengan hukum acara perdata Indonesia persangkaan atau qarinah memiliki

kemiripan dalam hal penggolongannya, dimana persangkaan oleh

undang-undang disebut qarinah qonuniyyah dan persangkaan oleh hakim disebut

qarinah qodloiyyah.

Dari segi definisi persangkaan oleh

hakim tidaklah memiliki definisi yang jelas dalam pengaturan yang terdapat

dalam undang-undang. Hanya pada Pasal 1922 KUHPerdata dan Pasal 310

R.Bg/173 H.I.R, menyebutkan bahwa persangkaan yang tidak diatur oleh

undang-undang diserahkan kepada keyakinan hakim dan pada saat penjatuhan

putusan oleh hakim persangkaan oleh hakim harus seksama dan sesuai dengan

perkara yang disengketakan.

Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa persangkaan baik oleh

undang-undang maupun oleh hakim berdasarkan pertimbangan hakim.

122

Meskipun demikian tidak semua qarinah yang dapat dijadikan alat

bukti. Kriteria yang dapat dijadikan alat bukti harus jelas dan meyakinkan

sehingga tidak dapat dibantah lagi oleh manusia yang berakal. Kriteria lainnya

adalah semua qarinah menurut undang-undang di lingkungan peradilan

121 Ibid, hal. 178 122

(32)

sepanjang tidak jelas-jelas bertentangan dengan Hukum Islam yag disebut

qarinah wadlihah.123

Kekuatan pembuktian qarinah dalam Hukum Islam jika telah

memenuhi syarat diatas mengikat. Hal ini dapat dilihat ketika Nabi

Muhammad SAW pernah menggunakan qarinah, yaitu memberikan barang

yang hilang diketemukan kemudian diberikan kepada orang yang dapat

menyebutkan sifat-sifat pokok dari barang itu.124

1) Pasal 311-313 R.Bg; d. Pengakuan

Pengakuan diatur dalam, yaitu :

2) Pasal 174-176 H.I.R;

3) Pasal 1923-1928 KUHPerdata.

Pengakuan adalah pernyataan dari salah satu pihak tentang kebenaran

suatu peristiwa, keadaan atau hal tertentu yang dapat dilakukan di depan sidang

atau di luar sidang pengadilan.125

Pengakuan di depan sidang atau di hadapan hakim pada prinsipnya

tidak dapat dipisah-pisahkan (onsplitsbare aveu) atau hakim harus menerimanya Berdasarkan uraian di atas, pengakuan dapat

dilakukan di depan sidang atau di hadapan hakim dan di luar sidang.

123 Ibid, hal. 89 124 Ibid 125

(33)

secara penuh dan hakim tidak bebas untuk menerima sebagian atau menolak

sebagian lain, sehingga merugikan orang yang mengakui itu. Dalam ruang

lingkup ilmu pengetahuan pengakuan seperti ini dibagi menjadi 3 (tiga),

yaitu :126

1) Pengakuan murni

Pengakuan murni (aveu pur et-simple) adalah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan.

2) Pengakuan dengan kualifikasi

Pengakuan dengan kualifikasi (gequalificeerde bekentenis, aveu

qualifie) adalah pegakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap

sebagian dari tuntutan.

3) Pengakuan dengan klausula.

Pengakuan dengan klausula (geclausuleerde bekentenis, aveu complex) adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersifat membebaskan.

Ada hal yang cukup menarik dalam pengakuan yang tidak dapat

dipisah-pisahkan ini, yaitu terdapat 2 (dua) putusan Mahkamah Agung yang

sudah berkekuatan hukum tetap berbeda dalam penentuan beban pembuktian

atas pengakuan tersebut. Putusan tersebut, yaitu :

126

(34)

1) Putusan Mahkamah Agung tanggal 24 Mei 1951, No. 29K/Sip/1950

dimana terhadap pengakuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan

pembuktiannya dibebankan kepada penggugat.127

2) Putusan Mahkamah Agung tanggal 25 November 1976, No.

