• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir Di Kota Denpasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Hubungan Antara Konformitas Teman Sebaya Dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir Di Kota Denpasar"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

CORRELATION BETWEEN PEER CONFORMITY AND PRE-MARRIAGE SEXUAL BEHAVIOR IN LATE TEENAGER IN DENPASAR CITY

Komang Gita Prasasti Universitas Mercu Buana Yogyakarta

[email protected] 081916273928

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar. Semakin tinggi konformitas teman sebaya maka semakin tinggi perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar begitu juga sebaliknya. Dalam penelitian ini terdapat 97 subjek dengan rentang usia 18-21 tahun yang berdomisili di kota Denpasar. Data dikumpulkan menggunakan skala perilaku seksual pra nikah dan skala konformitas teman sebaya dengan teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment Pearson. Adapun hasil dari analisis product moment Pearson menunjukkan r = 0,505 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Hal tersebut berarti bahwa terdapat hubungan yang positif antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar.

Semakin tinggi konformitas teman sebaya maka semakin tinggi perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar. Sebaliknya, semakin rendah konformitas teman sebaya maka semakin rendah pula perilaku seksual remaja pra nikah akhir di kota Desnpasar. Maka dari itu hipotesis dalam penelitian ini siterima.

Kata kunci : konformitas, pra nikah, perilaku seksual, remaja akhir.

Abstract

This study aims to determine the relationship between peer conformity and pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city. The hypothesis proposed in this study is that there is a relationship between peer conformity and pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city. The higher the peer conformity, the higher pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city and vice versa. In this study there were 97 subjects with an age range of 18-21 years who lived in the city of Denpasar. Data were collected using a pre-marriage sexual behavior scale and a peer conformity scale with the data analysis technique used was Pearson's product moment correlation. The results from Pearson's product moment analysis show r = 0.505 with significance 0,000<0.05. This means that there is a positive relationship between peer conformity and pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city. The higher the peer conformity, the higher the pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city.

On the other hand, the lower the peer conformity, the lower pre-marriage sexual behavior in late teenager in Denpasar city. Therefore, the hypothesis in this study is accepted.

Key words : conformity, late teenager, pre-marriage, sexual behavior

(2)

Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir di Kota Denpasar

PENDAHULUAN

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

Berbagai pendapat membahas tentang batasan usia remaja yang dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu usia 12–15 tahun termasuk masa remaja awal, usia 15–18 tahun termasuk masa remaja pertengahan, dan usia 18–21 tahun termasuk masa remaja akhir (Monks, dkk., 2006).

Remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Remaja tertarik untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Remaja disarankan untuk memiliki keinginan dan minat yang sama dengan orang dewasa, termasuk yang berkaitan dengan seksualitas (Azwar,2000). Masa remaja ditandai dengan adanya perubahan fisik dan emosional yang sangat pesat seperti matangnya organ seksual dan reproduksi yang menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu dan minat pada remaja (Santrock,2008). Remaja sering melanggar hukum dan melanggar norma sosial. Salah satu perilaku yang dilakukan remaja sebelum menikah adalah perilaku seksual (Sarwono, 2018. Perasaan senang dan nyaman yang hadir dalam hubungan romantis umumnya diekspresikan dalam bentuk perilaku yang menyenangkan pasangan.

Peneliti melakukan wawancara online dengan remaja berusia 18 sampai 21 tahun yaitu 3 laki-laki dan 3 perempuan. Dalam wawancara tersebut, orang yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka pernah berhubungan seksual pranikah dengan pasangannya. Perilaku seksual awal yang dilakukan adalah pelukan, kemudian ditingkatkan menjadi mulai mencium bibir, menyentuh bagian sensitif, oral seksual, dan berhubungan seksual atau bersenggama. Dua subyek menjawab bahwa mereka pernah melakukan hubungan seksual pranikah sejak mereka duduk di bangku SMA, dan empat subyek menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pranikah untuk pertama kalinya di perguruan tinggi. seksual pranikah untuk pertama kalinya di perguruan tinggi.

