• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018"

Copied!
260
0
0

Teks penuh

(1)

Profil Penerima

ANUGERAH KEBUDAYAAN

TAHUN 2018

P r o f i l P e n e r i m a

(2)
(3)

ANUGERAH KEBUDAYAAN

2018

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2018

(4)

TIM PENYUSUN

PROFIL PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018

Pengarah

Nadjamuddin Ramly Penanggung Jawab Yayuk Sri Budi Rahayu Penulis

Aan Rukmana Dewi Nova Dita Darfiyanti Mohamad Atqa Rizky Ernandi Willy Hangguman

Kameramen/Fotografer Leon Desata Marbun M. Rully A. P. I.

Simbul Sagala Rachmat Gunawan Editor

Binsar Simanullang Kenedi Nurhan Pengolah Data Dede Semiawan Desy Wulandari Retno Raswaty

Desain Cover & Layout Yoki Rendra Priyantoko Sekretariat

Djatmiko Liza Ariesta M

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(5)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Kebudayaan yang didalamnya berisi cipta, rasa dan karsa manusia adalah indentitas sebuah kelompok masyarakat.

Indonesia yang merupakan negara multikultur mempunyai kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah bahkan UNESCO menjuluki sebagai “Adidaya di bidang Kebudayaan”.

Kebudayaan Nasional Indonesia adalah sebuah identitas bangsa Indonesia, keunikan dan ciri khas Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Eksistensi kebudayaan bergantung pada peran serta dan kepedulian masyarakat. Salah satu aspek terjaganya eksistensi kebudayaan adalah proses belajar. Melalui proses belajar akan muncul kedinamisan budaya. Proses pembelajaran membutuhkan seorang guru atau pengajar dan murid yang ingin belajar dan alat penunjang yang mendukung. Tidak sembarang orang yang dapat menjadi guru karena guru adalah seorang teladan yang digugu dan ditiru.

Penerima Anugerah inilah guru yang sebenarnya.

Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus berusaha menciptakan iklim yang kondusif bagi pembangunan kebudayaan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk pembangunan kebudayaan adalah meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di seluruh bumi Indonesia.

Kegiatan apresiasi bukanlah sekadar ajang pertemuan seremonial saja atau sekadar memberikan penghargaan kepada tokoh atau pelaku kebudayaan, tetapi di dalamnya mencakup sebuah proses pertukaran pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dari individu ke individu, individu ke kelompok, kelompok ke individu dan generasi ke generasi berikutnya. Melalui kegiatan ini, khalayak banyak akan mengetahui tokoh kebudayaan yang layak diteladani atas dedikasi, ketekunan dan kerja kerasnya memberikan inspirasi terhadap generasi penerus bangsa. Kami semua tentu berharap agar tidak hanya sekadar mengetahui, namun mencari tahu lebih dekat dan menjadikan mereka teladan yang digugu dan ditiru atas dedikasi, ketekunan dan kerja kerasnya terhadap kebudayaan Indonesia.

KATA PENGANTAR

(6)

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai tugas dan fungsinya menyelenggarakan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi sebagai bentuk apresiasi terhadap insan-insan yang berdedikasi terhadap pembangunan kebudayaan Indonesia. Ada dua peran yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal kebudayaan, pertama adalah sebagai instansi teknis yang memberikan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi, kedua adalah sebagai badan yang berkoodinasi dengan Sekretariat Negara untuk mengusulkan tokoh-tokoh calon penerima Gelar Tanda Kehormatan Presiden RI, seperti Bintang Maha Putera, Bintang Budaya Parama Dharma dan Satyalancana Kebudayaan.

Penilaian terhadap tokoh yang menjadi calon penerima Gelar Tanda Kehormatan Presiden RI dilakukan dua tahap. Tahap pertama tokoh-tokoh tersebut diseleksi dan didiskusikan oleh tim penilai yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hasil penyeleksian tersebut diverifikasi oleh instansi-instansi yang berwenang, seperti: Badan Intelejen Nasional, Kejaksaan Agung RI, dan Kepolisian RI. Setelah tahap verifikasi, tokoh-tokoh yang disetujui diproses oleh Sekretariat Militer melalui Dewan Tanda Kehormatan.

Hasil rapat Dewan Tanda Kehormatan diberikan kepada Presiden. Pada tahap ini, presiden berhak menolak atau menyetujui hasil rapat tersebut.

Dari hasil seleksi administrasi yang dilakukan sejak awal Februari 2018, lalu rapat-rapat penilaian di tiap-tiap kategori dan verifikasi calon penerima, telah terpilih 51 penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2018 dengan kategori sebagai berikut:

• 2 (dua) orang penerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma;

• 8 (delapan) orang penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan;

• 10 (sepuluh) orang penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari;

• 10 (sepuluh) orang penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru;

(7)

• 5 (lima) orang penerima Anugerah Kebudayaan kategori Anak dan Remaja;

• 5 (lima) orang penerima Anugerah Kebudayaan kategori Maestro Seni Tradisi;

• 2 (tiga) pemerintah daerah penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pemerintah Daerah;

• 6 (enam) komunitas penerima Anugerah Kebudayaan kategori Komunitas;

• 3 (tiga) orang penerima Anugerah Kebudayaan kategori Perorangan Asing.

Setiap tokoh dan lembaga yang mendapatkan penghargaan memiliki keistimewaan karya yang bervariasi di dalamnya mencakup ide/gagasan/

pikiran dan pengetahuan. Karya-karya mereka berupa ilmu pengetahuan yang tertuang dalam naskah-naskah kuno, karya-karya sastra, perwujudan ekspresi, seperti tarian, musik, lukisan, patung, maupun karya dalam bentuk fisik, seperti bangunan, gedung. Di antara karya-karya mereka mendapat pengakuan dari kalangan nasional dan internasional.

Mereka semua adalah tokoh yang patut diakui dan dihargai karena memiliki keteladanan dengan karakternya masing-masing. Hal tersebut penting untuk didokumentasikan dan dibuatkan buku profil agar kita semua, terutama generasi muda dapat meneladani sisi yang istimewa, apakah itu dalam kekaryaannya, tokoh itu sendiri, atau dalam pencapaian seseorang terhadap karya yang dihasilkan tersebut.

Sebagai sebuah proses, hal yang patut digarisbawahi setiap tahun pelaksanaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi adalah semakin banyaknya wakil pemangku kepentingan yang terlibat dan dilibatkan. Kegiatan- kegiatan apresiasi seperti ini juga diharapkan semakin mendekati harapan masyarakat. Kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan merupakan kunci pokok dalam penguatan karakter bangsa, jatidiri, dan identitas budaya bangsa.

Akhir kata, kami atas nama Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direkotrat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

(8)

mengucapkan terima kasih atas semangat dan kerjasama semua pihak: Tim Penilai, Narasumber, Tim Verifikasi, Penulis, Editor, Kameramen, Desainer Cover dan Layout yang telah bersama-sama menyusun Buku Profil Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2018.

Kami juga mengucapkan selamat kepada penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2018.

Billahi Taufik Walhidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayan

Dr. Nadjamuddin Ramly

(9)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh, Syalom, Salam Sejahtera, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Wei To Tong Thian, Rahayu

Puji syukur ke hadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat, berkat dan ridho-Nya, kita dapat menyelesaikan penyusunan buku profil penerima Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi Tahun 2018.

Tahun ini kita berhasil mengidentifikasi 51 tokoh seniman, budayawan, komunitas dan Pemerintah Daerah yang patut diteladani, sebagai bagian penting dalam peristiwa bersejarah dalam pembangunan karakter bangsa.

Di tengah globalisasi ini, keteladanan para tokoh adalah sumber inspirasi bagi generasi penerus sebagai penguatan karakter bangsa. Sekecil apa pun karya yang dihasilkan oleh seseorang atau komunitas yang peduli dan berdedikasi terhadap kebudayaan, terkandung nilai-nilai positif karena proses berkarya seseorang atau komunitas tersebut tidak lahir begitu saja, tetapi melalui pencarian ilham, inspirasi, ide, gagasan dan pemikiran.

Ada sebuah transformasi nilai baik dari hasil perenungan dengan Sang Pencipta, dengan sesama dan dengan lingkungan alamnya. Perenungan ini dapat melahirkan pengetahuan tradisi, ekspresi seni, ungkapan dan olahan rasa yang memungkinkan daya kreasi, kreativitas penciptaan terhadap karya budaya, baik dalam bentuk budaya tak benda (intangible cultural) maupun budaya benda (tangible cultural).

Secara historis, proses berkarya seseorang dapat memberikan inspirasi metodologis yang jika digali mengandung nilai dan makna filosofis. Dalam konteks internalisasi nilai budaya, ini memiliki dampak strategis terhadap pelestarian kebudayaan yang mencakup perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan. Dengan kata lain di balik sebuah karya, tersirat sosok atau pun tokoh yang memiliki komitmen kuat terhadap pewarisan pengetahuan tradisi, ekspresi seni, nilai-nilai sosial-budaya bagi generasi berikutnya.

Untuk membangun arti penting apresiasi terhadap para tokoh yang telah berdedikasi terhadap kebudayaan ini, pendokumentasian dan penerbitan profil

SAMBUTAN

DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

(10)

pengakuan atas jasa tokoh, sekaligus memaknai momen penghargaan, agar kita tetap menjadi bangsa yang besar. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan UU No. 5 thn. 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Pasal 50 yang tertulis bahwa Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau Setiap Orang dapat memberikan penghargaan yang sepadan kepada pihak yang berprestasi atau berkontribusi luar biasa sesuai dengan prestasi dan kontribusinya dalam Pemajuan Kebudayaan.

