• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1). digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka 1. Komunikasi Politik Perkembangan komunikasi politik di Indonesia relatif masih baru, hal ini ditandai dengan runtuhnya rezim Orba, dan munculnya reformasi sebagai awal dari kebebasan berpendapat dan berekspresi, khususnya yang berhubungan dengan kegiatan politik. Reformasi membawa perubahan dalam sistem politik Indonesia. Komunikasi politik mulai terbuka menjadi perbincangan hangat bagi semua masyarakat Indonesia. Tidak ada lagi ancaman bagi siapa pun yang berbicara dan berpendapat mengenai suatu persoalan yang berhubungan dengan kinerja pemerintah dan pengawasan DPR. Komunikasi politik menjadi pusat terbentuk diskusi dan forum untuk menyampaikan berbagai ide-ide atau gagasan. Media massa bertumbuh dengan sangat cepat. Berbagai media mulai muncul dengan pemberitaan dan hiburan bagi masyarakat. Demokrasi menjadi kata yang paling banyak digunakan pada masa reformasi saat ini. Menurut Gazali (2004) perkembangan komunikasi politik di Indonesia masih sangat terbatas dan belum ada data yang valid terkait dengan penelitian komunikasi politik hingga tahun 2004. Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Rakhmat (dalam kata pengantar terjemahan buku Nimmo, 2011), bahwa tidak ada yang pasti siapa Doktor komunikasi (politik) di Indonesia. Namun berdasarkan pengamatannya gelar Doktor komunikasi politik pernah ditulis oleh Doktor Astrid S. Sunarjo dalam disertasinya berjudul pengaruh kekuatan politik dengan pendirian dewan pers di Inggris (Die Politichen Krafte hinter der Enstehung Presserates) pada tahun 1964, dan disertasi Doktor Alwil Dahlan berjudul Anonymous Dislosure of Government Information as a Form of Political Communication. Hal ini menunjukkan minat terhadap penelitian komunikasi politik sudah ada namun belum begitu berkembang. Hasil pengamatan Gazali (2004) tentang perkembangan komunikasi politik terdapat empat hal yangcommit cukup berpengaruh terhadap di Indonesia yaitu; to user.

(2) perpustakaan.uns.ac.id. digilib.uns.ac.id. pertama, ilmu komunikasi dan politik masih sama-sama berjuang untuk mendirikan pagar ilmu dalam mendapatkan pengakuan yang lebih signifikan sebagai lapangan studi, terutama berkaitan dengan bagaimana penerapan dan batasan-batasan ilmu tersebut dalam proses analisis, apalagi seringkali hal ini bersinggungan dengan disiplin ilmu sosial lainnya. Kedua, perkembangan ilmu komunikasi sebagai kajian disiplin ilmu di Indonesia seringkali tidak mendapatkan pengakuan dari berbagai disiplin ilmu sosial lainnya, khususnya berkaitan dengan media populer, masyarakat Indonesia seringkali “mencampur-adukan” masalah-masalah yang berkaitan dengan aspek-aspek komunikasi (mana saja) dalam praktek-praktek politik yang mengarah pada proses analisis komunikasi politik sebagai bagian dari kegiatan akademisi. Hal ketiga adalah perkembangan bidang komunikasi politik sebagai suatu bidang ilmu di Indonesia yang bertumbuh pada tradisi pengkajian multi-disiplin atau interdisiplin masih belum mendapat perhatian serius dari ilmuan komunikasi dan politik. Hal keempat merupakan persoalan sejarah dalam sistem politik yang berkaitan dengan komunikasi politik di Indonesia, ditandai dengan penindasan yang luar biasa terhadap kebebasan pers (kebebasan media), dan berkaitan dengan rezim pemerintah yang berkuasa pada masa tersebut, serta sebagian pengamatan merujuk pada rezim orba Soeharto. Berdasarkan kajian-kajian tersebut dapat dikatakan bahwa perkembangan kajian komunikasi politik di Indonesia hingga saat ini masih sangat baru dan awal atau menurut Gazali (2004) masih disebut “barang baru” dalam proses penelitian untuk disiplin ilmu yang multidisiplin. Namun satu hal yang tidak dapat diingkari bahwa pengaruh luar (terutama Amerika Serikat) dalam proses dan komunikasi politik di Indonesia menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan. Riset awal mengenai komunikasi politik yang terkenal dan menjadi rujukan utama dalam penelitian-penelitian selanjutnya adalah riset oleh tiga ilmuan Amerika yaitu Walter Lippmann mengenai opini publik, Harold, D. Lasswell mengenai analisis propaganda, dan Paul L. Lazarsfeld tentang Erie County Study (Kaid, 2004:13). Perkembangan penelitian komunikasi politik selanjutnya bergeser mengikuti perubahan sosial, commit teknologi komunikasi, dan informasi yang to user.

(3) perpustakaan.uns.ac.id.

(4) digilib.uns.ac.id. melandasinya. Gurevicth, Coleman, dan Blumber (2009), mencatat bahwa proses komunikasi politik mulai mengalami perubahan signifikan ketika ditemukannya radio, televisi, dan media baru seperti internet. Radio dan televisi menyediakan panggung (medium) sebagai praktek proses komunikasi politik bagi kandidat calon presiden atau kepala daerah untuk menyampaikan program kerja, visi dan misinya. Sedangkan internet merupakan pusat penyebaran informasi sekaligus menjadi media kampanye dengan biaya murah bagi daerah yang telah mendapat jangkauan jaringan informasi tanpa batas tersebut. Menurut Maarek dan Wolfsfeld (2003:3) komunikasi politik merupakan persoalan yang berkaitan dengan konsep komunikasi dan dunia politik. Mereka menyatakan bahwa komunikasi selalu atau telah menjadi komponen utama dalam proses politik, yang berkaitan dengan bagaimana pemimpin (pemerintah) berkomunikasi dengan publik, bagaimana calon kandidat (pasangan calon Presiden atau Kepala Daerah) berkomunikasi dengan masyarakat pemilih dalam memperebutkan hak suara rakyat, berkenaan dengan isu-isu yang ada di tingkat daerah, nasional bahkan internasional, yang merujuk pada bagaimana pemimpin-pemimpin daerah, nasional, dan dunia membentuk opini mereka untuk mempengaruhi simpati, perhatian masyarakat dan atau diskusi-diskusi publik mengenai isu-isu tertentu. Definisi dari Maarek dan Wolfsfeld lebih pada interaksi antara negara (the state) dan rakyat atau publik (public), yang menimbulkan berbagai pertanyaan dan berfokus pada pembagian tugas serta tanggungjawab yang jelas berdasarkan wewenang yang diberikan. Misalnya apa yang diperoleh rakyat, bagaimana keputusan-keputusan penyelenggara dibuat, dan sejauh mana rakyat dapat mengakses atau menerima penjatahan yang ada. Dalam hal ini komunikasi politik mempunyai tujuan jelas menyangkut penjatahan bagi apa yang rakyat dapatkan. Oleh karena itu McNair (2003:2) menegaskan bahwa komunikasi politik pada dasarnya adalah “purposeful communication about politics” (komunikasi yang diupayakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu). Komunikasi politik merupakan kajian yang menarik, dalam konteks sekarang, tidak hanya diminati oleh para sarjana politik dan komunikasi tetapi juga para sarjana hukum, sosiologi, politisi commit to user aktif di berbagai partai politik.

(5) perpustakaan.uns.ac.id. digilib.uns.ac.id. hingga masyarakat awam yang seringkali berdiskusi mengenai politik di berbagai tempat. Proses komunikasi politik merupakan pertukaran pesan-pesan politik yang berkaitan dengan jalan suatu pemerintahan dalam sistem politik tertentu. Artinya bahwa proses komunikasi politik melibatkan berbagai aktor politik untuk mencapai suatu kepentingan tertentu demi tercapainya proses demokrasi bagi semua masyarakat. Lilleker (2006:6) menegaskan bahwa dalam Negara modern, rumusan terhadap komunikasi politik harus memperhatikan tiga aktor penting yang beroperasi di luar batas-batas negara tunggal yaitu: 1) merujuk pada politik itu sendiri yaitu negara dan aktor-aktor politik yang menyertainya. Peran mereka adalah berkomunikasi dan bertindak kepada publik untuk mendapatkan legitimasi di kalangan publik dan kepatuhan dalam masyarakat; 2) mencakup aktor-aktor non-negara yang terlibat dalam berbagai organisasi untuk motivasi politik, dan badan hukum masing-masing dari organisasi ini dapat mempengaruhi pemilih (dalam kampanye pemilu) dan pada tingkat tertentu memiliki pengaruh yang signifikan; dan 3) media menjadi saluran dan sekaligus berkomunikasi tentang politik pada tingkat tertentu dapat mempengaruhi komunikasi politik kepada masyarakat luas yang bebas, plural, dan terbuka. Pandangan ini melihat bahwa komunikasi politik terjadi melalui aktor politik pada tingkat tertentu, mereka saling mempengaruhi dan mengatakan apa yang mereka inginkan, serta pada kesempatan tertentu memungkinkan munculnya satu kelompok yang dapat merumuskan argumen, pendapat, persepsi atau sikap yang dominan dalam merumuskan apa yang dianggap paling tepat untuk suatu kebijakan atau persoalan tertentu. Pada tingkat yang paling awal dan sederhana biasanya terjadi melalui komunikasi interpersonal. Penelitian yang dilakukan penulis saat ini termasuk dalam konteks komunikasi politik. Komunikasi politik mencakup aspek-aspek komunikasi massa dan komunikasi interpersonal dan telah mengambil konsep dari banyak disiplin ilmu. Mulai dari jurnalisme sampai psikologi (Berger, Rolof, dan Ewoldsen, 2014:24). Pandangan ini sejalan dengan pendapat Graber atau Kaid yang menjelaskan bahwa “riset komunikasi politik dipedomani empat perspektif dasar yaitu retorik, kritis, commitinterpretif, to user dan efek”. Selain itu juga ada.

