26
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Kradenan 02 yang terletak di kelurahan Kradenan, kecamatan Kaliwungu, kabupaten Semarang, tepatnya berada di dusun Kedesen.
Sebagian besar siswa berasal dari sekitar lingkungan sekolah dan ada beberapa yang jaraknya jauh dari sekolah. Siswa SD negeri Kradenan 02 berjumlah 67 anak yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6, masing-masing kelas memiliki 1 ruang kelas. Masing-masing kelas diampu oleh seorang guru kelas. Selain guru kelas juga terdiri dari 1 guru agama Islam, 1 guru agama Kristen, 1 guru olahraga dan 1 guru mulok. Proses belajar mengajar dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pukul 12.10, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu dimulai pukul 07.20 sampai dengan 11.00. Pada hari Jumat dan Sabtu diadakan kegiatan senam pagi bersama-sama sebelum kegiatan belajar dimulai. Sarana dan prasarana yang ada di SD Negeri Kradenan 02 termasuk sangat minim, misalnya LCD, telepon belum ada, dan alat-alat peraga yang ada adalah bantuan dari pemerintah dengan kondisinya banyak yang sudah rusak. SD Negeri Kradenan 02 terdiri dari 6 ruang kelas, ada beberapa kelas yang bagian atapnya sudah rusak. Ruang UKS dan Perpustakaan terletak pada satu ruang selain itu buku-buku yang terdapat di perpustakaan kondisinya sudah usang. SD Negeri Kradenan 02 juga memiliki 3 toilet, tempat parkir guru dan 1 gudang sekolah. Halaman sekolah yang luas digunakan untuk kegiatan upacara, olahraga, dan ekstrakurikuler. Banyaknya kelemahan yang ada di SDN Kradenan 02 tidak mematahkan semangat para pendidik untuk mencerdaskan siswa-siswi SDN Kradenan 02.
Kondisi sosial ekonomi orang tua murid SD Kradenan 02 sangat beragam ada yang kurang mampu dan yang mampu, namun demikian sebagain besar masih kurang mampu. Pekerjaan orang tua siswa juga beragam yaitu sebagai: petani, pedagang, pegawai, buruh pabrik, dan kuli bangunan.
3.1.1Setting Waktu
Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 4 bulan yang meliputi, tahap persiapan penyusunan proposal, penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis data, dan laporan hasil penelitian.
Untuk tahap penyusunan proposal dan instrumen dilaksanakan pada awal bulan januari 2013. Sedangkan untuk pelaksanaan pengumpulan data dilaksanakkanan pada awal bulan Maret 2013. Analisis data dilaksanakan pada pertengahan bulan Maret 2013. Tahap pembahasan atau diskusi dilakukan pada akhir bulan Maret 2013. Tahap terakhir yaitu penyusunan laporan hasil penelitian dilaksanakan pada akhir bulan Maret sampai April 2013. Jadi dalam pelaksanaan penelitian ini kurang lebih mulai bulan Januari sampai dengan April 2013.
3.1.2Subjek dan Objek penelitian
Subjek penelitian yang peneliti lakukan adalah seluruh siswa kelas 5 SD Negeri Kradenan 02 Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang yang berjumlah 14 anak, yang terdiri dari 9 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Siswa SDN Kradenan 02 khususnya kelas 5 cenderung lebih tertarik dengan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, mereka akan cepat bosan bila pembelajaran hanya dengan ceramah dan mencatat. Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru juga diperoleh informasi bahwa siswa banyak yang tidak percaya diri pada saat kegiatan pembelajaran, ini sebagai dampak dari kebiasaan siswa saling mengejek. Dengan menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan, tidak monoton siswa akan lebih bersemangat dalam kegiatan pembelajaran serta dapat menggali lebih dalam kemampuan yang mereka miliki. Selain itu hampir semua siswa kelas 5 tertarik dengan gambar. Sehingga bila dalam kegiatan pembelajaran ditampilkan gambar-gambar yang mendukung, siswa akan semakin antausias mengikuti kegiatan pembelajaran.
