KAJIAN EKONOMI REGIONAL
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kantor Bank Indonesia
Kupang
K
K
K
A
A
A
T
T
T
A
A
A
P
P
P
E
E
E
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
T
T
T
A
A
A
R
R
R
Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia, Kantor Bank Indonesia (KBI) di daerah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan kontribusi secara optimal dalam proses formulasi kebijakan moneter. Secara triwulanan KBI Kupang melakukan pengkajian dan penelitian terhadap perkembangan perekonomian daerah sebagai masukan kepada Kantor Pusat Bank Indonesia dalam kaitan perumusan kebijakan moneter tersebut. Selain itu kajian/analisis ini dimaksudkan untuk memberikan informasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi eksternal stakeholder setempat, yaitu Pemda, DPRD, akademisi, serta masyarakat lainnya.
Kajian ini mencakup Makro Ekonomi Regional, Perkembangan Inflasi, Perkembangan Perbankan, Sistem Pembayaran Regional, serta Prospek Perekonomian Daerah pada periode mendatang. Dalam menyusun kajian ini digunakan data baik yang berasal dari intern Bank Indonesia maupun dari ekstern, dalam hal ini dinas/instansi terkait.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan kajian ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan masukan dari semua pihak untuk meningkatkan kualitas isi dan penyajian laporan. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam bentuk penyampaian data maupun dalam bentuk saran, kritik dan masukan sehingga kajian ini dapat diselesaikan. Kami mengharapkan kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama ini, kiranya dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.
Kupang, November 2011 Bank Indonesia Kupang
Lukdir Gultom Pemimpin
D
D
D
A
A
A
F
F
F
T
T
T
A
A
A
R
R
R
I
I
I
S
S
S
I
I
I
HALAMAN JUDUL--- 1 KATA PENGANTAR --- 2 DAFTAR ISI --- 3 RINGKASAN EKSEKUTIF --- 5MAKRO EKONOMI REGIONAL 1.1 SISI PERMINTAAN --- 11
1.2 SISI PENAWARAN --- 15
BOKS 1. POTENSI PENGEMBANGAN GARAM PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR --- 22
PERKEMBANGAN INFLASI 2.1 KONDISI UMUM --- 24
2.2 INFLASI KOTA KUPANG --- 26
2.3 INFLASI MAUMERE --- 29 PERKEMBANGAN PERBANKAN 3.1 KONDISI UMUM --- 31 3.2 INTERMEDIASI PERBANKAN --- 33 3.3 KREDIT UMKM --- 38 3.4 PERKEMBANGAN BPR --- 39 SISTEM PEMBAYARAN 4.1 KONDISI UMUM --- 42
4.2 TRANSAKSI NON TUNAI --- 43
4.3 TRANSAKSI TUNAI --- 44
OUTLOOK PEREKONOMIAN 5.1 PERTUMBUHAN EKONOMI --- 46
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi
Kelompok Kajian, Statistik dan Survei KBI Kupang
Jl. Tom Pello No. 2 Kupang – NTT [0380] 832-047 ; fax : [0380] 822-103
Ringkasan Eksekutif
Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan III-2011
PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI
Kinerja ekonomi NTT secara umum melambat dibandingkan periode sebelumnya, meskipun tetap tumbuh positif dibandingkan tahun lalu.
Sumber utama melambatnya laju pertumbuhan ekonomi triwulan III-2011 adalah menurunya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Dari sisi sektoral, tercermin dari penurunan tingkat pertumbuhan sektor perdagangan. Struktur perekonomian NTT masih tetap belum mengalami perubahan, didominasi oleh sektor pertanian, perdagangan, hotel dan restoran (PHR), serta sektor jasa-jasa. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi hingga 78,91%. Sementara dari sisi penggunaan, konsumsi masih yang terbesar, terutama rumah tangga dan pemerintah. Khusus selama triwulan III, konsumsi pemerintah meningkat cukup signifikan, khususnya realisasi belanja modal sebagai salah satu bentuk investasi.
PERKEMBANGAN INFLASI REGIONAL
Pergerakan inflasi NTT turun searah dengan kondisi nasional. Bila
dibandingkan dengan triwulan lalu, terjadi penurunan 2,18%, yaitu dari 6,55% menjadi 4,37%. Penurunan tekanan inflasi tahunan terjadi pada seluruh kota sampel di NTT, yaitu Kupang dan Maumere. Melemahnya tekanan inflasi akibat penurunan harga bahan makanan, khususnya kelompok bumbu-bumbuan dan sayuran. Beberapa komoditi yang turun cukup tinggi dari harga sayuran, yaitu sawi, kangkung, kubis, tomat dan wortel, kemudian harga bumbu-bumbuan, yaitu cabai merah, bawang merah dan bawang putih. Sedangkan secara tahunan inflasi paling tinggi terjadi pada kelompok sandang. Selain karena kenaikan harga pakaian sekolah anak, pergerakan harga emas juga sangat mempengaruhi inflasi kelompok sandang selama triwulan III.
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN
Pertumbuhan kinerja perbankan lebih baik dibandingkan triwulan
lalu. Peningkatan indicator utama, asset, DPK, kredit, berada pada level yang
lebih tinggi. Fungsi intermediasi perbankan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan lalu, dengan tetap diimbangi kualitas kredit masih dalam batas rekomendasi.
Kinerja sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai meningkat.
Hal tersebut tercermin dari peningkatan volume transaksi melalui sistem kliring baik dari sisi nominal maupun jumlah warkat. Pada triwulan II diperkirakan terjadi peningkatan volume jumlah peredaran uang seiring yang ditunjukan oleh kenaikan transaksi outflow lebih dari 100% dibandingkan triwulan sebelumnya.
OUTLOOK
Pada triwulan mendatang, diperkirakan kinerja ekonomi tumbuh
lebih lambat. Bila dilihat dari sisi penawaran, sektor pertanian berpotensi
kontraksi akibat penurunan kinerja tanaman pangan sehubungan dimulainya periode masa tanam. Selanjutnya realisasi belanja pemerintah diperkirakan sudah melewati puncaknya, sehingga otomatis kinerja investasi pemerintah pada triwulan mendatang tidak akan lebih baik dibandingkan triwulan laporan. Sektor ekonomi yang akan menjadi penopang adalah sektor PHR, sejalan dengan peningkatan aktivitas konsumsi pada perayaan Natal dan Tahun Baru. Secara tahunan, pada triwulan mendatang ekonomi NTT diperkirakan akan tumbuh 4,83%, atau dengan kata lain naik 3,35% dibandingkan triwulan III. Sehingga total pertumbuhan selama tahun 2011 diperkirakan sebesar 5,47%.
Membaiknya perekonomian, dipastikan akan mendorong peningkatan
permintaan domestik. Pada triwulan mendatang potensi peningkatan
harga diperkirakan masih berasal dari komoditi pangan strategis, yaitu beras. Berakhirnya periode masa panen untuk beras local, secara otomatis meningkatkan ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar. Sementara di sisi lain, harga beras di daerah pemasok, seperti Makasar dan NTB sudah mulai merangkak naik. Selain itu, siklus kenaikan tarif angkutan udara menjelang libur Natal dan Tahun Baru juga akan menambah potensi tekanan inflasi ke depan. Sementara dari sisi eksternal, pergerakan harga emas dunia yang terus meningkat akan berdampak terhadap pergerakan harga emas dalam negeri. Namun demikian, realisasi inflasi pada akhir 2011 dipastikan akan lebih rendah dari tahun lalu, yaitu di kisaran 5,04%.
