• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROYEK CAPTURING CORAL REEF AND RELATED ECOSYSTEM SERVICES LAPORAN TAHUNAN 2016 RINGKASAN PROGRAM YANG DILAKUKAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROYEK CAPTURING CORAL REEF AND RELATED ECOSYSTEM SERVICES LAPORAN TAHUNAN 2016 RINGKASAN PROGRAM YANG DILAKUKAN DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TAHUNAN 2016

RINGKASAN PROGRAM YANG

(2)

Terimakasih dan penghargaan

kami sampaikan dengan hormat

kepada seluruh masyarakat Selayar

yang telah membukakan pintu

menerima kami, para peneliti

CCRES, yang sedang berusaha untuk

mengembangkan instrument teknis

yang nantinya akan dapat digunakan

oleh masyarakat dan pemerintah

dalam upaya membangun dan

mengelola kawasan pesisir.

Keberhasilan kegiatan ini bergantung pada terciptanya kerjasama yang baik antara tim CCRES, masyarakat, dan pemerintah sebagai mitra kerja kami yang meliputi:

• Kementerian Kelautan dan Perikanan RI

• BPSPL Makassar

• Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

• Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor

• Universitas Hasanuddin • Dinas Kelautan dan Perikanan,

Selayar.

Dalam publikasi ini kami berharap berbagi cerita mengenai pekerjaan bersama masyarakat dan mitra di Sulawesi Selatan selama tahun 2016. Dengan bangga, kami menyebut Selayar sebagai wilayah kerja kami di Indonesia.

Melanie King

Direktur proyek, CCRES

SEKAPUR SIRIH LAPORAN CCRES

INDONESIA TAHUN 2016

DI ATAS (KIRI KE KANAN): Bu Andi Rostati MS, Bontomatene, dan Bu Andi Intan, Barugaya, menyambut kita ke Bontomatene.

Foto: M. Paterson

Si penolong kecil di Bontolebang.

Foto: M. Paterson

Menggambar peta, mengidentifikasi masalah pesisir dengan penduduk desa di Bontomatene.

Foto: M. Paterson

DI BAWAH: FGDs dangan masyarakat pesisir adalah sesuatu yang

menyenangkan, anggota tim perubahan perilaku pada saat mereka mengunjungi desa Bontolebang, Selayar.

(3)

SOROTAN CCRES 2016

AGUSTUS

Keterampilan baru dalam pengumpulan data

Acara pelatihan dan lokakarya untuk meningkatkan kapasitas dalam menjalankan survei digelar oleh peneliti UC Davis. Lebih dari 40 peneliti dan profesor dari UNHAS menghadiri acaranya untuk mendukung kegiatan Bio-Lewie di Selayar. Tim peneliti menguji metode mereka untuk mengumpulkan data di lapangan.

SEPTEMBER

Bagaimana merancang sebuah MPA

Para ahli dari UQ, Universitas Melbourne, Australia, dan WWF Indonesia datang bersama-sama di Denpasar, Bali, untuk melatih 30 peserta dalam metode-metode merancang Kawasan Konservasi Laut (MPA), baik dasar maupun lanjutan, di lokakarya perencanaan tata ruang wilayah laut.

Mencari tahu cara-cara untuk mengubah perilaku

Dua tim peneliti (dari UQ/IPB dan UQ/LIPI), yang terdiri dari psikolog, serta ilmuwan sosial dan ekologi laut, melakukan kunjungan ke Selayar. Para

peneliti mendatangi beberapa desa di Selayar dan bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk mengetahui cara-cara yang terbaik dalam

mempromosikan perilaku masyarakat pesisir yang berkelanjutan.

Bio-LEWIE mulai di Selayar

Survei rumah tangga untuk mendukung model Bio-LEWIE dimulai. Data dikumpulkan dari 487 rumah tangga dari 12 desa dari keseluruhan 52 desa di enam kecamatan Pulau Selayar, dan dari 256 usaha di Benteng.

