• Tidak ada hasil yang ditemukan

GEMINSAH PUTRA H. SIREGAR /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GEMINSAH PUTRA H. SIREGAR /IKM"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENYULUHAN DENGAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI KELOMPOK TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PEKERJA LAS DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN

TAHUN 2013

TESIS

Oleh

GEMINSAH PUTRA H. SIREGAR 117032125/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PENGARUH PENYULUHAN DENGAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI KELOMPOK TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PEKERJA LAS DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN

TAHUN 2013

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

GEMINSAH PUTRA H. SIREGAR 117032125/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Tesis : PENGARUH PENYULUHAN DENGAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI

KELOMPOK TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PEKERJA LAS DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN TAHUN 2013

Nama Mahasiswa : GEMINSAH PUTRA H. SIREGAR Nomor Induk Mahasiswa : 117032125

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Kerja

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes Ketua

) (dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK Anggota

)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 17 Juli 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes Anggota : 1. dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK

2. Dra. Syarifah, M.S 3. Ir. Kalsum, M.Kes

(5)

PERNYATAAN

PENGARUH PENYULUHAN DENGAN METODE CERAMAH DAN DISKUSI KELOMPOK TENTANG ALAT PELINDUNG DIRI

TERHADAP PENINGKATAN PERILAKU PEKERJA LAS DI KECAMATAN PERCUT SEI TUAN

TAHUN 2013

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Juli 2013

Geminsah Putra H. Siregar 117032125/IKM

(6)

ABSTRAK

Di Kecamatan Percut Sei Tuan khususnya Kelurahan Kenangan dan Kenangan Baru terdapat bengkel-bengkel las yang sifatnya informal. Dari hasil survei diperoleh bahwa masih banyak pekerja yang bekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi kelompok terhadap peningkatan perilaku pekerja las.

Jenis penelitian bersifat quasi-experiment dengan rancangan Pretest-Postest Group Design sejak bulan Februari sampai dengan Mei 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja las yang terdapat di Kelurahan Kenangan dan Kenangan Baru berjumlah 42 orang dan seluruhnya dijadikan sampel. Pengumpulan data diperoleh dari kuesioner pengetahuan, sikap yang sudah di uji validitas, dan observasi terhadap pemakaian alat pelindung diri.

Hasil analisis bivariat menunjukkan ada pengaruh penyuluhan metode ceramah dengan poster (p=0,000) dan diskusi kelompok dengan modul (p=0,000) terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan pekerja dan hasil analisis multivariat menunjukkan diskusi kelompok lebih baik dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pekerja yang ditandai dengan lebih tingginya rerata nilai diskusi kelompok dengan modul yaitu sebesar 6,67>4,67 untuk pengetahuan dan 18,48>13,00 untuk sikap dengan (p<0,05). Sedangkan pada aspek tindakan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap pemakaian alat pelindung diri dengan nilai (p=1,000)

Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang sebagai pengambil kebijakan diharapkan agar lebih mendorong puskesmas-puskesmas di wilayah kerjanya untuk melaksanakan program UKK (Upaya Kesehatan Kerja) dalam meningkatkan perilaku pekerja sektor informal khususnya mengenai alat pelindung diri, dan Dinas Tenaga Kerja agar lebih aktif memonitoring para pekerja sektor informal khususnya pekerja las dalam pemakaian alat pelindung diri. Kepada pemilik bengkel diharapkan agar melengkapi alat pelindung diri pada pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mengawasi pekerja agar memakai alat pelindung diri saat bekerja. Kata Kunci : Ceramah, Diskusi, Perilaku, Alat Pelindung Diri

(7)

ABSTRACT

There are some informal welding shops in Percut Sei Tuan Subdistrict, especially at Kelurahan Kenangan and Kenangan Baru. From the preliminary survey, it has been found that there are still many employees who do not use Personal Protection Devices (APD). The objective of the research was to know the influence of speech and group discussion methods in counseling on the increase of welding employees’ behavior.

The type of the research was quasi-experiment with pretest-posttest group design; the research was conducted from February until May, 2013. The population was 42 welding employees at Kelurahan Kenangan and Kenangan Baru, and all of them were used as the samples.

The result of bivariate analysis showed that there was the influence of speech method (p=0.000) and group discussion (p=0.000) in counseling on the increase of the employees’ knowledge, attitude.and action. The result of multivariate analysis showed that group discussion was better than speech in increasing the employees’ knowledge and attitude; it was identified by the high level of the average grade in group discussion: 6.67>4.67 for knowledge and 18.48>13.00 for attitude (p<0.05), While the action aspect showed no significant difference to the use of personal protective devices by value (p = 1.000

It is recommended that the management of the Health Office in Deli Serdang District as the policy maker should encourage all Public Health Centers (Puskesmas) in their working area to carry out the UKK (work health effort) program in order to increase the behavior of employees in informal sector, especially about personal protection devices

)

and the Department of Labor in order to more actively monitor the informal sector workers especially workers in the use of welding personal protective devices. The owners of welding shops should provide personal protection devices to the employees according to their specialization and supervise workers to wear personal protective devices while working.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok tentang Alat Pelindung Diri terhadap Peningkatan Perilaku Pekerja Las di Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2013”.

Dalam penyusunan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan, dorongan, bimbingan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Univrsitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes, dan dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK, selaku ketua komisi pembimbing dan anggota komisi pembimbing yang telah meluangkan waktu, pemikiran, arahan dan bimbingan hingga selesainya penulisan tesis ini.

(9)

5. Dra. Syarifah, MS, dan Ir. Kalsum, M.Kes, selaku komisi penguji yang telah memberikan bimbingan, kritik, serta saran yang sangat membantu untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.

6. Ir. Zuraidah Nasution, M.Kes, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Medan, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Camat Kecamatan Percut Sei Tuan, yang telah memberikan izin dan informasi kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.

8. Teristimewa kepada istri tercinta Fitriyani Pulungan, M.Kes, untuk semua do’a, dukungan dan pengorbanan yang telah diberikan. Anak-anak kami yang tersayang Amri Rosidi Siregar dan Ummi Zahraini Siregar yang selalu mengerti dan menerima kekurangan waktu dan perhatian serta sebagai sumber semangat selama penulis mengikuti pendidikan.

9. Ayahanda Drs.H. Muddan Siregar dan Hj. Tiorlan Harahap, S.Ag serta Bapak dan Ibu mertua Drs.H. Haspan Pulungan, SH dan Hj. Khotnaida Hasibuan yang telah memberikan dukungan moril selama penulis mengikuti pendidikan.

10. Seluruh rekan-rekan Mahasiswa di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Khususnya peminatan Kesehatan Kerja yang telah bersedia menjadi teman berdiskusi dan memberikan masukan untuk penyelesaian tesis ini.

(10)

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan dari segi bahasa maupun isinya, sehingga saran dan masukan sangat diharapkan untuk kesempurnaan tesis ini. Akhirnya penulis berharap semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dengan limpahan berkah dan rahmatnya. Semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.

Medan, Juli 2013 Penulis

Geminsah Putra H. Siregar 117032125/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Geminsah Putra H. Siregar, lahir pada tanggal 18 Mei 1978 di Medan, anak dari pasangan Ayahanda Drs. H. Muddan Siregar dan Ibu Hj. Tiorlan Harahap, S.Ag. menikah dengan Fitriyani Pulungan, M.Kes dan telah dikaruniai dua orang anak bernama Amri Rosidi Siregar dan Ummi Zahraini Siregar.

Pendidikan formal penulis dimulai dari SDN 06666 Medan tamat Tahun 1990, Sekolah Menengah Pertama SMPN 27 Medan tamat Tahun 1993, Sekolah Menengah Analis Kesehatan Depkes RI tamat Tahun 1996, Sekolah D-III Analis Kesehatan Poltekkes Depkes Medan tamat Tahun 2002, S1 Kesehatan Masyarakat USU Medan tamat Tahun 2007.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2011 dan menyelesaikan pendidikan tahun 2013.