Objek penelitian ini adalah pembelajaran IPA menggunakan metode pembelajaran think pair and share berbantuan media gambar untuk meningkatkan hasil belajar IPA bagi siswa kelas 5 SDN Kradenan 02.
3.2 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK. Bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berkolaborasi dengan guru kelas. Penelitian ini menggunakan 2 siklus yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan & observasi, serta refleksi. Dalam penelitian ini peneliti tidak berperan sebagai pengajar tetapi berperan sebagai peneliti dalam perencanaan dan observasi, sedangkan pelaksanaan tindakan dilakukan oleh guru kelas 5 bernama Budi Arya Setyanto A.Ma. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan oleh guru untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar IPA. Untuk lebih jelasnya desain rancangan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini tergambar dalam model spiral yang dikemukakan oleh C.Kemmis dan Mc.Taggart, R berikut ini:
Gambar 2
Model Spriral C.Kemmis dan Mc.Taggart, R
3.3 Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas ( independent )
Metode pembelajaran think pair and share . 2. Variabel Terikat ( dependent)
3.4 Devinisi Operasional 1. Think pair and share
Think pair and share adalah metode pembelajaran yang mengaitkan isu atau
masalah dengan materi pelajaran, mendukung siswa untuk berdiskusi secara berpasangan, dan diakhiri dengan masing - masing kelompok / pasangan menyampaikan hasil diskusi kepada keseluruhan kelas. Adapun langkah-langkahnya diawali dengan guru mengajukan suatu permasalahan/isu yang berkaitan dengan materi, selanjutnya siswa diminta untuk berpikir mandiri mengenai isu/masalah tersebut. Pada tahap berikutnya siswa dikelompokan berpasangan untuk berdiskusi mendapatkan jawaban terbaik, dan pada tahap akhir setiap pasangan diberikan kesempatan untuk membagikan hasil diskusinya pada keseluruhan kelas.
2. Hasil belajar IPA
Hasil belajar IPA adalah suatu keberhasilan yang telah dicapai seseorang setelah melalui proses pembelajaran IPA, dalam bentuk perubahan atau peningkatan dalam aspek kognitif berupa pengetahuan tentang alam.
3.5 Rencana Tindakan
Pada penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (1988:14), yang berbentuk spiral yaitu dari siklus satu ke siklus berikutnya (Daryanto, 2011:183). Setiap siklus terdiri atas planning (rencana), action (tindakan) & observation (pengamatan), serta reflection (refleksi). Langkah yang dilaksanakan pada siklus berikutnya meliputi perencanaan yang sudah direvisi, tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.
3.5.1 Rencana Siklus I 1. Tahap Perencanaan
a. Membuat perencanaan pembelajaran sesuai dengan metode pembelajaran
think pair and share.
b. Menyusun RPP dengan menggunakan materi sesuai dengan kompetensi dasar 7.4 yaitu, mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya.
c. Mempersiapkan sumber belajar dan media pembelajaran yang akan digunakan saat pembelajaran berlangsung, buku IPA kelas 5 dan gambar siklus air.
d. Menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas siswa selama mendapat tindakan.
e. Menyusun tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil belajar yang telah dilaksanakan.
f. Materi Ajar : Pentingya air :
Manusia dan makhluk hidup lain tidak dapat lepas dari air. Air memang diperlukan bagi kehidupan kita. Kegunaan air antara lain untuk keperluan rumah tangga, pertanian, industri, dan tidak terkecuali untuk pusat pembangkit listrik. Untungnya, air senantiasa tersedia di Bumi. Oleh karena itu, manusia seharusnya senantiasa bersyukur kepada Tuhan pencipta alam.
Gambar 3
Contoh pemanfaatan air untuk mencuci
Gambar 4
Contoh pemanfaatan air untuk memasak Daur air
Daur air merupakan sirkulasi (perputaran) air secara terus-menerus dari bumi ke atmosfer dan kembali ke Bumi. Daur air ini terjadi melalui proses evaporasi (penguapan), presipitasi (pengendapan), dan kondensasi (pengembunan). Perhatikan skema proses daur air di bawah ini!
