tugas puskesmas dokter internship

39 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MINI PROJECT

GAMBARAN SANITASI JAMBAN DAN UPAYA PENINGKATAN

PENGETAHUAN JAMBAN SEHAT TERHADAP WARGA BANYUURIP

KECAMATAN UJUNG PANGKAH

KABUPATEN GRESIK

Disusun oleh:

dr. Mohammad Satya Bhisma

Pembimbing: dr. Hj. Setyorini NIP. 19721004 200801 2 006

PUSKESMAS UJUNG PANGKAH

KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dipanjatkan hanya kepada Allah SWT, Tuhan pencipta semesta alam, yang telah memberi petunjuk dan hidayah-Nya. Yang telah memberi setiap anugerah terindah, kemudahan dan pertolongan sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Mini Project untuk program Dokter Interenship yang berjudul “Gambaran Sanitasi Jamban dan Upaya Peningkatan Pengetahuan Jamban Sehat Terhadap Warga Desa Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah Gresik”.

Keberhasilan penulis dalam penulisan makalah mini project ini tentunya tidak lepas dari berbagai pihak yang sangat membantu. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Puskesmas Ujung Pangkah Gresik dan Dinas Kesehatan Gresik Jawa Timur dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Ketertarikan penulis dengan topik ini didasari oleh tingginya tingkat penderita diare di kecamatan Ujung Pangkah ini dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang jamban sehat Sehingga penulis ingin meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang jamban sehat.

Penulis menyadari bahwa makalah mini project ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak dan semoga Tugas mini project ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain.

Gresik, Mei 2015

(3)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...1 KATA PENGANTAR.…...……....2 DAFTAR ISI ……... ...3 BAB I PENDAHULUAN...5 1.1 Latar Belakang...5 1.2 Rumusan Masalah...7 1.3 Tujuan.………...………..7 1.4 Manfaat...7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...8

2.1 Definisi...8

2.2 Jenis-jenis Jamban...9

2.3 Cara Memilih Jamban...12

2.4 Tujuan Penggunaan Jamban...12

2.5 Lokasi Pembuatan Jamban...13

2.6 Syarat Jamban Sehat...14

2.7 Penggunaan Septic Tank...14

2.8 Cara Pemeliharaan Jamban...17

2.9 Persyaratan Pembuangan Tinja...17

2.10 Penggunaan Jamban di Indonesia...18

2.11 Diare...18

BAB III METODE...25

(4)

3.1.2 Kuesioner Gambaran Sanitasi...28

3.2.Sasaran ...28

3.3.Media ...29

BAB IV HASIL...30

4.1 Profil Komunitas Umum ...30

4.2 Data Geografis ...31

4.3 Data Demografik ...31

4.4 Sumber Daya Kesehatan Desa Banyuurip...32

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan Banyuurip...32

4.6 Data Kesehatan Masyarakat...32

4.7 Data Sanitasi Jamban Desa Banyuurip...32

BAB V PEMBAHASAN...33 BAB VI PENUTUP...36 6.1 Kesimpulan ...36 6.2 Saran ...36 DAFTAR PUSTAKA...37 LAMPIRAN ...38 BAB I PENDAHULUAN

(5)

1.1 Latar Belakang1,2,3

Jamban sehat adalah tempat fasilitas pembuangan tinja yang mencegah kontaminasi ke badan air, mencegah kontak antara manusia dan tinja, membuat tinja tersebut tidak dapat dihinggapi serangga ataupun binatang lainnya, mencegah bau yang tidak sedap, dan konstruksi dudukannya dibuat dengan baik, aman dan mudah dibersihkan.1

Keputusan Menteri Kesehatan tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat tahun 2008, jamban sehat memiliki arti fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit.2

Mempunyai dan menggunakan jamban bukan hanya untuk kenyamanan melainkan juga turut melindungi dan meningkatkan kesehatan keluarga maupun masyarakat.1

Data dari studi dan survei sanitasi, proporsi rumah tangga di Indonesia yang menggunakan fasilitas buang air besar (BAB) milik sendiri adalah 76,2%, milik bersama sebanyak 6,7% dan fasilitas umum adalah 4,2%. Rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB atau masih BAB sembarangan (open defecation) yaitu sebesar 12,9%. Sepuluh provinsi tertinggi rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB/open defecation adalah Sulawesi Barat (34,4%), NTB (29,3%), Sulawesi Tengah (28,2%), Papua (27,9%), Gorontalo (24,1%), Maluku (23,4%), Aceh (22,7%), Kalimantan Barat (21,8%), Nusa Tenggara Barat (21,3%), dan Sumatera Barat(21%).3

