Universitas Sumatera Utara ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS
(Kasus : Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun)
SKRIPSI
OLEH :
FAKHRUR ROZI PASI 160304159
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
Universitas Sumatera Utara ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS
(Kasus : Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun)
SKRIPSI
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara
OLEH :
FAKHRUR ROZI PASI 160304159
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2021
i
Universitas Sumatera Utara ABSTRAK
FAKHRUR ROZI PASI (160304159/AGRIBISNIS) dengan judul Analisis Kelayakan Usahatani Nanas (Kasus : Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun). Penelitian ini dibimbing oleh Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si sebagai ketua komisi pembimbing dan Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si. sebagai anggota komisi pembimbing.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis besarnya pendapatan usahatani nanas di daerah penelitian, untuk menganalisis bagaimana pendapatan usahatani nanas di daerah penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis R/C Ratio, analisis BEP Produksi dan BEP Harga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usahatani nanas di Desa Panribuan sebesar Rp. 30.250.994/petani/tahun atau sebesar Rp.
23.819.680/ha/tahun. UMK (Upah Minimum Kabupaten) Simalungun per tahun yaitu sebesar Rp. 31.285.068/tahun. Sehingga pendapatan usahatani nanas di Desa Panribuan tergolong rendah karena pendapatan lebih kecil dari UMK. Usahatani nanas di daerah penelitian layak untuk tetap diusahakan karena harga jual lebih besar dr BEP harga, jumlah produksi lebih besar dari BEP produksi.
Kata Kunci : Pendapatan, UMK, Analisis Kelayakan
ii
Universitas Sumatera Utara ABSTRACT
Fakhrur Rozi Pasi (160304159/AGRIBUSINESS) with the thesis entitled is An Pineapple Farming Feasibility Analysis (Case: Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun). Supervised by Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si as a chairman of the supervisory commission and Bapak. Dr. Ir.
Rahmanta, M.Si. as a member of the supervisory commission.
The purpose of this study was to analyze the amount of pineapple farming income in the research area, to analyze how pineapple farming income was in the research area. The analysis methods used are descriptive analysis, R / C ratio analysis, BEP Production analysis and BEP Price analysis.
The results showed that the average pineapple farming income in Panribuan Village was Rp. 30,250,994 / farmer / year or Rp. 23,819,680 / ha / year. UMK (Regency Minimum Wage) Simalungun per year is Rp. 31,285,068 / year. So that the income of pineapple farming in Panribuan Village is low because the income is lower than the UMK. It is feasible to cultivate pineapple in the research area because the selling price is greater than the BEP price, the amount of production is greater than the production BEP.
Keywords : Income, UMK, Feasibility Analisys
iii
Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP
Fakhrur Rozi Pasi, lahir di Aceh Selatan pada tanggal 02 April 1999. Penulis merupakan anak pertama dari 4 bersaudara dari Alm. Bapak dr. Zuhrawardi Pasi, Sp.A(K) dan Ibu Sri Gusmayanti.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
1. Tahun 2003 masuk TK Al-Amin Medan dan lulus pada tahun 2004.
2. Tahun 2004 masuk SD Negeri Tulaan Aceh Singkil dan lulus pada tahun 2010.
3. Tahun 2010 masuk SMP Plus International Islamic School Darul Ilmi Murni dan lulus pada tahun 2013.
4. Tahun 2013 masuk MAN 1 Medan dan lulus pada tahun 2016.
5. Tahun 2016 menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur UMBPT.
6. Mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Ujung Bandar, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara dari bulan Juli 2019 – Agustus 2019.
Melaksanakan penelitian di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun pada bulan Oktober 2021.
iv
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah serta limpahan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa dukungan, motivasi, bimbingan, pengarahan, serta kritikan yang membangun yang disampaikan kepada penulis. Untuk itu dalam kesempatan ini dengan setulus hati, penulis mengucapkan terimakasih setinggi- tingginya kepada :
1. Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si selaku ketua komisi pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan serta saran dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
2. Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si. selaku anggota komisi pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan serta saran dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
3. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis, M.Ec dan Bapak Ir. M. Jufri, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
4. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis serta kepada staf pengajar dan pegawai yang ada di Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian USU.
v
Universitas Sumatera Utara 5. Ayahanda tercinta Alm. Zuhrawardi Pasi dan Ibunda tercinta Sri Gusmayanti serta adik-adik tercinta Muhammad Al Hafidz Pasi, Khairunnisa Pasi, dan Arifah Nazla Pasi yang telah memberikan doa dan begitu banyak perhatian, cinta dan kasih sayang serta dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di waktu yang tepat.
6. Teman-teman seperjuangan Program Studi Agribisnis 2016, terkhusus kepada Khairunnisa Nurhidayah yang telah memberikan semangat dan perhatian serta kepada Retno Anjelina Nainggolan, Tedy, Roby Gunawan yang telah memberikan banyak bantuan dan dukungan serta kepada seluruh anggota KGA yang telah memberikan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
7. Seluruh Keluarga yang telah memberikan doa,dukungan dan semangat kepada saya selama penelitian.
Akhirnya penulis mendoakan kiranya Allah SWT menerima seluruh amal dan ibadah mereka dengan membalas budi baik mereka dengan pahala berlipat ganda, semoga segala usaha dan niat baik yang telah kita lakukan mendapat ridho Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,baik isi maupun redaksinya oleh karena itu penulis menerima kritik, saran, dan masukan semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal’alamin.