Gambar 5 Skema daur air 2. Tahap Pelaksanaan dan Observasi
A. Pelaksanaan
1. Guru menyiapkan bahan ajar sesuai materi yang telah disusun dalam RPP dengan metode pembelajaran think pair and share.
2. Guru memberikan pertanyaan / masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan memberikan waktu beberapa menit untuk memikirkannya.
3. Mengatur siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 2 orang untuk mendiskusikan pertanyaan/ masalah yang diajukan.
4. Peneliti dan guru kelas mengamati jalannya kerjasama dalam kelompok. 5. Guru meminta tiap-tiap pasangan membagikan hasil diskusi kepada
seluruh kelas.
6. Guru memberikan penguatan atas pendapat setiap kelompok.
7. Pada akhir pembelajaran siswa mengerjakan soal evaluasi siklus I secara mandiri.
8. Materi Ajar :
Kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi daur air:
Air di laut, sungai, dan danau menguap karena pengaruh panas dari sinar matahari. Tumbuhan juga mengeluarkan uap air ke udara. Proses penguapan ini disebut evaporasi. Uap air naik dan berkumpul di udara. Lama-kelamaan, udara tidak dapat lagi menampung uap air (jenuh). Proses ini disebut
presipitasi (pengendapan). Jika suhunya turun, uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Titik-titik air ini membentuk awan. Proses ini disebut kondensasi (pengembunan). Titik-titik air di awan kemudian akan turun menjadi hujan. Air hujan akan turun di darat maupun di laut. Air hujan itu akan jatuh ke tanah atau perairan. Air hujan yang jatuh di tanah akan meresap menjadi air tanah. Selanjutnya, air tanah akan keluar melalui sumur. Air tanah juga akan merembes ke danau atau sungai. Air hujan juga ada yang jatuh ke perairan, misalnya sungai atau danau. Kondisi ini akan menambah jumlah air di tempat tersebut.
Air di sungai akan mengalir ke laut. Di lain pihak sebagian air di sungai dapat menguap kembali. Air sungai yang menguap membentuk awan bersama dengan uap dari air laut dan tumbuhan. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam daur air. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jumlah air di Bumi secara keseluruhan cenderung tetap. Hanya wujud dan tempatnya yang berubah. Secara sederhana daur air dapat digambarkan seperti di samping ini. Nah, dari proses daur air di atas coba sarikan terjadinya daur air! Akhir-akhir ini kekeringan terjadi di mana-mana. Padahal secara teori, air tidak akan pernah habis.
B. Observasi
a. Peneliti melakukan observasi.
b. Peneliti mengamati jalannya pembelajaran untuk menilai kesiapan guru dalam mengelola kelas dan kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
c. Peneliti mengisi lembar observasi guru dan siswa berdasarkan hasil pengamatan.
3. Tahap Refleksi
a. Menelaah hasil penelitian, proses dan hasil pembelajaran IPA siklus I. b. Menemukan permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran IPA siklus I. c. Membuat perencanaan tindak lanjut untuk mengatatasi permasalahan yang
terjadi pada siklus I. Dengan tahap refleksi dapat mengetahui efektifitas pembelajaran pada siklus I.
3.5.2 Rencana Siklus II
Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka peneliti perlu menyusun kembali rencana perbaikan pembelajaran pada siklus II. Ada 4 tahap juga yang perlu dilakukan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan siklus.
