1 1.1 Latar Belakang
Menurut Semi (via Endraswara, 2008:7), karya sastra merupakan produk dari suatu keadaan kejiwaaan pemikiran pengarang yang berada dalam situasi setengah sadar (subconcius) setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk tertentu secara sadar (concius) dalam bentuk penciptaan karya sastra, yang kemudian di dalam karya sastra tersebut muncul hal-hal menarik yang membuat penikmat sastra terpikat.
Sastra, pada dasarnya akan mengungkapkan kejadian. Namun kejadian tersebut bukanlah “fakta sesungguhnya”, melainkan fakta mental pencipta (Endraswara, 2003:22). Fakta mental itu merupakan dunia ciptaan pengarang. Daya imajinasi pencipta yang kadang-kadang dibumbui berbagai fantasi.
Film, sebagaimana karya sastra yang lain, memiliki ciri-ciri artistik yang terjalin dalam susunan beragam. Seperti lukisan atau pahatan, film menggunakan garis susunan, warna, bentuk, volume dan massa. Seperti drama, menggunakan komunikasi verbal dan dialog. Seperti musik dan puisi yang munggunakan irama kompleks dan halus. Khusus seperti puisi, film juga menggunakan komunikasi melaui citra, metafora dan lambang-lambang. Film juga seperti pantomim, memusatkan pada gambar bergerak yang memiliki sifat ritmis tertentu. Dan akhirnya seperti novel yang sanggup memainkan ruang dan waktu (Boggs, 1992: 4). Meskipun memiliki banyak kesamaan dengan karya seni lain, film memiliki
kelebihan sendiri karena bergerak secara bebas dan tetap. Kelebihan ini membuat karya film lebih banyak diminati karena lebih mudah dicerna dan mudah dipahami isinya. Dengan melihat alur cerita dan mendengar dialog-dialog yang disampaikan, serta disesuaikan dengan latar cerita, maka akan lebih mudah bagi publik untuk menikmati karya seni tersebut.
Pada penelitian ini dipilih sebuah film berjudul “Harmony” karena dari segi cerita sangat menarik untuk dianalisis lebih dalam, terutama watak dan konflik tokoh utama. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan teori strukturalisme dan psikologi sastra untuk mengungkap hal-hal yang terkait watak dan konflik tokoh utama. Keterkaitan kedua teori dalam film ini dapat dilihat dari konflik yang dialami oleh dua tokoh utama. Teori struktural mempermudah dalam menganalisis konflik tokoh dengan tokoh lain sedangkan teori psikologi sastra berfungsi dalam menganalisis konflik batin tokoh. Nilai sastra dalam penelitian ini dapat dilihat dari segi cerita, yaitu skenario atau dialog dalam film “Harmony” yang digunakan untuk bukti analisis.
Harmony (하모니 – Hamoni) ditulis dan disutradarai oleh Yoon Je-Kyoon, bercerita tentang sekumpulan tahanan wanita yang membuat sebuah paduan suara. Tiket film Harmony terjual 3.045.009 dan berhasil menduduki peringkat 5 best film Korea dengan penjualan tiket terlaris. Film ini berdasarkan cerita seorang wanita bernama Hong Jeong-Hye yang harus mendekam di penjara selama 10 tahun karena tidak sengaja membunuh suaminya yang melakukan tindak kekerasan padanya. Jeong-Hye yang tengah hamil saat ditahan melahirkan
bayi laki-laki yang harus diserahkan untuk diadopsi karena hukum yang berlaku. Suatu hari Jeong-Hye membentuk sebuah paduan suara dibantu oleh Moon-Ok seorang narapidana kasus pembunuhan suaminya dengan perempuan simpanan (movie.naver.com).
Penelitian ini akan menggunakan teori strukturalisme sebagai teori bantu untuk menggambarkan poin-poin penting dalam film “Harmony” secara keseluruhan melalui analisis tokoh, latar dan alur film. Selanjutnya teori psikologi sastra digunakan untuk memahami konflik-konflik yang dialami tokoh utama lebih mendalam. Psikologi sastra adalah telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan (Minderop, 2011:54). Aktivitas kejiwaan di sini berhubungan dengan pemikiran dan perasaan pengarang ketika menciptakan sebuah karya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang akan tergambar secara imajiner ke dalam teks sastra.
