• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECER AA UTRIE DA PERFORMA SAPI LOKAL YA G ME DAPAT SUPLEME EKSTRAK LERAK (Sapindus rarak) PADA RA SUM BERBASIS HIJAUA SKRIPSI URUL MILLAH CHALIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KECER AA UTRIE DA PERFORMA SAPI LOKAL YA G ME DAPAT SUPLEME EKSTRAK LERAK (Sapindus rarak) PADA RA SUM BERBASIS HIJAUA SKRIPSI URUL MILLAH CHALIK"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

KECERAA UTRIE

LOKAL YAG MEDAPAT SUPLEME

(Sapindus

DEPARTEME ILMU

ISTITUT PERTAIA BOGOR

UTRIE DA PERFORMA SAPI

MEDAPAT SUPLEME EKSTRAK LERAK

Sapindus rarak) PADA RASUM BERBASIS

HIJAUA

SKRIPSI

URUL MILLAH CHALIK

DEPARTEME ILMU UTRISI DA TEKOLOGI PAKA FAKULTAS PETERAKA

ISTITUT PERTAIA BOGOR 2011

SAPI POTOG

EKSTRAK LERAK

PADA RASUM BERBASIS

(2)

i

RIGKASA

NURUL MILLAH CHALIK. D24070207. 2011. Kecernaan utrien dan

Performa Sapi Potong Lokal yang Mendapat Suplemen Ekstrak Lerak (Sapindus rarak) pada Ransum Berbasis Hijauan. Skripsi. Departemen Ilmu

Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Dr. Sri Suharti, S.Pt. M.Si.

Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS.

Kecernaan pakan pada ruminansia sangat dipengaruhi oleh populasi mikroba yang ada di dalam rumen terutama protozoa dan bakteri. Protozoa mempunyai sifat memangsa sebagian bakteri oleh karena itu perlu dilakukan defaunasi (penghambatan pertumbuhan) protozoa sehingga populasi bakteri dapat meningkat. Sapindus rarak (S. rarak) atau lebih dikenal dengan sebutan lerak merupakan salah satu tanaman yang berfungsi sebagai agen defaunasi karena mengandung saponin. Defaunasi dengan saponin diharapkan dapat meningkatkan populasi bakteri di rumen dan meningkatkan aliran sumber protein mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan berbagai level ekstrak lerak pada ransum berbasis hijauan terhadap kecernaan dan produktivitas sapi potong lokal.

Penelitian dilaksanakan selama lima bulan pada tahun 2010. Pemeliharaan ternak berlokasi di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Ternak yang digunakan yaitu 12 ekor sapi potong lokal jantan dengan kisaran bobot badan awal sebesar 171±12.51 kg yang dipelihara pada kandang individu selama 90 hari dengan masa adaptasi pakan selama 3 minggu. Perlakuan yang diberikan yaitu P1 yang terdiri atas rumput lapang : pakan penguat 70:30 %BK (kontrol); P2 adalah P1 + 100 mg/kg BB ekstrak lerak ; P3 adalah P1 + 200 mg/kg BB ekstrak lerak. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 4 ulangan. Data dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering, kecernaan nutrien (protein kasar, lemak kasar dan serat kasar), pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan efisiensi ransum.

Penambahan ekstrak lerak (EL) pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg BB tidak menurunkan konsumsi bahan kering ransum, kecernaan nutrien (bahan kering, protein kasar, serat kasar, dan lemak kasar), pertambahan bobot badan harian dan efisiensi ransum.

(3)

ii

ABSTRACT

utrient Digestibility and Performance of Local Beef Cattle offered Supplemented of Sapindus rarak Extract on High Forage based ration

Chalik, N. M., S. Suharti and D. A. Astuti

This study was aimed to evaluate the addition level of S. rarak extract on nutrient digestibility and performance of local beef cattle fed high forage based ration. Animals used were 12 local beef cattles with average initial body weight of 171 ± 12.51 kg. The experimental design was randomized block design. The treatments were: P1 as a control diet with ratio of forage : concentrate was 70:30 (% Dry Matter); P2 was P1 which supplemented with 100 mg/kg body weight (BW) of S. rarak extract; P3 was P1 which supplemented with 200 mg/kg BW of S.rarak extract. The parameters measured were feed intake, nutrient digestibility, daily weight gain and feed efficiency. Data were analyzed by analysis of variance and significant differences among treatments were tested by Duncan’s test. The results showed that the addition of S.rarak extract on high forage based rations had no significant effect (P> 0.05) on dry matter feed intake, nutrient digestibilities, daily weight gain and feed efficiency ratio.

(4)

iii

KECERAA UTRIE DA PERFORMA SAPI POTOG

LOKAL YAG MEDAPAT SUPLEME EKSTRAK LERAK

(Sapindus rarak) PADA RASUM BERBASIS

HIJAUA

LEMBAR PERNYATAAN

URUL MILLAH CHALIK D24070207

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEME ILMU UTRISI DA TEKOLOGI PAKA FAKULTAS PETERAKA

ISTITUT PERTAIA BOGOR 2011

(5)

iv Judul : Kecernaan Nutrien dan Performa Sapi Potong Lokal yang Mendapat Suplemen Ekstrak Lerak (Sapindus rarak) pada Ransum Berbasis Hijauan Nama : Nurul Millah Chalik

NIM : D24070207

LEMBAR PENGESAHAN

LEMBAR PEGESAHA

Menyetujui,

Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,

Dr. Sri Suharti, S.Pt. M.Si. Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS. NIP: 19741012 200501 2 002 NIP: 19611005 198503 2 001

Mengetahui: Ketua Departemen

Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc.Agr. 19670506 199103 1 001

(6)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 15 Juni 1989 di Bandung, Jawa Barat. Penulis adalah anak kedua dari tujuh bersaudara dari pasangan Bapak Chairil Chalik dan Ibu Kurniati.

Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1995 di Sekolah Dasar Negeri II Cipadung, Bandung dan diselesaikan pada tahun 2001. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2001 dan diselesaikan pada tahun 2004 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Muhammadiyah Cipanas, Cianjur. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 26 Bandung pada tahun 2004 dan diselesaikan pada tahun 2007.

Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB) dan diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008. Penulis aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (HIMASITER) periode 2008-2009 sebagai staf biro Kewirausahaan, Sie Konsumsi Cappucino BEM KM 2008. Penulis juga aktif dalam paduan suara Gradziono Symphonia Fakultas Peternakan pada tahun 2008-2009 dan penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Bandung pada tahun 2009. Penulis berkesempatan menjadi penerima beasiswa BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa) pada tahun 2009-2011.

(7)

vi

KATA PEGATAR

Bismillahirrahmannirrahim

Alhamdulillahi rabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia, hidayah dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi, penelitian, seminar dan penyusunan skripsi ini. Skripsi yang berjudul ”Kecernaan Nutrien dan Performa Sapi Potong Lokal yang Mendapat Suplemen Ekstrak Lerak (Sapindus rarak) pada Ransum Berbasis Hijauan” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini disusun dengan harapan dapat memberikan informasi mengenai manfaat ekstrak lerak yang disuplemetasi dalam pakan penguat dalam mempengaruhi kecernaan pakan dan performa pada sapi potong yang mendapat rasum berbasis hijauan tinggi. Saponin yang terkandung dalam buah lerak memiliki potensi untuk meningkatkan kecernaan sumber pakan hijauan dengan cara mendefaunasi protozoa sehingga populasi bakteri meningkat. Jumlah bakteri yang meningkat menjadikan asupan protein mikroba sebagai pasokan nutrien bagi induk semang turut meningkat. Penggunaan lerak sebagai sumber saponin alami dapat menjadi agen defaunasi protozoa di dalam rumen sapi. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dalam dunia peternakan. Amin.