22K/Sip/1973 dimana terhadap pengakuan yang tidak boleh

dipisah-pisahkan pembuktiannya hakim bebas menentukan dibebankan

kepada siapa saja baik itu kepada penggugat atau tergugat.128

Kedua putusan di atas, jelas menggambarkan perbedaan akan tetapi

dari segi prinsip keadilan yang dianut dalam hukum maka putusan Mahkamah

Agung tanggal 25 November 1976, No. 22K/Sip/1973 yang lebih tepat

dijadikan sebagai salah satu sumber hukum, yaitu yuriprudensi dan seharusnya

wajib diikuti oleh hakim lainnya.

Kekuatan pembuktian dari pengakuan ini adalah sempurna jika di

ucapkan di hadapan hakim atau di dalam persidangan, artinya sempurna

memberatkan orang yang mengucapkannya baik sendiri maupun dengan

127 Gatot Supramono, Hukum Pembuktian Di Peradilan Agama, (Bandung: Alumni, 1993), hal. 43

128

(35)

bantuan orang lain. Sedangkan pengakuan yang dilakukan di luar persidangan

kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim.129

Dalam Hukum Islam pengakuan disebut dengan ikrar. Ikrar dalam

Hukum Islam mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna karena ia dapat

dijatuhkan putusan bila telah dilakuan ikrar tanpa perlu bantuan alat bukti

lainnya.130 Pengakuan yang paling kuat ialah pengakuan dari tergugat. Ada hal

yang harus diperhatikan dari orang-orang yang memberikan pengakuan, yaitu :

berakal, dewasa, tidak dipaksa dan bukan orang di bawah pengampuan.131

1) Pasal 175-176 R. Bg, 182-185 R. Bg, 314 R. Bg;

Syarat-syarat orang yang memberi ikrar tersebut adalah kumulatif, jadi jika

salah satu syarat tidak terpenuhi maka ia tidak bisa memberi ikrar.

e. Sumpah

Sumpah diatur dalam, yaitu :

2) Pasal 147-148 H.I.R, 155-158 H.I.R, 177 H.I.R;

3) Pasal 1929-1945 KUHPerdata.

Sumpah adalah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau

diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat akan

sifat Maha Kuasa daripada Tuhan dan percaya bahwa siapa yang memberi

129 Bambang Waluyo, Op.Cit, hal. 40-41 130 Anshoruddin, Op.Cit, hal. 93 131

(36)

keterangan atau janji tidak benar akan dihukum oleh-Nya.132 Menurut Sudikno

Mertokusumo, definisi sumpah diatas mengandung 2 (dua) macam sumpah,

yaitu:133

Dalam H.I.R/R.Bg dan KUHPerdata, dikenal adanya 3 (tiga) buah

sumpah, yaitu :

sumpah untuk berjanji melakukan atau tidak melakukan sesuatu,

yang disebut sumpah promissoir. Contohnya, sumpah saksi dan sumpah saksi

ahli. Sumpah untuk memberi keterangan guna meneguhkan bahwa sesuatu itu

benar, disebut sumpah assertoir atau confirmatoir.

134

1) Sumpah Suppletoir atau pelengkap adalah sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi dasar putusannya.

2) Sumpah penaksiran atau aestimatoir atau schattingseed adalah sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada penggugat untuk menentukan jumlah uang ganti kerugian.

3) Sumpah decisoir atau pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya.

Kekuatan pembuktian ketiga sumpah diatas, berbeda satu sama lain

kecuali sumpah pelengkap dan penaksiran. Kedua kekuatan pembuktian sumpah

ini hanya sebatas pada sempurna dan mengikat akan tetapi tidak menentukan

sehingga terhadap kedua buah sumpah tersebut dapat diajukan bukti lawan.

