• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membentuk Keindahan Moral Melalui Pendidikan Seni Berbasis Tradisi Lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Membentuk Keindahan Moral Melalui Pendidikan Seni Berbasis Tradisi Lokal"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/291765542

Membentuk Keindahan Moral Melalui

Pendidikan Seni Berbasis Tradisi Lokal

CONFERENCE PAPER · DECEMBER 2012 DOI: 10.13140/RG.2.1.1022.0561 1 AUTHOR: Julia -Universitas Pendidikan Indonesia Kampus … 7 PUBLICATIONS 0 CITATIONS SEE PROFILE Available from: Julia -Retrieved on: 25 January 2016

(2)

1

Membentuk Keindahan Moral Melalui Pendidikan Seni

Berbasis Tradisi Lokal

Julia

Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang Email: [email protected]

Abstrak

Adalah kenyataan bahwa pendidikan seni memiliki potensi untuk mengubah perilaku atau karakteristik peserta didik. Untuk mengembangkan potensi ini, peserta didik perlu digiring untuk mempelajari dan memahami berbagai jenis kesenian yang memiliki kandungan makna atau nilai-nilai kearifan melalui pembelajaran pendidikan seni berbasis seni tradisi lokal. Berdasarkan hasil pengamatan penulis, para pendidik seni musik perlu meningkatkan pengajaran pendidikan seni dengan menggunakan paradigma sebagai berikut: materi pelajaran berakar dari budaya lokal bukan dari budaya luar, pelajaran seni diajarkan sebagai upaya memberikan pengalaman estetis bukan usaha mencetak seniman, dan pengajaran materi seni diiringi dengan penanaman nilai atau makna tidak hanya sekedar belajar praktek, sehingga semua materi seni yang diajarkan harus yang mengandung makna terutama makna yang mengedepankan nilai kearifan lokal namun berlaku secara global.

Kata kunci: Pendidikan, seni, musik, nilai, dan karakter.

A. Pendahuluan

Memiliki manusia yang berkarakter baik adalah idaman setiap pendidik, keluarga, atau bahkan Negara. Namun sayangnya, menciptakan manusia seperti itu, bukanlah perkara yang mudah, karena pembentukan karakter tidak bisa dilakukan dalam tempo singkat, tapi melalui berbagai jenjang kehidupan. Pada saat melalui jenjang kehidupan itulah karakter seseorang dapat terbentuk. Artinya, karakter yang muncul suatu saat nanti, adalah hasil pembentukan yang disengaja ataupun secara alamiah dialami atau dilalui oleh individu, sehingga, jika yang dilaluinya berupa kehidupan yang kacau, penuh dengan perkara kotor, maka kemungkinan besar akan terbentuk karakter yang tidak baik, dan sebaliknya, jika

(3)

2

yang dilaluinya berupa kehidupan yang teratur, penuh dengan kebaikan, maka kemungkinan besar akan terbentuk karakter yang baik pula.

Suryadi membagi perkembangan karakter siswa ke dalam empat tahapan: (1) initial stage of character building; adalah keadaan pada waktu siswa belum memiliki kemampuan memahami “right” and “wrong” (manner), sehingga anak-anak cenderung melakukan apa saja yang mereka kehendaki, (2) values clarification stage; adalah tahap perkembangan di mana siswa mulai memahami berbagai gejala yang diamatinya dan bagaimana kemampuan rasional dapat memahami alasan mengapa anak harus memiliki nilai, bersikap atau berperilaku manner tertentu, (3) aplication stage; pada tahap ini siswa dilibatkan dalam kegiatan atau aplikasi atas pembiasaan dan pemahaman mengenai karakter di dalam situasi yang nyata di sekolah, misalnya melalui aplikasi pendidikan berbagai bentuk kecakapan hidup (life skill education), dan (4) stage of meaning; adalah tahap akhir di mana siswa mampu merasakan arti (meaning) dari nilai, sikap dan perilaku positif yang telah dipahami dan dilakukannya selama ini, baik dalam hal yang berkaitan atau tidak dengan pembelajaran (Marlene Lockheed & Verspoor, 1990; Kohlberg, 1992; Ace Suryadi, 2011).

