Arahan pemanfaatan ruang diwujudkan berdasarkan kebijakan struktur dan pola tata ruang yaitu menjabarkan dan menyusun tahapan dan prioritas program berdasarkan persoalan mendesak yang harus ditangani, serta antisipasi dan arahan pengembangan masa mendatang, dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun perencanaan (20 tahun).
6.1 Program Pembangunan
Berdasarkan tujuan, kebijakan, dan strategi serta arahan rencana struktur ruang dan rencana pola ruang, maka perlu disusun indikasi program pembangunan, sehingga dapat ditindaklanjuti menjadi pelaksanaan pekerjaan pembangunan kota melalui prosedur formal perencanaan pembangunan yang ada dan akhirnya diterjemahkan dalam proyek-proyek dan pelaksanaan kegiatan.
6.1.1. Program Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Kota Bengkulu
A. Program utama sistem pusat pelayanan kegiatan kota
Di setiap pusat pelayanan kota (pusat kota) dan sub pusat perlu dilengkapi ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya masing-masing. Hal ini guna mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antarwilayah pengembangan kota. Pengembangan sistem pusat dilakukan berdasarkan 2 (dua) kriteria, yaitu pusat kegiatan yang dikembangkan dan pusat kegiatan yang dikendalikan.
Pusat kegiatan yang dikembangkan adalah pusat pelayanan kota dan pusat baru di SPK Bentiring dan Bentiring Permai yang pengembangannya diprioritaskan dalam 5 (lima) tahun pertama, sedangkan pusat kegiatan yang dikendalikan adalah kawasan
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG
KOTA BENGKULU
sekitar Pantai Panjang, kawasan sekitar Cagar Alam Danau Dusun Besar dan Danau Dendam Tak Sudah.
Program pengembangan pusat regional, pusat kota dan sub pusat kota adalah: 1. Pembangunan Kawasan Wisata Regional, Pendidikan, Perdagangan dan Jasa; 2. Pembangunan pelayanan kegiatan kota (pusat pemerintahan dan pusat
perdagangan kota);
3. Pembangunan sub pusat kota:
a. Penataan pusat lama (inti pusat kota dan sekitarnya).
b. Pengembangan dan penataan sub pusat Panorama, Pagar Dewa, Betungan dan sekitarnya untuk menangkap kegiatan perdagangan dan jasa regional.
Program penataan Inti Pusat Kota dilaksanakan melalui kegiatan berikut ini: 1. Penyusunan Peraturan Zonasi.
2. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota.
3. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. 4. Penyusunan Panduan Rancang Kota.
5. Peremajaan kota dan revitalisasi fungsi kegiatan.
6. Pengendalian kegiatan komersial/perdagangan, mencakup pertokoan, pusat belanja, dan sejenisnya.
7. Pengendalian kegiatan jasa dan perkantoran skala nasional, dan regional, yang meliputi jasa keuangan, jasa profesi, jasa kontraktor, jasa konsultansi, dan jasa pariwisata.
Adapun program penataan di setiap Sub Pusat Kota Bengkulu di luar Pusat Kota dilakukan melalui kegiatan-kegiatan:
1. Penyusunan Peraturan Zonasi.
2. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota.
3. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. 4. Penyusunan Panduan Rancang Kota.
5. Pengembangan kegiatan perdagangan skala regional.
6. Pengembangan kegiatan jasa komersial skala wilayah dan kota.
7. Pengembangan ruang terbuka hijau untuk kota dan penyangga antara kawasan industri dan perumahan.
8. Pengembangan kegiatan industri kecil berwawasan lingkungan. 9. Promosi guna menarik investor untuk mewujudkan fungsi kota.
Program untuk penataan Sub Pusat Kota dilakukan melalui kegiatan rencana yeng lebih detail (terinci), peraturan zonasi, peraturan pembangunan dan standar teknis. Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar bagian wilayah kota, maka setiap sub pusat kota perlu didukung oleh ketersediaan dan kualitas sarana dan prasarana yang sesuai dengan skala pelayanannya.
B. Program utama perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah kota
1. Program Pengembangan Bidang Transportasi
Program pengembangan prasarana transportasi dilakukan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas dan tingkat pelayanan prasarana transportasi guna mendukung berjalannya sistem pelayanan yang telah direncanakan. Program pengembangan transportasi jalan adalah:
1. Sistem jaringan jalan:
a. Peningkatan kapasitas pelayanan sistem jaringan jalan dan penghilangan gangguan kinerja jalan.
b. Penataan dan peningkatan fungsi dan kapasitas jalan (jalan Arteri Primer dan jalan Kolektor Sekunder).
c. Pengembangan sistem jaringan sekunder, serta pengembangan jalan untuk daerah yang terisolir.
d. Minimalisasi persilangan dengan jaringan rel KA.
e. Pembangunan jalan lintas pembangunan lingkar dalam dan lingkar luar.
