PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IV BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
Disusun Oleh:
Christiana Risma Marthawati 101134175
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Seiring rahmat Tuhan Yang Maha Esa, karya ini saya persembahkan untuk:
Tuhan Yesus
Papa yang di surga, papa Eko Nur Cahyo
Mama Nawilah yang selalu sabar dan memberikan dukungan dalam bentuk material maupun spiritual
Adikku tersayang, Elisabet Nur Widyaningsih
Teman-teman satu kontrakan baik sekarang atau dulu (Nia, Ida, Vivi, Mb Iren, dll)
Keluarga besar Paradhe.
Sahabatku tercinta Hersi Maningrum, Andika Wilasana, Heribertus Sigit Prasetyo dan William Adi yang selalu memberi semangat
HALAMAN MOTTO
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).
Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah ( Lessing )
Jika Anda tak pernah memutuskan berhenti, Anda tak akan pernah terkalahkan.
Always be yourself and never be anyone else even if they look better than you.
viii
ABSTRAK
Marthawati, Christiana Risma. (2014). Pengembangan Modul Pembelajaran Tematik Kelas IV Berbasis Multiple intelligence. Skripsi: Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.
Kata kunci: Penelitian dan pengembangan, modul tematik, multiple intelligence
Pergantian kurikulum menyebabkan terbatasnya fasilitas pembelajaran untuk kurikulum 2013 ini, terkhusus modul pembelajaran. Standar kelulusan kurikulum 2013 terbagi menjadi 3 domain, sikap, keterampilan dan pengetahuan. Tiga domain tersebut dapat dikembangkan dengan kesembilan kecerdasan ganda menurut teori Gardner. Pengembangan prototipe modul pembelajaran ini mengakomodasi tiga domain kurikulum 2103 dan kecerdasan ganda. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk: (1) menghasilkan suatu modul yang dapat digunakan siswa, (2) menilai kelayakan prototipe modul.
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (research and development) dari Borg and Gall. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Data yang diperoleh merupakan data kualitatif yang berupa komentar data kuantitatif berupa skor rentang skala 1 s.d 4. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif kemudian dikonversikan ke data kualitatif dengan menggunakan skala Likert untuk mengetahui kelayakan.
ABSTRACT
Marthawati, Christiana Risma . ( 2014) . Development Learning Module Thematic Class IV Based Multiple intelligence. Thesis: Yogyakarta: Teacher Education Study Program of Sanata Dharma University Elementary School .
Keywords : Research and development , thematic modules , multiple intelligence Substitution learning curriculum to the limited facilities for this 2013 curriculum, especially those learning modules. 2013 graduation standard curriculum is divided into three domains, attitudes, skills and knowledge. Three domains can be developed according to the theory of multiple intelligences ninth Gardner. The development of this prototype learning module accommodates three curriculum domains and multiple intelligences in 2103. The aim of this development is to: (1) produce a prototype, (2) assess the feasibility of the prototype module.
This research was a research and development of Borg and Gall. The data obtained are qualitative data in form of comments and quantitative data in the form of score with rangescale of 1 to 4. Data analysis techniques use the quantitative descriptive analysis techniques, then converted to qualitative data using a Likert scala to determine the feasibility of learning module.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan nikmat serta karunia-Nya, sehingga penyusunan laporan Tugas Akhir Skripsi yang berjudul “Pengembangan Modul Pembelajaran Tematik Kelas IV SD Berbasis Multiple Intelligence” dapat terselesaikan. Penyusunan laporan Tugas Akhir Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.
Peneliti menyadari bahwa selesainya skripsi karena adanya bimbingan, bantuan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A selaku Kaprodi PGSD 3. Emanuela Catur Rismiati, S. Pd., M.A., Ed.D selaku Wakaprodi PGSD
4. Rusmawan, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Skrispsi I yang telah membimbing dengan penuh kesabaran
5. Dra. Maslichah Asy’ari, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang telah membimbing dengan penuh kesabaran
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSUTUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Batasan Masalah ... 4
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
G. Definisi Operasional ... 6
H. Manfaat Penelitian ... 7
I. Asumsi dan Keterbatasan Pengembang ... 8
BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori ... 9
1. Tinjauan tentang Modul ... 9
a. Pengertian Modul ... 9
b. Karakteristik Modul... 10
c. Fungsi dan Tujuan Penulisan Modul ... 12
d. Prosedur Pengembangan Modul... 14
e. Pembelajaran Menggunakan Modul ... 20
f. Prinsip Penulisan Modul ... 22
g. Keuntungan Penggunaan Modul ... 24
2. Model Pembelajaran Tematik ... 24
a. Pengertian Tematik ... 24
b. Pentingnya Pembelajaran untuk Murid Sekolah Dasar ... 25
c. Keunggulan Pembelajaran Tematik dibandingkan dengan Pembelajaran Konvesional... 26
d. Manfaat Pembelajaran Tematik ... 26
e. Karakteristik Model Pembelajaran Tematik ... 27
3. Multiple Intelligence ... 29
xiv
b. Jenis-jenis Multiple Intelligence, Karakteristik dan Cara
Mengembangkan ... 30
4. Pop-up dan Lift the Flap ... 39
B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 39
C. Kerangka Berpikir ... 41
D. Pertanyaan Peneliti ... 44
BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan ... 45
B. Prosedur Pengembangan ... 46
C. Setting Penelitian ... 48
D. Instrumen Penelitian ... 48
E. Jenis Data ... 50
F. Teknik Pengumpulan Data ... 50
G. Teknik Analisis Data ... 50
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Pengembangan ... 52
B. Uji Kelayakan Modul Pembelajaran ... 55
a. Hasil Penilaian Ketiga Validator per Indikator ... 56
b. Hasil Penilaian masing-masing Validator... 64
C. Kajian Produk Akhir ... 73
A. Kesimpulan ... 81
B. Keterbatasan Penelitian ... 82
C. Saran ... 82
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagan kerangka berpikir ... 33
Gambar 2. Desain Penelitian Pengembangan... 45
Gambar 3. Persentase Data Hasil Validasi Aspek Sistematika ... 60
Gambar 4. Persentase Data Hasil Validasi Aspek Tampilan ... 62
Gambar 5. Persentase Data Hasil Validasi Aspek Bahasa ... 64
Gambar 6. Persentase Data Hasil Validasi Ahli Modul Pembelajaran ... 67
Gambar 7. Persentase Data Hasil Validasi Ahli Desain ... 70
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian... 49
Tabel 2. Skala Persentase Suharsimi Arikunto... 51
Tabel 3. Hasil Penilaian per Indikator ... 56
Tabel 4. Data Hasil Validasi Ahli Modul Pembelajaran ... 65
Tabel 5. Data Hasil Validasi Ahli Desain ... 68
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 86
2. Surat Keterangan Melakukan Penelitian ... 138
3. Surat Keterangan Validasi ... 141
4. Instrumen Validasi ... 142
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
sikap, keterampilan dan pengetahuan seperti yang dipaparkan dalam kurikulum 2013.
