DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT
KEDEPUTIAN PEMBANGUNAN MANUSIA, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL /
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
02
KAJIAN SEKTOR KESEHATAN
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT
(PUBLIC HEALTH FUNCTIONS)
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT (PUBLIC HEALTH FUNCTIONS) DAN HEALTH SECURITY
© 2019 by Kementerian PPN/Bappenas
Pengarah
Dr. Ir. Subandi Sardjoko, MSc Penulis
Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., Dr.PH.
Prof. dr. Meiwita Paulina Budiharsana, MPA, Ph.D Reviewer dan Editor
Ardhiantie, SKM, MPH
Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, PhD Foto: UNICEF Indonesia
Diterbitkan dan dicetak oleh
Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat
Kedeputian Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas
Jalan Taman Suropati No. 2, Jakarta Pusat, 10310 Telp: (021) 31934379, Fax: (021) 3926603
Email: [email protected]
Cetakan pertama: April 2019 ISBN: 978-602-50133-9-3
Hak Penerbitan @ Kementerian PPN/Bappenas
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, photoprint, microfilm dan sebagainya.
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT
(PUBLIC HEALTH FUNCTIONS)
DAN HEALTH SECURITY
DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT
KEDEPUTIAN PEMBANGUNAN MANUSIA, MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
KAJIAN SEKTOR KESEHATAN
Kajian Sektor Kesehatan • v iv • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
KATA PENGANTAR
Menjelang akhir periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) melakukan Kajian Sektor Kesehatan (Health Sector Review/HSR) 2018 yang merupakan suatu proses berbasis bukti yang akan digunakan sebagai masukan dalam penyusunan target, arah kebijakan, strategi, dan prioritas pembangunan kesehatan dalam RPJMN 2020-2024.
Kesehatan masyarakat merupakan elemen inti dari upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Fungsi Kesehatan Masyarakat adalah intervensi kesehatan yang difokuskan pada berbagai determinan (penyebab tidak langsung) masalah kesehatan untuk mengurangi risiko penyakit (risk reduction). Dengan demikian, fokus fungsi kesehatan masyarakat adalah pada upaya pencegahan. Namun, dalam lima tahun terakhir terutama sejak dilaksanakannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kinerja fungsi kesehatan masyarakat mulai menurun. Hal ini ditunjukkan dengan lambatnya laju penurunan kematian ibu, kematian bayi, kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dan juga perbaikan gizi. Ada empat area yang perlu dilihat dalam mengevaluasi kinerja pembangunan kesehatan, yaitu (1) kinerja upaya kuratif, (2) kinerja upaya promotif dan preventif, (3) kinerja intervensi yang bersifat lintas sektor, dan (4) kinerja penguatan sistem kesehatan. Tiga area yang terakhir merupakan fungsi kesehatan masyarakat.
Fungsi kesehatan masyarakat juga berperan penting dalam mengantisipasi dan menghadapi ancaman epidemi dan pandemi penyakit (health security) yang diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang. Untuk Indonesia, risiko epidemi dan pandemi sangat besar karena batas wilayah yang sangat luas dan jumlah pintu masuk yang sangat banyak. Akan tetapi, kapasitas inti International Health Regulation (IHR), terutama surveilans kesehatan dan sistem informasi keamanan kesehatan global di Indonesia masih sangat kurang.
Laporan Kajian Sektor Kesehatan 2018 dengan Topik “Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security” ini disusun untuk menganalisis situasi terkini, mengidentifikasi gap dari kebijakan yang ada saat ini, memetakan tantangan dan isu strategis, serta menyusun rekomendasi kebijakan dan strategi untuk memperkuat fungsi kesehatan masyarakat termasuk pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi baru yang muncul (Emerging Infectious Diseases/EIDs) dan ancaman health security lainnya. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada tim penyusun dan narasumber yang telah membantu penyelesaian laporan ini. Kami sangat berharap kajian ini dapat bermanfaat bagi pemangku kepentingan terkait dalam merancang pembangunan kesehatan ke depan.
Jakarta, April 2019
Subandi Sardjoko
Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan
Kajian Sektor Kesehatan • vii
vi • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
DAFTAR ISI
Kata Pengantar iv Ucapan Terima Kasih dan Penghargaan vi
Daftar Isi vii
Daftar Tabel viii
Daftar Gambar ix Daftar Singkatan x Ringkasan Eksekutif xiv 1. PENDAHUlUAN 1
1.1. Tujuan 6
1.2. Metode 6 2. ANAlISIS SITUASI FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT 7 3. ANAlISIS SITUASI HEALTH SECURITY 17 3.1. Resistensi Antimikroba dan Penggunaan Antimikroba 24 3.2. Penyakit-penyakit Zoonosis di Indonesia 26 3.3. Keamanan Pangan 29 3.4. Keamanan Hayati (Biosafety) dan Biosekuriti 31 3.5. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi 32 4. TANTANGAN DAN ISU STRATEGIS 35 4.1. Kinerja dan Permasalahan Pembangunan Kesehatan 36 4.2. Pelaksanaan Fungsi Kesehatan Masyarakat 39
4.3. Tantangan Health Security 47
5. ARAH KEBIjAKAN DAN KEGIATAN-KEGIATAN UTAMA 49
Referensi 62
lampiran 67
UCAPAN TERIMA KASIH DAN PENGHARGAAN
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu penulisan dan perbaikan laporan ini. Apresiasi yang tinggi diberikan kepada Dr. Pungkas Bahjuri Ali sebagai Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat – Bappenas, Ardhiantie, SKM, MPH, serta tim Direktorat KGM lainnya yang telah memberikan input untuk perbaikan tulisan;
Kajian ini disusun oleh sebuah tim Kajian Sektor Kesehatan (Health Sector Review) dibawah bimbingan Dr. Ir. Subandi Sardjoko, MSc (Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan - Bappenas) dengan arahan teknis dari Pungkas Bahjuri Ali, STP, MS, PhD (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat - Bappenas). Adapun koordinator teknis pelaksanaan HSR 2018 adalah Renova Glorya Montesori Siahaan, SE, MSc (Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Bappenas) didukung oleh Prof. dr. Ascobat Gani sebagai team leader HSR 2018. Kajian yang dilakukan pada tahun 2018 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas ini mendapatkan dukungan dari kementerian/Lembaga terkait, serta dukungan dari UNICEF and DFAT, beserta beberapa mitra pembangunan lain seperti WHO, ADB, World Bank, USAID, UNFPA, WFP, FAO, JICA, UNDP, GIZ, dan Nutrition International. Proses edit dan cetak laporan kajian ini didukung oleh UNICEF Indonesia.
