DI PENANGKARAN
(Studi Kasus di PT Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali)
RAHAYU WIDIASTUTY
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
RAHAYU WIDIASTUTY. Manajemen Pemeliharaan dan Persilangan Kupu-Kupu Ornithoptera priamus dengan Ornithoptera croesus di Penangkaran (Studi Kasus di PT Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali). Dibimbing oleh LIN NURIAH GINOGA dan BURHANUDDIN MASYUD.
Kupu-kupu merupakan salah satu serangga cantik di dunia yang dijadikan sebagai lambang keindahan. Potensi yang dimiliki kupu-kupu dimanfaatkan sebagai objek penelitian ilmiah, cendera mata, koleksi, dan berkembang menjadi objek wisata yang mempunyai daya tarik tinggi dan mendatangkan devisa. Salah satu upaya untuk mempertinggi produktivitas dengan menghasilkan keturunan dengan keunikan pola warna yang menarik maka dilakukan perkawinan silang terhadap kupu-kupu. Di Indonesia perkawinan silang kupu-kupu merupakan hal yang baru dan jarang dilakukan oleh para penangkar kupu-kupu. PT Kupu-Kupu Taman Lestari merupakan salah satu perusahaan yang telah melakukan persilangan. Prinsip persilangan yaitu untuk menghasilkan turunan (hibrida) dengan penampilan atau karakter yang lebih baik dari tetuanya. Dalam persilangan kupu-kupu, karakter yang diharapkan adalah tampilan morfologi hibrida yang lebih baik dari tetuanya, baik dilihat secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen pemeliharaan kupu-kupu persilangan, mengkaji persilangan dan tingkat keberhasilan persilangan kupu-kupu di PT Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali, serta menganalisis perbedaan penampilan morfologi hibrida dengan tetuanya.
Penelitian ini dilakukan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali pada bulan April-Juli 2012. Kupu-kupu yang disilangkan dalam penelitian yaitu jenis O.priamus jantan dan O.croesus betina, masing-masing berjumlah dua individu. Dalam penelitian dilakukan analisis uji T-Student terhadap ukuran tubuh kupu-kupu.
Berdasarkan hasil penelitian, manajemen pemeliharaan kupu-kupu persilangan menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif yang terdiri dari pemeliharaan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan kepompong, dan pemeliharaan kesehatan. Terdapat tiga tahap dalam persilangan yaitu tahap persiapan persilangan, pelaksanaan persilangan, dan pemantauan persilangan. Tingkat keberhasilan rata-rata persilangan sebesar 43.01% dan dapat digolongkan dalam kategori sedang (30-49%). Tampilan morfologi secara umum, hasil persilangan (anakan) jantan memiliki corak yang mirip dengan O.priamus jantan dan warna yang mirip dengan O.croesus jantan. Sedangkan anakan betina memiliki corak anakan betina memiliki corak yang mirip dengan O.priamus betina dan warna yang mirip dengan O.croesus betina. Berdasarkan hasil perhitungan uji T-Student dapat disimpulkan bahwa morfologi kupu-kupu antara tetua dengan hasil persilangan berbeda nyata.
RAHAYU WIDIASTUTY. Maintenance Management and Butterfly Hybridization Ornithoptera priamus with Ornithoptera croesus in Captivity (Case Study in Kupu-Kupu Taman Lestari Ltd. Tabanan, Bali). Under supervision of LIN NURIAH GINOGA and BURHANUDDIN MASYUD.
The butterfly is the one of a beautiful insect in the world that serve as the symbol of beauty. The potensial which butterlies have used as an object of scientific research, souvenirs, collectibles, and developed into a tourist attraction that has high appeal and bring in foreign exchange. One of the efforts to enhance productivity by producing generation with a unique color pattern that interesting then performed hybridization to butterflies. In Indonesia hybridization of butterflies were new and rarely performed by breeders of butterflies. Kupu-kupu Taman Lestari Ltd. is on of the companies that have done hybridization. The principle of hybridization is to produce derivatives (hybrid) with the appearance or character better than parental. In hybridization of butterfly, the expected character is a hybrid morphological appearance better than parental, both quantitative and qualitative views. This study is aimed to asses the maintenance management of butterfly hybridization, it examine and hybridization success rate of butterflies in the Kupu-Kupu Taman Lestari Ltd. Tabanan, Bali, and to analyze morphological differences in the hybrid with parental.
This research was conducted at the Kupu-Kupu Taman Lestari Ltd. Tabanan, Bali in April-July 2012. Butterflies are hybridization in the research are the species O.priamus male and O.croesus female, aech amounted to two individuals. In a research conducted test analysis T-Student of the size of the butterly’s body.
Based on the research, maintenance management butterfly hybridization using a semi-intensive system consists of maintenance of egg, larva, pupa, and health care. There are three stages in the preparation phase hybridization is the intersection, crossing implementation, and monitoring cross. The succes rate of the average crossing at 43.01% and can be classified in the category of moderate (30-49%). Appearance the general morphology, a hybrid males have a style that is similar to O.priamus male and color similar to O.croesus male. At the same time the hybrid females have style similar to O.priamus female and color similar to
O.croesus female. Based on the T-Student test calculation it can be concluded that
the morphology of a butterfly berween elders with a hybrid was significanly different.
DI PENANGKARAN
(Studi Kasus di PT Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali)
RAHAYU WIDIASTUTY
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul Manajemen Pemeliharaan dan Persilangan Kupu-Kupu Ornithoptera priamus dengan
Ornithoptera croesus di Penangkaran (Studi Kasus di PT Kupu-Kupu Taman
Lestari Tabanan, Bali) adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini.
Bogor, Desember 2012
Rahayu Widiastuty E34080095
Lestari Tabanan, Bali)
Nama : Rahayu Widiastuty
NIM : E34080095
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. Dr. Ir. Burhanuddin Masyud, MS. NIP. 19651116 199203 2 001 NIP. 19581121 198603 1 003
Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. NIP. 19580915 198403 1 003
Penulis dilahirkan di Jakarta, 13 Agustus 1990 dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Heru Purwanto, S.E. dan Rusmiyati. Penulis memulai jenjang pendidikan formal di TK Al-Ma’mur pada tahun 1995-1996, kemudian melanjutkan ke tingkat Sekolah Dasar di SD Negeri Srengseng Sawah 06 pada tahun 1996-2002. Pada tahun 2002-2005, penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 98 Jakarta. Pendidikan menengah atas ditempuh penulis di SMA Negeri 38 Jakarta pada tahun 2005-2008. Pada tahun 2008, penulis diterima di program Strata 1 di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yaitu pada mayor Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Selama masa studi, penulis pernah mengikuti kegiatan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) pada tahun 2010 di Sawal-Pangandaran, Jawa Barat, dan Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 2011. Tahun 2012 penulis mengikuti Praktek Kerja Lapang (PKL) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Selain itu, penulis tergabung sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) pada Kelompok Pemerhati Kupu-Kupu (KPK). Kegiatan lapang yang pernah diikuti adalah Eksplorasi Fauna dan Flora Indonesia (RAFFLESIA) di Cagar Alam Gunung Burangrang, Jawa Barat pada tahun 2010 dan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah pada tahun 2010.
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, penulis menyusun Skripsi berjudul Manajemen Pemeliharaan dan Persilangan Kupu-Kupu Ornithoptera
priamus dengan Ornithoptera croesus di Penangkaran (Studi Kasus di PT
Kupu-Kupu Taman Lestari Tabanan, Bali) dibimbing Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si dan Dr. Ir. Burhanuddin Masyud, M.S.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. dan Dr. Ir. Burhanuddin Masyud, MS. selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan, pengarahan, ilmu, kesabaran, motivasi, dan waktu selama penyusunan skripsi.
2. Dr. Ir. Arum Sekar Wulandari, MS. selaku dosen penguji dan Dr. Ir. Rachmad Hermawan, M.Sc. selaku ketua sidang atas kebijaksanaan, ilmu, dan motivasi yang diberikan.
3. Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F yang telah meluangkan waktu membaca dan mengoreksi penulisan skripsi.
4. Direktur dan seluruh karyawan PT Kupu-Kupu Taman Lestari atas izin penelitian yang telah diberikan dan bantuan dalam pengambilan data.
5. Seluruh dosen dan staf Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata atas segala ilmu dan bantuannya.
6. Orang tua penulis Bapak Heru Purwanto, SE. dan Ibu Rusmiyati, kakak Rahayu Indah SP dan adik Hary Susilo Adji, serta seluruh keluarga besar penulis atas kasih sayang, doa, semangat, pengorbanan, dan kesetiaan dalam mendampingi penulis.
7. Anom Kalbuadi, S.Hut atas motivasi, doa, dan kebersamaan dalam mendampingi penulis.
8. Debora Fretty Marpaung, Nazmi Khairina Nur, Clara Tresna Dangiang, dan Yenti Kumala Sari atas dukungan yang telah diberikan.
9. Sahabat seperjuangan Davidia Intan PY, S.Hut, Rafika Akhtariana, Arniana Anwar, S.Hut, Mutmainah Woretma, Febbi Nurdia, S.Hut, Tri Apriliana, S.Hut, Lintang Praba, S.Hut, Rian Ristia W, Fatwa Nirza S, dan Fiqh Chairunnisa atas segala dukungan yang telah diberikan.