(6)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. perspektif lain yang cukup berkembang yaitu “penentuan agenda, penggunaan dan pemuasaan (uses and gratification)” (Berger, Rolof, dan Ewoldsen, 2014:25). Topik-topik mengenai penelitian komunikasi politik seringkali tentang “cakupan topik utama yang relevan antara lain debat politik, periklanan politik, retorika politik, liputan kampanye politik oleh media, dan peranan media dalam pembelajaran kewarganegaraan” (Berger, Rolof, dan Ewoldsen, 2014:25). Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut maka sebenarnya peran komunikasi politik menjadi hal yang penting untuk dicermati. Untuk itu penelitian ini menggunakan teori the two-step flow of communication (teori dua tahap aliran komunikasi) sebagai teori utama (main theory), konsep elemenelemen komunikasi politik yang dikembangkan oleh Harold, D. Lasswell dan konsep mengenai mediatization dan de-centralization komunikasi politik oleh Brants dan Voltmer (2011:2) dengan tujuan untuk membangun kerangka teori yang relevan terkait dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.. 2. Konsep dan Teori Proses Komunikasi a. The two-step flow of communication theory The. two-step. flow. of. communication. theory. adalah. teori. yang. dikembangkan oleh Paul Lazarsfeld dan para koleganya dalam serangkaian penelitian. Teori ini merupakan respon penolakan terhadap pengaruh media massa yang besar bagi individu oleh beberapa sarjana, terutama berkenaan dengan kegagalan Lasswell dalam membedakan pengaruh institusi media pada individu. Lazarsfeld dan Katz (dalam Laughey, 2007:8) menyatakan bahwa: it now has become increasingly clear that the individual person who reads something and talks about it with other people cannot be taken simply as a simile for social entities like newspapers or magazines. He himself [sic] needs to be studied in his two-fold capacity as a communicator and as a relay point in the network of mass communications. Artinya sekarang telah menjadi semakin jelas bahwa individu yang membaca dan berbicara tentang sesuatu dengan orang lain tidak dapat commit to user diambil hanya sebagai kiasan untuk entitas sosial seperti koran atau.

(7)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. majalah. Dia sendiri perlu dikaji dengan kapasitas dua kali lipat sebagai komunikator dan sebagai titik estafet dalam jaringan komunikasi massa. Lasswell. merumuskan. rantai. komunikasi. (elemen-elemen. komunikasi) berdasarkan prinsip bahwa pesan media akan melalui sumber kelembagaan kepada individu A, dan dari individu A kepada individu B dan seterusnya dalam urutan yang relatif mudah. Sedangkan Lazarsfeld dan Katz mempelajari aliran pesan media menggunakan apa yang mereka sebut “analisis dampak”, yang membandingkan peran pemimpin opini untuk peran media dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan individu (dalam Laughey, 2007:8). Lazarsfeld dan Katz mengatakan bahwa kita harus tahu satu atau dua pemimpin opini di antara teman-teman dan anggota keluarga dengan siapa kita berbaur. Mereka adalah orang-orang yang memiliki opini tentang segala sesuatu; yang memimpin percakapan seolaholah berbicara secara alami; dan yang mungkin sebaliknya disebut “penggerak” dan “pelopor” di antara partai mereka (Laughey, 2007:9). Lazarsfeld dan Katz mempelajari dampak mengenai pemimpin opini di antara perempuan di Dekator, dan menemukan bahwa “pemimpin opini” nampaknya akan mendistribusikan opini mereka pada kelompok pekerja, dan setiap tingkat sosial dan ekonomi (Laughey, 2007:12). Mereka berpendapat bahwa pemimpin opini dapat ditemukan di setiap level masyarakat, dan pada kondisi tertentu cenderung mengekspos diri mereka untuk pesan media lebih daripada individu dogmatis. Hasil penelitian tersebut disebut sebagai two-step flow of communication theory. Asumsi dari teori ini yaitu “ide-ide seringkali, nampaknya mengalir dari radio dan media cetak kepada pemimpin opini dan dari mereka ke bagian kurang aktif dari populasi” (Katz, 1957; Laughey, 2007:12). Penelitian awal oleh Lazarsfeld dikenal dengan People's Choice, merupakan analisis proses komunikasi yang berkaitan dengan pengambilan keputusan individu selama kampanye pemilu. Mereka menyatakan bahwa aliran komunikasi massa mungkin mempunyai pengaruh tidak langsung daripada yang biasanya. Pengaruh media massa dialirkan pada pemimpin opini, selanjutnya menyampaikan yang mereka baca dan dengar (lihat) commitapa to user.

(8)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. dalam kehidupan sehari-hari, dan untuk menanamkan pengaruh pada masyarakat (Katz, 1957). Katz (1957) mencatat bahwa hampir tujuh belas tahun sejak penelitian mengenai pemungutan suara dilakukan, Biro Penelitian Sosial Terapan dari Universitas Columbia telah berusaha untuk menguji hipotesis dan membangun teori two-step flow of communication dengan melakukan empat studi yang berkaitan dengan teori tersebut yaitu penelitian Merton mengenai pengaruh interpersonal dan perilaku komunikasi di Rovere; Decatur tentang pengambilan keputusan dalam pemasaran, mode, menonton bioskop, dan urusan publik yang dilaporkan oleh Katz dan Lazarsfeld; Elmira tentang kampanye pemilu tahun 1948 yang dilaporkan oleh Berelson, Lazarsfeld dan McPee; dan penelitian terbaru oleh Coleman, Katz dan Menzel mengenai difusi obat baru di antara doktor. Serangkaian penelitian-penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat berfungsi sebagai kerangka upaya melaporkan keadaan sekarang dengan merumuskan sejauh mana teori tersebut dapat menemukan konfirmasi dan cara-cara yang diperpanjang, dikontrak, dan dirumuskan. Selain itu juga menyoroti strategi yang dikembangkan dalam upaya memperhitungkan sistematis hubungan interpersonal dalam desain komunikasi. Titik awal dari teori two-step flow of communication adalah pengujian Lazarsfeld dalam penelitian mengenai kampanye pemungutan suara tahun 1940 yang menguji tiga rangkaian rumusan asli dari hipotesis yang ada. Pertama, yang harus dilakukan adalah dampak pengaruh pribadi (individu). Asumsinya bahwa orang-orang membuat pikiran (keputusan memberikan hak suara) mereka di akhir kampanye, dan orang-orang yang mengubah pikiran mereka selama kampanye, lebih mungkin dibandingkan dengan orang lain menyebutkan pengaruh pribadi sebagai tindadakan dalam keputusan mereka. Tekanan politik dibawa untuk menanggung setiap hari dari kelompok seperti keluarga dan teman-teman yang diilustrasikan dengan mengacu pada homogenitas politik yang mencirikan kelompok tersebut. Dalam hal ini Katz (1957) mencatat bahwa kontak pribadi tampaknya lebih. commit to user.

(9) perpustakaan.uns.ac.id.  digilib.uns.ac.id. sering dan efektif daripada media massa dalam mempengaruhi keputusan memilih. Rumusan kedua berhubungan dengan aliran pengaruh pribadi yaitu pengaruh interpersonal yang merujuk pada pertanyaan mengenai seberapa penting pengaruh beberapa orang daripada yang lainnya dalam transmisi pengaruh. Hal ini merujuk pada pengaruh pemimpin opini berdasarkan pada dua pertanyaan yaitu apakah Anda mencoba untuk meyakinkan orang dengan ide-ide politik Anda?, dan Apakah ada yang baru-baru ini meminta Anda untuk saran pada pertanyaan politik?. Hal ini untuk melihat pengaruh pemimpin opini di setiap kelas sosial dan pekerjaan melalui pengaruh teman-teman, rekan kerja dan kerabat atau keluarga. Artinya bahwa pemimpin opini dapat ditemukan di setiap lapisan masyarakat dan mungkin dalam kondisi tertentu dapat mempengaruhi orang-orang yang dapat dipengaruhi. Rumusan ketiga yaitu perbandingan lebih lanjut dari para pemimpin opini dan orang lain sehubungan dengan kebiasaan media massa. Asumsi ini menyatakan bahwa pemimpin opini jauh lebih terkena media komunikasi formal (radio, surat kabar, dan majalah) dibandingkan dengan penduduk biasa. Dengan demikian argumen menjadi jelas yaitu jika word of mout sangat penting, dan jika word of mouth spesialis (pemimpin opini) secara luas tersebar, dan jika spesialis ini lebih terekspos ke media daripada orang-orang yang mereka pengaruhi, maka mungkin pengaruhnya akan lebih kuat daripada yang lain. Untuk alasan demikian Berelson (2007) menyatakan bahwa komunikasi dipahami sebagai transmisi simbol-simbol pesan melalui media komunikasi massa–radio, koran, film, majalah, buku dan saluran utama komunikasi personal (pribadi) – percakapan pribadi. Sedangkan opini publik merupakan respon masyarakat (yaitu persetujuan, ketidaksetujuan, atau ketidakpedulian) untuk isu-isu politik dan sosial yang kontroversial menyita perhatian umum seperti hubungan internasional, kebijakan nasional (daerah), pasangan calon pada Pemilu dan sebagainya. Katz (2015) mengatakan bahwa penelitian Lazarsfeld telah banyak menginspirasi teori kontemporer ini, salah satunya adalah teori twocommitsaat to user.

(10)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. step flow of communication dan pemimpin opini. Hal ini telah menjadi agenda penelitian media selama 70 tahun, sejak penerbitan edisi pertama the people's choice. Katz (2015) mengatakan bahwa awal dari penelitian tersebut berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam kampanye pemilu, perhatian terhadap kekuatan relatif dari pengaruh pribadi pada perubahan penilaian, dibandingkan dengan pengaruh media. Arah penelitian selanjutnya menurut Katz (2015) dapat direalisasikan pada media dan komunikasi interpersonal yang tidak dalam kompetisi, melainkan terhubung erat. Hal tersebut memunculkan hipotesis pada teori two-step flow of communication, di mana orang-orang di antara aktor politik cerdas dan percaya diri, dan suka berteman yang kemudian dikenal luas pemimpin opini telah bertindak menjadi sumber informasi bagi rakyat di kalangan lingkungan mereka. Mutz dan Young (2011) menyatakan bahwa penelitian Katz dan Lazarsfeld tentang pengaruh media dan komunikasi interpersonal telah membawa perubahan baru dalam masyarakat. Penelitian awal mengenai pengaruh media dan opini publik sebagian besar disebabkan oleh kekuatan persuasif dalam hubungan personal. Pengaruh personal seringkali berhubungan dengan legitimasi kekuasaan yang pada kondisi tertentu, orang dapat saling mempengaruhi satu sama lain untuk berbagi kegiatan sebagai akibat dari hubungan personal mereka. Pengaruh mereka (pemimpin opini) kadang-kadang melampaui isi komunikasi mereka yang menurut Mutz dan Young (2011) memiliki dua pengaruh utama. Sedangkan pengaruh media massa formal hanya memiliki satu pengaruh. Dengan kata lain orang-orang selalu. peduli. menjaga. hubungan. sosial. sehingga. mereka. akan. memperhatikan apa yang teman atau rekan kerja dan anggota keluarga mereka katakan untuk suatu alasan tertentu dalam isi komunikasinya. Hal ini disebut Mutz dan Young sebagai jaringan interpersonal (interpersonal networks). Penelitian Mutz dan Martin (2001) menggunakan data survei nasional untuk menguji sejauh mana berbagai sumber informasi politik mengekspos orang yang berbeda politik. Hipotesisnya adalah commit pandangan to user.

