• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

KAJI AN EKON OM I REGI ON AL

Pr opin si Su m a t e r a Se la t a n

Kantor Bank Indonesia

(2)

Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya ”Kajian Ekonomi Regional Propinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2009” dapat dipublikasikan. Buku ini menyajikan berbagai informasi mengenai perkembangan beberapa indikator perekonomian daerah khususnya bidang moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan keuangan daerah, yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Bank Indonesia juga sebagai bahan informasi bagi pihak eksternal.

Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan data dan informasi yang diperlukan bagi penyusunan buku ini. Harapan kami, hubungan kerja sama yang baik selama ini dapat terus berlanjut dan ditingkatkan lagi pada masa yang akan datang. Kami juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak guna lebih meningkatkan kualitas buku kajian ini sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan berkah dan karunia-Nya serta kemudahan kepada kita semua dalam upaya menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan ekonomi regional khususnya dan pengembangan ekonomi nasional pada umumnya.

Palembang, Februari 2010

Ttd

(3)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GRAFIK ix

INDIKATOR EKONOMI xiii

RINGKASAN EKSEKUTIF 1

BAB I PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL 9

1.1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Sektoral Secara

Tahunan 9

1.1.1. Perkembangan Sisi Sektoral Triwulan IV 2009 9

Suplemen 1 MOMENTUM MEMBAIKNYA KONDISI USAHA MASIH TERJAGA 11

1.1.2. Perkembangan Sisi Sektoral Tahun 2009 14

1.2. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Sektoral Secara

Triwulanan 16

1.3. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Penggunaan

Secara Tahunan 23

1.3.1. Perkembangan Sisi Penggunaan Triwulan IV 2009 23

Suplemen 2 PALEMBANG MASUK LIMA BESAR KOTA TERKONDUSIF UNTUK

MEMULAI USAHA 25

1.3.2. Perkembangan Sisi Penggunaan Tahun 2009 26

1.4. Perkembangan Sisi Penggunaan Triwulanan 26

1.5. Struktur Ekonomi 27

1.6. Perkembangan Ekspor Impor 29

1.6.1. Perkembangan Ekspor 29

(5)

Suplemen 3 PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA SELATAN 2010 34

BAB II PERKEMBANGAN INFLASI PALEMBANG 37

2.1. Inflasi Tahunan 37

2.2. Inflasi Bulanan 41

Suplemen 4 PENCAPAIAN INFLASI PALEMBANG PADA 2009 SESUAI PROYEKSI 45

2.3. Pemantauan Harga oleh Bank Indonesia Palembang 47

Suplemen 5 PROYEKSI INFLASI PALEMBANG 2010 51

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH 55

3.1. Kondisi Umum 55

3.2. Kelembagaan 56

3.3. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) 56

3.3.1. Penghimpunan DPK 56

3.3.2. Penghimpunan DPK Menurut Kabupaten/Kota 57

3.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan 59

3.4.1. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Secara Sektoral 59

3.4.2. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan 60 3.4.3. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Kabupaten 61

3.4.4. Penyaluran Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro Kecil

Menengah (UMKM) 63

3.5. Perkembangan Suku Bunga Perbankan di Sumatera Selatan 64

3.5.1. Perkembangan Suku Bunga Simpanan 64

3.5.2. Perkembangan Suku Bunga Pinjaman 65

3.5.3. Perkembangan Spread Suku Bunga 66

3.6. Kualitas Penyaluran Kredit/Pembiayaan 66

3.7. Kelonggaran Tarik 67

3.8. Risiko Likuiditas 68

3.9. Perkembangan Bank Umum Syariah 68

(6)

BAB IV PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 71

4.1. Realisasi APBD Tahun 2009 71

4.2. APBD Tahun 2010 73

4.3. Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2010 di Sumatera

Selatan 76

BAB V PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 79

5.1. Perkembangan Kliring dan Real Time Gross Settlement (RTGS) 79 5.1.1. Perkembangan Kliring dan RTGS Triwulan IV 2009 79

5.1.2. Perkembangan Kliring dan RTGS Tahun 2009 82

5.2. Perkembangan Perkasan 83

5.2.1. Perkembangan Perkasan Triwulan IV 2009 83

5.2.2. Perkembangan Perkasan Tahun 2009 85

5.3. Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau 85

BAB VI PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN

KESEJAHTERAAN 87

6.1. Ketenagakerjaan 87

6.2. Pengangguran 89

6.3. Tingkat Kemiskinan 90

6.4. Nilai Tukar Petani 92

6.5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 93

Suplemen 6 TURUNNYA INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN PALEMBANG KARENA

FAKTOR MUSIMAN 95

BAB VII OUTLOOK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN INFLASI DAERAH 99

7.1. Pertumbuhan Ekonomi 99

7.2. Inflasi 102

7.3. Perbankan 103

Suplemen 7 PREDIKSI DAMPAK AC-FTA TERHADAP PEREKONOMIAN SUMATERA

SELATAN 106

(7)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera

Selatan ADHK 2000 (%) 10

Tabel 1.2 Laju Pertumbuhan Kumulatif Sektoral (yoy) PDRB Propinsi Sumatera

Selatan ADHK 2000 (%) 15

Tabel 1.3 Laju Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera

Selatan ADHK 2000 (%) 16

Tabel 1.4 Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera

Selatan (dalam Ha) 18

Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan

ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun 2008-2009 (%) 24

Tabel 1.6 Pertumbuhan Ekonomi Kumulatif (yoy) Propinsi Sumatera Selatan

ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun 2008-2009 (%) 26

Tabel 1.7 Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan

ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun 2008-2009 (%) 27

Tabel 1.8 Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Persen) 28 Tabel 1.9 Struktur Ekonomi Penggunaan Propinsi Sumatera Selatan (Persen) 29 Tabel 1.10 Perkembangan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi Sumatera

Selatan (USD) 29

Tabel 1.11 Perkembangan Bulanan Nilai Ekspor Komoditas Utama Propinsi

Sumatera Selatan (Juta USD) 30

Tabel 1.12 Perkembangan Nilai Impor Komoditas Pilihan Propinsi Sumatera

Selatan (USD) 31

Tabel 1.13 Perkembangan Bulanan Nilai Impor Komoditas Pilihan Propinsi

Sumatera Selatan (Juta USD) 31

Tabel 2.1 Statistika Deskriptif Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional, Januari

2003 – Desember 2009 41

Tabel 3.1 Pertumbuhan DPK Perbankan per Kabupaten/Kota di Propinsi

Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 58

Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Rp Juta) 59

Tabel 3.3 Perkembangan Penyaluran Kredit/Pembiayaan Perbankan per

Wilayah di Propinsi Sumatera Selatan (dalam Rp Juta) 62

Tabel 3.4 Perkembangan Bank Umum Syariah di Sumatera Selatan (Rp Juta) 69

Tabel 4.1 APBD Sumsel Tahun 2008 & Tahun 2009 (Rp Miliar) 71

Tabel 4.2 APBD 2009 dan Realisasi APBD 2009 (Rp Miliar) 73

(9)

Tabel 4.4 APBD Propinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 75 Tabel 5.1 Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Propinsi Sumatera Selatan 81 Tabel 5.2 Perputaran Cek dan Bilyet Giro Kosong Tahuanan Propinsi Sumatera

Selatan 83

Tabel 5.3 Kegiatan Perkasan di Sumsel (Rp Miliar) 83

Tabel 5.4 Kegiatan Perkasan Tahunan di Sumsel (Rp Miliar) 85

Tabel 5.5 Perkembangan Kas Titipan Lubuk Linggau (Rp Miliar) 85

Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan

Pekerjaan Utama, Februari 2007 - Agustus 2009 87

Tabel 6.2 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja Menurut Status

Pekerjaan, Februari 2007 - Agustus 2009 88

Tabel 6.3 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan, Februari 2007 -

Agustus 2009 89

Tabel 6.4 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Selatan Tahun

1993-2009 90

Tabel 6.5 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut

Daerah, Maret 2008 – Maret 2009 91

Tabel 6.6 Rata-rata Indeks Konsumsi Rumah Tangga Petani di Sumatera

Selatan 93

Tabel 6.7 Rata-rata Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Modal Petani 93

Tabel 6.8 IPM 2004-2007 Menurut Propinsi 94

Tabel 7.1 Resume Leading Economic Indicator Propinsi Sumsel Triwulan IV

2009 100

Tabel 7.2 Proporsi Ekspor Sumatera Selatan dan Proyeksi Pertumbuhan

Ekonomi Negara Tujuan Tahun 2010 102

(10)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.1 PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK

2000 9

Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel 14

Grafik 1.3 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel

ADHK 2000 16

Grafik 1.4 Kontribusi Sektor Ekonomi PDRB Propinsi Sumatera Selatan

Triwulan IV 2009 17

Grafik 1.5 Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan 17

Grafik 1.6 Perkembangan Harga Karet di Pasar Internasional 19

Grafik 1.7 Perkembangan Harga CPO di Pasar Internasional 19

Grafik 1.8 Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Bermotor 20

Grafik 1.9 Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar dan Jumlah Wisatawan 20