1. Tahap Perencanaan
a. Setelah melakukan refleksi pembelajaran pada siklus I, peneliti bersama dengan guru mencari pemecahan masalah yang harus dilaksanakan.
b. Membuat rencana perbaikan pembelajaran yang didasarkan pada metode pembelajaran think pair and share berbantuan media gambar.
c. Menyusun RPP yang disesuaikan dengan kompetensi dasar 7.6 yaitu, mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan lingkungan.
d. Membuat lembar observasi pada siklus II. e. Membuat soal tes evaluasi pada siklus II. 2. Tahap Pelaksanaan dan Observasi
A. Pelaksanaan
a. Guru menyiapkan bahan ajar sesuai dengan materi yang telah disusun dalam RPP siklus II dengan metode pembelajaran think pair and share.
b. Guru memberikan pertanyaan / masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan memberikan waktu beberapa menit untuk memikirkannya.
c. Mengatur siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 2 orang untuk mendiskusikan pertanyaan/ masalah yang diajukan.
d. Peneliti mengamati jalannya kerjasama dalam kelompok.
e. Guru meminta tiap-tiap pasangan membagikan hasil diskusi kepada seluruh kelas.
f. Guru memberikan penguatan atas pendapat setiap kelompok.
g. Pada akhir pembelajaran siswa mengerjakan soal evaluasi siklus II secara mandiri.
h. Materi ajar
Gempa dibedakan menjadi tiga, yaitu gempa vulkanik, runtuhan, dan tektonik. Gempa yang paling hebat yaitu gempa tektonik. Gempa tektonik
terjadi karena adanya pergeseran kerak bumi. Sebagian besar gempa tektonik terjadi ketika dua lempeng saling bergesekan. Gempa bumi ini dapat mengakibatkan pohon-pohon tumbang, bangunan runtuh, tanah terbelah, dan makhluk hidup termasuk manusia menjadi korban.
Gempa bumi mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Kekuatan gempa diukurmenggunakan satuan skala Richter. Alat untuk mengukur gempa yaitu seismograf. Terjadinya gempa tektonik dimulai dari sebuah tempat yang disebut pusat gempa. Pusat gempa dapat berada di daratan atau lautan. Pusat gempa yang berada di lautan dapat menyebabkan gempa bumi di bawah laut. Gempa seperti ini bisa menyebabkan gelombang hebat yang disebut tsunami. Gelombang itu bergerak menuju pantai dengan kecepatan sangat tinggi dan kekuatannya sangat besar. Kecepatannya dapat mencapai 1.000 km per jam. Ketika mencapai pantai, gelombang tersebut naik sehingga membentuk dinding raksasa. Tinggi gelombang laut normal antara 1–2 meter. Namun, saat tsunami tinggi gelombang laut dapat mencapai 30–50 meter. Gelombang ini akan bergerak cepat menuju daratan dan merusak segala sesuatu yang dilaluinya.
Gunung api yang sedang meletus dapat memuntahkan awan debu, abu, dan lelehan batuan pijar atau lava. Lava ini sangat panas. Saat menuruni gunung, lava ini dapat membakar apa saja yang dilaluinya. Namun saat dingin, aliran lava ini mengeras dan menjadi batu. Apabila lava ini bercampur dengan air hujan, dapat mengakibatkan banjir lahar dingin. Gunung meletus sering disertai dengan gempa bumi. Gempa bumi yang disebabkan oleh gunung meletus disebut gempa bumi vulkanik. Misalnya gempa yang terjadi saat Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Letusan Gunung Krakatau ini juga mengakibatkan gelombang tsunami. Letusan gunung api dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan. Lava pijar yang dimuntahkan oleh gunung api dapat membakar kawasan hutan yang dilaluinya. Berbagai jenis tumbuhan dan hewan mati terbakar. Apabila lava pijar ini mengalir sampai ke permukiman penduduk, dapat memakan korban jiwa manusia dan menyebabkan kerusakan yang cukup parah.
Bencana banjir diawali dengan curah hujan yang sangat tinggi. Curah hujan dikatakan tinggi jika hujan turun secara terus-menerus dan besarnya lebih dari 50 mm per hari. Air hujan dapat mengakibatkan banjir jika tidak mendapat cukup tempat untuk mengalir. Seringkali sungai tidak mampu menampung air hujan sehingga air meluap menjadi banjir. Sepanjang bulan Januari 2008 terjadi banjir di berbagai daerah. Banjir melanda kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Solo, Aceh, dan Lampung. Bencana banjir dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Rumah-rumah dan ribuan hektare sawah yang ditanami padi rusak. Jalan-jalan terputus tidak bisa dilewati. Korban banjir pun dapat terancam berbagai penyakit seperti diare, kolera, dan penyakit-penyakit kulit.