2. Pengembangan angkutan umum meliputi: a. Studi kelayakan sistem angkutan dalam kota.
Menyediakan pemberhentian untuk angkutan umum bus maupun non-bus yang memadai.
b. Pengembangan dan penataan pelayanan angkutan paratransit.
c. Pengembangan dan peningkatan pelayanan/penggunaan angkutan umum masal yang optimal.
d. Penataan ulang dan pengembangan fungsi terminal serta fungsi pelayanan terminal.
3. Fasilitas penunjang
a. Pembangunan terminal tipe A di Timur Kota.
b. Memfungsikan kembali terminal barang di Kelurahan Air Sebakul. c. Penetapan kawasan parkir maupun gedung parkir.
4. Program pengembangan kereta api adalah sebagai berikut:
a. Penertiban kegiatan yang mengganggu lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api.
b. Perbaikan dan pemeliharaan pintu perlintasan jalan kereta api.
C. Program Pengembangan Air Bersih/Air Baku
Program pengembangan prasarana air baku dan penyediaan air bersih meliputi pembangunan/pengoptimalan air permukaan (sungai dan danau) dan tandon-tandon air serta meningkatkan pelayanan air bersih (termasuk pengembangan sistem jaringan).
Program pelestarian sumberdaya air meliputi:
1. Pelestarian sumber mata air dan konservasi daerah resapan air.
2. Pengawasan dan penertiban sumber air yng berasal dari sumber air tana dalam, terutama yang digunakan oleh industri.
Program peningkatan pelayanan air bersih meliputi: 1. Pengembangan kapasitas IPA.
2. Peningkatan kapasitas reservoir.
3. Rehabilitasi jaringan pipa Penambahan jaringan pipa distribusi. 4. Pengembangan fasilitas kran umum dan hidran umum
D. Program Pengelolaan Limbah
Program pengelolaan air limbah meliputi: 1. Mengembangkan sistem sewerage. 2. Mengembangkan on site komunal.
3. Mengembangkan saluran air limbah, sambungan rumah, interseptor, serta pipa utama.
4. Pembangunan IPAL. 5. Rehabilitasi IPLT. 6. Penambahan truk tinja.
E. Program Pengembangan Drainase
1. Program pengembangan drainase adalah: 2. Penyusunan rencana induk drainase perkotaan. 3. Penataan DAS Air Bengkulu dan Air Hitam.
4. Pembangunan kolam penampungan air sementara (kolam tendon) Sungai Bengkulu.
5. Pembangunan tanggul penahan banjir. 6. Pengembangan sistem berjenjang drainase.
7. Normalisasi beberapa sungai yang selama ini menjadi saluran air hujan seperti Sungai Air Bengkulu dan Air Hitam serta memperketat pendirian bangunan di daerah aliran sungai/kali tersebut terutama bagian Selatan kota dikarenakan porositas tanahnya.
8. Pengembangan khusus sistem drainase pada daerah rawa/pasang surut.
F. Program Pengembangan Persampahan
Program pengembangan persampahan di Kota Bengkulu adalah: 1. Pengembangan metode 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). 2. Pengembangan kapasitas TPA.
3. Pengembangan TPST setiap kecamatan. 4. Pengadaan truk kontainer.
G. Program Pengembangan Energi dan Telekomunikasi
Program pengembangan prasarana energi dan telekomunikasi meliputi:
1. Mengupayakan peningkatan kualitas pelayanan jaringan listrik dan telepon di setiap Sub Pusat Pelayanan Kota.
2. Mengarahkan pengembangan jaringan listrik dan telepon ke wilayah kota bagian Selatan.
3. Pengembangan jaringan udara terbuka (Overhead Line Transmission) dengan menggunakan tiang yang memiliki manfaat sebagai jaringan distribusi dan penerangan jalan.
4. Pengembangan sistem tertutup (kabel bawah tanah) pada jaringan jalan arteri primer dan tergabung dengan jaringan utilitas.
5. Pembangunan instalasi baru dan pengoperasian instalasi penyaluran. 6. Pembangunan prasarana listrik yang bersumber dari energi alternatif.
7. Pengembangan fasilitas telekomunikasi umum, seperti telepon umum dan warung telekomunikasi di lokasi strategis.
8. Peningkatan sistem hubungan telepon yang serba otomatis, termasuk telepon umum .
9. Penggunaan menara bersama bagi menara BTS provider- provider telepon seluler.
6.1.2. Program Pengembangan Pola Ruang
A. Program Pengembangan Kawasan Lindung
Kawasan Lindung merupakan kawasan yang didalamnya tidak diperbolehkan melakukan kegiatan budidaya apapun, kecuali pembangunan prasarana vital dengan luas areal maksimum 2% dari luas kawasan lindung. Di dalam kawasan non-hutan yang berfungsi lindung diperbolehkan kegiatan budidaya secara terbatas dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan yang bersangkutan serta wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup.
