• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI 2.1 Supply Chain Management

2.1.1 Pengertian Supply Chain Management

Definisi Suppy Chain, menurut Idrajit dan Djokopranoto (2002, p5) adalah “Suppy chain (rantai pengadaan) adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang dan produksi jasanya kepada pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut.

Menurut I Nyoman Pujawan (2005, p22), Supply Chain Management merupakan metode atau pendekatan integrative untuk mengelola aliran produk, informasi dan uang secara terintegrasi yang melibatkan pihak-pihak mulai dari hulu ke hilir yang terdiri dari supplier, pabrik, jaringan distribusi maupun jasa-jasa logistik.

Menurut Chopra dan Meindl (2004, p4), “Supply Chain Management terdiri dari pelibatan setiap mata rantai persediaan, baik itu secara langsung maupun tidak langsung untuk memnuhi permintaan pelanggan”

Menurut Yolanda M Siagian (2005, p6), Supply Chain Management menegaskan interaksi anatar fungsi pemasaran, produksi pada suatu perusahaan. Memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan pelayanan dan penurunan biaya dapat dilakukan melalui koordinasi dan kerja sama antara pengadaan bahan baku dan pendistribusiannya.

(2)

Menurut Christina Widhya Utami (2006, p126), Supply Chain Management adalah proses penyatuan bisnis dari pengguna akhir melalui para penyalur asli yang menyediakan produk, jasa pelayanan dan informasi untuk menambah nilai pelanggan.

Menurut Barry Reinder dan Jay Heizer (2004, p412), Supply Chain Management merupakan pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam memperoleh bahan mentah, mentransformasikan bahan mentah tersebut menjadi barang dalam proses dan bahan jadi, dan mengirimkan produk tersebut ke konsumen memalui sistem distribusi.

Supply Chain Management tidak hanya sekedar memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berkembang menuju ke nilai-nilai konsumen, mulai dari memahami apa yang dibutuhkan dan kemudian menciptakan dan mendistribusikan produk berdasarkan kebutuhan konsumen

Supply Chain Management juga tidak hanya berorientrasi pada urusan internal sebuah perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Perusahaan-perusahaan yang berada pada Supply Chain pada intinya ingin memuaskan konsumen akhir mereka.

Supply Chain Management adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier, manufacturer, distributor, retailer, dan customer. Artinya barang diproduksi dalam jumlah yang tepat, pada saat yang tepat, dan pada tempat yang tepat untuk mencapai suatu biaya dari sistem secara keseluruhan yang minimum dan juga mencapai service level yang diinginkan.

(3)

Secara singkat, Supply Chain Management dapat diartikan pengelolaan informasi, barang dan jasa mulai dari pemasok paling awal hingga konsumen paling akhir dengan menggunakan pendekatan integrasi dengan tujuan yang sama.

2.1.2 Komponen Supply Chain Management

Menurut Turban (2004, p301) terdiri dari tiga komponen utama : 1. Upstream Supply Chain

Bagian Upstream Supply Chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufacturing dengan para penyalurnya dan koneksi mereka kepada penyalur mereka (para penyalur second-tier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberap strata, semua jalan dari asal material. Didalam Upstream Supply Chain, aktivitas utama adalah Pengadaan. 2. Internal Supply Chain

Bagian dari Internal Supply Chain meliputi semua proses inhouse yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur kedalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk kedalam organisasi. Didalam Internal Supply Chain, perhatian yang paling utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

3. Downstream Supply Chain

Meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Didalam Downstream Supply Chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi dan after-sale service.

(4)

2.1.3 Tujuan Supply Chain Management

Menurut Miranda ST (2002, p87), tujuan Supply Chain adalah memaksimalkan persaingan dan keuntungan perusahaan beserta seluruh anggotanya termasuk pelanggannya. Sedangkan tujuan Suppy Chain Management adalah mencapai biaya minimum dan service level yang maksimum. Suppy Chain Management mempertimbangkan semua fasilitas yang berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan dan biaya yang diperlukan dalam mememnuhi kebutuhan customer.

Menurut Chopra dan Meindl (2004, p5), tujuan Suppy Chain Management adalah untuk memaksimalkan nilai secara keseluruhan yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pelanggan. Disisi lain, tujuannya untuk meminimalkan biaya keseluruhan (biaya pemesanan, biaya penyimpanan, biaya bahan baku, biaya transportasi dll).

Menurut Shapiro dan Wagner (2009) dalam Proquest, Journal of Business Logistics, Strategic Inventory Optimization : “Pendekatan analitis yang terlalu berfokus pada keputusan perencanaan persediaan jangka panjang sementara mengabaikan persoalan desain jaringan dapat mengakibatkan solusi yang jauh dari optimal. Sehingga diusulkan agar manajer mengambil pandangan keseluruhan biaya total atas persediaan dalam membentuk supply chain untuk menyeimbangkan biaya terhadap service levels. Sebuah jaringan optimasi supply chain mempertimbangkan pilihan untuk expanding, contracting, atau penyusunan (konfigurasi) kembali jaringan perusahaan. Tujuan optimasi untuk meminimalkan total biaya agar sesuai dengan forecasted demand atau memaksimalkan pendapatan bersih jika bauran produk diizinkan bervariasi. Optimasi ini dilakukan bertujuan pada pemenuhan kebutuhan permintaan dan penyampaian waktu tanggap (delivery response times), pengukuran customer service dan berbagai kapasitas sumber daya.”

(5)

2.1.4 Keuntungan Supply Chain Management

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002, p4-5), beberapa keuntungan Supply Chain Management antara lain :

1. Mengurangi inventory dengan berbagai cara

a. Inventory merupakan bagian paling besar dari aset perusahaan, yang berkisar antara 30%-40%

b. Sedangkan biaya penyimpanan barang (inventory carrying cost) berkisar antara 20%-40% dari nilai barang yang disimpan.

c. Oleh karena itu, usaha dan cara harus dikembangkan untuk menekan penimbunan barang dalam gudang agar biaya dapat ditekan menjadi sedikit mungkin.

2. Menjamin kelancaran penyediaan barang

a. Kelancaran barang yang perlu dijamin adalah mulai dari barang asal (pabrik pembuat), supplier, perusahaan sendiri, wholesaler, retailer, sampai kepada final customers.

b. Jadi, rangkaian perjalanan dari bahan baku sampai menjadi barang jadi dan diterima oleh pemakai atau pelanggan merupakan suatu mata rantai yang panjang chain) yang perlu dikelola dengan baik.

3. Menjamin mutu

a. Mutu Barang jadi (Finished Product) ditentukan tidak hana oleh proses produksi barang tersebut , tetapi juga oleh mutu dan bahan mentalnya dan mutu keamanan dalam pengirimannya

(6)

b. Jaminan mutu juga merupakan serangkaian mata rantai panjang yang harus dikelola dengan baik

2.1.5 Kegiatan Supply Chain Management

Menurut I Nyoman Pujawan (2005, p17), Semua kegiatan yang terkait dengan aliran material, informasi, dan uang disepanjang supply chain adalah kegiatan-kegiatan dalam cakupan Supply Chain Management. Kegiatan Supply Chain Management dibagi menjadi 2 jenis kegiatan yaitu :

1. Kegiatan Fisik

Terdiri dari : Sourcing (mencari bahan baku), produksi, penyimpanan produk/material, distribusi/transportasi, dan pengembalian produk (return).