Pada tahun 1998 s/d 2004 penulis bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dan 2004 s/d sekarang bertugas di Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Medan sebagai staf Administrasi Akademik.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ……….. i

ABSTRACT ……… ii

KATA PENGANTAR ………... iii

RIWAYAT HIDUP ………... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ……….. x

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Permasalahan ... 9 1.3. Tujuan Penelitian ... 10 1.4. Hipotesis ... 10 1.5. Manfaat Penelitian ... 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Alat Pelindung Diri (APD) ... 11

2.1.1. Definisi Alat Pelindung Diri (APD) ... 11

2.1.2. Dasar Hukum Alat Pelindung Diri (APD) ... 11

2.1.3. Pemilihan Alat Pelindung Diri (APD) ... 12

2.1.4. Penyimpanan Alat Pelindung Diri (APD) ... 13

2.1.5. Alat Pelindung Diri (APD) di Bengkel Las ... 13

2.2. Kesehatan dalam Pekerjaan Las ... 19

2.2.1. Bahaya Pengelasan ... 20

2.3. Penyuluhan ... 21

2.3.1. Proses Adopsi dalam Penyuluhan ... 22 2.3.2. Komunikasi dalam Penyuluhan ... 23

2.3.3. Metode Penyuluhan 2.3.4. Media Penyuluhan ... 29

... 25

2.3.5. Fungsi Media Penyuluhan ... 30

2.4. Diskusi ... 31 2.5. Modul ... 32 2.6. Perilaku ... 33 2.6.1. Konsep Perilaku ... 35 2.6.2. Perubahan Perilaku ... 37 2.6.3. Pengetahuan ... 39

(13)

2.6.4. Sikap ... 41

2.6.5. Tindakan ……… 43

2.7. Landasan Teori ... 44

2.8. Kerangka Konsep ... 45

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 47

3.1. Jenis Penelitian ... 47

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 48

3.3. Populasi dan Sampel ... 48

3.3.1. Populasi ... 48

3.3.2. Sampel ... 48

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 49

3.4.1. Pengumpulan Data ... 49

3.5. Tahapan Pengumpulan Data ... 50

3.6. Definisi Operasional ... 52

3.7. Aspek Pengukuran ... 53

3.8. Metode Analisa Data ... 54

BAB 4. HASIL PENELITIAN ……… 55

4.1. Gambaran Lokasi Penelitian ………. 55

4.2. Karakteristik Responden ………... 56

4.2.1. Karakteristik Responden Menurut Umur ………... 56

4.2.2. Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendidikan 56

4.2.3. Karakteristik Responden Menurut Masa Kerja ………. 57

4.2.4. Pengetahuan Sebelum Ceramah dan Diskusi kelompok 57 4.2.5. Sikap Sebelum Ceramah dan Diskusi Kelompok …….. 58

4.2.6. Tindakan Pemakaian APD Sebelum Ceramah dan Diskusi Kelompok ……….. 59

4.2.7. Tindakan Pemakaian APD Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok ……….. 59

4.2.8. Pengetahuan Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok 60 4.2.9. Sikap Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok …….. 61

4.3. Analisa Data ………. 61

4.3.1. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden Sebelum Dan Sesudah Ceramah ……… 61

4.3.2. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sebelum Dan Sesudah Ceramah ………... 62

4.3.3. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden Sebelum Dan Sesudah Diskusi Kelompok ……… 63

4.3.4. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sebelum Dan Sesudah Diskusi Kelompok ………... 63

(14)

4.3.5. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden

Sebelum dan Sesudah Ceramah ……… 64

4.3.6. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden Sebelum dan Sesudah Diskusi Kelompok ……… 64

4.3.7. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden Sesudah Intervensi Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok ………. 65

4.3.8. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sesudah Intervensi Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok ... 66

4.3.9. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden Sesudah Intervensi Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok ……….. 67

BAB 5. PEMBAHASAN ………. 68

5.1. Pengetahuan dan Sikap Sebelum dan Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok ……… 68

5.2. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan dan Sikap Pekerja Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok ……… 71

5.3. Pemakaian APD Sebelum dan Sesudah Ceramah dan Diskusi Kelompok ………. 73

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 77

6.1. Kesimpulan ………... 77

6.2. Saran ………. 78

DAFTAR PUSTAKA ... 79

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur ………….. 56 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pendidikan …… 57 Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Masa Kerja …… 57 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Sebelum Diberi

Ceramah \dan Diskusi Kelompok ………. 58 Tabel 5. Distribusi Frekuensi Sikap Sebelum Diberi Ceramah

dan Diskusi Kelompok ……… 58 Tabel 6. Distribusi Frekuensi Pemakaian Alat Pelindung Diri

Sebelum diberi Ceramah dengan Poster dan Diskusi

Kelompok dengan Modul ………... 59 Tabel 7. Distribusi Frekuensi Pemakaian Alat Pelindung Diri

Sesudah diberi Ceramah dengan Poster dan Diskusi

Kelompok dengan Modul ………... 60 Tabel.8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Sesudah Diberi

Ceramah dengan Poster dan Diskusi Kelompok

Dengan Modul ……… 61

Tabel 9. Distribusi Frekuensi Sikap Sesudah Diberi Ceramah dengan

Poster dan Diskusi Kelompok dengan Modul ……… 61 Tabel 10. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden

Sebelum dan Sesudah Diberikan Ceramah dengan

Poster ………... 62

Tabel 11. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sebelum

(16)

Tabel 12. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Dilakukan Diskusi Kelompok

Dengan Modul ……….. 63

Tabel 13. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Diskusi Kelompokdengan

Modul …………... 64 Tabel 14. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden

Sebelum dan Sesudah Dilakukan Ceramah dengan

Poster ……… 64 Tabel 15. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden

Sebelum dan Sesudah Dilakukan Diskusi Kelompok

Dengan Modul ………. 65 Tabel 16. Perbandingan Rerata Nilai Pengetahuan Responden

Sesudah Intervensi Metode Ceramah dengan Poster

dan Diskusi Kelompok dengan Modul………... 66 Tabel 17. Perbandingan Rerata Nilai Sikap Responden Sesudah

Intervensi Metode Ceramah dengan Poster dan Diskusi

Kelompok dengan Modul………... 66 Tabel 18. Perbandingan Rerata Nilai Tindakan Responden Sesudah

Intervensi Metode Ceramah dengan Poster dan Diskusi

Kelompok dengan Modul ……….. 67

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan/Kuesioner ………. 83

Lampiran 2. Poster APD ………. 89

Lampiran 3. Modul APD Di Bengkel Las ………... 92

Lampiran 4. Materi Penyuluhan APD ………. 99

Lampiran 5. Master Data Observasi ……… 104

Lampiran 6. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ………... 106

Lampiran 7. Master Data Penelitian ………...……… 110

Lampiran 8. Hasil Uji Statistik ………... 114

Lampiran 9. Surat Izin Penelitian ………... 123

Lampiran 10. Surat Keterangan Telah Selesai Melaksanakan Penelitian ………... 124

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan nasional saat ini sangat tergantung pada kompetensi, kualitas dan profesionalisme sumber daya manusia termasuk keselamatan dan kesehatan kerja. Dari sudut pandang dunia bisnis, produktivitas yang baik dan daya saing diperlukan agar dapat berpartisipasi dalam bisnis internasional dan domestik. Salah satu faktor yang harus dijaga dan dipelihara dari kemampuan seseorang adalah pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja dalam berbagai kegiatan masyarakat, terutama dalam dunia kerja. Setiap tahun, di seluruh dunia, ada 270 juta kecelakaan kerja, 160 juta pekerja menderita penyakit akibat kerja, 2,2 juta kematian kerja dan kerugian finansial sebesar US $ 1,25 triliun (DK3N, 2007).

Sektor industri memegang peranan penting dalam memacu perekonomian nasional selain dapat meningkatkan perekonomian nasional, juga dapat meningkatkan devisa dan dapat mengatasi masalah ketenagakerjaan khususnya dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Perkembangan industri yang pesat tanpa disertai dengan upaya pengamanan efek samping, penerapan teknologi akan menimbulkan berbagai masalah keselamatan dan kesehatan kerja dan kebakaran, cacat bahkan kematian. Oleh karena itu upaya-upaya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dan pencegahan kecelakaan kerja pada semua sektor kegiatan produksi harus terus dilakukan secara berkesinambungan.

