Ebiet G Ade—nama lengkapnya: Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far—sudah menjadi legenda dalam jagad permusikan di Indonesia. Ia dikenal sebagai musisi yang populer dengan lagu-lagunya yang sarat pesan-pesan kehidupan.
Ibarat pewarta kearifan hidup, demikianlah peran Ebiet dalam dunia permusikan di Indonesia. Ia mewartakan manusia bagaimana agar dapat memahami bahasa alam dan kehidupan. Ia pun mampu meramu setiap rasa dengan bait-bait yang indah, termasuk rasa rindu akan kampung halaman.
Keindahan kehidupan di kampung sebagai representasi dari mayoritas perkampungan di Indonesia dapat diwartakan dengan apik lewat lagu-lagunya yang senantiasa melegenda.
Dapat dikatakan bahwa musisi seperti Ebiet sangatlah jarang. Di mana-mana, banyak orang mengejar popularitas, tapi tidak demikian halnya dengan Ebiet. Ia memiliki prinsip hidup mengalir dan harmonis dengan apa pun. Sampai-sampai setiap detik kehidupannya dijalani dengan rasa syukur yang optimal. Ia tidak pernah menargetkan apa pun dengan ambisius. Jika ia dianggap sukses dalam bermusik, ia selalu merasa itu merupakan anugerah dari Tuhan Sang Pencipta.
Ebiet G Ade lahir di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 21 April 1954. Masa kecil yang dilaluinya di perkampungan nan permai memberi bekas yang mendalam pada kondisi jiwa Ebiet kecil. Sebagai anak kecil yang tumbuh dengan suasana pedesaan nan indah, maka menjaga keindahan desa merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pengalaman mendalam hidup di desa itulah kemudian coba ia potret melalui lagu-lagunya. Tidak aneh jika kemudian Ebiet lebih banyak dikenal sebagai musisi yang bertemakan Tuhan, alam, duka derita kelompok yang termarjinalkan serta cinta, sosial politik dan lain sebagainya. Hampir semua lagunya ber-genre balada sehingga tidak pernah lawas di makan waktu. Tidak ada satu pun lagunya yang tidak mengandung pelajaran hidup di dalamnya.
Ebiet bercerita bahwa kehidupan bermusiknya banyak dipengaruhi oleh cerita masa kecilnya. Ia bersyukur diberi anugerah Tuhan untuk dapat menuliskan bait-bait indah yang berisikan pesan kehidupan. Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa lagu-lagu yang dihasilkannya itu akan terus didengarkan oleh masyarakat luas. Ia juga tidak pernah menyangka bahwa lewat lagu-lagunya itu menjadikan dirinya dikenal banyak kalangan. Ketika ia mencipta karya sebetulnya tidak pernah terbetik sedikit pun apakah karyanya itu akan diterima masyarakat luas. Ia hanya menuliskan apa yang dirasakannya. Hal ini juga yang mendorong Ebiet untuk menyanyikan lagu-lagu yang diciptakannya sendiri. Ia merasa apa yang ditulis merupakan apa yang dirasakan, dan apa yang dinyanyikan adalah apa yang memang ia tuliskan.
Sejauh ini hanya ada dua lagu yang dinyanyikannya berasal dari orang lain, yaitu
“Surat dari Desa” yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan “Mengarungi Keberkahan Tuhan” yang ditulis bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ketika kecil, Ebiet pernah bercita-cita menjadi insinyur, dokter dan pelukis.
Akan tetapi ternyata semuanya melenceng karena Ebiet kemudian ditakdirkan menjadi seorang penyanyi. Ia bersyukur terlahir di tengah-tengah keluarga yang sangat mendukung pengembangan kariernya. Sebagai anak terakhir alias bungsu dari enam bersaudara tidak menjadikan dirinya manja. Aboe Ja’far, sang ayah yang seorang PNS, dan Saodah, sang ibu yang aktif menjadi pedagang kain, menjadi pemicu diri yang kuat bagi Ebiet kecil. Ia ingin hidup berbahagia sebagaimana diajarkan oleh kedua orangtuanya itu.
