BAB I
P E N D A H U L U A N
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, dinyatakan bahwa pemerintah daerah wajib
menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJMD dan mengacu pada
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang memuat rancangan kerangka ekonomi
daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang
dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun ditempuh dengan
mendorong partisipasi masyarakat.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional, telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah
konsisten, sejalan dan selaras dengan kebijakan perencanaan pembangunan nasional
dan provinsi, maka perencanaan pembangunan daerah harus merupakan kesatuan
dengan sistem perencanaan pembangunan nasional. Penyusunan perencanaan
pembangunan daerah dilakukan Pemerintah Daerah bersama para pemangku
kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing–masing. Perencanaan
pembangunan daerah mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana
pembangunan daerah. Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan berdasarkan
kondisi dan potensi yang dimiliki oleh daerah, sesuai dinamika perkembangan
daerah dan nasional. Dalam hierarkinya, rencana pembangunan daerah terbagi atas:
perencanaan jangka panjang (20 tahun), jangka menengah (5 tahun) dan jangka
pendek (1 tahun). Perencanaan pembangunan jangka pendek termuat di dalam
dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).
Dalam RKPD tahun 2013 menekankan bagaimana pencapaian IPM yang masih
dihadapkan pada berbagai permasalahan dalam pencapainnya. Perencanaan
pembangunan yang bersifat jangka panjang belum dapat memberikan kontribusi
secara nyata terhadap pencapaian IPM yang targetnya diukur dalam jangka pendek.
Bagaimana menentukan keterkaitan rencana jangka panjang yang disusun dengan
target IPM yang dicapai akan menjadi tantangan sendiri bagi Kabupaten Humbang
Hasundutan, disamping itu, yang perlu mendapat perhatian kita kedepan yaitu isu
global, karena hal ini dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 2013.
Secara umum isu global yang dapat menjadi kendala dalam percepatan pertumbuhan
ekonomi dan harus mendapat perhatian adalah: anomali iklim dunia akibat
Perubahan iklim serta pemanasan global masih terus terjadi yang dapat
mengakibatkan krisis pangan dunia, Gejolak ekonomi dari negara lain yang dapat
menyebabkan efek menular (contangious effect), Gejolak sosial Timur Tengah.
Perubahan iklim yang menggangu pasokan pangan dunia akan mengakibatkan
fluktuasi pada harga pangan dan mendorong spekulasi maupun ketidakpastian
pasar. Berbagai negara di belahan dunia sudah mulai mengambil langkah-langkah
strategis guna menjamin stabilitas ketersediaan dan harga pangan. Menteri
Pertanian Jepang Michihiko Kano memperkirakan sedikitnya 200 juta orang di
seluruh dunia akan menghadapi ancaman kelaparan.
Bercermin dari kondisi ini, Badan Pangan Dunia (FAO) menggelar sebuah pertemuan
luar biasa di Roma di tengah kekhawatiran terus meningkatnya harga pangan dunia,
yang diakibatkan Rusia menghentikan ekspor gandum dan bencana banjir di
Pakistan dan China. Situasi seperti ini juga sangat dirasakan di Indonesia dimana
beberapa komoditi mengalami peningkatan harga yang sangat tinggi seperti beras,
gula, minyak makan dan bahkan cabe juga mengalami peningkatan harga yang
sangat tinggi. Di sisi lain, kemampuan memproduksi akan bahan pangan ini
kecenderungannya mengalami penurunan produksi akibat tingginya investasi di
sektor pertanian sebagai akibat tingginya harga pupuk, susahnya melakukan kontrol
air akibat perubahan iklim, dan tingginya alih fungsi lahan. Belum lagi berbagai
permasalahan lainnya seperti rusaknya berbagai sarana dan prasarana irigasi dan
tingginya biaya produksi akibat rendahnya kualitas infrastruktur pendukung lainnya
seperti jalan, ditambah faktor non teknis lainnya akibat kebijakan-kebijakan yang
dilakukan negara eksportir dan faktor spekulasi di pasar-pasar berjangka. Perhatian
terhadap stabilitas ketersediaan pangan ini, menjadi penting untuk menjamin
pembangunan yang berkelanjutan di sektor lainnya seperti pendidikan, kesehatan,
sarana dan parasarana infrastruktur dan berbagai sektor pembangunan lainnya.
Selanjutnya, RKPD memuat arah dan kebijakan pembangunan daerah selama
setahun, yang diperoleh dari Renja SKPD sehingga menjadi dasar bagi perumusan
perencanaan pembangunan daerah. Dokumen RKPD sekurang–kurangnya memuat
evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu; rancangan kerangka ekonomi daerah beserta
kerangka pendanaan; prioritas dan sasaran pembangunan; dan rencana program
prioritas daerah.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013,
selanjutnya disingkat RKPD Tahun 2013 merupakan penjabaran dari RPJPD
Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2005-2025 yang kemudian dituangkan
dalam RPJMD Tahap ke III (Tahun 2011–2015) dan proses penyusunannya tetap
memperhatikan sumber daya dan potensi yang dimiliki, faktor-faktor keberhasilan,
evaluasi kinerja pembangunan 2 (dua) tahun sebelumnya serta isu-isu strategis yang
berkembang.
Rancangan kerangka ekonomi memuat tentang gambaran kondisi ekonomi,
kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah selama 2 (dua)
tahun sebelumnya (2010-2011), dan perkiraan untuk tahun 2013, sedangkan
didalam program prioritas pembangunan daerah, termuat program-program yang
berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai dengan Standard
Pelayanan Minimal (SPM) dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan sebagai
penjabaran dari RPJMD Kabupaten Humbang Hasundutan untuk periode tahun 2013,
dan isu-isu global serta menjawab setiap permasalahan yang muncul sesuai dengan
kondisi terkini di Indonesia umumnya dan Kabupaten Humbang Hasundutan
khususnya.
Rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju disusun dengan
mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif yang bersumber dari
APBD, memuat program pembangunan yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah
daerah, disertai perhitungan kebutuhan dana bersumber dari APBD untuk
tahun-tahun berikutnya dari tahun-tahun anggaran yang direncanakan.
Sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat,
yaitu kebijakan, program pemerintah daerah yang didanai APBD yang dalam
pencapaian sasarannya, melibatkan peran serta masyarakat baik dalam bentuk dana,
material maupun sumber daya manusia dan teknologi.
a. Proses Penyusunan RKPD
Penyusunan RKPD tahun 2013 ini mengacu Peraturan Menteri Dalam Negeri RI
Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun
2008 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 32 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan
Daerah Tahun 2013
dijelaskan
bahwa Pemerintah Daerah menyusun Rencana
Pembangunan Daerah dilakukan secara berjenjang bersama pemangku kepentingan
yang dirumuskan secara transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif,
terukur, berkeadilan dan berkelanjutan serta melakukan pengendalian dan evaluasi
terhadap perencanaan pembangunan.
Tahapan pelaksanaan penyusunan RKPD ini adalah sebagai berikut :
1) Persiapan penyusunan RKPD;
2) Penyusunan rancangan awal RKPD;
3) Penyusunan rancangan RKPD;
4) Pelaksanaan Musrenbang RKPD;
5) Perumusan rancangan akhir RKPD; dan
6) Penetapan RKPD.
Tahapan persiapan penyusunan RKPD meliputi: pembentukan Tim Penyusun RKPD,
orientasi mengenai RKPD, penyusunan agenda kerja, serta penyiapan data dan
informasi perencanaan pembangunan daerah.
Perumusan rancangan awal RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan dilakukan
melalui serangkaian kegiatan berikut:
1) Pengolahan data dan informasi;
2) Analisis gambaran umum kondisi daerah;
3) Analisis ekonomi dan keuangan daerah;
4) Evaluasi kinerja tahun lalu;
5) Penelaahan terhadap kabijakan pemerintah;
6) Perumusan permasalahan pembangunan daerah;
7) Perumusan rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan daerah;
8) Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikatif;
9) Perumusan program prioritas beserta pagu indikatif;
10) Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif;
Proses penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2013 adalah
sebagai berikut:
Gambar 1.1 Bagan Alur Proses Penyusunan RKPD
b. Kedudukan RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013 dalam RPJMD
Kabupaten Humbang Hasundutan 2011-2015
RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2013 ini merupakan pelaksanaan
tahun ke-3 dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011-2015, sesuai dengan masa bhakti
Bupati dan Wakil Bupati Humbang Hasundutan terpilih.
Oleh karenanya RKPD Tahun 2013 ini menjadi sangat penting karena sekaligus
sebagai evaluasi atas kinerja pembangunan di Kabupaten Humbang Hasundutan
tahun sebelumnya, untuk melihat pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran
pembangunan Kabupaten Humbang Hasundutan yang telah dan yang belum
tercapai, disamping pelaksanaan agenda pembangunan nasional.
Prinsip Penyusunan RKPD
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 2 Tahun
2010 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah Kabupaten
Humbang Hasundutan, perencanaan pembangunan daerah dilakukan dengan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
(1)
Perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem
perencanaan pembangunan Nasional.
(2)
Perencanaan pembangunan daerah dilakukan Pemerintah Kabupaten Humbang
Hasundutan bersama pemangku kepentingan berdasarkan peran dan
kewenangan masing-masing.
(3)
Perencanaan pembangunan daerah mengintegrasikan rencana tata ruang
dengan rencana pembangunan daerah Kabupaten Humbang Hasundutan.
(4)
Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan berdasarkan kondisi dan
potensi yang dimiliki Kabupaten Humbang Hasundutan, sesuai dengan dinamika
perkembangan daerah dan perkembangan Nasional.
1.2 Landasan Hukum
Peraturan perundang-undangan yang melatarbelakangi penyusunan RKPD
Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013 adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang
Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3851);
2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Nias
Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Humbang Hasundutan di
Provinsi Sumatera Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4272);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4287);
4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4438);
7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4700);
8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
9. Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4623);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan
Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4737);
14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4815);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48);
17. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
18. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksana Prioritas
Pembangunan Tahun 2010;
19. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah
Tahun 2013;
20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah;
21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2010;
22. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri
Keuangan Nomor 28 Tahun 2010, Nomor 0199/M PPN/04/2010, Nomor PMK
95/PMK 07/2010 tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2010-2014;
23. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010, tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah;
24. Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 24 Tahun 2012 tentang Rencana
Kerja Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013;
25. Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 6 Tahun 2008
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah, Sekretariat
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Staf Ahli Kabupaten Humbang Hasundutan
(Lembaran Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2008 Nomor 6);
26. Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 7 Tahun 2008
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten
Humbang Hasundutan (Lembaran Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan
Tahun 2008 Nomor 7);
27. Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 8 Tahun 2008
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah
Kabupaten Humbang Hasundutan (Lembaran Daerah Kabupaten Humbang
Hasundutan Tahun 2008 Nomor 8);
28. Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 9 Tahun 2008
tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan
Kabupaten Humbang Hasundutan (Lembaran Daerah Kabupaten Humbang
Hasundutan Tahun 2008 Nomor 9);
29. Peraturan Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Nomor 1 Tahun 2012
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012
(Lembaran Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2012 Nomor 1);
30. Peraturan Bupati Humbang Hasundutan Nomor 3 Tahun 2012 tentang
Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012
(Berita Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2012 Nomor 3).
