• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

2.1 Letak Geografis

Kabupaten Nias (Pulau Nias) merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara yang berada di sebelah Barat Pulau Sumatera berjarak ± 92 mil laut dari kota Sibolga (Kabupaten Tapanuli Tengah). Secara geografis wilayah Kabupaten Nias terletak di antara 00 12’ - 10 32’ Lintang Utara dan 97 – 980 Bujur Timur. Kabupaten Nias secara administratif terdiri dari 17 kecamatan, 6 Kelurahan, 651 desa dan 5 perwakilan. Luas total Kabupaten Nias 5.625 KM2 atau sekitar 7,82% luas Sumatera Utara secara keseluruhan, dan berada di bagian barat daya wilayah Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk 17.779 jiwa. Kabupaten Nias terdiri dari 131 pulau kecil dimana 37 pulau dihuni oleh manusia dan 95 pulau lainnya belum dihuni manusia.

Batas- batas wilayah pulau Nias adalah sebelah Utara berbatasan dengan pulau-pulau banyak propinsi daerah Istimewa aceh, sebelah Selatan berbatasan dengan pulau-pulau Mentawai propinsi Sumatera Barat, sebelah Timur berbatasan dengan pualu-pulau Mursala kabupaten Tapanuli Tengah, sebelah Barat berbatasan dengan Samudera hindia

Kabupaten Nias memiliki 5 macam jenis tanah yaitu tanah Podsolid berwarna coklat kekuningan, tanah Meditran berwarna coklat tua, tanah Kombisol berwarna

(2)

coklat tua dan coklat kekuningan, tanah gleisol berwarna coklat tua kekuningan, tanah Lotosol berwarna coklat keabuan.

Topografi pulau Nias berupa bukit-bukit yang sempit dan terjal serta pegunungan yang memiliki ketinggian hingga 800 meter di atas pemukaaan laut. Bagian wilayahnya yang berupa dataran rendah sampai bergelombang mencapai jumlah 24%, tanah bergelombang sampai berbukit 28,8% sedangkan tanah berbukit sampai pegunungan mencapai 51,2% dari seluruh luas dataran. Dataran rendah terdapat di bagian tepi pulau, dan sebagian tepi pulau Nias tersebut merupakan tebing karang yang menyulitkan pencapaiaanya dari arah laut. Daerah perbukitan berada di bagian tengah pulau, menyebabkan kota-kota utama di Kabpaten Nias terletak di tepi pantai. Dengan kondisi topografi yang demikian mengakibatkan sulitnya membuat jalan-jalan lurus dan lebar.

Kabupaten Nias terletak di daerah khatulistiwa yang curah hujannya cukup tinggi. Menurut data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) kabupaten Nias, rata-rata curah hujan pertahun 3.145,1 mm. Curah hujan tinggi dan relatif turun sepanjang tahun, hujan 248 hari dalam setahun dan sering kali disertai angin badai besar. Musim badai biasanya berkisar antara bulan April-oktober, tetapi kadang-kadang terjadinya pada bulan-bulan lainnya, sering kali terjadi perubahan secara mendadak. Selain struktur batuan dan susunan tanah yang labil mengakibatkan seringnya banjir bandang dan terdapat patahan jalan-jalan aspal dan longsor di beberapa tempat, bahkan sering terjadi daerah aliran sungai yang berpindah-pindah. Keadaan iklim pulau Nias dipengaruhi Samudera Indonesia. Suhu udara berkisar antara 80-90% dan kecepatan angin antara 5-6 Knot.

(3)

Kabupaten Nias terdiri dari 104 buah pulau besar dan kecil, banyaknya pulau yang dihuni 21 pulau sementara yang tidak dihuni berjumlah 99 pulau. Luas pulau- pulau besar yaitu Pulau Nias ± 5.449,70 km2, Tanah Bala ± 39,67 km2, Pulau Tanah Masa ± 32,16 km2, Pulau Tello ± 18,00 km2, Pulau Pini ± 15,36 km2, Pulau Bawa ± 12,50 km2, Pulau Hinako ± 10,80 km2.8

Garis- garis besar haluan negara menyatakan bahwa jumlah penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi modal dasar yang efektif bagi pembangunan nasional. Namun dengan pertumbuhan yang pesat sangat sulit untuk meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan secara layak dan merata

Kabupaten Nias memiliki sungai-sungai besar, sedang dan kecil. Sungai dapat menjadi kendala dalam bidang perhubungan darat, karena harus membangun begitu banyak jembatan besar dan ratusan bubusan kecil yang akan memerlukan dana yang sangat besar untuk membangunnya, namun sungai dapat juga menjadi peluang jika dapat dimanfaatkan dengan baik di bidang pertanian, seperti air untuk irigasi.