Kegiatan budidaya yang sudah ada di Kawasan Lindung dan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta dapat mengganggu fungsi lindung, maka fungsi sebagai Kawasan Lindung dikembalikan secara bertahap disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan memperhatikan fungsi lindung, di kawasan yang bersangkutan
dapat dilakukan eksplorasi mineral dan air tanah serta kegiatan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana alam. Apabila ternyata di Kawasan Lindung terdapat indikasi adanya sumber daya mineral, kandungan air tanah, atau kekayaan lainnya yang bila diusahakan dinilai amat berharga bagi Pemerintah, maka kegiatan budidaya di Kawasan Lindung tersebut dapat diizinkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Untuk mewujudkan proporsi Kawasan Lindung seperti kondisi sekarang, maka program pengembangan Kawasan Lindung di Kota adalah sebagai berikut:
1. Pengukuhan Kawasan Lindung, melalui kegiatan:
a. Penunjukan Kawasan Lindung baik yang merupakan hutan (hutan kota) maupun non hutan.
b. Penataan batas Kawasan Lindung. c. Pemetaan Kawasan Lindung.
d. Penetapan Kawasan Lindung dengan mempertimbangkan kebutuhan dan rencana pengembangan sektor-sertor yang terkait dengan penataan Kawasan Lindung (sektor pertambangan, sektor kehutanan dsb);
e. Penguasaan Kawasan Lindung.
2. Rehabilitasi dan konservasi lahan di Kawasan Lindung guna mengembalikan dan meningkatkan fungsi lindung, melalui kegiatan penghijauan di seluruh Kawasan Lindung. 3. Pengamanan dan pengendalian lahan di Kawasan Lindung melalui kegiatan pengawasan,
pengamanan dan pengaturan pemanfaatan serta penguasaan sumberdaya di seluruh Kawasan Lindung.
Pengembangan pola insentif dan disinsentif pengelolaan lahan di Kawasan Lindung. Pemanfaatan ruang pada kawasan lindung untuk kegiatan budidaya dibatasi pada kegiatan yang bersifat wisata alam terbatas, pemeliharaan habitat, tumbuhan, satwa dan kegiatan pendidikan serta penelitian
4. Penetapan disinsentif bagi pengembangan di kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Lindung dengan tidak megembangkan infrastruktur yang dapat mendorong terjadi pertumbuhan kegiatan budidaya yang tidak sesuai dengan karakter lindung, serta membatasi pengembangan kegiatan kegiatan di sekitar Kawasan Lindung untuk kegiatan wisata alam terbatas, pemeliharaan habitat, tumbuhan, satwa dan kegiatan pendidikan serta penelitian;
Arahan Pemanfaatan Ruang pada Kawasan Rawan Bencana
Pemanfaatan ruang pada Kawasan Rawan Bencana diarahkan melalui :
a) Penetapan Kawasan Rawan Bencana Alam khususnya rawan bencana gempa bumi yang dapat dideteksi dari struktur geologi tanah dan menerapan disinsentif pemanfaatan ruang pada kawasan rawan bencana gempa bumi
b) Penetapan Kawasan Rawan Bencana Banjir dan rencana pencegahan dan penanggulangan bencana banjir dan dan menerapan pelarangan serta disinsentif pemanfaatan ruang pada kawasan rawan bencana banjir;
c) Penetapan peraturan teknis melalui peraturan zonasi dan pembatasan pengembangan kegiatan pada kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana;
d) Penetapan lokasi untuk evakuasi bencana apabila terjadi bencana alam khususnya bencana gempa bumi. Lokasi untuk evakuasi bencana di kembangkan sebagai multi layer space, dimana pada waktu terjadi bencana alam dapat berfungsi sebagai ruang evakuasi dan pada waktu tidak terjadi bencana berfungsi sebagai ruang terbuka publik (baik berupa ruang terbuka hijau maupun ruang terbuka non hijau;
a. Pengembangan upaya mitigasi bencana pada kawasan kawasan rawan bencana;
b. Pemanfaatan ruang kawasan rawan bencana diarahkan pada pengembangan kegiatan kegiatan lindung atau kegiatan budidaya yang lebih banyak memanfaatkan ruang terbuka.
