• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PERAN AKTOR DALAM PENENTUAN PRIORITAS PROGRAM PENGGUNAAN ALOKASI DANA DESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PERAN AKTOR DALAM PENENTUAN PRIORITAS PROGRAM PENGGUNAAN ALOKASI DANA DESA"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

50

BAB V

PERAN AKTOR DALAM PENENTUAN PRIORITAS

PROGRAM PENGGUNAAN ALOKASI DANA DESA

Dalam Bab V ini akan dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yakni ; pertama, peran aktor dalam penentuan priotitas program penggunaan alokasi dana desa, desa Pepera distrik Pepera. Kedua, dari peran aktor tersebut akan menjelaskan faktor-faktor apa yang menghambat dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa desa Pepera, distrik Pepera.

5.1.

Peran Aktor dalam Proses Penentuan Prioritas Program

Penggunaan Alokasi Dana Desa

Dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa pada prinsipnya adalah pembangunan dan kesejaterahan masyarakat. Program adalah bentuk instrumen dari kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang akan dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat dan peran aktor menjadi penting dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan atau sasaran pembangunan daerah. Dari hasil penelitian dalam penentuan prioritas program di desa Pepera ditentukan oleh kepala kampung/desa, kepala kampung/desa serta aparatur kampung/desa berhak penuh atas RKP yang di susun pertahun anggaran.

Dalam hal ini RKPDes menjadi sangat penting dalam pemerintahan Desa aktor yang berperan penting dalam pengambilan keputusan yaitu kepala kampung, setelah Rencana Kerja Pembangunan disusun bersama masyarakat dalam musyawarah kampung. Program-program yang telah di rencanakan akan di lanjutkan oleh kepala kampung ke pemerintahan daerah atau dinas pemberdayaan kampung dan

(2)

51

pemerintahan kampung. Dalam hal status jabatan dan pekerjaan, kepercayaan, komunikasi, dan pengetahuan antar aktor sangat berperan penting dalam perencanaan dan penentuan prioritas program.

“Hasil wawancara dengan Bapak Jackson Kasipmabin Bagian Pemerintahan Kampung Kabupaten Pegununangan Bintang, menurutnya :

“Peran bidang sangat berpengaruh dalam prioritas program, setiap program yang di usulkan dari masyarakat desa melalui musyarawarah desa dan musrembang akan di tampung dan akan di pilih program mana yang mendesak dan menjadi kebutuhan utama masyarakata saat ini. Keputusan di lakukan adalah mutlak oleh dinasterkait dalam hal ini dinas pemeberdayaan masyarakat dan pemerintahan kampung terlebih khusus bidang pendapatan dan bidang pemerintahan kampung yang menangani alokasi dana desa. Peran kepala desa menjadi sangat penting dalam pengambilan keputusan dalam penentuan program pertahun anggaran penggunaan alokasi dana desa. Kepala desa disini adalah orang yang berkuasa atau memiliki kedudukan tertinggi dalam memimpin masyarakat desanya. Apapun yang di katakana atau di perintahkan oleh kepala desa masyarakat tidak pernah akan melanggar atau menolaknya. Jadi bidang pemerintah kampung sudah seperti rumah bagi kepala desa serta aparatur desa untuk mengurus segala administrasi maupun laporan-laporan penggunaan alokasi dana desa, pokoknya yang berhubungan dengan alokasi dana desa itu di bidang kami yaitu bidang pemerintahan kampung Kabupaten Pegunungan Bintang1.

1Hasil wawancara Bapak Jackson Kasipmabin Kepala Bidang Pemerintahan Kampung pada tanggal 5 April

(3)

52 BAGAN 5.1

STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAHAN DESA PEPERA

Sumber Data : Data Primert Tahun 2019

Berdasarkan Gambar/Bagan 5.1 struktur organisasi pemerintahan desa pepera memiliki pendamping local desa (PLD) . Pendamping local desa merupakan pendamping yang di angkat langsung atau diberi tugan dan kepercayaan langsung oleh kepala desa. Tugas dan tanggung jawab PLD yaitu memndampingi dan member arahan kepda kepala urusan maupun BPD untuk kegiatan serta penampungan aspirasi masyarakat untuk program pembangunan dan pemberdayaan yang di rencanakan dalam anggaran pemerintahan desa serta membantu pembuatan laporan pertanggungjawab per tahap anggaran kepada Dinas. Setiap desa memiliki pendamping local desa yang berbeda tergantung dari keputusan kepala desa.