Tanah longsor biasanya disebabkan oleh hujan yang deras. Hal ini karena tanah tidak sanggup menahan terjangan air hujan akibat adanya penggundulan hutan. Tanah longsor dapat meruntuhkan semua benda di atasnya. Selain itu, tanah longsor dapat menimbun rumah-rumah penduduk yang ada di bawahnya. Sepanjang bulan Januari 2008 terjadi tanah longsor di beberapa daerah. Bencana ini di antaranya terjadi di Brebes dan Tawangmangu yang memakan banyak korban harta dan jiwa.
Angin puting beliung merupakan angin yang sangat kencang dan bergerak memutar. Puting beliung biasanya terjadi pada saat hujan deras yang disertai angin kencang. Kecepatan angin puting beliung bisa mencapai 175 km/jam. Angin puting beliung dapat menerbangkan segala macam benda yang dilaluinya. Akhir-akhir ini angin puting beliung sering terjadi di negara kita. Beberapa daerah yang mengalami angin puting beliung yaitu Magelang, Lampung, Garut, Nusa Tenggara Timur, dan Banjarmasin.
B. Observasi
a. Peneliti mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada diskusi berpasangan yang dilakukan.
b. Peneliti mengamati jalannya pembelajaran untuk menilai kemampuan guru dalam mengelola kelas dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran.
c. Peneliti mencatat semua temuan pada saat kegiatan pembelajaran, sampai hasil yang diperoleh oleh siswa.
3. Tahap Refleksi
Semua data yang telah dicatat dari hasil pengamatan baik guru maupun siswa dan nilai hasil tes formatif dianalisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui apakah ada peningkatan pada tiap tahap yang telah dilaksanakan. Dengan harapan dapat meningkatkan hasil pembelajaran serta proses pembelajaran yang lebih maksimal.
3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.6.1 Teknik Tes
Dalam penelitian ini teknik tes digunakan sebagai alat untuk memperoleh data dengan menguji kemampuan siswa selama mengikuti pelajaran IPA dengan menerapkan pembelajaran think pair and share. Sehingga dapat diketahui sejauh mana perbandingan siswa mengalami perubahan hasil belajar setelah diberikan tindakan pembelajaran IPA dengan metode think pair and share berbantuan media gambar.
Tabel 2
Kisi – kisi Instrumen Penelitian Siklus I ( tes formatif )
Kompetensi Dasar Indikator Nomor soal
7.4 Mendeskripsikan proses daur air dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhinya
1.Menyebutkan kegunaan air bagi manusia
1,2,3,4,5,6,7,8 1. Mengidentifikasi daerah
yang banyak sumber air, dan jenis sumber air
9,10,11,12
3.Menyebutkan peristiwa daur air
13,14,15,16,17 4.Menyebutkan tindakan
manusia yang dapat mempengaruhi daur air
18,19,20,21,22 ,23,24,25
Tabel 3
Kisi – kisi Instrumen Penelitian siklus II ( tes formatif )
Kompetensi Dasar Indikator Nomor soal
7.6 Mengidentifikasi peristiwa alam yang terjadi di
Indonesia dan dampaknya bagi makhluk hidup dan
lingkungan
1.Menyebutkan jenis gempa dan dampak yang ditimbulkan
1,2,3,4,5,6, 2. menyebutkan skala dan alat
ukur yang dipakai untuk mengukur gempa
7,8
3. Menyebutkan dampak dari gunung meletus
9,10,11,12 4.Menyebutkan cara
mencegah, penyebab dan dampak dari banjir
13,14,15,16,17
5. Menyebutkan kriteria curah hujan tinggi dan alat untuk mengukur curah hujan
18,19
6.Menyebutkan penyebab tanah longsor, dampak tanah longsor.