(11). digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. kemampuan individu dan keinginan untuk berlatih selektif atas setiap paparan merupakan faktor kunci dalam menentukan apakah sumber tertentu berhasil memaparkan pandangan berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kurang beragamnya perspektif berita media Amerika, namun mereka menemukan individu yang terkena pandangan politik tertentu kurang berpengaruh dengan paparan media dibandingkan dengan diskusi politik interpersonal. Media hanya berguna sebagai sumber informasi yang relatif sulit dan sangat rendah untuk melakukan pengaruh mengingat sifat impersonal dari media massa. Studi selanjutnya adalah studi pustaka oleh Mutz dan Young (2011) yang berkenaan dengan tiga tema sentral dalam sejarah penelitian komunikasi dan opini publik dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tema-tema tersebut adalah 1) berfokus pada berbagai proses komunikasi politik yang sedang berlangsung dalam lingkungan tertentu; 2) pemaparan selektif mengenai komunikasi politik; dan 3) hubungan antara media massa dan komunikasi politik interpersonal. Mutz dan Young menyatakan pentingnya tema-tema tersebut yang menekankan pada bagaimana perubahan teknologi telah membuat mereka (jika semuanya) lebih relevan daripada ketika pertama kali diidentifikasi sebagai perhatian utama sebagai disiplin ilmu.. b. Konsep Proses Komunikasi menurut Lasswell Teori two-step flow memberikan penjelasan yang cukup baik dalam melihat pengaruh selektif komunikasi interpersonal pada pesan media massa, namun terbatas untuk menjelaskan bagaimana proses pesan politik dan komponen komunikasi lainnya yang juga berpengaruh terhadap perilaku memilih seseorang. Untuk itu menurut Lasswell (Laughey, 2007:16) setiap tindakan komunikasi, apakah tatap muka atau mediasi dapat dikaji melalui lima proses yang membutuhkan metode terpisah dari setiap analisis. Meskipun Lasswell tertarik pada lima proses komunikasi tersebut namun yang paling penting adalah pertanyaan mengenai ide-ide yang berhubungan dengan efek komunikasi.. commit to user.

(12). digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. Lima komponen komunikasi dalam bentuk pertanyaan yaitu; 1) who; 2) says what; 3) in which channel; 4) to whom; dan 5) with what effect. Menurut penulis, masing-masing komponen saling berhubungan satu dengan lainnya sehingga jika salah satu dari unsur tersebut hilang atau tidak dimasukkan maka akan menghambat proses jalannya komunikasi. Komponen pertama dapat merujuk pada komunikator, sumber, atau pengirim. Komponen kedua merujuk pada pesan yang disampaikan, sedangkan komponen ketiga pada media atau saluran yang digunakan dalam menyampaikan pesan. Sedangkan komponen keempat merujuk pada komunikan. (communicant,. communicate,. receiver,. recipient). dan. komponen terakhir merujuk pada efek (effect, impact, influence) (Cangara, 2014:21). Berdasarkan proses komunikasi menurut Lasswell tersebut maka McQuail dan Windahl (Laughey, 2007:17) mengatakan bahwa: Rumusan Lasswell menunjukkan sifat khas model komunikasi awal: kurang lebih membutuhkan waktu bahwa komunikator memiliki beberapa tujuan mempengaruhi penerima dan, karenanya, komunikasi harus diperlakukan terutama sebagai proses persuasif. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pesan selalu memiliki efek. Lasswell (Fiske, 2007:46) merumuskan definisi komunikasi cukup lengkap yang telah banyak dikutip. Rogers (dalam Kaid, 2004:14) menyatakan bahwa konseptual definisi komunikasi yang diciptakan oleh Lasswell. sebenarnya. merupakan. “penggunaan. metodologi. untuk. menganalisis pesan-pesan media, khususnya pesan propaganda media pada masa perang”. Akan tetapi konsep ini digunakan luas untuk riset komunikasi politik secara khususnya dan ilmu komunikasi secara umum. Proses komunikasi melibatkan unsur-unsur komunikasi sebagai body of knowledge meliputi sumber (komunikator), pesan, media, penerima, efek (pengaruh), umpan balik, dan lingkungan. Berikut penjelasan unsur atau elemen-elemen komunikasi sebagai berikut:. commit to user.

(13). digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. 1) Komunikator Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan kepada khalayak (komunikan). Komunikator politik seringkali sebagai orang yang menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan langsung dengan aktivitas politik. Dalam arti umum semua orang adalah komunikator, namun dalam settingan politik siapa pun dapat disebut sebagai komunikator politik (Nimmo, 2011:28). Menurut Nimmo (2011:29) komunikator politik adalah “orang yang menduduki posisi penting, yang peka di dalam jaringan sosial, menanggapi berbagai tekanan dengan menolak dan memilih informasi, semuanya terjadi dalam sistem sosial yang bersangkutan”. Popper menegaskan bahwa (dalam Nimmo 2011:29) komunikator politik adalah orang-orang yang dianggap sebagai para pemimpin yang menduduki posisi penting: Mereka menciptakan opini publik dan berhasil membuat beberapa gagasan yang mula-mula ditolak, kemudian dipertimbangkan, dan akhirnya diterima, karena itu, di sini opini publik dipahami sebagai sejenis tanggapan publik terhadap pemikiran dan usaha para pemikir aristokrat yang menciptakan pemikiran-pemikiran baru, gagasan-gagasan baru, dan argumenargumen baru. Komunikator politik seringkali memposisikan diri mereka dalam masyarakat sebagai bagian penting yang tak terpisah dalam situasi sosial yang sama dalam keadaan sosial masyarakat, terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat, dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam keadaan sosial yang dirasakan masyarakat. Namun dalam keadaan tertentu seringkali para komunikator memperbaharui gagasan-gagasan untuk mempengaruhi keadaan sosial di sekitarnya. Penelitian yang dilakukan saat ini menerapkan konsep menurut Nimmo yaitu dalam mengidentifikasi komunikator utama dalam politik. Nimmo (2011:30) mengikuti saran dari Dob bahwa “komunikator politik harus diidentifikasi dan kedudukan mereka dalam masyarakat harus. ditetapkan”.. Proses identifikasi meliputi tiga kategori commit to user komunikator utama dalam politik yaitu; 1) politikus yang bertindak.

(14)

(15) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. sebagai komunikator politik; 2) komunikator professional dalam politik; dan 3) aktivis atau komunikator paru waktu (part time). Kategori pertama, politikus yang bertindak sebagai komunikator adalah orang-orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah yang harus dan memang berkomunikasi tentang politik. Hal ini tidak penting apakah mereka dipilih, ditunjuk, atau pejabat karier dan tidak mengindahkan apakah jabatan mereka adalah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun yang penting adalah mereka bekerja melalui proses komunikasi untuk kepentingan politik dalam mewakili orang banyak. Nimmo (2011:30) menjelaskan bahwa “para politikus mencari pengaruh melalui komunikasi. Mereka adalah para pejabat pemerintah baik. yang dipilih maupun diangkat,. secara tetap. berkomunikasi mengenai sejumlah besar masalah, subjek, dan materi politik yang beraneka ragam”. Menurut Rosenau (dalam Nimmo, 2011:31) para politikus disebut sebagai “pembuat opini pemerintah” yang berkaitan dengan berbagai masalah, namun hanya berfokus pada masalah nasional dan karena itu kita perlu melihat kategori kedua yang disebut Nimmo professional sebagai komunikator politik. Menurut Carey (dalam Nimmo, 2011:33) seorang komunikator professional. adalah. “seorang. makelar. simbol,. orang. yang. menerjemahkan sikap, pengetahuan dan minat suatu komunitas bahasa ke dalam istilah komunitas bahasa yang lain, yang berbeda tetapi dapat dimengerti”. Komunikator professional menjadi penghubung antara golongan elit dalam suatu organisasi manapun dengan khalayak umum dalam tingkat struktur sosial yang sama. Para professional komunikator ini adalah para jurnalis dan para promotor. “Sebagai komunikator professional, jurnalis secara khas adalah karyawan organisasi berita yang menghubungkan sumber berita dengan khalayak (Nimmo, 2011:34).” Mereka secara langsung dapat mengatur para pemimpin pemerintah untuk berbicara satu dengan lainnya, menghubungkan pemimpin pemerintah dengan organisasi, lembaga masyarakat, dan publik umum. Pada tingkat lokal kita dapat mengindentifikasi commit to misalnya user.