Paparan di atas dapat menjelaskan bahwa perjalanan siswa atau individu untuk mencapai perkembangan karakter relatif panjang, dan timbulnya kesadaran tentang kebaikan dan keburukan yang dipahami dan dialaminya adalah titik puncak dari tahapan perkembangan karakter. Dalam arti lain, keindahan moral merupakan salah satu sasaran utama dari lika-liku perkembangan karakter.

Ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk membentuk keindahan moral, salah satunya melalui jalur pendidikan seni musik berbasis tradisi lokal. Mengapa demikian? Sederhananya, karena dalam tradisi lokal terkandung muatan kearifan lokal yang notabene sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat setempat. Namun sayangnya, pengajaran yang diberikan oleh para pendidik seni musik pada umumnya, memiliki kecenderungan pada pengenalan budaya luar, acuan atau filosofis pengajaran pendidikan seni yang kurang tepat, dan pengajaran tidak diiringi dengan pembedahan nilai-nilai moral. Dampaknya, pengajaran seni musik di sekolah kita masih disibukan dengan mengurus perkara materi seninya ketimbang menelaah dan merefleksi perilaku hasil berkeseniannya, atau yang tadi disebut sebagai ‘keindahan moralnya’.Maka dari itu, tidaklah mengherankan ketika banyak moralitas para peserta didik yang masih

(4)

3

menyimpang dari ranah keindahan. Padahal, seyogianya pendidikan seni musik dapat memberikan pengaruh baik pada perilaku peserta didik, seperti pernah dikatakan oleh Aristoteles, bahwa ritme dan melodi merupakan pemicu berbagai kualitas, di antaranya kelembutan dan keberanian (Merrit, 2003; Yeni Rahmawati, 2005:52).

John Dewey (2009:100) pun mengatakan, bahwa seni tertinggi merupakan seni yang membentuk kemampuan manusia dan menyesuaikannya dengan pelayanan sosial, dan orang yang terpanggil memasuki pelayanan itu adalah artis terbaik. Pandangan tersebut semakin menjelaskan kepada kita, bahwa kebaikan adalah realitas tertinggi yang meski dijadikan acuan baik dalam melakukan regenerasi seni maupun sebagai pelaku seni itu sendiri.

Berdasarkan paparan di atas, maka tulisan ini mencoba untuk mengupas pengajaran pendidikan seni musik, dengan mengacu pada beberapa fenomena dan persoalan yang terjadi di lapangan. Antara lain (1) pengajaran pendidikan seni musik yang mengacu pada budaya luar, (2) tujuan pengajaran pendidikan seni musik yang bertumpu pada pembentukan seniman, dan (3) pengajaran pendidikan seni musik yang tidak diiringi dengan penanaman nilai/moral. Kajian ini diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan seni, yang saat ini notabene sedang giat melakukan perlawanan terhadap serangan dan hantaman budaya luar yang semakin mewabah dan mengglobal.

B. Studi Literatur

Kesenian adalah sebagian dari kebudayaan yang timbul dan tumbuhnya sangat berhubungan dengan jiwa perasaan manusia (Dewantara, 1967:228). Artinya, seni berada pada tataran kebudayaan. Sementara kebudayaan bentuknya beraneka ragam sesuai dengan adat daerah setempat yang dipengaruhi oleh karakteristik masyarakatnya. Adat Sunda berbeda dengan adat Minang, begitu pula adat masyarakat Indonesia berbeda dengan Masyarakat Amerika, demikian pula adat orang timur akan berbeda dengan adat orang barat, karena jiwa perasaan orang timur akan berbeda dengan jiwa perasaan orang barat. Dengan adanya perbedaan tersebut, maka jelas bahwa pendidikan seni pun perlu diberikan sesuai

(5)

4

dengan adat atau karakteristik masyarakat setempat. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia perlu dibekali dengan seni yang lahir atau berasal dari Indonesia, sebagaimana masyarakat Sunda perlu dibekali dengan seni tradisional yang lahir dari masyarakat Sunda. Seperti dikemukakan oleh pakar musik, Dieter Mack (1996:2), bahwa dalam pendidikan terdapat berbagai kemungkinan untuk mendidik generasi-generasi yang akan datang, agar mereka mampu untuk berapresiasi segala jenis kesenian, sesuai dengan budi pekerti individual dan kekayaan latarbelakang lingkungan budayanya.