Remaja yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah tidak memikirkan dampak yang mungkin terjadi. Remaja yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual pranikah berisiko tertular penyakit kelamin dan HIV-AIDS yang bisa menyebabkan kemandulan bahkan kematian.

Menurut Soetjiningsih (dalam Puspitadesi dkk, 2013), perilaku seks pranikah pada remaja adalah segala tingkah laku remaja yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sebelum adanya pernikahan. Lebih lanjut Sarwono (2018) menjelaskan Perilaku seksual pranikah adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri.

Menurut Sarwono (dalam Darmawan 2020) bentuk-bentuk perilaku seksual pranikah meliputi:

(3)

melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya dan 21% dari remaja yang hamil diluar nikah pernah melakukan aborsi (Sari, 2020). Data Indeks Pembangunan Pemuda Indonesia tahun 2017 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (dalam Putu, 2020), menunjukkan adanya peningkatan pada angka kehamilan remaja di Bali yang meningkat hingga dua kali lipat sebesar 37 persen. Selain itu penyebaran HIV dan AIDS belakangan ini benar-benar telah sangat memprihatinkan sebagaimana data terakhir (Desember 2013) yang diinformasikan oleh KPA Provinsi Bali, bahwa di Bali kurang lebih ada 8.563 orang telah positif terinfeksi HIV, Terbanyak tercatat di Kota Denpasar 3.483 (40,67%). Jika dibandingkan dengan data tahun 2010 sekitar 3.875 orang, maka ini berarti terjadi telah peningkatan yang cukup signifikan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa sebagian besar dari mereka (47,1 %) masih tergolong usia muda dan pelajar.

Soetjiningsih (2010) menunjukkan beberapa factor yang menjadi alasan subyek dalam melakukan perilaku seksual pranikah diantaranya: hubungan orang tua dengan remaja, tekanan teman sebaya, pemahaman tingkat agama (religiusitas), dan eksposur media pornografi. Dari faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah, peneliti memilih faktor Konformitas sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah.

Selama masa remaja, remaja banyak beradaptasi dengan teman sebayanya, dan kepatuhan terjadi saat individu mengadaptasi perilaku atau tingkah laku dikarenakan adanya tekanan dari orang lain. Dorongan untuk menunjukkan perilaku yang sama di antara orang-orang pada usia yang sama seringkali sangat kuat, yang disebabkan oleh dorongan untuk termotivasi (Santrock, 2007). . Jika remaja sudah menjadi bagian dalam kelompok yang melazimkan hubungan seksual pranikah, maka remaja tersebut juga akan melazimkan tindakan tersebut dan mau melakukan seksual pranikah, karena secara alamiah remaja cenderung mengikuti temannya (Monks, 2006).

Ketika seseorang mengubah sikap dan perilakunya untuk beradaptasi dengan norma- norma sosial yang ada, definisi kepatuhan itu sendiri adalah semacam pengaruh sosial (Baron dan Branscombe, 2015). Hurlock (dalam Saputro dan Soeharto, 2012) percaya bahwa perilaku kenakalan remaja akibat konformitas teman sebaya dapat terjadi karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-temannya sebagai kelompok, sehingga teman sebaya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap sikap, ucapan, minat, penampilan, dan perilaku daripada keluarga. Waktu yang dihabiskan remaja bersama kelompok teman sebayanya meningkat sehingga kelompok teman sebaya tersebut mempengaruhi aspek-aspek perkembangan dalam diri remaja dibandingkan pada saat anak-anak (Dusek, 1996).

(4)

Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir di Kota Denpasar

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat dapat diasumsikan bahwa konformitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja. Berdasarkan latar permasalahan diatas, rumusan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada hubungan antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja Akhir? “.

