• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user JURNAL SKRIPSI

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE TGT (Team Games Turnament)PADA PESERTA DIDIK KELAS X TKJ SMK MUHAMMADIYAH 2 NGAWI

TAHUN AJARAN 2016/2017

Skripsi

OLEH :

MIFTACHUR RIZQY K4612099

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELS MARET

SURAKARTA Oktober 2016

(2)

commit to user

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (Team Games Turnament) PADA PESERTA DIDIK

KELAS X TKJ SMK MUHAMMADIYAH 2 NGAWI TAHUN AJARAN 2016/2017

MIFTACHUR RIZQY1

Rony Syaifullah, S.Pd., M.Pd,2 Pomo Warih Adi, S.Pd., M.Or3

ABSTRAK

Miftachur Rizqy. K4612099. “PENINGKATAN HASIL BELAJAR BERMAIN SEPAKBOLA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (Team Games Turnament) PADA PESERTA DIDIK KELAS X TKJ SMK MUHAMMADIYAH 2 NGAWI TAHUN AJARAN 2016/2017” Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Universitas Sebelas Maret Surakarta. Maret 2016.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar permainan sepakbola pada peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament).

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sumber data dalam penelitian ini berasal dari peserta didik, peneliti dan guru yang bertindak sebagai kolaborator. Teknik pengumpulan data menggunakan tes observasi dan angket kartu ceria. Validitas data menggunkan teknik triangulasi data. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif yang didasarkan pada analisis kualitatif persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar bermain sepakbola dari prasiklus ke siklus 1 dan dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar bermain sepakbola dari pada siklus I dalam kategori tuntas adalah 61,11% atau 22 peserta didik. Pada siklus II terjadi peningkatan prosentase hasil belajar bermain sepakbola dalam kategori tuntas sebesar 88,89% atau 32 peserta didik.

Simpulan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Turnament) dapat meningkatkan hasil belajar bermain sepakbola pada peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017.

Kata kunci : Hasil Belajar, Bermain Sepakbola, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Team Games Turnament)

(3)

commit to user ABSTRACT

Miftachur Rizqy. K4612099. INCREASED YIELD LEARNING TO PLAY FOOTBALL USING COOPERATIVE LEARNING TYPE TGT (Team Games Turnament) OF TENTH GRADE STUDENTS OF TKJ SMK MUHAMMADIYAH 2 NGAWI IN THE ACADEMIC YEAR 2016/2017”

Thesis,Teacher Training and Education Faculty. Sebelas Maret University.

Surakarta. Maret 2016.

The purpose of this research is to increase the learning outcome of football games of tenth grade students of TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi in the academic year of 2016/2017 through cooperative learning model TGT (Teams Games Tournament).

This research is a Classroom Action Research (CAR). The source of the data in this study comes from the students, researcher, and teacher as a collaborator. The technique of data collection uses test, observation, and questionnaire of smiley card. The data validity uses triangulation technique data.

The analysis of the data uses descriptive qualitative technique based on the analysis of qualitative percentage.

The results showed that through the implementation of cooperative learning type TGT can improve learning outcomes play football from prasiklus to cycle I and cycle I to cycle II. The results of learning to play football from cycle I in the category completely is 61,11% or 22 learners. In the cycle II an increase in the percentage of the results of learning to play football in the category completed by 88,89% or 32 learners.

The conclusions of this research is the application of cooperative learning type TGT (Team Games Turnament) can improve learning outcomes of students playing football at the class X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi the academic year 2016/2017.

Key words: Learning Outcome, Playing Football, The Implementation of Cooperative Learning Model TGT (Team Games Turnament)

1 Mahasiswa (K4612099)

2 Pembimbing 1

3Pembimbing 2

(4)

commit to user PENDAHULUAN

Olahraga merupakan bagian dari kehidupan manusia. Berolahraga dapat meningkatkan kesegaran jasmani atau kondisi fisik seseorang sehingga untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti.