(16). digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. calon pemimpin (Gubernur, Bupati, dan Walikota) dan pemimpin partai yang mencurahkan perhatiannya pada tujuan-tujuan terbatas di daerah. Sedangkan promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu antara lain agen publisitas tokoh masyarakat yang penting, personal hubungan masyarakat dari pemerintah atau swasta, pejabat informasi publik pada pemerintah, sekretaris pers pemerintah, dan sebagainya (Nimmo, 2011:34). Kategori ketiga yaitu aktivis sebagai komunikator politik dikategorikan dalam dua hal; 1) mereka yang disebut sebagai juru bicara bagi kepentingan yang terorganisasi; dan 2) mereka yang berada dalam jaringan komunikasi interpersonal utama yang mencakup komunikator politik disebut pemuka pendapat (Nimmo, 2011:35). Kedua kategori aktivis tersebut memainkan peranan yang cukup penting yaitu mempengaruhi keputusan orang lain dan meyakinkan dengan cara berpikir mereka sehingga mereka sangat diperhitungkan sebagai komunikator politik.. 2) Pesan Komunikasi adalah proses menyampaikan pesan. Dalam pesan terdapat makna berisi simbol-simbol dan lambang-lambang verbal yang dapat dipahami melalui cara kerja kognitif manusia. Makna pesan yang disampaikan. oleh. komunikator. akan. diinterpretasikan. sehingga. menghasilkan pemahaman bersama. Namun dalam komunikasi politik, pesan tersebut akan dimaknai dalam pembicaraan politik. Penyampaian pesan politik tidak akan berlaku sama dalam semua situasi, untuk itu interpretasi terhadap pesan sangat diperlukan dalam mengenali peristiwa-peritiwa yang sama dan dapat mengelompokkan peristiwaperistiwa yang berbeda. Menurut Morissan (2013:5) pesan-pesan komunikasi pada umumnya dirumuskan dengan mempertimbangkan konteks verbal dan non verbal. Kedua konteks ini dipertimbangkan karena simbol-simbol yang digunakan akan commit memberikan to userpemahaman dalam makna pesan..

(17)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. Secara verbal, pada dasarnya kata-kata tidak berdiri sendiri, mengandung makna untuk mentranformasikan pesan-pesan dan makna yang dapat mengubah sikap dan perilaku seseorang. Setiap rumusan verbal yang dijadikan sebagai simbol komunikasi selalu berkaitan dengan variabel-variabel lain seperti struktur pesan, makna yang terkandung di dalamnya, dan sebagainya. Sedangkan konteks non verbal merupakan hal penting dalam pembentukan makna dari setiap pesanpesan yang disampaikan. Pesan-pesan nonverbal dapat menjadi salah satu kekuatan pendorong yang memungkinkan munculnya persepsi individu sebelum seseorang bersikap dan berperilaku atas dasar stimulus yang diterimanya. Dalam pengamatan Nimmo (2011:74), pesan politik merujuk pada pembicaraan tentang aktivitas politik yang sampai kondisi tertentu membicarakan tentang tiga hal yaitu kekuasaan, pengaruh, dan otoritas (kewenangan). Pembicaraan kekuasaan merujuk pada usaha untuk mempengaruhi orang lain dengan ancaman atau janji. Misalnya, jika Anda melakukan “X” maka saya akan melakukan “Y”, di sini “X” adalah sikap orang lain yang diinginkan oleh pembicara (komunikator politik), sedangkan “Y” adalah maksud yang dinyatakan untuk memberikan lebih banyak janji atau lebih sedikit ancaman atau kenikmatan akan sesuatu bila sikap itu dilakukan. Nimmo (2011:75) menyatakan bahwa kunci. dari. pembicaraan kekuasaan. adalah. “Komunikator politik mempunyai cukup kemampuan untuk mendukung janji atau ancaman, dan yang lain mengira komunikator politik memiliki kekuasaan itu dan akan melakukannya”. Pembicaraan. pengaruh. merupakan. pembicaraan. yang. menghendaki terjadinya hal-hal yang Anda kehendaki dapat terjadi. Misalnya, Jika Anda melakukan “X” maka Anda akan melakukan (merasa, mengalami, dan sebagainya) “Y”. Artinya bahwa janji, ancaman, penyuapan, dan pemerasan merupakan alat tukar dari kekuatan komunikasi; yang pada komunikasi pengaruh alat-alat tersebut diganti dengan nasihat,commit dorongan, permintaan, dan peringatan. Hal ini to user.

(18)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. seperti yang diungkapkan Bell (dalam Nimmo, 2011:76) bahwa “hubungan kekuasaan berdasar pada kemampuan manipulasi sanksi positif atau negatif, tetapi pemberi pengaruh (prestasi atau reputasinya) dengan berhasil memanipulasi persepsi terhadap pengharapan orang lain terhadap kemungkinan mendapat untung atau rugi”. Artinya bahwa jika pemberi pengaruh (komunikator politik) mengatakan “jika Anda melakukan “X” maka akan terjadi “Y”, yang pada kondisi tertentu terjadi “Y” benar-benar di luar kemampuan pemberi pengaruh (komunikator politik). Pembicaraan otoritas adalah pemberian perintah. Otoritas adalah pemegang kekuasaan yang sah yang telah dilegitimasi oleh UU dan aturan yang menghendaki semua orang taat dan tunduk padanya. Misalnya, lakukanlah “X” atau dilarang melakukan “Y”. Sumbersumber kekuasaan yang dijalankan berdasarkan otoritas yang dimiliki tidaklah sama tapi berbeda. Hal ini karena sumber kekuasaan dapat dikategorikan. Misalnya, keyakinan atau religius atas sifat-sifat penguasa yang bersifat supranatural, daya tarik pribadi penguasa, adat, kebiasaan, kedudukan resmi, dan doktrinasi subjek agar pejabat-pejabat tertentu harus dipatuhi. Berdasarkan uraian Nimmo mengenai pesan politik tersebut maka perlu untuk memahami bagaimana pesan politik direncanakan dan dirancang oleh komunikator politik, kemudian disebarkan dan disampaikan kepada khalayak atau komunikan (masyarakat pemilih). Littlejohn dan Foss (2011:9) menyatakan bahwa para komunikator (politik) seringkali mendisain pesan melalui berbagai model pesan dengan tujuan untuk menarik perhatian (mempersuasi) dalam situasi tertentu (contohnya dalam Pilkada). Dalam penjelasan Nimmo (2011:78), pesan politik merupakan pesan yang diusahakan dapat mempersuasi atau mempengaruhi perilaku dan sikap orang. Dengan kata lain pesan persuasi adalah cara untuk merubah sikap dan perilaku orang dengan kata-kata lisan dan tertulis,. commit to user.

(19)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. menanamkan opini baru dan usaha yang disadari untuk mengubah sikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. 3) Media dan Saluran Media atau saluran dalam konteks politik merupakan saluran penting untuk menyebarkan informasi yang berhubungan langsung dengan aktivitas politik. Menurut McQuail (2011b:13): “media atau saluran horizontal (terutama di antara elit) dan vertikal untuk berkomunikasi dua arah”. Sedangkan menurut Bennet (1982) media adalah “proses saluran komunikasi yang dibentuk dengan cara-cara di mana hal ini terhubung lebih luas dalam keadaan sosial dan proses hubungan politik”. Bennet (1982) menekankan pentingnya membagi kosakata ‘media’, ‘massa’, dan komunikasi yang sering melibatkan asumsi tertentu tentang sifat media. Sedangkan massa adalah istilah tersirat khalayak yang diciptakan oleh media dan dibedakan dalam struktur sosial. Hal ini menjadi jelas jika khalayak pada akhirnya merupakan tujuan akhir dari proses komunikasi pada tingkat yang eksplisit dianggap. sebagai. massa. dari. tujuan. elit. atau. aktor. politik. menyampaikan pesan persuasif mereka. Cara tersebut kemudian dikenal dengan media massa dan media komunikasi massa yang dibangun dari masyarakat untuk menempatkan hubungan antara media dan proses sosial. Penelitian yang dilakukan Walgrave dan Aelst (2006) mengenai hubungan. antara. media. dan. agenda. politik,. tidak. berusaha. mendiskusikan secara umum atau membahas tentang teori media politik dan kekuatan agenda setting. Beberapa temuan dalam penelitian ini antara lain: 1) hasil penelitian bertentangan dengan bukti yang ada; 2) agenda setting politik melalui media bergantung pada sejumlah kondisi; dan 3) variabel input dari model ini bergantung pada isu-isu tertentu yang diuraikan oleh media dan jenis cakupannya. Sedangkan variabel konteks politik meliputi keistimewaan aktor politik dipertaruhkan berada pada model inti. Model ini mengusulkan lima macam hasil. commit to user.

(20)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. (ouput) mulai dari yang tidak ada adopsi politik sampai yang cepat mengadopsi isu-isu politik dari media. Media merupakan saluran informasi yang dapat bersifat dari atas ke bawah dalam hal ini informasi dari politikus (presiden atau pejabat negara lainnya) kepada khalayak. Lang dan Lang (dalam McQuail, 2011a:33) menyatakan bahwa: Media menyajikan aktor politik dengan “pencitraan cermin” akan bagaimana mereka terlihat oleh orang luar. Apa yang mereka sebut sebagai ‘publik penonton’ merujuk pada publik media secara umum; yang menyediakan kelompok rujukan yang signifikan bagi aktor politik, dan sering kali untuk kepentingan para publik penonton, sehingga mereka memberikan kerangka bagi banyak tindakan yang mereka lakukan, yang disebut sebagai proses koalisi. Pandangan Lang dan Lang (dalam McQuail, 2011a:33) sekaligus ditegaskan oleh Nimmo (2011:166) bahwa media adalah “saluran komunikasi atau alat yang memudahkan penyampaian pesan”. Secara khusus Burke mengatakan (dalam Nimmo, 2011:167) bahwa manusia adalah “saluran sekaligus makhluk pencipta dan pemakai lambang untuk melancarkan atau saling tukar pesan”. Pada perkembangan selanjutnya, manusia membutuhkan transmisi media (media massa) yang dapat mengirimkan dan menyebarkan pesan di berbagai tempat yang jauh dan beragam. Menurut Pawito (2009:91) dalam konteks politik modern, media massa “tidak hanya bagian integral dari politik, tetapi memiliki posisi yang sentral dalam politik”. Artinya media massa adalah saluran komunikasi massa yang menyebarluaskan informasi kepada rakyat untuk dapat diketahui dan diskusikan dalam berbagai bentuk forum diskusi publik. Media massa merupakan saluran komunikasi politik yang banyak digunakan terkait dengan berbagai aktivitas politik. Zaller (1999:6) menyebut media massa sebagai media politik yang merupakan saluran. informasi. yang. merujuk. pada. proses. tawar-menawar. tersembunyi para politikus yang hanya memiliki kekuatan relatif kecil. Media politik adalah suatu sistem politik yang memiliki kantor di mana commit to user.