Analisis psikologi sastra cocok untuk penelitian ini karena film ini memunculkan peristiwa-peristiwa psikologis. Berbagai kondisi kejiwaan yang dialami tokoh utama dan tokoh-tokoh yang lain merupakan daya tarik utama film ini sehingga menjadikan film ini diminati dan menjadi tontonan yang memberikan ajaran moral baik bagi penikmat film.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah alur, latar, dan penokohan dalam film Harmony?
2. Konflik-konflik dan faktor-faktor apa sajakah yang dialami dua tokoh utama dalam film Harmony?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menemukan alur, latar, dan penokohan yang terdapat dalam film Harmony. 2. Mengetahui konflik beserta faktor penyebab yang dialami dua tokoh
utama dalam film Harmony. 1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat, yaitu manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis dari penelitian ini adalah dapat menambah penelitian tentang karya sastra Korea modern yang menggunakan analisis psikologi sastra khususnya dengan objek penelitian film. Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan pembaca tentang karakteristik kejiwaan tokoh, selain itu penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah minat masyarakat terhadap film Korea juga bagi refleksi sineas perfilman dalam negeri.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada unsur-unsur struktural mengenai penokohan, alur, latar serta konflik batin dan faktor penyebabnya. Dengan memusatkan perhatian pada tokoh, alur, latar dan konflik tokoh, maka dapat dianalisis karakter tokoh utama tersebut melalui ekspresi, cara berpikir, dialog,
dan tindakan. Dalam penelitian ini objek yang akan diteliti adalah tokoh utama film korea yang berjudul “하모니 – Hamoni” atau dalam bahasa Inggris disebut “Harmony”.
1.6 Kajian Pustaka
Penelitian berupa analisis psikologi tokoh telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebagai berikut.
Penelitian tentang kepribadian tokoh utama pernah dilakukan oleh Vina Muliawati Putri. Dalam skripsi tersebut digunakan teori Psikoanalisis Sigmund Freud yang menganalisis tokoh Soo Ah dalam 열세살, 수아(Girl Thirteen). Soo ah berubah sikap dan kepribadiannya setelah kematian ayahnya. Perubahan sikap ini mengakibatkan perselisihan antara Soo ah dengan ibunya.
Skripsi yang ditulis Sri Murtirahayu yang menganalisis konflik batin tokoh Ji Yeon. Bercerita tentang Ji Yeon yang ingin mengetahui bagaimana anaknya mati dan konflik-konflik lain yang dialaminya. Tokoh Ji Yeon merupakan tokoh utama yang paling banyak memiliki konflik dengan tokoh-tokoh lain sehingga menimbulkan konflik batin pada dirinya sendiri. Dalam menghadapi konflik itu berbagai reaksi ditunjukkan Ji Yeon dalam menyelesaikan masalahnya.
Nur Fitri Sadjidah menulis skripsi berjudul “Analisis Kepribadian Tokoh Bok Nam dalam film김복남 살인 사건의전말(Bedevilled): Kajian Psikoanalisis Freud” berisi tentang analisis tokoh utama yang dilihat dari aspek kepribadian.
Berbeda dengan ketiga penelitian di atas yang menggunakan psikoanalisis dari Freud, skripsi milik Endang Mitra Sayekti menggunakan teori kepribadian humanistik dari Abraham Maslow. Penelitian berisi tentang tokoh Ji Sook yang mengalami perubahan karakter dari Ji Sook kecil yang takut dengan pernikahan menjadi seorang wanita karir yang mandiri dan memiliki keluarga kecil yang harmonis.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah penelitian ini menganalisis tentang konflik batin yang disebabkan oleh pergolakan id, ego, superego tokoh-tokoh utama di setiap masalah yang menimpanya melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud, dan mekanisme pertahanan ego. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori struktural sebagai teori bantu yang difokuskan untuk menganalisis alur, latar, dan tokoh.
1.7 Landasan Teori
Landasan teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori struturalisme dan teori analisis psikologi sastra.