Melalui kegiatan olahraga dapat membentuk manusia yang sehat jasmani dan memiliki watak disiplin serta sportif yang tinggi dan pada akhirnya akan membentuk manusia yang berkualitas. Perkembangan olahraga di Indonesia sekarang ini terasa semakin maju, hal ini tidak terlepas dari peran serta masyarakat yang semakin sadar dan mengerti arti penting fungsi olahraga itu sendiri, di samping adanya perhatian serta dukungan pemerintah juga menunjang perkembangan olahraga di Indonesia. Dalam melaksanakan olahraga manusia mempunyai tujuan yang berbeda, hal ini dikarenakan masing-masing manusia melakukan olahraga sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. Pertama, adalah mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk rekreasi atau hiburan, yaitu olahraga untuk mengisi waktu luang. Kegiatan olahraga dilakukan dengan penuh kegembiraan, santai, semua berjalan dengan tidak formal baik tempat, sarana maupun peraturannya. Kegiatan bertujuan untuk penyegaran kembali baik fisik maupun mental. Kedua, adalah mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk mencapai tujuan pendidikan, seperti olahraga di sekolah-sekolah yang diasuh oleh guru PJOK. 2 tujuan olahraga yang dilakukan ini tercantum dalam kurikulum sekolah dan disajikan dengan mengacu pada tujuan pembelajaran umum dan pembelajaran khusus yang cukup jelas. Ketiga adalah mereka yang melakukan kegiatan olahraga untuk tujuan penyembuhan penyakit.

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan.Untuk hal itu, maka dalam pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan aktivitas jasmani itu sendiri, tetapi untuk mengembangkan potensi (multiple intellegences) peserta didik melalu aktivitas jasmani. Seperti halnya untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui

(5)

commit to user

aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Salah satu cabang olahraga yang diajarkan dalam pendidikan jasmani yaitu sepakbola.

Sepakbola adalah permainan beregu yang dimainkan oleh dua regu, masing-masing regu terdiri dari sebelas orang pemain termasuk seorang penjaga gawang. Hampir seluruh permainan dilakukan dengan keterampilan mengolah bola dengan kaki, kecuali penjaga gawang dalam memainkan bola bebas menggunakan seluruh bagian atau anggota badannya dengan kaki atau tangannya.

Sepakbola dimainkan diatas lapangan rumput yang rata, berbentuk empat persegi panjang dimana lebar dan panjangnya lapangan kurang lebih berbanding 3 dengan 4. Pada kedua garis lebar lapangan ditengah-tengahnya didirikan sebuah gawang yang saling berhadap-hadapan. Didalam permainan digunakan sebuah bola yang bagian luarnya terbuat dari kulit dan di bagian dalam terbuat dari karet diisi dengan udara. Adapun tujuan dari masing-masing regu atau kesebelasan adalah berusaha untuk memasukkan bola ke dalam gawang lawannya sebanyak mungkin dan berusaha mengagalkan serangan lawan untuk melindungi atau menjaga agar gawangnya tidak kemasukan bola.

Hasil belajar PJOK khususnya pada materi permainan bola besar yaitu sepakbola, masih kurang menguasai keterampilan permainan sepakbola dengan baik dan benar. Banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, diantaranya kurangnya keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran yang dilakukan cenderung menggunakan pendekatan teknik.

Pendekatan seperti itu menjadikan peserta didik kurang senang, masih banyaknya peserta didik yang kurang sungguh-sungguh dalam belajar teknik dasar sepakbola, hal tersebut ditunjukan bahwa peserta didik lebih suka pembelajaran langsung kepada permainan sepakbola dari pada belajar tentang teknik dasar terlebih dahulu, rendahnya motivasi peserta didik, anak tidak tertarik pada permainan

(6)

commit to user

sepakbola karena kurangnya pengembangan metode pembelajaran yang bervariasi oleh guru pembimbing dan pada akhirnya peserta didik merasa kurang senang terhadap pembelajaran yang dihadapi.