(19)

Pencegahan dan pengendalian potensi bahaya ditempat kerja dapat dilakukan secara Engineering Control, Administrative Control, dan Personal Protective Equipment (PPE) yang dikenal dengan Alat Pelindung Diri (Depkes RI, 2005).

Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dinyatakan bahwa salah salah satu kegiatan pokok dari pembangunan kesehatan adalah kesehatan kerja. Prinsip upaya kesehatan kerja adalah suatu upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya dan agar diperoleh produktifitas kerja yang optimal.

Di Indonesia sesuai data BPS tahun 2007 jumlah angkatan kerja yang bekerja tercatat 99.930.217 orang pekerja yang terdiri dari laki-laki 63.147.938 orang dan perempuan 36.782.279 orang, sekitar 70%-80% nya bekerja di sektor informal baik di pedesaan maupun perkotaan. Permasalahan kesehatan kerja pada pekerja di Indonesia umumnya antara lain rendahnya kemampuan pemeliharaan kesehatan dirinya dan keluarganya, rendahnya tingkat pendidikan pekerja serta beban kerja yang tidak sesuai dengan kapasitas kerjanya yang diperberat oleh pajanan-pajanan bahaya potensial akibat lingkungan kerja yang buruk (Depkes RI, 2008).

Data dari ILO (International Labour Organization) menyebutkan bahwa di Indonesia setiap tahunnya ada 99.000 kecelakaan kerja, sekitar 2.144 diantaranya meninggal dunia dan 42 orang cacat seumur hidup mengakibatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia rugi Rp. 280 triliun akibat kecelakaan kerja (Harian Pos Kota Jakarta, 2012).

(20)

Kesehatan kerja dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup tenaga kerja, sehingga tenaga kerja sebagai pelaku usaha dapat merasakan dan menikmati hasilnya. Upaya pelayanan kesehatan kerja dalam suatu bidang usaha memegang peranan sangat penting, karena menyangkut sumber daya manusia, produktivitas dan kesejahteraan. Keberhasilan dalam merealisasikan usaha kesehatan kerja akan berdampak positif dalam meningkatkan produktivitas perusahaan dan pendapatan serta kesejahteraan tenaga kerja. Usaha ini hanya dapat berhasil jika semua pihak dapat ikut terlibat dengan kesadaran yang penuh tanggung jawab (Tarwaka, 2008).

Salah satu jenis pekerjaan sektor informal yang rentan terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja adalah pekerja las. Kecelakaan-kecelakaan tersebut pada umumnya disebabkan karena kurangnya kehati-hatian, cara memakai alat yang salah, pemakaian pelindung yang kurang baik dan kesalahan-kesalahan lainnya. Untuk menghindarkan kecelakaan tersebut, perlu penguasaan pengetahuan dan mengetahui tindakan-tindakan apa yang harus diambil bila terjadi kecelakaan (Wiryosumitro dan Okumura, 2004).

Kegiatan pengelasan berorientasi dalam menyatukan logam-logam yang akan menghasilkan percikan api dan pecahan-pecahan logam berupa partikel kecil. Pengelasan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena memiliki resiko fisik yang sangat tinggi sehingga dalam pengerjaannya memerlukan keahlian serta peralatan khusus agar seorang pengelas (welder) tidak terkena kecelakaan kerja (Sonawan, 2003).

(21)

OSHA (occupational safety and health administration) telah melakukan penelitian dimana menyatakan bahwa telah terjadi 200 kasus kematian yang berhubungan dengan kegiatan pengelasan pada umumnya disebabkan karena kurangnya kehati-hatian, cara memakai alat yang salah, pemakaian pelindung diri yang kurang baik, dan kesalahan-kesalahan lainnya (Putra, 2011).

Hasil penelitian Prasetya et.al. (2007) menunjukkan bahwa pekerja pengelas yang selalu menggunakan APD pada usia dewasa 20%, pada masa kerja lama (lebih dari sama dengan 5 tahun) sebesar 16,7%, tingkat pengetahuan yang baik (10%), sikap yang mendukung (5%), ketersediaan APD cukup (35,7%).

Studi kasus yang dilakukan oleh Maulana dan Wignjosoebroto (2011) dalam Evaluasi dan Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) untuk Menekan Unsafe Behavior Pekerja (Studi Kasus PT. DPS) menunjukkan bahwa perilaku tidak aman yang paling sering terjadi adalah tidak memakai APD saat bekerja. Dari total 60 responden, 37 orang dengan presentasi 50,7% memilih tidak memakai APD saat bekerja.

Jika pengendalian bahaya kerja pada sumbernya atau pada saat penyebarannya tidak memungkinkan atau dibutuhkan perlindungan yang lebih ketat, maka pekerja harus dilindungi dari pajanan bahaya kerja dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Alat Pelindung Diri (APD) adalah merupakan salah satu usaha dalam mencegah terjadinya Kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh bahaya di tempat kerja disebabkan keadaan lingkungan kerja yang tidak baik. Bahaya

(22)

kerja tersebut terdiri dari bahaya kimiawi, fisik, biologis, ergonomis dan psikologis (Rijanto, 2010).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali. Upaya K3 diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat melakukan pekerjaan. Dalam pelaksanaan K3 sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu manusia, bahan, dan metode yang digunakan, yang artinya ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan dalam mencapai penerapan K3 yang efektif dan efisien. Sebagai bagian dari ilmu Kesehatan Kerja, penerapan K3 dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu adanya organisasi kerja, administrasi K3, pendidikan dan pelatihan, penerapan prosedur dan peraturan di tempat kerja, dan pengendalian lingkungan kerja (Setyawati, 1996).

Suizer (1999) dalam Maulana dan Wignjosoebroto (2011) salah seorang praktisi Behavioral Safety mengemukakan bahwa para praktisi K3 telah melupakan aspek utama dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja yaitu aspek behavior (perilaku) para pekerja yang berada dilapangan. Pernyataan ini diperkuat oleh Cooper (2007) bahwa walaupun sulit untuk di kontrol secara tepat, 80-95 persen dari seluruh kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh unsafe behavior. Pendapat Cooper tersebut didukung oleh hasil riset dari NCS tentang penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada tahun 2009 yang menunjukkan bahwa penyebab kecelakaan kerja 88%

(23)

adalah adanya unsafe behavior, 10% karena unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya. Penelitian lain yang dilakukan oleh DuPont Company menunjukkan bahwa kecelakaan kerja 96% disebabkan unsafe behavior dan 4% disebabkan unsafe condition.

Studi kasus yang dilakukan oleh Cory Angelina dan Katharina Oginawati mengenai Paparan Fisis Pencahayaan Terhadap Mata Dalam Kegiatan Pengelasan (Studi Kasus : Pengelasan Di Jalan Bogor) menunjukkan Intensitas radiasi UV-B tanpa adanya kegiatan pengelasan berada di atas nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kepmenaker No. 51 tahun 1999, baik untuk kondisi tanpa memakai ataupun memakai kacamata hitam. Sedangkan saat pengelasan intensitas radiasi UV-B sangat tinggi dan jauh melampaui NAB baik untuk kondisi tanpa memakai ataupun memakai kacamata hitam. Penggunaan kacamata pekerja belum dapat meredam intensitas UV-B sesuai NAUV-B yang ditetapkan. Tingkat kesilauan dari cahaya yang ditimbulkan sangat tinggi. Terbukti dari Skala deBoer dari hasil perhitungan yang menunjukkan angka <0. Artinya cahaya tampak yang dihasilkan menyebabkan kondisi mata pekerja tidak nyaman dan kondisi yang terus menerus dapat menyebabkan kelelahan mata sehingga berpotensi kecelakaan kerja.

Hasil penelitian yang dilakukan Irmawati (2009) diketahui bahwa potensi bahaya yang terdapat di bengkel las adalah tersulut peralatan las, percikan bunga api, terbentur benda keras dan asap (fumes). Sedangkan kecelakaan yang pernah terjadi yaitu percikan bunga api, tersulut peralatan las dan terbentur benda keras, selain itu

(24)

juga pernah teradi kecelakaan kerja hingga menewaskan satu orang pekerja las yang disebakan terjadi ledakan oleh mesin las karbit.

