Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 644
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA REMAJA YANG ORANG TUANYA BERCERAI
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2)
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga
INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK
URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com
© 2019 Kresna BIP. e-ISSN 2550-0481
p-ISSN 2614-7254
Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)
Dik irim : 03 Mei 2019 Revisi pertama : 21 Mei 2019 Diterima : 24 Mei 2019 Tersedia online : 31 Mei 2019
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidak nya hubungan positif antara duk ungan sosial k eluarga dan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai. Penelitian ini menggunak an metode k uantitatif. Penelitian ini dilak uk an di SMP N 1 Getasan dengan partisipan penelitian sebanyak 35 remaja yang diambil dengan tek nik purposive sampling. Instrumen penguk uran penelitian menggunak an sk ala duk ungan sosial k eluarga dan sk ala motivasi belajar. Hasil penelitian menunjuk k an ada hubungan positif antara duk ungan sosial k eluarga dan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai dengan r = 0,522 dengan sig. = 0,001 (p <0,05). Ini berarti bahwa semak in tinggi duk ungan sosial k eluarga yang diterima ol eh remaja yang orang tuanya bercerai, semak in tinggi motivasi belajar merek a. Berdasark an analisis data dapat disimpulk an hipotesis yang diajuk an oleh peneliti diterima. Kata Kunci: Motivasi Belajar,
Duk ungan Sosial Keluarga, Remaja yang Orang Tuanya Bercerai
Email: [email protected] 1), [email protected] 2)
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 645
PENDAHULUAN Latar Belakang
Menurut Havighurst (Hurlock, 1990), masa remaja berada pada usia 12-18 tahun. Seseorang yang berada pada usia tersebut tentu saja masih dalam usia sekolah atau masa belajar. Pada proses belajar tidak terlepas dari beberapa faktor yang menunjung keberlangsungan dan keberhasilannya. Salah satu contoh yang dapat menunjang keberlangsungan dan keberhasilan proses belajar adalah adanya motivasi. Motivasi menurut Mc. Donald (Sardiman, 2014) didefinisikan sebagai perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Menurut Pintrich (2014, dalam Yunas dan Rachmawati 2018) motivasi belajar dapat diartikan sebagai memunculkan usaha yang lebih, selama pelajaran berlangsung dan menggunakan strategi yang dapat menunjang proses belajar seperti merencanakan, mengatur dan melatih soal-soal pada materi pelajaran, meninjau tingkat pemahaman suatu materi, serta menghubungkan materi baru dengan ilmu/ pengetahuan yang sudah dikuasai.
Motivasi belajar sangatlah penting bagi seseorang yang sedang menempuh pendidikan. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar (Dimyati dan Mudjiono 2013). Tinggi rendahnya motivasi belajar yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari perilaku siswa yang ditunjukkan di sekolah. Perilaku yang ditunjukkan bisa dari respon-respon siswa dalam mengerjakan tugas, menyelesaikan pekerjaan yang diberikan guru, dan aktif di kelas.
Di Indonesia beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan atas turunnya motivasi belajar pada siswa. Di Gresik, pada tahun 2017 berdasarkan data dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik, nilai rata-rata ujian nasional SMP/ MTs pada 2017 hanya 232,46. Nilai tersebut jauh lebih rendah daripada 2016, yaitu 271,43. Bahkan, pada 2015 mencapai 299,5 dan 2014 malah 301. Salah satu penyebab dari turunnya nilai ujian nasional tersebut adalah motivasi siswa dalam belajar yang kurang optimal (Prasetyo, JawaPos.com, 2 Juni 2017). Menurut Sekretariat Dinas Pendidikan kota Bogor, motivasi belajar pada anak-anak di Bogor juga tergolong rendah. Di kota Bogor anak-anak sendiri bahkan kurang memiliki motivasi untuk bersekolah meski banyak sekolah di Bogor. Salah satu hal yang menyebabkan minimnya motivasi pada anak-anak di Bogor adalah kurangnya dorongan dari keluarga (Maulidi, Inikoran.com, 11 Januari 2017).