Dari observasi awal peneliti merasa perlu melakukan perubahan dalam model pembelajaran yang diterapkan. Melalui penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat partisipasi dan keaktifan belajar permainan sepakbola pada peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017. Peneliti mengamati bahwa peserta didik terkadang mengalami kesulitan dalam mempraktikkan teknik dasar dalam permainan sepakbola sesuai yang diinstruksikan guru.

Dari pengamatan keaktifan belajar peserta didik masih rendah sehingga hal ini juga menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik dalam melakukan keterampilan permainan sepakbola masih belum optimal sesuai dengan standar pencapaian nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 2,86. Dari 36 peserta didik, hanya 10 peserta didik (27,77%) yang sudah memenuhi standar KKM, dan sisanya 26 peserta didik (72,22%) masih jauh dari standar KKM yang sudah ditentukan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan solusi yang tepat untuk melaksnakan pembelajaran pendidikan jasmani agar dapat menarik perhatian dan meningkatkan motivasi peserta didik. Salah satu solusi yang dapat digunakan oleh guru pendidikan jasmani ialah dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat, yaitu penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT (Team Games Turnament). Kelebihan dari model pembelajaran TGT (Team Games Turnament) adalah peserta didik banyak melakukan game-game dengan sistem turnamen yang telah dibentuk dengan begitu akan menumbuhkan rasa semangat,kerjasama dan motivasi, khususnya motivasi ekstrinsik peserta didik untuk bersaing dengan teman-temannya secara fairplay. Model pembelajara TGT (Team Games Turnament) ini direncanakan akan dilaksanakan dalam dua siklus.

Pada siklus ini, peneliti bersama guru menyusun dan melaksanakan pembelajara TGT (Team Games Turnament) dalam pembelajaran bermain sepak bola (passing, control ,dribbling,dan shooting). Dari hasil pelaksanaan siklus I tersebut apabila

(7)

commit to user

target hasil belajar yang ditargetkan belum tercapai, maka akan dilaksanakan upaya perbaikan pada siklus II. Dari pelaksanaan model pembelajaran TGT (Team Games Turnament) tersebut, diharapkan dapat meningkatkan perhatian serta motivasi peserta didik untuk dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian motivasi peserta didik untuk mengikuti pelajaran penjas akan meningkat, maka diharapkan hasil belajar peserta didik pun juga akan meningkaat.

Dari pengalaman tersebut peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran yang lain yaitu model kooperatif tipe TGT (Team Game Turnament) dalam pembelajaran sepakbola dalam suatu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Bermain Sepakbola Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Team Games Turnament) Pada Peserta Didik Kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi Tahun Ajaran 2016/2017”.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017, yang berjumlah 36 peserta didik.

Teknik pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari tes dan observasi.

1. Tes : dipergunakan sebagai teknik pengumplan data untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam pemahaman materi pembelajaran permainan sepakbola melalui tes soal.

2. Observasi : dipergunakan sebagai teknik untuk mengumpulkan data tentang keterampilan permainan sepakbola peserta didik serta aktivitas peserta didik selama mengikuti kegiatan belajar mengajar saat penerapan

(8)

commit to user

pembelajaran kooperatif tipe TGT (Team Games Turnament) dalam pembelajaran permainan sepakbola.

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil Deskripsi siklus pertama, hasil belajar peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi Tahun Ajaran 2016/2017 setelah menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Team Games Turnament) menunjukkan bahwa pada kondisi awal hanya 27,78% atau 10 peserta didik meningkat menjadi 61,11% atau 22 peserta didik pada akhir siklus I, karena belum mencapai target akhir pencapaian yaitu 80% sehingga perlu adanya siklus lanjutan yaitu siklus II untuk mencapai target akhir pencapaian.

Berdasarkan hasil Deskripsi siklus II, hasil belajar peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi Tahun Ajaran 2016/2017 sudah cukup baik dengan hasil ketuntasan belajar secara mencapai 88,89 %, ini berarti secara proses belajar mengajar telah tuntas karena telah melebihi indikator ketuntasan hasil belajar dari 80%, meskipun masih terdapat 4 orang (11,11%) peserta didik yang belum tuntas.

