i
MODEL PENDIDIKAN KARAKTER PADA
SISWA MADRASAH MULNITHI AZIZSTAN DI PATANI
THAILAND SELATAN TAHUN PELAJARAN 2017-2018
SKRIPSI
Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun Oleh
MAIMUNAH YANGO
111-14-365
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
vi
MOTTO
اَم
ٌء ْ َشَ
ُلَلْثَأ
ْ ِف
ِناَ ْيِْم
ِنِمْؤُمْلا
َمْوَي
ِةَماَيِلْلا
ْنِم
ٍقُلُخ
ٍن َسَح
ن
ِ
اَو
َالل
ُضِغْبُيَل
َشِحاَفْلا
َء ْيِذَبْلا
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat melainkan akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” ( HR. At-Tirmidzi dan
vii
PERSEMBAHAN
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat serta
karunia-Nya, skripsi ini penulis persembahkan untuk:
1. Kepada kedua orang tua saya yang saya cintai, yaitu Bapak Musa Yango
dan Ibu Hambidah Sidik yang senantiasa mengirimkan do‟a, sehingga
skripsi ini bisa terselesaikan, semoga selalu sehat dan dalam
lindungan-Nya.
2. Kepada Saudara-saudaraku, terimakasih atas do‟a, dukungan serta
semangat, yang diberikan selama ini.
3. Kepada seluruh Dosen IAIN Salatiga yang telah memberi pengajaran ilmu,
serta Karyawan yang telah memberikan pelayanan akademik semoga
selalu diberi kesehatan dan lindungan Allah.
4. Kepada Dosen pembimbing Ibu Siti Asdiqoh, M.Si. Yang telah berkenan
meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya di tengah-tengah kesibukan
beliau memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Kepada Kepala Madrasah Mulnithi Azizstan beserta semua guru,
karyawan, dan siswa-siwa nya yang telah membantu pencapaian
keberhasilan dalam penelitian ini.
6. Kepada semua teman-teman yang telah berpartisipati, baik teman-teman
Thailand maupun teman-teman mahasiswa IAIN Salatiga, semoga sehat
selalu dalam lindungan-Nya.
7. Kepada semua teman PPL di SMP Negeri 4 dan semua
viii
8. Kepada semua teman-teman seperjuangku angkatan 2014 khususnya
jurusan PAI.
9. Dan seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillahi robbil‟alamin, penulis panjatkan kepada Allah
Swt yang selalu memberikan nikmat, kaunia, taufik, serta hidayah-Nya kepada
penulis sehinggap penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Model
Pendidikan Karakter Pada Siwa Madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand
Selatan Tahun Pelajaran 2017-2018.
Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
nabi agung Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, serta para pengikutnya
yang selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana beliaulah
satu-satunya umat manusia yang dapat mereformasi umat manusia dari zaman
kegelapan menuju zaman terang benerang yakni dengan ajarannya agama Islam.
Bantuan dan dukungan baik materil maupun immaterial dari berbagai
pihak telah memberikan kontribusi positif dalam penyusunan skripsi ini. Dan atas
kontribusi tersebut penulis menyampaikan terimakasi dan do‟a semoga Allah swt
berkenan membalas kebaikan kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd, selaku Rektor Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Salatiga
2. Bapak Suwardi, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agaman Islam Negeri (IAIN) Salatiga
3. Ibu Siti Rukhyati, M.Ag. Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
x
5. Ibu Siti Asdiqoh, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
membimbing, memotivasi, memberi nasehat, arahan yang sangat membantu
dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Seluruh dosen dan petugas administrasi Fakultas Tarbiyah dan Ilmun
Keguruan (FTIK) IAIN Salatiga yang telah banyak membantu selama kuliah
dan penelitian berlangsung.
7. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara tercinta yang senantiasa memotivasi,
mendukung, membimbing, mendidik dengan sabar. Walaupun raga terpisah
jauh, tapi kita akan selalu dekat dalam cinta, kasih saying dan doa.
8. Sahabat-sahabat yang telah banyak melakukan hal terbaik kepada penulis,
sebagai teman dalam sesah maupun senang, yang tidak akan pernah bisa
terbalaskan baik budinya khususnya untuk teman-teman Thailand yang
terdatang dari tempat yang sama, dan semuanya yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu.
9. Kamal Abdulwahab, selaku ketua sekolah Mulnithi Azizstan Patani Thailan
Selatan yang banyak membantu penyelesian skripsi ini.
10.Seluruh guru yang berada di sekolah Mulnithi Azizstan Patani Thailand
Selatan yang telah memberi motivasi dan membantu dalam penyelesaian
skripsi ini.
11.Siswa-siwa Mulnithi Azizstan Patani Thailand Selatan yang telah membantu
xi
Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Allah SWT
senantiasa memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
pembaca pada umumnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan
penulis, skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi
ini.