Sedangkan sumpah pemutus kekuatan pembuktiannya ialah sempurna, mengikat

132 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 187 133 Ibid

(37)

dan menentukan yang mana sumpah ini jelas tidak bisa diragukan

pembuktiannya. Artinya, sumpah pemutus tidak boleh membuktikan bahwa

sumpah itu palsu.135

Dalam Hukum Islam, sumpah disebut yamin atau qosamah yang

bermakna kekuatan.136 Dalam sumpah kekuatan pembuktiannya mengikat dan

sempurna karena pada hakikatnya sumpah dalam Islam adalah suatu pernyataan

yang khidmat yang diberikan atau diucapkan dengan nama Allah SWT,

bahwa ucapannya itu benar dengan mengingat sifat Maha Kuasa dari Allah dan

percaya siapa yang memberi keterangan yang tidak benar akan memperoleh

siksaan-Nya. Dalam Islam setiap sumpah dapat dilakukan penolakan.

Hanya penolakan sumpah ini masih belum ada kesepahaman antara ulama

boleh dilakukan atau tidak dilakukan.137

Di samping 5 (lima) alat bukti diatas, dalam praktek pengadilan terdapat

pula pemeriksaan setempat (diatur Pasal 180 R. Bg/153 H.I.R) dan keterangan

ahli (datur Pasal 181 R. Bg/154 H.I.R) yang sering juga dianggap alat bukti. Kecenderungan tersebut membawa

ke arah bahwa penolakan sumpah itu tergantung kepentingan para pihak.

Artinya, tergantung pada keyakinan hakim, apakah sumpah dapat dilakukan

penolakan atau tidak.

135 M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 777-778 136 Anshoruddin, Op.Cit, hal. 99

137

(38)

Pemeriksaan setempat atau decente adalah “pemeriksaan mengenai perkara oleh

hakim karena jabatannya yang dilakukan di luar gedung atau tempat kedudukan

pengadilan, agar hakim dengan melihat sendiri memperoleh gambaran atau keterangan

yang memberi kepastan tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi sengketa.138

Perlu dipahami bahwa hakim dalam hal ini bukan berarti terjun langsung ke

lapangan untuk melakukan pemeriksaan akan tetapi hakim dapat mengangkat

seorang atau 2 (dua) komisaris dengan bantuan panitera pengadilan yang nantinya

hasil pemeriksaan setempat mereka dapat menjadi keterangan bagi hakim.139

Keterangan ahli atau expertise adalah keterangan pihak ketiga yang objektif dan

bertujuan untuk membantu hakim dalam pemeriksaan guna menambah

pengetahuan hakim sendiri.140

Hukum Islam juga mengatur mengenai pemeriksaan setempat

(al-mua’yanah annazhru) dan keterangan ahli (al-khubara-u).141

Dari semua uraian di atas hal yang paling menarik ialah dalam

Hukum Islam alat bukti utama ialah pengakuan dan sedangkan alat bukti surat Akan tetapi,

berbeda dengan hukum acara perdata Indonesia, pemeriksaan setempat dan

keterangan ahli secara tegas dinyatakan sebagai alat bukti tidak seperti hukum

acara perdata Indonesia.

138 Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, hal. 195

139 Pasal 180 R. Bg/153 H.I.R. Lihat dalam K. Wantjik Saleh, Op. Cit, hal. 33-34 140 Sudikno Mertokusumo, Loc. Cit

141

(39)

atau tulisan hanya sebagai alat bukti pendamping. Hal ini berbanding terbalik

dengan hukum acara perdata yang menyatakan bahwa alat bukti tulisan atau

surat merupakan alat bukti utama sedangkan pengakuan hanya sebagai alat bukti

pendamping.