10. Keluarga besar Lab. Konservasi Ex-Situ atas bantuan dan kerjasamanya dalam menyelesaikan skripsi.
ilmu pengetahuan, dukungan, dan pengalaman yang telah diberikan.
12. Keluarga besar Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) khususnya KSHE 45 (Edelweis 45) atas kebersamaan, dukungan, dan pengalaman yang telah diberikan.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas semua bantuan dan dukungannya.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga skripsi dengan judul Manajemen Pemeliharaan dan Persilangan Kupu-Kupu Ornithoptera priamus dengan Ornithoptera
croesus di Penangkaran (Studi Kasus di PT Kupu-Kupu Taman Lestari
Tabanan, Bali) dibimbing Ir.Lin Nuriah Ginoga, M.Si dan Dr.Ir.Burhanuddin Masyud, M.S. dapat terselesaikan dengan baik.
Perjalanan dalam menyelesaikan skripsi ini banyak memberikan informasi serta pengalaman bagi penulis. Hal ini telah menjadi masukan yang sangat berharga dalam menyajikan hasil akhir dari keseluruhan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan informasi yang berguna bagi semua pihak.
Bogor, Desember 2012
i
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 1.3 Manfaat ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Kupu-Kupu ... 3
2.1.1 Morfologi kupu-kupu ... 3
2.1.2 Klasifikasi kupu-kupu ... 5
2.1.3 Siklus hidup kupu-kupu ... 6
2.1.4 Aktivitas kupu-kupu ... 7
2.1.5 Reproduksi kupu-kupu ... 8
2.1.6 Anatomi alat reproduksi kupu-kupu ... 9
2.2 Penangkaran Kupu-Kupu ... 10
2.2.1 Pemeliharaan kupu-kupu ... 11
2.2.2 Hibridisasi (perkawinan silang) ... 11
2.3 Pemanfaatan Kupu-Kupu ... 13
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15
3.2 Alat dan Bahan ... 15
3.3 Jenis Data ... 16
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 17
3.5 Analisis Data ... 19
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah ... 22
4.2 Letak dan Luas ... 22
4.3 Tenaga Kerja ... 22
4.4 Iklim dan Curah Hujan ... 23
4.5 Demografi Penduduk ... 23
ii 5.1.1 Pemeliharaan ... 25 5.1.2 Perkandangan ... 29 5.1.3 Pakan kupu-kupu ... 32 5.2 Persilangan 5.2.1 Teknik persilangan ... 35
5.2.2 Tingkat keberhasilan persilangan ... 39
5.3 Perbandingan Morfologi Tetua dengan Hasil Persilangan 5.3.1 Pola warna sayap atas ... 41
5.3.2 Pola warna sayap bawah ... 43
5.3.3 Ukuran tubuh ... 45
5.3.4 Uji kemiripan ... 47
5.4 Etika Persilangan ... 49
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 51
6.2 Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
iii
No. Halaman
1 Fase perkembangan kupu-kupu ... 6
2 Data primer penelitian ... 16
3 Tenaga kerja PT Kupu-Kupu Taman Lestari ... 23
4 Jenis kupu-kupu yang ditangkarkan di Bali Butterfly Park ... 24
5 Tingkat keberhasilan tiap fase kehidupan kupu-kupu persilangan ... 39
6 Tingkat keberhasilan hidup total hasil persilangan ... 40
7 Tingkat keberhasilan hidup kupu-kupu O. priamus ... 41
8 Perbedaan sayap atas tetua dengan hasil persilangan ... 42
9 Perbedaan sayap atas tetua dengan hasil persilangan ... 44
10 Perbedaan venasi sel sayap kupu-kupu ... 45
11 Ukuran bagian tubuh pasangan tetua pertama dan kedua ... 46
12 Ukuran tubuh rata-rata tetua dengan hasil persilangan ... 46
13 Hasil analisis uji T-Student anakan pertama ... 48
iv
No. Halaman
1 Bagian tubuh kupu-kupu ... 4
2 Struktur organ reproduksi jantan ... 9
3 Struktur organ reproduksi betina ... 10
4 Ornithoptera priamus ... 13
5 Ornithoptera croesus ... 13
6 Lokasi penelitian ... 15
7 Venasi sel sayap kupu-kupu dan pengukuran panjang sayap ... 18
8 Pengukuran tubuh kupu-kupu ... 18
9 Toples telur yang ditutup jaring halus ... 25
10 Pemasangan kantong jaring dan larva yang siap dipindahkan ... 27
11 Cara menggantung kepompong ... 27
12 Larva terserang penyakit ... 29
13 Kandang isolasi dan sketsa kandang isolasi ... 30
14 Kandang reproduksi dan sketsa kandang reproduksi ... 30
15 Kandang telur dan kepompong dan sketsa kandang telur dan kepompong ... 31
16 Kandang larva dan sketsa kandang larva ... 32
17 Aristolochia tagala ... 33
18 Tanaman pakan kupu-kupu ... 34
19 Pakan buatan ... 35
20 Cara memegang kupu-kupu ... 37
21 Penyatuan alat kelamin dan bagian alat kelamin yang disatukan ... 37
22 Kupu-kupu kawin ... 38
v
No. Halaman
1 Ukuran bagian tubuh hasil persilangan pertama ... 55
2 Ukuran bagian tubuh hasil persilangan kedua ... 56
3 Alur teknik persilangan kupu-kupu ... 57
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kupu-kupu merupakan salah satu serangga cantik di dunia yang dijadikan sebagai lambang keindahan. Potensi yang dimiliki kupu-kupu dimanfaatkan sebagai objek penelitian ilmiah, cendera mata, koleksi, dan berkembang menjadi objek wisata yang mempunyai daya tarik tinggi dan mendatangkan banyak devisa. Keindahan dan corak sayap kupu-kupu memiliki daya tarik tersendiri dan mampu memikat hati banyak orang.
O. priamus dan O. croesus merupakan jenis kupu-kupu sayap besar yang
paling diminati oleh para kolektor karena keindahan sayapnya dan masuk ke dalam daftar Appendix II CITES. Menurut PP No.7 Tahun 1999, O. priamus merupakan jenis kupu-kupu yang dilindungi karena populasinya yang terus menurun. Saat ini, O. priamus maupun O. croesus menjadi objek perburuan para kolektor karena mempunyai bentuk dan pola warna yang menarik. Di alam, kelangsungan hidup kupu-kupu ini semakin terancam karena berkurangnya habitat sebagai tempat hidup dan reproduksi dan akibat perburuan untuk diperdagangkan.
Dalam memenuhi kepentingan komersial sebagai koleksi dengan mengurangi perburuan agar keberadaannya tidak semakin terancam maka dikembangkan penangkaran. Salah satu upaya untuk mempertinggi produktifitas dengan menghasilkan keturunan dengan keunikan pola warna yang menarik maka dilakukan perkawinan silang terhadap kupu-kupu. Di Indonesia perkawinan silang kupu-kupu merupakan hal yang baru dan jarang dilakukan oleh para penangkar kupu-kupu. Perkawinan silang diperlukan untuk menghasilkan varietas baru sesuai dengan karakteristik yang diinginkan manusia. Di dunia, kupu-kupu varietas baru dihargai puluhan juta rupiah. Menurut Soehartono dan Mardiastuti (2003) kupu-kupu di pasaran dunia dihargai mulai dari US$ 1 hingga US$ 3.400 tergantung dari tingkat kelangkaannya.
PT Kupu-Kupu Taman Lestari merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dibidang serangga khususnya kupu-kupu. Perusahaan ini melakukan budidaya kupu-kupu dari berbagai jenis kupu-kupu yang terdapat di beberapa propinsi di
Indonesia seperti Bali, Sulawesi Selatan, dan Papua. Selain berhasil melakukan budidaya kupu-kupu, perusahaan ini juga telah berhasil melakukan persilangan kupu-kupu. Kupu-kupu yang telah berhasil disilangkan di antaranya O.priamus dan O.croesus. Salah satu tujuan dari persilangan ini yaitu agar kupu-kupu memiliki nilai jual yang lebih tinggi untuk dipasarkan dan juga sebagai koleksi. Prinsip persilangan yaitu untuk menghasilkan turunan (hibrida) dengan penampilan atau karakter yang lebih baik dari pada tetuanya. Dalam hal kupu-kupu, maka karakter yang diharapkan adalah tampilan morfologi hibrida yang lebih baik dari tetuanya.
Berdasarkan pemikiran tersebut, penelitian mengenai teknik persilangan kupu-kupu ini dilakukan. Teknik persilangan kupu-kupu di PT Kupu-Kupu Taman Lestari, Tabanan, Bali diharapkan dapat menjadi acuan atau salah satu percontohan bagi pengembangan penangkaran kupu-kupu di Indonesia.
1.2 Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan:
1. Mengkaji manajemen pemeliharaan kupu-kupu persilangan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari, Tabanan Bali.
2. Mengkaji persilangan dan tingkat keberhasilan persilangan kupu-kupu di PT Kupu-Kupu Taman Lestari, Tabanan Bali.
3. Menganalisis perbedaan penampilan morfologi hibrida dengan tetuanya. 1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai bahan masukan untuk pengelolaan dan pengembangan teknik persilangan kupu-kupu di PT Kupu-Kupu Taman Lestari.