Grafik 1.10 Perkembangan Penjualan LPG 21

Grafik 1.11 Perkembangan Konsumsi Listrik Total dan Sektor Rumah Tangga 21 Grafik 1.12 Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Sosial dan Pemerintah 21 Grafik 1.13 Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis dan Industri 21

Grafik 1.14 Perkembangan Konsumsi Semen 21

Grafik 1.15 Perkembangan Penumpang Angkutan Udara 22

Grafik 1.16 Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Pelabuhan Boom Baru

Propinsi Sumsel 22

Grafik 1.17 Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional 23

Grafik 1.18 Perkembangan Harga Minyak Bumi di Pasar Internasional 23

Grafik 1.19 Perkembangan Kegiatan Usaha 24

Grafik 1.20 Perkembangan Volume Produksi berdasarkan Persepsi Pengusaha 27

Grafik 1.21 Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan 28

Grafik 1.22 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 30

Grafik 1.23 Perkembangan Volume Ekspor Propinsi Sumatera Selatan 30

Grafik 1.24 Perkembangan Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan

Negara Tujuan 30

Grafik 1.25 Pangsa Ekspor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Tujuan

Sept 09 - Nov 09 30

Grafik 1.26 Perkembangan Nilai Impor Propinsi Sumatera Selatan 32

(11)

Grafik 1.28 Perkembangan Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara

Asal 32

Grafik 1.29 Pangsa Impor Propinsi Sumatera Selatan berdasarkan Negara Asal

Sept 09 - Nov 09 32

Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Tahunan Palembang 37

Grafik 2.2 Inflasi Tahunan Kota Palembang per Kelompok Pengeluaran

Triwulan IV 2009 37

Grafik 2.3 Perkembangan Harga Komoditas Strategis di Pasar Internasional 38 Grafik 2.4 Perkembangan Inflasi Tahunan per Kelompok Barang dan Jasa di

Palembang 40

Grafik 2.5 Perbandingan Inflasi Tahunan Palembang dan Nasional 41

Grafik 2.6 Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang 41

Grafik 2.7 Perkembangan Inflasi Bulanan Palembang per Kelompok Barang dan

Jasa 42

Grafik 2.8 Inflasi Bulan Desember 2009 per Sub Kelompok pada Kelompok

Bahan Makanan di Palembang 43

Grafik 2.9 Event Analysis Inflasi Kota Palembang Desember 2008 - Desember

2009 43

Grafik 2.10 Perbandingan Inflasi Bulanan dan Ekspektasi Harga Konsumen 3

Bulan YAD 44

Grafik 2.11 Perbandingan Inflasi Bulanan Palembang dan Nasional 44

Grafik 2.12 Pergerakan Tingkat Harga Bulanan Berdasarkan SPH (Rupiah/Kg) 47 Grafik 2.13 Pergerakan Harga Beras di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang

(Rupiah/Kg) 48

Grafik 2.14 Pergerakan Harga Minyak Goreng di Pasar Cinde dan Pasar

Lemabang (Rupiah/Kg) 48

Grafik 2.15 Pergerakan Harga Daging Sapi di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang

(Rupiah/Kg) 49

Grafik 2.16 Pergerakan Harga Emas di Pasar Cinde dan Pasar Lemabang

(Rupiah/gram) 49

Grafik 2.17 Pergerakan Inflasi Bulanan dan Tingkat Harga sesuai SPH di Kota

Palembang (Des 2008 - Des 2009) 50

Grafik 3.1 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Perbankan Propinsi Sumatera

Selatan 55

Grafik 3.2 Jumlah Kantor Bank dan ATM di Propinsi Sumatera Selatan 56

Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK Perbankan di Propinsi Sumatera Selatan 57

Grafik 3.4 Komposisi DPK Perbankan Triwulan IV 2009 di Propinsi Sumatera

(12)

Grafik 3.5 Pangsa Penyaluran Kredit Sektoral Propinsi Sumatera Selatan

Triwulan IV 2009 60

Grafik 3.6 Pertumbuhan Kredit Menurut Penggunaan Propinsi Sumatera

Selatan 61

Grafik 3.7 Pangsa Penyaluran Kredit/Pembiayaan Menurut Penggunaan Propinsi

Sumsel Triwulan IV 2009 61

Grafik 3.8 Komposisi Penyaluran Kredit Perbankan Propinsi Sumatera Selatan

Triwulan IV 2009 Berdasarkan Wilayah 62

Grafik 3.9 Penyaluran Kredit UMKM Perbankan Propinsi Sumatera Selatan

Menurut Penggunaan 63

Grafik 3.10 Penyaluran Kredit UMKM Menurut Plafond Kredit 63

Grafik 3.11 Perkembangan Suku Bunga Simpanan Perbankan Sumatera Selatan 64 Grafik 3.12 Perkembangan Suku Bunga Pinjaman Perbankan Sumatera Selatan 65 Grafik 3.13 Perkembangan Spread Suku Bunga Perbankan Sumatera Selatan 66

Grafik 3.14 Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan 66

Grafik 3.15 Perkembangan NPL Perbankan Sumatera Selatan per Kelompok Bank 66

Grafik 3.16 Komposisi NPL Menurut Sektor Ekonomi Triwulan IV 2009 67

Grafik 3.17 Perkembangan Undisbursed Loan Perbankan Sumatera Selatan 67 Grafik 3.18 Perkembangan Risiko Likuiditas Perbankan Sumatera Selatan 68 Grafik 3.19 Perkembangan Aset, DPK, dan Kredit Bank Perkreditan Rakyat di

Propinsi Sumatera Selatan 70

Grafik 3.20 Perkembangan Rasio Likuiditas Bank Perkreditan Rakyat di Propinsi

Sumatera Selatan 70

Grafik 4.1 Perbandingan Komponen Sisi Penerimaan Realisasi APBD Sumsel

2009 (dalam Rp Miliar) 72

Grafik 4.2 Perbandingan Komponen Sisi Pengeluaran Realisasi APBD Sumsel

2009 (dalam Rp Miliar) 72

Grafik 4.3 Komposisi Belanja Pemerintah Pusat di Sumatera Selatan Tahun

2008 – 2010 76

Grafik 4.4 Komposisi Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2010 di Sumatera

Selatan 76

Grafik 4.5 Belanja Pemerintah Pusat di Sumatera Selatan Berdasarkan Satuan

Kerja Tahun 2010 77

Grafik 5.1 Perkembangan Kliring Sumsel 79

Grafik 5.2 Perkembangan RTGS Sumsel 80

(13)

Grafik 5.4 Perkembangan Bulanan Jumlah Perputaran Kliring Sumsel 81

Grafik 5.5 Perkembangan Jumlah Cek dan Bilyet Giro Kosong Sumsel 81

Grafik 5.6 Perkembangan Kliring Tahunan Sumsel 82

Grafik 5.7 Perkembangan RTGS Tahunan Sumsel 82

Grafik 5.8 Perkembangan Kegiatan Perkasan Sumsel 2008-2009 84

Grafik 5.9 Perkembangan Penarikan Uang Lusuh oleh KBI Palembang 84

Grafik 5.10 Perkembangan Penarikan Uang Lusuh Tahunan oleh KBI Palembang 84 Grafik 5.11 Perkembangan Bulanan Kas Titipan Lubuk Linggau Tahun

2008-2009 86

Grafik 6.1 Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini 90

Grafik 6.2 Indeks Harga yang diterima, Indeks Harga yang dibayar dan Nilai

Tukar Petani 92

Grafik 6.3 Perkembangan Rata-rata Nilai Tukar Petani Sumsel dan Harga

Komoditas Unggulan di Pasar Dunia 92

Grafik 7.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan 99

(14)

INDIKATOR EKONOMI

(15)
(16)

Lanjutan

(17)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(18)

Abstraksi

Perekonomian Sumatera Selatan hingga triwulan IV 2009 terus menunjukkan proses pemulihan. Selain dibantu faktor teknikal dimana puncak dampak krisis finansial global terjadi tepat pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan yang cukup signifikan seiring membaiknya harga komoditas. Inflasi cenderung mulai meningkat seiring pulihnya perekonomian, dengan realisasi akhir tahun 2009 yang berada pada kisaran proyeksi inflasi Bank Indonesia sebelumnya. Dunia perbankan menunjukkan perbaikan signifikan terutama pada penyaluran kredit yang didorong oleh baiknya prospek dunia usaha ke depan dan pemenuhan rencana bisnis bank. Perkembangan sistem pembayaran juga mencatat adanya peningkatan transaksi non tunai yang mengindikasikan peningkatan aktivitas transaksi skala besar yang terkait dengan proyek pemerintah maupun transaksi korporasi. Kendati demikian, aspek tersedianya lapangan kerja masih mengkhawatirkan dan dapat menggerus optimisme masyarakat ke depan secara kolektif.