KEPALA KAMPUNG

PENDAMPING LOKAL DESA/KAMPUNG

KEPALA URUSAN 4 ORANG : KAUR UMUM KAUR PEMERINTAHAN KAUR KESRA KAUR PEMBANGUNAN BAMUSKAM KETUA BAMUSKAM SEKERTARIS BAMUSKAM ANGGOTA BAMUSKAM 5 0RANG SEKERTARIS KAMPUNG BENDAHARA KAMPUNG

(4)

53

5.1.1. Tahap Musyawarah dan Penjaringan Asprirasi Masyarakat Desa

Musyawarah Desa merupakan forum musyawarah antara BPD, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa untuk menyepakati hal yang bersifat strategis, seperti penggunaan Alokasi Dana Desa dalam hal pembagunan desa dan beberapa yang lainnya dengan prinsip partisipatif, demokratis, dan transparan. Penetapan prioritas penggunaan alokasi dana desa merupakan hal strategis di Desa, sehingga wajib dibahas dan disepakati dalam musyawarah Desa. Penyelenggaraan musyawarah Desa dalam rangka pembahasan prioritaspenggunaan alokasi dana desa yang diadakan dalam rangka penyusunan RKP Desa.

Pembahasan prioritas penggunaan dana Desa dalam musyawarah Desa berdasarkan usulan, aspirasi dan kemanfaatan kegiatan masyarakat desa. Dalam pembahasan dan usulan kegiatan saat Musdes masyarakat lebih memilih program yang mendesak atau mereka butuhkan seperti sarana-prasarana yaitu kebutuhan sekolah (seragam dan Alat tulis), penerangan lampu (solar cell/panel surya), dan rumah sakit serta gedung sekolah karena sampai saat ini bangunannya masih tidak layak di gunakan. Yang menjadi sangat penting dari prioritas program yaitu pembangunan fisik akses transportasi darat maupun udara. Hasil kesepakatan musyawarah desa terkait prioritas penggunaan alokasi dana Desa harus dituangkan dalam dokumen Berita Acara yang tata cara penyusunannya sesuai peraturan perundang-undangan tentang musyawarah Desa. Pada tahap ini masyarakat di Desa sangat antusias untuk mengikuti acara ini, dan aspirasi masyarakat cukup tinggi.

(5)

54

“Hasil Wawancara Dengan Ibu Floriani Uropmabin bagian perencanaan dan pembangunan daerah kabupaten pegunungan bintang, menurutnya

“Dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa pertahun anggaran, dari kami bidang/ dinas hanya menerima usulan dari desa terkait,setiap program tahun anggaran setiap desa harus melakukan musyawarah desa di masing-masing desa agar menyiapkan program-program apa saja yang akan di usulkan ke dinas terkait agar putuskan bersama dalam musrembang kabupaten, arah kebijakan dalam penentuan prioritas program yang kami lakukan atau tetapkan dalam musrembang kabuapten sesuai dengan visi- misi pembanungan desa yang telah di siapkan pemerintah desa tersbut ”2.

Strategi pembangunan desa menjadi dasar dalam menentukan arah kebijakan desa, prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman serta kerangka berpikir yang melatarbelakangi upaya pencapaian visi dan misi yang akan dilakukan. Berdasarkan strategi tersebut selanjutnya dapat dijadikan pedoman dalam menentukan arah kebijakan keuangan desa, kebijakan umum dan program pembangunan.Untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan yang telah dirumuskan, maka pemerintah desa menempuh strategi dan kebijakan yang ditunjukkan pada Tabel 5.1 berikut :

2 Hasil wawancara Ibu Floriani Uropmabin Kasubid Sosbud Dinas Perencanaan dan Pembangunan

(6)

55 Tabel. 5.1

Stategi dan Kebijakan Desa Pepera

NO STRATEGI KEBIJAKAN/HASIL

1

Pembangunan jalan secara gotong royong

a. Membangun jalan

b. Menggunakan batu dan pasir setempat sebagai materi utama pembuatan jalan

2

Pembuatan bak-bak penampung air bersih dan perawatan dari yang sudah ada.

a. Tersedianya air bersih

b. Terawatnya bak-bak penampungan air bersih.

3

Penyediaan peralatan pertanian yang memadai.

a. Tersedianya peralatan pertanian yang memadai.

b. Hasil pertanian makin meningkat.

4

Penyediaan kandang ternak yang memadai/sehat.

a. Tersedianya kandang ternak yang sehat. b. Hasil peternakan yang makin meningkat.

5 Pemeliharaan/Pembudiyaan tanaman lokal

a. Tanaman kopi yang dibudidayakan b. Tanaman buah merah yang dibudidayakan.

6 Penyediaan bibit ternak yang memadai.

a. Hasil ternak/babi yang meningkat

a. Pembuatan makanan /daging kering bagi yang dapat diperjualbelikan

7

Pemberdayaan warga kampung untuk meningkatkan penghasilan dengan pengolahan hasil-hasil pertanian.

a. Pengolahan hasil pertanian/ubi kayu.

b. Pembuatan makanan hasil ubi kayu yang dapat diperjualbelikan

(7)

56

Berdasarkan tabel 5.1 dalam strategi dan kebijakan desa Pepera, pembangunan fisik sangat diutaman dalam setiap program kegiatan per anggaran, dari nomor urut 1 sampai 6 sudah membutikan bahwa strategi dan kebijakan desa Pepera lebih terfokus pada pembangunan fisik. Pemberdayaan hanya terhitung sedikit di nomor urut ke 7, melihat kembali masyarakat Desa Pepera masih sangat membutuhan banyak bimbingan dalam pemberdayaan agar meningkatkan pola pikir, keterampilan dan pengalaman baru agar kebutuhan-kebutuhan pengelolahn hasil bumi seperti pertanian/perkebunan dan pendidikan berjalan seimbang dengan pembangunan fisik Desa Pepera.

