• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN KREDIT PASAR MODEL TERHADAP PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (Studi Pada Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen Malang)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAN KREDIT PASAR MODEL TERHADAP PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (Studi Pada Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen Malang)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN KREDIT PASAR MODEL TERHADAP

PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN

MENENGAH

(Studi Pada Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen – Malang)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Riza Rahayu Permatasari

105020101111020

JURUSAN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

(2)

Peran Kredit Pasar Model terhadap Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Studi Pada Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen – Malang)

Riza Rahayu Permatasari

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini didasarkan pada perkembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang yang semakin pesat. Adanya perkembangan ini membuka peluang kepada perbankan untuk menyalurkan kredit modal kerja bagi UMKM. Penyaluran kredit modal kerja ini berperan dalam memberikan stimulus bagi UMKM guna pengembangan dan kinerja usaha. Salah satu bank di Kota Malang yang ikut berkontribusi dalam pemberian kredit modal kerja yaitu Bank Danamon Simpan Pinjam. Penelitian ini ingin mengetahui peran perbankan dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah berkaitan dengan pemberian kredit modal kerja. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu dimana data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Sehingga data yang digunakan adalah data primer yang bersumber dari responden. Dalam penelitian ini responden yang digunakan adalah pihak Bank Danamon Simpan Pinjam dan beberapa nasabah dari kredit UMKM. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa Bank Danamon Simpan Pinjam berperan dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kata Kunci: Peranan kredit , UMKM.

A. PENDAHULUAN

Salah satu sektor perekonomian yang masih dapat bertahan pada saat krisis ekonomi adalah sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini menunjukkan bahwa sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki keunggulan komparatif dan perlu diperhatikan agar dapat terus dikembangkan. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional, khususnya dalam menyediakan kesempatan kerja dan merupakan sumber yang cukup besar bagi penerimaan Negara. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memiliki kemampuan untuk menyelamatkan roda perekonomian nasional, terlihat dari kontribusinya pada Produk Domestik Bruto (PDB) serta menciptakan lapangan pekerjaan.

Masalah yang dihadapi dalam dunia usaha umumnya adalah modal, dimana suatu usaha akan melakukan perluasan atau pengembangan usaha. Dalam usaha kecil dan menengah beberapa masalah yang sering muncul adalah kurangnya permodalan, kemitraan, serta peluang usaha. Permasalahan tersebut dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya usaha kecil dan menengah. Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam suatu usaha diperlukan dana yang cukup. Salah satu alternatif sumber pendanaan dapat diperoleh melalui kredit (Putro,2009).

Salah satu lembaga keuangan yang dapat melakukan peran intermediasi tersebut adalah bank. Sebagai lembaga penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit, bank diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan permodalan khususnya bagi kegiatan produktif. Hal ini harus didukung dengan kebijakan yang tepat dari pemerintah.Sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan peranan UMKM dalam mendukung perekonomian daerah, perbankan juga turut mengambil peranan dengan meningkatkan penyaluran

(3)

kredit pada sektor tersebut. Peluang perbankan dalam pengembangan kredit UMKM masih terbuka lebar mengingat tingginya jumlah UMKM di Jawa Timur.

Perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Malang higga tahun 2013 tercatat sangat baik. Usaha tersebut mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian, khususnya dalam menyediakan kesempatan kerja. Hal ini terbukti terdapat 2408 UMKM yang tersebar di Kota Malang, baik yang sifatnya individu maupun kelompok.Perkembangan UMKM di kota Malang tidak terlepas dari peranan perbankan yang membantu permodalan dan pengembangan usaha. Selama tahun 2013, tercatat total penyaluran kredit bagi UMKM di Malang adalah sebesar Rp 174 miliar. Dari jumlah total tersebut, diketahui bahwa Rp 148 miliar merupakan kredit UMKM yang disalurkan oleh bank syariah. Sedangkan jumlah yang disalurkan bank konvensional untuk kredit UMKM adalah sejumlah Rp 26 miliar.

