• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PEMBAHASAN }}}

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI PEMBAHASAN }}}"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Deskripsi Umum Kawasan 6.1.1 Letak dan Luas Kawasan

Taman Wisata Mekarsari dengan luas 264 ha memiliki letak administratif yang cukup strategis sehingga sangat mudah dicapai. Beberapa jalur alternatif tersedia baik dari Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Cibubur. Bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi dapat menggunakan angkot untuk menuju ke agrowisata ini. Daerah sekitar Taman Wisata Mekarsari merupakan daerah pabrik dengan lebar jalan yang sempit sehingga menimbulkan kemacetan. Hal ini menjadi masalah yang membuat ketidaknyamanan bagi para pengunjung karena memakan waktu yang lama di perjalanan akibat kemacetan tersebut. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan pengaturan kendaraan agar lebih tertib lalu dilakukan pelebaran jalan. Selain itu, mengingat Taman Wisata Mekarsari berada di sekitar daerah pabrik, perlu adanya perencanaan lanskap jalan yang tepat sehingga tercipta kenyamanan bagi pengguna jalan tersebut, khususnya pengunjung.

6.1.2 Iklim

Laurie (1986) menyatakan bahwa suhu udara yang ideal untuk kenyamanan manusia adalah berkisar antara 10°-26.7°C. Iklim di Taman Wisata Mekarsari dapat digolongkan ke dalam iklim panas karena memiliki suhu rata-rata 27°C. Terlihat bahwa suhu udara nyaman di Taman Wisata Mekarsari sudah melebihi ambang normal kenyamanan suhu yang dirasakan manusia apalagi jika mencapai suhu maksimumnya. Untuk mengatasinya, salah satu cara yaitu dengan menanam pohon dengan bentuk tajuk piramidal atau bulat.

Laurie (1986) menyatakan bahwa kelembaban nisbi yang ideal di daerah tropis berkisar antara 40 – 75%. Kelembaban udara yang tinggi memberikan rasa ketidaknyamanan bagi manusia. Taman Wisata Mekarsari memiliki kelembaban yang berkisar antara 80% dan 90% menandakan kelembaban tersebut termasuk kategori tinggi yang menyebabkan ketidaknyamanan bagi aktivitas manusia.

(2)

Curah hujan membawa dampak yang berbeda-beda. Bagi tanaman, sudah tentu curah hujan tinggi merupakan suatu upaya pemenuhan kebutuhan akan air serta meringankan petugas yang bertugas menyiram tanaman. Namun, apabila berlebihan dapat menyebabkan busuk akar, sumber penyakit, dan kandungan air tinggi. Curah hujan yang kecil pun dapat menyebabkan tanaman layu dan kering, karena kekurangan air. Oleh sebab itu, kebutuhan air bagi tanaman sebaiknya dipenuhi secukupnya dan tidak bergantung pada curah hujan yang turun.

Bagi pengunjung, curah hujan yang tinggi dapat menjadi hambatan aktivitas wisata yang mereka lakukan mengingat Taman Wisata Mekarsari melakukan segala aktivitas wisata di luar ruangan (outdoor). Beberapa tempat pun digenangi air hujan sehingga menjadi kendala dan dapat membahayakan. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan tempat berteduh yang dengan kapasitas memadai yang dapat digunakan sewaktu-waktu apabila terjadi hujan serta adanya lubang resapan agar mengurangi genangan air yang terjadi.

6.1.3 Tanah dan Topografi

Jenis tanah di kawasan Taman Wisata Mekarsari merupakan tanah latosol. Menurut Sutanto (2009), tanah latosol dengan bahan induk vulkanik memiliki sifat fisik yaitu berwarna coklat kemerahan, tekstur sedang sampai berat, struktur remah sampai gembur, dan daya infiltrasi tergolong lambat sampai sedang. Sutanto (2009) menambahkan, sifat kimiawi yang dimiliki tanah ini adalah rendah bahan organik, memiliki reaksi masam, terkadang terjadi akumulasi unsur-unsur tertentu. Contoh akumulasi unsur tersebut misalnya Al, Mn, dan Fe. Secara umum kesuburan tanah latosol tergolong sedang dengan pH 4-6 dan memiliki KTK yang tergolong tinggi sehingga cocok untuk pertanian dan perkebunan. Untuk mengatasi kesuburan tanah yang tergolong sedang diberikan pupuk organik dan inorganik yang dibutuhkan secara seimbang. Kondisi topografi kawasan Taman Wisata Mekarsari yang relatif datar dengan kemiringan 8% memberikan keuntungan dalam hal penanaman tanaman.

(3)

6.1.4 Hidrologi

Danau terkadang mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur yang terus bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, Taman Wisata Mekarsari menggunakan jasa kontraktor dalam pengerukan endapan lumpur agar kedalamannya lebih dalam. Hal ini bertujuan agar daya tampung air di danau tersebut lebih optimal. Sumber daya yang ada sudah dapat digunakan secara optimal oleh Taman Wisata Mekarsari dengan menjadikan danau terebut sebagai sumber air untuk irigasi bagi pertanian dan objek wisata bagi pengunjung Taman Wisata Mekarsari sendiri. Selain danau, Taman Wisata Mekarsari juga membuat

deep well sebagai salah satu sumber air yang sangat berpotensi pada kawasan

yang berada jauh dari danau. Kendala yang terdapat pada deep well adalah pemborosan energi listrik. Untuk mengatasinya Taman Wisata Mekarsari dapat menggunakan sumber listrik tenaga alami seperti solar cell.

6.1.5 Vegetasi dan Satwa

Konsep 4 Si dalam kegiatan wisata Taman Wisata Mekarsari, di antaranya, adalah konservasi telah diwujudkan Taman Wisata Mekarsari sebagai tempat pelestarian plasma nutfah tumbuhan khususnya buah-buahan dan berbagai satwa jenis mamalia dan aves. Vegetasi Taman Wisata Mekarsari terdiri dari tanaman kebun dan tanaman lanskap dengan tujuan dan pemeliharaan yang berbeda. Tanaman kebun lebih difokuskan untuk menghasilkan buah (produktif) selain itu pula untuk menjaga tanaman langka agar tetap lestari. Sedangkan untuk tanaman lanskap lebih difokuskan pada kualitas estetika yang dimiliki tanaman tersebut. Vegetasi yang beragam menimbulkan pemeliharaan yang berbeda pula, sehingga pemeliharaan pun harus disesuaikan dengan jenis tanaman dan sifatnya. Taman Wisata Mekarsari sudah mengadakan penelitian, pelatihan, dan penyuluhan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan para karyawan dalam perihal pemeliharaan tanaman. Hal tersebut sangat baik untuk lebih ditingkatkan lagi agar pemeliharaan berjalan dengan baik sehingga tanaman langka tetap lestari.

(4)

6.2 Konsep Pengembangan 6.2.1 Konsep Desain

Taman Wisata Mekarsari merupakan agrowisata yang memiliki identitas. Hal ini terlihat dari desainnya yang mengambil falsafah dan pola daun dari tanaman lamtoro gung. Kekuatan konsep desain tersebut mampu memberikan keindahan yang beridentitas, selaras, dan serasi. Taman Wisata Mekarsari dalam upaya mempertahankan konsep desain lamtoro gung ini sudah baik, terlihat dengan pola desainnya masih terbentuk karena pemeliharaan ideal dan fisik yang dilakukan. Namun, konsep yang unik tersebut memiliki beberapa kelemahan mengingat kenyamanan dan keamanan dari segi users. Berdasarkan pengamatan di lapang, kelemahan konsep desain ini, antara lain, sirkulasi yang sulit diakses oleh pengunjung yang memilih berkeliling jalan kaki, sirkulasi yang memberikan kesan kaku dan tidak fleksibel. Untuk itu harus dibuatkan jalan tersendiri bagi pengunjung yang memilih berjalan kaki sehingga tetap bisa berkeliling kebun buah. Selanjutnya, untuk memberikan kesan dinamis perlu ditambah dengan pembuatan pola sirkulasi putaran (loop) pada 5 daun besar lamtoro gung ini sehingga mudah diakses, aman, dan memiliki nilai tambah dari segi estetika.

6.2.2 Konsep Tata Ruang

Pembagian ruang dan sirkulasi terbentuk dengan sendirinya dari pola daun lamtoro gung. Pembagian ruang dilakukan terhadap peletakan tanaman kebun komersial dan tanaman kebun koleksi dalam beberapa blok, yaitu blok A, B, C, D, dan E. Pembagian zona rekreasi dalam blok memiliki tujuan dan tema berbeda-beda dalam konsepnya. Keuntungannya adalah memberikan kemudahan bagi pengunjung dalam memilih wahana, program, dan paket yang ditawarkan Taman Wisata Mekarsari. Keuntungan lainnya adalah hadirnya berbagai lanskap seperti lanskap taman, kebun, sawah, danau, dan jalan pada blok-blok pun menambah keindahan di Taman Wisata Mekarsari. Namun, perlu penambahan penunjuk arah dan batas yang jelas berupa peta di setiap zona agar pengunjung mengetahui posisi dan dapat melanjutkan berwisata ke zona berikutnya. Selain itu pula distribusi pengunjung perlu disebar sehingga tidak berkumpul di sekitar danau saja atau membuat paket alternatif. Hal ini untuk menjaga kapasitas daya dukung

(5)

kawasan sekitar danau dan penyebaran pengunjung yang merata agar kondisi tempat agrowisata terlihat hidup.

6.2.3. Konsep Sirkulasi

Tiga sirkulasi, yaitu sirkulasi primer, sirkulasi sekunder, dan sirkulasi tersier sudah sangat baik dan mampu mengakomodasikan users. Selain tiga sirkulasi tersebut, terdapat pula sirkulasi berupa jalan inspeksi yang dapat menambah keamanan di kawasan Taman Wisata Mekarsari karena jalan tersebut merupakan batas wilayah agrowisata tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lapang, terlihat kondisi sirkulasi kereta yang didominasi dengan penggunaan aspal terlihat kurang lebar, kemudian berlubang, dan rusak pada beberapa spot jalur utama yang dilalui pengunjung. Begitupun dengan kondisi sirkulasi pengunjung yang didominasi perkerasan/ paving terlihat berlubang dan rusak. Untuk itu perlu adanya perbaikan jalan dan adanya saluran drainase yang baik untuk proses pengeringan jalan aspal pascahujan karena jalan aspal tidak tahan terhadap genangan air. Untuk perkerasan/ paving perlu dilakukan perbaikan dan penggantian dengan material yang sama, tetapi haruslah berkualitas baik dan tanpa retak yang terlihat. Suara nyaring terdengar ketika dua perkerasan/paving diadu bersama-sama yang menunjukkan bahwa kekuatannya sudah cukup baik.