Kurangnya program pemberdayaan berpengaruh pada tingkat pendidikan di Desa Pepera seperti yang terlihat pada tabel 4.10, masyarakat Pepera pada umumnya masih kurang dalam hal ilmu pengetahuan, mereka hanya mampu menyelesaikan sekolah pada tingkat SD dan tidak semua juga mampu menyelesaikannya karena hanya sampai kelas 2 dan 4 SD saja mereka sudah tidak bersekolah. Yang mampu menyelesaikan sekolah sampai tingkat SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi hanya meraka yang dikirim oleh orang tuanya atau dibiayai pemerintah desa untuk bersekolah keluar desa yaitu ke Oksibil Ibu Kota kabupaten serta Jayapura Ibu Kota Provinsi dan itupun jumlahnya sedikit.

Program pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk melaksanakan strategi dan kebijakan Pemerintah Desa. Program pembangunan merupakan proses penentuan jumlah dan sumber daya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan suatu rencana tindakan/pembangunan. Kegiatan pembangunan merupakan penjabaran rinci tentang langkah-langkah yang diambil untuk menjabarkan Program. Penjabaran kegiatan memiliki RPJMDes, kegiatan pembangunan masih bersifat indikatif (bersifat perkiraan, tingkat kerincian yang sesuai dengan kebutuhan sebagaimana diuraikan dalam program. Dalam sehingga belum operasional dan belum sampai pada perhitungan teknis). Program dan kegiatan pembangunan dirumuskan dalam bentuk tabel atau matriks. Dalam menyusun Program dan Kegiatan Pembangunan didasarkan pada peringkat

(8)

57

masalah dan tindakan serta memperhatikan kembali visi,misi, tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan desa.

5.1.2. Perencanaan dan Penyusunan RKPDes (Rencana Kerja Pemerintah)

RKPDes (Rencana Kerja Pemerintah Desa) adalahpenjabaran dari RPJMDes untuk jangka waktu Satu Tahun. Daftar Usulan RKP adalah penjabaran RPJM Desa yang menjadi bagian dari RKP Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang akan diusulkan Pemerintah Desa kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui mekanisme perencanaan pembangunan daerah.Dalam penyusunannya, RKP Desa membutuhkan bahan pendukung agar rencana pembangunan desa lebih terarah dan teratur. Bahan – bahan pendukung tersebut antara lain: RPJM Desa, Hasil Musyawarah Desa dalam rangka Perencanaan Pembangunan Desa, Data dan Informasidari Kabupaten (Pagu Indikatif, Rencana Program/Kegiatan Pemerintah Daerah).

Perencanaan, kaitannya dengan perencanaan adalahtentang rencana pembangunan jangka menengah yang di usung oleh kepala Desa rencana ini merupakan visi dan misi dari kepala Desa setempat, setelah terbentuknya rencana pembangunan jangka menengah barulah menyusun rencana kerja pemerintah Desa (RKPDes) disinilah seluruh elemen masyarakat dilibatkan, setelah rencana kerja pemerintah Desa jadi, maka menentukan anggaran pendapatan dan belanja Desa yang disesuaikan dengan nomenklatur yang sudah tersedia, dari APBDes ini maka muncul tiga sub tema yang meliputi dokummen perencanaan anggaran, dokumen perencanaan per kegiatan dan rencana anggaran belanja.

Dari sinilah masyarakat di ajak untuk berfikir apa yang harus dilakukan selama satu periode anggaran, usulan atau aspirasi masyarakat di tampung dan digodok agar nantinya bisa menjadi program yang sesuai dengan kebutuhan dari Desa jumlah anggaran yang diprioritaskan

(9)

58

untuk pembangunan fisik sangatlah tinggi sedangkan untuk pemberdayaan masih sangat rendah/minim ,padahal sesuai dengan peraturan kedudukan antara pembangunan fisik dan pemberdayan masyarakatsama sejajarnya, hal ini menandakan bahwa keutamaan keduanya memang sepadan,akan tetapi pada praktiknya masyarakat lebih memilih serta fokus utama pembangunan desa yaitu pada pembangunan fisik dan memandang serta menganggap sebelah mata kegiatan pemberdayaan.

Usulan-usulan masyarakat yang sudah terpilih, maka setelahnya menyusun RAB dengan mempertimbangkan surve lapangan ini biasanya bedasarkan perspektif masyarakat apa yang perlu didahulukan, kemudianmelakukan surve harga pada tahap ini biasanya ada oknum tertentu yangmemanfaatkan hal itu harga barang di naikkan secara signifikan, setelah itubarulah menyesuaikan harga dari kabupaten, semua bentuk kegiatan tidak boleh melenceng dari ketentuan RAB, karena kesemuanya akan di Perdeskan sehingga menjadi aturan yang baku.