Salah satu kebutuhan sanitasi dasar yang belum tercapai adalah tempat pembuangan tinja manusia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2012 hanya 74,3% rumah tangga di Sumatera Barat yang memiliki tempat pembuangan tinja sendiri, dari jumlah ini hanya 69,8% yang memenuhi syarat kesehatan. Target untuk akses pembuangan tinja harus mencapai 100% dimana artinya seluruh masyarakat harus memiliki jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan di rumah.4 Tersedianya jamban sebagai fasilitas pembuangan tinja dapat mencegah kontaminasi air, kontak antara tinja dan manusia, serta tinja tidak dihinggapi serangga ataupun binatang

(6)

terjadi akibat terkontaminasi tinja adalah diare. Diare adalah gangguan buang air besar (BAB) yang ditandai dengan BAB lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair, dapat disertai dengan darah dan atau lendir.1

Di Indonesia, penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. Masih tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare disebabkan karena kesehatan lingkungan yang masih belum memadai disamping pengaruh faktor-faktor lainnya seperti keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare.1

Penyakit diare sampai saat ini masuk dalam urutan 10 penyakit terbanyak di Indonesia. Walaupun terjadi penurunan kasus diare namun Puskesmas Ujungpangkah mencatat penderita diare yaitu sebanyak ….. kasus.5

Angka kejadian diare ini masih tinggi diperkirakan karena perilaku masyarakat yang masih belum sesuai dengan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yaitu belum memiliki jamban sehat dan perilaku BAB di sungai. Hal ini terlihat dari rendahnya angka penggunaan jamban sehat dari masyarakat Ujungpangkah pada tahun 2014. Dari rata-rata semua kelurahan didapatkan persentase sebesar … % yang memiliki jamban sehat dari target minimal MDG’s (Millenium Development Goals) sebesar 75%, hal ini tentu masih sangat dibawah target.

Berdasarkan data inilah penulis tertarik untuk mengambil judul Plan of Action (PoA) mengenai peningkatan penggunaan jamban sehat untuk menurunkan angka kejadian diare di Kecamatan Ujungpangkah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut:

a. Bagaimanakah pengetahuan warga Desa Banyuurip di kecamatan Ujung Pangkah tentang jamban sehat ?

(7)

b. Tindakan apakah yang paling sesuai dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan para warga desa Banyuurip tentang pentingnya penggunaan jamban sehat ?

1.3 Tujuan Penelitian

a. Untuk menambah pengetahuan warga mengenai jamban sehat dengan metode penyuluhan, diskusi dan sesi tanya jawab kepada warga dan kader desa sehingga dapat menyampaikan yang diketahuinya setelah penyuluhan ini kepada warga Desa Banyuurip.

b. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai resiko bahaya penggunaan jamban tidak sehat yang bisa menyebabkan berbagai penyakit dan untuk mendapat gambaran kondisi sanitasi jamban masyarakat desa Banyuurip kecamatan Ujungpangkah.

1.4 Manfaat

a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan warga Desa Banyuurip tentang jamban sehat.

b. Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lain untuk penelitian selanjutnya, khususnya bagi penelitian yang berhubungan dengan peningkatan penggunaan jamban sehat.

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Pembuangan tinja atau buang air besar

Pembuangan tinja atau buang air besar disebut secara eksplisit dalam dokumen

Millenium Development Goals (MDGs). Dalam nomenklatur ini buang air besar disebut sebagai sanitasi yang meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Dalam laporan MDGs 2010, kriteria akses terhadap sanitasi layak adalah bila penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah (SPAL). Kriteria yang digunakan Joint Monitoring Program (JMP) WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu improved, shared, unimproved dan open defecation. Dikategorikan sebagai improved bila penggunaan sarana pembuangan kotorannya milik sendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki septik atau SPAL.1,7

Pengertian lain terkait jamban menyebutkan bahwa jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran/najis manusia yang lazim disebut jamban atau WC sehingga kotoran tersebut disimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktik sehari-hari bercampur dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan air limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia, demikian pula syarat-syarat yang dibutuhkan pada dasarnya sama dengan syarat-syarat pembuangan air limbah.1,8

(9)

2.2. Jenis-jenis jamban

Terdapat beberapa jenis jamban sesuai bentuk dan namanya, antara lain: 7,9-10

1. Jamban cubluk (pit privy)

Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah sedalam 2,5 sampai 8 meter dengan diameter 80-120cm. Dindingnya diperkuat dari batu bata ataupun tidak. Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumah jamban tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu dan atap daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 2.1 Jamban cubluk

2. Jamban cemplung berventilasi (ventilated improved pit latrine)

Jamban ini hampir sama dengan jamban cubluk, bedanya menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dari bambu.

(10)

Gambar 2.2 Jamban cubluk berventilasi

3. Jamban empang (fish pond latrine)

Jenis jamban ini dibangun di atas empang ikan. Sistem jamban empang memungkinkan terjadi daur ulang (recycling) yaitu tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja, demikian seterusnya.