2. Menambah pengetahuan dalam bidang pengelolaan dan persilangan kupu-kupu.
3. Menambah data dan informasi mengenai pengelolaan dan teknik persilangan kupu-kupu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bioekologi Kupu-Kupu
Kupu-kupu merupakan salah satu jenis serangga yang masuk ke dalam ordo Lepidoptera, yang berasal dari kata lepis yang berarti sisik dan pteron yang berarti sayap. Kupu-kupu banyak dijumpai dalam berbagai tipe habitat mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dari 0-2.000 mdpl (Sihombing 1999) dan lebih banyak dijumpai di daerah tropika (Amir & Noerdjito 1990).
Lepidoptera mempunyai sisik-sisik pada sayapnya, sisik-sisik ini akan lepas seperti debu bila dipegang (Borror et al. 1996). Sisik-sisik ini memberi keanekaragaman warna dan corak pada sayap kupu-kupu. Menurut Borror et al. (1996), klasifikasi kupu-kupu secara taksonomi sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Arthopoda Kelas : Insekta Ordo : Lepidoptera Sub-ordo : Rhopalacera 2.1.1 Morfologi kupu-kupu
Kupu-kupu memiliki tubuh yang terdiri dari caput, thorax, dan abdomen. Pada thorax terdapat tiga pasang kaki dan terdapat alat kelamin serta anus pada ruas abdomen yang merupakan ciri lain dari serangga ini. Setiap bagian tubuh kupu-kupu tertutup lapisan yang lembut, berbulu halus, dan berwarna mencolok. Tubuh kupu-kupu dilapisi oleh chitin dan tersusun dalam cincin-cincin yang seragam yang dipisahkan oleh membran fleksibel (Smart 1976).
Struktur dari masing-masing bagian tubuh kupu-kupu sebagai berikut : 1. Caput (kepala)
Kepala kupu-kupu terdiri dari enam bagian dengan gerakan kepala yang terbatas. Tiga bagian pertama berasosiasi dengan tiga komponen sensori yaitu mata majemuk, mata tunggal, dan antena atau sungut. Tiga bagian lainnya berasosiasi dengan bagian mulut. Kupu-kupu memiliki dua jenis mata yaitu mata
majemuk dan mata tunggal. Mata majemuk terletak di kedua sisi kepala dan tersusun oleh unit optik yang disebut omatidia sedangkan mata tunggal kupu-kupu terletak tersembunyi tertutup oleh rambut-rambut halus (Noerdjito & Aswari 2003).
2. Thorax (dada)
Thorax merupakan bagian tengah dari tubuh kupu-kupu yang berfungsi sebagai alat penggerak, dimana kaki dan sayap menempel. Toraks kupu-kupu terbagi menjadi tiga segmen yaitu protorax, mesotorax, dan metatorax. Protorax menjadi tempat melekatnya kaki depan, mesotorax menjadi tempat melekatnya kaki tengah, dan metatorax menjadi tempat melekatnya kaki belakang dan pasangan sayap belakang (Noerdjito & Aswari 2003).
3. Abdomen (perut)
Abdomen terdiri dari sepuluh segmen, tetapi hanya tujuh sampai delapan segmen yang mudah dilihat. Segmen terakhir dari abdomen adalah alat kelamin. Pada kupu-kupu jantan terdiri dari bagian penjepit, sedangkan pada kupu-kupu betina segmen tersebut berubah menjadi ovipositor (alat untuk meletakkan telur). Pada sisi-sisi bagian perut juga terdapat spirakel yang berjumlah enam hingga tujuh pasang spirakel. Pada bagian dalam perut terdapat alat pencernaan, jantung, organ ekskresi, organ kelamin, dan sistem otot yang kompleks (Noerdjito & Aswari 2003). Bagian tubuh kupu-kupu dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Bagian tubuh kupu-kupu. (sumber : Sihombing 1999)
2.1.2 Klasifikasi kupu-kupu
Klasifikasi dalam penamaan ilmiah menurut Symposium Royal Entimology
Society (1984) diacu dalam Sihombing (1999) digolongkan ke dalam beberapa
famili, yaitu:
1. Hespiridae (Skipers, 3.500 spp.)
Dari segi evolusi famili ini merupakan jenis kupu-kupu yang paling primitif dan sedikit mirip dengan ngengat. Memiliki tubuh yang gemuk, pendek, dan kuat. Jarak antar antena agak jauh. Sayapnya berdiri atau rata pada saat istirahat. Sayapnya berwarna coklat, gelap, dan kekuningan. Ulat biasanya berada pada gulungan daun.
2. Lycanidae (Coppers, 6.000 spp.)
Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran kecil sampai sedang (15-80 mm), agak lemah dan mudah rusak. Memiliki tiga pasang kaki, kaki depan jantan memiliki satu jari, pada betina memiliki dua jari. Kupu-kupu pada famili ini memiliki sayap berukuran pendek dan sering berwarna cerah seperti logam. Pada bagian atas sayap biasanya berwarna lebih gelap, sel sayap belakang terbuka, sayap betina lebih bulat. Bentuk ulat seperti bekicot dan berbulu.
3. Nymphalidae (Owls, Saturn, 6.000 spp.)
Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran sedang sampai besar (25-130 mm), sepasang kaki depan mereduksi sampai tidak berfungsi sehingga terlihat hanya memiliki dua pasang kaki, terutama pada jantan. Famili ini dapat terbang cepat dan kuat, suka pada sinar matahari, dan berbau busuk. Memiliki sayap berwarna cerah dan antena yang berukuran pendek (separuh dari panjang sayap). Ulat berbulu dan ekor terbagi dua. Kepompong tergantung dengan kepala ke bawah.
4. Papilionidae (Swallowtails, 700 spp.)
Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran sedang sampai besar, memiliki tiga pasang kaki, kaki depan memiliki taji. Memiliki sayap berukuran besar, sering terdapat ekor pada sayap belakang. Ulat memiliki tanduk (osmeterium) yang mempunyai bahu, kepompong berduri, terikat di pinggang dengan benang sutera. Telur bulat dengan warna putih hingga kuning.
5. Pieridae (White, Yellows, 1.000-2.000 spp.)
Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran kecil sampai sedang (25-100 mm). Memiliki tiga pasang kaki, sayap tidak berekor dan biasanya berwarna putih atau kuning, sel sayap belakang tertutup. Famili ini dapat terbang jauh (beberapa spesies mempunyai sifat migrasi), sering ditemukan dalam jumlah banyak di sekeliling air. Ulat berwarna hijau atau coklat, telanjang atau sedikit berbulu, tidak memiliki tanduk atau duri. Kepompong tergantung dengan kepala ke atas, kedua ujung agak tajam. Telur tajam pada kedua sisi.
2.1.3 Siklus hidup kupu-kupu
Kupu-kupu merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna, semasa hidupnya kupu-kupu melalui empat fase perkembangan, yaitu : telur, ulat (larva), kepompong (pupa), dan kupu-kupu dewasa (imago). Setiap fase memiliki periode tertentu, lama periode pada tiap fase dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Fase perkembangan kupu-kupu.
Fase Perkembangan Lama Waktu
Perkawinan 6-8 jam
Masa persiapan telur 3-5 hari
Telur 10-16 hari
Larva 2-3 minggu
Kepompong 3-4 minggu
Kupu-kupu 3-4 minggu
Sumber: Sihombing (1999).
Keempat fase metamorfosis menurut Pallister (1986) sebagai berikut: 1. Telur
Telur kupu-kupu berukuran kecil, berbentuk bulat, bulat telur, atau agak panjang. Warna telur beraneka ragam tergantung dari jenisnya, cangkang telur berpola pahatan ataupun halus. Bagian bawah telur selalu rata dan pada bagian atas telur terdapat lubang yang kecil disebut micropile yang berfungsi sebagai tempat masuknya spermatozoid ke dalam telur. Kupu-kupu betina biasanya meletakkan telurnya di balik atau berada dekat dengan tumbuhan pakan dari serangga mudanya.
2. Larva
Fase larva atau ulat merupakan satu-satunya fase metamorfosis yang mengalami proses pertumbuhan. Larva pada kebanyakan kupu-kupu merupakan pemakan tumbuhan, beberapa jenis lainnya memakan daging, seperti pemakan kutu daun dan kutu perisai. Larva memakan tumbuhan dengan sangat rakus, apabila kulit tubuhnya mengetat maka kulit ini akan berganti mengikuti pertumbuhan tubuhnya. Rata-rata larva berganti kulit sebanyak 5 atau 6 kali dan beberapa jenis larva dapat berganti kulit hingga 20 kali. Larva memiliki 3 pasang kaki sejati pada setiap segmen toraksnya dan 1-5 pasang kaki pengganti pada bagian abdomen. Kupu-kupu memiliki mata sederhana dan tersusun dalam pasangan, terdapat 2-6 pasang pada setiap sisi kepala.
3. Pupa
Fase pupa atau kepompong merupakan fase yang terjadi setelah larva mengalami sejumlah pergantian kulit, dan fase ini merupakan suatu periode tidak bergerak. Fase ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan atau lebih tergantung jenisnya. Kebanyakan pupa kupu-kupu didapati terpaut pada suatu benda tetap yang sedikit jauh dari tanah. Beberapa jenis menggantungkan kepalanya ke arah bawah melalui selapis sutera yang dipintal oleh ulat tersebut pada suatu benda yang terlindung sebelum berganti kulit.