Pengajaran pendidikan seni perlu dipahami sebagai pendidikan atau pengalaman estetis, tidak hanya terbatas pada pengajaran praktek atau pelatihan skill. Begitu pula dalam pendidikan di sekolah-sekolah, pendidikan musik perlu dipahami sebagai suatu proses pengalaman estetis. Harry Broudy (1958) menyimpulkan, bahwa konsep estetis dalam pendidikan musik terletak pada pengalaman estetis. Karena dalam pengalaman estetis kita dapat merasakan objek dan memahami karakteristiknya (Elliott, 1995:27). Dengan demikian, titikberat pengajaran pendidikan seni musik bertumpu pada proses menggali dan berpetualang di dunia pengalaman, sehingga peserta didik dapat merasakan dan memahaminya.

Dalam pengajaran pendidikan seni musik perlu dilakukan juga upaya penggalian nilai-nilai atau pencarian makna. Hal ini bertujuan agar peserta didik tidak hanya belajar seni musik dari cangkang saja, tapi juga dari isi. Tatkala peserta didik dapat mengaitkan isi dari pendidikan seni musik dengan pengalaman mereka sendiri, itu berarti mereka menemukan makna. Menurut Johnson (2006:35), mampu mengerti makna dari pengetahuan dan keterampilan akan menuntun pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, apabila peserta didik mampu menemukan dan mengerti makna-makna yang terkandung dalam pendidikan seni melalui materi-materi pengajaran kesenian yang diberikan, maka tidak menutup kemungkinan tujuan pendidikan seni yang meliputi dua aspek pengembangan yakni cerdas secara intelektual dan moral, dapat tercapai dengan baik.

(6)

5

Harapannya, para peserta didik senantiasa memiliki keindahan moral, karena menurut Rahmawati (2005:68), keindahan merupakan dasar bagi kebaikan, begitu pula kebaikan, ia merupakan fondasi bagi kebenaran. Sehingga ketika peserta didik memiliki keindahan moral, ia dapat terlihat dan terasa sebagai orang baik dan berbuat benar, dengan segala kesadaran moral dan nilai atau pun rasionalitas moral.

C. Pengajaran Pendidikan Seni

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengajaran pendidikan seni musik di sekolah, sebagai upaya dalam mencetak peserta didik yang melek seni tradisi lokal dan mampu menerapkan nilai-nilai lokal, yakni mencangkup pemahaman terhadap akar budaya lokal, pemahaman pengajaran seni sebagai pengalaman estetis, dan kemampuan dalam menemukan dan menerapkan makna-makna yang tersembunyi dalam seni tradisi lokal.

1. Penguatan Akar Budaya

Dalam konteks kebudayaan, manusia yang baik adalah manusia yang kenal dan paham akan budayanya sendiri. Artinya, tanpa mengenal budaya sendiri maka manusia tidak akan berbudaya sesuai dengan adat, aturan, atau norma yang berlaku di lingkungan sendiri. Akibatnya, mereka akan menjadi orang asing di daerahnya sendiri. Hal ini tidak akan terjadi seandainya pendidikan dapat mengarahkan orang-orang seperti itu sejak dini. Sebagai contohnya, banyaknya masyarakat Sunda yang tidak mampu berbahasa Sunda adalah salah satu contoh real dari ketidakberhasilan pendidikan bahasa sejak dini, baik yang dilakukan di lingkungan sekolah maupun keluarga, begitu juga banyaknya peserta didik yang terlahir sebagai suku Sunda dan berdomisili di Tatar Sunda namun tidak mengenal akan seni tradisi setempat khususnya karawitan Sunda, salah satunya merupakan bukti dari kegagalan para pendidik seni musik yang lebih cenderung menerapkan seni berbasis luar negeri daripada seni berbasis dalam negeri.

(7)

6

Ada beberapa kemungkinan para pendidik seni musik tidak mengarahkan peserta didik kepada pengenalan seni tradisi atau budaya setempat. Pertama, kurangnya kompetensi dalam seni tradisi lokal. Persoalan ini telah lama terngiang di lapangan, yang disayangkan, para pendidik seni musik yang menyandang predikat ini tidak ada upaya untuk merenovasi diri. Idealnya, mereka melakukan pergerakan yang mengarah pada perbaikan kualitas diri, yang diniati sebagai rasa tanggungjawab pribadi untuk menjaga keutuhan budaya sendiri. Karena telah jelas hukumnya, bahwa perubahan itu mesti dimulai dengan segala usaha mengubah diri sendiri, apapun resikonya.