Bank Danamon merupakan salah satu bank konvensional yang juga berperan dalam penyaluran kredit bagi UMKM. Bank Danamon Simpan Pinjam memiliki program khusus bantuan kepada usaha mikro,kecil dan menengah (UMKM) sebagai unit usaha masyarakat golongan ekonomi lemah. Pemberian kredit bagi pengusaha mikro dan kecil ini dinamakan program PM (Pasar Model). Maka dari itu, Bank Danamon Simpan Pinjam dipilih sebagai letak dari penelitian ini.

Pada tahun 2013, Bank Danamon Simpan Pinjam mencatat bahwa kredit yang disalurkan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tumbuh sebesar 31%. Kredit komersial yang disalurkan Bank Danamon Simpan Pinjam tumbuh sebesar 27%. Sedangkan kredit investasi yang disalurkan Bank Danamon Simpan Pinjam adalah sebesar 29% (Bank Danamon,2013). Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa kredit untuk UMKM di Bank Danamon Simpan Pinjam memberikan kontribusi yang paling besar dibanding kredit lainnya. Oleh karena itu, kredit bagi UMKM yang dinamakan kredit Pasar Model yang mulai diluncurkan pada tahun 2008 ini menjadi menarik untuk diteliti. Banyaknya nasabah yang berminat dengan kredit Pasar Model menggambarkan keefektifan dari pemberian kredit tersebut secara tidak langsung.Maka dari itu, diambillah subjek penelitan kredit Pasar Model.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Siamat (2001) intermediasi keuangan adalah proses pembelian surplus dana dari unit ekonomi yaitu sektor usaha, pemerintah dan individu atau rumah tangga, untuk disalurkan kepada unit ekonomi defisit. Dengan kata lain, intermediasi keuangan merupakan kegiatan pengalihan dana dari penabung kepada peminjam. Djakman (2010) mengungkapkan bahwa lembaga perantara atau intermediasi keuangan meliputi lembaga – lembaga depositori (bank- bank komersial, usaha simpan – pinjam, bank tabungan, dan serikat kredit), di mana sebagian besar dananya didapatkan dengan cara menawarkan kewajiban –kewajiban kepada masyarakat umum, yang sebagian besar kewajiban yang ditawarkan berbentuk deposito; perusahaan asuransi (asuransi jiwa,asuransi harta milik, asuransi kecelakaan); dana pensiun; dan perusahaan – perusahaan keuangan. Fungsi bank sebagai lembaga intermediasi ini juga sangat berkaitan dengan peranan bank sebagai agent of trust dan agent development. Yang dimaksud sebagai agent of trust adalahsuatu lembaga perantara (intermediary) yang dipercaya untuk melayani segalakebutuhan dari dan untuk masyarakat. Sedangkan sebagai agent of development, bank adalah sebagai lembaga perantara yang dapat mendorong kemajuan pembangunan melalui fasilitas kredit dan kemudahan-kemudahanpembayaran serta penarikan dalam proses transaksi yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi. Fungsi intermediasi baru dapat berjalan dengan baik apabila kedua pihak memiliki kepercayaan terhadap bank. Kebijakan perbankan yang efektif terutama harus diarahka untuk menjaga kepercayaa masyarakat terhadap perbankan.

(4)

Sektor perbankan ini sangat penting perannya di dalam pembangunan nasional baik sebagai perantara sektor yang defisit dengan sektor yang surplus. Selain itu, sektor perbankan juga berperan penting sebagai agen pembangunan. Lembaga keuangan di Indonesia ditugaskan atau diarahkan untuk berperan sebagai agen pembangunan dimana sebagai lembaga yang bertujuan mendukung pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan beserta hasil-hasil pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah taraf hidup rakyat banyak (Untung, 2005:24 dalam Indrawati,2009).

Usaha mikro, kecil dan menengah merupakan usaha produktif milik keluarga atau perorangan warga Negara Indonesia. Menurut undang-undang Republik Indonesia no.20 tahun 2008 mendefinisikan kriteria usaha mikro,kecil dan menengah (UMKM) sebagai berikut.

Tabel 1 Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Usaha Mikro Usaha Kecil Usaha Menengah

Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah bangunan tempat usaha.

Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah bangunan tempat usaha.

Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) hingga Rp. 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah) hingga Rp. 50.000.000.000 (lima puluh milyar rupiah).

Sumber : UU RI No.20 (2008)

Berdasarkan karakteristik usaha mikro kecil dan menengah yang telah dijelaskan di atas,diketahui perkembangan usaha dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Permasalahan internal yang paling dominan dihadapi oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) adalah keterbatasan permodalan. Hanya sedikit UMKM yang memanfaatkan sumber perbankan untuk mengatasi keterbatasan permodalan. Beberapa hambatan bagi usaha kecil mikro dan menengah dalam mengakses kredit bank antara lain adalah prosedur yang sulit dan tidak adanya agunan (Sri,2006). Di satu sisi UMKM pada umumnya sangat memerlukan bantuan permodalan bagi pengembangan usahanya, tetapi di lain sisi perbankan dan mungkin juga perorangan masih kelebihan dana. Walaupun secara makro penyaluran kredit bagi UMKM terus meningkat, ternyata peningkatan terbesar masih berada pada kredit konsumsi. Peningkatan kredit perbankan untuk UMKM khususnya bagi keperluan tambahan modal kerja dan investasi masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan kredit konsumsi. Atas dasar kondisi tersebut, tampaknya sangat mutlak diperlukan adanya bantuan bagi UMKM, yaitu: (1) layanan untuk dapat akses ke lembaga keuangan, dan (2) tersedianya lembaga jaminan kredit yang permanen bagi UMKM.

Menurut Fahmi (2010), dalam pemberian kredit pihak bank memutuskan atau melakukan pencairan dana kredit tersebut dengan mempertimbangkan beberapa hal. Hal yang harus dipikirkan baik oleh kreditur maupun debitur secara umum dan itu sudah menjadi penilaian umum, yang biasa dikenal dengan 5C yaitu : (1) Character, (2) Capacity, (3) Capital, (4) Collateral, (5) Condition of

(5)

Economy. Dari kelima prinsip tersebut, hal yang paling dasar adalah character, dimana karakter ini berkaitan dengan sifat dasar dari calon nasabah. Sehingga pihak bank harus mendalami dengan benar karakter calon nasabah tersebut.

C. METODE PENELITIAN

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Artinya, data yang dikumpulkan berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya. Metode penelitian kualitatif dapat disebut sebagai metode interpretive karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Sugiyono (2010 : 9) mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif ,dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Penelitian ini menggunakan unit analisis yang terpusat pada persoalan penelitian yaitu analisis peran kredit Pasar Model bagi pengembangan UMKM (Studi Kasus Bank Danamon Simpan Pinjam Turen Malang). Kredit Pasar Model dipilih karena pangsanya adalah usaha mikro kecil dan menengah yang membutuhkan jasa perbankan. Berdasarkan unit analisis yang telah dinyatakan di atas, maka pihak-pihak yang akan dijadikan responden dalam penelitian ini adalah : (1) Account Officer , yang dalam hal ini mengerti benar mengenai kredit Pasar Model, sehingga dapat mengambil informasi mengenai bagaimana skema dari kredit Pasar Model di Bank DSP unit Turen ; (2) Nasabah, yang merupakan seseorang yang berperan sebagai pelaku utama dalam pembiayaan Pasar Model selain bank, dimana nasabah merupakan salah satu informan kunci dalam penelitian ini karena nasabah merupakan pelaku dari pembiayaan Pasar Model, dan dengan dimasukkannya nasabah dalam informan untuk mendapatkan informasi ataupun data pendukung.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan nasabah penerima kredit Pasar Model yang dapat memberikan informasi secara akurat mengenai perkembangan usahanya setelah memperoleh kredit Pasar Model tersebut. Sedangkan data sekunder diperoleh dari arsip bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen,jurnal,buku,serta sumber literatur lain yang diperlukan untuk menunjang penelitian ini.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode deskriptif. Analisis deskriptif adalah penganalisaan data dengan menggambarkan seluruh peristiwa dari objek penelitian dan mengaitkannya dengan teori yang ada dan ditabulasikan ke dalam tabel-tabel kemudian dipaparkan. Dalam penelitian ini yang didiskripsikan berkaitan dengan dampak pemberian kredit Pasar Model bagi usaha mikro kecil dan menengah yang disalurkan oleh Bank Danamon Simpan Pinjam.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemberian kredit merupakan kegiatan utama perbankan setelah kegiatan penghimpunan dana. Dana yang telah terhimpun dari masyarakat kemudian diolah kembali untuk kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Salah satu jenis kredit pada PT Bank Danamon Indonesia adalah kredit Pasar Model. Kredit Pasar Model merupakan salah satu program yang diberikan oleh divisi bisnis kerja Bank Danamon Indonesia. Kredit Pasar Model diperuntukkan kepada para pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang membutuhkan dana atau modal bagi perkembangan usaha mereka. Penyaluran kredit ini dilakukan di unit-unit Bank Danamon Simpan Pinjam yang merupakan divisi bisnis kerja Bank Danamon Indonesia. Kredit Pasar Model terbagi