Kepala Kampung wajib berpedoman pada hasil kesepakatan musyawarah Desa berkaitan dengan prioritas penggunaan dana Desa. Kegiatan-kegiatan yang disepakati untuk dibiayai dengan dana Desa termuat dalam dokumen rancangan RKP Desa.Dalam rangka penyusunan rancangan RKP Desa khususnya terkait penggunaan dana Desa, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota berkewajiban menyampaikan kepada seluruh Kepala Kampung di wilayahnya tentang informasi sebagai berikut :

a. Pagu indikatif dana Desa; dan

b. Data tipologi Desa berdasarkan perkembangan Desa yang dihitungberdasar IDM. Berdasarkan pagu indikatif dana Desa

(10)

59

beserta data IDM, Kepala Desa merancang prioritas penggunaan dana Desa dengan berdasarkanperhitungan terhadap :

a. Kemanfaatan hasil kegiatan;

b. Usulan dan aspirasi masyarakat Desa serta peran serta masyarakat Desa dalam pelaksanaan kegiatan;

c. Pengelolaan dan pemanfaatan hasil kegiatan serta perawatan dan pelestariannya;

d. Pengawasan masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan;

e. Pendayagunaan sumberdaya manusia, sumberdaya alam serta sumberdaya lainnya dalam pelaksanaan kegiatan yang dikelola secara mandiri oleh Desa; dan

f. Topologi Desa untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa yang dibiayai dana Desa sesuai dengan kondisi obyektif yang ada di Desa. Penetapan prioritas penggunaan dana Desa berdasarkan topologi Desa menjadikan jenis kegiatan yang diprioritaskan pada masing-masing Desa yang sangat beragam. Untuk itu, dalam pedoman umum ini hanya diberikan contoh-contoh program/kegiatan sehingga Desa-Desa masih memiliki keleluasaan untuk memilih kegiatannya yang sesuai dengan tipologi Desanya.

5.1.3. Tahapan Penetapan RKP Desa

Setidaknya ada tujuh langkah yang harus dipenuhi dalam menyusun RPKDes yakni:Harus ditetapkan dalam Surat Keputusan Desa terdiri dari Pembina antara lain: kepala desa, sekretaris desa, Ketua LPMD, anggotanya LPMD, KPMD, dan masyaraka perwakilan kelompok masyarakat yang lain. Jumlah

(11)

60

tim ini bakal sekitar 7 – 11 orang dengan harus menyertakan perempuan di dalamnya.

Melakukan penyelarasan dengan arah kebijakan Kabupaten/kota. Sebelum menyusun isi RKPDes, seluruh tim harus lebih dahulu memahami arah kebijakan pemerintah kabupaten sehingga tidak terjadi tumpang-tindih dan ketidaksesuaian.

Kajian Kondisi Desa antara lain harus melakukan penyelarasan data desa, penggalian aspirasi melalui musyawarah di tingkat dusun dan menyusun pelaporan atas proses pembacaan kondisi ini.

Tahapan RKP Desa disusun :

- Penyusunan perencanaan pembangunan desa melalui Musyawarah desa

- Pembentukan Tim Penyusun RKP Desa

- Pencermatan Pagu Indikatif Desa dan penyelarasan program /kegiatan masuk ke desa

- Pencermatan ulang dokumen RPJMDes - Penyusunan Rancangan RKP Desa

- Penyusunan RKP desa melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa

- Penetapan RKP Desa - Perubahan RKP Desa

- Pengajuan daftar usulan RKP Desa

Demikianlah langkah yang harus dilakukan desa dalam menyusun RKP Desa. Penyusunan dua materi ini adalah landasan yang akan menjadi pedoman pembangunan desa menuju cita-cita warga desa di bawah kepemimpinan kepala desa.

(12)

61

Hasil Wawancara dengan Bapak Andreas Tapyor selaku Kepala Desa Pepera, menurutnya :

“setiap tahun anggaran alokasi dana desa, saya dan masyarakat Desa Pepera melakukan raker atau musyawarah desa untuk memutuskan bersama masyarakat program apa yang akan di bawah ke daerah atau dinas terkait. Selama saya menjabat sebagai kepala desa disini, prioritas program yang selalu kamu usulakan yaitu pembangunan jalan dari kota kabupaten ke desa kami. Jujur selama ini masayrakat saya kesusahan dan kesulitan untuk ke kota kami membutuhkan waktu, tenaga dan ongkos yang besar untuk ke kota kabupaten. Pendidikan serta kesehatan di desa pepera sendiri sudah ada pembanguann rumah sakit tetapi dari tahun 2017 sampai saat ini belum selesai pembangunnnya, karena biaya dan perjalanan yang besar dan sulit untuk kami. Program yang selalu kami utamakan dalam setiap tahun anggaran alokasi dana dana desa yaitu pembangunan jalan, rumah sakit atau puskesmas, dan sekolah yang baik untuk masayarakat desa Pepera”3.