2.2 Keadaan Demografi 2.2.1 Penduduk

9

8

BPS, Nias Dalam Angka 1990, Gunungsitoli: Kerjasama Badan Perencanaan pembangunan Daerah Tingkat II Nias, 1991 hal. 15

9

Ibid, Hal.2

. Hal ini berarti bahwa penduduk dengan jumlah yang sangat besar dengan kualitas yang tinggi tidak akan mudah dicapai. Komponen kependudukan umumnya menggambarkan berbagai dinamika sosial yang terjadi di masyarakat baik secara sosial maupun secara kultural.

(4)

Menurunnya tingkat kelahiran, meningkatnya arus perpindahan suatu daerah dan proses urbanisasi akan mempengaruhi kebijakan kependudukan yang diterapkan.

TABEL 2.2.1

JUMLAH PENDUDUK DI KABUPATEN NIAS TAHUN 1980-1990 TAHUN KABUPATEN NIAS 1980 468,021 1981 476,480 1982 486,300 1983 502,214 1984 519,640 1985 531,629 1986 550,827 1987 560,632 1989 575,584 1990 588,643

Sumber : BPS Kabupaten Nias

Berdasarkan tabel di atas dapat di ketahui bahwa dari tahun ketahun jumlah penduduk Nias mengalami peningkatan, dengan laju pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi oleh meningkatnya derajat kehidupan sosial masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Faktor lain yang juga

(5)

mempengaruhi jumlah pertumbuahan penduduk adalah meningkatnya arus urbanisasi dari desa ke kota, seperti pencari kerja ke Gunungsitoli.

2.2.2 Agama

Masyarakat Nias telah ada sejak 500 tahun yang silam. Sebelum masuknya agama di pulau Nias, masyarakat sudah mempunyai kepercayaan sendiri yaitu politeisme (kepercayaan yang mengakui adanya lebih dari satu Tuhan) dan animisme (kepercayaan kepada roh dan benda- benda mati)

Masuknya agama Islam di daratan Nias tidak dapat diketahui secara pasti, namun diperkirakan masuk melalui sektor perdagangan. Suku Nias yang beragama Islam yang terkenal adalah Balugu Luaha Nasi Zebua yang berasal dari desa Ononamolo I Lot yang merantau dan memeluk agama Islam di pantai barat Tanah Minang. Sekitar tahun 1645 Tengku Pohan yang merupakan keturunan Iskandar Muda dari Meulaboh Aceh Barat tiba di pulau Nias dan menikah dengan seorang gadis Nias bernama Bowo Ana’a. Perkembangan agama Islam ditandai dengan berdirinya Surau pertama di Nias yang terletak di kota Gunungsitoli sekitar tahun 1115 H/ 1695 M dan sekaligus menjadi embrio berdirinya Masjid Ilir tahun 1907.10

Penyebaran agama Kristen di tanah Nias dibawa oleh seorang misionaris berkebangsaan Jerman bernama Denninger. Pada tahun 1861 Denninger ditugaskan untuk pergi ke Sumatera menunjang pelayanan pengabaran injil yang telah dimulai di tanah Batak, namun diperjalanan istrinya sakit sehingga mereka terpaksa tinggal di

10

P. Johannes Hammerle, Famato Harimao : Pesta Harimao-Fondrako-Boronadu dan

(6)

Padang. Setelah beberapa tahun tinggal di Padang, Denninger memiliki keinginan yang kuat langsung ke Nias. Pada tanggal 27 september 1865 dia tiba di Nias dan inilah yang kemudian dijadikan sebagai awal kedatangan Berita Injil di pulau Nias dan secara khusus dirayakan sebagai Yubilium oleh gereja BNKP dan pada tahun 1936 ditetapkan berdirinya gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP)11