1.3. Hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya
Dokumen RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013 tidak dapat
dipisahkan dengan dokumen perencanaan lainnya berdasarkan kerangka waktu,
yaitu (1) Rencana Jangka Panjang Daerah (20 tahun), (2) Rencana Jangka Menengah
Daerah (5 tahun). Secara substansi, keberadaan RKPD membentuk keterkaitan
secara hierarkis dengan RPJP Nasional 2005-2025, RPJM Nasional 2010-2014,
RPJPD Provinsi Sumatera Utara 2005-2025 dan RPJMD Provinsi Sumatera Utara
2009-2013, RPJPD Kabupaten Humbang Hasundutan 2005-2025 dan RPJMD
Kabupaten Humbang Hasundutan 2011-2015
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, menegaskan bahwa rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) berangkat dan disusun dari sebuah proses penjabaran
atas visi, misi dan program Kepala Daerah. RPJMD berperan sebagai acuan dasar
dalam menentukan arah kebijakan dan strategi pembangunan daerah yang pada
intinya memuat mengenai arah kebijakan keuangan daerah, strategi pernbangunan
daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas
Satuan Kerja Perangkat Daerah dan program kewilayahan disertai dengan
rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat
indikatif. Sebagai suatu produk perencanaan, RPJMD tetap tidak dapat dipisahkan
keberadaannya dengan dokumen perencanaan dan penganggaran lainnya. RPJMD
ini terintegrasi dan merupakan satu kesatuan dengan dokumen perencanaan
lainnya baik di tingkat nasional maupun daerah, terutama dengan dokumen
perencanaan dan penganggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.
Adapun dokumen perencanaan dan penganggaran tersebut meliputi (1) Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), (2) Rencana Strategis Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), (3) Rencana Kerja Pembangunan Daerah
(RKPD) dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Semua
dokumen perencanaan sebagaimana dimaksud di atas, dari sisi waktu mencakup 3
kerangka waktu, yaitu rencana jangka panjang (20 tahun), rencana jangka
menengah (5 tahun) dan rencana jangka pendek (1 tahun). Secara substansi,
keberadaan RPJMD ini dengan dokumen perencanaan tersebut membentuk
keterkaitan yang bersifat hierarkis, yaitu dokumen dengan jangka waktu yang lebih
panjang menjadi rujukan bagi dokumen dengan jangka waktu yang lebih pendek.
Secara diagramatis keterkaitan hubungan RPJMD dengan dokumen perencanaan
dan penganggaran lainnya tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1.2. Proses penyusunan dan keterkaitan RKPD dengan dokumen
perencanaan lainnya
Mengacu pada Gambar 1.2 dapat diketahui bahwa secara rinci hubungan RKPD
dengan dokumen perencanaan dan penganggaran lainnya, adalah sebagai berikut:
RKPD disusun dengan memperhatikan pokok-pokok arah kebijakan dalam RPJP
Nasional dan RPJM Nasional melalui mekanisme Musrenbangnas. RKPD disusun
dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMD yang didalamnya memuat mengenai
visi, misi dan arah pembangunan daerah. Selanjutnya RKPD ini menjadi pedoman
bagi penyusunan Renja SKPD yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi dari tiap
SKPD. RKPD ini nantinya dijabarkan ke dalam KUA/PPAS dan selanjutnya menjadi
pedoman dalam penyusunan RAPBD. Memperhatikan hubungan keterkaitan
sebagaimana dijelaskan di atas, maka dalam penyusunan RKPD Kabupaten
Humbang Hasundutan Tahun 2013 ini harus mengacu dan berpedoman kepada
dokumen RKP Nasional, Renja K/L dan RKPD Provinsi Sumatera Utara.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar. 1.3 di bawah ini.
Gambar 3. Bagan keterkaitan RKPD Kabupaten dengan dokumen perencanaan
lainnya
1.4 Sistematika
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun
2013, yang mengimplementasikan perencanaan pembangunan jangka menengah dan
penganggaran tahunan, disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bagian pendahuluan memuat latar belakang, berisi pengertian ringkas tentang
RKPD, proses penyusunan RKPD, kedudukan RKPD tahun rencana dalam periode
dokumen RPJMD, keterkaitan antara dokumen RKPD dengan dokumen RPJMD,
Renstra SKPD, Renja SKPD serta tindaklanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD;
hubungan antar Dokumen RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013
dengan RPJPN, RPJPD Provinsi, RPJPD kabupaten Humbang Hasundutan, RPJMN,
RPJMD Provinsi, dan RPJMD Kabupaten Humbang Hasundutan; Dasar Hukum
Penyusunan RKPD; Sistematika Dokumen RKPD; Maksud dan Tujuan penyusunan
RKPD Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2013.
BAB II. EVALUASI PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CARA PENCAPAIAN KERJA
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
Memuat tentang Gambaran Umum Kondisi Daerah yang berisi hasil analisis terhadap
Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan mencakup aspek geografi
dan demografi, aspek kesejahteraan, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing
daerah, dan untuk menilai sejauh mana realisasi pembangunan daerah dapat
mempengaruhi kinerja ekonomi daerah dan sejauh mana indikator makro ekonomi
daerah sesuai dengan yang diasumsikan dalam perencanaan pembangunan jangka
menengah. Analisis asumsi umum/makro ekonomi daerah tahun lalu, tahun berjalan
dan tahun rencana memuat kondisi ekonomi riil suatu daerah pada tahun lalu, tahun
berjalan dan tahun rencana. Pada bagian ini diketengahkan capaian Indikator utama
ekonomi daerah yakni: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), disparitas
pendapatan daerah, tingkat pengangguran, kemiskinan, investasi, inflasi dan
lain-lain.