Gambar 2.3 Jamban empang

4. Jamban pupuk (the compost privy)

Secara prinsip jamban ini seperti jamban cemplung tetapi lebih dangkal galiannya, di dalam jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang, sampah, dan daun-daunan.

(11)

5. Septic tank

Jamban jenis septic tank merupakan jamban yang paling memenuhi syarat. Septic tank

merupakan cara yang memuaskan dalam pembuangan untuk kelompok kecil yaitu rumah tangga dan lembaga yang memiliki persediaan air yang mencukupi, tetapi tidak memiliki hubungan dengan sistem penyaluran limbah masyarakat. Septic tank merupakan cara yang terbaik yang dianjurkan oleh WHO tapi memerlukan biaya mahal, tekniknya sukar dan memerlukan tanah yang luas.1

Untuk mencegah penularan penyakit yang berbasis lingkungan digunakan pembagian 3 jenis jamban, yaitu: 9,10

1. Jamban Leher Angsa

Jamban ini perlu air untuk menggelontor kotoran. Air yang terdapat pada leher angsa adalah untuk menghindarkan bau dan mencegah masuknya lalat dan kecoa.

2. Jamban Cemplung

Jamban ini tidak memerlukan air untuk menggelontor kotoran. Untuk mengurangi bau serta agar lalat dan kecoa tidak masuk, lubang jamban perlu ditutup.

3. Jamban Plengsengan

(12)

Gambar 2.4 Jenis-jenis jamban

2.3. Cara memilih jamban

a. Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air

b. Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan daerah padat penduduk karena dapat menggunakan multiple latrine yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (satu lubang dapat menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban)

c. Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan kurang lebih 60cm dari permukaan air pasang.

2.4. Manfaat dan Fungsi Jamban

Terdapat beberapa alasan diharuskannya penggunaan jamban,yaitu: 1. Menjaga lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau

2. Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya.

3. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit diare, kolera, disentri, thypus, cacingan, penyakit saluran pencernaan, penyakit kulit dan keracunan.

Jamban juga berfungsi sebagai pemisah tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :

1. Melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit

(13)

3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit 4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan

2.5. Lokasi Pembuatan Jamban

Dengan memperhatikan pola pencemaran tanah dan air tanah, maka hal-hal berikut harus diperhatikan untuk memilih lokasi penempatan sarana pembuangan tinja: 9

1. Pada dasarnya tidak ada aturan pasti yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk menentukan jarak yang aman antara jamban dan sumber air. Banyak faktor yang mempengaruhi perpindahan bakteri melalui air tanah, seperti tingkat kemiringan, tinggi permukaan air tanah, serta permeabilitas tanah. Yang terpenting harus diperhatikan adalah jamban atau kolam pembuangan (cesspool) harus ditempatkan lebih rendah, atau sekurang-kurangnya sama tinggi dengan sumber air bersih. Apabila memungkinkan, harus dihindari penempatan langsung di bagian yang lebih tinggi dari sumur. Jika penempatan di bagian yang lebih tinggi tidak dapat dihindarkan, jarak 15m akan mencegah pencemaran bakteri ke sumur. Penempatan jamban di sebelah kanan atau kiri akan mengurangi kemungkinan kontaminasi air tanah yang mencapai sumur. Pada tanah pasir, jamban dapat ditempatkan pada jarak 7,5m dari sumur apabila tidak ada kemungkinan untuk menempatkannya pada jarak yang lebih jauh.

2. Pada tanah yang homogen, kemungkinan pencemaran air tanah sebenarnya nol apabila dasar lubang jamban berjarak lebih dari 1,5m di atas permukaan air tanah, atau apabila dasar kolam pembuangan berjarak lebih dari 3m di atas permukaan air tanah.

3. Penyelidikan yang seksama harus dilakukan sebelum membuat jamban cubluk (pit privy), jamban bor (bored-hole latrine), kolam pembuangan dan sumur resapan di daerah yang mengandung lapisan batu karang atau batu kapur. Hal ini dikarenakan pencemaan dapat

(14)

terjadi secara langsung melalui saluran dalam tanah tanpa filtrasi alami ke sumur yang jauh atau sumber penyediaan air minum lainnya

2.6. Kriteria Jamban Sehat

Jamban Sehat (improved latrine) merupakan fasilitas pembuangan tinja yang memenuhi syarat9 :

1. Tidak mengkontaminasi badan air.

2. Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.

3. Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga vektor lainnya termasuk binatang.

4. Menjaga buangan tidak menimbulkan bau

5. Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna

2.7.Septic Tank8,10,12

2.7.1 Mekanisme Kerja Septic Tank

Septic tank terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air, sebagai tempat tinja dan air buangan masuk dan mengalami dekomposisi. Di dalam tangki ini tinja akan berada selama beberapa hari.