Hasil penelitian Sutjahjo (1997) didapatkan kasus tenaga kerja, masa kerja 22 tahun dengan keluhan saluran napas yang mendapat pajanan secara kronik oleh gas dan debu/uap logam hasil proses pengelasan. Konsentrasi gas CO, N02 akibat proses pengelasan di bawah NAB, debu uap logam konsentrasinya 3-8 kali di atas NAB, fisik dan radiologis talc ada kelainan, gangguan fungsi paru campuran obstruksi sedang dan restriksi sedang.

Salah satu program unggulan pemerintah dalam visi dan misi menuju Indonesia sehat 2010 adalah pelaksanaan upaya kesehatan kerja (UKK) dimana bertitik tumpu kepada puskesmas dimana sasaranya adalah kesehatan pekerja dan lingkungan kerja secara komprehensif sehingga dihasilkan produktifitas kerja yang optimal (Depkes.RI, 2008).

Penyuluhan diartikan sebagai pendidikan non formal yang diberikan kepada pekerja dan tujuan jangka pendeknya adalah berusaha untuk merubah perilaku (sikap, tindakan, dan pengetahuan) ke arah yang lebih baik sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah guna terwujudnya peningkatan dan kualitas ke arah yang diidealkan (Sastraatmadja,1993).

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh pasaribu (2012) mengemukakan bahwa ada pengaruh metode ceramah dengan media realia terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas V SDN Kutowinangun 07 Kota Salatiga yang ditandai dengan lebih tingginya rerata nilai sebesar 65,0 > 56,5.

(25)

Berikut penelitian yang dilakukan oleh Girsang (2009) mengemukakan bahwa ada pengaruh penyuluhan pestisida dengan metode diskusi dan simulasi terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap petani penyemprot pestisida di Desa Perteguhen Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang ditandai dengan peningkatan pengetahuan sebesar 40,0% dan sikap 46,7%.

Di Kecamatan Percut Sei Tuan khususnya Kelurahan Kenangan dan Kenangan Baru terdapat bengkel-bengkel las yang sifatnya informal yang umumnya mengerjakan pembuatan pagar, jerjak, jendela, pengelasan body mobil dan lain sebagainya. Rata-rata pekerja yang bekerja di bengkel las berjumlah 3-5 orang. Dari hasil survei diperoleh bahwa masih banyak pekerja yang bekerja pada saat mengelas tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), bahkan ada yang bekerja sambil merokok. Ketika dilakukan wawancara singkat kepada pekerja apakah pernah terjadi kecelakaan pada saat bekerja, mereka mengatakan pernah terjadi kecelakaan namun jarang yaitu berupa kaki yang tertusuk besi logam, tangan terbakar dan yang paling sering dialami adalah mata terasa perih setelah selesai bekerja. Informasi yang diperoleh dari pemilik bengkel-bengkel las bila dijumlahkan di tahun 2012 bahwa sudah ada tujuh kali kecelakaan kerja yang terjadi. Ketika ditanya kembali apakah setelah kejadian itu bapak menggunakan alat pelindung diri pada saat bekerja. Pekerja tersebut menjawab bahwa alat pelindung diri itu baik digunakan tapi terkadang mengganggu pada saat digunakan.

Sedangkan mengenai kondisi alat pelindung diri yang ada dari hasil survei diperoleh bahwa rata-rata alat pelindung diri yang ada di bengkel las hanya kaca mata

(26)

dan pelindung wajah (face shield) hanya sebagian kecil (1 – 2) orang saja yang memakai sepatu kerja, sarung tangan, dan pakaian kerja dari seluruh pekerja yang ada di Kelurahan Kenangan dan Kenangan Baru.

Selain hal tersebut diatas menurut pekerja bahwa mereka tidak pernah dikunjungi oleh petugas puskesmas setempat dan dari Dinas Tenaga Kerja sebagai instansi yang terkait terhadap permasalahan kesehatan pekerja dan tenaga kerja khususnya sektor informal, dan tidak pernah mendapatkan penyuluhan mengenai upaya kesehatan kerja, alat pelindung diri dimana upaya ini sangat penting sekali dilakukan agar perilaku pekerja tentang bahaya dan efek penyakit akibat kerja akan lebih baik dan mengurangi angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penyuluhan dengan Metode Ceramah dan Diskusi Kelompok Tentang Alat Pelindung Diri terhadap Peningkatan Perilaku pekerja las di Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2013”.

1.2. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi kelompok tentang alat pelindung diri terhadap peningkatan perilaku pekerja las di Kecamatan Percut Sei Tuan Tahun 2013.

(27)

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan maka tujuan penelitian ini adalah :

Menganalisis pengaruh penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi kelompok tentang alat pelindung diri terhadap peningkatan perilaku pekerja las.

1.4. Hipotesis

Berdasarkan tujuan penelitian, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :

Ada pengaruh penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi kelompok tentang alat pelindung diri terhadap peningkatan perilaku pekerja las.

1.5. Manfaat Penelitian

a. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang dan Puskesmas yang berada di wilayah kerjanya agar memberikan penyuluhan kepada tenaga kerja sektor informal dan Dinas Tenaga Kerja agar memberikan perhatian lebih kepada tenaga kerja sektor informal mengenai APD khususnya pekerja las. b. Sebagai bahan masukan kepada pemilik bengkel-bengkel las yang ada di

Kelurahan Kenangan dan Kenangan Baru agar lebih memperhatikan keadaan alat pelindung diri di bengkel las.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Alat Pelindung Diri

2.1. 1. Definisi Alat Pelindung Diri

Menurut U.S Departemen of labor & Industries, State Washington (2003) dalam Maulana dan Wignjosoebroto (2011), Alat Pelidung Diri (APD) adalah peralatan yang melindungi tubuh pekerja dari hazard dan kondisi – kondisi bahaya lainya, baik bahaya existing maupun bahaya potensial, yang dapat menyebabkan luka, penyakit ataupun kematian.

Alat Pelindung Diri selanjutnya disingkat APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja (Permenakertrans RI, No. 08 Tahun 2010).

Alat pelindung diri untuk pekerja adalah alat pelindung untuk pekerja agar aman dari bahaya atau kecelakaan akibat melakukan suatu pekerjaannya. Alat pelindung diri untuk pekerja di Indonesia sangat banyak sekali permasalahannya dan masih dirasakan banyak kekurangannya (Husaeri dan Yunus, 2003).

2.1.2 Dasar Hukum Alat Pelindung Diri (APD)

Dasar hukum mengenai alat pelindung diri (APD) diatur oleh peraturan pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1970 yaitu Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 2/M/BW/BK 1984 tentang pengesahan Alat Pelindung Diri, Instruksi Menteri Tenaga

(29)

Kerja No. Ins.05/M/BW/97 tentang Pengawasan Alat Pelindung Diri, Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 05/BW/97 tentang Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Surat Edaran Dirjen Binawas No. SE 06/BW/97 tentang Pendaftaran Alat Pelindung Diri. Instruksi dan Surat Edaran tersebut mengatur ketentuan tentang pengesahan, pengawasan dan penggunaan alat pelindung diri. Jenis APD menurut ketentuan tentang pengesahan, pengawasan dan penggunaannya meliputi alat pelindung kepala, alat pelindung telinga, alat pelindung muka dan mata, alat pelindung pernafasan, pakaian kerja, sarung tangan, alat pelindung kaki, sabuk pengaman, dan lain-lain (Suma’mur, 2009).

2.1.3 Pemilihan Alat Pelindung Diri

Dalam pemilihan APD haruslah memilih peralatan pelindung yang dapat memberikan pelindungan terhadap bahaya, Menurut Budiono (2002), cara-cara pemilihan APD harus dilakukan secara hati-hati dan memenuhi beberapa kriteria yang diperlukan antara lain:

1. APD harus memberikan perlindungan yang baik terhadap bahaya-bahaya yang dihadapi tenaga kerja

2. APD harus memenuhi standar yang telah ditetapkan

3. APD tidak menimbulkan bahaya tambahan yang lain bagi pemakaiannya yang dikarenakan bentuk atau bahannya yang tidak tepat atau salah penggunaan

(30)

2.1.4 Penyimpanan APD

Untuk menjaga daya guna dari APD, hendaknya disimpan di tempat khusus sehingga terbebas dari debu, kotoran, gas beracun, dan gigitan serangga/binatang, dan tempat tersebut hendaknya kering dan mudah dalam pengambilannya.