Program yang digelar setiap tahun ini diharapkan menjadi ajang silturahim kita sebagai suatu bangsa. Sebagai sebuah proses, internalisasi nilai budaya diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat sekaligus meningkatkan motivasi generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengembangan kebudayaan Indonesia. Hakikat kita, sebagai suatu bangsa, bangsa Indonesia.

Akhir kata, kami mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan.

Semoga ibu, bapak, saudara-saudari dan anak-anak semuanya selalu mendapatkan rahmat dan kekuatan dari Yuhan Yang Maha Esa dalam menciptakan karya-karya nyata untuk penguatan karakter bangsa.

Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sejahteralah Kita Semua,

Om Shanti Shanti Om, Rahayu

Direktur Jenderal Kebudayaan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hilmar Farid Ph. D.

(11)

KATA PENGANTAR

Hakekat suatu kebudayaan yang diperoleh melalui proses belajar, mencakup seluruh tatanan kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Eksistensi kebudayaan bergantung pada peranserta dan kepedulian masyarakat, baik secara individual maupun kelompok. Dalam berbagai kondisi, perubahan yang terjadi di tengah masyarakat sangat ditentukan oleh political will semua pihak untuk menjaga nilai – nilai budaya bangsa sebagai acuan dalam merespon perubahan tersebut. Dari sisi pemerintah, kebijakan pengembangan kebudayaan diarahkan pada terciptanya iklim yang kondusif bagi pembangunan kebudayaan.

Bagaimana meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat Indonesia terhadap nilai – nilai budaya yang tumbuh di seluruh nusantara, diharapkan menjadi dasar pembangunan berwawasan kebudayaan.

Program apresiasi, bukan sekedar ajang pertemuan, tetapi hakikatnya adalah sebuah proses pertukaran pengetahuan, ketrampilan dari pengalaman seseorang kepada orang lain. Di dalamnya terkandung penilaian, pengenalan melalui perasaan, kepekaan batin, pengakuan terhadap nilai – nilai keindahan yang diungkapkan oleh seseorang dalam penciptaan suatu karya. Melalui program apresiasi ini, orang lain yang hadir akan mendapatkan wacana baru untuk lebih mengerti, memahami, dan mengenali tokoh, karya dan proses berkarya secara lebih dalam dan tepat, dan pada akhirnya memberikan penilaian tersendiri. Dalam konteks ini, diharapkan terbangun kesadaran kolektif. Kita dapat menyaksikan kesungguhan dari penikmat karya melalui penjiwaan yang benar – benar dalam menilai, menghargai, menghayati suatu karya, sekaligus bertemu dengan tokoh yang patut diteladani.

Berkaitan dengan program apresiasi ini, Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun menyelenggarakan Anugerah Kebudayaan. Ada dua hal yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pertama, dalam kapasitasnya sebagai instansi teknis yang menangani kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Cq. Direktorat Jenderal Kebudayaan memberikan Anugerah Kebudayaan.

(12)

Kedua, dalam kapasitas fungsi koordinasi dengan Sekretariat Negara yang memiliki program Pemberian Gelar Tanda Kehormatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengusulkan nama – nama calon penerima Gelar Tanda Kehormatan, khususnya untuk Kelas Bintang Budaya Parama Dharma, sebagai penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan, dan kelas Satyalancana Kebudayaan.

Masing – masing kedua kegiatan ini, meskipun terkait dengan penghargaan, tetapi mekanismenya berbeda satu dengan yang lain. Untuk memperoleh Gelar Tanda Kehormatan, ada tim penilai internal yang dibentuk melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan tim dari Dewan Tanda Kehormatan yang difasilitasi oleh Sekretariat Negara dengan SK Presiden. Dalam mekanisme tersebut, setelah diseleksi oleh tim internal, maka data dari masing – masing tokoh harus melalui verifikasi dari instansi yang berwenang, yaitu Badan Intelijen Nasional, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Kepolisian RI. Baru setelah itu diproses lebih lanjut oleh Sekretariat Militer dengan seleksi kembali oleh Dewan Tanda Kehormatan untuk selanjutnya diberikan kepada Presiden. Dalam hal ini, Presiden dapat saja menolak, atau menyetujui.

Untuk tahun ini, setelah melalui tahapan koordinasi, maka calon yang akan menerima penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma berjumlah 2 orang, sedangkan untuk Satyalancana Kebudayaan ada 8 orang. Anugerah Kebudayaan yang diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berjumlah 41 orang terdiri atas 7 kategori. Pencipta, Pelopor, dan Pembaru ada 10 orang, Pelestari 10 orang, Anak dan Remaja 5 orang, 2 Pemerintah Daerah, 6 Komunitas, dan Perorangan Asing 3 orang. Khusus Maestro Seni Tradisi ada 5 orang, yang hanya diberikan kepada pelaku seni tradisi yang tekun, konsisten menggeluti karya – karya seni budaya tradisi yang langka dan nyaris punah selama bertahun – tahun, dan ada proses pewarisan. Melalui apresiasi kepada sang seniman dengan fasilitasi yang diberikan, diharapkan dapat menjamin kontinuitas transformasi nilai dan pewarisannya.

Setiap tokoh yang mendapatkan penghargaan memiliki keistimewaan karya yang cukup bervariatif, mencakup ide/gagasan/pikiran dan pengetahuan yang sampai sekarang masih digunakan; pengetahuan tradisi yang tertuang dalam

(13)

naskah lontar, karya – karya sastra, perwujudan ekspresi, seperti tarian, musik, lukisan, patung, maupun karya dalam bentuk fisik, seperti bangunan, gedung, yang diantaranya bersifat monumental. Mereka semua adalah tokoh yang patut diakui dan dihargai, karena memiliki keteladanan dengan karakternya masing – masing. Untuk itu patut didokumentasikan dan dibuatkan profil masing – masing agar kita semua, terutama generasi muda dapat meneladani sisi yang istimewa, apakah itu dalam kekaryaannnya, tokoh itu sendiri, atau dalam pencapaian seseorang terhadap karya yang dihasilkan tersebut.

Sebagai sebuah proses, hal yang patut digarisbawahi selama dua tahun terakhir adalah semakin banyaknya wakil pemangku kepentingan yang terlibat dan dilibatkan dalam penyelenggaraan program dan kegiatan apresiasi yang diharapkan semakin mendekati harapan masyarakat. Kepedulian masyarakat terhadap kebudayaan merupakan kunci pokok dalam penguatan karakter bangsa, jatidiri dan identitas budaya bangsa.

Selamat kepada penerima Anugerah Kebudayaan Tahun 2018.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(14)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 5

DAFTAR ISI ... 14

SAMBUTAN ... SELINTAS TENTANG APRESIASI ... TIM PENILAI ... PROFIL PENERIMA ... PENERIMA TANDA KEHORMATAN BINTANG BUDAYA PARAMA DHARMA 1. Raden Mas Soedarsono ... 18

2. RJ. Katamsi Martorahardjo (alm.) ... 22

PENERIMA TANDA KEHORMATAN SATYALANCANA KEBUDAYAAN 1. Hamzah Daeng Mangemba (alm.) ... 28

2. Ashadi Siregar ... 32

3. Joseph Rawi ... 36

4. Tubagus Oemay Martakusuma (alm.) ... 40

5. Sahidah ... 46

6. Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far (Ebiet G. Ade) ... 50

7. But Mochtar (alm.) ... 54

8. Ida Bagus Njana (alm.) ... 59

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI PENCIPTA, PELOPOR, PEMBARU 1. Sidi Saleh ... 64

2. Glenn Fredly ... 69

3. Jecko Siompo ... 74

(15)

4. Jose Rizal Manua ... 80

5. Afrizal Malna ... 84

6. Agus Suwage ... 90

7. Tjokorda Raka Sukawati (alm.) ... 95

8. Lily Yulianti Farid ... 100

9. Sri Aksana Sjuman (Wong Aksan) ... 104

10. Eko Supriyanto ... 109

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI PELESTARI 1. Temu Misti ... 114

2. Hermin Istiariningsih ... 119

3. Romo Leonardus Egidius Joosten Ginting Suka OFMCap. ... 123

4. I Made Wena ... 128

5. Antonius Taula ... 134

6. KRAT Muhamad Karno Kusumodiningrat (Karno KD) ... 138

7. Djatikusumah ... 142

8. Kartini Kisam ... 147

9. Akhmad Elvian ... 152

10. Hanna Keraf ... 157

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI ANAK DAN REMAJA 1. Thifalia Raudina Mahardya ... 162

2. Alya Namira Nasution ... 167

3. Trio Wahyu Aji ... 171

4. Darryl Simeon Sanggelorang ... 175

5. Nadia Shafiana Rahma ... 179

(16)

Undangan

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI MAESTRO SENI TRADISI

1. Supangkat ... 184

2. Dahrul Hamim ... 188

3. KPH Pujaningrat (Romo Pujan) ... 192

4. Chairuddin Dahlan ... 196

5. Kusrani (Abah Engkus) ... 200

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI KOMUNITAS 1. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ... 206

2. Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ... 210

3. INACRAFT ... 214

4. Pesta Kesenian Bali ... 219

5. Gerakan Rumah Asuh ... 223

6. Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) ... 227

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI PEMERINTAH DAERAH 1. Pemerintah Kota Tomohon ... 234

2. Pemerintah Kabupaten Wonosobo ... 239

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN KATEGORI PERORANGAN ASING 1. R. William Liddle ... 246

2. Valeria Martano ... 250

3. Leo Suryadinata ... 254

PENUTUP

(17)

Undangan

PENERIMA TANDA KEHORMATAN BINTANG BUDAYA PARAMA DHARMA

ANUGERAH

KEBUDAYAAN

TAHUN 2018

(18)

rm Soedarsono

Ikut Meletakkan Dasar Akademik Tari

Presiden RI Joko Widodo telah menganugerahkan Bintang Budaya Paramadharma kepada Prof Dr RM Soedarsono sebagai penari dan akademisi di Istana Negara, Agustus 2018. Selain sebagai penari, Soedarsono adalah salah satu tokoh seni yang ikut meletakkan dasar akademik untuk pengembangan seni tari di Tanah Air.

