I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan. Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di dalam tanah yang disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus 2009).
Rimpang kencur sudah dikenal luas di masyarakat baik sebagai bumbu makanan atau untuk pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak, bisul dan jamur. Selain itu minuman beras kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan masuk angin, dan kelelahan, dengan dicampur minyak kelapa atau alkohol digunakan untuk mengurut kaki keseleo atau mengencangkan urat kaki. Komponen yang terkandung di dalamnya antara lain saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Tanaman ini termasuk kelas monocotyledonae, bangsa Zingiberales, suku Zingiberaceae dan, marga Kaempferia (Winarto 2007).
Perbanyakan kencur secara budidaya konvensional mempunyai beberapa masalah, antara lain penyediaan bibit dan serangan pathogen. Penyediaan bibit merupakan masalah paling utama dalam budidaya kencur secara konvensional. Karakteristik kencur yang bersifat dorman menjadi kendala utama sehingga tidak tersedia secara kontinyu. Kencur hanya dapat ditanam pada musim hujan karena pada musim kemarau rimpang mengalami dormansi sehingga perlu adanya penyediaan bibit yang tidak berasal dari rimpang serta dapat ditanam disetiap waktu. Salah satu cara penyediaan bibit kencur secara cepat dengan metode kultur jaringan. Kultur jaringan merupakan suatu teknik menumbuhkan sel, jaringan atau organ tanaman dalam suatu media secara aseptik. Keberhasilan perbanyakan in vitro dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya jenis media dasar serta aplikasi ZPT yang tepat serta kondisi lingkungan kultur.
Pada perbanyakan in vitro aplikasi ZPT sangat berpengaruh. Peran ZPT auksin dan sitokinin yang telah terbukti dapat merangsang pertumbuhan dan pembelahan
mempercepat pertumbuhan jika diberikan dalam jumlah yang tepat dan seimbang. Perbanyakan kencur dapat dilakukan menggunakan teknik kultur jaringan serta kandungan NAA dan BAP yang tepat.
B. Perumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah;
1. Bagaimanakah teknik perbanyakan in vitro tanaman kencur secara tepat?
2. Konsentrasi BAP dan NAA manakah yang tepat untuk respon perbanyakan kencur secara in vitro?
3. Respon eksplan kencur manakah yang paling baik dalam perbanyakan secara in vitro?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini bertujuan untuk :
a. Mendapatkan teknik perbanyakan in vitro tanaman kencur untuk memproduksi bibit secara cepat.
b. Mendapatkan konsentrasi auksin (NAA) dan sitokinin (BAP) yang paling tepat untuk pertumbuhan tunas kencur.
c. Mengetahui respon perbanyakan kencur pada pemberian NAA dan BAP 2. Manfaat penelitian ini sebagai sumber pengetahuan bagi pelaku usaha budidaya
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Kencur 1. Arti Penting
Kencur sudah sejak lama dikenal dan ditanam di Indonesia. Tanaman kencur mempunyai kegunaan tradisional dan sosial cukup luas dalam masyarakat Indonesia (Rukmana 1994). Rimpang tanaman kencur mempunyai khasiat obat antara lain untuk menyembuhkan batuk dan mengeluarkan dahak (ekspektoran), mencuci luka yang bernanah, borok atau kudis. Khasiat lain dari kencur adalah untuk mengobati diare dan menghilangkan darah kotor. Tanaman kencur adalah salah satu sumber suplemen yang mempunyai potensi cukup baik. Tanaman kencur ini telah menyebar luas di beberapa daerah di Indonesia dan salah satu daerah sentra produksi terbesar adalah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Manfaat tanaman kencur antara lain sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetika, makanan dan minuman serta mengandung zat-zat kimia tertentu yang berperan dalam kesehatan manusia (Subroto 1987 dan Pramono 1994).