METODE

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur dalam penelitian ini adalah skala perilaku seksual pra nikah yang disusun oleh Darmawan (2020) berdasarkan bentuk-bentuk perilaku seksual menurut Sarwono (2010) dan skala konformitas teman sebaya yang disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek menurut Baron & Branscombe (2015). Setelah melakukan uji coba, skala perilaku seksual tidak memiliki aitem yang gugur sehingga tetap berjumlah tujuh aitem. Sedangkan pada skala konformitas teman sebaya setelah dilakukan uji coba terdapat satu aitem yang gugur sehingga menghasilkan 19 aitem valid. Setelah uji coba menggunakan nilai Kuder Richardson 20, skala perilaku seksual pra nikah memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,919. Sedangkan pada skala konformitas teman sebaya memiliki koefisien uji daya beda setelah aitem gugur dikeluarkan berada di antara 0,327 – 0,789 dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,916.. Penyebaran skala dilakukan pada 97 remaja akhir berusia 18-21 tahun di kota Denpasar. Peneliti membagikan skala secara online dengan membagikan link google form melalui media sosial Instagram dan WhatsApp.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis product moment Pearson, menunjukkan terdapat korelasi sebesar 0,505 sehingga hal tersebut berarti bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja akhir di kota Denpasar. Hubungan yang positif memiliki arti bahwa semakin tinggi konformitas teman sebaya maka semaki tinggi pula perilaku seksual pra nikah. Sebaliknya, semakin rendah konformitas teman sebaya maka semakin rendah pula perilaku seksual pra nikah remaja akhir di kota Denpasar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Apsari dan Purnamasari (2017) yang mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Sinlaeloe dan Wibowo (2022) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas teman sebaya dan perilaku seksual pra nikah pada remaja. Hasil tersebut juga selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Indrawati (2017) yang

(5)

Konformitas merupakan perilaku sosial yang mengubah sikap atau tingkah laku individu agar sesuai dengan norma sosial (Baron dan Branscombe, 2015). Konformitas teman sebaya dalam penelitian ini diukur berdasarkan dua aspek yang dikemukakan oleh Baron dan Branscombe (2015) yang meliputi pengaruh sosial normatif dan pengaruh sosial informasional.

Sears (2009) menjelaskan bahwa remaja yang memiliki konformitas tinggi mak akan memiliki rasa kekompakkan dan kesetiaan di dalam kelompok, juga terdapat tekanan taat pada setiap perintah dan peraturan kelompok. Sebaliknya, jika konformitas rendah yang kuat untuk menyesuaikan pendapatnya dengan keputusan kelompok dan maka remaja akan tidak kompak, memiliki pendapat yang berbeda dengan mayoritas, melakukan apapun yang mereka inginkan walaupun tidak sesuai dengan perilaku kelompoknya. Sinlaeloe dan Wibowo (2022) menjelaskan bahwa perilaku seksual bukanlah sebuah hal yang baru di kalangan remaja ataupun teman sebaya karena sering dilakukan oleh kelompok remaja sehingga memberikan perubahan perilaku pada teman-temannya. Garvin (2018) dalam penelitiannya menemukan bahwa perilaku seksual dalam pacaran ditentukan oleh konformitas.

Penelitian ini membuktikan bahwa aspek-aspek konformitas teman sebaya memiliki hubungan dengan tingginya perilaku seksual pranikah remaja akhir di kota Denpasar. Pada aspek sosial normatif yang merupakan suatu pengaruh sosial dimana terdapat perubahan perilaku remaja untuk memenuhi harapan kelompok sehingga tidak terjadi penolakkan. Tekanan norma sosial yang ada dalam kelompok membuat semua aturan dalam kelompok tidak boleh dilanggar oleh anggota dan remaja akan melakukan segala tindakan agar dirinya menjadi disukai oleh kelompoknya (Pranata dan Indrawati, 2017). Dalam penelitian ini aitem dari skala konformitas teman sebaya nomor 12 “Saya selalu melakukan kegiatan yang sama dengan teman-teman saya” yang memiliki jumlah respon yang tinggi sehingga peneliti mengasumsikan bahwa para responden selalu mengikuti kegiatan yang sama dalam kelompoknya agar dapat diterima. Hasil tersebut sesuai dengan Santrock (2014) yang menjelaskan bahwa remaja meimiliki keinginan agar dapat diterima oleh kelompok dan terhindar dari penolakan. Norma sosial yang ada pada kelompok mengharuskan para anggora untuk menuruti dan tidak dapat dilanggar (Sarwono dalam Pranata dan Indrawati 2017).