2. Kegiatan Mediasi Pasar

Terdiri atas riset pasar, pengembangan produk, penetapan harga diskon, serta pelayanan purna jual

2.1.6 Proses Supply Chain Management

Supply Chain dari perusahaan mencakup fasilitas-fasilitas dimana bahan mentah, produk setengah jadi, dan produk jadi diperoleh, diubah, disimpan dan dijual. Fasilitas-fasilitas ini terhubung oleh mata rantai trnasportasi sepanjang arus produk dan material.

(7)

Gambar 2.1 Proses dari Supply Chain dan 3 macam aliran yang dikelola Sumber : I Nyoman Pujawan (2005,p5)

Pada gambar diatas, terlihat bahwa Supply Chain Management adalah koordinasi dari material, informasi dan arus keuangan diantara perusahaan yang berpartisipasi.

• Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.

• Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status pesanan.

• Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran, penetapan kepemilikan dan pengiriman.

Salah satu faktor kunci untuk mengoptimalkan supply chain adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan (Indrajit dan Djokopranoto, 2002, p9).

(8)

Dengan tercapainya koordinasi dari rantai supply perusahaan, maka tiap channel dari rantai supply perusahaan tidak akan mengalami kekurangan barang juga tidak kelebihan barang terlalu banyak.

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2003, p6-8) dalam supply chain ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan didalam arus barang, para pemain utama itu adalah :

1. Supplier 2. Manufacturer 3. Distributor 4. Retail Outlets 5. Customer

Proses mata rantai yang terjadi antar pemain utama itu adalah sebagai berikut :

Chain 1 : Supplier

Jaringan yang bermula dari sini, yang merupakan sumber yang menyediakan bahan pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, suku cadang dan sebagainya. Sumber pertama ini dinamakan suppliers. Dalam arti yang murni, ini termasuk juga suppliers’ supplier atau sub-suppliers. Jumlah suppliers bisa banyak atau sedikit, tetapi suppliers’ suppliers biasanya berjumlah banyak sekali. Inilah mata rantai yang pertama.

Chain 2 : Supplier – Manufacturer

Rantai pertama dihubungkan dengan rantai yang kedua, yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator atau bentuk lain yang melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi, mengassembling, merakit, mengkonversikan,

(9)

atau pun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan dengan mata rantai pertama ini sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghematan. Misalnya inventories bahan baku, bahan setengah jadi, dan bahan jadi yang berada di pihak suppliers, manufacturer dan tempat transit merupakan target untuk penghematan ini. Tidak jarang penghematan sebesar 40%-60%, bahkan lebih, dapat diperoleh dari inventory carring cost di mata rantai ini. Dengan menggunakan konsep supplier partnering misalnya, penghematan dapat diperoleh.

Chain 1 – 2 – 3 : Suppliers – Manufacturer – Distribution

Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh Manufacturer sudah muali disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk menyalurkan barang ke pelanggan, yang umum adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar supply chain. Barang dari pebrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedangang dalam jumlah yang besar, dan pada waktunya nanti pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.

Chain 1 – 2 – 3 – 4 : Suppliers – Manufacturer – Distribution – Retail Outlets

Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gedung sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan ke pihak pengecer. Sekali lagi disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang, dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufacturer maupun ke toko pengecer (retail outlets).

(10)

Chain 1 – 2 – 3 – 4 – 5 : Suppliers – Manufacturer – Distribution – Retail Outlets – Customers

Dari rak-raknya, para pengecer atau retailers ini menawarkan barangnya langsung kepada para pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut. Yang termasuk outlets adalah toko, warung, toko serba ada, pasar swalayan, toko koperasi, mal, club stores dan sebagainya, pokoknya dimana pembeli akhir melakukan penelitian. Walaupun secara fisik dapat dikatakan ini mata rantai terakhir, sebetulnya masih ada satu mata rantai lagi, yaitu dari pembeli (yang mendatangi Retail Outlets) ke real customers dan real user, karena pembeli belum tentu pengguna yang sesungguhnya. Mata rantai supply baru benar-benar berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di pemakai langsung (pemakain yang sebenarnya) barang atau jasa yang dimaksud.

2.1.7 Model Supply Chain Management

Model dari supply chain dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1. Push Based Supply Chain

Yaitu model supply chain yang dilaksanakan didalam pengantisipasian permintaan konsumen.

2. Pull Based Supply Chain

Yaitu model supply chain yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan konsumen.

Penentuan model supply chain sangat berguna bagi pertimbangan keputusan strategik yang berkaitan dengan tahap supply chain.

(11)

2.1.8 Strategi Supply Chain Management

Di dalam tahap ini, perusahaan menentukan strategi kompetitif perusahaan dan strategi supply chain perusahaan. Kemudian perusahaan melakukan penyesuaian strategi supply chain dengan strategi kompetitif perusahaan. Penyesuaian strategi ini berarti bahwa kedua strategi, strategi kompetitif dan strategi supply chain mempunyai tujuan yang sama.

Terdapat tiga langkah dasar untuk mencapai kesesuaian strategi, yaitu : 1. Mengerti konsumen

Untuk mengerti konsumen, perusahaan harus bisa mengidentifikasikan segmentasi dari kebutuhan konsumen yang dilayani. Terdapat beberapa point yang perlu diperhatikan untuk mengerti konsumen, yaitu :

• Jumlah dari produk yang dibutuhkan dalam setiap segmen. • Waktu respon yang konsumen bersedia ditolerir.

• Varitas produk yang dibutuhkan. • Level pelayanan yang dibutuhkan. • Harga produk.

• Tingkat keinginan inovasi produk.

Setelah mengetahui keinginan konsumen, perusahaan dapat menentukan tingkat permintaan konsumen termasuk yang mana. Dibawah ini akan digambarkan spektrum dari tingkat permintaan konsumen.

(12)

Gambar 2.2 Spektrum Tingkat Permintaan Konsumen Sumber : Chopra, 2004, p34

2. Mengerti Supply Chain

Pada langkah ini, kita menentukan tingkat daya tanggap dari supply chain. Tingkat daya tanggap supply chain termasuk kemampuan supply chain untuk melakukan hal-hal berikut :

• Tanggap terhadap permintaan pada rentang yang lebar. • Waktu tenggang yang singkat.

• Mengatasi sejumlah besar variasi produk.

• Membangun produk-produk yang berinovasi tinggi.

• Mampu melakukan layanan pada tingkat yang sangat tinggi.

Semakin banyak kemampuan yang dapat dilakukan oleh supply chain, maka semakin tanggap supply chain tersebut. Berikut dibawah ini adalah spektrum daya tanggap supply chain.