Laju Inflasi Tahunan (yoy;%)
- Kupang 9.97 8.98 6.66 4.25
- Maumere 8.48 7.15 6.00 5.00
PDRB - Harga Konstan (miliar Rp) 3,315 3,109 3,271 3,362
- Pertanian 1,172 1,164 1,193 1,180
- Pertambangan dan Penggalian 43 39 41 44
- Industri Pengolahan 48 44 46 48
- Listrik, gas dan air bersih 15 14 14 15
- Bangunan 209 185 208 214
- Perdagangan, Hotel dan Restoran 570 533 576 594
- Pengangkutan dan komunikasi 249 234 243 255
- Keuangan, Persewaan, dan Jasa 132 115 123 132
- Jasa 877 780 826 879
Pertumbuhan PDRB (yoy;%) 5.22 4.60 7.06 5.43
Ekspor - Impor*
Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) 9.06 4.69 4.78 4.67
Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) 24.84 12.98 8.14 28.44
Nilai Impor Nonmigas (USD juta) 17.66 12.04 0.04 0.01
Volume Impor Nonmigas (ribu ton) 29.05 23.90 0.04 0.06
Sistem Pembayaran
Inflow (miliar Rp) 321.56 635.19 420.69 476.74
Outflow (miliar Rp) 1,320.27 236.96 676.91 1,006.16
Netflow (miliar Rp) -998.71 398.23 -256.22 -529.42
MRUK (miliar Rp) 194.05 300.01 284.82 240.45
Uang Palsu (ribu Rp) 3,920 2,930 5,710 3,750
Nominal Kliring (miliar Rp) 516.92 406.10 432.38 433.79
Sumber : Berbagai sumber (diolah) Keterangan :
1) LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi) PDRB atas dasar harga konstan 2000 2) (y-o-y) = year on year, thn dasar 2002
Tw.II-11 Tw.I-11
INDIKATOR Tw.III-11
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Tw.IV-10
PERBANKAN
Bank Umum
Total Aset (Rp Triliun) 13.25 13.82 14.96 16.17
DPK (Rp Triliun) 10.21 10.79 11.42 11.83 - Tabungan (Rp Triliun) 5.65 5.10 5.33 5.67 - Giro (Rp Triliun) 1.96 2.92 2.96 2.85 - Deposito (Rp Triliun) 2.60 2.77 3.11 3.31 Kredit (Rp Triliun) 7.88 8.22 8.97 9.69 - Modal Kerja 2.17 2.15 2.35 2.62 - Konsumsi 5.32 5.67 6.18 6.58 - Investasi 0.39 0.40 0.44 0.49 LDR 77.16% 76.14% 78.55% 81.91% NPLs 1.95% 2.34% 2.33% 2.04%
Kredit UMKM (Triliun Rp) 2.16 2.14 2.28 2.50
BPR
Total Aset (Rp Miliar) 150.66 158.50 163.04 177.10
DPK (Rp Miliar) 106.83 113.60 117.76 126.19 - Tabungan (Rp Miliar) 42.21 44.06 44.33 49.01 - Deposito (Rp Miliar) 64.42 69.54 73.43 77.18 Kredit (Rp Miliar) 119.70 124.02 131.72 145.02 - Modal Kerja 54.98 54.76 63.93 78.58 - Konsumsi 50.00 52.13 49.36 49.44 - Investasi 14.72 17.13 18.43 17.00
Kredit UMKM (Rp Miliar) 119.70 124.02 131.72 145.02
Rasio NPL Gross 3.90% 4.74% 4.13% 4.54%
LDR 112.05% 109.17% 111.86% 114.93%
Sumber : Bank Indonesia Kupang (diolah)
Tw.IV-10
INDIKATOR Tw.I-11 Tw.III-11
TABEL INDIKATOR EKONOMI TERPILIH PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
M
M
M
A
A
A
K
K
K
R
R
R
O
O
O
E
E
E
K
K
K
O
O
O
N
N
N
O
O
O
M
M
M
I
I
I
R
R
R
E
E
E
G
G
G
I
I
I
O
O
O
N
N
N
A
A
A
L
L
L
Pada akhir triwulan laporan, kinerja ekonomi NTT secara umum melambat dibandingkan periode sebelumnya. Laju pertumbuhan ekonomi triwulan III-2011 turun menjadi 5,43% (yoy), sedangkan triwulan sebelumnya 7,06% (yoy). Struktur perekonomian NTT masih tetap belum mengalami perubahan, didominasi oleh sektor pertanian,
perdagangan, hotel dan restoran (PHR), serta sektor jasa-jasa. Ketiga sektor tersebut memberikan kontribusi hingga 78,91% angka PDRB pada triwulan II. Sementara dari sisi penggunaan, konsumsi masih yang terbesar, terutama
rumah tangga dan pemerintah. Dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 5,43%, 2,13% disumbangkan oleh sektor jasa (39,21%), kemudian 20,98% atau sebesar 1,14% disumbangkan oleh sektor PHR, dan diurutan ketiga sektor pertanian dengan 16,30% atau menyumbang 0,88% angka pertumbuhan. Dari sisi penggunaan, total aktivitas konsumsi di NTT (rumah tangga, pemerintah, swasta) masih mendominasi sumbangan angka pertumbuhan, sedangkan investasi dan ekspor masih sangat kecil peranannya dalam menyumbang angka pertumbuhan ekonomi. Sementara impor masih memberikan sumbangan negatif yang cukup besar, mengingat sebagian besar barang yang dikonsumsi bukan berasal dari produksi NTT.
Grafik 1.1 Perkembangan PDRB NTT
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
0% 25% 50% 75% 100% 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 JASA KEU,SEWA & JASA ANGK & KOM PHR BANGUNAN LISTRIK & AIR INDUSTRI TAMBANG PERTANIAN
Grafik 1.2 Perkembangan Struktur PDRB NTT
Sumber : BPS NTT diolah -15% -10% -5% 0% 5% 10% 15% 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 I II III IV I II III 2010 2011 Rp m ilia r PDRB y-o-y q-t-q
Secara struktural, sektor pertanian masih memegang peranan tertinggi dalam menyerap tenaga kerja. Kontribusi sektor pertanian dalam
mendominasi pembentukan angka PDRB NTT, sejalan dengan kemampuan sektor tersebut dalam menyerap tenaga kerja. Dari total 2.096.259 yang bekerja, 64,89% atau setara dengan 1.360.265 jiwa yang berkecimpung pada sektor pertanian. Sektor lain yang cukup memberikan kontribusi dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa dan sektor perdagangan. Struktur perekonomian NTT juga direfleksikan dalam struktur tenaga kerja yang ada.
Pada Agustus 2011, tingkat pengangguran terbuka relatif mengalami perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah angkatan
kerja di provinsi NTT sebesar 2,15 juta jiwa dan terdapat 57,99 ribu yang menganggur atau secara prosentase tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT sebesar 2,69%. Kondisi tersebut turun cukup signifikan dibandingkan Agustus tahun 2010, yaitu 3,34%. Namun demikian, pada Agustus 2011 sekitar 429,84 ribu orang (20,51 persen) bekerja pada kegiatan formal dan 1,66 juta orang (79,49 persen) bekerja pada kegiatan informal.
Februari Agustus Februari Agustus Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan
dan Perikanan 1.642.550 1.333.638 1.463.896 1.360.265
Industri 100.832 143.972 111.313 124.697
Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi 128.822 150.765 147.282 147.439
Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 249.1 230.401 264.821 270.189
Lainnya 183.468 202.453 187.92 193.669
NTT 2.304.772 2.061.229 2.175.232 2.096.259
Lapangan Pekerjaan Utama 2010 2011
Tabel 1.1 Ketenagakerjaan Menurut Sektor
Sumber : BPS NTT diolah
Februari Agustus Februari Agustus
Penduduk 15+ 2.922.601 2.949.471 2.976.070 3.003.516
Angkatan Kerja 2.226.844 2.141.569 2.234.887 2.154.258
Bekerja 2.150.763 2.066.842 2.175.232 2.096.259
Penganggur 76.081 74.727 59.655 57.999
Bukan Angkatan Kerja 695.757 807.902 741.183 849.258
Sekolah 216.877 265.997 253.36 296.482
Mengurus Rumah Tangga 344.361 400.182 352.932 409.271
Lainnya 134.519 141.723 134.891 143.505
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 3,40 3,34 2,67 2,69
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) 76,19 72,61 75,10 71,72
Jenis Kegiatan 2010 2011
Tabel 1.2 Ketenagakerjaan Menurut Sektor
Dibandingkan triwulan II, perekonomian NTT meningkat 2,78% (qtq). Peningkatan paling tinggi terjadi pada sektor keuangan yang mencapai
7,63%, kemudian diikuti oleh sektor industri dengan 7,54% dan sektor jasa 6,52%. Kemudian bila diliat dari sisi penggunaan, pertumbuhan paling tinggi justru terjadi pada kegiatan konsumsi pemerintah, sebesar 31,96%, dan investasi sebesar 17,08%.
1.1 Sisi Permintaan
Konsumsi menjadi sumber utama penopang pertumbuhan ekonomi. Selain kontribusinya yang
sangat dominan, perannya dalam mendukung laju pertumbuhan juga sangat signifikan (share of growth), secara khusus kegiatan belanja rumah tangga. Dari sisi investasi, walaupun belum signifikan namun telah
menunjukan perkembangan positif. Dari sisi neraca perdagangan (ekspor-impor), peningkatan aktivitas impor terus mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan aktivitas konsumsi dan investasi.