Medan, April 2021
Penulis
vi
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
RIWAYAT HIDUP. ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang . ... 1
1.2. Identifikasi Masalah ... 5
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Kegunaan Penelitian... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKAPEMIKIRAN 2.1.Tinjauan Pustaka ... 7
2.1.1. Tanaman Nanas ... 7
2.1.2. Syarat Tumbuh Nanas ... 8
2.2. Landasan Teori ... 9
2.2.1. Usahatani ... 9
2.2.2. Teori Pendapatan Usahatani ... 9
2.2.3. Analisis Kelayakan Finansial ... 11
2.3. Penelitian Terdahulu ... 13
2.4. Kerangka Pemikiran ... 14
2.5. Hipotesis ... 16
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 17
3.2. Metode Penentuan Sampel ... 18
3.3. Metode Pengumpulan Data... 18
3.4. Metode Analisis Data ... 19
3.5. Definisi dan Batasan Operasional ... 21
3.5.1. Definisi ... 21
3.5.2. Batasan Operasional ... 22
BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN 4.1. Luas dan Letak Geografis Desa Panribuan ... 23
4.2. Keadaan Penduduk ... 23
4.3. Karakteristik Responden ... 25
4.3.1. Identitas Responden ... 25
vii
Universitas Sumatera Utara
4.4. Karakteristik Kepemilikan Lahan ... 26
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Usahatani Nanas ... 28
5.1.1 Analisis Biaya ... 28
5.1.2 Analisis Penerimaan ... 30
5.1.3 Analisis Pendapatan ... 31
5.2. Analisis Kelayakan ... 31
5.3. Kendala yang dihadapi ... 33
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 35
6.2. Saran ... 35 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal
1.1 Produksi Buah-Buahan Menurut Jenis Tanaman di Sumatera Utara Tahun 2012-2016
3 1.2 Produksi Buah-Buahan dan Sayuran Tahunan Menurut Jenis
Tanaman di Kabupaten Simalungun Tahun 2018
4 1.3 Produksi dan Produktivitas Nanas di Kecamatan Dolok Silou
Tahun 2016-2018
5 3.1 Produksi Tanaman Buah-Buahan Menurut Kecamatan dan Jenis
Buah di Kabupaten Simalungun Tahun 2018
17 4.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Panribuan
Tahun 2019
23 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Usia di Desa Panribuan
Tahun 2019
24 4.3 Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Panribuan Tahun
2019 25
4.4 Identitas Responden Pada Usahatani Nanas di Desa Panribuan 25 4.5 Status Kepemilikan Lahan Nanas Petani di Desa Panribuan 26 5.1 Rata-rata Biaya Tetap pada Usahatani Nanas di Desa Panribuan 28 5.2 Rata-rata Biaya Variabel pada Usahatani Nanas di Desa
Panribuan 29
5.3 Rata-rata Biaya Total pada Usahatani Nanas di Desa Panribuan 30 5.4 Rata-rata Penerimaan Petani Nanas per Tahun di Desa Panribuan 30 5.5 Rata-rata Pendapatan Petani Nanas per Tahun di Desa Panribuan 31
ix
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Hal
2.1 Skema Kerangka Pemikiran 15
x
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul
1 Karakteristik Responden Usahatani Nanas
2 Status Kepemilikan Lahan Responden Usahatani Nanas 3 Biaya Variabel Bibit pada Usahatani Nanas
4 Biaya Variabel Pupuk pada Usahatani Nanas 5 Biaya Variabel Pestisida pada Usahatani Nanas 6 Biaya Tetap PBB pada Usahatani Nanas
7 Biaya Variabel Distribusi Tenaga Kerja pada Usahatani Nanas 8 Biaya Tetap Penyusutan Peralatan pada Usahatani Nanas 9 Total Produksi Usahatani Nanas
1
Universitas Sumatera Utara BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan produk hortikultura merupakan salah satu aspek pembangunan pertanian. Tanaman yang termasuk dalam tanaman hortikultura yaitu sayur- sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat-obatan. Fungsi tanaman hortikultura selain sebagai penghasil bahan pangan tetapi juga memiliki fungsi yang lain. Secara sederhana fungsi lain tersebut dapat dibagi menjadi empat, yaitu sebagai fungsi penyedia pangan, fungsi ekonomi, fungsi kesehatan dan fungsi sosial budaya (Bahar, 2012).
Nanas merupakan tanaman buah semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus dan memiliki nama daerah danas (Sunda) dan neneh (Sumatera). Tanaman nanas tumbuh baik di daerah tropis.Nanas adalah salah satu jenis tanaman yang banyak digemari orang karena rasanya enak, segar, dan sedikit asam. Secara umum, nanas memiliki kandungan gizi dan vitamin, di antaranya kalori, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan sedikit vitamin B, dan salah satu hasil pertanian yang nilai ekonomisnya cukup tinggi. Tanaman yang nilai ekonominya tinggi, biasanya memiliki nilai resiko kegagalan dalam pemeliharaan yang tinggi pula (Soedarya, 2009).
Nanas salah satu buah tropis yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Buah nanas selain digemari masyarakat untuk konsumsi buah segar, juga merupakan bahan baku industri buah kalengan dan olahan seperti selai, sirup, dan lain-lain.
Daerah nanas yang terkenal di Negara kita ini adalah Palembang, Riau, Jambi,
2
Universitas Sumatera Utara Bogor, Subang dengan daerah penyebarannya di Sumatera Utara (Asahan dan Simalungun), Jawa Barat (Pandeglan dan Tasikmalaya), Sulawesi Selatan (Barru, Gowa), Kalimantan Timur (Kutai dan Pasir) (Nuswamarhaeni, dkk., 1999).
Berdasarkan karakteristik daun dan buahnya, nanas dapat digolongkan menjadi empat grup yaitu Spanish, Queen, Abacaxy, dan Cayenne (Irfandi, 2005). Para petani nanas di Indonesia lebih banyak menanam nanas Cayenne (nanas Hijau dan Minyak), nanas Queen (nanas Bogor), dan nanas Spanish (nanas Merah dan Buaya).
Di Sumatera Utara paling banyak menanam nanas Cayenne baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi karena buahnya memiliki rasa yang manis, sedikit asam, renyah, dan ukuran buahnya yang besar (Nuswamarhaeni, dkk., 1999).