(6)

menjadi dua yaitu Dana Pinjaman (DP) 50 dan Dana Pinjaman (DP) 200. Plafond dari Dana Pinjaman 50 adalah mulai Rp 5.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000 , sedangkan plafond Dana Pinjaman 200 adalah mulai Rp 50.000.000 sampai dengan 500.000.000 . Jangka waktu (tenor) pengembalian kredit pasar model baik DP 50 maupun DP 200 adalah 6 sampai 60 bulan. Sasaran dari kredit Pasar Model adalah pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang membutuhkan dana sebagai modal kerja bagi usahanya. Dalam pengajuan kredit pasar model , calon nasabah diwajibkan memiliki usaha yang telah berjalan selama minimal 2 tahun. Selain itu, harus ada jaminan untuk pengajuan kredit pasar model tersebut. Jaminan yang bisa digunakan dibagi menjadi tiga yaitu Surat Hak Milik (SHM), SHGB (Surat Hak Guna Bangunan), dan Akte Jual Beli.

Kredit Pasar Model yang diusung oleh Bank Danamon Simpan Pinjam memiliki banyak peminat. Semakin banyaknya usaha – usaha di berbagai skala baik kecil maupun besar membuat para pengusaha kecil dan menengah berlomba – lomba untuk mengembangkan usahanya, salah satu caranya dengan menambah modal dari bank. Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen melakukan realisasi kredit Pasar Model tidak kepada semua orang yang mengajukan kredit , melainkan melihat dari berbagai aspek terlebih dahulu. Berkut adalah data perkembangan realisasi penyaluran kredit Pasar Model di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen.

Tabel 2 Perkembangan Realisasi Penyaluran Kredit Pasar Model di DSP Turen

Tahun Kredit Pasar Model

(Milyar)

2011 17.145

2012 18.070

2013 20.223

2014 12.759

Sumber : Bank Danamon, 2014 (Data diolah)

Dari data realisasi penyaluran kredit di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen tersebut terlihat bahwa dana yang diberikan kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) cukup besar dari tahun ke tahun. Jumlah realisasi penyaluran kredit Pasar Model selalu meningkat dari tahun 2011 hingga tahun 2013. Di tahun 2014 realisasi penyaluran kredit Pasar Model sejumlah Rp 12 miliar dikarenakan data belum genap satu tahun. Realisasi penyaluran kredit Pasar Model dapat naik dan turun disebabkan oleh adanya percepatan pembayaran dari nasabah serta adanya kredit macet. Melihat dari besarnya penyaluran tersebut, terbukti bahwa Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen ikut berperan dalam membantu permodalan serta pengembangan usaha – usaha mikro kecil dan menengah di daerah tersebut.

Responden dalam penelitian ini adalah nasabah penerima kredit Pasar Model di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Total nasabah kredit Pasar Model di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen adalah 229. Responden yang digunakan dalam penelitian adalah 6 orang. Responden merupakan nasabah yang memiliki usaha seperti toko klontong , warung makanan , pembuat kerajinan boneka, dan studio foto. Spesifikasi keseluruhan nasabah adalah sebagai berikut.