Salatiga, 30 Juli 2018
Maimunah Yango
xii
DAFTAR ISI
COVER……….. i
LOGO IAIN……….. ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING…………...………... iii
LEMBAR PENGESAHAN KELULUSAN ………..………. iv
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN…...……… v
MOTTO……….…. vi
PERSEMBAHAN ………..……..…………...….. vii
KATA PENGANTAR………...... ix
DAFTAR ISI ………...…. xii
DAFTAR TABEL……….... xv
DAFTAR LAMPIRAN ………... xvi
DAFTAR GAMBAR ………...………... xvii
ABSTRAK………..………….………... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………. 1
B. Fokus Penelitian ..……….. 7
C. Tujuan Penelitian……… 7
D. Manfaat Penelitian……….. 8
E. Penegasan Istilah……… 9
F. Sistematika Penulisan………. 10
xiii
1. Pengertian Model Pendidikan Karakter……… 12
2. Dasar Hukum Model Pendidikan Karakter………... 16
3. Tujuan Model Pendidikan Karakter……….. 17
4. Peran Dan Tugas Guru PAI Dalam Pendidikan Karakter……….……… 19
5. Nilai Model Pendidikan Karakter Islami…………. 23 B. Kajian Pustaka………... 27
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian……… 31
B. Lokasi Penelitian……… 31
C. Sumber Penelitian……….. 31
1. Data Primer……….. 31
2. Data Sekunder……….. 32
D. Teknik Pengumpulan Data………. 32
E. Analisis Data……….. 34
F. Mengecekan Keabsahan Data……… 36
BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Gambaran Umum Madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand Selatan………. 37
1. Sejarah Berdiri Dan Proses Berkembangan………. 37
xiv
5. Keadaan Guru Dan Siswa……… 48
6. Keadaan Sarana Dan Prasarana……… 63
B. Temuan Data Penelitian………. 66
1. Model Pendidikan Karakter Pada Siswa Madrasah
Mulnithi Azizstan Di Patani Thailand Selatan……. 66
2. Faktor Penghambat Model Pendidikan Karakter
PadaSiswa Madrasah Mulnithi Azizstan Di Patani
Thailand Selatan……….. 79
C. Analisis Data………. 82
1. Analisis Model Pendidikan Karakter Pada Siswa
Madrasah Mulnithi Azizstan Di Patani Thailand
Selatan……….. 82
2. Analisis Faktor Penghambat Model Pendidikan
Karakter Pada Siswa Madrasah Mulnithi Azizstan
Di Patani Thailand Selatan……….. 86
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan……… 89
B. Saran ………. 91
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
xv
DAFTAR TABIL
1. Tabil 1 Nama Personalia Pengurus……….. 47
2. Tabil 2 Nama guru mengajar bagian agama……… 49
3. Tabil 3 Nama guru mengajar bagian umum……… 55
4. Tabil 4 Jumlah siswa………...………….... 61
5. Tabil 5 Jumlah dan jenis kelamin siswa……….. 62
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar SKK
2. Riwayat Hidup Penulis
3. Nota Pembimbing Skripsi
4. Surat Keterangan Melakukan Penelitian
5. Lembar Konsultasi
6. Pedoman Wawancara
xvii
DAFTAR FOTO
xviii
ABSTRAK
Yango, Maimunah. 2018. Model Pendidikan karakter pada Siswa Madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand Selatan Tahun Pelajaran 2017-2018. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Siti Asdiqoh, M.Si
Kata Kunci: Model, Pendidikan Karakter
Madrasah Mulnithi Azizstan merupakan sekolah yang memadukan antara pendidikan umum dengan pendidikan keagamaan, karena setiap siswa mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, latar belakang keluarga, masyarakat dan sosial yang kurang baik, tidak menghormati orang yang paling dewasa, sifat malas, pertengkaran sesame teman dan lain sebagainya. Dengan demikian siswa memerlukan pendidikan yang terbaik di sekolah untuk bisa menggunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Bagaimana model pendidikan karakter pada siswa madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand Selatan tahun pelajaran 2017-2018. Dan apa faktor penghambat pendidikan karakter pada siswa Madrasah Mulnithi Azizstan di Patani Thailand Selatan tahun pelajaran 2017-2018.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang menggunakan pendekatan jenis penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi, data yang telah didapat kemudian dianalisiskan. Dimana sumber utama dalam penelitia dari pihak yang diwawancarakan adalah kepala madrasah Mulnithi Azizstan, guru, dan siswa yang berada di madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah proses yang sangat penting bagi kehidupan
manusia. Hal tersebut karena melalui pendidikan setiap orang belajar
berbagai hal, mulai dari ilmu pengetahuan, bagaimana bersikap,
bagaimana bersosialisasi, bagaimana mengembangkan potensi yang
dimiliki, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan National/UU
Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Bab I pasal ayat 1, dijelaskan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara (Anggraini, 2015: 1)
Menurut Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan
Demokratisasi, memberikan pengertian tentang “Pendidikan” adalah suatu
proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk
menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif
dan efisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan adalah suatu proses
dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan
2
adalah suatu hal yang benar ditanamkan selain menempa fisik, mental dan
moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia yang
berbudaya sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai
manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam. (Muslich, 2011: 54).
Karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona bahwa karakter
identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku
manusia yang universal yang meliputi semua aktivitas manusia, baik
dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan
sesama manusia, dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran,
perasaan, perkataan serta perilaku sehari-sehari berdasarkan norma-norma
agama, hukum, Tata karma, budaya, dan adat istiadat.
Karakter adalah cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri
khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik
adalah individu yang siap membuat keputusan dan siap mempertanggung
jawabkan setiap akibat dari keputusan ia buat. Sementara pendidikan
karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek
pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Tanpa ketiga aspek ini, maka
karakter ini tidak akan efektif (Fahmi, 2017: 2)
Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung 3 unsur pokok,
yaitu: mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan melaku kebaikan.
3
Filosof Yunani Aristoteles mendefinisikan karakter yang baik
sebagai hidup dengan tingkah laku yang benar dalam hal berhubungan
dengan orang lain dan berhubungan dengan diri sendiri. Aristoteles
mengingatkan kita tentang sesuatu yang di zaman modern ini cenderung
kita lupakan: hidup dengan berbudi pekerti yang berarti menjalani
kehidupan dengan berbudi baik untuk diri sendiri (misalnya kontrol diri
dan tidak berlebih-lebihan), maupun untuk orang lain (seperti
kedermawanan dan rasa simpati), dan kedua macam budi pekerti ini saling
berhubungan. Kita harus bisa mengontrol diri-hasrat kita, nafsu kita-agar
bisa melakukan hal yang benar pada orang lain (Licking, 2013: 71-72).
Pendidikan karakter mengajar kebiasaan cara berpikir dan perilaku
yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai
keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk
membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan (Muslich, 2011:
38).
Pendidikan sekolah agama menurut Kantor Pendidikan Swasta
Departemen Pendidikan, dinyatakan bahwa pendidikan di Thailand untuk
meneguhkan keimanan kepada Allah SWT., serta menjauhi larangannya,
menumbuhkan akhlak yang luhur, mewujudkan lingkungan sosial yang
baik, memiliki ilmu pengetahuan dan kematangan intelektual, mampu
berdikari dalam segala aspek, khususnya dalam mencari nafkah untuk
kehidupan sendiri dan keluarga, bersedia meningkat sifat tanggung jawab
4
Adapun tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi
dari cita-cita ajaran Islam itu sendiri yang membawa misi bagi
kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah yang beriman dan taqwa
di dunia dan akhirat. Oleh karena itu pendidikan bertujuan untuk
keimanan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan ini
harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspeknya seperti
aspek spiritual, aspek intelektual, aspek imajinasi, aspek jasmaniah, ilmiah
maupun bahasanya. Dan pendidikan ini mendorong semua aspek tersebut
menuju ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup
(Bueraheng,2015: 1-2).
Pendidikan islami dalam membentuk karakter sang anak sangat
penting dilakukan oleh para orang tua. Kecenderungan anak untuk meniru
segala perilaku didalam lingkungan terutama keluarga tentunya dapat
menjadi acuan para orang tua untuk menciptakan suatu lingkungan yang
baik dan berpengaruh positif terhadap anak.