(21)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. para politikus melakukan aktivitas politik melalui komunikasi pada media massa untuk memperoleh dukungan masyarakat. Media politik sebagai sistem artinya media politik disandingkan dengan sistem lain seperti sistem legislatif politik, birokrasi politik dan yudisial politik. Zaller (1999:7) mengkategorikan tiga pelaku utama dalam media politik yaitu para aktor politik (politikus), wartawan, dan publik yang menjadi sasaran informasi dan setiap pelaku utama mempunyai peran masing-masing. Misalnya para aktor politik menggunakan media politik sebagai saluran komunikasi massa untuk memobilisasi. dukungan. publik. yang. mereka. butuhkan. untuk. memenangkan pemilu dan menginformasikan program-program kerja mereka. Wartawan menggunakan media politik untuk menghasilkan cerita yang menarik bagi publik luas yang menekankan pada aspek kerja wartawan yang independen dan berhubungan langsung dengan kode etik jurnalis. Sedangkan media politik untuk publik merujuk pada proses pengawasan terhadap kinerja dan program-program kerja aktor politik. Media massa memainkan peran sentral dalam aktivitas politik. Aspek paling penting adalah penyebaran informasi politik yang dapat di jangkau oleh publik dan masyarakat yang beragam dan tersebarluas di berbagai tempat. Untuk itu maka, Lasswell (dalam Pawito, 2009:93) melakukan kajian mendalam dan merumuskan tiga fungsi utama media massa yaitu: 1) the surveillance of the environment (pengawasan terhadap keadaan lingkungan); 2) the correlation of the parts of society in responding to the environment (menghubungkan bagian-bagian masyarakat dalam merespon lingkungan); dan 3) the transmission of the social hertage from one generation to next (mentransmisikan warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya). Terkait fungsi pengawasan, media massa merujuk pada aktivitas melaporkan dan menyebarluaskan informasi kepada publik untuk diketahui. Kemudian publik merespon berbagai peristiwa yang terjadi dan khususnya berpartisipasi dalam mengontrol dan mengawasi kebijakan pemerintah yang berhubungan commit to user langsung dengan kepentingan.

(22) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. publik.. Sedangkan. fungsi. penghubung. merujuk. pada. saluran. komunikasi yang dapat menjadi sarana bagi pertemuan pemerintah dan publik. Media massa menjadi alat penghubung yang dapat dijadikan forum diskusi, saling memperdengarkan pendapat, tuntutan, dan aspirasi-aspirasi bagi semua masyarakat. Fungsi terakhir media sebagai warisan sosial adalah proses media memberikan sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat luas. Isi sosialisasi dapat berpusat pada norma-norma dan nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat seperti aturan dan toleransi dalam masyarakat, keutuhan dan peraturan yang disepakati bersama untuk ditaati. Melalui jaringan media massa, pesan politik akan menjangkau masyarakat luas yang beragam dan heterogen. Nimmo (2011:167) membagi media menjadi tiga tipe saluran utama media dalam penyampaian pesan yaitu; 1) “media massa” yang juga disebut saluran dari satu ke banyak; 2) “saluran komunikasi interpersonal” merujuk pada “bentukan dari hubungan satu kepada satu; dan. 3). saluran. terakhir. yaitu. “komunikasi. organisasi. yang. menggabungkan penyampaian” pesan politik “dari satu kepada satu dan satu kepada banyak”. Alexander (1970) mengatakan bahwa komunikasi yang efektif adalah penting dalam dua hal bagi mereka yang memegang kekuasaan politik. Pertama, komunikasi efektif memungkinkan orang untuk mengontrol. arah dan kegiatan pemerintah serta. untuk. menggabungkan pendapat dan preferensi tertentu dalam kebijakan dan hukum. Kedua, melalui proses komunikasi yang efektif calon kandidat politik dapat menanamkan kesadaran pada pemilih, partai politik, organisasi politik terkait, dan publik luas untuk mendapat perhatian dari media massa. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa media memainkan peran sentral dalam berbagai aktivitas politik. Moeller dan Vreese (2013) melakukan penelitian survei sosial di Eropa (N=5657) dengan analisis data sekunder untuk melihat pengaruh paparan berita dan konter hiburan pada kepercayaan politik. Mereka juga mengukur sistem politik commit to user.

(23) perpustakaan.uns.ac.id. digilib.uns.ac.id. dan pendidikan untuk mengukur sikap politik dan keterlibatan remaja dalam sosialisasi politik. Hasil penelitiannya menunjukkan ada keterlibatan tingkat yang lebih tinggi di negara-negara dengan demokrasi yang berfungsi lebih baik. Pada tingkat individu, paparan berita positif dari media terkait dengan keterlibatan dengan konsumen politik, sedangkan pemberitaan hiburan berhubungan dengan mobilisasi negatif. Penelitian berbeda dilakukan oleh Yusuf (2012) mengenai peran media lokal dalam konstelasi komunikasi politik di daerah. Hasil penelitian menyatakan bahwa peran media lokal sangat berpengaruh pada tiga level yaitu mikro, meso dan makro. Pada level mikro merujuk pada produk media berupa isi atau teks media yang secara sederhana terlihat dari objektivitas yang disajikan. Level meso meliputi dinamika manajerial perusahan pers yang sehat secara ekonomi dan bisnis. Sedangkan level makro mencakup aturan dan UU yang jelas bagi pers lokal yang mengartikan fungsinya. Selain itu faktor idealisme yang terkait dengan partisipasi dan konsistensi media sebagai pemantauan kekuasaan di daerah guna untuk menciptakan good local goverenment, yaitu menjamin adanya partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas di daerah. McChesney (dalam Cangara, 2014:23) berpendapat bahwa hampir semua varian teori sosial dan politik menguraikan bahwa sistem media dan komunikasi merupakan landasan dari masyarakat modern. Dalam sistem politik tertentu, mereka (sistem media dan komunikasi) melayani dan membantu proses demokrasi. Artinya media massa merupakan sumber utama dalam berbagai aktivitas dan peristiwa politik yang dapat diketahui. Media massa melaporkan dan menyebarluaskan berbagai peristiwa politik, tentang berbagai pendapat dan pikirianpikiran pemimpin politik, pernyataan yang di sampaikan, calon kandidat kepala daerah, strategi dalam memenangkan Pilkada, visi dan misi, janji-janji yang akan dilakukan setelah terpilih menjadi pejabat nasional atau daerah, kampanye pemilu akan di gelar, kemampuan berdebat commit yang to user.

(24) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. melalui ruang dan tempat yang disediakan media, dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Lichtenberg (dalam Cangara, 2014:27) bahwa media telah menjadi aktor utama dalam politik. Aktivitas media massa sebagai saluran informasi kepada publik, maka selalu mengemas berbagai pesan dan peristiwa (politik) yang menarik untuk dicermati oleh berbagai khalayak. McNair (2003:17) mengatakan bahwa fungsi media massa bagi komunikasi politik adalah menyampaikan (transmitters) pesan-pesan politik dari luar pihak dirinya sekaligus menjadi pengirim (senders) pesan politik yang dibuat oleh para wartawannya. Para aktor politik media massa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan politik (program-program politik, berbagai kebijakan, kampanye pemilihan, dan sebagainya) kepada khalayak; sementara untuk para wartawan media massa adalah wadah (alat) untuk memproduksi pesan-pesan politiknya guna dapat menjangkau berbagai tempat tertentu.. 4) Khalayak (Receiver) Khalayak komunikasi politik merupakan publik yang menerima pesanpesan. politik. dari. komunikator. melalui. saluran. komunikasi. interpersonal, organisasi, dan saluran media massa. Menurut Nimmo (2010:2) khalayak komunikasi politik adalah publik yang “kepada siapa” pesan-pesan politik itu dituju. “Sebagian khalayak itu merupakan khalayak massa yang terorganisasi, sebagian dari khalayak pluralis dari publik tertentu, dan sebagian adalah khalayak yang tersusun dari agregat individu”. Lang & Lang (2009) mencatat bahwa konsep mengenai “massa harus dilihat jauh kembali untuk menandai suatu masyarakat yang terdiri dari orang-orang, pada kondisi tertentu terhubung dengan komunikasi, pada saat yang sama juga tersebar dalam ruang dan pada dasarnya terpisah dari satu sama lain”. Kemudian massa tersebut terhubung dengan komunikasi diartikan sebagai “komunikasi massa”, hingga pada kondisi di manatoorang-orang mulai berbicara tentang commit user.

(25) perpustakaan.uns.ac.id.

(26) digilib.uns.ac.id. media, sebagai alat saluran (teknologi informasi modern) atau instansi pemerintah yang memungkinkan untuk menyebarluaskan konten seragam yang sama ke banyak geografis. Khalayak komunikasi politik merupakan “tujuan dari semua komunikasi ini, seperti yang telah dicatat”, adalah untuk mempersuasif (membujuk), dan target dari persuasi merujuk pada khalayak yang merupakan elemen pokok dari proses komunikasi politik tanpa ada politik pesan yang memiliki relevansi dengan keadaan apapun (McNair, 2003:23). Secara umum khalayak komunikasi politik dapat dibentuk dari setiap segmen opini publik yang terbagi dalam tiga segmen yaitu opini massa, opini kelompok, dan opini rakyat (Nimmo, 2010:3). Opini massa merujuk pada dua gagasan pokok yang terjemahan dari opini publik yaitu sebagai karakter nasional, komunitas, kesadaran jiwa, dan kumpulan mitos. Sedangkan yang kedua bersumber dari budaya politik dan konsensus politik. Opini kelompok merujuk pada dua hal yaitu kepentingan tak terorganisasi dan kepentingan yang terorganisasi (Nimmo, 2010:10). Kepentingan tak terorganisasi di definisikan sebagai “bagian tertentu dari orang-orang dalam masyarakat yang diperlakukan tidak seperti massa fisik terpisah dari massa lain, tetapi sebagai kegiatan massa yang tidak menghalangi orang berpartisipasi di dalamnya kegiatan kelompok lainnya” (Nimmo, 2010:11). Menurut Nimmo (2010:13) ada tiga tipe publik yang tak terorganisasi yaitu publik atentif (publik yang memperhatikan), publik berpikiran isu, dan publik ideologis. Publik atentif terdiri atas seluruh warga negara yang dibedakan berdasarkan tingkatnya yang tinggi dalam keterlibatan politik, informasi, perhatian, dan berpikir kewarganegaraan. Tipe tersebut sering berperan sebagai pemuka pendapat, seperti komunikator professional dan juru bicara kelompok. Sedangkan publik berpikiran isu adalah bagian dari publik atentif yang lebih tertarik pada isu khusus daripada politik pada umumnya. Publik ideologis merujuk pada kelompok orang commit yang memiliki to user sistem kepercayaan tertutup,.