Tahun 1960-an pemerintah berniat mendirikan pendidikan tinggi seni tari Indonesia yang kemudian bernama Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI).

Menteri P dan K waktu, Prijono, menawari Pak Dar—begitu Prof Soedarsono biasa disapa—jabatan ketua ASTI yang hendak didirikan. Saat mendapat tawaran tersebut Pak Dar mengaku tak mampu. Mendapat jawaban itu Menteri Prijono kemudian

“mengancam” untuk menghentikan saja niat mendirikan ASTI. Pak Dar akhirnya terpaksa menerima. Tahun 1962, bersama C Hardjosubroto, ia berhasil mendirikan ASTI. Setelah ASTI diresmikan pada 30 November 1963, ia diangkat sebagai direkturnya. Kelak di kemudian hari, di tahun 1984, ASTI melebur dalam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di bawah Fakultas Seni Pertunjukan.

Sebelum menjadi direktur ASTI, Pak Dar menjadi pengajar di almamaternya, Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Ia menjadi asisten dosen dari dosen asing Prof Mookerjee dan Dr DC Mulder. Ia kemudian diangkat sebagai pembantu dekan III, dan beberapa tahun kemudian sebagai pembantu dekan I.

Saat mendapat kabar tentang penghargaan Bintang Budaya Paramadharma di rumah kediamannya di “ndalem” Suryodiningratan, Yogyakarta, Prof Soedarsono

(19)

yang kurang sehat dan harus duduk di kursi roda itu dengan singkat mengatakan,

“Penghargaan bisa dijadikan pedoman bagi kehidupan selanjutnya. Saya senang, bahagia. Jelas! Ya, terima kasih atas penghargaan itu. Harapan saya supaya mereka generasi muda belajar menari dan mampu menghasilkan sesuatu yang berharga.”

Prof Soedarsono tampaknya ingin bicara banyak, akan tetapi kesehatannya tak memungkinkan. RM Surtihadi, kerabatnya yang juga staf pengajar Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta, menuturkan bahwa kesehatan Prof Soedarsono mendadak menurun beberapa waktu terakhir. Sebelumnya ia masih aktif membimbing mahasiswa program doktor. “Sebelum kesehatannya menurun, ia pernah nyetir sendiri ke kampus, dan keluarga kemudian memutuskan untuk menyediakan supir bagi Bapak,” tutur Surtihadi.

Di kamar kerja di rumahnya, “bergunung-gunung” disertasi mahasiswa yang harus dibimbingnya tampak ditata dengan apik. Surtihadi mengatakan, “Saya kira ia memang seorang guru yang memiliki totalitas pada dunianya. Semangatnya memang luar biasa. Totalitasnya luar biasa.”

Suami dari Sri Soenarti dan ayah dari dua anak itu dikenal secara luas lewat karya-karya berupa koreografi dan buku-buku seni, baik yang diterbitkan di dalam negeri maupun luar negeri. Belakangan ia kemudian lebih banyak berperan sebagai akademisi. Saat ini ia merupakan salah seorang guru besar bidang seni dan sejarah budaya di Fakultas Ilmu Budaya dan Program Pascasarjana UGM.

Seperti di dunia tari yang ditekuninya dengan penuh kesungguhan, Prof

(20)

dan luar negeri. Ia menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Michigan, AS, tahun 1983, dengan disertasi berjudul “Wayang Wong In The Yogyakarta Kraton History, Ritual Aspects, Literary Aspect and Characterization”. Disertasinya itu kemudian diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press dengan judul Wayang Wong, the State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta.

Setelah menjabat sebagai Direktur ASTI Yogyakarta (1963-1980), ia menjadi Asisten Dekan I di ISI Yogyakarta (1984-1992), dan kemudian Dekan di ISI Yogyakarta (1992-1997). Prof Dar juga menjadi dosen tamu di luar negeri, yakni di Universitas Wesleyan (1971), University of Hawaii (1974), dan University of Michigan (1977). Dari tahun 1992 sampai 1997 ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah pada Lembaga Kementerian Pendidikan untuk Proyek Arkeologi dan Seni.

Sebagai ahli tari ia telah banyak memberikan saran dalam berbagai seminar baik di dalam negeri maupun internasional, seperti “Seminar on Ethnomusicology” di Los Angeles, Amerika Serikat (1968), “Seminar on Third World Theatre” di Manila, Filipina (1971), “Symposium on the Arts Of Asia” di Seoul, Korea Selatan (1973),

“Conference on Traditional Art” di Rennes, Prancis (1976), “Seminar on Southeast Asian Aesthetics” di Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat (1977), “Seminar on Dance di Honolulu” di Hawaii (1978), dan “Seminar on Documentation for Visual and Performing Arts” di Jakarta (1976).

(21)

Biodata

Nama : RM Soedarsono

Tempat/tanggal lahir : Yogyakarta, 1 Mei 1933

Istri : Sri Soenarti (menikah 9 April 1961)

Pendidikan

- SD Keputrane, Yogyakarta (1947) - SMP Negeri II, Yogyakarta (1951) - SMA Negeri I, Yogyakarta (1954) - Fakultas Sastra UGM (1961)

- Sekolah Tari dan Musik Universitas California & Universitas Hawaii, AS (1968, 1969)

- Sekolah Tari di Ecole Superieure D’Etude Choregraphique di Paris (1967) - Universitas Michigan, AS (doktor, 1983)

Karier

- Guru SMA Negeri di Semarang (1958-1959) - Asisten FS UGM (1959-1961)

- Ketua ASTI (1963-1980) - Dosen FS UGM (sekarang)

Penghargaan :

2018, Bintang Budaya Paramadharma

Karya

BUKU

- Beberapa Faktor Penyebab Kemunduran Wayang Wong Gaya Yogyakarta - The Hero in Southeast Asian Literature

- Rama, the Ideal Hero and Manifestation of the Good on The Indonesian Theatre - Wayang Kulit, A Javanese Shadow Theatre

- Wayang Wong, the State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1984

TARI

- Gajah Mada (sendratari, 1970)

- Raramendut-Pranacitra (sendratari, 1972)

(22)

rJ Katamsi

Mengabdikan Hidupnya sebagai Perupa dan Pendidik

Agustus 2018, bersamaan dengan peringkat HUT Ke-73 Republik Indonedia, Presiden RI Joko Widodo menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Paramadharma kepada RJ Katamsi Martorahardjo sebagai perupa dan pendidik. RJ Katamsi telah mengabdikan seluruh hidupkan di dunia pendidikan seni budaya dan ikut meletakkan dasar akademik pendidikan seni rupa Indonesia.

RJ Katamsi Martorahardjo (almarhum) adalah seorang guru tulen. Selama 52 tahun ia mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk pendidikan, khususnya pendidikan seni rupa atau budaya pada umumnya, dari tahun 1923 sampai 1975.

“Bahkan tiga hari menjelang wafatnya, dalam kondisi sakit, Bapak masih memberi kuliah kepada mahasiswa ASRI dan IKIP di rumah,” tutur putranya, Daniel Katamsi, penuh bangga saat ditemui di perumahan dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Daniel merasa berterima kasih karena ayahnya mendapat Bintang Budaya Paramadharma dari Presiden RI Joko Widodo tahun 2018. Ia hanya bisa mengungkapkan rasa terima kasihnya atas penghargaan tersebut.

Bagi generasi zaman now, nama Katamsi tak terlalu terkenal. Tapi pasti banyak yang mengenal logo UGM yang terkenal itu. Itu adalah karya Katamsi. Senat UGM dalam rapat Senat UGM tahun 1950 memutuskan untuk membuat logo dan diputuskan digambar oleh RJ Katamsi. Daniel menunjukkan penghargaan dari

(23)

UGM yang ditandatangani oleh Rektor UGM Prof Dr Ichlasul Amal kepada ayahnya atas jasanya sebagai pencipta logo UGM. Pada tahun 1949, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prijono mengangkat Katamsi sebagai lektor luar biasa pada Fakultas Sastra dan Filsafat untuk mengasuh mata kuliah “Sejarah Kesenian”.

Katamsi yang memegang semboyan ars longa vita brevis—hidup itu singkat tapi seni itu abadi—adalah seorang keturunan pribumi pada zaman Hindia Belanda yang memiliki riwayat pendidikan yang menarik. Ia menikmati pendidikan Belanda.