2.1.5 Alat Pelindung Diri (APD) di Bengkel Las a. Safety Helmet (Helm Pengaman)

Helm pengaman sangat penting penggunaannya, yaitu untuk menghindari: 1) Tumbukan langsung benda keras dengan kepala.

2) Kejatuhan langsung benda keras terhadap kepala.

3) Cipratan ledakan-ledakan kecil dari cairan las yang mengakibatkan terbakarnya bagian kepala (Nurdin, 1999).

Syarat-syarat dari helm pengaman yaitu: 1) Nyaman dipakai.

2) Kuat dan tahan dari benturan, panas dan goresan benda tajam. 3) Daya kalor panasnya relatif kecil.

4) Terbuat dari fibre glass b. Kaca Mata Las (Gogle)

Pelindung mata atau gogle harus mampu menurunkan kekuatan pancaran cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah. Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Wiryosumitro dan Okumura,2004).

(31)

Juru las harus memakai pelindung mata berupa kaca gelap yang dapat menyaring sinar ultraviolet. Radiasi ultraviolet yang dihasilkan dari busur nyala listrik, akan dapat mengeringkan retina mata dan menyebabkan kebutaan. Kaca penyaring cahaya mempunyai gradasi kegelapan seperti No. 10 untuk elektroda diameter hingga 5/32” (4 mm), No. 12 untuk elektroda diameter 3/16 hingga 1/4" (4,8 hingga 6,4 mm), No. 14 untuk elektroda diameter diatas 1/4 “ (6,4 mm). Makin besar nomor gradasi, makin gelap kaca tersebut sehingga daya saring cahayanya juga makin kuat (Widharto, 2007).

Kaca mata las berguna melindungi mata dari bahaya sinar yang menyilaukan (kerusakan retina mata) pada saat melaksanakan pengelasan. Kacamata las dapat dibedakan terutama pada kacanya, antara pekerjaan las asetilin dan las listrik. Kacamata las listrik lebih gelap dibandingkan dengan kacamata las asetilin. Spectacles berguna untuk melindungi mata dari terak, karena terak sangat rapuh dan keras pada waktu dingin (Soebandono, 2009).

Hal-hal yang penting harus diperhatikan dalam memilih gogle adalah : 1. Harus mempunyai daya penerus yang tepat terhadap cahaya tampak. 2. Harus mampu menahan cahaya dan sinar yang berbahaya.

3. Harus mempunyai sifat-sifat yang tidak melelahkan mata.

4. Harus tahan lama dan mempunyai sifat yang tidak mudah berubah.

5. Harus memberikan rasa nyaman kepada pemakai (Wiryosumitro dan Okumura, 2004).

(32)

c. Pelindung Muka

Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat dari cahaya busur, percikan dan lainnya, yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja (Wiryosumitro dan Okumura, 2004).

Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam, dapat berbentuk helm las (helmet welding) dan kedok las (handshield welding). Kedok las yang dipegang dengan tangan, digunakan pada waktu mengelas di bawah tangan, vertikal maupun horizontal. Helm las dipakai pada kepala sehingga kedua tangan bisa bebas. Alat ini digunakan terutama pada waktu mengelas posisi di atas kepala. Kedok las dan helm las dilengkapi dengan kaca penyaring (filter) yang harus dipakai selama proses pengelasan. Tujuan dari filter ini adalah untuk menghilangkan dan menyaring sinar infra merah dan ultra violet. Filter dilapisi oleh kaca bening atau kaca plastik yang ditempatkan di sebelah luar dan dalam, fungsinya untuk melindungi filter dari percikan-percikan las (Nurdin, 1999).

d. Alat Pelindung Tangan (Sarung Tangan)

Pekerjaan mengelas selalu berhubungan dengan benda-benda panas dan arus listrik. Untuk melindungi jari-jari tangan dari benda panas dan sengatan listrik, maka tukang las harus memakai sarung tangan yang tahan panas dan bersifat isolasi. Sarung tangan harus lemas sehingga tidak mengganggu pekerjaan jari-jari tangan.

Alat pelindung tangan (sarung tangan) terbuat dari bermacam-macam bahan disesuaikan kebutuhan. Pada pekerjaan pengelasan adalah (Soebandono, 2009) :

(33)

a. Sarung Tangan Asbes

Sarung tangan asbes digunakan terutama untuk melindungi tangan terhadap bahaya pembakaran api. Sarung tangan ini digunakan bila setiap memegang benda yang panas, seperti pada pekerjaan mengelas dan pekerjaan menempa (pandai besi).

b. Sarung Tangan Kulit

Sarung tangan kulit digunakan untuk memberi perlindungan dari ketajaman sudut pada pekerjaan. Perlengkapan ini dipakai pada saat harus mengangkat atau memegang bahan tersebut. Untuk melindungi kulit tangan juru las harus memakai sarung tangan dari kulit karena pada saat bekerja tangan berkeringat maka untuk menghindari bahaya listrik dan panas bagian dalamnya harus dilapisi dengan sarung tangan katun (Wiryosumitro dan Okumura, 2004).

e. Alat Pelindung Telinga

Alat pelindung telinga digunakan untuk melindungi telinga dari kebisingan pada waktu menggerinda, meluruskan benda kerja, persiapan pengelasan dan lain sebagainya. Dan berguna untuk mengurangi intensitas suara yang masuk kedalam telinga yang tingkat kebisingannya melebihi 85 db (Nurdin, 1999).

f. Alat Pelindung Pernafasan (Hidung)

Paru-paru harus dilindungi manakala udara tercemar atau ada kemungkinan kekurangan oksigen dalam udara. Pencemar-pencemar mungkin berbentuk gas, uap logam, kabut, debu, dan lain-lainnya. Alat pelindung pernafasan dapat dibedakan atas :

(34)

a. Masker

Untuk melindungi, mengurangi debu dan partikel lebih besar masuk kedalam pernafasan, biasanya terbuat dari kain. Masker banyak jenisnya diantaranya masker las listrik, masker muka, masker hidung atau mulut.

b. Respirator

Berguna untuk melindungi pernafasan dari debu, kabut, uap, logam, asap dan gas (Wiryosumitro dan Okumura, 2004).

g. Alat Pelindung Kaki (Sepatu)

Untuk menghindarkan kerusakan kaki dari tusukan benda tajam atau terbakar oleh zat kimia, tertimpa benda, maka sebagai pelindung digunakan sepatu. Sepatu ini harus terbuat dari bahan yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan (Soebandono, 2009).

a. Sepatu karet anti elektostatik digunakan untuk melindungi pekerja dari bahaya listrik hubungan pendek, sepatu ini harus tahan terhadap arus listrik 10.000 volt selama 3 menit.

b. Sepatu dari kulit yang dilengkapi baja diujungnya untuk melindungi kaki dari benda-benda tajam, kejatuhan benda-benda berat dan untuk melindungi jari-jari kaki.

h. Pelindung Dada (Apron)

Ketentuan memakai sebuah apron pelindung harus dibiasakan diluar baju kerja. Apron kulit dipakai untuk perlindungan dari rambatan panas nyala api dan sinar yang tajam, karena sinar las listrik termasuk sinar yang sangat tajam. Apron

(35)

dapat dibuat dari kain, kulit, plastik, asbes atau kain yang dilapisi aluminium (Soebandono, 2009).

i. Pakaian Pelindung

Dengan menggunakan pakaian pelindung yang dibuat dari kulit, maka pakaian biasa akan terhindar dari percikan api terutama pada waktu mengelas dan menempa. Lengan baju jangan digulung, sebab lengan baju akan melindungi tangan dari sinar api (Soebandono, 2009).