Selain itu diuraikan hasil evaluasi pelaksanaan RKPD yang telah terlaksana dua
tahun sebelumnya (Tahun 2010-2011) dan RKPD Tahun yang sedang berjalan
(Tahun 2012) dan berbagai permasalahan di dalam pembangunan daerah
Kabupaten Humbang Hasundutan.
BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEUANGAN DAERAH
Memuat tentang arah kebijakan ekonomi daerah, dan arah kebijakan keuangan
daerah yang menguraikan tentang kebijakan pembangunan nasional yang
diselaraskan dengan kebijakan pembangunan daerah, kemampuan pendanaan dan
pembiayaan pembangunan daerah selama 2 (dua) tahun sebelumnya (2010-2011)
dan perkiraan untuk Tahun 2014.
BAB IV. PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2013
Memuat tujuan dan sasaran pembangunan daerah dan rencana program prioritas
pembangunan daerah, terdiri dari program-program yang berorientasi pada
pemenuhan hak-hak dasar masyarakat sesuai dengan Standard Pelayanan Minimal
(SPM) dan pencapaian keadilan yang berkelanjutan sebagai penjabaran dari RPJMD
Kabupaten Humbang Hasundutan untuk periode tahun 2013.
BAB V. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH
Pada Bab ini secara eksplisit memuat tentang rencana program dan kegiatan
prioritas pembangunan Kabupaten Humbang Hasundutan yang disusun berdasarkan
evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana (RKPD) dan capaian
kinerja yang direncanakan dalam RPJMD.
BAB VI. PENUTUP
Menguraikan hal-hal pokok yang dimuat dalam keseluruhan dokumen RKPD, sebagai
pedoman bagi semua pihak dalam memfungsikan RKPD sesuai dengan ketentuan
perundangan yang berlaku.
1.5 Maksud dan Tujuan
Maksud penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) adalah untuk
menetapkan dokumen perencanaan pembangunan tahunan daerah yang memuat
rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja
dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun
dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Tujuan
Tujuan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Humbang Hasundutan
Tahun 2013 adalah:
1) Terwujudnya pencapaian Visi dan Misi Kabupaten Humbang Hasundutan;
2) Terwujudnya integrasi, sinkronisasi dan sinergitas pembangunan baik antar
daerah, antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintahan maupun antar
tingkat pemerintahan;
3) Terwujudnya keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan;
4) Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dan dunia usaha; serta
5) Tercapainya pemanfaatan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan
berkelanjutan.
BAB II
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU
DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah
Gambaran umum kondisi daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan
Pemerintahan mencakup aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan, aspek
pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah.
2.1.1. Aspek Geografi Dan Demografi
2.1.1.1. Karakteristik lokasi dan wilayah
a. Luas dan batas wilayah administrasi
Luas Kabupaten Humbang Hasundutan adalah 251.765,93 Ha.
Terdiri dari 10
(sepuluh) Kecamatan dan 153 (seratus empat puluh tiga) Desa dan 1 (satu)
Kelurahan (Tabel 2.1), dan berbatasan dengan :
1. Sebelah Timur dengan Kabupaten Tapanuli Utara
2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah
3. Sebelah Barat dengan Kabupaten Pakpak Bharat
4. Sebelah Utara dengan Kabupaten Samosir
Tabel 2.1
Luas Wilayah Berdasarkan Luas Kecamatan
NO
NAMA KECAMATAN
LUAS
(Ha)
1
Pakkat
38.168,00
2
Onanganjang
22.256,27
3
Sijamapolang
14.018,07
4
Lintongnihuta
18.126,03
5
Paranginan
4.778,06
6
Doloksanggul
20.929,53
7
Pollung
32.736,46
8
Parlilitan
72.774,71
9
Tarabintang
24.251,98
10
Baktiraja +
Luas Danau Toba
2.231,91
1.494,91
Humbang Hasundutan
251.765,93
b. Letak dan kondisi geografis
Kabupaten Humbang Hasundutan terletak di bagian tengah Sumatera Utara di
jajaran Bukit Barisan pada 2
O
13
O
’ - 2
O
28’ Lintang Utara dan 98
O
10’ - 98
O
57’
Bujur Timur dengan keadaan tanah umumnya berbukit dan bergelombang
c. Topografi
Kabupaten Humbang Hasundutan berada pada ketinggian 330-2.075 m diatas permukaan laut.
Wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan yang berada pada ketinggian dibawah
500 m dpl hanya sekitar 12% meliputi sebagian Kecamatan Pakkat dan
Tarabintang, 500-1000 m dpl sekitar 36% meliputi Kecamatan Tarabintang,
Baktiraja, sebagian wilayah Kecamatan Pakkat dan Parlilitan, ketinggian antara
1000-1500 mdpl sekitar 48% meliputi Kecamatan Doloksanggul, Pollung,
Lintongnihuta, Paranginan, Onanganjang, Sijamapolang, sebagian wilayah
Kecamatan Pakkat dan Parlilitan, ketinggian diatas 1500 m dpl sekitar 3%
meliputi daerah Gunung Pinapan. Jika dilihat dari kemiringan tanah yang
tergolong datar hanya 11%, landai sebesar 20%, dan miring terjal 69%.
d. Geologi
Struktur dan karakteristik, Dari hasil analisa Peta Geologi
(Lembar Sidikalang
05118-0618) Skala 1:250.000 Pusat Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
Indonesia, Tahun 1983, bahwa Wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dilalui
jalur sesar (patahan semangko) yang tertutup tufa radiodasit. Jalur Patahan
Semangko Sumatera melewati wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu
memanjang dari arah Tenggara (Kota Tarutung, Kecamatan Pagaran) sampai ke
Barat Laut (ke Kabupaten Humbang Hasundutan) tepatnya melalui Kecamatan
Bakti Raja, Lintong Nihuta, Dolok Sanggul arah timur laut (Desa Hutaraja),
Pollung (Desa Huta Paung) sampai ke Kecamatan Harian Boho (Kabupaten
Samosir) dan Sidikalang Kabupaten Dairi.
Jalur Patahan Semangko ini merupakan gejala alam, yang tidak dapat dihindari,
hal yang perlu dilakukan adalah mengurangi/memperkecil resiko akibat proses
itu terjadi dengan cara pengaturan pemanfaatan ruang di sekitar jalur patahan
tersebut terutama bangunan berlantai dan harus mengantisipasi dengan
membangun prasarana jalan sebagai aksesibilitas untuk memperlancar proses
evakuasi jiwa dan barang.
Potensi : potensi yang dimiliki merupakan jenis tambang batuan geologi yang
dapat berpotensi untuk pemasok bahan baku industri pengolahan bahan
bangunan (batako, pozolan/semen, calcium carbonate (cat), kalsit, trass dan
sebagainya. Namun pemanfaatan bahan tambang tersebut masih sangat terbatas.
Disamping itu terdapat juga potensi biji emas yang berpotensi untuk
dikembangkan menjadi industri kerajinan (logam) walaupun tingkat kuantitas
dan kualitas dari biji emas tersebut belum diketahui secara pasti.
Secara spasial, potensi jenis bahan tambang yang terdapat di Kabupaten
Humbang Hasundutan antara lain di Kecamatan Lintong Nihuta, Dolok Sanggul.
Pozolan Gambut di Kecamatan Lintong Nihuta. Batako Trass di Kecamatan
Lintong Nihuta dan Kecamatan Dolok Sanggul. Batu Gamping, Kalsit dan Trass di
Kecamatan Dolok Sanggul. Guano di Kecamatan Pakkat dan Parlilitan, Batu Kapur
di Kecamatan Onan Ganjang dan biji emas di Kecamatan Tara Bintang. Potensi
lahan gambut di Kecamatan Lintong Nihuta dapat dikembangkan menjadi
pemanfaatan lahan perkebunan dan sebagai bahan bakar/listrik sebagai
alternatif sumber daya energi lokal masyarakat.
Tabel 2.2
Potensi Sektor Pertambangan di Kabupaten Humbang Hasundutan
No
Jenis Bahan
Tambang
Kecamatan
Lokasi
Kegunaan
Deposit
1
Calcium Carbonat Lintong Nihuta (Ds. Nagasaribu)
Dolok Sanggul (Ds. Pakkat)
Cat, dempul, sabun
Belum diteliti
2
Pozolan
Lintong Nihuta (Ds. Nagasaribu)
Semen
Belum diteliti
3
Batako trass
Lintong Nihuta (Ds. Nagasaribu)
Dolok Sanggul (Ds. Pakkat)
Batu bata, batako
Belum diteliti
4
Batu gamping
Dolok Sanggul
Semen, dll
260 juta ton
5
Kalsit
Lintong Nihuta
Dolok Sanggul
Industri kimia, plastik,
cat, kosmetik
400 ribu ton
6
Gambut
Dolok Sanggul
Bahan bakar/listrik
12.392 ton
7
Trass
Dolok Sanggul
Industri batako
600 ribu ton
8
Guano
Pakkat
Parlilitan
Pupuk, obat-obatan
Belum diteliti
9
Batu kapur
Onan Ganjang
Pupuk, pakan ternak,
kapur olahan
Belum diteliti
10
Biji emas
Tarabintang (Ds. Cegarigi dan
Dolok Pinapan)
Perhiasan
Penelitian
umum
11
Timah Hitam
Tarabintang
Bahan industri
Belum diteliti
12
Tembaga
Tarabintang (Dolok Pinapan)
Bahan industri
Penelitian
umum
13
Bahan campuran
keramik
Sijamapolang
Campuran keramik
Belum diteliti
Sumber: Kantor Pertambangaan dan Energi Kab. Humbang Hasundutan,
e. Hidrologi
Sumber daya air yang dimiliki Kabupaten Humbang Hasundutan berasal dari
Danau, Sungai dan rawa-rawa. Kabupaten Humbang Hasundutan berada pada
dataran tinggi yang memiliki beberapa hulu sungai (DAS) untuk beberapa
kabupaten tetangga. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di Kabupaten
Humbang Hasundutan antara lain DAS Simonggo, DAS Sibundong. DAS Silang, dan
DAS lainnya. Sedangkan sumber air yang berasal dari Danau yaitu dari Danau
Toba di Kecamatan Baktiraja.
Tabel 2.3
Daerah Aliran Sungai (DAS) serta Pemanfaatannya
No
Nama DAS/ SUB DAS
Panjang Sungai (Km)
Luas
1
Tapus Lumut/Aek Sibundong
34,89
71.735,004
2
DTA Danau Toba/Aek Silang
30,28
38.048,100
3
Singkil (Renun)/Aek Simonggo
52,66
127.981,491
4
Batang Toru/Aek Doras
12,36
12.506,425
Sumber : Dinas kehutanan dan Lingkungan Hidup
f. Klimatologi
Iklim di Kabupaten Humbang Hasundutan tergolong dalam iklim tropis basah
dengan dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Musim kemarau
biasanya terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Agustus dan musim
penghujan biasanya terjadi pada bulan September s/d bulan Maret. Ketinggian
tempat dari permukaan air laut berpengaruh terhadap suhu udara, yaitu setiap
naik 100 m suhu akan turun rata-rata 0,6
o
sehingga makin tinggi suatu tempat
akan menyebabkan daerah tersebut memiliki suhu lebih rendah. Suhu udara di
Kabupaten Humbang Hasundutan berkisar antara 17°C – 29°C dan rata-rata
kelembaban udara (RH) sebesar 85,94 persen dimana sebagian besar wilayah
barat dari Kabupaten Humbang Hasundutan beriklim panas dan wilayah timur
yang merupakan dataran tinggi berhawa dingin.
Jumlah rata-rata curah hujan di Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011
sebesar 334,95 mm, curah hujan tertinggi pada bulan maret sebesar 548,67 mm
dan terendah pada bulan pebruari sebesar 154,67 mm. Jumlah rata-rata hari
hujan yang terjadi tahun 2011 sebesar 13,72 hari hujan dimana tertinggi pada
bulan januari sebanyak 18 hari dan terendah pada bulan mei sebanyak 8,33 hari.
g. Penggunaan lahan, terdiri dari:
1. Kawasan Hutan
Kawasan Hutan berdasarkan fungsi yang mengacu kepada Peta Register dan
Inlyiving di Kabupaten Humbang Hasundutan seluas 95.512,84 Ha yang
seluas : 41.600 Ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 3.100 Ha dan hutan
Reboisasi (inlyiving) seluas 19.512,84 Ha.
Tabel 2.4
Luas Kawasan Hutan per kecamatan
No.
Kecamatan
Hutan Produksi
(Ha)
Luas Hutan
(Ha)
Jumlah (Ha)
1
Pakkat
38.168,00
17.100,00
44,80
2
Onan Ganjang
22.256,27
3.100,00
13,93
3
Sijamapolang
14.018,07
2.850,00
20,33
4
Lintong Nihuta
18.126,03
3.100,00
42,48
5
Paranginan
4.778,06
7.700,60
47,09
6
Doloksanggul
20.929,53
2.250,00
26,67
7
Pollung
32.736,46
6.000,04
18,52
8
Parlilitan
72.774,71
39.950,00
54,90
9
Tarabintang
24.251,98
8.400,00
34,64
10
Baktiraja
Luas Danau Toba
2.231,91
1.494,91
2.100,00
-
94,09
-
Jumlah
251.765,93
95.512,84
37,94
Sumber : Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011
2. Kawasan Budidaya
Penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan terdiri dari
penggunaan lahan terbangun dan tidak terbangun, sebagian besar lahan yang
ada adalah lahan tidak terbangun berupa hutan seluas 126.865,6 Ha (54,32%)
dan lahan terbangun umumnya berupa lahan pertanian, perkebunan, sawah,
semak, tegalan, campuran yang keseluruhannya yaitu seluas 106.667,4 Ha
(45,68%).
Tabel 2.5
Penggunaan Lahan Per Kecamatan di Kab. Humbang Hasundutan
No
.
Kecamatan
Penggunaan Lahan (Ha)
Semak
Belukar
Sawah
Tegalan
Rakyat
Kebun
Campuran
1
Pakkat
-
3.828
715
5.330
5.152
2
Onan Ganjang
1.263
1.084
1.018
4.018
728
3
Sijamapolang
2.117
540
2.020
4.295
312
4
Lintong Nihuta
5.200
2.074
2.517
1.185
505
5
Paranginan
1.953
1.079
1.004
1.140
575
6
Dolok Sanggul
10.977
2.480
3.517
2.854
215
7
Pollung
7.178
1.276
756
1.017
505
8
Parlilitan
654
3.730
4.156
8.263
2.535
9
Tarabintang
-
2.170
1.100
2.618
1.263
10
Bakti Raja
2.310
2.573
517
-
619
Jumlah
31.652
20.834
17.320
30.720
12.409
Sumber
:
Data Hutan & Sawah, Humbang Hasundutan Dalam Angka 2011Keterangan :
Kebun Rakyat = kopi, kemenyan, karet, kakao, sawit, kemiri, kulit manisCampuran = tanaman palawija, hortikultura, buah-buahan, permukiman
Semak belukar = lahan yang tidak diusahai, lahan yang pernah diusahai tetapi beberapa tahun kemudian akan diusahai
Tegalan = Lahan usaha pertanian yang ditanami tanaman semusim. Luas wilayah tidak termasuk perairan Danau Toba seluas 1.494,91 Ha
2.1.1.2. Potensi pengembangan wilayah
Sebagai upaya untuk pengembangan wilayah yang terdesentralisasi sesuai potensi
sumber daya alam setempat serta terciptanya keseimbangan pertumbuhan wilayah
(balance growth) maka diidentifikasi wilayah yang perlu didorong
pertumbuhannya sesuai konsep pembagian wilayah pengembangan (WP) untuk
pemerataan pembangunan di Kabupaten Humbang Hasundutan. Pengembangan
Wilayah di Kabupaten Humbang Hasundutan adalah sebagai berikut :
1
Bagian Utara diarahkan untuk pengembangan kegiatan pariwisata di sekitar
Danau Toba dan menjadi Kawasan Stratetgis Nasional (KSN) yaitu Kecamatan
Baktiraja, Doloksanggul, Paranginan, Lintongnihuta dan Pollung. Berdasarkan
Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba, Kecamatan Baktiraja ditetapkan
sebagai tujuan wisata bertaraf internasional berlatar sejarah dan budaya.