(7)

Tabel 3 Rincian Jenis Usaha dari UMKM yang Termasuk Nasabah Kredit Pasar Model

Jenis Usaha Jumlah Nasabah

Perdagangan (Toko pracangan, toko sembako, toko grosir, warung makan, home industry, toko pakaian)

124 orang Jasa (Jasa travel, rental mobil, percetakan) 72 orang Peternakan (Ayam, sapi, kambing, dll) 33 orang Sumber : Bank Danamon , 2014 (Data diolah)

Analisis Hasil Survey Lapangan terhadap Responden

Dalam menganalisis peran pemberian kredit Pasar Model terhadap perkembangan UMKM di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen, maka diambillah responden sejumlah enam (6) orang baik merupakan nasabah yang tidak mengalami keterlambatan pembayaran angsuran maupun nasabah yang mengalami keterlambatan pembayaran. Hal ini dilakukan agar hasil analisis dapat mewakili peranan kredit Pasar Model terhadap keseluruhan nasabah di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Keberhasilan pemberian kredit terhadap pengembangan UMKM dilihat dari beberapa variabel antara lain modal usaha, keuntungan, dan pendapatan usaha.

Dalam analisis hasil survey, akan dikupas secara tuntas hasil survey di lapangan terhadap responden yang memiliki pinjaman Pasar Model di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Jenis usaha yang dimiliki oleh responden ini bermacam – macam, antara lain studio foto, toko pracangan, warung makanan, pembuatan boneka, serta catering makanan. Beberapa responden telah menerima kredit Pasar Model dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen beberapa kali, namun ada juga yang baru sekali memperoleh kredit Pasar Model dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen.

Dari hasil wawancara yang dilakukan, penelitian ini menemukan informasi-informasi yang terjadi di lapang baik dari segi proses pengajuan kredit, hasil serta dampak dari pemberian kredit Pasar Model tersebut. Berikut hasil wawancara kepada beberapa nasabah kredit Pasar Model di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Analisis hasil survey lapangan akan dibahas sesuai jumlah responden yang ada.

Responden pertama adalah seorang nasabah yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa studio foto cuci cetak. Ia mulai memperoleh kredit di Danamon sekitar tahun 2006-2007. Jumlah perolehan kredit dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen awalnya sebesar Rp 50.000.000 . Seiring berjalannya waktu, saat ini kredit yang diambil adalah sebesar Rp 500.000.000 .Perkembangan usaha setelah perolehan kredit dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen dirasa cukup efisien oleh responden pertama yang bergerak di usaha jasa percetakan dan studio foto. Peningkatan dapat terbukti dari modal usaha yang dikelola oleh responden tersebut. Selain itu, adanya peningkatan pendapatan sesudah mendapat kredit dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Perolehan pendapatan sebelum memperoleh kredit Pasar Model tiap harinya sekitar Rp 2.000.000. Kemudian setelah adanya perolehan kredit Pasar Model, pendapatan per hari meningkat menjadi Rp 3.000.000 – Rp 3.500.000. Adanya peningkatan pendapatan tersebut dikarenakan perputaran usaha lebih lancar. Keuntungan usaha juga ikut meningkat seiring bertambahnya pendapatan yang diperoleh. Sebelum perolehan kredit keuntungan per hari kurang dari Rp 400.000, sedangkan setelah perolehan kredit keuntungan per hari meningkat menjadi Rp 400.000 – Rp 750.000.