(27) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. menggunakan ukuran nilai-nilai suka dan tidak suka, yang secara logis saling melekat dan tidak berkontradiksi satu dengan lainnya. Opini kelompok yang merujuk pada kepentingan terorganisasi menurut Truman (dalam Nimmo, 2010:35) adalah “setiap kelompok yang berdasarkan satu atau lebih sikap yang dimiliki bersama, pemeliharaan, atau peningkatan bentuk perilakunya disiratkan oleh sikap bersama”. Kelompok kepentingan terorganisasi merupakan orangorang yang berada dalam kelompok kepentingan yang dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah seperti lembaga sosial masyarakat, asosiasi, dan sebagainya. Opini rakyat merujuk pada seluruh masalah nasional dan internasional, mencakup jumlah ungkapan individual, yang distribusi jumlahnya atau persentase yang mendukung dan menentang pendirian. Meskipun mengenai berbagai masalah, individu mendapat sedikit relatif informasi, kebanyakan masih bersedia menyatakan preferensinya jika ditanya. Dalam hal ini isi kognitif opini rakyat relatif rendah namun isi afektifnya tinggi. Rakyat mengungkapkan kepercayaan, nilai, dan pengharapan mereka tentang objek politik yang sangat beragam. Opini rakyat dibentuk dalam saluran media massa mengenai suatu objek berita atau peristiwa (politik) tertentu yang mengakibatkan sejumlah besar orang yang berkaitan dengan isu politik tertentu. Opini publik harus dilihat dari konsep opini dan publik. Opini merujuk pada dua cara yaitu; pertama, dalam arti epistemologis, opini ditandai sebagai suatu fakta dan untuk beberapa alasan yang lebih luas diketahui, dibedakan dari persoalan keputusan atau pertimbangan (sebuah pendapat) dari persoalan yang dikenal sebagai fakta atau menyatakan. keimanan.. Kedua,. istilah. opini. digunakan. untuk. menunjukkan pendapat atau keputusan (judgment), harga diri, atau reputasi (seperti pendapat yang lebih tinggi dari seseorang) (Price, 2007). Kedua indera tersebut terhubung pada gagasan dan kepercayaan yang dalam satu kasus penekanannya pada nilai kebenaran sesuatu yang. commit to user.

(28)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. dipercaya, sedangkan pada sisi lain penekanannya pada dimensi keputusan moral, yaitu persetujuan atau kecaman. Kata publik berasal dari bahasa latin – publicus artinya “orangorang”, dalam beberapa hal memiliki kesamaan makna yang dapat dilihat. Dalam beberapa hal yang, pertama: publik digunakan untuk akses umum dengan daerah terbuka untuk masyarakat umum yang dianggap publik. Kedua, publik merujuk pada keadaan umum dan baik, tidak dalam arti akses (atau milik) melainkan dalam arti yang mewakili (yaitu, dalam nama) seluruh rakyat (Price, 2007). Dengan demikian konsep mengenai opini publik (Price, 2007) adalah: Referred to the social customs and manners of this growing class of prosperous “men of letters” but by the close of the century it was being used in an expressly political context, often in conjunction with cousin phrases such as “common will,” and “public conscience.” Berinsky (1999) melakukan penelitian pada jajak pendapat publik sebagai bentuk representasi tradisional dari partisipasi politik. Data analisis diambil dari National Elections Study (NES) tahun 1992, hasilnya bahwa jajak pendapat publik menekankan pada upaya mendukung pemerintah untuk mengintegrasikan sekolah-sekolah. Secara khusus, hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang yang. tidak. setuju. dengan. diintegrasikan. sekolah,. cenderung. menyembunyikan pendapat mereka yang tidak dapat diterima secara sosial. Sedangkan dalam temuan yang lebih umum dengan metode yang sama, jajak pendapat umum berlawanan dengan integrasi sekolah juga dapat memprediksi hasil pemilihan Walikota New York tahun 1989 lebih akurat daripada secara garis besar pada pra jajak pendapat pemilu.. 5) Efek Proses komunikasi melibatkan pertukaran pesan-pesan politik para partisipan yang terlibat. Dalam situasi tertentu terjadi penyampaian pesan-pesan yang memiliki signifikan dengan politik. Pesan-pesan yang disampaikan, kemudian mendapatkan respon yang pada tahap commit to user.

(29) perpustakaan.uns.ac.id.  digilib.uns.ac.id. selanjutnya menimbulkan pengaruh (efek) tertentu dalam proses komunikasi. Menurut McQuial (1979:2) pertanyaan mengenai efek media melalui komunikasi massa tidak mendapatkan pengaruh yang pasti atau jarang menemukan efek langsung dari media komunikasi massa. Pengaruh efek media tidaklah sebesar seperti institusi lain dalam hal ini agama, pendidikan, dan hukum yang semuanya dapat dikomunikasikan kepada publik atau fakta-fakta publik yang dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan berkenaan dengan efek media massa harus dilihat pada level efek, jenis efek, dan proses yang dilakukan dengan berbagai strategi penelitian dan metode (McQuail, 1979:2). Pada dasarnya penelitian mengenai efek media komunikasi massa berkenaan dengan keadaan media itu sendiri atau proses yang ciri-ciri khusus dapat di evaluasi. Dalam hal ini penting untuk melihat dari keadaan media yaitu; 1) kampanye pemilu; 2) definisi dari realitas sosial dan norma-norma sosial; 3) respon atau reaksi langsung segera; 4) perubahan institusi; dan 5) perubahan budaya dan masyarakat (McQuail, 1979:2). Sehubungan dengan konteks masyarakat, efek dalam komunikasi politik menurut Pawito (2009:13) adalah “proses tarik-menarik terhadap berbagai unsur kepentingan yang ada dalam masyarakat dengan menggunakan tanda-tanda pesan untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu”. Dengan demikian maka efek komunikasi politik merupakan proses memperjuangkan berbagai kepentingan publik melalui pesanpesan verbal dan nonverbal serta saling mempengaruhi berbagai kebijakan pemerintah dalam suatu sistem politik. Sejalan dengan pemahaman tersebut maka Dye dan Zeigler (dalam Pawito, 2009:13) berpendapat bahwa “politik di satu sisi merupakan persoalan siapa memperoleh apa (who gets what), namun di sisi lain juga berhubungan dengan persoalan siapa mengatakan apa (who says what)”. Pengaruh (efek) dari komunikasi politik terkadang dapat diprediksi, namun terkadang tidak dapat diprediksi karena kepentingan commit to user.

(30)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. dari berbagai kelompok masyarakat sulit dirumuskan dan dipetakan dalam pesan-pesan politik yang disampaikan. Pengaruh dalam komunikasi politik dapat terjadi dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pada tingkat pengetahuan pengaruh dapat merujuk pada perubahan persepsi dan pendapat (Cangara, 2014:19). Perubahan sikap merujuk pada perubahan internal yang dimiliki oleh seseorang yang dikelolah dalam bentuk prinsip sebagai evaluasi yang dilakukan terhadap suatu objek. Sedangkan perubahan opini merujuk pada gagasan atau ide-ide yang membuat seseorang dalam kognitifnya dirangsang untuk berpikiran tertentu sesuai dengan dasar kepercayaan dan ideologi yang dimiliki. McDonald. (2004). melakukan. penelitian. pustaka. untuk. menemukan efek media dari penelitan-penelitian terdahulu selama 50 tahun terakhir. Hasil penelitannya menunjukkan bahwa adanya ciri-ciri khusus mengenai efek media yaitu berkenaan dengan hasil substansi karena kesulitan dalam bidang studi tersebut dan efek jangka pendek yang masalahnya kompleks. Pada kondisi tertentu media massa hanya dapat mempengaruhi pengetahuan, sikap, opini, dan perilaku individu. Efek tersebut dapat segera atau ditunda dalam durasi yang pendek dan panjang. Sedangkan Bennet & Iyengar (2008) melakukan kajian mengenai era baru efek minimal media yang berkenaan dengan komunikasi politik. Menurut mereka efek media yang telah dikaji sebelumnya oleh para sarjana dan pemikiran-pemikiran besar di satu sisi dapat dijadikan acuan kutipan untuk melihat efek media pada era baru sekarang. Namun di sisi lain harus memperhatikan bahwa masyarakat telah berubah, orang semakin terpisah dari lembaga menyeluruh seperti sekolah umum, partai politik, dan kelompok-kelompok sipil yang pada konteks tertentu menerima dan menafsirkan pesan bersama. Bennet & Iyengar (2008) mengambil salah contoh kasus khusus efek minimal yang muncul pada penelitian yang dilakukan tahun 1940 dan awal 1950-an, dan penelitian selanjutnya dilakukan oleh Katz dan Lazarsfeld (1955), Gitlin (1978) bahwa pesan media disaring oleh commit to user.