Demikian pula yang terjadi di salah satu SMP Negeri di Getasan, berdasarkan wawancara yang telah peneliti lakukan dengan guru Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 1 Getasan (September 2018), terdapat beberapa siswa dan siswi SMP yang memiliki motivasi belajar yang tergolong rendah. SMP Negeri 1 Getasan memanglah menjadi SMP favorit di Getasan itu sendiri, namun siswa-siswinya masih banyak juga yang kurang memiliki motivasi belajar. Hal tersebut ditunjukkan oleh kurang aktifnya siswa dalam merespon pada proses pembelajaran di kelas, tidak ada gairah saat pelajaran berlangsung seperti tidur di kelas, mencontek. Guru Bimbingan dan Konseling juga menambahkan bahwa motivasi belajar pada siswa-siswinya terjadi disebabkan oleh kurangnya dukungan dari orang tua, kurangnya perhatian, dan orang tua siwa-siswi yang berasal dari keluarga yang orang tuanya bercerai.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 646
Kasus siswa yang berasal dari orang tua bercerai banyak ditemui di SMP Negeri 1 Getasan. Menurut beberapa guru kasus tersebut menjadi hal yang biasa terjadi di samping itu menurut kepala Sekolah SMP Negeri 1 Getasan, ada sekitar 20% siswa yang berlatar belakang dari orang tua yang bercerai. Peneliti juga melakukan observasi ke beberapa siswa yang berasal dari orang tua bercerai mengenai kegiatan mereka saat di sekolah. Hasil observasi menunjukkan bahwa beberapa siswa tersebut kurang adanya gairah saat mengikuti kegiatan belajar di kelas, sering mencontek, tidak mengerjakan tugas, sering membolos.
Dari hasil observasi dan informasi yang peneliti dapatkan tersebut, kemudian peneliti bertemu dengan tiga siswa yang orang tuanya bercerai untuk melakukan wawancara. Dari hasil wawancara peneliti (Oktober 2018) menemukan bahwa alasan-alasan siswa yang orang tuanya bercerai sering berperilaku membolos sekolah, tidak ada gairah di sekolah seperti tidur saat pelajaran, membolos saat jam pelajaran berlangsung, adalah agar mereka ditegur oleh guru. Para siswa tersebut menyebutkan jika mereka ditegur oleh guru berarti mereka disayang oleh guru dan orang-orang disekitar. Mereka juga mengaku bahwa di rumah, ibu/ bapak jarang memberi perhatian. Mereka juga menginginkan untuk mendapat perhatian dan dukungan dari orang tua dan keluarga lainnya.
Uraian yang ditunjukkan tersebut menunjukkan gambaran motivasi belajar remaja yang terjadi pada siswa-siswi SMP Negeri 1 Getasan yang orang tuanya bercerai. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2013), sebagai berikut: a. Cita-cita atau aspirasi siswa, b. Kemampuan siswa, c. Kondisi siswa, d. Kondisi lingkungan siswa, e. Unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, f. Upaya guru dalam pembelajaran siswa.
Dalam faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar terdapat faktor kondisi lingkungan siswa, pada faktor tersebut mencakup kondisi alam yang berupa lingkungan tempat tinggal, pergaulan teman sebaya, dukungan keluarga, dan kehidupan masyarakat. Dalam penelitian Prasetyo dan Rahmasani (2016) faktor yang mempengaruhi tingginya motivasi belajar salah satunya adalah dukungan sosial dari lingkungan sekitar terutama dari lingkungan keluarga. Setiap individu memerlukan dukungan sosial keluarga. Akan tetapi, tidak semua remaja mendapatkan dukungan dan kasih sayang dari keluarganya, seperti halnya remaja yang orang tuanya bercerai. Remaja yang dibesarkan dengan orang tua yang bercerai tentu saja tidak mengalami dan merasakan kehidupan yang sama dengan remaja yang tinggal dan dibesarkan oleh keluarga yang utuh. Saat orang tua memutuskan untuk bercerai tentu saja kasih sayang dan perhatian ke anak akan berkurang sehingga berdampak pada motivasi dan hasil belajar (Purnaningsih, 2016).
Dukungan sosial keluarga harus didapatkan oleh para remaja yang orang tuanya bercerai. Dalam penelitan yang dilakukan Prasetyo dan Rahmasani (2016) menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada siswa, Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Lobo, Silva, Rebeiro, Silva (2017) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan motivasi belajar. Beberapa penelitian tersebut menunjukkan terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 647
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan mengenai motivasi dan dukungan sosial keluarga, maka peneliti hendak melaksanakan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Motivasi Belajar pada Remaja Yang Orang Tuanya Bercerai”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Adakah hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai ?.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menguji adanya hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai.