Berdasarkan hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas pada peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017 dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan kualitas hasil belajar permainan sepakbola dari siklus satu ke siklus lainnya. Pada kondisi awal sebelum penelitian diperoleh hasil ketuntasan belajar yang kurang maksimal. Pada kondisi awal hanya 10 peserta didik (27,78%) yang mencapai kriteria tuntas, sedangkan sisanya belum. Pada akhir siklus I meningkat menjadi 22 peserta didik (61,11%) yang mencapai kriteria tuntas, sedangkan sisanya belum tuntas. Pada akhir siklus II terjadi peningkatan menjadi 32 peserta didik (88,89%) yang mencapai kriteria tuntas.

Sampai akhir pertemuan terdapat 4 peserta didik (11,11%) yang belum tuntas.

(9)

commit to user Prosentase

Gambar 1. Diagram Batang Perbandingan Hasil Belajar Permainan Sepakbola Tiap Siklus

A. PEMBAHASAN

Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar permainansepakbola. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi melalui model pembelajaran teams games tournament. Dengan penerapan pembelajaran teams games tournament, pembelajaran permainan sepakbola yang semula bersifat monoton dan membosankan akan menjadi lebih menyenangkan, tidak monoton, dan membangkitkan minat peserta didik terhadap pembelajaran permainan sepakbola.

Siklus I dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu pada hari Rabu 3 Agustus 2016, 10 Agustus 2016. Pelaksanaan tindakan I merupakan tindak lanjut dari hasil pratindakan yang menunjukkan bahwa kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi masih memiliki masalah dalam pembelajaran permainan sepakbola.

27,78% (10 Siswa)

61,11% (22Siswa)

88,89% (32 Siswa) 27,77% (26

Siswa)

38,89% (14 Siswa)

11,11% (4 Siswa) 0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

90%

100%

Tindakan Awal Tindakan Siklus I Tindakan Siklus II

P ro senta se (% )

Interval Nilai

Perbandingan Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Permainan Sepakbola Data Awal, Siklus I, dan

Siklus II

TUNTAS BELUM TUNTAS

(10)

commit to user

Pada pelaksanaan tindakan I, peserta didik melakukan pembelajaran teknik dasar permainan sepakbola dengan model pembelajaran teams games tournament, yaitu pembelajaran teknik dasar diterapkan dengan kegiatan intinya adalah dengan bentuk pertandingan antar kelompok. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru, peneliti dan observer terhadap proses pembelajaraan, dapat diketahui bahwa pembelajar permainan sepakbola melalui penerapan pembelajaran teams games tournament pada siklus I masih terdapat kekurangan atau kelemahan. Kekurangan tersebut berasal dari guru, peserta didik, dan alat dalam permainan yang digunakan dalam penelitian.

Kelemahan dari segi guru yaitu pemberian umpan dari guru untuk membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran masih kurang mendapat respon dari peserta didik, tanya jawab belum maksimal dan belum adanya penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Kelemahan dari segi peserta didik antara lain peserta didik masih sulit konsentrasi, peserta didik sering lupa dengan teknik gerakan yang telah diajarkan, peserta didik kurang mencermati contoh gerakan yang diajarkan guru,juga peserta didik kurang aktif bertanya karena malu dan takut dan peserta didik masih suka dengan kemauannya sendiri-sendiri masih sulit diatur.

Sedang kelemahan dari alat dalam tindakan I yaitu alat yang belum begitu menarik peserta didik untuk lebih semangat. Nilai yang diperoleh peserta didik dari hasil pengamatan permainansepakbola pada tindakan I masih harus ditingkatkan karena belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan.