(31)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. proses referensi sosial dalam studi aliran dua tahap. Penelitian mengenai efek media massa harus kembali melihat penggabungan dari perubahan struktur sosial dan teknologi (informasi dan komunikasi) dalam model yang lebih komprehensif telah hilang dari penelitian ilmiah dan paradigma baru. Hasil pengamatan mereka menemukan bahwa para peneliti komunikasi mulai menemukan bukti lebih besar dari efek langsung, dan cara-cara untuk menggabungkan model sosial dengan komunikasi massa. Penelitian Bennet dan Iyengar langsung mendapat kritik dari Holbert, Garret, dan Gleason (2010). Mereka menguraikan empat kritik kunci yaitu 1) Bennet dan Iyengar terlalu cepat mengabaikan pentingnya sikap dari penelitian terdahulu tentang efek media politik; 2) pandangan mereka terlalu sempit terhadap sumber informasi politik, yang hanya terpaku pada berita; 3) mereka menawarkan gambaran yang lengkap dari paparan selektif yang melebih-lebihkan sejauh mana individu menghindari sikap berbeda pada informasi; dan 4) mereka hanya berpegang pada determinisme ketika menjelaskan peran teknologi dalam membentuk lingkungan politik kita. Secara keseluruhan Holdbert, Garret, dan Gleason (2010) menawarkan model kemungkinan elaborasi untuk membantu penelitian selanjutnya untuk memahami landasan dari komunikasi politik saat ini. Ball-Rokeach. dan. DeFleur. (dalam. Nimmo,. 2010:161). merumuskan jenis-jenis akibat (effect) potensial komunikasi dalam tiga kategori, untuk memahami bagaimana pengaruh (efek) komunikasi memainkan peran pada khalayak, yaitu: a) Akibat kognitif. Akibat ini merujuk pada pengetahuan komunikan terhadap pesan yang diterima. Hubungannya dengan komunikasi politik, efek yang ditimbulkan melalui proses kerja kognitif, menciptakan ambiguitas terhadap informasi yang diperoleh dan diproses dalam keanekaragaman interpretasi yang dapat dibuat khalayak. Kemudian orang dapat memperluas realitas politik yang. commit to user.

(32)

(33)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. dipersepsinya melalui perluasan dunia politik melalui peran media dalam menyusun agenda. b) Akibat afektif. Hal ini merujuk pada pemahaman pesan politik yang diterima dan lebih cenderung diperhitungkan orang dalam menyusun kepercayaan politik daripada nilai politik. Hal ini dapat dirumuskan dalam tiga efek yaitu; 1) seseorang dapat menjernihkan, atau mengkristalkan nilai politik melalui komunikasi politik; 2) orang dapat memperkuat nilai melalui komunikasi politik dan; 3) komunikasi politik dapat memperkecil nilai yang di anut. c) Akibat partisipasi. Akibat ini dipahami dalam keterbukaan terhadap komunikasi politik yang dapat mempengaruhi orang agar secara aktif dapat terlibat dalam politik, di pihak lain komunikasi politik bisa menekan partisipasi politik. Proses komunikasi tidak selalu menimbulkan efek yang diharapkan dapat menemukan pengaruh yang signifikan, khusus efek dari media massa terhadap opini dan sikap. Untuk itu McQuail (2011b:209) berpendapat bahwa: Pikiran kita penuh dengan kesan dan informasi yang diambil dari media. Kita hidup dari gambar, dan suara dari media. Tetapi kita belum mengetahui dengan pasti seberapa besar perubahan yang akan terjadi, atau sektor mana yang dapat direspon lebih besar oleh khalayak, bukan individu. Sangat jarang media menjadi satu-satunya penyebab dari sebuah efek, hubungannya sangat sulit ditentukan. Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh McQuail, penelitian yang dilakukan oleh Valkenburg dan Petter (2013) menemukan bahwa efek atau pengaruh media terhadap anak-anak dan orang dewasa menunjukkan bahwa ukurannya berada pada skala sedang dan kecil. Penelitian ini dilakukan pada studi pustaka sebelumnya mengenai efek media dan membandingkannya dengan studi mereka saat ini. Walaupun demikian media massa masih menjadi sumber utama bagi komunikasi politik dan hal ini seringkali membuat persepsi dan interpretasi seseorang bekerja dalam cara kognitif yang kreatif dan commitkeadaan to user sosialnya. berhubungan langsung dengan.

(34) perpustakaan.uns.ac.id.

(35) digilib.uns.ac.id. c. Konsep Mediatization and De-centralization of Political Communication Konsep mengenai mediatization dan de-centralization komunikasi politik dikembangkan oleh Brants dan Voltmer (2011:13). Menurut mereka ‘komunikasi politik kontemporer dapat dilihat dalam dua dimensi yaitu ‘dimensi horizontal sebagai ‘mediatization’ dan dimensi vertikal sebagai ‘de-centralization’ yang sangat berkaitan erat’. Dimensi horizontal ‘menggambarkan hubungan antara politisi (para politikus, atau lembaga politik terkait) dan media (jurnalis dan media massa) yaitu para elit komunikasi politik yang bersama-sama, tetapi juga bersaing satu sama lain, menciptakan dan menyebarkan pesan-pesan politik untuk konsumsi massa’. Sedangkan dimensi vertikal ‘menunjukkan interaksi antara dua elit komunikasi politik di satu sisi, dan warga sebagai penerima akhir dari pesan-pesan ini di sisi lain’. Bersama dua dimensi perubahan mencakup hubungan segi tiga antara aktor-aktor politik, media dan penonton yang sebelumnya telah dijelaskan dalam ruang sosial dan kelembagaan komunikasi politik (Brants dan Voltmer, 2011:14). Hubungan antara politisi dan wartawan selalu ditandai dengan tingkat tinggi ambivalensi yang menggeser antara keterlibatan dan perebutan kekuasaan terbuka. Sebagaimana ditunjukkan Blumler dan Gurevitch (dalam Brants dan Voltmer, 2011:14) bahwa ‘dua aktor ini terus-menerus terlibat dalam negosiasi atas agenda politik yang dikomunikasikan secara terbuka, frame yang diperebutkan dalam konteks isu atau masalah-masalah dan realitas politik didefinisikan, visibilitas dan citra pemainnya’. Karena kedua pelaku bergantung pada sumber daya masing-masing untuk mencapai tujuan mereka sendiri, politisi membutuhkan media untuk publisitas, wartawan perlu politisi sebagai sumber otoritatif informasi, dalam hal ini Brants dan Voltmer (2011:16) “beranggapan hubungan kekuasaan yang seimbang secara keseluruhan antara aktor-aktor tersebut”. Dimensi vertikal mengacu pada hubungan antara elit komunikasi politik – media dan pejabat politik – di satu sisi, dan orang-orang biasa dalam peran mereka sebagai wargatonegara, commit user pemilih atau khalayak, di sisi.

(36) perpustakaan.uns.ac.id.

(37). digilib.uns.ac.id. lain. Perubahan dimensi ini dapat digambarkan sebagai ‘de-sentralisasi’. Sebagai warga negara, semakin menantang legitimasi dan kredibilitas politik yang terlembaga serta lembaga media tradisional, mereka berpaling dari ‘politik tinggi’ terhadap bidang alternatif atau hanya komunikasi nonpolitik. Salah satu pendorong penting yang menantang keutamaan politik dalam dimensi vertikal adalah hilangnya sebagian warga negara, setidaknya seperti yang kita tahu dari buku teks demokrasi liberal (Brants dan Voltmer, 2011:17). Partisipasi dalam pemilu telah menurun secara dramatis, karena memiliki keanggotaan dan keterlibatan dalam organisasi politik tradisional, seperti partai politik dan serikat buruh. Sementara itu, sebagian besar warga yang telah memilih keluar dari mengikuti informasi politik yang disampaikan oleh program berita dan peristiwa. Hal ini terutama generasi muda yang menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan seperti pelepasan dari komunikasi politik mainstream. Namun, ini tidak berarti bahwa orang-orang telah mengundurkan diri dari politik sama sekali. Sebaliknya, forum baru debat publik telah dibuat di pinggiran proses politik pemerintah yang menarik segmen tertentu dari populasi. Dengan menggunakan gaya baru komunikasi dan berfokus pada berbagai isu yang berbeda, ruang publik alternatif ini memberikan informasi bahwa orang mengalami kehidupan sehari-hari mereka lebih relevan dari berita utama.. 3. Konsep Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pilkada adalah pemilihan umum untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan ketentuan UU nomor 32 tahun 2004, peserta Pilkada adalah calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Sejak diubahnya ketentuan UU nomor 32 tahun 2004 dan diberlakukannya UU nomor 12 tahun 2008 yang menyatakan bahwa peserta Pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh calon perseorangan oleh sejumlah orang. Pilkada Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten TTU 2015 sebenarnya diikut oleh tiga committahun to user.

(38)

(39) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. pasangan calon, namun hingga perpanjangan pendaftaran ditutup pada 11 Agustus tahun 2015, hanya ada satu pasangan calon yang mendaftar yaitu calon petahana Raymundus Sau Fernandes dan Aloysius Kobes. Berdasarkan peraturan KPU nomor 12 tahun 2015 menyatakan bahwa daerah harus diisi oleh minimal dua pasangan calon Kepala Daerah untuk dapat bersaing dalam proses pemilihan, maka atas dasar peraturan tersebut Pilkada harus ditunda hingga tahun 2017. Namun melalui diskusi dan perdebatan mengenai calon tunggal sehingga Effendi Gazali dan Yayan Sakti Suryandaru mengajukan uji materi UU nomor 8 tahun 2015 yang mengatur tentang Pilkada Gubernur, Bupati, dan Walikota. Hasilnya adalah bahwa 3 daerah dengan pasangan calon tunggal diperbolehkan untuk mengikuti Pilkada serentak pertama pada Desember tahun 2015. Hal ini nerupakan pertama kalinya Negara Indonesia menjunjung tinggi kedaulatan dan hak rakyat untuk memilih langsung pemimpin di daerahnya (diakses melalui www.m.kompas.com; tanggal 29/09/2015). Proses Pilkada terdiri dari beberapa tahap yang harus diikuti oleh pasangan calon tunggal. Salah satu adalah kampanye politik. Menurut PKPU nomor 7 tahun 2015 pasal (1) ayat (15) tentang kampanye Pilkada adalah kegiatan menawarkan visi, misi, dan program kerja pasangan calon dan/atau informasi lainnya, yang bertujuan mengenalkan atau meyakinkan pemilih. Selanjutnya diatur dalam proses kampanye bahwa yang dimaksud dengan tim kampanye adalah tim yang dibentuk oleh pasangan calon bersama-sama dengan partai politik atau gabungan partai politik yang mengusulkan pasangan calon atau. oleh. pasangan. calon. perseorangan. yang. didaftarkan. ke. KPU. Provinsi/KPU/KIP Kabupaten/Kota. Petugas. kampanye. adalah. seluruh. petugas. yang. memfasilitasi. penyelenggaraan kampanye yang dibentuk oleh tim kampanye dan didaftarkan kepada KPU Provinsi/KPU/KIP Kabupaten/Kota sesuai tingkatannya. Peserta kampanye adalah anggota masyarakat atau Warga Negara Indonesia (WNI) yang memenuhi syarat sebagai pemilih. Bahan kampanye adalah semua benda atau bentuk lain yang memuat visi, misi, program pasangan calon, simbol, atau tanda gambar yang disebar untuk keperluan commit to user kampanye yang bertujuan untuk.