1. Konsumsi
Secara keseluruhan laju pertumbuhan aktivitas konsumsi tumbuh positif, bahkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada
triwulan III 2011 seluruh konsumsi tumbuh hingga 10,02% (yoy), sedangkan
Grafik 1.5 Sumbangan Pertumbuhan Sisi Permintaan
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
Grafik 1.4 Struktur Sisi Penawaran Grafik 1.3 Struktur Sisi Permintaan
Sumber : BPS NTT diolah Sumber : BPS NTT diolah Rmh tangga 82.83% Swasta 4.28% Pemerintah 27.22% Investasi 15.64% Net ekspor -36.55% Pertanian 35.10% Pertambangan 1.32% Industri Pengolahan 1.44% Listrik,Gas dan Air 0.45% Bangunan (konstruksi) 6.35% PHR 17.66% Transp & Kom 7.59% Keuangan dan Persewaan 3.93% Jasa‐jasa 26.16% 10.98% 2.63% 1.04% 5.36% ‐3.87% Konsumsi Investasi Ekspor Impor Perubahan stok
pada triwulan sebelumnya hanya tumbuh 6,60% (yoy). Peningkatan laju pertumbuhan konsumsi merupakan sumbangan dari aktivitas konsumsi pemerintah yang mengalami lonjakan signifikan. Sementara konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi terbesar justru pertumbuhannya cenderung melambat dari 5,34% (yoy) menjadi 3,84%.
Peningkatan aktivitas konsumsi ditandai dengan omset penjualan eceran yang meningkat 26,68% dibandingkan posisi yang sama tahun 2010 (posisi Agustus). Selain itu, konsumsi listrik rumah tangga di seluruh NTT pada triwulan laporan meningkat 12,49% (sampai Agustus) dibandingkan tahun lalu. Kemudian outstanding pembiayaan kredit konsumtif perbankan di NTT tumbuh 15,92% dibandingkan tahun lalu.
Pertumbuhan konsumsi diperkirakan tidak terlepas dari potensi perbaikan dari aspek tingkat kesejahteraan. Menurunnya angka tingkat
pengangguran dibandingkan kondisi tahun lalu, serta peningkatan Upah Minimum Provinsi sebesar 6,25% menjadi salah satu indikasi hal tersebut.
Grafik 1.8 Kredit Konsumsi Grafik 1.9 Perkembangan IKE
Sumber : SPE KBI Kupang Sumber : PLN Wilayah NTT
Sumber : KBI Kupang
‐ 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2010 2011 ri b u kw h Konsumsi (ribu kwh) Jml Pelanggan 0 20 40 60 80 100 120 140 160 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2010 2011
Indeks Ekonomi Saat Ini Indeks Penghasilan Saat Ini Indeks Ketepatan Waktu Pembelian Indeks Ketersediaan Kerja
Sumber : KBI Kupang 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% ‐ 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 I II III IV I II III 2010 2011 kredit konsumsi growth yoy axis kanan
Kemudian siklus musiman yang selalu terjadi pada periode triwulan III adalah puncak realisasi anggaran belanja pemerintah menjadi pendorong aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil survey kepada para konsumen, secara keseluruhan terdapat optimisme terkait kondisi perekonomian sampai dengan triwulan III. Hal tersebut diyakini terutama dengan membaiknya
tingkat penghasilan konsumen dibandingkan 2010. Bahkan mereka memperkirakan bahwa dalam enam bulan kedepan akan terjadi peningkatan pendapatan dibandingkan yang saat ini diterima (Sumber : Survei Konsumen KBI-Kupang).
2. Investasi
Investasi pemerintah menjadi penopang utama pada triwulan laporan. Pada akhir triwulan laporan investasi di NTT tumbuh 18,19% (yoy),
meningkat signifikan jika dibandingkan triwulan lalu yang hanya tumbuh 6,93% (yoy). Porsi investasi relatif meningkat meskipun belum signifikan, dari 13,73% pada triwulan lalu menjadi 15,64%. Apabila melihat pertumbuhan secara triwulanan, maka telah terjadi peningkatan sebesar 17,08% (qtq).
Membaiknya investasi di NTT pada triwulan III merupakan dampak dari meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah, sehingga dengan
kata lain, porsi investasi swasta pada triwulan laporan cukup besar. Hal ini ditandai dengan peningkatan belanja pemerintah sebesar 31,96% dibandingkan triwulan sebelumnya. Beberapa proyek infrastruktur yang merupakan bagian
Grafik 1.11 Konsumsi Semen NTT olah
Sumber : KBI Kupang
Grafik 1.10 Kredit Investasi
40000 70000 100000 130000 160000 190000 220000 I II III IV I II III 2010 2011 konsumsi semen Sumber : ASI 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% ‐ 100 200 300 400 500 600 I II III IV I II III 2010 2011 kredit investasi (miliar) growth yoy axis kanan
dari belanja modal adalah pembenahan sarana pelabuhan ferry di Bolok berupa jembatan menelan biaya sekita Rp 420 juta. Selain itu, perluasan fasilitas ruang tunggu bandara El Tari Kupang dari 440 meter persegi menjadi 1.000 meter persegi. Kemudian pembangunan PLTU tahap terakhir sehingga diharapkan Oktober mendatang sudah mulai beroperasi.
Pertumbuhan investasi ditandai dengan peningkatan pembiayaan investasi dari perbankan. Pada akhir September outstanding kredit investasi
tumbuh 33,08% (yoy). Selanjutnya, total konsumsi semen juga tumbuh 40,49% dibandingkan konsumsi tahun lalu, atau meningkat 58,60% dibandingkan triwulan II lalu. Kemudian, selain investasi oleh pemerintah, aktivitas investasi swasta di NTT ditandai dengan telah terjadi pertumbuhan jumlah bangunan ruko, dimana jumlah pelanggan listrik sektor bisnis pada akhir triwulan III tumbuh 4,84% dibandingkan tahun lalu.
3. Net Ekspor
Kinerja ekspor-impor NTT masih diwarnai dengan angka defisit yang cukup signifikan. Pada triwulan laporan, angka defisit ekspor-impor NTT
yang tercermin dari struktur PDRB mencapai Rp 1.228,96 miliar. Jumlah tersebut tumbuh 14,88% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2010 yang hanya Rp 1.091,42 miliar. Secara umum hal tersebut terjadi karena pengaruh peningkatan konsumsi masyarakat NTT dan pertumbuhan kegiatan investasi, sementara itu disisi lain kinerja sektor tradeable yang masih bersifat tradisional mengakibatkan produktivitas daerah ini relatif rendah dan kurang kompetitif. Selama beberapa tahun terakhir, tingkat pertumbuhan ekspor PDRB NTT selalu
Grafik 1.12 Pelanggan Listrik Sektor Bisinis
Sumber : PLN Wilayah NTT 17,500 18,000 18,500 19,000 19,500 20,000 ‐ 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2010 2011 ri b u kw h Konsumsi (ribu kwh) Jml Pelanggan
lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan impor. Ketimpangan kinerja ekspor dan impor di NTT tercermin dari kinerja di pelabuhan yang lebih diwarnai kegiatan unloading (bongkar muatan).
Khusus untuk ekspor luar negeri NTT pada triwulan III sebagian besar ditujukan ke negara Cina. Komoditi yang dominan adalah hasil
tambang bahan galian c, berupa batu-batu (marmer, batu hias) dan biji mangan mentah. Sedangkan negara berikutnya
adalah negara tetangga Timor Leste, dimana komoditi ekspor yang dominan adalah kebutuhan sehari-hari. Pengiriman dilakukan melalui pelabuhan Tenau, ataupun langsung menuju Pelabuhan Atapupu. Volume ekspor luar negeri NTT pada triwulan III-2011 mencapai 28,44 ribu ton. Dari total jumlah tersebut,
74,81% ditujukan ke Cina. Secara total volume ekspor luar negeri NTT mengalami peningkatan urunan 28,17% jika diibandingkan tahun lalu.
1.2 Sisi Penawaran
Dari sisi penawaran, kontribusi sektor pertanian relatif masih dominan. Tiga sektor utama yang menjadi penggerak roda ekonomi NTT, yaitu
: sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan, sektor perdagangan, hotel & restoran
Grafik 1.13 PDRB Ekspor - Impor
Sumber : EDW DSM BI Sumber : KBI Kupang
Grafik 1.15 Negara Tujuan Ekspor Grafik 1.14 Perkembangan Bongkar Muat
Sumber : PT Pelindo Tenau
‐50,000 ‐45,000 ‐40,000 ‐35,000 ‐30,000 ‐25,000 ‐20,000 ‐15,000 ‐10,000 ‐5,000 0 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 May ‐10 Ju n ‐10 Ju l‐ 10 Au g‐ 10 Se p ‐10 Oct ‐10 No v‐ 10 De c‐ 10 Ja n ‐11 Fe b ‐11 Mar ‐11 Ap r‐ 11 May ‐11 Ju n ‐11 Ju l‐ 11 Au g‐ 11 (ton) (ton)
unloading loading net loading
0% 20% 40% 60% 80% 100%
I II III IV I II III IV I II III
2009 2010 2011
EUROPE AUSTRALIA ASIA AMERICA AFRICA (1,300.00) (1,200.00) (1,100.00) (1,000.00) (900.00) (800.00) (700.00) (600.00) (500.00) -300 100 500 900 1300 1700 2100 2500 I II III IV I II III 2010 2011 R p m ilia r
pada triwulan laporan. Sektor pertanian yang selama satu semester ini memberi andil negatif, pada triwulan III tumbuh positif dibandingkan tahun lalu.