(13)

Gambar 2.3 Spektrum Tingkat Responsifitas Supply Chain Sumber : Chopra, 2004, p36

3. Mencapai kesesuaian strategi

Pada tahap ini, perusahaan melakukan penyesuaian strategi untuk memastikan bahwa supply chain sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tingkat responsifitas dari supply chain haruslah konsisten dengan tingkat permintaan konsumen. Berikut dibawah ini akan digambarkan tentang diagram tentang kesesuaian strategi :

(14)

Gambar 2.4 Zona Kesesuaian Strategi Sumber : Chopra, 2004, p37

2.1.9 Kesesuaian antara Strategi Supply Chain dengan Kebijakan Taktis

Tabel 2.1 Kebijakan Taktis dan Strategi Supply Chain Keputusan Taktis Efisiensi Responsif Lokasi Fasilitas Tempat pabrik

dimana ongkos tenaga kerjanya murah

Cari lokasi yang dekat dengan pasar, punya akses tenaga terampil dan teknologi yang memadai

Sistem Produksi Tingkat utilitas sistem produksi harus tinggi

Sistem produksi harus fleksibel dan ada kapasitas ekstra

(15)

Persediaan Perlu upaya meminimasi tingkat persediaan

Diperlukan

persediaan pengaman yang cukup di lokasi yang tepat

Transportasi Pengiriman TL/CL atau subkontakkan

kepada pihak ketiga

Diperlukan

transportasi cepat. Bila perlu tetapkan kebijakan LTL/LCL Pasokan Pilih supplier dengan

harga dan kualitas sebagai kriteria utama Pilih supplier berdasarkan kecepatan, fleksibilitas, dan kualitas Pengembangan produk Fokus ke minimal ongkos Gunakan modular design dan tunda differensiasi produk sebisa mungkin (postponement)

Sumber : I Nyoman Pujawan, 2005, p35

2.1.10 Penggerak Supply Chain

Supply chain memiliki penggerak yang sangat berpengaruh terhadap performa supply chain itu sendiri. Menurut Chopra dan Meindl (2004, p51-64) penggerak supply chain adalah sebagai berikut :

1. Inventory

Inventory adalah semua bahan-bahan mentah, dalam proses, dan barang-barang yang telah diselesaikan. Inventory merupakan salah satu

(16)

penggerak supply chain yang penting karena perubahan kebijakan inventory dapat merubah secara drastis tingkat responsifitas dan efisiensi supply chain. (Chopra dan Meindl, 2004, p5)

Komponen dari keputusan mengenai inventory adalah (Chopra dan Meindl, 2004, p57-58) :

a. Circle Inventory adalah jumlah rata-rata dari inventory yang digunakan untuk memenuhi permintaan dalam suatu waktu. Misal dalam sebulan memerlukan 10 buah truk bahan baku, perusahaan bisa saja memesan 10 truk bahan baku dalam sekali pesan atau bisa memesan 1 truk bahan baku yang dipesan tiap 3 hari. Ini tergantung dari strategi supply chain apa yang mereka terapkan (responsive atau efisiensi) dengan memperhitungkan ordering cost (biaya pesan) dan holding cost (biaya penyimpanan).

b. Safety Inventory

Safety inventory ini dibuat untuk berjaga-jaga terhadap perkiraan akan kelebihan permintaan. Ini digunakan untuk mengatasi ketidakpastian akan permintaan yang tinggi.

c. Seasional Inventory

Seasional Inventory adalah inventory yang dibuat untuk mengatasi keragaman yang dapat diprediksi dalam permintaan. Perusahaan yang menggunakan seasional inventory akan membangun inventory mereka pada periode permintaan akan barang rendah dan menyimpannya untuk periode permintaan akan barang menjadi tinggi, dimana pada saat permintaan tinggi dimana mereka tidak dapat memproduksi semua barang untuk memenuhi permintaan.

(17)

2. Transportasi

Transportasi yaitu memindahkan inventory dari titik ke titik dalam supply chain. Transportasi terdiri dari banyak kombinasi dari model dan bentuk, yang memiliki keunggulan masing-masing. Pemilihan transportasi juga mempunyai dampak yang besar dalam tingkat responsifitas dan efisiensi supply chain. (Chopra dan Meindl, 2004, p52).

Komponen dari keputusan mengenai transportasi adalah (Chopra dan Meindl, 2004, p59-60) :

a. Mades of Transportation

Mades of Transportation adalah cara-cara dimana sebuah produk dipindahkan dari satu lokasi dalam jaringan supply chain ke tempat lain. Terdapat 5 cara dasar transportasi yang dapat dipilih yaitu : 1. Udara

Udara merupakan cara transportasi yang paling cepat, tetapi memiliki biaya yang mahal.

2. Truk

Truk cara yang paling efektif dan mudah dengan fleksibilitas tinggi.

3. Kereta

Kereta cara mudah yang digunakan untuk jumlah barang yang besar.

4. Kapal

Kapal cara yang paling lambat tetapi sering menjadi pilihan yang paling ekonomis untuk pengiriman dalam jumlah yang besar ke luar negeri.

5. Pipa saluran

Pipa saluran biasanya digunakan untuk menyalurkan minyak dan gas.

(18)

b. Route and network selesction

Route adalah jalur jalan dimana sebuah produk dikirimkan dan network adalah sebuah kumpulan lokasi dan route dimana produk dapat dikirimkan. Perusahaan membuat beberapa keputusan mengenai route pada saat langkah desain supply chain.

c. In house or outsource

Secara tradisional, kebanyakan fungsi transportasi dilakukan oleh perusahaan itu sendiri, namun pada saat ini banyak yang telah dilimpahkan ke perusahaan lain (Outsourced)

3. Fasilitas

Fasilitas adalah tempat-tempat dalam jaringan supply chain dimana inventory disimpan, dirakit atau diproduksi. Dua jenis umum fasilitas adalah tempat produksi dan tempat penyimpanan. Bila perusahaan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, maka memiliki lebih sedikit gudang. Jadi penetuan fasilitas mempunyai dampak yang besar dalam tingkat responsifitas dan effisiensi supply chain. (Chopbra dan Meindl, 2004, p5) :

Komponen dari keputusan mengenai fasilitas adalah (Chopbra dan Meindl, 2004, p61-62)

a. Location

Pemetuan kesempatan dimana suatu perusahaan menentukan lokasi fasilitasnya merupakan bagian yang sangat besar dalam langkah desain supply chain. Penentuan lokasi secara ekonomis, sedangkan penetuan lokasi secara desentralisasi akan menjadi lebih responsif dalam responsif dalam permintaan konsumen.

(19)

b. Capacity

Perusahaan juga harus menentukan seberapa kapasitas dari fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Sejumlah besar kapasitas akan menjadikan perusahaan tersebut menjadi lebih responsif, demikian pula sebaliknya.

c. Operation Methodology

Disini digambarkan bagaimana metode perusahaan dalam memproduksi barang, apakah mesin yang dipakai untuk membuat produk itu bersifat fleksibel, maksudnya adalah mesin tersebut juga dapat pula digunakan untuk membuat produk yang lain (responsive) yang biasanya mesin itu relatif mahal atau menggunakan mesin yang dapat membuat 1 macam produk saja (efisien).

d. Warehouse methodology

• Stock Keping Unit (SKU) Storage

Gudang tradisional yang menyimpan segala macam produk dalam suatu tempat

• Job Lot Storage

Yaitu suatu metode penyimpanan persediaan dimana semua produk-produk yang berbeda dibutuhkan untuk suatu pekerjaan khusus atau memuaskan konsumen tipe khusus, disimpan bersama-sama.