B. Program Pengembangan Kawasan Budidaya
a. Pemanfaatan Ruang pada Kawasan Perdagangan/Jasa Skala Regional Pengembangan kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa skala regional wajib menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk mencegah dampak kurang menguntungkan yang timbul sebagai akibat penyelenggaraan kegiatan tersebut yang diatur lebih lanjut dalam Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (Zoning Regulation);
Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal;
Pengembangan ruang pada pusat-pusat pelayanan kota lebih ditekankan pada penataan skala blok dengan jalan akses minimal adalah Jalan Kolektor;
Dimungkinkan adanya alih-fungsi lahan dengan tetap memperhatikan asas keberlanjutan dan berkeadilan;
Untuk menjamin kecukupan Ruang Terbuka Hijau yang selaras dengan peningkatan kebutuhan pengembangan ruang, pada pusat-pusat primer ditekankan pada pengembangan secara vertikal terbatas dengan tetap memperhatikan rencana intensitas yang ditetapkan di dalam rencana kota.
b. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Permukiman
Arahan pemanfaatan ruang pada Kawasan Permukiman di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut :
1. Pembangunan baru pada lingkungan siap bangun dalam bentuk kawasan maupun yang berdiri sendiri.
2. Pengembangan kawasan perumahan dengan tingkat kepadatan rendah dan sedang skala besar diwajibkan untuk membuat sistem prasarana yang terintegrasi dengan prasarana kota dan diatur lebih-lanjut dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota.
3. Pemeliharaan lingkungan pada kawasan-kawasan yang sudah tertata/stabil dengan kondisi lingkungan baik;
4. Perbaikan lingkungan pada kawasan-kawasan dengan kategori kondisi lingkungan sedang;
5. Peremajaan pada kawasan dengan kondisi kumuh sedang dan berat dengan pembangunan vertikal baik peremajaan dengan alih-fungsi maupun peremajaan tidak alih-fungsi;
6. Relokasi kawasan permukiman padat yang berada di kawasan sempadan Pantai Panjang dan daerah rawan banjir di sepanjang Jalan Irian, Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Sungai Serut dalam rangka pengamanan daerah sempadan pantai dan sempadan sungai dan pengembangan water front city di sepanjang Pantai Panjang dan sepanjang Sungai Air Bengkulu;
7. Relokasi permukiman pada areal yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi di sepanjang Pantai Panjang dan kawasan sekitar Cagar Alam Dusun Besar;
8. Penataan bangunan (baik permukiman maupun non-permukiman) yang keberadaannya tidak sesuai dengan ketentuan batas sempadan sungai, khususnya di sepanjang Sungai/Air Bengkulu;
9. Relokasi permukiman penduduk di sekitar Kawasan Bandara Fatmawati Soekarno yang berada pada radius radiasi kebisingan pesawat pada saat
take-off dan landing pada jalur KKOP(Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan.
c. Pemanfaatan Ruang pada Kawasan Perkantoran/ Pemerintahan
Arahan pemanfaatan ruang pada Kawasan Perkantoran dan Pemerintahan di Kota Bengkulu adalah sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan pemerintahan provinsi di pusat kota dengan pengembangan secara vertikal terbatas;
2. Pengembangan pusat pemerintahan kota di Kawasan Bentiring yang akan dikembangkan sebagai pusat pelayanan sekunder dengan dukungan pengembangan infrastruktur;
3. Pengembangan kawasan perkantoran dan pemerintahan diarahkan pada pola pengembangan skala blok dengan dengan tetap memperhatikan ketentuan ketentuan pengembangan blok yang diatur dalam Peraturan Zonasi (Zoning Regulation).
d. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Perdagangan dan Jasa Skala Lokal
Pemanfaatan ruang pada Kawasan Perdagangan dan Jasa diarahkan sebagai berikut :
Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan perdagangan di Kawasan Pusat Kota sebagai pusat pelayanan regional dengan pengembangan secara vertikal terbatas dengan tetap memperhatikan rencana tata ruang kota dan arsitektur kota serta daerah KKOP;
Pada Pusat Kota pengembangan kawasan perdagangan dan jasa diarahkan pada pola pengembangan skala blok dengan dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan pengembangan blok yang diatur di dalam Peraturan Zonasi (Zoning Regulation);
Pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa dilaksanakan dengan memenuhi kebutuhan sarana tempat usaha yang ditata secara adil untuk semua golongan usaha termasuk di dalamnya kegiatan usaha kecil dan sektor informal;
Pengembangan pada koridor sepanjang Jalan Kolektor dan Jalan Arteri diatur berdasarkan Rencana Detail Tata Ruang Kota, Panduan Rancang Kota dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;
Pengembangan fasilitas perdagangan modern diadukan dengan fasilitas perdagangan tradisional yang menampung sektor sektor informal;
Penataan sektor informal yang memanfaatkan fasilitas umum pada lokasi-lokasi khusus yang lebih teratur dan menjamin kesempatan berusaha yang berkelanjutan;
Pemugaran Kawasan Kampung Cina dan Kawasan Sekitar Benteng Marlborough yang ditetapkan sebagai kawasan kota lama yang ditetapkan sebagai bangunan ataupun kawasan cagar budaya (berdasarkan ketentuan ketentuan Undang-Undang Cagar Budaya);
Penataan sempadan bangunan di sepanjang kiri dan kanan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan sempadan yang telah ditetapkan. Penataan disesuaikan dengan mekanisme sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah yang ada dan Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum;
Penertiban kegiatan-kegiatan terbangun, baik permanen, semi permanen, maupun temporer yang tidak sesuai dengan arahan pemanfaatan ruang.
e. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Pendidikan Tinggi
Pemanfaatan ruang pada Kawasan Pendidikan Tinggi diarahkan sebagai berikut: Pencadangan lahan untuk pengembangan pendidikan tinggi pada kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan perguruan tinggi di Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kecamatan Selebar;
Mengoptimalkan pemanfaatan ruang kawasan perguruan tinggi di Kecamatan Teluk Segara dan Kecamatan Ratu Agung dengan pengembangan secara vertikal terbatas dengan tetap memperhatikan rencana tata ruang kota, arsitektur kota dan aspek keamanan terhadap bahaya gempa bumi;
Mengembangkan kawasan pendidikan tinggi dengan komposisi ruang terbangun <40% dan Ruang Terbuka Hijau >60%;
Pengaturan ruang di sekitar kawasan pendidikan tinggi untuk mendukung pengembangan kawasan pendidikan tinggi;
Pengembangan infrastruktur pendukung pengembangan kawasan pendidikan tinggi.
f. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Industri Dan Pergudangan
Pemanfaatan ruang pada Kawasan Industri dan Pergudangan diarahkan sebagai berikut :
Pencadangan lahan untuk pengembangan kawasan industri dan pergudangan dan kegiatan lanjutan sebagai dampak pengembangan Kawasan Industri Kampung Melayu (Kawasan Pelabuhan Pulau Baai);
Menyiapkan dan mengembangkan infrastruktur, termasuk jaringan energi, jaringan transportasi sebagai pendukung pengembangan Kawasan Industri dan Pergudangan di Kampung Melayu (Kawasan Pelabuhan Pulau Baai);
Mengembangkan industri besar, sedang dan kecil di Kawasan Industri Kampung Melayu (Kawasan Pelabuhan Pulau Baai);
Pengaturan ruang-ruang di sekitar kawasan industri dan pergudangan untuk mendukung pengembangan kegiatan-kegiatan di kawasan industri dan pergudangan;
Mengalihkan secara bertahap pergudangan dan industri-industri yang ada di dalam pusat kota (baik industri kecil, sedang dan besar) ke Kawasan Industri Kampung Melayu (Kawasan Pelabuhan Pulau Baai) dengan pemberian insentif ; Relokasi kegiatan industri sedang dan berat ke Kawasan Industri di Kecamatan Kampung Melayu dan Kawasan Pelabuhan Pulau Baai;
Penyusunan rencana pemanfaatan ruang dan pengendalian kegiatan industri di kawasan Kecamatan Kampung Melayu.
g. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Pariwisata
Pemanfaatan ruang pada Kawasan pariwisata diarahkan sebagai berikut:
Pengembangan pantai panjang sebagai kawasan pariwisata dengan mengembangkan segmen-segmen ruang berdasarkan tema wisata yang akan dikembangkan antara lain tema sejarah, wisata alam, wisata belanja, wisata kuliner dan lain sebagainya;
Pengembangan ruang terbuka hijau pada ruang sempadan pantai dengan tanaman tanaman yang dapat menghambat gelombang apabila terjadi bencana tsunami, dan mencegah terjadinya abrasi air laut;
Pengembangan infrastruktur di sepanjang pantai untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata tanpa mengurangi fungsi lindung pada daerah sempadan pantai;
Pengembangan fasilitas perdagangan dan jasa serta fasilitas lainnya yang mendukung pengembangan sektor pariwisata;
Perencanaan panduan rancang kota pada kawasan pariwisata pantai panjang.
h. Pemanfaatan Ruang Pada Kawasan Hijau Binaan
Pemanfaatan ruang pada kawasan hijau binaan diarahkan sebagai berikut:
Pemeliharaan dan pengembangan baru Ruang Terbuka Hijau dengan pengembangan tanaman keras bertajuk besar, baik yang berbentuk koridor (RTH sepanjang ruang jalan) maupun pada ruang-ruang yang ditetapkan sebagai taman kota;
Pengadaan hutan kota pada setiap Wilayah Pembangunan dengan luas minimum 5 ha, yang difungsikan sebagai ruang terbuka aktif .
