BAB IV
PEMBAHASAN
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Latar Belakang Pembahasan
Dalam melakukan penilaian risiko, data diperoleh dengan cara mengumpulkan dokumen, wawancara dengan staf, serta melakukan observasi langsung pada Divisi IT Security. Berdasarkan NIST SP800-30 ada 9 tahapan yang dilakukan dalam penilaian risiko yaitu :
1. Karakterisasi sistem 2. Identifikasi ancaman 3. Identifikasi kerentanan 4. Analisa kontrol 5. Penentuan kemungkinan 6. Analisa dampak 7. Penentuan risiko 8. Rekomendasi kontrol 9. Dokumentasi hasil
Berdasarkan hasil wawancara dengan staf Divisi IT Security (Lampiran 2) diketahui ancaman terbesar yang terjadi dari tahun 2010 sampai Februari 2012 adalah
Denial of Service (DoS), Virus dan Worm, serta Unauthorized Access. Event yang
terjadi berupa kategori tersebut cukup banyak walaupun sampai saat ini masih dapat diblokir oleh tools-tools IT Security yang dimiliki.
4.2 Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan proses pertama dalam manajemen risiko. Sembilan tahapan dalam proses penilaian risiko adalah sebagai berikut.
4.2.1 Karakterisasi Sistem (System Characterization)
Pada penilaian risiko sistem informasi, tahap pertama yang dilakukan yaitu dengan menjelaskan informasi yang berhubungan dengan sistem yang digunakan
un-tuk mengkarakterisasi sistem TI dan perusahaan. Unun-tuk perangkat keras (hardware),
sistem operasi, dan aplikasi yang tertera mengacu pada Dokumen List Aset Divisi IT Security, 2011 (Lampiran 1). Tabel 1 merupakan daftar hardware yang dimiliki oleh Divisi IT Security, Tabel 2 merupakan daftar sistem operasi, dan Tabel 3 merupakan daftar aplikasi yang digunakan untuk kegiatan operasional.
Tabel 1. Daftar Hardware Divisi IT Security
Jenis Tipe
Jumlah (unit)
Server IBM X3650 81
IBM X3250
Router Cisco VPN 3000 Concentrator 5
Cisco 2800 Series Juniper M10i
Switch Cisco Catalyst 2960 Series
6 Cisco Catalyst 3560 Series
Switches Extreme 6800 series Radware AppDirector
Firewall Check Point Firewall 6
Netscreen ISG 2000 Cisco ASA 5500 Series
IPS Proventia IPS 22
IDM Server 10
Proxy Gateway Ironport Web 4
Tabel 2. Daftar Sistem Operasi Divisi IT Security
Sistem Operasi
Jumlah (unit)
Window server 2003, enterprise (32 bit) 3
Window server 2008, enterprise (64 bit) 1
Windows Server 2008 Standard 2
Windows Server 2008 R2 Standard 7
Windows Server 2003 R2 37
Windows Server 2008 32 bit 8
Windows Server 2003 R2 64 bit 2
ESXi 1
Linux Redhat Enterprise Server 5.5 64BIT 20
Windows Server 2003 10
Solaris 8
Tabel 3. Daftar Aplikasi Divisi IT Security
Aplikasi Jumlah (unit)
Log Processing, IT Security 1
Pooling Log SOC 1
Firewall SmartConsole 1
SEP Server 1
IPS Application (Site Protector IPS) 1
Database IPS 1
Collector IPS 3
Primary DNS External xyz.com 1
Secondary DNS External xyz.com 1
Firewall Perimeter 3 Mail Gateway 2 Web Gateway 2 Router 2 VPN Gateway 2 IPS G1200 2 IPS G400 5 IPS GX4002 10 Firewall Datacenter 2 NTP 1 Radius 1 VPN WLAN 1 C2960G L2 Switch 1
Aplikasi Jumlah (unit)
C3560G L2 Switch 1
Loadbalancer proxy 2
SEP-Desktop 8 Gambar 8 merupakan gambaran topologi jaringan dari aset yang dimiliki oleh
Divisi IT Security. Semua server yang dimiliki oleh Divisi IT Security berada di dae-rah data center dimana setiap akses yang masuk difilter oleh firewall. Sebelum
melewati firewall, terdapat IPS (Intrusion Prevention System) yang memiliki
kemam-puan untuk melakukan pencegahan secara proaktif dalam jaringan terhadap gangguan yang sering atau pernah terjadi. Fungsi utama dari router adalah sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Agar seluruh regional dapat melakukan pertukaran informasi maka router yang ditempatkan di kantor pusat PT. XYZ. Pada wilayah DMZ terdapat switch yang
berfungsi sebagai load balancer, sebagai penghubung IPS dengan IDS (Intrusion
De-tection System), serta untuk mengatur koneksi apabila salah satunya ada yang down.
Selain itu juga terdapat firewall dan IPS yang menfilter Internet sebelum masuk ke lokal jaringan PT. XYZ.
User-user yang mendukung penggunaan sistem IT pada Divisi IT Security meliputi:
a. Kepala divisi
b. Manager
c. IT Network Sistem Expert
d. IT Security Officer
e. Application Support Operator
f. Tim Security Operation Center (SOC)
g. Tim Antivirus
h. Tim Identity Management (IDM)
Gambar 9 adalah struktur organisasi dari Divisi IT Security PT. XYZ. Kepala divisi membawahi Manager Security Response dan IT Network System Expert. Man-ager Security Response membawahi Application Support Operator dan IT Security Officer. Tim IDM berada dibawah IT Security Officer. Sementara tim Antivirus dan tim SOC berada dibawah IT Network System Expert.
Gambar 9. Struktur Organisasi Divisi IT Security
4.2.2 Identifikasi Ancaman (Threat Identification)
Sumber ancaman adalah keadaan atau peristiwa yang memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan pada sistem TI. Untuk sumber ancaman – ancaman
keama-nan informasi, Divisi IT Security melakukan monitoring selama 24 jam sehari 7 hari
dalam seminggu. Data hasil monitoring kemudian dapat diakses melalui portal
inter-nal. Berdasarkan portal tersebut didapat data jumlah event terhadap
perangkat-perangkat yang dimiliki oleh PT.XYZ. Pada Gambar 10 terlihat kategori event
terbe-sar dari tahun 2010 sampai Februari 2012 berupa denial of service (DoS). Pada tahun
tahun 2011 dan 2012 jenis event kedua terbanyak setelah DoS adalah worm/virus
diikuti dengan kategori protocol signature dan network. Data pada Gambar 10 dan
Gambar 11 terdapat pada Lampiran 2.