Perkembangan produksi komoditas hortikultura di Kabupaten Simalungun beragam dan fluktuatif. Beragam Kecamatan di Simalungun memiliki potensinya tersendiri, ada Kecamatan yang menjadi sentra produksi komoditas tertentu, hal ini menunjukan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu dalam penyumbang pendapatan di Kabupaten Simalungun. Komoditas hortikultura khususnya buah- buahan sebagai salah satu yang memiliki peran cukup besar karena masih banyak diusahakan baik dalam skala besar maupun rumah tangga oleh petani di Kabupaten Simalungun.
3
Universitas Sumatera Utara Tabel 1.1. Produksi Buah-Buahan Menurut Jenis Tanaman di Sumatera
Utara (Ton), Tahun 2012 sampai 2016
Sumber : Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara, 2017
Dinas tanaman pangan dan hortikultura Sumatera Utara mencatat produksi nanas di Sumatera Utara pada tahun 2012 sebesar 262.089 ton, pada tahun 2013 sebesar 228.136 ton, pada tahun 2014 sebesar 237.581 ton, pada tahun 2015 sebesar 223.128 ton, pada tahun 2016 sebesar 163 504 ton. Dari data yang kita lihat di dinas tanaman pangan dan hortikultura terlihat bahwa produksi nanas di Sumatera Utara pada tahun 2012 sampai 2016 mengalami penurunan setiap tahunnya.
Jenis Tanaman 2012 2013 2014 2015 2016
1 Alpukat 7 954 8 574 10 319 11 832 14 105
2 Jeruk 362 250 334 019 513 858 483 006 467 746 3 Mangga 35 470 34 548 31 378 32 173 21 499 4 Rambutan 26 908 27 799 28 325 24 953 17 801 5 Duku/Langsat 32 713 19 562 16 715 13 868 12 326 6 Durian 102 767 79 994 80 441 65 530 74 811 7 Jambu Biji 19 861 15 071 12 661 8 806 10 049
8 Sawo 9 397 9 291 8 601 7 389 9 002
9 Pepaya 31 658 27 757 26 238 26 305 20 235 10 Pisang 363 061 342 297 298 910 139 541 137 886 11 Nenas 262 089 228 136 237 581 223 128 163 504 12 Salak 350 011 244 446 354 087 192 585 118 619 13 Manggis 13 182 12 336 10 870 7 947 7 325 14 Nangka/Cempedak 16 443 14 876 12 818 11 018 10 253
15 Sirsak 1 066 1 098 960 954 1 107
16 Belimbing 7 245 5 204 2 941 4 028 3 453
4
Universitas Sumatera Utara Tabel 1.2. Produksi Buah-Buahan dan Sayuran Tahunan Menurut Jenis
Tanaman di Kabupaten Simalungun (Kuintal), Tahun 2018
NO Jenis Tanaman Produksi Buah-Buahan dan
Sayuran Tahunan
1. Alpukat / Avocado 12.746
2. Anggur / Grape 0
3. Apel / Apple 0
4. Belimbing / Star Fruit 378
5. Duku / Langsat 3.457
6. Durian / Durian 25.603
7. Jambu Air / Rose Apple 1.099
8. Jambu Biji / Guava 1.231
9. Jeruk Besar / Pomelo 2.570
10. Jeruk Siam / Tangerine 1.220.300
11. Jeruk / Orange 1.222.870
12. Mangga / Mango 13.688
13. Manggis / Mangosteen 346
14. Markisa / Marquisa 5.832
15. Nangka / Jack Fruit 935
16. Nanas / Pineapple 1.806
17. Pepaya / Papaya 3.666
18. Pisang / Banana 22.824
19. Rambutan / Rambutan 1.574
20. Salak / Salacca 283
21. Sawo / Star Apple 1.280
22. Sirsak / Soursop 278
23. Sukun / Bread Fruit 146
24. Jengkol / Jengkol 2.094
25. Melinjo / Melinjo 562
26. Petai / Twisted Cluster Bean 1.299
Sumber : BPS, Statistik Pertanian Hortikultura SPH, SBS, 2019
Berdasarkan Tabel 2 memperlihatkan bahwa produksi buah-buahan di Kabupaten Simalungun sangat bervariasi. Produksi tertinggi terdapat pada buah jeruk dan terendah pada buah apel dan anggur. Pada produksi tanaman nanas termasuk ke dalam produksi buah terbanyak. Melihat hal ini, nanas memliki potensi yang baik untuk lebih dikembangkan dan dibudidayakan agar tingkat produksi nanas semakin meningkat.
5
Universitas Sumatera Utara Tabel 1.3. Produksi dan Produktivitas Nanas di Kecamatan Dolok Silou
Tahun 2016 sampai 2018
No. Tahun Produksi (Ton) Produktivitas (Kg/Rumpun)
1 2016 247 6,15
2 2017 1 3
3 2018 60 15
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, 2019
Berdasarkan Tabel 3 memperlihatkan bahwa produksi nanas di Kecamatan Dolok Silou mengalami fluktuatif. Produksi nanas pada tahun 2016 sebesar 247 ton dengan produktivitas sebesar 6,15 kg/rumpun, pada tahun 2017 sebesar 1 ton dengan produktivitas sebesar 3 kg/rumpun, dan pada tahun 2018 sebesar 60 ton dengan produktivitas sebesar 15 kg/rumpun. Dapat dilihat produksi tertinggi pada tahun 2016 dan terendah pada tahun 2017.
Penurunan produksi nanas dari tahun 2016-2017 terjadi karena penyusutan luas lahan tanam karena beralih ke tanaman lain yaitu tanaman kopi karena harganya lebih menjanjikan, faktor lainnya yaitu harga nanas yang tidak stabil dan cenderung sangat rendah, dan cuaca ekstrim.