1. Pertanian
Pada akhir triwulan laporan kinerja sektor pertanian akhirnya tumbuh positif. Setelah selama satu semester mengalami kontraksi, maka pada
triwulan III mulai membaik dengan tumbuh 2,45% (yoy). Sumber utama membaiknya kinerja sektor pertanian adalah pertanian tanaman pangan. Selain itu aktivitas peternakan juga tumbuh cukup baik pada triwulan III. Jumlah pengiriman hewan keluar NTT yang dilakukan lewat jalur laut meningkat 29,21% dibandingkan kondisi tahun lalu (sampai Agustus). Selain ketiga sub sektor diatas, memasuki semester II merupakan puncak panen untuk komoditi tanaman perkebunan. Selain kopra dan kemiri, kopi robusta dan arabika, jambu mente, serta asam mulai memasuki panen.
2. Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR)
Sektor PHR masih tumbuh positif, meskipun melambat. Pada
triwulan laporan, sektor PHR tumbuh 6,52% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu 13,10% (yoy). Hal ini terutama dikarenakan melambatnya laju pertumbuhan kinerja perdagangan, dari 13,28% (yoy) pada akhir semester I, menjadi 6,51% (yoy). Hal ini sejalan dengan melambatnya laju pertumbuhan konsumsi masyarakat yang terjadi selama triwulan III. Pertumbuhan sektor PHR dibandingkan kinerja tahun lalu tercermin dari tumbuhnya omset penjualan eceran yang mencapai 26,68% dibandingkan
TT diolah
Grafik 1.16 Pengiriman Ternak
Sumber : PT.Pelindo diolah
0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 Ja n ‐10 Fe b ‐10 Ma r‐ 10 Ap r‐ 10 Ma y‐ 10 Ju n ‐10 Ju l‐ 10 Au g‐ 10 Se p ‐10 Oc t‐ 10 No v‐ 10 De c‐ 10 Ja n ‐11 Fe b ‐11 Ma r‐ 11 Ap r‐ 11 Ma y‐ 11 Ju n ‐11 Ju l‐ 11 Au g‐ 11 2010 2011 loading ternak
triwulan tahun lalu (sampai Agustus). Kemudian outstanding penyaluran kredit perbankan kepada sektor PHR pada triwulan III tumbuh 14,75%(yoy). Peningkatan pertumbuhan kredit tersebut terjadi baik kepada sub sektor perdagangan, maupun kepada subsektor perhotelan dan restoran.
Selanjutnya mengingat sebagian besar barang-barang konsumsi masyarakat didatangkan dengan jalur transportasi laut, maka peningkatan volume impor (unloading) di beberapa pelabuhan di NTT juga mencerminkan adanya peningkatan selama triwulan laporan, dibandingkan tahun lalu hingga mencapai 131,73%(yoy) (sampai Agustus). Tumbuhnya sektor PHR di NTT, juga ditandai dengan semakin banyaknya investasi bangunan ruko, dimana tercermin dari bertambahnya jumlah pelanggan listrik bisnis sebesar 4,84%(yoy) dan tingkat konsumsi yang mencapai 4,36%(yoy).
Grafik 1.19 Perkembangan Arus Bongkar
Sumber : KBI Kupang Sumber : SPE KBI Kupang
Sumber : PT Pelindo Tenau
Grafik 1.20 Pelanggan Listrik Sektor Bisinis
Sumber : PLN Wilayah NTT
Grafik 1.17 Perkembangan Penjualan Eceran Grafik 1.18 Kredit Sektor PHR
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 May ‐10 Ju n‐ 10 Ju l‐10 Au g‐ 10 Se p‐ 10 Oc t‐ 10 No v‐ 10 De c‐ 10 Ja n‐ 11 Fe b‐ 11 Mar ‐11 Ap r‐ 11 May ‐11 Ju n‐ 11 Ju l‐11 Au g‐ 11 (ton) unloading 17,500 18,000 18,500 19,000 19,500 20,000 ‐ 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2010 2011 ri b u kw h Konsumsi (ribu kwh) Jml Pelanggan ‐40% ‐30% ‐20% ‐10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% ‐ 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000 I II III IV I II III 2010 2011 kredit PHR (miliar) growth yoy axis kanan
Sementara itu, membaiknya kinerja sektor pariwisata menjadi sentimen positif bagi aktivitas perhotelan. Bahkan menurut hasil survey
liason, khususnya di wilayah Flores, pertumbuhan jumlah tamu yang datang akan terus meningkat, akan terus meningkat sampai dengan bulan Oktober-November, bahkan ada optimisme bahwa tingkat hunian akan mencapai level diatas 70% dalam periode tersebut (untuk wilayah Manggarai Barat). Beberapa pemesanan sudah mulai diterima sejak awal tahun 2011. Penyelenggaraan berbagai even, baik oleh pemerintah maupun swasta menjadi sumber utama penerimaan dari wisatawan domestik. Sementara untuk pengunjung wisatawan asing umumnya cenderung bersifat seasonal (musiman). Biasanya bertepatan dengan periode musim dingin negara asal wisatawan yang didominasi oleh wisatawan asal Eropa. Masuknya Pulau Komodo sebagai nominasi The New 7Wonders World ikut memberikan pengaruh positif. Jumlah pengunjung Taman Nasional Komodo selama triwulan III tumbuh 4,57% (yoy) (sampai Agustus). Wisatawan yang berkunjung didominasi wisatwan asing.
3. Jasa-jasa dan sektor lainnya
Kinerja sektor jasa masih ditopang oleh jasa pemerintahan. Pada
triwulan laporan kegiatan jasa pemerintahan tumbuh hingga level 8,37% (yoy), lebih lambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu 15,37%(yoy). Hal tersebut menunjukan bahwa pada triwulan laporan aktivitas belanja pemerintahan telah memasuki periode realisasi. Peningkatan nilai, maupun jumlah proyek belanja pemerintah melalui APBD ataupun DAU menjadi stimulus kegiatan sektor ini.
Grafik 1.23 Jumlah Tamu Hotel Grafik 1.24 Pengunjung TNK
Sumber : BPS Provinsi NTT Sumber : BPS Provinsi NTT 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 jumlah tamu 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 2010 2011 wisatawan asing wisatawan domestik
Selain tiga sektor utama, sektor bangunan pada triwulan III juga tumbuh 4,64% (yoy). Penambahan jumlah alokasi belanja infrastruktur dari
APBN menjadi salah satu penyebab meningkatnya kinerja sektor konstruksi sepanjang tahun 2011. Peningkatan pertumbuhan sektor bangunan tercermin dari tingkat konsumsi semen yang tumbuh 40,49% dibandingkan konsumsi tahun lalu, atau meningkat 58,60% dibandingkan triwulan II lalu.
Sebagai provinsi kepulauan, maka peran transportasi baik darat, laut maupun udara berperan penting dalam mendukung perekonomian.
Pada triwulan III, sektor transportasi tumbuh 6,37% dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan sektor transportasi tercermin dari perkembangan jumlah penumpang kapal selama triwulan laporan yang naik 9,71% dibandingkan tahun lalu. Selain itu konsumsi BBM di NTT secara umum juga tumbuh positif.
Kinerja sektor industri selama triwulan III tumbuh lebih baik. Bila
pada triwulan sebelumnya hanya tumbuh 1,25% (yoy), maka pada triwulan laporan naik menjadi 5,10%. Sumber utama peningkatan tersebut adalah berasal dari industri makanan dan minuman. Lebih dari 78% kinerja sektor industri NTT ditentukan oleh industri makanan dan minuman. Pertumbuhan produksi jenis industri makanan dan minuman naik menjadi 10,22% (yoy). Selain industri makanan dan minuman, industri pengolahan berbasis sumber daya alam sangat potensial untuk ditingkatkan (boks 1).