Kepala Kampung berkewajiban menyampaikan kepada masyarakat Desa rancangan RKP Desa (Rencana Kerja Pemerintah Desa) yang memuat rencana kegiatan-kegiatan yang akan dibiayai dengan dana Desa. Kepala Desa menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan Desa (musrenbang Desa) yang dihadiri oleh BPD dan unsur masyarakat Desa. Rancangan RKP Desa, termasuk rancangan prioritas kegiatan yang dibiayai dari Dana Desa harus dibahas dan disepakati dalam musrenbang Desa. Hasil kesepakatan dalam musrenbang Desa menjadi pedoman bagi Kepala Desa dan BPD dalam menyusun Peraturan Desa tentang RKP Desa.

5.2.

Tindakan Aktor Dalam Penentuan Prioritas Program

Pengguna Alokasi Dana Desa, Desa Pepera (Konsep Pierre

Bourdieu)

3 Hasil wawancara Bapak Andreas Tapyor Kepala Desa Desa Pepera ,Pada Tanggal 19,April 2019 Jam

(13)

62

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya ,melalui penelitian ini akan dilihat kenyataan tentang Peran Aktor Dalam Penentuan Prioritas Program Penggunaan Alokasi Dana Desa yang didekati dengan konsepsi Pierre Bourdieu mengenai peran aktor,maka table dibawah ini akan menggambarkan unsur-unsur konsep Pierre Bourdieu yang ditemukan dalam kenyataan dilapangan.

Unsur-Unsur Konsep Bourdieu Dalam Aktor Yang Berperan Dalam Penentuan prioritas program Penggunaan Alokasi Dana Desa Pepera

Tabel. 5.2

No HABITUS (H) MODAL (M) RANAH (R)

1 1 1

Memiliki pengalaman yang sama dalam menetukan program/kegiatan dalam penggunaan ADD 1 . 1 Modal Simbolik :

- Tim Perumus : Kaur PMD (7 Kampung)

- Operator SIMDES

(mendata dan melaporkan setiap kegiatan maupun program-program kerja per kampung )

- Pendamping Lokal Desa (Mengolah data dan

setiap aspirasi masyarakat baik program kegiatan atau kebutuhan masyarakat lainnya) - BPD/Perangkat

Kampung

1

Menyusun serta menyepakati/menentukan setiap aspirasi masyarakat dalam hal program kegiatan.

1 1 1 2 2 Pengalaman dari pelatihan-pelatihan yang di lalui oleh actor-aktor

2 2 2

Modal Budaya :

- Dilatih dari pelatihan BIMTEK

- Perjalanan dinas dalam kabupaten

- Kualifikasi dinas terkait (DPMPK) serta BAPPEDA dalam Musrembang Kabupaten.

- Arena-arena lain yang diciptakan oleh actor terkait dengan inti arena perjuangan (penentuan prioritas program penggunaan ADD) - Strategi penjaringan aspirasi masyarakat desa/kampung 3 . 3 Pengalaman yang diperoleh oleh actor mengenai prioritas program dalam 3 3 . 3

Modal Sosial : - Pendamingan dan

penentuan/keputusan termasuk perumusan visi-misi desa dan yang

(14)

63 penggunaan ADD yang

ideal dan berdasarkan tahapan serta pagu anggaran yang tersedia dan sesuai aturan.

- Keterkaitan aktor yang dibangun lama,relasi yang lama, dan kepercayaan. - Pemahaman actor tentang

ideanya program yang di prioritaskan yang sesuai dengan pagu serta aturan yang tersedia.

disesuaikan dengan kegiatan/program.

Sumber Data : Data Primer

5.2.1. Habitus dari Pengalaman dan Ketrampilan

Menurut Pierre Bourdieu (1977;82) , habitus merupakan produk sejarah ,yang dihasilkan oleh tindakan praktik individu maupun kolektif.

Habitus bersumber dari hasil ketrampilan yang kemudian menjadi tindakan

praktis (Boudieu,1994; dalam Haryatmoko ,2003;10) . Atau dengan kata lain ,habitus merupakan pengalaman serta ketrampilan individu,ataupun antar individu.

Tipikasi tindakan aktor untuk berperan dalam menyusun program dan menentukan prioritas program ,senada dengan yang dikemukakan oleh Bourdieu diatas. Peran aktor terakumulasi dari pengalaman yang pernah dilaluinya, baik secara individual maupun secarak olektif. Selain itu, actor berperan karena ia memiliki ketrampilan yang memungkinkan menjadi perencana, yang berperan dalam penentuan program/kegiatan. Disatu sisi, aktor memiliki ketrampilan, pengalaman dan informasi yang ia peroleh tentang kegiatan atau program yang sangat butuhkan masyarakat ; juga disisi lain, para aktor secara kolektif memiliki pengalaman bersama dalam kebutuhan masyarakat, yang akan menjadi prioritas program dalam penentuan dalam penggunaa Alokasi Dana Desa. Secara representative aktor memiliki pengalaman dan ketrampilan alam dalam penentuan prioritas program itu sendiri.