KAJIAN PUSTAKA Motivasi Belajar
Menurut Pintrich (2014, dalam Yunas dan Rachmawati 2018) motivasi belajar dapat diartikan sebagai memunculkan usaha yang lebih, selama pelajaran berlangsung dan menggunakan strategi yang dapat menunjang proses belajar seperti merencanakan, mengatur dan melatih soal-soal pada materi pelajaran, meninjau tingkat pemahaman suatu materi, serta menghubungkan materi baru dengan ilmu/ pengetahuan yang sudah dikuasai.
Aspek Motivasi Belajar
Aspek-aspek motivasi belajar menurut Printich dan Groot (1990) yaitu: a. Value Component (komponen nilai)
Komponen nilai menyangkut persepsi siswa tentang alasan mengapa dia terlibat dalam pembelajaran, seperti alasan tantangan, rasa ingin tahu, penguasaan (intrinsic goal orientation), nilai, penghargaan, kinerja, evaluasi oleh orang lain, dan kompetisi (extrinsic goal orientation), dan seberapa menarik, seberapa penting, dan seberapa berguna tugas tersebut dikerjakan (task value)
b. Expentancy Component (komponen harapan)
Komponen harapan mengacu pada keyakinan siswa bahwa upaya mereka untuk belajar akan menghasilkan hasil yang positif. Terdapat dua bagian komponen harapan, diantaranya:
1. Control of learning belief, yaitu keyakinan bahwa hasil belajar yang bergantung pada upaya diri sendiri, akan berbeda dengan faktor eksternal seperti guru. Jika siswa percaya bahwa upaya mereka menghasilkan perbedaan pada pembelajaran, maka mereka akan belajar lebih strategis dan efektif.
2. Self efficacy for learning and performance, yaitu penilaian tentang kemampuan dirinya sendiri untuk menyelesaikan tugas serta kepercayaan pada keterampilan diri untuk melakukan tugas itu.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 648
c. Affective Component (komponen afeksi)
Komponen afektif ini ibarat kata “Apa yang saya rasakan terhadap tugas ini?”. Pertanyaan tersebut dapat menimbulkan reaksi seperti gelisah, marah, sedih, dan bangga. Komponen afeksi dapat dilihat melalui tes kecemasan (test anxiety). Test Anxiety, memiliki dua komponen: kekhawatiran, atau komponen kognitif, dan komponen emosionalitas. Komponen kekhawatiran mengacu pada pikiran negatif siswa yang mengganggu kinerja, sedangkan komponen emosionalitas mengacu pada aspek gairah afektif dan fisiologis kecemasan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah :
1. Cita-Cita atau Aspirasi Siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan, berebut permainan, dapat menyanyi, dan lain-lain. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan di kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan.
2. Kemampuan Siswa
Keinginan seorang anak perlu diiringi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
3. Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani siswa berpegaruh pada motivasi belajar.
4. Kondisi lingkungan siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Kondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu dipertinggi mutunya. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
5. Unsur-Unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, keamuan, ingatan dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal dan pergaulan juga mengalami perubahan.
6. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Upaya guru membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran guru di sekolah tidak terlepas dari kegiatan luar sekolah.
Menurut (Dimyati dan Mudjiono, 2013) dukungan sosial keluarga, menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh, karena dalam lingkungan yang sehat,
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 649
kehidupan rukun, ketertiban pergaulan, lingkungan yang aman, tenteram, dan indah maka semangat dan motivasi belajar yang tinggi dapat dimiliki setiap siswa.
Menurut Woldkowski & Jaynes (dalam Prasetyo dan Rahmasani 2016) Berbagai faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi belajar salah satunya adalah dukungan sosial dari lingkungan sekitar terutama dari lingkungan keluarga.
Dukungan Sosial
Menurut Cutrona, CE (1987) proses hubungan yang terbentuk dari individu dengan persepsi bahwa seseorang dicintai, dihargai, dan disayangi, untuk memberikan bantuan kepada individu yang mengalami tekanan-tekanan dalam kehidupannya.