20,21,22,23
7.Menyebutkan alat pengukur tekanan udara dan angin puting beliung
24,25
3.6.2 Lembar Observasi
Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana implementasi metode pembelajaran pada proses pembelajaran. Peneliti bertugas melaksanakan pengamatan dan penilaian melalui pengisian kegiatan mengajar guru pada setiap pertemuan. Kegiatan observasi ini dilaksanakan di kelas 5 sekolah dasar negeri Kradenan 02.
Tabel 4
Kisi - kisi Instrumen Kinerja Guru
Aspek Indikator No Item
Pra Pembelajaran Melakukan persiapan 1,2
Kegiatan Awal Pembelajaran Menyampaikan apersepsi 1,2 Kegiatan Inti Pembelajaran A. Penyampaian materi
B. Berfikir mandiri C. Diskusi kelompok D. Penyampaian hasil diskusi 1,2,3 1,2 1,2,3,4 1,2,
Melakukan kegiatan penutup Kegiatan penutup 1,2,3
Keterangan:
Persentase 50% = kategori kurang baik Persentase ≥50% - 80% = kategori baik
Persentase ≥80% - 100% = kategori sangat baik
Tabel 5
Kisi – kisi instrumen aktifitas siswa
Aspek Indikator No Item
Pra Pembelajaran Persiapan perlengkapan belajar 1,2
Kegiatan Pembelajaran A. Memperhatikan pembelajaran B. Diskusi kelompok
C. Penyampaian hasil diskusi
1,2,3,4 1,2,3,4 1,2,3
Penutup Kegiatan penutup 1,2
Jumlah 15
Keterangan:
Persentase 50% = kategori kurang baik Persentase ≥50% - 80% = kategori baik
Persentase ≥80% - 100% = kategori sangat baik 3.7 Teknik Analisis Instrumen
3.7.1 Analisis Validitas Instrumen
Peneliti melakukan uji coba instrumen yang telah disusun sebagai alat ukur apakah instrumen baik dan layak. Baik dan buruknya suatu instrumen akan menentukan kualitas hasil penelitian. Uji coba instrumen dilaksanakan di SD Negeri Papringan 02 Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang, bukan sekolah yang digunakan untuk penelitian. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Suatu item instrumen penelitian dianggap valid jika memiliki koefisien corrected item to total correlation ≥ 0,2, Saiffudin Azwar (dalam Jarwati 2011).
Setelah soal tes diujikan pada siswa SD Papringan 02 maka hasilnya diolah dengan menggunakan program SPSS versi 18 for Windows dan hasil analisisnya dapat dilihat pada lampiran.
1. Validitas Tes Siklus I
Dari 25 butir soal yang diujikan terdapat 3 item soal yang dibuang karena
correted item to total correlation kurang dari 0,2 artinya item tidak valid. Item-item
yang dinyatakan valid memiliki koefisien corrected item-total correlation lebih dari 0,2. Hasil rekapitulasi uji coba butir soal tes formatif siklus I dirangkum dalam Tabel 6 berikut :
Tabel 6
Rekapitulasi Validitas Tes Siklus I dengan 25 item
Siklus Bentuk
Instrunen Item soal Valid
Tidak valid 1 Pilihan ganda 1,2,3,4,5,6,7,8 ,9,10,11,12,13, 14,15,16,17,18 ,19,20,221,22, 23,24,25 1,2,3,4,5,7,8,9,10 ,11,12,13,14,16, 17,20,21,22,23 24,25 15,18,19
Setelah membuang 3 butir soal yang tidak valid dilanjutkan dengan uji validitas terhadap 22 item soal yang valid. Hasilnya terdapat 22 item soal yang koefisien corrected item-total correlation lebih dari 0,2 yang berarti valid. Rekapitulasi hasil uji validitas 22 item soal valid disajikan dalam tabel 7 berikut:
Tabel 7
Rekapitulasi Validitas Tes Siklus I dengan 22 item
Siklus Bentuk
Instrunen Item soal Valid
Tidak valid 1 Pilihan ganda 1,2,3,4,5,7,8,9,10 ,11,12,13,14,16, 17,20,21,22,23 24,25 1,2,3,4,5,7,8,9,10 ,11,12,13,14,16, 17,20,21,22,23 24,25
Berdasarkan tabel 7 di atas terdapat 22 item soal yang dinyatakan valid. Jadi terdapat 22 item soal yang valid dan dapat diberikan kepada siswa.