Misi agama Katholik di Nias diawali dengan masuknya dua orang Pastor Muda yaitu Pastor Jean Pierre Vallon dan Pastor Jean Laurent Berard yang ditugaskan oleh uskup Florens dari Perancis dan mereka tiba di Nias tanggal 14 Desember 1832. . 12 11 Ibid, Hal. 25 12 Ibid, Hal. 30

(7)

TABEL 2.2.2

JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN NIAS

BERDASARKAN AGAMA YANG DIANUT TAHUN 1980-1990 Kecamatan Agama Jumlah

Islam Kristen Hindu Budha Protestan Katolik 1.Idano Gawo 2.Sirombu 3.Mandrehe 4.Gido 5.Lolofitu Moi 6.Gunung Sitoli 7.Hiliduho 8.Alasa 9.Lahewa 10.Tuhemberua 1,021 1,634 91 1,275 42 12351 48 316 4,044 3,256 44,135 16,507 34,949 43,652 31,915 54,055 24,476 30,872 25,677 47,846 3,181 1,589 9,428 3,083 3,546 4,377 6,441 9,397 3,695 2,886 4 2 0 0 33 1 0 1 1 20 0 0 371 8 14 0 48,342 19,752 44,468 48,010 35,503 71,18 30,965 40,598 33,430 53,989

Sumber : BPS Kabupaten Nias

Penduduk di Kabupaten Nias 80% memeluk agama Kristen (terutama protestan). Denninger yang pertama kali memberitakan injil di Gunungsitoli, selama

(8)

sepuluh tahun beliau bekerja menyebarkan ajaran yang dibawanya, namuna hanya 25 orang yang resmi menjadi kristen. Seterusnya perkembangan keagamaan dapat dilihat dari statistik pada akhir 1952 sebagai berikut : Protestan 202.165 penganut, Roma Khatolik 7. 087 penganut, Islam 19.271 penganut, Animisme dan lain-lain 21.008. Penduduk Nias pada akhir 1952 berjumlah 245.381 jiwa, selain itu terdapat rumah ibadah seperti gereja yang jumlahnya 303 buah dan mesjid berjumlah 73 buah.

Penganut agama Islam kebanyakan terdiri dari orang-orang Aceh (suku polem) dan Sumatera Barat (suku tanjung). Pada akhir tahun 1947 dan awal tahun 1950 pernah terjadi propokasi untuk mengadu domba antara umat Kristen dengan umat Islam tapi berkat kebijaksanaan pemimpinya serta keinsafaan penduduk dalam menjalankan ibadahnya segala hasutan dapat diatasi.

TABEL 2.2.3

JUMLAH RUMAH IBADAH MENURUT JENIS DAN KECAMATAN DI KABUPATEN NIAS TAHUN 1980-1990

Kecamatan Agama Jumlah Islam Kristen Hindu Budha

(9)

1.Idano Gawo 2.Bawolatu 3.Sirombu 4.Mandrehe 5.Gido 6.Lolotifu Moi 7.Gunungsitoli 8.Hiliduho 9.Alasa 10.Nahomalu Esiwa 11. Lahewa 12. Afulu 13. Tuhemberua 14. Lotu 4 - 8 - 6 1 15 - - - 21 3 20 1 113 130 65 125 210 126 113 64 75 60 60 26 65 51 16 8 10 43 29 30 10 45 30 120 20 10 33 7 - - - - - - 1 - - - - - - - - - 1 - - - 1 - - - - - - - 133 138 87 169 248 157 161 109 105 180 103 39 121 59

Sumber : BPS Kabupaten Nias

2.2.3 Budaya

Daerah Nias memiliki sejarah kemegahan masa lampau yang tak ternilai harganya. Hal ini bisa dibuktikan dari penemuan kebudayaan megalitik dari masa 3000-5000 tahun sebelum Masehi atau sekitar 2500-5000 tahun silam, ditemukannya peninggalan-peninggalan kebudayaan purbakala yang ditinggalkan oleh nenek

(10)

moyang suku Nias. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti asal-usul nenek moyang suku Nias atau “Suku Ono Niha”. Namun banyak anggapan yang menyatakan bahwa nenek moyang suku Nias dahulunya adalah pelaut dan memasuki daerah pedalaman kecamatan Gomo (Kabupaten Nias Selatan). diyakini dari seluruh pelosok tanah Nias.