Syarat-syarat pakaian kerja yaitu :

a. Bahan pakaian kerja harus terbuat dari kain katun atau kulit, karena katun atau kulit tidak akan cepat bereaksi bila bersentuhan dengan panas.

b. Menghindari pakaian kerja yang terbuat dari polyster atau sintetis, karena bahan tersebut akan cepat bereaksi dan mudah menempel pada kulit badan apabila kena loncatan bunga api.

c. Pakaian kerja tidak terlalu longgar dan terlalu sempit.

d. Hindarkan celana dari lipatan bagian bawah, hal ini berguna untuk menghindari dari tersangkut dengan benda lain dan masuknya bunga api

Menurut Widharto (2007) standar peralatan alat pelindung diri untuk seorang pekerja las terdiri dari kaca mata dan (faceshield), sarung tangan, masker (respirator), sepatu kerja dan pakaian kerja.

(36)

2.2 Kesehatan dalam Pekerjaan Las

Pekerjaan las menyangkut penggunaan panas, pancaran busur nyala, dan polusi udara oleh gas-gas, baik yang berasal dari terbakarnya coating maupun gas lindung yang jika terkena jaringan tubuh atau terhisap dalam jangka waktu lama akan menyebabkan gangguan kesehatan yang cukup serius dan dapat meninggalkan cacat permanen atau bahkan kematian. Selanjutnya pekerjaan las juga menyebabkan timbulnya resiko terjadinya bahaya kebakaran atau peledakan (Widharto, 2007).

Yang terpenting harus dilindungi dalam pengelasan adalah keselamatan indera penglihatan (mata), alat pernafasan (paru-paru) dan kulit. Mata perlu dilindungi dari radiasi busur nyala listrik yang berupa sinar ultra ungu dan infra merah yang berintensitas sangat tinggi. Akibat dari radiasi tersebut retina dan selaput luar mata dapat rusak dan kering, dan jika kerusakan telah demikian lanjut, maka mata dapat menderita kebutaan.

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah alat pernafasan. Pengelasan selain menghasilkan (shielding gas) yang berasal dari lapisan luar elektroda (coating), juga menghasilkan gas-gas hydrogen, ozon dan lain-lain yang jika terhirup dalam jangka waktu yang panjang akan merusak kesehatan, bahkan dapat meracuni darah. Oleh sebab itu pelaksana pengelasan harus dilindungi dari pengaruh gas-gas tersebut.

Kulit muka, lengan dan kaki harus pula dilindungi dari panas dan radiasi ultra ungu yang mengakibatkan kulit terbakar. Rasa kulit terbakar radiasi suhu panas dan ultra ungu adalah pedih dan panas (Widharto, 1996).

(37)

2.2.1 Bahaya Pengelasan

Wiryosumitro dan Okumura, (2004) mengatakan bahwa ada 5 jenis bahaya yang penting diperhatikan dalam pengerjaan pengelasan yaitu :

1. Kecelakaan Karena Cahaya dan Sinar

Selama proses pengelasan akan timbul cahaya dan sinar yang dapat membahayakan juru las dan pekerja lain yang ada disekitar pengelasan. Cahaya tersebut meliputi cahaya yang dapat dilihat atau cahaya tampak, sinar ultraviolet dan sinar infra merah. Karena hal ini maka pencegahan terhadap bahaya dari cahaya harus diperhatikan.

2. Kecelakaan Karena Listrik

Banyak sekali jenis kecelakaan yang ditimbulkan oleh listrik akibatnya dapat sampai pada kematian. Kadang-kadang kejutan listrik yang kecilpun dapat mengakibatkan kematian, misalnya bila orang terkejut lalu jatuh dari tempat yang tinggi. Besarnya kejutan yang timbul karena listrik tergantung pada besarnya arus dan keadaan badan manusia.

3. Debu dan Gas dalam Asap Las

Debu dalam asap las besarnya berkisar antara 0,2 µm sampai dengan 3µm. Distribusi dari ukuran debu asap ini timbul dari elektroda jenis ilmenit dan hydrogen. Butir-butir debu asap dengan ukuran 0,5 µm atau lebih bila terisap akan tertahan oleh bulu hidung dan bulu pipa pernafasan, sedangkan debu asap yang lebih halus akan terbawa masuk kedalam paru-paru, dimana sebagian akan dihembuskan keluar kembali. Debu asap yang tertinggal dan melekat pada kantong

(38)

udara di paru-paru dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti sesak nafas dan lain sebagainya.

4. Bahaya Percikan dan Terak Las

Pada saat membersihkan hasil lasan pecahan-pecahan percikan dan terak las dapat dan sering masuk mata yang dapat menimbulkan pembengkakan. Percikan las dan terak juga sering mengenai kulit dan dapat menyebabkan luka bakar. Karena itu juru las harus dilindungi terhadap hal ini terutama bila harus melakukan pengelasan tegak dan atas kepala.

5. Bahaya Ledakan dan Kebakaran

Dalam mengelas tangki, sebelum dilakukan pengelasan, tangki harus bersih dari minyak, gas yang mudah terbakar dan cat yang dapat terbakar. Apabila dalam hal ini pembersihannya kurang sempurna akan terjadi ledakan yang sangat membahayakan.

2.3 Penyuluhan

Penyuluhan adalah keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sesamanya memberikan pendapat sehingga bisa membuat keputusan yang benar (Vandenban dan Hawkins, 1999).

Menurut Prof. Dr. Tjondronegoro dalam Sastraatmadja, (1993) penyuluhan adalah usaha pendidikan nonformal yang merupakan perpaduan dari kegiatan menggugah minat/keinginan, menimbulkan swadaya masyarakat, menyebarkan

(39)

pengetahuan/keterampilan dan kecakapan, sehingga diharapkan terjadinya perubahan perilaku (sikap, tindakan, dan pengetahuan).

Penyuluhan kesehatan merupakan suatu proses belajar untuk mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif dari individu atau kelompok terhadap kesehatan (Syafruddin dan Frathidina, 2009). Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku tidak mudah. Titik berat penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku adalah penyuluhan yang berkelanjutan. Dalam proses perubahan perilaku dituntut agar sasaran berubah tidak semata-mata karena penambahan pengetahuan saja namun, diharapkan juga adanya perubahan pada keterampilan sekaligus sikap mantap yang menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan menguntungkan Lucie (2005) dalam Dinatia (2011).

2.3.1 Proses Adopsi dalam Penyuluhan

Berbicara tentang penyuluhan tidak terlepas dari bagaimana agar sasaran penyuluhan dapat mengerti, memahami, tertarik dan mengikuti apa yang kita suluhkan, maka dengan sendirinya keberhasilan penyuluhan untuk sampai kepada tahapan yang meyakinkan orang sehingga mau menerapkan materi panyuluhan akan melalui beberapa pentahapan yakni :

1. Mengetahui dan menyadari (awareness), setelah dilakukan penyuluhan dengan daya, gaya dan contoh yang menarik, pada tahap orang baru mengetahui dan menyadari bahwa ada cara-cara yang mereka lakukan kurang baik atau mengandung kekeliruan sehingga cara-cara tersebut harus ditinggalkan.

(40)

2. Tahap minat (interesting), pada tahap ini orang mulai tertarik dan sadar akan perlunya cara-cara yang baru berkaitan dengan pekerjaannya dan mulai menaruh minat terhadap cara-cara itu.

3. Tahap Penilaian (evaluation), setelah orang tersebut mengetahui lebih banyak, kebimbangannya mulai pudar sesudah mendengar penjelasan-penjelasan, dan mulai melakukan penilaian (evaluasi) terhadap hal yang baru.