Untuk mengetahui apakah usahatani nanas di Desa Panribuan Kecamatan Dolok Silou Kabupaten Simalungun masih layak atau tidak untuk tetap dikembangkan dengan jumlah produksi yang cenderung menurun dari tahun ke tahun maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka masalah penelitian ini dapat di identifikasikan sebagai berikut :
1.) Bagaimana pendapatan usahatani nanas di daerah penelitian ?
6
Universitas Sumatera Utara 2.) Bagaimana kelayakan usahatani nanas di daerah penelitian ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.) Untuk menganalisis besarnya pendapatan usahatani nanas di daerah penelitian.
2.) Untuk menganalisis bagaimana kelayakan usahatani nanas di daerah penelitian.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1.) Sebagai bahan untuk menambah wawasan bagi petani nanas dalam pengembangan usahataninya.
2.) Sebagai bahan informasi dan bahan masukan bagi pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam membuat kebijakan dan pembangunan pertanian, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan petani nanas.
3.) Sebagai bahan dan pengalaman bagi peneliti serta salah satu cara dalam menerapkan ilmu yang diperoleh di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera utara.
4.) Sebagai bahan evaluasi bagi penelitian yang akan datang agar dapat melakukan penelitian mengenai nanas lebih spesifik dan lebih luas pembahasan mengenai nanas.
7
Universitas Sumatera Utara BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tanaman Nanas
Tanaman nanas merupakan rumput yang batangnya pendek sekali. Daunnya berurat sejajar dan pada tepinya tumbuh duri yang menghadap ke atas (ke arah ujung daun).
Duri pada beberapa varietas nanas mulai lenyap, tetapi pada ujung daunnya sering masih dapat dilihat. Tanaman nanas berbunga pada ujung batang dan hanya sekali berbunga yang arah tegaknya ke atas. Nanas merupakan tanaman monokotil, bersifat merumpun (bertunas anakan), dan pada batangnya atau tangkai bunga sering tumbuh tunas pula (Sunarjono,1998).
Tanaman buah nanas (Ananas comosus) merupakan tanaman yang termasuk golongan tanaman tahunan. Susunan yang terdapat pada buah nanas yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah. Akar nanas dapat dibedakan menjadi akar tanah dan akar samping. Akar melekat pada pangkal batang dan termasuk akar serabut, kedalaman perakaran pada media tanah yang baik antara 30-50 cm. Batang merupakan tempat melekatnya akar, daun, bunga, tunas dan buah. Batang tanaman nanas cukup panjang 20-25 cm, tebal dengan diameter 2,0-3,5 cm, beruasruas pendek. Daun nanas memiliki panjang 130-150 cm, lebar antara 3-5 cm, daun berduri tajam meskipun ada yang tidak berduri dan tidak memiliki tulang daun.
Jumlah daun tiap batang sangat bervariasi antara 70-80 helai. Nanas memiliki rangkaian bunga majemuk pada ujung batang. Bunga bersifat hermaprodit, kedudukan diketiak daun pelindung. Masa pertumbuhan bunga dari bagian dasar
8
Universitas Sumatera Utara menuju bagian atas membutuhkan sekitar 10-20 hari. Waktu dari menanam sampai terbentuk bunga antara 6-16 bulan (Suprianto, 2016).
Buah nanas (Ananas comosus) mengandung air dan serat yang tinggi seperti, homoselulosa 67 %, selulosa 38-48 %, alpa selulosa 31 %, lignin 17 %, serta pentosa 26 %. Daun nanas (Ananas comosus) memiliki kandungan kalsium oksalat, pectic substances, dan enzim bromelin (Nuraini, 2014).
Buah nanas (Ananas comosus) dapat dipanen ketika sudah berusia sekitar 12 – 24 bulan dari sejak tanam. Pemanenan buah nanas (Ananas comosus) dilakukan dengan memotong tangkai buah dengan pisau, pengambilan buah nanas yang tepat pada waktu pagi hingga siang hari. Menentukan buah nanas (Ananas comosus) yang sudah layak panen tanda-tandanya, yaitu mata buah nanas lebih membulat, mahkota buah nanas sudah membuka, warna kulit buah berubah kekuningan- kuningan hingga kedasar buah, timbul aroma buah nanas yang khas serta harum (Agromedia, 2009).
2.1.2. Syarat Tumbuh Nanas
Tanaman nanas menghendaki dataran rendah hingga dataran tinggi 1.200 mdpl.
Tanaman ini tidak tahan terhadap salju, tetapi tahan sekali terhadap kekeringan.
Namun, tanaman nanas lebih senang terhadap tanah subur, daerah beriklim basah dengan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun. Tanaman nanas tahan terhadap tanah asam yang mempunyai pH 3-5, tetapi paling baik adalah pH tanah antara 5- 6,5. Oleh karena itu, tanaman nanas bagus pula dikembangkan di lahan gambut.
Tanaman nanas dapat tumbuh di lahan terbuka, tetapi dapat pula tumbuh subur di tempat yang ternaungi pohon besar. Namun, di tempat terbuka yang mendapat sinar
9
Universitas Sumatera Utara matahari terik, buahnya sering hangus. Tanaman masih mampu berbuah di daerah beriklim kering (4-6 bulan kering), asalkan kedalaman air tanah antara 50-150 cm.
Hal ini disebabkan akarnya yang dangkal, tetapi tanaman mampu menyimpan air (Sunarjono, 2006).
2.2. Landasan Teori 2.2.1. Usahatani
Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang lebih tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran atau output yang melebihi masukan atau input (Soekartawi, 1995).
Usahatani adalah ilmu yang mempelajari cara-cara petani untuk mengkombinasikan dan mengoperasikan berbagai faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal dan manajemen) serta bagaimana petani memilih jenis dan besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak yang dapat memberikan pendapatan yang sebesar-besarnya dan secara kontinyu (Daniel, 2001).