Bogor, Mei 2011

(8)

vii

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Lerak (Sapindus rarak) ... 3

Saponin ... 4

Sapi Potong ... 5

Pakan Sapi Potong ... 6

Sistem Pencernaan Ruminansia ... 7

Pencernaan Fermentatif pada Ruminansia ... 8

Pengaruh Saponin pada Sistem Rumen ... 10

Konsumsi ... 11

Kecernaan Nutrien ... 12

Pertambahan bobot badan ... 13

Efisiensi pakan ... 13

MATERI DAN METODE ... 15

Lokasi dan Waktu ... 15

Materi ... 15 Alat ... 15 Ransum ... 15 Prosedur ... 16 Ekstraksi Lerak ... 16 Pemberian Pakan ... 16

Pencampuran Ekstrak Lerak ke dalam Pakan ... 17

Pengukuran Kecernaan Nutrien (McDonald et al., 2002) ... 17

Analisis Proksimat ... 17

Pengukuran bobot badan ... 17

(9)

viii

Perlakuan ... 18

Model ... 18

Peubah yang diamati ... 18

Analisis data ... 19

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20

Konsumsi Bahan Kering Ransum ... 20

Kecernaan Nutrien ... 21

Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) ... 23

Efisiensi Ransum ... 26

KESIMPULAN DAN SARAN ... 27

Kesimpulan ... 27

Saran ... 27

UCAPAN TERIMAKASIH ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Kandungan Nutrien Ransum Perlakuan ... 16 2. Rataan Nilai Konsumsi Pakan Sapi Potong yang Mendapat Berbagai

Level Ekstrak Lerak ... 20 3. Rataan Nilai Konsumsi Protein Kasar, Lemak Kasar, dan Serat Kasar

Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak ... 21 4. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Kering, Protein Kasar, Lemak Kasar, dan Serat Kasar Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak .... 22 5. Rataan Nilai PBBH dan Efisiensi Ransum Sapi Potong yang Mendapat

Berbagai Level Ekstrak Lerak ... 24

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Buah Lerak dan Pohon Lerak………... 3

2. Struktur Kimia Sapogenin ... 5

2. Sintesis VFA oleh Mikroorganisme di Rumen ... 10

(12)

xi

DAFTAR LAMPIRA

Nomor Halaman

1. Sapi Percobaan ... 32

2. Sapi yang Dipelihara dalam Kandang Individu ... 32

3. Serbuk Ekstrak Lerak ... 32

4. Proses Pencampuran Ekstrak Lerak ke dalam Pakan Penguat ... 33

5. Rumput Lapang yang Digunakan untuk Pakan... 33

6. Pengukuran Kecernaan dengan Koleksi Total ... 33

7. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) Konsumsi Bahan Kering ... 34

8. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) Kecernaan Bahan Kering ... 34

9. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) Kecernaan Protein Kasar ... 34

10. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) Kecernaan Serat Kasar ... 35

11. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) Kecernaan Lemak Kasar ... 35

12. Hasil Sidik Ragam (ANOVA) PBBH ... 35

(13)

1

PEDAHULUA

Latar Belakang

Sistem peternakan sapi potong di Indonesia masih berbasis peternakan rakyat yang umumnya diberi pakan berkualitas rendah dan jumlah hijauan yang tinggi. Pemberian pakan hijauan berkualitas rendah dengan proporsi yang tinggi akan mengurangi tingkat kecernaan dalam sistem rumen dan produktivitas ternak rendah.

Tingkat kecernaan pakan pada ternak ruminansia dipengaruhi oleh populasi mikroorganisme yang ada di dalam rumen. Adanya mikroorganisme seperti protozoa dan bakteri akan membantu proses pencernaan pakan secara fermentatif di dalam rumen. Namun demikian, protozoa mempunyai sifat memangsa sebagian bakteri yang menyebabkan populasi bakteri dapat berkurang. Hal ini dapat menurunkan kecernaan pakan dan mengurangi suplai protein asal mikroba pada ternak ruminansia. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi protozoa di rumen adalah dengan defaunasi sehingga pertumbuhan bakteri dapat dioptimalkan.

Saponin merupakan senyawa sekunder tanaman yang dapat dijadikan agen defaunasi untuk menekan populasi protozoa dalam rumen. Salah satu tanaman tropis yang banyak mengandung saponin adalah buah lerak (Sapindus rarak). Ekstrak keseluruhan buah dan biji lerak mengandung saponin yang tinggi yaitu 81,47% (Suharti et al., 2009). Saponin memiliki sifat surfaktan yang dapat menyebabkan lisisnya dinding sel protozoa, sehingga protozoa mati (Cheeke, 2000). Akhir-akhir ini sudah mulai berkembang pemanfaatan tanaman yang mengandung saponin sebagai agen defaunasi alami untuk menekan populasi protozoa dalam rumen.

Pemberian tanaman mengandung saponin pada ternak sering menimbulkan masalah konsumsi dan kecernaan. Oleh karena itu, pemberian ekstrak lerak yang dicampurkan dalam pakan penguat pada ransum sapi potong lokal yang mendapatkan hijauan tinggi, perlu dievaluasi pengaruhnya terhadap kecernaan nutrien dan performa ternak.

(14)

2

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan berbagai level ekstrak lerak (Sapindus rarak) pada ransum berbasis hijauan terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering, kecernaan nutrien (protein kasar, serat kasar, dan lemak kasar), pertambahan bobot badan harian, dan efisiensi pakan pada sapi potong lokal.

(15)

Tanaman tropis di Indonesia

Sumatera) yang mengandung saponin dalam jumlah tinggi

adalah Sapindus rarak atau le

famili Sapindaceae yang berbentuk pohon dengan tinggi dengan diameter batang 1 meter

dapat tumbuh dengan baik pada hampir segala jenis tanah dan keadaan iklim dari daratan rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 450 m samp

permukaan laut. Tanaman

pada awal musim hujan

10.000 - 15.000 biji dengan

(Udarno, 2009). Adapun klasifikasi tumbuhan lerak adalah sebagai berikut:

Division : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledone

Ordo : Sapindales

Famili : Sapindaceae

Genus : Sapindus

Species : Sapindus rarak

Bentuk buah lerak bulat kelereng, berukuran

dengan permukaan licin, tangkai

tua sampai cokelat. Di Jawa banyak dijumpai untuk membatik, dan membersihkan barang berharga yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak), manfaat lainny dapat digunakan sebagai insektisida dan nematisida serta sebagai

digunakan untuk mengobati kudis, sebagai kosmetik dan pembersih rambut (sampo)

(Udarno, 2009).

TIJAUA PUSTAKA

Lerak (Sapindus rarak)

Tanaman tropis di Indonesia (terutama di hutan-hutan daerah Jawa dan yang mengandung saponin dalam jumlah tinggi salah satu diantaranya atau lebih dikenal dengan pohon lerak. Lerak tergolong dalam yang berbentuk pohon dengan tinggi mencapai 15

dengan diameter batang 1 meter yang berasal dari Asia Tenggara

dapat tumbuh dengan baik pada hampir segala jenis tanah dan keadaan iklim dari daratan rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 450 m samp

Tanaman mulai berbuah pada umur 5 – 15 tahun, musim berbuah n bulan Nopember-Januari dan menghasilkan biji

dengan harga biji kering lerak Rp 10.000 -

Adapun klasifikasi tumbuhan lerak adalah sebagai berikut:

Spermatophyta ospermae Dicotyledone Sapindales Sapindaceae Sapindus Sapindus rarak

Gambar 1. Buah Lerak (kiri) dan Pohon Lerak

Sumber: www. toko-herbal.com. 2011

lerak bulat kelereng, berukuran diameter 2 cm, berkulit tipis permukaan licin, tangkai pendek. Buah masak ditandai dengan warna hijau Di Jawa banyak dijumpai untuk membatik, dan membersihkan barang berharga yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak), manfaat lainny dapat digunakan sebagai insektisida dan nematisida serta sebagai antiseptik

digunakan untuk mengobati kudis, sebagai kosmetik dan pembersih rambut (sampo)

3

hutan daerah Jawa dan salah satu diantaranya erak tergolong dalam mencapai 15 - 42 meter

yang berasal dari Asia Tenggara. Tumbuhan ini

dapat tumbuh dengan baik pada hampir segala jenis tanah dan keadaan iklim dari daratan rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 450 m sampai 1500 m dari

tahun, musim berbuah dan menghasilkan biji sebanyak Rp 15.000,- /kg

Adapun klasifikasi tumbuhan lerak adalah sebagai berikut:

ah Lerak (kiri) dan Pohon Lerak (kanan)

2 cm, berkulit tipis dengan warna hijau Di Jawa banyak dijumpai untuk membatik, dan membersihkan barang berharga yang terbuat dari logam mulia (emas dan perak), manfaat lainnya

antiseptik sering

(16)

4 Kulit buah, biji, kulit batang dan daun lerak mengandung saponin dan flavonoida, disamping itu kulit buah juga mengandung alkaloida dan polifenol, sedangkan kulit batang dan daunnya mengandung tanin. Senyawa aktif yang telah diketahui dari buah lerak adalah senyawa–senyawa dari golongan saponin, sesquiterpen, alkaloid dan steroid, sedangkan kandungan senyawa yang negatif diantaranya adalah antrakinon, tanin, fenol, flavonoid dan minyak atsiri (Sunaryadi, 1999; Wina et al., 2005)

Spesies tanaman Sapindus lainnya terdapat dibeberapa negara seperti Sapindus saponaria di Amerika Selatan dan Tengah, S. emarginatus di India dan Thailand (Wina et al., 2005). Pengujian secara kualitatif daging buah lerak mengindikasikan cukup aman diberikan pada ternak, untuk memanipulasi fermentasi rumen pada ternak ruminansia (Sunaryadi, 1999; Wina et al., 2005).