Kinerja sektor keuangan sangat bergantung pada lembaga perbankan. Intermediasi perbankan pada akhir triwulan III relatif mengalami
peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, yaitu dari 78,55% menjadi
Grafik 1.25 Konsumsi Semen NTT
Sumber : ASI
Grafik 1.27 Penumpang Angkutan Laut
Sumber : PT Pelindo Tenau
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 Ja n ‐10 Fe b ‐10 Mar ‐10 Ap r‐ 10 May ‐10 Ju n ‐10 Ju l‐ 10 Au g‐ 10 Se p ‐10 Oc t‐ 10 No v‐ 10 De c‐ 10 Ja n ‐11 Fe b ‐11 Mar ‐11 Ap r‐ 11 May ‐11 Ju n ‐11 Ju l‐ 11 Au g‐ 11 jumlah penumpang 40000 70000 100000 130000 160000 190000 220000 I II III IV I II III 2010 2011 konsumsi semen
81,90%. Laju pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat meningkat dari 16,95% (yoy) pada awal triwulan lalu, menjadi 20,33% (yoy). Demikian pula penyaluran kredit, tumbuh 19,12% (yoy) dari sebelumnya 16,85% (yoy). Kondisi diatas mendorong pertumbuhan sektor keuangan sebesar 8,30% (yoy) pada akhir triwulan III 2011.
Tabel 1.3 Kinerja Perbankan NTT
Sumber : KBI Kupang indikator
utama I II III IV I II III
Aset (miliar) 11,836.32 12,228.45 12,520.21 13,252.33 13,816.23 14,961.89 16,171.74 y-o-y aset 23.15% 18.48% 13.88% 12.87% 16.73% 22.35% 29.17% Kredit (miliar) 6,957.76 7,678.44 8,131.30 7,880.07 8,216.88 8,972.52 9,686.07 y-o-y kredit 25.95% 26.73% 25.80% 18.26% 18.10% 16.85% 19.12% DPK (miliar) 9,230.51 9,767.40 9,829.00 10,208.09 10,791.10 11,422.70 11,826.96 y-o-y DPK 11.63% 10.69% 9.05% 11.94% 16.91% 16.95% 20.33% LDR 75.38% 78.61% 82.73% 77.19% 76.14% 78.55% 81.90% NPL 1.96% 1.87% 1.86% 1.95% 2.34% 2.33% 2.04% 2011 2010
Tabel 1.4 Perkembangan PDRB Sisi Penawaran
Tabel 1.5 Pertumbuhan PDRB Sisi Penawaran
Sumber : BPS Provinsi NTT Sumber : BPS Provinsi NTT
Penawaran
miliar I II III IV I II III
Pertanian 1,182 1,206 1,152 1,172 1,164 1,193 1,180
Pertambangan 36 39 42 43 39 41 44
Industri Pengolahan 43 46 46 48 44 46 48
Listrik,Gas dan Air 12 13 14 15 14 14 15
Bangunan (konstruksi) 178 187 204 209 185 208 214
Perdagangan & Hotel 492 510 557 570 533 576 594
Transportasi & Komunikasi 217 228 240 249 234 243 255
Keuangan dan Persewaan 105 112 122 132 115 123 132
Jasa-jasa 707 716 812 877 780 826 879 PDRB 2,972 3,056 3,189 3,315 3,109 3,271 3,362 2011 2010 I II III IV I II III Pertanian 1.40% 4.12% 1.20% 1.33% -1.47% -1.02% 2.45% Pertambangan 1.21% 3.25% 7.68% 6.43% 6.08% 4.87% 4.74% Industri Pengolahan 4.90% 3.54% 0.44% 0.47% 1.74% 1.25% 5.10% Listrik,Gas dan Air 10.46% 9.28% 10.11% 12.61% 13.65% 12.36% 10.81% Bangunan (konstruksi) 1.68% 3.07% 5.99% 3.43% 4.10% 11.17% 4.64% Perdagangan & Hotel 6.68% 7.61% 10.09% 7.22% 8.34% 13.10% 6.52% Transportasi & Komunikasi 5.64% 4.95% 7.61% 7.44% 8.00% 6.78% 6.37% Keuangan dan Persewaan 6.81% 5.79% 6.88% 11.49% 10.22% 9.71% 8.30% Jasa-jasa 8.34% 6.43% 8.19% 8.45% 10.34% 15.37% 8.37% PDRB 4.44% 5.28% 5.53% 5.22% 4.60% 7.06% 5.43% 2011 Perutmbuhan Sektoral 2010 Permintaan (miliar) I II III IV I II III Konsumsi 3,158 3,318 3,494 3,699 3,382 3,537 3,844 Investasi 396 420 442 455 409 449 526 Ekspor 818.44 882.91 983.10 1,022.06 819.94 888.15 1,016.36 Impor 1,553 1,811 2,075 2,092 1,634 1,924 2,245 Perubahan stok 152 246 344 231 133 321 221 PDRB 2,972 3,056 3,189 3,315 3,109 3,271 3,362 2011 2010
Tabel 1.6 Perkembangan PDRB Sisi Permintaan
Pertanian 36.48% Industri Pengolahan 1.42% PHR 17.62% Jasa‐jasa 25.24%
Potensi Pengembangan Garam Provinsi Nusa Tenggara Timur
Latar Belakang
Propinsi Nusa Tenggara Timur terletak pada 80
– 120
Lintang Selatan dan 1180
– 1250
Bujur Timur. Luas daerah daratan seluas 47.349,9 km2
, dan luas perairan seluas + 200.000 km2
. Tiga sector ekonomi terbesar dalam struktur perekonomian Provinsi NTT adalah sector pertanian, sector jasa-jasa dan sector PHR. Sementara porsi sektor industri
pengolahan dalam perekonomian hanya sebesar 1,42%. Hal tersebut mengindikasikan ketergantungan NTT terhadap suplai produk olahan dari daerah lain sangat tinggi. Oleh sebab itu, industri pengolahan berbasis pengembangan Sumber Daya Alam perlu ditingkatkan dengan optimalisasi potensi alam NTT.
Potensi Daerah
Data tahun 2002 tercatat jumlah kebutuhan garam di Nusa Tenggara Timur sebangak 12.435,074 ton, sementara produksi baru mencapai 7.692,800 ton. Ini berarti pada tahun tersebut masih terjadi kekurangan sebesar 4.742,274 ton, untuk tingkat nasional besar garam yang diimpor untuk memenuhi permintaan garam dalam negeri mencapai 1,2 juta ton.
BOKS 1
Sumber : www.nttprov.go.id
Wilayah NTT memiliki potensi areal lahan yang dapat dikembangkan sebagai lahan pertambakan garam yang potensial. Luas lahan keseluruhan seluas 8.953,25 Ha dan luas yang telah dieksploitasi seluas 151 Ha. NTT memiliki musim kemarau yang relatif lebih panjang antara 7-8 bulan dalam setahun sehingga mampu meningkatkan produksi garam yang ditargetkan sampai 1,3 juta ton per tahun
Program Pengembangan
Program yang dilakukan dalam upaya meningkatkan industri pengembangan garam NTT adalah sebagai berikut :
1. Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) menyiapkan lahan seluas 8.505 hektare untuk dikembangkan menjadi industri tambak garam yang tersebar di 13 kabupaten di Pulau Timor, Flores, Alor, Rote, dan Sumba.
2. NTT difokuskan menjadi salah satu daerah sentra produksi garam nasional di Indonesia.
3. Pemerintah Kabupaten Ngada menandatangani kerja sama dengan Cheetham Salt Ltd asal Australia untuk membangun industri garam di daerah dengan luas tambak 1.247 hektare.
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
I
I
I
P
P
P
E
E
E
R
R
R
K
K
K
E
E
E
M
M
M
B
B
B
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
I
I
I
N
N
N
F
F
F
L
L
L
A
A
A
S
S
S
I
I
I
2.1 Kondisi Umum
Pergerakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di NTT searah dengan kondisi nasional.
Penurunan inflasi IHK secara tahunan (yoy) pada triwulan III dibandingkan triwulan II yang terjadi secara nasional, secara umum juga terjadi di NTT, bahkan tingkat penurunan yang terjadi di NTT lebih besar. Inflasi yoy nasional
pada September sebesar 4,61%, turun 0,93% dibandingkan triwulan II dari 5,54%, sedangkan untuk NTT terjadi penurunan 2,18%, yaitu dari 6,55% menjadi 4,37%. Penurunan tekanan inflasi tahunan terjadi pada seluruh kota sampel di NTT, yaitu Kupang dan Maumere.