• Crossdocking

Yaitu sebuah metode, dimana barang sebenarnya tidak disimpan dalam fasilitas (gudang) perusahaan. Truk dari pemasok barang, tiap-tiap hari truk tersebut membawa jenis-jenis yang berbeda dari barang yang dipesan diangkut menuju fasilitas perusahaan, kemudian dari sana dipecah menjadi bagian-bagian kecil dan dengan cepat diangkut ke

(20)

retailer menggunakan truk-truk yang berisi barang-barang yang beragam dari truk-truk sebelumnya.

4. Informasi

Informasi terdiri dari data dan analisis yang berkaitan dengan inventory, transportasi, fasilitas dan pelanggan diseluruh supply chain. Informasi menyajikan pihak manajemen kesempatan untuk membuat supply chain lebih responsif dan efisien. Informasi secara potensial adalah penggerak terbesar peerforma supply chain. (Chopra dan Meindl, 2004, p52): Komponen dari keputusan mengenai informasi adalah (Chopra dan Meindl, 2004, p62-64):

1. Push versus Pull

Sistem push biasanya menggunakan MRP untuk jadwal produksi, jadwal kepada pemasoknya untuk menentukan kapan, jenis dan banyak barang yang dikirimkan ke perusahaan, sedangkan tipe pull menggunakan informasi atas permintaan aktual konsumen, sehingga perusahaan dapat dengan tepat memenuhi permintaan tersebut.

2. Cordinating and Information sharing

Koordinasi dari supply chain terjadi ketika semua tingkatan dari supply chain bekerja menuju tujuan yang memaksimalkan keuntungan total supply chain dibandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri. Kekurangan koordinasi berpengaruh pada kerugian yang besar atas keuntungan supply chain. Ini bisa dilakukan dengan pertukaran data antara tiap-tiap bagian dalam supply chain itu sendiri.

(21)

3. Forecasting and Aggregate Planning

Forecasting adalah ilmu pengetahuan dan seni untuk membuat rencana mengenai kebutuhan masa depan dan kondisinya. Forecasting (peramalan) digunakan dalam pengambilan keputusan. Setelah menciptakan peramalan, maka perusahaan aggregate planning, yang mengubah peramalan menjadi rencana aktivitas untuk memenuhi permintaan yang telah diperhitungkan.

4. Enabling Technologies

Untuk mencapai informasi sharing dan integrasi dalam supply chain, maka terdapat teknologi-teknologi yang digunakan yaitu :

• Electronic Data Interchange (EDI)

EDI memungkinkan perusahaan menjadi lebih efisien, juga menurunkan waktu yang dibutuhkan produk untuk sampai ke konsumen, transaksi menjadi lebih akurat dan lebih cepat dibandingkan tanpa EDI.

• The Internet

Internet sendiri mendukung penggunaan EDI. Dengan internet maka akan menjadi sebuah faktor yang penting dalam supply chain.

• Enterprise Resources Planning (ERP)

Sistem ERP ini menyediakan pelacakan transaksi dan kemampuan melihat secara keseluruhan atas informasi dari tiap-tiap bagian perusahaan dan memungkinkan supply chain membuat keputusan yang ‘cerdas’.

• Supply Chain Management (SCM) Software

Yaitu program yang menyediakan dukungan terhadap analisis keputusan dalam penambahan kemampuan melihat secara keseluruhan terhadap informasi.

(22)

2.1.11 Tantangan dalam Mengelola Supply Chain

Menurut I Nyoman Pujawan (2005, p17-19) dalam mengelola supply chain terdapat dua tantangan terbesar yaitu :

1. Kompleksitas

Kompleksitas muncul akibat banyaknya pihak yang terlibat pada supply chain.

2. Ketidakpastian

Ketidakpastian bisa berasal dari arah permintaan, dari arah supplier, maupun internal perusahaan.

2.1.12 Hambatan dalam Mencapai Kesesuaian Strategi

Seringkali perusahaan menemukan hambatan-hambatan dalam mencapai kesesuaian strategi. Hambatan-hambatan itu antara lain (Chopra, 2001, p60) :

1. Meningkatnya keanekaragaman produk

Meningkatnya tingkat keanekaragaman produk menyulitkan supply chain yaitu pembuatan peramalan dengan pertemuannya dengan permintaan akan menjadi lebih sulit.

2. Menurunkan siklus hidup produk

Penurunan siklus hidup produk akan membuat pekerjaan penyesuaian strategi akan menjadi lebih sulit. Siklus hidup produk yang makin pendek akan meningkatkan ketidakpastian. Peningkatan ketidakpastian dikombinasikan dengan kesempatan yang kecil akan menambah tekanan terhadap supply chain untuk berkoordinasi dan menciptakan pasangan yang baik antara permintaan dan penawaran.

(23)

3. Meningkatnya permintaan konsumen

Peningkatan permintaan konsumen akan berpengaruh terhadap meningkatnya waktu tunggu, biaya, dan daya guna produk. Permintaan konsumen sekarang ini adalah pemenuhan produk yang lebih cepat, kualitas dan daya guna yang lebih baik untuk harga yang sama. Pertumbuhan permintaan konsumen yang sangat hebat ini berarti supply chain harus menyediakan lebih daripada mempertahankan bisnis itu sendiri.

4. Pemecahan kepemilikan supply chain

Dengan pemecahan kepemilikan kepada banyak pemilik, setiap pemilik mempunyai kepentingan dan kebijakan politiknya sendiri, supply chain akan lebih sulit untuk dikoordinasi.

5. Globalisasi

Globalisasi menambah tingkat stress supply chain karena fasilitas-fasilitas di dalam supply chain terpisah lebih jauh, membuat koordinasi menjadi lebih sulit. Globalisasi juga meningkatkan kompetisi. Situasi yang kompetitif ini akan menambah hambatan kepada supply chain.

6. Kesulitan dalam melaksanakan strategi baru

Bagaimanapun, sebuah strategi yang baik telah diformulasikan, sebenarnya melaksanakan strategi menjadi lebih sulit. Yang harus diingat adalah pelaksanaan yang mahir dari strategi sama pentingnya dengan strategi itu sendiri.

(24)

2.1.13 Peranan Teknologi Internet dalam Supply Chain Management

Konsep manajemen supply chain tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Teknologi komputer dan telekomunikasi yang sangat cepat berkembang membuat penciptaan dan penyebaran informasi semakin cepat, murah, dan berkualitas baik.

Model aplikasi internet dalam konteks supply chain management (I Nyoman Pujawan, 2005, p20-21) yaitu :

1. Electronic Procurement (e-Procurement)

Merupakan aplikasi internet untuk mendukung proses pengadaan dalam konteks supply chain management.