Dari 25 butir soal yang diujikan terdapat 4 item soal yang dibuang karena
correted item to total correlation kurang dari 0,2 artinya item tidak valid. Item-item
yang dinyatakan valid memiliki koefisien corrected item-total correlation lebih dari 0,2. Hasil rekapitulasi uji coba butir soal tes formatif siklus II dirangkum dalam Tabel 8 berikut :
Tabel 8
Rekapitulasi Validitas Tes Siklus II dengan 25 item
Siklus Bentuk Instrunen Item soal Valid Tidak
valid 2 Pilihan ganda 1,2,3,4,5,6,7,8 ,9,10,11,12,13, 14,15,16,17,18 ,19,20,221,22, 23,24,25 1,2,3,4,5,6,7,8,9 ,10,11,12,13,14, 16,18,20,22, 23,24,25 15,17,19, 21
Setelah membuang 4 butir soal yang tidak valid dilanjutkan dengan uji validitas terhadap 21 item soal yang valid. Hasilnya terdapat 21 item soal yang koefisien corrected item-total correlation lebih dari 0,2 yang berarti valid. Rekapitulasi hasil uji validitas 21 item soal valid disajikan dalam tabel 9 berikut:
Tabel 9
Rekapitulasi Validitas Tes Siklus II dengan 21 item
Siklus Bentuk Instrunen Item soal Valid Tidak
valid 2 Pilihan ganda 1,2,3,4,5,6,7,8,9 ,10,11,12,13,14, 16,18,20,22, 23,24,25 1,2,3,4,5,6,7,8,9 ,10,11,12,13,14, 16,18,20,22, 23,24,25
Berdasarkan tabel 9 di atas terdapat 21 item soal yang dinyatakan valid. Jadi terdapat 21 item soal yang valid dan dapat diberikan kepada siswa.
3.7.2 Analisis Reliabilitas Instrumen
Uji reliabilitas untuk menujukkan sejauh mana konsistensi suatu instrumen, hasil pengukurannya diperlihatkan dalam taraf ketelitian dan ketepatan hasil. Untuk dapat menentukan tingkat reliabilitas soal evaluasi, menggunakan kriteria
yang dikemukakan oleh George and Mallery (1995), dengan kriteria sebagai berikut :
α ≤ 0,7 : tidak dapat diterima 0,7 < α ≤ 0,8 : dapat diterima 0,8 < α ≤ 0,9 : reliabilitas bagus α > 0,9 : reliabilitas memuaskan
Dari uji reliabilitas 22 item soal evaluasi siklus I diperoleh koefisien Alpha = 0,883 yang termasuk dalam kriteria reliabilitas bagus karena nilai alpha lebih dari 0,8. Demikian juga dari uji reliabilitas 21 item soal evaluasi siklus II diperoleh koefisien Alpha = 0,910 yang termasuk dalam kriteria reliabilitas memuaskan karena nilai alpha lebih dari 0,9. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran. Untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel 10 di bawah ini :
Tabel 10
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Tes siklus I dan siklus II
Siklus Bentuk instumen Koefisien Alpha Kriteria
I Pilihan ganda 0,883 Reliabilitas bagus
II Pilihan ganda 0,910 Reliabilitas memuaskan
3.7.3 Analisis Tingkat Kesukaran Soal
Agar dapat memperoleh kualitas soal yang baik selain memenuhi validitas dan reliabilitas, adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesukaran soal tersebut. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar (Sudjana, 2011: 137).