Berbicara mengenai standar kelulusan kurikulum 2013, yang bisa menghasilkan standar kelulusan tersebut adalah para guru yang mengajar di sekolah. Namun pada kenyataannya, sebagian besar guru di sekolah dasar masih merasa kebingungan dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Berdasarkan data analisis kebutuhan yang diperoleh dari keenam sekolah dasar yakni SD N Kledokan, SD Socokansi II, SD N Gelaran II, SD Baran I, SD Kerdon Miri I dan SD Kanisius Sengkan menyatakan bahwa 2 kepala sekolah sudah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, 4 kepala sekolah belum mengikuti pelatihan Kurikulum 2013; semua guru pada keenam sekolah dasar belum mengikuti pelatihan kurikulum 2013; baik guru maupun kepala sekolah dari keenam sekolah juga belum memahami model pembelajaran berbasis multiple intelligence; data yang diperoleh juga menunjukkann bahwa keenam sekolah dasar tersebut belum memiliki fasilitas pembelajaran seperti silabus, RPP, media, LKS, perangkat penilaian dan modul pembelajaran tematik berdasarkan Kurikulum 2013 berbasis
multiple intelligence. Pembaharuan kurikulum ini berakibat pada terbatasnya fasilitas pembelajaran yang menunjang keberhasilan para peserta didik. Selain guru, perangkat pembelajaran juga merupakan sesuatu yang penting untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar dan menghasilkan standar kelulusan kurikulum 2013.
Berdasarkan hubungan antara standar kelulusan kurikulum 2013 yang bisa dikembangkan dengan kesembilan kecerdasan ganda dan analisis kebutuhan, maka peneliti memberikan solusi untuk memberikan suatu modul pembelajaran tematik yang layak dan sesuai dengan Kurikulum 2013 yang berbasis Multiple intelligence yang dapat mewadahi kecerdasan-kecerdasan yang ada dalam setiap individu.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang sesuai dengan survey analisis kebutuhan, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Guru belum paham mengenai Kurikulum 2013. 2. Guru belum paham mengenai Multiple intelligence.
3. Belum adanya perangkat pembelajaran untuk Kurikulum 2013 berbasis
Multiple intelligence, khususnya modul.
C. Batasan Masalah
Pembatasan masalah diberikan supaya peneliti dapat terarah dan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti membatasi hal-hal sebagai berikut:
1. Materi yang disajikan dalam modul pembelajaran tematik merupakan sub tema pertama pada tema empat yaitu mengenai “jenis-jenis pekerjaan” untuk siswa kelas IV SD.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah tersebut maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana langkah pengembangan prototipe modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis Multiple intelligencedengan tema “berbagai pekerjaan
dan sub tema jenis-jenis pekerjaan”?
2. Bagaimana kualitas prototipe modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis Multiple intelligence dengan tema “berbagai pekerjaan dan sub
tema jenis-jenis pekerjaan”?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui langkah pengembangan prototipe modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis Multiple intelligence.
2. Mengetahui kelayakan pengembangan prototipe modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis Multiple intelligence.
F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan
1. Produk yang dikembangkan berupa modul pembelajaran yang berdasarkan Kurikulum 2013 berbasis multiple intelligence.
2. Menggunakan pendekatan scientific, yaitu mengamati, bertanya, bernalar dan mengkomunikasikan (mempresentasikan).
5. Menggunakan tata tulis gaya majalah.
6. Materi disajikan menggunakan gambar 3D atau pop-up dan lift the flap, untuk menunjukkan penjabaran materi secara luas dan menarik rasa ingin tahu peserta didik.
G. Definisi Operasional
Definisi operasional pada penelitian dimaksudkan untuk menghindari terjadinya salah penafsiran tentang penelitian ini. Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan dalam arti pendidikan adalah proses menghasilkan bahan-bahan ajar.
2. Modul pembelajaran adalah suatu paket bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran siswa secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
3. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang memadukan materi beberapa mata pelajaran menjadi satu dan dijadikan satu tema. Pembelajaran tematik untuk kelas atas ini adalah kebijakan baru yang terdapat dalam kurikulum 2013.
4. Multiple Intelligence adalah kecerdasan ganda, terbagi dalam 9 kecerdasan, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan ruang-spasial, kecerdasan kinestetik-badani, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan lingkungan/naturalis, dan kecerdasan eksistensial.
H. Manfaat
1. Manfaat Praktis
Memperoleh fasilitas belajar berupa modul tematik pembelajaran berbasis
Multiple intelligence guna mendukung proses belajar peserta didik. a. Bagi guru
1) Membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran khususnya tema berbagai pekerjaan.
2) Meningkatkan pembelajaran yang lebih baik sehingga dapat membantu peserta didik untuk lebih mengoptimalkan kecerdasan yang terkait dalam proses belajar mengajar.
b. Bagi siswa
1) Mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran jenis-jenis pekerjaan.
2) Membantu peserta didik untuk belajar secara mandiri.
3) Untuk mengembangkan kecerdasan yang terdapat pada setiap individu peserta didik.
c. Bagi sekolah
Dapat menjadi fasilitas pembelajaran bagi peserta didik pada tema jenis-jenis pekerjaan.
d. Bagi Peneliti
2. Manfaat Teoritis
Sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan, khususnya tentang pengembangan modul pembelajaran tematik berbasis Multiple intelligence.
I. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
1. Asumsi Pengembangan
a. Modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis multiple intelligence
dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013.
b. Modul pembelajaran tematik kelas IV SD berbasis multiple intelligence
dijadikan sebagai media untuk mengembangkan kecerdasan ganda yang dimiliki peserta didik.
2. Keterbatasan Pengembangan
a. Terbatas untuk kelas IV.
b. Terbatas pada tema Berbagai Pekerjaan dan sub tema Jenis-jenis pekerjaan. c. Penelitian ini dibatasi pada langkah kelima dalam penelitian R&D, yaitu
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Tinjauan tentang Modul
a. Pengertian Modul
Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2008: 3) menjelaskan bahwa modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Modul disebut juga media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar sendiri. Artinya, pembaca dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran pengajar secara langsung, sehingga pembacanya dituntut untuk lebih aktif dalam belajar sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing individu secara efektif dan efisien, oleh karena itu teknik penulisan modul berbeda dengan teknik penulisan media cetak lainnya.
Nasution (2011: 205) modul merupakan suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa dalam mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007:132) modul merupakan suatu unit program pengajaran yang disusun dalam bentuk tertentu untuk keperluan belajar.
b. Karakteristik Modul
Karakteristik modul yang sesuai dengan pedoman penulisan modul yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2008:4) maka modul dapat dikatakan baik apabila memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Self Instruction
Karakter self instuction menuntut siswa belajar mandiri tanpa bantuan dari guru. Modul dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan dan bahasa yang digunakan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam memahami isi modul. Komponen-komponen dalam memenuhi karakter self instruction adalah sebagai berikut:
a) Memuat tujuan pembelajaran dengan jelas dan menggambarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.
b) Memuat materi pembelajaran yang dikemas secara spesifik sehingga memudahkan peserta didik mempelajarinya secara tuntas.
c) Terdapat contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan dalam memaparkan materi pembelajaran.
d) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang dapat digunakan untuk mengukur penguasaan materi pembacanya.
e) Kontekstual, materi disajikan terkait dengan suasana, tugas dan lingkungan peserta didik.
g) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
h) Terdapat instrumen penilaian, sehingga peserta didik dapat melakukan penilaian sendiri.
i) Terdapat umpan balik terhadap penilaian peserta didik untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik.
j) Terdapat informasi tentang rujukan/pengayaan/ referensi yang mendukung materi pembelajaran yang dimaksud.