Permintaan kencur dari tahun ke tahun terus meningkat dengan laju peningkatan sebesar 18,54 % per tahun dan pada tahun 1990 permintaan mencapai 107.256 kg (Pribadi 1993). Rimpang kencur memiliki kandungan antara lain saponin, flavonoid, fenol serta minyak atsiri sehingga manfaat utama kencur sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, sakit perut (Syamsuhidayat dan Johnny 1991). Minyak atsiri di dalam rimpang kencur mengandung etil sinnamat dan metil p-metoksisinamat yang banyak digunakan di dalam industri kosmetika dan dimanfaatkan sebagai obat asma dan anti jamur. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan pengembangan pembudidayaannya dilakukan secara intensif yang disesuaikan dengan produk akhir yang diinginkan (Otih et al. 2005)
2. Biologi
Tanaman terna kecil yang siklus hidupnya semusim atau beberapa musim. Akar rimpang kencur menempel pada umbi akar dan sebagian lagi terletak di atas tanah. Bentuk rimpang umumnya bulat, bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya coklat kekuningan dan berbau harum. Rimpang kencur terdapat didalam tanah bergerombol dan bercabang-cabang dengan induk rimpang di tengah. Kulit ari berwarna coklat dan bagian dalam putih berair dengan aroma yang tajam. Rimpang yang masih muda berwarna putih kekuningan dengan kandungan air yang lebih banyak dan rimpang yang lebih tua ditumbuhi akar pada ruas-ruas rimpang berwarna putih kekuningan. Berikut ini adalah taksonomi dari tanaman kencur :
Kingdom : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) Divisio : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) Subdivisio : Angiospermae (Berbiji tertutup) Class : Monocotyledonae (Biji berkeping satu) Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae Genus : Kaempferia
Spesies : Kaemferia galanga L.
Tanaman kencur memiliki batang semu yang sangat pendek, terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling menutupi. Daun-daun kencur tumbuh tunggal, melebar dan mendatar hampir rata dengan permukaan tanah. Jumlah daun bervariasi antara 8-10 helai dan tumbuh secara berlawanan satu sama lain. Bentuk daun elip melebar sampai bundar, ukuran panjang daun 7-12 cm dan lebarnya 3-6 cm, serta berdaging agak lebar. Bunga kencur keluar dalam bentuk buliran setengah duduk dari ujung tanaman di sela-sela daun. Warna bunganya putih, ungu hingga lembayung dan tiap tangkai bunga berjumlah 4-12 kuntum bunga. Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri dari empat helai daun mahkota. Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2–3 cm, tidak bercabang, dapat tumbuh lebih dari satiu tangkai, panjang tangkai 5–7 cm berbentuk bulat dan beruas ruas. Putik menonjol keatas berukuran 1–1,5 cm, tangkai sari berbentuk
5
corong pendek. Buah kencur termasuk buah kotak beruang 3 dengan bakal buah yang letaknya tenggelam, tetapi sulit sekali menghasilkan biji.
Hampir seluruh bagian tanaman kencur mengandung minyak atsiri. Zat-zat kimia yang telah banyak diteliti adalah pada rimpangnya, yakni mengandung minyak atsiri 2,4%-3,9%, juga cinnamal, aldehide, asam motil p-cumarik, etil ester dan pentadekan. Dalam literatur lain disebutkan bahwa rimpang kencur mengandung sineol, paraeumarin, asam anisic, gom, pati (4,14%) dan mineral (13,73%). Kandungan kimia tersebut sangat berguna bagi obat-obatan, terutama obat batuk, sakit perut dan obat pengeluaran keringat (Muhlisah 1999).
3. Budidaya
Perbanyakan tanaman kencur dilakukan menggunakan rimpang-rimpang. Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu dengan cara menyemai rimpang di tempat yang teduh ditutup dengan jerami dan disiram setiap hari. Untuk penyimpanan benih, biasa digunakan wadah atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Penanaman dilakukan apabila hujan sudah mulai turun. Benih rimpang bertunas yang siap ditanam di lapangan sebaiknya yang baru keluar tunasnya (tinggi tunas < 1 cm), sehingga dapat beradaptasi langsung dan tidak mudah rusak. Apabila hujan terlambat turun, lebih baik rimpang ditanam langsung di lapangan, tanpa ditunaskan terlebih dahulu. Karena berbeda dengan jahe, rimpang kencur bisa ditanam pada saat hujan belum turun asal rimpangnya belum bertunas. Rimpang akan beradaptasi dengan lingkungan, pada saat hujan turun tunas akan tumbuh dengan serempak.
B. Kultur Jaringan dalam Pengembangan Ketersediaan Benih 1. Pengertian
Kultur jaringan atau budidaya in vitro adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ yang serba steril, ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi suatu tanaman yang lengkap. Keberhasilan kultur jaringan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sterilisasi, pemilihan bahan eksplan, faktor lingkungan seperti pH,
cahaya dan temperatur, serta kandungan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dalam media kultur (Indrianto dan Yuni 2002).
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Hutami dan Purnamaningsih 2003).