(19)

Pada tr kinerja mengala sehingg sebesar tahun 2 perbaika peningk

Mening dibandi oleh su secara berdasa serta te

Memba karet y dilongg Untuk yang dis

Kinerja pertumb telekom sektor diperkir

iwulan IV 2 akhir tahun ami percep ga mencata 3,86% (yoy

2009 terus b an secara katan harga

katnya pert ngkan perio rvei bisnis y umum kon arkan inform

akan bahwa if dalam pe uktur jalan

baku, (iv) k an perbanka

rbatasnya sa

iknya perm yang diiring

arkannya ku beberapa k sertai denga

perekonom buhan tah munikasi yan jasa-jasa. akan masih msi rumah ta

Doing Busin ation (IFC) baik diband or “starting

k indikator pati ranking ang menem

2009 ini, pe n 2009 yang patan pertu

at pertumb

y). Proses pe berlanjut dit

gradual pa komoditas.

tumbuhan e ode yang sa

yang dilaku ndisi usaha

masi yang a masih terd ngembanga

maupun pe ebijakan da an yang din

arana dan p

intaan luar gi dengan uota produ komoditas an peningka

mian sekto unan terti g tumbuh s Berdasarkan h didorong

ngga.

ness 2010, menyatakan dingkan 14

a business” “dealing wi

g ke 6. Unt mpati ranking

erekonomia g cukup bai umbuhan m buhan ekon emulihan pa opang oleh da permint

ekonomi ta ama tahun s ukan Bank

semakin m dihimpun dapat beber an dunia us

elabuhan, ( an peratura ilai masih ti ra sarana pr

negeri terja membaikn ksi mulai se bahkan ter atan harga ju

ral triwulan nggi pada sebesar 13,7 n penggun g oleh per

World Ban

n bahwa Pa kota besa ”, Kota Pale

ith construct

tuk indikato g ke 6 dari 1

n Sumatera k. Sumatera menjadi seb

nomi kumu asca krisis fi

permintaan taan dunia,

hunan pada sebelumnya Indonesia P membaik.

dari kalan rapa faktor

aha di Sum (ii) perijinan n pemerinta nggi, dan (v roduksi.

adi terutam ya harga emester II-20

rjadi pening ual.

n IV 2009 sektor p 75%, serta p naan, pertu

rmintaan d

nk dan Int

alembang m r lainnya d mbang men

tion permits

or “registeri

14 kota besa

a Selatan m a Selatan d

esar 5,36% ulatif tahun nansial glob n domestik m

, terutama

a triwulan I a juga terko Palembang, Namun de ngan dunia

yang dinilai msel, antara dan birok ah, (v) suku vi) alih fung

a untuk ko jual menye 009 hingga gkatan perm

9 ditandai pengangkuta

peningkatan umbuhan e omestik, te

ternational

menempati i Indonesia nempati ran

s, Kota Pale

ing property

ar di Indone

mencatat iprediksi % (yoy), n 2009 bal pada

maupun melalui

IV 2009 nfirmasi

dimana emikian, a usaha

moditas ebabkan a 100%. mintaan

dengan an dan n kinerja ekonomi erutama

Finance

ranking . Untuk nking ke

embang

(20)

Berd

dasarkan st mer yakni

ggalian de ebut sediki g tercatat utama dido

11% menja

asi tahunan ingkatan se ndai denga upun faktor ada pada kis

y). Relatif re nikal, yakni

yang suda ebut juga ti aat pendap bal, sepanja dual. Diband kelompok ebabkan o ingkatan u al dan ta kelanjutan,

ubungan de

i hasil Surve ara minggu densi pen andingkan densi perub 09, mengik ernasional d mikian harga

erja perban utama pada

yaluran kre h membaik unan peny ermediasi pe

posit Ratio (L a triwulan I k terlepas d

trukturnya, sektor pe ngan pang t menurun sebesar 43 rong penur di 17,53%

n pada tri eiring prose an terus m r teknikal. In

saran proye endahnya i pencapaian h tinggi. Se idak terlepa atan dan da ang tahun dingkan den k makanan oleh permi untuk kelom

ahun baru dan harga B engan kemb

ei Pemantau uan secara

nurunan h

posisi triwu bahan harg

kuti masih dan masih a beras men

kan menga penyaluran dit juga me nya prospe yaluran kre

erbankan y LDR) dari 87 IV 2009. Di dari penuru

PDRB Sum ertanian se gsa sebesar

dibanding 3,30%. Pen runan pang

iwulan IV s pemulihan membaiknya nflasi pada a ksi Bank Ind nflasi terseb n inflasi pad elain itu, ter as dari cukup

aya beli yan 2009 tela ngan triwula jadi meng ntaan dom mpok sanda u, peningk

BBM non su bali meningk

an Harga (S umum da harga bara ulan sebelu

a yang ren rendahny cukup baik galami kena

lami pening kredit yang elonjak sign ek usaha ke

edit. Hal yang tercer 7,06% pada sisi lain, su unan BI rate

msel masih erta sektor

40,47%. kan kondis nurunan pa gsa sektor

2009 mul n perekono a harga ko

akhir 2009 donesia Pale but juga d da periode y

rkendalinya pnya pasoka ng menurun

ah mengal an sebelumn galami pen mestik yan ang, khusu katan harg ubsidi yang t katnya harga

PH) yang di apat disim ang/komodi umnya. Sep ndah masih

ya harga knya stok s

aikan.

gkatan kem g meningkat ifikan secar e depan d ini menye min dari m a triwulan III

ku bunga s e secara gra

ditopang r pertamba

Pangsa se i triwulan ngsa di se pertanian d

lai menunj mian, yang omoditas in

adalah sebe embang, yait ipengaruhi yang sama tingkat infl an bahan-b akibat kris ami perbai nya, kelomp ingkatan in ng terus usnya terka ga komodi telah sedikit a minyak du

lakukan KBI pulkan bah tas sebes erti triwula terjadi di komoditas setelah pan

mbali pada a t sebesar 24 a triwulana an pemenu ebabkan m meningkatny

2009 menj emakin men adual dan m

oleh sektor angan dan ktor primer sebelumnya ktor primer dari sebesar

ukkan tren antara lain nternasiona esar 1,85%, tu 2,25±1% oleh faktor pada tahun lasi tersebut ahan pokok is keuangan ikan secara pok sandang nflasi, yang mengalam it perayaan itas secara t meningkat unia.

I Palembang hwa terjad

ar 0,94% an III 2009, triwulan IV di pasar nen, namun

akhir tahun, 4,30% (yoy)

n, didorong uhan target membaiknya ya

(21)

Sejalan bank um 2009 m

Perputa penurun sisi nom kliring d sebelum mening transaks mening volume lembar menjad dibandi sebesar 13,40%

Namun menunj yang da positif Secara mengge pertumb 2008 da perekon

Pada tr pertamb

Sesuai triwulan triwulan Berdasa yang ak tahunan

dengan hal mum Sumat menjadi 2,78

ran kliring d nan dari seg minal diband dan Real Ti

mnya salah katnya pen si perusaha

katnya hari warkat kl dan berda i sebesar ngkan triw 37,92% (q

% dari sisi vo

demikian, ukkan terja apat dijadik perekonom umum, ko embirakan

buhan ekon an triwulan nomian glob

iwulan I 20 bangan aka taan dunia utnya prose tasi kenaika an excess d

garuh pada sional yang

dengan em n I 2009 nan, dan sec arkan data

kan terjadi n (yoy) pada

l tersebut, t tera Selatan

% pada triw

di Sumsel pa gi jumlah wa dingkan triw

ime Gross S

h satunya geluaran p aan dalam i kerja. Sec iring sebesa asarkan no

Rp5,76 tri wulan sebelu

qtq) dari sisi lume.

di sisi pem dinya penu kan salah sa ian walaup ondisi perka

seiring nomi secara

I 2009 mas bal yang me

010 diperkir an meningka

yang sem s pemuliha an harga k

demand pa pergerakan pada akhirn

mpirisnya, p diperkirak cara tahuna historis, kon di masa de a triwulan I

ingkat

Non-n meNon-ngalam wulan IV 200

ada triwulan arkat namu wulan sebelu

Settlement

a diperkira emerintah d

skala bes cara triwula

ar 0,30% ominal men

iliun. Perke umnya terc nilai dan m

mbayaran tu runan net-o

atu indikato pun ditenga

asan menu

dengan t

a keseluruh ih terkena i lemah.

rakan kinerj at secara ta makin men n perekono ke depan da komodit n instrumen nya meningk

pertumbuha an akan n akan terko ndisi ekono

pan, diperk I 2010 akan

-Performing

mi penuruna 09.

n IV 2009 m n mengalam umnya. Men

(RTGS) diba akan seba

di akhir tah sar pada nan terjadi

(qtq) dari ningkat seb embangan catat meng mengalami p

unai yakni

ouflow pada or sedikit ter

arai hanya njukkan pe terus mem han setelah

mbas dari m

a sektor pe ahunan, yan ningkat seh omian dunia sehubunga tas pangan n hedging k katkan harga

n ekonomi mengalami ontraksi kar mi terkini, kirakan pert n berada pa

g Loan (NPL an sepanjan

menunjukkan mi peningka ningkatnya k

andingkan t agai akiba hun, menin

akhir tahu sedikit pen sebanyak 1 besar 4,23%

RTGS seca alami penin eningkatan

kegiatan p a triwulan rganggunya

bersifat m erkembanga mbaiknya

pada triw melemahnya

ertanian dan ng disebabk

hubungan a sekaligus

n dengan . Sehingga komoditas d a-harga seca

Sumatera kontraksi rena faktor t

dan prediks tumbuhan e ada kisaran

L) gross

g tahun

n sedikit atan dari kegiatan triwulan at dari

gkatnya un, dan

nurunan 176.842 % (qtq) ara net

ngkatan sebesar

perkasan IV 2009 a kinerja musiman.

an yang kondisi wulan IV

a kondisi

n sektor kan oleh dengan

adanya adanya hal ini di pasar ara riil.