Saponin

Saponin berasal dari kata latin sapo yang berarti sabun. Saponin adalah senyawa sekunder yang ditemukan di banyak tanaman terutama di bagian akar, kulit, daun, biji, dan buah. Pada tanaman, saponin berperan sebagai sistem pertahanan. Keberadaan saponin dapat dicirikan dengan adanya rasa pahit, pembentukan busa yang stabil pada larutan cair, dan mampu membentuk molekul dengan kolesterol (Cheeke, 2000).

Senyawa saponin dalam dosis yang cukup tinggi dapat menekan dan menurunkan sistem kekebalan sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan (Cheeke, 2000). Saponin memiliki diversifikasi struktur yang luas dan senyawa-senyawa saponin tertentu dengan sifat surfaktan dapat menyebabkan lisis pada dinding sel protozoa, sehingga dapat digunakan untuk defaunasi protozoa.

Saponin merupakan deterjen alami yang memiliki bahan surfaktan karena mengandung inti lemak dan air yang mudah larut. Saponin terdiri atas gula yang biasanya mengandung glukosa, galaktosa, asam glukoronat, xylosa, rhamnosa atau methylpentosa yang berikatan membentuk glikosida dengan hydrophobic aglycone (sapogenin) yang membentuk triterpenoid atau steroid (Gambar 2).

(17)

5 Gambar 2. Struktur Kimia Sapogenin: (a) Triterpenoid, (b) Steroid

Sumber: Francis et al. (2002)

Aglycone mengandung salah satu atau lebih rantai karbon (C=C) tidak jenuh. Besarnya kompleksitas struktur saponin berasal dari variabilitas struktur aglycone, rantai samping dan posisi pengikatan gula pada aglycone. Dilihat dari strukturnya tripernoid dan steroid dapat membunuh protozoa dan moluska, dapat menjadi antioksidan, mempengaruhi kecernaan protein dan meningkatkan konsumsi vitamin dan mineral yang menyebabkan hypoglycaemia (Francis et al., 2002).

Buah lerak dalam bentuk hasil ekstraksi dengan metanol telah dilaporkan mengandung saponin dengan kadar lebih tinggi daripada buahnya yang tanpa diekstrak. Tingginya kandungan saponin yang diekstrak dengan metanol terkait dengan sifat metanol yang biopolar yang menjadikan saponin terekstrak sempurna. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Suharti et al. (2009) yang menyatakan bahwa keseluruhan buah lerak yang diekstrak dengan metanol 100% mengandung saponin yang cukup tinggi yaitu mencapai 81,47% berbeda dengan lerak yang hanya dalam bentuk tepung yang hanya mengandung 3,87% saponin, sedangkan jika diesktrak dengan air mengandung 8,20% saponin. Menurut Sunaryadi (1999) kandungan saponin total hasil ekstraksi tanaman lerak banyak terdapat di bagian daging buah yaitu sekitar 48,87%.

Sapi Potong

Sebagian besar sapi potong yang ada di Indonesia dihasilkan oleh peternakan rakyat yang berskala kecil dan merupakan usaha sampingan, teknologi sederhana, pengetahuan mengenai cara beternak yang tergolong rendah, produktivitas ternak yang rendah, dan kualitas ternak yang dihasilkan belum seragam. Bangsa-bangsa sapi yang sudah lama ada di Indonesia dan telah dianggap sebagai sapi lokal adalah sapi bali, sapi Ongole, sapi Peranakan Ongole (PO), sapi jawa, sapi madura, sapi

(18)

6 sumatra dan sapi aceh yang semuanya dianggap sebagai keturunan Bos indicus, juga sapi Zebu yang sudah ada sejak lama, yaitu Brahman. Sapi lokal lainnya seperti sapi Pesisir yang biasanya terdapat di daerah Sumatera Utara dan sapi Katingan yang ada di Kalimantan.

Sapi potong lokal yang memiliki punuk adalah sapi ongole. Sapi ini berwarna putih dan memiliki banyak lipatan kulit di bagian leher dan perutnya. Sapi ini adalah keturunan Bos indicus yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan para pedagang India. Di pulau Jawa, sapi ini berkembang dengan baik. Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal secara turun-temurun disebut sapi peranakan ongole (PO). Sapi Peranakan Ongole merupakan salah satu bangsa sapi yang banyak dipelihara peternak kecil di Pulau Jawa. Sapi ini merupakan hasil persilangan antara sapi Ongole asal India dengan sapi Madura secara grading up (keturunan hasil perkawinan itu dikawinkan kembali dengan sapi ongole) (Parakkasi, 1999).

Sapi PO mirip dengan sapi Ongole yang memiliki ciri-ciri punuk besar, dengan lipatan-lipatan kulit yang terdapat di bawah leher dan perut, telinga panjang dan menggantung, mata besar dan tenang, kulit di sekitar lubang mata selebar ± 1cm berwarna hitam. Angka nilai rata-rata yang pernah dilaporkan untuk pertambahan bobot badan harian prasapih sapi PO adalah 0,62 kg, pascasapih 0,24 kg, untuk umur 4 – 12 bulan berkisar 0,34 – 0,37 kg, 13 – 24 bulan berkisar 0,31 – 0,40 kg, 2 tahun 0,44 – 0,91 kg (Astuti, 2004). Pertambahan bobot badan harian sangat bergantung dari jenis sapi.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan (2010), populasi sapi potong di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir hanya meningkat sekitar 18,3% dari 11.008.017 ekor menjadi 13.633.000 ekor. Ini mengindikasikan bahwa populasi sapi potong masih harus terus ditingkatkan agar kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia terpenuhi.

Pakan Sapi Potong

Makanan ternak ruminansia secara umum dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni hijauan dan pakan penguat atau konsentrat. Hijauan ditandai dengan jumlah serat kasar yang relatif banyak pada bahan keringnya, sedangkan pakan penguat atau konsentrat mengandung serat kasar lebih sedikit daripada hijauan dan mengandung

(19)

7 karbohidrat, protein dan lemak yang relatif banyak tetapi jumlahnya bervariasi dengan jumlah air yang relatif sedikit (Williamson dan Payne, 1993).

Pada peternakan rakyat yang umumnya usaha skala kecil, penggunaan pakan masih menggunakan komposisi hijauan tinggi. Pemberian pakan penguat atau konsentrat belum banyak dilakukan peternak sapi potong rakyat. Penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi hijauan makanan ternak dan pakan penguat atau konsentrat menyebabkan peternak belum dapat meracik pakan dengan baik. Pasokan pakan ternak sapi berupa hijauan sangat tergantung pada musim dan selama ini kebanyakan peternak hanya mengandalkan tanaman pakan dari lahan-lahan kosong di sekitarnya.

Sistem Pencernaan Ruminansia

Jalur pencernaan ruminansia diawali melalui mulut, faring, esophagus, perut (rumen, retikulum, omasum, abomasum), usus halus, sekum, usus besar, dan dieksresikan melalui anus (Campbell et al., 2003). Saliva pada sapi tidak mengandung enzim pemecah karbohidrat, oleh karena itu pencernaan pakan berawal pada enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mikroba rumen (Cunningham et al., 2005).

Pencernaan pada perut depan terdiri dari rumen, retikulum dan omasum yang bersifat fermentatif karena adanya mikroba rumen, sedangkan perut belakang yaitu abomasum yang sistem pencernaannya bersifat enzimatis karena adanya enzim-enzim induk semang (Campbell et al., 2003). Bagian yang terbesar pada perut ruminansia dewasa adalah rumen (perut handuk), yang terletak di sisi kiri abdominal. Selanjutnya dibagian depan rumen terdapat bagian yang lebih kecil yang disebut retikulum (perut sarang lebah). Bagian yang ketiga adalah omasum (perut berlapis/buku) yang terletak disebelah kanan rumen dan retikulum. Sedangkan, bagian terakhir adalah abomasum yang terletak di sisi kiri bawah omasum dan meluas ke bagian belakang melewati sisi kanan dari rumen. Abomasum dapat disamakan dengan perut pada ternak non ruminansia oleh karena itu biasanya disebut sebagai perut sejati. Pembentukan sistem pencernaan ruminansia berlangsung secara bertahap. Saat sapi baru lahir perutnya berfungsi seperti halnya ternak non ruminansia karena 3 bagian perut pertama yaitu rumen, retikulum dan omasum

(20)

8 memiliki ukuran yang relatif kecil dibanding abomasum. Seiring bertambahnya umur, ukuran rumen pun mulai membesar, tumbuh dengan dengan cepat dan secara bertahap mulai berfungsi dibanding abomasum (Cunningham et al., 2005).