Menurut (Lu 1993) Kelebihan teknik kultur jaringan adalah dapat memperbanyak tanaman tertentu yang sangat sulit dan lambat diperbanyak secara konvensional, dalam waktu singkat dapat menghasilkan jumlah bibit yang lebih besar, perbanyakannya tidak membutuhkan tempat yang luas, dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa mengenal musim, bibit yang dihasilkan lebih sehat dan dapat memanipulasi genetik dan biaya pengangkutan bibit lebih murah. Kelemahannya adalah dibutuhkannya biaya yang relatif lebih besar untuk pengadaan laboratorium, dibutuhkan keahlian khusus untuk mengerjakannya dan tanaman yang dihasilkan berukuran kecil dengan kondisi aseptik, terbiasa di lingkungan hidup dengan kelembaban tinggi dan relatif stabil sehingga perlu perlakuaan khusus setelah aklimatisasi dan perlu penyesuaian lagi untuk ke lingkungan eksternal (Pramono 2007).
2. Aplikasi
Aplikasi kultur jaringan sebagai salah satu sarana pengadaan bibit untuk tujuan komersial belum dikenal secara meluas di Indonesia, namun tidak demikian halnya di negara maju, perbanyakan melalui kultur jaringan sudah diterapkan sejak lama di beberapa negara. Salah satu faktor yang menjadi kendala aplikasi teknologi baru tersebut adalah modal awal yang cukup tinggi, untuk itu perlu dilakukan upaya penekanan biaya produksi dengan mencari metoda perbanyakan yang efisien dengan hasil yang maksimal.
7
Dalam penyimpanan in vitro media yang digunakan umumnya media dasar Murashige dan Skoog yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh dengan konsentrasi tertentu sesuai dengan hasil penelitian. Namun adakalanya media tanaman diganti karena respon tanaman yang telah berkurang pada media tersebut yang terlihat pada penampilan tunas menjadi pendek dan layu, daun menguning, ataupun gugur daun. Di samping itu terjadi juga pergantian media tumbuh hal ini dilakukan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman, karena responnya mulai kurang baik.
C. Peran NAA dan BAP dalam Teknik Kultur Jaringan
Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proses lain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon. Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industri kimia maka ditemukan banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT).
Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik bukan nutrisi pada konsentrasi yang rendah dapat mendorong, menghambat atau secara kualitatif merubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Zat pengatur tumbuh tanaman berperan penting dalam mengontrol proses biologi dalam jaringan tanaman (Davies 1995). ZPT utama yang terdapat secara alami pada tanaman adalah auksin, giberilin, sitokinin, asam absisat dan etilen. Auksin mempunyai peran ganda ter-gantung pada struktur kimia, konsentrasi, dan jaringan tanaman yang diberi perlakuan. Pada umumnya auksin digunakan untuk menginduksi pembentukan kalus, kultur suspensi, dan akar, yaitu dengan memacu pemanjangan dan pembelahan sel di dalam jaringan kambium (Pierik 1987). Auksin yang ada
pada tanaman jumlahnya sangat sedikit, maka perlu ditambah auksin eksogen. Dalam proses pembentukan organ seperti tunas atau akar ada interaksi antara zat pengatur tumbuh eksogen yang ditambahkan ke dalam media dengan zat pengatur tumbuh endogen yang diproduksi oleh jaringan tanaman (Winata, 1987). Penambahan auksin atau sitokinin ke dalam media kultur dapat meningkatkan konsentrasi zat pengatur tumbuh endogen di dalam sel, sehingga menjadi faktor pemicu dalam proses tumbuh dan perkembangan jaringan. Untuk memacu pembentukan tunas dapat di-lakukan dengan memanipulasi dosis auksin dan sito-kinin eksogen (Poonsapaya et al.1989). Kombinasi antara sitosito-kinin dengan auksin dapat memacu morfogenesis dalam pembentukan tunas (Flick et al. 1993). Keuntungan memakai ZPT atau perangsang pertumbuhan, antara lain memperbaiki sistem perakaran dan mempercepat keluarnya akar bagi tanaman muda (bibit), mencegah gugur daun, bunga dan buah, memperbanyak pertumbuhan vegetatif dan anakan mempercepat pematangan buah dengan warna seragam dan hasil yang tinggi, meningkatkan proses fotosintesis (Darmawan dan Justika 2010).
1. NAA
Menurut Sriyanti dan Wijayani (1994), NAA (Naphtalene Acetic Acid) adalah zat pengatur tumbuh yang tergolong auksin. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan bahwa auksin dapat meningkatkan sintesa protein yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan.
Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsi utama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang. Beberapa auksin dihasilkan secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA (indoleacetic acid), PAA (Phenylacetic acid), 4-chloroIAA (4-chloroindole acetic acid) dan IBA (indolebutyricacid) dan beberapa lainnya merupakan auksin sintetik, misalnya NAA (napthaleneacetic acid), 2,4-D (2,4 dichlorophenoxyacetic acid) dan MCPA (2-methyl-4chlorophenoxyacetic acid).