Bila dilihat secara triwulanan, selama triwulan III, NTT mengalami inflasi 0,96%. Inflasi paling tinggi terjadi pada kelompok sandang dengan 4,54%, diikuti dengan kelompok transportasi dengan 2,64%, dan 2,52%. Sementara bahan makanan yang memiliki porsi nilai konsumsi paling tinggi justru mengalami deflasi 0,89%. Tekanan inflasi paling tinggi di NTT pada triwulan laporan terjadi pada bulan Juli, dimana mengalami inflasi 0,87% dibandingkan
‐2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 yoy ntt mtm ntt
Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi di NTT
Sumber : BPS diolah ‐1% 0% 1% 2% 3% 4% 5% umum bahan makanan makanan jadi,rokok,tembakau perumahan,listrik,air sandang kesehatan pendidikan,rekreasi,olah raga transpor,komunikasi,jasa 0.96% ‐0.89% 1.20% 1.14% 4.54% 2.52% 1.75% 2.64%
Grafik 2.2 Inflasi Quartalan NTT
0.87%
0.46%
‐0.37%
Juli Agust Sept
Grafik 2.3 Inflasi Bulanan Tw3-2011 NTT
Sumber : BPS diolah
Juni (month-to-month). Kenaikan harga sandang pada triwulan III, sebenarnya merupakan siklus musiman, dimana pada bulan Juli merupakan periode tahun liburan sekolah dan menyambut ajaran baru, sehingga dipastikan konsumsi sandang mengalami peningkatan. Selain itu, dampak lain yang ditimbulkan adalah kenaikan biaya transportasi akibat lonjakan penumpang angkutan udara, karena masa liburan sekolah tadi.
Inflasi tahunan NTT dibawah inflasi nasional. Secara
umum, tingkat inflasi kota-kota di NTT termasuk kategori kota yang tergolong memiliki persistensi yang cukup tinggi. Namun pada triwulan laporan terjadi anomali, justru inflasi nasional diatas inflasi NTT. Pada triwulan laporan, pergerakan IHK
tahunan secara keseluruhan, dari 66 kota di Indonesia (nasional), tercatat hanya sebesar 4,61%. Sementara untuk NTT 4,37%, dengan 4,25% Kupang dan 4,99% di Maumere. Hal ini terjadi akibat deflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan selama triwulan III. Beberapa komoditi yang turun cukup tinggi dari kelompok bahan makanan selama triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya adalah harga sayuran, yaitu sawi, kangkung, kubis, tomat dan wortel, kemudian harga bumbu-bumbuan, yaitu cabai merah, bawang merah dan bawang putih. Kondisi geografis yang dikelilingi oleh laut, ketergantungan pada kelancaran jalur pelayaran akan sangat menentukan. Kemudian, hampir seluruh barang kebutuhan konsumsi masyarakat NTT berasal dari provinsi lain,
Sumber : BPS diolah
Grafik 2.4 Inflasi NTT dan Nasional Tabel 1.1 Perkembangan Inflasi di NTT
Sumber : BPS diolah 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 nasional Kupang Maumere NTT III IV I II III year on year NTT 10.86% 9.72% 8.68% 6.55% 4.37% Kupang 11.42% 9.97% 8.98% 6.66% 4.25% Maumere 8.05% 8.48% 7.15% 6.00% 5.00% year to date NTT 8.65% 9.72% 2.09% 2.37% 3.35% Kupang 8.81% 9.97% 2.32% 2.39% 3.16% Maumere 7.84% 8.48% 0.86% 2.29% 4.37% Inflasi 2010 2011
Jawa Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan. Oleh karena tingkat ketergantungan kepada daerah-daerah tersebut cukup tinggi, menyebabkan kedua kota di NTT rentan terhadap fluktuasi harga.
2.2 Inflasi Kota Kupang
Tekanan harga di Kupang pada akhir triwulan laporan turun dibandingkan triwulan lalu. Hal
tersebut terlihat dari kondisi tingkat perubahan IHK secara tahunan pada kedua periode tersebut. Pada posisi Juni 2011 sebesar 6,66%, sedangkan akhir September turun menjadi 4,25%. Secara umum, penurunan
inflasi tahunan paling signifikan terjadi pada kelompok bahan makanan. Inflasi tahunan bahan makanan pada akhir semester I sebesar 10,42%, sedangkan pada akhir triwulan laporan hanya sebesar 3,97%. Penurunan harga bahan makanan dari bulan Juli sampai September terjadi pada harga sayuran dan bumbu-bumbuan. Kondisi ini merupakan faktor musiman dimana pasca panen raya tanaman bahan makanan, maka merupakan periode panen untuk jenis tanaman hortikultura. Sehingga pasokan di Kupang meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Penurunan inflasi tahunan pada triwulan III, akibat deflasi pada harga bahan makanan. Bila dibandingkan dengan kondisi akhir semester I maka bahan makanan mengalami deflasi 1,58%. Harga sayuran di Kupang pada akhir September sebagian besar mengalami penuruan. Lebih dari 50% komoditi
Tabel 2.2 Inflasi NTT per Kelompok
Sumber : BPS diolah
Grafik 2.5 Inflasi Kupang
Sumber : BPS diolah ‐2% 1% 4% 7% 10% 13% 16% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 yoy kupang mtm kupang III IV I II III UMUM 10.86% 9.72% 8.68% 6.55% 4.37% BAHAN MAKANAN 20.75% 16.86% 14.01% 9.84% 4.07%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 8.71% 8.79% 7.74% 7.27% 4.99%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 3.09% 3.39% 5.06% 5.45% 4.48%
SANDANG 7.93% 5.63% 4.88% 6.67% 9.39%
KESEHATAN 4.92% 5.96% 6.32% 5.94% 6.31%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 4.70% 4.22% 3.49% 4.34% 5.46%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 11.32% 10.60% 7.69% 1.55% 1.86%
2011 2010
sayuran yang menjadi sampel perhitungan inflasi turun rata-rata sebesar 31,15%. Bahkan ada yang anjlok hingga melebihi level 40%, yaitu : kangkung, kubis, sawi dan wortel. Selain sayuran, deflasi juga dominan terjadi pada bumbu-bumbuan. Hampir 50% komoditi yang disurvei turun dengan rata-rata penurunan sebesar 20,68% dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya. Adapun komoditi bumbu-bumbuan mengalami koreksi harga adalah bawang merah dan bawang putih, serta cabe merah dan cabe rawit. Meskipun hanya bahan makanan yang mengalami deflasi, namun karena bobotnya cukup dominan dalama struktur konsumsi masyarakat Kupang maka memiliki pengaruh yang besar terhadap pergerakan angka inflasi Kupang.
Tekanan inflasi paling tinggi selama triwulan III, terjadi pada kelompok sandang. Baik sandang pria, wanita, maupun anak-anak sepanjang triwulan laporan mengalami inflasi. Hal ini diperkirakan terjadi karena peride liburan dan tahun ajaran baru yang mempengaruhi lonjakan permintaan dibandingkan kondisi normal. Selain itu, yang cukup dominan mempengaruhi inflasi kelompok sandang adalah pergerakan harga emas di Kupang yang meningkat signifkan pada triwulan laporan, sejalan dengan peningkatan harga emas dunia.
‐4% ‐2% 0% 2% 4% 6% umum bahan makanan makanan jadi,rokok,tembakau perumahan,listrik,air sandang kesehatan pendidikan,rekreasi,olah raga transpor,komunikasi,jasa 0.75% ‐1.58% 1.23% 1.14% 5.01% 2.96% 1.04% 2.86% Grafik 2.6 Inflasi Quartalan Tw III Kupang
Sumber : BPS diolah 250,000 300,000 350,000 400,000 450,000 500,000 550,000 600,000 M I M III M V M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III Jan‐11 Feb‐11 Mar‐11 Apr‐11May‐11 Jun‐11 Jul‐11 Aug‐11 Sep‐11
emas 22 karat emas 24 karat
Grafik 2.7 Perkembangan Harga Emas Kupang
Sumber : Pemantauan KBI Kupang
‐10 ‐5 0 5 10 15 20 25 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 %,yoy Inflasi IHK (yoy) Core Adm Price Volatile Foods (2) 0 2 4 6 8 10 12 14 16 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 %,yoy
Adm Price Volatile Food Core
Sumber : BPS diolah
Pada kelompok volatile food (VF), selama triwulan III sumbangan paling tinggi diberikan oleh komoditi beras dan ikan. Pergerakan harga ikan lebih diakibatkan oleh kondisi pasokan yang sangat rentan terhadap kondisi cuaca. Selama triwulan III sempat beberapa kali terjadi gangguan, bukan hanya karena kondisi perairan namun juga karena pengaruh periode bulan terang ataupun bulan gelap. Kemudian kenaikan harga beras diakibatkan oleh berakhirnya periode masa panen untuk beras local, dimana pasokan beras local sudah mulai berkurang jumlahnya di pasar sejak memasuki semester II lalu. Hal ini secara otomatis meningkatkan ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar NTT.
Fenomena kenaikan harga beras bukan hanya terjadi di Kupang. Harga beras di Makasar dan NTB juga sudah mulai merangkak naik akibat meningkatnya permintaan beras dari Jawa. Hal ini dikarenakan terjadi penurunan jumlah produksi beras di Jawa itu sendiri (Sumber : Pemasok beras Lonceng merk asal Kediri). Sehingga untuk mencukupi kebutuhan beras di Jawa, para pedagang besar harus mengambil dari luar daerah. Namun demikian, seperti telah disampaikan sebelumnya, bahwa selama triwulan laporan terdapat komoditi yang justru mengalami deflasi, yaitu sayuran dan bumbu-bumbuan.