Pada aspek pengaruh sosial informasional yang merupakan pengaruh sosial dalam kelompok berdasarkan adanya pengaruh dari pendapat kelompok. Sejalan dengan penjelasan tersebut Santrock (2014) bahwa perilaku atau norma yang ada dalam suatu kelompok membawa pengaruh negatif bagi remaja seperti kenakalan remaja dan perilaku seksual. Pada penelitian ini

(6)

Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir di Kota Denpasar

merasa apabila yang saya lakukan disarankan oleh kelompok itu tidak benar” hal tersebut berarti para responden menganggap bahwa saran dari kelompok merupakan saran yang benar. Peneliti mengasumsikan bahwa jika individu berada dalam suatu kelompok yang membenarkan, menyarankan atau mendukung perilaku seksual pranikah maka individu akan cenderung untuk mengikuti atau menyesuaikan diri dalam kelompoknya tersebut. Yusad dan Mutiara (2014) menjelaskan bahwa jika dalam lingkungan kelompok mendukung untuk melakukan seks bebas maka remeja akan sangat berpeluang untuk melakukan seks bebas. Jika kelompok teman sebaya dalam berpacara melakukan ciuman, berpelukkan, atau bahkan seks bebas, maka remaja akan menyesuaikan dirinya dan juga akan dibenarkann oleh remaja lainnya yang ada dalam kelompok tersebut. Seperti pada penelitian Mesra dan Fauziah (2016) yang mendapati bahwa 90% remaja berpotensi melakukan hubungan seksual jika hal tersebut dibenarkan oleh anggota dalam kelompok. Selain itu dalam penelitian Darmayanti, Lestari, dan Ramadani (2011) juga membuktikan bahwa peran teman sebaya yang pasif memberikan informasi mengenai kesehatan seksual berpeluang 2,6 kali dibandingkan peran teman sebaya yang aktif dalam memberikan informasi seksual

Hal tersebut juga didukung dengan hasil dari alat ukur perilaku seksual yang diukur melaui tujuh aspek dan pada 97 responden didapati bahwa semua responden (100%) pernah berpengangan tangan dan berpelukan, 95 responden (97,9%) sudah pernah mencium kening/pipi pasangan, 87 responden (89,7%) pernah berciuman bibir dengan bibir dalam waktu yang lama, 75 responden (77,3%) pernah saling meraba bagian tubuh yang sensitif dalam keadaan berpakaian, 63 responden (64,9%) saling meraba bagian tubuh yang sensitif dalam keadaan tidak berpakaian, dan 58 responden (59,7%) dalam penelitian ini pernah melakukan intercourse atau memasukkan penis ke vagina yang dibuktikan oleh aitem dari skala perilaku seksual nomor 7 “Berhubungan seksual (memasukkan alat kelamin ke alat kelamin pasangan)”. Dengan data tersebut, dapat dilihat bahwa 59,7% responden dalam perilaku seksualnya telah mencapai tahap intercourse. Adapun dalam penelitian ini pengaruh dari konformitas teman sebaya pada perilaku seksual pranikah remaja akhir di kota Denpasar adalah sebesar 25,5% dan 74,5% lainnya berasal dari hubungan dengan orang tua, religiusitas, dan pornografi.