2. Electric Fulfillment (e-Fulfillment)

Merupakan pengelolaan kegiatan-kegiatan dengan media teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa kegiatan yang termasuk dalam proses fulfillment adalah :

a. Menerima order dari pelanggan

b. Mengelola transaksi, termasuk proses pembayaran

c. Manajemen gudang yang meliputi pengendalian persediaan produk dan kegiatan administrasi gudang secara umum

d. Manajemen transportasi, termasuk keputusan mode dan rute transportasi

e. Komunikasi dengan pelanggan untuk memberikan informasi status pesanan, dukungan teknis, dan sebagainya.

f. Kegiatan reserve logistics yang berupa pengembalian produk ke bagian hulu supply chain akibat pengembalian dari pelanggan

(25)

2.1.14 Rekayasa Ulang Perbaikan pada Supply Chain

Teknik rekayasa ulang (reengineering) merupakan sebuah proses yang ditujukan pada perubahan produksi yang berubah secara cepat. Michael Hammer dan James Champy mendefinisikannya sebagai pemikiran kembali yang fundamental dan rancangan ulang yang radikal dari proses bisnis untuk mencapai perbaikan yang dramatis dalam ukuran zaman sekarang yang kritis dari kinerja seperti biaya, kualitas pelayanan dan kecepatan.

Tiga tahap dalam proses rekayasa ulang : 1. Penemuan fakta

2. Pengidentifikasian area-area untuk perbaikan menuju proses desain ulang bisnis.

3. Perbaikan-perbaikan yang kreatif.

Tahap penemuan fakta merupakan pengujian terhadap sistem-sistem mutakhir, prosedur-prosedur dan aliran pekerjaan. Dilengkapi dengan fakta-fakta yang terkumpul pada tahap pertama, tim rekayasa ulang mengidentifikasi bagian-bagian yang akan diperbaiki. Stelah mengidentifikasi, tim rekayasa ulang memasuki tahap kreatif proses perancangan ulang business dan aliran informasinya. Hasilnya secara fundamental mengubah sifat dasar kerja dan kinerjanya.

Organisasi harus fokus pada penyataan misi perusahaan. Pernyataan pada misi tersebut menjalankan kebutuhan business dalam organisasi. Selanjutnya penilaian yang lengkap berdasarkan budaya, strategi, praktik-praktik business dan proses-proses perusahaan. Perbaikan-perbaikan dibutuhkan pada salah satu bagian untuk meningkatkan kinerja supply chain.

(26)

Dalam proses manajemen hubungan pelanggan, penjualan dan pemasaran menyediakan keahlian perhitungan manajemen, engineering memberikan spesifikasi yang mendefinisikan kebutuhannya, logistik menyediakan informasi kebutuhan pelayanan pelanggan, produksi menyediakan strategi produksi, purchasing menyediakan strategi sourching, dan keuangan serta akuntansi memberikan laporan profitabilitas pelanggan.

2.2 Persediaan

2.2.1 Pengertian Persediaan

Menurut Nasution, Arman Hakim (2003, p103), Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Proses lebih lanjut adalah berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga. Persediaan merupakan sumber daya disamping yang dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi merupakan contoh dari persediaan. Semua organisasi memiliki tipe-tipe sistem pengendalian dan perencanaan persediaan. Perusahaan selalu berusaha mengurangi biaya dengan mengurangi tingkat persediaan di tangan (on hand), sementara itu disisi lain pelanggan menjadi sangat tidak puas ketika jumlah persediaan mengalami kehabisan (stock out). Oleh karena itu, perusahaan harus mengusahakan terjadinya keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat layanan pelanggan dan minimisasi biaya merupakan faktor penting dalam membuat keseimbangan ini.

Menurut Baroto (2002, p52), persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in process), barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan. Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting,

(27)

karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini. Hal tersebut merupakan dilema bagi perusahaan. Bila persediaan dilebihkan, biaya penyimpanan dan modal yang diperlukan bertambah. Kelebihan persediaan juga membuat modal menjadi mandek, semestinya modal tersebut dapat diinvestasikan pada sektor lain yang lebih menguntungkan (opportunity cost). Sebaliknya bila persediaan dikurangi, suatu ketika mengalami stock out (kehabisan barang). Bila perusahaan tidak memiliki persediaan yang mecukupi, biaya pengadaan darurat akan lebih mahal, dampak lain mungkin kosongnya barang dipasaran dapat membuat konsumen kecewa dan lari ke merek lain.

Persediaan dimiliki hampir seluruh bentuk etintas bisnis manufaktur dalam bentuk persediaan bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi. Bagi bentuk etintas non manufaktur, persediaan yang dimiliki dalam jumlah yang lebih kecil / setidaknya dalam bentuk persediaan perlengkapan kantor yang mendukung kegiatan operasionalnya, semua itu jika tidak dikelola dengan baik akan berpengaruh terhadap tingkat performance yang diberikan bagi pengguna jasa / pelanggan / masyarakat yang dilayani, apalagi jika unit usaha tersebut menyandarkan pada pengelolaan persediaan sebagai sumber pendapatannya seperti bentuk perusahaan dagang. Bentuk persediaan yang tidak dikelola dengan baik akan tercermin dalam bentuk sebagai berikut :

1. Persediaan yang menumpuk di gudang, hal itu menunjukkan ketidakefisienan karena menumpuknya investasi perusahaan yang tertanam dalam bentuk barang tersebut.

2. Barang yang tertumpuk mengakibatkan bertambahnya biaya penyimpanan, ruang penyimpanan, serta resiko rusak dan tidak laku juga meningkat. 3. Pelanggan akan berkurang dikarenakan kinerja perusahaan menurun karena

(28)

Menurut Zulfikarijah (2005, p4) : “Persediaan adalah stok bahan baku yang digunakan untuk mamfasilitasi produksi atau untuk memuaskan permintaan konsumen. Jenis persediaan meliputi bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.”

Manajemen persediaan merupakan suatu cara untuk mengendalikan persediaan agar dapat melakukan pemesanan yang tepat yaitu dengan biaya yang optimal. Oleh karena itu konsep mengelola sangat penting diterapkan oleh perusahaan agar tujuan efektivitas dan efisiensi tercapai. Karena semua organisasi mempunyai beberapa jenis perencanaan dan pengendalian persediaan. Manajemen persediaan yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Pada satu sisi, pengurangan biaya persediaan dengan cara menurunkan tingkat persediaan dapat dilakukan perusahaan, tetapi pada sisi lainnya, konsumen akan tidak puas apabila suatu produk stoknya habis. Oleh karena itu, keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan kepada konsumen harus dapat dicapai.

Manajemen persediaan merupakan hal yang mendasar dalam penetapan keunggulan kompetitif jangka panjang. Mutu, rekayasa, produk, harga, lembur, kapasitas berlebih, kemampuan merespon pelanggan akibat kinerja kurang baik, waktu tenggang (lead time) dan profitabilitas keseluruhan adalah hal-hal yang dipengaruhi oleh tingkat persediaan. Perusahaan dengan tingkat persediaan yang lebih tinggi daripada pesaing cenderung berada dalam posisi kompetitif yang lemah. Kebijaksanaan manajemen persediaan telah menjadi sebuah senjata untuk memenangkan kompetitif.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah sejumlah barang yang dipesan dalam suatu tempat guna memenuhi kegiatan usaha dan untuk bahan baku produksi.