NOVEMBER

Mengubah perilaku rumah tangga

Tim peneliti UQ/IPB, yang bermaksud untuk merancang sebuah program perubahan perilaku di tingkat rumah tangga, kembali ke Selayar pada bulan November untuk mengumpulkan data melalui survei dan FGDs. Tim itu mengumpulkan data dari 105 survei dan melakukan sembilan FGDs di berbagai desa di Selayar. Perempuan terdiri dari 49 persen (51 orang) dari peserta.

JANUARI

Apa yang memotivasi nelayan?

Tim peneliti yang dipimpin oleh mahasiswa S2 Lisda Haryani dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, melakukan survei di enam desa di Selayar, lewat wawancara terhadap nelayan tradisional, pejabat desa dan pengusaha lokal, untuk memahami aneka tekanan yang dirasakan oleh nelayan karang dan kesediaan mereka untuk menggeser fishing ground (tempat memancing) mereka.

Dinamika pemetaan di masyarakat pesisir

Tim sistem analisis dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Institut Pertanian Bogor (IPB), melakukan putaran kedua diskusi kelompok terarah (atau FGD) di Selayar untuk memvalidasi dan memperbaiki hasil yang diterima dari kunjungan mereka sebelumnya. Model simulasi sedang dikembangkan, divalidasi dan diuji.

Kemitraan baru untuk komponen pengembangan usaha

CCRES menyambut Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

sebagai mitra baru CCRES di aktivitas pekembangan bisnis di Indonesia.

MEI

Dewan Penasehat dan Komite Pengarah Teknis

Rapat Dewan Penasehat CCRES digelar di Jakarta. Rapat membahas pengujian instrumen CCRES dan prioritas pengembangannya. Komite Pengarah Teknis juga berkunjung ke Selayar untuk menjelajahi tantangan lingkungan dan teknis di sana, dan melihat kemajuan pekerjaan CCRES.

Perilaku masyarakat pesisir yang berkelanjutan dibahas di desa Parak pada bulan September 2017.

(4)

CCRES MEMPROMOSIKAN PERILAKU YANG

BERKELANJUTAN

TIM UQ/IPB-BOGOR, MENDORONG

PERUBAHAN PERILAKU DI TINGKAT

RUMAH TANGGA

Salah satu tim yang merupakan kemitraan antara UQ dan IPB-Bogor menganalisis berbagai kebutuhan, nilai dan dorongan-dorongan yang diperlukan dalam melakukan pembinaan perubahan perilaku, baik perseorangan maupun rumah tangga.

Tim tersebut kembali ke Selayar pada bulan November untuk mengumpulkan data melalui survei dan diskusi

kelompok terarah (FGDs).

Survei ingin menemukan bagaimana sikap, nilai-nilai dan norma-norma sosial berkontribusi terhadap persepsi praktek-praktek yang merusak. Diskusi terfokus dilakukan untuk memahami faktor-faktor sosial dan karakteristik perilaku yang menghalangi atau menguatkan individu untuk melakukan aksi melawan perilaku yang tidak ramah lingkungan.

Pekerjaan ini melibatkan banyak mitra baik dari Indonesia maupun Australia, termasuk tim dalam foto di atas.

Diskusi kelompok terarah (FGDs) dengan perempuan di desa Bungaiya.

Foto: M. Paterson

Harjunani Kumoloraras (CCRES In-country Coordinator), Andi Penrang (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Selayar), Erik Simmons (Universitas Queensland, Brisbane, Australia), Dr Yudi Wahyudin (PKSPL IPB Bogor), Ibnu Najib (penterjemah), Paula Bradley dan Mark Paterson (Currie Communications).

Para ilmuwan dari University of Queensland (UQ), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB-Bogor) yang terbagi ke dalam dua tim peneliti mendatangi beberapa desa di Pulau Selayar selama bulan September. Mereka bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat di setiap desa untuk mengetahui cara-cara yang terbaik dalam mempromosikan perilaku masyarakat pesisir yang berkelanjutan. Setelah melakukan kunjungan, kedua tim memilih desa-desa yang menjadi lokasi penelitian. Kemudian, mereka mulai mempelajari faktor-faktor potensial yang dapat digunakan untuk mengubah cara hidup

penduduk setempat dan bagaimana mereka bekerja dan berinteraksi dengan ekosistem pesisir, termasuk ekosistem perikanan dan terumbu karang.