Responden kedua adalah seorang nasabah yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa toko klontong. Kredit yang diperoleh dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen adalah sebesar Rp 80.000.000 dan dengan jaminan berupa akte jual beli tanah. Responden kedua juga mengalami perkembangan usaha setelah memperoleh kredit dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit

(8)

Turen. Kredit yang diperoleh digunakan untuk menambah modal kerja seperti menambah etalase, dan membeli barang untuk dijual kembali. Dari wawancara kepada responden tersebut dapat diketahui bahwa terdapat peranan kredit Pasar Model bagi perkembangan usaha yang didirikannya. Pendapatan yang diperoleh sesudah adanya kredit Pasar Model meningkat secara pesat. Sebelum mendapat kredit Pasar Model pendapatan per hari sekitar Rp 100.000 – Rp 1.000.000. Sedangkan perolehan pendapatan setelah adanya kredit Pasar Model sekitar Rp 2.000.000 – Rp 4.000.000 per hari. Keuntungan usaha pun ikut meningkat seiring bertambahnya pendapatan yang diperoleh. Dulu sebelum mendapat kredit keuntungan per hari tidak terlalu banyak ,hanya mulai 0 – Rp 75.000. Akan tetapi, sejak mendapat kredit Pasar Model usahanya mulai berkembang sehingga keuntungan bertambah menjadi Rp 150.000 – Rp 300.000.

Hasil wawancara selanjutnya dengan responden ketiga yaitu seorang nasabah yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa warung makanan. Jumlah kredit Pasar Model yang diperoleh dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen adalah sebesar Rp 70.000.000 dan dengan menggunakan jaminan sertifikat rumah. Responden ketiga ini mengalami keterlambatan pembayaran angsuran hingga 7 bulan, sehingga jaminan yang diberikan kepada bank harus dilelang.Responden ketiga ini baru mengangsur selama 6 bulan dari tenor sejumlah 36 bulan. Setelah 3 bulan tidak membayar, ia mendapat surat peringatan. Namun hal itu tidak diperhatikan sampai dengan mendapat surat peringatan ketiga yang berarti jaminan yang diberikan harus dilelang jika tidak mampu membayar.

Responden keempat adalah seorang nasabah yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa usaha pembuatan boneka. Jumlah kredit yang diperoleh dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen adalah Rp 20.000.000. Responden keempat mengalami keterlambatan pembayaran selama 1 bulan. Hal ini dikarenakan masalah teknis yang menyebabkan responden tersebut tidak dapat membayar angsuran. Dengan melihat hasil wawancara terhadap responden keempat diketahui bahwa pemberian kredit Pasar Model cukup berperan dalam pengembangan usaha miliknya. Dana dari perolehan kredit Pasar Model dipergunakan untuk menambah modal kerja seperti membeli alat- alat serta perlengkapan untuk membuat boneka. Pendapatan serta keuntungan yang diperoleh sebelum dan setelah mendapat kredit meningkat.

Dari survey lapangan kepada nasabah kredit Pasar Model ini, bisa menggambarkan bahwa kredit dari Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen tersebut mampu menjadi stimulus bagi perkembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kredit Pasar Model dicairkan dengan prosedur yang tidak terlalu rumit dan terbukti dapat meningkatkan variabel yang diteliti meliputi modal usaha, pendapatan usaha, dan keuntungan usaha.

E. PENUTUP Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan terhadap enam responden, maka diperoleh kesimpulan bahwa secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kredit Pasar Model berperan terhadap pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen. Faktor-faktor yang dilihat adalah modal, pendapatan usaha, serta keuntungan usaha sebelum dan setelah perolehan kredit Pasar Model. Dimana sebagian besar responden dalam penelitian ini merasakan langsung adanya peningkatan modal, pendapatan usaha, dan keuntungan usaha setelah perolehan kredit tersebut.

(9)

Saran

Dari penelitian mengenai peranan kredit terhadap pengembangan UMKM di Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen, saran yang dapat diberikan adalah :

1. Bagi Bank Danamon Simpan Pinjam unit Turen, hendaknya dapat meningkatkan penyaluran kredit Pasar Model ke UMKM agar dapat menjadi stimulus bagi pengembangan UMKM di kawasan tersebut.

2. Bagi pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM), diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola dana kredit agar pengembangan usaha yang dimiliki lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Bank Danamon. 2013. Buku Operasi Kebijakan Kredit Pasar Model. Jakarta : Bank Danamon Indonesia Kantor Pusat.

Bank Indonesia . 2013 .Kajian Ekonomi Regional Wilayah Jawa Bagian Timur . KpBIw IV . Surabaya .