Kajian sektor kesehatan dilakukan secara paralel untuk 10 topik meliputi:
1 Transisi Demografi dan Epidemiologi: Permintaan Pelayanan Kesehatan di Indonesia
2 Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
3 Kesehatan Reproduksi, Ibu, Neonatal, Anak dan Remaja
4 Pembangunan Gizi di Indonesia
5 Sumber Daya Manusia Kesehatan
6 Penyediaan Obat, Vaksin, dan Alat Kesehatan
7 Pengawasan Obat dan Makanan, termasuk Keamanan Pangan
8 Pembiayaan Kesehatan dan JKN
9 Penguatan Sistem Pelayanan Kesehatan
Kajian Sektor Kesehatan • ix viii • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Regulasi Terkait Fungsi Kesehatan Masyarakat di Indonesia 10 Tabel 2 Integrasi Pendekatan “Triad Epidemiologi” dan “5 Jenjang Pelayanan” 11 Tabel 3 Tiga Sasaran Utama Fungsi Kesehatan Masyarakat di Indonesia 12
Tabel 4 Perbedaan Antara UKM dan UKP 13
Tabel 5 Area Dengan Skor 4 pada Kapasitas IHR 21
Tabel 6 Area Dengan Skor 3 pada Kapasitas IHR 22
Tabel 7 Area Dengan Skor 2 pada Kapasitas IHR 23
Tabel 8 Angka Resistensi Antimikroba (AMR) terhadap Streptococcus Pneumoniae 24 Tabel 9 Angka Resistensi Antimikroba (AMR) terhadap Escherichia Coli 25 Tabel 10 Angka Resistensi Antimikroba (AMR) terhadap Staphylococcus Aureus 25
Tabel 11 Kegiatan dan Tujuan Promosi Kesehatan 42
Tabel 12 Rekomendasi Target dan Aksi Prioritas Ketahanan Kesehatan 55
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Tujuan Pembangunan Kesehatan terhadap Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB/SDGs) Lainnya 2
Gambar 2 Fungsi Inti Kesehatan Masyarakat dan 10 Layanan Esensial 9 Gambar 3 Pendekatan dan Kebijakan Komprehensif untuk Pembangunan Kesehatan 36 Gambar 4 Fungsi Kesehatan Masyarakat Esensial Komprehensif 51
Kajian Sektor Kesehatan 2018 • xi x • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
DAFTAR SINGKATAN
AFP Acute Flaccid Paralysis (Lumpuh Layu Akut)
AI Avian Influenza (Flu Burung)
AIP-EID Australia Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases
(Kemitraan Australia Indonesia untuk penyakit-penyakit infeksi emerging) AMR Anti-Microbial Resistance (Resistensi Antimikroba)
AMU Anti-Microbial Use (Penggunaan Antimikroba) ARCC Anti-Microbial Resistance Control Committee (Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba) APBD Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBN Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ASEAN Association of Southeast Asian Nations
(Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara) BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BCG Bacille Calmette Guerin
BKKBN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BlUD Badan Layanan Umum Daerah
BNPB Badan Nasional Penanggulangan Bencana BPjS-K Badan Pengelola Jaminan Sosial Kesehatan BPOM Badan Pengawas Obat dan Makanan
CA-MRSA Community Acquired Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus CDC Directorate General of Disease Control and Prevention
(Direktorat Jenderal Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) CDI Clostridium Difficile Infection (Infeksi Clostridium Difficile) CFR Case Fatality Rate (Angka Kefatalan Kasus)
DGlAHS Directorate General of Livestock and Animal Health Services (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) DTaP Diphtheria-Tetanus-Pertussis
EID Emerging Infectious Disease (Penyakit Infeksi Emerging)
EOC Emergency Operations Centers (Pusat-pusat operasional darurat)
EPHF Essential Public Health Function (Fungsi Kesehatan Masyarakat Esensial) EPI Expanded Program on Immunization (Program Perluasan Imunisasi) EPT-2 Emerging Pandemic Threats program (USAID)
EWARS National Early Warning Alert and Response System FAO UN Food and Agriculture Organization
FKTP Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (Primary Health Care Facility) GHSA Global Health Security Agenda
HA-MRSA Hospital Associated Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus HCAI Health Care-Associated Infection
HIV/AIDS Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome Hib Haemophilus influenzae type b
HPAI Highly Pathogenic Avian Influenza
HSR Health Sector Review
ICD-XI International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problem XI (electronic)
IDAI Ikatan Dokter Anak Indonesia IHR International Health Regulations
IPC Infection Prevention Control
IR Incidence Rate
iSIKHNAS Animal Health Information System
jEE Joint External Evaluation
jICA Japan International Cooperation Agency jKN Jaminan Kesehatan Nasional
Kemenhukham Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
Kemenko PMK Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Kemenkes Kementerian Kesehatan
Kementan Kementerian Pertanian
Kemen lHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kemenristekdikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi KlB Kejadian Luar Biasa
labkesmas Laboratorium Kesehatan Masyarakat
lA-MRSA Livestock Acquired Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus lPAI Low Pathogenic Avian Influenza
MCV1 Measles-containing-vaccine first-dose MCV2 Measles-containing-vaccine second-dose MDGs Millenium Development Goals
MERS Middle East Respiratory Syndrome
MERS-CoV Middle East Respiratory Syndrome Corona-Virus
MoU Memorandum of Understanding
NHSP National Health Sector Planning SNI Standar Nasional Indonesia
Kajian Sektor Kesehatan • xiii
OIE Office International des Epizooties (Organization for Animal Health) ORI Outbreak Response Immunization (Imunisasi Tanggap Wabah) PHC Primary Health Care (Layanan Kesehatan Primer)
PHEIC Public Health Emergency of International Concern (Darurat Kesehatan Masyarakat Kepedulian Internasional)
PNS Penicillin Non-Susceptible (Penicilin yang rentan)
PNSSP Penicillin Non-Susceptible Streptococcus Pneumoniae (Penicillin Streptococcus Pneumoniae yang rentan)
PoE Point of Entry (Titik Masuk) Posyandu Pos Pelayanan Terpadu Pusdatin Pusat Data dan Informasi Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat
RPjMN Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPjPN Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Renstra Rencana Strategis
SARS Severe Acute Respiratory Syndrome (Sistem Pernafasan Akut Parah) SARS-CoV Severe Acute Respiratory Syndrome Corona-Virus
(Sistem Pernafasan Akut Parah Virus Corona)
SDGs Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) SIKHNAS Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional
SjSN Sistem Jaminan Sosial Nasional SKN Sistem Kesehatan Nasional TB Tuberculosis
TMP-SMX Trimethoprim-sulfamethoxazole
UHC Universal Health Coverage (Cakupan Kesehatan Semesta) UNICEF United Nations Children’s Fund (Dana Anak-Anak PBB) USAID United States Agency for International Development
(Badan Amerika Serikat untuk Pembangunan Internasional)
WB World Bank (Bank Dunia)
WHA World Health Assembly (Majelis Kesehatan Dunia)
WHO SEARO World Health Organization South-East Asia Regional Office (Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia Asia Tenggara) WHO World Health Organization (Organisasi Kesehatan Dunia) xii • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
RINGKASAN EKSEKUTIF
Laporan Kajian Sektor Kesehatan 2018 dengan Topik “Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security” ini meliputi analisis situasi terkini, identifikasi gap dari kebijakan yang ada saat ini, tantangan dan isu strategis, serta rekomendasi kebijakan dan strategi untuk memperkuat fungsi kesehatan masyarakat termasuk pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi baru yang muncul (Emerging Infectious Diseases/EIDs) dan ancaman health security lainnya.
Fungsi kesehatan masyarakat merupakan intervensi kesehatan yang difokuskan pada berbagai determinan (penyebab tidak langsung) masalah kesehatan untuk mengurangi risiko penyakit (risk reduction). Dengan demikian, fungsi kesehatan masyarakat berfokus pada upaya pencegahan. Hal ini berbeda dari intervensi pengobatan yang fokus utamanya adalah memulihkan orang sakit. Fungsi kesehatan masyarakat menjadi semakin penting dengan berkembangnya pengetahuan tentang determinan kesehatan selain upaya pengobatan (faktor medis-biologis). Horizon determinan atau faktor resiko tersebut sangat luas, berada dalam domain kegiatan berbagai sektor pemerintah, serta kegiatan swasta dan masyarakat.
Fungsi kesehatan masyarakat juga berperan penting dalam mengantisipasi dan menghadapi ancaman epidemi dan pandemi penyakit (health security) yang diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang. Untuk Indonesia, risiko epidemi dan pandemi sangat besar karena batas wilayah yang sangat luas dan jumlah pintu masuk yang sangat banyak. Akan tetapi, kapasitas inti International Health Regulation (IHR), terutama surveilans kesehatan dan sistem informasi health security global di Indonesia masih belum memadai.
Pengertian fungsi kesehatan masyarakat pada saat ini lebih komprehensif dan kompleks. Fungsi Kesehatan Masyarakat diperlukan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) tujuan 2 (gizi), 3 (kesehatan), 5 (kesetaraan gender, kesehatan reproduksi) dan 6 (air bersih dan sanitasi). Pelaksanaan fungsi kesehatan masyarakat dapat dibagi menjadi tiga kegiatan utama: (1) intervensi langsung (mengobati tuberkulosis, HIV, malaria, dan gizi buruk; (2) intervensi tidak langsung untuk faktor determinan kesehatan atau intervensi sensitif (merokok, polusi udara, bahan beracun/beracun, dan deteksi dini risiko kesehatan); dan (3) penguatan sistem kesehatan (meningkatkan kapasitas SDM Kesehatan, menyediakan obat-obatan, vaksin, dan peralatan medis, meningkatkan akses ke layanan kesehatan, dan perlindungan risiko keuangan). Intinya, ada empat area yang menjadi fokus fungsi kesehatan masyarakat, yaitu (1) upaya kuratif (UKP), (2) kinerja upaya promotif dan preventif (UKM), (3) kinerja intervensi yang bersifat lintas sektor, dan (4) kinerja penguatan sistem kesehatan.
Isu-isu strategis utama dalam penguatan fungsi kesehatan masyarakat ke depan adalah sebagai berikut. Pertama, akses dan mutu upaya kesehatan perorangan (UKP) belum optimal. Dalam upaya kuratif, kebijakannya adalah memperkuat sisi suplai dan demand. Dari sisi suplai dihadapi masalah pemerataan pelayanan kesehatan (akses dan mutu) terutama di daerah terpencil, pegunungan dan kepulauan. Masalah lainnya adalah sistem rujukan berjenjang dari pelayanan primer, sekunder dan tertier yang belum berjalan optimal. Dari sisi demand, dikembangkan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan target mencakup semua penduduk. Walaupun kepesertaan JKN berkembang pesat (lebih dari 200 juta penduduk pada tahun 2018), dihadapi masalah suplai (akses dan mutu) dan masalah pembiayaan. BPJS Kesehatan terus mengalami defisit yang makin membesar dari tahun ke tahun. Dalam upaya kuratif dihadapi tantangan meningkatnya penyakit tidak menular yang memerlukan intervensi medis yang lebih canggih, lebih spesialistik dan berbiaya mahal.