(5)

Dalam lingkup penelitian, CCRES mengumpulkan data dari 105 survei dan melakukan sembilan FGDs di berbagai desa di Selayar, termasuk di dalamnya 49 persen (51 orang) perempuan. Tim ini menyediakan platform bagi semua penduduk desa untuk membahas masalah-masalah yang mereka hadapi, dan solusi yang diharapkan.

Setelah data dari survei dan FGDs dianalisis, tim UQ/IPB-Bogor akan menciptakan dan menguji sebuah intervensi (berdasarkan pada prinsip-prinsip UQ Program Parenting Positif atau PPP) untuk mengubah perilaku masyarakat setempat. Intervensi tersebut bertujuan untuk mengurangi faktor-faktor risiko yang menyebabkan individu-individu merusak ekosistem laut dan juga untuk meningkatkan faktor-faktor yang dapat mendorong perlindungan ekosistem laut tersebut.

TIM UQ/LIPI: MENGEMBANGKAN

SEBUAH TOOLKIT TATA KELOLA

PESISIR ADAPTIF

Tim lainnya yang merupakan kemitraan antara UQ dan LIPI berencana

untuk mengembangkan konsep dan prosedur yang bisa digunakan para pemimpin dan lembaga untuk membangun tata kelola dan pengelolaan pesisir yang adaptif. Tim yang terdiri dari Profesor Helen Ross dari UQ serta Dr Dedi Adhuri dan Pak Ali Yansyah Abdurrahim dari LIPI tersebut ingin memahami dinamika yang terkait dengan perubahan dalam sistem sosial-ekologi pesisir dan selanjutnya ingin mengembangkan sebuah toolkit (perangkat kerja) tata kelola yang bisa membantu para pengambil kebijakan, baik di instansi pemerintah, LSM, atau kelompok masyarakat setempat, untuk mendorong penggunaan sumber daya kelautan dan penghidupan yang berkelanjutan, di berbagai tingkat pemerintahan, baik pemerintahan formal maupun adat.

Toolkit tersebut akan terdiri dari: • Sebuah kerangka konseptual dan

prosedural untuk tata kelola pesisir adaptif (kebijakan, perencanaan dan pengelolaan).

Di desa Kahu Kahu, Dr Dedi Adhuri dan Pak Ali Yansyah Abdurrahim (LIPI) membicarakan kawasan konservasi laut setempat yang digambarkan di kaos ini.

Foto: M. King

Pak Ali Yansyah Abdurrahim dari LIPI memimpin acara diskusi dengan para pemimpin desa Barugaia di Selayar.

Foto: M. Paterson

Sepatu: Ambang pintu kelihatan seperti ini pada saat FGDs diadakan di rumah anda!

Foto: M. Paterson

• Sebuah kumpulan prinsip-prinsip dan faktor-faktor keberhasilan untuk memungkinkan tata kelola pesisir adaptif.

• Sebuah kumpulan strategi untuk memungkinkan tata kelola pesisir adaptif, berdasarkan contoh-contoh dicatat di Selayar, Indonesia. Kerja lapangan untuk tim UQ/LIPI dimulai pada akhir tahin 2016. Hasil penelitian awal dari kedua tim peneliti akan disampaikan di Forum Stakeholder pada bulan Juli 2017 di Jakarta.

(6)

Dr Dedi Adhuri

BERTEMU TIM KITA:

DR DEDI ADHURI

Antropolog Dr Dedi Supriadi Adhuri memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman dalam meneliti pertentangan sosial, etnisitas, tata

kelola dan pemerintahan sumber daya laut, konflik perikanan, rehabilitasi pasca-bencana

perikanan dan kawasan pesisir, dan pengembangan masyarakat. Dalam lima tahun terakhir, sebagai koordinator Kelompok Studi Maritim, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI, Dr Adhuri menjadi semakin terlibat dalam studi tentang masyarakat pesisir dan perubahan iklim. Dia juga bekerja dalam bidang pengelolaan warisan budaya di Indonesia.