Karakteristik ternak ruminansia dalam memakan hijauan yaitu dengan sedikit mengunyah kemudian langsung menelan. Setelah kapasitas lambung tercukupi ternak berhenti memakan dan mencari tempat yang nyaman untuk merebahkan diri yang kemudian proses ruminasi dimulai (Campbell et al., 2003). Proses ruminasi meliputi regurgitasi, resalivasi, remastikasi dan penelanan kembali dari materi ingesta rumen pertama. Kontraksi rumen menggerakan massa pakan (bolus) menuju kardia (untuk keluar melewati esophagus) dan bergerak secara peristaltik menuju mulut. Bolus dikunyah kembali dan disalivasi dengan lebih lambat. Proses ruminasi berlangsung 8 jam per hari, sodium bikarbonat yang terdapat dalam saliva berfungsi untuk menjaga pH rumen agar tetap netral (Cunningham et al., 2005).

Berdasarkan jenisnya proses pencernaan dibedakan atas tiga jenis yaitu proses mekanis, enzimatis dan fermentatif. Pencernaan secara mekanis terjadi di mulut dengan bantuan gigi sebagai alat pemotong. Pencernaan enzimatis adalah pencernaan yang dilakukan oleh enzim-enzim pencernaan, pada ruminansia dilakukan pada abomasum (perut sejati). Pencernaan fermentatif dilakukan atas bantuan mikroba, pada ruminansia terjadi di rumen dan retikulum (McDonald et al., 2002).

Pencernaan Fermentatif pada Ruminansia

Pencernaan fermentatif pada ruminansia dapat terjadi oleh karena adanya mikroorganisme. Pada proses pencernaan fermentatif zat makanan dirombak menjadi senyawa lain yang berbeda sifat kimianya sebagai zat intermediate. Mikroba yang terlibat dalam proses pencernaan ini memiliki sifat selulolitik, amilolitik, proteolitik dan xylanolytic (McDonald et al., 2002).

Mikrorganisme rumen dan induk semang (ternak) hidup secara simbiosis. Di rumen terdapat empat jenis mikroorganisme anaerob, yaitu bakteri, protozoa, fungi dan mikroorganisme lainnya seperti virus (Damron, 2006). Keberadaan mikrooganisme untuk mencerna pakan menjadi partikel nutrien yang lebih sederhana merupakan keuntungan bagi ternak. Pemberian pakan pada ruminansia menjadi lebih

(21)

9 kompleks karena pemberian pakan mencakup pemberian pakan pada mikroorganisme dan juga induk semang. Menurut Dehority (2003) faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas mikroorganisme rumen diantaranya adalah suhu yang hangat (39oC), kelembaban dan nutrien pakan yang cukup, pH yang sesuai (sekitar 6,8-7), kondisi anaerob, kapasitas buffer, tekanan osmotik dan potensial oksidasi reduksi.

Populasi bakteri yang terdapat di dalam cairan rumen jumlahnya mencapai 109-1010 sel/ml cairan rumen dan populasi mikoorganisme terbesar kedua di cairan rumen adalah protozoa yang populasinya mencapai 106 sel/ml cairan rumen (McDonald et al., 2002). Protozoa kurang mampu mensintesa asam amino dan vitamin B kompleks sehingga diperoleh dengan jalan memangsa bakteri. Oleh karena ukuran protozoa yang lebih besar dari bakteri dan cenderung tetap berada di rumen, sifat predator oleh protozoa dapat mengakibatkan penurunan populasi bakteri. Mikroorganisme di rumen berperan untuk mengubah sebagian besar pati dan selulosa menjadi asam lemak terbang sebagai sumber energi; mengubah protein dan nitrogen bukan protein menjadi protein bakteri dan protozoa yang digunakan sebagai sumber protein yang mengandung asam amino esensial untuk induk semang; dan mensintesis vitamin K dan semua vitamin B (Cunningham et al., 2005).

Pakan dicerna secara fermentatif dapat menghasilkan asam lemak terbang (sebagai produk akhir yang utama), NH3, sel mikroba, gas metan, CO2 dan air. Gas metan akan dikeluarkan dengan cara eruktasi dan VFA diserap melalui dinding rumen. Sel mikroba bersama dengan komponen makanan yang tidak terdegradasi, masuk ke abomasum dan usus halus yang kemudian dicerna oleh enzim yang disekresikan oleh ternak inang (McDonald et al., 2002).

Beberapa pakan dicerna dengan cepat dan ada yang lambat. Mikroorganisme berperan sebagai pencerna karbohidrat (seperti gula, pati dan selulose) dan protein. Asam lemak terbang yang diproduksi di rumen yaitu asetat, propionat, butirat, isobutirat, valerat dan isovalerat. Pembentukan asam lemak terbang dari pakan sumber karbohidrat dapat dilihat pada Gambar 3. Sedangkan, protein dalam rumen oleh enzim proteolisis mikroorganisme rumen banyak dipecah menjadi amonia dan asam organik. Mikroorganisme kemudian menggunakan amonia tersebut untuk

(22)

10 menghasilkan asam amino yang kemudian dipergunakan untuk pembentukan sel bakteri itu sendiri (Damron, 2006).

Gambar 3. Sintesis VFA oleh Mikroorganisme di Rumen Sumber: Damron (2006)

Asam lemak terbang yang dihasilkan dalam rumen memberikan sumbangan sebanyak 50-70% dari total energi yang dibutuhkan induk semang (ternak). Sel bakteri menyediakan 5-10% energi untuk induk semang dan pakan yang dicerna secara enzimatis sekitar 20-30%. Produksi gas dalam sistem rumen dihasilkan dari proses fermentasi asetat, propionat dan butirat. Dalam sehari gas yang terbentuk dari seekor sapi sekitar 600 liter (Damron, 2006).

Pengaruh Saponin pada Sistem Rumen

Saponin mampu membunuh atau melisiskan protozoa dengan membentuk ikatan yang kompleks dengan sterol yang terdapat pada permukaan membran protozoa. Saponin dapat mengganggu perkembangan protozoa dengan terjadinya ikatan antara saponin dengan sterol pada permukaan membran sel protozoa, menyebabkan membran pecah, sel lisis dan protozoa mati. Keberadaan kolesterol pada membran sel eukariotik (termasuk protozoa) tetapi tidak terdapat pada sel bakteri prokariotik, memungkinkan protozoa rumen lebih rentan terhadap saponin karena saponin mempunyai daya tarik menarik terhadap kolesterol. Populasi bakteri

Amilase Pati Selulosa Selulase Glukosa Maltosa Selobiosa 2 ATP 2 NAD+ 2 NADH 2 NAD+ 2 NADH Piruvat CH4 CO2 Asam Laktat NADH Asetil Co-A 4 NADH 4 NAD+ NAD+ Asetat Butirat Propionat

(23)

11 rumen tidak mengalami gangguan karena dinding membran bakteri berupa ikatan peptida dengan gliserol (peptidoglikan). Bakteri tidak mempunyai sterol yang dapat berikatan dengan saponin. Selain itu bakteri mempunyai kemampuan untuk memetabolisme faktor antiprotozoa tersebut dengan menghilangkan rantai karbohidrat dari saponin (Cheeke, 2000).

Makkar dan Becker (1997) membuktikan bahwa saponin dari tanaman Quillaja saponaria berada dalam keadaan stabil di dalam rumen selama enam jam tanpa kehilangan aktifitas anti protozoa. Mao et al. (2010) menambahkan bahwa saponin pada daun teh dapat menghambat produksi metan dan efektifitasnya sebagai inhibitor metanogenesis pada rumen domba.