Gambar 10. Kategori Event Terdeteksi pada Perangkat
Gambar 11 merupakan grafik virus yang terdeteksi pada server dan worksta-tion. PT. XYZ menggunakan antivirus Symantec Enterprise. Berdasarkan gambar ter-lihat virus yang terdeteksi pada workstation lebih banyak daripada yang terdeteksi pada server. Hal ini disebabkan karena pertukaran data pada server dibatasi dan juga
akses menuju ke server akan difilter oleh firewall, antivirus, dan tools security
lainnya. Sementara untuk data insiden dapat dilihat pada Lampiran 10dimana terdapat 1348 insiden yang terjadi pada tahun 2010 - Februari 2012.
Tabel 4 merupakan ancaman yang diidentifikasi berdasarkan 3 event terbesar
pada Divisi IT Security.
Tabel 4. Identifikasi Ancaman
Ancaman Sumber Ancaman Aksi Ancaman
Denial of Service Hacker ‐ Menggunakan semua
bandwidth dengan
mengirimkan traffic yang besar ke jaringan
‐ Mengkonsumsi disk space
yang ada dengan menciptakan file yang besar ukurannya
‐ Mengirim permintaan ilegal
untuk sebuah aplikasi sehingga menyebabkan crash
‐ Membuat banyak sesi login ke
dalam server sehingga user lain tidak dapat melakukan login
Virus/Worm Internal perusahaan
(ka-ryawan) ‐ Menyisipi attachment pada email
‐ Menginfeksi file dokumen
perusahaan
‐ Membanjiri dan meningkatkan
peggunaan network
‐ Membuka backdoor pada
komputer
Unauthorized Access Pihak ketiga
(vendor, eks-karyawan), ‐
Defacing pada website
Ancaman Sumber Ancaman Aksi Ancaman
Industrial espionage perusahaan
‐ Melakukan remote pada server
tanpa authorisasi
‐ Menebak atau mencuri
username dan password
‐ Mengakses workstation tanpa
izin
4.2.3 Identifikasi Kerentanan (Vulnerability Identification)
Analisis ancaman terhadap sistem TI harus mencakup analisis kerentanan yang terkait dengan sistem. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengembangkan daftar kerentanan sistem (cacat atau kelemahan) yang dapat dieksploitasi oleh sumber ancaman potensial. Tabel 5 merupakan hasil identifikasi kerentanan yang terdapat pada Divisi IT Security berdasarkan hasil wawancara.
Tabel 5. Identifikasi Kerentanan
Kerentanan Sumber Ancaman Aksi Ancaman
Instalasi software yang
tidak berhubungan dengan kegiatan operasional.
Virus disisipi pada
software ‐
Terjadinya penyebaran virus sehingga jaringan menjadi lambat atau mati.
‐ Merusak data-data
perusahaan. Pertukaran data antar
ja-ringan maupun removable
media
Umumnya sumber penyebaran virus terdapat
pada removable media
(flashdisk, external hardisk)
‐ Terjadinya penyebaran
virus sehingga jaringan menjadi lambat atau mati.
‐ Merusak data-data
perusahaan.
Human error Karyawan yang ceroboh ‐ Terjadinya pengubahan
data Perusahaan
‐ Terjadinya perubahan
parameter pada sistem
‐ Data menjadi tidak valid
Kerentanan Sumber Ancaman Aksi Ancaman
telah berhenti belum dihapus dari sistem
karyawan yang berhenti secara ilegal
‐ Mengakses data milik
perusahaan
Penggunaan account root
oleh vendor pada saat fase development
Unauthorized user oleh
vendor ‐ Menyusup kedalam sistem secara ilegal
‐ Mengakses data milik
perusahaan
Untuk mengetahui kerentanan terhadap sistem maka dilakukan juga
vulnera-bility assessment dengan menggunakan tools berupa Nessus Vulnerability Scanner.
Mulai dari tahun 2010 sampai 2012 terjadi penambahan IP address yang
di-assessment. Dimana setiap IP address merepresentasikan sistem atau aplikasi yang
dimiliki oleh Divisi IT Security. Pada tahun 2010 terdapat 50 IP address, tahun 2011
terdapat 115 IP address, dan tahun 2012 terdapat 133 IP address. Gambar 12
meru-pakan data hasil vulnerability assessment yang dilakukan selama tiga tahun terakhir
sesuai data pada Lampiran 2.
Untuk tingkat kerentanan dari hasil identifikasi kerentanan diatas dapat dide-finisikan pada Tabel 6, sebagai berikut :
Tabel 6. Tingkat Kerentanan Sistem
Tingkat Kerentanan
Karakteristik Contoh
Tinggi ‐ Memungkinkan penyerang dapat
menjalankan perintah sebagai user lain
‐ Memungkinkan penyerang dapat
mengakses data diluar akses yang diperbolehkan
‐ Memungkinkan penyerang untuk
berperan sebagai user/entitas lain
‐ Memungkinkan penyerang
melakukan aksi DoS
‐ Memungkinkan penyerang
menguasai/mengendalikan sistem sepenuhnya
‐ Root account, admin
account, sys account menggunakan password yang lemah
‐ Versi dari software
belum terupdate dengan versi yang terbaru
Sedang ‐ Memungkinkan penyerang
mengumpulkan data
‐ Memungkinkan penyerang
menyembunyikan event/aktifitasnya
‐ Sebagai titik awal penyerang
mendapatkan akses ke suatu sistem/data
‐ Menggunakan
Sertifi-kat SSL yang tidak terdaftar
‐ Adanya kelemahan
pada pengaturan
proto-kol remote desktop
yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan akses ‐ Konfigurasi dari software yang menyebabkan terbukanya informasi sensitif
Rendah ‐ Informasi awal yang didapat oleh
penyerang sebelum mendapatkan informasi yang menyeluruh.
