Pendidikan Akuntansi – FKIP UMS
PENGANTAR HUKUM
PERDATA DAN DAGANG
Bab Hukum tentang Pembuktian dan Lewat Waktu
Disusun Oleh:
Dr. Wafrotur Rohmah, MM Agus Susilo, M.Pd
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 1 BAB V
HUKUM TENTANG PEMBUKTIAN DAN LEWAT WAKTU
A. PEMBUKTIAN
Perihal pembuktian termasuk dalam hukum acara (Procesrect) dan tidak pada tempatnya dimasukkan dalam KUHPer (BW) yang asasnya hanya mengatur hal-hal yang termasuk hukum materi.
Di dalam hukum acara perdata di Indonesia, perihal pembuktian ini diatur dalam H.I.R, yaitu pasal 162 sampai dengan pasal 177 H.I.R. Pasal-pasal ini dipergunakan dalam beracara di pengadilan negeri. Dalam hal ini, yang akan dibahas hanya mengenai perihal pembuktian menurut KUHPer (B.W) yang meliputi: a) alat bukti, b) bukti, c) pembuktian, d) beban pembuktian (pasal 1865 KUHPer), e) macam-macam pembuktian.
1. Alat Bukti
Simanjuntak (1999) menyebutkan alat bukti adalah segala apa yang menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan sesuatu.
2. Bukti
Simanjuntak (1999) menyebutkan bukti adalah sesuatu untuk meyakinkan akan kebenaran suatu dalil atau pendirian.
3. Pembuktian
Simanjuntak (1999) menyebutkan pembuktian adalah usaha yang berwenang untuk mengemukakan kepada hakim sebanyak mungkin hal-hal yang berkenaan dengan suatu perkara yang bertujuan agar supaya dapat dipakai oleh hakim sebagai bahan untuk memberikan keputusan mengenai perkara tersebut.
4. Beban Pembuktian (Pasal 1865 KUHper)
Menurut Pasal 1865 KUHPer, setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut.
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 2 Menurut Pasal 163 H.I.R, barang siapa yang mengatakan ia mempunyai hak atau ia menyebutkan suatu perbuatan untuk menguatkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu.
5. Macam-Macam Pembuktian
Menurut pasal 1866 KUHPer dan pasal 164 H.I.R, macam-macam alat bukti adalah:
a. Bukti tulisan (Pasal 1867 Sampai dengan pasal 1894 KUHPer ) Menurut undang-undang surat-surat dapat dibagi menjadi:
1) Surat-surat akte
Surat akte dibagi menjadi:
a) Surat-surat akte resmi (authentiek)
Ada tiga syarat yang harus dipenuhi akte resmi yaitu:
1. dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum
2. dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang 3. dibuat oleh pejabat umum atau di hadapan siapa akta itu
dibuat mempunyai kewenangan untuk itu.
b) Surat-surat akte di bawah tangan (onderhands) 2) Surat-surat lain
b. Bukti kesaksian (pasal 1905 KUHPer)
Setelah, pembuktian dengan tulisan, pembuktian dengan kesaksian merupakan cara pembuktian yang terpenting dalam suatu perkara yang sedang diperiksa di depan hakim. Kesaksian itu selalu harus ditambah dengan suatu alat pembuktian lain.
Menurut pasal 1911 KUHPer, setiap saksi sebelum memberikan kesaksian wajib disumpah. Orang yang berhak memberikan saksi menurut pasal 1909 KUHPer adalah semua orang yang cakap untuk menjadi saksi diharuskan memberikan kesaksian di muka hakim, namun bisa dibebaskan dari kewajiban memberikan kesaksian karena:
1) Mereka yang dalam pertalian keluarga dalam garis samping dalam derajat kedua atau semenda dengan salah satu pihak
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 3 2) Mereka yang dalam pertalian keluarga dalam garis lurus tak terbatas dalam garis samping dalam derajat kedua dengan suami atau isteri salah satu pihak
3) Mereka yang karena kedudukan, pekerjaannya atau jabatannya menurut undang-undang diwajibkan merahasiakan sesuatu.
Menurut pasal 1912 KUHPer, ada beberapa orang yang tidak dapat diterima menjadi saksi, yaitu:
1) Orang yang belum mencapai 15 tahun
2) Orang yang ditaruh di bawah pengampunan karena dungu, sakit ingatan atau mata gelap
3) Orang yang telah dimasukkan ke tahanan atas perintah hakim.
c. Bukti persangkaan ( Pasal 1915 ayat 1 KUHPer )
Menurut pasal 1915 ayat (1) KUHPer adalah kesimpulan- kesimpulan yang oleh undang-undang atau oleh hakim ditarik dari suatu peristiwa yang dikenal ke arah suatu peristiwa yang tidak dikenal.
Menurut pasal 1915 ayat (2) KUHPer, persangkaan terdiri dari dua macam, yaitu:
1) Persangkaan menurut undang-undang
Menurut pasal 1916 KUHPer, persangkaan menurut undang- undang adalah persangkaan yang berdasarkan suatu ketentuan khusus undang-undang dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan atau peristiwa-peristiwa tertentu. Persangkaan semacam ini diantaranya:
a) Perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan batal, karena esmata-mata dari sifat dan wujudnya dianggap dilakukan untuk menghindari suatu ketentuan undang-undang.
b) Hal-hal dimana hak milik atau pembebasan utang oleh undang- undang disimpulkan dari keadaan-keadaan tertentu.
c) Kekuatan yang oleh undang-undang diberikan kepada putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan mutlak.