Nias sangat sangat kaya akan berbagai unsur budaya yang memiliki ciri khas tersendiri seperti unsur bahasa, hukum adat, kesenian, arsitektur rumah, olahraga, dan pesta-pesta adat seperti masa panen, perkawinan, pengangkatan gelar, dan lain sebagainya. Pertalian daerah dan darah yang masih kuat menyebabkan semangat tolong-menolong masih tetap hidup diantara rakyat, sehingga umumnya tidak terdapat orang-orang yang terlantar.

2.2.4 Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan penduduk dalam suatu daerah. Semakin tinggi dan semakin merata tingkat pendidikan suatu daerah, semakin maju daerah tersebut. Pada tahapan tertentu tingkat pendidikan dapat meningkatkan status sosial dalam kehidupan penduduk. Pemerataan kesempatan pendidikan senantiasa diupayakan melalui penyediaan sarana dan prasarana belajar seperti gedung sekolah baru dan penambahan tenaga pengajar mulai dari tingkat pendidikan terendah sampai jenjang tertinggi. Ketersediaan fasilitas pendidikan di kabupaten Nias masih jauh dari yang diharapkan baik dari jumlah gedung sekolah, jumlah tenaga pendidik (guru), dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya.

(11)

Tingkat partisipasi sekolah erat kaitannya dengan tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut. Semakin sejahtera penduduk suatu daerah, maka tingkat partisipasi sekolah juga akan semakin tinggi. Penyebab utama rendahnya angka partisipasi sekolah (putus sekolah) adalah tingkat perekonomian keluarga yang kurang mendukung karena sebagian besar penghasilan masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan (makanan) di samping faktor- faktor lainnya.

TABEL 2.2.4

JUMLAH SEKOLAH DI KABUPATEN NIAS TAHUN 1980-1990

No Kecamatan TK SD SLTP SLTA Jumlah

1 Idano Gawo 1 27 1 1 30 2 Bawolatu 1 16 2 - 19 3 Sirombu 2 22 4 1 27 4 Mandrehe 1 44 9 3 57 5 Gido 6 38 3 2 49 6 Lolofitu Moi - 27 4 2 33 7 Gunungsitoli 9 62 14 9 94 8 Hiliduho - 36 4 5 45 9 Alasa - 33 4 1 38 10 Namohalu Esiwa 1 13 1 - 15 11 Lahewa 3 33 5 1 42 12 Afulu - 14 2 - 16

(12)

13 Tuhemberua - 42 4 1 47

14 Lotu 1 12 4 1 18

JUMLAH 25 419 61 27 532

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Nias

Tingginya tingkat pendidikan dalam suatu daerah sangat berpengaruh terhadap sumber daya manusia daerah tersebut. Salah satu indikator meningkatnya kualitas sumber daya manusia suatu daerah dapat dilihat dari tingginya tingkat pendidikan penduduknya.

Pada tahun 1920 berdirilah sebuah sekolah Belanda “Melsjesvervolgschool” dan pada tahun 1932 didirikan sebuah HIS atas inisiatif partikulir yang kemudian menjadi Chr. HIS (Dr. Nomensen Schoolvereniging).

Menurut catatan dalam tahun 1950 jumlah murid-murid sekolah, 15.605 dan Guru-guru 342 orang. Terdapat 35 sekolah rendah, 109 sekolah rendah permulaan, 1 sekolah keputrian,dan satu sekolah menengah pertama (murid 65 orang dan 3 orang guru). Menurut data yang diperoleh pada bulan juli 1952, di Kabupaten Nias terdapat 160 buah Sekolah Rakyat, diantaranya Sekolah Rakyat III berjumlah 114 buah dan Sekolah Rakyat IV berjumlah 46 buah. Jumlah murid seluruhnya 18.233 orang, dimana laki-laki berjumlah 14.137 orang dan perempuan berjumlah 4096 orang, guru-gurunya berjumlah 428 orang.