4. Imago
Fase imago atau kupu-kupu dewasa dimulai bersamaan dengan pergantian kulit terakhir. Kupu-kupu keluar melalui selubung belakang dari pupa yang terbelah, transformasi kupu-kupu ini biasanya terjadi pada malam hari. Pada awal fase ini kupu-kupu masih sangat lemah dan memerlukan beberapa waktu untuk merentangkan sayapnya yang masih lembab. Setelah beberapa saat semua angota badannya berfungsi dan kupu-kupu segera dapat terbang bebas mencari makan dan melakukan perkawinan.
2.1.4 Aktivitas kupu-kupu
Kehidupan kupu-kupu dipengaruhi oleh temperatur lingkungannya. Sinar matahari pagi diperlukan kupu-kupu untuk mengeringkan sayapnya yang lembab sehingga sayap dapat digunakan untuk terbang. Menurut Sihombing (1999) pada cuaca dingin kupu-kupu meningkatkan pembukaan sayapnya untuk mendapatkan
cahaya matahari dan meningkatkan suhu tubuh dengan cara terus berjemur. Bila suhu tubuh meningkat maka kupu-kupu akan mencari tempat berteduh.
Menurut Krafiani (2010), kupu-kupu memulai aktivitas terbang pada pagi hari pukul 07.30 untuk mendapatkan sinar matahari agar dapat mengeringkan sayapnya. Kupu-kupu melakukan aktivitas mendekati bunga kemudian menjulurkan probiosis untuk menghisap nektar (nectaring) paling banyak dilakukan pada pukul 08.00-09.00, kegiatan nectaring ini lebih banyak dilakukan oleh betina dari pada jantan karena kupu jantan fokus pada pencarian betina dan jarang melakukan nectaring. Pada pukul 13.00-17.00 kupu-kupu cenderung lebih banyak berteduh karena pada siang hari matahari semakin terik dan suhu lebih tinggi dibanding pagi hari. Kupu-kupu beristirahat pada tempat-tempat yang terlindung dari sengatan matahari secara langsung yaitu di daun-daun yang teduh. Sedangkan pada sore hari aktivitas kupu-kupu cenderung berkurang karena matahari mulai melemah dan kupu-kupu kembali ke tempat istirahatnya.
2.1.5 Reproduksi kupu-kupu
Aktivitas kawin dapat dilakukan betina sekitar dua jam setelah menjadi kupu-kupu dewasa (imago), sedangkan pada kupu-kupu jantan baru dapat melakukan kawin satu atau dua hari kemudian setelah menjadi imago (Krafiani 2010). Ciri-ciri kupu-kupu yang akan kawin yaitu kupu-kupu jantan dan betina terbang secara berpasangan, ketika terjadi perkawinan maka kupu-kupu akan hinggap di daun-daun pohon, bunga-bungaan, atau pada dinding kandang.
Perkawinan berlangsung antara satu sampai dua hari dengan cara menggantungkan diri, posisi sayap terbuka, bagian ujung abdomen jantan menjepit ujung abdomen betina. Tiga atau empat hari setelah perkawinan kupu-kupu betina siap bertelur, kupu-kupu-kupu-kupu betelur di sekitar tumbuhan pakan larva dengan meletakkannya di bawah permukaan daun. Selama hidupnya kupu-kupu betina menghasilkan telur 1-30 butir dalam satu hari. Banyaknya telur tergantung dari jenis kupu-kupu (Sihombing 1999).
2.1.6 Anatomi alat reproduksi kupu-kupu 1. Alat kelamin jantan
Menurut Rob dan Preston (1999), kupu-kupu memiliki dua tegumen yang terpisah, dapat terpisah atau lebih sering menyatu bersama-sama sebagai sebuah struktur tunggal. Tegumen terletak di posisi dorsal pada perut di segmen 5 dan 6. Sperma yang dihasilkan disimpan dalam tempat penyimpanan yang disebut vesika. Menurut Matsuka (2001), kupu-kupu jantan memiliki valva yang besar dan keras, memiliki distal, dan berkurangnya bulu pada valva. Valva berwarna kuning, putih, dan hitam serta dapat terbuka dan tertutup seperti rahang pada saat senggama.
Gambar 2 Struktur organ reproduksi jantan. (sumber: Scoble 1995)
2. Alat kelamin betina
Menurut Matsuka (2001), kupu-kupu betina tidak memiliki valva, tetapi memiliki bulu dan distal. Lubang senggama membuka antara segmen abdomen 7 dan 8. Meskipun ostium letaknya tersembunyi namun ketika betina dirangsang maka ostium akan terbuka. Menurut Scoble (1995), alat kelamin betina merupakan saluran telur yang menghubungkan masing-masing dua indung telur. Saluran ini merupakan saluran yang menuju ke papilia dan terhubung ke kloaka.
Gambar 3 Struktur organ reproduksi betina. (sumber: Scoble 1995)
2.2 Penangkaran Kupu-kupu
Penangkaran adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan budidaya baik tumbuhan maupun satwa liar dengan maksud mempertahankan kelestarian atau eksistensi tumbuhan dan satwa liar tersebut atau memperbanyak populasinya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Basuni 1987). Tujuan penangkaran adalah untuk mendapatkan spesimen tumbuhan dan satwaliar dalam jumlah, mutu, kemurnian jenis dan keanekaragaman genetik yang terjamin, untuk kepentingan pemanfaatan sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap populasi alam, selain itu penangkaran juga bertujuan untuk mendapatkan kepastian secara administratif maupun secara fisik bahwa pemanfaatan spesimen tumbuhan atau satwaliar yang dinyatakan berasal dari kegiatan penangkaran adalah benar-benar berasal dari kegiatan penangkaran. Kegiatan penangkaran meliputi pengumpulan bibit atau induk, pembiakan atau perkawinan atau penetasan telur, pembesaran anak, serta restocking (Thohari 1987).
Menurut Departemen Kehutanan (1996), kegiatan penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Penangkaran kupu-kupu dapat berhasil bila
dapat terbentuk kondisi lingkungan buatan yang sesuai untuk hidup dan perkembangbiakakan kupu-kupu. Untuk itu perlu pengetahuan tentang siklus hidup, jenis kelamin, perilaku kawin genetik serta komponen habitatnya seperti suhu, cahaya, kelembababn udara, iklim/variasi musim, sumber pakan, tempat berlindung dan berkembangbiak.
2.2.1 Pemeliharaan kupu-kupu
Pemeliharaan kupu-kupu merupakan salah satu upaya untuk menjaga dan menyelamatkan kupu dari ancaman kepunahan. Dalam pemeliharaan kupu-kupu diperlukan sarana untuk menunjang kehidupan kupu-kupu-kupu-kupu yaitu berupa kandang. Menurut Syaputra (2011), jenis kandang dibedakan menurut fungsinya yaitu kandang reproduksi, kandang pemeliharaan telur, kandang pemeliharaan larva, dan kandang pemeliharaan kupu-kupu. Selain itu, pemilihan jenis pakan merupakan hal penting dalam kegiatan pemeliharaan kupu-kupu. Jenis tanaman yang perlu disediakan dalam kegiatan pemeliharaan kupu-kupu yakni tanaman pakan larva, tanaman pelindung, dan tanaman nektar bagi kupu-kupu dewasa.
2.2.2 Hibridisasi (perkawinan silang)
Hibridisasi atau perkawinan silang merupakan proses perkawinan silang antara dua individu untuk merubah susunan gen dengan tujuan memperbaiki kualitas individu sesuai dengan karakteristik yang diinginkan manusia. Menurut Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2006, persilangan adalah cara perkawinan yang perkembangbiakan dilakukan melalui perkawinan antara hewan-hewan dari satu spesies tetapi berlainan rumpun.
Sifat anak dari hasil hibridisasi merupakan sifat gabungan dari kedua induknya. Sifat unggul suatu spesies dapat diketahui dengan mempelajari gen (genotipe) yang akan dihibridisasi. Gen dominan adalah gen yang lebih unggul dari gen lainnya dalam satu lokus, sehingga akan menutup penampakan dari gen lain. Sedangkan gen resesif adalah gen yang memiliki pengaruh yang lebih kecil dan merupakan gen yang tertutup penampakan oleh gen lainnya (Suryo 2001).
Proses perkawinan silang dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Di bawah ini dijelaskan mengenai macam-macam proses perkawinan silang, yaitu :
1) Langsung
Perkawinan silang langsung yaitu dengan menyatukan hewan jantan yang diketahui mempunyai sifat unggul dengan betina tertentu yang juga mempunyai keunggulan tertentu, sehingga diharapkan akan didapat keturunan yang lebih baik (Pratiwi & Rochmah 2010).
2) Tidak langsung
Perkawinan tidak langsung yaitu dengan kawin suntik (inseminasi buatan) adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari hewan jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun (Rafzunnella 1983).