2) Self Contained
Modul harus memuat seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan dalam modul tersebut. Hal ini bertujuan untuk memberikan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena materi belajar dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.
3) Berdiri sendiri (stand alone)
Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik modul yang tidak tergantung pada bahan ajar atau media lain. Artinya, tanpa menggunakan bahan ajar lain atau media lain, peserta didik dapat mempelajari dan mengerjakan tugas yang ada dalam modul tersebut.
4) Adaptif
Modul dikatakan adaptif bila dapat menyesuaikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, modul dapat digunakan diberbagai perangkat keras (hardware).
Modul hendaknya juga memenuhi kaidah bersahabat atau akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakai, dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan.
Sesuai karakteristik dalam pedoman penulisan modul di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik modul digunakan sebagai pengganti guru dan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka modul harus dibuat jelas, lengkap dan komunikastif sehingga siswa dapat belajar secara mandiri.
c. Fungsi dan Tujuan Penulisan Modul
1) Fungsi Penulisan Modul
Fungsi modul dalam kegiatan belajar mengajar adalah modul mempunyai fungsi supaya pembelajaran lebih terarah dan sistematis. Peserta didik dituntut untuk menguasai kompetensi pembelajaran yang diikutinya (Depdiknas, 2008: 3).
2) Tujuan Penulisan Modul
Penggunaan modul sering kali dikaitkan dengan aktifitas pembelajaran secara mandiri. Penulis modul yang baik, menulis modul seolah-olah sedang memberikan materi pelajaran kepada pesrta didik dalam bentuk tulisan. Tujuan penulisan modul menurut Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2008:3) dijabarkan sebagai berikut: 1) Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat
verbal.
3) Meningkatkan motivasi dan gairah belajar, mengembangkan kemampuan dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
4) Memungkinkan siswa dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.
Sedangkan tujuan digunakan modul menurut Nasution (2011:205) adalah sebagai berikut:
a) Membuka kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut kecepatannya masing-masing.
b) Memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut caranya masing-masing, oleh sebab mereka menggunakan teknik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaan masing-masing.
c) Memberi pilihan dari sejumlah besar topik dalam rangka suatu mata pelajaran, mata kuliah bidang studi atau disiplin bila kita anggap bahwa pelajar tidak mempunyai pola minta yang sama atau motivasi yang sama untuk mencapai tujuan yang sama.
d) Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya dan memperbaiki kelemahannya melalui modul remidial, ulanagan-ulangan atau variasi dalam cara belajar.
efisien, artinya para siswa dapat mengikuti program pengajaran sesuai dengan kecepatan dan kemampuan sendiri, lebih banyak belajar mandiri, dapat mengetahui hasil belajar sendiri, menekankan penguasaan bahan pelajaran secara optimal (mastery learning), yaitu dengan tingkat penguasaan 80%.
Kesimpulan yang didapat adalah bahwa tujuan pembuatan modul adalah mempermudah penyampaian pesan yang dapat digunakan secara kelompok ataupun mandiri, sehingga memungkinkan siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
d. Prosedur Pengembangan Modul
Langkah-langkah penyusunan modul menurut Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2008:18-31) adalah sebagai berikut:
1) Analisis kebutuhan modul
Analisis kebutuhan modul merupakan tindakan menganalisis silabus atau RPP dengan tujuan mencari informasi modul yang dibutuhkan para peserta didik dalam mempelajari pembelajaran dan kompetensi yang telah tersusun dalam suatu program. Kompetensi dalam hal ini adalah standar inti dan kegiatan pembelajaran adalah kompetensi dasar. Tujuan analisis kebutuhan modul adalah untuk mencari dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dijabarkan dalam satu tahun atau satu semester program yang telah disusun. Langkah analisis kebutuhan modul adalah:
b) Memeriksa ada tidaknya rambu-rambu operasional untuk pelaksanaan program modul tersebut. Misalnya program silabus, RPP dan lain-lain. c) Meneliti standar kompetensi yang akan dibahas, maka akan diperoleh materi
pembelajaran yang perlu dibahas untuk menguasai isi materi dan standar kompetensi tersebut.
d) Menyusun satuan bahan pelajaran yang mencakup materi tersebut, lalu beri nama untuk dijadikan judul modul.
e) Mendaftar satuan modul kemudian diidentifikasi mana yang sudah ada dan yang belum ada di sekolah.
f) Menyusun modul berdasarkan prioritas kebutuhannya. Kemudian tentukan peta modul (tata letak modul pada satu satuan program yang digambar pada diagram).
2) Desain modul
Desain modul yang dimaksud disini adalah RPP yang telah disusun oleh pengajar. RPP memuat strategi pembelajaran serta media yang digunakan, inti pembelajaran dan metode yang penelitian juga perangkatnya. RPP digunakan untuk mengacu desain dalam penyusunan modul, namun jika belum disusun suatu RPP, dapat dilakukan juga langkah-langkah sebagai berikut Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional (2008:22-31):
a) Tetapkan kerangka bahan yang akan disusun.
c) Tetapkan tujuan antara (enable objective) yaitu kemampuan spesifik yang menunjang tujuan akhir.
d) Tentukan sistem evaluasi.
e) Bila ada RPP maka dapat mengacu untuk menetapkan isi atau garis besar materi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
f) Materi yang dikandung dalam modul adalah materi dan prinsip yang mendukung untuk pencapaian kompetensi dan harus dikuasai peserta didik. g) Tugas, soal, atau latihan yang harus dikerjakan sampai selesai oleh peserta
didik.
h) Evaluasi untuk mengukur seberapa kemampuan peserta didik dalam menguasai materi modul.
i) Kunci jawaban soal 3) Implentasi
Implementasi modul dalam kegiatan belajar dilakukan sesuai alur dalam modul. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan seharusnya dipenuhi dengan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Strategi pembelajaran dilaksanakan secara konsisten sesuai alur yang diterapkan.
4) Penilaian
Tujuan dari penilaian hasil belajar adalah untuk mengetahui seberapa besar penguasaan peserta didik setelah mempelajari materi dalam modul. Penilaian hasil belajar dilakukan menggunakan instrumen yang telah disiapkan pada waktu penulisan modul.
Modul yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara bertahap harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi merupakan maksud untuk mengetahui dan mengukur penerapan pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai desain pengembangannya atau tidak. Evaluasi dapat dikembangkan suatu instrumen evaluasi yang berdasarkan isi modul. Instrumen sebaiknya untuk guru dan peserta didik yang terlibat karena menghasilkan evaluasi yang lebih objektif.