Hasrat penduduk untuk kemajuan pendidikan dapat terlihat dari kegiatan rakyat mendirikan sekolah-sekolah baru. Dalam tiap-tiap Negeri (ori) dibentuk Badan Penyantun Sekolah. Berkat kegiatan Badan ini dengan bekerjasama dengan

(13)

guru-guru, usaha pendidikan dapat berjalan terus walaupun hubungan dengan departemen pendidikan nasional pada waktu itu masih terbatas. Untuk perbandingan dapat dipaparkan bahwa di jaman Hindia Belanda terdapat sekolah Rakyat (3 tahun) dan beberapa saja sekolah Rakyat yang masa pendidikannya selama 5 tahun. Dari sekolah Rakyat ini siswanya dapat melanjutkan ke sekolah Seminari yang masa pendidikannya selama 3-4 tahun dan setelah tamat dari pendidikan dapat menjadi guru di sekolah Rakyat yang masa pendidikannya 3 tahun.

2.2.5 Kesehatan

Di seluruh Kabupaten Nias ada 5 rumah sakit. Kemudian pada masa Jepang di tambah beberapa kecamatan yang merupakan poliklinik. Pada zaman merdeka poliklinik di kecamatan itu kemudian di jadikan rumah sakit. Sebelum perang di Gunungsitoli ada dua Dokter yaitu seorang dari Gouvernement dan seorang dari Zending. Koni disana sudah ada lagi dua dokter bangsa asing yang bekerja pada pemerintahan dan di tempatkan di Gunugsitoli.

Program pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup serta mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Peningkatan fasilitas kesehatan di kabupaten Nias terus diupayakan dari tahun 1980 dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Disamping itu tersedia puskesmas dan puskesmas pembantu di setiap kecamatan sebanyak 116

(14)

buah fasilitas kesehatan lainnya seperti balai pengobatan swasta, praktek dokter, dan toko obat

TABEL 2.2.5

FASILITAS KESEHATAN DI KABUPATEN NIAS TAHUN 1980-1990 No Kecamatan Jlh

Desa

RSU Puskesmas Pustu BP Swasta Toko Obat 1 Idano Gawo 26 - 1 4 2 1 2 Bawolato 16 - 1 6 - - 3 Sirombu 36 - 1 7 2 - 4 Mandrehe 62 - 1 10 2 1 5 Gido 49 - 2 7 1 2 6 Llofitu Moi 35 - 1 8 1 - 7 Gunungsitoli 60 1 2 10 10 14 8 Hiliduho 39 - 2 7 - - 9 Alasa 27 - 1 11 - - 10 Namohalu 12 - 1 4 - - 11 Esiwa 27 - 1 7 - 4 12 Afulu 9 - 1 6 - - 13 Tuhemberua 31 - 2 7 1 - 14 Lotu 14 - 1 4 - - JUMLAH 443 1 18 98 19 22

(15)

2.3 Latar Belakang Historis 2.3.1 Zaman Penjajahan Belanda

Sejak tahun 1864 daerah Nias merupakan bagian wilayah Residentil Tapanuli yang termasuk dalam lingkungan Goverment Sumatera Wesiklet. Sejak tahun 1864 secara efektif pemerintahan Hindia Belanda mengatur pemerintahan di Nias sebagai bagian wilayah Hindia Belanda pada saat itu.

Sejak tahun 1991 Residen Tapanuli tidak lagi terdiri dari tiga afdeling, tetapi telah menjadi empat afdeling yang masing-masing dipimpin oleh seorang asisten, yaitu :

• Afdeling Sibolga dan sekitarnya dengan ibukota Sibolga

• Afdeling Padang Sidempuan dengan ibukota Padang Sidempuan • Afdeling Batak Landen dengan ibukota Tarutung

• Afdeling Nias termasuk pulau-pulau sekitarnya (kecuali pulau-pulau batu) yang merupakan afdeling yang baru dibentuk pada tahun 1991 dengan ibukota Gunungsitoli