Djakman,Chaerul. 2010. Pasar dan Lembaga Keuangan. Jakarta : LPFE UI. Fahmi, Irham. 2010 . Pengantar Manajemen Perkreditan . Bandung : Alfabeta . Hendayana, Rachmat._____ . Fenomena Lembaga Keuangan Mikro dalam Perspektif

Pembangunan Ekonomi Pedesaan. (http://www.pse.litbang.deptan.go.id. Diakses pada tanggal 20 Desember 2013)

Indrawati,Toti dan Susi Lenggogeni. 2009 . Peran Pt.Bank Rakyat Indonesia (Bri) Dalam

Penyaluran Kredit Umum Pedesaan Terhadap Pengembangan Usaha Mikro Di Kota Pekanbaru. Jurnal Ekonomi volume 17 nomor 3.

Kasmir. 2002 . Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya . Jakarta : RajaGrafindo Persada. Panggabean,Riana. Kerjasama Bank, Koperasi Dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM)

Mendukung Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM). (http://www.smecda.com. Diakses pada tanggal 20 Desember 2013) Pradipta,Enggar dan Achma Hendra . 2012 . Analisis Peran Bri Unit Ketandan Dalam

Pemberian Kredit Usaha Rakyat Bagi Pengusaha Mikro Dan Kecil Di Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten. Diponegoro. Journal of Economics volume 1 nomor 1. Putro,Eko . 2009 . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Realisasi Kredit Usaha Rakyat (Kur) Di

Bank Rakyat Indonesia Unit Leuwiliang Kabupaten Bogor . Skripsi. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen IPB .Bogor.

Siamat,Dahlan. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan. Jakarta : LPFE UI.

Sri, Endang. 2006. Strategi Pengembangan Usaha Kecil Melalui Peningkatan Aksesibilitas Kredit Perbankan. Jurnal Infokop Nomor 29Tahun XXII,2006.

Sugiyono . 2010 . Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D . Bandung : Alfabeta. Taswan .2010. Manajemen Perbankan (Konsep,Teknik dan Aplikasi) .Yogyakarta : UPP STIM

YKPN Yogyakarta.

Wiyono,Teguh dan Musa Hubeis. 2006. Analisa Strategi Pola Pembiayaan Kredit Mikro pada Bank BNI : Solusi Pemenuhan Permodalan Bagi Usaha Kecil. Jurnal Industri Kecil Menengah (MPI) Vol.1 No.1.

Gambar

Tabel 2    Perkembangan Realisasi Penyaluran Kredit Pasar Model di DSP Turen
Tabel 3   Rincian Jenis Usaha dari UMKM yang Termasuk Nasabah Kredit Pasar Model

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan penerapan strategi pemasaran yang diterapkan oleh BRI Unit Willem Iskandar Cabang Medan Asia Pasar Rame

Berdasarkan hasil penelitiandan analisa data yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa dalam operasionalnya, PT Bank Danamon Simpan Pinjam (DSP) Tbk Unit Pasar Purbalingga

Menurut teori dan hasil penelitian yang dilakukan pada Koperasi Simpan Pinjam Rukun Ikhtiar prosedur pemberian kredit yang ada pada koperasi telah sesuai dengan

Unit Simpan Pinjam Swamitra Koperasi Pedagang Pasar Bangkinang hendaknya dalam pengalokasian dana dapat memberikan porsi yang lebih besar pada kredit modal kerja

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model tentang lembaga penyedia kredit formal dan penyedia kredit informal yang memiliki peran beriringan pada pasar

Unit Simpan Pinjam Swamitra Koperasi Pedagang Pasar Bangkinang hendaknya dalam pengalokasian dana dapat memberikan porsi yang lebih besar pada kredit modal kerja

Bahkan apabila pihak lembaga keuangan dapat mengetahui dari permulaan proses pemberian kredit, misalnya pada proses wawancara dengan nasabah diketahui adanya ind1kasi yang kurang baik

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang prosedur dalam pemberian kredit pada UEK-SP Simpang Pinjam Kelurahan Simpang Tiga Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru, maka diperoleh