Aspek Dukungan Sosial
a. Attachment (kedekatan emosional)
Dukungan ini berupa pengekspresian dari kasih sayang dan cinta yang diterima individu,yang dapat memberikan rasa aman kepada individu yang menerimanya, kedekatan dapat memberikan rasa aman.
b. Social Integration (integrasi sosial)
Dikaitkan dengan dukungan yang dapat menimbulkan perasaan memiliki pada individu karena menjadi anggota di dalam kelompok dalam hal ini dapat membagi minat, serta aktivitas sosialnya sehingga individu merasa dirinya dapat diterima oleh kelompok tersebut.
c. Reassurance of worth (Adanya pengakuan)
Dukungan ini berbentuk pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas individu, dukungan ini akan membuat individu merasa dihargai dan diterima misalnya memberi pujian kepada individu karena telah melakukan sesuatu yang baik.
d. Reliable alliance (Hubungan yang dapat diandalkan)
Pengetahuan yang dimiliki individu bahwa individu dapat mengandalkan bantuan yang nyata yang dibutuhkan, individu yang menerima bantuan ini akan merasa tenang karena individu menyadari ada orang yang dapat diandalkan untuk menolong bila individu mengahadapi kesulitan.
e. Guidance (Bimbingan)
Dukungan ini berupa nasihat dan informasi dari sumber yang dipercaya. f. Opportunity of nurturance (kesempatan untuk mengasuh)
Dukungan ini berupa perasaan bahwa individu dibutuhkan oleh orang lain jika dalam hal ini subjek merupakan sumber dukungan bagi orang yang mendukungnya.
METODE PENELITIAN Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 650
Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Getasan, Kec. Getasan, Kab. Semarang. Penelitian ini dilakukan selama dua hari, yaitu tanggal 26-27 Februari 2019. Subjek dalam penelitian ini adalah 35. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu dalam pengambilan sampelnya tidak didasarkan pada strata, random atau daerah, melainkan berdasarkan atas adanya pertimbangan yang berfokus pada tujuan tertentu (Arikunto, 2010). Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti menggunakan sampel yang relevan dengan penelitian ini, yaitu :
a. Remaja yang orang tuanya bercerai (cerai hidup) dengan rentang usia 12-18 tahun. b. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan.
c. Sedang menempuh pendidikan atau berstatus pelajar.
Teknik Pengumpulan Data
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua skala, yaitu skala dukungan sosial keluarga dan skala motivasi belajar. Skala dukungan sosial menggunakan skala yang dikembangkan oleh oleh Cutrona, C. E. and Russell, D, 1987, Social Provisions Scale (SPA), kemudian diadaptasi oleh peneliti ke dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan kepentingan penelitian, sedangkan skala motivasi belajar merupakan skala yang dikembangkan oleh Pintrich & De Groot, 1993, Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ).
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis Spearman’s rho dengan uji asumsi berupa uji deskripsi, uji normalits dan uji linearitas.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Setelah diperoleh data, peneliti melakukan uji daya diskriminasi, reliabilitas, dan validitas. Skala Dukungan Sosial Keluarga terdiri dari 25 aitem, setelah dilakukan uji coba dan uji validitas, diperoleh 13 aitem yang baik. Pada skala motivasi belajar, dari 31 aitem yang diuji coba dan diuji validitas terdapat 16 aitem yang dinyatakan baik. Aitem-aitem tersebut gugur karena dalam penelitian ini peneliti memilih skor koefisien validitas di atas 0,3 (batas koefisien korelasi baik jika skor aitem koefisien ≥ 0, 3) (Azwar, 2012). Sehingga, skor koefisien di bawah 0,3 gugur. Seluruh aitem yang tersisa memiliki skor koefisien validitas di atas 0,3.