Teknik persilangan yang diterapkan dalam mengawinkan kupu-kupu menggunakan teknik persilangan langsung, yaitu dengan menyatukan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina dalam keadaan saling membelakangi. Jenis kupu-kupu yang telah disilangkan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari berasal dari famili Papilionidae yaitu O.priamus dan O.croesus. Kupu-kupu jenis ini memiliki ukuran sayap yang besar dan corak sayap yang menarik sehingga kupu-kupu ini menarik bagi kolektor kupu-kupu. Morfologi dari spesies kupu-kupu yang akan dilakukan persilangan adalah sebagai berikut :
1. Ornithoptera priamus
Kupu-kupu jantan berwarna hijau dengan panjang sayap 70 mm. Terdapat warna hitam dengan bentuk hampir lonjong pada bagian discal sayap atas yang dikelilingi oleh warna hijau pada bagian atas dan bawah. Terdapat pola warna hitam di sepanjang tepi sayap. Sayap bawah berwarna hijau dengan tepi sayap berwarna hitam. Kupu-kupu betina berwarna hitam dengan garis putih pada sayap atas dan pola warna putih pada sayap bagian bawah. Pada masing-masing sayap bawah terdapat empat titik hitam (Syaputra 2011).
(a) (b)
Gambar 4 Ornithoptera priamus (a) Jantan, (b) Betina. (sumber: Otani dan Kimura1998)
2. Ornithoptera croesus
Kupu-kupu dengan panjang sayap 70 mm, sayap atas berwarna kuning keemasan, terdapat warna hitam pada bagian discal sayap. Pada jantan terdapat warna kekuningan pada bagian costal dan terdapat empat titik hitam pada masing-masing sayap bawah. Kupu-kupu betina pada bagian sayap atas berwarna hitam dengan garis putih pada sayap atas dan pola warna putih pada sayap bagian bawah. Terdapat warna hitam pada tepi sayap dan enam titik hitam pada masing-masing sayap bawah.
(a) (b)
Gambar 5 Ornithoptera croesus (a) Jantan, (b) Betina. (sumber: Otani dan Kimura1998)
2.3 Pemanfaatan Kupu-Kupu
Kupu-kupu merupakan sumberdaya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Indonesia. Keberadaan kupu-kupu mempunyai fungsi ganda. Pertama, sebagai satwa yang membantu penyerbukan jenis
tumbuhan-tumbuhan tertentu. Kedua, keindahan warna tiap-tiap jenis perlu dimanfaatkan bagi kehidupan manusia secara berkesinambungan (Departemen Kehutanan 1996). Menurut Amir dan Noerdjito (1990), karena kupu-kupu memiliki sebaran geografis yang luas, keanekaragaman kupu-kupu dapat memberikan informasi yang sangat memuaskan dalam studi lingkungan, sebagai indikator lingkungan serta perubahannya yang mungkin terjadi. Kupu-kupu juga memberikan andil dalam mempertahankan keseimbangan alam. Sedangkan, menurut Sihombing (1999), manfaat kupu-kupu antara lain :
1. Membantu penyerbukan tanaman, misalnya Euploea callithoe, Papilio
iswara, Ornitopthera spp.
2. Manfaat keindahan (hiasan dinding, meja, penindih kertas, tatakan gelas, tirai, dompet)
3. Bahan penelitian biologis
4. Bahan industri, misalnya ulat sutera (Bombyx mori)
5. Sumber protein, misalnya larva pisang Erynotathrax, larva kupu-kupu raksasa yang dianggap sebagai hidangan enak di Meksiko
6. Rekreasi (dipelihara di rumah kaca untuk ditonton) 7. Koleksi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari dengan alamat Jalan Batu Karu, Sandan Lebah, Sesandan Kabupaten Tabanan, Propinsi Bali. Pengambilan data dilakukan pada bulan April-Juli 2012. Lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Lokasi penelitian.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian meliputi buku identifikasi kupu-kupu Birdwings Butterflies (Otani & Kimura 1998), termometer dry-wet, pinset, kamera, penggaris, dan alat tulis. Bahan yang digunakan sebagai objek penelitian adalah kupu-kupu jantan O. priamus dan betina O. croesus sebagai satwa yang disilangkan, masing-masing jenis sebanyak dua ekor.
3.3 Jenis Data 3.3.1 Data primer
Data primer adalah data yang diambil atau diperoleh langsung dari lokasi penelitian. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Data primer penelitian
Jenis Data Variabel
A. Manajemen Pemeliharaan
1. Pemeliharaan kupu-kupu persilangan Penanganan pada tiap fase hidup kupu-kupu persilangan
2. Perkandangan Ukuran, suhu, kelembaban, fasilitas kandang 3. Pakan kupu-kupu Jenis pakan, pengaturan pakan
B. Persilangan
1. Teknik persilangan
Persiapan persilangan, pelaksanaan persilangan,
pemantauan persilangan 2. Tingkat keberhasilan
Jumlah individu yang berhasil hidup pada tiap fase
C. Kupu-Kupu
1. Morfologi kupu-kupu tetua
a. Kualitatif Pola warna sayap
b. Kuantitatif Panjang tubuh (caput, thorax, abdomen) panjang sayap, uji T-Student
2. Morfologi kupu-kupu hasil persilangan
a. Kualitatif Pola warna sayap
b. Kuantitatif Panjang tubuh (caput, thorax, abdomen)
panjang sayap, uji T-Student
3.3.2 Data sekunder
Data sekunder adalah data yang didapat secara tidak langsung dari objek penelitian dan merupakan data yang sudah ada yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai metode sehingga tinggal dicari dan dikumpulkan untuk mendukung data primer. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi bioekologi kupu-kupu, siklus hidup kupu-kupu, dan reproduksi kupu-kupu.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data primer
Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan cara pengamatan, pengukuran dan wawancara di lokasi penelitian.
1. Data mengenai manajemen pemeliharaan meliputi pemeliharaan kupu-kupu, perkandangan, dan pakan kupu-kupu. Data pemeliharaan kupu-kupu diperoleh dengan pengamatan dan wawancara mengenai penanganan pada tiap fase hidup kupu-kupu. Pengambilan data kandang meliputi ukuran, suhu, kelembaban, fasilitas kandang Pengukuran suhu kandang dilakukan dengan menggunakan termometer dry-wet. Pengukuran suhu dilakukan pada pagi (pukul 08.00), siang (pukul 12.00), dan sore (pukul 17.00) dengan cara menggantungkan termometer di dalam kandang. Data tanaman pakan diperoleh dengan pengamatan dan wawancara yang meliputi jenis pakan dan pengaturan pakan kupu-kupu.
2. Data persilangan meliputi teknik persilangan dan tingkat keberhasilan persilangan. Teknik persilangan diperoleh melalui pengamatan, pengukuran, dan wawancara yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan pemantauan persilangan. Wawancara dilakukan secara mendalam (in-depth interview) yaitu wawancara yang dilakukan secara mendalam dan berulang untuk memahami jawaban dari pertanyaan yang diajukan secara luwes, terbuka, tidak baku, dan informal. Pengambilan responden untuk wawancara dilakukan dengan pendekatan purposive sampling. Pada purposive sampling, responden yang dijadikan contoh adalah responden yang memiliki keterkaitan terhadap data yang akan dicari dalam melakukan penelitian. Responden yang diwawancarai yaitu pimpinan PT Kupu-Kupu Taman Lestari dan karyawan khususnya petugas (animal keeper). Tingkat keberhasilan diperoleh melalui analisis kuantitatif yang meliputi tingkat keberhasilan pada setiap fase hidup kupu-kupu hasil persilangan dan tingkat keberhasilan hidup total hasil persilangan.
3. Pengambilan data morfologi kupu-kupu dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan menganalisis perbedaan penampilan antara hasil persilangan dengan tetuanya, sedangkan data
kuantitatif diperoleh melalui pengukuran panjang tubuh (caput, thorax, abdomen) dan panjang sayap kupu-kupu, serta dilakukan uji T-Student untuk mengetahui perbedaan antara hasil persilangan dengan tetua. Pengukuran tubuh kupu-kupu dan identifikasi dilakukan untuk mengetahui nama spesies dan mengetahui perbedaan diantara setiap spesies yang akan disilangkan dan hasil persilangan. Identifikasi venasi sel sayap, pola warna dan warna sayap pada kupu-kupu dilakukan dengan mengacu pada metode Otsuka (1988). Peubah peubah yang diukur dan diidentifikasi dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8.
Gambar 7 Venasi sel sayap kupu-kupu dan pengukuran panjang sayap. L: panjang sayap, A: basal, B: discal/central, C: submarginal, D: marginal, E: costal, F: apical, G: subapical, H: tornus, dan I: dorsal.
Gambar 8 Pengukuran tubuh kupu-kupu.
A: panjang caput, B: panjang thorax, C: panjang abdomen
3.4.2 Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari studi literatur dengan mengumpulkan data melalui studi pustaka dari beberapa informasi yang dijadikan referensi (acuan) untuk mendukung data yang akan dihasilkan. Data ini berguna untuk menunjang keabsahan dan pendalaman dalam menganalisis data yang akan dilakukan. Data sekunder yang dikumpulkan antara lain bioekologi kupu, siklus hidup kupu-kupu, reproduksi kupu-kupu-kupu, iklim dan curah hujan, dan kondisi biologi lokasi penelitian.