Analisis taraf kesukaran soal dalam penelitian ini menggunakan Tabel Rose dan Stanley dengan kriteria berikut ini :
Tabel 11
Tabel Rose dan Stanley
Presentase Option Kategori
2 3 4 5 16 50 84 0,16n 0,50n 0,84n 0,213n 0,667n 1,20n 0,24n 0,75n 1,26n 0,256n 0,80n 1,344n Mudah Sedang Sukar Keterangan :
1. Option 2 adalah bentuk benar-salah 2. Option 3, 4, 5 adalah bentuk pilihan ganda
3. n adalah 27% dari banyaknya siswa yang mengikuti tes
Dalam menghitung indeks kesukaran soal, dapat menggunakan rumusan sebagai berikut :
Keterangan :
1. SR adalah siswa yang menjawab salah dari kelompok rendah
2. ST adalah siswa yang menjawab salah dari kelompok tinggi. (Sudjana, 2011: 138-139)
A. Taraf Kesukaran Soal Siklus I
Setelah melakukan penghitungan dengan menggunakan tabel Rose dan Stanley diperoleh hasil taraf kesukaran soal siklus I yang disajikan dalam tabel 12 berikut:
Tabel 12
Uji Taraf Kesukaran Soal Siklus I
Indeks kesukaran
Item
Soal pilihan ganda
Mudah 1,2,3,4,6,9,11,12,14,15,16,17,18,19
Sedang 5,7,8,10,20
Sukar 13
Berdasarkan tabel 12 tersebut diperoleh 14 soal dalam kategori mudah, 5 soal dalam kategori sedang, dan 1 soal dalam kategori sukar. Hasil perhitungan taraf kesukaran soal siklus I dapat dilihat dalam lampiran.
B. Taraf Kesukaran Soal Siklus II
Setelah melakukan penghitungan dengan menggunakan tabel Rose dan Stanley diperoleh hasil taraf kesukaran soal siklus II yang disajikan dalam tabel 13 berikut:
Tabel 13
Uji Taraf Kesukaran Soal Siklus II
Indeks kesukaran
Item
Soal pilihan ganda
Mudah 1,8,14,18,20
Sedang 2,3,4,5,6,7,9,11,12,13,15,16,17,19
Sukar 10
Berdasarkan tabel 13 tersebut diperoleh 5 soal dalam kategori mudah, 14 soal dalam kategori sedang, dan 1 soal dalam kategori sukar. Hasil perhitungan taraf kesukaran soal siklus I dapat dilihat dalam lampiran.
3.8 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan data berupa nilai tes yang dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka yang diperoleh dari tes tertulis dan deskriptif kualitatif yaitu berupa penjelasan yang diperoleh dari lembar observasi yang berisi aktifitas siswa selama kegiatan pembelajaran. Setelah data terkumpul dilakukan analisis data dengan analisis deskriptif komparatif, yaitu dengan membandingkan hasil belajar pra siklus, siklus I, dan siklus II.
Untuk mengukur keberhasilan tiap siklus yaitu dengan ketuntasan belajar siswa dengan pencapaian KKM (70). Hasil belajar dapat diukur apabila setiap siswa telah mencapai nilai KKM (70) maka dinyatakan tuntas dan berhasil.
3.9 Indikator Kinerja 1. Indikator Proses
Indikator proses dalam penelitian ini adalah indikator ketercapaian dalam proses kegiatan pembelajaran guru dan aktifitas siswa terhadap penerapan metode
think pair and share berbantuan media gambar. Penerapan metode think pair and share berbantuan media gambar dapat tercapai apabila dalam kategori baik.
Dinyatakan dalam kategori baik apabila guru telah melaksanakan semua langkah pembelajaran sesuai dengan metode think pair and share berbantuan media gambar, dan tidak ada perbaikan dari observer.
2. Indikator Hasil
Untuk mengukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini, tolak ukurnya adalah sistem belajar tuntas yaitu pencapaian nilai KKM 70. Keberhasilan belajar diukur apabila setiap siswa telah mencapai nilai 70, dan secara klasikal apabila sebanyak 100% atau semua siswa telah mencapai nilai 70 maka dikatakan tuntas secara klasikal.