1.7.1 Teori Struturalisme
Teori strukturalisme adalah teori yang membangun sebuah cerita dari dalam. Dengan menggunakan teori ini akan lebih membantu untuk memahami isi cerita yang ingin disampaikan oleh pengarang. Teori strukturalisme juga membantu untuk menganalisis lebih jauh isi cerita dengan menggunakan teori psikologi sastra, sehingga akan lebih mudah menganalisis psikologi sastra dalam cerita jika sudah dilakukan analisis strukturalisme.
Menurut Endraswara (2003:49), strukturalis pada dasarnya merupakan cara berpikir dunia yang terutama berhubungan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Karya sastra diasumsikan sebagai fenomena yang memiliki struktur yang saling terkait satu sama lain. Struktur tersebut memiliki bagian kompleks, sehingga pemaknaan harus diarahkan ke dalam hubungan antarstruktur secara keseluruhan.
Unsur strukturalisme yang akan digunakan antara lain:
1.7.1.1 Alur
Alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Alur merupakan tulang punggung cerita. Alur mengalir karena mampu merangsang berbagai pertanyaan di dalam benak penikmat karya sastra. Dua elemen dasar yang membangun alur adalah konflik dan klimaks (Stanton, 2007:28). Konflik dan klimaks merupakan bagian terpenting dalam sebuah alur sastra. Tanpa adanya konflik dan klimaks sebuah cerita akan berjalan datar.
Struktur umum alur dapat digambarkan sebagai berikut : bagian awal berupa, paparan, rangsangan dan gawatan. Bagian tengah berupa konflik, komplikasi dan klimaks. Bagian akhir berupa leraian dan penyelesaian. Pengaturan urutan peristiwa pembentuk cerita disebut pengaluran. Cerita diawali sebuah peristiwa dan diakhiri oleh peristiwa yang lain(Sudjiman, 1991:30).
Berikut adalah beberapa bagian dalam struktur alur menurut (Sudjiman, 1991:30):
1. Paparan (Exposition)
Paparan adalah pemaparan dan pelukisan tentang tokoh dan latar serta motif lakon.
2. Gawatan (Rising action)
Gawatan adalah unsur yang menuju ke suatu pola konflik.
3. Rumitan (Complication)
Rumitan adalah konflik mulai menuju klimaks.
4. Klimaks
Klimaks adalah puncak konflik atau permasalahan
5. Selesaian (Denoument)
Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita. Selesaian boleh jadi mengandung penyelesaian masalah yang melegakan(happy ending), boleh juga mengandung penyelesaian masalah yang menyedihkan.
1.7.1.2 Latar
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung (Stanton, 2007:35).
Menurut Sudjiman, peristiwa-peristiwa dalam cerita yang terjadi pada suatu waktu atau dalam suatu rentang waktu tertentu dan pada suatu tempat tertentu
disebut latar. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya cerita dalam suatu karya sastra adalah latar cerita(1991:44).
1.7.1.3 Tokoh
Tokoh merupakan karakter yang muncul dalam sebuah cerita. Karakter tersebut bisa berupa individu-individu maupun percampuran berbagai kepentingan, emosi dan prinsip moral dari individu tersebut (Stanton, 2007: 33). Tokoh adalah faktor penting yang memainkan jalannya cerita. Tanpa adanya tokoh, cerita tidak dapat disusun. Di dalam sebuah cerita biasanya ada tokoh utama, protagonis (tokoh baik), antagonis (tokoh jahat), dan peran pembantu (tokoh lain yang ikut membangun suatu cerita).
Menurut Suastika (via Endraswara, 2008:179), tokoh adalah figur yang dikenai dan sekaligus mengenai tindakan psikologis. Dia adalah “eksekutor” dalam sastra.
Berdasarkan fungsi tokoh di dalam cerita dapat dibedakan tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran pimpinan disebut tokoh utama atau protagonis. Tokoh protagonis selalu menjadi sentral di dalam cerita sedangkan tokoh penentang pemeran utrama disebut antagonis. Antagonis merupakan tokoh sentral juga.
Tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral di dalam cerita tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama ( Sudjiman, 1991 : 19).
Berdasarkan cara menampilkan tokoh di dalam cerita, dapat dibedakan menjadi tokoh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar bersifat statis, wataknya tidak berubah. Misalnya ketika tokoh tersebut berwatak kejam maka dia akan terus bersikap kejam sedangkan tokoh bulat memiliki lebih dari satu ciri watak yang ditampilkan.