6.2.4 Konsep Vegetasi

Vegetasi yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari adalah beragam tanaman buah tropika khas negara Indonesia dan koleksi tanaman hias yaitu rumput, semak, perdu, pohon, tanaman merambat, dan tanaman epifit. Blok A, B, C, D, dan E memiliki tanaman dengan jenis yang berbeda terdiri dari tanaman buah komersial dan tanaman koleksi dilengkapi taman di beberapa spotnya. Dari segi desain, tanaman kebun tersebut ditanam dengan pola tanam (zig zag, persegi empat, persegi panjang) yang sesuai karena beragamnya jenis tanaman yang ada, dan jumlahnya tergantung luasan areal dalam bloknya. Pemeliharaan pada tanaman kebun baik koleksi dan komersial yang terdiri dari tanaman musiman dan nonmusiman memiliki perbedaan. Meskipun diarahkan untuk produktif, tiap

(6)

tanaman mendapat perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis dan sifatnya. Terdapat kendala berupa tanaman yang sulit berbuah di Taman Wisata Mekarsari. Hal tersebut dapat dipengaruhi dari beberapa hal yaitu penempatan yang tidak sesuai, pemeliharaan yang kurang sesuai sehingga nutrisi tidak terpenuhi. Faktor yang mempengaruhi adalah kondisi tanah yang kurang subur dan kurangnya nutrisi yang diperoleh tanaman. Untuk itu perlu dilakukan penggemburan dan pemberian pupuk secara tepat sesuai jenis tanaman. Untuk penempatan yang tidak sesuai dapat dikarenakan keadaan tanaman yang stress terhadap lingkungan sehingga perlu adanya manipulasi iklim. Secara umum untuk keadaan lingkungan kering tentunya perlu penambahan air, sedangkan apabila keadaan lingkungan memiliki curah hujan tinggi perlu adanya pembuatan drainase yang tepat.

Taman-taman yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari, termasuk taman tropis yang memiliki ciri-ciri banyaknya tanaman yang tumbuh dalam taman seperti tanaman berdaun lebat dan rimbun serta tanaman yang beragam dari segi teksturnya, terkesan natural dan tidak teratur. Selain itu, dijumpai ornamen berupa patung, elemen air seperti air mancur dan kolam. Pemeliharaan berbagai elemen taman baik soft material yang beragam dan hard material sangat menentukan desain awal yang sudah dibuat. Pemeliharaan taman yang ada terkendala pada karyawan yang jumlahnya sedikit, yaitu 66 karyawan untuk pemeliharaan keseluruhan taman yang ada di Taman Wisata Mekarsari (luas ± 50 ha). Kurangnya tenaga ahli dalam bidangnya pun menjadikan taman yang ada di Taman Wisata Mekarsari terlihat kurang perawatan. Oleh karena itu, perlu penambahan tenaga ahli yang sesuai dengan bidangnya sehingga keefektifan dan kualitas pemeliharaan taman pun meningkat.

6.2.5 Sarana dan Prasarana

Berdasarkan pengamatan di lapang, beberapa sarana yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari perlu diperbaiki dengan pemeliharaan yang lebih teliti lagi. Terlihat di gerbang Candi Bentar yang merupakan gerbang masuk utama Taman Wisata Mekarsari tidak dipelihara secara optimal. Candi terlihat kusam, terdapat gulma yang tumbuh diantara Candi Bentar serta lumut yang belum dibersihkan. Secara visual, hal ini sangat tidak estetik, mengingat Candi Bentar

(7)

merupakan pintu masuk utama Taman Wisata Mekarsari sehingga pengunjung akan melihat dan memberikan kesan mulai dari gerbang ini.

Selain itu, pada Bangunan Air Terjun yang merupakan salah satu ikon Taman Wisata Mekarsari, kondisi terlihat kumuh disebabkan air di kolam penampungannya yang kotor. Menurut karyawan yang bekerja di Taman Wisata Mekarsari, kolam tersebut dikuras setiap setahun sekali. Selain itu, tanaman hias di balkon tiap lantai terlihat kering dan kurang estetik. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak Taman Wisata Mekarsari harus memperhatikan lagi mengenai sarana yang disediakan tersebut. Pekerjaan pemeliharaan harus lebih dioptimalkan sehingga kualitas visual dan kefungsionalan tiap bangunan tetap terjaga dan beridentitas serta memiliki kekhasan tersendiri yang dapat menarik pengunjung.

Prasarana yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari berupa jalan, musala, toilet, instalasi listrik, pengelolaan air bersih, penangkal petir, dan pengolahan limbah. Jalan yang tersedia sudah memadai untuk mengakomodasikan users dari satu tempat ke tempat lain dalam kawasan Taman Wisata Mekarsari. Berdasarkan pengamatan di lapang, terdapat kerusakan terhadap jalan utama yang dilewati pengunjung. Terlihat jalan berlubang pada pola jalur jalan (areal blok barat dan blok timur) sehingga mengganggu kenyamanan pengunjung saat berkeliling kebun buah dengan kereta. Selain itu pula terdapat genangan air di parkiran setelah hujan yang menyebabkan becek. Untuk mengatasi hal tersebut, Taman Wisata Mekarsari perlu memperbaiki jalan yang rusak dan berlubang, serta membuat lubang resapan agar air tidak tergenang agar kenyamanan dan kepuasan pengunjung terhadap salah satu prasarana tidak mengurangi minat wisata.

Instalasi listrik yang ditanam di dalam tanah sudah baik bagi tempat wisata sebab kualitas visual yang menjadi daya jual sebuah tempat wisata tidak terhalangi dengan prasarana yang ada. Musala dan toilet sudah tersebar di beberapa tempat dengan kondisi bangunan yang baik dan bersih. Hanya saja perlu adanya penambahan musala dan toilet sebab berdasarkan pengamatan di lapang terjadi antrian pengunjung dalam menggunakan prasarana musala dan toilet.

Air bersih di Taman Wisata Mekarsari bersumber dari danau dan deep

well. Sejauh ini, sumber tersebut mampu memenuhi kebutuhan air di kawasan

(8)

didayagunakan oleh Taman Wisata Mekarsari dengan baik. Penangkal petir di Taman Wisata Mekarsari terletak di tiga gedung yaitu GKS, Laboratorium Biosari, dan Menara Pandang. Sebaiknya perlu penambahan penangkal petir mengingat Taman Wisata Mekarsari dilewati garis lintang 6030‟ LS dan garis bujur 106052‟ BT yang memiliki curah hujan tinggi penyebab petir.

Berdasarkan pengamatan di lapang, Taman Wisata Mekarsari memiliki tingkat kebersihan yang tinggi. Terlihat seluruh kawasan Taman Wisata Mekarsari selalu bersih dari sampah inorganik. Hal ini mencerminkan bahwa pengolahan sampah dan limbah di Taman Wisata Mekarsari sudah baik.

6.3 Profil Perusahaan 6.3.1 Struktur Organisasi

Struktur organisasi yang dibangun oleh Taman Wisata Mekarsari berikut penerapan sistem pemeliharaannya akan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam mengelola sebuah lanskap agrowisata. Pengelolaan tidak hanya dilakukan pada lanskapnya saja namun juga terhadap apsek wisata dan pengunjung. Dengan adanya struktur organisasi, sistem pemeliharaan dan pengelolaan yang terencana dengan baik maka sebuah agrowisata dengan kebaikan lanskap alamnya akan dapat berkelanjutan. Oleh karena itu, penempatan seorang yang kompeten dalam bidangnya, yaitu pengelolaan lanskap dan pemeliharaan taman, pemeliharaan wisata, serta pemeliharaan pengunjung harus dipertimbangkan. Hal tersebut bertujuan agar pribadi yang kompeten tersebut fokus, jelas, terarah, dan bertanggung jawab akan pekerjaannya.

Untuk pengelolaan wisata dan pengunjung, bagian PUW Taman Wisata Mekarsari sudah mencakup seksi-seksi yang menanganinya, yaitu Seksi Acara, Seksi Wahana, Seksi Pelayanan, dan Seksi Outlet. Semua seksi bekerjasama dalam pengembangan dan pengelolaan wisata agar pengunjung merasakan kenyamanan dan kepuasan dalam berwisata. Bagian operasional meliputi Seksi Pemeliharaan Taman, Seksi Sipil, dan Seksi Mekanik dan Elektrik yang berperan dalam pengadaan serta pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh perusahaan. Seksi Pemeliharaan Taman menangani segala aktivitas pemeliharaan baik tanaman maupun pemeliharaan elemen keras. Seksi Sipil bertugas dalam

(9)

mengelola, memelihara, dan merawat sarana fisik bangunan, kantor, fasilitas umum, dan lingkungan agar tercipta kenyamanan dan kepuasan pengunjung. Seksi Mekanik dan Elektrik bertugas dalam mengelola dan merawat serta perbaikan mekanik, elektrik, dan elektronik.

Kendala yang dihadapi bagi kelancaran pemeliharaan taman dalam mencapai efektivitas yang baik adalah semua tugas ditangani oleh Seksi Kebersihan dan Tata Lingkungan. Mengingat minimnya dana yang tersedia untuk membayar tenaga kerja dalam pekerjaan pemeliharaan sehingga terjadi pengurangan tenaga kerja dan penambahan pekerjaan pada Seksi Kebersihan dan Tata Lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan pembagian tugas yang spesifik antara tugas bagian Seksi Pemeliharaan Taman (KTL) dan Seksi Pemeliharaan Bangunan (Sipil) sehingga pekerjaan tidak dibebankan pada seksi KTL seutuhnya dalam pembersihan elemen keras. Selain itu, dana untuk pemeliharaan disusun lagi dengan cermat dan penuh pertimbangan sesuai prioritas pekerjaan pemeliharaan.