2.2.2. Teori Pendapatan Usahatani
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi barupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya (Suratiyah, 2006).
10
Universitas Sumatera Utara Menurut Suratiyah (2008), definisi dari penerimaan, pendapatan, dan lain-lain adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan didefinisikan sebagai seluruh pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode yang diperhitungkan dari hasil penjualan.
2. Biaya alat-alat luar adalah semua korbanan yang dikeluarkan untuk menghasilkan penerimaan kecuali upah tenaga kerja keluarga, bunga seluruh aktiva yang digunakan dan biaya untuk kegiatan si pengusaha sendiri. Dengan kata lain biaya-biaya tersebut meliputi biaya saprodi, biaya tenaga kerja luar, biaya PBB, iuran air, dan penyusutan alat.
3. Pendapatan petani adalah penerimaan (pendapatan kotor) dikurangi biaya alat- alat luar dan bunga modal luar.
Cara menghitung biaya penyusutan alat-alat pertanian menggunakan metode garis lurus (stright line method) dengan rumus (Soekartawi, 1991) :
Penyusutan (Rp) = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑩𝒆𝒍𝒊 𝑨𝒘𝒂𝒍−𝑵𝒊𝒍𝒂𝒊 𝑺𝒊𝒔𝒂
𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐏𝐚𝐤𝐚𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐭 x Jumlah barang
Total Revenue adalah penerimaan total produsen dari hasil penjualan outputnya.
Total Revenue didapatkan dari jumlah output yang terjual dikali harga barang yang terjual (Boediono, 2000).
Untuk dapat mengetahui besarnya pendapatan petani, maka kita juga harus mengetahui besarnya penerimaan dan total biaya. Total biaya merupakan hasil penjumlahan dari segala jenis biaya produksi, salah satunya adalah biaya penyusutan.
11
Universitas Sumatera Utara Pendapatan merupakan selisih penerimaan dengan semua biaya produksi.
Pendapatan meliputi pendapatan kotor (penerimaan total) dan pendapatan bersih.
Pendapatan kotor adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi (Rahim dan Hastuti Dwi R. D, 2007).
2.2.3. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan usaha berfungsi untuk menentukan suatu usaha layak dijalankan atau tidak. Hal tersebut penting dilakukan agar suatu usaha yang sedang dirintis atau dikembangkan terhindar dari kerugian. Kesalahan dalam merencanakan suatu usaha akan berakibat pembengkakan investasi. Hal ini juga dapat terjadi apabila pemilik usaha ingin mengembangkan usahanya yang telah berjalan tanpa perhitungan yang matang. Oleh karena itu analisis kelayakan usaha menjadi penting sekali untuk diperhatikan (Karim, 2012).
Untuk menghitung kelayakan usahatani dapat digunakan analisis, sebagai berikut :
1) Revenue Cost Ratio (R/C)
Komponen biaya dapat dianalisis keuntungan usahatani dengan menggunakan analisis analisis R/C ratio. Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah usahatani menguntungkan atau tidak dan layak atau tidak untuk dikembangkan. Jika hasil R/C ratio lebih dari satu maka usahatani tersebut menguntungkan, sedangkan jika hasil R/C ratio sama dengan satu maka usahatani dikatakan impas atau tidak mengalami untung dan rugi. Jika hasil R/C ratio kurang dari satu maka usahatani tersebut mengalami kerugian (Rahim dan Hastuti, 2008).
12
Universitas Sumatera Utara Secara ekonomi usaha dikatakan menguntungkan atau tidak menguntungkan dapat dianalisis dengan menggunakan perbandingan antara penerimaan total dan biaya total yang disebut dengan Revenue Cost Ratio (R/C).
Ada tiga kriteria dalam perhitungan ini, yaitu :
1. Jika R/C<1, maka usahatani yang dilakukan secara ekonomi belum menguntungkan.
2. Jika R/C>1, maka usahatani yang dilakukan secara ekonomi menguntungkan.
3. Jika R/C=1, maka usahatani berada pada titik impas (Break Event Point).
2) Break Event Point
Break event point adalah suatu keadaan dimana usaha dalam operasinya tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian atau total biaya sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak ada rugi. Arti penting analisis BEP dalam pengambilan keputusan yaitu guna menetapkan jumlah minimal yang harus diproduksi agar perusahaan tidak mengalami kerugian dan penetapan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba tertentu (Rangkuti, 2005).
BEP volume produksi menggambarkan produksi minimal yang harus dihasilkan agar usahatani tidak mengalami kerugian. Apabila produksi yang dihasilkan rendah daripada produksi BEP, maka usahatani akan mengalami kerugian. BEP harga produksi menggambarkan harga terendah dari produk yang dihasilkan. Apabila harga di tingkat petani rendah daripada harga BEP, maka usahatani akan mengalami kerugian (Cahyono, 2002).
13
Universitas Sumatera Utara 2.3. Penelitian Terdahulu
Penelitian Dumaria, 2003 yang berjudul Analisis Efisiensi Usahatani Nenas, di Desa Tambakan, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran usahatani nenas di Subang, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi nenas, dan menganalisis efisiensi usahatani nenas.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan usahatani nenas per hektar per tahun sebesar Rp. 18.000.000,00 sedangkan total biaya rata-rata per hektar per tahun sebesar Rp. 11.265.400,00 dengan biaya tunai rata-rata sebesar Rp.
9.138.300,00. Dari hasil penerimaan dan biaya total tersebut maka diperoleh pendapatan per hektar per tahun adalah sebesar Rp. 6.734.600,00 dan pendapatan atas biaya tunai adalah sebesar Rp. 8.861.700,00; dengan ratio R/C atas biaya total sebesar 1,60 yang berarti bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,60 dan ratio R/C atas biaya tunai sebesar 1,98 yang berarti bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,98. Berdasarkan model fungsi produksi yang terbentuk menunjukkan bahwa jumlah nilai elastisitas produksi sebesar 1,3040. dari nilai tersebut menunjukkan bahwa skala usaha berada pada kondisi skala usaha yang meningkat.