Kedua, kinerja upaya kesehatan masyarakat (UKM) cenderung menurun. Dalam upaya kesehatan masyarakat, terjadi penurunan kinerja seperti terilhat pada beberapa indikator: kejadian outbreak difteri, jumlah kasus TB yang sangat tinggi, outbreak penyakit-penyakit lama seperti rabies dan leptospirosis di beberapa tempat. Sementara itu ancaman epidemi dan pandemi penyakit-penyakit yang ditularkan dari binatang (zoonosis) semakin nyata sebagai konsekuensi meningkatnya mobilitas manusia, hewan dan barang antar negara dan antara daerah. Tantangan lain adalah meningkatnya penyakit tidak menular seperti hipertensi, DM, gangguan jiwa dan KLL yang juga menunjukkan lemahnya fungsi upaya kesehatan masyarakat untuk mencegah jenis-jenis gangguan kesehatan tersebut.
Ketiga, upaya lintas sektor belum terlaksana dengan baik. Dalam upaya lintas sektor, konsep “pembangunan berwawasan kesehatan” (health in all policy) belum terlaksana dengan baik walaupun sudah ada kebijakan dan regulasi yang menekankan pentingnya peran lintas sektor dalam pembangunan kesehatan. Kenaikan prevalensi pneumonia karena asap dari pembakaran hutan, outbreak rabies karena cakupan vaksinasi anjing rendah (zoonosis), tingginya beban penyakit karena kecelakaan lalu lintas, adanya bahan beracun berbahaya dalam produk makanan serta pencemaran B3 di badan air, tanah dan udara; adalah beberapa indikator lemahnya peran lintas sektor tersebut.
Keempat, kapasitas sistem kesehatan belum optimal. Dalam penguatan sistem kesehatan, ada beberapa kelemahan. Sistem informasi untuk kebijakan dan perencanaan program, khususnya sistem surveilans – belum menghasilkan informasi tepat waktu dan bersifat regional, terutama untuk kebijakan operasional di tingkat daerah. Kekurangan kronis tenaga spesialis, maldistribusi dokter, bidan dan perawat adalah masalah ketenagaan untuk upaya kuratif. Puskesmas juga mengalami kekurangan tenaga kesehatan masyarakat seperti tenaga kemas, sanitarian, gizi dan tenaga analis untuk konfirmasi hasil skrining. Di bidang obat, terdapat permasalahan “production cost” yang tinggi karena bahan baku obat yang sebagian besar harus diimpor. Di RS terjadi kekurangan obat karena keterlambatan pembayaran kepada rekanan (supplier) akibat cash flow RS terganggu oleh “outstanding payment” klaim ke BPJS Kesehatan. Dibidang pembiayaan kesehatan, masalah yang dihadapi adalah belum adanya regulasi untuk mengoperasionalkan ketetapan UU Nomor 36 Tahun 2009; rendahnya kapasitas fiskal daerah dihadapkan pada keharusan membiayai urusan wajib daerah, alokasi untuk UKM yang sangat kecil dan defisit anggaran BPJS Kesehatan. Selain itu, penyediaan fasilitas kesehatan masih menghadapi masalah pemerataan akses dan mutu pelayanan serta sistem rujukan berjenjang.
Berdasarkan isu-isu strategis tersebut maka diperlukan pengembangan kebijakan dan strategi yang komprehensif dan terintegrasi mencakup penyelenggaraan UKP, UKM, upaya lintas sektor, serta penguatan sistem kesehatan, yang dilakukan di semua tingkatan mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan. Adapun, rekomendasi kebijakan untuk penguatan fungsi kesehatan masyarakat untuk menerapkan pendekatan komprehensif tersebut yaitu:
(1) Penguatan tata kelola mencakup penguatan koordinasi lintas-sektor, perumusan regulasi maupun NSPK fungsi kesehatan masyarakat, peningkatan kapasitas Dinkes provinsi dan kabupaten/kota, penguatan puskesmas, penyusunan Sistem Kesehatan Provinsi (SKP) dan Sistem Kesehatan Daerah (SKD) serta dukungan pembiayaan untuk pelaksanaan fungsi kesehatan masyarakat di provinsi dan kabupaten/kota secara efektif dan efisien.
PENDAHUlUAN
(2) Penguatan SDM untuk fungsi kesehatan masyarakat agar kegiatan surveilans, promosikesehatan, fungsi kesehatan lingkungan, gizi, pemeriksaan laboratorium, pengelolaan farmasi, serta manajemen data dan pelaporan dilaksanakan sesuai standar.
(3) Penguatan sistem surveilans didukung dengan updating pedoman surveilans, pelatihan, sistem informasi, fungsi Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan kerjasama dengan sektor kesehatan hewan.
(4) Penguatan penelitian dan analisis kebijakan sebagai masukan untuk analisis kebijakan dan upaya memperkuat peran lintas sektor.
(5) Peningkatan kesiapan menghadapi bencana dan kegawatdaruratan terutama di Dinas Kesehatan Provinsi untuk melaksanakan SPM penanganan bencana.
(6) Penguatan perlindungan kesehatan yang mencakup penguatan fungsi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), memperluas dukungan Laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas) dan laboratorium kesehatan hewan untuk pemantauan kualitas lingkungan secara rutin, memastikan konsistensi pelaksanaan Amdal, serta meningkatkan program kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.
(7) Peningkatan kegiatan promosi kesehatan dengan tujuan untuk mengadvokasi kebijakan sektoral berwawasan kesehatan, meningkatkan keterlibatan lintas sektor, dan mendorong perbaikan perilaku hidup sehat.
(8) Komunikasi dan peningkatan peran serta masyarakat termasuk diseminasi paradigma kesehatan, fungsi kesehatan masyarakat, dan determinan kesehatan yang bersifat lintas sektor.
Kajian ini juga merekomendasikan pentingnya peningkatan kapasitas teknis penerapan IHR di Indonesia. Untuk meningkatkan kesiapan menghadapi epidemi dan pandemi penyakit, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
(1) Menetapkan struktur organisasi yang bertanggung jawab menangani isu health security khususnya dalam meningkatkan kewaspadaan, melakukan deteksi dini, melakukan respon cepat, pencegahan serta melakukan koordinasi semua stakeholders lintas sektor;
(2) Menyusun kerangka strategi nasional untuk memperkuat kesiapan menghadapi ancaman penyakit menular yang potensial menjadi epidemi/pandemi, yaitu dengan mereviu semua peraturan perundangan yang berlaku;
(3) Memperkuat sistem surveilans termasuk surveilans penyakit infeksi pada hewan serta SDM kompeten yang melakukannya;
(4) Mengembangkan sistem peringatan dini yang terintegrasi dalam 5-10 tahun mendatang;
(5) Mengembangkan kemampuan melakukan respons secara cepat terhadap ancaman epidemi/pandemi dengan melibatkan semua sektor terkait;
(6) Meningkatkan kerja sama bilateral, regional dan multilateral;
(7) Rencana aksi untuk mencegah resistensi mikrobial terhadap antibiotik (AMR); (8) Memperkuat manajemen keamanan makanan;
(9) Pemenuhan tim tenaga multidisiplin dalam menangani isu health security (a.l. peternakan, kesehatan masyarakat, transportasi, keamanan komoditas, pertahanan keamanan dll); dan
(10) Memperkuat kapasitas laboratorium untuk mendeteksi penyakit-penyakit menular tersebut.
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT
(Public health functions) dAN health security
1.
KAJIAN SEKTOR KESEHATAN
1. Pendahuluan • 3 2 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
Indonesia merupakan salah satu dari 170 negara yang menandatangani komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/TPB (Sustainable Development Goals/SDGs) 2030 yang kemudian diadopsi ke dalam target-target pembangunan nasional Pemerintah Indonesia. Tujuan pembangunan kesehatan menuju universal health coverage berkontribusi pada pencapaian semua tujuan SDGs seperti yang tampak pada Gambar 1.
Gambar 1. Tujuan Pembangunan Kesehatan
terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) lainnya
Struktur tersebut termasuk lingkungan sosial, lingkungan fisik, pelayanan kesehatan, dan struktur sosial masyarakat. SDH juga berkaitan dengan distribusi modal, kekuasaan dan sumber daya di suatu masyarakat atau di sebuah negara atau di seluruh dunia. Konferensi Internasional tentang SDH di Rio de Janeiro Brazil pada bulan Oktober 2011 merumuskan pengertian SDH yang lebih komprehensif, yaitu kondisi atau lingkungan kehidupan sehari-hari dimana penduduk lahir, tumbuh, bekerja, hidup, dan menjadi tua. Kondisi tersebut mencakup: (1) lingkungan kehidupan selama usia dini, (2) pendidikan, (3) status ekonomi, (4) pekerjaan, (5) perumahan dan lingkungannya, dan (6) sistem yang efektif untuk mencegah serta memulihkan sakit.
Konferensi tersebut juga menghasilkan 6 (enam) aksi/intervensi terhadap SDH yang sangat esensial untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif, merata dan berkeadilan, serta sehat dan produktif secara ekonomi. Aksi tersebut adalah: (1) peningkatan tata kelola kesehatan dan pembangunan, melalui kerjasama lintas sektor secara terintegrasi; (2) peningkatan partisipasi civil society dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan, memonitor implementasi, dan mengevaluasi hasilnya; (3) re-orientasi sektor kesehatan untuk lebih menekankan promosi kesehatan dan mengurangi kesenjangan (inequity); (4) meningkatkan kerja sama dan tata kelola global untuk dukungan finansial dan peningkatan kapasitas; dan (5) memantau perkembangan dan meningkatkan akuntabilitas.