Ia masuk HIS. (Hollandsch Inlandsche School--sekolah dasar Belanda untuk orang- orang pribumi) di Semarang, lalu Kweekschool (sekolah guru empat tahun) di Yogyakarta, yang kemudian pindah ke sekolah guru di Gunung Sahari, Jakarta.

Sesudah itu Katamsi mendapat kesempatan untuk meneruskan pelajarannya di Negeri Belanda, bersekolah di Academie voor Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di Den Haag, dan mendapat ijazah Middelbaar Onderwijs dalam menggambar (MO Tekenan), yang lebih kurang lebih sama dengan ijazah B-II Seni Rupa di Indonesia. Pelukis Istana kesayangan Bung Karno, Basuki Abdullah, juga belajar di sini.

“Setelah tamat dari sekolah itu, Bapak langsung pulang ke Tanah Air (dulu Hindia Belanda). Padahal di Negeri Belanda terbuka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang bagus. Namun Bapak memilih pulang untuk mengajar anak bangsa,” tutur Daniel tentang keputusan ayahnya pulang. Bakat seni yang mengalir di dalam tubuh Katamsi tampaknya datang dari kakeknya, R Ng Sastropermadi yang juga dikenal berbakat melukis.

Sepulang dari Belanda, ia tak berhenti mengabdikan seluruh hidupnya untuk

(24)

MULO dan AMS di Solo. Lalu, tahun 1928-1942 ia mengajar di AMS Yogyakarta.

Tahun 1942 ia diangkat sebagai Direktur Sekolah Menengah Tinggi bagian B.

Prestasinya ini luar biasa karena ia pribumi pertama yang dipercayakan menjadi direktur AMS. Saat Jepang datang, jabatan itu diteruskannya dan sekolahnya berganti nama jadi Sekolah Menengah Tinggi (SMIT).

Di luar pendidikan, tahun 1935 ia mendapat tugas untuk membina tukang- tukang ukir perak di Kota Gede, Yogyakarta, khususnya dalam hal penciptaan seni hias atau ornamen. Lalu, pada masa pendudukan Jepang, ia mendapat sampiran tugas dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk juga menjabat sebagai Kepala Museum Sonobudoyo (1942-1950). Ia menyerahkan sebagian koleksi pribadinya yang berharga kepada museum untuk melengkapi koleksinya.

Saat merdeka, Katamsi berperan pula dalam mendirikan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Yogyakarta (dahulu AMS-B Yogyakarta) dan sekaligus menjadi kepala sekolah pertama di sekolah itu. Meski telah pensiun tahun 1960, ia tetap menjadi dosen di UGM yang telah dimulainya sejak 1948, lalu di IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta).

Puncak kariernya sebagai pengajar ketika Presiden Sukarno bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prijono menandatangani keputusan menunjuk Katamsi sebagai pemimpin Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta pada 14 Mei 1958. Kala itu Katamsi tetap masih aktif bekerja sebagai tenaga pengajar di

(25)

Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM Yogyakarta, dan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta. Pada tahun 1971, pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, mengangkatnya dalam jabatan sederajat atau setingkat dengan “Guru Besar”. Seperti lilin, ia terus bersinar dengan memberi kuliah kepada mahasiswanya di rumahnya dalam kondisi sakit, tiga hari menjelang tutup usianya pada 2 Mei 1975.

BIODATA

Nama : RJ Katamsi

Tempat/lahir tanggal : Karangkobar, Banjarnegara, 7 Januari 1897 Wafat : Yogyakarta, 2 Mei 1975

PENDIDIKAN

- HIS (Hollandsch Inlandsche School, sekolah dasar Belanda untuk orang-orang pribumi) di Semarang

- Kweekschool (sekolah guru empat tahun) di Yogyakarta, kemudian pindah ke sekolah guru di Gunung Sahari, Jakarta

- Academie voor Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di Den Haag KARIER

- 1923-1925: guru pada sekolah MULO dan AMS di Solo - 1928-1942: guru pada AMS di Yogyakarta

- 1942-1950: Direktur Sekolah Menengah Tinggi bagian B - 1942-1950: Kepala Museum Sonobudoyo, Yogyakarta - Direktur Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta

- Sejak 1960, tenaga pengajar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM dan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta

(26)

Undangan

KARYA

- Logo UGM PENGHARGAAN

- 2018: Bintang Budaya Paramadharma dari Presiden RI Joko Widodo, 2018

- 1970: Bintang Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia

(27)

Undangan

ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018

PENERIMA TANDA KEHORMATAN

SATYALANCANA KEBUDAYAAN

(28)

Hamzah Daeng mangemba

Pencatat Kebudayaan Sulawesi

Hamzah Daeng Mangemba dikenal sebagai pegiat kebudayaan yang banyak merekam dan membukukan kebudayaan Sulawesi. Pencipta Mars Universitas Hasanudin ini tak segan memberikan penganjaran bahasa/aksara L o n t a r a — b a h a s a / a k a s a r a

tradisional masyarakat B u g i s - M a k a s s a r — k e p a d a

mahasiswanya.

Puluhan buku telah ia lahirkan, antara lain Tari Pattuda dari Mandar, Alam Pakarena dan Budaya Makasar.

Atas pengabdiannya, mantan Direktur Konservatori Kesenian Sulawesi ini mendapat Penghargaan Mattulada atas jasanya melestarikan budaya Sulawesi Selatan dari Universitas Hasanudin (Unhas) dan Hadiah Seni sebagai Pembina Seni dari Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Tingkat Sulaesi Selatan.

Daeng Mangemba menjadi dosen ilmu sejarah di Universitas Hasanudin sejak tahun 1967. Sebagai akademisi ia melakukan beberapa penelitian terkait sejarah dan kebudayaan Sulawesi. Antara lain, penelitian alat-alat musik di Kabupaten Majene dan Toraja. Hasil penelitiannya tersebut disusun menjadi buku Enskloposdia Musik Sulawesi Selatan. Puluhan buku telah ia lahirkan terutama mengenai mengenai kebudayaan di Sulawesi dan tokoh-tokoh pahlawan dari Sulawesi. Daeng

(29)

Mangemba juga aktif menulis artikel budaya di harian Pedoman Rakyat. Selain menulis buku, ia juga terlibat dalam beberapa organisasi seni dan budaya, di antara lain sebagai Direktur Konservatori Kesenian Sulawesi dan Pengurus Pusat Institut Kesenian Sulawesi

Menurut M Dahlan Abubakar –pengajar Universitas Makasar yang pernah menjadi asisten Daeng Mangemba— keistimewaan buku karya Daeng Mangemba ada pada kedalamam analisis dan lamanya durasi waktu dari objek yang ditulis.

Buku-buku yang ditulisnya dapat melakukan penyelidikan budaya lebih dari 50 tahun dari masa buku diterbitkan. Juga pemikirannya yang komprehensif dan mampu memberikan penjelasan akurat pada setiap seminar yang ia hadiri.

Masyarakat Sulewesi Selatan juga mengenang Daeng Mangemba sebagai salah satu tokoh yang mempertahankan nama Makassar bagi ibu kota Sulawesi Selatan. Ia bersama dua tokoh lainnya,

Prof Dr Mr Zaenal Farid SH dari Fakultas Hukum Unhas dan Prof Dr Mattulada dari Fakultas Sastra Unhas, pada tahun 1971 mengeluarkan petisi yang menolak perubahan nama kota dari Makassar menjadi Ujung Pandang.

Karena, menurut mereka, nama Ujung Pandang hanya merepresentasikan

(30)

sebagian wilayah di pelabuhan, tidak mencakup totalitas sejarah Makassar. Petisi itu ditujukan mengkritisi kebijakan HM Dg Patompo, Wali Kota Makassar yang ingin mengubah dari nama Makassar ke Ujung Pandang. Tahun 2000, Ujung Pandang berubah kembali menjadi Makassar.

Kecintaan Daeng Mangenda dalam membukukan kebudayaan Makassar, menurut Abu Bakar, sejalan dengan pesan yang almarhum sampaikan agar bangsa Indonesia jangan sampai tercerabut dari kebudayaannya sendiri. Kepada mahasisanya ia pun tak segan memberikan, misalnya, pengajaran bahasa/aksara Lontara yang saat ini sudah tak banyak yang mengetahuinya.

Andy Sania, istri dari almarhum Mangenda, menuturkan semangat suaminya yang luar biasa dalam penulisan budaya Sulawesi. “Di masa akhir hidupnya, bahkan ketika ia hanya bisa berbaring di rumah sakit, dia bersemangat melayani pertanyaan para wartawan yang ingin meliput budaya Sulawesi. Bahkan dalam sakitnya ia masih berusaha untuk menulis buku.”