‐ Port yang terbuka
‐ Deteksi service
‐ Identifikasi sistem
ope-rasi
4.2.4 Analisis Pengendalian (Control Analysis)
Untuk mengetahui kontrol yang digunakan dalam penanganan insiden terkait dengan tiga insiden teratas pada Divisi IT Security maka dilakukan pengukuran dengan menggunakan kuesioner dari NIST SP800-61rev1 (Lampiran 4). Kuesioner ditujukan kepada Tim SOC dan Tim Antivirus yang berperan langsung dalam kegiatan operasional. Tabel 7, Tabel 8, Tabel 9, dan Tabel 10 merupakan kontrol yang diterapkan saat ini berdasarkan hasil kuesioner.
Tabel 7. Kontrol untuk Pencegahan Insiden
Tahap Kontrol
Pencegahan ‐ Dilakukan update antivirus minimal 3 kali sehari
‐ Dilakukan vulnerability assessment terhadap
semua sistem yang dimiliki secara periodik
‐ Konfigurasi pada jaringan dengan memfilter trafik
yang masuk
‐ Dilakukan monitoring selama 24 jam, 7 hari
seminggu terhadap ancaman yang terjadi pada sistem
Tabel 8. Kontrol untuk Penanganan Insiden Secara Umum
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Mengetahui insiden telah terjadi
‐ Menganalisa sesuatu yang akan datang
berdasar-kan indikasi yang ada
‐ Melakukan pengkajian
‐ Mendokumentasikan semua proses investigasi dan
hasil pengumpulan bukti yang ada.
‐ Mengklasifikasi insiden menggunakan beberapa
kate-gori yang ada
Tabel 9. Kontrol untuk Penanganan Insiden Denial of Service
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar.
Tahap Kontrol
san, dan Pemulihan dan mendokumentasi bukti yang ada.
‐ Mengidentifikasi dan mengurangi semua
kerenta-nan yang digunakan.
‐ Mengkonfirmasi sistem yang terkena dapat
ber-fungsi secara normal.
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan
Kegiatan Pasca Insiden ‐ Membuat laporan lanjutan
Tabel 10. Kontrol untuk Penanganan Unauthorized access
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar. Penahanan,
Penghapu-san, dan Pemulihan ‐ Memperoleh, mempertahankan, mengamankan, dan mendokumentasi bukti yang ada.
‐ Mengkonfirmasi penahanan kejadian
‐ Melakukan analisa lebih lanjut terhadap insiden
tersebut dan menentukan apakah penahanan sudah cukup (termasuk memeriksa sistem lain untuk tanda-tanda intrusi)
‐ Melaksanakan tindakan penahanan tambahan jika
perlu
‐ Mengidentifikasi dan mitigasi semua kerentanan
yang telah dieksploitasi.
‐ Menkonfirmasikan bahwa sistem yang terkena
te-lah berfungsi normal
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan
Kegiatan Pasca Insiden ‐ Membuat laporan lanjutan
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Melakukan estimasi terhadap pengaruh secara
tehnis saat ini dan yang akan berpotensi terkena dari insiden tersebut.
‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar. Penahanan,
Penghapu-san, dan Pemulihan ‐‐ Mengidentifikasi sistem yang terinfeksi Apabila diperlukan, halangi mekanisme transmisi untuk malicious code
‐ Disinfeksi, mengkarantina, menghapus, dan
mengganti file yang terinfeksi
‐ Mengurangi kerentanan dieksploitasi untuk host
lain dalam organisasi
‐ Mengkonfirmasikan bahwa sistem yang terkena
telah berfungsi normal
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan.
Kegiatan Pasca Insiden -
4.2.5 Penentuan Kemungkinan (Likelihood Determination)
Penentuan potensi kerentanan dapat mendatangkan ancaman dapat dikategori-kan ke dalam tingkat tinggi, sedang, dan rendah. Faktor yang menjadi bahan pertim-bangan antara lain :
a. Motivasi dan kapabilitas sumber ancaman
b. Sifat kerentanan
c. Keberadaan dan efektifitas kontrol saat ini
Tabel 12. Kategori Kemungkinan Terjadi
mungkinan Keja-dian
3 Tinggi
Kemungkinan ter-jadi ≥1 kali dalam satu kuartal
Sumber ancaman mempunyai moti-vasi tinggi yang dapat merugikan perusahaan, hal ini terjadi karena pengendalian untuk mencegah ke-rentanan yang dilakukan tidak efek-tif atau masih kurang.
2 Sedang
Kemungkinan ter-jadi < 4 kali dalam setahun
Sumber ancaman mempunyai moti-vasi tinggi yang dapat merugikan perusahaan, tetapi perusahaan ma-sih bisa melakukan kontrol yang mungkin dapat menghambat keber-hasilan dari kerentanan.
1 Rendah
Kemungkinan ter-jadi < 1 kali seta-hun
Sumber ancaman mempunyai moti-vasi rendah, kontrol digunakan da-pat mencegah atau secara signifikan mengurangi suatu kerentanan yang akan terjadi.
4.2.6 Analisa Dampak (Impact Analysis)
Tahap selanjutnya dari penilaian risiko adalah menentukan dampak yang terjadi ketika ancaman terhadap kerentanan yang ada berhasil dieksploitasi. Penilaian dampak didasarkan pada pertimbangan kepekaan dan kekritisan aset informasi yang ada. Dampak akibat suatu insiden merupakan hal yang merugikan dari salah satu atau beberapa 3 prinsip dasar keamanan yaitu integritas, ketersediaan, dan kerahasiaan.
Berdasarkan wawancara dan dokumen IT Helpdesk Incident Management Policy and Procedure (Lampiran 9), dampak terjadinya insiden dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu besar, sedang, dan kecil. Tingkat dampak terjadinya insiden beserta indikatornya dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 13. Kategori Dampak
Skor Tingkat Dampak
Indikator Keterangan
3 Tinggi
• Insiden melibatkan manajemen
tingkat atas PT. XYZ, seperti Kepala Grup/Kepala Divisi
• Pengguna yang terkena
gang-guan ≥ satu divisi
• Resolution time paling lambat
24 jam
• Merupakan aplikasi yang
berhu-bungan dengan revenue
genera-tor
• Kehilangan kepercayaan
publik mengenai produk dan layanan perusahaan
• Ketidaknyamanan terhadap
pelanggan ≥ 24 jam
• Direct loss > Rp.