Kesehatan masyarakat juga harus tanggap terhadap perkembangan teknologi baru, dampak globalisasi, migrasi penduduk, peran sektor swasta yang semakin luas, serta ancaman penyebaran penyakit. Fungsi kesehatan masyarakat akan semakin penting pada tahun 2020, terutama untuk menghadapi pencemaran, perubahan iklim global, peningkatan urbanisasi dan industrialisasi, desentralisasi sistem kesehatan, peningkatan beban penyakit tidak menular (PTM), dan faktor determinan sosial lainnya yang menyebabkan ketimpangan kesehatan. Hal ini menunjukkan pentingnya kegiatan promosi dan pencegahan kesehatan dan keterlibatan masyarakat dalam semua aspek fungsi kesehatan masyarakat.
Pada tataran kebijakan dan regulasi, konsep teoritis peningkatan kesehatan melalui intervensi pemulihan dan pencegahan serta kondisi lingkungan fisik/sosial/ekonomi yang kondusif sudah dirumuskan secara jelas. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional, berbagai peraturan turunan regulasi tersebut; serta dalam kebijakan lima tahunan yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis Kementerian Lembaga (Renstra K/L). Bahkan dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, ditekankan pentingnya pola hidup sehat dan lingkungan sehat untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan. Kebijakan dan regulasi tersebut menekankan pentingnya upaya-upaya promotif, preventif dan kuratif sekaligus secara komprehensif; dan sejak tahun 2000-an, ditambahkan satu area penting lainnya, yaitu penguatan sistem kesehatan untuk mendukung upaya promotif-preventif dan kuratif tersebut.
Paradigma komprehensif tersebut bukan hal baru. Deklarasi Alma Ata tentang “Health for All” (WHO, 1978), World Development Report 1993: Investing in Health (1), Mainstreaming Health in Development Policy (2), MDGs (1990-2015), Reducing Risk, Promoting Healthy Life (3), Sosial Determinants of Health (4), Indonesia Sehat 2010, SDGs (2015-2030), Health in all policy atau “Hi-AP” (5); semuanya menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh (komprehensif) dalam pembangunan kesehatan.
Kesehatan masyarakat merupakan elemen inti dari upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Fungsi Kesehatan Masyarakat adalah intervensi kesehatan yang difokuskan pada berbagai determinan (penyebab tidak langsung) masalah kesehatan penduduk. Intervensi terhadap determinan tersebut arahnya adalah mengurangi resiko penyakit (risk reduction). Jadi, berbeda dari intervensi pengobatan yang fokusnya adalah memulihkan orang sakit, fungsi kesehatan masyarakat fokusnya adalah pencegahan. Fungsi kesehatan masyarakat menjadi semakin penting dengan berkembangnya pengetahuan tentang determinan kesehatan selain upaya pengobatan (faktor medis-biologis). Horizon determinan atau faktor resiko tersebut sangat luas, berada dalam domain kegiatan berbagai sektor pemerintah, serta kegiatan swasta dan masyarakat.
Social Determinants of Health (SDH) merupakan struktur sosial dan sistem ekonomi yang kompleks dan terintergasi serta saling berkaitan yang besar pengaruhnya terhadap kesenjangan kesehatan (health inequities) (World Health Organization/WHO, 2008).
1. Pendahuluan • 5 4 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
Secara konseptual, paradigma komprehensif tersebut berisi empat domain intervensi:
(1) Upaya pemulihan yang dikenal sebagai pelayanan kuratif melalui penyediaan fasilitas kesehatan,
(2) Upaya promotif dan pencegahan berupa intervensi terhadap faktor-faktor resiko yang ada dalam demarkasi kesehatan,
(3) Upaya lintas sektor, yaitu intervensi untuk mengurangi/menghilangkan dampak negatif dari kegiatan sektor lain terhadap kesehatan; atau sebaliknya melibatkan sektor lain untuk memberi kontribusi terhadap kesehatan, dan
(4) Upaya memperkuat kapasitas sistem kesehatan.
Yang dimaksud dengan fungsi kesehatan masyarakat adalah domain (2) upaya promotif dan pencegahan, (3) upaya lintas sektor, dan (4) upaya memperkuat kapasitas sistem kesehatan tersebut di atas. Dalam tataran empiris, tidak mudah menerapkan kebijakan dan regulasi intervensi kesehatan secara komprehensif, terintegrasi dan sinkron seperti tersirat dalam kebijakan dan regulasi tersebut. Sistem kesehatan masih tetap didominasi oleh upaya kuratif dan bersifat sangat sektoral (dominasi sektor kesehatan). Berbagai konsep yang menyatakan bahwa membangun kesehatan tidak bisa hanya dengan upaya pengobatan (menyediakan fasilitas kesehatan) ternyata implementasinya tidaklah demikian. Padahal sudah diketahui – seperti dinyatakan oleh Henrik L Blum (1981) – 80% determinan derajat kesehatan ada pada faktor lingkungan dan perilaku, dan hanya 20% oleh faktor pelayanan kesehatan (pengobatan). Cukup banyak indikasi bahwa kinerja dalam empat domain intervensi tersebut di atas belum memuaskan. Beberapa tujuan dalam masing-masing area tersebut tidak tercapai sesuai target. Kemudian, laju perbaikan indikator kesehatan nasional tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti misalnya Vietnam dan Thailand.
Upaya kuratif. Keberhasilan upaya kuratif memerlukan tiga syarat: (i) penduduk mempunyai akses terhadap fasilitas pengobatan yang berkualitas, yaitu fasilitas pelayanan primer, sekunder, tersier dan sistem rujukannya, (ii) tidak ada hambatan finansial untuk menggunakan pelayanan tersebut, dan (iii) kesadaran masyarakat untuk berobat.
Upaya promotif-preventif. Upaya promotif-preventif dengan sasaran penduduk – yang juga disebut Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) - adalah kegiatan untuk meningkatkan perilaku dan higiene lingkungan, melakukan pelayanan pencegahan seperti imunisasi, dan skrining massal untuk deteksi dan pengobatan dini. Berbeda dari upaya promotif-preventif perorangan, UKM dilaksanakan dengan dua pendekatan yaitu: (i) menggerakkan “mesin” birokrasi dan (ii) menggerakkan “mesin sosial”.
Intervensi lintas sektor. Inti dari domain intervensi ini adalah peran dan tanggung jawab sektor terkait untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan penduduk atau yang dikenal dengan pembangunan berwawasan kesehatan. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) adalah salah satu contoh kebijakan untuk menggerakkan peran lintas sektor dalam pembangunan kesehatan.
Kapasitas sistem kesehatan. Fungsi promotif-preventif dan kuratif serta penggerakkan lintas sektor tidak akan berhasil kalau tidak didukung oleh suatu sistem kesehatan yang kuat dan berfungsi dengan baik (WHO, 2000). Oleh karena itu, sistem kesehatan harus diperkuat
(WHO/WHR 2010: Health System Building Block). Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 menetapkan tujuh fungsi sistem kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN), yaitu (1) tata kelola dan regulasi didukung sistem informasi, (2) pengelolaan SDM Kesehatan, (3) pengelolaan obat/vaksin, alat kesehatan dan makanan-minuman, (4) penelitian dan pengembangan kesehatan, (5) pemberdayaan dan peran serta masyarakat, (6) pembiayaan kesehatan, dan (7) upaya kesehatan yang dibagi menjadi Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi dalam tiap elemen SKN tersebut. Permasalahan mencakup aspek tata kelola yang bergantung pada kejelasan peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, kekurangan sumber daya manusia (SDM) kesehatan, ketergantungan bahan baku impor untuk produksi obat yang pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan, pemanfaatan data dan informasi untuk perumusan kebijakan yang belum optimal, kecukupan pembiayaan kesehatan di pusat dan daerah, dan masalah pemerataan akses dan kualitas pelayanan kesehatan termasuk sistem rujukan berjenjang.
Dengan demikian, salah satu tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah memperkuat empat domain intervensi tersebut di atas terutama memperkuat pelayanan upaya kesehatan masyarakat, lintas sektor dan penguatan sistem kesehatan, yang ketiga-tiganya termasuk dalam area fungsi kesehatan masyarakat.