BIODATA

Nama : Hamzah Daeng Mangemba Lahir : Tinabung, 26 Juni 1923 Meninggal : 5 Oktober 2006

Isteri : Andy Sania

Alamat : Jl. Nuri 78, Makasar PENDIDIKAN /JABATAN:

- Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanudin (Unhas) - Dosen Fakultas Sastra Universitas 45 Makasar - Direktur Konservatori Kesenian Sulawesi - Pengurus Pusat Institut Kesenian Sulawesi

- Anggota Majelis Pembina DKM sebagai anggota Dewan Pertimbangan Panitia Pertemuan Sastrawan V

- Anggota Proyek Miniatur Sulawesi

- Anggoya Majelis Pertimbangan Budaya Daerah Sulawesi Selatan

(31)

Keahlian:

Menulis Kebudayaan Sulawesi KARYA

:

- Terdapat puluhan buku mengenai kebudayaan Sulawesi antara lain:

- Sawerigading Berlayar ke Cina (1987) - Budaya Makasar (1986)

- Sultan Hasanuddin dan Ayam Jantan dari Benua Timur (1979) - Kota Makasar dalam Lintasan Sejarah (1972)

- Alam Pakarena (1957)

- Kenalilah Sulawesi Selatan (1956) - Tari Pattuda dari Mandar (1953)

- Takutlah Pada Orang Jujur: Mozaik Pemikiran - Republik Wajo

- Cina Daratan Tiongkok - Laskar Daeng di Jogjakarta - Luwuk dalam lintasan sejarah - Sirri’na pacce

- Penghargaan:

- Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Satyalancana Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2018)

- Penghargaan Mattulada atas jasanya melestarikan budaya Sulawesi Selatan dari Universitas Hasanudin (2014)

- Piagam Penghargaan atas Partisipasi Pembangunan Gedung Juang Sulawesi Selatan dalam Pelestarian Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai 45 dari Dewan Harian Angkatan 45 (1992)

- Piagam Penghargaan Pencipta dan Aransemen Lagu Mars Universitas Hasanudin dari Rektor Universitas Hasanudin (1989)

- Hadiah Seni sebagai Pembina Seni dari Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Tingkat Sulawesi Selatan (1987)

- Celebes 2005/8 Award

(32)

ashadi Siregar

Hidup Tak Lengkap Tanpa Sastra

Ashadi Siregar membawa warna baru dalam penulisan novel tahun 1970-an dengan meromantisir kehidupan kampus yang dikenalnya dengan baik. Novel-novelnya jadi tren pada era itu. Empat dari 13 novel yang ditulisnya telah difilmkan, tiga diangkat ke layar televisi.

Kesetiaannya dalam menulis sastra telah mendorong pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memberinya Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana, tahun 2018.

Ashadi merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan penghargaan dari pemerintah tersebut.

“Ini unik. Tapi saya sangat bersyukur karena apa yang saya kerjakan di dunia literasi fiksi mendapatkan apresiasi. Dunia saya adalah dunia faktual, mengembangkan jurnalisme. Saya juga menulis fiksi. Ternyata saya mendapat penghargaan di dunia fiksi,” ujar Ashadi di rumahnya di Yogyakarta.

Ashadi telah menulis novel yang mendapat sambutan luas dari pembaca tahun 1970-an, yakni Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, serta Sirkuit Kemelut. Keempat novel yang laris manis di kalangan anak muda dan mahasiswa tersebut telah difilmkan, dan Ashadi puas dengan hasil filmnya.

“Saya puas karena saya membayangkan kisah itu ketika menulis. Boleh dikata berpikir secara filmis seperti Cinta di Kampus Biru sampai Sirkuit Kemelut. Sangat sedikit alam pikiran di dalamnya, lebih banyak interaksi dalam perilaku. Gampang

(33)

difilmkan. Ketika menulis skenario, tidak susah. Novel saya yang belakangan, Menolak Ayah, pasti susah difilmkan karena lebih banyak menghadirkan alam pikiran, bukan perilaku manusia,” paparnya.

Ashadi sudah tertarik membaca sastra sejak duduk SMA. Namun ia tidak pernah bercita-cita menjadi penulis novel. Cita-citanya menjadi wartawan. Maka, ketika tamat SMA, ia ke Yogyakarta untuk belajar jurnalistik dan ilmu komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat tamat, ia mewujudkan cita-citanya bekerja di dunia pers. Ia menjadi pemimpin redaksi dan penanggung jawab di majalah Sendi hingga tahun 1973.

Masalah datang. Surat izin terbit media yang dipimpinnya dicabut oleh pemerintah Orde Baru. Ashadi merasa sakit hati. Sudah medianya tidak boleh terbit, ia juga harus diadili dan dinyatakan bersalah meskipun mendapat hukuman percobaan. Ia merasa dua kali mendapat hukuman.

“Saya merasa tertekan betul. Cita-cita saya menjadi wartawan tamat sudah.

Padahal sudah sekolah jauh-jauh untuk jadi wartawan,” kenangnya tentang pengalaman pahit tersebut. “Setelah mendapat hukuman itu saya tahu persis kebebasan saya di dunia jurnalisme sudah terbatas, terhalang karena Orde Baru sangat keras pada awalnya,” lanjutnya.

Untuk mengobati hatinya yang luka, Ashadi memutuskan menulis novel sebagai bentuk pelarian dari masalah yang sedang dihadapinya. Lantas ia membaca banyak novel, dan kemudian memutuskan novel macam apa yang mau ditulisnya. “Novel

(34)

yang saya tulis meromantisir kehidupan, dan kehidupan yang saya kenal adalah kehidupan kampus. Maka, menulislah saya Cintaku di Kampus Biru itu. Ternyata mendapat sambutan luas,” ia bercerita tentang pengalaman menulis novelnya.

Ia juga menyertakan novelnya Warisan Sang Jagoan untuk mengikuti Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1972. Novelnya keluar sebagai pemenang harapan. Ia merasa heran karena apa yang dikerjakannya sebagai pelarian justru mendapat tanggapan serius dari banyak orang.

Hingga tahun 1982, Ashadi menulis 12 novel. Setelah itu ia kembali ke dunia cita-citanya, yakni jurnalistik. Tapi ia tidak lagi bekerja di media. Ia melakukan pelatihan jurnalistik. Kenapa? “Saya menyadari sudah susah menjadi wartawan.

Jadi pelatih sajalah. Ibarat petinju, tidak pernah jadi juara, sudahlah jadi coach.

Tetapi saya belajar betul bagaimana menjadi coach. Saya belajar betul bagaimana jurnalisme itu harus dikembangkan di bawah tekanan Orde Baru yang luar biasa itu,” paparnya.

Saat gerakan reformasi terjadi, ia kembali menulis novel karena perjuangan untuk melatih wartawan secara teknis sudah selesai. Pers sudah begitu bebas, bahkan sampai kebablasan. Yang diperlukan sekarang adalah pendidikan etika, bukan lagi pendidikan keterampilan jurnalisme. Ia baru saja menerbitkan novel terbarunya, Menolak Ayah, tahun 2018.

Ashadi berpendapat hidup manusia tak lengkap jika tidak pernah mengapresiasi sastra. Ia menjelaskan dalam hidup ada dunia fakta dan fiksi. Untuk dunia fakta orang harus mendapatkan output yang benar. Tapi mendapatkan fakta saja tidak cukup.

Orang harus bisa mengapresiasi dunia fiksi pula. Dunia fiksi adalah dunia kreatif yang diproses oleh manusia dengan kapasitas tertentu sehingga tercipta satu teks tertentu. Dari dunia semacam itu masyarakat bisa diajak untuk mengapresiasinya.

Kehidupan tidak lengkap, kata dia, jika dunia faktual dan fiksi tidak dihayati dengan baik. “Itu bagi saya,” ujarnya. Dunia sastra membuat orang dapat menghayati dunia fiksi. Suatu penghayatan khas karena yang diciptakan dalam dunia fiksi ini sangat berbeda dengan dunia faktual. Dunia faktual itu terjadi begitu saja dalam kehidupan sosial. Sementara dunia fiksi terjadi dalam dunia subjektif seseorang.

“Kalau kita bisa mengapresiasi itu maka hidup kita jadi lengkaplah,” katanya.

(35)

BIODATA

Nama : Ashadi Siregar

Tempat/tanggal lahir : Pematang Siantar, Sumut, 3 Juli 1945 Istri : Helga Korda

Anak : - Anggia Adibanua Siregar - Bona Adimesa Siregar PENDIDIKAN

- SD Negeri 1 Pematang Siantar (1958) - SMP Negeri 1 Padangsidempuan (1961)

- SMA Bagian B Negeri 1 Padangsidempuan (1964)

- Sarjana Fakultas Sosial Politik, Jurusan Publisistik, UGM (1970) PEKERJAAN

- Dosen Fakultas Sosial dan Politik UGM, 1970-2010

- Ketua Harian pada Yayasan Penelitian Pengembangan Profesi Jurnalisme (sejak 2014)

PENGHARGAAN

- Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018

- Cendikiawan Berdedikasi, Penghargaan Kompas, 2018 - Press Card Number One, Panitia Hari Pers Nasional (2010) - Medali Satyalancana Karya Satya 30 Tahun, Presiden RI (2007) KARYA NOVEL

- Cintaku di Kampus Biru (Penerbit Gramedia, 1974) - Kugapai Cintamu (Penerbit Gramedia, 1974)

- Terminal Cinta Terakhir (Penerbit Gramedia, 1976) - Sirkuit Kemelut (Penerbit Gramedia, 1976)

- Warisan Sang Jagoan (Penerbit Pancar Kumala, 1976) - Sunyi Nirmala (Penerbit Karya Unipress, 1982) - Menolak Ayah (Penerbit Gramedia, 2018)

(36)

Yosef rawi

Penjaga Warisan Sastra dan Budaya dari Ngada

Yosef Rawi adalah sosok langka, terbilang salah satu penjaga ingatan bangsa ini. Paling tidak untuk lingkup masyarakat Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lewat tulisan-tulisannya yang sudah dibukukan, Yosef Rawi

“menghidupkan” kembali ingatan akan tradisi-tradisi lokal yang penuh ajaran moral tetapi kini satu per satu mulai hilang dari kehidupan masyarakat pendukungnya.