Pembentukan daerah Nias sebagai satu afdeling didasarkan pada pertimbangan antropologis, tidak ada pemerintahan yang meliputi keseluruhan daerah Nias yang dialami oleh Suku Nias. Afdeling Nias terdiri dari dua Onderafdeeling yaitu Onderafdeling Nias Selatan denagn ibukota teluk dalam dan Onderafdeling Nias Utara denang ibukota Gunungsitoli yang masing- masing dipimpin oleh seorang

Controleur atau Gezeghebber

Di bawah Onderafdeling terdapat lagi satu tingkat pemerintahan yang disebut Distrik dan Onderdistrik yang masing- masing dipimpin oleh seorang Demang dan

(16)

Asisten Demang. Batas antara masing- masing wilayah tersebut tidak ditentukan secara tegas. Onderafdeeling nord Nias terbagi atas satu satu distrik, yaitu Distrik Gunungsitoli dan empat Onderdistrik, yaitu Onderdistrik Idawo Gawo, Onderdistrik Hiliguigui, Onderdistrik Lahewa, dan onderdistrik Lahagu. Onderdistik Zuid Nias terbagi atas satu distrik, yaitu : Distirk Teluk Dalam dan dua Onderdistrik, yaitu :

Onderdistrik Balaekha dan Onderdistrik Lolowau.

2.3.2 Zaman Pendudukan Jepang

Pada zaman pendudukan Jepang, sebagaimana halnya di seluruh Indonesia waktu itu berdasarkan Undang-undang No.1 tahun 1942 pembagian wilayah pemerintahan di derah Nias pemerintahan Hindia Belanda, kecuali Onderafdeeling dihilangkan, yang mengalami perubahan, hanya namanya saja yaitu : afdeling diganti dengan nama Gunsu Sibu yang dipimpin oleh seorang Setyotyo, distirk diganti dengan nama Gun yang dipimpin oleh seorang Guntyo, onderdistrik diganti dengan nama

Fuku Gu yang dipimpin oleh seorang Fuku Guntyo

Mengenai peraturan pemerintahan juga didasarkan undang- undang Nomor 1 tahun 1942 yang mengatakan bahwa semua badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum, dan undang- undang dari pemerintahan Hindia Belanda untuk sementara diakui sah asal tidak bertentangan dengan aturan pemerintahan militer Jepang.

2.3.3 Zaman Kemerdekaan

Pada tahun-tahun pertama zaman kemerdekaan pembagian wilayah pemerintahan di daerah Nias tidak mengalami perubahan, demikian juga struktur

(17)

pemerintahan, yang berubah hanya nama wilayah dan nama pimpinannya seperti : Nias Gunsu Sibu diganti nama Pemerintahan Nias yang dipimpin oleh Kepala Luhak,

Gun diganti dengan nama Urung yang dipimpin oleh seorang asisten kepala Urung

(Demang), Fuku Gun diganti dengan nama Urung kecil yang dipimpin oleh kepala

urung kecil (Asisten Demang).

Sesuai dengan jumlah distrik dan Onderdistrik pada zaman Belanda, pembagian nama tetap berlaku pada zaman Jepang, maka pada awal kemerdekaan terdapat sembilan kecamatan. Hanya saja di antara kecamatan itu terdapat tiga kecamatan yang mengalami perubahan nama dan lokasi ibukota yaitu :Onderdistrik Hiliguigui menjadi kecamatan Tuhemberua, Onderdistrik Lahagu menjadi kecamatan Mandrehe dengan ibukota Mandrehe, Onderdistrik Balaekha menjadi kecamatan Lahusa dengan ibokota Lahusa.

Pada Tahun 1945 Komite Nasional Daerah (KND) dihapuskan dan dibentuk suatu lembaga baru yaitu Dewan Perwakilan Rakyat. Pada tahun 1946 daerah Nias berubah dari Pemerintahan Nias menjadi Kabupaten Nias yang dipimpin oleh seorang bupati.. Pada tahun 1953 di bentuk tiga kecamatan, yaitu :

1. kecamatan Gido yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Gunungsitoli dan sebagian diambil dari kecamatan Idano Gawo, dengan ibukota Lahemo

2. Kecamatan Gomo yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah kecamatan Idano Gawo dan sebagian dari wilayah kecamatan Lahusa dengan ibukota Gomo

(18)

3. Kecamatan Alasa yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah kecamatan lahewa, sebagian dari wilayah kecamatan Tuhemberua dan sebagian dari wilayah kecamatan Mandrehe dengan ibukota Ombolata.