2.7.2 Desain Septic Tank

Secara teknis desain atau konstruksi utama septic tank sebagai berikut :

a. Pipa ventilasi

Pipa ventilasi secara fungsi dan teknis dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mikroorganisme dapat terjamin kelangsungan hidupnya dengan adanya pipa ventilasi ini, karena oksigen yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya dapat masuk ke

(15)

dalam bak pembusuk, selain itu juga berguna untuk mengalirkan gas yang terjadi karena adanya proses pembusukan. Untuk menghindari bau gas dari septick tank maka sebaiknya pipa pelepas dipasang lebih tinggi agar bau gas dapat langsung terlepas di udara bebas.

2. Panjang pipa ventilasi 2m dengan diameter pipa 175mm dan pada lubang hawanya diberi kawat kasa.

b.Dinding septic tank:

1. Dinding septic tank dapat terbuat dari batu bata dengan plesteran semen. 2. Dinding septic tank harus dibuat rapat air.

3. Pelapis septic tank terbuat dari papan yang kuat dengan tebal yang sama. c. Pipa penghubung:

1. Septic tank harus mempunyai pipa tempat masuk dan keluarnya air. 2. Pipa penghubung terbuat dari pipa PVC dengan diameter 10 atau 15cm. d. Tutup septic tank:

1. Tepi atas dari tutup septic tank harus terletak paling sedikit 0,3 meter di bawah permukaan tanah halaman, agar keadaan temperatur di dalam septic tank selalu hangat dan konstan sehingga kelangsungan hidup bakteri dapat lebih terjamin.

(16)

Gambar 2.5. Desain septic tank

2.8 Cara Pemeliharaan Jamban

Cara yang dapat dilakukan untuk memelihara jamban antara lain: a. Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air

b. Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih c. Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat

d. Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikus yang berkeliaran e. Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih)

f. Bila ada kerusakan segera diperbaiki

2.9 Persyaratan Pembuangan Tinja

Terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja antara lain9-10:

a. Rumah Jamban: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkungan sekitar, harus memenuhi syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga.

b. Lantai Jamban: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan dengan bentuk rumah jamban.

c. Tempat Duduk Jamban: Fungsi tempat duduk jamban merupakan tempat penampungan tinja, harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat.

d. Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung yang bertujuan menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar menghindari kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.

(17)

e. Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai agar tidak berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di rumah jamban didekat jamban.

f. Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi sebagai tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air dapat terbuat dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran lingkungan.

g. Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang lengkap berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.

2.10 Penggunaan Jamban Sehat di Indonesia

Sampai saat ini diperkirakan sekitar 47% masyarakat Indonesia (khususnya yang tinggal di daerah pedesaan) masih buang air besar sembarangan, seperti di sungai, kebun, sawah, kolam dan tempat-tempat terbuka lainnya. Masyarakat pedesaan tersebut enggan untuk buang air besar di jamban karena banyak yang beranggapan membangun jamban sangat mahal, lebih enak BAB di sungai, tinja dapat digunakan untuk pakan ikan, dan alasan lain yang dikatakan merupakan kebiasaan sejak dulu dan diturunkan dari nenek moyang. Perilaku tersebut sangat merugikan kesehatan, karena tinja merupakan media tempat hidup bakteri coli yang berpotensi menyebabkan terjadinya penyakit diare dan berisiko menjadi wabah penyakit bagi masyarakat13.

Tinja merupakan bentuk kotoran yang merugikan dan membahayakan kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar. Maka itu tinja harus dibuang pada suatu tempat yaitu jamban. Jamban keluarga adalah suatu istilah yang digunakan sebagai tempat pembuangan kotoran manusia dalam suatu keluarga. Semua anggota keluarga harus menggunakan jamban untuk membuang tinja, baik anak-anak

(18)

sebaiknya mengikuti beberapa syarat, yaitu: tidak mengotori tanah maupun air permukaan di sekeliling jamban tersebut, tidak dapat terjangkau oleh serangga, terutama lalat dan kecoak, tidak menimbulkan bau, mudah dipergunakan dan dipelihara, sederhana serta dapat diterima oleh pemakainya.10

2.11 Diare a. Definisi

Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja, yaitu berak cair 3x atau lebih dari sehari semalam.11

2.2.2 Epidemiologi

Sekitar lima juta anak diseluruh dunia meninggal karena diare akut. Di Indonesia pada tahun 70 sampai 80 prevalensi penyakit diare sekitar 200-400 per 1000 penduduk per tahun, setiap anak mengalami serangan diare sebanyak 1,6-2 kali setahun. Angka kesakitan dan kematian akibat diare mengalami penurunan dari tahun ke tahun. 11

2.2.3 Etiologi

Penyebab diare dapat dikelompokan menjadi: 11

1. Virus : rotavirus (40-60%), adenovirus

2. Bakteri : eescherrichia coli (20-30%), vibrio cholera

3. Parasit : entamoeba histolytica (<1%)

4. Keracunan makanan

5. Malabsorbsi , karbohidrat, lemak, dan protein

6. Alergi, makanan, susu sapi

(19)

b. Penularan

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal yaitu dengan mekanisme: 11

1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan, atau tercemar pada saat disimpan dirumah.