Selatan secara teknikal. si shock

(22)

0,5%

%. Sedang erkirakan a mikian, laju rediksi akan andingkan t

erja ekspor erkirakan ak ebabkan ole

ningkat be nyusul berla

nya excess d

ain itu, ber uan ekspor

andingkan 09 diproyeks

royeksi akan ang pada nomi masi ara yang m a dan India

a tahun 20 ngindikasika ningkat pad

a sisi perda nurunkan la

g cenderun nyebabkan mpetitif diba

0, tekanan ebabkan ole

gan semak urunan tarif A) yang dip adanya apr h kompetitif

ain itu, terda ekonomian

ingkatan p ingga mem

ingkatan i ekonomian

gkan secara kan terkon

pertumbuh n tetap bera riwulan seb

produk-pro kan mengala

h) harga ko rikut ekspe anjutnya pe

demand kom rdasarkan IM Sumatera proyeksi tah sikan menga n mengalam 2010 dip ng-masing

enjadi peno a, juga dipe

10, yaitu ma an bahwa a tahun 201

gangan inte aju pertumb g terus tera barang e andingkan s n dari sisi h: (1) menin kin baiknya f barang im prediksi mu resiasi Rupi f dibanding

apat bebera melalui per pendapatan micu peni investasi se

Indonesia d

a triwulana traksi pada an triwulan ada pada zo

elumnya, ya

oduk unggu ami sedikit omoditas ya ektasi kena

mulihan pe moditas pan

MF, proyek Selatan u hun 2009. alami pertu mi pertumbu

erkirakan sebesar 1, opang pertu erkirakan a asing-masin ekspor Su 10.

ernasional, t buhan eksp apresiasi hin ekspor Sum

sebelumnya impor dipr ngkatnya pe a harga k mpor terkait ulai berpen ah yang m kan sebelum

apa hal yang rmintaan do n karena

ngkatan k ehubungan di mata inv

an (qtq) p a kisaran 0 nan dengan

ona positif w aitu sebesar

ulan Sumsel peningkata ng memilik aikan harga

rekonomian ngan dunia p

si pertumb untuk tahu

Negara-neg mbuhan ne uhan positif mampu m 5% dan 1 umbuhan ek

kan mamp g sebesar 9 matera Sel

terdapat be or, antara gga perteng matera Sela

. Selain itu, ediksi akan endapatan m

omoditas u

Asean-Chin

garuh pada menyebabkan

mnya.

g dapat mem omestik, ya

meningkatn konsumsi,

dengan vestor asing

pertumbuha 0,42 ± 0,5 penyesuaia walaupun le 0,77± 0,5%

pada triwu n secara ta i kecenderu a komodita n dunia dan pada 2010.

uhan ekon un 2010 l gara yang egatif pada f. Amerika mencatat pe

1,7%. Kem kspor pada t u tumbuh ,0% dan 6, atan akan

eberapa hal lain nilai tu gahan tahu atan menja

, pada akhi n mulai mu masyarakat s unggulan,

na Free-Trad

a bulan M n barang im

mberikan sti itu: (1) ada nya harga

(2) adany membaikny g, (3) relatif

n ekonom %. Kendat an musiman

ebih lambat % (qtq,sa).

ulan I 2010 hunan yang ungan untuk as tersebut n ekspektas

omi negara ebih tingg pada tahun tahun 2010 Serikat dan ertumbuhan mudian, dua tahun 2009, lebih tingg 4%. Hal in cenderung

yang dapat ukar Rupiah n 2010 dan adi kurang ir triwulan uncul, yang sehubungan (2) adanya

de Area (AC-Maret 2010, mpor relatif

imulus pada nya potens

(23)

(4) po memba tahun 2 emergin permint Minimu usaha.

Inflasi didoron dengan

demand

kenaika mempe inflasi d triwulan triwulan Selain i (yoy). Ekspekt rendahn 2010 le dan fak

Kondisi dari kr perkem indikasi Januari

inflow.

Masih b Rupiah membe kredit. S membe depan.

otensi berl iknya prosp 2009, turunn

ng markets taan domes m Propinsi

tahunan d ng oleh ek pemulihan

d komodita n TDL pada rtimbangka i Sumatera n I 2010 aka nan (qtq) d tu, inflasi p

tasi inflasi nya inflasi se ebih didoron tor perminta

perekonom isis finansia bangan tin ya ekspekta

sovereign bo

njadi BB+, a menyebabk sia kembali di Cina dan

akan dibat 2010 dipe

berlangsung terhadap rikan relaks Selain itu, p

rikan kejela

anjutnya ek bisnis, p nya risiko pa s. Meskipun stik, yaitu p

(UMP) yan

diperkirakan kspektasi m

perekonom as pangan a triwulan I n perkemb Selatan, ma an meningk diperkirakan pada akhir

yang ber epanjang ta ng oleh ada

aan dan pen

mian dunia al global, ngkat peng si imbal ha

onds Indone atau menjad kan investa

menarik i pidato presi tasinya hedg

erkirakan a

gnya capital

Dollar AS sasi pada p prospek bisn

asan bagi

penyaluran emenuhan asar dan ma n demikian potensi kena ng di satu

akan me meningkatny mian dunia d di tahun 2010. Berd bangan har aka diperkira kat menjadi n akan me tahun 2010

sifat adapt hun 2009. S anya ekspek nawaran yan

yang mela mulai mun angguran sil di kawas esia oleh le di hanya sa asi pada e

nvestor glo iden AS Bar

dge funds p akan sedikit

inflow yang dan menin perbankan nis ke depan

kemampua

kredit p target peny asuknya dan n, terdapat

aikan TDL d sisi menam

engalami p ya harga dan perkiraa 2010, sert dasarkan pr rga serta d akan inflasi

2,77±0,5% ningkat me 0 diprediksi

tif terbilan Sehingga inf ktasi rasiona ng terjadi se

anjutkan pro nculnya ke

di AS yan san Asia, d mbaga pem atu level di

emerging

obal. Namu rrack Obama

ada perban t memperla

g ditandai o gkatnya IH

dan memp n semakin je n membay

perbankan yaluran kred

na asing kem pula risik dan kenaika mbah beba

peningkatan komoditas an terjadinya ta adanya royeksi dan determinan tahunan (yo

%, sedangka enjadi 0,84 sebesar 5,

g rendah flasi pada tr al kondisi ke ecara riil.

oses pemul khawatiran g mengece an ditingka meringkat Fi bawah inv markets te n, ditingka a yang mem nkan AS pad

ambat laju

oleh terapre SG, akan s perbaiki pen elas pada 20 ar kredit d

karena it untuk sejalan a excess

potensi dengan utama

oy) pada an inflasi 4±0,5%. ,24±1%

karena riwulan I e depan

lihannya terkait ewakan, tkannya tch dari

vestment

ermasuk tkannya mberikan da awal

capital

(24)

Di s

sisi lain, keb g akan mem ggi, dipredik

ara lebih e ndorong a dasarkan pr dit pada triw

mudian, ber ga komodit

gan penin mand komo n relatif stab

a triwulan I kondisi pe rediksi akan

ingkatan pe penghimpu

posit Ratio (L

ijakan Bank muat insenti ksi akan mem

kspansif, se ngka pert oyeksi tekn wulan I 2010

kaitan deng tas yang d gkatan per oditas, perse bil pada kisa

2010 ini, d rekonomian n terjadi p enyaluran k

unan DPK, LDR) pada p

Indonesia d f GWM bag micu perban ehingga dip

umbuhan ikal dan jud 0 akan berad

gan pendapa iperkirakan rmintaan k entase NPL aran 2,5-3,0

engan dido n ke depan peningkatan kredit yang sehingga m perbankan se

dalam meng gi bank yang nkan untuk perkirakan

kredit pad gment, dipe da di kisaran

atan masya mengalam karena adan

(gross) ban 0% sepanjan

rong oleh p serta perub fungsi in akan terjad menyebabka ecara cukup

gubah keten g mempuny

menyalurka akan signif da triwulan

erkirakan pe n 3,90% ±

rakat yang i kenaikan nya ekspek nk umum d ng triwulan

erbaikan pr ahan ketent termediasi i diprediksi n peningkat p signifikan.

ntuan GWM yai LDR lebih an kreditnya fikan dalam n I 2010 ertumbuhan 1% (qtq).

dipengaruh bersamaan ktasi excess diperkirakan

I 2010.