Tekanan inflasi kelompok administered prices diakibatkan karena kenaikan harga rokok kretek akibat keputusan pemerintah menaikan harga cukai sebesar 5%. Hal tersebut mengakibatkan kenaikan harga rokok kretek di Kupang, sehingga menyumbang 0,06% pada inflasi September. Sementara tekanan core inflation paling tinggi dipengaruhi oleh inflasi kelompok perumahan. Realisasi anggaran pemerintah maupun swasta, terutama pembangunan infrastruktur akan mendorong permintaan komoditi bahan
6500 7000 7500 8000 8500 9000 9500 M I M III M V M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III
Jan‐11 Feb‐11 Mar‐11 Apr‐11 May‐11 Jun‐11 Jul‐11 Aug‐11 Sep‐11
kualitas premium kualitas medium kualitas bawah 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 M I M III M V M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III M V M II M IV M II M IV M I M III Jan‐11 Feb‐11 Mar‐11 Apr‐11 May‐11 Jun‐11 Jul‐11 Aug‐11 Sep‐11
cabe merah cabe rawit bawang merah bawang putih
Grafik 2.9 Perkembangan Harga Beras Grafik 2.10 Perkembangan Bumbu
Sumber : Pemantauan KBI Kupang Sumber : Pemantauan KBI Kupang
bangunan sehingga memicu kenaikan harga, kayu dan semen. Padahal kedua komoditi tersebut didatangkan dari luar NTT. Dampak lanjutan yang timbul dari kenaikan harga bahan bangunan adalah meningkatnya harga property yaitu sewa rumah, sehingga menyumbang inflasi 0,03% pada September.
2.3 Inflasi Maumere
Sama halnya dengan Kupang, tekanan harga secara umum di Maumere pada akhir triwulan laporan mengalami penurunan. Inflasi IHK secara tahunan pada akhir triwulan sebesar 5,00%, sementara pada akhir semester I lalu mencapai 6,00%, sehingga terjadi penurunan 1,00%.
Kelompok bahan makanan dan makanan jadi mengalami penurunan paling tinggi. Inflasi tahunan kelompok bahan makanan turun 2,13%, sedangkan kelompok makanan jadi 2,83%. Secara khusus dominan terjadi pada komoditi sayuran,bumbu-bumbuan dan perikanan. Namun demikian, ada juga yang justru meningkat, seperti yang terjadi pada kelompok pendidikan ,rekreasi dan olah raga sebesar 3,46%.
Penurunan inflasi IHK sayuran dari bulan Juli sampai September tercermin dari pergerakan IHK triwulanan yang mengalami deflasi 7,46%. Kondisi ini sejalan dengan kondisi di Kupang, dimana tidak terlepas dari siklus musiman pasca panen raya tanaman bahan makanan, yang merupakan periode panen untuk jenis tanaman hortikultura. Sehingga pasokan sayuran meningkat
Sumber : BPS diolah
Tabel 2.3 Inflasi Kupang per Kelompok
Grafik 2.11 Perkembangan Inflasi Maumere
Sumber : BPS diolah ‐2% 0% 2% 4% 6% 8% 10% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 yoy maumere mtm maumere III IV I II III UMUM 11.42% 9.97% 8.98% 6.66% 4.25% BAHAN MAKANAN 21.87% 16.96% 14.69% 10.42% 3.97%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 8.37% 8.62% 7.19% 6.68% 4.51%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 3.42% 3.73% 5.27% 5.56% 4.26%
SANDANG 8.66% 5.84% 4.87% 7.15% 10.23%
KESEHATAN 5.67% 6.78% 7.28% 6.38% 6.94%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 4.87% 4.50% 3.88% 4.96% 5.65%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K 13.77% 12.78% 8.83% 1.68% 1.99%
dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara umum indeks sayuran turun 7,47% dibandingkan Juni. Beberapa jenis sayuran yang mengalami penurunan adalah, kubis, sawi hijau, tomat sayur, dan kangkung. Sama halnya juga terjadi untuk beberapa komoditi bumbu-bumbuan, antara lain : bawang putih, bawang merah, dan cabe merah. Sedangkan untuk komoditi perikanan, penurunan paling tajam adalah ikan ekor kuning dan tongkol, seiring berlalunya musim angin di pertengahan tahun. Berbagai pergerakan harga komoditi bahan makanan yang memberikan sentimen positif bagi pergerakan inflasi volatile food yang menurun .
Inflasi IHK paling tinggi pada triwulan laporan terjadi pada kelompok perumahan dan kelompok sandang. Kenaikan harga pada kelompok perumahan didominasi oleh barang-barang kebutuhan bangunan, terutama semen. Hal ini dikarenakan pada triwulan III, bukan hanya di NTT saja, dimana secara umum puncak realisasi kegiatan pembangunan infrastruktur adalah pada periode ini. Sehingga pasokan semen dari Makasar cenderung kurang lancar, bahkan sempat terjadi kekosongan. Sedangkan untuk kelompok sandang, relatif sama dengan yang terjadi di Kupang. Selain emas, kenaikan permintaan seragam sekolah memicu lonjakan harga akibat periode tahun ajaran baru. Hal ini secara umum sangat menentukan pergerakan core inflation di Maumere.
Sumber : BPS diolah
Tabel 2.4 Perkembangan Inflasi Maumere umum bahan makanan makanan jadi,rokok,tembakau perumahan,listrik,air sandang kesehatan pendidikan,rekreasi,olah raga transpor,komunikasi,jasa 2.04% 3.01% 1.05% 1.17% 1.86% 0.01% 5.60% 1.37% ‐10% ‐5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2010 inflasi umum core inflation volatile food inflation administered inflation
Grafik 2.12 Inflasi Quartalan Tw III Maumere Grafik 2.13 Disagregasi Inflasi Maumere
Sumber : BPS diolah Sumber : BPS diolah (pendekatan subkelompok)
III IV I II III
UMUM 8.05% 8.48% 7.15% 6.00% 5.00%
BAHAN MAKANAN 15.01% 16.30% 10.13% 6.69% 4.56%
MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK & TEMBAKAU 10.65% 9.74% 10.82% 10.62% 7.78%
PERUMAHAN,AIR,LISTRIK,GAS & BB 1.42% 1.66% 4.04% 4.94% 5.60%
SANDANG 4.09% 4.51% 4.95% 4.01% 4.67%
KESEHATAN 0.96% 1.58% 1.27% 3.59% 2.80%
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAH RAGA 3.79% 2.69% 1.42% 1.03% 4.49%
TRANSPOR,KOMUNIKASI DAN JASA K -1.54% -0.61% 1.32% 0.75% 1.16%
2010
B
B
B
A
A
A
B
B
B
I
I
I
I
I
I
I
I
I
P
P
P
E
E
E
R
R
R
K
K
K
E
E
E
M
M
M
B
B
B
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
P
P
P
E
E
E
R
R
R
B
B
B
A
A
A
N
N
N
K
K
K
A
A
A
N
N
N
3.1 Kondisi Umum
Kinerja perbankan NTT pada triwulan laporan tumbuh positif dibandingkan triwulan III-2010. Berbagai indicator utama perbankan tumbuh positif seiiring dengan pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur yang tumbuh positif pada level 5,4% (yoy) pada triwulan laporan. Tren peningkatan kinerja perbankan terlihat pada perkembangan tiga indicator utama, yaitu asset, kredit dan DPK yang mengalami peningkatan signifikan masing-masing sebesar 29,17%, 19,12% dan 20,33%. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan kualitas kredit masih terjaga dibawah batas yang direkomendasikan oleh Bank Indonesia.