Bersama-sama dengan Prof Helen Ross dari Universitas Queensland, Dr Adhuri sedang memimpin sebuah proyek pengelolaan pesisir secara adaptif yang difokuskan

pada beberapa desa di Pulau Selayar.

“Studi kami ingin mengembangkan metode-metode partisipatif untuk membantu masyarakat (dengan pemerintah) mengelola sumber daya kelautan dan mata pencaharian. Kami berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah untuk membangun proses-proses pengelolaan sumber daya pesisir,” kata Dr Adhuri. Dr Adhuri bertanggung jawab untuk pengumpulan data, jaringan kerjasama dan memfasilitasi kolaborasi pemangku kepentingan. Hasil-hasil studi tersebut akan mendukung pengembangan sebuah toolkit tata kelola pesisir adaptif (lihat artikel halaman 5).

PERKEMBANGAN USAHA UNTUK PERTUMBUHAN EKONOMI

YANG BERKELANJUTAN

strategies), persoalan-persoalan yang dihadapi dan keterbatasan yang dimiliki

• menginformasikan kerangka pengumpulan data.

Selama kunjungan itu, pengamatan dilakukan mengenai dinamika rantai nilai dan pasar untuk berbagai produk dan usaha, dan data ini akan dianalisis lebih lanjut dalam kunjungan lapangan berikutnya.

Prof Damian Hine (tengah) dengan (kiri ke kanan) Prof Al Edwards (Komite Pengarah Teknis), Dr Anya Phelan (Universitas Queensland), Pak Ir Jusman (Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Selayar) dan Dr Agus Eko Nugroho (LIPI).

Foto: A. Hooten

Pada tahun 2016 CCRES menyambut Dr Agus Eko Nugroho, Pak Bintang Dwitya, dan Ibu Nur Hadiati Endah dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI sebagai mitra baru CCRES untuk ‘komponen perkembangan usaha’ di Indonesia.

Bersama Prof Damian Hine dan Dr Anna Phelan dari Universitas Queensland, tim tersebut memprakarsai komponen usaha di Indonesia dengan melakukan kunjungan pertama mereka ke Selayar. Kunjungan tersebut dirancang untuk: • mengidentifikasi perusahaan

lokal, kegiatan ekonomi yang dilakukan di desa dan perairan laut, infrastruktur yang tersedia, masalah dan kekhawatiran, pemangku kepentingan utama, dorongan-dorongan kunci dan peluang rantai nilai

• mengembangkan pemahaman lebih jelas tentang strategi-strategi berpenghidupan (livelihood

(7)

MEMAHAMI PERIKANAN PELAGIS DI INDONESIA

Bu Lisda, di bawah pengawasan Prof Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, UNHAS, dan Ilmuwan Kepala CCRES Prof Peter Mumby, UQ, menjelajahi keadaan di enam desa di Selayar untuk memahami aneka tekanan yang dirasakan oleh nelayan tradisional. Penelitian ini berusaha untuk memahami kesulitan apapun bagi nelayan lokal bergeser ke memancing pelagis, tantangan yang mereka

hadapi kalau mengubah teknik menangkap ikan dan bagaimana mereka dapat didorong untuk berpindah menjadi nelayan pelagis. Di setiap desa, nelayan tradisional, pejabat desa dan pengusaha lokal yang terlibat dalam penangkapan, perdagangan dan pengelolaan ikan karang disurvei. Survei dilakukan terhadap 92 warga dari usia 15 sampai 85 tahun.

Beberapa temuan menunjukkan bahwa penangkapan ikan karang tahunan per keluarga cukup menurun. Sebagian besar nelayan karang di enam desa yang disurvei jatuh ke dalam kategori pendapatan yang rendah, oleh karena itu kebanyakan dari mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya. Semua nelayan tradisional di setiap desa yang disurvei memiliki beberapa mata pencaharian alternatif, selain penangkapan ikan.