Ebiet pernah masuk PGAN di Banjarnegara, kemudian ia pindah ke SMP Muhammadiyah 3 dan SMA Muhammadiyah 1 di Yogyakarta. Ia sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, akan tetapi karena kekurangan biaya ia memilih kemudian untuk aktif di lingkungan seniman muda Yogyakarta. Di lingkungan baru di kawasan Malioboro inilah Ebiet semakin mengembangkan jiwa kreativitasnya. Ia bersahabat baik dengan Emha Ainun Nadjib (penyair), Eko Tunas (cerpenis) dan EH Kartanegara (penulis). Di Malioboro ini pula Ebiet memulai debut dirinya sebagai seorang seniman.
Ebiet mulai menulis banyak puisi. Meski ia dapat menulis puisi, tetapi Ebiet menyadari dirinya bukanlah orang yang pandai mendeklamasikan puisi sebagaimana kawan-kawannya yang lain. Ia pun memutar otak dengan keras agar ada media lain yang bisa digunakannya untuk menyampaikan puisi ke khalayak umum. Ia akhirnya memilih media musik sebagai sarana untuk menyampaikan puisi. Ia pun akhirnya sering melantunkan juga puisi sahabat lainnya, seperti puisi Emha yang dilantunkannya dengan iringan petikan gitar. Sejak saat itulah karier Ebiet di bidang music balada terus bersinar tak terbendung.
Hingga saat ini tercatat sudah ratusan lagu lahir dari tangan dinginnya. Untuk album studio, misalnya, tercatat sudah banyak karya yang lahir. Sebutlah seperti:
Camellia I (1979), Camellia II (1979), Camellia III (1980), Camellia 4 (1980), Langkah Berikutnya (1982), Tokoh-Tokoh (1982), 1984 (1984), Zaman (1985), Isyu! (1986), Menjaring Matahari (1987), Sketsa Rembulan Emas (1988), Seraut Wajah (1990), Kupu-Kupu Kertas (1995), Cinta Sebening Embun (1995), Aku Ingin Pulang (1996), Gamelan (1998), Balada Sinetron Cinta (2000), Bahasa Langit (2001), In Love: 25th Anniversary (2007), Masih Ada Waktu (2008), Tembang Country 2 (2009), dan Serenade (2013). Adapun lagu-lagunya dalam bentuk kompilasi jauh lebih banyak lagi.
Berbagai penghargaan pun pernah diterima oleh sosok yang bersahaja ini.
Beberapa di antaranya: 18 Golden dan Platinum Record dari Jackson Record dan label lainnya dari album Camellia I hingga Isyu!, Biduan Pop Kesayangan PUSPEN ABRI (1979-1984), Pencipta Lagu Kesayangan Angket Musica Indonesia 1985), Penghargaan Diskotek Indonesia (1981), 10 Lagu Terbaik ASIRI (1980-1981), Penghargaan Lomba Cipta Lagu Pembangunan (1987), Penyanyi kesayangan
Siaran Radio ABRI (1989-1992), BASF Awards (1984 - 1988), Penyanyi solo dan balada terbaik Anugerah Musik Indonesia (1997), Lagu Terbaik AMI Sharp Award (2000), Planet Muzik Awards dari Singapura (2002), Penghargaan Lingkungan Hidup (2005), Duta Lingkungan Hidup (2006), Penghargaan Peduli Award Forum Indonesia Muda (2006).
SUMBER:
Wawancara langsung pada 28 Agustus 2018 https://id.wikipedia.org/wiki/Ebiet_G._Ade
BIODATA
Nama : Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far alias Ebiet G Ade) Lahir : Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah, 21 April 1954 Istri : Koespudji Rahayu Sugianto
(lebih dikenal sebagai Yayuk Sugianto) Anak-anak : 1. Abietyasakti “Abie” Ksatria Kinasih
2. Aderaprabu “Adera” Lantip Trengginas 3. Byatriasa “Yayas” Pakarti Linuwih 4. Segara “Dega” Banyu Bening Profesi : Musisi dan Penyanyi
PENGHARGAAN:
- Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018