Sedangkan validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian modul dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Validasi dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari. Bila tidak ada maka guru bidang dapat menggantikan membantu validasi. Validator memeriksa dengan teliti isi dan bentuk atau kegiatan yang dapat efektif untuk digunakan sebagai media menguasai kompetensi yang menjadi target belajar. Bila modul belum valid maka perlu diperbaiki agar menjadi valid.
6) Jaminan kualitas
Sedangkan menurut Vembriarto (1975:63-70) langkah-langkah dalam penyusunan modul adalah sebagai berikut:
1) Perumusan tujuan-tujuan
Tujuan pada suatu modul merupakan spesifikasi kualifikasi yang seharusnya telah dimiliki oleh siswa setelah pembuat modul berhasil menyelesaikan modul tersebut. tujuan yang tercantum pada modul disebut tujuan instruksional khusus. Secara teknik, kualifikasi tingkah laku siswa yang telah dimiliki sebagai hasil mempelajari suatu modul disebut terminal behavior.
2) Penyusunan criterion item
Pengajaran di sekolah bertujuan memberikan pengetahuan, menanamkan sikap dan memberikan ketrampilan kepada siswa. Hasil pengajaran itu tampak pada tingkah laku siswa, tujuan pengajaran (tujuan instruksional khusus) dalam modul itu dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa, untuk mengetahui secara obyektif apakah siswa telah berhasil menguasai tujuan pengajaran atau tidak, maka harus digunakan test valid untuk mengukur prestasi siswa dalam hal tingkah laku yang dipersyaratkan sebagai tujuan yang harus dicapai oleh siswa.
3) Analisis sifat-sifat siswa dan spesifikasi entry behavior
Biasanya siswa memulai mengerjakan suatu modul telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang ada hubungannya dengan apa yang telah dimiliki sebelumnya yang dibawanya dalam situasi belajar yang baru itu disebut
Tujuan dari entry test adalah untuk memperkecil kesulitan-kesulitan dalam suatu proses pembelajaran.
4) Urutan pengajaran dan pemilihan media
Pemilihan dan urutan media sangat penting untuk menyusun dan menyajikan bahan dan sumber-sumber pengajaran secara optimal. Yang dimaksud dengan media itu meliputi: buku pelajaran, foto, film, perlengkapan belajar, tape, dan sumber-sumber lainnya.
5) Tryout modul
Kriteria yang terbaik untuk mengevaluasikan efektivitas modul ialah sejauh mana telah menguasai tujuan-tujuan yang tercantum dalam modul yang bersangkutan, jadi evaluasi terhadap perbuatan siswa itu dapat menilai sejauh mana sistem penyampaian modul itu mempertinggi prsetasi siswa. Hasil criterion test yang dicapai oleh siswa pada akhir pengajaran merupakan informasi yang diperlukan untuk memperbaiki diskrepansi apa yang dicapai oleh siswa dengan apa yang seharusnya dicapai, dan sangat berguna bagi siswa maupun bagi penyususn modul.
6) Evaluasi
Kesimpulan dari pendapat beberapa ahli di atas, prosedur penyusunan modul adalah pengumpulan data awal, pengembangan modul, implementasi, penilaian, dan evaluais modul. Pada tahap pengumpulan data awal, tahapan pembuatan modul pembelajaran terdiri dari identifikasi masalah dan analisis kebutuhan. Setelah dicarikn solusi atas permasalahan yang ada, modul kemudian dikembangkan, baik dari segi materi dan desain modul yang dibuat. Pengembangan modul pembelajaran yang telah selesai, kemudian diimplementasikan secara urut sesuai kegiatan belajar dalam modul. Untuk mengetahui seberapa besar penguasaan peserta didik setelah mempelajari materi dalam modul maka dilakukan penilaian menggunakan instrumen yang telah disiapkan pada waktu penulisan modul. Setelah dilakukan penilaian, maka modul dievaluasi untuk mengetahui dan mengukur penerapan pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai desain pengembangannya atau tidak.
e. Pembelajaran Menggunakan Modul
Pembelajaran dengan modul merupakan pendekatan pembelajaran mandiri yang berfokuskan penguasaan kompetensi dari bahan kajian yang dipelajari peserta didik dengan waktu tertentu sesuai dengan potensi dan kondisinya (Depdiknas, 2008:6). Belajar mandiri merupakan suatu proses dimana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain untuk mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; merumuskan/menentukan tujuan belajarnya sendiri; mengidentifikasi sumber-sumber belajar; memilih dan melaksanakan strategi belajarnya; dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Penggunaan pendekatan pembelajaran mandiri perlu mengoptimalkan penyediaan sumber belajar yang maksimal, karena peran guru yang semula sebagai pemberi informasi bergeser menjadi fasilitator belajar. Tugas fasilitator belajar adalah menyediakan sumber belajar yang dibutuhkan, dapat merangsang semangat belajar, memberi peluang untuk menguji/mempraktikkan hasil belajarnya, memberikan umpan bail tentang perkembangan belajar, dan membantu bahwa apa yang telah dipelajari akan berguna dalam kehidupannya. Sumber belajar yang utama dalam belajar mandiri adalah dengan penyediaan modul/bahan ajar.
yang telah ditetapkan dalam modul; (4) mengetahui kelemahan atau kompetensi yang belum dicapai peserta didik berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam modul sehingga tutor dapat memutuskan dan membantu peserta didik untuk memperbaiki belajarnya serta melakukan remediasi (Depdiknas 2008:7).
Penggunaan modul didasarkan pada fakta bahwa jika peserta didik diberikan waktu dan kondisi belajar memadai maka akan menguasai suatu kompetensi secara tuntas. Bila peserta didik tidak memperoleh cukup waktu dan kondisi memadai, maka ketuntasan pelajaran akan dipengaruhi oleh derajat pembejalaran. Kesuksesan belajar menggunakan modul tergantung pada kriteria peserta didik didukung oleh pembelajaran tutorial. Kriteria tersebut meliputi ketekunan, waktu untuk belajar, kadar pembelajaran, mutu kegiatan pembelajaran, dan kemampuan memahami petunjuk dalam modul (Depdiknas 2008:7).
Kesimpulkan di atas adalah pembelajaran menggunakan modul merupakan pembelajaran yang mandiri dengan media cetak berupa buku yang berisi mengenai rangkaian kegiatan belajar peserta didik, yang bisa dipelajari peserta didik sewaktu-waktu sesuai dengan potensi dan kondisinya.
f. Prinsip Penulisan Modul
Isi atau komponen-komponen modul menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007:134) adalah:
2) Lembar kegiatan siswa, memuat pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Susunan materi sesuai dengan tujuan instruksional yang akan dicapai, disusun langkah demi langkah sehingga mempermudah siswa belajar. Dalam lembaran kegiatan tercantum kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa misalnya melakukan percobaan, membaca kamus.
3) Lembaran kerja, menyertai lembaran kegiatan siswa yang dipakai untuk menjawab atau mengerjakan soal-soal tugas atau masalah-masalah yang harus dipecahkan.