Pendidikan karakter berarti sebagai usaha sengaja untuk
mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara
obyektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan tapi juga baik
untuk masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter ini harus
dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan dalam pikiran,
penghayatan dalam bentuk sikap dan pengamalan dalam bentuk perilaku
yang sesuai dengan nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan
5
lingkungannya. Nilai luhur tersebut antara lain kejujuran, kemandirian,
sopan santun, kemuliaan sosial, kecerdasan berfikir termasuk kepenasaran
akan intelektual, dan berfikir logis. Oleh karena itu, penanaman
pendidikan karakter tidak bisa hanya mentransfer pengetahuan atau
melatih suatu keterampilan tertentu. penenaman karakter perlu proses,
contoh keteladanan, dan pembiasaan atau pembudayaan dalam lingkungan
peserta didik, baik lingkungan sekolah, kelarga maupun masyarakat
termasuk lingkungan exposure media masa. Peneliti dapat disimpulkan
bahwa pendidikan karakter itu merupakan suatu pondasi yang sangat
penting untuk mendukung pembangunan bangsa. Dan perlu ditanam sejak
dini kepada anak, karena pendidikan karakter dijadikan sebegai wadah
atau untuk menjadi pribadi yang baik. Maka pemerintah, tokoh
pendidikan, tokoh agama, dan orang tua juga punya kewajiban untuk
menerapkan pendidikan yang karakter tersebut.
Tingginya angka kenakalan dan kurangnya sikap sopan santun
anak didik dipandang sebagai akibat dari buruknya sistem pendidikan saat
ini. Hal itu ditambah lagi dengan masih minimnya perhatian guru terhadap
pendidikan karakter anak didik. Selain itu, perkembangan teknologi
internet yang masif bisa berdampak buruk jika tak ada upaya efektif untuk
menangkalnya.
Untuk itu, saya memandang pendidikan yang berkarakter dan
berbudaya harus segera diterapkan dalam kurikulum pendidikan nasional.
6
tersebut. Bahkan, orang tua merupakan kunci melindungi anak dari
dampak buruk perkembangan teknologi (Mansur, 2011: 54).
Adapun menurut penelitian penulis bahwasanya siswa-siswa di
sana kebanyakan menurut era modern atau mengikuti budaya barat, seperti
dalam segi pakaian atau pacarannya itu melalui teknologi maka membuat
perilaku siswa itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan juga
perilaku-perilaku terhadap orang tua, guru, orang yang lebih dewasa, dan
masayrakatnya belum sesuai yang diharapkan oleh sekolah. Pendidikan
karakteristik di madrasah Mulnithi Azizstan sudah diterapkah oleh para
guru, tetapi masih kurang dan belum menyampai hasil yang diharapkan
oleh Madrasah dalam pembentukan karakter siswa. Menurut hasil
wawancara salah seorang pengajarnya di Madrasah Mulnithi Azizstan,
bahwa madrasah itu mempunyai siswa terlalu ramai, dan juga madrasah
mempunyai tenaga guru yang sudah seimbang, tetapi siswa kita dalam
pembentukan karakteristik itu masih kurang, ada yang sudah bagus ada
yang kurang bagus tergantung dari kepribadian siswa itu sendiri, kemudian
karena setiap siswa mempunyai latar belakang pendidikan yang
berbeda-beda, yaitu latar belakang keluarga, latar belakang sosial, dan pendidikan
dalam keluarga tidak sama yang di laksanakan di sekolah, jadi sekolah
akui bahwa ada diantara siswa-siswa dalam nilai-nilai karakteristik masih
berkurang. Mungkin pendidikan dalam keluarga dan lingkungan di
kampung massing-masing itu kurang baik dan campur dengan tidak
7
itu kurang baik (Hasil wawancara sama ustaz Danial Waedeng selaku guru
Bahasa melayu, pada tanggal 11 oktober 2017).
Melihat dari fenomena tersebut, peneliti tertarik untuk mengangkat
satu judul “Model pendidikan karakter pada siswa Madrasah Mulnithi
Azizstan di Patani Thailand Selatan tahun pelajaran 2017-2018”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana model pendidikan karakter pada siswa Madrasah Mulnithi
Azizstan di Patani Thailand Selatan tahun pelajaran 2017-2018?
2. Apa faktor penghambat pendidikan karakter pada siswa Madrasah
Mulnithi Azizstan di Patani Thailand Selatan tahun pelajaran
2017-2018?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah tersebut, maka penelitian ini dapat bertujuan
untuk:
1. Mengetahui model pendidikan karakter pada siswa Madrasah Mulnithi
Azizstan di Patani Thailand Selatan tahun pelajaran 2017-2018?
2. Mengetahui faktor penghambat pendidikan karakter pada siswa
Madrasah Mulnithi Azizstan di Patani Thailand Selatan Tahun
8
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi bagi
pihak-pihak yang membutuhkan, yaitu:
1. Secara teoritis
a. Penelitian ini dapat memberi manfaat dan menjadi informasi
mengenai model pendidikan karakter pada siswa.
b. Penelitian ini dapat menjadi kontribusi positif bagi dunia pendidik
dengan pembentukan karakteristik.
c. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi penelitian akan
datang yang terkait dengan pembentukan karakteristik siswa.
2. Secara praktis
a. Bagi penulis dapat menambah wawasan, pengalaman dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan
melalui hasil penelitian.
b. Bagi sekolah dari hasil penelitian ini diharapkan bisa memberi
informasi dan memberi masukan yang berharga bagi staf, guru di
Madrasah Mulnithi Azizstan dalam mengembangkan di bidang
ilmu pendidikan.
c. Bagi pembaca hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
manfaat bagi pihak pembaca mengenai model pendidikan
9
E. Penegasan Istilah
Penegasan istilah digunakan supaya tidak terjadi perbedaan antara
penulis dan pembaca, maka dari itu penulis memberi penegasan istilah
sebagai penjelasan dalam penelitian ini, antara lain yaitu:
1. Model
Model merupakan suatu gambaran dan pola bagaimana proses
pendidikan karakter dilaksanakan (Zuchdi, 2011: 177).
2. Pendidikan karakter
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Pedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah
diantar seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi, pendidikan
diistilahkan dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006: 19).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) karakter merupakan sift-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dengan yang lain. Scerenko (1997)
mendefinisikan karakter Sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk
dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari
10
Pendidikan karakter adalah pendidik yang tidak hanya berorientasi
pada aspek kognitif saja, akan tetapi lebih berorientasi pada proses
pembinaan potensi yang ada dalam diri anak, dikembangkan melalui
pembiasaan sifat-sifat baik yaitu berupa pengajaran nilai-nilai karakter
yang baik
Maksud pendidikan karakter dalam penelitian ini adalah proses
pembentukan karakter anak Madrasah Mulnithi Azizstan di Thailand
menuju manusia yang berakhlakul karimah sesuai dangan ajaran
Islam, sehingga menjadi pribadi yang baik.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulian merupakan kerangka penulisan skripsi ini
yang memberi petunjuk mengenai pokok-pokok permasalahan yang akan
dibahas, untuk mempermudahkan pembaca dalam memahami skripsi ini.