Konsumsi

Voluntary feed intake (tingkat konsumsi) adalah jumlah pakan yang dikonsumsi apabila bahan pakan tersebut diberikan ad libitum (Parakkasi, 1999). Konsumsi ransum merupakan faktor yang penting untuk menentukan kehidupan pokok dan produksi ternak, karena dengan mengetahui tingkat konsumsi ransum maka akan dapat ditentukan kadar suatu zat makanan dalam ransum guna memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi ternak. Konsumsi ditentukan oleh: (1) berat atau besar badan (2) jenis makanan (bahan makanan yang berdaya cerna tinggi) (3) umur dan kondisi ternak (4) kadar energi dari bahan makanan (5) stress (6) sex atau jenis kelamin. Banyaknya jumlah makanan yang dikonsumsi oleh seekor ternak merupakan salah satu faktor penting yang secara langsung mempengaruhi terutama produktivitas ternak. Konsumsi makanan dipengaruhi terutama oleh faktor kualitas makanan dan faktor kebutuhan energi ternak yang bersangkutan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum pada ruminansia yaitu faktor makanan yang diberikan, faktor hewan dan faktor lingkungan (Parakkasi, 1999). Faktor makanan antara lain yaitu bentuk, komposisi nutrien, rasa dan tekstur. Faktor hewan antara lain yaitu bobot badan, palatabilitas, status fisiologis dan kapasitas rumen. Sedangkan faktor lingkungan antara lain yaitu suhu dan kelembaban udara. McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan pakan dan laju digesta pakan juga mempengaruhi konsumsi ransum. Kecernaan yang tinggi dan laju digesta yang cepat akan meningkatkan konsumsi ransum.

(24)

12

Kecernaan utrien

Campbell et al. (2003) menyatakan bahwa kecernaan adalah persentase pakan yang dapat dicerna dalam sistem pencernaan yang kemudian dapat diserap tubuh dan sebaliknya yang tidak terserap dibuang melalui feses. Kecernaan nutrien merupakan salah satu ukuran dalam menentukan kualitas dari pakan. Kecernaan diartikan juga sejauh mana ternak dapat mengubah zat makanan menjadi kimia sederhana yang dapat diserap oleh sistem pencernaan tubuh (Damron, 2006).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum diantaranya adalah suhu lingkungan, laju alir pakan saat melewati sistem pencernaan, bentuk fisik pakan dan komposisi nutrien pakan (Campbell et al., 2003). McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan juga dipengaruhi oleh komposisi rasio ransum antara hijauan dan konsentrat, pengolahan pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Pengetahuan akan faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum sangatlah penting sebagai strategi dalam meningkatkan efisiensi konversi ransum.

Hasil penelitian Hristov et al. (1999) yang menyatakan bahwa penambahan Yucca schidigera yang mengandung saponin pada pakan sapi betina dara sebanyak 20 dan 60 g/e/hari tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum secara total. Namun secara umum, saponin tidak mempengaruhi nilai kecernaan secara total. Abreu et al. (2004) melaporkan bahwa penggunaan saponin yang terkandung dalam Sapindus saponaria sebanyak 8 g/kg bobot hidup menurunkan kecernaan ADF (Acid detergent fiber), NDF (Neutral Detergent Fiber), serta jumlah protozoa meningkat. Hasil penelitian lain melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg dari konsumsi bahan kering (DMI) menurunkan kecernaan NDF tetapi tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar pada ternak domba (Nasri et al., 2011).

Adanya perubahan populasi mikroba rumen akan mempengaruhi kecernaan ransum pada ternak. Hess et al. (2003) menyatakan bahwa suplementasi saponin dari Sapindus saponaria (kadar saponin 12%) yang digunakan sebesar 10% ke dalam ransum dapat menurunkan populasi protozoa hingga 54%. Sejalan dengan hasil tersebut, Wina et al. (2005) menyatakan bahwa penambahan S. rarak secara in vitro pada cairan rumen sapi nyata menurunkan populasi protozoa pada 1 - 4 mg/ml ekstrak methanol lerak. Pengaruh yang diharapkan terjadi di rumen ternak jika

(25)

13 ditambahkan pakan yang mengandung saponin yaitu dapat mendefaunasi protozoa secara parsial dan meningkatkan populasi bakteri sehingga kecernaan pakan dan suplai protein mikroba meningkat. Penurunan populasi protozoa juga terjadi pada penambahan ekstrak Sapindus rarak pada pakan domba, tetapi tidak berpengaruh terhadap penurunan konsumsi dan kecernaan (Wina et al., 2006)

Pertambahan Bobot Badan

Pertumbuhan adalah suatu proses peningkatan dalam struktur jaringan seperti tulang, otot dan organ serta deposit lemak jaringan adiposa serta bagian tubuh lainnya yang terjadi sebelum lahir dan sesudah lahir sampai mencapai tubuh dewasa (Parakkasi, 1999). Pertumbuhan umumnya dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan yang dilakukan dengan cara penimbangan. Pertambahan bobot badan sangat bergantung dari jenis sapi.

Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pakan ternak. Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari percobaaan pada ternak merupakan hasil zat-zat makanan yang dikonsumsi. Menurut McDonald et al. (2002) pertumbuhan ternak ditandai dengan peningkatan ukuran, bobot, dan adanya perkembangan. Pengukuran bobot badan berguna untuk penentuan tingkat konsumsi, efisiensi pakan dan harga.

Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap performa pertumbuhan pada ternak domba. Mao et al. (2009) juga menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan domba.

Efisiensi Pakan

Efisiensi pakan didefinisikan sebagai perbandingan jumlah unit produk yang dihasilkan yaitu pertambahan bobot badan dengan jumlah unit konsumsi pakan dalam satuan waktu yang sama. Efisiensi pakan mencirikan tingkat efisiensi pemanfaatan nutrien dalam tubuh ternak. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan semakin efisien ternak mengkonversi ransum menjadi bobot badan.

(26)

14 Nilai efisiensi ransum yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi semakin tinggi yang diubah untuk menjadi hasil produk pada ternak diantaranya pertambahan bobot badan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan antara lain kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al., 2003).

(27)

15

MATERI DA METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisa kandungan nutrien pakan dan feses dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan pada tahun 2010.

Materi Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain timbangan digital merek Ruddweigh, timbangan pegas merek Nagako dan Salter, alat-alat analisa proksimat, alat-alat koleksi feses, oven merek WTC Binder 7200 Tuttlingen/Germany dan oven merek Memmert U15-Germany.

Ternak Percobaaan

Ternak yang digunakan adalah sapi potong lokal jantan dengan bobot badan awal rata-rata 171±12.51 kg sebanyak 12 ekor. Sapi tersebut dipelihara selama 90 hari dalam kandang individu berukuran 1 x 1.5 meter, beralaskan lantai semen, dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat air minum.

Ransum

Standar kebutuhan yang digunakan adalah berdasarkan (utrient Requirements of Ruminants in Developing Countries, steers maintenance and growth (Kearl, 1982). Standar kebutuhan nutrien untuk sapi potong lokal dengan bobot badan 150-200 kg, PBB (pertambahan bobot badan) rata-rata 0.5-1 kg, konsumsi bahan kering 3% bobot badan dengan protein kasar (PK) 11,83%, TDN (total digestible nutrien) 58,48%, Ca 0,53%, dan P 0,31%. Ransum perlakuan yang digunakan selama penelitian berupa rumput lapang dan pakan penguat dengan komposisi pollard (34,25%), bungkil kalapa (29,33%), onggok (25,07%), molasses (5,26%), CaCO3 (3,04%), urea (1,31%), premix (0,66%), bungkil kedelai (0,64%), dan NaCl (0,44%). Ekstrak lerak dengan dosis berbeda yaitu 100 mg/kg BB dan 200 mg/kg BB. Dosis di atas ditentukan berdasarkan penelitian in vitro sebelumnya (Suharti et al., 2009).

(28)

16 Tabel 1. Kandungan Nutrien Ransum Perlakuan (Bahan Kering)

Kandungan nutrien (%) Rumput lapang (%) Pakan penguat (%) Ransum total H:K 70:30 (%) Kadar air Abu 81,29 11,11 15,30 13,09 61,79 11,70 Protein kasar 10,20 19,87 13,14 Lemak kasar 0,45 3,14 1,26 Serat kasar 40,12 21,40 34,50 Beta-N 38,12 42,50 39,40 TDN* 46,64 64,38 51,96 Ca 0,38 1,88 0,83 P 0,14 0,84 0,35

Keterangan: kandungan nutrien ransum komplit berdasarkan analisa proksimat Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2010). *Rumus TDN = 92,464 - (3,338 x SK) - (6,945 x LK) - (0,762 x Beta-N) + (1,115 x PK) + (0,031 x SK2) - (0,133 x LK2) + (0,036 x SK x Beta-N) + (0,207 x LK x Beta-N) + (0,1 x LK x PK) - (0,022 x LK x PK) (Hartadi et al., 1980). Prosedur Ekstraksi Lerak

Buah lerak diperoleh dari daerah Purwodadi, Jawa Tengah. Bagian dari buah lerak yang digunakan pada penelitian ini meliputi daging buah dan biji. Sebelum digiling buah lerak dibersihkan dan dikeringanginkan selama 30-36 jam, lalu dioven pada suhu 60oC kemudian digiling sehingga menghasilkan tepung. Tepung lerak yang diperoleh diekstraksi dengan pelarut metanol 100% untuk mendapatkan senyawa bioaktif. Ekstraksi dilakukan melalui teknik perendaman (maserasi) selama 24 jam dengan perbandingan antara tepung lerak dan metanol yaitu 1:4. Larutan yang diperoleh kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring. Endapan yang dihasilkan direndam kembali dengan perbandingan volume yang sama kemudian disaring. Cairan yang diperoleh dari kedua penyaringan dicampur (dihomogenkan) dan dievaporasi kemudian dikeringbekukan dengan freeze dryer (Wina et al., 2006).