Kedua, kurangnya minat untuk menularkan seni tradisi lokal. Adapun pendidik seni yang mampu dan cukup berkompeten dalam seni tradisi lokal, namun kehilangan spirit kelokalannya. Tidak jarang penulis temukan, para pandidik seni musik yang pada awalnya gencar mengamalkan seni tradisi lokal, kini berubah haluan menjadi misionaris dalam penyebaran budaya luar. Ada sesuatu yang hilang pada diri mereka, antara lain memudarnya hubungan emosional atau ikatan psikologis dengan seni tradisi setempat. Di sini tampak ada yang terlupakan, bahwa seni tradisi lokal itu bagian dari budaya lokal, dan budaya lokal itu melahirkan buah-buah kehidupan yang disebut keluhuran budi atau kearifan. Jadi, orang yang melepaskan ikatan dengan budaya lokal sama saja dengan melepaskan diri dari kearifan lokal.

Ketiga, kurangnya pendalaman terhadap kekayaan nilai-nilai dalam seni tradisi lokal. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari banyak etnik dengan puspa ragam seni tradisinya tentu menawarkan kekayaan nilai-nilai lokal yang banyak pula. Salah satu kelemahan para pendidik seni musik adalah terbiasa tidak mempelajari seni tradisi secara tuntas. Yang mereka pelajari kebanyakan bagian luarnya saja, sementara bagian dalamnya tetap utuh tidak terjamah. Akibatnya, yang banyak didemonstrasikan hanya bagian kulitnya saja, sementara nilai-nilai lokalnya yang merupakan intisari, atau sebuah panduan way of live tetap terbungkus utuh dalam kemasannya.

Dengan situasi dan kondisi seperti di atas, maka upaya untuk menumbuhkan peserta didik yang berbasic budaya lokal dengan dinaungi

(8)

7

kecerdasan dalam hal intelektual dan moral, dapat berbuah kegagalan. Oleh karena itu, satu-satunya cara yang mesti ditempuh oleh para pendidik seni musik yang memiliki predikat seperti disebutkan di atas, yakni kembali membenahi diri dan menjelma sebagai penanam benih nilai-nilai lokal, untuk melakukan penguatan akar budaya pada peserta didik. Karena jika benih yang ditanam tersebut tumbuh mengakar kuat dan pohonnya menjulang tinggi, maka tidak menutup kemungkinan akan terlahir para generasi penerus yang berbudaya lokal, namun siap berpetualang untuk mengarungi samudera kehidupan yang kian mengglobal.

2. Pengalaman Estetis

Kekeliruan yang terjadi di kalangan pendidik seni musik, antara lain memandang pengajaran seni musik sebagai upaya mencetak musisi atau seniman. Sementara itu, tengah terjadi kekeliruan pemahaman terhadap arti seniman itu sendiri. Pada umumnya, kata seniman memiliki penyempitan makna sehingga hanya dianalogikan sebagai seorang “tukang” saja. Misalnya, seniman kacapi dapat berarti tukang ngacapi (pemain kacapi), dan seniman tari dapat berarti tukang nari (penari). Akibatnya, peserta didik yang sejak dini sengaja diarahkan untuk menjadi seorang seniman, maka pada akhirnya hanya akan menjadi seorang tukang saja. Lebih parahnya, karena belajar seni identik dengan pencalonan menuju seorang seniman, tidak sedikit orang tua yang melarang anaknya untuk belajar seni khususnya seni musik. Dampaknya, banyak peserta didik yang kurang mendapatkan pengalaman estetis, sehingga kurang memiliki kehalusan rasa. Padahal pengalaman estetis dapat membantu memberikan pegembangan peserta didik baik dari segi psikomotor, kognitif, maupun afektif.