Pada tahun 1956 dibentuk satu kecamatan baru yaitu kecamatan Sirombu yang wilayahnya sebagian dari wilayah kecamatan Mandrehe dan sebagian dari wilayah kecamatan Lolowau. Pada tahun 1956 dengan undang- undang No. 7 tahun 1956 Kabupaten Nias di tetapkan sebagai daerah otonom yang disebut Daerah Swatantra Kabupaten Daerah Tingkat II Nias, Yang dipimpin oleh Bupati Kepala Daerah. Disamping Bupati kepala daerah dibentuk dewan pemerintahan Daerah yang dipilih dari anggota DPRD. Pada tahun 1961 samapi dengan tahun 1969 ketua DPRD langsung dirangkap oleh Bupati Kepala Daerah. Untuk membantu Bupati Kepala Daerah dalam menjalankan roda pemerintahan sehari- hari dibentuk Badan Pemerintahan Harian sebagai ganti DPD yang telah dihapuskan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa perubahan- perubahan pemerintahan di Kabupaten Nias, mengikuti perubahan- perubahan tentang pemerintahan di daerah yang berlaku secara nasional. Desa/ Kelurahan sebagai tingkat pemerintahan yang paling bawah, di Kabupaten Nias terdapat sebanyak 657 buah. Desa/kelurahan tersebut karena persekutuan masyarakat menurut setempat, yang dahulunya masing- masing berdiri sendiri- sendiri tanpa ada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi yang mencakup beberapa atau keseluruhan desa/kelurahan itu. Sejak awal kemerdekaan

(19)

sampai tahun 1967 terdapat satu tingkat pemerintahan lagi diantara kecamatan dengan desa/kelurahan yang disebut Ori13

13

Ori adalah kepala suku/ kepala daerah yang dibentuk karena perserikatan beberapa desa yang menyangkut pesta dan adat-istiadat.

yang meliputi beberapa desa.

Memang Ori ini sejak awal kemerdekaan telah ada di dibentuk karena perserikatan beberapa desa yang menyangkut pesta, sedang masalah-masalah pemerintahan desa langsung diatur oleh masing- masing desa. Wilayah Kabupaten Nias yang terdiri dari 22 kecamatan yaitu : Kecamatan Idanogawo, Bawolato, Sirombu, Mandrehe, Gido, Lolofitu Moi, Gunungsitoli, Hiliduho, Alasa, Namohalu Esiwa, Lahewa, Afulu, Tuhemberua, Lotu, Amandraya, Lahusa, Teluk Dalam, Lolowau, Lolomatua, Bawalato dan Pulau-pulau Batu.

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan istilah landschap ini berakhir setelah Jepang menjajah dan menguasasihampir seluruh wilayah di Indonesia termasuk Kabupaten Simeulue pada tahun 1942, kemudian

Desa/Kelurahan merupakan wilayah kerja kepala desa/lurah sebagai perangkat daerah kabupaten/kota dalam wilayah kecamatan. Desa/Kelurahan dipimpin oleh Kepala

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin

Kecamatan Tenayan Raya berdiri pada tahun 2003 dan memiliki luas wilayah 171,27 km² dengan dibantu oleh jajaran pemerintahan, di bawah kecamatan yaitu kelurahan

Adapun tujuan yang telah ditetapkan oleh Dinas Perhubungan Kota Surabaya dalam mewujudkan misi harus sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan

Di Desa Singa terdapat pembagian wilayah yang lazim ditemukan di daerah Tanah Karo, dimana desa Singa terbagi menjadi 2 (dua) kelompok pemukiman yang disebut dengan istilah

Berdasarkan amanat Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat

Wilayah datar (wilayah bagian tengah) yang meliputi wilayah kecamatan–kecamatan Manisrenggo, Klaten Tengah, Kalikotes, Klaten Utara, Klaten Selatan, Ngawen,