4) Kunci lembaran kerja, berfungsi untuk mengevaluasi atau mengoreksi sendiri hasil pekerjaan siswa. Kunci lembaran kerja mempunyai fungsi agar siswa bisa meninjau kembali pekerjaannya jika terdapat kesalahan dalam pekerjaannya.
5) Lembaran tes, merupakan alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan tujuan yang telah dirumuskan dalam modul. Lembaran tes berisi soal-soal guna menilai keberhasilan siswa dalam mempelajari bahan yang disajikan dalam modul.
6) Kunci lembaran tes, merupakan alat koreksi terhadap penilaian yang dilaksanakan oleh para siswa sendiri.
g. Keuntungan Penggunaan Modul
Penggunaan modul memiliki beberapa keuntungan. Nasution (2008:206), penggunaan modul memiliki keuntungan antara lain:
1) Keuntungan bagi siswa
a) Memberikan umpan balik yang banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui taraf hasil belajarnya.
b) Siswa mendapat kesempatan untuk mencapai angka tertinggi dengan mengusai bahan pelajaran secara tuntas.
c) Modul mempunyai tujuan yang jelas dengan demikian usaha murid menjadi terarah dan segera tercapai.
d) Modul memberikan motivasi yang kuat untuk berusaha segiat-giatnya. e) Fleksibitas, pengajaran modul dapat disesuaikan dengan perbedaan siswa
antara lain mengenai kecepatan belajar, cara belajar dan bahan pelajaran. f) Kerjasama antar murid dengan guru.
g) Pengajaran remidial.
2) Keuntungan Bagi Pengajar
Keuntungan bagi pengajar meliputi adanya rasa kepuasaan, bantuan individual, pengayaan, kebebasan dari rutin, mencegah kemubasiran, serta meningkatkan profesi keguruan.
2. Model Pembelajaran Tematik
a. Pengertian Tematik
pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema tersebut disepakati, dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidan-bidang studi. Dari sub-bub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa.
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integreted instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individu maupun aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik (Rusman, 2011:254).
Kesimpulan dari pendapat di atas adalah model pembelajaran terpadu pola tematik adalah suatu perencaan yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep pembelajaran dengan cara guru menyusun kegaiatan pembelajaran secara sistematis kemudian menentukan suatu tema tertentu dan diturunkan ke sub-sub tema dengan memperhatikan kaitan bidang studinya, sehingga terjadi pembelajaran yang holistik, bermakna, otentik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.
b. Pentingnya Pembelajaran Tematik untuk Murid Sekolah Dasar
disimpulkan dengan pembelajaran tematik siswa bisa memperoleh pengalaman langsung, sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
c. Keunggulan Pembelajaran Tematik dibandingkan dengan
Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran tematik memiliki beberapa keunggulan apabila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, diantaranya: (1) pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar, (2) kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa, (3) kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa, sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama, (4) membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa, (5) menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya, dan (6) mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain (Rusman, 2011:258). Jadi, kesimpulan keunggulan pembelajaran tematik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional adalah pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan, kebutuhan dan minat siswa, bermakna, membantu mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
d. Manfaat pembelajaran tematik
penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, (2) siswa dapat melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, (3) pembelajaran tidak terpecah-pecah karena siswa dilengkapi dengan pengalaman belajar yang lebih terpadu sehingga akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang lebih terpadu juga, (4) memberikan penerapan-penerapan dari dunia nyata, sehingga dapat mempertinggi kesempatan transfer belajar (transfer of learning), (5) dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran, maka penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik dan meningkat (Rusman, 2011:258). Jadi, dapat disimpulkan bahwa manfaat dari pembelajaran tematik adalah hemat waktu, kebermaknaan, terpadu, penerapan-penerapan, penguasaan pembelajaran meningkat.
e. Karateristik Model Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, menurut Majid Abdul (2014:89) pembelajaran tematik memiliki karakteristik. Karakteristik-karakteristik tersebut sebagai berikut:
1) Berpusat pada siswa
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered). Hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan-kemudahan pada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung pada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkret) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Pemisahan antarmata pelajaran dalam pembelajaran tematik tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan pada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5) Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) di mana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengkaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan di mana sekolah dan siswa berada.
6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
Jadi, dapat disimpulkan pembelajaran tematik mempunyai 7 karakteristik, yakni (1) student centered, (2) memberikan pengalaman langsung, (3) pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, (4) menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, (5) bersifat fleksibel, (6) sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, (7) menyenangkan.
2. Multiple Intelligence
a. Pengertian Intelligence
Intelligence atau kecerdasan menurut Gardner dalam Paul Suparno (2008:17) adalah kemampuan untuk memecahkan masalah persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata.
b. Jenis-jenis Multiple Intelligence, Karakteristik dan Cara
Mengembangkan
Multiple Intelligence artinya kecerdasan ganda. Gardner menemukan banyak kecerdasan yang terdapat pada anak-anak, ada sembilan kecerdasan yang ditemukan. Kesembilan kecerdasan tersebut adalah :
1. Kecerdasan Lingustik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti dimiliki para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator. Orang yang mempunyai kemampuan linguistik tinggi akan berbahasa dengan lancar, baik, dan lengkap. Orang tersebut dengan mudah akan mengerti urutan dan arti kata-kata dalam belajar bahasa, orang tersebut juga akan dengan mudah untuk menjelaskan, menceritakan, mengutarakan pemikirannya dan juga biasanya orang tersebut lancar dalam berdebat (Paul Suparno, 2008:26).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan linguistik adalah kecerdasan yang berhubungan dengan bahasa maupun kata-kata serta kemampuan berkomunikasi. Kecerdasan lingusitik bisa dikembangkan dengan banyak berkomunikasi dengan orang lain, bukan hanya menjdi pembicara yang baik, tetapi juga menjadi pendengar yang baik.
2. Kecerdasan matematis-logis
Kemampuan lebih yang berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika secara efektif, seperti dipunyai seorang matematikus, saintis, programmer, dan logikus. Orang yang mempunyai kecerdasan matematis-logis ini mempunyai kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan. Orang ini sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja, sehingga dapat mempriotitaskan mana yang dikerjakan terlebih dahulu. Dalam memecahkan masalahpun orang yang berkemampuan matemtis-logis ini akan memakai abstraksinya untuk melihat suatu persoalan yang luas, sehingga orang tersebut dapat melihat inti dari permasalahannya dan dapat segera menylesaikannya (Paul Suparno, 2008:29).
