• Tidak ada hasil yang ditemukan

Revitalisasi Tradisi Menganyam Daun Lontar

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 157-162)

Hanna Keraf merupakan sosok teladan bagi anak bangsa. Ia berhasil mendorong perekonomian masyarakat yang tidak mampu, khususnya ibu-ibu hamil dan menyusui di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Bukan itu saja, Hanna juga telah merevitalisasi tradisi anyam yang tadinya tidak memiliki nilai ekonomi yang signifikan, karena dikerjakan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik di antara para pengrajinnya, menjadi suatu gerakan sosial positif yang memiliki spirit kewirausahaan yang dampaknya beresonansi hingga ke mancanegara. Tradisi menganyam daun lontar yang biasanya memiliki nilai budaya semata, kini menjadi sumber ekonomi bagi ibu-ibu yang terlibat di dalamnya.

Hanna Keraf dan kedua kawan dekatnya, Azalea Ayuningtyas dan Melia Winata, mendirikan rumah usaha Du’Anyam guna menyalurkan berbagai potensi yang dimiliki ibu-ibu kurang mampu di daerah-daerah pedalaman. Hingga saat ini lebih dari 450 perempuan yang terlibat di dalam proses produksi anyaman ini.

Mereka tersebar di hampir 17 desa di NTT, khususnya di daerah Flores Timur.

Jumlah tersebut terus bertambah seiring semakin tingginya minat dan permintaan dari berbagai pihak. Baru-baru ini saja, Du ‘Anyam dapat kepercayaan sebagai official merchandise Asian Games 2018. Ini merupakan sebuah prestasi luar biasa di mana gerakan social enterprise—semacam usaha bisnis berwatak aktivitas sosial—

yang dipelopori kalangan generasi milenial dapat terpilih sebagai mitra dalam acara olahraga bergengsi level internasional tersebut.

Hanna Keraf sendiri menyelesaikan pendidikan tinggi di Ritsumeikan Asia Pacific, University Jepang, untuk bidang Bisnis Administrasi. Begitupun dengan kedua kawannya, yaitu Azalea Ayuningtyas dan Melia Winata. Azalea sendiri menyelesaikan studinya pada Program Biologi Molekular, University of Michigan dan Program Kesehatan Masyarakat di University of Harvard Amerika Serikat.

Adapun Melia menyelesaikan studinya untuk Program Biomedis di University of Melbourne, Australia. Ketiga kawan tersebut meski memiliki pendidikan yang berbeda-beda, akan tetapi pengalaman mereka saat satu sekolah menyatukan cita-cita bersama. Mereka tidak tertarik untuk mengejar karier dalam bidangnya masing-masing, akan tetapi memilih jalan hidup untuk berkecimpung di dunia sosial. Ayah Hanna sendiri, A Sonny Keraf, pernah merasa kaget atas pilihan yang diambil putri kesayangannya itu. Hanna sering didorong ayahnya untuk melamar ke perusahaan-perusahaan bisnis internasional yang memang sesuai dengan program kuliahnya.

Hanna menolak dan tetap bersikukuh bahwa dunia sosial adalah dunianya yang hakiki. Inilah panggilan hati nurani Hanna yang sebenarnya.

Di awal-awal Hanna aktif terjun di dunia sosial kemasyarakatan, ia merasa terenyuh dengan kisah seorang ibu bernama Maria yang sedang mengandung anaknya yang ke-7. Si ibu bercerita tentang kehamilannya yang ke-6, yang penuh duka dan nestapa. Jarak rumahnya ke rumah sakit terbentang sekitar 10 kilometer.

Inilah yang mengakibatkan suami Maria tidak pernah memeriksakan kandungan istrinya itu selama usia kehamilannya. Sampai tiba masa melahirkan, Maria mengalami pendarahan di tengah malam, yang berakibat sang anak yang berada dalam kandungannya tersebut meninggal dunia. Kejadian inilah yang menggerakkan Hanna Keraf dan kawan-kawannya untuk merintis pendirian Du’Anyam yang

memiliki arti “ibu yang menganyam”. Ia yakin bahwa apa yang dialami Maria juga banyak dialami oleh ibu-ibu di pedesaan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu upaya yang konkret agar dapat membantu ibu-ibu tersebut keluar dari lilitan kemiskinan.