Fungsi kesehatan masyarakat juga berperan penting dalam mengantisipasi dan menghadapi ancaman epidemi dan pandemi penyakit (health security) yang diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang. Untuk Indonesia, risiko epidemi dan pandemi sangat besar karena batas wilayah yang sangat luas dan jumlah pintu masuk yang sangat banyak. Indonesia menempati urutan kedua dalam hal angka kematian setelah Mesir akibat penyebaran virus H5N1 flu burungyang sangat patogen antara tahun 2005 dan 2012. Indonesia melaporkan terdapat 184 dari 1.500 kasus manusia dan ribuan kasus unggas antara tahun 1997 dan 2012 (6). Wabah ini tersebar di 50 negara termasuk Hong Kong, Cina, Korea, Thailand, Vietnam, Jepang, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Kazakhstan, Mongolia, Rusia, Turki, Rumania, Taiwan, Kroasia, Kuwait, Inggris, Ukraina, Irak, Iran, Bulgaria, Nigeria, Yunani, Italia, Jerman, Mesir, Prancis, India, Austria, Bosnia, Slovakia, Hongaria, Niger, Tepi Barat/Jalur Gaza, Azerbaijan, dan Pakistan (6,7).
Untuk mengatasi permasalahan health security, pada Juni 2017 International Health Regulation (IHR) 2005 diberlakukan untuk semua Negara Anggota World Health Organization (WHO), termasuk Indonesia. Indonesia harus menyiapkan dan melaksanakan rencana implementasi nasional untuk memperkuat, mengembangkan dan mempertahankan kapasitas inti kesehatan masyarakat (8). Tujuan dan ruang lingkup kegiatan tersebut adalah “untuk mencegah, melindungi, mengendalikan dan memberikan respons kesehatan masyarakat terhadap risiko kesehatan masyarakat akut yang berpotensi melintasi batas negara dan mengancam orang di seluruh dunia, dengan cara yang sesuai dengan dan terbatas pada risiko kesehatan masyarakat, dan menghindarkan gangguan yang tidak perlu dengan lalu lintas dan perdagangan internasional”(6). Hasil Joint External Evaluation (JEE) WHO pada tahun 2017 yang dilaksanakan untuk menilai kapasitas inti penerapan IHR di dalam suatu negara, menunjukkan bahwa dua fungsi kesehatan masyarakat yang penting yaitu: surveilans kesehatan dan sistem informasi untuk kegiatan health security global sangat kurang di Indonesia (8).
6 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT
(Public health functions) dAN health security
KAJIAN SEKTOR KESEHATAN
ANAlISIS SITUASI
FUNGSI KESEHATAN
MASYARAKAT
Dalam empat tahun terakhir, WHO menyatakan tiga keadaan darurat kesehatan masyarakatyang menjadi perhatian internasional (Public Health Emergencies of International Concern/ PHEICs), yaitu: Polio dan Ebola (2014) serta Zika di Brazil (2016). Sementara Middle East Respiratory Syndrom (MERS), yang berasal dari Arab Saudi (2012), tidak memicu deklarasi PHEIC, meskipun virus tersebut telah menyebar ke lebih dari 24 negara dengan 584 kematian, termasuk Korea (2015). Epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan flu burung menunjukkan kerentanan negara-negara di Asia terhadap kejadian pandemi baik dari sisi situasi lingkungan, sosial ekonomi, dan demografis. Penyakit-penyakit infeksi baru yang muncul (Emerging Infectious Diseases/EID) seperti Ebola (2014-2016) dapat memiliki angka kematian kasus (Case Fatality Rate/CFR) antara 25%-90%. Indonesia dan negara-negara lain diwajibkan untuk segera melaporkan kepada WHO apabila terdapat kejadian cacar, poliomielitis liar, influenza baru, SARS, dan penyakit rawan pandemi seperti kolera, wabah pneumonia, demam kuning, dan demam berdarah. Organisasi non-pemerintah, media cetak dan penyiaran, ilmuwan, dan platform media sosial juga didorong untuk melaporkan kejadian tersebut (6).
Masalah health security membutuhkan jenis tenaga kesehatan baru. Tenaga kesehatan di seluruh dunia kini menghadapi tantangan yang tidak pernah mereka temui sebelumnya dan mereka juga tidak terlatih untuk menghadapinya. Dengan demikian, sangat penting untuk memperkirakan kebutuhan dan melatih jenis sumber daya manusia (SDM) kesehatan baru dalam jumlah yang cukup untuk mengembangkan kapasitas untuk mendeteksi, mencegah, dan merespon dengan cepat ancaman kesehatan masyarakat.
1.1. TUjUAN
Menjelang akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (KementerianPPN/Bappenas) melaksanakan Kajian Sektor Kesehatan (Health Sector Review) tahun 2018 sebagai referensi untuk mengembangkan RPJMN bidang kesehatan tahun 2020-2024. Kajian sektor kesehatan merupakan proses berbasis bukti yang didasarkan pada analisis situasi saat ini, pembelajaran dari masa lalu, prediksi tantangan di masa depan, dan rekomendasi kebijakan dan strategi untuk arah pembangunan kesehatan ke depan. Kajian sektor kesehatan dengan tema Fungsi Kesehatan Masyarakat ini disusun untuk memberikan informasi mengenai kebutuhan untuk memperkuat fungsi kesehatan masyarakat termasuk pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi baru yang muncul atau Emerging Infectious Diseases (EIDs) dan ancaman health security lainnya.
1.2. METODE
Kajian dilakukan dengan melakukan reviu atas data sekunder yang tersedia dari berbagai sumber (profil kesehatan kabupaten rutin, laporan penelitian terkait, berbagai laporan Bank Dunia, laporan WHO, laporan tahunan Kementerian/Lembaga, dan laporan penelitian akademisi), yang mencakup: (1) analisis fungsi kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk tinjauan literatur tentang ancaman health security dan hasil Joint External Evaluation (JEE) tahun 2017; dan (2) kebijakan, masalah dan upaya penguatan fungsi kesehatan masyarakat ke depan.
2. Analisis Situasi Fungsi Kesehatan Masyarakat • 9 8 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
(5) Mengembangkan kebijakan dan rencana yang mendukung upaya kesehatan perorangan dan masyarakat
(6) Menegakkan hukum dan peraturan yang melindungi kesehatan dan memastikan keamanan
(7) Memberikan perawatan untuk masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan perorangan
(8) Memastikan kompetensi tenaga kesehatan masyarakat dan perorangan (9) Mengevaluasi efektivitas, aksesibilitas, dan kualitas layanan kesehatan
(10) Penelitian untuk wawasan baru dan solusi-solusi inovatif dalam menghadapi masalah-masalah kesehatan
Gambar 2. Fungsi Inti Kesehatan Masyarakat dan 10 layanan Esensial
Sumber: IOM. Kesehatan Masyarakat di Masa Depan. 10 Layanan Kesehatan Masyarakat Esensial, Komite Pengarah Fungsi
Kesehatan Masyarakat Inti, 1994 (12)
Dalam “World Development Report 1993: Investing in health”, disebutkan pentingnya melakukan investasi pelayanan kesehatan masyarakat esensial (essential public health services/EPHF) dan pelayanan klinis (clinical services). Berdasarkan situasi masalah kesehatan pada masa itu, ada enam pelayanan kesehatan masyarakat esensial dan empat pelayanan pelayanan klinis esensial yang perlu mendapatkan prioritas.
Pelayanan kesehatan masyarakat esensial tersebut termasuk: (1) Imunisasi
(2) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
(3) Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) dan pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan gizi
(4) Program untuk mengurangi konsumsi tembakau dan alkohol
(5) Regulasi, informasi dan investasi terbatas untuk meningkatkan lingkungan perumahan (6) Pencegahan AIDS
Sedangkan untuk pelayanan klinis esensial termasuk :
(1) Pelayanan berkaitan dengan kehamilan (pelayanan antenatal, melahirkan, pasca salin) (2) Pengendailan Tuberkulosis (TB)
(3) Pengendalian Penyakit Menular Seksual (PMS)
(4) Pelayanan penyakit anak termasuk diare, ISPA, campak, malaria dan kurang gizi akut Jenis layanan di atas ditentukan berdasarkan pertimbangan kebutuhan dasar penduduk terutama penduduk miskin serta pengalaman empiris yang membuktikan bahwa pelayanan tersebut cost effective. Investasi untuk pelayanan tersebut diharapkan akan mengurangi kesenjangan dan meningkatkan derajat kesehatan khususnya penduduk miskin. Jenis pelayanan tersebut mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Namun, pemerintah tetap perlu melakukan investasi dan melaksanakan fungsi kesehatan masyarakat untuk: (i) melindungi kesehatan masyarakat secara keseluruhan, (ii) mengurangi (atau menghilangkan) kesenjangan dan disparitas, dan (iii) menjamin hak setiap orang untuk hidup sehat.
Menurut WHO dan Pan American Health Organization (PAHO), fungsi kesehatan masyarakat esensial merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan, mempromosikan, melindungi, dan memulihkan kesehatan manusia melalui tindakan kolektif. Fungsi kesehatan masyarakat esensial biasanya fokus pada pencegahan dampak dari berbagai faktor determinan sosial (penyebab tidak langsung) yang memperburuk masalah kesehatan. Untuk itu, pengetahuan mengenai faktor determinan masalah kesehatan masyarakat sangat penting untuk mendesain intervensi yang lebih efektif sebelum pengobatan dan perawatan yang berbiaya lebih tinggi.