Hidup di pedalaman Bajawa tak menjadikannya lupa untuk memotret kebesaran budaya Nusantara. Ia sadar, hanya lewat menulislah berbagai keunggulan dan kearifan budaya lokal masyarakat Bajawa dapat terpelihara. Dengan demikian generasi muda akan mendapatkan pegangan hidup dan rujukan di saat mereka mencari identitas budayanya.

Globalisasi yang secara perlahan masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bajawa telah banyak memupus tradisi-tradisi lokal yang penuh ajaran moral. Padahal, di dalam tradisi lokal tersebut tersimpan semua petuah hidup yang telah diwariskan oleh para leluhur. Mulai dari ajaran berumah tangga yang baik, kiat menjaga keharmonisan keluarga, hingga bagaimana hidup bersama dalam masyarakat—

bahkan termasuk hidup dengan alam, dan lain sebagainya. Semua itu sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisi. Belum lagi cerita rakyat yang pada masanya menjadi cerita turun-temurun, yang dijadikan sebagai media pembelajaran hidup

(37)

masyarakat.

Saat ini semua kekayaan budaya tersebut seakan mulai hilang bagai ditelan bumi.

Masyarakat sudah banyak yang lupa akan mutiara budaya yang sudah mentradisi selama berabad-abad lamanya. Untuk itu, di usianya yang sudah kian senja, Yosef mendedikasikan dirinya untuk mencatat semua ingatan budaya tersebut. Ia berharap ikhtiarnya itu dapat menjadi warisan yang sesungguhnya untuk masyarakat Bajawa khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Yosef Rawi lahir pada bulan September 1936 dari pasangan Mama Yosefina Anu dan Bapak Benyamin Wuda Watu, Aimere. Pada tahun 1944 hingga 1949 ia mulai menikmati pendidikan formal di Sekolah Rakyat Maghilewa dan Sekolah Rakyat Ruto, sebelum pindah ke SD (Standardschool) di Matalako (1949-1952).

Selepas SD, Yosef Rawi yang bercita-cita menjadi guru melanjutkan pendidikan ke sekolah guru B (SGB) di Ndona, Ende (1952-1955) dan sekolah guru A (SGA) di Ndao, Ende (1955-1958). Berselang 10 tahun kemudian, kecintaannya pada dunia pendidikan mengantarkannya untuk menikmati bangku kuliah. Tahun 1968 ia masuk Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan Universitas, Nusa Cendana (Undana) Kupang cabang Ende (sampai tingkat sarjana muda).

Dibandingkan teman-teman seangkatan dari tanah kelahirannya, Yosef Rawi

(38)

dapat dikatakan beruntung karena mendapat kesempatan untuk belajar terus dari satu sekolah ke sekolah yang lainnya. Pengalaman tersebut menjadikan Yosef Rawi berbeda dengan teman-teman seusianya. Sedari kecil, Yosep Rawi sudah mulai kagum pada kekayaan budaya Nusantara, yang kemudian mendorong dirinya terjun di dunia pendidikan. Ia tidak tertarik untuk mengembangkan bisnis dan pekerjaan lain di luar dunia pendidikan. Jiwanya untuk mendidik sudah tertanam jauh sejak ia masih kecil.

Semenjak lulus SGA, ia memulai karier sebagai guru di SD Menge, SD Maghilewa, dan SDK Gurusina. Ini terjadi pada tahun 1958-1968. Selama beberapa tahun (1972-1975), Yosef sempat berpindah “tingkat” menjadi guru di SMP Sanjaya Bajawa, sebelum dipercaya sebagai kepala SDN Bajawa V di Watutura (1975-1980), Bajawa. Sebelum menjalani masa pensiun pada 1 Januari 1999, Yosef menjadi Penilik Kebudayaan Kecamatan Aesesa (1980-1983), Penilik TK/SD Kecamatan Aimere (1983-1986), kepala Sub-Bagian Penyusunan Rencana dan Program (PRP) Kantor Depdikbud, Kabupaten Ngada (1986-1993), dan kembali lagi ke dunia pendidikan sebagai Penilik TK/SD di Kecamatan Bajawa (1993-1998).

Masa pensiun tidak menjadikan dirinya hidup santai dan berleha-leha. Keinginan untuk merekam berbagai ingatan dirinya selama berkecimpung dengan masyarakat tradisi mendorong dirinya untuk mulai menuliskan semua hal terkait kebudayaan Bajawa di Ngada. Ingatan-ingatan masa lalu, yang biasanya disimpan dalam bentuk monograf, mulai ditulis ulang dan diperluas lingkupnya. Ia pun mulai berkeliling lagi ke daerah-daerah dan membuka arsip-arsip lama sembari menuliskannya kembali menjadi sebuah tulisan utuh. Meski dengan kemampuan finansial yang terbatas, Yosef Rawi tidak pernah berputus asa untuk terus mencari informasi terkait kekayaan budaya masyarakatnya. Proses memang tidak pernah menghianati hasil.

Demikian pula dengan Yosef. Berkat kesungguhan dan totalitas kerja, beberapa karyanya pun terbit, meski sebagiannya masih dalam bentuk monograf yang baru saja selesai ditulis.

Secara garis besar, karya-karya Yosef Rawi dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu terkait kebudayaan Ngada dan cerita-cerita rakyat. Untuk buku-bukunya yang terkait kebudayaan Ngada banyak memuat cerita tentang pola hidup masyarakat asli Ngada, seperti arsitektur rumah, mata pencaharian, kematian, pesta tahun baru adat,

(39)

termasuk berbagai kesenian tradisional, adat yang hampir hilang berikut benda- benda budaya. Adapun untuk cerita-cerita rakyat yang berhasil dihimpunnya di antaranya Wanga Wea, Wolo Ratu Api dan Wolo Awu Awu Bha, termasuk berbagai cerita pendek seperti Lauolo dan Orong, Dedu dan Ngode, Koda dan Buku, Liko Huba, dan lain-lainnya. Semua cerita rakyat itu penuh makna, kaya ajaran moral, serta banyak mengandung kearifan-kearifan local dalam memandang hidup dan kehidupan.

Kini usia Yosef Rawi tak lagi muda, akan tetapi semangatnya untuk mengabadikan berbagai khazanah kebudayaan di Ngada terus berkobar. Ia ibarat oase di tengah-tengah padang pasir yang kian gersang. Atas berbagai usahanya tersebut, maka Yosef Rawi layak mendapatkan apresiasi.

BIODATA

Nama : Yosef Rawi Lahir : September 1936

Orang tua : Mama Yosefina Anu dan Bapak Benyamin Wuda Watu, Aimere

PENDIDIKAN

:

• Sekolah Rakyat Maghilewa dan Sekolah Rakyat Ruto (1944-1949)

• SD (Standardschool) Matalako (1949-1952)

• SGB di Ndona – Ende (1952-1955)

• SGA di Ndao – Ende (1955-1958)

• Fakultas Keguruan Undana Cabang Ende (sampai tingkat Sarjana Muda) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1968-1971)

PENGHARGAAN

:

- Penghargaan Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018 untuk Kategori Satyalancana dalam bidang Sastra dan Budaya

(40)

Tb oemay martakusuma

Penegak Tonggak Lahirnya Tari Pentas Sunda Putri

Tubagus Oemay Martakusuma—yang akrab disapa Pak Oemay atau Pak Marta—

adalah seorang perintis, pendorong, pengarah dan pembina hadirnya tari pentas Sunda.

Tanpa kehadiran Oemay, susah dibayangkan budaya tari Sunda dapat terus hidup hingga saat ini. Tanpa kerja keras Oemay untuk terus melestarikan tarian Sunda, barangkali tarian Sunda hanya tinggal dalam catatan sejarah.

Dan, tanpa kehadiran Oemay, tidak akan pernah muncul sosok seperti Tjetje Somantri yang tampil sebagai penata tari yang tersohor.

Sebagus-bagusnya penampilan suatu karya tari jika tidak didukung oleh kostum yang serasi, tentu akan menjadi seni pertunjukan yang tidak terlalu menarik. Di sinilah Oemay merintis pembuatan kostum tari Sunda yang kemudian diikuti oleh banyak generasi sesudahnya.

Oemay kecil lahir pada tahun 1892 di Sajira, Rangkasbitung, Banten. Ia lahir dari keluarga bangsawan Banten. Ayahnya bernama Tubagus Martaatmadja, asisten wedana di Madja, Kabupaten Lebak. Ibunya bernama Nyi Mas Ratna Wijatan dari Serang, putri wedana Cilangkahan di Malingping, Banten Selatan. Pada tahun 1971, Oemay menikah dengan Tanjung Muslihah. Mereka dikaruniai sembilan anak. Di antara anak-anaknya ada yang menjadi penari, seperti Yerman Bachtiar, Achmad Dradjat, Utju Irawan dan Anis Satriyah. Cucunya, Tuti Tresnasungkawati dan Dradjat Martakusuma—anak kembar Anis Satriyah dan Atet Fadjar Martakusuma—juga jadi

(41)

penari. Tanjung Muslihah meninggal pada 24 Januari 1977, dan dua tahun kemudian Oemay menikah lagi dengan Mintarsih. Pada tanggal 24 Februari 1984, Oemay meninggal di rumahnya di Jalan Lengkol Kecil, Bandung, dalam usia 93 tahun.