100.000.000
2 Sedang
• Insiden menyebabkan informasi
atau data yang mendukung ke-giatan operasional tidak tersedia
• Pengguna yang terkena
gang-guan 1 departemen
• Potensi dan mungkin menjadi
sorotan publik
• Mempengaruhi kegiatan
operasional dan berkaitan dengan servis/layanan
• Resolution time 48 jam
• Reputasi terkena dampak
buruk dan dibutuhkan usaha dan biaya untuk perbaikan
• Ketidaknyamanan terhadap
pelanggan ≥ 6 jam
• Direct loss antara Rp.
1.000.000 – Rp. 100.000.000
1 Rendah
• Insiden menyebabkan
ketidak-nyamanan, gangguan, atau keru-sakan yang tidak disengaja oleh pengguna atau tingkat adminis-trator dan berdampak minor pa-da sistem
• Pengguna yang terkena
gang-guan ≤ 5 orang
• Mempengaruhi kegiatan
supporting operasional
• Tidak urgent
• Reputasi sedikit
terpenga-ruh, dapat diabaikan.
• Ketidaknyamanan terhadap
pelanggan ≤ 2 jam
• Direct loss ≤ Rp. 1.000.000
Kerugian biaya sebagai bagian dari dampak risiko akibat terjadinya insiden,
dengan dampak terjadinya insiden yaitu biaya perbaikan waktu kerja karyawan, dan jumlah karyawan yang terkena dampak insiden.
Salah satu contoh estimasi kerugian yang dapat disajikan, berupa direct loss adalah: Aplikasi i-SEV merupakan aplikasi elektronik voucher PT. XYZ untuk melakukan top up pulsa yang ditembakkan langsung ke nomer pelanggan. Aplikasi
ini merupakan salah satu aplikasi perting sebagai aplikasi revenue generator bagi PT.
XYZ. Rata-rata transaksi yang berlangsung per hari nya mencapai ±3000 untuk seluruh Indonesia. Apabila terjadi serangan DoS atau Virus yang dapat menyebabkan
terjadi nya system down dalam kurun waktu 24 jam, dengan asumsi rata-rata pulsa
yang diisi Rp. 50.000 per transaksi. Jumlah transaksi perhari dikali rata-rata pengisian pulsa. Maka estimasi total kerugian yang dialami PT. XYZ sebesar Rp. 150 juta.
4.2.7 Penentuan Risiko (Risk Determination)
Berdasarkan tingkat risiko ini dapat ditentukan jenis perlakuan atau tindakan yang harus dilakukan. Mengacu pada wawancara pada Lampiran 3, kategori tingkat risiko dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Tingkat Risiko
Skor Tingkat Risiko
Deskripsi Tindakan yang diperlukan
7 - 9 Tinggi
‐ Penyerang telah berhasil
mengeksploitasi
kerentanan keamanan jaringan.
‐ Memungkinkan penyerang
untuk mendapatkan akses remote ke jaringan atau sistem.
‐ Risiko harus mendapat
per-lakuan berupa perbaikan dan tindakan korektif terha-dap kontrol sesegera mung-kin.
‐ Sistem yang ada mungkin
dapat beroperasi, namun tindakan korektif sangat krusial dibutuhkan.
Skor Tingkat Risiko
Deskripsi Tindakan yang diperlukan
‐ Memungkinkan penyerang
dapat memperoleh akses administratif untuk sistem tersebut.
4 - 6 Sedang
‐ Penyerang meluncurkan
serangan baik secara manual atau menggunakan alat otomatis, tetapi serangan itu tidak berhasil.
‐ Serangan dilakukan
dengan menggunakan program atau teknik eksploitasi terhadap aplikasi rentan atau jasa di
jaringan.
‐ Risiko harus mendapat
per-lakuan untuk perbaikan, mencegah, dan menguran-ginya.
‐ Dapat diberikan tambahan
kontrol yang sesuai dalam jangka waktu yang wajar.
1 - 3 Rendah
‐ Tidak ada ancaman
tunggal dengan kerahasiaan, integritas dan
ketersediaan aset informasi.
‐ Risiko dapat diterima
‐ Untuk kedepannya akan
di-lakukan eskalasi lebih lanjut terhadap kontrol.
Tabel 15 menggambarkan risiko-risiko yang mungkin terjadi akibat adanya ancaman pada tahap Identifikasi Ancaman, besarnya risiko, dan kontrol yang ada pada saat ini.
Tabel 15. Analisa Risiko
Risiko Tingkat Dampak
(1-3)
Ancaman Dampak Kemungkinan Kejadian
(1-3)
Tingkat Risiko
(1-3)
Kontrol Saat Ini
Bandwidth habis
2 Virus/worm • Kinerja jaringan
lam-bat • Pertukaran informasi terganggu • Produktivitas karya-wan berkurang 3 6 • Update antivirus untuk semua server dan workstation • Scanning virus secara berkala • Monitoring anomali yang terjadi Serangan virus pada workstation
1 Virus/worm • Kinerja perangkat
lambat • Produktivitas karya-wan berkurang 3 3 • Update antivirus untuk semua server dan workstation • Scanning virus secara berkala Defacing Website 3 Unathorized
Access • Buruknya reputasi perusahaan
3 9 • Monitoring anomali yang terjadi • Patching terha-dap vulnerability Website tidak dapat diakses 3 Denial of Service Unauthorized Access •Buruknya reputasi perusahaan 3 9 • Monitoring anomali yang terjadi • Patching terha-dap vulnerability
Risiko Tingkat Dampak
(1-3)
Ancaman Dampak Kemungkinan Kejadian
(1-3)
Tingkat Risiko
(1-3)
Kontrol Saat Ini
Data pelang-gan berubah atau hilang 3 Unathorized Access Virus/Worm
•Data tidak
terse-dia/tidak valid •Hilangnya keper-cayaan pelanggan 3 9 • Membatasi jum-lah admin • Penggunaan password yang kompleks System down, hang, crash 3 Denial of
Ser-vice •Data tidak dapat di-akses
•Produktivitas
karya-wan berkurang
2 6 • Melakukan
backup secara berkala
• Filter pada
fire-wall
Aset (server) rusak
3 Denial of
Ser-vice •Data tidak tersedia
1 3 • Melakukan
back-up secara berkala
• Filter pada
fire-wall Tidak dapat Login ke sis-tem 2 Denial of Ser-vice Unathorized Access •Produktivitas karya-wan berkurang
1 2 • Filter pada
fire-wall
• Penggunaan
password yang kompleks
4.2.8 Rekomendasi Kontrol
Rekomendasi kontrol didapat dari hasil penilaian risiko dengan tujuan untuk mengurangi tingkat risiko pada sistem TI. Beberapa hal yang dapat direkomendasikan adalah :
a. Menetapkan kebijakan terkait ancaman yang ada, termasuk yang
berhubungan dengan information sharing. Saat ini PT. XYZ telah
memiliki kebijakan keamanan, tetapi sebaiknya kebijakan tersebut lebih ditingkatkan.
b. Mengembangkan prosedur untuk penanganan insiden. Prosedur
penanga-nan insiden tersebut menyediakan langkah-langkah rinci untuk mepenanga-nang- menang-gapi insiden. Prosedur harus mencakup semua tahapan proses respon insi-den. Prosedur harus didasarkan pada kebijakan penanganan insiden dan rencana.