(25)

Halaman

This pag

ini sengaja

ge is intenti

a dikosong

tionally blan

kan

(26)

Grafik 1.1

PDRB dan Laju Pertumbuhan Tahunan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000

* Angka Sementara

**Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Laju pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan IV 2009 diproyeksikan berada

pada kisaran 5,36% (yoy). Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi tahun 2009

diproyeksikan mengalami perlambatan menjadi 3,86% (yoy).

Memburuknya kinerja sektor pertanian pada triwulan IV 2009 sangat berdampak

pada penurunan kinerja sektor lainnya.

1.1. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Sektoral Secara Tahunan

1.1.1. Perkembangan Sisi Sektoral Triwulan IV 2009

Laju pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan IV 2009 diproyeksikan sebesar 5,36%. Laju pertumbuhan ekonomi tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,49%.

Secara nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumsel Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 pada triwulan IV 2009 diproyeksikan sebesar Rp15,21 triliun, berada di atas PDRB periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp14,34

triliun. Meningkatnya pertumbuhan

(27)

Tabel 1.1

Laju Pertumbuhan Tahunan (yoy) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%)

Lapangan Usaha

2008 2009

IV I II III* IV**

Pertanian -1.60 - 0.48 2.23 -0.39 0.43 Pertambangan

dan Penggalian 0.97 1.53 1.89 2.30 1.32 Industri

Pengolahan -1.25 - 1.29 0.28 0.67 7.48 Listrik, Gas &

Air Bersih 0.68 3.41 3.75 5.96 9.24

Bangunan 5.13 5.06 7.32 8.21 8.36

Perdagangan, Hotel & Restoran

4.05 3.67 4.14 4.25 7.07

Pengangkutan

& Komunikasi 13.79 14.82 15.23 13.45 13.75 Keu.,

Persewaan & Jasa Perusahaan

7.97 7.35 6.98 6.51 7.63

Jasa-jasa 7.72 7.85 10.80 10.27 10.94

Total PDRB 2.26 2.62 3.97 3.49 5.36

* Angka Sementara

**Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Dari sisi permintaan luar negeri terjadi peningkatan dibanding tahun sebelumnya, tercermin dari terus membaiknya permintaan yang mulai terjadi pada triwulan II 2009. Membaiknya permintaan luar negeri tersebut terutama tercermin pada harga jual komoditas karet yang diikuti dengan dilonggarkannya kuota produksi mulai semester II 2009 hingga 100%. Untuk beberapa komoditas bahkan terjadi peningkatan permintaan yang disertai dengan peningkatan harga jual.

Informasi yang dihimpun dari kalangan dunia usaha menyatakan bahwa masih terdapat beberapa faktor yang dinilai kurang kondusif dalam pengembangan dunia usaha di Sumsel, antara lain : (i) infrastruktur jalan maupun pelabuhan, (ii) perijinan dan birokrasi, (iii) bahan baku, (iv) kebijakan dan peraturan pemerintah, (v) suku bunga pinjaman perbankan yang dinilai masih tinggi, dan (vi) alih fungsi lahan serta terbatasnya sarana dan pra sarana produksi (lihat Suplemen 1. Momentum Membaiknya Kondisi Usaha Masih Terjaga).

Kinerja perekonomian sektoral triwulan IV 2009 ditandai dengan pertumbuhan tahunan tertinggi pada sektor pengangkutan dan telekomunikasi yaitu sebesar 13,75%, serta peningkatan kinerja sektor jasa-jasa.

Seiring dengan semakin pulihnya harga komoditas unggulan di pasar internasional, sektor pertanian dan sektor industri pengolahan sebagai sektor unggulan di Sumsel menunjukkan kecenderungan mengalami perbaikan pertumbuhan

(28)

MOMENTUM MEMBAIKNYA KONDISI USAHA MASIH TERJAGA*

Berdasarkan informasi dari para pelaku usaha di Sumatera Selatan, perkembangan usaha cukup bervariasi namun secara umum kondisinya semakin membaik. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dari meningkatnya penjualan, rencana realisasi investasi maupun optimisme terhadap kondisi usaha dan perekonomian secara umum ke depan.

Tingkat permintaan terhadap produk terus meningkat setelah pada semester I 2009 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut tercermin dari tingkat penjualan domestik yang masih tumbuh positif, meskipun pertumbuhannya mengalami perlambatan dibanding tahun sebelumnya. Berapa usaha bahkan mampu tumbuh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya; disebabkan oleh meningkatnya aktivitas perekonomian di sektor unggulan yang berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap produk perusahaan maupun kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Di sektor tanaman bahan makanan, permintaan domestik mengalami peningkatan yang disebabkan selain oleh meningkatnya permintaan juga karena adanya intensifikasi dan ekstensifikasi yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja kelompok. Demikian pula dengan sektor properti masih mengalami peningkatan yang cukup signifikan terutama untuk perumahan tipe menengah ke bawah, meskipun pada triwulan IV ini cenderung mengalami perlambatan.

Sementara itu, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR), secara umum mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya terutama untuk ritel, terkait dengan meningkatnya persaingan maupun masih belum pulihnya daya beli masyarakat dibanding sebelum krisis. Namun demikian, dibanding triwulan sebelumnya, saat ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Permintaan kendaraan roda dua juga mengalami peningkatan. Berbeda dengan sektor perdagangan ritel, untuk perdagangan alat kesehatan dan farmasi serta alat berat, penjualan domestik justru mengalami peningkatan dan mampu tumbuh hingga 20% dibanding tahun sebelumnya. Meningkatnya aktivitas pertambangan migas maupun non migas menciptakan dampak turunan berupa peningkatan permintaan terutama terhadap alat-alat berat.

Secara umum, permintaan luar negeri pada triwulan IV 2009 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang ditunjukkan dengan terus membaiknya permintaan yang mulai terjadi pada triwulan II 2009. Membaiknya permintaan luar negeri tersebut terutama tercermin pada harga jual komoditas karet yang diikuti dengan dilonggarkannya kuota produksi mulai semester II 2009 hingga 100%. Untuk komoditas teh juga mengalami peningkatan permintaan luar negeri yang diikuti dengan peningkatan harga jual. Ke depan, permintaan luar negeri diperkirakan akan cenderung terus membaik terkait dengan semakin membaiknya perekonomian negara-negara mitra dagang yang sebelumnya terkena krisis global.

(29)

Kapasitas utilitasi usaha pada triwulan ini bervariasi dan secara umum mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya sebagai dampak dari masih belum pulihnya tingkat permintaan, terkait dengan faktor musiman dan kendala bahan baku. Namun demikian, terdapat kontak yang kapasitas utilisasinya justru mengalami peningkatan disebabkan oleh penambahan pabrik maupun intensifikasi yang dilakukan.

Dari sisi investasi, meskipun dampak krisis global belum sepenuhnya hilang, beberapa pelaku usaha dapat merealisasikan investasi di tahun 2009 baik melanjutkan investasi tahun sebelumnya maupun investasi baru. Investasi tersebut dalam bentuk penambahan jaringan kantor, penambahan armada, perluasan pabrik, serta penambahan peralatan dan mesin. Kondisi jumlah tenaga kerja pada triwulan IV 2009 secara umum relatif tetap dibanding tahun sebelumnya karena pelaku usaha berupaya untuk tidak melakukan pengurangan tenaga kerja meskipun kondisi usaha belum pulih. Namun, terdapat pelaku usaha yang justru mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja disebabkan oleh ekspansi yang dilakukan. Ke depan, mayoritas pelaku usaha menyatakan bahwa jumlah tenaga kerja masih akan relatif sama dengan tahun ini. Namun bagi beberapa pelaku usaha yang melakukan ekspansi pada tahun depan berencana untuk menambah jumlah tenaga kerja terkait dengan investasi yang akan dilakukan dan meningkatnya aktivitas usaha perusahaan.

Secara umum biaya operasional mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya terutama untuk biaya tenaga kerja sebagai dampak penyesuaian terkait dengan ketentuan pengupahan daerah setempat. Biaya bahan baku secara umum masih mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Namun dibandingkan kondisi semester I 2009, bahan baku untuk komoditas karet maupun CPO mengalami peningkatan. Biaya bahan baku biasanya menempati peringkat pertama dari pangsa biaya, diikuti oleh biaya energi. Secara umum, dibanding tahun sebelumnya, rata-rata harga jual untuk komoditas primer dengan orientasi ekspor relatif lebih rendah sejalan dengan perkembangan harga di pasar internasional yang hingga saat ini masih mengalami penurunan. Namun demikian, pada triwulan IV 2009 ini harga jual komoditas tersebut semakin membaik. Untuk komoditas teh dan kopi serta karet serta CPO, harga jual mengalami peningkatan disebabkan oleh meningkatnya permintaan dan harga di pasar internasional, serta pengaruh faktor musiman. Selain itu, penurunan harga jual juga terjadi untuk barang farmasi dimana pemerintah menetapkan batas harga tertinggi untuk obat paten sebesar tiga kali lipat dari harga obat generik.