(15)

64 5.2.2. Pemanfaatan Modal

Reproduksi tindaka sosial individu ataupun kelompok (atau kelas tertentu), hubungan antara individu, maupun antar kelompok, tergantung pada kepemilikkan sumberdaya (Haryatmoko,2003;11-12). Dalam Penentuan Prioritas Program Penggunaan ADD, peran aktor yang terlihat secara individu maupun secara kolektif bersumber dari modal yang dimanfaatkan nya .Pertama, pemanfaatan modal budaya dan modal simbolik. Misalnya peran actor Ketua Tim/dalam menentukan strategi penjaringan aspirasi masyarakat desa,actor menggunakan otoritasnya yang dikombinasikan dengan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan maupun kegiatan-kegiatan dinas di dalam kabupaten seperti kegiatan BIMTEK. Kedua, kombinasi modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik, terlihat dalam proses pendampingan dan penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa ,aktor dinas/skpd dan aktivis LSM, menggunakan kualifikasinya sebagai pendamping disertai dengan latar belakang dan praktisi, untuk mendampingi dan menyempurnakan programa/kegiatan yang belum tersusun secara ideal dalam musrembang kabupaten.

Kedua aktor ini memperlihatkan dominasinya dalam relasi antar aktor, dalam memberikan pemahaman ideal (pendampingan) tentang penentuan prioriras program penggunaan ADD Tim Perumus. Jika ditinjau lebih jauh,peran kedua actor tersebut kelihatan cederung mirip dengan konsepsi Bourdieu, yang apabila dikontekskan, akademisi dan praktisIi (aktivis LSM) merupakan kelompok (kelas)„ borjuasi kecil‟ yang ditandai dengan ketercukupan modal budaya, dalam strategi dominasi antar individu dalam konteks arena, individu yang berasal dari kelas tersebut cenderung menempatkan kualifikasinya secara simbolik dan kualifikasi modal budaya yang dimiliki (lihat Haryamoko,2003;12- 13). Modal sosial yang ditambahkan (digunakan dalam peran) disini, padadasarnya merupakan bentukkan yang lama, misalnya pengalaman pendampingan sebelumnya, atau pengalaman yang diperoleh melalui informasi tentang idealnya yang

(16)

65

didapatkan sesuai dengan statu ssimbolis profesi yang dijalani oleh para aktor,sebagai akademisi (dosen) dan praktisi (aktivis) LSM. Ketiga, pemanfaatan modal budaya dan modal sosial, yang tergambarkan dalam realitas adalah pada pelaksanaan/penggunaan Alokasi Dana Desa.

Jejaring yang telah dibangunnya untuk memecahkan kebuntuan komunikasi dan informasi antara desa dengan kabupaten tentang prioritas program . Disisi lain, dalam peran prioritas program , modal social yang telah dibangun antar actor memungkinkan perannya secara kolektif guna mendorong terlaksananya kegiatan dalam penggunaan alokasi dana desa. Reproduksi tindakan aktor-aktor dengan memanfaatkan berbagai sumber daya (modal) seperti yang dikemukakan diatas masih memiliki kekurangan, karena penulis tidak cukup mengidentifikasi modal ekonomi yang digunakan oleh actor dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa.

Namun dari analisa penulis ,kekurangan ini pada dasarnya subjektif penulis, karena tentunya dalam proses penentuan prioritas programa, para aktor juga menggunakan modal ekonomi, akan tetapi modal ekonomi ini masih berkaitan dengan kepemilikan intitusi masing-masing aktor, yang digunakan dalam rangka menentuan program yang manjadi prioritas di desa Pepera.

5.2.3. Arena Perjuangan Modifikasi Aktor

Menggambarkan konsepsi Bourdieu dengan menjelaskan peran actor dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa tentu tindakakan tuntas apabila tidak melihat dialektika antara Aktor dengan arena perjuangannya (struktur objektif). Telah dikemukakan

sebelumnya, bahwa

arena perjuangan yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah Peran Aktor dalam Penentuan Prioritas Program Penggunaan Alokasi Dana Desa. Namun dengan adanya kekurangan dalam penyusunan ini tentu arena tersebut tidak serta-merta disebut sebagai arena yang utuh (atau bahkan tuntas), dititik inilah para actor kemudian membangun arena-arena lain. Dalam konsepsi Bourdieu,

(17)

66

arena politik diandaikan dengan relasi/hubungan kekuasaan yang memiliki daya untuk membantu menata Menstruktur (membangun) arena-arena yang lain (RitzerdanGoodman,2010;583).

