Community Health
VOLUME X No XJuli20XX Halaman XX - XX
Studi Kualitas Bakteriologi Jamu Gendong Di Desa
Pemecutan Kelod Denpasar Barat
Iin Indayani*
1, I Gede Herry Purnama
1Alamat: PS Ilmu Kesehatan Masyarakat Fak. Kedokteran Universitas Udayana Email: [email protected]
*Penulis untuk berkorespondensi
Artikel Penelitian
ABSTRAK
Jamu dapat digunakan untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Sejak berabad-abad yang lalu jamu selalu mendapat tempat yang penting dalam kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia. Pengolahan jamu masih dilakukan secara tradisional dengan peralatan yang sederhana, cara pembuatanya sering kalikurang memperhatikan higiene dan sanitasi. Di Desa Pemecutan Kelod khususnya banjar tenten terdapat 15 produsen jamu.Berdasarkan hasil inspeksi sarana industri rumah tangga (IRT) dapat disimpulkan bahwa perlu adanya pengawasan setiap hari dari petugas yang berwenang tetapi selama ini belum pernah ada pengawasan baik dari puskesmas ataupun pihak yang terkait tentang proses pembuatan jamu gendong.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian deskriptif
cross-sectional Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Produsen Jamu gendong di
Banjar Tenten Desa Pemecutan Kelod Denpasar Baratsebanyak 15 Orang dengan mengambil 2 jenis jamu yaitu Kunyit Asem dan Beras Kencur. Pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan mengambil seluruh populasi sebagai sampel yaitu 15 sampel. Data diperoleh dengan melakukan Observasi dan Pemeriksaan Laboratorium Angka Lempeng Total, Coliform dan Esherichia Coli. Kemudian data diolah dan dianalisis secara Deskriptif yaitu dalam bentuk tabel dan narasi.
Hasil Penelitian diperoleh 15 (100%) responden menggunakan sumur sebagai sumber air pembuatan jamu, untuk kualitas bahan baku 14 (93.3%) reponden memiliki kategori baik, untuk cara pembuatan jamu 15 (100%) memiliki kategori baik, Alat penghalus bahan baku 13 (86.7%) memiliki kategori baik, Alat penuang jamukedalam botol 9 (60%) memiliki kategori baik, wadah penyimpanan jamu gendong 11(73.3%) responden memiliki kategori baik, untuk higine perorangan 12 (80%) responden memiliki kategori baik, sedangkan untuk Sanitasi Lingkungan 8 (53.3% ) responden memiliki kategori buruk, kemudian dari hasil pemeriksaan laboratorium dari 15 sampel untuk jamu kunyit asem sebagian besar 13(86.7%) mengandung bakteri Coliform, 6 (40%) jamu positif Bakteri Escherichia Coli dan 7 (46.7%) memiliki nilai Angka Lempeng Total melebihi batas maksimum yang diperbolehkan, Sedangkan untuk jamu beras kencur 14 (93.3%) mengandung bakteri coliform, 6 (40%) positif Esherichia coli dan 10 (66.7%) memiliki nilai Angka Lempeng Total melebihi batas maksimum yang diperbolehkan.
Simpulan dari penelitian ini cara pembuatan jamu masih dilakukan dengan cara tradisional dengan peralatan yang sederhana sehingga kemungkinan untuk tercemar bakteri sangat tinggi, hal ini dibuktikan dengan adanya bakteri coliform, Esherichia Coli dan Angka Lempeng Total yang ditemukan pada produk jamu .
Kata kunci: jamu, Esherichia coli
PENDAHULUAN
Jamu dapat digunakan untuk
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Meskipun rasanya pahit, namun sejak berabad-abad yang lalu jamu selalu mendapat tempat yang penting dalam kehidupan sebagian besar masyarakat
Indonesia. Berbagai literatur yang
menyatakan bahwa tumbuhan obat di sekitar lingkungan hidup manusia telah berhasil mencegah kemusnahan mereka akibat wabah penyakit ( Aditama, 2015 ).
Menurut data Survei Riskesdas 2013, menunjukkan bahwa 30,4% rumah
tangga di Indonesia memanfaatkan
pelayanan kesehatan tradisional,
diantaranya 77,8% rumah tangga
memanfaatkan jenis pelayanan kesehatan tradisional keterampilan tanpa alat, dan 49,0% rumah tangga memanfaatkan ramuan. Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010 memberi gambaran dari populasi di 33 provinsi dengan 70.000 rumah tangga dan 315. 000 individu,
secara nasional 59,29% penduduk
indonesia pernah meminum jamu. Angka ini menunjukkan peningkatan penggunaan
jamu atau obat tradisional secara
bermakna. Ternyata 93.76% masyarakat yang pernah meminum jamu menyatakan meminum jamu memberikan manfaat bagi tubuh (Aditama, 2015). Perilaku penjual yang sekaligus pembuat jamu gendong dalam mengolah jamu gendong masih
kurang memperhatikan faktor higiene, sebagai indikatornya adalah masih adanya cemaran mikroba pada jamu gendong.
Menurut penelitian Sholichah (2012
)tentang kualitas mikrobiologi jamu
gendong jenis kunir asem yang
diproduksi di Kelurahan Merbung,
Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klatenmenyatakan bahwa dari 16 jamu gendong yang diperiksa 81,2% tidak memenuhi syarat untuk jumlah Total bakteri (≥ 105 kol/ml), 62,5% tidak
memenuhi syarat untuk Total Coliform (≥ 3/ml) dan sebesar 50% mengandung bakteri patogen Escherichia coli. Hasil penelitian Nurrahman,Mifbakhuddin dan Purnamasari (2010) tentang pemeriksaan Total mikroba dan total Coliform jamu gendong dari 12 sampel jamu gendong yang diperiksa 10( 83,3% ) tidak
memenuhi syarat batas maksimum
cemaran mikroba.
Jamu gendong yang ada di Bali banyak di jual dipasar-pasar maupun keliling dari rumah kerumah, jamu gendong yang biasa dijual seperti kunir asem, beras kencur, pahitan dan jamu sirih. Penjaja jamu sekaligus pembuat jamu gendong rata-rata berasal dari luar pulau Bali, para pendatang ini biasanya hidup di kos-kosan atau bedeng-bedeng yang kumuh. Pengawasan pembuatan jamu sangat minim sekali bahkan tidak
ada kontrol dari dinas yang berwenang karena penyebaran para pembuat jamu tersebut. Hal ini sangat mempengaruhi higien pembuatan jamu gendong karena tempat produksi jamu gendong masih belum memenuhi syarat, hasil penelitian
Jayanthi (2012) tentang Tinjauan
bakteriologis jamu beras kencur di Desa Batubulan Kecamatan Sukowati, Gianyar dari 16 sampel yang diambil 14 sampel (81%) jamu tidak memenuhi persyaratan dan 3 sampel (19%) yang memenuhi persyaratan mikrobiologis.Hal ini sangat membahayakan masyarakat apalagi jamu dikonsumsi oleh semua kalangan baik yang dewasa maupun anak –anak. Untuk itu pemeriksaan jamu sangat penting untuk mengetahui kualitas jamu yang beredar di masyarakat. Desa Pemecutan Kelod memiliki 16 banjar adat diantaranya adalah Banjar Tenten yang terdapat pembuat jamu sekaligus pedagang jamu yang paling banyak. Di banjar tenten terdapat 15 produsen jamu. Produsen jamu di Banjar Tenten merupakan Industri
Rumahan dimana produsen jamu
mendistribusikan hasil produksinya untuk dijajakan sendiri. Ditinjau dari kondisinya tempat produksi jamu kurang terjaga
higiene sanitasinya karena tempat
produksi padat penduduk dengan bangunan semi permanen yang kumuh. Hal ini berdasarkan hasil inspeksi sarana industri rumah tangga (IRT) produsen jamu di Desa Pemecutan Kelod Denpasar
Barat termasuk dalam kategori level 4 dengan jumlah penyimpangan minor NA (tidak relevan ), Mayor NA ( tidak relevan), Serius ≥ 5, Kritis ≥ 1, sehingga produksi jamu di Desa Pemecutan Kelod Denpasar Barat harus melakukan audit internal dengan pengawasan setiap hari dari petugas yang berwenang tetapi selama ini belum pernah ada pengawasan baik dari puskesmas ataupun pihak yang terkait tentang jamu gendong.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan desain penelitian
deskriptif cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Produsen Jamu gendong di Banjar Tenten Desa
Pemecutan Kelod Denpasar Barat
sebanyak 15 Orang dengan mengambil 2 jenis jamu yaitu Kunyit Asem dan Beras Kencur. Pengambilan sampel dengan
menggunakan metode purposive
sampling, dengan mengambil seluruh
populasi sebagai sampel yaitu 15 sampel.
Data diperoleh dengan melakukan
Observasi dan Pemeriksaan Laboratorium
Angka Lempeng Total, Coliform dan Esherichia Coli. Kemudian data diolah dan
dianalisis secara Deskriptif yaitu dalam bentuk tabel dan narasi.
HASIL
Hasil Penelitian diperoleh 15 (100%) responden menggunakan sumur sebagai sumber air pembuatan jamu. untuk
kualitas bahan baku 14 (93.3%) reponden memiliki kategori baik, untuk cara pembuatan jamu 15 (100%) memiliki kategori baik, Alat penghalus bahan baku 13 (86.7%) memiliki kategori baik, Alat penuang jamu kedalam botol 9 (60%)
memiliki kategori baik, wadah
penyimpanan jamu gendong 11(73.3%) responden memiliki kategori baik, untuk higine perorangan 12 (80%) responden memiliki kategori baik, sedangkan untuk Sanitasi Lingkungan 8 (53.3% ) responden memiliki kategori buruk.
Untuk Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Kandungan bakteri coliform dan
Escherichia Coli dapat dilihat pada tabel 1
berikut:
Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Coliform dan Esherichia Coli
Responden Kunyit Asem Hasil Pemeriksaan Beras Kencur Coliform E.
Coli Coliform Coli E.
Responden A 12 + 6.7 - Responden B 10 + 2.2 - Responden C 6.7 - 10 + Responden D 38 + 20 + Responden E 2.2 - 6.7 - Responden F 0 - 0 - Responden G 12 - 16 + Responden H 96 + 27 + Responden I 0 - 2.2 - Responden J 12 - 20 - Responden K 7.5 + 10 + Responden L 0 - 2.2 - Responden M 4.4 - 6.7 - Responden N <240 + 16 + Responden O 2.2 - 6.7 -
Berdasarkan tabel 5.16 , dapat diketahui sebagian besar jamu berbahan dasar kunyit di Desa Pemecutan Kelod Denpasar Barat 13 ( 86,7 % ) mengandung bakteri
coliform dan 6 ( 40% ) positif bakteri
Escherichia coli, sedangkan untuk jamu
berbahan dasar beras kencur 14 (93.3 %) mengandung bakteri coliform dan 6 (40%) positif Escherichia coli
Tabel 2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Angka Lempeng
Responden HAsil Pemeriksaan Angka Lempeng Total ( Koloni/ml)
MAX Kol/ml
Kunyi Asem Beras Kencur
Responden A 4.1 x 106 3.0 x 106 <106 Responden B 2.5 x 106 1.4 x 106 Responden C 4.2 x 106 4.7 x 106 Responden D 10 x 108 2.2 x 106 Responden E 84 x 103 4.3 x 102 Responden F 52 x 104 2.8 x 101 Responden G 36 x 104 2 x 106 Responden H 9.9 x 107 4.6 x 106 Responden I 10 x 102 8 x 108 Responden J 6 x 103 2.5 x 103 Responden K 2.3 x 106 1.4 x 107 Responden L 2.8 x 101 18 x 101 Responden M 9.0 x 102 16 x 106 Responden N 6 x 106 3.0 x 106 Responden O 1.2 x 105 6.6 x102
Berdasarkan tabel 5.17 dapat
diketahuipemeriksaan Jumlah Angka
Lempeng Total jamu gendongberbahan dasar kunyit di Desa Pemecutan Kelod Denpasar Barat 7 ( 46.7 % ) memiliki nilai angka lempeng toatal melebihi batas
maksimum yang diperbolehkan ,
sedangkan untuk jamu berbahan dasar Beras Kencur 10 (66.7 % ) melebihi batas maksimum cemaran.