Penelitian Yuntini, 2000 dengan judul “Analisis Usahatani Komoditas Pepaya”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendapatan atau keuntungan antara usahatani pepaya dengan usahatani komoditas alternatif, yaitu pisang, talas, singkong, bengkuang, padi dan jagung. Pada komoditas alternatif ini petani sudah mendapatkan keuntungan dalam umur pengusahaan selama satu tahun dengan
14
Universitas Sumatera Utara jumlah masing-masing bervariasi. Sedangkan untuk pepaya, pada tahun pertama petani masih menderita kerugian, tetapi pada tahun kedua hingga keempat mengalami keuntungan. Hasil perhitungan pada discount rate 23 persen diperoleh NPV Rp 4.920.226,17 dan net B/C 2,18 sehingga memenuhi kriteria kelayakan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2011) dengan judul skripsi
“Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Nanas Keriting Di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor”
menyimpulkan bahwa usahatani nanas yang dilakukan oleh petani responden di Desa Citapen secara umum dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan, karena nilai R/C atas biaya tunai dan R/C atas biaya total menunjukkan nilai lebih dari satu, yakni sebesar 2,65 dan 2,46; dengan artian bahwa penerimaan yang diperoleh petani responden dalam mengusahakan nanasdapat menutupi biaya usahatani yang dikeluarkan.
2.4 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, maka dapat disusun suatu kerangka pemikiran bahwa petani nanas adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usahatani nanas yang mengkombinasi faktor-faktor produksi sehingga petani nanas dapat melakukan kegiatan produksi. Setelah melakukan kegiatan produksi petani nanas akan memperoleh pendapatan yaitu penerimaan dikurang dengan total biaya dalam usahatani, maka diperlukan analisis untuk mengetahui berapa besar penerimaan dan pendapatan petani nanas. Usahatani nanas dikatakan layak atau tidak layak untuk diusahakan dapat dilihat secara finansial. Analisis yang digunakan yaitu dengan menghitung R/C dan BEP.
15
Universitas Sumatera Utara Keterangan :
: Menyatakan Hubungan
Gambar 2.1. Skema Kerangka Pemikiran Petani Nanas
Usahatani Nanas
Hasil Produksi
Harga
Penerimaan Faktor Produksi :
- Lahan - Modal - Tenaga
Kerja - Sarana
Produksi
Biaya
Pendapatan
Kelayakan Usahatani : - R/C
- BEP
Layak Tidak Layak
16
Universitas Sumatera Utara 2.3. Hipotesis
Berdasarkan identifikasi masalah dan landasan teori, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Pendapatan usahatani nanas di daerah penelitian tergolong rendah.
2. Usahatani nanas di daerah penelitian layak untuk diusahakan.
17
Universitas Sumatera Utara BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling atau sengaja diambil dengan pertimbangan Kecamatan Dolok Silou penghasil nanas terbanyak dari Kecamatan lainnya.
Tabel 3.1. Produksi Tanaman Buah-buahan Menurut Kecamatan dan Jenis Buah di Kabupaten Simalungun (Ton), Tahun 2018
No Kecamatan Nanas Manggis Nangka Sawo Rambutan
1. Silimakuta 30 - - - -
2. Pamatang Silimakuta
29 - - - -
3. Purba 22 - - - -
4. Haranggaol Horison
- - - - -
5. Dolong Pardamean
- - 8 - -
6. Sidamanik 11 - 11 - -
7. Pamatang Sidamanik
2 - 8 - -
8. Girsang Sipangan Bolon
25 - - - -
9. Tanah Jawa - - - - -
10. Haton Duhan 1 - - - -
11. Dolok Panribuan - - - - 4
12. Joriang Hataran - 3 - - -
13. Panel - 1 2 - 2
14. Panombelan Panel - - - 6 -
15. Raya - - - - -
16. Dolok Silou 60 - - - 11
17. Silou Kahean 1 3 - 8 -
18. Raya Kahean 1 - - - 12
19. Tapian Dolok - - 3 - 7
20. Dolok Batu Nanggar
- 3 2 3 22
21. Siantar - 2 1 4 17
22. Gunung Malela - 1 3 4 4
23. Gunung Maligas 1 5 4 7 7
18
Universitas Sumatera Utara Tabel 3.1. Produksi Tanaman Buah-buahan Menurut Kecamatan dan Jenis
Buah di Kabupaten Simalungun (Ton), Tahun 2018
24. Hutabayu Raja - 2 2 2 -
25. Jawa Maraja Bah Jambi
1 - 1 1 15
26. Pamatang Bandar 2 1 9 14 14
27. Bandar Huluan - 2 5 13 2
28. Bandar - 4 2 6 5
29. Bandar Masliam - - 1 5 2
30. Bosar Maligas 1 7 2 2 17
31. Ujung Padang 2 2 29 55 17
Simalungun 189 36 93 130 158
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, 2019
3.2 Metode Penentuan Responden
Populasi dalam penelitian ini adalah petani nanas yang berada di Desa Panribuan sebanyak 77 petani. Jumlah petani nanas tersebut didapat dari penyuluh pertanian di Desa Panribuan Metode penentuan responden diambil dengan metode simple random sampling. Jumlah responden dalam penelitian ini dapat dihitung dengan rumus slovin yaitu :
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(𝑒)2 Dimana :
n : Jumlah Responden N : Jumlah Populasi
e : Tingkat kesalahan dalam pengambilan responden (𝛼 ∶ 10%)
𝑛 = 77
1 + 77 (0,1)2 n = 44 Responden
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari
19
Universitas Sumatera Utara lapangan, baik dengan wawancara, maupun pengisian kuesioner oleh responden.