2. Melalui tinja terinfeksi, tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya.

c. Faktor Risiko

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah :

- Bayi yang tidak diberi ASI, karena ASI banyak mengandung zat-zat kekebalan terhadap infeksi.

- Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi.

- Menyimpan makanan pada suhu kamar, kondisi tersebut akan menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak dengan peralatan makan yang merupakan media yang sangat baik bagi perkembangan mikroba.

- Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau setelah buang air besar yang akan memungkinkan kontaminasi langsung.

- Meminum air yang tidak dimasak.

- Menggunakan wadah yang dicuci dengan air yang tidak bersih. - Menggunakan jamban yang tidak memenuhi syarat.

d. Gejala dan Tanda Gejala umum: 11

- Berak cair dan sering.

(20)

Gejala spesifik : 11

- Vibrio cholera : diare hebat, warna tinja seperti air cucian beras dan berbau amis. - Disentri : tinja berlendir dan berdarah.

Derajat dehidrasi diare dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : 11

- Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel, masih bisa main seperti biasa, anak masih mau makan dan minum.

- Dehidrasi ringan atau sedang, anak akan rewel dan gelisah, mata sedikit ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5 % dari berat badan sedangkan pada dehidrasi sedang ditandai dengan kehilangan cairan 6-10 % dari berat badan.

- Dehidrasi berat, kesadaran menurun, mata cekung, turgor kulit kembali lambat, nafas cepat, dan anak terlihat lemah.

e. Pengobatan

Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya : 11

- Tanpa dehidrasi, dengan terapi A

Pengobatan dapat dilakukan dirumah oleh anggota keluarga dengan memberikan makanan dan minuman yang ada dirumah seperti air kelapa, larutan gula garam, air tajin, air teh atau oralit.

Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah:

a. Memberi anak lebih banyak cairan.

b. Memberikan makanan terus menerus.

c. Membawa ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga hari.

(21)

Pengobatannya digunakan terapi B yaitu pada 3 jam pertama jumlah oralit yang digunakan :

Tabel 2.1 : Jumlah oralit yang digunakan pada 3 jam pertama

Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun

Jumlah oralit 300 cc 600 cc 1200 cc

Tabel 2.2 : Pemberian oralit setiap kali mencret

Umur <1 tahun 1-4 tahun >5 tahun

Jumlah oralit 100 cc 200 cc 400 cc

- Dehidrasi berat, dengan terapi C

Diare dengan dehidrasi berat digunakan terapi C dimana pasien dirawat di puskesmas atau rumah sakit untuk diberikan infus RL

1. Teruskan pemberian makan  Makanan tambahan diperlukan pada masa

penyembuhan

2. Antibiotik bila perlu

f. Pencegahan

Penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan, antara lain :11

- Menggunakan air bersih, tanda-tanda air bersih yaitu tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.

(22)

kuman penyakit.

- Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, sesudah makan, dan sesudah buang air besar.

- Memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun. - Menggunakan jamban yang sehat.

- Membuang tinja bayi dan anak dengan benar

g. Program Pemberantasan11 - Tujuan umum

Balita : menurunkan CFR dan prevalensi episode serangan

Semua umur : menurunkan prevalensi, menurunkan CFR dirumah sakit dan menurunkan CFR pada KLB.

- Kebijaksanaan

Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan dengan meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral

- Strategi

a. Tatalaksana pasien dirumah

1. Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga

2. Meneruskan pemberian makanan lunak dan tidak bersifat merangsang lambung, ditambah makanan ekstra setelah diare

3. Membawa pasien ke sarana kesehatan jika buang air besar makin sering dan banyak, makin kehausan, tidak dapat makan atau minum, demam, ditemukan darah pada tinja, kondisi makin memburuk dalam 24 jam.

(23)

b. Tatalaksana penderita di sarana kesehatan

1. Rehidrasi oral.

2. Memberi infus dengan RL.

3. Menggunakan obat yang rasional.

4. Memberi nasehat tentang makanan, rujukan, dan pencegahan.

c. Pencegahan penyakit

1. Menanamkan higiene pribadi.

2. Merebus air minum sebelum digunakan.

(24)

BAB III METODE

3.1 Jenis Metode

Metode pengumpulan data pada kegiatan mini project ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan melalui kuisioner yang dibagikan sebelum intervensi. Kuisioner berisi tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai pengetahuan tentang jamban sehat. Sehingga dapat diketahui bagaimana tingkat pengetahuan warga Desa Banyuurip yang datang pada penyuluhan, dan ibu-ibu kader di posyandu Desa Banyuurip. Sedangkan data sekunder didapatkan dari laporan dan catatan mengenai data kesehatan Desa Banyuurip selama periode tahun 2014 yang terdapat di Puskesmas Ujung Pangkah.