Berlatar belakang sekolah guru di Bandung pada 1915, Oemay kemudian melanjutkan pendidikan gurunya di HKS (Hollandse Kweekschool) di Poerworejo.

Selepas lulus dari sekolah guru, Oemay diangkat menjadi guru HIS (Hollands Inlandse School) di Cilegon pada 1920.

Ketika di Cilegon inilah minatnya pada kesenian tergugah. Oemay sempat berpindah-pindah tempat pekerjaan, bahkan sampai ke Gersik, sebelum kembali lagi ke Cimahi, Bandung. Ketika Jepang masuk dan membubarkan School Schakel, tempat Oemay mengajar, ia kemudian pindah ke Baros. Ketika kondisi makin buruk, pada tahun 1942-1946, Oemay bekerja dengan sukarela di BPKKP (Badan Pengurus Keluarga Korban Perang). Bahkan ketika mengungsi ke Garut ia pernah menjadi kepala BPKKP. Sekembalinya dari pengungsian, Oemay diangkat menjadi Kepala Kebudajaan Negara Pasundan (1948-1950). Di zaman “Republik”, Oemay

(42)

diserahi kepercayaan untuk menjabat sebagai Kepala Djawatan Kebudajaan Djawa Barat di Bandung (1950-1958).

Bidang seni yang dikuasai dan diminati Oemay banyak ragamnya. Seni sandiwara adalah minat utamanya. Seni tari adalah dunia yang dikelolanya dengan penuh kesungguhan untuk mengisi kekosongan bentuk tari pentas Sunda putri yang tidak pernah hadir dengan jelas. Seni lukis adalah cabang seni yang memberinya dasar-dasar seni rupa dan memberinya bekal dalam mengolah bidang seni lainnya.

Melalui seni lukis Oemay diperkenalkan pada dunia Barat. Minat dan perhatiannya pada berbagai bentuk seni Sunda lain, meluaskan pandangannya dan menjadi bekal ketika memimpin Djawatan Kebudajaan Djawa Barat.

Prestasi Oemay di bidang tari tak dapat diragukan. Ia menjadi pendorong dan motor dari lahirnya bentuk tari pentas Sunda putri sejak tahun 1933. Dalam tarian Tjetje atau tarian BKI (Badan Kesenian Indonesia), ada napas dan jiwa Oemay di dalamnya. Tanpa kostum yang ditata Oemay, tarian Tjetje mungkin tidak akan indah dan menarik. Melalui sentuhan seni Oemay pada karya tari Sunda yang bergaya semi-klasik, mendadak tari Sunda dapat disejajarkan dengan tari klasik Jawa dan Bali. Oemay memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada Tjetje untuk mencipta tari baru “wanda anyar”, yang sesuai dengan kebutuhan zaman pada waktu

(43)

itu, sehingga Presiden Sukarno selain membawa tamu-tamunya ke Bandung atau ke istana-istananya di Jakarta, Bogor dan Cipanas untuk menyaksikan tarian Tjetje.

Tarian asuhan Oemay selalu diikutsertakan dalam berbagai muhibah misi kesenian Pemerintah Indonesia dan telah mengharumkan nama Jawa Barat di tingkat nasional dan internasional. Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Djawatan Kebudajaan, tahun 1957, Oemay menyebarkan tarian Tjetje kepada seluruh guru tari di seluruh Jawa Barat. Sejak saat itulah tarian Sunda puteri karya Tjetje tersebar ke Jawa Barat, bahkan kemudian dikenal di seluruh wilayah Indonesia.

Di bidang lukis, Oemay belajar dari guru lukis berkebangsaan Belanda di Bandung sekitar tahun 1913. Karena dinilai berbakat besar dan lukisannya bagus, gurunya menawarinya untuk berkeliling dunia guna memupuk bakat dan menambah pengalaman bersamanya. Namun direktur sekolahnya menganjurkan agar Oemay menangguhkan rencana ini hingga lulus sekolah dahulu. Setelah lulus, Oemay

(44)

berangkat ke Jakarta dan bekerja sebagai guru sambil menunggu berita tibanya beasiswa untuk belajar di sekolah seni di Belanda yang tidak kunjung datang.

Pada Perkumpulan Sekar Pakuan yang dipimpinnya tahun 1935-1942, Oemay mendirikan cabang seni lukis. Beberapa pelukis yang tergabung di situ kemudian menjadi pelukis yang terkenal secara nasional dan internasional. Beberapa di antaranya adalah Affandi, Hendra Gunawan, Wahdi, Barli, Sudarso, dan Abdullah S—ayah Basuki Abdullah. Oemay termasuk salah satu pengajar lukis. Di masa BKI, lukisan Oemay yang khas ialah lukisan-lukisan penari kupu-kupu yang indah bergaya naturalis impresionis.

Oemay juga memiliki ketertarikan kepada seni pertunjukan. Ketika menjadi guru di Cilegon, Oemay membuat sandiwara atau tonil Sunda yang ditulis dan disutradainya sendiri, yaitu: Nyi Sangkana, Heru Gandrung, Komala Gilang Kusuma, Lutung Kasarung, Ratu Budi Astuti dan Dewi Sri. Ia juga sempat menyutradarai sandiwara dalam bahasa Belanda dengan lakon “Ciung Wanara”, teksnya ditulis oleh orang Belanda. Sandiwara tersebut diiringi gamelan sebagai musik latar.

Dekor dan kostum dibuat khusus bersama-sama guru lain. Khusus terkait kostum ini, tidak tumbuh begitu saja pada diri Oemay. Ia ditunjang oleh pemahaman dan pengetahuannya dalam ilmu seni rupa (lukis) yang telah dipelajarinya lebih dahulu.

Sudah lama Oemay meninggalkan kita, akan tetapi jejak perjuangannya masih dapat kita rasakan hingga saat ini, khususnya bagi mereka yang aktif di dunia tari

(45)

Sunda. Ibarat matar air yang airnya tidak pernah berhenti mengairi sekitarnya, begitupun dengan Oemay yang selalu menjadi oase tradisi seni tari di tanah Pasundan. Maka, tidaklah heran jika pada tahun 2004, ia mendapatkan Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kala itu, Jero Wacik.

DAfTAR PUSTAKA:

- Irawati Durban Ardjo. Tari Sunda Tahun 1940 – 1965: Rd. Tjetje Somantri dan Kiprah BKI. Bandung: Pusbitari Press, 2008.

- Irawati Durban Ardjo. Tari Sunda Tahun 1880 – 1990: Melacak Jejak Tb.

Oemay Martakusuma dan Rd. Tjetje Somantri. Bandung: Pusbitari Press, 2007.

BIODATA

:

Nama : Tb Oemay Martakusuma

Lahir : 1892 di Sajira, Rangkas Bitung, Banten Ayah : Tubagus Martaatmaja

Ibu : Nyi Mas Ratna Wijatan Istri : Tunjung Muslihah

Anak : Sembilan orang, delapan meninggal dunia, yang masih hidup yaitu Anis Satriyah.

Profesi : Perintis, pendorong, pengarah dan pembina hadirnya tari pentas Sunda

PENGHARGAAN

- Anugerah Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004 - Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI Joko Widodo, 2018

(46)

Sahidah

Setia Melestarikan Songket Sambas

Sahidah (73) telah menenun songket Sambas sejak usia 14 tahun.

Songket baginya merupakan bagian dari keberagaman budaya bangsa Indonesia dan dirinya terpanggil untuk melestarikan dan mengembangkannya.

Sahidah tampak riang ketika diajak bicara soal tenun songket Sambas di rumahnya di Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Ia telah menenun songket sudah lebih dari dua per tiga usianya, bahkan sampai saat ini ketika usianya sudah “berkepala”

tujuh. Kesetiaan dan ketekunannya telah mendorong pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, memberinya Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana, tahun 2018.

Ia terharu mendengar kabar gembira tersebut. Tak menyangka perjuangan panjangnya mempertahankan dan mengembangkan tenun songket Sambas secara tradisional berujung pada penghargaan tersebut. Suaminya, Benyamin Murat, yang menemaninya juga tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dan harunya.

“Songket itu penting untuk bangsa kita. Karena itu, patut dilestarikan,” katanya.

Bahkan, menurutnya, songket Sambas juga merupakan bagian dari keberagaman bangsa Indonesia yang wajib dipertahankan.

Sahidah menekuni tenun songket selain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, juga merupakan bagian dari upaya pelestarian kekayaan leluhur. Ia tetap mempertahankan tenun tradisional karena bisa melibatkan banyak orang dalam pengerjaannya.

(47)

Ibunga mengajarkannya menenun saat ia berusia 14 tahun. “Waktu itu, ibu saya bilang, seorang anak perempuan harus bisa menenun, seperti seorang anak perempuan harus bisa memasak,” ujarnya. Saat itu, ia juga harus membantu perekonomian keluarga karena ayahnya telah meninggal saat ia masih berusia empat tahun.

Sahidah tumbuh di Dusun Simbarrang di pesisir Sungai Sambas di mana mayoritas penduduknya dari suku Melayu. Dusun ini juga dikenal sebagai dusun penghasil tenun songket. Selain Simbarrang, dusun lain yang juga dikenal dengan tenunnya adalah Dusun Jawa, Nagur, Tumuk Manggis, Tanjung Ranggas, dan Keranji. Namun jumlah penenun terbanyak ada di Dusun Simbarrang.