1.7.2 Teori Psikologi Sastra
Psikologi sastra adalah telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan. Psikologi sastra dipengaruhi beberapa hal. Pertama, karya sastra merupakan kreasi dari suatu proses kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar(subconscious). Kedua, telaah psikologi sastra adalah kajian yang menelaah cerminan psikologis dalam diri para tokoh yang disajikan sedemikian rupa oleh pengarang sehingga pembaca merasa terbuai oleh problema psikologis kisahan yang kadang kala merasakan dirinya terlibat dalam cerita (Endraswara, 2003:96).
Tingkah laku menurut Freud (Minderop, 2011:20), merupakan hasil konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah faktor historis masa lampau dan faktor kontemporer, analoginya faktor bawaan dan faktor lingkungan dalam pembentukan kepribadian individu.
Menurut(Minderop, 2011:21) Freud membagi psikisme manusia menjadi 3 hal yaitu:
Id ( Das Es)
Das es atau dalam bahasa Inggris the id disebut juga oleh Freud system der unbewusten. Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang original di dalam kepribadian, dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (the true psychic reality), oleh karena id itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif (Alwisol, 2004:19). Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instrinsik-instrinsik, dan id merupakan reservoir energi psikis yang menggerakkan ego dan superego. Energi id tersebut menjadi perangsang dan berfungsi untuk menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan, pedoman ini disebut Freud sebagai prinsip kenikmatan (luzt princip, the pleasure principle). Cara menghilangkan ketidaknikmataan itu adalah dengan dua cara yaitu :
a. Reflex dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip dan sebagainya.
b. Proses primer seperti misalnya orang lapar membayangkan makanan.
Ego (Das Ich)
Das ich atau ego ini merupakan aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya, ini berarti bahwa organisme harus dapat menbedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataaan tentang makanan.
Ego berpegang pada prinsip kenyataan atau prinsip realita. Ego dapat dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian karena ego ini mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya. Ego seringkali harus mempersatukan pertentangan antara id dan superego.
Superego (Das Ich Ueber)
Superego sama halnya dengan ‘hati nurani’ yang mengenali nilai baik dan buruk (conscience).
Superego atau das ich ueber adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orangtua pada anak-anaknya yang diajarkan sebagai perintah dan larangan. Superego lebih merupakan kesempurnaan dari pada kesenangan.
Fungsi pokok superego adalah
a. Merintangi impuls-implus id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang pertanyaannya sangat ditentang oleh masyarakat. b. Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralisme
daripada realistis,
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme pertahanan terjadi karena adanya dorongan atau perasaan beralih untuk mencari objek pengganti. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan mengacu pada proses alam bawah sadar seseorang yang mempertahankannya terhadap kecemasan (Minderop, 2011:29).
Dalam hal mekanisme pertahanan ego terhadap beberapa pokok yang perlu diperhatikan. Pertama, mekanisme pertahanan merupakan konstruk psikologis berdasarkan observasi terhadap perilaku individu. Kedua, menyatakan bahwa perilaku seseorang membutuhkan informasi deskriptif yang bukan penjelasan tentang perilaku. Hal penting ialah memahami mengapa seseorang bersandar pada mekanisme ketika bergumul dengan masalah. Ketiga, semua mekanisme dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari orang normal.
Di bawah ini adalah Mekanisme Pertahanan Ego menurut (Minderop, 2011:32):
1. Represi (Repression)
Tugas represi adalah mendorong keluar impuls-impuls id yang tak diterima, dari alam sadar dan kembali ke alam bawah sadar. Tujuan dari semua mekanisme pertahan ego adalah untuk menekan (repress) atau mendorong impuls-impuls yang mengancam agar keluar dari alam sadar.
2. Sublimasi
Sublimasi terjadi bila tindakan-tindakan yang bermanfaat secara sosial menggantikan perasaan tidak nyaman. Sublimasi sesungguhnya suatu bentuk pengalihan.
3. Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme yang tidak disadari yang melindungi kita dari pengakuan terhadap suatu kondisi yang tidak diinginkan.