Maka disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I dalam penelitian ini merupakan pendahuluan yang di
dalamnya terdiri dari latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, penegasan istilah, dan sistematika penulisan.
BAB II dalam penelitian ini berisi mengenai landasan teori yaitu
tentang model pendidikan karakter pada siswa yang berkenaan dengan
penelitian yang dilakukan dengan penjelasan-penjelasan yang bersifat
teoritis konseptual, kemudian dilanjut dengan kajian pustaka (kajian
11
BAB III metode penelitian ini, meliputi jenis penelitian, lokasi dan
waktu penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data
dan pengecekan keabsahan data.
BAB IV dalam penelitian ini membahas mengenai paparan data
dan analisis data yaitu peneliti memaparkan data-data yang diperoleh dari
penelitian yang telah dilakukan dan analisis data yang terdapat dari hasil
observasi, wawancara, dan dokumentasi mengenai apa yang terdapat dari
model pendidikan karakter pada siswa, dan faktor penghambat pendidikan
karakter pada siswa tersebut.
BAB V dalam penelitian ini merupakan bab yang terakhir yaitu
penutup yang di dalamnya membahas mengenai kesimpulan yang
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian model pendidikan karakter
Model merupakan suatu gambaran dan pola bagaimana proses
pendidikan karakter dilaksanakan. (Zuchdi, 2011: 177)
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Pedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar
seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan
educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006: 19)
Menurut George F. Kneller, pendidikan memiliki arti luas dan
sempit. Dalam arti luas pendidikan diartikan sebagai tidakan dan
pengalaman yang mempengaruhi perkembangan jiwa, watak, ataupun
kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan adalah suatu proses
mentranformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan dari geerasi
ke generasi, yang dilakukan oleh masyarakat melalui lambaga-lembaga
pondidikan seperti sekolah, pendidikan tinggi, atau lembaga-lembaga lain.
John S. Brubacher berpendapat, pendidikan adalah proses
pengembangan potensi, kemampuan, dan kapasitas manusia yang mudah
dipengaruhi oleh kebiasaan, kemudian disempurnakan dengan
13
sedemikian rupa, sehingga pendidikan dapat digunakan untuk menolong
orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuam-tujuan yang telah
ditetapkan.
Carter V. Good juga mengemukakan pendapatnya yaitu
pendidikam adalah: pertama, keseluruhan proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku
lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat ditempat hidupnya; kedua,
proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang
terpilih dan terkontrol (khusus yang datang dari sekolah).
Di dalam UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional,
tercantum pengertian pendidikan: Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk menwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif pengembangkan potensi dirinya sehingga
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oléh dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas
tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara (Samani & Hariyanto, 2014: 41)
Dalam kamus Inggris-Indonesia karakter berasal dari kata
character yang berarti watak, karakter atau sifat (Zuchdi, 2011: 27).
14
dengan yang lain. Scerenko (1997) mendefinisikan karakter Sebagai
atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri
etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, Suatu kelompok atau bangsa.
Karakter dipengaruhi oleh hereditas. Perilaku seorang anak sering
kali tidak jauh dari perilaku ayah atau ibunya. Dalam bahasa Jawa dekenal
istilah “kacang ora ninggal lanjaran” (pohon kacang panjang tidak pernah
meninggalkan kayu atau bambu atau tempatnya melilit dan menjalar)
(Samani & Hariyanto, 2014: 43)
Dapat disimpulkan bahwa karakter adalah nilai dasar yang
membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas
maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain,
serta diwujudkan dalam sikap dan prilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Agama Republik Indonesia (2010) mengemukakan bahwa
karakter (character) dapat diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang melekat dan dapat diidentifikasi pada perilaku individu yang bersifat unik,
dalam arti secara khusus ciri-ciri ini membedakan antara satu individu
dengan yang lainnya.
Dalam pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal
positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter
siswa yang diajarnya. Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan
sungguh-sunguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada
15
Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan
moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah
benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak/peserta didik memiliki
kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen
untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa karakter merupakan sifat alami seseorang
dalam merespons situasi secara bermoral, yang diwujudkan dalam
tindakan nyata melalui perilaku baik, jujur, bertanggung jawab, hormat
terhadap orang lain, dan nilai-nilai karakter mulia lainnya (Mulyasa, 2014:
3)
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter yaitu tidak hanya
apa yang baik dan apa yang salah tetapi menekankan kebiasaannya,
tentang bagaimana hal-hal yang baik oleh peserta didik dalam kehidupan
sehari-harinya. Sehingga peserta didik memiliki kesadaran, pemahaman,
kepedulian, dan komitmen yang tinggi, menuju masyarakat yang aman,
tertib, dan damai.
Menurut agama Islam, pendidikan karakter bersumber dari wahyu
Al-Qur‟an dan Al-Sunnah. Akhlak atau karakter Islam ini, terbentuk atas
dasar prinsip “ketundukan, kepasrahan, dan kedamaian” sesuai dengan
makna dasar dari kata Islam. Ajaran Islam dari pendidikan karakter bukan
hanya sekedar teori, tetapi figur Nabi Muhammad Saw. tampil sebagai
16
Ummul Mukminin Aisyah, ketika ditanya oleh Sa‟id bin Hisyam bin Amir
tentang akhlak Rasulullah n, ia menjawab:
؟}ٍ ْيْ ِظَغ ٍقُلُخ َلىَؼَل َم ه
اَو{ ِالل َلْوَك َنٓأْرُلْلا ُأَرْلَث اَمَأ ، َنٓأْرُلْلا ُوُلُلُخ َن َكَ
ِ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur`an. Tidakkah engkau membaca
firman Allah, „Sungguh engkau (wahai Muhammad) berbudi pekerti
(memiliki akhlak) yang agung‟?” (HR. Ahmad, 6/88)
Gambarannya, apa saja yang diperintahkan Al-Qur`an, beliau
lakukan. Dan apa saja yang dilarang Al-Qur`an, beliau tinggalkan. Selain
memang Allah telah menciptakan beliau dengan tabiat dan akhlak yang
mulia seperti rasa malu, dermawan, berani, penuh pemaafan, sangat sabar,
dan lain sebagainya dari perangai-perangai yang baik
2. Dasar hukum model pendidikan karakter
Pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan manusia yang
berakhlak mulia dan peserta didik diharap mampu secara mandiri dalam
meningkatkan dan menggunakan pengetahuan. Maka hal ini, hukum dasar
dari pada pendidikan karakter adalah sesuai dengan UU nomor 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan nasional, yaitu:
Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk menwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara akhtif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Pendidikan karakter didasarkan oleh UU nomor 20 tahun 2003
17
potensi manusia, pengembangan potensi salah satunya adalah terwujudnya
akhlak mulia. Hal ini sesuai dengan pendidikan karakter.