6.3.2 Tenaga Kerja dan Jadwal Kerja

Tenaga kerja adalah salah satu sumber daya yang merupakan pelaku utama dalam kegiatan pemeliharaan taman di Taman Wisata Mekarsari. Tingkat keberhasilan pun dipengaruhi oleh kinerja tenaga kerja selama di lapang. Pengawas lapang bertugas mengawasi area yang sudah ditentukan dan mengarahkan karyawan lapang dalam melakukan setiap pekerjaan dengan baik dan benar. Pada dasarnya setiap tenaga kerja di Taman Wisata Mekarsari memiliki kesadaran dan kedisiplinan yang tinggi akan tanggung jawab pekerjaannya. Hal ini terlihat dari kemampuan tiap karyawan dalam menyelesaikan tugasnya dengan area yang luas. Tabel 17 adalah perbandingan kapasitas kerja lapang di Taman Wisata Mekarsari dengan kapasitas kerja pada Arifin dan Arifin (2005).

(10)

Tabel 17. Kapasitas tenaga kerja Taman Wisata Mekarsari

No. Jenis Pekerjaan Pemeliharaan Satuan

per jam Kapasitas kerja/ jam* Kapasitas kerja/ jam** Efektivitas kerja/ jam (%) 1 Penyapuan rumput m2 300 400 75 2 Penyapuan perkerasan m2 800 800 100

3 Pemangkasan rumput dengan mesin

gendong

m2 428 500 85

4 Pemangkasan tanaman semak dan penutup

tanah dengan gunting pangkas

m2 8 10 80

5 Pemangkasan bentuk tanaman perdu dan

pohon kecil dengan gunting pangkas

pohon 2 5 40

6 Penyiangan dan penggemburan tanaman

semak dan penutup tanah

m2 35 40 87

7 Pemupukan pupuk inorganik pada pohon pohon 5 7 71

8 Penyemprotan pestisida pada pohon dengan

sprayer gendong

pohon 15 15 100

9 Penyiraman pohon dengan selang plastik pohon 12 15 80

Ket : *Pengamatan lapang di TWM **(Arifin dan Arifin, 2005)

Dengan membandingkan kapasitas kerja di Taman Wisata Mekarsari dengan pustaka (Arifin dan Arifin, 2005), didapat bahwa efektivitas kerja cukup (100%) terdapat pada pekerjaan pemeliharaan penyapuan perkerasan dan peyemprotan pestisida pada pohon dengan sprayer gendong, sedangkan pekerjaan pemeliharaan lainnya memiliki efektivitas kerja rendah (di bawah 100%).

Tingkat efektivitas pekerja dalam mengerjakan pekerjaan pemeliharaan dapat dikategorikan rendah, dimana terlihat bahwa presentasi efektivitas kerja rendah mendominasi beberapa pekerjaan pemeliharaan. Beberapa faktor yang menyebabkan efektivitas pekerjaan pemeliharaan di Taman Wisata Mekarsari rendah adalah sebagai berikut :

1. faktor alam seperti pada musim hujan dan musim kemarau yang sangat terik, pertumbuhan gulma yang cepat dibandingkan waktu kerja yang berkurang bagi tenaga kerja untuk kegiatan pemangkasan;

(11)

2. faktor tenaga kerja yang tidak bertugas secara optimal, kurangnya keterampilan yang dimiliki tenaga kerja, jumlah tenaga kerja kurang, serta kurangnya pengawasan pekerjaan di lapangan dan motivasi kerja;

3. faktor alat dan bahan berupa kondisi alat dan bahan yang kurang berfungsi dengan baik sehingga menghambat kegiatan pemeliharaan.

Untuk meningkatkan efektivitas kerja terkait tenaga kerja serta alat dan bahan di Taman Wisata Mekarsari diperlukan hal-hal berikut.

1. Target yang sudah ditetapkan harus dicapai oleh tenaga kerja. Efektivitas kerja tidak akan tercapai apabila tenaga kerja bekerja dengan santai tanpa memperhitungkan waktu efektif mereka bekerja setiap hari.

2. Tenaga kerja dibekali keterampilan dan pengetahuan dalam menerapkan pekerjaan pemeliharaan di lapang sehingga tiap pekerjaan mencapai hasil maksimal.

3. Perlu dilakukan pengelolaan tenaga kerja sesuai dengan luasan taman yang dipelihara agar tenaga kerja tidak kewalahan dalam melakukan pekerjaan pemeliharaan.

4. Perlu dilakukan peningkatan terhadap pengawasan oleh koordinator lapang sehingga tenaga lebih giat lagi dalam pekerjaan yang dilakukan. Apabila ada kesulitan, baik dalam penggunaan alat maupun pelaksanaan pemeliharaan, koordinator lapang hendaknya mengajarkannya.

5. Peralatan kerja yang baik tentu menambah efektivitas pekerjaan pemeliharaan. Untuk itu, perlu dilakukan pengecekan setiap hari usai menggunakan peralatan sebelum waktu kerja berakhir. Selain itu, biaya anggaran pemeliharaan untuk peralatan harus diperhatikan agar dapat terpenuhi secara optimal.

6. Pemberian motivasi yang dilakukan oleh pihak Taman Wisata Mekarsari merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan semangat kerja tenaga kerja/karyawan.

6.3.3 Pengelolaan Peralatan dan Bahan

Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan pemeliharaan di Taman Wisata Mekarsari sudah dalam jumlah yang memadai sehingga kegiatan pemeliharaan

(12)

dapat terus berjalan dengan lancar. Masalah yang dapat menghambat pekerjaan pemeliharaan di lapang adalah terjadi kerusakan alat. Kerusakan alat yang terjadi biasanya pada cangkul dan arit panjang. Meskipun alat tersebut masih berfungsi, hasil pekerjaan yang diperoleh tidak optimal sehingga perlu dilakukan pengecekan kondisi alat secara berkala agar koordinator lapang dapat memberikan solusi atau mengantisipasi dengan cara penggantian alat. Untuk kelengkapan bahan-bahan, PT MUS sudah menyediakan dalam jumlah yang memadai demi kelancaran kegiatan pemeliharaan.

Ketersediaan alat dan bahan yang memadai meski harganya mahal pada kenyataannya sangat berpengaruh pada efektivitas kerja. Oleh karena itu dalam menyusun rencana anggaran biaya pemeliharaan sebaiknya tidak hanya memasukkan anggaran dana pembelian peralatan dan bahan saja, melainkan meliputi anggaran perawatan masing-masing alat. Selain itu, menyusun rencana anggaran biaya harus dialokasikan secermat mungkin sesuai dengan prioritas pekerjaan pemeliharaan, agar biaya yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan.

6.3.4 Anggaran Biaya Pemeliharaan

Anggaran biaya menjadi salah satu faktor pembatas utama pada pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan, baik untuk pemeliharaan intensif maupun ekstensif (Carpenter et al., 1975). Jika melihat jumlah rencana anggaran biaya operasional dan rencana anggaran biaya peralatan yang belum termasuk upah karyawan, Taman Wisata Mekarsari memiliki rencana anggaran pemeliharaan yang terhitung kecil dalam setahun. Hal tersebut sangat mempengaruhi kualitas elemen lanskap yang dipelihara. Kualitas elemen kurang terlihat akibat pemeliharaan yang seadanya sehingga estetika pun menjadi berkurang dan kurang meninggalkan kesan bagi pengunjung.

Saat ini terlihat kondisi tanaman yang kering dan kurang terawat di Taman Wisata Mekarsari serta elemen keras yang kotor karena terlambatnya pemeliharaan yang dilakukan. Padahal tanaman yang digunakan di Taman Wisata Mekarsari merupakan tanaman yang low maintenance dan relatif mudah dalam pemeliharaan. Faktor biaya internal dari Taman Wisata Mekarsari untuk kegiatan pemeliharaan serta kurangnya tenaga kerja yang menyebabkan kegiatan

(13)

pemeliharaan belum dilakukan secara optimal dan hal tersebut berpengaruh pada pencapaian keefektifan kerja sehingga kualitas tanaman dan elemen keras pun menjadi menurun. Menurut Arifin dan Arifin (2005), penyusunan rencana anggaran biaya pemeliharaan lanskap seharusnya sudah diperkirakan dan dipertimbangkan sejak sebelum perencanaan suatu area dan penyusunan anggaran biaya bergantung pada luasan areal taman, desain taman dan penggunaan elemen-elemen taman, standar biaya tenaga kerja harian, kelengkapan dan efektivitas peralatan pemeliharaan, bahan habis pakai, biaya tenaga supervisor, dan tenaga ahli.

Tidak hanya berdampak pada kondisi taman, minat pengunjung pun akan berkurang untuk kembali ke Taman Wisata Mekarsari karena kesan pemeliharaan yang kurang. Soekadija (2000) menyatakan bahwa wisatawan akan tahan tinggal di tempat objek wisata kalau lingkungannya bagus, dengan arsitektur taman yang asri, dilengkapi dengan tempat-tempat beristirahat yang nyaman.

6.3.5 Pembagian dan Pengawasan Zona Pemeliharaan

Arifin dan Arifin (2005) menyatakan bahwa adanya pembagian zona kerja dan penempatan seorang mandor pada setiap zona dapat membantu kelancaran kerja dan mencapai efektivitas yang baik. Parker dan Bryan (1989) menambahkan bahwa salah satu keuntungan sistem pengawasan adalah dengan adanya staf yang baik maka kegiatan pemeliharaan akan berjalan sendiri dan mandor atau supervisor hanya perlu berkonsentrasi kepada tenaga kerja yang tidak mengerjakan pekerjaannya tepat waktu. Taman Wisata Mekarsari pun sudah membagi pekerjaan pemeliharaan dengan baik dan pengawasan oleh koordinator lapang untuk setiap zona yang telah ditentukan. Jumlah tenaga kerja KTL untuk seluruh kawasan Taman Wisata Mekarsari yaitu 264 ha berjumlah 66 tenaga kerja lapang.

Kualitas lanskap di Taman Wisata Mekarsari dalam hal pemeliharaan elemen baik soft material maupun hard material perlu diperhatikan lagi. Berdasarkan pengamatan banyak terdapat kerusakan pada hard material yang belum diperbaiki seperti paving yang rusak, pergola yang berkarat dan tak terurus, sedangkan untuk soft material terlihat tanaman yang kering dan kurang subur.

(14)

Tenaga kerja yang jumlahnya minim masih memiliki tugas tambahan bagi tim khusus yang anggotanya diambil dari tenaga kerja keseluruhan. Tim khusus tersebut memiliki pekerjaan tambahan berupa dekorasi tanaman baik indoor maupun outdoor serta pelayanan wisata dalam pembuatan alat/bahan dan elemen taman yang sifatnya artistik. Sebaiknya, tim khusus tersebut merupakan sumber daya manusia yang benar-benar memiliki keahlian dalam hal tersebut sehingga dapat mengerjakan pekerjaan dengan baik dan juga tidak mengganggu pekerjaan utama dalam pekerjaan pemeliharaan untuk menghasilkan kualitas lanskap yang lebih baik lagi.

6.3.6 Kegiatan Evaluasi

Berdasarkan pengamatan di lapang, ada sebagian tenaga kerja yang tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan mereka, ada pula yang menyelesaikannya dengan teliti. Secara visual terlihat perbedaan hasil antara kedua pekerjaan tersebut. Pengawas, yaitu koordinator lapang, yang melaksanakan tugasnya dengan benar dan baik tentu akan mengawasi, mengayomi, dan memberitahukan kepada tenaga kerja yang melakukan kesalahan dalam bekerja. Kegiatan evaluasi di Taman Wisata Mekarsari merupakan evaluasi mingguan antara koordinator lapang dengan kepala divisi, serta evaluasi bulanan yang diikuti seluruh karyawan Seksi Kebersihan dan Tata Lingkungan. Kegiatan evaluasi di Taman Wisata Mekarsari masih kurang efektif dilihat dari pekerjaan pemeliharaan yang dihasilkan oleh pekerja memiliki kualitas visual yang berbeda. Terlihat di beberapa area, terdapat tanaman yang sudah mendapat perlakuan pemeliharaan, sedangkan area lain belum mendapat perlakuan pemeliharaan atau sedang dalam pemeliharaan. Hal ini pun terkait tenaga kerja yang minim di Taman Wisata Mekarsari sehingga terjadi kelambatan pemeliharaan.

Sebaiknya evaluasi yang dilaksanakan di Taman Wisata Mekarsari dilakukan fokus terhadap tiga hal, yaitu evaluasi tenaga kerja, evaluasi hasil kerja, dan evaluasi kerja. Evaluasi tenaga kerja dan evaluasi kerja dilakukan tiap hari oleh koordinator lapang dan sudah tercatat dalam buku evaluasi yang harus dimiliki masing-masing koordinator lapang. Evaluasi tenaga kerja bertujuan agar koordinator lapang dapat memantau dan melihat kompetensi masing-masing

(15)

karyawan Taman Wisata Mekarsari dalam pekerjaan pemeliharaan. Evaluasi hasil kerja terkait hasil pekerjaan pemeliharaan berupa kebersihan, keindahan, kenyamanan, keamanan taman, serta tanaman di kawasan Taman Wisata Mekarsari.

Evaluasi kerja dilakukan minimal seminggu sekali dengan mengikutkan semua karyawan lapang, koordinator lapang, dan kepala divisi. Evaluasi dibuat seperti sharing untuk mendengar keluhan, kendala, maupun alasan hasil kerja di daerah tertentu yang menjadi tidak optimal. Solusi akhir untuk setiap permasalahan dan kendala yang dihadapi diserahkan kepada kesepakatan seluruh pengawas dalam hal ini adalah koordinator lapang. Hal tersebut dilakukan karena yang mengawas kegiatan secara langsung di lapangan ditangani oleh koordinator lapang.

Evaluasi bulanan juga sebaiknya diterapkan dengan cara penilaian kualitatif dan kuantitatif terhadap hasil pekerjaan pemeliharaan yang sudah dilakukan. Penilaian kualitatif dilakukan dengan cara pengisian form checklist yang dilakukan oleh koordinator lapang terhadap area tertentu atau keseluruhan area Taman Wisata Mekarsari untuk selanjutnya dicek oleh Kepala Divisi KTL. Penilaian secara kuantitatif dilakukan oleh Kepala Divisi Kebersihan dan Tata Lingkungan dengan memberikan nilai tertentu pada butir-butir untuk menilai hasil pekerjaan pemeliharaan berdasarkan aspek-aspek misalnya kondisi taman, kondisi tanaman, kebersihan taman.

6.4 Pemeliharaan Lanskap 6.4.1 Pemeliharaan Ideal

Secara umum Taman Wisata Mekarsari sudah melakukan pemeliharaan lanskap baik pemeliharaan ideal maupun pemeliharaan fisik. Pemeliharaan ideal untuk menjaga kualitas lanskap dilakukan pada seluruh kawasan Taman Wisata Mekarsari begitu juga dengan pemeliharaan fisik lanskapnya. Menurut Arifin dan Arifin (2005), pemeliharaan ideal akan berjalan baik jika didukung oleh upaya-upaya seperti berikut :

1. perencanaan dan perancangan taman dengan pola yang sederhana sehingga memudahkan pemeliharaan fisik;

(16)

2. penggunaan elemen taman, baik elemen keras maupun elemen tanaman, hendaknya tidak sulit dicari agar tidak menyulitkan dalam penggantian atau penyulaman tanaman;

3. pemilihan sistem struktur yang kuat dan awet serta pemilihan bahan perkerasan yang sesuai;

4. pembuatan pola sirkulasi yang jelas dan rasional sehingga alur kegiatan di dalam taman selalu lancar;

5. perlengkapan taman yang memadai meliputi penerangan lampu pada malam hari dan jaringan utilitas yang ada di bawah tanah (saluran drainase, pipa-pipa ledeng, sprinkler, kabel listrik dan telepon, serta pipa-pipa gas) direncanakan dengan baik sehingga tidak terjadi bongkar pasang pada permukaan taman.

6.4.2 Pemeliharaan Fisik

Pemeliharaan fisik merupakan pemeliharaan terhadap hard material dan

soft material yang terdapat dalam taman. Dari frekuensi pemeliharaan di Taman

Wisata Mekarsari, dapat dilihat bahwa pemeliharaan dilakukan per hari, per bulan, per tahun, dan secara insidental.

6.4.2.1 Penyapuan

Pemeliharaan kebersihan, yaitu penyapuan dan pembuangan sampah, dilakukan tiap hari. Setiap pagi, penyapuan dilakukan untuk mengawali pekerjaan. Taman Wisata Mekarsari memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga kebersihan. Seluruh kawasan Taman Wisata Mekarsari bersih dari sampah inorganik. Sampah organik yang ada pun disapu dan dikumpulkan pada satu area sehingga terlihat tidak berantakan.

Kesadaran karyawan dan budaya bersih dari sampah di Taman Wisata Mekarsari sudah tertanam sehingga pengunjung pun melihat keadaan lingkungan yang bersih tidak membuang sampah sesuka hati. Selain itu tempat sampah yang disediakan di Taman Wisata Mekarsari tersebar di seluruh kawasan. Sehingga untuk membuang sampah tidak pada tempatnya bukan menjadi alasan di kawasan ini. Hal tersebut merupakan sikap positif yang harus ditumbuhkan sehingga siapapun yang berkunjung ke Taman Wisata Mekarsari merasa memiliki

(17)

lingkungan tersebut sehingga timbul rasa ingin menjaga semua yang terdapat di dalamnya baik hard material maupun soft material.

6.4.2.2 Pemupukan

Arifin dan Arifin (2005) menyatakan bahwa pemupukan dapat dilakukan dengan memberikan pupuk berupa pupuk organik dan pupuk inorganik. Contoh pupuk organik adalah pupuk kandang dan kompos. Baik pupuk kandang maupun kompos, selain memasok hara, juga dapat memperbaiki sifat tanah, yaitu tanah menjadi lebih gembur dan daya serap terhadap air pun menjadi lebih baik. Contoh pupuk inorganic, antara lain adalah NPK, urea, dan ZA. Pupuk inorganik ada yang mengandung satu unsur (tunggal) dan lebih dari satu unsur (majemuk) serta ada yang lengkap (unsur makro dan mikro) dan ada yang tidak lengkap (hanya unsur makro saja). Sulistyantara (2006) menjelaskan bahwa pupuk inorganik yang beredar di pasaran ada dua jenis yaitu pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar adalah pupuk yang diberikan melalui akar, sedangkan pupuk daun disemprotkan pada daun. Pemilihan jenis pupuk dapat ditinjau dari segi kepraktisan pemakaian di lapangan nantinya serta keefektifan terhadap tanaman. Pada umumnya, pemupukan dilakukan dengan aturan seperti terlihat pada tabel 18.

Tabel 18. Frekuensi Pemberian Pupuk Berdasarkan Jenis Tanaman

Jenis Tanaman Jenis Pupuk yang Diberikan Dosis Pemberian Frekuensi

Pemberian

Pohon Pupuk Organik (Pupuk kandang

atau pupuk kompos)

20 kg 3-4 bulan sekali

NPK (15-15-15) 25-50 g/ pohon 3 bulan sekali

Semak dan Penutup Tanah

Pupuk Organik (Pupuk kandang atau pupuk kompos)

2.5-5 kg/m2 3 bulan sekali

NPK (15-15-15) 10 g/ m2 3 bulan sekali

Rumput Urea 10 g/ m2 3 bulan sekali

Sumber: Sulistyantara, 2006

Berdasarkan pengamatan di lapang, pemupukan yang dilakukan biasa diberikan pada awal pembuatan taman sebelum tanaman ditanam. Untuk seterusnya, pemupukan dilakukan tidak sesuai dengan jadwal yang berlaku. Seharusnya pemupukan dilakukan dalam 3 bulan sekali, tetapi pada kenyataannya

(18)

di lapangan, pemupukan dilakukan setahun sekali. Menurut Arifin dan Arifin (2005), setiap kondisi lahan memiliki tingkat kesuburan yang berbeda. Di lain pihak, setiap jenis tanaman juga memerlukan asupan hara yang berbeda pula. Dengan demikian, Taman Wisata Mekarsari harus memperhatikan frekuensi pemupukan agar tanaman tidak kekurangan makanan tambahan yang diperlukan untuk memenuhi nutrisinya.

6.4.2.3 Penyentikan dan Penyiangan Gulma

Penyentikan yang dilakukan setiap hari di Taman Wisata Mekarsari memberikan peningkatan kualitas visual terhadap tanaman karena tanaman utama terbebas dari gulma. Para pekerja yang melakukan penyentikan walaupun sedang terik matahari perlu diberi apresiasi yang tinggi agar dapat menambah motivasi dan semangat kerja.

6.4.2.4 Pemangkasan

Sulistyantara (2006) menyatakan bahwa pemangkasan juga dilakukan untuk mendapatkan tanaman dengan bentuk-bentuk tertentu yang disebut dengan

topiary. Untuk melakukannya diperlukan keahlian dan ketelitian agar penampilan

tanaman menarik. Pembentukan tanaman pagar yang rapat juga melibatkan keahlian dalam memangkas terutama bila tanaman pagar ditanam dari bibit yang masih kecil. Untuk pembabatan rumput, Taman Wisata Mekarsari menggunakan jasa kontraktor yang dilakukan sesuai kontrak kerja. Berdasarkan pengamatan di lapang, keseragaman tinggi rumput sama, menandakan pemeliharaan sudah baik. Pemangkasan keseluruhan semak yang ada di Taman Wisata Mekarsari menggunakan tenaga kontraktor sebanyak 4 orang. Sistem kerjanya yaitu ditargetkan beberapa hari untuk Area X. Apabila sudah selesai maka dilanjutkan ke Area Y, dan seterusnya. Namun, kenyataan di lapang berdasarkan pengamatan, terjadi keterlambatan dalam pemangkasan sehingga Area X yang harusnya ditarget selesai dalam waktu yang ditentukan tidak tercapai. Selain itu terlihat pula beberapa pohon yang belum dipangkas dan tumbuh terhalang oleh bangunan. Apabila terus terjadi seperti ini, pemeliharaan ideal dalam menjaga bentuk taman akan mengalami penurunan kualitas. Arifin dan Arifin (2005) menyatakan bahwa

(19)

pemangkasan pohon dilakukan pada musim tertentu, bergantung pada jenis pertumbuhannya dan tidak dilakukan pada saat pohon sedang musim berbunga/ berbuah. Arifin dan Arifin (2005) menjelaskan, pemangkasan ini bertujuan merangsang pertumbuhan vegetatif dan generatif pada musim berikutnya, apalagi bila diikuti dengan pemberian pupuk. Pemangkasan bentuk harus dilakukan saat pohon sedang berdaun, yaitu untuk jenis yang menggugurkan daun. Tujuannnya agar percabangan yang hidup dan yang mati dapat diketahui sehingga bentuk ideal yang diinginkan dapat tercapai. Menurut Arifin dan Arifin (2005), pemangkasan pohon yang dilakukan pada akhir musim hujan memiliki beberapa keuntungan berikut :

1. memperkecil kehilangan air akibat transpirasi berlebihan;

2. menghindari serangan penyakit karena kelembapan tidak setinggi musim hujan;

3. mempercepat pertumbuhan vegetatif;

4. merangsang pembungaan pada musim berikutnya.

6.4.2.5 Penyiraman

Sulistyantara (2006) menyatakan bahwa penyiraman dilakukan dengan memperhatikan musim dan cuaca. Pada musim penghujan mungkin tidak perlu dilakukan penyiraman, sedangkan pada musim kemarau perlu dilakukan penyiraman sebanyak dua kali setiap hari. Angin yang kencang akan meningkatkan penguapan sehingga frekuensi penyiraman perlu ditambah. Arifin dan Arifin (2005) menambahkan bahwa waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. Kawasan atau daerah yang memiliki kelembaban udara tinggi, penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada penyiraman sore hari. Tujuannya untuk menghindari berkembangnya penyakit yang disebabkan oleh cendawan.

Penyiraman di Taman Wisata Mekarsari dilakukan sehari sekali setiap bulan kemarau dengan sistem menyelesaikan Area X hari ini dan dilanjutkan Area Y, dan seterusnya. Penyiraman dengan sistem seperti ini terlihat kurang optimal mengingat suhu dan kelembaban yang tinggi di Taman Wisata Mekarsari sehingga tanaman terlihat kering. Arifin dan Arifin (2005) menjelaskan bahwa

(20)

indikasi jumlah kebutuhan air siraman untuk tanaman secara praktis dapat diukur dari kedalaman penetrasi air siraman di dalam tanah. Apabila air siraman dapat menerobos sedalam 15 – 20 cm ke dalam tanah, dapat dianggap siraman tersebut sudah cukup. Tetapi pada kondisi tertentu, misalnya pada musim kemarau, penyiraman dalam bedengan atau tanaman missal sering dilakukan dengan cara di-leb hingga tercapai kondisi jenuh. Oleh karena itu, sebaiknya Taman Wisata Mekarsari yang memiliki konsep berwisata di tengah kebun buah, memperhatikan tanaman yang ada dengan teliti karena kualitas visual yang dijual disini dari kondisi tanamannya. Taman Wisata Mekarsari hanya memiliki sebuah mobil tangki, keefektivitasan pun berkurang apabila terdapat kereta pengunjung yang lewat pada saat penyiraman. Demi kelancaran aktivitas pengunjung tersebut, penyiraman dihentikan sementara. Sebaiknya mobil tangki ditambah agar keperluan penyiraman dapat berjalan dan berakhir sebelum aktivitas pengunjung dimulai sehingga tidak menurunkan kualitas visual dari tanaman diakibatkan kekurangan air.

6.4.2.6 Penyulaman

Sulistyantara (2006) mengatakan bahwa penyulaman dilakukan dengan tetap memperhatikan desain yang telah dibuat. Cara ini memungkinkan penggantian tanaman dengan jenis yang lain dari yang ditanam sebelumnya. Untuk pemeliharaan yang insidental seperti ini, koordinator lapang sebagai pengawas di lapang hendaknya lebih teliti dalam mengawas areanya untuk kegiatan pekerjaan pemeliharaan tersebut. Dengan demikian setiap kawasan di TamanWisata Mekarsari dapat terlihat indah karena kualitas visual benar-benar dijaga dan pemeliharaan ideal pun tercapai.

6.4.2.7 Pengendalian Hama dan Penyakit

Arifin dan Arifin (2005) menambahkan, pengendalian terhadap gangguan hama yang efektif dapat dilakukan dengan cara mengenal jenis hama yang biasa menyerang tanaman taman. Untuk pemeliharaan yang insidental seperti ini, koordinator lapang sebagai pengawas di lapang hendaknya lebih teliti dalam mengawas areanya untuk kegiatan pekerjaan pemeliharaan tersebut. Dengan

(21)

demikian setiap kawasan di TamanWisata Mekarsari dapat terlihat indah karena kualitas visual benar-benar dijaga dan pemeliharaan ideal pun tercapai.

6.4.2.8 Pembibitan

Taman Wisata Mekarsari memiliki area pembibitan khusus untuk tanaman hias. Hal ini sangat menguntungkan karena dapat mengehemat biaya pemeliharaan taman karena pembibitan tersebut menyediakan bibit yang diperlukan untuk membangun taman baru, mengganti/menyulam tanaman yang telah jadi, maupun sebagai stok tanaman penunjang dekorasi. Oleh karena itu, penempatan seorang yang kompeten dalam bidangnya pun perlu dipertimbangkan.

6.4.2.9 Pemeliharaan Garden Furniture

Menurut Arifin dan Arifin (2005), pemeliharaan shelter, gazebo, dan pergola yang paling sering dilakukan adalah pengecatan ulang karena warna yang telah memudar dan acapkali berkesan kusam. Atap shelter dan gazebo perlu juga dibersihkan dari kotoran dan yang telah rusak diganti. Untuk pergola, harus sering dicek kekuatannya dalam menyangga tanaman yang merambatinya dan lakukan pemangkasan jika tanaman terlalu besar. Arifin dan Arifin (2005) menambahkan, pemeliharaan terhadap perkerasan dalam taman yang sering dikunjungi intensif harus dilakukan setiap hari.

Pembersihan kolam dilakukan setahun sekali di Taman Wisata Mekarsari untuk dua kolam yaitu kolam bangunan air terjun dan kolam plaza air mancur. Kolam tersebut merupakan ikon di Taman Wisata Mekarsari tetapi terkesan kumuh karena kondisi air yang kotor terisi dengan lumut serta warna air sudah tidak jernih lagi. Menurut Arifin dan Arifin (2005), pemeliharaan kolam taman terutama yang terbuat dari keramik meliputi beberapa hal berikut :

1. Pencucian filter kolam tergantung dari bersih tidaknya air kolam, tetapi secara rata-rata pencucian dilakukan sebulan sekali.

2. Bahan kimia (kaporit) sering diberikan pada kolam taman agar air tampak jernih. Kaporit digunakan agar kotoran yang ada di dalam air dapat mengendap ke dasar kolam sehingga memudahkan dalam pembersihan kolam.

(22)

3. Kotoran yang mengapung di permukaan air kolam harus dibersihkan secara rutin, minimal sehari sekali dengan menggunakan tanggok (leaf

rade). Kotoran tersebut mengakibatkan turunnya nilai estetika, selain akan

dapat meninggikan permukaan air kolam (bila jumlahnya berlebihan) dan menghambat kelancaran semburan air mancur (bila dalam kolam terdapat pipa-pipa air mancur).

4. Pembersihan bibir kolam dilakukan secara rutin terhadap kotoran-kotoran seperti daun-daun kering dan sebagainya. Sementara kotoran dari percikan larutan kaporit (bila hal ini terjadi) harus segera di lap dan dibersihkan saat itu juga.