(29)

2.2.2 Tipe Persediaan

Persediaan yang ada di perusahaan terdiri dari empat tipe yaitu (http://www.stekpi.ac.id/skindownload10bab_9MO.pdf) :

1. Persediaan Bahan Mentah yang telah dibeli, tetapi belum diproses. Pendekatan yang lebih banyak diterapkan adalah dengan menghapus variabilitas pemasok dalam mutu, jumlah atau waktu pengiriman sehingga tidak perlu pemisahan.

2. Persediaan Barang Dalam Proses yang telah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai. Persediaan ini ada karena untuk membuat produk diperlukan waktu yang disebut waktu siklus. Pengurangan waktu siklus menyebabkan persediaan ini berkurang.

3. Persediaan MRO merupaka persediaan yang dkhususkan untuk perlengkapan pemeliharaan, perbaikan, operasi. Persediaan ini ada karena kebutuhan akan adanya pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa peralatan yang tidak diketahui. Sehingga persediaan ini merupakan fungsi jadwal pemeliharaan dan perbaikan.

4. Persediaan Barang Jadi, termasuk dalam persediaan karena permintaan konsumen untuk jangka waktu tertentu mungkin tidak diketahui

2.2.3 Fungsi Persediaan

Menurut Baroto (2002, p53), persediaan merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan. Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut :

1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan.

(30)

2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.

3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari kenaikan harga di masa mendatang.

Efisiensi produksi (salah satu muaranya adalah penurunan biaya produksi) dapat ditingkatkan melalui pengendalian sistem persediaan. Efisiensi ini dapat dicapai bila fungsi persediaan dapat dioptimalkan. Beberapa fungsi persediaan adalah sebagai berikut :

1. Fungsi independensi. Persediaan bahan diadakan agar departemen-departemen dan proses individual terjaga kebebasannya. Permintaan pasar tidak dapat diduga dengan tepat, demikian pula dengan pasokan dari pemasok. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa tergantung dari pemasok dan permintaan, maka persediaan harus mencukupi.

2. Fungsi ekonomis. Membeli dalam jumlah tertentu akan lebih ekonomis dibanding membeli sesuai dengan kebutuhan, sehingga memiliki persediaan dapat dikatakan tindakan yang ekonomis.

3. Fungsi antisipasi. Fungsi ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan permintaan atau pasokan. Seringkali perusahaan mengalami kenaikan permintaan pada saat tertentu yang tidak terduga, sehingga diperlukan persediaan untuk mengantisipasinya.

(31)

4. Fungsi fleksibilitas. Bila dalam proses produksi terdiri dari beberapa tahapan proses operasi dan kemudian terjadi kerusakan pada satu tahapan proses operasi, sehingga produk tidak dapat diproduksi lagi, maka akan diperlukan bahan baku tambahan untuk melanjutkan proses produksi yang terhambat tersebut.

Persediaan mempunyai beberapa fungsi penting yang menambah fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan, antara lain :

• Untuk memberikan stock agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi akan terjadi.

• Untuk menyeimbangkan produksi dengan distribusi.

• Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas, karena membeli dalam jumlah banyak biasanya ada diskon.

• Untuk hedging terhadap inflasi dan perubahan harga.

• Untuk menghindari kekurangan stock yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, mutu, ketidaktepatan pengiriman.

• Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses.

Berdasarkan pendapat Tampubulon (2004, p190) pentingnya mengefektifkan sistem persediaan bahan, efisiensi, operasional perusahaan dapat ditingkatkan melalui fungsi persediaan dengan mengefektifkan fungsi decoupling, fungsi economic size, dan fungsi antisipasi.

1. Fungsi decoupling. Merupakan fungsi perusahaan untuk mengadakan persediaan decople, dengan mengadakan pengelompokan operasional secara terpisah-pisah, contohnya perusahaan manufaktur, skedul perakitan mesin dipisah dari skedul perakitan tempat duduk.

(32)

2. Fungsi economic size. Penyimpanan dalam jumlah besar dengan pertimbangan adanya diskon atas pembelian bahan, diskon atas kualitas untuk dipergunakan dalam proses konversi, serta didukung gudang yang memadai. Contohnya adalah badan urusan logistik (bulog) membeli gabah dari petani untuk dibuat persediaan, pada umumnya harga gabah ketika panen masih murah dan tergantung mutu. Kemudian pada waktu selesai dipanen atau paceklik, gabah yang telah diproses menjadi beras dijual ke pasar, pada saat ini bulog tidak membeli gabah dari petani, karena stok petani sedikit dan harganya mahal. Dengan demikian bulog menganut fungsi economic size.

3. Fungsi antisipasi. Merupakan penyimpanan bahan yang fungsinya untuk penyelamatan jika sampai terjadi keterlambatan datangnya pesanan bahan dari pemasok. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga proses produksi tetap berjalan dengan lancar.

Persediaan diartikan sebagai investasi yang akan menunggu proses lebih lanjut, persediaan dalam perusahaan merupakan salah satu aset terpenting dalam banyak perusahaan. Jenis persediaan di berbagai perusahaan berbeda-beda akan tetapi secara umum persediaan dibagi menjadi tiga yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi, dan persediaan barang jadi. 2.2.4 Sistem Persediaan

Menurut Baroto (2002, p54), sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan-masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi output, dimana untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin

(33)

tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen, dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal. Kriteria optimal adalah minimisasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesana dan biaya kekurangan persediaan.

Variabel keputusan dalam pengendalian persediaan tradisional dapat diklasifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan kualitatif. Secara kuantitatif, variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut :

1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan? 2. Kapan pemesanan harus dilakukan?

3. Berapa jumlah persediaan pengaman? 4. Bagaimana mengendalikan persediaan?

Secara kualitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian persediaan yang akan menjamin kelancaran pengolahan persediaan adalah sebagai berikut :

1. Jenis barang yang akan dimiliki 2. Dimana barang tersebut berada.

3. Berapa jumlah barang yang sedang dipesan.

4. Siapa saja yang menjadi pemasok masing-masing item.

Secara luas, tujuan dari sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal terhadap seluruh masalah yang terkait dengan persediaan. Optimalisasi pengendalian persediaan biasanya diukur dengan total biaya minimal pada suatu periode tertentu.

(34)

2.2.5 Biaya dalam Sistem Persediaan

Menurut Baroto (2002, p55), biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai akibat persediaan. Biaya tersebut adalah harga pembelian, biaya pemesanan, biaya penyiapan, biaya penyimpanan, biaya kekurangan persediaan.

1. Harga Pembelian

Harga pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, besarnya sama dengan harga perolehan sediaan itu sendiri atau harga belinya. Pada beberapa model pengendalian sistem persediaan, biaya ini tidak dimasukkan sebagai dasar untuk membuat keputusan.

2. Biaya Pemesanan (Ordering Cost)

Biaya pemesanan adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pemesanan kepada pemasok, yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah pemesanan. Biaya ini meliputi biaya pemrosesan pesanan, biaya ekspedisi, upah, biaya telpon/fax, biaya dokumentasi/transaksi, biaya pengepakan, biaya pemeriksaan, dan biaya lainnya yang tidak tergantung jumlah pesanan.