4. Tahap mencoba (trial), pada tahap ini mulai timbul keinginan untuk menerapkan atau mencoba hal baru tersebut.

5. Tahap penerapan (adoption), pada tahap ini responden sudah melakukan percobaan dan yakin dari manfaat dan kegunaan dari hal baru tersebut (Kartasapoetra, 1994). 2.3.2 Komunikasi dalam Penyuluhan

Komunikasi mempunyai arti proses transisi atau penerusan faktor-faktor, kepercayaan, sikap, reaksi emosi atau lain-lain pengetahuan diantara individu dengan individu dalam masyarakat. Dengan demikian komunikasi dalam kegiatan penyuluhan yang disampaikan oleh penyuluh ialah meneruskan/menyampaikan fikirannya kepada orang yang disuluh dalam rangka mempengaruhi orang tersebut sesuai dengan harapan penyuluh, jalannya proses komunikasi adalah sebagai berikut (Kartasapoetra, 1994) :

a). Sumber atau komunikator

Penyuluh (komunikator) dalam mengadakan hubungan-hubungan (komunikasi) tertentu terhadap orang yang disuluh dapat menggunakan beberapa bahasa (cara)

(41)

yaitu : lisan, tulisan, isyarat, gambar dan gabungan dari macam-macam bahasa (cara) tersebut.

b) Amanat atau Pesan (message)

Amanat atau pesan merupakan fikiran-fikiran tertentu yang harus disampaikan atau dikomunikasikan dalam proses komunikasi itu. Dalam penyuluhan, ini berarti bahwa penyuluh harus menyampaikan pesan-pesan yang berbentuk pengetahuan, teknologi, rencana-rencana agar orang yang disuluh mau mengikuti, meniru dan menerapkannya.

c) Saluran (channel)

Fikiran yang telah diusahakan dalam bentuk-bentuk penyandian (encoding) dalam rangka komunikasi agar dapat sampai kepada orang yang disuluh harus melalui saluran (media penyuluhan). Mengingat tingkatan cara berfikir, cara kerja, cara hidup dan keterbukaan orang yang disuluh terhadap hal-hal yang baru tidak sama, maka bentuk saluranpun akan bermacam-macam.

d) Penerima (receiver)

Yang dimaksud dengan penerima adalah para orang yang disuluh yaitu orang-orang yang akan dipengaruhi fikirannya oleh komunikator (penyuluh) sehingga perilakunya berubah seperti yang diharapkan oleh komunikator (penyuluh). Tentunya para penerima harus dapat melakukan penafsiran (decoding) terhadap pesan-pesan yang telah berbentuk sandi lisan, tulisan, isyarat ataupun gambar sebelum para orang yang disuluh itu menerimanya.

(42)

2.3.3 Metode Penyuluhan

Menurut Syafruddin dan Frathidina (2009) dengan menyadari bahwa metode penyuluhan akan sangat menentukan terjadinya proses belajar mengajar yang baik, maka memilih jenis metode hendaknya difikirkan dengan hati-hati dan seksama. Memilih metode tergantung daripada tujuan akan dicapai melalui penyuluhan tersebut.

Selanjutnya Syafruddin dan Frathidina (2009) mengatakan dari berbagai metode yang akan digunakan dalam penyuluhan, dapat dikelompokkan dalam dua metode yaitu :

a. Metode didaktif

Dalam penyuluhan dimana yang aktif adalah orang yang melakukan penyuluhan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak diberikan kesempatan untuk ikut serta mengemukakan pendapatnya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan apapun atau bersifat (one way method). Yang termasuk metode ini adalah :

1. Secara langsung Ceramah

2. Secara tidak langsung

Poster, Media cetak (majalah, bulletin, surat kabar) dan Media electronik (radio, televisi).

(43)

b. Metode sokratik

Dalam penyuluhan sasaran diberikan kesempatan mengemukakan pendapatnya, sehingga mereka ikut aktif dalam proses belajar mengajar sehingga terbina komunikasi dua arah (two way method). Yang termasuk dalam metode ini adalah : 1. Langsung

Diskusi, Curah pendapat, Demonstrasi, Simulasi, Bermain peran (role playing), Sosiodrama, Symposium, Seminar dan Studi kasus.

2. Tidak langsung

Penyuluhan melalui telepon dan Satelit komunikasi Dimana terdapat tiga macam tujuan yang akan dicapai yaitu : 1. Knowledge/kognitif yaitu pengetahuan

2. Attitude/affectif yaitu sikap

3. Practice/psikomotor yaitu perilaku

Penyuluhan yang sering dilakukan dilapangan oleh penyuluh adalah menggunakan metode :

1. Ceramah yang disertai/tanya jawab 2. Tanya jawab (wawancara)

3. Demonstrasi

Menurut Sastraatmadja (1993) menggolongkan metode penyuluhan dalam 3 macam penggolongan yaitu :

(44)

1. Berdasarkan Jarak Jangkauan Sasaran

Metode menurut penggolongan seperti ini dapat dibedakan kedalam metode yang langsung (tatap muka) seperti kunjungan rumah, pertemuan, kursus, demonstrasi, karyawisata, dan tidak langsung memakai media massa seperti surat kabar, siaran radio, siaran TV, sandiwara dan lain sebagainya.

2. Jumlah Sasaran

Menurut penggolongan ini, ada 3 pendekatan yang sering dilakukan, ketiga pendekatan tersebut adalah pendekatan perorangan seperti kunjungan, surat, telepon. Pendekatan kelompok seperti pertemuan, demonstrasi, karyawisata, perlombaan, diskusi, kursus. Dan pendekatan massal seperti radio, siaran televise, wayang, brosur, leaflet, poster, spanduk, sandiwara.

3. Berdasarkan Indera Penerima.

Yaitu yang dapat dilihat/dibaca seperti surat kabar, spanduk, poster, surat, slide, film, pameran, dapat didengar seperti siaran radio, rekaman tape recorder, telepon, dapat dilihat dan didengar seperti film bersuara, siaran TV, wayang dan demonstrasi dan lain sebagainya.

Notoatmodjo (2005) mengemukakan, metode penyuluhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya suatu hasil penyuluhan secara optimal. Ada beberapa metode yang dikemukakan antara lain :

1. Metode Promosi Individual (Perorangan)

Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan perilaku

(45)

baru tersebut. Bentuk pendekatan ini dilakukan dengan cara bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling) kemudian Interview (wawancara).

2. Metode Pendidikan Kelompok

Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

a. Kelompok Besar

Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini antara lain ceramah dan seminar.

b. Kelompok Kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain : diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju (snow balling), kelompok-kelompok kecil (buzz group), memainkan peranan (role play), permainan simulasi (simulation game).

3. Metode Pendidikan Massa

Metode pendidikan (pendekatan) massa cocok untuk mengomunikasikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan sebagainya, maka

(46)

pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut.

Metode yang cocok untuk pendekatan massa antara lain : a. Ceramah umum (public speaking)

b. Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik, baik TV maupun radio.

c. Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan di suatu media massa.

d. Sinetron

e. Tulisan-tulisan di majalah atau koran

f. Billboard, yang dipasang dipinggir jalan seperti spanduk, poster dan sebagainya.

2.3.4 Media Penyuluhan

Dalam penyuluhan dikenal beberapa alat bantu peraga yang sering digunakan atau disebut juga AVA (Audio Visual Aids). Alat peraga ini kegunaannya tak lain adalah untuk lebih memudahkan kedua belah pihak dalam kegiatan penyuluhan, yakni pihak yang menyuluh dan pihak yang disuluh (Syafruddin dan Frathidina, 2009).

Citerawati (2012) mengartikan bahwa media penyuluhan memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut :

a. Media Penyuluhan adalah semua sarana dan alat yang digunakan dalam proses penyampaian pesan.

(47)

b. Media Penyuluhan adalah wahana untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima yang dapat merangsang pikiran, perasaan dan perhatian/minat.

c. Media penyuluhan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif.

2.3.5 Fungsi Media Penyuluhan

Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan, media penyuluhan dibagi menjadi 3 yakni :

a. Media cetak

Media ini mengutamakan pesan-pesan visual, biasanya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Yang termasuk dalam media ini adalah booklet, leaflet, flyer (selebaran), flip chart (lembar balik), rubric atau tulisan pada surat kabar atau majalah, poster, foto yang mengungkapkan informasi kesehatan. Ada beberapa kelebihan media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak orang, biaya rendah, dapat dibawa kemana-mana, tidak perlu listrik, mempermudah pemahaman dan dapat meningkatkan gairah belajar. Media cetak memiliki kelemahan yaitu tidak dapat menstimulir efek gerak dan efek suara dan mudah terlipat.

b. Media elektronik

Media ini merupakan media yang bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan didengar dan penyampaiannya melalui alat bantu elektronika. Yang termasuk dalam

(48)

media ini adalah televisi, radio, video film, cassette, CD, VCD. Seperti halnya media cetak, media elektronik ini memiliki kelebihan antara lain lebih mudah dipahami, lebih menarik, sudah dikenal masyarakat, bertatap muka, mengikutsertakan seluruh panca indera, penyajiannya dapat dikendalikan dan diulang-ulang serta jangkauannya lebih besar. Kelemahan dari media ini adalah biayanya lebih tinggi, sedikit rumit, perlu listrik dan alat canggih untuk produksinya, perlu persiapan matang, peralatan selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan dan keterampilan untuk mengoperasikannya.

c. Media Luar Ruang

Media menyampaikan pesannya di luar ruang, bisa melalui media cetak maupun elektronik misalnya papan reklame, spanduk, pameran, banner dan televisi layar lebar. Kelebihan dari media ini adalah lebih mudah dipahami, lebih menarik, sebagai informasi umum dan hiburan, bertatap muka, mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajian dapat dikendalikan dan jangkauannya relatif besar. Kelemahan dari media ini adalah biaya lebih tinggi, sedikit rumit, perlu alat canggih untuk produksinya, persiapan matang, peralatan selalu berkembang dan berubah, memerlukan keterampilan penyimpanan dan keterampilan untuk mengoperasikannya.