Berdasarkan tiga tingkat insentif moneter dan skenario pemancingan yang berbeda, sebagian besar

nelayan akan bersedia untuk beralih ke memancing pelagis.

Lisda Haryani dengan Jamaluddin Fitrah Alam dan seorang nelayan terumbu karang di desa Kahu-Kahu, Selayar.

Foto: L. Haryani

Dr Yudi Wahyudin (PKSPL IPB Bogor) dengan nelayan di desa Bungaiya.

Foto: M. Paterson

Apakah nelayan di Selayar bersedia untuk bergeser dari nelayan tradisional ke nelayan pelagis?

Penelitian yang dipimpin oleh mahasiswa S2 Lisda Haryani dari UNHAS berusaha menjawab pertanyaan tersebut untuk pembuat kebijakan di tingkat propinsi. Menangkap ikan secara berlebihan di terumbu karang telah berdampak buruk pada fishing grounds pesisir di Selayar. Karena sebagian besar desa-desa kecil mengandalkan pada memancing ikan untuk mata pencahariannya, masyarakat setempat semakin menghadapi kemiskinan terkait dengan kerusakan ekosistem terumbu karang di sekitarnya.

Salah satu solusi yang dievaluasi oleh peneliti adalah mendorong nelayan setempat untuk berpindah dari mencari ikan di terumbu karang menuju nelayan pelagis laut terbuka.

Pak Suryo Kusomo (PKSPL IPB Bogor) berbicara dengan para peserta di FGD di Bontomatene.

(8)

MENINGKATKAN PEMAHAMAN MENGENAI

EKONOMI SETEMPAT

Dari 487 rumah tangga yang disurvei, 152 yang terlibat dalam kegiatan pemancingan, 245 yang terlibat dalam kegiatan pertanian, dan 180 menjalankan usaha kecil.

Rumah tangga nelayan ditanya seputar waktu yang biasa dibutuhkan untuk mencari ikan pada musim penghujan dan kemarau. Rincian dikumpulkan berdasarkan lokasi kegiatan pemancingan, kapal dan peralatan yang digunakan, waktu yang dihabiskan untuk memancing, dan jumlah ikan yang ditangkap. Rumah tangga dapat melakukan sampai tiga jenis pemancingan per musim, dibedakan terutama oleh lokasi atau alat yang digunakan. Dari 152 rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan pemancingan, 144 rumah tangga mencari ikan selama musim kemarau dan 116 rumah tangga memancing selama musim hujan.

Sebanyak 256 usaha yang terdaftar disurvei di Benteng, Benteng Utara dan Benteng Selatan. Informasi dikumpulkan berdasarkan tenaga kerja, biaya, penjualan dan pembiayaan. Secara keseluruhan, pengumpulan data Bio-Lewie sangat berhasil. Pendata memperoleh pengalaman sambil belajar lebih banyak tentang Selayar dan pentingnya ekosistem terumbu karang setempat.

Tim, termasuk para enumerator dari Universitas Hasanuddin, beristirahat di pantai Batu Kerapu, Selayar, sesudah melakukan survei rumah tangga untuk model Bio-LEWIE.

Foto: A. Lindsay

Nur Tri, Gita, Jumniaty, Awaluddin, Haidin Nur dan Steven menikmati snack di Layolo Baru, Selayar.

Foto: A. Lindsay

Data untuk model Bio-Lewie Selayar dikumpulkan selama tahun 2016 di Pulau Selayar. Pengumpulan data dilakukan dengan tim terdiri dari 16 orang enumerator (mahasiswa UNHAS). Tim itu menggunakan tablet dan perangkat lunak Open Data Kit untuk mencatat data. Setidaknya separuh para enumerator bisa berbicara Bahasa Selayar dengan lancar.

Sebanyak 487 rumah tangga disurvei dari 12 desa di enam kecamatan. Dari masing-masing desa, dua dusun dipilih untuk survei, dengan sekitar 40 rumah tangga yang dipilih secara acak untuk pengambilan sampel.

Survei rumah tangga mengumpulkan informasi demografis, kegiatan penghasilan rumah tangga

(pemancingan, pertanian, peternakan dan perusahaan), belanja, keamanan pangan, dan keuangan.