atau metode riset, berpikir secara matematis dengan mengumpulkan bukti-bukti, membuat hipotesis, merumuskan, dan membangun argumentasi yang kuat, tertarik dengan karier dibidang akuntasi, teknologi, hukum, mesin dan teknik. Cara mengembangkan kecerdasan logika-matematika adalah dengan kegiatan logika deduksi, logika induksi, metode ilmiah, bermain dengan angka, mencari urutan, mengenali pola pada data, dan menggunakan grafik atau flowchart (Adi W. Gunawan, 2007:112-114). Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan matematis-logis adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pemikiran yang matematis-logis, tidak hanya matematika semata. Kecerdasan matematis-logis dapat dikembangkan dengan banyak berlatih menggunakan logika dalam permainan atau perhitungan. 3. Kecerdasan ruang
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang-visual secara tepat, sperti dipunyai para pemburu, arsitek, navigator, dan dekorator.Orang yang mempunyai kecerdasan ruang visual ini akan dapat melakukan kegaiatan seperti menggambar, melukis, memahat, menghargai hasil seni, membuat peta dan membaca peta, menemukan jalan dalam lingkungan baru, mengerti tiga dimensi, bermain catur ataupun permainan yang membutuhkan kemampuan mengingat bentuk dan ruang. Pada anak-anak yang mempunyai kecerdasan ruang ini biasanya ditandai dengan anak yang suka menggambar, suka akan warna-warna, dan suka membangun balok-balok menjadi bangungan yang indah dan bermakna (Paul Suparno, 2008: 33).
bentuk dan warna, daya pikir ruang. Cara mengembangkan kecerdasan ruang-spasial adalah dengan kegiatan yang menggunakan gambar, mind mapping, imajinasi, image streaming, memberikan warana pada materi yang dipelajari dengan menggunakan spidol berwarna, mencari jalan keluar dari suatu lokasi tanpa melihat peta atau bertanya, melihat sesuatu dari berbagai sudut, membayangkan dan merencanakan masa depan (Adi W. Gunawan, 2007:124-127). Jadi, kecerdasan ruang-spasial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan penglihatan yang berkenaan dengan ruang dan tempat. Kecerdasan rung-spasial dapat dikembangkan dengan aktivitas menggambar dan mewarnai.
4. Kecerdasan kinestetik-badani
Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti ada pada aktor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah. Dalam inteligensi ini termasuk keterampilan koordinasi dan fleksibiltas tubuh. Orang yang mempunyai keceerdasan kinestetik-badani ini akan dengan mudah mengungkapkan pikiran dan apa yang dirasakan melalui ekspresi tubuhnya. (Suparno, 2008:34).
kecerdasan kinstetik adalah dengan kegiatan drama, role-play, simulasi, menciptakan suatu gerakan (tarian, bahasa tubuh atau mimik muka), melakukan gerakan yang dilakukan oleh orang lain, mengikuti camp, field-trip (Adi W. Gunawan, 2007:128,130). Jadi, dapat dismpulkan bahwa kecerdasan kinestetik adalah kecerdasan yang berhubungan dengan olah tubuh. Kecerdasan kinestetik dapat dikembangkan dengan banyak berolah raga.
5. Kecerdasan musikal
Kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Di dalamnya termasuk kepekaan akan ritme, melodi, dan intonasi; kemampuan memainkan alat music; kemampuan menyanyi; kemampuan untuk mencipta lagu; kemampuan untuk menikmati lagu, musik, dan nyanyian. Orang yang mempunyai kemampuan lebih dalam bidang ini akan sangat peka terhadap suara dan musik sehingga dengan mudah orang ini akan lebih cepat dalam mempelajari musik. Orang-orang ini juga akan mengungkapkan perasaan dan pemikiran dalam bentuk musik. Menariknya, anak yang mempunyai kecerdasan musik ini akan mudah mempelajari suatu mata pelajaran lain bila mata pelajaran itu diterangkan dengan suatu lagu atau musik (Paul Suparno, 2008:36-37).
musikal pada anak, yaitu dengan memberi kesempatan kepada anak untuk melihat kemampuan yang ada pada anak dan membuat anak menjadi percaya diri, membuat kegiatan-kegiatan khusus yang dapat dimasukkan dan dikembangkan dalam kecerdasan musikal (career day, karya wisata ke stasiun radio, paduan suara), pengalaman empiris yang praktis, membuat penghargaan terhadap karya-karya yang dihasilkan anak, mengajak anak untuk menyanyi lagu dengan syair sederhana dengan irama dan birama yang mudah diikuti. Jadi, kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang berkenaan rasa peka terhadap musik. Kecerdasan musikal dapat dikembangkan dengan iringan musik pada setiap aktivitas yang memungkinkan.
6. Kecerdasan interpersonal
maka mereka akan segera berlari dan mencari teman yang mau diajak kerjasama (Paul Suparno, 2008:39).
Menurut Amstrong (Sujiono dan Sujiono, 2010:61) kecerdasan interpersonal adalah berpikir lewat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Orang yang mempnyai jenis kecerdasan ini menyukai dan menikmati bekerja secara berkelompok, belajar sambil berinteraksi dan bekerja sama, juga merasa senang bertindak sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan dan pertikaian baik di rumah maupun di sekolah (Julia Jasmine, 2007:26). Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan interaksi dengan orang lain dan dapat dikembangkan dengan cara banyak bersosialisasi dengan orang lain.
7. Kecerdasan intrapersonal
Kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengenalan diri itu. Termasuk dalam inteligensi ini adalah kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri. Orang ini punya kesadaran tinggi akan gagasan-gagasannya, dan mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan pribadi. Ia sadar akan tujuan hidupnya. Ia dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan sangat tenang (Paul Suparno, 2008:41). Ciri-ciri orang yang mempunyai kecerdasan intrapersonal adalah keliatan pendiam, lebih suka bermenung di kelas.
bekerja berdasarkan program sendiri dan hanya dilakukan sendirian (Julia Jasmine, 2007: 27). Cara mengembangkan kecerdasan intrapersonal, antara lain dengan menciptakan citra diri postif kepada anak, mengajak anak untuk bercakap-cakap memperbincangkan kelemahan dan kelebihan serta minat anak (Sujiono dan Sujiono, 2010:61). Jadi, kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pemahaman akan diri sendiri. Kecerdasan intrapersonal dapat dikembangkan dengan cara memberikan penguatan yang positif kepada anak.
8. Kecerdasan lingkungan/ naturalis
Menurut Gardner (Paul Suparno, 2008:42), kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam.
Ini lebih menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang terdalam. Inteligensi ini sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia (Paul Suparno, 2008:43).
Kecerdasan eksitensial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kapasitas atau kemampuan untuk berpikir kosmis atau hal-hal yang berhubungan dengan keberadaan; mulai dari keberadaan dan tujuan manusia di alam semesta hingga pada sifat kehidupan itu sendiri seperti kebahagiaan, tragedi, penderitaan, hidup, mati, dan ke mana manusia setelah mati (Adi W. Gunawan, 2007:133)
Kecerdasan eksistensial adalah kecerdasan dalam memandang makna atau hakikat kehidupan ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang berkewajiban menjalankan perintahnya dan menjauhi semua larangannya (Sujiono dan Sujiono, 2010:62). Jadi kecerdasan eksistensial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan keberadaan manusia dengan Tuhan.