Pemberian Pakan

Ternak sapi dipelihara pada kandang individu. Pakan diberikan 3 kali sehari (pukul 07.00 diberi rumput dan pakan penguat, pukul 12.00 diberi rumput, dan pukul

(29)

17 16.00 diberi rumput dan pakan penguat). Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan selama 90 hari dengan masa adaptasi selama tiga minggu.

Pencampuran Ekstrak Lerak ke dalam Pakan

Pakan penguat ditimbang setiap harinya lalu dimasukkan ke dalam plastik. Pencampuran ekstrak lerak (sesuai dosis) ke dalam pakan penguat dilakukan setiap hari sebelum pemberian pakan, ekstrak lerak dan pakan penguat diaduk di baskom menggunakan sodet kayu agar homogen.

Pengukuran Kecernaan utrien (McDonald et al., 2002)

Pengumpulan (koleksi) feses dilakukan selama lima hari berturut-turut pada minggu terakhir pemeliharaan yang bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrien yang keluar melalui feses. Saat koleksi feses ternak digunakan hernet (sehingga urin tidak bercampur dengan feses). Feses diambil setelah koleksi 24 jam kemudian ditimbang dan diaduk (dihomogenkan) untuk diambil sebagai sampel ±7-10% dari total feses. Sampel feses dijemur dan dimasukkan ke dalam kantung kertas yang diberi label untuk dilakukan analisa lebih lanjut. Sampel dimasukkan ke oven suhu 60 oC kemudian ditimbang hingga bobot konstan. Setelah kering udara sampel dihomogenkan per perlakuan kemudian dihaluskan dengan mortar. Sampel dipisahkan ke dalam plastik untuk analisa proksimat (kadar air, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar). Analisa bahan kering dilakukan dengan menimbang ±5 gram sampel lalu dimasukkan ke cawan porselen kemudian dimasukkan ke oven suhu 105 o

C ±8 jam. Sampel dikeluarkan dari oven, lalu sampel dimasukkan ke dalam eksikator, dan ditimbang hingga bobotnya konstan.

Analisis Proksimat

Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kandungan nutrien dari masing-masing bahan pakan dan feses, meliputi kadar air, kadar abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar.

Pengukuran bobot badan

Pada awal adaptasi sapi ditimbang, awal perlakuan, dan selanjutnya dilakukan setiap satu bulan sekali dan akan terlihat pertambahan bobot badan

(30)

18 hariannya. Setiap sapi ditimbang dengan menggunakan timbangan digital (Ruddweigh), tambang untuk mengendalikan sapi dan bambu untuk menjepit sapi.

Rancangan

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 4 kelompok sebagai ulangan.

Perlakuan

Ransum perlakuan yang diberikan dalam penelitian adalah sebagai berikut : P1 = rumput lapang : pakan penguat 70:30 (%BK) / kontrol

P2 = P1 + 100 mg/kg BB ekstrak lerak P3 = P1 + 200 mg/kg BB ekstrak lerak

Model

Model matematik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie, 1993):

Yij = µ + τi + ßj+ εij

Keterangan :

Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai rataan umum

τi = Efek perlakuan ke-i βj = Efek kelompok ke-j

εij = Galat perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

Peubah yang diamati

Peubah yang akan diamati pada penelitian ini antara lain : 1. Konsumsi ransum (kg/ekor/hari)

Konsumsi ransum dihitung dari selisih ransum yang diberikan dengan sisa ransum keesokan pagi harinya.

2. Kecernaan Nutrien

Kecernaan nutrien diperoleh dari selisih konsumsi nutrien dengan nutrien feses dibagi konsumsi nutrien dikalikan seratus persen. Kecernaan nutrien yang dihitung yaitu bahan kering, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar.

(31)

19 Kecernaan bahan kering = (konsumsi nutrien bahan kering – nutrien feses) x 100%

Konsumsi nutrien bahan kering

Kecernaan protein kasar = (konsumsi nutrien protein kasar – protein feses) x 100%

Konsumsi nutrien protein kasar

Kecernaan serat kasar = (konsumsi nutrien serat kasar – serat feses) x 100%

Konsumsi nutrien serat kasar

Kecernaan lemak kasar = (konsumsi nutrien lemak kasar – lemak feses) x 100%

Konsumsi nutrien lemak kasar

3. Pertambahan Bobot Badan Harian (kg/ekor/hari)

Pertambahan bobot badan harian (PBBH) diperoleh dari selisih antara bobot badan akhir dengan bobot badan awal dibagi dengan lama waktu penelitian. PBBH = Bobot badan akhir (kg) – bobot badan awal (kg)

lama pemeliharaaan (hari) 4. Efisiensi Pakan

Efisiensi ransum dihitung berdasarkan perbandingan pertambahan bobot badan harian dibagi dengan konsumsi bahan kering ransum harian.

Efisiensi = PBBH (kg/ekor/hari) konsumsi BK(kg/ekor/hari)

Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak Duncan (Steel dan Torrie, 1993).

(32)

20

HASIL DA PEMBAHASA

Konsumsi Bahan Kering Ransum

Penambahan ekstrak lerak pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi konsumsi bahan kering. Hasil yang tidak berbeda antar perlakuan (Tabel 2) mengindikasikan bahwa penambahan ekstrak lerak pada pakan penguat tidak menurunkan konsumsi ransum dibandingkan kontrol. Hasil penelitian ini sama dengan Suharti et al. (2009) yang melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat tidak nyata mempengaruhi konsumsi ransum. Salimah (2010) juga menyatakan bahwa suplementasi EML (Ekstrak Metanol Lerak) dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) tidak nyata mempengaruhi konsumsi bahan kering ransum.

Tabel 2. Rataan Nilai Konsumsi Pakan Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak

Perlakuan ekstrak lerak (mg/kg BB)

Peubah 0 100 200

--- gram (BK) per ekor per hari ---

Konsumsi 4469,05±372,78 4463,48±347,89 4621,00±212,82

- Rumput Lapang 2953,46±317,12 2917,45±253,97 3100,58±144,13

- Konsentrat 1515,59±55,81 1546,03±115,83 1520,42±74,84

*tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan (P>0,05).

Kisaran konsumsi bahan kering ransum pada penelitian ini yaitu 2,7-3% dari bobot badan. Penelitian Salimah (2010) melaporkan bahwa pada sapi PO yang mendapat suplementasi EML dalam pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) dapat konsumsi bahan kering ransum sekitar 3,06-3,13%.

Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan air ternak domba. Mao et al. (2010) menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan domba.

(33)

21 Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum pada ruminansia yaitu faktor makanan yang diberikan, faktor hewan dan faktor lingkungan (Parakkasi, 1999). Faktor makanan antara lain yaitu bentuk, komposisi nutrien, rasa dan tekstur. Faktor hewan antara lain yaitu bobot badan, palatabilitas, status fisiologis dan kapasitas rumen. Sedangkan faktor lingkungan antara lain yaitu suhu dan kelembaban udara.

Konsumsi nutrien yang dibutuhkan ternak tergantung pada bobot badan dan kecepatan laju pertumbuhannya. Nilai konsumsi protein kasar, lemak kasar dan serat kasar pada penelitian ini diduga telah mencukupi kebutuhan ternak sehingga memungkinkan ternak untuk tumbuh dan berproduksi. Hal tersebut dapat tercermin dari bobot badan ternak yang bertambah. Nilai konsumsi protein kasar, lemak kasar dan serat kasar dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Nilai Konsumsi Protein Kasar, Lemak Kasar, dan Serat Kasar Sapi Potong yang mendapat berbagai Level Ekstrak Lerak

Perlakuan ekstrak lerak (mg/kg BB)

Peubah 0 100 200

--- gram (BK) per ekor per hari --- Konsumsi Nutrien

- Protein Kasar 606,51±42,17 575,53±51,37 606,95±25,85

- Lemak Kasar 60,83±3,75 59,93±4,18 60,83±2,68

- Serat Kasar 1519,88±117,81 1386,04±190,63 1522,08±64,68

*tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan (P>0,05).