Penambahan jumlah bank yang beroperasi di NTT menjadi salah satu pendorong peningkatan kinerja perbankan pada level yang relative tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selama tahun 2011, terdapat penambahan 2 (dua) bank yang beroperasi di Nusa Tenggara Timur, yaitu Bank CIMB Niaga pada bulan Mei 2011 dan Bank Pundi pada bulan Juni 2011. Sampai dengan triwulan III-2011, jumlah bank yang beroperasi di NTT berjumlah 26 bank, yang terdiri dari 17 Bank Umum dan 9 Bank Perkreditan Rakyat.
indikator 2010 2011
utama I II III IV I II III
Aset (miliar) 11,836.32 12,228.45 12,520.21 13,252.33 13,816.23 14,961.89 16,171.74 y-o-y 23.15% 18.48% 13.88% 12.87% 16.73% 22.35% 29.17% Kredit (miliar) 6,957.76 7,678.44 8,131.30 7,880.07 8,216.88 8,972.52 9,686.07 y-o-y 25.95% 26.73% 25.80% 18.26% 18.10% 16.85% 19.12% DPK (miliar) 9,230.51 9,767.40 9,829.00 10,208.09 10,791.10 11,422.70 11,826.96 y-o-y 11.63% 10.69% 9.05% 11.94% 16.91% 16.95% 20.33% LDR 75.38% 78.61% 82.73% 77.19% 76.14% 78.55% 81.90% NPL 1.96% 1.87% 1.86% 1.95% 2.34% 2.33% 2.04%
Sumber : Bank Indonesia Kupang
3.2 Intermediasi Perbankan
Laju pertumbuhan penghimpunan dana masyarakat meningkat signifikan sebesar 20,33%. Akselerasi peningkatan simpanan jenis
deposito dan tabungan relative tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, namun untuk simpanan jenis giro relative melambat. Peningkatan laju pertumbuhan simpanan jenis deposito dan tabungan merupakan respon masyarakat yang beralih pada instrument yang aman dengan resiko kecil dibandingkan dengan instrument investasi lainnya seperti reksadana, emas dan lainnya.
Laju pertumbuhan giro pada triwulan laporan melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Melambatnya simpanan jenis giro
pada triwulan III-2011 merupakan kasus periodikal sebagai konsekuensi dari realisasi anggaran pemerintah daerah yang memasuki masa puncak pengerjaan proyek APBD, dimana dominasi kepemilikan giro pada perbankan NTT dimiliki oleh pemerintah daerah dengan porsi sebesar 77,51%. Selain itu, shifting penempatan dana dari giro ke tabungan dan deposito juga menjadi salah satu pemicu melambatnya laju pertumbuhan giro pada triwulan laporan.
Penghimpunan dana pada rekening deposito dan tabungan mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan dana pemerintah pada rekening deposito
menjadi pendorong utama meningkatnya laju pertumbuhan giro pada triwulan laporan. Sementara itu, preferensi masyarakat dalam penempatan excess liquidity untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek merupakan factor
2010 2011 I II III IV I II III DPK 9,230.51 9,767.40 9,829.00 10,208.09 10,791.10 11,422.70 11,826.96 y-o-y 11.63% 10.69% 9.05% 11.94% 16.91% 16.95% 20.33% Giro 2,499.54 2,901.17 2,831.37 1,963.11 2,916.83 2,985.66 2,851.61 y-o-y -1.63% 3.33% 3.34% -3.22% 16.69% 2.91% 0.71% Deposito 2,251.18 2,269.67 2,265.93 2,597.01 2,771.36 3,106.35 3,309.02 y-o-y 17.70% 14.07% 8.56% 32.98% 23.11% 36.86% 46.03% Tabungan 4,479.78 4,596.56 4,731.69 5,647.97 5,102.91 5,330.70 5,666.32 y-o-y 17.42% 14.16% 13.03% 9.93% 13.91% 15.97% 19.75% DPK (miliar)
Tabel 3.2 Perkembangan Komponen DPK DPK
utama peningkatan pertumbuhan simpanan jenis tabungan, dimana 91,04% kepemilikan simpanan tabungan adalah golongan perseorangan.
Secara structural, komposisi dana pihak ketiga perbankan NTT masih belum mengalami perubahan. Tabungan masih memiliki porsi
terbesar dalam pembentukan DPK perbankan NTT dan semakin meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Faktor pendorong peningkatan proporsi tabungan dalam DPK adalah peningkatan proporsi golongan pemilik perseorangan dimana 71,82% dana perseorangan ditempatkan dalam simpanan jenis tabungan.
Giro; 24.11% Deposito; 27.98% Tabungan; 47.91%
Penyaluran kredit perbankan NTT pada triwulan laporan tumbuh positif pada level 19,12%. Laju pertumbuhan kredit perbankan
NTT baik kredit produktif berjenis modal kerja dan investasi maupun kredit non produktif berjenis kredit konsumsi meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara sektoral, penyaluran kredit di semua sector ekonomi tumbuh positif dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan suku bunga kredit untuk jenis modal kerja dan investasi tidak menjadi factor penghalang dalam penyaluran kredit. Peningkatan pertumbuhan kredit pada triwulan laporan tidak berdampak pada performa kredit perbankan NTT yang masih terjaga pada level 2,04% lebih baik dibandingkan posisi triwulan II-2011 yang mencapai 2,33%
Grafik 3.2 DPK Menurut Golongan Pemilik Grafik 3.1 Komposisi DPK
Akselerasi penyaluran kredit kembali meningkat setelah pada triwulan sebelumnya menunjukkan tren melambat. Penurunan tingkat suku bunga kredit konsumsi diperkirakan merupakan pendorong utama peningkatan laju penyaluran kredit konsumsi. Akselerasi perkembangan penyaluran kredit modal kerja pada triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan kredit pada sector perdagangan besar dan eceran yang mencapai 12,15% (y-o-y), dengan porsi sector tersebut dalam penyaluran kredit modal kerja sebesar 57,40%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sector perdagangan terus berekspansi untuk meningkatkan size usahanya terkait dengan peningkatan kegiatan konsumsi masyarakat NTT.
Kegiatan investasi di NTT masih tumbuh positif pada triwulan III-2011. Akselerasi penyaluran kredit investasi lebih tinggi dibandingkan
dengan kredit jenis lainnya walaupun secara nominal, penyaluran kredit investasi hanya sebesar 5,02% dari total kredit. Peningkatan tersebut bersumber dari peningkatan kredit investasi pada sector perdagangan, konstruksi dan penyediaan akomodasi makan minum masing-masing sebesar 15,49%, 39,09% dan 112,06% (y-o-y). Hal tersebut mengindikasikan bahwa wilayah NTT masih sangat potensial untuk pengembangan usaha dalam jangka panjang.
Struktur pembentukan kredit relative sama dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit perbankan NTT masih
didominasi kredit konsumsi dengan proporsi sebesar 67,93% dari total kredit. Laju pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi yang melebihi
2010 2011
I II III IV I II III
Kredit 6,957.76 7,678.44 8,131.30 7,880.07 8,216.88 8,972.52 9,686.07
y-o-y kredit 25.95% 26.73% 25.80% 18.26% 18.10% 16.85% 19.12%
Modal kerja 1,720.72 1,896.00 2,089.71 2,169.02 2,154.77 2,353.29 2,619.88
y-o-y modal kerja 16.57% 14.03% 17.00% 21.63% 25.22% 24.12% 25.37%
Investasi 295.69 357.41 365.36 391.26 395.74 443.62 486.21 y-o-y investasi 80.47% 77.79% 66.90% 63.34% 33.84% 24.12% 33.08% Konsumsi 4,941.36 5,425.02 5,676.24 5,319.78 5,666.37 6,175.61 6,579.98 y-o-y konsumsi 27.21% 29.31% 27.31% 14.64% 14.67% 13.84% 15.92% Kredit (miliar)
Grafik 3.3 Perkembangan Kredit
kredit konsumsi meningkatkan proporsi kredit, namun tidak mengubah struktur pembentukan kredit secara signifikan.
0% 5% 10% 15% 20% I II III IV I II III 2010 2011 Modal Kerja Investasi Konsumsi BI Rate
Perbankan NTT secara umum menurunkan suku bunga kredit dengan suku bunga tertimbang sebesar 15,14%. Suku bunga
tertimbang kredit konsumsi pada triwulan laporan mencapai level 15,87% atau turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 17,38%. Kebijakan Bank Indonesia untuk mengumumkan Suku Bunga Dasar Kredit (prime lending rate) diperkirakan menjadi salah satu pemicu tren penurunan suku bunga kredit konsumsi selama tahun 2011. Namun, kebijakan tersebut belum signifikan berpengaruh dalam menekan kenaikan suku bunga kredit produktif perbankan NTT . Pada triwulan III-2011, tercatat suku bunga tertimbang kredit modal kerja dan kredit investasi masing-masing sebesar 14,35% dan 15,20% atau meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Secara sektoral, porsi penyaluran kredit perbankan NTT terbesar untuk sector produktif masih pada sector perdagangan besar dan eceran. Proporsi sector perdagangan besar dan eceran mencapai 16,98% dari total penyaluran kredit NTT. Penyaluran kredit pada sector tersebut tumbuh sebesar 12,11% (yoy). Sementara untuk sector pertanian tumbuh sebesar 21,86% dan sector perikanan sebesar 40,25%. Laju pertumbuhan penyaluran kredit di sector pertanian dan perikanan yang
Grafik 3.5 Perkembangan Suku bunga
ang
Grafik 3.4 Komposisi Kredit