4.5 Analisis data 3.5.1 Analisis kualitatif
Data perbandingan morfologi antara hasil persilangan dengan tetua, manajemen pemeliharaan, dan persilangan kupu-kupu dianalisis secara kualitatif. Semua data yang terkumpul dianalisis berdasarkan tiga jalur analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan data yang diperoleh dari lapangan dengan meringkas dan menggolongkannya. Kegiatan ini dilakukan untuk menajamkan dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga didapat data utama yang menjadi pokok penelitian serta mendapatkan kesimpulan akhir. Penyajian data dilakukan secara naratif deskriptif yang ditunjang dengan bentuk-bentuk bagan, tabel, dan gambar untuk mempermudah dalam pemahaman. Tahap terakhir yaitu penarikan kesimpulan dilakukan untuk menghasilkan kesimpulan yang kokoh dan tepat.
3.5.2 Analisis kuantitatif
a) Tingkat keberhasilan pada setiap fase hidup kupu-kupu hasil persilangan % 𝐿𝑎𝑟𝑣𝑎 =∑ 𝑇 𝑥100%∑ 𝐿
% 𝐾𝑒𝑝𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑔 =∑ 𝐾∑ 𝐿 𝑥100% % 𝐾𝑢𝑝𝑢 − 𝑘𝑢𝑝𝑢 =∑ 𝐾𝑢∑ 𝐾 𝑥100%
Keterangan T : Telur L : Larva K : Kepompong Ku : Kupu-kupu
b) Tingkat keberhasilan hidup total hasil persilangan % 𝐻𝑇 =∑ 𝐾𝐻𝑆∑ 𝑇 𝑥100%
Keterangan:
HT : Hidup total
KHS : Kupu-kupu hasil kawin silang T : Telur
Individu berhasil disilangkan yaitu apabila kupu-kupu telah dapat menghasilkan turunan dari kupu-kupu yang disilangkan dari fase telur sampai kupu-kupu dewasa (imago).
Kriteria persentase keberhasilan hidup hasil persilangan ditetapkan dengan 3 (tiga) kategori :
1) Baik, apabila persentase hasil silangan ≥ 50% dari jumlah yang dihasilkan 2) Sedang, apabila persentase hasil silangan berkisar 30 - 49% dari jumlah
yang dihasilkan
3) Rendah, apabila persentase hasil silangan ≤ 30% dari jumlah yang dihasilkan
c) Perbandingan morfologi pada ukuran tubuh tetua dengan hasil persilangan
Teknik yang dilakukan untuk menganalisis perbandingan ukuran tubuh tetua dengan hasil persilangan yaitu menggunakan uji T-Student (Walpole 1962) dengan selang kepercayaan sebesar 95%. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan antara ukuran tubuh tetua dengan hasil persilangan berdasarkan jenis kelamin tiap persilangan yang menggunakan hipotesis dan kriteria uji yang telah ditentukan.
Hipotesis pengujian yaitu apabila :
H₀ ; μ₀ = μ₁ : morfologi kupu-kupu antara tetua dengan hasil persilangan (anakan) tidak berbeda nyata.
H₁ ; μ₀ ≠ μ₁ : morfologi kupu-kupu antara tetua dengan hasil persilangan (anakan) berbeda nyata.
Untuk kriteria uji adalah sebagai berikut :
t
hitung <t
tabel, maka terima H₀t
hitung≥t
tabel, maka terima H₁atau tolak H₀Rumus Uji T-Student : 𝑥̅ =∑𝑥𝑖𝑛 s2 =[∑𝑥𝑖2− (∑𝑥𝑖)2]/n 𝑛 − 1 s = √S2 Keterangan : 𝑥̅ : rata-rata
xi : panjang caput/ panjang thorax/ panjang abdomen/ panjang sayap s² : ragam
s : simpangan baku n : jumlah individu
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Sejarah
Penyelenggaraan Konferensi Kupu-kupu Internasional (International
Butterfly Confrens) di Ujung Pandang pada tanggal 23-27 Agustus 1993 oleh
Departemen Pariwisata Republik Indonesia, merupakan cikal bakal berdirinya
Bali Butterfly Park. Konferensi yang diikuti oleh para ahli kupu-kupu dari dalam
dan luar negeri tersebut membahas mengenai kekayaan kupu-kupu yang dimiliki Indonesia serta upaya pengelolaan dan pemanfaatannya secara lestari sekaligus memperkenalkan taman kupu-kupu alami yang berada di Bantimurung Sulawesi Selatan kepada dunia pariwisata agar menjadi contoh bagi pendirian taman-taman kupu lainnya.
Tiga bulan setelah penyelenggaraan konferensi di Ujung Pandang tepatnya 28 November 1993, dibentuklah PT Kupu-Kupu Taman Lestari sebagai pengelola dan pendiri taman kupu-kupu yang diberi nama Bali Butterfly Park. Perusahaan ini berlokasi di Bali dengan Akte Notaris No.119 dan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI Nomor C2-15.077.HT.01.04.TH.94 Tanggal 6 Oktober 1994, serta tercatat pada panitera Pengadilan Negeri Denpasar.
4.2 Letak dan Luas
PT Kupu-Kupu Taman Lestari terletak di Jalan Batu Karu, Desa Sesandan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Kawasan ini memiliki luas 1 ha terdiri dari taman yang dipasang jaring seluas 3.700 m² sebagai habitat kupu-kupu dan sisanya (6.300 m²) digunakan untuk taman bunga serta prasarana taman lainnya.
4.3 Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dimiliki PT Kupu-Kupu Taman Lestari berjumlah 15 orang terdiri dari direktur, bagian administrasi, bagian personalia, bagian penjualan tiket, bagian penjualan souvenir, bagian kebun, guide, dan bagian keamanan. Latar belakang pendidikan tenaga kerja diantaranya sarjana, SLTA, dan SLTP. Tenaga kerja ini umumnya berasal dari masyarakat lokal. Jumlah dan
tingkat pendidikan tenaga kerja dimiliki PT Kupu-Kupu Taman Lestari dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Tenaga kerja PT Kupu-Kupu Taman Lestari
No. Jabatan Jumlah Orang Pendidikan
1 Direktur 1 Sarjana 2 Administrasi 2 Sarjana 3 Personalia 2 Sarjana 4 Tiket 2 SLTA 5 Souvenir 1 SLTA 6 Guide 3 SLTA 7 Kebun 3 SLTP 8 Keamanan 1 SLTP
4.4 Iklim dan Curah Hujan
Kabupaten Tabanan termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap enam bulan sekali. Daerah Tabanan memiliki dua musim yaitu musim kemarau antara bulan April hingga Oktober dan musim hujan antara bulan Oktober hingga April. Temperatur udara bervariasi (24ºC - 31ºC) , curah hujan dalam lima tahun terakhir bervariasi antara 893,4 mm sampai 2.702,6 mm, dengan kelembaban udara 79ºC.
4.5 Demografi Penduduk
Tabanan merupakan satu dari kabupaten yang bercorak agraris dengan luas wilayah 89.333 km² atau 14,9% dari luas Pulau Bali. Secara administratif Kabupaten Tabanan terbagi menjadi 10 kecamatan, 10 kelurahan, 103 desa, 66 lingkungan, dan 663 dusun. Tahun 2000 penduduk Kabupaten Tabanan berjumlah 386.850 jiwa sehingga kepadatan penduduknya sekitar 453 jiwa/km². Laju pertumbuhan penduduk sebesar 0.17%. Sebagai daerah agraris maka mata pencaharian utama penduduknya adalah sektor pertanian, yaitu sebesar 50.16%, sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan rumah makan merupakan mata pencaharian terbesar kedua dengan persentase 15.16%, selebihnya bergerak di sektor industri rumah tangga dan pengolahan sebesar 11.27% dan sektor jasa sebesar 10.93%.
4.6 Kondisi Biologi 4.6.1 Flora
Jenis-jenis tumbuhan yang ada di sekitar lokasi penangkaran dan taman kupu antara lain kelapa (Cocos nucifera), rambutan (Nephelium lappaceum), pisang (Musa sp.), coklat (Cocoa sp.), bacang (Mangifera foetida), mangga (Mangifera indica), bambu (Bambusa sp.), cempaka (Michelia champaca), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan kopi (Coffea sp.).
4.6.2 Fauna
Jenis fauna yang terdapat di sekitar lokasi penangkaran di antaranya trenggiling (Manis javanicus), ular phiton (Phyton reticulatus), landak (Hystrix
brachyura), dan burung raja udang (Halycon sp.). Selain itu, fauna lain yaitu
kupu-kupu sebagai objek penangkaran di PT Kupu-Kupu Taman Lestari terdiri dari berbagai jenis. Jenis kupu-kupu yang ditangkarkan di PT Kupu-Kupu Taman Lestari (Bali Butterfly Park) dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4 Jenis kupu-kupu yang ditangkarkan di Bali Butterfly Park
No
Jenis
Status Perlindungan
PP No. 1999 CITES (Appendix 2)
1 Ornithoptera priamus √ √ 2 Troides helena √ √ 3 Graphium agamemnon − − 4 Pachiliopta aristolochiae − − 5 Papilio demolion − − 6 Papilio helenus − − 7 Papilio memnon − − 8 Papilio peranthus − − 9 Papilio polytes − − 10 Chetosia hypsea − − 11 Doleschalia bisaltide − − 12 Euploea phaenareta − − 13 Euploea core − − 14 Moduza procris − − 15 Vindula dejone − − Sumber : Syaputra (2011)
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Manajemen pemeliharaan 5.1.1 Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan kupu-kupu di PT Kupu-Kupu Taman Lestari menggunakan sistem pemeliharaan semi intensif. Manajemen pemeliharaan kupu-kupu persilangan terdiri dari empat aspek yaitu aspek pemeliharaan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan kepompong, dan pemeliharaan kesehatan.