Menurut Bourdieu, arena perjuangan tidak dapat dipisahkan dengan habitus, arena juga merupakan lingkup hubungan-hubungan kekuatan antara berbagai jenis modal yang dimiliki para pelaku (individu/aktor) sehingga mampu mendominasi arena perjuangan tersebut (Haryatmoko2003;11,13). Pada titik inilah, tindakan aktor dalam arena (struktur objektif) tidak terlepas dari pemahaman aktor (logika) serta pemanfaatan modal dalam untuk mendominasi, bahkan menstrukrturisasi arena itu sendiri, inilah bentuk dialektika antara aktor, habitus, modal dan arena perjuangan.

Dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa, terdapat tiga arena lain yang dibangun oleh para aktor, dalam upaya mendorong keberhasilan dalam mentukan priotritas program, (1). Penjaringan aspirasi masyarakat, yang dimulai dengan metode contoh disatu dusun, untuk memudahkan penjaringan aspirasi dikampung-kampung lain. (2). tahap musyawarah dan penjaringan asprirasi masyarakat desa, yang dilakukan operator simdes, pendamping lokal desa bersama praktisi LSM. (3). perencanaan dan penyusunan RKPDES (rencana kerja pemerintah) yang merupakan wadah pembangunan wacana agar semua kegiatan yang telah disusun oleh masyarakat desa tetap dianggap penting dalam kerangka pembangunan.

Ketiga arena saling berkaitan dan merupakan strategi, kondisi yang didorong oleh para actor dalam penetuan prioritas program. Selain itu arena ini tidak dibangun secara terpisah dari inti arena perjuangan (penentuan priotitas proram penggunaan alokasi dana desa), namun menjadi bagian penting dari proses, yang memperlihatkan tindakan actor dalam memanfaatkan modal-modal, serta relasi dan pengalaman yang dimiliki, dengan mereproduksi tatanan baku program/kegiatan yang menjadi prioritas yang memiliki kelemahan-kelemahan prosedur.

(18)

67

5.3.

Faktor Penghambat Dalam Penetuan Prioritas Program

Penggunaan ADD

Berikut faktor penghambat utama dan Beberapa faktor yang prnghambatyang terjadi dalam penentuan proritas program penggunaan alokasi dana desa desa Pepera yang penulis temukan dalam penelitian, yaitu

5.3.1. Aksesbilitas

Menurut (Black, 1981) dalam (Miro, 2005), merupakan suatu konsep yang menghubungkan (mengkombinasikan): system tata guna lahan secara geografis dengan system jaringan transportasi yang menghubungkannya, di mana perubahan tata guna lahan, yang menimbulkan zona-zona dan jarak geografis di suatu wilayah atau kota, akan mudah dihubungkan oleh penyedia prasarana atau sarana angkutan. Mudahnya suatu lokasi dihubungkan dengan lokasi lainnya lewat jaringan transportasi yang ada, berupa prasarana jalan dan alat angkut yang bergerak di atasnya. Dengan perkataan lain suatu ukuran kemudahan dan kenyamanan mengenai lokasi petak(tata) guna lahan yang saling berpencar dapat berinteraksi (berhubungan) satu sama lain. Dan mudah atau sulitnya lokasi-lokasi tersebut dicapai melalui system jaringan transportasinya, merupakan hal yang sangat subjektif, kualitatif, dan relatif sifatnya ( Tamin, O.Z., 1997 dalam Miro, 2005).

Salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat desa di Indonesia adalah keterbatasan mereka dalam memperoleh barang dan jasa yang unutk memenui kebutuhan dasar socsal dan ekonomi. Karena kondisi wilayah yang berada di balik gunung,lereng dan jangkaunya hanya melalui darat yaitu dengan berjalan kaki, kepadatan populasi yang rendah dan jarak antar desa yang jauh, maka akses yang tersedia sangat sangat terbatas. Akses yang di gunakan masyarakat desa Pepera untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan lainnya yaitu dengan berjalan kaki sekitar 4 jam perjalanan, baik dari desa Pepera

(19)

68

Ke kota ataupun dari kota ke Pepera, jarak jangkauan dan perjalanannya tak semudah dan semulus jalan di daerah kota, masyarakat selalu menggunakan sepatu lumpur dengan memikul barang-berang belanjaan dari kota, tanpa mengenal rasa lelah karena memikul beban dengan melewati medan perjalanan yang sangat jejek, rusak, terjal,lumpur dan di tengah hutan. Hal ini juga dipengaruh oleh letak geografis desa pepera yang berada di dareah perbatasan antara Kabupaten Pegunungan Bintang dengan Papua New Guine (PNG) sehingga akses dan medan perjalanannyanya sangat sulit dijangkau.

Aksesbilitasi merupakan faktor penentu dalam pembangunan suatu desa. Adapun bentuk kesuksesan program yang dirancang unutk memperbaiki kondisi kehidupan peduduk miskin di pedesaan, akan sangat tergantung pada akses yang dimiliki terhadap berbagai fasilitas dang barang (anonim,2002). Dalam perbaikan aksesbilitas yang dilakukan oleh pemerintah daerah, kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan masayarakat desa. Hal ini dkarenakan dalam merencabakan kebutuhan akses masyarakat pada spesifikasi standar pemerintah pusat, yang tidak merefleksikan kebutuhan yang diinginkan oleh masyarakat, data yang digunakan cenderung berdasarakan data sekunder yang kurang valid, yang semkin memperkuat kauhnya proses perencanaan dan kebutuhan masyarakat desa.