(30)

Sektor pengangkutan dan komunikasi masih tercatat sebagai sektor yang

mengalami pertumbuhan tahunan yang paling tinggi yakni sebesar 13,75% (yoy). Ekspansifnya kinerja sub sektor komunikasi diproyeksikan tetap memberi andil yang besar dalam mendorong peningkatan kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya penggunaan layanan komunikasi Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) terkait kegiatan ibadah haji tahun ini serta gencarnya promosi operator komunikasi baik layanan komunikasi berbasis data seperti paket internet maupun layanan berbasis voice merupakan salah satu penyebab terdongkraknya kinerja sub sektor komunikasi.

Sektor jasa-jasa serta sektor listrik, gas, dan air bersih masing-masing

diproyeksikan tumbuh sebesar 10,94% (yoy) dan 9,24% (yoy). Pertumbuhan sektor jasa-jasa lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya seiring dengan membaiknya perekonomian daerah terutama sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan. Program konversi minyak tanah ke gas yang diiringi peningkatan konsumsi LPG menjadi salah satu pendorong utama perbaikan kinerja sub sektor gas kota pada sektor listrik, gas, dan air bersih.

Pada triwulan IV 2009 diproyeksikan ada empat sektor yang mengalami pertumbuhan antara 7% hingga 8%, yakni : sektor bangunan tumbuh 8,36% (yoy), sektor industri pengolahan 7,48% (yoy), sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 7,63% (yoy), dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) tumbuh sebesar 7,07% (yoy). Relatif tingginya pertumbuhan ekonomi di keempat sektor tersebut tidak terlepas dari seiring dengan membaiknya kinerja sektor pertanian dan juga menguatnya harga-harga komoditas unggulan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sektor pertambangan dan penggalian diproyeksikan mengalami pertumbuhan

(31)

Grafik 1.2

Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM Propinsi Sumsel

Sumber: Pertamina UPMS II Palembang

Sektor pertanian diproyeksikan

mengalami pertumbuhan tahunan paling rendah, yaitu sebesar 0,43% (yoy). Walaupun demikian, sektor ini mengalami perbaikan kinerja apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif sebesar 0,39% (yoy). Curah hujan yang lebih kondusif bagi sub sektor perkebunan di tahun ini dan penguatan harga komoditas unggulan secara tahunan diyakini menjadi faktor pendukung membaiknya kinerja sektor pertanian.

1.1.2. Perkembangan Sisi Sektoral Tahun 2009

Pertumbuhan ekonomi Sumsel secara kumulatif pada 2009 diproyeksikan sebesar 3,86% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 yang tercatat sebesar 5,10% (yoy). Secara nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumsel pada tahun 2009 diproyeksikan sebesar Rp60,32 triliun (dengan migas).

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 ditandai dengan penegasan hegemoni sektor pengangkutan dan komunikasi yang diprediksi tumbuh sebesar 14,28% (yoy) dan melambatnya kinerja sektor pertanian pada kisaran 0,43% (yoy).

Tetap bertahannya kinerja pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi di atas angka 10% dalam kurun waktu 5 tahun ini tidak terlepas dari beberapa faktor seperti : (i) sifat industri yang terus melakukan inovasi, (ii) masih besarnya pasar potensial yang belum terlayani, (iii) tingkat permintaan yang masih tinggi, dan (iv) harga jual yang semakin murah.

Sektor jasa-jasa dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan

(32)

Tabel 1.2

Laju Pertumbuhan Kumulatif Sektoral (yoy) PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%)

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008* 2009**

Pertanian 5.88 6.44 6.48 4.09 0.43

Pertambangan dan

Penggalian 0.42 0.36 0.25 1.53 1.76

Industri Pengolahan 4.75 5.30 5.70 3.42 1.77

Listrik, Gas & Air Bersih 6.66 7.48 7.40 4.60 5.60

Bangunan 7.61 7.25 8.11 6.14 7.27

Perdagangan, Hotel &

Restoran 7.73 7.93 9.04 7.08 4.79

Pengangkutan &

Komunikasi 11.56 10.56 14.32 13.92 14.28

Keu., Persewaan & Jasa

Perusahaan 7.37 8.26 9.14 8.63 7.11

Jasa-jasa 6.72 7.90 9.06 11.35 9.98

Total PDRB 4.84 5.20 5.84 5.10 3.86

* Angka Sementara

**Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Hal tersebut mempengaruhi kemampuan ekspansi kredit, disamping terdapat ancaman kenaikan non-performing loan (NPL).

Sektor perdagangan,

hotel, dan restoran, sektor

industri pengolahan, dan

sektor pertanian

diproyeksikan mengalami perlambatan kinerja masing-masing menjadi 4,79% (yoy), 1,77% (yoy), dan 0,43% (yoy). Melambatnya kinerja ketiga sektor tersebut merupakan dampak dari krisis keuangan global yang menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sehingga membatasi konsumsi maupun

pengeluaran-pengeluaran.

Hal yang cukup menggembirakan adalah meningkatnya kinerja sektor bangunan, sektor listrik, gas, dan air bersih, serta sektor pertambangan dan penggalian yang

diproyeksikan masing-masing sebesar 7,27%(yoy), 5,60% (yoy), dan 1,76% (yoy). Informasi yang diperoleh dari pelaku usaha di sektor bangunan menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap properti tidak surut di tahun ini. Beberapa proyek pembangunan properti seperti pembangunan 2000 unit rumah sederhana yang merupakan program pemerintah maupun pembangunan perumahan swasta lainnya menjadi tanda geliat sektor bangunan di tahun 2009.

(33)

Tabel 1.3

Laju Pertumbuhan Triwulanan (qtq) Sektoral PDRB Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 (%)

Lapangan Usaha

2008 2009

IV I II III* IV**

Pertanian (20.54) 0.98 9.86 12.99 (19.89)

Pertambangan

dan Penggalian 0.73 (0.70) 0.84 1.42 (0.23) Industri

Pengolahan (4.70) (1.08) 2.00 4.69 1.75

LGA (1.33) 2.10 1.75 3.37 1.72

Bangunan 1.29 (1.44) 3.58 4.64 1.44

PHR (3.82) (0.85) 3.00 6.12 (1.22)

Pengangkutan &

Komunikasi 5.18 0.85 1.61 5.26 5.46

Keu., Persewaan &

Jasa Perusahaan 0.26 3.41 0.39 2.33 1.31

Jasa-jasa 1.23 1.87 3.23 3.58 1.85

Total PDRB (5.23) (0.05) 3.46 5.60 (3.51)

* Angka Sementara

** Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Grafik 1.3

PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB Propinsi Sumsel ADHK 2000

* Angka Sementara

**Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

1.2. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Sektoral Secara Triwulanan

Secara triwulanan (qtq), pertumbuhan ekonomi Sumsel diproyeksikan mengalami penurunan setelah pada triwulan sebelumnya tercatat mengalami pertumbuhan sebesar

5,60% (qtq). Pertumbuhan

ekonomi Sumsel pada triwulan IV 2009 mengalami kontraksi

sebesar 3,51% (qtq) terkait

dengan faktor siklikal dimana pada triwulan IV biasanya ditandai dengan penurunan konsumsi secara umum pasca moment Idul Fitri dan merupakan awal masa tanam tanaman pertanian.

Beberapa indikator ekonomi seperti realisasi luas

panen padi, perkembangan arus penumpang dan barang pelabuhan, serta konsumsi listrik mengkonfirmasi hal tersebut. Kinerja perekonomian secara triwulanan pada triwulan IV 2009 ditandai dengan penurunan kinerja seluruh sektor ekonomi dibandingkan dengan

kondisi triwulan sebelumnya, kecuali sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor pertanian

diprediksi mengalami pertumbuhan paling negatif

yakni terkontraksi sebesar 19,89%.

(34)

Grafik 1.5

Perkembangan Curah Hujan di Sumatera Selatan

Sumber: Stasiun Klimatologi Kenten

Grafik 1.4

Kontribusi Sektor Ekonomi PDRB Propinsi Sumatera Selatan Triwulan IV 2009

Sumber : Proyeksi Bank Indonesia Palembang

pengolahan, serta sektor jasa-jasa yang masing-masing mengalami pertumbuhan triwulanan sebesar -1,22% (qtq), 1,75% (qtq), dan 1,85% (qtq). Sementara itu sektor pengangkutan dan komunikasi

diproyeksikan mengalami pertumbuhan triwulanan paling tinggi

yakni sebesar 5,46% (qtq) atau

meningkat dibandingkan kondisi triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,26% (qtq).

Dari segi kontribusinya, sektor pertambangan dan penggalian diproyeksikan masih tetap merupakan penyumbang PDRB yang paling besar dengan pangsa sebesar 22,95%. Kontribusi sektor pertambangan dan

penggalian mengalami peningkatan setelah pada triwulan sebelumnya tercatat memberi sumbangan sebesar 22,19%. Sementara itu sektor pertanian dan sektor industri pengolahan masing-masing diproyeksikan memberi sumbangan sebesar 17,53% dan 17,65%.