9
2. BAP
Kelompok sitokinin yang merupakan turunan adenin paling aktif dalam proses pembelahan sel adalah Benzil Amino Purin (BAP). Perlakuan sitokinin pada seluruh tanaman untuk memproduksi tunas sebagai sumber eksplan pada mikropropagasi atau perbanyakan konvensional sangat disarankan (Norton and Norton 1986).
Benzyl Amino Purin (BAP) salah satu jenis sitokinin yang sering digunakan dalam kultur jaringan. BAP merupakan turunan adenin yang disubstitusi pada posisi 6 yang bersifat paling aktif .Di antara berbagai hormon sitokinin sintetik, BAP paling sering digunakan karena sangat efektif menginduksi pembentukan daun dan penggandaan tunas, mudah didapat dan harganya relatif murah. Pada eksplan yang ditambahkan hormon BAP akan tumbuh tunas. Usaha untuk menghasilkan jumlah tunas yang maksimum, penentuan jenis zat pengatur tumbuh dengan kombinasi metode pengkulturan merupakan salah satu kunci penting dalam kultur jaringan. Penggunaan hormon BAP untuk menggandakan tunas secara in vitro banyak berhasil pada tanaman temulawak.
III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 hingga April 2016. Bahan eksplan berasal dari hasil dan penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.
B. Bahan dan Alat Penelitian 1. Persemaian benih
Media yang digunakan dalam persemaian ini adalah tanah alfisol dan pasir. Tanah dan pasir digunakan untuk menyemai benih kencur dengan perbandingan 3:1. Alat yang digunakan antara lain nampan, polibag dan semprotan.
2. Pembuatan media dasar Murashige dan Skoog (MS)
Bahan yang digunakan dalam pembuatan media ini adalah gula pasir halus, agar, aquades, larutan hara makro, larutan hara mikro, NAA, BAP, dan larutan FEDTA. Alat yang digunakan antara lain magnetic stirrer, pH meter, gelas ukur, autoclave, timbangan analitik, botol kultur dan tutup aluminium.
3. Penanaman eksplan
Bahan yang digunakan dalam penanaman ini adalah eksplan kencur, spirtus, alkohol, chlorox dan aquades steril. Alat yang digunakan antara lain laminar air flow, pinset, pisau dan lampu bunsen.
C. Perancangan Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kombinasi pemberian NAA dan BAP sebagai berikut:
a. B0N0 = 0 ppm BAP + 0 ppm NAA b. B1N0 = 2 ppm BAP + 0 ppm NAA c. B2N0 = 4 ppm BAP + 0 ppm NAA d. B3N0 = 6 ppm BAP + 0 ppm NAA e. B0N1 = 0 ppm BAP + 0,5 ppm NAA f. B1N1 = 2 ppm BAP + 0,5 ppm NAA 10
11 g. B2N1 = 4 ppm BAP + 0,5 ppm NAA h. B3N1 = 6 ppm BAP + 0,5 ppm NAA i. B0N2 = 0 ppm BAP + 1 ppm NAA j. B1N2 = 2 ppm BAP + 1 ppm NAA k. B2N2 = 4 ppm BAP + 1 ppm NAA l. B3N2 = 6 ppm BAP + 1 ppm NAA m. B0N3 = 0 ppm BAP + 1,5 ppm NAA n. B1N3 = 2 ppm BAP + 1,5 ppm NAA o. B2N3 = 4 ppm BAP + 1,5 ppm NAA p. B3N3 = 6 ppm BAP + 1,5 ppm NAA
Satu unit perlakuan diulang 3 kali sehingga jumlah keseluruhan 48 unit percobaan.
D. Pelaksanaan Penelitian
Tata laksana penelititan direncanakan sebagai berikut: 1. Persemaian benih
Eksplan diperoleh dari benih yang berasal dari lahan di Sukoharjo. Penyemaian dilakukan dengan media tanam yang terdiri atas tanah dan pasir dengan perbandingan 3:1 dan penanaman dilakukan pada polibag.
2. Pembuatan media tanam
Media yang digunakan sebagai sumber makanan dan media tumbuh eksplan dibuat dari bahan yang terdiri atas larutan hara makro, larutan hara mikro, larutan FEDTA, NAA, BAP, agar, dan gula dicampur dan dimasak hingga mendidih. Setelah mendidih dipindahkan ke dalam botol kultur. Media 1 liter dapat mencukupi media untuk 40 botol kultur. Media harus disterilkan dengan mesin autoklaf sehingga terhindar dari kontaminasi.