Kecernaan utrien

Penambahan ekstrak lerak pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi kecernaan bahan kering, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar (Tabel 4). Nilai rataan kecernaan bahan kering pada penelitian ini berkisar antara 54,95%-58,24%. Penelitian Suharti et al. (2009) juga melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum. Bakrie et al. (1996) menyatakan bahwa nilai kecernaan bahan kering sapi di daerah iklim tropis berkisar antara 40%-65%.

(34)

22 Tabel 4. Rataan Nilai Kecernaan Bahan Kering, Protein Kasar, Serat Kasar dan

Lemak Kasar Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak Perlakuan ekstrak lerak (mg/kg BB)

Peubah 0 100 200

--- %

---Kecernaan Bahan Kering 58,24±1,19 55,69±6,54 54,95±3,07

Kecernaan Protein Kasar 73,37±1,22 71,39±4,05 71,11±2,25

Kecernaan Lemak Kasar 44,14±13,07 53,63±11,46 40,12±14,36

Kecernaan Serat Kasar 75,90±2,79 73,96±5,46 74,58±2,29

*tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan (P>0,05).

Campbell et al. (2003) menyatakan bahwa kecernaan adalah persentase pakan yang dapat dicerna dalam sistem pencernaan yang kemudian dapat diserap tubuh dan sebaliknya yang tidak terserap dibuang melalui feses. Semakin tinggi kecernaan bahan kering maka semakin tinggi pula peluang nutrien yang dapat dimanfaatkan untuk produktivitas ternak.

Penelitian Salimah (2010) pada sapi PO yang mendapat suplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) mempunyai kecernaan BK lebih tinggi (65,18-69,16%), kecernaan PK lebih tinggi (78,68-81,01%), kecernaan LK lebih tinggi (70,77-72,20%) tetapi kecernaan SK lebih rendah (51,59-57,99) dibandingkan penelitian ini. Hal ini dikarenakan pada penelitian ini menggunakan hijauan tinggi sehingga nilai kecernaan serat kasar (SK) lebih tinggi dibandingkan ransum tinggi pakan penguat (konsentrat).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Hristov et al. (1999) yang menyatakan penambahan Yucca schidigera yang mengandung saponin pada pakan sapi betina dara sebanyak 20 dan 60 g/e/hari tidak nyata mempengaruhi kecernaan ransum secara total. Sebaliknya, Abreu et al. (2004) melaporkan bahwa penggunaan saponin yang terkandung dalam Sapindus saponaria sebanyak 8 g/kg bobot hidup menurunkan kecernaan ADF, NDF, serta jumlah protozoa meningkat. Hasil penelitian lain melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg dari konsumsi bahan kering (DMI) menurunkan kecernaan NDF tetapi tidak berpengaruh terhadap kecernaan protein kasar pada ternak domba (Nasri et al,. 2011).

(35)

23 Penambahan hingga taraf 200 mg/kg BB ekstrak lerak menghasilkan variasi nilai kecernaan nutrien. Saponin yang dikonsumsi sebanyak 2 kali lebih besar pada perlakuan 200 mg/kg BB ekstrak lerak cenderung memperlihatkan penurunan nilai kecernaan walaupun tidak berbeda nyata. Hal ini dikarenakan lebih banyaknya saponin yang terdapat dalam lerak. Namun, nilai kecernaan bahan kering, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar pada pakan yang tidak mengandung ekstrak lerak menunjukkan hasil yang cenderung lebih baik dibanding perlakuan lainnya.

Populasi bakteri yang meningkat ternyata keberadaannya di rumen tidak tetap tidak seperti protozoa yang dapat menempel pada dinding rumen dan memiliki ukuran yang lebih besar. Bakteri dapat lolos bersama partikel pakan menuju pencernaan pasca rumen (Damron, 2006). Efek dari pemberian ekstrak Yucca shidigera yang mengandung saponin dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri Prevotella ruminicola, menekan pertumbuhan bakteri Streptococcus bovis, dan menghilangkan bakteri Butyrivibrio fibrisolvens (Wallace et al.,1994).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan ransum diantaranya adalah laju alir pakan saat melewati sistem pencernaan, bentuk fisik pakan dan komposisi nutrien pakan (Campbell et al., 2003). McDonald et al. (2002) menambahkan bahwa kecernaan juga dipengaruhi oleh komposisi rasio ransum antara hijauan dan konsentrat, pengolahan pakan dan jumlah pakan yang dikonsumsi.

Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)

Penambahan ekstrak lerak pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan harian (Tabel 5). Pertambahan bobot badan merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Menurut McDonald et al. (2002) pertumbuhan ternak ditandai dengan peningkatan ukuran, bobot, dan adanya perkembangan. Pertambahan bobot badan ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum, genetik, kondisi lingkungan, aktivitas hormonal, penyakit, dan teknik pengelolaannya (Parakkasi, 1999).

(36)

24 Tabel 5. Rataan Nilai Pertambahan Bobot Badan Harian dan Efisiensi

Ransum Sapi Potong yang Mendapat Berbagai Level Ekstrak Lerak Perlakuan ekstrak lerak (mg/kg BB)

Peubah 0 100 200

PBBH (g/e/h) 481,48±72,51 498,61±38,05 537,50±59,38

Efisiensi Ransum 0,11±0,012 0,12±0,015 0,13±0,022

*tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan (P>0,05).

Pertambahan bobot badan sangat bergantung dari jenis sapi. Nilai PBBH yang normal untuk sapi PO antara 0,4-0,8 kg/e/h tergantung ransum yang diberikan. Pertambahan bobot badan pada penelitian ini berkisar antara 0,48-0,54 kg/e/h. Salimah (2010) menyatakan bahwa suplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat (±60%) menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar 0,74-0,87 kg/e/h. Perbedaan nilai PBBH ini dikarenakan ransum yang diberikan berbeda, ransum dengan hijauan tinggi memiliki nilai energi lebih rendah sehingga nilai PBBH yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan ransum tinggi konsentrat.

Hasil penelitian Nasri et al. (2011) melaporkan bahwa Quillaja saponaria (QS) pada level 60 dan 90 mg QS/kg bahan kering (DMI) tidak berpengaruh terhadap performa pertumbuhan ternakdomba. Mao et al. (2010) juga menambahkan bahwa saponin pada daun teh tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan domba.

Selain itu kondisi lingkungan juga mempengaruhi pertambahan bobot badan ternak. Suhu didalam kandang pagi hari 20-21 0C, siang hari 30-32 0C, dan malam hari 22-24 0C. Perubahan suhu didalam kandang yang sangat berfluktuatif ini dapat menyebabkan ternak stres, sehingga tidak semua zat nutrisi yang terdapat dalam pakan diubah menjadi daging melainkan digunakan juga untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Terjadi perbaikan nilai PBBH antara ransum kontrol dengan perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB sebesar 3,56% sedangkan dengan ekstrak lerak 200 mg/kg BB sebesar 11,63%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan ekstrak lerak hingga taraf 200 mg/kg BB nilai PBBH lebih tinggi daripada kontrol. Penelitian Suharti et al. (2009) melaporkan bahwa sapi PO yang diberi tepung dari

(37)

25 keseluruhan buah lerak pada taraf 2,5% dan 5% dari konsentrat dapat memperbaiki PBBH 20% lebih tinggi dibandingkan kontrol dengan nilai PBBH sebesar 0,9 kg/hari.

Pada 30 hari pertama pemberian ekstrak lerak belum terlihat perbaikan nilai PBBH, namun pada 30 hari kedua (hari 31-60) terlihat adanya peningkatan nilai PBBH pada perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB dan ekstrak lerak 200 mg/kg BB. Pada 30 hari terakhir pemeliharaan (hari 61-90) perbaikan nilai PBBH semakin meningkat pada perlakuan ekstrak lerak 100 mg/kg BB dan ekstrak lerak 200 mg/kg BB. Hal ini mengindikasikan bahwa seiring lama waktu pemeliharaan, nilai PBBH semakin meningkat (Gambar 4).