3. Tujuan model pendidikan karakter
Asmani Jamal Ma‟mur (2013:42) menjelaskan tujuan pendidikan
karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata
kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan
jangka panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan
aktif kontekstual individu atas impuls natural sosial yang diterimanya,
yang pada gilirannya semakin mempertajam visi yang akan diraih lewat
proses pembentukan diri secara terus menerus. Tujuan jangka panjang ini
merupakan pendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan
kenyataan yang ideal, melalui proses refleksi dan interaksi secara
terus-menerus antara idealisme, pilihan sarana, dan hasil lansung yang dapat
dievaluasi secara objectif. Kemudian Drama Khusuma (2012: 9)
mendefinisikan membentukan kepribadian manusia yang baik pendidikan
karakter adalah mengfasilitas penguatan dan pengembangan nilai-nilai
tertentu sehingga terwujud dalam prilaku anak, baik ketika proses sekolah
maupun pra sekolah (setelah lulus dari sekolah).
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses
dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai
dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui
18
meningkatakan dan menggunakan pengetahuan, mengkaji dan
menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Model
pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada
pembentukan budaya sekolah/madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi
perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, (Mulyasa, 2014: 9)
Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu
secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuan, mengkaji
dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam prilaku sehari-hari. Selain itu
pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh,
berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, gotong royong, berjiwa patriotik,
berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang kesemuai dijiwa oleh
iman dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan pancasila
(Mansur, 2016: 13).
Tujuan pendidikan karakter adalah terbentuknya kepribadian
Muslim yang terdapat dalam dalil QS. Al-Qashash ayat 77 yang berbunyi:
ْن ِس ْحَأَو ۖ اَيْه ُّلدا َنِم َمَبي ِصَه َسْنَث َلَ َو ۖ َةَرِخٓ ْلا َرا لدا ُ للَّا َك َتَٓأ اَيمِف ِؽَتْباَو
ُِي َلَ َ للَّا ن
ِا ۖ ِضْرَ ْلا ِف َدا َسَفْلا ِؽْبَث َلَ َو ۖ َمْيَلِا ُ للَّا َن َسْحَأ َ َكَم
ُّب
19
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Al -Qashash/28: 77)
Qs. Ali Imran ayat 102
ق َح َ للَّا اوُل ثا اوُنَمٓأ َنيِ لَّا اَ ُّيَُّأ َيَ
َنوُمِل ْسُم ْ ُتُْهَأَو لَِا نُتوُمَث َلََو ِوِثاَلُث
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(QS. Ali Imran/3:102) Dari beberapa pandangan mengenai tujuan pendidikan karakter,
penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan karakter untuk
menciptakan manusia yang mengabdikan kepada Allah SWT dan memiliki
akhlak yang sempurna serta mampu mengembangkan potensi yang ada
dalam agar tercapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
4. Peran dan tugas guru PAI dalam pendidikan karakter
Guru merupakan faktor panting yang besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan pendidikan karakter di sekolah, bahkan sangat menentukan
berhasil-tidaknya peserta didik dalam mengembangkan pribadinya secara
utuh. Dikatakan demikian, karena guru merupakan figur utama, serta
contoh dan teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, dalam pendidikan
karakter guru harus mulai dari dirinya sendiri agar apa-apa yang dilakukan
20
Pendidikan sulit untuk menghasilkan sesuatu yang baik, tanpa dimulai
oleh guru-gurunya yang baik (Mulyasa, 2014: 63)
Dalam konteks pendidikan karakter, Peran guru sangat vital
sebagai sosok yang diidolakan, serta menjadi sumber inspirasi dan
motivasi murid-muridnya. Sikap dan perilaku seorang guru sangat
membekas dalam diri seorang murid, sehingga ucapan, karaktet, dan
kepribadian guru menjadi cermin murid.
Menurut Sri Endang Susetiawati, dalam konteks system
pendidikan di sekolah, Sekurang-kurangnya pendidikan karakter harus
memperhatikan beberapa hal.
Pertama, pendidikan karakter harus menempatkan kembali peran guru sebagai faktor yang sangat penting dalam pengembangan kepribadian
peserta didik. Guru harus dikembalikan pada hakikatnya sebagai pendidik
bukan sebagai pengajar semata yang harus mengtranfer pengetahuan di
ruang kelas. Sebagai pendidik, guru harus lebih berperan dalam mendidik
dan mengembangkan kepribadian siswa melalui interaksi yang intensif,
baik selama di ruang kelas maupun di luaur kelas.
Kedua, pengembalian peran guru sebagai pendidik perlu diikuti oleh sebuah system pembelajaran yang sungguh-sungguh menempatkan
sesok guru sebagai orang yang paling tahu tentang kondisi dan
perkembangan anak didiknya, khususnya yang berkaitan dengan masalah
21
Ketiga, sebagai bagian dari system pendidikan karakter, perlu digalakkan kembali sebuah system evaluasi yang lebih menitikberatkan
pada penilaian aspek efektif, yang di sana karakter tersebut berada. System
penilaian perlu mengedepankan sesuatu yang lebih menjangkau
karakteristik seorang anak didik (Jamal, 2013: 72-73)
Selain peran guru di atas, guru juga mempunyai tugas-tugas guru,
tugas utama seorang guru PAI adalah menyempurnakan, membersihkan,
membawa hati manusia untuk lebih mendekati diri kepada Allah Swt. Jika
seorang guru PAI belum mampu membawa anak didiknya mencapai
keterbiasaan dalam melakukan ibadah, meski prestasi akademis dapat
mencapai nilai luar biasa, hal itu belum bisa dikatakan berhasil
sepenuhnya. Karena keberhasilan tingkat pemahaman keagamaan tidak
berhenti hanya sampai pada perolehan nilai akademis saja. Lebih dari itu
haruslah mampu mencapai tingkat kebiasaan dimana seorang siswa
menganggap melakukan ibadah itu kebutuhan yang tanpa keterpaksaan.
(Ratna, 2017: 24)
Salah satu ayat al-Qur‟an yang mengingatkan tentang tugas dan
tanggung jawab sebagai pendidik antara lain adalah Q.S an-Nisa/4: 9
َ للَّا اوُل تَيْلَف ْمِ ْيَْلَػ اوُفاَخ اًفاَؼ ِض ًة يِّرُذ ْمِيِفْلَخ ْنِم اوُنَرَت ْوَل َنيِ لَّا َشْخَيْلَو
اًديِد َس ًلَ ْوَك اوُلوُلَيْلَو
22
yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa/4: 9)
Dalam ayat di atas diungkapkan bahwa salah satu tugas dan
tanggung jawab seorang pendidik adalah mempersiapkan para peserta
didik agar bisa survive hidup di dunia dan akhirat.
Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan
pengalaman baru bagi anak didiknya. Berikut ini adalah beberapa tips
bagaimana menjadi guru berkarakter yang hebat.
1. Mencintai anak cinta yang talus kepada anak adalah modal awal mendidik anak. Guru menerima anak didiknya apa adanya,
mencintai tampa syarat dan mendorong anak untuk melakukan
yang terbaik pada dirinya.
2. Bersahabat dengan anak dan menjadi teladan bagi anak. Guru harus bisa ditiru oleh anak. Oleh Karenna itu, setiap apa yang
diucapkan di hadapan anak harus benar dari sisi apa saja:
Keilmuan, moral, agama, budaya. Dan ia harus bersahabat dengan
anak-anak tanpa ada rasa kecut, lebih-lebih angkuh
3. Mencintai pekerjaan guru. Guru yang mencintai pekerjaannya akan senantiasa bersemangat. Guru yang hebat akan mencintai
anak didiknya satu persatu, memahami kemampuan akademisnya,
kepribadiannya, kebiasaannya dan kebiasaan belajarnya.
4. Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan. Guru harus buka dengan teknik mengajar baru, membuang rasa sombong dan
23
5. Tidak pernah berhenti belajar. Dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya, guru harus selalu belajar dan belajar. Kebiasaan
membaca buku sesuai dengan bidang studinya dan mengakses
informsi aktual tidak boleh ditinggalkan (Mansur, 2011: 56-57)
5. Nilai-nilai model pendidikan karakter Islami
Kehidupan menyimpan nilai-nilai pendidikan karakter yang begitu
kaya. Begitu pula dengan agama, kebudayaan, dan adat istiadat yang
memberi pesan untuk menjadikan manusia yang bermartabat merupakan
sumber-sumber pembelajaran pendidikan karakter. Pendidikan karakter
menjadi wadah di alam menghimpun nilai-nilai keluruhan umat manusia
yang terhimpun dari agama, budaya, adat istiadat, kearifan lokal, dan
sebagainya. Hal ini senada dengan sebuah hadist Nabi Muhammad Saw.
Sebagaimana berikut ini:
ُّ ِبِْلا : َلاَك لمسو ويلػ الل لى َص ِّ ِب نلا ِنَغ ،ُوْنَغ ُالل َ ِضِ َر َناَؼْ َسَ ِنب ِسا و نلا ْنَغ
] ِلم ْسُم ُهاَوَر[ . ُسا نلا ِوْيَلَػ َعِل طَي ْنَأ َتْىِرَنَو َم ِسْفَه ِف َكاَح اَم ُ ْثْ
لَْاَو ِقُلُخْلا ُن ْسُح
ِ
.“Dari Nawwas bin Sam‟ an radhiallahuanhu, dari Rasulullah
shallallohu‟alaihi wa sallam beliau bersabda: „kebaikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang terasa menganggu jiwa mu dan
engkau tidak suka jika diketahui manusia. „(Riwayat Muslim)
(Sahlan&Prastyo, 2017: 35)
Kemdikbud menulis beberapa nilai-nilai model pendidikan
24
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran
Nilai Deskripsi
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaa ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan, dan pekerjaan.
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku,
etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda
dari dirinya.
Disiplin Tidakan yang menunjukkan perilku tertib dan patuh pada
berbagai ketentuan dan peraturan.
Kerja keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam
mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
Kreatif Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara
atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang
lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak
25
Rasa ingn tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui
lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari,
dilihat, dan didengar.
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, betindakan, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
Cinta tanah air
Cara berpikir, betindakan, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
Menghargai prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan
mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Bersahabat / Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara,
bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
Cinta damai
Sikap, perkataan, dan tīndakan yang menyebabkan orang lain
merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
Gemar membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai
bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Peduli lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
26
Peduli social
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada
orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya),
Negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai pendidikan karakter di atas tidak akan ada artinya bila
hanya menjadi tanggung jawab guru semata dalam menanamkannya
kepada siswa. Perlu bantuan dari seluruh komponen masyarakat untuk
menwujudkan terciptaan tatanan komunitas yang dijiwai oleh sebuah
sistem pendidikan berbasis karakter. Masyarakat yang memegang teguh
nilai-nilai pendidikan karakter akan memiliki spirit dan disiplin dalam
tanggung jawab, kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, semangat hidup,
sosial, dan menghargai orang lain, serta persatuan dan kesatuan. Jika
pendidikan karakter ditanamkan secara terus-menerus, pendidikan karakter
tersebut akan menjadi kebiasaan bagi remaja Muslim. (Sahlan&Prastyo,
27
B. Kajian Pustaka
Dalam kajian penelitian terdahulu ini, penelitian akan menyampaikan
sebuah kajian atau skripsi yang berkaitan dengan judul skripsi:
1. Judul penelitian pertama yang dilakukan Ahmad Khotibul Umam
(2014), mahasiswa jurusan tarbiyah program studi pendidikan
agama Islam STAIN Salatiga berjudul Model Pendidikan Karakter Islam Pada Siswa Di SMK AL-MA‟ARIF Demak Tahun Pelajaran 2013-2014. Hasil penelitian ini menunjukan karakteristik peserta didik SMK Al-Ma‟arif Demak yang kebanyakan berjenis kelamin
laki-laki menjadikan mereka kurang lembut dalam pergaulan,
sehingga agak susah di atur, solidaritas yang dibangun pada
anak-anak SMK terkadang malah menjadikan mereka berperilaku
negatif dengan bertengkar hanya karena rasa solidaritas sesama
teman, merokok dan berbicara. Ketiga kasus-kasus perkelahian
yang selama ini terjadi pada anak SMK hanya disebabkan masalah
sepele baik harga diri, solidaritas maupun urusan cinta yang
menjadi mereka mudah bertengkar, menghadapi sebuah masalah,
sekolah ini bekerja ekstra keras dalam membimbing karakter
peserta didiknya melalui pendidikan karakter, pendidikan karakter
bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik) yang
berkarakter.