Pada kategorisasi data perilaku seksual pranikah juga dihasilkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini yaitu sebanyak 76 responden (77,3%) memiliki skor perilaku seksual pranikah yang tinggi, 20 responden (20,6%) memiliki skor perilaku seksual pranikah dalam kategori sedang, dan 2 responden (2,1%) memiliki skor perilaku seksual pranikah yang rendah. Kategorisasi data ini mengungkapkan bahwa para remaja akhir yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki perilaku seksual yang cenderung tinggi. Kemudian dalam kategorisasi konformitas teman sebaya sebanyak 12 responden (12,4%) berada pada kategori

(7)

Terdapat perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya antara lain adalah penelitian ini dilakukan di kota Denpasar, Bali dimana sebagai provinsi yang terkenal akan parawisatanya tentu terdapat pengaruh yang menyebabkan nilai-nilai budaya asli terkontaminasi dengan budaya lain dan juga parawisata erat kaitannya dengan pelacuran, kriminal, dan penyalahgunaan narkoba (Riwanto, 2018). Budaya Bali terlebih khususnya di Denpasar merupakan hasil asimilasi dan kulturasi yang panjang, sehingga budaya yang lebih modern seperti pola hidup orang dewasa, gaya hidup, dan konsumerisme telah meluas (Wulandari dan Jember, 2017).

KESIMPULAN

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah terdapat hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir di kota Denpasar. Hasil penelitian pada 97 remaja akhir di kota Denpasar terbukti bahwa terdapat hubungan positif antara konformitas teman sebaya dengan perilaku seksual pranikah pada remaja akhir di kota Denpasar, semakin tinggi konformitas teman sebaya maka semakin tinggi pula perilaku seksual pranikah pada remaja akhir di kota Denpasar. Sebaliknya semakin rendah konformitas teman sebaya maka semakin rendah juga perilaku seksual pranikah pada remaja akhir di kota Denpasar. Selain itu terdapat perbedaan perilaku seksual pada remaja akhir laki- laki dan perempuan dimana remaja akhir laki-laki memiliki perilaku seksual yang lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Konformitas teman sebaya yang tinggi ditunjukkan dengan sikap atau perilaku individu yang berubah untuk memenuhi harapan kelompok agar dapat diterima dan juga karena pengaruh atau lingkungan yang membenarkan suatu perilaku individu sehingga jika individu berada dalam kelompok yang memiliki norma atau lingkungan yang mendukung individu untuk melakukan hubungan seksual pra nikah maka hal tersebut akan memungkinkan individu melakukan hubungan seksual pra nikah secara sukarela maupun terpaksa. Adapun kontribusi dari konformitas teman sebaya pada perilaku seksual pranikah pada remaja akhir di kota Denpasar adalah sebesar 22% dan 78% berasal dari variabel lain.

DAFTAR PUSTAKA

Apsari, A. R. & Purnamasari, S. E. (2017). Hubungan Antara Konformitas Dengan Perilaku

(8)

Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Akhir di Kota Denpasar

Azwar, S. (2000). Kesehatan reproduksi remaja di indonesia (Adolescent reproductive health in indonesian. Jakarta: National Congress of Epidemiology IX.

Baron, R. A. & Branscombe N. R. (2015) Psikologi sosial jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Darmawan, Y.A. (2020). Hubungan Antara Kesepian Dan Konformitas Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja. (Skripsi). Yogyakarta: Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Darmayanti, Lestari, Y., & Ramadani, M. (2011). Peran Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seksual Pra Nikah Siswa SLTA Kota Bukittinggi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(1), 24-27.

Dusek, J. B. (2010). Adolescent development & behavior (3rd edition). United States of America: Prentice-Hall, Inc, NJ.

Garvin. (2018). Harga Diri, Konformitas, dan Perilaku Seksual Remaja yang Berpacaran. Jurnal Ilmu Perilaku, 2(1), 54-60.

Mesra, E. & Fauziah. (2016). Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku Seksual Remaja.

Jurnal Ilmiah Bidan. 1 (2), 34-41

Puspitadesi. D. I., Yuliadi, I., & Nugroho A. A. (2013). Hubungan Antara Figur Kelekatan Orangtua dan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Remaja SMA Negeri 11 Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, 1(4), 1-10.

Pranata, R.A & Indrawati, S.E. (2017). Hubungan Antara Konformitas Dengan Teman Sebaya Dengan Intensi Seksual Pranikah Pada Remaja. Jurnal Empati, 6(1), 352-356

Riwanto. (2018). Komoditisasi Tubuh Perempuan Pekerja Seks Komersial Di Desa Sanur Kauh Kecamatan Denpasar Selatan (Sebuah Studi Kasus). Jurnal Pendidikan dan Ilmu-ilmu Sosial, 6(1)

Santrock, J. W. (2007). Perkembangan anak. (Edisi Ketigabelas, Jilid 1). Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2008). Life-span development. Perkembangan masa hidup. (Edisi Kelima, Jilid 2). Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2014). Adolescence (Fifteen Edition). New York: Mc.Graw-Hill Humanities.

Saputro, B. M. & Soeharto, T. N. E. D. (2012). Hubungan Antara Konformitas Terhadap Teman Sebaya Dengan Kecenderungan Kenakalan Remaja. INSIGHT, 10(1), 1-15.

Sari, N.W. (2020). Faktor Perilaku Seks Pada Remaja Di SMP 4 Kubung Kabupaten Solok.

Jurnal Ilmiah : J-HESTECH, 3(1), 1-8.

Sarwono, S. W. (2010). Psikologi remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo

Sarwono, S. W. (2018). Psikologi remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada sebayanya (Sears dkk, 2009).

Sears, D. O., Freedman, J. L., & Peplau, L. A. (2009). Psikologi sosial (Edisi Keduabelas).

Jakarta: Kencana.

(9)

Supartika, Putu. (2018).” Kehamilan Remaja di Bali Meningkat Dua Kali Lipat, 23 Persen Langsungkan Pernikahan Dini”. https://bali.tribunnews.com/amp/2018/12/29/kehamilan -remaja-di-bali-meningkat-dua-kali-lipat-23-persen-langsungkan-pernikahan-dini diakses pada 15 Juli 2022

Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia.(2017). Diakses dari https://e- koren.bkkbn.go.id/wp- content/uploads/2018/10/Laporan-SDKI2017-Remaja.pdf Diakses pada tanggal 15 oktober 2019.

Monks, F. J., Knoers, A. M. P. & Haditono S. R. (2006). Psikologi perkembangan. Yogyakarta.

Gajaah Mada Universitas Press

Yusad, Y., & Mutiara, E. (2015). Pengaruh akses situs porno dan teman sebaya terhadap perilaku seksual remaja di SMA Yayasan Perguruan Kesatria Medan tahun 2014. Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi, 1(4).

Wulandari, W. A. & Jember, I. M. (2017). Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Rumah Tangga Terhadap Sikap Kesehatan Reproduksi Pada Remaja. Jurnal EP Unud, 6(5), 884-919

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan usahatani kentang industri varietas Atlantik yang dilakukan petani di Desa Cigedug pada pola kemitraan dan

Berdasarkan kriteria dan asumsi yang ada menunjukkan usaha pembesaran udang vanname di KJA laut dengan skala minimal yang dipilih ini sudah layak untuk

LAYOUT AND IMAGE CREATION ARE HANDLED BY COMPUTER:.. KNOWLEDGE GRAPHIC DESIGN

Sumber daya manusia, modal, dan teknologi menempati posisi yang amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang dan jasa.Penggunaan sumber daya manusia, modal,

sepenuhnya dibebani untuk menutup kerugian dimaksud maka sisanya dihitung sebagai penghasilan, sedangkan apabila cadangan tersebut tidak mencukupi maka kekurangannya

• Sebagai desain awal – Analisa kehandalan menjadi dasar untuk desain awal dari sistem yang dibangun dengan memperkecil celah antara analisa dan desain seperti yang

Jadi, yang dimaksud dengan melakukan query TRIGGER pada contoh di atas adalah untuk melakukan sebuah output bahwa ada data yang sudah dirubah dimana nama data yang lama tersebut

Struktur lapisan bawah permukaan yang teridentifikasi oleh geolistrik dan SPT pada lapisan kedua tersebut merupakan jenis tanah bertekstur klastik memiliki butir