Agus Suwage adalah salah satu perupa kontemporer Indonesia yang banyak menghadirkan tema-tema social, yang kemudian jadi perbincangan khalayak. Agus suka menggunakan wajah dan tubuhnya untuk mengekspresikan kritiknya.
Pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memberikannya Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru tahun 2018 bidang seni rupa. Ia telah berhasil menjadi salah satu sosok penting di peta seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karyanya tidak saja diakui di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Bahkan ia telah memenangi penghargaan bergensi bagi perupa: Philip Morris ASEAN Art Award, tahun 1996.
Agus sempat terdiam ketika mendengar kabar mendapat anugerah kebudayaan dari pemerintah itu. Dengan suara halus, ia berujar, “Saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur. Penghargaan yang diberikan terlalu besar. Saya orang tidak bisa diam. Saya pribadi, tiap kali berkarya, tidak cepat puas. Saya cari tantangan lain. Karya saya berubah baik medianya maupun temanya. Saya menggunakan media kertas, kayu, seng, kanvas, dan sebagainya.”
Di studionya yang asri di daerah Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta, perupa kontemporer itu menghabiskan waktunya untuk berkarya. Ia selalu bekerja di lantai dua studionya. Studio ini unik. Jumlah alat musik—mulai dari gitar, trompet,
flute, drum sampai sounds system—tak kalah banyak dengan peralatan melukisnya.
Bahkan di studio itu juga terdapat dapur rekaman. Agus sendiri juga pernah bercita-cita jadi anak band. Ia piawai main gitar, trompet, dan flute, misalnya.
“Musik itu kebutuhan hidup saya. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa musik. Saya bisa melakukan puasa makan dan minum. Tapi puasa musik, pasti berat banget bagi saya. Musik itu vital bagi saya. Dunia yang saya akrabi sebenarnya hanya seni rupa dan seni musik. Saya perupa yang pakai visi musik. Beberapa karya saya pakai bunyi-bunyian seperti trompet. Dari musik, saya visualkan,” ujarnya.
Perupa Agus Suwage juga dikenal suka menggunakan wajah dan tubuhnya dalam berkarya sejak 2005. Ia menggunakan wajah dan tubuhnya untuk menyampaikan konsep utama seninya. Kenapa pakai wajah dan tubuh?
Pada tahun 1990-an, Agus pernah serumah dengan seorang fotografer yang suka motret wajah, tubuh, dan geraknya. Foto-foto tersebut memberinya inspirasi. Ia mau melukis ulang berdasarkan foto-foto tersebut dan memberi sentuhan pemikiran baru.
Dengan begitu, katanya, ia tidak perlu lagi membayar model. Dirinya jadi model lukisannya.
“Alasan lain, saya kalau ingin mengeritik orang lain atau keadaan, saya melihat wajah saya. Kalau buat saya, bercermin sebelum mengeritik orang lain.
Bercermin pada diri sendiri. Kritik harus bercermin pada diri sendiri,” katanya memberi alasan kenapa wajah dan tubuhnya dipakai dalam karya-karyanya untuk
Ketika mengeritik sifat keserakahan manusia, Agus membuat lukisan dengan model dirinya sendiri bertajuk
“The Super Omnifora”
(2001, cat minyak, akrilik, pada kanvas, 145 x 140 cm (diptych). “Saya makan katak dan sayur mentah untuk difoto. Setelah itu saya muntah-muntah. Ide besarnya, manusia makhluk berpotensi menjadi perusak lingkungan, sosial, alam. Serakah seperti itu,” tutur Agus tentang lukisannya tersebut. Namun setiap karya selalu terbuka untuk interpretasi. Agus merasa senang kalau makin banyak interpretasi untuk karyanya.
Tentang ide untuk karyanya, ia bisa mendapatkan dari mana-mana. Kadang ia mendapatkannya dari kehidupan sehari-hari, dari mendengar dan bermain musik, nonton film, atau membaca.
Seni rupa dan seni pada umumnya, kata Agus, sangat penting dalam kehidupan.
Seni kadang-kadang tampak seperti tak berguna. Tapi seni justru sangat membantu manusia saat diperlukan. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa seni. “Hidup tanpa sentuhan seni gersang sekali,” tegasnya. Ia membayangkan bangunan rumah yang terpakai hanya secara fungsional tanpa sentuhan seni pasti akan gersang.
Dalam berkarya, katanya, orang harus bekerja dengan passion. Tanpa itu, susah seorang seniman berkembang. Juga dalam berkarya jangan berpikir soal pasar, tetapi teruslah berkarya. Ekonomi penting, tetapi bukan yang utama. Bagi seorang seniman, proses berkesenian itu tidak pernah berhenti. “Juga jangan cepat puas dengan pencapaian yang ada,” katanya.
Agus sendiri juga tidak pernah merasa berada dalam zona nyaman. Ia terus mencari. Dalam menggunakan media pun ia terus mencari tantangan baru. Tidak puas dengan apa yang telah dicapai. Ia pernah menggunakan aspal dan tanah sebagai media. Ia juga menyukai media kertas daripada menggunakan kanvas.
Melalui penggunaan cat air dan cat minyak, ia mampu mengeksplorasi teknik yang menampilkan efek transparan.
Agus Suwage mengaku cepat jenuh, akan tetapi ia juga adalah seorang perupa dengan semangat tinggi untuk terus berkarya dengan media dan ide-idenya yang unik. “Saya kerja paling lama dua minggu. Setelah
itu mood saya hilang. Karena itu, saya selalu berusaha menyelesaikan karya secepatnya. Tidak berlama-lama. Daya tahan fisik saya juga makin berkurang,” ujarnya.
BIODATA
Nama : Agus Suwage
Tempat/tanggal lahir : Purworejo, Jawa Tengah, 14 April 1959 Pekerjaan: Perupa :
PENDIDIKAN
- Departemen Desain Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (1986) PENGHARGAAN
- Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor, Pencipta dan Pembaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018
- Philip Morris Award, 1996 KARYA
• Cermin Sosial (2012)
• Tembok Toleransi (2012)
• CYCLE No.2 (2013)
• CYCLE No.3 (2013)
• The End Is Just Beginning Is The End (2011) PAMERAN
• After Utopia: Revisiting the Ideal in Asian Contemporary Art, Singapore Art Museum (2015)
• SIP! Indonesian Art Today di Singapura dan Jerman (2012-2013)
• Still Crazy After All These Years di Yogyakarta (2009)
• Beauty in the Dark, Galeri Kontemporer Avanthay, Zurich, Switzerland (2008)
• Awas! Recent Art from Indonesia di Australia (1999)