4. Pengalihan (Displacement)
Pengalihan adalah pengalihan perasaan tidak senang terhadap suatu objek ke objek lainnya yang lebih memungkinkan.
5. Rasionalisasi (Rationalization)
Rasionalisasi mempunyai 2 tujuan: pertama, untuk mengurangi kekecewaan ketika kita gagal mencapai suatu tujuan; kedua, memberikan kita motif yang dapat diterima atas perilaku.
6. Reaksi Formasi (Reaction Formation)
Represi akibat impuls kecemasan kerap kali diikuti oleh kecenderungan yang berlawanan yang bertolak belakang dengan tendensi yang ditekan disebut reaksi formasi.
7. Regresi
Ada 2 interpretsi tentang regresi. Pertama, regresi yang disebut retrogressive behaviour yaitu, perilaku seseorang yang mirip anak kecil, menangis dan sangat manja agar memperoleh rasa aman dan perhatian orang lain. Kedua, primitivation ketika seorang dewasa bersikap sebagai orang yang tidak berbudaya dan kehilangan control sehingga tidak sungkan-sungkan berkelahi.
8. Agresi dan Apatis
Agresi dapat berbentuk langsung dan pengalihan. Agresi langsung adalah agresi yang diungkapkan secara langsung kepada seseorang atau objek yang merupakan sumber frustasi. Agresi yang dialihkan adalah bila seseorang mengalami frustasi namun tidak dapat mengungkapkan secara puas kepada sumber frustasi tersebut karena tidak jelas atau tak tersentuh. Apatis adalah bentuk lain dari reaksi terhadap frustasi, yaitu sikap apatis (apathy) dengan cara menarik diri dan bersikap seakan-akan pasrah.
9. Fantasi dan Stereotype
Stereotype adalah konsekuensi lain dari frustasi, yaitu perilaku stereotype– memperlihatkan perilaku pengulangan terus-menerus. Individu selalu mengulangi perbuatan yang tidak bermanfaat dan tampak aneh.
1.8 Metode Penelitian
Metode pengumpulan data digunakan untuk menganalisis data yang terdapat dalam objek penelitian. Langkah-langkah metode pengumpulan data sebagai berikut.
Menentukan teori psikoanalisis Sigmund Freud sebagai teori yang akan digunakan untuk penelitian ini. Kemudian mencari sebuah film yang cocok dengan teori dari Freud. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah film berjudul Harmony yang berdurasi 1 jam 55 menit. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menonton film tersebut kemudian menentukan data-data yang diperlukan sesuai dengan rumusan masalah teori yang digunakan.
Studi pustaka, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari perpustakaan yang berhubungan dengan masalah penelitian. Sumber kepustakaan diperolah dari buku, jurnal, majalah, dan hasil-hasil penelitian (skripsi, tugas akhir). Tujuan penelitian kepustakaan adalah membandingkan data-data yang ada kemudian dihubungkan dengan hipotesis awal. Proses penelitian kualitatif yaitu pengumpulan data yang dilakukan sesuai dengan rumusan masalah dengan mengumpulkan data dan menganalisisnya. Penelusuran internet untuk mencari dan melengkapi data yang dibutuhkan.
Metode analisis data:
Langkah-langkah yang akan dilakukan antara lain menerjemahkan subtitle Korea film “ Harmony ” ke dalam bahasa Indonesia. selanjutnya menganalisis unsur-unsur struktural (plot, tokoh, dan latar) film tersebut menggunakan teori
struktural. Dilanjutkan dengan analisis konflik batin dengan teori kepribadian Sigmund Freud.
1.9 Sistematika Penyajian
Penelitian ini seluruhnya akan disajikan dalam empat bab. Bab I merupakan pendahuluan yaitu sebagai pengantar dari permasalahan yang dibahas dalam penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, lingkup penelitian, kajian pustaka dan kajian studi, landasan teori, dan metode penelitian. Pada bab II adalah penelitian dengan menggunakan teori strukturalisme. Bab III merupakan analisis data dengan teori psikologi sastra. Pada bab ini, akan diteliti objek yang telah ditentukan dengan menggunakan teori kepribadian Sigmund Freud. Bab IV merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari seluruh penelitian yang telah dilakukan.