Tak punya modal, awalnya Sahidah memanfaatkan sisa-sisa benang yang tidak dipakai lagi oleh ibunya. Maka, jadilah selembar selendang kecil. Hasil tenunnya ia jual di dusunnya dan dibarter dengan beras. Beras itu kemudian ia jual, dan dari hasil jualannya ia membeli benang agar bisa menenun kembali.

Itulah langkah pertama Sahidah yang akhirnya membawanya berjalan jauh dalam dunia tenun-menenun kain songket Sambas sampai hari ini. Tentu saja perjuangannya itu tak selamanya mulus. Jatuh bangun ia alami, tapi ia tak pernah surut menekuni dunia menenun. Hasilnya, kini boleh dibilang nama Sahidah telah jadi salah satu “brand” tenun songket di Sambas.

Sejak 1995 ia memanfaatkan ruang kecil di rumahnya untuk mengembangkan usaha tenun songket Sambas, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Saat ini, bersama sekitar 30 orang ibu penenun, ia memutar usaha tenunnya.

(48)

“Saya lebih banyak membuat polanya. Pola-polanya saya ambil dari alam sekitar Sambas. Pola-pola itu saya berikan kepada penenun saya,” paparnya. Sudah banyak pola yang ia ciptakan seperti motif baru tenun songket Sambas “Daun Galih”.

Para mitranya bekerja di rumah masing-masing, tidak di galeri tenun miliknya.

Meski tak bekerja di satu tempat, ia ketat menjaga kualitas tenun. “Saya selalu bilang kepada penenun saya untuk menjaga kualitasnya. Kita akan senang kalau ada yang bangga memakai hasil tenun kita,” tuturnya memberi motivasi kepada mitranya.

Sebagian besar penenun yang bergabung dengannya tinggal di Dusun Simbarrang. Dusun itu cukup jauh dari rumahnya di Sambas. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik sampan menyusuri Sungai Sambas agar bisa bertemu dengan para penenunnya. Ia melakonkan semua itu dengan sabar dan tanpa putus asa.

Pada pertemuan itu, ia biasa memberikan modal berupa bahan baku benang untuk satu kali proses produksi kain songket dan akan dibayar kembali saat kain selesai ditenun. Ia juga memanfaatkan pertemuan itu untuk memberi motivasi dan pandangan kepada penenun agar selalu bekerja dengan tekun.

Selain meminta para penenun untuk menjaga kualitas kain tenun demi menjaga kepercayaan konsumen, penenun juga harus selalu inovatif dalam membuat produk.

Tak lupa ia mengajak generasi muda untuk mengenal dan ikut melestarikan kerajinan songket yang merupakan warisan budaya masyarakat Sambas.

Saat ini Sahidah banyak dibantu oleh putranya, Alfian, dalam menjalankan usaha tenunnya. Alfian-lah yang selalu mewakilinya bila ia diundang untuk mengikuti

(49)

pameran. Produk yang dihasilkan dari tenun juga kian beragam.

Salah satu uapaya yang dilakukan Sahidah adalah menjadikan galeri di rumahnya tidak hanya tempat menjual segala macam produk hasil kerajinan songket, tetapi juga difungsikan sebagai destinasi wisata industri kerajinan tenun songket di Sambas.

Dibantu putranya, Alfian, ia mengoleksi beberapa jenis kain antik khas Sambas dan beberapa alat tenun kuno yang terbuat dari kayu, yang rata-rata telah berusia di atas 100 tahun. Kini galeri miliknya juga telah menjadi tempat penelitian bagi pelajar atau mahasiswa untuk penulisan skripsi. Galeri ini menerbitkan buku tentang profil songket Sambas. “Cita-cita saya sekarang bisa membangun museum tenun songket Sambas,” ujarnya.

BIODATA

Nama : Sahidah

Tempat/tanggal lahir : Dusun Simbarrang, Sambas, 29 Mei 1945 Alamat : Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

Suami : Benyamin Murat

Anak : - Rohana

- Alfian

Pekerjaan : Pengusaha dan Pelestari Tenun Songket Sambas PENGHARGAAN

- Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2018

- Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, 2008

(50)

ebiet G ade

Bermusik, Memahami Bahasa Alam dan Manusia

Ebiet G Ade—nama lengkapnya: Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far—sudah menjadi legenda dalam jagad permusikan di Indonesia. Ia dikenal sebagai musisi yang populer dengan lagu- lagunya yang sarat pesan-pesan kehidupan.

Ibarat pewarta kearifan hidup, demikianlah peran Ebiet dalam dunia permusikan di Indonesia. Ia mewartakan manusia bagaimana agar dapat memahami bahasa alam dan kehidupan. Ia pun mampu meramu setiap rasa dengan bait- bait yang indah, termasuk rasa rindu akan kampung halaman.

Keindahan kehidupan di kampung sebagai representasi dari mayoritas perkampungan di Indonesia dapat diwartakan dengan apik lewat lagu-lagunya yang senantiasa melegenda.

Dapat dikatakan bahwa musisi seperti Ebiet sangatlah jarang. Di mana-mana, banyak orang mengejar popularitas, tapi tidak demikian halnya dengan Ebiet. Ia memiliki prinsip hidup mengalir dan harmonis dengan apa pun. Sampai-sampai setiap detik kehidupannya dijalani dengan rasa syukur yang optimal. Ia tidak pernah menargetkan apa pun dengan ambisius. Jika ia dianggap sukses dalam bermusik, ia selalu merasa itu merupakan anugerah dari Tuhan Sang Pencipta.

(51)

Ebiet G Ade lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 21 April 1954. Masa kecil yang dilaluinya di perkampungan nan permai memberi bekas yang mendalam pada kondisi jiwa Ebiet kecil. Sebagai anak kecil yang tumbuh dengan suasana pedesaan nan indah, maka menjaga keindahan desa merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pengalaman mendalam hidup di desa itulah kemudian coba ia potret melalui lagu-lagunya. Tidak aneh jika kemudian Ebiet lebih banyak dikenal sebagai musisi yang bertemakan Tuhan, alam, duka derita kelompok yang termarjinalkan serta cinta, sosial politik dan lain sebagainya. Hampir semua lagunya ber-genre balada sehingga tidak pernah lawas di makan waktu. Tidak ada satu pun lagunya yang tidak mengandung pelajaran hidup di dalamnya.

Ebiet bercerita bahwa kehidupan bermusiknya banyak dipengaruhi oleh cerita masa kecilnya. Ia bersyukur diberi anugerah Tuhan untuk dapat menuliskan bait- bait indah yang berisikan pesan kehidupan. Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa lagu-lagu yang dihasilkannya itu akan terus didengarkan oleh masyarakat luas. Ia juga tidak pernah menyangka bahwa lewat lagu-lagunya itu menjadikan dirinya dikenal banyak kalangan. Ketika ia mencipta karya sebetulnya tidak pernah terbetik sedikit pun apakah karyanya itu akan diterima masyarakat luas. Ia hanya menuliskan apa yang dirasakannya. Hal ini juga yang mendorong Ebiet untuk menyanyikan lagu-lagu yang diciptakannya sendiri. Ia merasa apa yang ditulis merupakan apa yang dirasakan, dan apa yang dinyanyikan adalah apa yang memang ia tuliskan.

Sejauh ini hanya ada dua lagu yang dinyanyikannya berasal dari orang lain, yaitu

“Surat dari Desa” yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ketika kecil, Ebiet pernah bercita-cita menjadi insinyur, dokter dan pelukis.

Akan tetapi ternyata semuanya melenceng karena Ebiet kemudian ditakdirkan menjadi seorang penyanyi. Ia bersyukur terlahir di tengah-tengah keluarga yang sangat mendukung pengembangan kariernya. Sebagai anak terakhir alias bungsu dari enam bersaudara tidak menjadikan dirinya manja. Aboe Ja’far, sang ayah yang seorang PNS, dan Saodah, sang ibu yang aktif menjadi pedagang kain, menjadi pemicu diri yang kuat bagi Ebiet kecil. Ia ingin hidup berbahagia sebagaimana diajarkan oleh kedua orangtuanya itu.

Gambar

Foto karya
Foto tersebut menampilkan  momen bersejarah. Presiden  Sukarno tersenyum riang  menerima rombongan penari  Serampang Dua Belas yang dipimpin oleh  Sauti di Istana Bogor, sesaat sebelum  berangkat ke Beijing (China) dan Moskow (Uni Soviet, kini Rudia) tahun

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum pedoman umum pembelajaran. Kementrian dan Kebudayaan,

Strategi kebudayaan tersebut disusun berdasarkan rangkuman Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dari berbagai wilayah di tanah air dan menjadi dasar perumusan Rencana

Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan dampak kebijakan kebudayaan yang sudah diterapkan terhadap komunitas seni dan tradisi budaya Banyuwangi, khusunya Using,

Pemanfaatan paperless office system di lingkungan Biro Kepegawaian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia adalah salah satu cara untuk

Sudah tepat jika Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia melaksanakan lomba debat Bahasa Inggris siswa SMA se-Indonesia atau

Peranan Dinas Kebudayaan, Pariwasata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman dan Kesadaran Terhadap Seni Reyog

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2020 TENTANG PENERIMAAN MAHASISWA BARU PROGRAM

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2018 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI