• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Kajian Teori

1. Konsep Dasar Plasenta Previa a. Pengertian Plasenta previa

Plasenta adalah organ yang berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm, tebal 2,5 dan beratnya rata-rata 500 gram yang berkembang di dalam uterus selama kehamilan. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan 16 minggu. Plasenta memiliki beberapa fungsi antara lain: sebagai alat yang memberikan makanan pada janin (nutritif), sebagai alat yang mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi), dan sebagai alat yg memberi zat asam, dan mengeluarkan CO2 (respirasi) (Manuaba, 2009).

Plasenta previa adalah keadaan di mana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah seringkali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim (Fauziah, 2012).

(2)

b. Etiologi dan Patofisiologi Plasenta Previa

Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Teori lain mengemukakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, korekan, miomektomi, dan sebagiannya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi dan endometrium, yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko sebagai terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berperan menaikan insiden dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijumpai insidensi plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbon mono-oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Prawirohardjho, 2012).

Letak plasenta biasanya di depan atau di belakang di dinding uterus, agak ke atas ke arah permukan uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri

(3)

lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta dibeberapa tempat terdapat suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari interviller di atas. Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili korealis tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropolast sel-sel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel stroma jonjot yang menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati lapisan tropolast.

Perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada trimester ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih mengalami perubahan berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan. Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan:

(4)

1) Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi

2) Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi janin

3) Villi khorealis pada korion leave yang presisten.

Penyebab utama perdarahan trimester ketiga, plasenta previa memliki tanda yang khas, yaitu perdarahan tanpa rasa sakit. Perdarahan diperkirakan terjadi dalam hubungan dengan perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga.

Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah uterus akan lebih melebar lagi, dan serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Darahnya berwarna merah segar berlainan dengan dengan darah yang disebabakan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari diding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk

(5)

berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagaimana serabut otot uterus untuk menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan akan terjadi lebih dini dari pada plasenta yang letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai (Fauziyah, 2012).

Pada usia kehamilan yg lanjut; umumnya trimester ketiga dan mungkin juga lebih awal, karena telah dimulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketehui tapak plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang tumbuh menjadi bagian uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi di situ sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada desidua sabagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta.

(6)

c. Klasifikasi Plasenta Previa

Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu, karena klafikasi tidak didasarkan pada keadaan anatomi melainkan pada keadaan fisiologis yang dapat berubah-ubah, maka klafikasi ini dapat berubah setiap waktu misalnya pada pembukaan yang masih kecil, seluruh pembukaan yang lebih besar, keadaan ini akan menjadi plasenta previa lateralis. Ada juga penulis yang menganjurkan bahwa menegakkan diagnosa sewaktu “moment opname” yaitu saat penderita diperiksa. Secara umum dibagi menjadi empat bagian yaitu:

1) Plasenta previa totalis: di mana ostium uteri internum tertutup seluruhnya oleh plasenta.

2) Plasenta previa parsialis: di mana ostium uteri internum sebagian ditutup oleh plasenta.

3) Plasenta pervia marginalis: di mana bagian tepi dari

plasenta berada di pinggir dari ostium uteri internum 4) Plasenta letak rendah: di mana plasenta berimplantasi pada

segmen bawah rahim, tetapi tepi dari plasenta tidak mencapai ostium uteri internum, namum berada didekatnya (Prawirohardjho, 2012).

(7)

a) Klafikasi menurut De Snoo (dalam buku Fauziyah, 2012)

Klafikasi plasenta previa menurut De Snoo, berdasarkan pembukaan 4-5 cm dibagi menjadi dua, yaitu:

(1) Plasenta previa sentralis (totalis), bila ada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostium.

(2) Plasenta previa lateralis, bila ada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta, dapat dibagi menjadi:

(a) Plasenta previa lateralis posterior, bila sebagian menutupi ostium bagian belakang.

(b) Plasenta previa lateralis anterior, bila sebagian ostium menutupi bagian depan.

(c) Plasenta previa lateralis marginalis, bila sebagian kecil atau pinggir ostium yang ditutupi oleh plasenta.

b) Klafikasi menurut Browne (dalam buku Fauziyah, 2012)

(1) Tingkat 1 = lateral plasenta previa. Pinggir bawah plasenta berinsisi sampai ke bawah rahim, namun tidak sampai ke pinggir pembukaan.

(8)

(2) Tingkat 2 = marginal plasenta previa. Plasenta mencapain pinggir pembukaan.

(3) Tingkat 3 = complete plasenta previa. Plasenta menutupi ostium waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan hampir lengkap.

(4) Tingkat 4 = central plasenta previa. Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap (Fauziyah, 2012).

d. Insiden

Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan pada usia di atas 30 tahun. Juga lebih sering terjadi pada kehamilan ganda dari pada tunggal. Uterus cacat ikut mempertinggi angka kejadiannya. Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah dilaporkan insidennya 1,7% sampai dengan 2,9%. Di Negara maju inseidenya lebih rendah yaitu kurang dari 1% mungkin disebabkan berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi. Dengan meluasnya penggunaan ultrasonografi dalam obstetrik yang memungkinkan deteksi lebih dini, insiden plasenta previa bisa lebih tinggi (Prawirohardjho, 2012).

Angka kejadian dari plasenta adalah 0,5% atau 1 diantara 200 persalinan. Di Rumah sakit Dr. Cipto Mangungkusumo terjadi 37 kasus plasenta previa diantara 4781

(9)

persalinan yang terdaftar, atau kira-kira 1 diantara 125 persalinan terdaftar (Fauziyah, 2012).

Plasenta previa sering dijumpai pada pendarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus didahulukan, plasenta previa lebih sering pada multigravida dari primigravida dan pada umur lanjut. Keadaan endometrium yang kurang bagus menyebabkan bahwa plasenta previa harus tumbuh menjadi luas mencukupi kebutuhan janin. Plasenta previa yang sering dijumpai yang luas dari tipis lebih sering dijumpai pada plasenta accreta (Mochtar, 2012).

e. Faktor Risiko Plasenta Previa

Penyebab plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa fakotor yang meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa yaitu: umur, banyak jumlah kehamilan dan persalinan (paritas), hipoplasia endometrium, korpus luteum bereaksi lambat, tumor-tumor (seperti mioma uteri, polip endometrium), endometrium cacat, riwayat sectio

caesarea, kuratase, dan manual plasenta, kehamilan kembar,

serta riwat keturunan kembar sebelumnya. 1) Umur

Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-35 tahun. Wanita pada umur kurang dari 20

(10)

tahun mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa karena endometrium masih belum matang, dan kejadian plasenta previa juga sering terjadi pada ibu yang berumur di atas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur.

2) Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas)

Plasenta previa lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah. Plasenta previa terjadi 1,3 kali lebih sering pada ibu yang sudah beberapa kali melahirkan (Multipara) dari pada ibu yang baru sekali melahirkan (Primipara). Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman bila ditinjiau dari sudut kematian ibu. Paritas lebih dari 3 (Multipara) dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi.

3) Riwayat kehamilan sebelumnya

Persalinan yang dialami oleh ibu dengan persalinan prematur, keguguran, bekas persalinan berulang dengan jarak pendek, persalinan dengan berat badan lahir rendah (BBLR), bayi lahir mati, cedera dalam uterus atau jalan lahir yang ditimbulkan oleh proses kehamilan dan persalinan yang terhadulu dapat

(11)

berakibat buruk terhadap kehamilan yang sedang dialami. Di Amerika Serikat tahun 1997 telah menunjukkan bahwa ibu dengan riwayat sectio caesarea minimal satu kali mempunya risiko 2,6 kali untuk menjadi plasenta previa pada kehamilan berikutnya (Fauziyah, 2012).

f. Gambaran klinik

Perdarahan plasenta previa terjadi tanpa rasa sakit pada saat tidur atau sedang melakukan aktivitas. Mekanisme perdarahan karena pembentukan segmen bawah rahim menjelang kehamilan aterem sehingga plasenta lepas dari implantasi dan menimbulkan perdarahan. Bentuk perdarahan dapat sedikit atau banyak dan menimbulkan anemia sampai syok. Sedangkan untuk janin dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim. Implantasi plasenta di segmen bawah rahim menyebabkan bagian terendah tidak mungkin masuk pintu atas panggul atau menimbulkan kelainan letak janin (Manuaba, 2009).

Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada trimester ketiga, akan tetapi tidak jarang pula sejak kehamilan 20 minggu karena sejak itu segmen bawah uterus akan melebar lagi serviks mulai membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen uterus dan pembukaan

(12)

tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu, terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus pada saat itu mulailah terjadi perdarahan. Perdarahan bisa terjadi lebih awal pada plasenta previa totalis. Warna darah merah segar dengan volume yang lebih banyak pada tiap kali terjadi perdarahan ulang. Perdarahan yang terjadi tanpa sebab yang nyata misalnya koitus dan trauma, walaupun bisa terjadi bersamaan dengan salah satu kegiatan tersebut (Manuaba, 2012).

Gejala awal plasenta previa, yang bisa muncul adalah perdarahan dari kemaluan yang tidak terasa nyeri, darah berwarna segar, perut tidak tegang, tidak ada kontraksi dan bila terjadi perdarahan banyak dapat menimbulkan syok dan anemia. Pada pemeriksaan ditemukan adanya kelainan letak janin, bagian terbawah (kepala atau bokong) tidak masuk panggul (Sulistyawati, 2009).

Perdarahan tanpa rasa sakit, saat plasenta menjauh dari jangkauan bagian bawah rahim terkadang sebelum minggu ke 28 namun paling sering antara minggu ke 34 dan 38, merupakan tanda yang paling sering ditemui pada plasenta previa, dengan perkiraan 7% sampai 30% wanita dengan posisi plasenta letak rendah sama sekali tidak mengalami perdarahan sebelum melahirkan. Perdarahan biasanya berwarna merah cerah, tidak ada rasa sakit atau perih pada daerah abdominal

(13)

dan muncul tiba-tiba, tapi juga dipicu oleh batuk, rasa tegang atau hubungan seksual. Perdarahan bisa terasa ringan atau berat, dan terkadang datang dan pergi. Pada wanita yang tidak memliki gejala, kondisi dapat ditemukan pada pemeriksaan rutin ultrasound atau tidak terdeteksi samapai menjelang persalinan. Jika terjadi perdarahan dan diduga adanya plasenta previa, diagnosa biasanya dilakukan melalui ultrasound (Manuaba, 2009).

Perdarahan yang banyak dapat menimbulkan syok bisa terjadi pada plasenta previa. Keadaan janin biasanya tidak terpengaruh kecuali ada perdarahan yang banyak atau syok di mana keadaan janin menjadi lebih gawat oleh sebab hipotensi pada ibu yang menyebabkan perfusi darah plasenta menurun dan janin menderita hipoksia. Nasib janin tergantung dari bahayanya perdarahan, dan tuanya kehamilan pada persalinan. Perdarahan mugkin dapat diatasi dengan tranfusi darah, akan tetapi persalinan yang terpaksa diselesaikan dengan janin yang masih premature tidak selalu dapat dihindarkan (Mochtar, 2012).

(14)

g. Diagnosis

Diagnosis plasenta previa menurut Sulistyawati (2009), plasenta previa terdeteksi pada akhir trimester pertama atau trimester kedua, sering kali lokasi plasenta akan bergeser ketika rahim membesar. Ini dapat dilakukan USG. Beberapa wanita mungkin bahkan tetap tidak terdiagnosis sampai persalinan, terutama dalam kasus-kasus plasenta previa sebagian.

1) Anamnesis

Keluhan utama pasien ketika datang kerumah sakit biasanya karena perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (Trimester III). Sifat dari perdarahanya tanpa sebab, tanpa nyeri dan berulang. Kadang terjadi pada bangun tidur dipagi hari. Tanpa disadari tempat tidur sudah penuh dengan darah, jumlah darah yang keluar biasanya bertambah banyak dari jumlah darah sebelumnya. Banyak sedikitnya darah yang keluar tergantung pada seberapa besar bagian plasenta yang lepas dan pembuluh darah yang putus oleh pelepasan atau robekan plasenta (Sulistyawati, 2009).

Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida (Fauziyah, 2012).

(15)

2) Pemeriksaan luar a) Inspeksi

Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau sedikit, darah beku dan sebagiannya. Jika telah berdarah banyak maka ibu kelihatan anemis (Sulistyawati, 2009).

b) Palpasi

Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah, sering dijumpai kesalahan letak janin, bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (flooting) Mochtar, 2012).

c) Ultrasonografi

Menegakkan diagnosa plasenta previa dapat pula dilakukan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinya, dan tidak terasa nyeri (Mochtar, 2009).

USG abdomen selama trimester kedua menunjukkan penempatan plasenta previa. Transvaginal Ultrasonografi dengan keakuratan dapat mencapai 100% identifikasi plasenta previa. Transabdominal

(16)

ultrasonografi dengan keakuratan 95%. Dengan USG dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium. Bila jarak tepi kurang dari 5 cm disebut plasenta letak rendah. Bila tidak dijumpai plasenta previa, dilaukan pemeriksaan inspekulo untuk melihat sumber perdarahan lain (Fauziyah, 2012).

d) Pemeriksaan inspekulo

Pemeriksaan inspekulo bertujuan untuk mengetahui apakah pendarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau kelainan serviks dan vagina. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai (Fauziyah, 2012).

e) Pemeriksaan dalam pemeriksaan ini merupakan tehnik yang paling jelas dalam menegakkan diagnosis plasenta previa, namun bahayanya juga paling besar. Bahaya pemeriksaan dalam pada plasenta previa antara lain yaitu dapat menyebabkan perdarahan hebat, menimbulkan infeksi dan merangsang his yang akan memicu terjadinya partus prematurus (Sulistyawati, 2012).

(17)

h. Penatalaksanaan plasenta Previa

Menurut Mochtar, (2012), pentalaksanaan plasenta previa dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Terapi Ekspetatif (Pasif)

Tujuan ekspetatif ialah supaya janin tidak lahir prematur, biasanya terjadi pada wanita hamil di bawah 28 minggu. Penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis serviks. Upaya diagnosis dilakukan secara non inpasif. Pemantauan klinis dilakukan secara ketat dan baik. Adapun syarat dilakukan terapi ekspetatif adalah; kehamilan preterem dengan perdarahan yang sedikit yang kemudian berhenti, belum ada tanda-tanda inpartu, keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal), janin masih hidup.

2) Terapi aktif

Wanita hamil di atas 28 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin.

(18)

a) Sectio caesarea

Prinsip utama dalam melakukan sectio

caesarea adalah untuk menyelamatkan ibu,

sehingga walaupun janin meninggal atau tidak punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan (Fauziyah, 2012).

b) Melahirkan pervaginam

Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

(1) Amniontomi dsan akselerasi

Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis atau marginalis dengan pembukaan >3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecahkan ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau janin masih lemah, akselerasi dengan infus oksitosin (Mochtar, 2012).

(19)

(2) Versi braxton hicks

Tujuan melakukan versi baxtonhiks ialah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong dan kaki janin. Versi braxton

hicks tidak dilakukan pada janin yang

masih hidup (Fauziyah, 2012). (3) Tranksi dengan cunam willet

Kulit kepala janin dijepit dengan cunam

willet, kemudian beri beban secukupnya

sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala (Prawirohardho, 2012).

Plasenta previa dengan perdarahan merupakan keadaan darurat kebidanan yang memerlukan penaganan yg baik. Bentuk pertolongan pada plasenta previa adalah:

(a) Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu dan anak untuk mengurangi kesakitan dan kematian

(20)

(b) Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan untuk dapat melakukan pertolongan lebih lanjut

(c) Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ketempat

pertolongan yang mempunyai

fasilitas umum (Manuaba, 2009). 2. Konsep Dasar Paritas

Para merupakan seorang wanita yang melahirkan bayi aterm. Beberapa istilah yang berkaitan dengan paritas yaitu:

a. Primipara adalah seorang wanita yang melahirkan bayi aterm sebanyak satu kali.

b. Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali.

c. Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm lebih dari lima kali.

Paritas adalah jumlah beberapa kali ibu melahirkan anak hidup termasuk yang meninggal. Plasenta previa lebih sering terjadi pada paritas tinggi dan paritas rendah. Paritas 1-3 merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut kematian

(21)

ibu. Paritas lebih dari 3 (Multipara dan Grandemultipara) dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi (Manuaba, 2009).

3. Hubungan paritas dengan kejadian plasenta previa

Etiologi terjadinya plasenta previa tidak selalu dapat diterangkan dengan jelas. Tetapi, paritas tinggi sering ditemukan pada plasenta previa. Beberapa pendapat menerangkan kejadian plasenta previa, antara lain kejadian plasenta previa meningkat pada keadaan endometrium yang kurang baik seperti vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atrofi pada desidua. Vaskularisasi pada desidua yang berkurang plasenta harus tumbuh menjadi lebih luas untuk mencukupi kebutuhan janin kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara dari pada primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannya, sehingga menutupi pembukaan jalan lahir (Wardana, 2008).

Menurut Fauziyah (2012), bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa tidaklah selalu benar, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapat untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas tinggi. Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala

(22)

utama dan pertama pada plasenta previa. Pada setiap perdarahan

antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabnya ialah

plasenta previa sampai kemudian dugaan itu salah (Fauziyah, 2012).

Menurut Cunnigham (2009), bahwa kejadian plasenta previa meningkat dengan meningkatnya paritas ibu. Konsep “Migrasi Plasenta” yang menjadi perdiposisi pada plasenta previa pada multipara. Mekanisme pergerakan ini tidak jelas, tetapi ada yang mengatakan bahwa perpindahan ke atas plasenta letak rendah adalah akibat dari pembentukan segmen bawah rahim. Pada nulipara, perpanjangan segmen bawah rahim terjadi jauh hari sebelum persalinan sedangkan pada multipara, perkembangan segmen bawah rahim dan penipisan serviks mungkin tertunda sampai pada proses persalinan. Migrasi plasenta disebabkan karena pada bagian tepi bawah plasenta mengalami atrofi sehingga kekurangan suplai darah yang menyebabkan plasenta tumbuh ke atas mencari suplai darah. Migrasi plasenta ini sesungguhnya tidak terjadi tetapi akibat pergerakan ke atas akibat pembentukan segmen bawah rahim sehingga seolah-olah plasenta berimigrasi. Riwayat kehamilan sebelumnya menyebabkan plasenta letak rendah dengan mekanisme lain. Beberapa kehamilan berakhir dengan terminasi yang berbahaya bagi tempat implantasi. Tempat ini menjadi tidak

(23)

cocok untuk implantasi berikutnya yang kemudian terjadi implantasi pada segmen bawah rahim (Manuaba, 2009).

B. Penelitian Terkait

1. Berdasarkan hasil penelitian Ningsih (2013) yang berjudul “Hubungan Umur dan Paritas Ibu Hamil Dengan Kejadian Plasenta Previa Di RSUD Selasih Kabupaten Pelalawan Tahun 2012”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan umur dan paritas ibu hamil dengan kejadian plasenta previa. Dengan desain penelitian

case control, pengumpulan data diperoleh dengan lembar cheklist dan

data sekunder. Dengan sampel penelitian 59 kasus ibu hamil yg mengalami plasenta previa dan 59 kontrol ibu hamil yg tidak mengalami plasenta previa. Hasil analisis statistik menggunakan

uji-square didapatkan ada hubungan paritas ibu hamil dengan kejadian

plasenta previa diperoleh p value 0,000, secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara paritas ibu hamil terhadap kejadian plasenta previa. OR=0,18(95%CI:0,078-0,446), artinya bahwa paritas multipara pada ibu hamil memberikan peluang 0,18 mengalami plasenta previa dibandingkan dengan primipara.

Persamaan dalam penelitian ini adalah sama-sama menggunakan desain penelitian case control, alat pengumpulan data menggunakan lembar cheklsit dan data sekunder. Sedangkan perbedaan pada panelitian ini adalah pada variabel Independen dan jumlah sampel

(24)

terkait sebanyak 59 Kasus, peneliti jumlah sampelnya sebanyak 29 Kasus.

2. Berdasarkan hasil penelitian Septiwahyuni (2014) yang berjudul

“Karakteristik Ibu Bersalin Dengan Plasenta Previa Di RSIA Husada Bunda Salo Tahun 2013-2014”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui krakteristik ibu bersalin yang mengalami plasenta previa. Dengan desain penelitian Deskriptif pengumpulan data diperoleh dengan lembar cheklist dan data skunder. Dengan sampel sebanyak 52 ibu bersalin yang tercatat di Rekam Medik husada Bunda. Hasil analisis menggunakan uji-square yaitu angka tertinggi terdapat pada paritas 2-3 (multipara) sebanyak 29 orang dengan presentase (55,77%).

Persamaan dalam penelitian ini adalah sama2 menggunakan alat pengumpulan data lembar cheklist dan data skunder. Sedangkan perbedaannya adalah desan penelitianya menggunakan Deskriptif.

(25)

C. Kerangka Konsep

Adapun kerangka konsep dalam penelitian yang berjudul hubungan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru adalah:

Variabel Independen Variabel Dependen

Skema 2.1 kerangka pemikiran

D. Hipotesis

Ada hubungan paritas ibu dengan kejadian plasenta previa. Kejadian Plasenta Previa Paritas Ibu

Referensi

Dokumen terkait

Pasar saham Proyek Swasta Pasar Keuangan Proyek Pemerintah Obligasi Korporasi Proyek-proyek pemerintah Bank Indonesia Aktifitas Ekonomi Obligasi pemerintah Unit Usaha

Tarif yang ditawarkan oleh oleh grab dan Uber sesuai dengan jarak yang di tempuh oleh pelanggan yang memakai jasa tersebut, namun berbeda dengan Go-car layanan taksi yang

Kemudian dilakukan analisis data target realisasi dan penerimaan Pajak Hotel dari tahun 2011 s/d 2015 dengan cara melakukan perbandingan antara teori-teori tentang analisis

Jumlah jenis pestisida yang banyak yang digunakan dalam waktu penyemprotan akan menimbulkan efek keracunan lebih besar bila dibanding dengan penggunaan satu jenis

Diantara empat jenis belanja dalam struktur Belanja Daerah di Aceh, sampai dengan Triwulan III 2020 persentase realisasi tertinggi berada pada Belanja Bantuan

Hasil penelitian ini relavan dengan penelitian yang dilakukan yang oleh Aisa Rahmi Syarif yang berjudul Pengaruh Hutang terhadap Profitabilitas perusahaan (Studi

a. Pertama dilakukan pengadukan dengan cepat, 50 putaran per menit, selama 10 menit.. Pada saat ini, pengadukan dilakukan secara konstan untuk menjamin pembentukan