(9)

BERTEMU DENGAN TIM KITA

DR NOVIE SETIANTO, PEMIKIR SISTEMIK

‘Mudah-mudahan, kita dapat

menemukan beberapa poin maksimal dalam sistem, sehingga kita dapat mengusulkan keputusan untuk meningkatkan keadaannya. ‘Kami menggunakan dan mengembangkan aplikasi iPad unik yang disebut SESAMME untuk mendorong partisipasi pemangku kepentingan. Dilihat dari keterlibatan peserta, saya yakin SESAMME adalah alat yang efektif untuk membantu peserta untuk berbicara dan berpartisipasi dalam pembicaraan.’ Pada tahun 2013 penelitian Dr Setianto ini diakui oleh komunitas sistem ilmuwan global ketika dia menerima penghargaan di konferensi tahunan ke-57 International Society for the Systems Sciences (ISSS) di Vietnam untuk karya tulis S3. Dr Setianto sekarang bekerja sama dengan rekan-rekan CCRES dari Indonesia dan Australia, berusaha untuk mengembangkan model dinamis dari sistem di daerah pesisir Selayar.

Data yang dikumpulkan di FGDs digelar pada akhir tahun 2015 dianalisis dan dibicarakan bersama peserta selama Januari 2016. Model simulasi akan dikembangkan untuk mengidentifikasi poin maksimal dalam sistem sosial-ekologi di mana perubahan dalam penggunaan sumber daya yang ada atau kegiatan bisnis dapat membawa manfaat ekologi, ekonomi dan sosial secara keseluruhan.

Dr Novie Setianto.

Foto: M. Paterson

BAGI Dr Novie Setianto CCRES

menghubungkan rasa ingin tahunya

dalam pemikiran sistemik dengan

penelitian interdisipliner dan

keterlibatan pemangku kepentingan

untuk pertama kalinya.

‘Pendekatan sistem dari CCRES memungkinkan saya untuk

menerjemahkan sistem teori — yang saya gali dalam tesis saya — menjadi kegiatan dunia nyata. Hal ini menarik,’ kata Dr Setianto.

Dr Setianto adalah post-doc di Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga lulusan dari Universitas Queensland.

‘Bekerja dengan kelompok pemangku kepentingan yang berbeda untuk memetakan sistem sosio-ekologis mereka sangat menantang, namun menarik,’ kata Dr Setianto.

Bersantai setelah FGD di desa Tile-Tile.

Foto: M. Paterson Tenggelam dalam pemikiran selama FGD di desa Bungaiya.

(10)

LAMUN MENGURANGI BAKTERI, MEMILIKI MANFAAT BAGI

KESEHATAN MANUSIA DAN BIOTA LAUT

Peneliti Ibu Nur Abu, Universitas Hasanuddin, memeriksa rumput laut.

Foto: J. Lamb

Penelitian sebagian didanai oleh CCRES yang dilakukan di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, oleh Dr Joleah Lamb dari Cornell University, AS, dan rekan-rekannya (termasuk para peneliti dari UNHAS) menemukan bahwa padang lamun dapat mengurangi bakteri patogen yang membahayakan kesehatan manusia dan biota laut hingga 50 persen.

Temuan ini menekankan pentingnya ekosistem lamun bagi kesehatan manusia dan biota laut, misalnya terumbu karang, perikanan (tangkap dan budidaya) dan rumput laut di wilayah pesisir di seluruh dunia. Lamun mendukung perbaikan kualitas air di wilayah pesisir (di mana permukiman menjadi semakin padat), termasuk mendukung budidaya pantai untuk mengatasi kekurangan pangan global (diperkirakan bahwa satu miliar orang akan menghuni dataran rendah pesisir pada tahun 2060).

Pengurangan patogen manusia dalam air sangat penting bagi kesehatan manusia. Tanaman ini, dengan biosida alaminya, dapat menawarkan manfaat ekonomi yang signifikan. Meskipun lamun dikenal dapat menghasilkan antibiotik alami, namun hal itu belum pernah dievaluasi untuk kemampuannya menghilangkan patogen dari laut, atau mengurangi penyakit di sana.