Solusi yang disepakati guru dan peneliti dalam pelaksanaan siklus II yaitu peneliti lebih menghidupkan suasana dalam kelas, memberi apersepsi secukupnya, memberi reward kepada peserta didik yang mau bertanya, memberi contoh dengan benar secara konkrit dan sejelas mungkin, memberi kesempatan peserta didik untuk bertanya seluas-luasnya, menjaga kelas agar tetap kondusif, memancing peserta didik untuk aktif dengan pertanyaan, serta memberi penghargaan setiap muncul sisi positif

(11)

commit to user

yang dilakukan peserta didik, dan memberikan materi tidak hanya dari depan saja tetapi dari semua sudut yang memudahkan semua peserta didik untuk lebih mengerti. Alat yang digunakan untuk membuat permainan lebih dipersiapkan, yaitu dengan menggunakan alat yang lebih menarik peserta didik. Pada siklus II mengalami perubahan serta intensitas gerakan agak dipersulit, ini bertujuan agar peserta didik lebih tertantang untuk melaksanakan tugas dan peserta didik tidak bosan dengan melakukan gerakan yang monoton. Selain itu juga peserta didik dituntut bekerjasama dengan tim dan juga peserta didik merasa senang sehingga membuat lebih antusias mengikuti pembelajaran.

Siklus I dalam penelitian ini masih belum mampu mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, guru dan peneliti mengadakan tindakan perbaikan dari siklus I, yaitu dengan merencanakan dan melaksanakan siklus II. Berdasarkan hasil observasi, analisis, dan refleksi pada siklus I, peneliti bersama guru merencanakan tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada siklus II untuk mengatasi kelemahan proses pembelajaran permainan sepakbola melalui penerapan pembelajaran teams games tournament yang telah dilaksanakan pada siklus I.

Dengan perbaikan pada tindakan I, pelaksanaan tindakan II menunjukkan peningkatan pembelajaran yang maksimal. Dari pelaksanaan siklus II dapat dilihat peningkatan motivasi belajar dan kemampuan melakukan gerakan teknik dasar permainan sepakbola yang cukup signifikan pada peserta didik, jika dibandingkan pada hasil pembelajaran tindakan I ataupun sebelum dilaksanakannya tindakan. Sebelum pelaksanaan tindakan, peserta didik yang berhasil mencapai batas ketuntasan nilai pada angka 2,86 untuk teknik dasar permainan sepakbola sebanyak 10 peserta didik atau sekitar 27,78%. Selanjutnya mengalami peningkatan pada siklus I untuk teknik dasar permainan sepakbola yaitu sebanyak 22 peserta didik dinyatakan mencapai target atau sekitar 61,11%.

Titik puncak peningkatan hasil belajar permainan sepakbola pada

(12)

commit to user

penelitian ini adalah pada siklus II. Pada akhir siklus II ini hasil belajar permainan sepakbola peserta didik telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Sebanyak 32 peserta didik atau sekitar 88,89%

peserta didik dinyatakan telah mencapai target ketuntasan. Maka dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran Kooperati Tipe TGT (Team Games Turnament) dapat meningkatkan hasil belajar bermain sepakbola peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi Tahun Ajaran 2016/2017.

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. SIMPULAN

Penelitian Tindakan Kelas pada peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2 Ngawi tahun ajaran 2016/2017 dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan iterpretasi, dan (4) analisis dan refleksi. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah dijabarkan pada BAB IV, diperoleh data Pada prasiklus, hasil belajar permainan sepakbola peserta didik hanya mencapai criteria tuntas yaitu 10 peserta didik dari 36 peserta didik atau sebesar 27,78%. Pada siklus I, hasil belajar permainan sepakbola peserta didik mencapai kriteria tuntas yaitu 22 peserta didik dari 36 peserta didik atau sebesar 61,11%. Pada siklus II, hasil belajar permainan sepakbola peserta didik mencapai kriteria tuntas yaitu 32 peserta didik dari 36 peserta didik atau sebesar 88,89%.

Prosentase peningkatan hasil belajar permainan sepakbola, peserta didik yang telah mencapai criteria tuntas meningkat dari pra siklus 27,78% (10 peserta didik), pada siklus I 61,11% (22 peserta didik), pada siklus 2 menjadi 88,89% (32 peserta didik).

Disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran teams games tournament permainan sepakbola dapat meningkatkan hasil belajar permainan sepakbola peserta didik kelas X TKJ SMK Muhammadiyah 2

(13)

commit to user

Ngawi tahun ajaran 2016/2017. Dari hasil analisis yang dilakukan, diperoleh peningkatan yang cukup signifikan pada siklus I dan siklus II.

B. IMPLIKASI

Penelitian ini memberikan suatu gambaran yang jelas bahwa keberhasilan proses pembelajaran tergantung pada beberapa faktor.

Faktor-faktor tersebut berasal dari pihak guru maupun peserta didik.

Faktor dari pihak guru yaitu kemampuan guru dalam mengembangkan materi, kemampuan guru dalam menyampaikan materi, kemampuan guru dalam mengelola kelas, metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, serta penerapan yang digunakan guru sebagai sarana untuk menyampaikan materi. Sedangkan faktor dari peserta didik yaitu minat dan motivasi peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.

Faktor-faktor tersebut saling mendukung satu sama lain, sehingga harus diupayakan dengan maksimal agar semua faktor tersebut dapat dimiliki oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas maupun di lapangan. Apabila guru memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan materi dan dalam mengelola kelas serta didukung oleh teknik dan sarana dan prasarana yang sesuai, maka guru akan dapat menyampaikan materi dengan baik. Materi tersebut akan dapat diterima oleh peserta didik apabila peserta didik juga memiliki minat dan motivasi yang tinggi untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar, kondusif, efektif, dan efisien.

Penelitian ini juga memberikan deskripsi yang jelas bahwa dengan penerapan model pembelajaran teams games tournament permainan sepakbola dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, sehingga penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu pertimbangan bagi guru yang ingin menggunakan model pembelajaran teams games tournament. Bagi guru bidang studi Pendidikan Jasmani dan Olahraga, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam melaksanakan proses

(14)

commit to user

pembelajaran PJOK khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan permainan sepakbola dan hasil belajar permainan sepakbola yang efektif dan menarik yang membuat peserta didik lebih aktif serta menghapus persepsi peserta didik mengenai pembelajaran PJOK yang pada awalnya membosankan menjadi pembelajaran yang menyenangkan.

Apalagi bagi guru yang memiliki kemampuan yang lebih kreatif dalam membuat model-model pembelajaran yang lebih banyak. Ia dapat menyalurkan kemampuannya tersebut dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sekolah dalam upaya meningkatkan kinerja sebagai seorang pendidik yang profesional dan inovatif.

Penerapan model pembelajaran teams games tournament untuk peningkatan kemampuan permainan sepakbola dan hasil belajar peserta didik terhadap permainan sepakbola, maka peserta didik memperoleh pengalaman baru dan berbeda dalam proses pembelajaran PJOK.

Pembelajaran PJOK yang pada awalnya membosankan bagi peserta didik, menjadi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik.

Pemberian tindakan dari siklus I dan II memberikan deskripsi bahwa terdapatnya kekurangan atau kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi pada pelaksanaan tindakan pada siklus-siklus berikutnya. Dari pelaksanaaan tindakan yang kemudian dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dapat dideskripsikan terdapatnya peningkatan kualitas pembelajaran PJOK dan peningkatan hasil belajar peserta didik. Dari segi proses pembelajaran PJOK, penerapan pembelajaran melalui model pembelajaran teams games tournamentini dapat merangsang aspek motorik peserta didik. Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk aktif dalam pembelajaran PJOK yang nantinya dapat bermanfaat untuk mengembangkan kebugaran jasmani, mengembangkan kerjasama, mengembangkan skill dan mengembangkan sikap kompetetif yang

(15)

commit to user

kesemuanya ini sangat penting dalam pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.

C. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan beberapa hal, khususnya pada guru penjasorkes, sebagai berikut:

1. Guru hendaknya terus berusaha untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan materi, menyampaikan materi, serta dalam mengelola kelas, sehingga kualitas pembelajaran yang dilakukannya dapat terus meningkat seiring dengan peningkatan kemampuan yang dimilikinya.