Pengembangan baru dengan luas tanah lebih dari 5 ha disaratkan untuk menyediakan ruang terbuka hijau 30% sebagaimana disyaratkan;
Pengembalian fungsi ruang terbuka hijau yang telah terkonversi menjadi kegiatan-kegiatan selain RTH;
Pengembangan jalur hijau pada sempadan sungai, penataan dan pembangunan jalur hijau pada seluruh ruas jalan raya di bawah jaringan listrik tegangan tinggi dan ekstra tinggi (SUTT dan SUTET);
Pengembangan ruang terbuka hijau di lingkungan yang penggunaannya untuk sarana olahraga, rekreasi taman lingkungan perumahan;
Pengadaan ruang terbuka hijau baru pada peremajaan kawasan terbangun; Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pemeliharaan maupun pengembangan ruang terbuka hijau yang diatur melalui Koefisien Dasar Hijau yang akan diatur lebih lanjut di dalam Peraturan Zonasi (Zoning Regulation). Pengembangan kegiatan pertanian kota pada kawasan pertanian yang padukan dengan kegiatan penataan kawasan Danau Dendam serta pengembangan sarana pengendalian banjir di sebagian Kecamatan Sungai Serut, sebagian
Kecamatan Gading Cempaka dan sebagian Kecamatan Ratu Agung khususnya pada ruang yang terletak di sekitar Danau Dendam Tak Sudah dan sepanjang Sungai Air Bangkahulu
6.2 Indikasi Program
Sesuai dengan salah-satu fungsi RTRW sebagai acuan bagi instansi sektoral untuk menyusun dan melaksanakan program lima tahunan dan program tahunan, berikut ini akan dikemukakan indikasi program pembangunan sektoral yang merupakan penjabaran dari kebijakan dan rencana pengembangan tata ruang yang telah ditetapkan. Program-program tersebut pada dasarnya masih bersifat indikatif, yang diharapkan dapat memberikan indikasi bagi penyusunan program pembangunan sektoral, baik itu untuk jangka menengah maupun tahunan.
Secara umum, sektor yang akan diindikasikan program pembangunannya adalah sektor/sub sektor yang langsung memanfaatkan ruang (sebagai implikasi dari rencana tata ruang yang telah disusun), beserta lokasi program dalam kurun waktu perencanaan dan instansi pengelola. Dengan demikian tidak semua sektor akan diuraikan indikasi program pembangunannya, sektor yang tidak termasuk pada dasarnya mengikuti atau mendukung program-program sektor yang diuraikan. Indikasi program Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu ini disusun untuk jangka waktu 20 tahun (2012-2032).
Indikasi program dalam rangka pemanfaatan ruang sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu meliputi :
1. Indikasi Program Pemantapan Kawasan Lindung
Tujuan pemantapan kawasan lindung di Kota Bengkulu adalah untuk menetapkan batas-batas kawasan yang berfungsi lindung, serta mengembalikan fungsi lindung kawasan-kawasan sesuai dengan tujuan perlindungannya. (Lihat Tabel 6.1.)
2. Indikasi Program Pengembangan Kawasan Budidaya/Sektoral
Program-program jangka menengah untuk menindaklanjuti arahan pengembangan kawasan budidaya yang tertuang dalam rencana arahan pengembangan kawasan budidaya/sektoral akan diuraikan pada Tabel 6.2.
3. Program Pengembangan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Untuk meningkatkan daya dukung lingkungan alamiah dan buatan serta menjaga keseimbangan daya dukung lingkungan Kota untuk menjaga proses pembangunan berkelanjutan, program pengembangan daya dukung dan daya tampung wilayah adalah sebagai berikut:
1. Pemantauan kualitas lingkungan yang dilakukan melalui kegiatan: a. Pemantauan pencemaran pada sungai, anak sungai di Kota . b. Pemantauan kerusakan pada DAS di Kota .
2. Penertiban dan penegakan hukum. 3. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam.
4. Pengembangan daya dukung lingkungan buatan melalui: reboisasi, konservasi, prokasih, pengembangan sumur resapan, danau buatan dan lain-lain.
6.3 Tahap Pembangunan
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bengkulu mempunyai dimensi waktu pelaksanaan 20 Tahun (2010-2030). Dalam pelaksanaannya, dilakukan pentahapan pelaksanaan dalam 4 (empat) tahap jangka menengah (lima tahun).
Indikasi waktu pelaksanaan terdiri dari 4 (empat) tahapan, yaitu:
a. tahap pertama, yaitu tahun 2012–2017, diprioritaskan pada perencanaan dan penataan kawasan strategis;
b. tahap kedua, yaitu tahun 2018–2022, diprioritaskan pada peningkatan fungsi dan pengembangan;
c. tahap ketiga, yaitu tahun 2023–2027, diprioritaskan pada pengembangan dan pemantapan; dan
6.3.1 Tahapan Pembangunan Perwujudan Struktur Ruang Kota
1) Indikasi program utama perwujudan struktur ruang Kota pada tahap pertama diprioritaskan pada:
a. Penataan ruang pusat pertumbuhan regional kawasan pariwisata, pendidikan dan perdagangan/jasa .
b. Penataan ruang Kawasan Pusat Pemerintahan Kota dan Penataan Kawasan Perdagangan dan Jasa di Pusat Kota.
c. Penataan ruang pusat-pusat pertumbuhan Sub Pusat Pelayanan Kota di masing-masing pusat Sub Pusat Pelayanan Kota di setiap pusat pusat kecamatan di Kota .
d. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan transportasi meliputi transportasi jalan, stasiun kereta api dan terminal;
e. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan telekomunikasi meliputi jaringan tetap dan bergerak;
f. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan energi listrik meliputi pembangkit tenaga listrik, gardu Induk, dan jaringan transmisi
g. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan sumber daya air, dan jaringan sungai. h. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan air minum perpipaan dan/atau bukan
jaringan perpipaan;
i. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan drainase makro dan mikro;
j. Perencanaan dan studi kelayakan jaringan air limbah setempat dan/atau terpusat; dan
k. Pengembangan pengelolaan persampahan meliputi TPS, TPST dan TPA.
2) Indikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah Kota pada tahap dua diprioritaskan pada:
a. Pembangunan pusat-pusat kegiatan regional, pusat kegiatan kota, sub pusat kegitan kota dan pusat lingkungan.
b. Pembangunan jaringan transportasi meliputi transportasi jalan, terminal, dan stasiun kereta api;
c. Pembangunan jaringan telekomunikasi meliputi jaringan tetap dan bergerak; d. Pembangunan jaringan energi listrik meliputi pembangkit tenaga listrik, gardu
e. Pembangunan sistem jaringan sumber daya air, dan jaringan sungai.
f. Pembangunan sistem jaringan air minum perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan;
g. Pembangunan sistem jaringan drainase makro dan mikro;
h. Pembangunan sistem jaringan air limbah setempat dan/atau terpusat; dan i. Pembangunan pemantapan sistem persampahan TPS, TPST dan TPA.
3) Indikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah Kota, pada tahap ketiga diprioritaskan pada:
a. Pemantapan fungsi pusat-pusat kegiatan regional, pusat kegiatan kota, sub pusat kegitan kota dan pusat lingkungan.
b. pemantapan jaringan transportasi meliputi transportasi jalan, terminal, dan Stasiun Kereta api;
c. pemantapan jaringan telekomunikasi meliputi jaringan tetap dan bergerak;
d. pemantapan jaringan energi listrik meliputi pembangkit tenaga listrik, gardu Induk, dan jaringan transmisi.
e. pemantapan sistem jaringan sumber daya air, dan jaringan sungai.
f. Pemantapan sistem jaringan air minum perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan;
g. pemantapan system jaringan drainase makro dan mikro;
h. pemantapan sistem jaringan air limbah setempat dan/atau terpusat; dan i. pemantapan sistem persampahan TPS, TPST dan TPA.
4) Indikasi program utama perwujudan struktur ruang wilayah Kota pada tahap empat diprioritaskan pada:
a. Pemeliharaan dan pengembangan pusat-pusat kegiatan regional, pusat kegiatan kota, sub pusat kegitan kota dan pusat lingkungan.
b. Pemeliharaan dan pengembangan jaringan transportasi meliputi transportasi jalan, terminal,;
c. Pemeliharaan dan pengembangan jaringan telekomunikasi meliputi jaringan tetap dan bergerak;
d. Pemeliharaan dan pengembangan jaringan energi listrik meliputi pembangkit tenaga listrik, gardu Induk, dan jaringan transmisi.
e. Pemeliharaan dan pengembangan sistem jaringan sumber daya air, dan jaringan sungai.
f. Pemeliharaan dan pengembangan sistem jaringan air minum perpipaan dan/atau bukan jaringan perpipaan;
g. Pemeliharaan dan pengembangan system jaringan drainase makro dan mikro; h. Pemeliharaan dan pengembangan sistem jaringan air limbah setempat dan/atau
terpusat; dan
i. Pemeliharaan dan pengembangan sistem persampahan TPS, TPST dan TPA.
A. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Sistem Transportasi
Tahapan pengembangan sistem transportasi didasarkan pada kriteria pemecahan persoalan mendesak, pemenuhan kebutuhan masyarakat, serta dukungan pada ekonomi kota dan pengembangan wilayah.
Prioritas I :
Dalam rangka pengembangan wilayah, yaitu Jalan Lingkar yang menghubungkan pergerakkan dari utara menuju timur (Curup) melalui Jl. WR. Supratman. serta menangkap kegiatan regional dan rencana pembangunan terminal tipe B. Demikian pula peningkatan kinerja jalan utama kota menjadi prioritas.
Prioritas II :
Dalam rangka peningkatan ekonomi kota, yaitu perbaikan jalan utama kota dan peningkatan jalan lingkar dalam menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi kota.
B. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Prasarana dan Sarana Kota
Seperti halnya pengembangan sistem transportasi, pengembangan prasarana dan sarana kota ini pun didasarkan pada kriteria pemecahan persoalan mendesak, pemenuhan kebutuhan masyarakat, serta dukungan pada ekonomi kota dan pengembangan wilayah.