3. Alat Bukti Elektronik Dalam Hukum Acara Perdata

Alat bukti dalam sistem pembuktian di Indonesia terbagi atas beberapa

kategori, yaitu :142

142 Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Cyber Law : Aspek Hukum Teknologi

Informasi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2009) hal. 100-101 a. Oral Evidence, terdiri dari :

1) Perdata (keterangan saksi, pengakuan dan sumpah);

2) Pidana (keterangan saksi, keterangan ahli dan keterangan terdakwa).

b. Documentary Evidance, terdiri dari :

1) Perdata (surat dan persangkaan);

2) Pidana (surat dan petunjuk).

c. Material Evidance, terdiri dari :

1) Perdata (tidak dikenal);

2) Pidana (barang yang digunakan untuk melakukan tindak pidana, barang yang digunakan untuk membantu tindak pidana, barang yang merupakan hasil tindak pidana, barang yang diperoleh dari suatu tindak pidana dan informasi dalam arti khusus).

d. Elektronic Evidance, terdiri dari :

1) Konsep pengelompokan alat bukti menjadi alat bukti tertulis dan elektronik, tidak dikenal;

(40)

3) Pengaturannya tidak melahirkan alat bukti baru, tetapi memperluas cakupan alat bukti yang masuk kategori documentary evidance.

Eletronic Evidance atau alat bukti elektronik sebagai salah satu alat bukti

dalam sistem pembuktian di Indonesia setidaknya mendapat perhatian khusus.

Perhatian khusus itu bukan hanya karena alasan diatas akan tetapi alat bukti

elektronik juga menuntut adanya hukum pembuktian harus cukup fleksibel untuk

menghadapi sifatnya yang cenderung sangat sulit untuk dibuktikan.143 Salah satu

bentuk kesulitan yang terdapat dalam alat bukti elektronik ialah ia sangat rentan

untuk diubah, disadap, dipalsukan dan dikirim ke berbagai penjuru dunia dalam

waktu hitungan detik.144

Pembuktian alat bukti elektronik sangat penting dalam hukum acara di

Indonesia, terutama dalam hukum acara perdata. Hal ini disebabkan karena

hukum acara perdata yang bersifat mencari kebenaran formal saja, artinya apa

yang benar atau menurut apa yang diajukan para pihak yang bersengketa. Alat

bukti elektronik dapat mempunyai kekuatan hukum jika informasi dapat dijamin

keutuhannya, dapat dipertanggungjawabkan, dapat diakses dan dapat ditampilkan

sehingga menerangkan suatu keadaan.145

Bagian alat bukti pada sistem pembuktian di Indonesia telah dijelaskan

bahwa alat bukti elektronik merupakan perluasan dari cakupan documentary

143

David I. Bainbridge, Computer And The Law, diterjemahkan oleh Prasadi T. Susmaatmadja,

Hukum Dan Komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hal 200

144 Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, (Bogor: Ghalia, 2009), hal. 91

145 Karjono, Perjanjian Lisensi Pengalihan Hak Cipta Program Komputer Transaksi

(41)

evidance atau alat bukti surat. Akan tetapi, berbeda dengan Aspan Pulungan

mengatakan “dalam hukum acara perdata alat bukti elektronik merupakan bagian

dari tajdid atau pembaharuan hukum. Maksudnya dengan munculnya alat bukti

elektronik ini maka ia dapat memperbaharui atau membangun kembali,

menghidupkan kembali atau sebuah bentuk perbaikan agar dapat dipergunakan

sebagaimana yang diharapkan”.146 Tidak jauh berbeda dengan S.B Hutagalung, ia

mengatakan “munculnya alat bukti elektronik dalam hukum hukum acara perdata

merupakan salah satu bentuk aspek pembaharuan hukum. Karena pada alat bukti

elektronik terdapat sifat memperbaiki dan menyesuaikan diri dengan

perkembangan zaman”.147

146 Hasil wawancara dengan Aspan Pulungan, Hakim Pengadilan Agama, Pengadilan Agama-Pengadilan Agama Medan, Medan, 5 Juni 2013.

147 Hasil wawancara dengan S.B Hutagalung, Hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Negeri-Pengadilan Negeri Medan, Medan, 12 Juni 2013.