Selanjutnya rekomendasi ini akan dilanjutkan pada proses mitigasi risiko, dimana prosedur dan teknis keamanan sebagai kontrol yang direkomendasikan akan dievaluasi, diprioritaskan, dan diimplementasikan.
4.2.9 Dokumentasi Hasil
Setelah penilaian risiko selesai, hasilnya harus didokumentasikan dalam ben-tuk laporan. Dokumentasi menggambarkan keseluruhan proses penilaian risiko, mulai dari ancaman dan kerentanan, pengukuran risiko, dan rekomendasi kontrol untuk di-impelementasikan. Dari hasil laporan dapat membantu manajemen untuk membuat
keputusan tentang perubahan kebijakan, prosedural, anggaran, maupun sistem opera-sional. Dokumentasi terdapat pada Lampiran 8.
4.3 Mitigasi Risiko
Mitigasi risiko merupakan proses kedua dari manajemen risiko dengan pe-nambahan kontrol yang direkomendasikan pada proses penilaian risiko.
4.3.1 Kebijakan Keamanan
Kebijakan berisi beberapa poin seperti maksud dan tujuan, ruang lingkup, peran dan tanggung jawab dari pihak yang bersangkutan. Penyusunan kebijakan kea-manan mengambil referensi dari ISO/IEC 27002. ISO/IEC 27002 terdiri 15 domain yang mencakup 3 aspek yaitu aspek organisasi, aspek fisik, dan aspek teknis. Dalam pembuatan kebijakan diambil domain yang menyangkut aspek teknis saja karena do-main yang lain dinilai kurang relevan dalam keseluruhan pembahasan tesis ini. Kebijakan 1. Penggunaan Email dan Internet Mail Address
Kebijakan 2. Pemilihan dan Perlindungan Password Kebijakan 3. Penggunaan Jaringan dan Internet Kebijakan 4. Pengendalian Virus
Kebijakan 5. Pengelolaan Akses User
Kebijakan 6. Jumlah Optimum Administrator Kebijakan 7 Infrastruktur Jaringan
Kebijakan 8 Pemantauan Keamanan Informasi
Kebijakan 10 Akses Pihak Ketiga
4.3.2 Prosedur Operasi Standar (SOP)
Prosedur didasarkan pada kebijakan yang merupakan gambaran dari proses teknis yang dilakukan untuk penanganan insiden. SOP dapat digunakan sebagai alat instruksional dan didistribusikan kepada seluruh anggota Divisi IT Security. SOP per-lu diperbarui dari waktu ke waktu dan dapat berubah sesuai dengan ancaman baru atau tren dalam keamanan informasi. Dokumen SOP (Lampiran 7) berisikan :
1. Pendahuluan yang berisikan tujuan dokumen, siapa saja yang terlibat, ruang
lingkup, dan referensi.
2. Manajemen insiden yang berisikan proses penanganan bila terjadi insiden,
cara melakukan penilaian (assessment), klasifikasi serangan, cara penahanan
dan pemulihan insiden.
3. Alur proses penanganan insiden secara umum dan insiden terkait tren yang
terjadi selama 3 tahun terakhir.
Gambar 13, merupakan proses alur penanganan insiden secara umum, Gambar 14 adalah alur penanganan untuk insiden dengan kategori DoS, Gambar 15 adalah alur penanganan untuk insiden dengan kategori virus/worm, dan Gambar 16 adalah
Tim Security Operation Center IT Network System Expert Menemukan insiden Membuat laporan Awal Analisis awal Insiden potensial ? Eskalasi lebih dalam Klasifikasi Top 3 Insiden (A, B, C) Lain-lain Log events Membuat laporan Akhir Ya Tidak
Gambar 13. Alur Proses Penanganan Insiden Secara Umum
Keterangan gambar diatas ;
1. Tim SOC melakukan monitoring secara terus menerus setiap harinya. Ketika me-nemukan suatu event yang dianggap sebagai insiden tim SOC akan melaporkan ke-pada IT Network Sistem Expert. Selain itu tim SOC juga melakukan analisis awal dengan mencari informasi dan data-data yang saling terkait dengan insiden.
2. Berdasarkan hasil analisis kemudian ditentukan apakah insiden tersebut dikatakan potensial atau tidak. Jika tidak tim SOC akan membuat laporan akhir. Namun apabila insiden tersebut potensial, akan dilakukan serta melakukan eskalasi lebih dalam dan pengkajian misalnya dengan membaca informasi ataupun berdiskusi mengenai insi-den tersebut.
3. Kemudian dilakukan klasifikasi kategori insiden, apakah insiden merupakan top 3 insiden yang terjadi pada PT. XYZ atau bukan. Jika ya, maka dilakukan penanganan sesuai jenis insiden dan jika bukan maka tim SOC akan memberikan log dari event tersebut. Terakhir tim SOC membuat laporan akhir kepada IT Network Sistem Ex-pert.
Selanjutnya dibahas secara rinci untuk penanganan masing-masing insiden terkait 3 serangan terbesar yang terdeteksi pada Divisi IT Security:
Keterangan gambar diatas :
1. Tim SOC menemukan insiden DoS kemudian membuat tiket insiden pada portal internal serta melaporkan kepada IT Network Sistem Expert. Selanjutnya dilakukan estimasi terhadap pengaruh secara teknis saat ini dan yang berpotensi terkena dampak dari insiden tersebut. Selain itu juga dilakukan pengumpulan data mengenai insiden tersebut dan eskalasi lebih mendalam mengenai insiden tersebut.