3. Pop-up dan Lift the Flap
Pengertian Pop-up dan Lift the Flap
Ellen G.Kreiger Rubin mengungkapkan bahwa pop-up merupakan sebuah ilustarsi yang ketika halaman tersebut dibuka, ditarik, atau diangkat, akan timbul tingkatan dengan kesan 3 dimensi (3D). Sebuah buku “The Element Of Pop-Up” (Jackson, 2010:6) menjelaskan bahwa pop-up adalah wujud dimensional struktur dan mekanik yang terbuat dari kertas. Lain halnya dengan Lift the flap, lift the flap dikemas dengan menyusun atau menumpuk beberapa kertas, lalu mengunci salah satu sisi susunan kertas dan menyisakan sebagian besar bagian kertas agar dapat dibuka dan ditutup kembali. Lift the flap mempunyai manfaat, secara tidak langsung kegiatan melihat, membuka dan menutup gambar pada lift the flap dapat melatih perkembangan motorik pada anak (Alit, 2014: http://dgi-indonesia.com/sekilas-tentang-pop-up-lift-the-flap-dan-movable-book/).
Jadi, kesimpulan pengertian dari pop-up adalah gambar 3D yang terdapat dalam buku atau kartu ucapan sedangkan lift the flap adalah susunan kertas yang ditimbun kertas lagi sebagai pintu untuk mengetahui apa yang ditimbun kertas tadi.
B. Penelitian yang Relevan
tetapi belum ada penelitian yang meneliti tentang pengembangan modul tematik berbasis multiple intelligence yang berkaitan dengan Kurikulum 2013. Oleh karena itu supaya penelitian ini akurat dan orisinil, dan tidak terjadi duplikasi dengan penelitian yang lain, maka penelusuran kajian pustaka perlu dilakukan guna memenuhi penelitian ini.
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Ayu Rusmiati, I Wayan Santyasa dan Wayan Sukra Warpala (2013) yang berjudul Pengembangan Modul IPA dengan Pendekatan Kontekstual untuk Kelas V SD Negeri 2 Semarapura Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul IPA dengan pendekatan konteksual yang layak untuk digunakan. Kesimpulannya menunjukkan bahwa modul bimbingan belajar dikategorikan sangat baik dan layak digunakan.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Moh. Shofan, Cholis Sa’dijah dan Slamet (2013) yang berjudul Pengembangan Modul Pembelajaran Bilangan Bulat dengan Pendekatan Kontekstual untuk Siswa Kelas IV SD/MI. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran bilangan bulat dengan pendekatan kontekstual yang layak untuk digunakan. Kesimpulannya menunjukkan bahwa modul tersebut dikategorikan baik dan layak digunakan.
Terpadu Berpotensi Lokal Berbasis Multiple Intelligences telah berhasil dikembangkan, kualitas modul sangat baik, respon siswa sangat baik.
Keempat, peneltian pengembangan yang dilakukan oleh Izzati N, dkk (2013) yang berjudul Pengembangan Modul Tematik Dan Inovatif Berkarakter Pada Tema Pencemaran Lingkungan Untuk Siswa Kelas VII SMP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul tematik dan inovatif berkarakter pada tema pencemaran lingkungan dan mengetahui pengaruh modul terhadap peningkatan karakter siswa SMP. Kesimpulan, kelayakan modul termasuk kategori sangat layak.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pertama dan kedua, penelitian ini memiliki kesamaan dalam mengembangkan modul pembelajaran untuk sekolah dasar. Peneliti ketiga mengembangkan modul IPA berbasis multiple intelligence, fokus pada kecerdasan matematis-logis. Peneliti keempat mengembangkan modul tematik. Keempat penelitian tersebut relevan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti, yang membedakan penelitian di atas dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti adalah peneliti mengembangankan modul pembelajaran berupa modul tematik kelas IV berbasis
Multiple Intelligence (sembilan kecerdasan menurut Gardner) subtema berbagai pekerjaan.
C. Kerangka Berpikir
dan domain pengetahuan. Tiga domain ini dapat dikembangkan dengan kesembilan jenis kecerdasan sesuai teori Howard Garnder.
Selain melihat dari hubungan antara tiga ranah standar kelulusan yang diharapkan kurikulum 2013, peneliti juga melihat dari analisis kebutuhan yang menunjukkan dampak terbatasnya fasilitas pembelajaran seperti, media ICT, media konvensional, lembar kerja siswa, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, penilaian dan juga modul pembelajaran.
Modul Pembelajaran Tematik Kelas IV Berbasis Multiple
Intelligence Fasilitas pembelajaran
terbatas
eksistensial naturalis
Multiple Intelligence
matematika
linguistik
spasial
kinestetik
musik
interpersonal
intrapersonal pengetahuan
ketrampilan sikap
Standar Kelulusan Kurikulum 2013
KTSP
D. Pertanyaan Peneliti
1. Bagaimana langkah mengembangkan modul tematik SD yang berbasis Multiple Intelligence?
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Model Pengembangan
Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development oleh Borg and Gall dalam Sugiyono (2011:298-302). Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Pengembangan modul pembelajaran tematik berdasar Kurikulum 2013 berbasis multiple intelligence. Modul tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai materi yang dipelajari serta meningkatkan hasil belajar peserta didk. Modul ini. Prosedur pengembangan tersebut diadaptasi disesuaikan dengan kebutuhan peneliti sebagai landasan dalam penelitian. Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi sampai langkah kelima.
Revisi desain
Research & Development
Potensi dan masalah
Pengumpulan data
Desain produk
Validasi desain
Ujicoba produk
Revisi produk
Ujicoba pemakaian
Revisi produk
B. Prosedur Pengembangan
Metode penelitian dan pengembangan atau research and development
adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektivan produk tersebut. Penelitian dan pengembangan bersifdat longitudinal (bertahap), sehingga metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (Sugiyono, 2011 : 298). Alur penelitian pengembangan meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1. Potensi dan masalah
Peneliti mengetahui adanya potensi dan masalah dengan melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dilakukan dengan cara menyebarkan angket ke enam sekolah. Analisis kebutuhan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman tentang kurikulum 2013, sejauh mana pemahaman tentang multiple intelligences dan keterbatasan fasilitas belajar sesuai kurikulum 2013.
2. Pengumpulan data
Data diperoleh dari keenam angket yang disebarkan keenam sekolah. Hasil dari pengumpulan data digunakan sebagai pertimbangan perencanaan modul yang akan dikembangkan.
3. Desain produk
menentukan isi bahan ajar, menetukan strategi pembelajaran, menyusun kegiatan belajar, menentukan sumber belajar.
4. Validasi desain
Validasi ahli dilakukan untuk menilai apakah produk yang sedang dikembangkan, dalam hal ini modul pembelajaran, layak digunakan atau tidak. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menunjuk beberapa pakar atau ahli yang sudah berpengalaman untuk menilai produk baru yang sedang dikembangkan tersebut dengan mengisi lembar validasi ahli yang sudah disediakan oleh peneliti. Peneliti memilih dua dosen Universitas Sanata Dharma sebagai ahli modul pembelajaran dan sebagai ahli tematik serta satu guru kelas IV sebagai ahli bahasa untuk menilai kelayakan modul tersebut, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kelebihannya sebagai dasar untuk melakukan revisi modul pembelajaran.