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 4 d) Kekuatan yang oleh undang-undang diberikan kepada
pengakuan atau sumpah salah satu pihak.
2) Persangkaan menurut hakim
Menurut pasal 1922 KUHPer, hakim harus memperhatikan hal-hal yang penting yang jelas dan tertentu dan yang sesuai satu sama lainnya. Suatu persangkaan yang ditetapkan hakim, terdapat dalam pemeriksaan suatu perkara dimana untuk pembuktian suatu perristiwa tidak bisa didapatkan saksi-saksi yang dengan mata kepala sendiri telah melihat peristiwa itu.
d. Bukti pengakuan
Pengakuan adalah suatu pernyataan akan kebenaran, oleh salah satu pihak yang bersengketa, tentang apa yang dikemukakan oleh lawannya. Menurut pasal 1923 KUHPer, pengakuan dapat dilakukan melalui:
1) Pengakuan di muka hakim
Menurut pasal 1925 KUHPer, suatu pengakuan yang dilakukan di depan hakim merupakan suatu permbuktian yang sempurna tentang kebenaran hal atau peristiwa yang diakui.
Pengakuan di depan hakim tidak bisa ditarik kembali, kecuali apabila dibuktikan bahwa pengakuan itu adalah akibat dari suatu kekhilafan mengenai hal yang terjadi.
2) Pengakuan di luar sidang pengadilan
Menurut pasal 1927 KUHPer, suatu pengakuan lisan yang dilakukan di luar sidang pengadilan tidak dapat dipakai, selainnya dalam hal-hal dimana diizinkan pembuktian dengan saksi-saksi.
e. Bukti sumpah
Menurut Prof. Ali Afandi, sumpah adalah suatu pernyataan yang khidmat bahwa Tuhan adalah yang maha tahu dan bahwa Tuhan akan menghukum tiap pendusta, pada waktu orang memberikan suatu keterangan atau kesanggupan. Sumpah pada hakekatnya adalah suatu perbuatan yang bersifat keagamaan.
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 5 Menurut pasal 1929 KUHPer, ada dua macam sumpah di muka hakim, yaitu:
1) Sumpah pemutus (decisoir)
Menurut pasal 1929 KUHPer, sumpah pemutus adalah sumpah yang oleh pihak yang satu dengan perantara hakim diperintahkan kepada pihak yang lain untuk menguntungkan pemutusan perkara.
2) Sumpah tambahan/pelengkap (supletoir)
Menurut pasal 1929 KUHPer, sumpah pelengkap atau tambahan adalah sumpah yang oleh hakim karena jabatannya diperintahkan kepada salah satu pihak yang berpekara.
A. LEWAT WAKTU
Pasal 1946 KUHPer menyebutkan lewat waktu atau daluwarsa adalah suatu alat untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang. Istilah “lampau waktu” dalam bahasa Belanda “verjaring”
atau dalam bahasa Inggris “prescription”.
Lewat waktu (daluarsa) dibedakan atas 2 macam yaitu:
1. Lewat waktu untuk memperoleh hak milik
Unsur-unsur yang harus ada untuk memperoleh hak miliki sesuai dengan pasal 1963 KUHPer adalah:
a. Ada itikad baik b. Ada alas hak yang sah
c. Menguasai barang tersebut secara terus-menerus selama 20 tahun atau 30 tahun tanpa ada yang menggugat.
2. Lewat waktu untuk dibebaskan dari suatu tuntutan
Pasal 1967 KUHPer menyebutkan segala tuntutan, baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat perorangan, hapus karena daluwarsa dengan lewatnya waktu 30 tahun, sedangkan orang yang
Pengantar Hukum Perdata dan Hukum Dagang 6 menunjukkan adanya daluwarsa itu tidak usah menunjukkan alas hak, dan tidak dapat diajukan terhadapnya tangkisan yang berdasarkan itikad buruk.
Lewat waktu atau daluwarsa dapat dicegah apabila kenikmatan atas benda itu selama lebih dari 1 tahun, diambil kembali dari tangan orang yang menguasai benda itu, baik oleh pemiliknya maupun oleh pihak ketiga (Pasal 1978 KUHPer). Pencegahan daluwarsa dapat dilakukan dengan peringatan, gugatan, atau perbuatan hukum lainnya yang dilakukan oleh pejabat berwenang atas nama pihak yang berhak kepada pihak yang henda dicegah daluwarsa itu (Pasal 1979 KUHPer).
Pasal 1986 KUHPer menyebutkan daluwarsa berjalan terhadap seseorang, kecuali yang bagi keuntungannya diadakan pengecualian oleh undang-undang. Daluwarsa tidak dapat berjalan atau terjadi dalam hal-hal berikut:
1. Terhadap anak yang belum dewasa dan orang yang ditaruh di bawah pengampunan (Pasal 1987 KUHPer)
2. Terjadi antara suami-isteri (Pasal 1987 KUHPer)
3. Terhadap seorang isteri selama perkawinan (Pasal 1989 KUHPer)
4. Terhadap piutang yang bergantung pada suatu syarat, selama syarat ini tidak dipenuhi (Pasal 1990 KUHPer)
5. Terhadap seorang ahli waris yang telah menerima suatu warisan dengan hak istimewa untuk membuat pendaftaran harga peninggalan, mengenai harta piutang-piutangnya terhadap harta peninggalan (Pasal 1991 KUHPer).