3. Biaya Penyiapan (Set Up Cost)

Biaya penyiapan adalah semua pengeluaran yang timbul dalam mempersiapkan produksi. Biaya ini terjadi bila item sediaan diproduksi sendiri dan tidak membeli dari pemasok. Biaya ini meliputi biaya persiapan produksi, biaya mempersiapkan/menyetel (set-up) mesin, biaya mempersiapkan gambar kerja, biaya mempersiapkan tenaga kerja langsung, biaya perencanaan dan penjadwalan produksi, dan biaya-biaya lain yang besarnya tidak tergantung pada jumlah item yang diproduksi.

(35)

4. Biaya Penyimpanan (Holding Cost)

Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan dalam penanganan/penyimpanan material, semi finished product, sub assembly, atau pun produk jadi. Biaya simpan tergantung dari lama penyimpanan dan jumlah yang disimpan. Biaya simpan biasanya dinyatakan dalam biaya per unit per periode. Biaya penyimpanan meliputi berikut ini.

a. Biaya kesempatan. Penumpukan barang di gudang berarti penumpukan modal. Padahal modal ini dapat diinvestasikan pada tabungan bank atau bisnis lain. Biaya modal merupakan opportunity cost yang hilang karena menyimpan persediaan.

b. Biaya simpan. Termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa gudang, biaya asuransi, dan pajak, biaya administrasi dan pemindahan, serta biaya kerusakan atau penyusutan.

c. Biaya keusangan. Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai.

d. Biaya-biaya lain yang besarnya bersifat variabel tergantung pada jumlah item.

5. Biaya kekurangan persediaan (Stockout Cost)

Biaya perusahaan kehabisan barang saat ada permintaan, maka akan terjadi stock out. Stock out menimbulkan kerugian berupa biaya akibat kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan atau kehilangan pelanggan yang kecewa (yang pindah ke produk saingan). Biaya ini sulit diukur karena berhubungan dengan goodwill perusahaan.

(36)

Secara keseluruhan, tujuan dari manajemen persediaan adalah untuk memiliki sistem pengendalian persediaan yang akan memberikan indikasi berapa banyak persediaan yang harus dipesan dan kapan pemesanan dilakukan untuk meminimumkan biaya-biaya yang telah disebutkan sebelumnya. (Taylor, 2005, p367).

Gambar 2.5 Biaya-Biaya Dalam Persediaan Sumber : Baroto (2002, p56)

2.2.6 Tujuan Persediaan

Menurut Benard W. Taylor (2001, p130) untuk menghadapi ketidakpastian dalam pengadaan persediaan, pihak perusahaan harus melakukan manajemen persediaan proaktif, dalam arti mampu untuk mengantisipasi keadaan maupun menghadapi tantangan dalam manajemen persediaan. Tantangan tersebut berkaitan erat dengan tujuan diadakannya persediaan, yaitu :

• Untuk memberikan layanan terbaik pada pelanggan • Untuk memperlancar proses produksi

• Untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan persediaan • Untuk menghadapi fluktuasi harga

(37)

Menurut Napa J Awat (1999), tujuan utama persediaan adalah menyediakan tempat untuk bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi sebelum dilanjutkan ke tahap proses yang berikutnya, seperti halnya ke tahap proses produksi untuk bahan baku yang membantu dalam proses produksi yang akan diproduksi, ataupun barang setengah jadi untuk membantu dalam tahap penyelesaian produksi dana barang jadi yang akan didistribusi kepada pelanggan ataupun konsumen.

Dalam proses pencapaian tujuan persediaan, perusahaan harus menerima konsekuensi dari proses tersebut, yaitu dengan menanggung biaya maupun resiko yang berkaitan dengan keputusan persediaan. Oleh karena itu, sasaran dari manajemen persediaan adalah menghasilkan keputusan tingkat persediaan, yang menyeimbangkan tujuan diadakannya persediaan dengan biaya yang dikeluarkannya, dengan kata lain, manajemen persediaan berusaha untuk meminimumkan total biaya persediaan dalam perubahan tingkat persediaan.

Oleh karena itu, diperlukan adanya pengendalian terhadap persediaan bahan baku agar :

1. Menjaga jangan sampai terjadinya kehabisan persediaan bahan yang mengakibatkan timbulnya biaya kekurangan bahan (shortage cost atau stock out cost)

2. Menjaga agar persediaan bahan tidak berlebihan sehingga memperbesar biaya pemeliharaan (carrying cost)

3. Menjaga agar tidak terjadi pembelian kecil-kecilan yang mengakibatkan naiknya biaya pemesanan (procurement cost atau set up cost atau ordering cost)

(38)

Adanya manajemen persediaan yang terkendali, maka biaya yang dikeluarkan untuk biaya persediaan lebih sedikit. Selain manajemen yang tepat, jumlah persediaan dan waktu yang dibutuhkan untuk penyimpanan juga mempengaruhi manajemen persediaan agar akurat.

2.3 Economic Order Quantity (EOQ) 2.3.1 Sejarah Economic Order Quantity

Menurut Zulfikarizah (2005, p99), pada tahun 1915 FW. Harris mengembangkan rumus yang cukup terkenal yaitu Economic Order Quantity. Rumus ini banyak digunakan di perusahaan-perusahaan atas usaha yang dilakukan oleh seorang konsultan yang bernama Wilson. Oleh karena itu rumus ini sering disebut dengan EOQ Wilson, walaupun yang mengembangkan adalah FW. Harris. Walaupun Economic Order Quantity merupakan teknik penentu persediaan tertua, namun Economic Order Quantity dengan variasinya banyak digunakan di perusahaan-perusahaan untuk permintaan independent dalam manajemen persediaan karena relatif mudah digunakan.

Menurut pendapat Schroeder (2000, p326), menyebutkan bahwa kuantitas pesanan ekonomis atau Economic Order Quantity dikembangkan oleh FW. Harris pada tahun 1915. Kemudian rumus ini bertambah luas penggunaanya di dalam industri melalui seorang konsultan yang bernama Wilson. Oleh sebab itu rumus ini lebih disebut dengan EOQ Wilson, walaupun dikembangkan oleh FW. Harris. Economic Order Quantity dan variasinya masih digunakan secara luas di dalam industri bagi manajemen persediaan untuk permintaan bebas.

(39)

2.3.2 Model Dasar Economic Order Quantity

Berdasarkan pendapat Pardede, Pontas M (2005, p422), menyatakan bahwa Economic Order Quantity menunjukkan sejumlah barang yang harus dipesan untuk tiap kali pemesanan agar biaya sediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin.

Menurut Rangkutti (2004, p11), Economic Order Quantity adalah jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesanan dengan biaya yang paling murah.

Sedangkan Reksohadiprodjo, Sukanto (2000, p200) berpendapat bahwa EOQ merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian.

Menurut Keown, et al. (2000, p748), Economic Order Quantity adalah menentukan jumlah pesanan yang ekonomis untuk jenis persediaan dengan penggunaan yang diperkirakan, biaya penyimpanan, dan biaya pemesanan.

EOQ sendiri menurut Render, Barry & Jay Heizer (2001, p320) merupakan salah satu teknik pengendalian tertua dan paling terkenal. Teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi :

• Tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan.

• Lead Time, yaitu waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan diketahui, dan bersifat konstan.