5.1.1.1 Pemeliharaan telur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, perkawinan silang antara
O.priamus dengan O.croesus menghasilkan telur sebanyak 44-49 butir.
Kupu-kupu biasanya bertelur di pagi hari pada pukul 06.00-10.00. Telur-telur yang yang dihasilkan diletakkan di daun yang merupakan pakan bagi larva hasil persilangan tersebut.
Setelah kupu-kupu bertelur, telur tersebut didiamkan terlebih dahulu selama beberapa menit di daun pakannya sampai telur menjadi kering. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pemindahan telur dan mengurangi kelembaban pada telur yang baru dihasilkan supaya telur yang akan disimpan tidak mudah terserang oleh jamur. Telur-telur yang dihasilkan oleh induk betina kemudian dipindahkan ke dalam toples dengan bantuan kuas kecil, hal ini bertujuan agar telur-telur tidak rusak. Toples diberi penutup berbahan jaring halus agar telur-telur terhindar dari serangan predator, kemudian diletakkan di dalam kandang telur. Toples telur yang ditutup dengan jaring halus dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Toples telur yang ditutup jaring halus.
5.1.1.2 Pemeliharaan larva
Telur yang berada di dalam toples selama 7-11 hari kemudian menetas menjadi larva. Setelah semua telur menetas, maka larva dipindahkan ke tanaman inangnya. Tanaman yang digunakan sebagai tanaman inang yaitu sirih hutan (Aristolochia talaga). Tanaman ini merupakan tanaman merambat dengan akar tunggang. Daun berbentuk segitiga dan bagian ujung daun meruncing.
Sebelum larva dipindahkan, terlebih dahulu dilakukan persiapan terhadap kandang larva. Dahan pohon yang dijadikan tempat larva dibersihkan dengan cara merapikan ranting-ranting, membuang predator seperti semut, belalang, dan laba-laba. Adapun kriteria dalam memilih dahan pohon untuk dijadikan kandang larva, yaitu memiliki daun yang lebat, terhindar dari penyakit, dan terbebas dari sarang predator.
Setelah dahan siap, kemudian dahan ditutupi oleh kantong jaring. Dahan yang ditutupi kantong jaring dapat dilihat pada Gambar 10 (a). Pangkal dahan diberi lem tikus supaya terhindar dari serangan predator seperti semut, belalang, dan laba-laba. Pemindahan larva-larva yang baru menetas dilakukan dengan cara menggantung toples berisi larva di dahan, penutup kasa dilepas, dan dibantu dengan penjepit kain untuk menggantung toples.
Larva mengalami pergantian kulit sebanyak 5 kali selama hidupnya. Pergantian kulit pertama dinamakan instar pertama, pergantian kulit kedua dinamakan instar kedua, pergantian kulit ketiga dinamakan instar ketiga, dan seterusnya. Pergantian kulit pertama sampai pergantian kulit keempat berlangsung masing-masing selama 4 hari, sedangkan pergantian kulit kelima berlangsung selama 5-7 hari.
Larva berada di kantong jaring selama 27-33 hari. Apabila pakan larva habis, maka larva dipindahkan ke dahan lainnya. Pemindahan larva ke dahan lain diusahakan tidak menyentuh larva secara langsung. Pemindahan larva yang baik yaitu dengan memindahkan larva beserta daun atau ranting larva tersebut berada. Larva yang siap dipindahkan ke dahan lain dapat dilihat pada Gambar 10 (b).
(a) (b)
Gambar 10 (a) Pemasangan kantong jaring, (b) Larva yang siap dipindahkan.
5.1.1.3 Pemeliharaan kepompong
Setelah 27-33 hari larva akan berubah menjadi kepompong. Larva yang telah berubah kemudian dipindahkan dari tanaman inang ke kandang kepompong, hal ini dilakukan untuk memperkecil kemungkinan predator bisa memangsa. Pemindahan kepompong dilakukan dengan cara memotong ranting untuk memudahkan dalam penggantungan kepompong. Cara menggantung kepompong yaitu kepala kepompong harus tetap menghadap ke atas dan kepompong dijepit dengan menggunakan jepitan kain. Cara menggantungkan kepompong dapat dilihat pada Gambar 11.
Apabila ada kepompong yang terserang parasit harus dibuang supaya tidak menular pada kepompong lainnya. Ciri-ciri kepompong yang terserang parasit yaitu terdapat bintik hitam pada kepompong dan kepompong cenderung berubah warna dari warna kepompong aslinya. Kepompong hidup selama 19-24 hari sebelum akhirnya menetas menjadi kupu-kupu.
5.1.1.4 Perawatan kesehatan
Berdasarkan pengamatan selama penelitian, terganggunya kelangsungan hidup kupu-kupu dipengaruhi oleh keberadaan parasit, penyakit, dan predator. Gangguan yang dialami pada fase telur disebabkan adanya serangan semut. Telur yang terserang semut ditandai dengan adanya bintik hitam pada bagian tengah telur dan perubahan warna telur menjadi pucat dari warna aslinya. Menurut Parsons (1999) diacu dalam Matsuka (2001) 80-100% telur akan mati bila terserang parasit. Hal yang perlu dilakukan untuk mencegah masuknya parasit ke dalam kandang yaitu memberikan lem tikus pada setiap kaki kandang dan toples telur ditutup dengan kasa halus.
Pada fase larva, penyakit yang dialami disebabkan adanya serangan jamur. Larva yang terserang jamur ditandai dengan tubuh yang menghitam dan membusuk. Sedangkan pada fase kepompong gangguan yang dialami disebabkan karena adanya penyakit dan parasit yang ditandai dengan adanya bintik hitam pada kepompong dan terjadi perubahan warna yang menjadi pucat. Menurut Suzuki (2000) diacu dalam Matsuka (2001) 100% pupa akan mati bila terserang penyakit. Hal yang perlu dilakukan untuk antisipasi terhadap serangan penyakit yaitu dengan memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar kandang, membersihkan peralatan yang digunakan dalam pemeliharaan kupu-kupu seperti toples, kuas, penutup kasa, dan jaring, serta menjaga kebersihan kandang.
Selain parasit dan penyakit, keberadaan predator juga harus dihindari. Pada setiap fase kehidupan kupu-kupu memiliki predator yang berbeda. Pada fase telur pemangsa yang sering ditemui adalah semut. Predator merupakan hewan pemangsa bagi kupu-kupu yang mengganggu pertumbuhan dan dapat mengakibatkan kematian bagi kupu-kupu. Pada fase larva pemangsa yang sering ditemui seperti kumbang dan belalang, sedangkan pada fase kepompong adalah kadal. Hal yang perlu dilakukan untuk antisipasi terhadap serangan predator yaitu mencegah masuknya hewan pemangsa ke dalam kandang.
Gambar 12 Larva terserang penyakit.
5.1.2 Perkandangan
PT Kupu-Kupu Taman Lestari sebagai perusahaan yang melakukan persilangan kupu-kupu memiliki beberapa jenis kandang untuk persilangan yang dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu kandang isolasi, kandang reproduksi, kandang telur, kandang larva, dan kandang kepompong.
5.1.2.1 Kandang isolasi
Kandang isolasi merupakan kandang yang digunakan sebagai tempat isolasi dari pakan utama bagi kupu-kupu sebelum disilangkan supaya kupu-kupu betina tidak mengkonsumsi makanan sebelum dikawinsilangkan. Apabila kupu-kupu betina makan sebelum dikawinsilangkan maka abdomennya akan mengeras dan kupu-kupu betina tidak mau untuk disilangkan.
Kandang ini berada di dalam kandang reproduksi, berbentuk sederhana dengan ukuran 1m x 1m x 1.5m. Rangka kandang terbuat dari besi dan ditutupi oleh jaring besi dengan atap kandang yang terbuat dari kayu. Suhu kandang berkisar antara 25-27 ºC dengan kelembaban 76-78 % Kandang ini bersifat tidak permanen dan dapat dipindah-pindahkan. Kandang isolasi dapat dilihat pada Gambar 13.
(a) (b)
Gambar 13 (a) Kandang isolasi, (b) Sketsa kandang isolasi. 5.1.2.2 Kandang reproduksi
Kandang reproduksi merupakan kandang yang digunakan sebagai tempat mengawinkan induk kupu-kupu yang akan disilangkan. Kandang ini memiliki ukaran 20m x 12m x 3m dan berjumlah satu unit. Rangka kandang terbuat dari tiang beton berukuran 0.1m x 0.1m x 3m dan besi pipa berukuran 6 inci. Suhu kandang berkisar antara 25-27 ºC dengan kelembaban 76-78 %. Kandang ini ditutupi oleh jaring/net dan bersifat permanen.