Kedua pendapat di atas, pada dasarnya tidaklah salah akan tetapi dalam

setiap undang-undang yang telah mencantumkan alat bukti elektronik sebagi alat

bukti yang dapat digunakan dalam proses peradilan tidak ada mencantumkan

bahwa alat bukti elektronik memiliki sifat pembaharuan hukum. Akan tetapi,

terdapat 1 (satu) undang-undang yang menyatakan bahwa alat bukti elektronik

merupakan salah satu bentuk perluasan hukum. hal ini dapat dilihat pada Pasal 5

ayat 2 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

(42)

“Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang

sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia”.

Bunyi Pasal di atas, memuat kata “perluasan” tidak terdapat kata

pembaharuan. Jelas bahwa sifat bukti elektronik ialah perluasan hukum. Arinya,

ia merupakan bagian dari alat bukti yang lama dimana alat bukti tersebut dapat

dibuat dalam bentuk elektronik.

Jadi, bukti elektronik dalam hukum acara perdata merupakan salah satu

aspek perluasan hukum, walaupun tidak terdapat kata pembaharuan yang

merupakan ia tetap bagian dari pembaharuan hukum.

C. Tinjauan Umum Tentang Dokumen Elektonik 1. Definisi Dokumen Elektronik

Secara yuridis definisi dokumen elektronik telah dirumuskan dalam Pasal

1 angka 4 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi

Elektronik jo Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang

Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik berbunyi:

(43)

Menurut Edmon Makarim, “dokumen elektronik atau arsip elektronik

adalah suatu data/informasi yang diolah oleh sistem informasi secara elektronis

tersebut tentunya akan tersimpan dalam suatu media tertentu secara elektronis”.148

Selanjutnya Rosyid berpendapat ”dokumen elektronik adalah dokumen

yang diciptakan, dikomunikasikan, dan dikelola secara elektronik yang

menggunakan teknologi komputer, dokumen tersebut bisa jadi karena memang

diciptakan secara elektronik atau karena hasil alih media dari dokumen

konvensional”.149

Dalam Personal Information Protection and Electronic Document Act, dokumen elektronik/electronic document means data that is recorded or stored

on any medium in or by a computer system or other similar device and that can be read or perceived by a person or a computer system or other similar device. It includes a display, print out or other output of that data.150

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa dokumen elektronik adalah

setiap informasi/data yang dibuat dan diteruskan secara elektronis sehingga dapat (Dokumen elektronik adalah data yang direkam atau disimpan pada media apapun

atau oleh sistem komputer atau perangkat lainnya yang sejenis dan yang dapat

dibaca atau dipahami oleh seseorang atau sebuah sistem komputer atau prangkat

sejenis lainnya. Ini termasuk layar, hasil cetak atau hasil cetak lain dari data).

148

Edmon Makarim, Pengantar Hukum Telematika : Suatu Kompilasi Kajian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005) hal. 43

149

150

(44)

didengar dan dibaca melalui komputer. Akan tetapi, dalam hukum acara

khususnya hukum acara perdata sifat pendapat di atas tentang definisi dokumen

elektronik harus dipahami sebagai petunjuk untuk memahami definisi dokumen

elektronik yang terdapat dalam undang-undang. Tetap definisi yang digunakan

dalam setiap penyelesaian perkara adalah definisi dokumen elektronik yang

terdapat pada Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang

Informasi Dan Transaksi Elektronik jo Pasal 1 angka 7 Peraturan Pemerintah

No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik.

2. Jenis-jenis Dokumen Elektronik

Dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan

Transaksi Elektronik serta Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang

Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik baik dalam bunyi pasal

maupun penjelasan pasal demi pasal tidak secara tegas ditemukan yang menjadi

jenis-jenis dari dokumen elektronik. Tetapi, jika melihat dalam definisi dokumen

elektronik yang terdapat dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 11 Tahun

2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik jo Pasal 1 angka 7 Peraturan

Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi

Elektronik berbunyi:

(45)

elektromagnetik, optikal atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol aau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya”.