Sepuluh layanan fungsi kesehatan masyarakat esensial (EPHFs) meliputi (9–11):
(1) Memantau status kesehatan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan masyarakat
(2) Mendiagnosis dan menyelidiki masalah kesehatan dan bahaya-bahaya kesehatan di masyarakat
(3) Menginformasikan, mendidik, dan memberdayakan masyarakat tentang masalah-masalah kesehatan
(4) Memobilisasi kemitraan dan partisipasi masyarakat untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah kesehatan
2. Analisis Situasi Fungsi Kesehatan Masyarakat • 11 10 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
di Indonesia, hampir semua fungsi kesehatan masyarakat yang disebutkan di atas sudah didukung dengan regulasi khusus. Terdapat delapan fungsi kesehatan masyarakat yaitu: (a) surveilans, (b) kesiapan menghadapi bencana dan kegawatdaruratan, (c) perlindungan kesehatan, (d) promosi kesehatan masyarakat dan perorangan, (e) tata kelola, regulasi pembiayaan, dan kelembagaan, (f) SDM kesehatan masyarakat yang kompeten, (g) komunikasi dan mobilisasi sosial, dan (h) penelitian dan pengembangan kesehatan masyarakat dan analisis kebijakan (Tabel 1).
Tabel 1. Regulasi Terkait Fungsi Kesehatan Masyarakat di Indonesia
No Fungsi Kesehatan Masyarakat Regulasi Substansi yang Diatur
1 Surveilans PMK-45/2014 Surveilans 2 Kesiapan menghadapi bencana dan kegawatdaruratan UU-24/2007 PP-40/1991 PMK-82/2014 Penanggulangan Bencana Penanggulangan Wabah Penanggulangan Penyakit Menular
3 Perlindungan kesehatan UU-12/2012 PP-28/2004 UU-32/2009 PP-27/2012 PP-74/2001 Keamanan Pangan Keamanan Makanan Lingkungan Hidup Izin Lingkungan
Pengamanan Bahan Berbahaya Beracun (B3) 4 Promosi kesehatan masyarakat dan perorangan UU-36/2009 PMK-74/2015 Kesehatan Promosi Kesehatan 5 Tatakelola, regulasi pembiayaan, dan kelembagaan UU-36/2009 Perpres-72/2012 UU-40/2004 UU-23/2014 PP-18/2016 Kesehatan Sistem Kesehatan Nasional Sistem SJSN
Pembagian Urusan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota Perangkat daerah 6 SDM kesehatan masyarakat yang kompeten UU-36/2014 UU-23/2014 Tenaga Kesehatan
Pembagian Urusan Pemerintahan 7 Komunikasi dan
mobilisasi sosial PMK-65/2013 Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan 8 Penelitian dan
pengembangan kesehatan masyarakat dan analisis kebijakan
PMK-64/2015 Pusat Analisis Determinan Kesehatan
* UU: Undang-Undang; PP: Peraturan Pemerintah; Perpres: Peraturan Presiden; PMK: Peraturan Menteri Kesehatan
Delapan regulasi tentang fungsi kesehatan masyarakat di atas cukup lengkap dan komprehensif untuk mengantisipasi dan mengatasi berbagai masalah dan resiko/determinan kesehatan masyarakat di Indonesia, yang secara garis besar dapat dibagi 3 (tiga), yaitu:
(1) Menghadapi ancaman epidemi dan pandemi penyakit (public health security)
Untuk menghadapi isu public health security, delapan fungsi kesehatan masyarakat tersebut perlu diperkuat. Fungsi ke-1 (surveilans), Fungsi ke-5 (tata kelola dalam konteks desentralisasi) dan Fungsi ke-7 (komunikasi dan mobilisasi sosial) sangat penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah luas, ribuan kepulauan dan ribuan pintu masuk manusia, hewan dan barang. Indonesia memerlukan sistem surveilans epidemiologi yang merupakan jejaring, secara vertikal antara puskesmas, Dinkes Kabupaten/Kota, Dinkes Provinsi dan Pusat, sedangkan secara horisontal antara puskesmas, antar-daerah dan antar-provinsi. Seluruhnya dikordinasikan oleh “pusat surveilans nasional”.
(2) Mengatasi determinan kesehatan di luar sektor kesehatan (lintas- sektor)
Untuk mengatasi determinan non-kesehatan, seluruh fungsi kesehatan masyarakat diperlukan. Terutama, lima fungsi penting yaitu Fungsi-2 (kesiapan menghadapi bencana), Fungsi-3 (Perlindungan Kesehatan), Fungsi-4 (Promosi Kesehatan), Fungsi-5 (tata kelola/ pembagian peran antara jenjang pemerintah) dan Fungsi-7 (Komunikasi dan mobilisasi sosial). Bagi intervensi lintas sektor, fungsi dan regulasi di atas merupakan intervensi sensitif.
(3) Mengatasi determinan kesehatan dalam sektor kesehatan
Intervensi terhadap determinan kesehatan dalam domain kesehatan (intervensi spesifik), dalam epidemiologi dikenal sebagai “the epidemiological triad of causal factors” atau “agent – host - environment” factors. Keadaan sehat atau sakit seseorang ditentukan oleh ketiga faktor: (i) agent atau penyebab penyakit bisa berupa kuman atau bahan adiktif dan lain-lain, (ii) kondisi fisik host – genetik, biologis, mental, ketahanan tubuh, status gizi, perilaku seseorang, dan (iii) lingkungan tempat “agent” dan “host” tersebut berada, menyangkut sanitasi, konteks sosial, dan ketersediaan pelayanan kesehatan (13). Dengan demikian, pengendalian penyakit/masalah kesehatan memerlukan intervensi terhadap ke tiga faktor tersebut, baik untuk penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Intervensi dapat bersifat promotif, preventif, skrining, pengobatan dan rehabilitatif (dikutip Gani, A. dari buku Laevel & Clark (1968) ‘The five levels of health services’).
Tabel 2. Integrasi Pendekatan “Triad Epidemiologi” dan “5 jenjang Pelayanan”
Triad Epidemiologi Fungsi UKM Fungsi UKM dan UKP Fungsi UKP
Promotif Preventif Skrining Kuratif Rehabilitatif
Host √ √ √ √ √
Agent √ √ √ √ √
2. Analisis Situasi Fungsi Kesehatan Masyarakat • 13 12 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
Paling tidak, penerapan fungsi kesehatan masyarakat dalam domain sektor kesehatan memerlukan kedua fungsi UKM dan UKP, terutama kegiatan: (i) surveilans, (ii) kesiapan menghadapi bencana dan kegawatdaruratan, (iii) perlindungan kesehatan khususnya pangan dan makanan, (iv) promosi kesehatan, (v) tata kelola, regulasi, kelembagaan dan pembiayaan, (vi) SDM kesehatan masyarakat, (vii) komunikasi dan mobilisasi sosial/peran serta masyarakat, dan (viii) penelitian dan analisis kebijakan. Berikut ini adalah pemetaan area dimana fungsi kesehatan masyarakat membutuhkan upaya lintas sektor dalam mengantisipasi dan mengatasi isu-isu public health security (lihat Tabel 3).
Tabel 3. Tiga Sasaran Utama Fungsi Kesehatan Masyarakat di Indonesia
No Fungsi Kesehatan Masyarakat “Public health security” lintas negara dan lintas wilayah Kebutuhan upaya lintas sektor UKM sektor kesehatan 1 Surveilans √ √ √
2 Kesiapan hadapi bencana dan kegawatdaruratan √ √ √
3 Perlindungan kesehatan √ √ √
4 Promosi kesehatan √ √ √
5 Tatakelola, regulasi, kelembagaan dan
pembiayaan √ √ √
6 SDM kesehatan masyarakat √ √ √
7 Komunikasi dan peran serta √ √ √
8 Penelitian dan Pengembangan dan analisis
kebijakan kesmas √ √ √
Dalam ilmu Kesehatan Masyarakat, intervensi kesehatan dibedakan antara intervensi kesehatan masyarakat (UKM) dan intervensi pengobatan (UKP). Pembedaan UKM dan UKP juga ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Dalam Perpres tersebut, dijelaskan bahwa UKM adalah upaya yang bersifat
“public goods” dan pembiayaanya menjadi tanggung jawab pemerintah, sedangkan UKP bersifat “private goods” dan pembiayaannya melalui mekanisme tarif atau asuransi kesehatan. Istilah UKM dan UKP juga digunakan dalam Undang-Undang No.23/2014 tentang pembagian urusan pemerintah pusat, provinsi dan daerah. Khusus untuk kabupaten/kota telah ditetapkan layanan dasar yang bersifat “public goods” untuk dipenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang pembiayaannya dibebankan pada anggaran daerah (APBD).