2. Kemudian dilakukan identifikasi serta mitigasi kerentanan yang dieksploitasi oleh serangan tersebut. Apabila serangan belum berhenti, dilakukan filtering berdasarkan karakteristik serangan. Bila serangan masih juga belum berhenti dapat dilakukan re-lokasi target.
3. Ketika serangan telah berhenti, sistem yang terkena serangan dapat dikembalikan dan dioperasikan seperti sediakala. Selanjutnya dilakukan konfirmasi kepada user. Apabila masih terdapat serangan maka proses diulangi dengan melakukan identifikasi serta mitigasi terhadap kerentanan yang berhasil dieksploitasi. Namun apabila sudah berjalan normal maka akan dibuat laporan akhir dan dibahas dalam meeting oleh IT Network Security Expert dan dilakukan update database portal internal sehingga apabila lain waktu ditemukan insiden yang sama dapat dilakukan penanganan dengan
Tim Antivirus IT Network System Expert Insiden berupa virus/worm Membuat laporan Awal Melakukan prioritas berdasarkan dampak bisnis
Estimasi teknis & Eskalasi lebih dalam
Identifikasi sistem yang terinfeksi Memutuskan sistem dari jaringan Mitigasi kerentanan yang di eksploitasi Quarantined/ delete file User Konfirmasi sistem telah normal ? Sudah Belum Pembahasan insiden dalam meeting Membuat laporan akhir, update portal
Membuat tiket pada portal
Gambar 15. Alur Penanganan Virus/Worm
Keterangan gambar diatas ;
1. Tim antivirus menemukan insiden berupa virus atau worm kemudian membuat ti-ket insiden pada portal internal serta melaporkan kepada IT Network Sistem Expert. Selanjutnya dilakukan estimasi terhadap pengaruh secara teknis saat ini dan yang berpotensi terkena dampak dari insiden tersebut. Selain itu juga dilakukan eskalasi lebih mendalam mengenai insiden tersebut.
2. Kemudian dilakukan identifikasi terhadap sistem yang terinfeksi. Apabila dianggap berbahaya maka dilakukan pemutusan sistem dari jaringan. Tim antivirus juga harus melakukan mitigasi terhadap kerentanan yang dieksploitasi oleh malware.
3. Tim antivirus melakukan aksi untuk membersihkan, mengkarantina atau mendelete file yang terinfeksi. Selanjutnya dilakukan konfirmasi kepada user. Apabila masih terdapat virus/worm maka proses diulangi dengan melakukan identifikasi sistem yang terinfeksi. Namun apabila sudah bersih dari virus/worm maka akan dibuat laporan akhir dan dibahas dalam meeting oleh IT Network Security Expert dan dilakukan update database portal internal sehingga apabila lain waktu ditemukan insiden yang sama dapat dilakukan penanganan dengan segera..
Insiden berupa
unauthorized access Laporan Awal
Melakukan prioritas berdasarkan dampak
bisnis
Initial containment
Tim Security Operation Center IT Network System Expert User
Mengumpulkan data-data Penanganan sudah cukup ? Tindakan tambahan Hapus komponen insiden dari sistem Mitigasi kerentanan yang di eksploitasi Konfirmasi sistem telah normal ? Sudah Mengembalikan sistem seperti semula
Melakukan monitoring tambahan
Sudah
Belum
Belum
Estimasi teknis & Eskalasi lebih dalam
Membuat laporan akhir, update portal Pembahasan insiden
dalam meeting
Membuat tiket pada portal
Keterangan gambar diatas ;
1. Tim SOC menemukan insiden unauthorized access kemudian membuat tiket insi-den pada portal internal serta melaporkan kepada IT Network Sistem Expert. Selan-jutnya dilakukan estimasi terhadap pengaruh secara teknis saat ini dan yang berpoten-si terkena dampak dari inberpoten-siden tersebut. Selain itu juga dilakukan pengumpulan data mengenai insiden tersebut dan eskalasi lebih mendalam mengenai insiden tersebut.
2. Kemudian dilakukan penanganan awal misalnya dengan men-disable user account
yang digunakan pada waktu serangan terjadi. Apabila serangan telah teratasi dapat dilakukan identifikasi serta mitigasi kerentanan yang dieksploitasi oleh serangan ter-sebut. Namun bila serangan belum juga teratasi maka IT Network Security Expert dapat memberikan saran mengenai tindakan tambahan.
3. Setelah itu, komponen-komponen yang terkait dengan insiden dapat dihapus dari sistem dan sistem yang terkena serangan dapat dikembalikan dan dioperasikan seperti sediakala. Selanjutnya dilakukan konfirmasi kepada user. Apabila masih terdapat se-rangan maka proses diulangi dengan melakukan identifikasi awal. Namun apabila su-dah berjalan normal maka akan dibuat laporan akhir dan dibahas dalam meeting oleh IT Network Security Expert dan dilakukan update database portal internal sehingga apabila lain waktu ditemukan insiden yang sama dapat dilakukan penanganan dengan segera..
4.3.3 Rekomendasi Penanggulangan Insiden
‐ Blokir suspicious files
Konfigurasi email server dan client untuk memblokir attachment dengan
ekstensi file yang berkaitan dengan malicious code (misalnya .pif, .vbs, bisa juga .rar atau .zip agar lebih ketat) dan kombinasi ekstensi file yang mencurigakan (misalnya .txt.vbs., .Htm.exe.). Namun cara ini mungkin juga memblokir aktifitas yang sah. Beberapa perusahaan mengubah ekstensi file
terlebih dahulu sebelum dikirim kemudian penerima harus men-save dan
me-rename file terlebih dahulu sebelum dijalankan.
‐ Mengurangi sharing file pada Windows karena banyak worm yang menyebar
melalui sharing file pada host yang menjalankan windows. Sebuah infeksi
tunggal dapat dengan cepat menyebar ke ratusan atau ribuan host melalui
unsecuredshare.
‐ Menetapkan prosedur kepada semua user dari sistem, aplikasi, domain,
sampai workstation untuk mengubah password mereka secara periodik. Hal
ini merupakan cara pencegahan unauthorized access.