Berdasarkan definisi di atas dapat dirumuskan yang menjadi jenis-jenis

dokumen elektronik.

Berikut jenis-jenis dari dokumen elektronik, yaitu:

a. Informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk

tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto,

elektronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail),

telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses,

simbol atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat

dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.151

1) Data elektronik adalah semua fakta yang direpresentasikan sebagai

input baik dalam bentuk untaian kata (teks), angka (numerik), Informasi elektronik dapat dibagi menjadi :

(46)

gambar pencitraan (images), suara (voices), ataupun gerak

(sensor).152

2) Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis,

karangan; buku-buku, dan gambaran; lukisan.

153

3) Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi

binatang, ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu

yang dianggap sebagai perkataan.154

4) Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan

sebagainya pada kertas dan sebagainya; lukisan.

155

5) Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang

menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya;

representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan

sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan; denah.156

6) Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng;

rencana; program; desain.157

7) Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.158

8) Elektronic Data Interchange (EDI) adalah sebuah alat yang dapat

digunakan untuk pertukaran sebuah data dimana ia dapat digunakan

dapat digunakan untuk mentransmisikan dokumen-dokumen secara

152 Edmon Makarim, Op.Cit, hal.34

(47)

elektronik seperti dokumen pemesanan pembelian, invoice, catatan

pengangkutan barang, penerimaan advice dan koresponden bisnis

standar lainnya di antara paramitra dagang.159

9) Surat elektronik (electronic mail) adalah pertukaran pesan antar

komputer di internet, biasanya tertulis dalam bentuk teks bebas

dibanding dalam format tertentu.160

10) Telegram adalah berita yang dikirim dengan telegraf; kabar kawat.

161

11) Teleks adalah suatu bentuk komunikasi antara dua terminal

telephone dimana setiap terminalnya kelihatan seperti dan

berfungsi seperti mesin ketik elektrik. Keduanya digunakan untuk

menge-print sebuah data (record) yang dikomunikasikan.

162

12) Telecopy atau fax adalah salah satu bentuk transmisi elektronik

yang sesuai dengan standar faksimili yang dibuat oleh

International Telegraph and Telephone Consultative

Committee.

163

13) Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan

anggota abjad yang melambangkan bunyi bahasa; aksara.164

159 Rina Aringintri Moksi, Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Jual Beli Secara

E-Commerce, (Semarang: Tesis S2 Universitas Diponegoro, 2006), hal. 28

160 Insaini Yusran, Hak Cipta Dan Tantangannya Di Era Cyberspace, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), hal. 6

161 Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit, hal. 1425 162 Rina Aringintri Moksi, Op.Cit, hal. 27

163 Ibid, hal. 28 164

(48)

14) Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan

sesuatu, gejala, bukti, pengenal; lambang, petunjuk.165

15) Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan;

nomor, nilai.166

16) Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau

kombinasi di antaranya yang merupakan kunci untuk dapat

mengakses komputer dan/atau sistem elektronik lainnya.167

17) Simbol adalah lambang.168

18) Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan

sebagainya; pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan

sebagainya.169

Terhadap informasi elektronik melekat kepadanya 2 (dua) kegiatan yang

harus dilalui sehingga dapat dikatakan sebagai informasi elektronik. Kegiatan

tersebut, yaitu:

1) diolah yang memiliki arti;

2) dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

165 Ibid, hal. 1393 166

Ibid, hal. 67

167 Lihat Pasal 1 angka 16 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

168 Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit, hal. 1308 169

(49)

b. Tulisan adalah hasil menulis; barang yang ditulis; cara menulis, karangan;

buku-buku, dan gambaran; lukisan.170

c. Suara adalah bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia, bunyi binatang,

ucapan (perkataan), bunyi bahasa (bunyi ujar), sesuatu yang dianggap

sebagai perkataan.171

d. Gambar adalah tiruan barang yang dibuat dengan coretan pensil dan

sebagainya pada kertas dan sebagainya; lukisan.172

e. Peta adalah gambar atau lukisan pada kertas dan sebagainya yang

menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan sebaginya; representasi

melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah,

sifat permukaan; denah.173

f. Rancangan adalah sesuatu yang sudah dirancang; hasil merancanng; rencana;

program; desain.174

g. Foto adalah potret, gambaran; banyangan; pantulan.175

h. Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjad

yang melambangkan bunyi bahasa; aksara.176

170 Ibid, hal. 1497 171

Ibid, hal. 1343

172 Ibid, hal. 409 173 Ibid, hal. 1066 174 Ibid, hal. 1139 175

(50)

i. Tanda adalah yang menjadi alamat atau yang menyesuaikan sesuatu, gejala,

bukti, pengenal; lambang, petunjuk.177

j. Angka adalah tanda atau lambang sebagai pengganti bilangan; nomor, nilai.178

k. Kode akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di

antaranya yang merupakan kunci untuk dapat mengakses komputer dan/atau

sistem elektronik lainnya.179

l. Simbol adalah lambang.180

m. Perforasi adalah pembuatan lubang pada kertas, kartu dan sebagainya;

pelubangan, lubang kecil pada kertas, karton dan sebagainya.181

a. dibuat;

Jenis-jenis dokumen elektronik di atas harus melalui beberapa tahapan

sehingga dapat dikatakan sebagai dokumen elektronik.

Tahapan tersebut, yaitu :

b. diteruskan;

c. dikirimkan;

d. diterima;

176 Ibid, hal. 513 177 Ibid, hal. 1393 178

Ibid, hal. 67

179 Lihat Pasal 1 angka 16 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

180 Ibid, hal. 1308 181

(51)

e. disimpan dalam beberapa bentuk :

1) Analog adalah berhubungan dengan sistem atau piranti kmputer

yang menyajikan data yang bermacam-macam berdasarkan

kualitas fisik yang terukur.182

2) Digital adalah berhubungan dengan angka-angka untuk sistem

perhitungan tertentu; behubungan dengan penomoran.183

3) Elektromagnetik adalah berasal dari, berhubungan dengan,

dihasilkan elektromagnetisme.184

4) Optikal adalah media penyimpanan data elektronik yang

dapat ditulis dan dibaca dengan menggunakan laser bertenaga

rendah.

185

f. dilihat;

g. ditampilkan;

h. didengar;

i. memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu

memahaminya.

Tahapan dan jenis-jenis dokumen elektronik di atas harus diproses melalui

2 (dua) media, yaitu :

182

Ibid, hal. 59

183 Ibid, hal. 327 184 Ibid, hal. 363

185

(52)

a. Komputer adalah alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optik,

atau sistem yang melaksanakan fungsi logika, aritmatika dan

penyimpanan.186

b. Sistem elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik

yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah,

menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan,

dan/atau menyebarkan informasi elektronik.187

3. Informasi Elektronik dan Dokumen Elektronik

Dalam praktek dikenal dan berkembang apa yang dinamakan bukti

elektronik. Hal ini diakibatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi

terutama melalui internet sehingga telah mengubah aktifitas-aktifitas kehidupan

yang semula dilakukan secara kontak fisik kini cukup mengunakan cyberspace

(dunia maya) yang berujung jika terjadi sengketa maka alat bukti yang digunakan

adalah bukti elektronik.188

186 Lihat Pasal 1 angka 14 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

187 Lihat pasal 1 angka 5 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

188

Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Op.Cit, hal. 97-99

Salah satu bukti elektronik ialah informasi elektronik

dan dokumen elektronik. Pengaturan informasi elektronik dan dokumen

elektronik terdapat pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi

dan Transaksi Elektronik serta Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2012 Tentang

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...