Uji Reliabilitas
a. Dukungan Sosial Keluarga
Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS 22.0 didapati besar nilai reliabilitas 0,793 untuk 13 item, seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tabel 1. Reliabilitas Alat Ukur Dukungan Sosial Keluarga
Reliability Statistics Cronbach’s
Alpha
Cronbach’s Alpha Based on Stndardized items
N of items
.793 .802 13
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 651
b. Motivasi Belajar
Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan SPSS 22.0 didapati besar nilai reliabilitas 0,863 untuk 16 item, seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini :
Tabel 2. Reliabilitas Alat Ukur Motivasi Belajar
Reliability Statistics Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based on Stndardized items N of items .863 .867 16
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
1. Analisis Deskriptif
a. Dukungan Sosial Keluarga
Variabel dukungan sosial keluarga memiliki item dengan daya diskriminasi baik berjumlah 13 item, dengan jenjang skor antara 1 sampai dengan 4. Pembagian skor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut:
Skor tertinggi : 4 x 13 = 52 Skor terendah : 1 x 13 = 13
Rumus interval : skor tertinggi- skor terendah jumlah kategori
: (52-13) = 13 3
Tabel 3. Kategorisasi Dukungan Sosial Keluarga
Dukungan Sosial Keluarga
Interval Kategori Frekuensi %
39 < x < 52 Tinggi 16 45,71%
26 < x < 39 Sedang 18 51,42%
13 < x < 26 Rendah 1 2,86% Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
b. Motivasi Belajar
Variabel motivasi belajar memiliki item dengan daya diskriminasi baik berjumlah 16 aitem, dengan jenjang skor antara 1 sampai dengan 4. Pembagian skor tertinggi dan terendah adalah sebagai berikut:
Skor tertinggi : 4 x 16 = 64 Skor terendah : 1 x 16 = 16
Rumus interval : skor tertinggi-skor terendah jumlah kategori : (64-16) = 16
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 652
Tabel 4. Kategorisasi Motivasi Belajar
Motivasi Belajar
Interval Kategori Frekuensi % 48 < x < 64 Tinggi 30 85,71 % 32 < x < 48 Sedang 4 11,42 % 16 < x < 32 Rendah 1 2,86
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
3. Uji Asumsi
a. Uji Normalitas
Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan metode Kolmogorov Smirnov. Data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikansi (p > 0,05) yang didapat dari hasil analisa menggunakan program SPSS 22.0. Hasil uji normalitas adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Dukungan Sosial
Motivasi Belajar N
Parameter Normal a.b Mean
Std. Devition 35 38.9714 5.61241 35 56.2857 8.26962 Perbandingan Paling Ekstrim Mutlak
Positif Negatif Uji Statistik
Asymp. Sig. (2-tailed)
.184 .113 -.184 .184 .004c .143 .073 -.143 .143 .066c Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
Hasil perhitungan uji one-sample kolmogorov-smirnov test, variabel dukungan sosial keluarga diperoleh nilai 0,184 dengan nilai sign. = 0,004 (p < 0,05), dan variabel motivasi belajar diperoleh nilai 0,143 dengan nilai sign. = 0,066 (p > 0, 05), dari data tersebut artinya variabel dukungan sosial keluarga tidak berdistribusi normal sedangkan variabel motivasi belajar berdistribusi normal.
b. Uji Linieritas
Pengujian liniaritas diperlukan untuk mengetahui apakah dua variabel yang sudah ditetapkan, memiliki hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Kedua variabel dapat dikatakan linier bila miliki nilai linearity (p < 0,05)
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 653
Tabel 6. Uji Linieritas
ANOVA Table
Sum of Squares Df Mean Square
F Sig MB
*DSK
Antar Grup (Kombinasi) Di dalam grup Total 1793.426 531.717 2325.143 14 20 34 128.102 26.586 4.818 .001
Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, diperoleh F beda sebesar 4.818 dengan sign 0.001 (p < 0, 05), yang berarti hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar bersifat linier.
4. Uji Korelasi
Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi Spearman dengan bantuan SPSS 22.0 didapatkan r = 0.522 dengan sig. = 0,01 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai. Sumbangan efektif yang diberikan dukungan sosial keluarga terhadap motivasi belajar sebesar 27,25 %. Hasil analisis data dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 7. Uji Korelasi
Correlations Spearman’s rho Dukungan Sosial Keluarga Koefisien Korelasi Sig. (1-tailed) N 1 35 .522** .001 35 Motivasi Belajar Koefisien Korelasi
Sig. (1-tailed) N .522** .001 35 1 35 Sumber : Hasil Penelitian, diolah (2019)
Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini terbukti, yaitu adanya hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai. Melihat hasil analisis tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial keluarga semakin tinggi pula motivasi belajar remaja yang orang tuanya bercerai, begitu juga sebaliknya semakin rendah dukungan sosial keluarga, semakin rendah pula motivasi belajar remaja yang orang tuanya bercerai.