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber – sumber lain yang relevan seperti instansi terkait yang dapat mendukung kelengkapan data dalam penelitian ini.
3.4 Metode Analisis Data
Untuk identifikasi masalah 1, peneliti menggunakan rumus :
Untuk menghitung besarnya pendapatan dihitung dengan rumus :
Keterangan :
Pd = pendapatan usahatani (Rp)
TR = total penerimaan (total revenue) (Rp) TC = total biaya (total cost) (Rp)
FC = biaya tetap (fixed cost) (Rp)
VC = biaya variabel (variable cost) (Rp)
Y = produksi yang diperoleh dalam usahatani (Kg) Py = harga Y (Rp/Kg)
Apabila pendapatan petani nanas di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun > UMK (Upah Minimum Kabupaten) Simalungun maka
Pd = TR - TC TC = TFC + TVC
TR = Y x Py
20
Universitas Sumatera Utara pendapatan petani tergolong tinggi. Begitu juga sebaliknya, apabila pendapatan petani < UMK (Upah Minimum Kabupaten) Simalungun maka pendapatan petani tergolong rendah. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Simalungun, UMK (Upah Minimum Kabupaten) Simalungun tahun 2020 yaitu sebesar Rp. 2.607.089 per bulan.
Untuk menyelesaikan hipotesis 2, digunakan rumus :
R/C ratio, dan BEP (Break event point).
Revenue Cost Ratio merupakan perbandingan antara penerimaan usahatani dengan biaya usahatani. Rumus yang digunakan :
Keterangan :
R = Penerimaan (Rp) TC = Total Biaya (Rp)
Py = Harga Jual Nanas (Rp/kg) Y = Output (Kg)
FC = Biaya Tetap (Rp) VC = Biaya Variabel (Rp)
Kriteria yang digunakan dalam penentuan kelayakan usaha adalah :
1. Jika R/C<1, maka usahatani yang dilakukan secara ekonomi belum menguntungkan
2. Jika R/C>1, maka usahatani yang dilakukan secara ekonomi menguntungkan 3. Jika R/C=1, maka usahatani berada pada titik impas (Break Event Point)
R/C = Penerimaan / Biaya
21
Universitas Sumatera Utara Analisis Break Event Point (BEP) digunakan sebagai pengukuran untuk menentukan usahatani berada dalam keadaan impas, yaitu dicapai jika total penerimaan atau total revenue sama dengan total biaya atau total cost (TR=TC).
Secara matematis penentuan BEP produksi dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
TC = Total Biaya Nanas (Rp) P = Harga Jual Nanas (Rp/kg)
Rumus BEP harga, sebagai berikut :
Keterangan :
TC = Total Biaya Usahatani Nanas (Rp) Y = Produksi Total Usahatani Nanas (Kg)
3.5. Definisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kesalahpahaman dan kekeliruan dalam penafsiran penelitian ini, maka perlu dibuat defenisi dan batasan operasional sebagai berikut :
3.5.1. Definisi
1. Usahatani nanas adalah suatu usaha yang dilakukan di atas sebidang lahan usahatani dengan menanam tanaman nanas.
2. Produksi nanas adalah hasil panen dari nanas yang bernilai ekonomis yang dinyatakan dalam satuan kilogram (kg).
BEP Produksi (Kg) = TC / P
BEP Harga (Rp) = TC / Y
22
Universitas Sumatera Utara 3. Biaya produksi usahatani nanas adalah seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi atau jumlah biaya tetap dan biaya tidak tetap usahatani nanas per musim tanam yang dinyatakan dalam rupiah (Rp).
4. Harga jual adalah nilai produk nanas atau harga nanas yang berlaku di tingkat produsen yang dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram (Rp/Kg).
5. Penerimaan usahatani nanas adalah jumlah produksi nanasyang diperoleh petani dikali dengan harga jual nanas yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
6. Pendapatan usahatani nanas adalah selisih dari total penerimaan usahatani nanas yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk usahatani nanas yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
7. R/C ratio adalah perbandingan penerimaan usahatani nanas dengan seluruh biaya yang dipakai pada usahatani nanas selama proses produksi.
8. Break Event Point (BEP) usahatani nanas adalah keadaan usahatani nanas tidak mendapatkan keuntungan dan tidak menderita kerugian atau dalam keadaan impas.
3.5.2. Batasan Operasional
1. Penelitian dilakukan di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun.
2. Responden adalah petani nanas di daerah penelitian.
3. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2020.
23
Universitas Sumatera Utara BAB IV
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN
4.1 Luas dan Letak Geografis Desa Panribuan
Desa Panribuan adalah salah satu desa di Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Luas Desa Panribuan 26,32 Km2 dan berada pada ketinggian 751 – 1.200 meter di atas permukaan laut. Jarak dari Desa Panribuan ke Ibukota Kecamatan 7 Km, dan jarak ke Ibukota Kabupaten 54 Km.
Adapun Desa Panribuan berbatasan dengan:
Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Parasmian
Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tanjung Purba
Sebelah Barat berbatasa dengan Desa Cingkes
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tambak Bawang
4.2 Keadaan Penduduk
Jumlah Penduduk Desa Panribuan tahun 2019 tercatat sebanyak 2.088 jiwa yang terdiri dari 675 kepala keluarga. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Desa Panribuan disajikan pada Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Panribuan Tahun 2019
No. Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa)
1. Laki-Laki 1.058
2. Perempuan 1.030
Total 2.088
Sumber: Kantor Kepala Desa Panribuan, 2020
24
Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah laki-laki adalah 1.058 jiwa.
Dimana jumlah tersebut lebih banyak 28 jiwa dibandingkan jumlah perempuan yang ada di Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun.
Jumlah penduduk tersebut tersebar di 5 dusun yang ada.