Tabel 4. Perbedaan Antara UKM dan UKP UKM
(Fungsi Kesehatan Masyarakat) (Fungsi Klinis)UKP
Sasaran intervensi
Kelompok masyarakat Perorangan dan/atau keluarga Host, agent, environment
skala populasi Host, agent, environmentskala individu dan rumah tangga
Fokus intervensi Promotif, preventif, skrining Skrining, kuratif, rehabilitatif
Pendekatan
Menggerakkan: (a) “mesin” birokrasi (b) “mesin” sosial
Menggerakkan:
(a) institusi pelayanan kesehatan (b) institusi keluarga
Lintas sektor Sektoral (kesehatan/medis) Multidisiplin lintas ilmu Multidisiplin lintas ilmu medis
Sifat ekonomi
intervensi Public goods dan merit goods Private goods
Pembiayaan Publicly financed (APBN & APBD) Privately financedCollective financed (tarif) (asuransi)
Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.75/2014 tentang Puskesmas mendefinisikan fungsi esensial kesehatan masyarakat menjadi Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan layanan kesehatan individu dasar terbatas atau Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), yang dilaksanakan oleh puskesmas di tingkat kecamatan.
Kegiatan UKM mencakup (Lampiran Permenkes-75 bagian VIII, halaman 92-100) (14,15): a. Promosi kesehatan, termasuk:
i. Penyuluhan – promosi kesehatan di sekolah, pendidikan masyarakat tentang kesehatan jiwa, perawatan antenatal dan menyusui, penyuluhan kesehatan jiwa dan Napza termasuk pada populasi berisiko (lanjut usia, anak-anak, remaja), perilaku menjaga kebersihan diri, kesehatan gigi dan mulut, imunisasi, konseling kesehatan reproduksi remaja, pencegahan penularan HIV/AIDS dan infeksi menular sosial (IMS), diare, tipus, hepatitis, edukasi dan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) meliputi ASI eksklusif dan MP-ASI untuk balita sehat, balita kurang gizi, dan balita gizi buruk
2. Analisis Situasi Fungsi Kesehatan Masyarakat • 15 14 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
rawat jalan, edukasi dan konseling pola makan bagi ibu hamil kurang energi kronik (KEK), konseling dietetik, dan edukasi dan konseling tentang pengobatan sendiri dan penggunaan obat
ii. Pemberdayaan masyarakat melalui tokoh agama dan publik, kader atau jejaring perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), posyandu, penggunaan obat secara rasional melalui metode cara belajar insan aktif (CBIA)
iii. Pelatihan kader tentang PHBS, teknik komunikasi, penggunaan obat dan pengobatan sendiri melalui metode CBIA
iv. Advokasi tentang praktik PHBS dan penanggulangan masalah kesehatan tertentu, dan kelompok dukungan perawatan masalah gizi
b. Kesehatan lingkungan, termasuk pemantauan tempat-tempat umum, pengelolaan makanan dan sumber air bersih.
c. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA dan KB), termasuk pelayanan imunisasi, pemeriksaan kesehatan anak sekolah dasar, pendidikan keluarga berencana untuk wanita usia reproduksi.
d. Pelayanan gizi, termasuk: (i) deteksi dini/penemuan kasus gizi di masyarakat dan surveilans gizi; dan (ii) asuhan keperawatan pada kasus gizi di masyarakat.
e. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit, termasuk:
i. Pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (posbindu-PTM)
ii. Pencegahan dan pengendalian penyakit menular (filariasis, kecacingan, Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, HIV/AIDS, Infeksi Menular Seksual (IMS), zoonosis dan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin)
Sementara itu, layanan kesehatan perorangan atau Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) didefinisikan sebagai layanan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, serta mencegah dan menanggulangi munculnya masalah-masalah kesehatan perorangan. Puskesmas biasanya memberikan layanan UKP atau perawatan kuratif selama lima hari dalam seminggu, dalam waktu-waktu yang terbatas (14,15).
Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 juga memasukkan penyediaan layanan kesehatan masyarakat yang tidak esensial yang disebut Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) Pengembangan, yang disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja, dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing puskesmas (Lampiran Permenkes-75 bagian VIII, hal. 100-102 ). UKM Pengembangan ini termasuk layanan khusus terkait Napza, pelayanan kesehatan gigi untuk anak-anak, lansia dan wanita hamil, pengobatan tradisional, komplementer dan alternatif, pembinaan kesehatan kerja, dan lain-lain (14,15). UKM Pengembangan dibagi menjadi dua bidang:
(1) Pengembangan komponen UKM: (a) layanan kesehatan mental, (b) layanan kesehatan gigi masyarakat; (c) layanan kesehatan tradisional komplementer, (d) layanan kesehatan olahraga, (e) layanan kesehatan indra, (f) layanan kesehatan lansia, (g) layanan kesehatan kerja, dan (h) layanan kesehatan lainnya
(2) Pengembangan komponen UKP: (a) pemeriksaan medis umum, (b) layanan kesehatan gigi dan mulut, (c) layanan pribadi KIA-KB, (d) layanan darurat, (e) layanan gizi perorangan, (f) pemberian layanan kesehatan, (g) pasien rawat inap untuk puskesmas rawat inap, (h) layanan farmasi, dan (i) layanan laboratorium
Permintaan akan pelayanan kesehatan yang berkualitas terus meningkat seiring dengan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Kesehatan yang ditujukan untuk mengatasi hambatan finansial dalam pemanfaatan layanan kesehatan. Sebelum pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pembangunan kesehatan Indonesia dilaksanakan berdasarkan konsep pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care/PHC) dengan puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dasar, didukung oleh rumah sakit dan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) lainnya. Di setiap kecamatan, setidaknya ada satu puskesmas yang dipimpin oleh seorang dokter, dan didukung oleh dua atau tiga puskesmas pembantu (pustu) yang mayoritas dipimpin oleh perawat. Pelayanan puskesmas berfokus pada promosi kesehatan, sanitasi, KIA dan KB, gizi masyarakat, pencegahan penyakit, dan kegawatdaruratan ringan.
Dalam pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan dan pencegahan, puskesmas bekerja sama dengan relawan kesehatan masyarakat (kader). Di tingkat desa, UKBM seperti pos kesehatan terpadu (posyandu) berfungsi sebagai lini perawatan pertama, diikuti oleh pelayanan dasar oleh tenaga profesional di puskesmas. Pada tahun 1989, program bidan desa (Bidan di Desa) diperkenalkan melalui penempatan satu orang bidan terlatih di setiap desa dilengkapi dengan pos bersalin desa (polindes). Program ini juga mendukung pelaksaaan dari posyandu melalui pemberian pelayanan antenatal (ANC) dan konsultasi kesehatan reproduksi di tingkat desa. Para kader di desa mendorong ibu hamil risiko tinggi untuk mencari pelayanan prenatal tepat waktu dan membantu mereka untuk mengatur transportasi ke fasilitas kesehatan. Secara bertahap, UKBM telah berhasil mengatasi praktik tradisional yang berbahaya oleh dukun setempat.
Dengan demikian, sebagian besar kegiatan puskesmas seharusnya difokuskan pada program promosi dan pencegahan kesehatan seperti KIA dan KB, gizi masyarakat, sanitasi, dan pencegahan penyakit, dengan alokasi waktu yang terbatas untuk pemberian pelayanan kuratif atau layanan darurat kecil. Namun, pada kenyataannya terdapat beberapa temuan yang bertentangan di lapangan seperti:
a) Beberapa puskesmas di pedesaan belum berhasil melaksanakan tugas kuratif dan preventif karena dokter yang bekerja di puskesmas tersebut tidak tinggal di daerah pedesaan; b) Sejumlah besar perawat yang dikirim ke daerah pedesaan juga membuka praktik swasta di
desa atau kota
c) Sangat sedikit pusat pelatihan untuk bidan yang berada di desa, dan hanya 70 persen bidan yang tinggal di desa
d) Kader boleh mendapatkan tunjangan untuk kegiatan promosi kesehatan tertentu di tingkat desa, namun, di beberapa tempat posyandu tidak dapat merekrut jumlah kader yang cukup atau layanan posyandu yang disediakan tidak memadai
e) Kader umumnya tidak efektif dalam memenuhi peran mereka di masyarakat karena mereka tidak terlatih dan hanya melayani sebagai sukarelawan dengan sedikit akuntabilitas
f) Investasi pada sumber daya manusia untuk promosi kesehatan belum optimal di semua tingkatan, padahal promosi kesehatan memiliki dampak besar pada kesehatan ibu dan bayi baru lahir (16)
g) Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit umum daerah menjadi sumber pendapatan bagi pemerintah daerah. Fasilitas ini menerima subsidi dari pemerintah pusat untuk gaji dan biaya operasional, tetapi mereka diharuskan untuk mengadopsi prinsip
16 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
FUNGSI KESEHATAN MASYARAKAT
(Public health functions) dAN health security
KAJIAN SEKTOR KESEHATAN
3.