Terdapat beberapa penelitian yang meneliti tentang korelasi antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar. Prasetyo dan Rahmasani (2016), meneliti “Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga dengan Motivasi Belajar pada Siswa” yang hasilnya ada hubungan yang cukup besar antara dukungan sosial keluarga terhadap motivasi belajar. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Cirik (2015) yang berjudul “Relationships between social support, motivation, and science achievement: stuctural equation modeling” menunjukkan bahwa ada hubungan antara
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 654
dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar, dan dukungan sosial dari keluarga dapat meningkatkan motivasi belajar yang dimiliki siswa. Aeni dan Supraptingsih (2015) juga melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Dukungan Orang Tua dengan Motivasi Pelajar pada siswa akhwat kelas VIII di Mts Misbahunnur kota Cimahi” dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang tinggi antara dukungan orang tua dengan motivasi belajar. Dalam penelitian Prasetyo dan Rahmasani (2016) dukungan sosial keluarga menjadi faktor yang sangat mempengaruhi tingginya motivasi belajar. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2013), dukungan keluarga juga mempengaruhi motivasi belajar.
Setiap individu yang menjalankan kehidupannnya tentu saja sangat membutuhkan dukungan sosial keluarga. Dukungan keluarga penting bagi semua tahapan usia. Dukungan keluarga sendiri bisa dalam bentuk, kasih sayang, cinta kasih, finansial (Santrock, 1995). Dukungan sosial keluarga juga merupakan hal terpenting dalam menyelesaikan masalah. Dukungan sosial keluarga akan menambah kepercayaan diri, dan motivasi, dalam menghadapi masalah (Yulianti dan Sugiyanto, 2015). Dukungan sosial keluarga juga sangat dibutuhkan oleh remaja yang orang tuanya bercerai karena remaja yang dibesarkan dengan orang tua yang bercerai tentu saja tidak mengalami dan merasakan kehidupan yang sama dengan remaja yang tinggal dan dibesarkan oleh keluarga yang utuh. Saat orang tua memutuskan untuk bercerai tentu saja kasih sayang dan perhatian ke anak akan berkurang sehingga berdampak pada motivasi dan hasil belajar (Purnaningsih, 2016).
Siswa yang orang tuanya becerai di SMP Negeri 1 Getasan menjadi salah satu contohnya. Berdasarkan hasil wawancara, para siswa yang orang tuanya bercerai sering kali bermalas-malasan seperti kurang aktifnya siswa dalam merespon saat pelajaran berlangsung, mencontek, tidak ada gairah di sekolah seperti tidur saat pelajaran, membolos saat jam pelajaran berlangsung, hal itu dilakukan hanya untuk menarik perhatian, orang-orang disekitarnya, termasuk keluarganya.
Menurut Pintrich (2014, dalam Yunas dan Rachmawati 2018) motivasi belajar dapat diartikan sebagai memunculkan usaha yang lebih, selama pelajaran berlangsung dan menggunakan strategi yang dapat menunjang proses belajar seperti merencanakan, mengatur dan melatih soal-soal pada materi pelajaran, meninjau tingkat pemahaman suatu materi, serta menghubungkan materi baru dengan ilmu/ pengetahuan yang sudah dikuasai.
Berdasarkan kesesuaian teori dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial keluarga memiliki hubungan positif terhadap motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai, dengan kata lain semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang diterima remaja yang orang tuanya bercerai maka semakin tinggi pula motivasi belajarnya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai serta sumbangan efektif yang diberikan dukungan sosial keluarga terhadap motivasi belajar sebesar 27,25% dan sisanya 72,75 dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu : cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran dan upaya guru dalam membelajarkan siswa.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 655
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian yang telah disampaikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ada hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai atau dengan kata lain semakin tinggi dukungan sosial keluarga semakin tinggi pula motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai.
2. Sumbangan efektif yang diberikan dukungan sosial keluarga terhadap motivasi belajar sebesar 27,25 % dan sisanya 72,75 dipengaruhi oleh faktor lain.