Di dekat garis pantai Kepulauan Spermonde, tim peneliti menilai pengaruh lamun pada mikroba patogen laut dan penyakit. Tim itu menemukan bakteri Enterococcus yang melebihi tingkat yang aman yang direkomendasi bagi kesehatan manusia hingga 10 kali lipat. Tetapi tingkat Enterococcus berkurang tiga kali lipat dengan adanya lamun.

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa berlimpahnya beberapa patogen ikan laut dan invertebrata juga lebih rendah dengan adanya padang lamun — hingga 50%. Juga, survei lapangan yang meneliti 8.000 koloni karang pembangun terumbu, yang terletak berdekatan dengan padang lamun, menunjukkan penurunan hingga 2 kali lipat untuk penyakit dibandingkan karang tanpa tetangga padang lamun.

Penulis utama, Dr Joleah Lamb, mengatakan: ‘Karena ekosistem lamun mengurangi patogen dan meningkatkan kualitas air, ekosistem itu memberikan jasa penting kepada masyarakat pesisir — penyaringan air — serta nilai ekonomi terkait.’

Penulis pendamping, Prof. Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, UNHAS (salah satu mitra CCRES di Indonesia), mengatakan: ‘Semoga penelitian ini akan semakin meningkatkan kesadaran masyarakat umum tentang pentingnya melindungi ekosistem lamun.

‘Peran ekosistem lamun masih belum banyak dikenal, terutama dalam konteks mengurangi patogen yang dapat membahayakan manusia maupun biota,’ Prof. Jompa

mengatakan. ‘Temuannya menunjukkan, kita harus menjadikan padang lamun sebagai aset penting bangsa.’ Prof. Jompa menambahkan bahwa temuannya menegaskan pentingnya melindungi kualitas dan kuantitas ekosistem lamun untuk menjadi bagian integral dari pengelolaan ekosistem pesisir di Indonesia, terutama yang berdekatan dengan atau berada dalam Kawasan Konservasi Laut atau daerah pariwisata.

‘Mudah-mudahan temuannya dapat menggugah pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan sebagian dari ekosistem lamun sebagai zona yang dilindungi dan merehabilitasi habitat lamun yang telah terdegradasi parah,’ Prof. Jompa mengatakan.

Temuan-temuan ini diterbitkan di majalah Science pada bulan Februari 2017.

(11)

BERTEMU DENGAN TIM KITA

ZUL JANWAR, PERENCANA TATA RUANG

‘Saya bekerja sama dengan CCRES untuk memberikan bantuan kepada pemerintah daerah dengan mengembangkan rencana tata ruang wilayah laut. Rencana ini menggabungkan analisis kondisi biofisik (terumbu karang) dengan kegiatan komersial masyarakat,’ kata Pak Zul.

‘Kita bertujuan untuk menghasilkan sebuah rencana yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah Selayar untuk mengurangi tekanan pada terumbu karang dan juga melindungi pendapatan masyarakat setempat, untuk saat sekarang dan pada masa depan.’

Pak Zul sangat percaya pada pengambilan keputusan yang dipandu oleh prinsip-prinsip ilmiah. ‘Penataan ruang laut harus didukung data yang tepat. CCRES unik dalam pendekatannya terhadap perencanaan tata ruang dan usaha dan telah membantu saya untuk lebih memahami pengumpulan dan analisis data saya.’

Pak Zul menguji pemahamannya yang baru ditemukan dengan berpartisipasi dalam rangkaian penyelaman di

Selayar berserta tim Komponen 1, untuk menilai kondisi terumbu karang dalam survei berskala luas.

‘Kami menggunakan kombinasi menyelam, bersnorkel dan manta tow untuk mengamati terumbu dan substrat bawah di beberapa lokasi,’ katanya. Perlu diketahui bahwa sebuah manta tow melibatkan seorang peneliti (dengan snorkel) ditarik dari belakang speedboat sambil mencengkeram papan dan menulis penilaian berdasarkan pengamatan mereka dilakukan. Ini dikarenakan cara ini dianggap cara yang murah dan efektif bagi para peneliti untuk melakukan survei di wilayah yang luas.

Pak Zul telah berhasil menyelesaikan S2 dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Bremen. Sekarang dia mengelola Kawasan Konservasi Laut, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan untuk Dinas Kelautan dan Perikanan Laut, Selayar.

Dan bila Anda ingin mengetahui, lagu favorit Van Halen-nya adalah I

can’t stop loving you (Saya tidak bisa

berhenti mencintaimu). Pak Zul Janwar

Foto: N. Wolff

KETIKA Pak Zul Janwar tidak sedang

melakukan kegiatan di laut seperti

bergelantung di belakang manta tow

sambil mengamati terumbu karang,

dia biasanya menikmati kegiatan

menyelam dan bepergian, makan

ayam goreng dengan saus cabai dan

musik kelompok rock tahun 1980-an

Van Halen.

Kutipan favoritnya merangkum pendekatan yang dia gunakan untuk pekerjaannya dalam pengelolaan ekosistem pesisir:

‘Permasalahannya bukan masalahnya. Yang menjadi masalahnya adalah sikap anda dalam menghadapi masalah ini.’ — Kapten Jack Sparrow, Pirates of the Caribbean

Pekerjaan yang dilakukan Pak Zul dengan CCRES bertujuan untuk menyeimbangkan pengelolaan kesehatan terumbu karang dengan tujuan usaha masyarakat pesisir. Dia pertama kali mulai bekerja dengan CCRES pada bulan Agustus 2014.

(12)

CCRES adalah proyek pendukung teknis regional yang bertujuan untuk membuka jalur penghasilan baru yang berkelanjutan untuk masyarakat di wilayah pesisir di kawasan Asia Timur-Pasifik. CCRES akan mengembangkan produk-produk pengetahuan — yang mendukung perancangan program-program global, regional dan nasional serta model teknis dan alat-alat perencanaan yang dapat memberikan bimbingan untuk menyiapkan rencana-rencana pengelolaan pesisir berdasarkan masukan dari masyarakat.

CCRES ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr Novie Setianto, Dr Dedi Adhuri, Ibu Tesnawati Copeland, Pak Ali Yansyah Abdurrahim dan Ibu Harjunani Kumoloraras atas bantuan mereka dengan publikasi ini.

Hubungi Melanie King CCRES

Direktur proyek CCRES Institut Global Change Universitas Queensland T (+61 7) 3443 3100 M (+61) 412 952 220 E [email protected]

Kunjungi www.ccres.net

Ke mana pun kita kunjungi, kita disambut dengan senyuman.

Referensi

Dokumen terkait

• Manajer operasional harus memahami bahwa perusahaan beroperasi dalam system yang terbuka, sehingga terdapat banyak factor yang dapat mempengaruhi perkembangan

Dalam penelitian yang lain di Malaysia sebuah penelitian kualitatif oleh Oon, et al.(2010) didapatkan data bahwa wanita yang tidak periksa pap smear pada umumnya mereka menge-

Kesimpulan hasil penelitian ini adalah UD Mansur memperlakukan semua jenis produknya sama bobotnya sehingga dapat dikatakan bahwa UD Mansur belum menerapkan metode

Dalam penelitian, observasi dikelompokkan sebagai penelitian ilmiah apabila observasi tersebut secara khusus dirancang untuk menjawab sebuah

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kulit daging buah kopi fermentasi MOL sebagai ransum dalam bentuk pelet terhadap kelinci peranakan rex jantan lepas

terintegrasinya negara2 miskin ke dalam sistem perekonomian dunia/ global, tetapi justru karena terlalu intensifnya negara2 maju terintegrasi ke dalam sistem. ekonomi dunia

kita harus menebak dan coba-coba dua bilangan yang apabila dijumlahkan akan. menghasilkan nilai koefesien b dan apabila dikalikan akan menghasilkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan jenis reaktan asam dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh dalam pemurnian eugenol dari minyak daun