2.4 Diskusi

Diskusi adalah bertukar pikiran antara 2 orang atau lebih tentang topik tertentu yang direncanakan dan dipersiapkan dengan seorang pemimpin atau pemandu (Malino, 2012).

(49)

a. Jenis Diskusi

- Diskusi kelompok yang terdiri dari 2 sampai 10 orang - Diskusi umum yang lebih dari 10 orang

b. Komponen Diskusi :

1. Pemimpin / Pemandu diskusi / Moderator 2. Penyaji makalah / Referator

3. Peserta / Penyanggah/ Pembanding

Diskusi kelompok adalah merupakan salah satu metode yang digunakan (teknik bimbingan) yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka, dimana setiap anggota kelompok akan mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing serta berbagi pengalaman atau informasi guna pemecahan masalah atau pengambilan keputusan (Hariyanto, 2010).

2.5 Modul

Modul adalah satuan program pembelajaran terkecil, yang dapat dipelajari sendiri secara perseorangan (self instructional) setelah menyelesaikan satu satuan dalam modul, selanjutnya dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya (Cholifah, 2010). Modul berisi dengan judul modul, petunjuk umum, materi modul dan evaluasi.

Riadi (2013) mengemukakan bahwa modul adalah salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara sistematis dan menarik sehingga mudah untuk dipelajari secara mandiri.

(50)

Modul memiliki ciri dan karakteristik diantaranya, modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat dimanfaatkan secara mandiri, modul disusun secara sistematis, menarik dan jelas dan modul dapat digunakan kapanpun dan dimanapun sesuai dengan kebutuhan individu.

Disamping itu modul mempunyai beberapa kelebihan diantaranya, belajar menggunakan modul sangat banyak manfaatnya, seseorang dapat bertanggung jawab terhadap kegiatan belajarnya sendiri, pembelajaran dengan modul sangat menghargai perbedaan individu, sehingga individu dapat belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya, maka pembelajaran semakin efektif dan efisien.

2.6 Perilaku

Robert Kwik (1974) yang dikutip Mubarak (2007) perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Perilaku menurut Skinner, 1938 adalah merupakan hasil hubungan antara rangsangan (stimulus) dan tanggapan (respons). Disebut teori “SOR” Stimulus Organisme Respons.

Perilaku manusia adalah hasil pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengalaman, sikap dan tindakan. Dapat juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang dapat diamati secara langsung maupun dengan menggunakan alat (Notoatmodjo, 2003).

(51)

Manusia adalah makhluk yang unik, perilaku manusia sangatlah kompleks dan mempunyai ruang lingkup sangat luas. Bloom (1908) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) membedakan ranah perilaku dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif (yang menyangkut kesadaran atau pengetahuan), ranah afektif (sikap, emosi), dan ranah psikomotorik (tindakan/gerakan).

Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari :

a. Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge). b. Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan

(attitude).

c. Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice).

Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek diluarnya. Sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respons batin dalam bentuk sikap si subjek terhadap objek yang diketahui itu.

Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respons lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tadi.

(52)

2.6.1 Konsep Perilaku

Dari aspek biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme atau makhluk hidup yang bersangkutan. Oleh sebab itu dari segi biologis, semua makhluk hidup mulai dari binatang sampai manusia, mempunyai aktifitas masing-masing. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup mempunyai bentangan kegiatan yang sangat luas, sepanjang kegiatan yang dilakukan manusia itu antara lain : berjalan, berbicara, bekerja, menulis, membaca, berfikir dan seterusnya. Secara singkat aktifitas manusia tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni : a) Aktifitas-aktifitas yang dapat diamati orang lain, misalnya bernyanyi, berjalan, tertawa dan sebagainya. b) Aktifitas yang tidak dapat diamati orang lain (dari luar) misalnya berfikir, berfantasi, bersikap dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).

Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007), seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dengan demikian perilaku manusia terjadi melalui proses stimulus  organisme respons, sehingga Skiner ini disebut teori “S-O-R” (stimulus-organisme-respons). Selanjutnya teori Skiner menjelaskan adanya dua jenis respons, yakni :

a. Respondent respons atau reflexive, yakni respons yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut eliciting stimulus, karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Misalnya makanan lezat, akan menimbulkan nafsu untuk makan. Respondent respons juga mencakup perilaku emosional, misalnya mendengar berita musibah akan menimbulkan rasa sedih.

(53)

b. Operant respons atau Instrumental respons, yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain. Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimuli atau reinforce, karena berfungsi untuk memperkuat respons. Misalnya seorang petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik adalah sebagai respons terhadap gaji yang cukup (stimulus).

Berdasarkan teori “S-O-R” tersebut, maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni :

a. Perilaku tertutup (covert behavior), perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobservable behavior” atau “covert behavior” yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap. Contoh : ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan untuk kesehatan bayi dan dirinya merupakan pengetahuan. Bertanya dimana pemeriksaan dilakukan adalah kecenderungan untuk melakukan periksa kehamilan merupakan sikap.

b. Perilaku terbuka (overt behavior), perilaku terbuka terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar atau “observable behavior”. Contoh : seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke puskesmas.

(54)

2.6.2 Perubahan Perilaku

Hosland, et.al. (1953) dalam Notoatmodjo (2010) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari :

1. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif.

2. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya.

3. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap).

4. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).

Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini faktor “reinforcement” memegang peranan penting.

Referensi

Dokumen terkait

pendahuluan pada ibu pekerja yang memiliki bayi usia 0-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Bangkalan aspek peran keluarga, kebiasaan setempat, tenaga kesehatan, ketidaktahuan dalam

Rendahnya perhatian pemerintah setempat khususnya Dinas Kesehatan terutama dalam menyediakan tenaga Medis dan perlengkapan peralatan medis dan sehingga Puskesmas Long Layu hanya

MENTERI KESEHATAN Setjen (PPK DEPKES) SATKORLAK/BPBD REGIONAL JATENG BNPB Dinkes Provinsi Dinkes Kab/Kota Instansi Terkait Puskesmas/ RSU Setempat/PMI REGIONAL JATENG DIY SATLAK

Dalam kerjasama dengan konstituen ILO (Departemen Tenaga Kerja dan Dinas Tenaga Kerja setempat, Serikat Pekerja dan Organisasi Pengusaha) serta berbagai mitra lainnya, Program ILO

 Mitra: perusahaan2 garmen, Dinas Kesehatan/Puskesmas, Dinas Tenaga Kerja, Serikat Pekerja, Project Hope  Hasil: penurunan prevalensi anemia,. penurunan angka

Sebelum melakukan pelatihan diperlukan penjajagan kebutuhan pelatihan kepada masyarakat, petani, petugas, kepala desa, dan instansi terkait dengan pencegahan kebakaran hutan dan

• Terdapat petugas pengelola program PTM di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang belum mendapatkan sosialisasi/pelatihan terkait Program Posbindu PTM.. • Terdapat petugas puskesmas

Selanjutnya, informan ditambah lagi dengan 3 orang dari petugas instansi terkait, terdiri dari seorang dari Dinas PU Pengairan Padang Pariaman, seorang dari