3. Sebagian besar remaja memiliki dukungan sosial keluarga berkategori tinggi sebesar 45,71 %, dan sebagian besar remaja yang memiliki motivasi belajar tinggi sebesar 85,71 %.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dicapai, serta mengingat masih banyaknya keterbatasan dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Saran bagi remaja yang orang tuanya bercerai
Diharapkan bagi remaja yang orang tuanya bercerai untuk menghabiskanwaktu dengan kegiatan yang dapat mendekatkan diri dengan keluarga, seperti melakukan hobi bersama keluarga, menceritakan masalah-masalah yang dialami.
2. Saran bagi SMP Negeri 1 Getasan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial keluarga berhubungan positif dengan motivasi belajar pada remaja yang orang tuanya bercerai, diharapkan untuk pihak sekolah memperhatikan, memberi dukungan atau semangat, serta melakukan pengawasan kepada seluruh siswa-siswinya agar perilaku di sekolah tidak menggangu aktivitas kegiatan belajar-mengajar, mengingat tidak sedikit dari siswa di SMP Negeri 1 Getasan yang orang tuanya bercerai.
3. Saran bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini masih terbatas, karena hanya meneliti dukungan sosial keluarga dengan motivasi belajar. Dengan demikian masih ada variabel lain yang turut memberi pengaruh terhadap motivasi beljar pada remaja yang orang tuanya bercerai yang belum dijelaskan dan diteliti, maka direkomendasi untuk penelitian selanjutnya yaitu menambah seperti faktor :
a. Cita-cita atau aspirasi siswa b. Kemampuan siswa
c. Kondisi siswa
d. Kondisi lingkungan siswa
e. Unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran f. Upaya guru dalam pembelajaran siswa.
Chairina Gustian Putri 1) , Chr. Hari Soetjiningsih 2) 656
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2014. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik . Jakarta: PT Rineka Cipta.
Azwar, S. 2004. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Cirik. I. 2015. Relationships Between Social Support, Motivation, and Science Achievement: Stuctural Equation Modeling. Anthropologist, 20(1), 232-242. Dimyati., & Mudjiono. 2013. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Girianto, A. 2017. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Keraguan Karier
Siswa SMA dalam Pemilihan Studi Lanjut di Perguruan Tinggi. Jurnal Riset, 3 (9).
Hurlock, E. B., 1990. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga
Lobo, C. C., Silve, P., Ribeiro, A., & Silva, S. 2017. The impact of social support on academic motivation levels in heigher education. Proceedings of INTED2017 Conference, 2593-2602. Portucalense University & Portucalense Institute of Neuropsychology and Cognitive and Behavioral (PORTUGAL). Portucalense University (PORTUGAL).
Maulidi, R. 2017. Motivasi Belajar Kota Bogor Minim Meski Banyak Sekolah. Inilahkoran.com
Pintrich, P. R., Smith, D. A. F., Garcia, T., & Mckeachie, W. J. 1993. Reliability And Predictive Validity of The Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MLSQ). Educational and Psychological Measurement, 5.
Pintrich, P. R, Schunk, D. H., & Meece, J. L. 2014. Motivation In Education: Theory, Research, and Applications, Fourth Edition. USA: Pearson Education Limited. Prasetyo, K, B., Rahmasani, D. 2016. Hubungan Antara Dukungan Sosial Orang Tua
Dengan Motivasi Belajar pada Siswa. Jurnal Penelitian Psikologi, 7(01), 1-9. Prasetyo, S, E. 2017. Terpengaruh Motivasi Belajar Siswa, Nilai Unas Terus Turun.
JawaPos.com.
Purnaningsih, F. 2016. Motivasi Belajar pada Remaja Yang Mengalami Broken Home (Studi Kasus). Skripsi. Universitas Sanata Dharma.
Sardiman. 2014. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers Yunas, T. B., Rachmawati, M. A. 2018. Kemampuan Mengajar Guru dan Motivasi
Belajar Fisika pada Siswa di Yogyakarta. PSYCHOPOLYTAN (Jurnal Psikologi), 1(2).
Yulianti, D. R., Sugiyanto, & Sarwinanti. 2015. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas Hidup Lansia di Desa Pogungrejo Porworejo. Skripsi. STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.