Penelitian Ahmad Khotibul Umam mempunyai kesamaan
28
pendidikan karakter, namun perbedaannya terletak pada
pendidikan karakter pada penelitian di atas diarahkan pada anak
SMK yang tertekan pada siswa laki-laki dalam mendidik
karakternya, karena siswa di SMK AL-MA‟ARIF Demak
kebanyakkan berkelamin laki-laki maka sekolah lebih menekankan
pada siswa laki-laki dari siswa perempuan. Sedangkan penelitian
peneliti diarahkan pada anak SMP dan SMA semua siswa baik
laki-laki maupun perempuan dalam pendidikan karakter Islami,
walaupun siswa laki-laki lebih susah dalam pendidikan karakter
tapi madrasah Mulnithi Azizstan lebih menekan semua siawa
laki-laki maupun perempuan dalam pendidikan karakter yang Islami.
2. Judul penelitian kedua yang dilakukan Riyan Andika Jaya (2016),
mahasiswa program studi matematika fakultas keguruan dan ilmu
pendidikan Universitas Sanata Dharma berjudul Pendidikan Karakter Pada Pembelajaran Matematika Di Kelas X SMA Negeri 10 Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran matematika di
kelas X SMA Negeri 10 Yogyakarta terlaksana pada nilai-nilai 1)
Religius, 2) Disiplin, 3) Tanggungjawab, 4) Teliti, 5) Kreatif, 6)
Jujur 7) Menghargai, 8) Rasa ingin tahu, 9) Percaya diri.
Pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika di kelas X
SMA Negeri 10 Yogyakarta diterapkan dengan mengintegrasikan
29
dalam pembelajaran khususnya dalam RPP, integrasi pendidikan
karakter di dalam proses pembelajaran Metematikan di SMA
Negeri 10 Yogyakarta dilaksanakan mulai dari tahab perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Penelitian Riyan Andika Jaya mempunya kesamaan dengan
penelitian yang peneliti lakukan yaitu tentang pendidikan karakter
menurut kurikulum yang sudah dirumus oleh sekolah, namun
perbedaannya terletak pada pendidikan karakter pada penelitian di
atas yaitu khusus melalui pembelajaran matematika khususnya
dalam RPP, sedangkan penelitian mengarah pada semua
pembelajaran umum dan pembelajaran agama yang dilakukan di
kelas maupun di luar kelas, dan dalam pendidkan karakter yang
Islami lebih menekankan kepada guru pembelajaran agama dari
pada pembelajaran umum.
3. Judul penelitian ketiga yang dilakukan Ayu Indah Permatasari
(2016), mahasiswa program studi pendidikan guru sekolah dasar
jurusan ilmu pendidikan universitas Sanata Dharma, berjudul
Pengembangan Buku Cerita Untuk Menanamkan Karakter Disiplin Dan Kreatif Siswa Sekolah Dasar Kelas Rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan yang berawal adanya potensi
dan masalah terkait dengan pendidikan karakter. Potensi yang ada
adalah pendidikan karakter. Masalah yang dihadapi guru adalah
30
anak. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan
penelitian pengembangan buku cerita untuk menanamkan karakter
disiplin dan kreatif siswa sekolah dasar kelas rendah. Tujuan
penelitian ini untuk menjelaskan proses penyusunan dan
mendeskripsikan kualitas buku cerita untuk menanamkan karakter
disiplin dan kreatif siswa sekolah dasar kelas rendah.
Penelitian Ayu Indah Permatasari mempunya kesamaan
dengan penelitian yang peneliti lakukan yaitu tentang pendidikan
karakter pada siswa, namun perbedaannya terletak pada pendidikan
karakter pada penelitian di atas yaitu mengembangakan buku cerita
untuk menanamkan karakter disiplin dan kreatif siswa, sedangkan
penelitian mengembangkan nilai-nilai pendidikan agama Islam
dalam menanamkan karakter siswa melalui pembiasaan,
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan
suatu paradigma penelitian untuk mendeskripsikan Pristina, perilaku orang
atau suatu keadaan pada tempat tertentu secara rinci dan mendalam dalam
bentuk narasi (satori & Komariah, 2017: 236). Pendekatan kualitatif
diharap mampu menghasilkan suatu uraian mendalam tinting ucapan,
tulisan, atau perilaku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok,
masyarakat, atau suatu organisasi tertentu,(Basrowi & Suwandi, 2008: 22).
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitan adalah merupakan tempat di mana akan
melaksanakan penelitian. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di
Madrasah Mulnithi Aziztan, yang berada di Kampung Azizstan
Provensi Patani Thailand Selatan.
C. Sumber Penelitian
Sedangkan sumber data merupakan subjek dari mana data yang
diperoleh secara rinci, data tersebut adalah:
a. Data primer
Dalam penelitian ini, data primer digunakan untuk memperoleh
32
Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah: kepala
sekolah dan guru di Madrasah Mulnithi Azizstan.
b. Data sekunder
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari data yang sudah ada
dan mempunyai hubungan masalah yang teliti yaitu meliputi
literatur-literatur yang ada. Dan data dalam penelitian ini sebagai tambahan
data primer yaitu siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam
penelitian, karena metode ini merupa strategi atau cara yang digunakan
oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam
penelitiannya. Pengumpulan data penelitian dimaksudkan untuk
memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan, dan
informasi yang dapat dipercaya. Metode pengumpulan data ialah teknik
atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan
data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan
tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat diperhatikan
penggunaanya. Untuk memperoleh data seperti yang dimaksudkan tersebut
(Sudaryono, 2013: 29). Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan
dalam penelitian ini yaitu:
1. Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data Langsung
33
kualitatif sifatnya mendalam karena ingin mengeksplorasi informasi
dan jelas dari informan (Satori& Komariah, 2017: 130).
Objek yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah kepala
sekolah, guru, dan siswa.
2. Observasi, yaitu Syaodih N (2006: 220) mengatakan bahwa,observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan
data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang
sedang berlangsung. Metode observasi dilakukan untuk mendapat
informasi terhadap data-data yang berkaitan dengan segala sesuatu
tentang model pendidikan karakter Madrasah Mulnithi Azizstan
Pataki Thailand. Baik yang dilakukan di kelas maupundi luar kelas
3. Dokumentasi adalah metode yang merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan
dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang
lengkap, sah dan bukan berdasar perkiraan. Metode ini hanya
mengambil data yang sudah ada seperti indeks prestasi, jumlah anak,
pendapatan, luas tanah, jumlah penduduk, dan sebagainya (Basrowi &
Suwandi, 2008: 158). Metode ini dilakukan untuk mendapatkan
informasi terhadap data-data yang terkaitan dengan gambaran umum
madrasah dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan model
34
E. Analisis Data
Analisis data kualitatif dapat dipandang sebagai sebuah proses, dan
juga dipandang sebagai penjelasan tentang komponent-komponen yang
perlu ada dalam suatu analisis data. Maka analisis data adalah proses
mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil
wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam
unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang
penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga
mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Satori& Komariah,
2017: 201-202).