• Persediaan diterima dengan segera. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam bentuk kumpulan produk, pada satu waktu • Tidak mungkin diberikan diskon

(40)

• Biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan biaya penahanan atau biaya penyimpanan persediaan sepanjang waktu.

• Keadaan kehabisan stock (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada saat yang tepat.

Berdasarkan buku Herjanto, Eddy (2007, p245) EOQ merupakan salah satu model klasik, diperkenalkan oleh FW. Harris pada tahun 1914, tetapi paling banyak dalam teknik pengendalian persediaan dan paling banyak dipergunakan sampai saat ini karena mudah penggunaannya.

Adapun kelemahan dari metode analisis Economic Order Quantity (EOQ), diantaranya :

1. Penggunaan EOQ diasumsikan bahwa permintaan setiap periode selalu sama atau konstan sehingga apabila terjadi fluktuasi permintaan secara tiba-tiba maka akan menimbulkan kekurangan produk.

2. Metode EOQ mengasumsikan bahwa setiap barang yang akan dibeli selalu tersedia di pasar tapi pada kenyataan pasar tidak selalu tersedia bahan yang dibutuhkan

3. Harga pada setiap barang selalu konstan/tidak berubah. Pada kenyataannya kondisi perekonomian negara mungkin terjadi perubahan seperti kenaikan BBM yang dapat menyebabkan perubahan harga pada barang.

4. Biaya atau unit diasumsikan menjadi konstan, tetapi dalam prakteknya seringkali ada potongan kuantitas untuk pembelian yang besar. Dalam kasus ini membutuhkan suatu modifikasi dari model Economic Order Quantity (EOQ) Dasar.

(41)

5. Biaya pemesanan diasumsikan tetap meskipun pada kenyataan biaya ini sering dapat dikurangi.

Dibawah ini adalah gambar grafik persediaan model EOQ :

Gambar 2.6 Grafik Persediaan dalam model EOQ Sumber : Herjanto, Eddy (2007, p246)

Metode Analisis Economic Order Quantity (EOQ) Herjanto, Eddy (2007, p248-249), untuk menghitung EOQ dapat dilakukan dengan rumus :

2

Keterangan :

Q : Jumlah Optimal barang per pesanan

D : Permintaan tahunan barang persediaan dalam unit / tahun S : Biaya Pemesanan untuk setiap pesanan

H : Biaya penyimpanan per unit/ tahun F : Frekuensi Pemesanan

T : Masa waktu setiap pemesanan TC : biaya total persediaan

(42)

Untuk menghitung biaya total dapat dilakukan dengan rumus : Total biaya = Biaya pemesanan + Biaya Penyimpanan

= ( D/Q x S ) + ( Q/2 x H )

2.3.3 Reorder Point dan Safety Stock

Berdasarkan pendapat Render dan Heizer (2001, p324), titik pemesanan ulang adalah tingkat persediaan dimana harus dilakukan pemesanan kembali.

Untuk menghitung ROP dapat dilakukan dengan rumus Herjanto. Eddy (2007, p259-260) :

Keterangan : L : Lead Time

d : Average Usage (Pemakaian rata-rata per hari)

Menurut Assauri (2004, p186), safety stock adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi untuk menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Kemungkinan terjadinya stock out disebabkan karena penggunaan bahan baku yang lebih besar dari perkiraan semula, atau keterlambatan dalam pengiriman bahan baku yang dipesan. Akibat pengadaan persediaan penyelamat terhadap biaya perusahaan adalah mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan menambah besarnya carrying cost. Oleh karena itu, pengadaan persediaan penyelamat oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi pada saat itu diusahakan agar carrying cost adalah serendah mungkin.

(43)

Berdasarkan pendapat Assauri (2004, p186-187), faktor-faktor yang menentukan besarnya persediaan penyelamat adalah :

1. Penggunaan bahan baku rata-rata

Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku selama periode-periode tertentu, khususnya selama periode pemesanan adalah rata-rata penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal itu perlu diperhatikan karena setelah kita mengadakan pesanan atau order penggantian, maka pemenuhan kebutuhan atau permintaan dari pelanggan sebelum barang yang dipesan datang harus dapat dipenuhi dari persediaan (stock) yang ada.

2. Faktor waktu atau Lead Time

Lead time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukan pemesanan bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan-bahan-bahan yang dipesan tersebut dan diterima di gudang persediaan.

Menurut pendapat Keown, et al (2000, p54), safety stock adalah persediaan yang dipegang untuk mengakomodasikan penggunaan yang luar biasa dan tidak bisa diharapkan selama waktu pengiriman.

Berdasarkan buku Herjanto, Eddy (2007, p248-249) untuk menghitung stok penngaman (safety stock) dengan rumus :

Keterangan :

L : Lead Time

d : Average Usage (Pemakaian rata-rata per hari) SS : Safety Stock

(44)

Untuk menghitung besarnya safety stock, dapat dipakai cara yang relatif lebih teliti yaitu dengan Metode Perbedaan Pemakaian Maksimum dan Rata-rata. Metode ini dilakukan dengan menghitung selisih tersebut dikalikan dengan Lead Time.

.

2.4 Kerangka Pemikiran Kondisi Pasar : - Tingkat permintaan konsumen semakin besar - Produk yang dibutuhkan tidak ada

(terlambat) 

Tingkat Persediaan yang sesuai dengan

permintaan konsumen Evaluasi Supply Chain Management yang sedang berjalan Kondisi Perusahaan : - Tingginya permintaan konsumen - Keterlambatan pengiriman barang 

Sistem Supply Chain Management yang

harus diusulkan untuk Perusahaan

Gambar

Gambar 2.1 Proses dari Supply Chain dan 3 macam aliran yang dikelola  Sumber : I Nyoman Pujawan (2005,p5)
Gambar 2.2 Spektrum Tingkat Permintaan Konsumen  Sumber : Chopra, 2004, p34
Gambar 2.3 Spektrum Tingkat Responsifitas Supply Chain  Sumber : Chopra, 2004, p36
Gambar 2.4 Zona Kesesuaian Strategi  Sumber : Chopra, 2004, p37
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas nilai circuit breaker, ukuran penampang kabel, tegangan jatuh, dan rugi-rugi daya, serta perbandingangannya dengan

Sukarno tentang nasionalisme Indonesia yang dalam perspektif aksiologi. atau filsafat nilai yang terkandung dalam suatu rumusan

Yang disebut dengan limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan atau bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian

Jika buffer piece memiliki edge yang sudah benar dan semua edge belum pada posisinya, tukar buffer dengan edge lain yang belum pada posisinya.. Tahap ini membawa

Target penerimaan perpajakan pada APBN tahun 2013 ditetapkan sebesar Rp1.193,0 triliun, terdiri atas pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp1.134,3 triliun

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara klasifikasi daerah tertinggal dan daerah tidak tertinggal, variabel

8.950.000, (delapan juta sembilan puluh lima ribu rupiah), dan Penggugat telah 3 kali mengirimkan Surat Peringatan kepada Tergugat agar membayar tunggakan angsuran namun sampai

Hasil akhir dari sistem ini adalah sebuah website dengan berbagai fitur yang dapat mempermudah masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai profil Dinas Kesehatan Kota,