2. Guru hendaknya mau membuka diri untuk menerima berbagai bentuk masukan, saran, dan kritikan agar dapat lebih memperbaiki kualitas mengajarnya.

3. Guru hendaknya lebih inovatif dalam menerapkan model-model pembelajaran dan menyampaikan materi pembelajaran.

4. Sekolah hendaknya berusaha menyediakan fasilitas yang dapat mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar.

5. Penelitian ini dapat diterapkan di kelas lain maupun di sekolah lain.

Namun tentu saja dalam penerapannya harus diikuti oleh penyesuaian dan modifikasi seperlunya sesuai dengan konteks kelas ataupun sekolah masing-masing. Hal ini disebabkan meskipun sekolah-sekolah yang ada di Indonesia ini pada dasarnya hampir sama satu dengan yang lainnya, namun tetap memiliki suatu karakteristik khusus yang hanya dimiliki oleh masing-masing kelas atau sekolah sebagai akibat dari keanekaragaman yang dimiliki oleh masing-masing individu yang ada di kelas atau sekolah tersebut.

(16)

commit to user DAFTAR PUSTAKA

Agus Kristiyanto. (2010). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Dalam Pendidikan Jasmani dan Kepelatihan Olahraga. Surakarta: UNS Press.

Asep Jihad. & Abdul Haris. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Aunurrahman. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Benny A. Pribadi. (2011). Model ASSURE Untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. Jakarta: PT Dian Rakyat.

Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia

H.J Gino, Suwarni, Suripto, Maryanto & Sutijan. (1993). Belajar dan Pembelajaran I. Surakarta: UNS Press.

Isjoni. (2012). Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar Luxbacher, J. (2004). Sepak Bola. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Mielke, D. (2007). Dasar-Dasar Sepak Bola.Bandung : Pakar Raya

Nana Sudjana. (2013). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Oemar Hamalik. (1995). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Sinar Grafika.

Rusman. (2013). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme (edisi ke-2). Jakarta: Rajawali Pers

Slavin, R. E. (2005). Coopeative Learning. Bandung: Nusa Media.

Soekatamsi. (2000). Teori dan Praktek Sepak Bola 1.Surakarta : UNS Press.

Sucipto, dkk. (2000). “Sepakbola”. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Suprijono, Agus. (2012). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.

Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Syaiful Sagala. (2009). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Tim Penyusun. (2012). Pedoman Penulisan Skripsi. Surakarta: FKIP UNS.

Gambar

Gambar  1.  Diagram  Batang  Perbandingan  Hasil  Belajar  Permainan  Sepakbola Tiap Siklus

Referensi

Dokumen terkait

1) Dipusatkan di lingkungan masyarakat dan lembaga. 2) Berkaitan dengan kehidupan peserta didik dan masyarakat. 5) Penghematan sumber-sumber yang tersedia. Dengan pengertian dan

mengumumkan sebagai penyedia barang dengan pengadaan langsung untuk paket.. pekerjaan Pengadaan Peralatan Kesehatan Gudang Farmasi adalah

Daftar mata kuliah yang sudah diambil tidak bisa dihapus oleh mahasiswa jika sudah ada nilainya, ini menunjukkan bahwa proses penilaian mata kuliah sudah

mengumumkan sebagai penyedia barang dengan pengadaan langsung untuk paket.. pekerjaan Pengadaan Perlengkapan Gudang Farmasi adalah

Akan tetapi saya dan suami saya juga menunjukkan ekspresi sayang kami didepan anak kami tersebut (seperti cium pipi, peluk, atau cium bibir) suatu ketika saya mengajak anak saya

Pengembangan SDM dilakukan berkaitan dengan kepentingan penilaian kinerja setiap pegawai yang.. berdampak pada promosi, mutasi, rotasi, demosi untuk penetapan

Jika instrumen yang di gunakan dapat dipertanggungjawabkan, data yang diperoleh juga dapat dipertanggungjawabkan.Artinya, data yang bersangkutan dapat mewakili atau

Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi