Kesadaran terkait Kekayaan Intelektual terutama bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih rendah. Merujuk data permohonan paten tahun 2016 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM menunjukkan dari 1.133 permohonan, 87,82% atau sebanyak 995 permohonan diajukan oleh Non UMKM, sedangkan UMKM hanya 12,18% atau sebanyak 138 permohonan. Yang lebih ironis adalah data permohonan merek dagang. Dari 48.271 permohonan merek dagang, 93,14% atau sebanyak 44.961 permohonan diajukan oleh Non UMKM, sedangkan 6,86% atau sebanyak 3.310 diajukan oleh UMKM (DJKI, n.d.)
Pada pembelajaran sebelumnya telah dibahas UU No. 13 Tahun 2016 tentang
Paten, dimana perlindungan paten yang diberikan oleh negara meliputi Paten dan Paten Sederhana; dan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dimana perlindungan suatu Ciptaan dimulai sejak Ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pencatatan. Untuk pembelajaran kali ini akan diuraikan dua aturan lain terkait kekayaan intelektual: UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis dan UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
Diharapkan dengan pembelajaran ini akan menambah pengetahuan mahasiswa terutama terkait dengan Merek & Indikasi Geografis sebagai bekal ketika menjadi pengusaha nantinya.
MEREK & INDIKASI GEOGRAFIS
Ditinjau dari sejarah perkembangan perundang-undangan Indonesia terkait Kekayaan Intelektual, dapat dikatakan aturan merek merupakan aturan tertua. Adalah Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1885 No. 109 Trade Marks Act menjadi peraturan yang mengatur tentang merek pada awalnya. Seiring perkembangan hukum dan kebutuhan zaman, aturan tentang ini kemudian mengalami beragam pergantian atau perubahan menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang terjadi. Yang terbaru, adalah UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan
Indikasi Geografis disahkan menggantikan UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
Lingkup undang-undang ini meliputi Merek dan Indikasi Geografis. Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hu[um dalam kegiatan
perdagangan barang dan/atau jasa. Indikasi
Geografis adalah suatu tanda yang
menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan. Merek terbagi menjadi dua, yaitu:
Merek Dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orangsecara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang sejenis lainnya; dan
Merek Jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa sejenis lainnya.
Suatu Hak atas Merek -adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar untuk jangka waktu tertentu dengan menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya- diperoleh setelah merek tersebut terdaftar.
Permohonan pendaftaran merek diajukan kepada Menteri, secara elektrokik atau non-elektronik, dengan mencantumkan:
a. tanggal, bulan, dan tahun permohonan; b. nama lengkap, kewarganegaraan, dan
alamat Pemohon.
c. nama lengkap dan alamat Kuasa jika permohonan diajukan melalui Kuasa. d. warna jika merek yang dimohonkan
pendaftarannya menggunakan unsur warna.
e. nama negara dan tanggal permintaan merek yang pertama kali dalam hal permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; dan
f. kelas barang dan/atau kelas jasa serta uraian jenis barang dan/atau jenis jasa. Formulir lengkap terkait tersedia secara elektronik pada laman www.dgip.go.id.
Setiap permohonan merek dilampiri dengan surat pernyataan kepemilikan merek yang dimohonkan pendaftarannya, label merek beserta bukti pembayaran biaya. Terkait dengan biaya permohonan pendaftaran, ini diatur lebih detail dalam PP No. 45 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 45 Tahun 2004 tentang Jenis Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dimana Permohonan Pendaftaran Merek dan Permintaan Perpanjangan Perlindungan Merek Terdaftar untuk UMKM secara elektronik sebesar Rp 500.000,-/kelas atau manual sebesar Rp 600.000,-/kelas. Adapun untuk umum, secara elektronik sebesar Rp 1.800.000,-/kelas atau manual sebesar Rp 2.000.000,-/kelas. Untuk Permohonan Pendaftaran Indikasi Geografis, secara elektronik sebesar Rp 450.000,-/kelas atau manual sebesar Rp 500.000,-/kelas. Jenis barang atau jasa yang muncul dalam kelas adalah jenis umum yang berkaitan dengan bidang yang dimiliki barang atau jasa. Ini merujuk pada klasifikasi NICE (The NICE Classification [NCL]) berdasarkan Persetujuan NICE (NICE Agreement) di tahun 1957 sebagai pedoman klasifikasi internasional atas barang atau jasa yang diterapkan dalam pendaftaran merek, sebagaimana uraikan dalam Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia (HAM) No. 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek sebagai berikut:
Pasal 14
(1) Setiap permohonan memuat kelas barang dan/atau jasa.
(2) Kelas brang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat uraian jenis barang dan/atau jasa.
(3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan lebih dari 1 (satu) kelas barang dan/atau jasa dalam satu permohonan.
(4) Ketentuan mengenai kelas barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman
pada Perjanjian Nice (Nice Agreement) tentang
Klasifikasi Internasional Barang dan Jasa untuk Pendaftaran Merek.
Setelah permohonan, Menteri kemudian mengumumkan permohonan tersebut dalam Berita Resmi Merek paling lama 15 (lima belas) hari terhitung sejak Tanggal
Penerimaan. Lama pengumuman ini berlangsung selama 2 (dua) bulan.
Permohonan merek yang diajukan tidak dapat didaftar jika, sesuai pasal berikut ini:
Pasal 20
Merek tidak dapat didaftar jika:
a. bertentangan' dengan ideologi negara, peraturan
perundang-undangan, moralitas, agama,
kesusilaan, atau ketertiban umum;
b. sama dengan, berkaitan dengan, atau hanya menyebut bararg dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya;
c. memuat. unsur yang dapat menyesatkan
masyarakat tentang asal, kualitas, jenis, ukuran, macam, tujuan penggunaan barang dan/atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya atau merupakan nama varietas tanaman yang dilindungi untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;
d. memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat dari barang dan/atau jasa yang diproduksi;
e. tidak memiliki daya pembeda; dan/atau
f. merupakan nama umum dan/atau lambang milik
umum. Pasal 21
(1) Permohonan ditolak jika Merek tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan:
a. Merek terdaftar milik pihak lain atau
dimohonkan lebih dahulu oleh pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
b. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
c. Merek terkenal milik pihak lain untuk barang
dan/atau jasa tidak sejenis yang memenuhi persyaratan tertentu; atau
d. Indikasi Geografis terdaftar. (2) Permohonan ditolak jika Merek tersebut:
a. merupakan atau menyerupai nama atau
singkatan nama orang terkenal, foto, atau nama badan hukum yang dimiliki orang lain, kecuali a_as persetujuan tertulis dari yang berhak;
b. merupakan tiruan atau menyerupai nama atau singkatan nama, bendera, lambang atau simbol atau emblem suatu negara, atau lembaga nasional maupun internasional, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang; atau
c. merupakan tiruan atau menyerupai tanda atau
cap atau stempel resmi yang digunakan oleh negara atau lembaga Pemerintah, kecuali atas persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang.
(3) Permohonan ditolak jika diajukan oleh pemohon yang beriktikad tidak baik.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penolakan permohonan Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf c diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 22
Terhadap Merek terdaftar yang kemudian menjadi nama generik, setiap orang dapat mengajukan permohonan Merek dengan menggunakan nama generik dimaksud dengan tambahan kata lain sepanjang ada unsur pembeda.
Pemeriksaan substantif terhadap pemohonan dilakukan paling lama setelah 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal berakhirnya pengumuman, bila tidak terdapat keberatan dari pihak lain. Pemeriksaan ini dilakukan dalam jangka waktu paling lama 150 (seratus lima puluh) hari. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan apakah merek tersebut dapat didaftar atau ditolak.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, kemudian Menteri akan mendaftarkan Merek tersebut, memberitahukan pendaftaran Merek tersebut kepada Pemohon, menerbitkan sertifikat Merek, dan mengumumkan dalam Berita Resmi Merek -baik elektronik maupun non elektronik.
Sertifikat Merek diterbitkan sejak Merek tersebut terdaftar. Dengan terbitnya sertfikat ini secara otomatis memberikan Hak atas Merek terhadap Pemilik Merek. Ketika pihak lain ingin menggunakan merek tersebut, pemilik merek dapat memerikan lisensinya, baik sebagian maupun seluruh jenis barang dan/atau jasa. Pemberian lisensi ini wajib dimohonkan pencatatannya kepada Menteri dan diumumkan dalam Berita Resmi Merek. Apabila perjanjian tersebut tidak dicatatkan maka tidak berakibat hukum pada pihak ketiga.
Perlindungan hukum bagi merek terdaftar selama 10 (sepuluh) tahun sejak Tanggal Penerimaan, dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama. Permohonan perpanjangan diajukan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebelum berakhir. Permohonan perpanjangan disetujui jika pemohon melampirkan surat pernyataan tentang:
a. Merek yang bersangkutan masih digunakan pada barang atau jasa sebagaimana dicantumkan dalam sertifikat Merek tersebut; dan
b. barang atau jasa sebagaimana dimaksud masih diproduksi dan/atau diperdagangkan.
Dalam upaya pemberdayaan UMKM, Pemerintah dapat mendaftarkan Merek Kolektif yang diperuntukkan bagi pengembangan saha dan/atau pelayanan publik. Merek Kolektif adalah Merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama mengenai sifat, ciri umum, dan mutu barang atau jasa serta pengawasannya yang akan diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya. Meskipun secara proses pendaftaran berlaku sama dengan pendaftaran merek, namun Merek Kolektif terdaftar digunakan oleh komunitas merek dimaksud dan tidak dapat dilisensikan kepada pihak lain. Ini dikarenakan kepemilikan merek adalah kolektif dan jika ada pihak lain yang akan menggunakannya tidak perlu meminta lisensi, cukup menggabungkan diri.
Selain tentang Merek, undang-undang ini juga mengatur tentang Indikasi Geografis. Pemohon yang dapat mengajukan Indikasi Geografis adalah:
a. Lembaga yang mewakili masyarakat di kawasan geografis tertentu yang mengusahakan suatu barang dan/atau produk berupa:
1. Sumber daya alam;
2. Barang kerajinan tangan; atau 3. Hasil industri.
b. Pemerintah daerah provinsi atau kabupaten/kota.
Lembaga yang mewakili masyarakat di kawasan geografis tertentu antara lain asosiasi produsen, koperasi dan masyarakat perlindungan indikasi geografis (MPIG). Permohonan pengajuan indikasi geografis berlaku mutatis mutandis dengan pasal 14 s.d. 19 UU tentang Merek ini. Permohonan tidak dapat didaftarkan dan ditolak, diatur dalam pasal berikut ini:
Pasal 56
(1) Permohonan Indikasi Geografis tidak dapat didaftar jika:
a. bertentangan dengan ideologi negara,
peraturan perundang-undangan, moralitas, agama, kesusilaan, dan ketertiban umum;
b. menyesatkan atau memperdaya masyarakat mengenai reputasi, kualitas, karakteristik, asal sumber, proses, pembuatan barang, dan/atau kegunaannya; dan
c. merupakan nama yang telah digunakan
sebagai varietas tanaman dan digunakan bagi varietas tanaman yang sejenis, kecuali ada penambahan padanan kata yang menunjukkan faktor indikasi geografis yang sejenis.
(2) Permohonan Indikasi Geografis ditolak jika:
a. Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis tidak
dapat dibuktikan kebenarannya; dan/ atau b. memiliki persamaan pada keseluruhannya
dengan Indikasi Geografis yang sudah terdaftar.
Indikasi Geografis dilindungi selama terjaganya reputasi, kualitas, dan karakteristik yang menjadi dasar diberikannya pelindungan Indikasi Geografis pada suatu barang. Penelitian atas reputasi, kualitas dan karekteristik tersebut dilakukan oleh Tim Ahli, dapat juga berdasarkan laporan masyarakat. Ketika ini tidak dipenuhi maka Indikasi Geografis dapat dihapuskan. Dengan dihapusnya maka Hak atas Indikasi
Geografis, adalah hak eksklusif yang
diberikan oleh negara kepada pemegang hak indikasi geografis yang terdaftar, selama reputasi, kualitas, dan karakteristik yang menjadi dasar diberikannya pelindungan atas Indikasi Geografis tersebut masih ada, akan hilang.
Pelanggaran atas Indikasi Geografis mencakup:
a. pemakaian Indikasi Geografis, baik secara langsung maupun tidak langsung atas barang dan/atau produk yang tidak memenuhi Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis;
b. pemakaian suatu tanda Indikasi Geografis, baik secara langsung maupun tidak langsung atas barang dan/atau produk yang dilindungi atau tidak dilindungi dengan maksud untuk:
1. menunjukkan bahwa barang dan/atau produk tersebut sebanding kualitasnya dengan barang dan/atau produk yang dilindungi oleh Indikasi Geografis;
2. mendapatkan keuntungan dari pemakaian tersebut; atau
3. mendapatkan keuntungan atas reputasi Indikasi Geografis.
c. pemakaian Indikasi Geografis yang dapat menyesatkan masyarakat sehubungan dengan asal-usul geografis barang itu; d. pemakaian tndikasi Geografis oleh bukan
pemakai Indikasi Geografis terdaftar; e. peniruan atau penyalahgunaan yang
dapat menyesatkan sehubungan dengan asal tempat barang danr/atau produk atau kualitas barang dan/atau produk yang terdapat pada:
1. pembungkus atau kemasan; 2. keterangan dalam iklan;
3. keterangan dalam dokumen mengenai barang dan/atau produk tersebut; atau
4. informasi yang dapat menyesatkan mengenai asal-usulnya dalam suatu kemasan.
f. tindakan lainnya yang dapat menyesatkan masyarakat luas mengenai kebenaran asal barang dan/atau produk tersebut.
Pemegang Hak atas Indikasi Geografis dapat mengajukan gugatan terhadap Pemakai Indikasi Geografis yang tanpa hak berupa permohonan ganti rugi dan penghentian penggunaan serta pemusnahan label Indikasi Geografis yang digunakan secara tanpa hak. Beberapa contoh Indikasi Geografis terdaftar di Indonesia sebagai berikut:
No. (Tanggal Terdaftar) Produk Pemohon
1. Kopi Arabika
Kintamani Bali (5 Desember 2008)
MPIG Kopi Kintamani Bali
2. Mebel Ukir Jepara
(28 April 2010)
Jepara Indikasi Geografis Produk-Mebel Ukir Jepara (JIP-MUJ)
3. Lada Putih Muntok
(28 April 2010) Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
4. Kopi Arabika Gayo
(28 April 2010) Masyarakat Perlindungan Kopi
Gayo (MPKG)
5. Susu Kuda Sumbawa
(15 Desember 2011) Asosiasi Pengembangan Susu Kuda Sumbawa 6. Kangkung Lombok (15 Desember 2011) Asosiasi Komoditas Kangkung Lombok
7. Salak Pondoh Jogja
(21 Juni 2013) Komunitas Perlindungan Indikasi Geografis Salak Pondoh Jogja 8. Bandeng Asap Sidoarjo (9 Oktober 2013) Forum Komunikasi Masyarakat Tambak (FKMT) Sidoarjo 9. Gula Kelapa Kulonprogo Jogja (21 Juli 2014)
MPIG Gula Kelapa Kulonprogo Jogja 10. Cengkeh Minahasa (13 Agustus 2015) Masyarakat Pelindung Cengkeh Minahasa (MPCM) 11. Beras Pandanwangi Cianjur (16 Oktober 2015) Masyarakat Pelestari Padi Pandawangi Cianjur (MP3C) 12. Tenun Sutera Mandar (9 September 2016) Asosiasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Sarung Sutera Mandar
13. Jeruk Soe Mollo
(21 September 2016) Asosiasi Petani Jeruk Soe Mollo (APJSM)
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa Indikasi Geografis merupakan nama tempat atau sebutan yang digunakan untuk mengidentifikasikan produk yang berasal dari wilayah geografis tertentu, yang memiliki kualitas, karakteristik dan reputasi khusus yang langsung terkait dengan daerah asalnya, disebabkan oleh faktor alam serta praktik produksi tradisional. Ini memiliki potensi untuk menciptakan dorongan perekonomian di daerah terpenting di Indonesia, memberikan kontribusi penciptaan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani dan produsen, dan memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta kekuatan sosial masyarakat. (Cáceres, 2016)
RAHASIA DAGANG
Kebutuhan akan perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang sesuai dengan salah satu ketentuan dalam Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights (Persetujuan TRIPs) yang merupakan lampiran dari Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan
Dunia), sebagaimana telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Untuk itulah, pada 20 Desember 2000 disahkan UU No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak
diketahui oleh umum di bidang teknologi dan/atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha, dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang. Yang termasuk sebagai suatu rahasia meliputi metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat umum.
Rahasia dagang mendapat perlindungan apabila informasi tersebut bersifat rahasia, mempunyai nilai ekonomi, dan dijaga kerahasiaannya melalui upaya sebagaimana mestinya, sebagai suatu langkah yang memuat ukuran kewajaran, kelayakan dan kepatutan yang harus dilakukan. Misalnya, di dalam suatu perusahaan harus ada prosedur baku berdasarkan praktik umum yang berlaku tempat-tempat lain dan/atau yang dituangkan ke dalam ketentuan internal perusahaan itu sendiri. Demikian pula dalam ketentuan internal perusahaan dapat ditetapkan bagaimana Rahasia Dagang itu dijaga dan siapa yang bertanggung jawab atas kerahasiaan itu.
Suatu informasi dianggap rahasia apabila informasi tersebut hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak diketahui secara umum oleh masyarakat. Termasuk dianggap
rahasia diantaranya resep makanan/minuman, formula, proses produksi, daftar klien atau rencana pemasaran. (Paat, 2013)
Informasi dianggap memiliki nilai ekonomi apabila sifat kerahasiaannya dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan atau usaha yang bersifat komersial atau dapat meningkatkan keuntungan secara ekonomi.
Informasi dianggap dijaga kerahasiaannya apabila pemilik atau para pihak yang menguasainya telah melakukan
langkah-langkah yang layak dan patut. Beberapa langkah tersebut dapat berupa, sebagaimana dikutip dari Paat (2013):
a. Pengungkapan rahasia dagang hanya dilakukan terhadap mereka yang perlu mengetahuinya saja dengan persyaratan-persyaratan yang sifatnya rahasia. Dengan demikian pengungkapan rahasia hendaknya hanya dilakukan setelah adanya jaminan misalnya untuk kerjasama antar perusahaan pengungkapan hanya dapat dilakukan setelah perjanjian ditandatangani.
b. Rahasia dagang harus selalu dimasukkan ke dalam kelompok informasi atau data yang bersifat rahasia. Dengan demikian maka seluruh dokumen yang mencantumkan rahasia dagang tersebut harus dibubuhi tanda “rahasia” dan karyawan yang tidak berkepentingan dilarang mengetahui informasi itu.
c. Akses publik terhadap informasi itu dalam berbagai bentuk harus dihindari. Termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan penelitian laboratorium, studi literatur, perbandingan proses produksi dan lain-lain.
d. Dalam perjanjian kerja antara perusahaan dengan karyawan harus daitur secara tegas ketentuan tentang larangan pengungkapan rahasia dagang di luar tugas-tugasnya seperti jika berhubungan dengan pihak lain yang tidak terikat dalam perjanjian.
Ini perlu dilakukan karena Pemilik Rahasia Dagang memiliki hak untuk:
a. menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya;
b. memberikan Lisensi kepada atau melarang pihak lain untuk menggunakan Rahasia Dagang atau mengungkapkan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga untuk kepentingan yang bersifat komersial.
Seperti beberapa hak atas kekayaan intelektual lainnya, Hak Rahasia Dagang dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Ini harus
disertai dengan dokumen tentang pengalihan hak.
Pemegang Hak Rahasia Dagang berhak memberikan lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian lisensi yang wajib dicatatkan pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual untuk mendapat perlindungan hukum. Ketika perjanjian ini tidak dicatatkan maka tidak mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. Pencatatannya akan diumumkan dalam Berita Resmi Rahasia Dagang.
Terkait pengenaan besaran biaya yang timbul terkait dengan rahasia dagang ini, sebagaimana diatur dalam PP No. 45 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 45 Tahun 2004 tentang Jenis Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, diuraikan sebagai berikut: a. Pencatatan Pengalihan Hak Rahasia
Dagang
1. UMKM Rp 200.000,-/permohonan
2. Non UMKM Rp 400.000,-/permohonan
b. Pencatatan Perjanjian Lisensi Rahasia Dagang
1. UMKM Rp 150.000,-/permohonan
2. Non UMKM Rp 250.000,-/permohonan
Pemegang Rahasia Dagang atau penerima lisensi dapat menggugat siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan pelanggaran hak rahasia dagang, berupa gugatan ganti rugi yang diajukan ke Pengadilan Negeri setempat dan/atau penghentian semua perbuatan pelanggaran tersebut.
Pelanggaran dengan sengaja mengungkapkan rahasia dagang, mengingkari kesepakatan atau mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga rahasia tersebut, termasuk memperoleh atau menguasai suatu rahasia dengan cara bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah). Tindak pidana ini merupakan delik aduan. Terkait dengan delik aduan, KUH Pidana mengatur sebagai berikut:
Pasal 74
(1) Pengaduan boleh diajukan hanya dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, bila bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu sembilan bulan bila bertempat tingga di luar Indonesia. (2) Bila yang terkena kejahatan mengadu pada saat
tenggang waktu tersebut dalam ayat (1) belum habis, maka setelah saat itu, pengaduan masih boleh diajukan selama sisa yang masih kurang pada tenggang waktu tersebut.
Pasal 75
Orang yang mengajukan pengaduan berhak menarik kembali pengaduannya dalam waktu tiga bulan setelah diajukan.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa UU Rahasia Dagang ada untuk memajukan industri yang mampu bersaing dalam lingkup perdangan nasional dan internasional dalam iklim yang mendorong kreasi dan inovasi masyarakat dengan memberikan perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang sebagai bagian dari Hak Kekayaan Intelektual. Dengan adanya perlindungan ini akan mendorong lahirnya temuan atau invensi baru yang meskipun diperlakukan secara rahasia, tetap mendapat perlindungan hukum, baik dalam rangka kepemilikan, penguasaan, maupun pemanfaatannya oleh inventornya.
DAFTAR BACAAN
Cáceres, Ester Olivas. Masa Depan Indikasi Geografis di Indonesia. EU-Indonesia Trade Cooperation Facility, 2 September 2016. < http://www.euind-tcf.com/id/the-future-of-geographical-indications-in-indonesia/ di akses 7 Juli 2017, 22:16 WITA>
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Statistik Permohonan Paten Berdasarkan UMKM & Non UMKM. www.dgip.go.id < https://statistik.dgip.go.id/statistik/production/
paten_umkm.php diakses 3 Juli 2017, 01:00 WITA> Kitab Undang-undang Hukum (KUH) Pidana
Paat, Yanni Lewis. Penyelesaian Sengketa Rahasia Dagang Menurut Hukum Positif Indonesia. Lex Et Societatis Jurnal Elektronik Bagian Hukum Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Unsrat, Vol. I/Nomor 3/Juli /2013. ISSN 2337-9758
Peraturan Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia No. 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek Peraturan Pemerintah (PP) No. 45 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas PP No. 45 Tahun
2004 tentang Jenis Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Undang-undang (UU) No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis www.dgip.go.id
SIMBOL-SIMBOL TERKAIT KEKAYAAN INTELEKTUAL
Kependekan dari kata Trade Mark yang berarti Merek Dagang.
Ini tidak menunjukkan bahwa merek tersebut telah teregistrasi di kantor merek dagang nasional, atau dengan kata lain simbol ini hanya merupakan merek dagang yang tidak terdaftar.
Kependekan dari kata Service Mark berarti Merek Jasa. Sama seperti simbol TM tetapi spesifik pada kelas jasa. Kependekan dari Copyright berarti Hak Cipta.
Simbol ini memberitahukan tentang hak cipta, namun tidak lagi menjadi
kewajiban pencantumannya karena hak cipta timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata.
Kependekan dari Registered yang berarti terdaftar.
Simbol ini memberitahukan bahwa merek telah terdaftar secara resmi di kantor merek dagang nasional.
Kependekan dari Phonogram yang berarti fonogram atau rekaman suara. Simbol ini merupakan simbol hak cipta yang digunakan untuk pemberitahuan hak cipta dalam rekaman suara yang terkandung dalam sebuah rekaman (piringan hitam, kaset audio, kaset, compact disc, dan lain-lain.)