Berdasarkan struktur usia, penduduk Desa Panribuan memiliki usia yang beragam dimana hal tersebut dapat dilihat pada tabel jumlah penduduk berdasarkan usia pada tahun 2019.
Tabel 4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Usia di Desa Panribuan Tahun 2019
No. Usia (Tahun) Jumlah (Jiwa)
1. <1 16
2. 1-4 120
3. 5-14 350
4. 15-39 1.080
5. 40-64 402
6. >65 120
Total 2.088
Sumber: Kantor Kepala Desa Panribuan, 2020
Pada Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa jumlah yang berusia 15-39 tahun memiliki jumlah yang lebih banyak yaitu sebanyak 1.080 jiwa. Selain itu pada kelompok usia
<1 tahun memiliki jumlah yang paling sedikit yaitu 16 jiwa.
Mata pencaharian masyarakat Desa Panribuan yang beragam dapat dilihat dari banyaknya tenaga kerja yang bekerja menurut lapangan pekerjaan yang ada di desa pada tahun 2019.
25
Universitas Sumatera Utara Tabel 4.3 Penduduk Menurut Mata Pencaharian Di Desa Panribuan Tahun
2019
No. Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa)
1. Petani 1.150
2. Buruh 100
3. PNS 45
4. Pegawai Swasta 15
5. Wiraswasta 80
6. Lainnya 412
Total 1862
Sumber: Kantor Kepala Desa Panribuan, 2020
Pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa mata pencaharian di Desa Panribuan sangat beragam. Penduduk banyak menggantungkan hidupnya pada kegiatan bertani. Hal ini dapat dilihat bahwa mata pencaharian yang paling banyak adalah petani yaitu sebanyak 1.150 jiwa. Hal ini membuktikan pertanian menjadi salah satu penopang perekonomian di Desa Panribuan.
4.4 Karakteristik Responden 4.4.1 Identitas Responden
Identitas responden merupakan gambaran secara umum mengenai latar belakang responden. Responden dalam penelitian ini adalah petani nanas di Desa Panribuan.
Identitas responden yang dikaji dalam penelitian ini meliputi umur responden, jumlah anggota keluarga, pengalaman bertani, dan luas lahan. Berikut data mengenai identitas responden:
Tabel 4.5 Identitas Responden Pada Usahatani Nanas di Desa Panribuan
No. Uraian Rata-Rata/Responden
1. Umur Responden (Tahun) 44,8
2. Jumlah Anggota Keluarga (Orang) 3,0
3. Pengalaman Bertani (Tahun) 16,6
4. Luas Lahan (Ha) 1,3
Sumber: Analisis Data Primer diolah
26
Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diketahui umur rata-rata responden adalah 44,8 tahun, yang tergolong usia produktif sehingga produktivitas kerja masih cukup tinggi. Hal itu berkaitan dengan kemampuan fisik dalam melakukan kegiatan usahatani nanas.
Rata-rata jumlah anggota keluarga petani nanas sebanyak 3 orang. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan tenaga kerja yang akan digunakan dalam usahatani nanas.
Rata-rata jumlah anggota keluarga yang aktif dalam kegiatan usahatani sebanyak 2 orang. Anggota keluarga yang ikut aktif dalam kegiatan usahatani adalah suami dan istri.
Rata-rata pengalaman bertani nanas adalah 16,6 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan usahatani nanas sudah cukup lama dan mampu menopang kebutuhan hidup petani nanas. Pengalaman bertani yang cukup lama memberikan pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan usahatani nanas tersebut. Dan rata-rata luas lahan nanas yang dimiliki petani adalah 1,3 ha.
4.5 Karakteristik Status Kepemilikan Lahan Nanas
Karakteristik status kepemilikan lahan nanas memberikan gambaran mengenai bagaimana status kepemilikan lahan nanas yang dimiliki oleh petani di Desa Panribuan. Apakah lahan nanas tersebut milik sendiri atau sewa. Karakteristik status kepemilikan lahan nanas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Status Kepemilikan Lahan Nanas Petani di Desa Panribuan No. Status Kepemilikan Lahan Jumlah Responden (Orang)
1. Milik Sendiri 44
2. Sewa 0
Total 44
Sumber: Analisis Data Primer diolah
27
Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa status kepemilikan lahan nanas seluruh responden adalah milik sendiri. Dengan jumlah responden yang memiliki lahan sendiri yaitu 44 petani.
28
Universitas Sumatera Utara BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Usahatani Nanas 5.1.1 Analisis Biaya
a. Biaya Tetap
Biaya tetap dalam usahatani nanas di Desa Panribuan meliputi biaya penyusutan alat, dan biaya PBB. Rata-rata biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani nanas adalah sebagai berikut:
Tabel 5.1 Rata-rata Biaya Tetap Pada Usahatani Nanas di Desa Panribuan No. Jenis Biaya Tetap Rata-rata/Tahun (Rp)
1. PBB 63.500
2. Penyusutan Peralatan 223.398
a. Alat semprot 54.216
b. Cangkul 24.818
c. Parang 25.114
d. Kereta Sorong 89.023
e. Mesin Babat 30.227
3. Penyusutan Tanaman 2.837.414
Total 3.124.312
Sumber: Analisis Data Primer diolah
Berdasarkan Tabel 5.1 diketahui bahwa rata-rata biaya tetap terbesar pada usahatani nanas adalah biaya penyusutan tanaman yaitu sebesar Rp. 2.837.414. Dan biaya tetap terkecil yaitu biaya PBB yaitu sebesar Rp. 63.500. Sehingga total dari biaya tetap yaitu sebesar Rp. 3.124.312.
a. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan petani yang besarnya berubah-ubah.
Biaya variabel usahatani nanas terdiri dari bibit, pupuk, dan pestisida. Berikut data mengenai biaya variabel pada usahatani nanas di Desa Panribuan.