‐ Meningkatkan Pengetahuan Keamanan Informasi (Security Awareness)
Divisi IT Security telah mengadakan pelatihan security awareness yang
dila-kukan satu kali dalam setahun yang diikuti oleh seluruh karyawan PT. XYZ. Hal ini dimaksudkan agar setiap karyawan menyadari aturan perilaku dan tanggung jawab mereka dalam melindungi misi Perusahaan.
Untuk meningkatkan security awareness sebaiknya tidak hanya melalui pelatihan saja satu kali setahun saja, tetapi dapat dilakukan dalam sesi-sesi kecil per-divisi atau grup dengan materi yang menyeluruh mengenai
keamanan informasi. Misalnya masalah attachment pada email, pergantian password, serta sharing file. Selain itu juga dapat dilakukan workshop, melalui situs Web, dan stiker.
2. Deteksi
‐ Manajemen Patch
Secara rutin Divisi IT Security melakukan vulnerability assessment secara
pe-riodik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya insiden keama-nan. Dari hasil penilaian kerentanan yang telah diinformasikan kepada pe-nanggung jawab masing-masing perangkat seharusnya dilakukan eskalasi
ter-hadap kerentanan yang ada. Manajemen patch sangat penting untuk
mengurangi kerentanan yang ada pada aplikasi. Divisi IT Security juga
ber-tanggung jawab untuk melakukan manajemen patch, misalnya dengan
mem-peroleh, menguji, dan mendistribusikan patch untuk para administrator yang
sesuai dan pengguna diseluruh Perusahaan. Terkadang manajemen patch
ser-ing dibutuhkan saat mencoba untuk melakukan pemulihan dari insiden dengan skala besar.
‐ Penggunaan SIEM (Security Incident Event Management) lebih ditingkatkan.
Terkadang sulit untuk mengidentifikasi suatu event sebagai insiden yang potensial. Semua yang mengeluarkan log harus dimonitor dengan baik. Mulai dari log aplikasi, perangkat (firewall, IPS, appliance), sistem operasi, maupun database. SIEM bekerja untuk meningkatkan keamanan informasi pada infrastruktur jaringan perusahaan dengan efisien dan dapat mendeteksi
kejadian yang mencurigakan. SIEM bertugas untuk memberikan deteksi awal dan peringatan terhadap event keamanan..
4.4 Pengukuran Akhir
Pengukuran akhir dilakukan setelah 3 bulan implementasi proses mitigasi risiko, yaitu Maret – May 2012. Pada tahap ini dilakukan kembali pengukuran dengan menggunakan kuesioner dari NIST SP800-61rev1 (Lampiran 4) untuk mengetahui peningkatan keamanan informasi setelah melalui tahap mitigasi risiko . Kuesioner ditujukan kepada Tim SOC dan Tim Antivirus yang berperan langsung dalam kegiatan operasional. Tabel 16, Tabel 17, Tabel 18, dan Tabel 19 merupakan merupakan kontrol yang diterapkan saat ini berdasarkan hasil kuesioner.
Tabel 16. Kontrol untuk Penanganan Insiden Secara Umum
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Mengetahui insiden telah terjadi
‐ Menganalisa sesuatu yang akan datang
berdasar-kan indikasi yang ada
‐ Mencari informasi yang saling berhubungan
‐ Melakukan pengkajian
‐ Mendokumentasikan semua proses investigasi dan
hasil pengumpulan bukti yang ada.
‐ Mengklasifikasi insiden menggunakan beberapa
kate-gori yang ada
Tabel 17. Kontrol untuk Penanganan Insiden Denial of Service
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Memprioritaskan penanganan insiden berdasarkan
pengaruh bisnis.
‐ Mengidentifikasi sistem/resource mana yang
ter-kena dan memprediksikan sistem/resource mana yang akan terkena selanjutnya.
‐ Melakukan estimasi terhadap pengaruh secara
tehnis saat ini dan yang akan berpotensi terkena dari insiden tersebut.
Tahap Kontrol
‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar. Penahanan,
Penghapu-san, dan Pemulihan ‐ Memperoleh, mempertahankan, mengamankan, dan mendokumentasi bukti yang ada.
‐ Menahan insiden – memberhentikan serangan
DoS apabila serangan belum berhenti.
‐ Mengidentifikasi dan mengurangi semua
kerenta-nan yang digunakan.
‐ Apabila belum tertahankan, jalankan filter
berda-sarkan sifat dari serangan jika memungkinkan.
‐ Apabila belum tertahankan relokasi target.
‐ Mengembalikan sistem yang terkena seperti
sis-tem yang dapat dioperasikan sediakala.
‐ Mengkonfirmasi sistem yang terkena dapat
ber-fungsi secara normal.
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan
Kegiatan Pasca Insiden ‐ Membuat laporan lanjutan
‐ Mengadakan meeting yang membahas insiden
ter-sebut
Tabel 18. Kontrol untuk Penanganan Unauthorized access
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Memprioritaskan penanganan insiden berdasarkan
pengaruh bisnis.
‐ Mengidentifikasi sistem/resource mana yang
ter-kena dan memprediksikan sistem/resource mana yang akan terkena selanjutnya.
‐ Melakukan estimasi terhadap pengaruh secara
tehnis saat ini dan yang akan berpotensi terkena dari insiden tersebut.
‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar. Penahanan,
Penghapu-san, dan Pemulihan ‐‐ Melakukan penahanan pada awal kejadian Memperoleh, mempertahankan, mengamankan,
dan mendokumentasi bukti yang ada.
‐ Mengkonfirmasi penahanan kejadian
‐ Melakukan analisa lebih lanjut terhadap insiden
Tahap Kontrol
cukup (termasuk memeriksa sistem lain untuk tanda-tanda intrusi)
‐ Melaksanakan tindakan penahanan tambahan jika
perlu
‐ Mengidentifikasi dan mitigasi semua kerentanan
yang telah dieksploitasi.
‐ Menghapus semua komponen insiden dari system
‐ Mengembalikan sistem yang terkena ke keadaan
operasional semula
‐ Menkonfirmasikan bahwa sistem yang terkena
te-lah berfungsi normal
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan
Kegiatan Pasca Insiden ‐ Membuat laporan lanjutan
‐ Mengadakan meeting yang membahas insiden
ter-sebut
Tabel 19. Kontrol untuk Penanganan Virus/worm
Tahap Kontrol
Deteksi dan analisa ‐ Memprioritaskan penanganan insiden berdasarkan
pengaruh bisnis.