Kinerja sektor pertanian

diproyeksikan mengalami pertumbuhan paling rendah yakni terkontraksi sebesar 19,89% (qtq). Kinerja sektor ini pada triwulan IV 2009 merupakan yang paling lebih buruk sepanjang tahun. Namun demikian, kondisi tersebut tercatat lebih baik dibandingkan pertumbuhan triwulanan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 20,54% (qtq). Sub sektor tanaman bahan makanan diyakini

(35)

Tabel 1.4

Realisasi Luas Tanam (LT) dan Luas Panen (LP) Propinsi Sumatera Selatan (dalam Ha)

Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan

produktivitas akibat curah hujan yang tinggi.

Rata-rata curah hujan dan hari hujan yang meningkat telah menyebabkan produksi sub sektor tanaman bahan makanan menurun tajam pada triwulan ini. Hal tersebut terkonfirmasi dari data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Sumsel yang menunjukkan menurunnya luas panen padi pada triwulan IV 2009 sebesar 74,46% (qtq) dari sebesar 251.889 Ha menjadi sekitar 64.335 Ha.

Sub sektor tanaman perkebunan pun diproyeksikan mengalami kontraksi pertumbuhan triwulanan cukup tinggi terutama karena kurang kondusifnya faktor cuaca. Walaupun demikian, membaiknya permintaan pasar dunia yang meningkatkan harga-harga komoditas unggulan Sumsel cukup menolong kinerja sub sektor tanaman perkebunan dari sisi nilai meski dari sisi volume relatif lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Menurunnya produksi juga sebagai akibat tingginya harga pupuk selama tahun ini sehingga menyebabkan para petani kurang maksimal dalam merawat tanamannya. Menurunnya kinerja sektor pertanian berimbas pada melambatnya kinerja sektor industri pengolahan dan penurunan kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran.

Sektor Industri Pengolahan diproyeksikan tumbuh sebesar 1,72% (qtq),

(36)

Palembang, kondisi sub sektor industri pengolahan non migas, khususnya crumb rubber

mengalami kesulitan dalam penyediaan bahan baku sebagai akibat kurangnya pasokan dari petani seiring curah hujan yang tinggi serta tingginya tingkat persaingan di industri tersebut. Namun demikian, kinerja sektor tersebut cukup tertolong dengan membaiknya permintaan ekspor dan harga di pasar internasional yang kembali menguat.

Rata-rata harga karet di pasar internasional pada triwulan ini mencapai cent

USD259,40/kg atau mengalami peningkatan sebesar 28,52% dibandingkan rata-rata harga pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar cent USD 201,83/kg. Sementara itu rata-rata harga CPO dunia pada triwulan IV 2009 tercatat sebesar USD675,50/metrik ton, meningkat sebesar 5,08% dibandingkan dengan rata-rata harga pada triwulan sebelumnya.

Kinerja Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR) diproyeksikan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,22% (qtq) sebagai dampak normalnya konsumsi masyarakat di sub sektor perdagangan besar & eceran setelah pada triwulan sebelumnya meningkat cukup tinggi seiringperayaan Hari Raya Idul Fitri.

Namun demikian, berdasarkan survei Bank Indonesia, pesanan mobil secara triwulanan diprediksi mengalami peningkatan dalam kisaran 10%-20%. Hal tersebut juga terkonfirmasi dari data pendaftaran kendaraan baru yang diperoleh dari Dispenda Propinsi Sumatera Selatan. Data dari Dispenda menunjukkan bahwa pendaftaran mobil baru mengalami peningkatan sebesar 7,75% (qtq) sementara pendaftaran motor mengalami peningkatan sebesar 11,67% (qtq).

Grafik 1.6 Perkembangan Harga Karet

di Pasar Internasional

Sumber: Bloomberg

Grafik 1.7 Perkembangan Harga CPO

di Pasar Internasional

(37)

Grafik 1.8

Perkembangan Pendaftaran Kendaraan Bermotor

Sumber: Dispenda Prop. Sumatera Selatan

Grafik 1.9

Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar dan Jumlah Wisatawan

Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan

Kinerja sektor perhotelan mengalami sedikit peningkatan yang ditandai dengan cukup tingginya tingkat penjualan sewa kamar dan ruang pertemuan seiring banyaknya kegiatan akhir tahun yang diselenggarakan di kota Palembang. Estimasi data tingkat hunian hotel dari BPS menunjukkan bahwa pada triwulan ini diproyeksikan terjadi peningkatan tingkat hunian hotel dan juga kunjungan wisatawan dalam kisaran 3% s.d 5% (qtq).

Secara umum, permintaan masyarakat pasca perayaan Idul Fitri telah kembali normal setelah pada triwulan sebelumnya telah menyebabkan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi di empat sektor, yaitu : sektor listrik, gas, dan air bersih (LGA), sektor jasa-jasa, sektor bangunan, dan sektor keuangan, persewaan, dan jasa.

Sektor listrik, gas, dan air bersih (LGA) diproyeksikan tumbuh sebesar 1,72%

(qtq) atau melambat dibandingkan dengan kinerja triwulan sebelumnya yang mencapai 3,37% (qtq). Salah satu indikatornya tercermin dari data konsumsi listrik dari PT. PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (WS2JB) yang menunjukkan terjadinya perlambatan konsumsi listrik secara triwulanan.

Sektor jasa-jasa sebagai penunjang geliat perekonomian diproyeksikan masih

(38)

Grafik 1.14

Perkembangan Konsumsi Semen

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah

Kondisi sektor bangunan diproyeksikan secara triwulanan mengalami pertumbuhan yang melambat yaitu

sebesar 1,44% (qtq), dimana kinerja pada triwulan sebelumnya tercatat tumbuh sebesar 4,64% (qtq).

Berdasarkan kegiatan survei bisnis diperoleh informasi bahwa permintaan perumahan Rumah Sederhana Sehat (RSH) maupun segmen rumah menengah ke atas hanya sedikit mengalami penurunan terkait masih relatif tingginya tingkat suku

Grafik 1.10

Perkembangan Penjualan LPG

Sumber : PT. Pertamina UPMS II

Grafik 1.11

Perkembangan Konsumsi Listrik Total dan Sektor Rumah Tangga

Grafik 1.12

Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Sosial dan Pemerintah

Sumber : PT. PLN WS2JB

Grafik 1.13

Perkembangan Konsumsi Listrik Sektor Bisnis dan Industri

(39)

bunga pinjaman. Sementara itu penjualan semen dari data Asosiasi Semen Indonesia terjadi penurunan penjualan sebesar 0,53% (qtq) pada triwulan ini.

Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan pada triwulan ini

diproyeksikan mengalami pertumbuhan sebesar 1,31% (qtq), relatif lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulanan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,33% (qtq). Melambatnya kondisi ekonomi secara umum pada triwulan ini telah menurunkan kinerja sektor persewaan dan jasa perusahaan. Namun demikian, sub sektor perbankan masih menunjukkan sinyal positif yang ditandai dengan peningkatan jumlah aset, penghimpunan dana, maupun penyaluran kredit/pembiayaan secara umum.

Sektor pengangkutan dan komunikasi yang pada triwulan ini mengalami

perbaikan kinerja, diproyeksikan mampu tumbuh sebesar 5,46% (qtq), sedikit lebih baik dibandingkan kinerja yang ditorehkannya pada triwulan lalu yang sebesar 5,26% (qtq). Tarif komunikasi yang semakin murah serta terus digulirkannya promo-promo dari sejumlah operator seluler tetap mampu menjaga kinerja sub sektor ini selain permintaan komunikasi SLJJ yang cukup tinggi terkait pelaksanaan ibadah haji.

Kegiatan liburan sekolah, natal, dan tahun baru sedikit banyak telah mendorong pertumbuhan sub sektor transportasi. Data dari PT. Angkasa Pura II menunjukkan adanya peningkatan jumlah penumpang transportasi udara, terutama untuk penumpang domestik. Sementara itu walaupun mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya karena faktor Hari Raya Idul Fitri, data dari PT. Pelindo masih menunjukkan jumlah penumpang kapal laut yang cukup tinggi.

Grafik 1.16

Perkembangan Penumpang Angkutan Laut Pelabuhan Boom Baru Propinsi Sumsel

Sumber : PT. Pelindo Boom Baru, diolah

Grafik 1.15

Perkembangan Penumpang Angkutan Udara

(40)

Membaiknya harga-harga komoditas unggulan di pasar internasional ternyata belum dapat dimanfaatkan secara optimal di sektor pertambangan dan penggalian. Kinerja sektor pertambangan dan penggalian diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar

0,23% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja sektor ini pada triwulan sebelumnya tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 1,42% (qtq). Hasil survei kegiatan industri menunjukkan bahwa stagnannya kapasitas produksi yang dialami pelaku usaha serta tingginya harga bahan baku merupakan penyebab kurang optimalnya produktivitas sub sektor pertambangan. Harga batu bara di pasar internasional tercatat di level USD54,86/metrik ton atau mengalami peningkatan sebesar 6,02% (qtq) dari posisi triwulan sebelumnya.