DISKUSI
Bakteri Coliform, Escherichia coli
merupakan satu bakteri yang tidak boleh terdapat dalam minuman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Repulik Indonesia Nomor 492 / Menkes / PER / IV
/2010 Tentang persyaratan air minum, sedangkan untuk Angka Lempeng Total Berdasarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Tahun 2014 tentng persyaratan obat tradisional yang memberikan batasan dan persyaratan untuk obat tradisional cairan obat dalam adalah ≤ 106 Kol/ ml. Bakteri Coliform,
E.Coli dan Angka Lempeng Total (ALT)
sebagai indikator pencemaran,
keberadaanya dalam produk olahan
makanan dan minuman
mengindentifikasikan adanya kontaminasi dari feses manuasia atau hewan melalui air yang digunakan untuk pembuatan jamu. (Fardiaz, 2002 ).
Berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat 6 (40%) sampel jamu berbahan kunyit dan Beras Kencur positif Escherichia coli, hampir semua sampel jamu mengandung bakteri coliform, hal ini disebabkan sumber air jamu yang berasal dari sumur tidak direbus sampai mendidih, karena kondisi hangat sudah dirasa cukup untuk produk
jamu gendong. Dari pemeriksaan
laboratorium sumber air Pada suhu 1000C
suhu mendidih air dapat membunuh sel vegetatif setelah pemanasan cukup lama, tetapi tidak membunuh spora sehingga
dapat dipastikan bakteri coliform,
Esherichia coli akan mati
(Purwowarsito,2011). Selain itu,
berdasarkan penelitian bahan baku
rimpang yang yang digunakan untuk membuat jamu masih dalam keadaan tidak
bersih. Menurut suharmiati (2003),
pencuacian yang tidak benar
menyebabkan kotoran masih tertinggal dan biasa menjadi sumber pencemar. Tidak dilakukanya pengupasan pada rimpang bisa menjadi sumber kontaminasi bakteri/ mikroba pada jamu gendong. Berdasarkan penelitian Angka Lempeng Total pada produk jamu gendong di Desa Pemcutan Kelod Denpasar Barat yang berbahan dasar kunyit asem 7 ( 46.7 % ) sedangkan yang berbahan dasar beras kencur 10 ( 66.7%) Angka Lempeng Total melebihi batas maksimum cemaran yang diperbolehkan, hal dapat disebabkan berbagai hal diantaranya masih terdapat peralatan yang kurang bersih dan wadah penyimpanan jamu masih ada yang tidak bersih.Proses pengolahan jamu yang sederhana dengan menggunakan alat yang
sederhana dengan menggiling dan
menumbuk merupakan tradisi turun
temurun yang diikuti para pedagang jamu dari para pendahulunya. Peralatan yang digunakan selama proses pengolahan
makanan/minuman harus selalu
dibersihkan.. Peralatan yang digunakan dapat menyebabkan kontaminasi oleh mikroba jika alat-alat tersebut tidak dicuci secara baik (Zulaikhah, 2005).
Adanya bakteri coliform,Escherichia coli dan Angka Lempeng Total pada produk
jamu dikarenakan masih terdapat
dan yang buruk, yaitu pada proses pembuatan jamu gendong masih terdapat responden menggunakan perhiasan seperti cincin gelang dan kalung, memiliki kuku dalam keadaan tidak bersih, tidak memotong kuku sampai pendek dan tidak mencuci tangan dengan sabun dan air bersihsebelum membuat jamu. Menurut Purnawijayanti (2001) Perhiasan dan akesories dimungkinkan menjadi tempat menempelnya kotoran atau kuman dari luar lingkungan pengolahan makanandan
ditakutkan dapat mengkontaminasi
makanan. Tangan yang kotor atau terkontaminasidapat memindahkan bakteri dan mikroba patogen dari tubuhatau sumber lain ke dalam jamu.
Berdasarkan observasi kategori sanitasi lingkungan berkategori buruk karena masih ada responden yang tidak memiliki tempat sampah, jika memilki tempat
sampah model tempat sampah
terbuka,masih adanya hewan penggangu seperti kecoa yang terlihat, masih ada sebagian responden yang pengolahan jamunya berhuungan langsung dengan jamban atau kamar mandi. Hal tersebut tidak sesui dengan menurut Departemen Kesehatan RI Nomer 715 Tahun 1998, sanitasi yang baik harus jauh dari sumber-sumber pencemar, kondisi ruangan harus selalu dijaga kebersihanya, lantai harus bersih, tidak licin dan tidak terdapat genangan air, tempat pengolahan tidak boleh berhubungan langsung dengan
jamban dan kamar mandi serta terdapat tempat sampah yang cukup dan dalam keadaan yang tertutup sehingga tidak mencemari makanan.
Suatu produk jamu yang baik adalah suatu produk jamu yang menyehatkan tubuhdan tidak berbahaya bila dikonsumsi. Suatu pengolahan jamu yang sederhana dan berdistribusi yang kurang higienis akan
menyebabkan kontaminasi mikroba
(Pratiwi, 2005). Jamu yang terkontaminasi oleh mikroba akan menurunkan kualitas yang dikandung oleh jamu, misalnya baunya tidak sedap, terdapat lendir, serta warna yang tidak sesui dengan warna bahan yang dikandungnya ( Fardiaz, 2003). Dalam proses penyiapan jamu masih menggunakan peralatan yang sederhana dan tingkat sanitasi serta hygiene yang kurang memadai. Proses penyiapan jamu gendong yang seadanya tersebut merupakan faktor penyebab turunya mutu jamu yang dihasilkan dan tentunya ini dapat bedampak terhadap mutu mikrobiologis jamu gendong yang dihasilkan ( Ardianyah, 2006 ).
SIMPULAN
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Cara pembuatan jamu kunyit asen dan
beras kencur masih dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan cara memilih bahan baku rimpang, mengiris bahan baku, mencuci, menggiling dan
mencampur bahan baku dengan air
yang sudah direbus,kemudian
ditambahakan bahan lain sebagai penambah citarasa.
2. Angka Lempeng Total Jamu Kunyit Asem 7 (46.7%) dan Beras Kencur 10
(66.7%) melebihi ambang batas
cemaran yang diperbolehkan
3. Kualitas Jamu Gendong Kunyit asem 13 ( 86,7 % ) mengandung bakteri
coliform dan jamu Beras kencur 14
(93.3 %) mengandung bakteri coliform 4. Kualitas bakteriologi Jamu Gendong
Kunyit asem dan beras kencur 6 (40%) positif mengandung Escherichia coli.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini, peneliti ingin mengucapkan terimakasih Para Responden Pedagang Jamu di Desa Pemecutan Kelod Yang bersedia membantu penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Afiyanti.2014. Metodologi Penelitian
dalam Riset Keperawatan. Depok :
Rajagrafindo Persada
2. Aditama .T.Y. 2015. Jamu dan
Kesehatan . Jogyakarta: Jogja
Mediatama.
3. Aspan. R. 2008. Taksonomi Koleksi
Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat.
Jakarta: BPOM
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2014. Buku I Pokok-pokok
hasil Riskesdas Indonesia. Jakarta:
Badan Litbangkes.
5. Badan Pengawas Obat dan Makanan.
2014. Persyaratan Mutu Obat
Tradisional. Jakarta: BPOM
6. Departemen Kesehatan. 1994.
Pedoman pembinaan makanan
jajanan. Jakarta. Departemen
Kesehatan
7. Departemen Kesehatan. 1998.
Persyaratan Higiene Tata Boga.
Jakarta. Departemen Kesehatan
8. Departemen Kesehatan. 2012.
Peraturan menteri kesehatan no. 006
tentang industri dan usaha obat
tradisional. Jakarta: Departemen
Kesehatan.
9. Chandra, B. 2007. Pengantar
Kesehatan Lingkungan. Jakarta :
Kedokteran EGC
10. Fardiaz (2002). Mikobiologi Pangan I. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 11. Fardiaz (2003). Analisis Mikobiologi
Pangan . Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
12. Hastuti.W.P. 2005. Faktor produksi yang berhubungan dengan terjadinya kontaminasi Escherichia oli pada jamu
gendong (studi kasus dikota
semarang). Jurnal Kesmas. 2 (2): 455-464.
13. Jayanthi.D.J. 2012. Tinjauan
bakterologis jamu beras kencur didesa
Batubulan Kec.Sukowati Gianyar.
Karya Tulis Ilmiah. Poltekkes
14. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No.
942/MenKes/SK/VII/2003. Pedoman
persyaratan Hygiene sanitasi makanan
dan minuman jajanan.Jakarta.
Kemenkes RI.
15. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2010. Riset Kesehatan
Dasar . Jakarta : Kemenkes RI.
16. KementerianKesehatan Republik
Indonesia. 2010. Peraturan No.
492/Menkes/PER/IV/2010 tentang
persyaratan air minum. Jakarta:
Kemenkes RI.
17. Mukono, H.J. 2004. Prinsip Dasar
Kesehatan Lingkungan. Surabaya:
Airlangga University Press.
18. Mukono, H.J. 2005. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Edisi Kedua. Penerbit Airlangga University Press. Surabaya.
19. Naira.V. 2005. Higiene Sanitasi
Makanan dan Minuman Jajanan di
Komplek USU Medan. Jurnal
Universitas Sumatera Utara.
1(2).118-126.
20. Nurrahman, Mifbakhuddin &
Purnamasari. 2010. Hubungan sanitasi dengan total mikroba dan total coliform pada jamu gendong di RT1.RW2. kelurahan kedung mundu kecamatan Tembalang Kota Semarang.
Jurnal Kesehatan. 3(1).6-13.
21. Permata.H. 2007. Tanaman Obat
Tradisional. Jakarta: Titian Ilmu.
22. Purnawijayanti (2008). Sanitasi
Higeine dan Keselamatan Kerja dalam
Pengolahan Makanan. Yogyakarta:
Kanisius.
23. Putriana.F.Herdini.Sugoro (2012).
Analisis cemaran pada sedian jamu gendong disekitar terminal lebak bulus wilayah jakarta selatan. Proseding seminar Nasional Matematikam, sains dan Teknologi. Institus Sains dan
Teknoogi Nasional .B46-B50.
24. Purbowarsito, H.2011. Uji Bakteriologi
Air Sumur di Kecamatansemampir Surabaya. Skripsi. Departemen Biologi,
Fakultas Sain dan Tekonologi.
Universaitas Airlangga.
25. Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi
Farmasi. Yogyakarta: Erlangga.
26. Sholichah. V. 2012. Kualitas
mikrobiologi Jamu gendong jenis kunir asem yang diproduksi di kelurahan Merbung Kecamatan Klaten Selatan
Kab. Klaten. Jurnal Kesehatan
Masyarakat.1(2): 504-513.
27. Suharmiati. 2003. Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong. Jakarta : PT Agromedia Pustaka.
28. Suharmiati.Handayani, L. 2005. Cara
Benar Meracik Obat Tradisional.
Jakarta : PT Agromedia Pustaka
29. Sunardi. 2014. Pemeriksaan Most
Probable Number ( MPN ) Bakteri Coliform dan Coli Tinja pada Jamu gendong yang diual dipasar Besar Kota Palangkaraya. Karya Tulis Ilmiah.
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
30. Sugiyono. 2014. Metode Penelitian
Kuantitaf, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
31. Syamsul.E.K.2011. Tumbuhan Obat
Berkhasiat. Jogyakarta: Jogja
Mediautama.
32. Waluyo.L. 2007 . Mikrobiologi Umum,
Cetakan Ketiga. Jakarta: UMM Press.
33. Zulaikhah.S.T.2005. Analisis Faktor-Faktor yang berhubungan dengan
pencemaran mikroba pada jamu
gendong di Kota Semarang. Jurnal