Intervensi dilakukan dengan memberikan 2 sesi penyuluhan secara langsung dan tanya-jawab (diskusi) antara penyaji materi (Dokter Internship) pada Balai desa hingga Posyandu Desa Banyuurip. Materi penyuluhan yang disajikan antara lain mengenai definisi jamban sehat, jenis-jenis jamban, syarat jamban sehat, pemeliharaan jamban, hingga penyakit-penyakit yang bisa timbul akibat penggunaan jamban tidak sehat.

Pembagian kuesioner pada kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa 26 Mei 2015 di Kantor Kepala Desa Banyuurip. Terdapat 2 macam kuesioner yang dibagikan kepada warga dan kader desa Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah. Kuesioner A bertujuan untuk mengetahui pengetahuan warga dan kader mengenai jamban sehat. Kuesioner B bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat resiko jamban dari tiap warga. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah warga dan kader yang hadir dalam penyuluhan ini, yaitu sebanyak 29 warga.

(25)

3.1.1 Kuesioner Pengetahuan

Gambaran Pengetahuan dan Sikap Masyarakat Akan Jamban Sehat

1 . Apakah yang dimaksud dengan jamban

A. Alam terbuka (sungai, kebun) B. Tempat Jongkok C. Tempat Membuang Kotoran

2. Manakah dari berikut ini yang merupakan pilihan jamban paling sehat

A. Jamban empang di kolam B. Jamban leher angsa C. Jamban cubluk di tanah

3. Apakah fungsi jamban bagi keluarga

A. Melindungi dari serangga B. Mencegah pencemaran air C. Tempat buang air besar yang melindungi keluarga dari penyakit

4. Manakah yang termasuk syarat utama jamban sehat

A. Tidak berbau B. Tidak mencemari sumber air C. Di sungai yang alirannya deras

5. Manakah yang termasuk syarat utama jamban sehat (2)

A. Lantai bersih & terdapat alat pembersih B. Jarak jamban tak tertentu C. Terdapat air

6. Manakah gejala yang bisa ditimbulkan akibat pemakaian jamban tidak sehat

A. Penyakit kulit B. Penyakit Pencernaan C. Semua macam penyakit bisa terjadi

7. Apakah penyakit tersebut dapat menular

A. Ya B. Tidak

8. Apakah penyakit tersebut dapat mengancam nyawa

A. Ya B. Tidak

9. Mana yang termasuk pemeliharaan jamban yang benar

(26)

10. Berapakah jarak yang aman antara resapan jamban dengan sumber air A. 2 meter B. 5 meter C. 10 meter

Dari data kuisioner diatas terdapat 10 nomer yang pada setiap nomernya mempunyai skor 10. Jika semua benar mempunyai skor 100. Sistem penilaian ini menunjukkan tingkat pengetahuan para kader tentang pengetahuan tentang penyakit kusta yang dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :

1. Baik : nilai ≥ 70

2. cukup : nilai 50-69

3. kurang : nilai <50

3.1.2 Kuesioner Gambaran Sanitasi

FORMULIR INSPEKSI SANITASI JAMBAN KELUARGA

I. DATA UMUM

1. Lokasi Puskesmas : ... 2. Nama Pemilik Sarana : ... 3. Jumlah pemakai : ... jiwa

4. Pekerjaan : ... ... 5. Alamat : ... ... ... ... 6. Tanggal kunjungan : ...

II. JENIS JAMBAN YANG DIMILIKI

1. Tidak ada

2. Cemplung tanpa tutup 3. Cemplung dengan tutup 4. Plengsengan

(27)

5. Leher Angsa tanpa septiktank

6. Leher Angsa dengan septiktank dan resesapan

III. URAIAN DIAGNOSA TINGKAT RISIKO PENCEMARAN

No. Pertanyaan Ya Tidak

1. Jarak cubluk / resapan kurang dari 10 meter dari sumur

2. Lantai jamban tidak rapat, sehingga memungkinkan serangga dan binatang penular penyakit dapat masuk ke dalam cubluk / resapan serta menibulkan bau

3. Lubang masuk kotoran terbuka / bukan closet 4. Jamban belum dilengkapi dengan rumah jamban 5. Lantai licin dan tidak mudah dibersihkan

6. Panjang / lebar lantai < 1 meter 7. Rumah Jamban tanpa atap

Jumlah jawaban ya

PENILAIAN FAKTOR RESIKO :

Tingkat resiko Tinggi (T)= Bila jumlah jawaban Ya : 5 – 7; atau

Bila jumlah jawaban Ya : 1 – 4, tapi terdapat pada nomor 1 dan 2

Tingkat resiko Sedang (S)= Bila jumlah jawaban Ya : 1 – 4, tapi tidak terdapat pada nomor 1 & 2

Tingkat resiko Rendah (R)= Bila jumlah jawaban Ya : 0

3.2 Sasaran

Sasaran pada mini project pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan tentang jamban sehat ini adalah para warga yang hadir pada penyuluhan dan para kader desa Banyuurip di Kecamatan Ujung Pangkah Gresik. Yang dengan harapan dengan memberikan pengetahuan kepada kader maka diharapkan ilmu tersebut bisa ditularkan kepada masyarakat

(28)

3.3 Media

Media penyuluhan yang digunakan adalah menggunakan slide power point yang disampaikan menggunakan laptop dan juga dilakukan diskusi maupun sesi tanya jawab.