Aspek tampilan adalah aspek yang berhubungan dengan gambar yang ada dalam modul Pembelajaran Tematik Kelas IV SD Berbasis Multiple Intelligence
meliputi kemenarikan cover dan gambar dalam modul, kejelasan gambar yang disajikan, kejelasan ukuran dan bentuk atau jenis huruf yang digunakan dan kemenarikan tampilan halaman yang disajikan.
Aspek bahasa adalah aspek yang berhubungan dengan bahasa, kata-kata, dan kalimat yang ada dalam modul Pembelajaran Tematik Kelas IV SD Berbasis
Multiple Intelligence meliputi kejelasan penggunaan bahasa, kebenaran kata atau istilah yang digunakan dan keterbacaan teks atau kalimat dengan benar.
5. Revisi desain
Revisi desain dilakukan setelah modul pembelajaran tematik berbasis
Multiple Intilligence divalidasi. Hasil validasi berupa kritik dan saran dari validator berguna sebagai dasar untuk merevisi modul pembelajaran ini.
C. Setting Penelitian
Penyebaran angket analisis kebutuhan dilakukan ke enam sekolah dasar, yakni: SD N Kledokan, SD N Baran I, SD N Kerdonmiri I, SD N Gelaran 2, SD N I Socokangsi, dan SD Kanisius Sengkan.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini ditujukan untuk menilai kelayakan modul pembelajaran tematik berdasarkan Kurikulum 2013 berbasis multiple intelligence. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu instrumen untuk ahli materi, instrumen untuk ahli media, instrumen untuk ahli bahasa dan instrumen untuk uji lapangan. Berikut kisi-kisi instrumen:
Instrumen uji kelayakan terbagi dalam 3 kelompok aspek yakni aspek sistematika, aspek tampilan dan aspek bahasa.
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen uji kelayakan
No. Aspek Indikator
1. Sistematika - Kesesuaian materi dengan standar inti, kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran
- Kesesuaian materi dengan kecerdasan yang dikembangkan - Keterkaitan materi satu dengan
materi yang lain
- Kejelasan petunjuk belajar - Kelengkapan kunci jawaban soal
latihan sebagai umpan balik dari soal latihan
2. Tampilan - Kemenarikan cover dan gambar dalam modul
- Kejelasan gambar yang disajikan - Kejelasan ukuran dan bentuk atau
jenis huruf yang digunakan 3. Bahasa - Kejelasan penggunaan bahasa
E. Jenis Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber yaitu ahli modul pembelajaran, ahli tematik, dan ahli bahasa. Data berupa data kuantitatif dan kualitatif yang merupakan hasil penilaian kualitas modul pembelajaran yang dikembangkan serta masukan sebagai dasar untuk melakukan revisi produk modul pembelajaran.
F. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dari hasil kuesioner yang telah diisi ketiga validator, ahli modul pembelajaran, ahli desain modul dan ahli bahasa modul pembelajaran kelas IV sekolah dasar.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari angket uji ahli. Menurut Suharsimi Arikunto (1993: 207), data kuatitatif yang berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran dapat diproses dengan cara dijumlah, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan diperoleh persentase. Persentase kelayakan ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
Persentase kelayakan (%)
=
x 100%
kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang berseifat kualitatif, misalnya sangat baik (76-100%), baik (56-75%), cukup (45-55%), kurang baik (0-39%). Adapun keempat skala tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
Tabel2. Tabel Skala Persentase menurut Suharsimi Arikunto (1993:208)
Persentase Pencapaian Skala Interpretasi
76 – 100% 4 Sangat Baik
56 – 75% 3 Baik
40 – 55% 2 Cukup
52
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Prosedur Pengembangan
Pengembangan prototipe modul pembelajaran Tematik Kelas IV SD Berbasis Multiple Intelligence ini dikembangkan melalui beberapa tahapan utama. Sesuai dengan model pengembangan dari Borg and Gall dalam Sugiyono (2011: 298), maka prototipe Tematik Kelas IV SD Berbasis Multiple Intelligence melalui 5 tahap utama yaitu:
1. Potensi dan masalah
Potensi dan masalah diperoleh dari mengkaji analisis kebutuhan yang disebarkan keenam sekolah dasar di SD N Kledokan, SD N Baran I, SD N Kerdonmiri I, SD N Gelaran 2, SD N I Socokangsi, dan SD Kanisius Sengkan. 2. Pengumpulan data
belum memiliki RPP tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 6 sekolah belum memiliki bahan ajar tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 6 sekolah belum memiliki media yang mengakomodasi pembelajaran tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 1 sekolah sudah memiliki LKS tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 5 sekolah belum memiliki LKS tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 6 sekolah belum memiliki media berbasis ICT tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence, 6 sekolah belum memiliki perangkat penilaian tematik berdasarkan kurikulum 2013 berbasis multiple intelegence.
3. Desain produk
tiga dimensi atau pop-up, sehingga siswa menjadi tertarik untuk membaca serta mempelajari modul tersebut.
Modul pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti menggunakan program Microsoft Word 2007, Adobe In Design, Corel Draw X4, dan Adode Photoshop. Aplikasi program Microsoft Word 2007 digunakan peneliti untuk menyusun materi ajar. Font yang digunakan Kristen ITC. Aplikasi Adode In Design memiliki kelebihan dalam menata layout halaman modul pembelajaran.
Adobe Photoshop memiliki kelebihan dalam pembuatan karakter gambar (otentik) yang akan dibuat pop-up dan lift the flap. Corel Draw X4 digunakan untuk membuat cover modul pembelajaran, menentukan ukuran karakter-karakter supaya tidak melebihi ukuran modul pembelajaran dan digunakan untuk meletakan tokoh-tokoh tersebut supaya proporsional.
Modul pembelajaran yang dikembangkan memiliki komponen-komponen sebagai berikut 1) sampul modul pembelajaran, 2) isi , 3) kunci jawaban, 4) daftar pustaka. Desain produk awal adalah sebagai berikut.
1) Sampul modul pembelajaran
2) Isi
Isi modul pembelajaran terdiri dari 101 halaman yang terbagi dalam enam kali pembelajaran. Pada lembar awal terdapat kata pengantar, daftar isi, gambaran isi buku. Pada awal pembelajaran terdapat pemetaan kompetensi dasar kelas IV, indikator dan tujuan untuk pembelajaran tersebut, kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa, motivasi, apersepsi, uraian materi, kegiatan siswa, refleksi, dan belajar dengan keluarga.
3) Kunci jawaban
Kunci jawaban dalam modul pembelajaran merupakan jawaban dari soal-soal yang ada dalam modul pembelajaran.
4) Daftar pustaka
Daftar pustaka berisi uraian referensi yang digunakan dalam penyusunan modul pembelajaran.
4. Validasi desain
Validasi bertujuan untuk meminta mengetahui kelayakan modul yang telah dibuat. Validasi dilakukan oleh tiga ahli, ahli modul pembelajaran, ahli desain modul pembelajaran oleh dosen PGSD USD dan ahli bahasa oleh guru kelas empat.