Selain itu, Hanna sendiri banyak terinspirasi oleh perjuangan ayahnya. Ia menjadi saksi langsung bagaimana sang Ayah yang berasal dari keluarga tidak mampu di Flores dapat berhasil keluar dari lilitan kemiskinan berkat pendidikan yang ada. Meski sang ayah, A Sonny Keraf, pernah ditunjuk menjadi Menteri Lingkungan Hidup pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), hal itu tidak menjadikan Hanna sombong dan lupa diri. Hanna terus mengembangkan kualitas dirinya semaksimal mungkin agar dapat hidup mandiri dan banyak berguna untuk sesama.

Perlahan tapi pasti, Du’Anyam menjadi gerakan ekonomi sosial budaya yang banyak diperhitungkan. Hanna dan kedua kawannya ingin menjadikan Du’Anyam sebagai rumah dari berbagai anyaman di Indonesia. Ibu-ibu yang terlibat pun mulai meningkat taraf kehidupannya. Mereka tidak harus bersusah-susah lagi menjual produk anyamannya karena sudah ada Du’Anyam yang siap menyalurkannya ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ke mancanegara. Untuk memperkuat usaha sosial tersebut, Hanna menduduki posisi

sebagai chief community officer yang fokus dalam pemeliharan komunitas yang berada di daerah-daerah. Hanna pun banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling daerah guna membangun komunikasi serta optimisme di kalangan para pengrajin anyaman itu. Azalea berposisi sebagai chief executive officer yang bertanggung jawab untuk mengatur keuangan dan berjalannya lembaga. Pengalamannya bersekolah di Amerika ikut memberikan warna organisasi tersendiri. Melia Winata juga sama, ia memiliki tanggung jawab sebagai chief

Undangan

produk Du’Anyam dikenal masyarakat luas dan kemudian mendorong mereka agar berminat membeli produk anyaman ibu-ibu yang berasal dari pedalaman tersebut.

Kini Du’Anyam sudah melebarkan bisnis sosialnya. Yang awalnya banyak mengelola pengembangan komunitas ibu-ibu di Flores, kini mulai merambah ke daerah lain. Sidoarjo (Jawa Timur), Kabupaten Berau (Kalimantan Timur), dan Kabupaten Nabire (Papua) menjadi jejak-jejak selanjutnya dari kreativitas bisnis sosial Hanna dan kedua kawannya. Dengan prinsip pemberdayaan perempuan, promosi budaya dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan menjadikan Du’Anyam terus tumbuh menjadi gerakan sosial yang banyak bermanfaat. Di satu sisi ikut melestarikan tradisi budaya local, pada sisi yang lain ikut merevitalisasikannya sehingga dapat ikut berkompetisi dalam percaturan ekonomi global.

Di balik setiap kesuksesan tentu ada nilai-nilai yang dijaga oleh Hanna dan kedua kawannya, yaitu apa yang mereka sebut 3P: passion, patient dan persistent. Dengan passion, mereka menjalankan setiap jenis kegiatannya penuh suka cita dan semangat yang tak bertepi, kemudian dibarengi dengan kesabaran yang optimal, dan berani menjaganya secara terus menerus. Inilah kira-kira nilai-nilai positif yang selalu dijaga oleh Hanna dan juga kawan-kawannya. Menurut Hanna, untuk memperkuat jaringan usahanya ia menerapkan prinsip-prinsip kemanusiaan, yaitu senantiasa menganggap kompetitor bukan sebagai lawan tapi sebagai kolaborator, istikamah menjaga kualitas, serta memberikan apresiasi yang memadai untuk mereka yang berprestasi. Berbagai prestasi bergengsi pun pernah mereka raih—seperti MIT Global Challenge Award 2014 dan Inacraft Award 2018—atas karya desain inovatif.

BIODATA

:

Nama : Hanna Keraf Perusahaan : Du’Anyam

Pendidikan : Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang

Profesi : Penggerak Social Enterprise bagi ibu-ibu tidak mampu PENGHARGAAN

:

- Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan Pendidikan untuk Kategori Pelestari, 2018

Undangan

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN

KATEGORI ANAK DAN REMAJA

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 157-162)