Langkah-langkah analisis data sebagai berikut:
a. Reduksi data (Reduction)
Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang
terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh
direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada
hal-hal yang penting (Satori& Komariah, 2017: 218).
Data yang peneliti pilih-pilih adalah data dari hasil
pengumpulan data lewat metode observasi, metode wawancara,
dan metode dokumentasi. Reduksi data dengan proses pemilihan,
pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan
tranformasi data yang muncul dari catatan-catatan tertulis di
35
b. Penyajian data (Display)
Teknik penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat
dilakukan dalam berbagai bentuk seperti tabel, grafik dan
sejenisnya. Lebih dari itu, penyaji data biasa dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori, flowchart
dan sejenisnya (Satori& Alan Komariah, 2017: 219).
Penyajian data oleh peneliti yaitu sekumpulan informasi
ternsusun yang diberikan kemungkinan adanya penarikan
kesimpulan dan pengambilan tindakan.
c. Conclusion Drawing/ Verification
Menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan
dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat
sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang
kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikut.
Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahab awal,
didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti
kembali ke lapangan mengupulkan data, maka kesimpulan yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel (Satori& Alan
Komariah, 2017: 220).
Penarikan kesimpulan ini hanyalah sebagian dari satu
kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga
36
kesimpulan ini, didasarkan pada reduksi data dan sajian data yang
merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian.
F. Mengecekan Keabsahan Data
Untuk mengecek keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan data.
Teknik keabsahan data atau validitas data didasarkan pada empat kriteria
yaitu kepercayaan, keterlatihan, ketergantungan, dan kepastian. (Moleong,
2004: 324). Teknik yang digunakan untuk menetapkan keabsahan data
dalam penelitian di lapangan salah satunya adalah teknik triangulasi.
“Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu” (Moleong, 2004:
330).
Teknik triangulasi yang digunakan oleh peneliti adalah triangulasi
metode dan sumber. Triangulasi metode yaitu Membandingkan data hasil
pengamatan dengan data hasil wawancara. Dan triangulasi sumber adalah
Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan.
Jadi maksud dari keabsahan data ini adalah peneliti mengecek
beberapa data yang berasal selain kepala sekolah, guru dan siswa
Madrasah Mulnithi Aziztan di Patani Thailand Salatan tahun pelajaran
37
BAB IV
PAPARAN DATA DAN ANALISIS DATA
A. Gambaran umum Madrasah Mulnithi Azizstan Patani Thailand
Selatan.
Madrasah Mulnithi Azizstan adalah sekolah yang memiliki 2 tingkat
pendidikan yaitu SMP dan SMA.
1. Sejarah Berdiri dan proses berkembangan
Madrasah Munithi Azizstan mulai berdiri menjadi lembaga
pendidikan model pondok pesentren, namanya adalah Pondok
Pesentren Azizstan, didirikan oleh Tuan Guru H. Adul Aziz
Abdulwahab, pada tahun 2496 B/ 1953 M. Terletak di No. 119 M.7 T.
Napradu A. Khokpho Ch. Patani Thialand Selatan. Di madrasah ini
memiliki kepemimpinan terbagi kepada 2 kepemimpinan yaitu
kepemimpinan Tuan H. Abdulaziz dan Tuan H. Abdulwahab, untuk
lebih terperinci sebagai, berikut:
a. Tuan H. Abdulaziz bin Abdulwahab (2496-2513 B/1953-1970
M.)
Madrasah Mulnithi Azizstan merupakan salah satu lembaga
pendidikan agama Islam yang terletak di Thailand. Yang
bertujuan untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam dan
nilai-nilai luhur keislaman. Agar para santri di Madrasah Mulnithi
38
Mulnithi Azizstan berdiri pada akhir periode yaitu sesudah
Islam di Patani masuk dan berkembang pada saat itu.
Pada tahun 1953 M. itu beliau merasa bertanggung jawab
dengan mengembangkan ajaran-ajaran Islam di kawasan
tersebut, Pada tahun itu juga berdirinya sebuah sekolah Agama,
dengan nama madrasah pondok Azizstan, nama sekolah
tersebut memiliki arti yang menasbahkan kepada pemilik
madrasah karena di saat itu madrasah tersebut dipimpin oleh
Tuan guru H. Abdulaziz Abdul Wahab. Kemudian
penduduknya semakin bertambah sehingga berdirikan pula
sebuah Balashah (Musholla). Mushola itu menjadi suatu tempat
ibadah dan sebagai tempat pengajian al-Qur'an serta tempat
pengajian ajaran-ajaran agama Islam yaitu sebagai tempat
pendidikan.
Dalam perkembangannya, murid semakin bertambah, baik
dari provinsi Patani sendiri maupun provinsi sekitarnya, seperti
provinsi Yala, Provinsi Narathiwat dan Provinsi Songkhla,
bahkan ada yang dari luar negari, seperti Malaysia dan
Indonesia. Setelah banyak pendukungnya dari luar negeri,
maka madrasah tersebut dapat membangun tempat pendidikan
dan juga ada bantuan tenaga untuk mengajar supaya sesuai
dengan jumlah murid. Pondok Azizstan semakin hari semakin
39
Madrasah banyak dapat dukungan dari luar negeri,
sehingga dapat membangun sarana pendidikan, selain itu ada
juga bantuan tenaga untuk mengajar supaya sesuai dengan
jumlah murid. Begitu juga Madrasah Mulnithi Azizstan makin
berkembang baik dari masalah kurikulum maupun bangunan
fisik sehingga pondok Azizstan merubah menjadi Sekolah
Agama swasta atau Maddrasah.
Pada tahun 1956 M. Tuan H. Abdulaziz Abdulwahab
memberi mandat kepada Tuan H. Wea Uma H. Awea untuk
mengurus izin dari pemerintah. Dengan kerja keras dan usaha
Tuan H. Wea Uma, maka dapatkan izin dari pemerintah yaitu
Departemen Pendidikan (Kraksuang seksatikan) dengan resmi,
dan langsung dapat bantuan dari Departemen pendidikan
Daerah tingkat ll Yala, untuk memperbaiki dan diberi izin
bahwa madrasah Azizstan adalah madrasah swasta, juga
sebagai madrasah pertama, madrasah swasta dalam provinsi
Patani yang mengajar agama Islam dalam madrasah.
Madrasah swasta ini diakui oleh penduduk provinsi Patani
dan provinsi sekitarnya, maka setiap tahun harus membina
bangunan baru karena jumlah murid semakin bertambah dan
kegiatan belajar mengajar terhadap ilmu agama Islam juga ikut
berubah menurut kurikulum seperti madrasah yang sudah