ANAlISIS SITUASI
HEALTH SECURITY
swadaya (swadana), atau menggunakan biaya pengguna untuk membiayai biaya non-gaji dari layanan medis. Prinsip swadana ini membuat pemerintah daerah terus meningkatkan pendapatan termasuk dengan mengontrakkan jasa ke sektor swasta. Sistem ini telah menyebabkan pertumbuhan jumlah fasilitas kesehatan swasta dan dua pertiga dari pembiayaan dan lebih dari separuh layanan kini dilakukan di fasilitas swasta (17)
h) Pasca-desentralisasi (2001), pemerintah pusat tidak lagi menyediakan tenaga kesehatan untuk masyarakat setempat. Beberapa pemerintah daerah tidak menganggap bidan sebagai prioritas lagi. Banyak bidan desa meninggalkan polindes dan pindah ke daerah sub-urban atau perkotaan, di mana peluang praktik swasta jauh lebih besar (17)
3. Analisis Situasi Health Security • 19 18 • Fungsi Kesehatan Masyarakat (Public Health Functions) dan Health Security
Salah satu peran penting fungsi kesehatan masyarakat adalah untuk menghadapi ancaman epidemi dan pandemi penyakit (public health security). Di era globalisasi, keadaan darurat atau peristiwa yang menyangkut kesehatan masyarakat di satu negara dapat menjadi ancaman bagi negara lain. Dalam beberapa dekade terakhir, penyakit infeksi emerging (PIE) atau Emerging Infectious Diseases (EIDs), yang disebabkan oleh bakteri, virus, parasit atau jamur menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Sebagian besar (sekitar 70%) EID adalah zoonosis (18). Sejak tahun 1980-an, pandemi HIV/AIDS dan penyakit zoonosis asal hewan, telah menyebabkan banyak kematian. Di sisi lain, kegiatan kesehatan masyarakat dasar seperti vaksinasi menjadi lebih sulit untuk dilaksanakan. Padahal, di saat yang sama pertumbuhan pesat perdagangan global dimana perjalanan lintas negara dan benua (3,6 miliar penumpang udara internasional tahun 2016) menjadi sesuatu yang umum, sangat memfasilitasi penyebaran mikroba patogen ke seluruh bagian dunia termasuk ke Indonesia.
Wabah sindrom pernafasan akut yang parah (SARS) pada tahun 2003 merupakan peringatan bagi komunitas kesehatan masyarakat global bahwa tidak ada kendaraan internasional yang dapat secara cepat mendeteksi dan menanggapi wabah multi-negara, terutama jika disebabkan oleh penularan penyakit pernapasan (18). Wabah flu burung tahun 2006 dan pandemik influenza A tahun 2009 (H1N1) menjadi pertanda serius bahwa Indonesia masih belum siap menghadapi keadaan darurat kesehatan masyarakat global (global health security issues). Di samping sudah terlihatnya ancaman resistensi mikroba termasuk sindrom pernapasan akut coronavirus (SARS-CoV) yang pertama kali dilaporkan di Asia pada Februari 2003 dan telah menyebar ke lebih dari dua lusin negara di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Eropa. Wabah lain seperti kolera di Haiti (2010), sindrom pernapasan akut corona virus (MERS-CoV) di Timur Tengah dan Korea (2012), chikungunya tahun 2013 dan Zika tahun 2015 di Amerika, demam kuning di Afrika 2015–2016 dan di Amerika Selatan 2016–2017, serta kolera di Yaman (2017), dan epidemi Ebola di Afrika Barat tahun 2014–2016 merupakan contoh nyata dari belum memuaskannya pencegahan global dan lemahnya respon (19,20).
Saat ini, selain peningkatan penyakit tidak menular dan masih tingginya penyakit menular, masih ditemukan juga penyakit tropis terabaikan (neglected tropical diseases, NTDs). NTDs juga disebabkan patogen seperti virus, bakteri, protozoa dan cacing/parasit (21). Diamati pula bahwa resistensi antimikroba (AMR) dan penyakit zoonosis juga meningkat kejadiannya, mengancam keamanan pangan, keamanan hayati dan biosekuriti. Kesimpulannya, PIE (EIDs) merupakan ancaman keamanan internasional dan menempatkan potensi dampak negatif yang besar pada infrastruktur kesehatan, keadaan sosial dan ekonomi, dan kesejahteraan (18,19,22).
Di masa lalu, PIE (EID) telah menyebabkan banyak pandemi fatal seperti pandemi Black Death (25-40 juta kematian) pada abad ke-14, pandemi influenza (50 juta kematian) di tahun 1918, dan pandemi HIV/AIDS (35 juta kematian) sejauh ini. Sekitar 60 hingga 80 persen infeksi manusia baru berasal dari hewan, terutama hewan pengerat dan kelelawar, yang kemudian dimanifestasikan sebagai sindrom paru Hantavirus, demam Lassa, dan encephalitis karena virus Nipah (23). The Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang muncul dari kelelawar ternyata dapat menyebar ke manusia. Virus influenza pandemi H1N1 2009 muncul dari babi. Influenza H5N1 (avian influenza) muncul dari unggas liar dan menyebabkan epizootik yang memperkuat transmisi virus pada unggas domestik, dan kemudian ke manusia yang terpapar unggas. Baik avian influenza yang sangat patogenik (HPAI) maupun yang patogenisitasnya rendah seperti avian influenza (LPAI), dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, dengan virus H5, H7 dan H9 sebagai patogen utama (23,24).
Agen penyakit infeksi lainnya yang telah bertahan dan beradaptasi dengan perubahan populasi manusia dan lingkungan adalah virus demam berdarah dan virus Nile Barat. Penularan demam berdarah ke manusia melalui nyamuk Aides dipengaruhi oleh tingkat kepadatan, sanitasi yang buruk, dan kemiskinan. Beberapa penyakit infeksi yang muncul kembali adalah: (1) kolera, yang terkait dengan mobilitas internasional, perang, bencana alam, dan sanitasi yang buruk, kemiskinan dan gangguan sosial; (2) HA-MRSA atau infeksi yang didapat di rumah sakit (juga penjara dan panti jompo, orang dengan luka terbuka, kateter, dan sistem kekebalan yang lemah), infeksi yang didapat dari masyarakat (CA-MRSA) serta infeksi yang didapat dari ternak (LA-MRSA); dan (3) Infeksi Clostridium difficile (CDI), penyebab utama diare infeksi pada pasien rawat inap. MRSA dan CDI akhirnya menjadi resisten terhadap pengobatan (23).
Eradikasi EID di masa depan merupakan tantangan yang sangat berat. Mikroorganisme patogenik dapat mengalami perubahan genetik yang cepat, yang mengarah ke sifat fenotip baru akibat pengaruh host dan lingkungan. Virus pandemi influenza 1918 adalah salah satu contohnya. Selama 95 tahun terakhir, virus turunannya telah berevolusi dan menghasilkan pandemik baru pada tahun 1957 dan 1968, dan baru-baru ini influenza H1N1 menjadi pandemi pada tahun 2009. Hal ini hanya dapat di atasi dengan sistem kewaspadaan, penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan, penyediaan alat diagnostik, obat-obatan, dan vaksin baik di sektor hewan serta sektor manusia. Setiap penyakit baru membawa tantangan unik, memaksa kita untuk terus beradaptasi dengan ancaman yang terus berubah (23). Sekitar enam dari setiap 10 penyakit infeksi yang diketahui pada manusia berasal dari hewan, dan tiga dari setiap empat EID tersebar dari hewan (25).
Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation/IHR) Tahun 2005 yang ditetapkan pada pada tanggal 15 Juni 2007 mengamanatkan kepada setiap negara anggota untuk secara bertahap memenuhi delapan kapasitas inti untuk mencegah, mendeteksi, dan menanggapi potensi biologis dan potensi bahaya lainnya dalam kurun waktu sembilan tahun (2007-2016). Kapasitas inti IHR mencakup: (1) perundang-undangan dan kebijakan, (2) koordinasi, (3) pengawasan, (4) respon, (5) kesiapsiagaan, (6) komunikasi risiko, (7) sumber daya manusia, dan (8) laboratorium. Kapasitas ini perlu disiapkan untuk memastikan Indonesia siap untuk mendeteksi, mencegah, dan menanggapi: (1) penyakit menular yang muncul (EID) dan penyakit zoonosis, (2) penyakit terkait radiologi, (3) penyakit yang berhubungan dengan kimia, dan (4) penyakit terkait makanan (26).
One Health adalah pendekatan yang dipromosikan oleh World Health Organisation (WHO), Food and Agriculture Organisation (FAO), dan World Organisation for Animal Health (OIE) serta banyak negara dan organisasi untuk memperingatkan semua negara bahwa tidak ada satu pun bangsa atau sektor yang dapat menjamin keamanan kesehatan global. Indonesia harus bekerja secara internal dan bekerjasama dengan negara lain untuk mencegah, mendeteksi, dan menanggapi ancaman penyakit menular. Keamanan kesehatan publik mencakup semua kegiatan (baik proaktif dan reaktif) yang dapat meminimalkan kerentanan terhadap peristiwa akut dalam kesehatan masyarakat, termasuk peristiwa-peristiwa kimia, biologi, dan radio-nuklir yang berpotensi menciptakan “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC)” (27). Ancaman penyakit pandemi dan respon yang tidak efektif juga dapat berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, negara dan ekonomi global (28).