Prioritas I :
1. Pemeliharaan kondisi prasarana dasar perkotaan yang ada. 2. Pemeliharaan kondisi sarana dasar perkotaan.
3. Perbaikan prasarana dasar perkotaan yang ada.
4. Perbaikan sistem drainase kota secara terpadu, di seluruh kota dengan skala prioritas barat dan selatan kota.
Prioritas II :
Perluasan/pengembangan prasarana dasar di wilayah Timur, Barat, Utara dan Selatan.
Indikasi program utama perwujudan pola ruang wilayah Kota pada tahap pertama diprioritaskan pada:
a. Penetapan batas kawasan lindung setempat yaitu sempadan sungai;
b. Penataan pemukiman kumuh dan Resetlement penduduk yang menghuni sempadan sungai;
c. Rehabilitasi fungsi-fungsi lindung perlindungan setempat dan cagar budaya, d. Perencanaan, Penetapan kawasan ruang terbuka hijau;
e. Perencanaan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi, kawasan industri dan kawasan perdagangan/jasa dan pariwisata,.
Indikasi program utama perwujudan pola ruang wilayah Kota pada tahap kedua diprioritaskan pada:
a. Pemantapan fungsi-fungsi lindung pada kawasan lindung yang terdiri dari: kawasan perlindungan setempat, cagar budaya, rawan bencana banjir;
b. Pemantapan Ruang Terbuka Hijau Kota
c. Pengembangan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi, kawasan industri dan kawasan perdagangan-jasa dan pariwisata.
Indikasi program utama perwujudan pola ruang wilayah Kota pada tahap ketiga diprioritaskan pada:
a. Pengembangan pusat-pusat permukiman baru di setiap sub pusat pelayanan kota. b. Pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum di sub-sub pusat pelayanan kota.
Indikasi program utama perwujudan pola ruang wilayah Kota , pada tahap keempat diprioritaskan pada:
a. Pemantapan fungsi-fungsi lindung pada kawasan lindung sempadan sungai dan waduk buatan
b. Pemantapan dan pemeliharaan Ruang Terbuka hijau kota
6.3.2 Tahapan Program Perwujudan Pola Ruang Kota
A. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Kawasan Lindung
Perlindungan dan upaya mempertahankan serta mengembalikan Kawasan Lindung dan Pelaksanaan rehabilitasi dan konservasi lahan dilakukan secara bertahap. Tahapan pengembangan program efisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan buatan ditentukan dengan kriteria tingkat kerusakan dan kekritisannya. Prioritas utama adalah lahan yang kritis, kemudian yang tingkat kerusakannya lebih besar.
Prioritas I :
1. Pembangunan kawasan strategis sebagai pendorong utama pertumbuhan kota, seperti pembangunan kawasan industri, pembangunan kawasan pusat kota, pengembangan pusat pemerintahan dan pembangunan kawasa wisata.
2. Mempertahankan dan memelihara ruang terbuka hijau yang ada, dan pengendalian perkembangan perumahan liar dan terencana.
3. Mengembalikan kawasan terbangun yang memungkinkan ke fungsi lindung, seperti makam, kawasan perumahan yang dikonservasi.
Prioritas II :
Pembebasan lahan untuk pencadangan kawasan lindung, terutama pada sempadan sungai, lahan yang kritis, waduk buatan dan buffer zone.
B. Tahapan Pembangunan Program Pengembangan Kawasan Budidaya
Tahapan pengembangan kawasan budidaya, secara umum didasarkan pada indikator/kriteria dukungan pada ekonomi kota dan pengembangan wilayah. Tahapan pengembangan prasarana perumahan dan permukiman didasarkan pada indikator/kriteria kepadatan penduduk dan tingkat kekumuhan.
Prioritas I :
Perumahan kepadatan tinggi di lokasi perumahan padat di Pusat Kota.
Prioritas II :
1. Perumahan kepadatan sedang/rendah di seluruh sub pusat kota. 2. Area yang belum terbangun.
6.3. Sumber Pendanaan
Pembiayaan program pemanfaatan ruang bersumber pada: a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN);
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi; c. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota; d. investasi swasta;
e. kerja sama pembiayaan; dan
f. sumber lain yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pembiayaan tersebut dapat dilakukan sendiri atau secara pembiayaan bersama. Dalam hal terjadi kerjasama antara Pemerintah dan swasta, pengelolaan aset hasil kerja sama Pemerintah dengan swasta dapat dilakukan sesuai dengan analisa kelayakan ekonomi dan finansial.
6.4. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan pengembangan pembangunan terdiri atas Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota, swasta, dan masyarakat.
Tabel 6.1
Tahapan Pelaksanaan dan Indikasi Program Pembangunan Kota dalam Pengembangan Struktur Ruang Kota Tahun 2009 – 2030
Tabel 6.2
Tahapan Pelaksanaan dan Indikasi Program Pembangunan Kota dalam Pengembangan Pola Ruang Kota Tahun 2009 – 2030