5.2.2. Lambatnya respon Pemerintah Desa Pepera terhadap kebutuhan masyarakat

Pemerintah Desa yang lambat dalam merespon kebutuhan masyarakat mengakibatkan tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan yang dilakukan pemerintah desa rendah. Kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi khususnya kebutuhan dalam pembangunan desa yang menyebabkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan rendah.

5.2.3. Kondisi jalan yang kurang baik Kondisi jalan merupakan salah satu faktor

utama kegiatan itu berjalan lancar atau tidak. Melihat kondisi jalan dimasing-masing Kampung yang ada di Desa Pepera sangat memungkinkan tingkat

(20)

69

partisipasi masyarakat rendah karena akses ke masing-masing Kampung sedikit terhambat.

5.2.4. Keterbatasan ruang gerak masyarakat Pada dasarnya masyarakat Desa Pepera

bersedia ikut menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk kemajuan desa tetapi pemerintah Desa cenderung menutup runag gerak masyarakat untuk ikut bergabung. Pasifnya masyarakat dalam perencanaan pembangunan berdampak pada pelaksanaan pembangunan yang kurang didukung oleh masyarakat meskipun pembangunan ini untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Sampai saat ini ruang gerak masyarakat dibatasi oleh pemerintah desa dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan pemerintah desa, sehingga masyarakat hanya mau ikut berpartisipasi apabila pembangunan itu dilaksanakan oleh panitia pembangunan di Desa masing-masing meskipun masih dalam koordinasi Desa.

5.2.5. Keterbatasan biaya masalah biaya adalah masalah klasik dalam setiap

melaksanakan kegiatan, hal ini juga yang membuat pembangunan di Desa Pepera mengalami lambat. Anggaran yang digunakan untuk pembangunan dan kemajuan desa harus terbagi untuk 4 Desa. Untuk pembangunan dimasing-masing Desa, subsidi dari pemerintah desa hanya 20% dari jumlah biaya yang dibutuhkan dan untuk sisanya panitia pembangunan yang dibentuk di masing-masing Desa bertanggung jawab atas kekurangannya

5.2.6. Tingkat pendidikan yang kurang dan minim sehingga membuat banyak

aparatur maupun masyarakat desa masih terbatas dengan ilmu pengetahuan seperti menhitung dan berbahasa Indonesia baku, masyarakat berinteraksi masih menggunakan bahasa asli daearah yaitu ngalum dan tok visin.

Hasil wawancara dengan Bapak Mario Yopeng sekertaris distrik Pepera, menurutnya :

“Faktor utama yang selama ini menjadi kendala dalam pembangunan prioritas program yang telah di rencanakan tidak terealisasi dengan baik di desa dikarenakan faktor medan dalam

(21)

70

perjalanan/aksesbilitasi, letak geografis, biaya barang dan biaya hidup yang tinggi di kabupaten pegunungan bintang serta tingkat pengtahuan minim banyak aparatur kampung maupun kepala kampung yang hanya lulusan SD dan sekolah hanya sampai kelas 5 atau 4 SD saja lalu dipercaya masyarakat untuk memimpin dan membina masyarakat hal-hal seperti begini yang sering menjadi faktor masyarakat selalu di bohongi oleh aktor-aktor kepentingan tertentu. Akhirnya program-program yang di prioritaskan selalu saja tidak terealisasi dengan baik di desa Pepera ”4.

Referensi

Dokumen terkait

Transformasi politik yang mengiringi gerakan kaum muda NU, mereka concern di jalur kultural dan berkiprah dengan mengusung wacana pemikiran dan gerakan-gerakan politik yang

pemberdayaan UKM, peningkatan peran Perusahaan Daerah, pengembangan jaringan usaha, informasi bursa tenaga kerja, pengembangan keahlian/ketrampilan. • Pemberdayaan Masyarakat

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Eisend & Langner, 2010) yang mengungkapkan bahwa keahlian seorang selebriti yang mengendorse sebuah

Tujuan studi lapang ini adalah untuk mengidentifikasi keragaman cacing tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat dan mengkaji hubungan faktor-faktor abiotik seperti suhu

Sikap tersebut merupakan kesiapan untuk penghayatan terhadap pengetahuan ini meliputi komponen pokok untuk praktik pencegahan : kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep,

Gas content dihitung berdasarkan data yang diambil dari analisis proksimat pengambilan sampel pada tiga conto batubara yang mewakili lapisan batubara

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,atas karunia dan hidayahNya sehingga penyusunan tesis yang berjudul “Analisis Kelayakan Investasi Studi

Peneliti mengambil judul ini, karena pada saat ini khususnya di era yang semakin modern begitu banyak budaya asing yang telah masuk ke Indonesia khususnya di pedesaan, hal