(40) perpustakaan.uns.ac.id.

(41)

(42) digilib.uns.ac.id. mengajak orang memilih pasangan calon tertentu. Sedangkan iklan kampanye adalah penyampaian pesan kampanye melalui media cetak dan elektronik berbentuk tulisan, gambar, animasi, promosi, suara, peragaan, sandiwara, debat, dan bentuk lainnya yang dimaksudkan untuk memperkenalkan pasangan calon atau meyakinkan pemilih memberi dukungan kepada pasangan calon. Bahan dan iklan kampanye semuanya di fasilitasi oleh KPU Provinsi/KPU/KIP Kabupaten/Kota yang didanai anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) dan dibiayai sendiri oleh pasangan calon (PKPU Nomor 7 tahun 2015). Kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal (5) ayat (2) dan ayat (3), dilaksanakan 3 (tiga) hari setelah penetapan pasangan calon peserta pemilihan sampai dengan dimulainya masa tenang; masa tenang kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlangsung selama 3 (tiga) hari sebelum hari dan tanggal pemungutan suara; pada masa tenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pasangan calon dilarang melaksanakan kampanye dalam bentuk apapun (PKPU Nomor 7 tahun 2015).. B. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain: 1. Mallarangeng (1997), menggunakan data agregat yang hanya mengandalkan keakuratan dan ketersediaan data yang ada. Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan politik seseorang terhadap partai politik di masa pemilu orba tahun 1977, 1982, 1987, dan 1992. Penelitian ini menjelaskan hubungan yang kuat antara latar belakang agama dengan pilihan politik masyarakat. Pemilih yang beragama Islam dan para santri cenderung memilih partai Islam, sedangkan pemilih yang beragama non-Islam cenderung memilih partai nasionalis. Temuan lainnya yaitu adanya hubungan antara aktivitas dan program kerja pemerintah dengan dukungan terhadap partai pemerintah. Semakin banyak agenda dan program kerja pemerintah di daerah tertentu maka semakin besar kesempatan partai pemerintah untuk memenangkan pemilu di daerah tersebut. 2. Sutrisno (2004), dengan judul penelitian tentang perilaku memilih warga Nahdatul Ulama (NU) dalam pemilu commitPresiden to user tahun 2004. Metode penelitian.

(43)

(44) digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. yaitu studi kasus, bercorak deskriptif-eksploratif dengan tujuan untuk menggambarkan perilaku warga NU dalam pemilu Presiden 2004 di Tegalreja Kabupaten Magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan Kiai memiliki peranan dan pengaruh yang mampu mempengaruhi perilaku politik masyarakat.. Penelitian. ini. terbatas. dalam. pengumpulan. data. karena. menggunakan data sekunder yang cenderung dapat mengakibatkan analisis yang kurang mendalam. 3. Wijaya (2009), melakukan penelitian terhadap partisipasi politik masyarakat pedesaan di Kecamatan Karanggede Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah multiple methods yang menekankan pada penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian masyarakat desa memiliki tingkat partisipasi politik yang rendah dalam Pilgub Jateng 2008. Selain itu faktor sumber informasi sangat berpengaruh pada keputusan memilih masyarakat. Artinya bahwa sumber informasi (tokoh masyarakat, tetangga, teman, media massa, dan partai politik) mempunyai hubungan yang menghasilkan pengaruh dengan partisipasi politik masyarakat pedesaan di kecamatan tersebut. 4. Kappia (2010), meneliti tentang perilaku memilih pada Pemilu di KinondoniDar Salaam Region, Tanzania tahun 2010, bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai alasan atau faktor yang menyebabkan sangat sedikit warga terlibat dalam pemungutan suara jika dibandingkan dengan tahun 1995 dan 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pemilih pada pemilu tahun 2010 karena berbagai faktor yaitu administrasi yang buruk, kurangnya informasi tentang jajak pendapat, tidak berada di daftar pemilih, korupsi, dan pendidikan pemilih yang rendah. 5. Pulungan (2011), studi kasus tentang komunikasi politik dalam pemilihan Kepala Daerah (pasangan calon H. Amril Harahap dan H. Irwandy) sebagai Walikota Tebang Tinggi tahun 2010 di Sumatera Utara. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan hasilnya menunjukkan bahwa peranan komunikasi politik pasangan kepala daerah tidak signifikan terhadap hasil perolehan suara. Pelaksanaan strategis tidak terlepas dari dukungan commitkemenangan to user.

(45)

(46)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. SDM yang loyal dan professional, serta dukungan pendanaan yang cukup untuk melakukan sosialisasi dan kampanye politik. Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil suara yang diperoleh pasangan tersebut antara lain kurangnya pemahaman kandidat dan tim terhadap konsep komunikasi politik sehingga organisasi politik yang dibentuk tidak terkoordinasi dengan baik. 6. Lestari (2011), mengenai peran komunikasi politik Kiai pada Pilkada 2010 di Dompu Provinsi NTB, hasilnya menunjukan bahwa elit agama yaitu Kiai memainkan peran penting dalam komunikasi politik. Lestari menyimpulkan tiga hal yaitu; 1) bentuk peran komunikasi politik para Kiai dibagi dalam dua kategori yaitu ada yang berperan sebagai juru bicara atau juru kampanye bagi kemenangan calon yang didukungnya; dan ada yang berperan sebagai komunikator pemuka pendapat, Kiai jenis ini memberikan pendapat, masukan, dan informasi namun pada saat yang bersamaan, Kiai ini juga mempengaruhi masyarakat agar memiliki calon yang didukungnya; 2) ada hubungan baik yang terjalin antara Kiai dengan calon Bupati dan Wakil Bupati; dan 3) masyarakat Dompu tidak keberatan dengan keterlibatan Kiai pada Pilkada 2010, asalkan mereka tidak melupakan tugas dan tanggung jawab sebagai elit agama. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu maka adapun persamaan terkait penelitian saat ini yaitu menggunakan metode survei dan wawancara mendalam, sedangkan perbedaannya adalah tempat penelitian yaitu di Kabupaten TTU, meneliti tentang komunikasi politik dari pasangan calon tunggal Pilkada 2015 dengan mengukur variabel isi pesan politik, penggunaan saluran informasi, media massa oleh masyarakat pemilih dan efek dari proses pemilihan pasangan calon tunggal, serta pengumpulan data menggunakan kuesioner kepada 400 responden.. commit to user.

(47)

(48)  digilib.uns.ac.id. perpustakaan.uns.ac.id. C. Kerangka Berpikir Berdasarkan landasan teori dan untuk menghindari kesalahan persepsi mengenai tema penelitian ini maka perlu untuk mendefinisikan kerangka berpikir sebagai berikut: Variabel Independen X1 : Pendapat masyarakat pemilih tentang isi pesan politik X2 : Penggunaan saluran informasi oleh masyarakat pemilih X3 : Penggunaan media massa oleh masyarakat pemilih. Variabel Dependen Efek dari proses pemilihan pasangan calon tunggal. Gambar 1 Kerangka berpikir penelitian Kerangka berpikir penelitian menggambarkan variabel independen yaitu pendapat masyarakat pemilih tentang isi pesan politik dari pasangan calon tunggal (X1), penggunaan saluran informasi (media massa dan pemimpin opini/opinion leader) oleh masyarakat pemilih (X2) dan penggunaan media massa (cetak dan elektronik) oleh masyarakat pemilih (X3). Komunikasi politik merupakan proses penyampaian lambang atau simbol-simbol pesan melalui komponen-komponen komunikasi yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan efek. Penelitian saat ini menitikberatkan hanya pada komponen isi pesan politik, saluran informasi, media massa dan efek. Isi pesan politik yang diukur adalah pendapat masyarakat pemilih tentang isi pesan politik yang disampaikan oleh pasangan calon tunggal. Saluran informasi dan media massa yaitu alat atau saluran komunikasi yang digunakan masyarakat pemilih untuk mengetahui informasi atau aktivitas politik dari pasangan calon tunggal serta efek atau pengaruh dari kedua komponen tersebut terhadap partisipasi masyarakat pemilih dalam Pilkada 2015. Pasangan calon tunggal yang dimaksud adalah calon Bupati, dan Wakil Bupati Kabupaten TTU, yang mencalonkan diri melalui partai politik, gabungan partai politik dan/atau calon independen dalam proses Pilkada. Pilkada adalah pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah Provinsi, Kabupaten dan/atau Kota secara langsung dan demokratis. Semua hal tersebut sesuai dengan UU nomor 8 tahun 2015 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.. commit to user.

(49)

Referensi

Dokumen terkait

digunakan sebagai media komunikasi serial melalui USB dan muncul sebagai COM Port Virtual (pada Device komputer) untuk berkomunikasi dengan perangkat lunak pada

SMS atau yang dikenal dengan Short Message Service merupakan suatu layanan penggunaan pesan singkat berupa text dari penyedia jasa layanan komunikasi untuk berkomunikasi

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari komponen-komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan

(2006) menyatakan bahwa rotasi kerja merupakan cara yang efektif untuk mengembangkan kemampuan karyawan, rotasi kerja membantu pemimpin perusahaan untuk mengenali kemampuan karyawan

Sistem adalah suatu himpunan suatu “benda” nyata atau abstrak (a set of thing) yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan, berhubungan,

Dalam perancanaan sistem elektrikal pada ruang kerja perlu diketahui komponen- komponen utama dalam perhitungan seperti beban apa saja yang akan digunakan dalam

Menurut Gurning et al., (2012: 3) sifat-sifat komunikasi kelompok adalah: 1) Kelompok berkomunikasi melalui tatap muka 2) Kelompok memiliki sedikit partisipan 3) Kelompok

Dari definisi fungsi komunikasi, maka penulis dapat simpulkan bahwa fungsi komunikasi yang paling utama adalah dalam mengamati lingkungan, kemudian