(29)

BAB IV HASIL 4.1 Profil Komunitas Umum

Kabupaten Gresik merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki luas 1.191,25 km2. Kecamatan Ujung Pangkah merupakan salah satu kecamatan dari 18 kecamatan yang berada di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Ujung Pangkah terdiri dari 7 desa dengan nama sebagai berikut:

1. Desa Pangkahkulon 2. Desa Pangkahwetan 3. Desa Banyuurip 4. Desa Ngemboh 5. Desa Karangrejo 6. Desa Ketapanglor 7. Desa Tanjangawan

Luas wilayah UPT Puskesmas Ujung Pangkah sendiri sebesar 5.108,72 M2. Batas Wilayah Kerja Puskesmas Ujung Pangkah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara : Laut Jawa

2. Sebelah Timur : Puskesmas Sidayu

(30)

4.2 Data Demografik

a. Kecamatan Ujung Pangkah

1. Jumlah Penduduk ( Riil ) : 32.054 Jiwa

- Laki – laki : 15.930 Jiwa

- Perempuan : 16.153 Jiwa

2. Jumlah Kepala Keluarga : 557 Jiwa

3. Jumlah Penduduk Miskin : 255 Jiwa

4. Piramida Penduduk

4.3 Sumber Daya Kesehatan yang Ada

Pada tahun 2014, di wilayah kecamatan Ujung Pangkah terdapat 3 orang dokter umum, 2 dokter gigi, 27 bidan, 17 perawat, 1 orang sanitarian, dan 1 orang analis laboratorium.

(31)

Di Kecamatan Ujung Pangkah terdapat 1 Puskesmas, 2 Puskesmas Pembantu, 1 Puskesmas Keliling, 4 Polindes, 4 Poskesdes, dan 1 Sarana Kesehatan Alternatif Berijin. 4.5 Data Kesehatan Masyarakat

Data Penduduk Sasaran tahun 2014, 2785 orang 4.6 Data Sanitasi Jamban Desa Banyuurip

Tahun 2014

Jumlah KK = 1415 KK

Jamban Sehat Permanen = 786 Jamban Sehat Semi Permanen = 505 Sharing Dengan Jamban Tetangga = 8 BAB Tidak Di Jamban = 116

(32)

BAB V PEMBAHASAN

Dari data yang dipaparkan pada BAB IV tampak bahwa berdasarkan data desa Ujung Pangkah selama tahun 2014 dan diawal tahun 2015 total jumlah kepala keluarga desa Banyuurip adalah sebanyak 1415 KK, dari angka tersebut sebanyak 786 KK menggunakan jamban yang termasuk kategori sehat, 505 KK menggunakan jamban semi permanen, 8 KK masih berbagi penggunaan jamban, dan 116 KK tidak memiliki jamban sama sekali.

Dari penelitian yang dilakukan oleh penulis pada para warga Desa Banyuurip diperoleh bahwa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya penggunaan jamban sehat. Untuk membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta ini, penulis telah melakukan penyuluhan dan melakukan diskusi umum beserta sesi tanya jawab yang dilakukan pada tanggal 26 Januari 2015, pukul 09.00 – selesai yang bertempat di balai desa banyuurip. Penyuluhan dihadiri 29 peserta yang sudah termasuk kader kesehatan desa banyuurip. Sebelum dilakukan intervensi dengan cara penyuluhan dan melakukan diskusi umum beserta sesi tanya jawab, maka penulis membagikan tentang kuisioner tentang pengetahuan seputar jamban sehat. Setelah dilakukan penyuluhan dan diskusi umum beserta sesi tanya jawab, para kader diberikan kuisioner lagi untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kader sekaligus untuk mengevaluasi keberhasilan penyuluhan beserta diskusi ini. Dari nilai pre-test didapatkan 6 peserta mendapatkan nilai kurang, 9 orang mendapat nilai cukup, dan 14 orang mendapat nilai baik. Kemudian dari hasil data nilai kuisioner yang dibagikan setelah penyuluhan (post test) tidak didapatkan peserta mendapat nilai kurang, 4 peserta mendapat nilai cukup, dan 25 peserta mendapat nilai baik. Hal ini menunjukkan peningkatan pengetahuan para kader tentang jamban sehat.