5. Penyikatan dinding kolam dilakukan setiap hari sebelum vacuuming dilakukan. Pembersihan ini dilakukan untuk menghilangkan atau mencegah timbulnya lumut. Noda hitam pada dinding yang disebabkan oleh lumut yang mati harus dibersihkan dengan HCl 40 % atau digosok dengan batu apung.

6. Vacuming merupakan pemeliharaan yang bertujuan untuk menjernihkan air kolam dan membersihkan lantai kolam dengan menggunakan alat

vacum cleaner (pompa pembersih kolam yang portable).

6.5 Pengelolaan Sumber Daya 6.5.1 Sampah

Arifin dan Arifin (2005) menjelaskan bahwa kehadiran sampah padat yang berserakan sering mencemari taman. Sampah padat antara lain terdiri dari daun kering yang rontok, kertas, kardus, plastik, serta kaleng pembungkus makanan dan minuman. Taman yang terbebas dari sampah memperlihatkan kondisi taman yang ideal dan nyaman untuk dinikmati serta memiliki nilai kesehatan yang baik. Taman tersebut memberikan rasa aman kepada para penggunanya.

Berdasarkan pengamatan di lapang, penanganan sampah di Taman Wisata Mekarsari sudah tergolong baik sebab secara umum seluruh kawasan terlihat bersih dari sampah inorganik. Hanya saja perlu dilakukan penambahan armada dan tenaga kerja mengingat ramainya pengunjung saat musim liburan. Hal ini agar

(23)

karyawan/tenaga kerja yang ada tidak kewalahan untuk mengatasi peningkatan pengunjung.

Upaya pengomposan pun dapat dilakukan dengan cara sanitary landfill yaitu pembuatan lubang yang berada pada salah satu sudut bagian taman yang diperkirakan tidak mengganggu kualitas visual taman. (Gambar 21). Upaya pengomposan ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi volume pangangkutan sampah organik di Taman Wisata Mekarsari sehingga sampah yang biasanya tidak terangkut dapat diatasi.

Gambar 21. Sanitary landfill

6.5.2 Air

Pengelolaan limbah air di Taman Wisata Mekarsari sudah baik dengan adanya instalasi pengelolaan air limbah. Hal tersebut agar kadar pencemaran air permukaan berkurang dan pengelolaan lingkungan secara tidak langsung terlaksana.

6.6 Pengelolaan Pengunjung 6.6.1 Pengelolaan Ticketing

Berdasarkan pengamatan di lapang, Taman Wisata Mekarsari sudah mampu untuk mengelola kegiatan wisata yang ada. Hal ini terlihat dari manajemen tiket, harga program, maupun paket wisata yang ada sudah berjalan dengan baik dan lancar.

6.6.2 Paket wisata

Taman Wisata Mekarsari memiliki berbagai paket wisata, wahana-wahana, dan paket pelatihan yang sangat menarik. Paket wisata yang tersedia di Taman

(24)

Wisata Mekarsari sudah beragam dengan tersedianya enam paket wisata bertema edukasi dan tiga paket wisata bertema petualangan dan permainan. Hal ini menunjukkan Taman Wisata Mekarsari sudah dapat mencapai konsep wisatanya yaitu 4 si diantaranya yaitu edukasi dan rekreasi. Namun sangat disayangkan kapasitas orang yang mengikuti dibatasi untuk rombongan minimal 30 orang sehingga bagi keluarga yang datang terlambat tidak dapat menikmati paket wisata tersebut. Selain itu, jika terdapat wahana yang tidak termasuk paket, pengunjung harus menambah biaya untuk menikmatinya. Untuk itu perlu dipertimbangkan lagi jumlah minimal orang yang dapat menikmati paket-paket wisata yang ditawarkan serta manajemen paket wisata agar pengunjung merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan.

Wahana-wahana yang tersedia di Taman Wisata Mekarsari juga memiliki permainan yang tidak kalah seru. Salah satu contohnya yaitu Wahana Sabut Kelapa Outbound yang sangat diminati pengunjung. Wahana ini terletak di hamparan kebun kelapa yang luas. Permainan yang dihadirkan menciptakan kebersamaan dan sebagai sarana refreshing yang unik. Hal ini membuat potensi bagi Taman Wisata Mekarsari dengan adanya wahana yang unik dan menarik sebagai upaya menarik pengunjung. Reguler entertainment sebagai salah satu inovasi setiap minggu pun menjadi salah satu pilihan yang dapat menarik pengunjung, hanya saja perlu dilakukan promosi lagi agar lebih menarik minat masyarakat akan acara-acara yang disajikan Taman Wisata Mekarsari.

Namun, salah satu wahana yaitu menara pandang terdapat permasalahan dalam pemeliharaannya. Berdasarkan pengamatan di lapang, kondisi menara pandang yang disajikan untuk pengunjung menikmati pemandangan dan sekedar menyalurkan hobi terlihat rusak pada lantainya, cat yang kusam, dan dinding yang dipenuhi dengan coretan-coretan. Hal tersebut tentu membuat ketidaknyamanan pengunjung, ditambah lagi lift yang rusak sehingga pengunjung harus menempuh tangga untuk bangunan yang memiliki tinggi ±30 meter ini. Untuk mengatasi hal tersebut, Taman Wisata Mekarsari sebaiknya segera melakukan perbaikan bangunan dan pengecetan ulang serta memperbaiki lift yang rusak sehingga kenyamanan dan kepuasan pengunjung terhadap wahana yang pilihan bisa tercapai. Selain itu diperlukan juga pengawasan yang lebih lagi terhadap

(25)

pengunjung yang merusak/ melakukan vandalisme sehingga aset/ bangunan tetap terjaga kualitas visualnya dan bertahan lama.

6.6.3 Tenaga Kerja dan Jadwal Kerja

Untuk tenaga kerja dan jadwal kerja, terlihat karyawan memiliki kesadaran yang tinggi akan pekerjaan mereka masing-masing. Kinerja mereka sehari-hari yang tidak mengulur waktu dalam melakukan pekerjaan serta fokus dalam pelayanan terhadap pengunjung.

6.6.4 Pengawasan Pengunjung

Untuk pengawasan terhadap pengunjung, Taman Wisata Mekarsari sudah melakukan langkah yang benar dengan memberikan beberapa aturan. Hal tersebut sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan wisata, kepuasan, dan keamanan terhadap pengunjung. Dengan demikian, pengunjung dapat melakukan wisata dengan nyaman dan tenang.

6.6.5 Karakteristik Pengunjung

Jumlah responden yaitu 30 orang dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 17 orang dan perempuan sebanyak 13 orang. Dari data usia terlihat bahwa pengunjung rata-rata Taman Wisata Mekarsari merupakan pengunjung dengan usia produktif yaitu usia 14-24 tahun dan 25-55 tahun sebanyak 47%. Hal ini dapat dipengaruhi oleh program atau paket wisata yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari dominan berupa program dengan aktivitas fisik seperti olahraga,

outbond, dan bermain yang membutuhkan kondisi fisik yang prima. Berdasarkan

pengamatan di lapang, pengunjung usia < 14 tahun pun terlihat banyak. Hal ini pun dipengaruhi program atau paket wisata yang bersifat edukasi.

Berdasarkan tingkat pendidikan, pengunjung yang datang ke Taman Wisata Mekarsari merupakan orang berpendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka orang tersebut akan bersikap lebih baik dan sesuai norma yang ada serta tanggap terhadap sekelilingnya, sehingga dia tahu bagaimana bersikap pada saat berekreasi. Sebanyak 40% responden berprofesi sebagai pegawai swasta menandakan bahwa pengunjung yang datang ke Taman Wisata Mekarsari

(26)

merupakan orang-orang yang membutuhkan suasana santai setelah bergelut dengan pekerjaannya selama beberapa waktu sehingga membutuhkan sarana untuk menyegarkan pikiran dan membuat rileks diri. Untuk penghasilan perbulan sebanyak 47% pengunjung memiliki penghasilan sebesar Rp 1.000.000,00 – Rp 2.500.000,00 yang menandakan bahwa tingkat penghasilan yang tergolong kecil tidak meghalangi pengunjung untuk berwisata di Taman Wisata Mekarsari untuk sekedar melihat keindahan lanskap ataupun melakukan aktivitas sosial.

Sebanyak 37% responden berasal dari Jabodetabek dan Jawa Barat, menandakan keseimbangan antara pengunjung yang berasal dari Jabodetabek dan Jawa Barat berpengaruh terhadap lokasi Taman Wisata Mekarsari yang mudah dijangkau melalui jalan darat. Sebanyak 38% responden menyatakan bahwa mengetahui informasi mengenai Taman Wisata Mekarsari dari teman/rekan kerja, menandakan bahwa pada umumnya, pengunjung yang datang ke Taman Wisata Mekarsari berasal dari teman/ rekan kerja yang saling merekomendasikan untuk berwisata ke Taman Wisata Mekarsari. Frekuensi kunjungan menunjukkan bahwa Taman Wisata Mekarsari kurang berhasil dalam menarik pengunjung dengan objek, atraksi, program, paket wisata, atau fasilitas yang sudah ada sehingga pengunjung enggan untuk kembali lagi. Sebanyak 87% responden berkunjung ke Taman Wisata Mekarsari setahun sekali.

Sebanyak 36% responden berekreasi ke Taman Wisata Mekarsari dengan tujuan untuk menyegarkan pikiran. Hal ini disebabkan mayoritas pengunjung adalah pegawai swasta sehingga tujuan kunjungan untuk menyegarkan pikiran. Kemudian disusul responden berekreasi dengan tujuan mengisi waktu luang (22%), memperluas pengetahuan mengenai tanaman (16%), wisata petik buah dan mencari inspirasi (7%), pendidikan pertanian dan tanaman (5%), kegiatan bersosialisasi responden (3%), mengenal aktivitas pertanian dan menyalurkan hobi (2%), dan tujuan lainnya (0%).

Sebanyak 57% responden berkunjung ke Taman Wisata Mekarsari selama 4-8 jam, pilihan lainnya 2-4 jam responden sejumlah 37%, serta berkunjung kurang dari 2 jam dan lebih dari 8 jam masing-masing sejumlah 3%. Hal ini berpengaruh dari areal Taman Wisata Mekarsari yang luas sehingga pengunjung memerlukan waktu untuk berkeliling dan melakukan aktivitas wisata dengan

(27)

program atau paket wisata yang disuguhkan. menyukainya, dan pilihan lainnya sejumlah 0%.

Sebanyak 45% responden menyukai objek wisata Danau ketika berekreasi ke Taman Wisata Mekarsari, 32% responden meyukai objek wisata Taman, dan 21% menyukai objek wisata kebun. Objek wisata sawah 2% responden menyukainya, dan pilihan lainnya sejumlah 0%. Untuk wahana yang disukai di Taman Mekarsari, sebanyak 38% menyukai wisata air, sedangkan 26% responden menyukai outbound. Wahana Family Walk Zone dan Greenland Zone, responden yang menyukai sejumlah 15% untuk masing-masing wahana, disusul Rumah Pohon Leo dengan jumlah 6%.

Sebanyak 27% responden melakukan aktivitas sosial di Taman Wisata Mekarsari, disusul aktivitas fisik sejumlah 23%, aktivitas alam 19%, aktivitas kreatif 17%, aktivitas budaya 13%, dan aktivitas edukatif 2%. Hal ini berpengaruh dengan luasnya Taman Wisata Mekarsari dan banyak tempat yang disediakan untuk aktivitas sosial sehingga pengunjung dapat memilih tempat yang diinginkan. Tingkat aktivitas lainnya tetap tidak dapat dilupakan namun harus lebih ditingkatkan lagi program-program/ paket wisata dalam aktivitas-aktivitas tersebut. Berdasarkan pengamatan di lapang, aktivitas edukatif juga banyak dilakukan oleh siswa-siswi TK, SD, sampai tingkat SMA untuk pelatihan penanaman dan pendidikan pertanian lainnya.

Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa manfaat yang diperolah dengan berkunjung ke Taman Wisata Mekarsari yaitu mencari hiburan, disusul memberi inspirasi berwiraswasta (15%), fisik lebih sehat (14%), kemudian dengan jumlah sama yaitu 10% untuk mental lebih sehat, mendapat info pertanian, dan menjalin silaturahmi dengan kerabat/ rekan kerja. Sedangkan untuk manfaat banyak contoh yang dapat ditiru sejumlah 8%, dan menemukan kontak bisnis pertanian sebanyak 3%. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh karakteristik pengunjung yang datang adalah pegawai swasta yang ingin merilekskan pikiran dengan mencari hiburan di Taman Wisata Mekarsari.

Beberapa harapan yang diinginkan responden terhadap Taman Wisata Mekarsari yaitu penambahan program rekreasi (19%), harga lebih terjangkau (18%), perbaikan kualitas fasilitas dan sarana rekreasi (14%), peningkatan kualitas

(28)

pemeliharaan taman dan kebun (13%), kepedulian terhadap lingkungan dan pengunjung (10%), penambahan signed (9%), peningkatan kualitas pelayanan (6%), dan lainnya sejumlah 0%. Dari hasil tersebut, perbaikan kualitas fasilitas dan sarana rekreasi serta peningkatan kualitas pemeliharaan taman dan kebun menjadi salah satu keinginan responden karena terlihat beberapa fasilitas dan sarana rekreasi sertakondisi elemen taman dan kebun saat ini kurang terawat menyebabkan kualitas visual maupun fisik menurun. Hal ini dapat mempengaruhi pengunjung untuk tidak bertahan lama di area wisata dan mengurangi minat berekreasi di Taman Wisata Mekarsari. Selain itu signed pun perlu ditambah agar pengunjung tidak salah arah dalam berwisata mengingat Taman Wisata Mekarsari sangat luas dan memiliki pola desain yang mirip antar blok.

Untuk program yang paling diinginkan pengunjung adalah wisata pengolahan hasil pertanian dan perkebunan (17%), wahana bermain (15%), forest

recreation (15%), trekking (14%), training berbasis alam (14%), wisata tematik

(14%), kerajinan daerah (12%), dan pilihan lainnya sejumlah 0%. Hal ini dapat menjadi masukan kepada bagian wisata untuk menambahkan program yang diinginkan oleh pengunjung tanpa menurunkan/melupakan kualitas rekreatif yang sudah ada sebelumnya.

6.6.6 Persepsi Pengunjung

Sebanyak 57% responden menilai bahwa desain keseluruhan Taman

Wisata Mekarsari bagus, 23% responden menilai cukup bagus, 10% lainnya menilai kurang bagus dan sangat bagus, serta 0% menilai tidak bagus. Dengan demikian, secara umum keseluruhan desain Taman Wisata Mekarsari adalah bagus sehingga pengunjung pun lebih nyaman karena terkesan natural.

Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa waktu dan tempat mereka

merasa nyaman yaitu ketika berada di sekitar danau, ketika duduk di bangku taman (23%), ketika melewati pinggir danau (21%), ketika melewati jalan menuju danau (15%), ketika berada di Plaza Air Mancur (9%), dan ketika berada di kawasan nursery (2%). Hal ini dapat berpengaruh dari objek wisata yang sangat disukai pengunjung di Taman Wisata Mekarsari adalah danau dengan keadaan sekitar danau yang indah dan asri, sehingga berada di sekitar danau, atau sekedar

(29)

melewati, dan berjalan menuju danau merupakan aktivitas yang dirasa nyaman bagi pengunjung. Ketika berada di kawasan nursery merupakan nilai terkecil yang diberikan responden akibat keadaan nursery yang banyak dengan tanaman sehingga banyak nyamuk dan perawatan yang kurang disekitar perkerasan/ tempat latihan menanam sehingga terdapat banyak lumut yang menyebabkan licin. Keadaan tersebut membuat pengunjung tidak nyaman dan merasa kurang aman berada di sekitar kawasan nursery.

Dari 30 responden, sebanyak 43% menilai bahwa fungsi elemen taman

seperti bangku taman, gazebo, dan perkerasan sudah fungsional, sedangkan 40 % lainnya menilai cukup fungsional. Selebihnya, yaitu 13% responden menilai kurang fungsional, 3% menilai sangat fungsional dan 0% responden menilai tidak fungional. Hal ini menunjukkan bahwa desain dengan pemilihan jenis material dan penempatan yang direncanakan Taman Wisata Mekarsari terhadap elemen taman tersebut sudah membuat nyaman users. Namun, ini pun menjadi bahan masukan kepada pihak pengelola agar lebih meningkatkan kualitas pemeliharaan, seperti memperbaiki bagian yang rusak, mengecat kembali, dan peningkatan pemeliharaan hard material. Dari segi kuantitas, hard material tersebut sudah dapat memenuhi kebutuhan users.

Sebanyak 33% responden menilai imbang bahwa koleksi tanaman hias di

Taman Wisata Mekarsari tergolong lengkap dan cukup lengkap, sedangkan 27% responden menilai kurang lengkap, dan 3% responden menilai tidak lengkap maupun sangat lengkap. Dengan nilai presentasi terhadap persepsi pengunjung untuk koleksi tanaman hias tergolong lengkap, menandakan bahwa Taman Wisata Mekarsari adalah sebuah agrowisata dengan konsep yang menonjolkan koleksi kebun buah tropikanya, sehingga tanaman hias lanskap merupakan penyeimbang dengan fungsi tertentu.

Kenyamanan dinilai pula dengan kehadiran elemen lanskap yang sesuai

dan terpelihara. Terdapat beberapa elemen yang menjadi penilaian dalam pemeliharaan, yaitu tanaman hias, perkerasan/ jalan setapak, gazebo/ saung, bangku taman, kolam, dan patung. Untuk tanaman hias, responden yang menilai terawat sebanyak 43%, cukup terawat (27%), kurang terawat (23%), sedangkan tidak terawat (3%), dan sangat terawat (3%). Penilaian terhadap kondisi tanaman

(30)

hias untuk kurang terawat tergolong banyak yaitu 23%, hal ini dapat berpengaruh dari kondisi visual dan fisik tanaman yang dilihat oleh pengunjung kurang subur dan tampak kering serta belum mendapat perlakuan pemeliharaan seperti pemangkasan, penyiraman, pemupukan, maupun penyulaman.

Berbeda dengan perkerasan/ jalan setapak, sebanyak 50 % menilai cukup terawat, kurang terawat (23%), terawat (20%), tidak terawat (3%), dan sangat terawat (3%). Berdasarkan nilai tersebut dan melihat keadaan di lapang yang tergambar bahwa di beberapa area terdapat perkerasan yang rusak dan belum diganti serta belum mendapat perlakuan pemeliharaan seperti pembersihan lumut atau penyiangan gulma. Gazebo/ saung sebanyak 50% responden menilai cukup terawat, terawat (27%), kurang terawat (17%), tidak terawat (3%), dan sangat terawat (3%). Setengah dari responden menilai cukup terawat, menandakan bahwa gazebo/ saung aman, nyaman, dan telah sesuai fungsi. Untuk bangku taman, sebanyak 60% responden menilai cukup terawat, Hal ini menandakan bahwa kualitas pemeliharaan bangku taman sudah cukup baik namun perlu ditingkatkan lagi dalam hal pembersihan maupun pengecatan ulang agar lebih menarik dan fungsional. Sedangkan 30% responden menilai kurang terawat, 10% menilai terawat, dan 0% menilai kurang terawat dan sangat terawat. Kolam sebanyak 40% responden menilai cukup terawat, terawat (30%), kurang terawat (20%), sangat terawat (7%), dan tidak terawat (3%). Terlihat beberapa kolam seperti kolam Plaza Air Mancur, kolam Bangunan Air Terjun, kolam di taman Mediteran terlihat airnya belum diganti. Hal ini menandakan perlunya dilakukan peningkatan pemeliharaan untuk kolam. Patung sebanyak 40% responden menilai cukup terawat, terawat (37%), kurang terawat (17%), tidak terawat (3%), dan sangat terawat (3%). Penilaian cukup terawat menandakan perlunya peningkatan pemeliharaan hard material khususnya pada patung dengan pembersihan lumut/ kotoran.

Dari semua elemen taman yang dinilai oleh pengunjung, rata-rata mereka menilai bahwa elemen-elemen tersebut cukup terawat, namun banyak pula responden yang masih menilai kurang terawat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemeliharaan elemen taman di Taman Wisata Mekarsari harus lebih

(31)

ditingkatkan lagi agar tercipta kenyamanan dan keamanan elemen taman yang lebih baik.

Untuk mengetahui manajemen di Taman Wisata Mekarsari, penilaian dilakukan terhadap 4 aspek yaitu kebersihan, keamanan, fasilitas (kualitas), dan pelayanan. Pelayanan terbagi menjadi pelayanan informasi, transportasi, pemanduan, wahana, serta makan dan minum. Untuk aspek kebersihan, sebanyak 53% responden menilai cukup baik, 27% responden menilai baik, dan 20% kurang baik. Untuk pilihan lainnya, responden menilai sebanyak 0%. Hal ini terlihat dengan bersihnya keseluruhan areal Taman Wisata Mekarsari dari sampah khususnya sampah organik.

Aspek keamanan dinilai responden baik (47%) dan cukup baik (47%), sangat baik (3%), kurang baik (3%), dan pilihan lainnya 0%. Terlihat banyak pos penjaga yang tersebar di seluruh areal Taman Wisata Mekarsari. Aspek fasilitas yang dikhususkan pada kualitasnya diberi nilai oleh responden sebanyak 47% cukup baik, 40% menilai baik, 10% menilai kurang baik, 3% sangat baik, dan pilihan lainnya sebanyak 0%. Masih terdapatnya penilaian yang kurang baik dapat menjadi masukan bagi pihak Taman Wisata Mekarsari untuk lebih memperhatikan fasilitas terutama pada aspek kualitasnya seperti penampilan sarana fasilitas dan pemeliharaan serta fungsinya.

Terakhir adalah penilaian terhadap pelayanan. Untuk pelayanan informasi responden menilai baik (53%), cukup baik (30%), sangat baik (10%), kurang baik (7%), dan tidak baik (0%). Pelayanan transportasi menurut persepsi responden yaitu baik (53%), cukup baik (33%), sangat baik (10%), kurang baik (3%), dan tidak baik (0%). Pelayanan pemanduan menurut persepsi responden yaitu baik (33%), cukup baik (33%), sangat baik (17%), kurang baik (17%), dan tidak baik (0%). Pelayanan wahana menurut persepsi responden yaitu baik (53%), cukup baik (40%), sangat baik (3%), kurang baik (3%), dan tidak baik (0%). Pelayanan makan dan minum menurut persepsi responden yaitu baik (47%), cukup baik (37%), kurang baik (10%), sangat baik (7%), dan tidak baik (0%). Penilaian terhadap pelayanan memiliki nilai yang baik. Hal ini dapat disebabkan oleh budaya Taman Wisata Mekarsari yaitu 3S (senyum, sapa, salam) yang diterapkan

(32)

pada karyawan sehingga menambah kenyamanan bagi pengunjung untuk berinteraksi.

Berdasarkan persepsi pengunjung, dapat diambil rata-rata bahwa

manajemen yang terdapat di Taman Wisata Mekarsari sudah tergolong baik dalam 4 aspek tersebut yaitu kebersihan, keamanan, fasilitas (kualitas), dan pelayanannya. Untuk itu Taman Wisata harus terus mempertahankan agar kualitas manajemen yang dikelola tetap terjaga dengan baik, dan lebih baik lagi jika terus ditingkatkan sehingga kepuasan pengunjung dapat meningkat. Dengan demikian mereka akan senang dan berkesan untuk singgah kembali ke Taman Wisata Mekarsari. Namun masih terlihat juga dalam beberapa aspek seperti kebersihan, fasilitas (kualitas), pelayanan pemanduan, wahana, serta makan dan minum mendapat nilai yang kurang baik meskipun dalam presentase yang kecil. Hal tersebut bisa menjadi pemacu bagi Taman Wisata Mekarsari untuk mengevaluasi kinerja dan lebih meningkatkan kualitas beberapa aspek tersebut sehingga kondisi manajemen menjadi lebih baik.

Dari 30 responden yang disebar kuisioner, sebanyak 60% merasa puas berekreasi di Taman Wisata Mekarsari, sedangkan 33% responden merasa cukup puas, sedangkan responden yang merasa kurang puas dan sangat puas sejumlah 0%. Hal ini dapat memberikan masukan kepada pihak pengelola untuk mempertahankan kualitas rekreatif bahkan untuk meningkatkannya lagi.

6.6.7 Rekomendasi

Setelah melakukan analisis terhadap organisasi, tenaga kerja dan jadwal kerja, pengelolaan peralatan dan bahan, anggaran biaya pemeliharaan, pembagian dan pengawasan zona pemeliharaan, serta pekerjaan pemeliharaan lanskap, maka solusi yang diberikan kepada Taman Wisata Mekarsari terangkum dalam rencana pemeliharaan yang meliputi standar, kegiatan pemeliharaan, metode, frekuensi, jumlah bahan, jumlah alat, dan HOK. Rencana pemeliharaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 19, Tabel 20, dan Tabel 21.

(33)

Tabel 19. Bahan untuk Pemeliharaan Elemen Lanskap pada Taman Wisata Mekarsari Per Tahun Pada Areal Taman

NAMA ELEMEN STANDAR KEGIATAN

PEMELIHARAAN

METODE FREKUENSI JUMLAH

BAHAN

JUMLAH ALAT

HOK

SOFT MATERIAL

Pohon Hijau; subur;

bebas dari

rumput liar,

sampah, dan

puing; tumbuh

dengan baik dan sesuai fungsinya

Penyiangan Pencabutan rumput liar 1 kali seminggu 24 Kored,

20 cangkul, 17 sapu lidi

198,40

Pemupukan Membuat tegalan di sekeliling

proyeksi tajuk (surface

application) 4 kali setahun NPK (15:15:15) 25-50 g/pohon 3 cangkul, 3 kored 198,40

Penyiraman Penyiraman di sekitar

tanaman

2 hari sekali 10 liter/ pohon 15 selang

plastik 3/4" (@50m)

92,60

Pengendalian HPT Penyemprotan pestisida 3 kali setahun 2 ml/ liter air 3 sprayer 92,60

Pemangkasan Pemangkasan pada

cabang-cabang yang kurang baik, terkena hama, mati, dan

membahayakan pengguna

taman serta pemangkasan

untuk mempertegas bentuk tanaman

2 kali setahun 7 gunting

pangkas, 5 gergaji, 10 gunting galah, 100 karung plastik 277,70 95

(34)

Semak dan Perdu Kelompok

tanaman yang

serasi; tumbuh

subur dan baik; sesuai fungsinya; bebas dari rumput liar, hama, sampah, puing, dan batuan

Penyiangan Pencabutan rumput liar 1 kali seminggu 13 Kored,

15 cangkul, 15 sapu lidi

113,10

Pemupukan Membuat tegalan di sekeliling

proyeksi tajuk (surface

application) 4 kali setahun NPK (15:15:15) 10 g/m2 5 cangkul, 2 kored 45,30

Penyiraman Penyiraman di sekitar

tanaman

2 hari sekali 10 liter/ m2 5 selang

plastik 3/4" (@100m)

30,20

Pengendalian HPT Penyemprotan pestisida 1 kali seminggu 2 ml/ liter air 3 sprayer 9,10

Pemangkasan Pemangkasan pada

cabang-cabang yang kurang baik, terkena hama, mati, dan

membahayakan pengguna

taman serta serta

pemangkasan untuk

mempertegas bentuk tanaman

1 kali sebulan 18 gunting

pangkas, 50 karung plastik

452,60

Penutup Tanah tumbuh hijau,

subur, dan baik; sejenis, merata, dan rapi; sesuai fungsinya; bebas dari rumput liar,

hama, sampah,

Pemupukan Menebar pupuk di permukaan

tanaman 4 kali setahun NPK (15:15:15) 10 g/ m2 2 cangkul, 3 kored 6,10 96

Gambar

Tabel 17. Kapasitas tenaga kerja Taman Wisata Mekarsari
Tabel 18. Frekuensi Pemberian Pupuk Berdasarkan Jenis Tanaman
Tabel 19. Bahan untuk Pemeliharaan Elemen Lanskap pada Taman Wisata Mekarsari Per Tahun Pada Areal Taman
Tabel 20. Perhitungan Hari Orang Kerja Per Tahun  ELEMEN        KOMPONEN   PEMELIHARAAN    SATUAN      KK  PER  JAM  [1]     JUMLAH [2]  WAKTU [3] ([2] : [1])  HOK PER HARI [4] ([3] : 7)  FREKUENSI  PER  TAHUN [5]  HOK PER TAHUN [6] ([4] x [5])  KEBUTUHAN
+2

Referensi

Dokumen terkait

Sumber daya manusia merupakan kemampuan dan kesadaran yang dimiliki pegawai dalam melaksanakan pekerjaan, mengambil keputusan yang relevan dengan keahlian,

SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggungjawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan, keterampilan, dan keahlian, sehingga

Kelompok masyarakat miskin ini karena tidak memiliki sumber daya yang memadai, baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun sumber daya pembangunan lainnya sehingga mereka

Sumber daya manusia yang terampil dan memiliki keahlian belum menjamin memiliki produktivitas kerja yang baik apabila mereka bekerja dalam budaya kerja yang

Sumber daya manusia yang terampil dan memiliki keahlian belum menjamin memiliki produktivitas kerja yang baik apabila mereka bekerja dalam budaya kerja yang

Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keahlian dalam hal pelaksanaan pembukuan, inventarisasi dan pelaporan aset tetap dan sumber daya

Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keahlian dalam hal pelaksanaan pembukuan, inventarisasi dan pelaporan aset tetap dan sumber daya

Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar memiliki kualitas yang baik. Sedangkan kinerja usaha terkini yang dilakukan Bagian Pendidikan Fakultas. Ekonomi Universitas Sumatera