Kandang reproduksi juga digunakan sebagai tempat mengawinkan induk kupu yang akan ditangkarkan. Agar tidak terjadi kontaminasi antara kupu-kupu yang ditangkarkan dengan kupu-kupu-kupu-kupu yang disilangkan maka dalam penggunaan kandang dilakukan secara bergantian. Apabila akan dilakukan perkawinan silang kupu-kupu, tidak dilakukan perkembangbiakan kupu-kupu untuk ditangkarkan. Kandang reproduksi dapat dilihat pada Gambar 14.
(a) (b)
5.1.2.2 Kandang telur dan kepompong
Kandang telur dan kepompong merupakan kesatuan kandang yang penggunaannya dilakukan secara bergantian. Kandang ini berfungsi sebagai tempat meletakan telur-telur yang telah dipanen dari kandang reproduksi dan sebagai tempat pemeliharaan kepompong yang telah dipanen dari kandang larva. Kandang ini memiliki bentuk sederhana, tersusun dari balok kayu berukuran 0.05m x 0.05m x 1.5 m dan atap kandang terbuat dari seng. Kandang terdiri dari dua tingkat dengan ukuran kandang 1m x 0.8m x 1.5m dan disekat menggunakan jaring kawat. Tingkat pertama digunakan sebagai tempat peletakan telur-telur dengan kapasitas 50 toples, disertai dengan alas yang terbuat dari papan kayu. Tingkat kedua digunakan sebagai tempat peletakan kepompong dengan kapasitas ±80 ekor. Jaring kawat selain sebagai penyekat juga digunakan sebagai tempat menggantungkan kepompong. Kepompong digantung dengan bantuan alat penjepit. Agar kandang terhindar dari hama dan serangan predator maka pada ujung kaki-kaki kandang diberi lem tikus. Kandang telur dan kepompong dapat dilihat pada Gambar 15.
(a) (b)
Gambar 15 (a) Kandang telur dan kepompong, (b) Sketsa kandang telur dan kepompong.
5.1.2.3 Kandang larva
Kandang larva merupakan kandang yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan larva. Kandang pemeliharaan larva berbentuk kantong jaring dengan ukuran 1.5m x 1m untuk menutupi dahan daun dari serangan predator, suhu
berkisar antara 24-27 ºC dengan kelembaban 77-80 %. Jaring yang digunakan merupakan jaring kasar dan kaku akan tetapi masih dapat ditembus cahaya matahari, sehingga fotosintesis tanaman tidak terganggu. Pangkal pada dahan diberi lem tikus agar larva terhindar dari serangan predator.
Sama halnya dengan kandang larva untuk penangkaran, jaring yang digunakan juga terbuat dari jaring kasar dan kaku tetapi tidak menghambat tanaman untuk melakukan fotosintesis. Jaring untuk keperluan penangkaran memiliki ukuran yang lebih besar yaitu 2m x 1.5m.
Terdapat beberapa kriteria dalam memilih dahan pohon untuk dijadikan kandang larva, yaitu memiliki daun yang lebat, terhindar dari penyakit, dan terbebas dari sarang predator. Kandang larva dapat dilihat pada Gambar 16 (a).
(a) (b)
Gambar 16 (a) Kandang larva, (b) Sketsa kandang larva.
5.1.3 Pakan kupu-kupu
Pakan merupakan aspek penting dalam pemeliharaan kupu-kupu. Pakan yang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan dan reproduksi kupu-kupu. Berdasarkan jenisnya, pakan dibedakan menjadi dua kategori yaitu pakan alami dan pakan buatan. Deskripsi dari masing-masing kategori pakan kupu-kupu dipaparkan sebagai berikut:
5.1.1.3 Pakan alami
Pakan alami merupakan pakan yang berasal dari tanaman dan berada di dalam kandang kupu-kupu. Tanaman yang ditanam sebagai pakan diutamakan jenis-jenis yang berfungsi sebagai pakan kupu-kupu dan pakan larva. Berdasarkan
jenis tanamannya, pakan alami terbagi menjadi dua jenis yaitu tanaman pakan larva dan tanaman pakan kupu-kupu.
Tanaman pakan larva atau tanaman pakan inang merupakan tanaman yang berfungsi sebagai pakan larva (ulat) dan sebagai tempat kupu-kupu bertelur. Tanaman yang digunakan sebagai pakan larva hasil persilangan antara O.priamus dan O.croesus yaitu Aristolochia tagala (sirih hutan). Menurut Matsuka (2001), kebanyakan larva kupu-kupu hanya memakan satu jenis tanaman inang atau beberapa tanaman inang yang masih dalam satu famili. Tanaman pakan larva dapat dilihat pada Gambar 17.
Gambar 17 Aristolochia tagala.
Aristolochia tagala (sirih hutan) merupakan tanaman dari famili
Aristolochiaceae. Tanaman ini merupakan tanaman merambat dengan akar tunggang. Daun berbentuk segitiga dan bagian ujung daun meruncing. Menurut Matsuka (2001), tanaman pakan kupu-kupu sayap burung (birdwings) dari famili Aristolochiaceae sebagian besar mengandung sejenis racun yang dikenal dengan nama asam aristolochic (aristolochic acid). Racun ini terdapat dalam tubuh larva, pupa, maupun imago yang berfungsi sebagai pelindung dari serangan predator.
Tanaman pakan kupu-kupu merupakan tanaman penghasil nektar yang berfungsi sebagai pakan kupu-kupu dewasa. Umumnya pakan kupu-kupu dewasa memiliki bunga yang banyak dengan warna yang cerah. Jenis tanaman penghasil nektar yang ditanam di kandang reproduksi yaitu soka merah (Ixora javanica), kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), pagoda (Clerodenrum japonicum), dan tembelekan (Lantana camara). Pakan kupu-kupu ini ditanam di dalam kandang
reproduksi sebagai pakan bagi kupu-kupu yang disilangkan yaitu O.priamus dan
O.croesus.
Kedua jenis kupu-kupu ini menyukai tanaman penghasil nektar dengan bunga yang banyak dan warna-warna yang cerah. Nektar merupakan pakan utama bagi kupu-kupu dewasa. Pakan utama penghasil nektar di tanam di dalam kandang reproduksi untuk memenuhi kebutuhan pakan kupu-kupu dewasa. Tanaman pakan kupu-kupu dapat dilihat pada Gambar 18.
(a) (b)
Gambar 18 Tanaman pakan kupu-kupu:
(a) Ixora javanica, (b) Clerodenrum japonicum. 5.1.1.4 Pakan buatan
Ketersediaan bunga-bunga yang bermekaraan saat musim kemarau biasanya hanya sedikit sehingga dibutuhkan pakan buatan untuk memenuhi kebutuhan pakan kupu-kupu. Pakan buatan yang digunakan sebagai pakan tambahan yaitu berupa cairan madu. Madu diencerkan dengan menggunakan air hingga larut. Perbandingan antara madu dan air dalam pengenceran yaitu 1:2. Pengenceran ini dilakukan agar mendapatkan tektsur cairan madu yang menyerupai dengan nektar aslinya. Madu yang telah diencerkan ditempatkan dalam sebuah wadah berupa piring dengan disertai bunga dan diletakkan di sekitar tanaman.
Menurut Syaputra (2011), nektar mengandung air, glukosa, fruktosa, sukrosa, protein, asam amino, karoten, vitamin, minyak, dan mineral esensial. Sedangkan madu mengandung glukosa, fruktosa, sukrosa, maltosa, protein, asam amino, mineral, dan sisanya berupa dekstrin (Codex Standard for Honey diacu dalam Saputro 2008). Madu memiliki komposisi kandungan nutrisi yang mirip
dengan nektar sehingga baik digunakan sebahai pakan tambahan bagi kupu-kupu. Pemberian dan penyajian pakan buatan dapat dilihat pada Gambar 19.
Gambar 19 Pakan buatan.
5.2 Persilangan
5.2.1 Teknik persilangan
PT Kupu-Kupu Taman Lestari melakukan persilangan kupu-kupu dengan menggunakan teknik persilangan secara langsung yaitu menyatukan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina tanpa bantuan alat khusus dengan posisi saling membelakangi. Berdasarkan tahapannya, teknik persilangan terbagi terbagi ke dalam tiga tahap yaitu persiapan persilangan, pelaksanaan persilangan, dan pemantauan persilangan.
5.2.1.1 Persiapan persilangan
Tahap persiapan merupakan tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan perkawinan silang. Ada tiga hal yang dipersiapkan dalam melakukan perkawinan silang yaitu, petugas, persiapan kandang, persiapan pakan, dan persiapan kupu-kupu yang akan disilangkan. Orang yang ditunjuk sebagai petugas dalam melakukan persilangan harus memiliki pengetahuan yang baik terhadap kupu-kupu dan memiliki kemampuan dalam menyilangkan. Tugas yang dijalankan oleh petugas persilangan yaitu mempersiapkan kebutuhan yang digunakan dalam melakukan perkawinan silang, menyilangkan kupu-kupu, dan memonitoring hasil persilangan pada tiap fase.
Persiapan kandang merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perkandangan dalam melakukan perkawinan silang. Kandang yang disiapkan meliputi kandang reproduksi, kandang telur dan kepompong, kandang