Menurut Jakob Sumardjo (2000:161), pengalaman estetis merupakan suatu pengalaman utuh yang melibatkan perasaan, pikiran, penginderaan, dan berbagai intuisi manusia. Dengan demikian, yang terpenting bagi peserta didik bahwa belajar seni musik itu adalah belajar menggunakan perasaan, pikiran, dan penginderaan. Sementara nilai instrumennya yang berupa beragam alat musik, hanya sebagai media pengantar saja menuju gerbang pengalaman estetis. Seperti

(9)

8

dikatakan Alwasilah (2006:120), bahwa puisi, tarian, musik, nyanyian, lukisan, dan bentuk seni lainnya adalah medium untuk mewadahi emosi dan perasaan siswa. Tahapan akhir yang mesti dicapai dari pengalaman estetis tersebut adalah peserta didik dapat menemukan dan memahami benih-benih kehalusan budi dan keindahan. Jadi, dengan bekal pengalaman seperti ini, mau jadi apapun peserta didik, setidaknya mereka diiringi dengan alunan keindahan rasa atau kehalusan budi pekerti yang pernah didapatkannya.

Salah satu tujuan dari pengalaman estetis adalah melatih daya sentuh seseorang secara rasa pada sesuatu. Peserta didik yang lebih banyak mendapatkan pengalaman estetis tidak menutup kemungkinan akan lebih peka untuk memberikan penilaian dan merasakan sesuatu dibandingkan dengan peserta didik yang kurang mendapatkan pengalaman estetis. Dengan demikian, pendidikan seni khususnya dalam tataran pendidikan dasar memiliki tugas untuk mengantarkan peserta didik menuju gerbang pengalaman estetis dan menenggelamkan mereka sedalam-dalamnya, sehingga pada suatu saat nanti mereka dapat menjadi manusia yang memiliki kecerdasan intelektual dan keindahan moral.

3. Menggali Makna

Banyak nilai-nilai kearifan yang dapat digali dan dimaknai dari seni tradisi. Dalam pendidikan seni musik di pendidikan dasar, penggalian nilai dapat dilakukan melalui berbagai cara.

Pertama, melalui pembelajaran teks dan kontekstual. Dalam hal ini, tugas seorang guru adalah menyediakan konteks. Sasarannya adalah peserta didik dapat memahami teks yang dipelajari untuk kemudian dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat disiasati salah satunya dengan mempelajari lagu daerah setempat yang isi rumpaka (lirik) nya berkaitan dengan nilai-nilai kearifan lokal. Berikut salah satu contoh rumpaka lagu yang memiliki nilai-nilai kearifan.

(10)

9

Reumbeuy Bandung Ari reumbeuy, reumbeuy, reumbeuy

Bandung

- Isi lagu pertama menceritakan bahwa humor atau candaan orang Bandung (Jawa Barat) dibarengi dengan kesopanan.

- Isi lagu kedua menceritakan bahwa orang Bandung gampang untuk berteman.

Ngareumbeuy dina jambangan Ari heureuy, heureuy, heureuy Bandung

Heureuy ge jeung kasopanan Ari lilin, lilin, lilin Bandung Geus hurung sok poek deui Ari ulin, ulin, ulin Bandung Geus embung sok daek deui

Kedua, melalui apresiasi seni. Apresiasi dilakukan untuk mencari makna-makna yang tersembunyi di balik pertunjukan seni. Hal ini bersifat multi tafsir sehingga tugas guru adalah memaknai kembali pertunjukan seni dengan cara menghubungkannya dengan nilai-nilai kearifan, kemudian mengkomunikasikannya dengan peserta didik. Berikut salah satu contoh pemaknaan terhadap salah satu jenis pertunjukan seni tradisi Sunda, yaitu tembang Sunda Cianjuran.

(1) Dalam melaksanakan perannya, para pemain tembang Sunda harus bermain sesuai dengan tugasnya masing-masing. Hal ini mencerminkan bahwa dalam budaya Sunda, terdapat suatu aturan yang menuntut kita untuk pandai menempatkan diri, serta menjaga antara hak dan kewajiban. Karena, dengan adanya kesalahan dalam penempatan diri, akan berakhir pada timbulnya permasalahan sehingga tidak tercipta keharmonisan dalam kehidupan.