2
Sesuai dengan RTRW Provinsi Sumatera Utara kawasan dataran tinggi Toba
ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan dan Kawasan Strategis Ekonomi,
yang termasuk dalam kawasan ini adalah Kecamatan Doloksanggul, Baktiraja,
Pollung, Paranginan dan Lintongnihuta.
3
Bagian Selatan dan Barat diarahkan sebagai lokasi Hutan Lindung dan Lokasi
Tambang Mineral Bumi yang meliputi Kecamatan Sijamapolang, Pakkat,
Parlilitan dan Onanganjang, dan juga diarahkan sebagai arahan
pengembangan kegiatan pertanian lahan kering dan basah, perkebunan dan
hasil hutan.
4
Bagian Timur dan sebagian Utara diarahkan untuk pengembangan kegiatan
pariwisata di sekitar Danau Toba dan menjadi Kawasan Stratetgis Nasional
(KSN) yaitu Kecamatan Baktiraja, Doloksanggul, Paranginan, Lintongnihuta
dan Pollung. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba,
Kecamatan Baktiraja ditetapkan sebagai tujuan wisata bertaraf internasional
berlatar sejarah dan budaya, diarahkan juga untuk pengembangan kegiatan
pertanian lahan basah, peternakan, perkebunan untuk menunjang
pengembangan bagian utara dan tengah, dengan prioritas pencapaian
pertumbuhan dan pemerataan wilayah.
5
Kota Kecamatan Doloksanggul memiliki fungsi utama sebagai Pusat Kegiatan
Lokal (PKL) dengan struktur ruang diarahkan pada revitalisasi dan
pemantapan fungsi Kota Doloksanggul sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
dengan fungsi utama Kota Tani (Agropolitan) pada bidang pertanian tanaman
pangan, pengolahan hasil hutan dan pengolahan hasil perkebunan. Kota
Doloksanggul juga menjadi pusat pengembangan dan pengelolaan yang
mempunyai pelayanan satu Kabupaten atau beberapa kecamatan, dengan
kriterai penentuan pusat jasa keuangan/bank yang melayani satu kabupaten
atau beberapa kecamatan, pusat pengelolaan dan pengembangan kegiatan
pertanian dan perkebunan, jasa pemerintah untuk beberapa kecamatan,
bersifat khusus yang mendorong perkembangan sektor stategis.
6
Kecamatan Paranginan, Lintongnihuta, Baktiraja, Doloksanggul dan Pollung
merupakan kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Kawasan Danau Toba.
7
Kecamatan Paranginan dan Lintongnihuta diarahkan sebagai kawasan wisata
alam dengan konsep keselamatan ekologi dan ekosistem kawasan DTA Danau
Toba.
2.1.1.3. Wilayah Rawan Bencana
Dari hasil analisa Peta Geologi (Lembar Sidikalang 05118-0618) Skala 1:250.000
Pusat Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Indonesia, Tahun 1983, bahwa
Wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dilalui jalur sesar (patahan semangko)
yang tertutup tufa radiodasit. Jalur Patahan Semangko Sumatera melewati wilayah
Kabupaten Humbang Hasundutan, yaitu memanjang dari arah Tenggara (Kota
Tarutung, Kecamatan Pagaran) sampai ke Barat Laut (ke Kabupaten Humbang
Hasundutan) tepatnya melalui Kecamatan Bakti Raja, Lintong Nihuta, Dolok
Sanggul arah timur laut (Desa Hutaraja), Pollung (Desa Huta Paung) sampai ke
Kecamatan Harian Boho (Kabupaten Samosir) dan Sidikalang Kabupaten Dairi.
Jalur Patahan Semangko ini merupakan gejala alam, yang tidak dapat dihindari, hal
yang perlu dilakukan adalah mengurangi/memperkecil resiko akibat proses itu
terjadi dengan cara pengaturan pemanfaatan ruang di sekitar jalur patahan
tersebut terutama bangunan berlantai dan harus mengantisipasi dengan
membangun prasarana jalan sebagai aksesibilitas untuk memperlancar proses
evakuasi jiwa dan barang.
Menurut Ilmu Kebumian Lembaga Penelitian Pengetahuan Indonesia, Jan
Sopaheuwakan memperkirakan tahun 2030-2040 akan terjadi gempa di wilayah
Sumatera, hal ini didasarkan catatan siklus besar gempa di Sumatra. Sejarah
kegempaan menunjukkan, gempa sesar besar Sumatra pernah terjadi pada tahun
1681, 1797, 1833 dan 1904. Dengan demikian berdasarkan rekonstruksi waktu
Catur Istiyanto bahwa perlunya kepatuhan masyarakat dan pemerintah daerah di
daerah rawan gempa untuk mematuhi arahan penataan ruang untuk mengatur
aksesibilitas, karena di saat gempa terjadi yang pertama diakukan untuk
pengurangan korban adalah evakuasi, kejadian sebelumnya yang baru terjadi di
Indonesia (Aceh, Nias, Nabire dll) merupakan pelajaran penting buat kita. Atau
untuk lebih amannya pada jalur patahan seperti yang ditunjukkan pada peta
Geologi diharapkan bangunan permukiman terlebih dari konstruksi beton supaya
dihindarkan.
2.1.1.4.
Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2011 sebanyak
173.744 yang terdiri dari 86.384 jiwa laki-laki dan 87.360 jiwa perempuan jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk Tahun 2010 sebanyak 171.687 jiwa
mengalami pertumbuhan 1,22%. Jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan
Doloksanggul sebesar 43.784 jiwa sedangkan penduduk terkecil berada di
Kecamatan Sijamapolang sebesar 5.174 jiwa..
Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan masih tergolong
rendah dan tidak merata, yaitu 69,42 jiwa per kilometer persegi. Memang diakui,
bahwa luas wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan relatif luas yakni sebesar
2.502,71 Km
2
akan tetapi penyebaran penduduk Humbang Hasundutan masih
bertumpu di ibukota kabupaten yaitu di Doloksanggul sebesar 25,17% kemudian
diikuti Kecamatan Lintongnihuta sebesar 16,93%, dan Kecamatan Sijamapolang
sebesar 2,98%.
Tabel 2.6
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan
No
Kecamatan
Jumlah Penduduk (Jiwa) Tahun 2011
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Parlilitan
8,651
8,877
17,528
2 Pollung
8,952
8,878
17,830
3 Baktiraja
3,441
3,466
6,907
4 Paranginan
6,255
6,384
12,639
5 Lintong Nihuta
14,873
14,547
29,420
6 Doloksanggul
21,811
21,913
43,724
7 Sijamapolang
2,567
2,607
5,174
8 Onanganjang
4,906
5,049
9,955
9 Pakkat
11,301
12,009
23,310
No
Kecamatan
Jumlah Penduduk (Jiwa) Tahun 2011
Laki-laki Perempuan Jumlah
10 Tarabintang
3,627
3,630
7,257
JUMLAH
86,384
87,360
173,255
Rata-rata pertumbuhan (2000-2010)
1.22%
Kepadatan (jiwa/Km)
68,42
Sumber : Humbang Hasundutan Dalam Angka 2011
2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
Aspek kesejahteraan masyarakat berdasarkan fokus kesejahteraan antara lain dapat
dilihat dari angka pertumbuhan PDRB, Inflasi, PDRB perkapita, disparitas
pendapatan masyarakat dan persentase penduduk yang berada diatas garis
kemiskinan. Secara umum dapat diungkapkan sebagai berikut :
a. Pertumbuhan PDRB
Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Humbang Hasundutan terus mengalami
peningkatan dari 5,45 % menjadi 6,00% pada tahun 2011 demikian juga
Perkembangan absolut PDRB cenderung berfluktuasi, tetapi tidak begitu tajam
dan masih dalam ketegori menunjukkan trend yang cenderung meningkat, yaitu
PDRB ADHK 2000 Tahun 2010 sebesar Rp.1.006,56 milyar menjadi Rp.1.006,93
milyar Tahun 2011 dan Laju Pertumbuhan PDRB ADHB pada Tahun 2010
sebesar Rp.2.470,99 milyar menjadi 2.776,20 milyar pada Tahun 2011. Untuk
selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.7.
Laju Pertumbuhan PDRB Kab. Humbang Hasundutan Tahun 2008 s/d 2011
Uraian
Tahun
2008
2009
2010
2011
Laju Pertumbuhan PDRB
5,84
5,32
5,45
6,00
Sumber : BPS Humbang Hasundutan Tahun 2011
Tabel 2.8
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2008 s.d 2011
Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000
NO
Sektor
2008
2009
2010
2011
(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %
1 Pertanian
516.33 56.97
532.98 55.84
552.11 54.85
573.34
53.93
2 Pertambangan &
Penggalian
2.10
0.23
2.20
0.23
2.29
0.23
2.40
0.23
3 Industri Pengolahan
2.43
0.27
2.61
0.27
2.80
0.28
2.98
0.28
4 Listrik,Gas & Air bersih
3.24
0.36
3.45
0.36
3.68
0.37
3.95
0.37
5 Konstruksi
35.54
3.92
38.19
4.00
39.41
3.92
41.88
3.92
NO
Sektor
2008
2009
2010
2011
(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) %Restoran
7 Pengangkutan &
Komunikasi
39.14
4.32
42.03
4.40
45.46
4.52
49.54
4.64
8 Keuangan, sewa, & Js.
Perusahaan
27.32
3.01
28.97
3.04
31.25
3.10
33.83
3.17
9 Jasa-jasa
130.79 14.43
141.75 14.85
153.41 15.24
166.11
15.57
PDRB
906.35
100 954.55
100
1,006.56
100
1.066,93
100
Sumber : BPS Humbang Hasundutan Tahun 2011
Tabel 2.9
Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2008 s.d 2011
Atas Dasar Harga Berlaku
NO Sektor 2008 2009 2010 2011
(Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1 Pertanian 1.192.04 60.11 1,293.59 59.08 1.433.32 58.01% 1.617,21 58,27 2 Pertambangan & Penggalian 3.97 0.2 4.43 0.2 4.89 0.2 5,56 0,20 3 Industri Pengolahan 6.91 0.35 7.68 0.35 8.78 0.36 10,01 0,36 4 Listrik,Gas & Air bersih 8.38 0.42 9.18 0.42 10.31 0.42 11,84 0,43 5 Konstruksi 78.78 3.97 86.53 3.95 94.93 3.84 105,60 3,80 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 281.71 14.21 315.65 14.42 366.33 14.83 407,67 14,68 7 Pengangkutan & Komunikasi angangkutan & Komunikasi 77.3 3.9 88.59 4.05 100.58 4.07 112,38 4,05 8 Keuangan, sewa, & Js. Perusahaan 71.69 3.62 78.89 3.6 88.44 3.58 102,87 3,71 9 Jasa-jasa 262.21 13.22 305.11 13.93 363.4 14.71 402,64 14,50 PDRB 1,983.03 100 2,189.65 100 2,470.99 100 2.776,.20 100