(33)

Gambaran kondisi jamban warga menunjukkan nilai tingkat resiko rendah 7 orang, resiko sedang 15 orang, resiko tinggi 3 orang, dan 4 orang tidak memiliki jamban.

(34)

Bila dibandingkan nilai pre-test dimana hampir 50% peserta mendapat nilai baik, hal ini mengindikasikan pengetahuan & kesadaran tidak berbanding lurus dengan kepemilikan jamban sehat dirumah

Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para kader yang menghadiri penyuluhan ini lebih memahami tentang pentingnya penggunaan jamban sehat dan meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan kepada masyarakat yang belum memahaminya. Sehingga diharapkan dapat tercipta deklarasi desa banyuurip ODF (Open Defecation Free).

(35)

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan

a) Dari nilai pre-test didapatkan 6 peserta mendapatkan nilai kurang, 9 orang mendapat nilai cukup, dan 14 orang mendapat nilai baik

b) Dari nilai post-test tidak didapatkan peserta mendapat nilai kurang, 4 peserta mendapat nilai cukup, dan 25 peserta mendapat nilai baik.

c) Gambaran kondisi jamban warga menunjukkan nilai tingkat resiko rendah 7 orang, resiko sedang 15 orang, resiko tinggi 3 orang, dan 4 orang tidak memiliki jamban d) Bila dibandingkan nilai pre-test dimana hampir 50% peserta mendapat nilai baik, hal

ini mengindikasikan pengetahuan & kesadaran tidak berbanding lurus dengan kepemilikan jamban sehat dirumah.

e) Penyuluhan yang telah dilaksanakan memberikan dampak positif terhadap pengetahuan para kader tentang pentingnya mendeteksi penyakit kusta dari dini sehingga tidak sampai menimbulkan kecacatan.

6.2 Saran

Agar kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan deklarasi desa banyuurip ODF (Open Defecation Free), dibutuhkan kerjasama yang baik dengan desa siaga serta aparat pemerintahan desa setempat

Dan semoga kegiatan serupa yang bertujuan membuat masyarakat ODF dapat dilaksanakan di seluruh wilayah kecamatan ujungpangkah dan selanjutnya menuju sanitasi total.

(36)

1. Chandra B. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC; 2007.

2. UU No 825/2008. Strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat; 2008 3. Depkes RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan. Revisi Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (Pedoman Epidemiologi Penyakit). Jakarta: Depkes RI; 2007.

4. Depkes RI. Profil kesehatan Jawa Timur. 2012

5. Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Laporan tahunan DKK. 2013.

6. Puskesmas Ujungpangkah. Laporan tahunan puskesmas ujungpangkah. 2014.

7. Azwar A. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya; 1995.

8. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-prinsip Dasar). Jakarta: PT. Rineka Cipta; 2003.

9. Soeparman dan Suparmin. Pembuangan Tinja & Limbah Cair (Suatu Pengantar). Jakarta: EGC; 2002.

10. Soemaji.P. Pembuangan Kotoran dan Air Limbah. Jakarta: Grasindo; 2005. 11. Widoyono. Diare dalam Penyakit Tropis; Epidemiologi, Penularan,

Pencegahan, & Pemberantasannya. Jakarta : Airlangga; 2008.

12. Munif A. Environmental Sanitation's Journal. Available at http://environmentalsanitation.wordpress.com/category/septic-tank/

13. Widyati Y. Hygiene dan Sanitasi Umum. Jakarta: Gramedia Wdiasarana; 2002. 14. Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Laporan kesehatan keluarga. 2014. 15. Puskesmas Ujungpangkah. Laporan tahunan kesling. 2014.

(37)

LAPORAN PENYULUHAN

Nama Peserta : dr. M. Satya Bhisma Tanda tangan :

Nama Pendamping : dr. Setyorini Tanda tangan :

Nama Wahana : Puskesmas Ujung Pangkah

(38)

Banyuurip Kecamatan Ujungpangkah Gresik”.

Tujuan Penyuluhan  Untuk menambah pengetahuan warga mengenai jamban sehat dengan metode penyuluhan, diskusi dan sesi tanya jawab kepada warga dan kader desa sehingga dapat menyampaikan yang diketahuinya setelah penyuluhan ini kepada warga Desa Banyuurip.

 Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai resiko bahaya penggunaan jamban tidak sehat yang bisa menyebabkan berbagai penyakit dan untuk mendapat gambaran kondisi sanitasi jamban masyarakat desa Banyuurip kecamatan Ujungpangkah.

Hari / Tanggal : Selasa, 26 Mei 2015

Waktu : 09.00 WIB – selesai

Tempat : Puskesmas cabang pembantu desa banyuurip

Jumlah Peserta : 29 peserta

Komentar Atau Umpan Balik Dari Pendamping 1. Komunikasi

(39)

2. Kepribadian dan Profesionalisme

Peserta Pendamping

Figur

Memperbarui...

Related subjects :