(2) Dalam penyajian tembang cianjuran ditemukan sikap saling menghargai. Dalam hal ini, sebagai cerminan bahwa masyarakat Sunda adalah masyarakat yang dikenal ramah, someah, hade tata jeung basa, hade kadulur jeung kabatur. Di mana kalau semua itu dilaksanakan, maka akan tercipta sikap saling menghargai yang mana sikap tersebut merupakan sikap masyarakat Sunda yang kenal akan kesundaannya. Namun, atmosfer masyarakat Sunda zaman

(11)

10

sekarang seperti kacang yang lupa pada kulitnya, dan lama-lama bisa jadi jati kasilih ku junti. Maksudnya, zaman sekarang banyak masyarakat Sunda yang tidak mengindahkan lagi budaya kesundaannya, seperti sikap hare-hare hirup dan lupa diri.

(3) Selain sikap saling menghargai, ditemukan adanya kesatuan pemain yang utuh dalam penyajian tembang Sunda Cianjuran. Hal ini mencerminkan bahwa budaya Sunda merupakan budaya yang sangat memerhatikan persatuan dan kesatuan. Artinya, kita sebagai masyarakat Sunda merupakan suatu masyarakat yang hidup dalam satu adab dan budaya. Oleh karena itu, sudah seyogianya jika kita tetap mempertahankan adab dan budaya tersebut demi terciptanya persatuan dan kesatuan, sehingga budaya Sunda tetap hidup dalam masyarakat Sunda. Dengan begitu, maka keharmonisan di antara masyarakat Sunda pun akan tetap terpelihara dengan baik.

(4) Dalam penyajian tembang cianjuran harus terdapat keseimbangan skill di antara para pemainnya. Dalam hal ini mencerminkan bahwa budaya Sunda merupakan satu budaya yang memerhatikan ikhwal keseimbangan. Setelah tiga poin di atas menyangkut hubungan manusia dengan manusia, maka dalam hal ini budaya Sunda merupakan budaya yang tidak melupakan keseimbangan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dengan adanya keseimbangan ini, menunjukkan bahwa budaya Sunda merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi, karena juga menyangkut kehidupan religi. Artinya, budaya Sunda memegang teguh nilai-nilai keagamaan.

(5) Para pemain tembang cianjuran dituntut memilik sensitivitas rasa yang tinggi. Ini merupakan cerminan dari budaya yang menuntut adanya kepekaan rasa atau alus rasa. Dengan memiliki alus rasa, maka masyarakat Sunda akan menjadi masyarakat yang silih asah, silih asih, dan silih asuh. Dengan demikian, kerukunan, kedamaian dan keharmonisan pun akan tercipta dengan sendirinya. Selain itu, apabila masyarakat Sunda memiliki alus rasa, maka akan selalu berhati-hati dalam segala ucapan dan perbuatannya, serta akan dapat mengendalikan emosinya dengan baik. Ketika pada gilirannya itu emosi diubah

(12)

11

dan dikemas menjadi keindahan dalam ucapan dan perbuatan, di situlah letak kesempurnaan manusia Sunda.

Dari kelima poin di atas, peserta didik dapat memahami bahwa budaya Sunda merupakan salah satu budaya yang memiliki nilai keluhuran dan kehalusan. Ketiga, melalui pemilihan karya seni. Dalam hal ini, guru melakukan pemilihan terhadap berbagai macam genre seni, untuk dicari yang sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan peserta didik, artinya mereka diberi kesempatan untuk ikut melakukan penilaian. Agar kegiatan ini lebih sistematis, maka pemilihan dapat dilakukan dengan mengambil prosedur sebagai berikut. (1) tahap eksplorasi. Pada tahap ini guru dan peserta didik mengumpulkan informasi ihwal berbagai macam jenis kesenian. (2) tahap klasifikasi. Pada tahap ini guru dan murid memberikan penilain terhadap semua jenis kesenian, untuk diambil jenis mana yang sesuai dengan norma-norma setempat. (3) tahap implementasi. Pada tahap ini, guru dapat mengimplementasikan hasil klasifikasi dan menerapkannya kepada peserta didik. Dengan cara ini, peserta didik diharapkan mampu memahami tentang nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai jenis kesenian.

D. Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagai upaya menghasilkan para peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual dan keindahan moral, salah satunya dapat dilakukan melalui pengajaran pendidikan seni musik dengan berbasis tradisi lokal. Oleh sebab itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para pendidik seni musik khususnya adalah sebagai berikut. Pertama, materi pelajaran pendidikan seni musik harus berasal dari budaya lokal bukan dari budaya luar. Kedua, pelajaran seni musik diajarkan sebagai upaya memberikan pengalaman estetis bukan usaha untuk mencetak seniman secara utuh. Ketiga, pengajaran materi seni musik harus diiringi dengan penanaman nilai atau makna tidak hanya sekedar belajar praktek bermusik. Oleh karena itu, pengajaran seni musik dapat dilakukan dengan jalan mencari atau mengggali nilai dari berbagai genre seni melalui tiga cara: (1) pembelajaran teks dan kontekstual.

(13)

12

(2) apresiasi seni, dan (3) pemilihan karya seni yang dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu: tahap eksplorasi, tahap klasifikasi, dan tahap implementasi. Dengan demikian, diharapkan peserta didik dapat menjadi generasi penerus yang memiliki keindahan moral, mampu menanamkan kearifan lokal dan berwawasan global, sehingga siap sedia dalam menghadapi perubahan atau perkembangan zaman.

E. Daftar Pustaka

Alwasilah, A. Chaedar. (2006). Pokoknya Sunda. Bandung: PT. Kiblat Buku Utama.

Dewantara, Ki Hadjar. (1962). Pendidikan. Yogyakarta: Taman Siswa. Dewantara, Ki Hadjar. (1967). Kebudayaan. Yogyakarta: Taman Siswa.

Dewey, John. (2009). Pendidikan Dasar Berbasis Pengalaman. Indonesia: PT. Indonesia Publishing.

Elliot, David. J. (1995). Music Matters. New York: Oxford University Press. Johnson, Elaine. B. (2006). Contextual Teaching and Learning. Bandung: Mizan

Learning Center.

Mack, Dieter. (1996). Pendidikan Musik: Antara Harapan dan Realitas. Bandung: University Press IKIP Bandung.

Rahmawati, Yeni. (2005). Musik Sebagai Pembentuk Budi Pekerti: Sebuah Panduan untuk Pendidikan. Yogyakarta: Panduan.

Sumardjo, Jakob. (2000). Filsafat Seni. Bandung: ITB.

Suryadi, Ace. (2011). “Pendidikan Karakter Bangsa: Pendekatan Jitu Menuju Sukses Pembangunan Pendidikan Nasional”, dalam Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Makalah disajikan dalam seminar nasional Quo Vadis Seni Tradisional 7 pada prodi Pendidikan Seni UPI, Desember 2011,

Referensi

Dokumen terkait

Akibat dari situasi tersebut adalah banyaknya siswa pemelajar bahasa asing yang mengalami kesulitan ketika datang ke negara penutur jati atau kesulitan memahami

Pengaruh interaksi ini dirasa akan lebih kuat, karena menurut teori berbasis sumber daya nilai koneksi politik terutama didorong oleh hubungan dengan pemerintah,

Dari perbandingan yang telh dilakukan, didapat kan hasil (1) jumlah variabel yang diubah pada kedua fase yaitu sebanyak 1 variabel; (2) perubahan arah kedua fase

Dengan demikian dari penjelasan ke delapan golongan yang berhak menerima zakat yaitu fakir miskin dalam konteks pada masa sekarang yaitu orang yang tidak memiliki kehidupan

%etelah menerima surat usulan dari Kepala Kantor Pertanahan Ka+upaten Ku+u Raya, maka tahap selanjutnya adalah Kepala Kantor  :ilayah mem+uat surat keputusan

kecemasan ibu menopause di Kelurahan Sorosutan Umbulharjo Yogyakarta menunjukkan bahwa ibu pre menopause sebagian besar tidak mengalami kecemasan dalam menghadapi

, dengan persyaratan transaksi yang akan dituangkan SPUAR dan disepakati serta ditandatangani oleh kedua belah pihak didalam MoU jual beli Binatang Reptil/Tokek panjang

(1) Mystery Shopping adalah salah satu teknik survei dalam menilai kualitas pelayanan publik dengan cara menugaskan seseorang atau sekelompok orang untuk berkunjung ke unit