‐ Mengidentifikasi sistem/resource mana yang
ter-kena dan memprediksikan sistem/resource mana yang akan terkena selanjutnya.
‐ Melakukan estimasi terhadap pengaruh secara
tehnis saat ini dan yang akan berpotensi terkena dari insiden tersebut.
‐ Melaporkan insiden kepada internal staf yang
di-tunjuk dan juga kepada organisasi yang diluar. Penahanan,
Penghapu-san, dan Pemulihan ‐
Mengidentifikasi sistem yang terinfeksi
‐ Disconnect semua sistem yang terinfeksi dari
ja-ringan
‐ Mitigasi kerentanan yang dimanfaatkan oleh
Tahap Kontrol
‐ Apabila diperlukan, halangi mekanisme transmisi
untuk malicious code
‐ Disinfeksi, mengkarantina, menghapus, dan
mengganti file yang terinfeksi
‐ Mengurangi kerentanan dieksploitasi untuk host
lain dalam organisasi
‐ Mengkonfirmasikan bahwa sistem yang terkena
telah berfungsi normal
‐ Apabila diperlukan, jalankan monitoring
tamba-han untuk melihat kemungkinan terjadinya aktiti-tas yang sama yang akan terjadi dimasa depan.
Kegiatan Pasca Insiden ‐ Membuat laporan lanjutan
‐ Mengadakan meeting yang membahas insiden
ter-sebut
Dari hasil kuesioner terlihat setelah mitigasi risiko, kontrol untuk mengendalikan insiden bertambah. Kemudian pada Lampiran 10 dapat dilihat jumlah insiden yang terjadi setelah proses mitigasi risiko yaitu bulan Maret – May 2012 adalah 115 insiden. Seiring dengan meningkatnya kontrol dan berkurangnya jumlah insiden, berarti keamanan informasi Perusahaan juga semakin meningkat.
4.5 Pembahasan
Berdasarkan NIST SP800-30 terdapat 9 tahapan dalam penilaian risiko. Tahap pertama adalah karakterisasi sistem yang bertujuan untuk menjelaskan informasi yang berhubungan dengan sistem yang digunakan untuk mengkarakterisasi sistem TI dan perusahaan. Pada tahap ini terdapat list aset yang dimiliki Divisi IT Security berupa hardware, software, dan aplikasi. Perangkat yang dimiliki berupa server, router, switch, dan perangkat-perangkat keamanan jaringan. Terdapat 48 aplikasi yang
dimi-liki oleh Divisi IT Security. Pada karakterisasi sistem juga ditampilkan user-user yang mendukung penggunaan sistem termasuk kepala divisi, manager, dan staff.
Tahap kedua merupakan identifikasi ancaman yang terjadi selama tahun 2010 – Februari 2012. Dimana serangan yang mendominasi selama kurun waktu tersebut adalah Denial of Service, Virus/worm, dan Unauthorized access. Data tersebut dida-pat melalui akses portal internal yang dimiliki oleh Divisi IT Security. Sedangkan
sumber ancamannya berasal dari hacker, industrial espionage (misalnya kompetitor),
internal perusahaan, maupun pihak ketiga seperti vendor atau mantan karyawan. Tahap ketiga merupakan identifikasi kerentanan. Berdasarkan wawancara ter-dapat beberapa kerentanan yang ter-dapat diidentifikasi sebagai akibat kurangnya kebija-kan yang mengatur keamanan informasi. Selain itu untuk mengetahui kerentanan pa-da sistem dilakukan vulnerability assessment secara periodik.
Tahap keempat merupakan analisis pengendalian. Pada tahap ini dilakukan penyebaran kuesioner kepada tim Security Operation Center dan tim Antivirus. Kue-sioner digunakan untuk mengetahui kontrol penanganan insiden yang ada pada saat ini. untuk tahap deteksi, penanganan, dan pasca insiden. Sedangkan untuk tahap pen-cegahan dilakukan dengan metode wawancara.
Tahap kelima adalah penentuan kemungkinan yaitu dengan menentukan sebe-rapa besar potensi kerentanan dapat mendatangan ancaman. Kategori ini dibagi men-jadi 3 yaitu tinggi, sedang, dan kecil berdasarkan pertimbangan motivasi dan kapabi-litas sumber ancaman, sifat dari kerentanan, dan efektifitas kontrol saat ini.
Tahap keenam adalah analisa dampak yang terjadi ketika ancaman terhadap kerentanan berhasil dieksploitasi. Tahap ini juga dibagi menjadi 3 kategori berdasar-kan pertimbangan jumlah karyawan yang terkena dampak, waktu, dan biaya.
Tahap ketujuh adalah penentuan risiko. Tingkat risiko dibagi menjadi 3 kate-gori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pada tahap ini juga ditentukan masing-masing tingkat risiko terhadap ancaman-ancaman yang ada pada 4.2.2.
Tahap kedelapan adalah rekomendasi kontrol tambahan dari hasil penilaian ri-siko. Kontrol yang disarankan berupa tambahan kebijakan keamanan, prosedur opera-si standar (SOP), serta beberapa tambahan untuk penanganan inopera-siden baik untuk pencegahan maupun deteksi.
Tahap terakhir adalah dokumentasi dari hasil penilaian risiko. Dokumentasi disajikan pada Lampiran 8.
Selanjutnya dilakukan proses mitigasi untuk mengurangi risiko yang telah di-identifikasi saat penilaian dan merupakan kelanjutan dari tahap delapan pada penilaian risiko sebelumnya. Pertama, melalui peningkatan kebijakan keamanan be-rupa kebijakan yang menyangkut masalah teknis. Diantaranya kebijakan pemilihan dan perlindungan password, penggunaan jaringan dan Internet, pengendalian virus, pengelolaan akses user, dan remote akses. Kebijakan ini mengacu pada ISO/IEC 27002. Kedua, dengan pembuatan SOP untuk penanganan insiden. Dan yang ketiga dengan beberapa rekomendasi tambahan.
Untuk hasil akhir manajemen risiko dilakukan pengukuran kembali terhadap kontrol yang telah ditingkatkan pada tahap mitigasi risiko. Dari hasil pengukuran ter-lihat kontrol telah bertambah. Diharapkan seiring dengan bertambahnya kontrol maka keamanan informasi Divisi IT Security juga meningkat.