Gambar 4. Pola Pertambahan Bobot Badan Harian Sapi Potong yang Mendapat Suplementasi Ekstrak Lerak

Pertambahan bobot badan harian yang meningkat pada pemberian ekstrak lerak ini disebabkan pula oleh adanya efek dari saponin yang terkandung pada ekstrak lerak, dimana populasi bakteri Prevotella ruminicola meningkat. Bakteri ini adalah salah satu bakteri penghasil propionat yang aktif mendegradasi xylan, propionat adalah sumber energi utama bagi ternak ruminansia khususnya sapi potong. 400 450 500 550 600

0-30 hari 31-60 hari 61-90 hari

P B B H (g /e /h ) LAMA PEMELIHARAA

(38)

26

Efisiensi Ransum

Penambahan ekstrak lerak pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg bobot badan tidak mempengaruhi efisiensi ransum pada ternak. Nilai efisiensi ransum kontrol maupun perlakuan yaitu 0,11-0,13 (Tabel 5) yang artinya setiap 1 kg bahan kering ransum menghasilkan pertambahan bobot badan harian sebesar 0,11 kg. Penelitian pada ransum sapi PO yang disuplementasi EML dalam bentuk pakan blok pada taraf 0,03% dan 0,08% pada ransum tinggi konsentrat ±60% berkisar antara 0,16 - 0,18 (Salimah, 2010).

Nilai efisiensi ransum yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ransum yang dikonsumsi semakin tinggi yang diubah untuk menjadi hasil produk pada ternak diantaranya pertambahan bobot badan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan antara lain kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al., 2003).

Ransum yang digunakan pada ternak akan mempengaruhi nilai efisiensi ransum. Ransum pada penelitian ini memiliki nilai protein yang tinggi tetapi nilai energi rendah, ini karena ransum berbasis hijauan. Nilai protein tinggi pada ransum ruminansia tidak efisien karena protein didegradasi di rumen. Ketidakseimbangan rasio protein dan energi pada ransum ruminansia juga mempengaruhi pertambahan bobot badan ternak, dimana nilai PBBH pada penelitian ini tidak bertambah secara signifikan karena nilai energi pada ransum rendah.

(39)

27

KESIMPULA DA SARA

Kesimpulan

Penambahan ekstrak lerak (Sapindus rarak) pada ransum berbasis hijauan tinggi hingga taraf 200 mg/kg BB tidak menaikan konsumsi bahan kering ransum, kecernaan nutrien (bahan kering, protein kasar, serat kasar, dan lemak kasar), pertambahan bobot badan harian dan efisiensi ransum.

Saran

Perlu adanya penambahan waktu pemeliharaan sapi potong serta level ekstrak lerak yang dapat ditingkatkan, karena dapat memperbaiki pertambahan bobot badan harian (PBBH). Selain itu, perlu memperbanyak pohon lerak untuk meningkatkan produksi buah lerak sebagai pakan tambahan. Pakan ternak dengan hijauan tinggi akan kekurangan mineral, oleh karena itu perlu adanya tambahan mineral karena di daerah tropis kandungan mineral pada hijauannya sangat rendah.

(40)

28

UCAPA TERIMAKASIH

Bismillahhirrahmannirrahim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan segala limpahan nikmat, rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.

Ungkapan terima kasih sebesar-besarnya penulis haturkan kepada Ibu, Bapak, Kakak, Adik-adik serta Indra Budiman (My Lovely Husband) atas kasih sayang, doa yang tiada henti, motivasi dan selalu menguatkan penulis dalam menghadapi segalanya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Sri Suharti, S. Pt, M.Si. dan Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS. selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu sabar dalam mengarahkan, membimbing, memberi motivasi dan memberikan dana selama penelitian sampai penulisan skripsi ini terselesaikan. Terima kasih pula penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Didid Diapari, MS. selaku dosen pembahas seminar dan dosen penguji sidang Ir. Kukuh Budi Satoto, MS., M. Baihaqi, S. Pt, M. Sc. dan Ir. Widya Hermana, M.Si. yang telah banyak memberi saran dan masukan kepada penulis.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan pula kepada Pak Djaja, Pak Edi, Bu Yani dan Bu Dian yang telah membantu selama proses penelitian di lapang. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman sepenelitian atas kerjasama, pengertian dan kesabarannya dalam membantu penelitian. Mas Dendi, Uta, Monica, Nur, Kak Lukman, Kak Dila, Fatma, Juanda, dan teman-teman INTP 44 lainnya, terima kasih atas kebersamaan, dukungan dan kekompakannya. Teman-teman kos Fec House terimakasih atas persahabatan dan doanya selama ini. Terakhir penulis mengucapkan terimakasih atas bantuan dari semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, semoga Allah selalu membalas amal baiknya dan semoga skripsi ini bermanfaat Amin.

Bogor, Mei 2011

(41)

29

DAFTAR PUSTAKA

Abreu, A. J. E. Carulla, C. E. Lascano, T. E. Diaz, M. Kreuzer & H. D. Hess. 2004. Effect of Sapindus saponaria fruits on ruminal fermentation and duodenal nitrogen flow of sheep fed a tropical grass diet with and without legume. J. Anim. Sci. 82: 1392-1400.

Astuti, M. 2004. Potensi keragaman sumberdaya genetik sapi peranakan ongole. Bulletin Ilmu Peternakan Indonesia (WARTAZOA). 14 (3): 30-39. http://www.scribd.com/doc/6548740/sapo046 [9 April 2011].

Bakrie, B., J. Hogan, J. B. Liang, A. M. M. Tareque & R. C. Upadhyay. 1996. Ruminant Nutrition and Production in the Tropics and Subtropics. Arawang Information Bureau Pty Ltd, Canbera.

Campbell, J. R., M. Douglas Kenealy and Karen L. Campbell. 2003. Animal Sciences. 4th Edition. McGraw-Hill, New York.

Cheeke, P. R. 2000. Actual and potential applications of Yucca schidigera and Quillaja saponaria saponins in human and animal nutrition. J. Anim. Sci. 77: 1-10.

Cunningham, M., Mickey A. Latour & A. Duane. 2005. Animal Science and Industry. Prentice Hall, New Jersey.

Damron, W. S. 2006. Introduction to Animal Science. Prentice Hall, Ohio.

Dehority, B. A. 2004. Rumen Microbiology. Nottingham University Press, Nottingham.

Ditjennak. 2010. Populasi ternak nasional (kumulatif provinsi) tahun 2000 sampai dengan 2010. www.ditjennak.go.id [3 Juni 2011].

Francis, G., Z. Kerem., H. P. S. Makkar., K. Becker. 2002. The biological action of saponins in animal system: a review. Br. J. Nurt. 88 :587-605.

Hartadi, H., Reksohadiprodjo, Soedomo., Tillman, & Allen D. 1980. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gajah Mada University-Press, Yogyakarta.

Hess, H.D., M. Kreuzer, T.E. Diaz, C.E. lascano, J.E. Carulla, Carla L. Soliva & A. Machmuller. 2003. Saponin rich tropical fruits affect fermentation and methagonesis in faunated and defaunated rumen Fluid. J. Anim Sci and Tech. 109:79-94.

Hristov, A. N., A. McAllister, F. H. Van Herk, K. J. Cheng, C. J. Newbold & P. R. Cheeke. 1999. Effect of Yucca schidigera on ruminal fermentation and nutrient digestion in heifers. J. Anim. Sci. 77: 2554-2563.

Kearl, C.L. 1982. Nutrient Requirements of Ruminants in Developing Countries. Internasional Feedstuffs Institute. Utah Agricultural Experiment Station. Utah State University, Logan Utah.

Makkar, H. P. S. & K. Becker. 1997. Degradation of quillaja saponins by mixed culture of rumen microbes. Lett. in Appl. Microbiol. 25: 243-245.

Gambar

Gambar 1. Bu ah Lerak (kiri) dan Pohon Lerak Sumber: www. toko-herbal.com. 2011
Gambar 3.  Sintesis VFA oleh Mikroorganisme di Rumen         Sumber: Damron (2006)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa guru sudah memahami tentang penggunaan dan pengembangan teknologi pada era revolusi industri 4.0, namun masih

Kepraktisan permainan Hydrocarbon Adventures sebagai media pembelajaran pada materi senyawa hidrokarbon yang dikembangkan telah terpenuhi dengan mendapatkan

anak sebagaimana tercantum dalam Laporan Keuangan Konsolidasian PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk dan Entitas Anaknya untuk tahun yang berakhir pada 31

KERJA PROFESI.

China will re-embark the recent-month-deadlock trade negotiation. The backdrop likely drives investors confusing whether the trade war tension between the U.S. and China

Molekul DPPH dicirikan sebagai radikal bebas stabil dengan cara mendelokasi elektron bebas pada suatu molekul, sehingga molekul tersebut tidak reaktif sebagaimana

dengan kriptografi dan akan digunakan sebagai perumusan masalah serta tujuan dari penelitian ini. Tahap kedua : Kajian pustaka dilakukan dengan mengumpulkan

Nunan (2003:75) believes that monitoring process is crucial to be successful in reading comprehension. It is related with verifying the prediction when the readers