1.3. Perkembangan Ekonomi Makro Regional Sisi Penggunaan Secara Tahunan

1.3.1. Perkembangan Sisi Penggunaan Triwulan IV 2009

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2009 secara tahunan (yoy) masih didominasi oleh konsumsi, terutama konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan sektor konsumsi diproyeksikan sebesar 15,86% (yoy), mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 8,18% (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi swasta nirlaba masing-masing sebesar 16,92% (yoy) dan 35,38% (yoy). Konsumsi pemerintah diproyeksikan mengalami pertumbuhan cukup tinggi yakni sebesar 5,51% (yoy) yang disebabkan realisasi belanja yang lebih minim pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Grafik 1.17

Perkembangan Harga Batu Bara di Pasar Internasional

Sumber: Bloomberg

Grafik 1.18

Perkembangan Harga Minyak Bumi di Pasar Internasional

(41)

Grafik 1.19 Perkembangan Kegiatan Usaha

Sumber : SKDU KBI Palembang

Tabel 1.5

Pertumbuhan Ekonomi Tahunan (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun 2008 –2009 (%)

* Angka Sementara

** Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Dari sisi kegiatan perdagangan, ekspor diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 6,18% (yoy), namun sedikit membaik dibandingkan dengan kondisi pada triwulan sebelumnya yang mengalami penurunan sebesar 9,56% (yoy). Sementara itu, impor masih mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 8,65% (yoy), namun mengalami perlambatan dibandingkan dengan kinerja tahunan pada triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 9,09% (yoy).

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, melambatnya pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan ini lebih disebabkan oleh meningkatnya harga komoditas unggulan di pasar Internasional. Sementara itu berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV 2009 yang dilakukan KBI Palembang, mengindikasikan terjadinya penurunan kegiatan usaha dari persepsi kalangan dunia usaha dibanding triwulan sebelumnya yang tercermin dengan penurunan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT)1

dari 15,08% menjadi -7,50%.

1

(42)

Tabel 1.

Ranking 14 Kota di Indonesia

Sumber : Doing Business 2010

Tabel 2.

Doing Business di Palembang

Sumber : Doing Business 2010

PALEMBANG MASUK LIMA BESAR KOTA TERKONDUSIF UNTUK MEMULAI USAHA

Laporan Doing Business 2010, World Bank

dan International Finance Coorporation (IFC) menyatakan bahwa Palembang menempati ranking cukup baik dibandingkan 14 kota besar lainnya di Indonesia.

Doing business indicators terbagi menjadi tiga kategori, yaitu “starting a business”,

“dealing with construction permits”, dan

“registering property”.

Untuk indikator “starting a business”, Kota Palembang menempati ranking ke 4 dari 14 kota besar di Indonesia. Menurut survei tersebut, untuk memulai bisnis di Palembang diperlukan 10 prosedur dengan waktu 46 hari, dengan biaya sebesar 28,4% dari Pendapatan Nasional Bruto. Ranking pertama untuk kategori ini adalah Kota Yogyakarta, dan ranking terakhir adalah Kota Manado.

Untuk indikator “dealing with construction permits”, Kota Palembang menempati ranking ke 6 dari 14 kota besar di Indonesia. Menurut survei tersebut, untuk memulai bisnis di Palembang diperlukan 12 prosedur dengan waktu 86 hari, dengan biaya sebesar 152,9% dari Pendapatan Nasional Bruto. Ranking pertama untuk kategori ini adalah Kota Yogyakarta, dan ranking terakhir adalah Kota Surabaya.

Untuk indikator “registering property”, Kota Palembang menempati ranking ke 6 dari 14 kota besar di Indonesia. Menurut survei tersebut, untuk memulai bisnis di Palembang diperlukan 6 prosedur, 21 hari, dengan biaya sebesar 10,91% dari nilai properti. Ranking pertama untuk kategori ini adalah Kota Yogyakarta, dan ranking terakhir adalah Kota Balikpapan.

(43)

1.3.2. Perkembangan Sisi Penggunaan Tahun 2009

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 secara kumulatif tahunan (yoy) dari sisi penggunaan masih didominasi oleh konsumsi, terutama konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi diproyeksikan sebesar 10,55% (yoy), meningkat apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan konsumsi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 6,68% (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi swasta nirlaba masing-masing diproyeksikan sebesar 10,83% (yoy) dan 32,58% (yoy). Konsumsi pemerintah diproyeksikan mengalami perlambatan dari tahun sebelumnya yakni hanya sebesar 5,28% (yoy), jauh lebih rendah dibanding kinerja tahun 2008 yang mencapai 10,25% (yoy).

Tabel 1.6

Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Kumulatif (yoy) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan (%)

* Angka Sementara

** Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Dari sisi kegiatan perdagangan, ekspor barang dan jasa diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 9,74% (yoy), menurun dibandingkan dengan kinerja pada tahun sebelumnya yang mengalami pertumbuhan sebesar 6,90% (yoy). Sementara itu, impor

masih mencatat pertumbuhan yakni sebesar 8,54% (yoy), walaupun mengalami

perlambatan dibandingkan dengan kinerja tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 8,83% (yoy).

1.4. Perkembangan Sisi Penggunaan Triwulanan

(44)

Grafik 1.20

Perkembangan Volume Produksi berdasarkan Persepsi Pengusaha

Sumber : SKDU KBI Palembang

terutama sebagai imbas cuaca yang tidak kondusif. Tingginya permintaan luar negeri yang meningkatkan harga komoditas primer di pasar internasional tidak cukup membantu penurunan nilai ekspor karena turunnya volume ekspor yang cukup signifikan.

Menurunnya volume ekspor secara umum terkonfirmasi dari menurunnya nilai saldo bersih perkembangan volume produksi pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan IV 2009 menjadi sebesar -16,67%, di bawah angka saldo bersih perkembangan volume produksi pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 40,00%. Seiring dengan melemahnya volume produksi, SBT nilai penjualan pada triwulan IV 2009 juga mengalami penurunan yakni menjadi 33,33%, padahal

pada triwulan sebelumnya SBT nilai penjualan masih tercatat sebesar 80%.

Tabel 1.7

Pertumbuhan Ekonomi Triwulanan (qtq) Propinsi Sumatera Selatan ADHK 2000 menurut Penggunaan Tahun 2008 –2009 (%)

* Angka Sementara

** Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Selatan

1.5. Struktur Ekonomi

Berdasarkan strukturnya, PDRB Sumsel masih ditopang oleh sektor primer yakni sektor

(45)

Grafik 1.21

Struktur Ekonomi Propinsi Sumatera Selatan

Sumber: BPS Propinsi Sumatera Selatan, diolah

Tabel 1.8

Struktur Ekonomi Sektoral Propinsi Sumatera Selatan (Persen)

* Angka Sementara

** Proyeksi Bank Indonesia Palembang

Sektor sekunder diproyeksikan

mengalami peningkatan pangsa menjadi 26,27% dari triwulan sebelumnya yang sebesar 24,93%. Peningkatan pangsa di sektor sekunder tersebut disebabkan oleh peningkatan pangsa seluruh sub sektor komponen sektor sekunder, yakni sub sektor industri pengolahan, sub sektor LGA, dan sub sektor bangunan yang

masing-masing mengalami peningkatan pangsa sebesar 0,91%, 0,03% dan 0,40%.

Pangsa sektor tersier sedikit meningkat dari sebesar 31,77% pada triwulan sebelumnya menjadi 33,26%. Hal tersebut disebabkan terjadinya peningkatan pangsa dari seluruh sub sektor pada sektor ini.

Dari sisi penggunaan, secara struktural konsumsi terus memperlihatkan peran

yang dominan pada PDRB Sumsel. Pangsa konsumsi diproyeksikan berada di kisaran 75,50%, dimana pada triwulan sebelumnya kontribusi komponen konsumsi tercatat sebesar 69,82%.

Gambar

Grafik 1.2 Perkembangan Jumlah Konsumsi BBM
Grafik 1.3 PDRB dan Laju Pertumbuhan Triwulanan PDRB
Tabel 1.4
Grafik 1.8 Grafik 1.9
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sementara sektor yang mengalami kemajuan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bangkalan adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi sektor

Pada triwulan I 2009, sektor industri tumbuh relatif rendah 1,45% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (2,05%), namun lebih tinggi.. dibanding

Perkembangan sub sektor jasa pemerintahan seiring dengan meningkatnya persentase realisasi PAD hingga akhir triwulan laporan yang mencapai 99,47% dari target awal tahun atau

Khusus untuk sektor perdagangan, hotel dan restoran pada triwulan II tahun 2009 yang tumbuh sebesar positif 7,67 persen lebih lambat dibanding periode sebelumnya, lebih

Dalam perkembangannya sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh lebih cepat dibanding sektor pertanian yang merupakan sektor paling dominan dalam pembentukan

Variabel yang membentuk keragaman pada pembiayaan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) dengan kontribusi yang paling besar dijelaskan oleh variabel Equivalent Rate

Keberhasilan pengembangan sektor pariwisata pada suatu daerah yang direfleksikan oleh meningkatnya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap PDRB,

Sama halnya dengan sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel & restoran setiap kenaikan PDRB sebesar satu juta rupiah, akan berdampak pada penurunan