3. Sterilisasi Alat
Semua botol dan alat dicuci dan dikeringkan kemudian disterilkan menggunakan autoklaf. Botol dicuci dengan menggunakan sabun dan alat pembersih kemudian dikeringkan di atas wadah kertas. Setelah botol dan alat yang sudah kering botol dibungkus dengan kertas alumunium foil sedangkan
alat dibungkus dengan kertas payung kemudian disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 17,5 psi selama 30 menit. Selama sterilisasi autoklaf ditutup rapat sehingga tekanan di dalam autoklaf naik. Tekanan tinggi tersebut dipertahankan selama 30 menit dengan mengecilkan api, selanjutnya katup dibuka untuk membuang uap air sehingga tekanan akan turun hingga ke tekanan 0 psi dan dilakukan sampai tiga kali. Autoklaf dibuka dan peralatan yang sudah disterilisasi dikeluarkan. Peralatan yang sudah disterilkan disimpan di tempat yang bersih.
4. Sterilisasi Eksplan
Tunas yang tumbuh dipotong beberapa bagian untuk menghilangkan noda atau kotoran yang terdapat pada eksplan kemudian disterilisasi dengan cara dicuci. Pencucian dilakukan di bawah air mengalir dan dengan menggunakan sabun sampai bersih kemudian merendam eksplan dalam larutan fungisida dalam waktu 15-30 menit. Setelah dilakukan perendaman pada larutan fungisida eksplan dicuci menggunakan aquades kemudian direndam dalam larutan clorox 5,25% (sunclin 100%) dan dilakukan di dalam Laminar Air Flow ( LAF).
5. Penanaman eksplan
Penanaman eksplan dilakukan di dalam (LAF). Eksplan yang telah disterilisasi di luar LAF dimasukkan ke dalam LAF. Alat-alat yang akan digunakan dalam penanaman eksplan seperti : lampu bunsen, spirtus, pinset, botol kultur jaringan, petridish, kertas buram dan pisau steril dimasukkan ke dalam LAF. Semua proses penanaman dan pengupasan hingga eksplan siap ditanam, dilakukan di dalam LAF untuk menghindari adanya kontaminasi. Penanaman diawali dengan mengambil eksplan dari gelas menggunakan pinset dan merendam eksplan dalam Clorox 5,25% dalam waktu 5 menit kemudian meletakkan eksplan pada petridish untuk dilakukan pengupasan bagian terluar eksplan kemudian dilakukan penanaman ke dalam boltor kultur di atas lampu bunsen untuk menghindari kontaminasi.
13
6. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan terhadap botol-botol kultur yang hanya berisi media maupun yang sudah berisi eksplan disemprot dengan menggunakan spirtus. Penyemprotan dilakukan setiap hari. Penyemprotan pada botol kultur dilakukan untuk menghindari kontaminasi yang disebabkan oleh lingkungan sekitar botol kultur yang kurang steril.
E. Pengamatan Peubah Variabel yang diamati pada penelitian ini, yaitu:
1. Saat muncul tunas
Pengamatan dilakukan pada saat tunas mulai muncul dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan waktu muncul tunas dilakukan dengan hitungan hari setelah tanam (HST)
2. Jumlah tunas
Pengamatan dilakukan pada saat tunas sudah muncul dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan jumlah tunas dilakukan setiap minggu sampai penelitian selesai.
3. Tinggi tunas
Pengamatan dilakukan pada saat tunas sudah tumbuh dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan tinggi tunas dilakukan setiap minggu sampai penelitian selesai
4. Saat muncul akar
Pengamatan dilakukan pada saat akar mulai muncul dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan waktu muncul tunas dilakukan dengan hitungan hari setelah tanam (HST).
5. Jumlah akar
Pengamatan dilakukan pada saat akar sudah muncul dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan jumlah akar dilakukan setiap minggu sampai penelitian selesai.
6. Panjang akar
Pengamatan dilakukan pada saat akar sudah tumbuh dari eksplan. Pengamatan dan perhitungan akar dilakukan setiap minggu sampai penelitian selesai
7. Saat muncul daun
Pengamatan pada daun dilakukan dengan mengamati waktu muncul daun. 8. Jumlah daun
Pengamatan jumlah daun dilakukan dengan menghitung daun pada saat akhir penelitian pada masing-masing tanaman.
F. Analisis Data
Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisa secara deskriptif, karena dari uji kenormalan data, sebaran data tidak normal dan kelengkapannya kurang dari 50%. Sehingga data tidak dapat dianalisis dengan menggunakan analisis ragam.