Ia tergolong masih belia. Pada Oktober 2018 ini ia berusia 16 tahun. Namun ia sudah mengukir sejumlah prestasi sebagai seorang penari. Bahkan ia telah jadi pembina tari bagi anak-anak remaja di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.
Remaja itu bernama Darryl Simeon Sanggelorang.
Sekitar seratus orang anak remaja dengan pakaian khas daerah berwarna menyala menari di Istana Merdeka saat peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2018.
Gerakan-gerakan tari mereka yang lincah dan menawan telah mencuri hati mereka yang hadir di pada acara HUT itu, juga jutaan pemirsa yang menonton siaran
langsung peringatan hari kemerdekaan tersebut lewat layar televisi.
Para remaja tersebut berasal dari Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.
Mereka membawakan tarian “Sasadu on the Sea”, yang merupakan gabungan dari empat tarian asli Jailolo, yaitu “Legu Salai”, “Sara Dabi-dabi”, “Cakalele”
dan “Soya-soya”, yang melukiskan tarian ritual perang, syukur atas panen, dan penyambutan tamu. Di antara para remaja penari tersebut adalah Darryl Simeon Sanggelorang.
Darryl terbilang istimewa di antara remaja penari lain. Ia tak hanya menjadi penari, tetapi juga pembina tari yang selalu berusaha memotivasi teman-temannya untuk menari sebaik mungkin, apalagi menari di depan Presiden Joko Widodo di
Istana Merdeka pada HUT Ke-73 Kemerdekaan RI.
“Saya bangga sekali bisa menari di Istana. Tak pernah menyangka bisa menari di depan Presiden. Jangan kan itu, bisa injak kaki di Jakarta saja sudah membuat saya bangga luar biasa. Sekarang, tak hanya injak kaki, tetapi menari di Istana juga,”
kata Darryl tentang kegiatannya menari pada HUT RI di Istana Merdeka, Jakarta.
Sebagai penari yang telah ia tekuni sejak usia kanak-kanak, Darryl telah mengukir sejumlah prestasi. Ia juga jadi pembina kelas tarian budaya di Pusat Pengembangan Anak di Desa Taboso dan pada Forum Anak Desa Balisoan dan Desa Balisoan Utara, Jailolo. “Meski harus pergi jauh dari rumah untuk melatih, saya senang bisa berbagai dengan teman-teman yang saya latih,” ujarnya saat ditemui di tempat latihannya di Taboso.
Kemahirannya menari dan aktivitasnya melatih anak-anak menari daerah Jailolo telah mengantarkannya untuk mendapat Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Anak dan Remaja 2018 dari Pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Tentu saya sangat senang bisa terpilih untuk penghargaan ini.
Ini (Anugerah Kebudayaan) untuk membantu orangtua saya. Saya ingin menjadi anak yang dapat membanggakan orangtua saya. Saya juga makin termotivasi untuk jadi penari profesional,” katanya dengan wajah yang cerah saat mendengar berita gembira tersebut.
Anak remaja ini juga menyimpan cita-cita tinggi. Ia ingin mengangkat Jailolo tidak saja ke panggung nasional, tetapi juga ke panggung internasional lewat tarian-tarian asli Jailolo. “Saya mau membuat Jailolo namanya terkenal di luar pulau, di
luar Maluku, bahkan termasuk di luar Indonesia,” ia menegaskan.
Baginya, kegiatan menari tidak saja untuk mencetak prestasi, tetapi juga adalah bagian dari upaya untuk melestarikan budaya Jailolo. “Saya meminta teman-teman remaja seperti saya, di mana saja di negeri ini, untuk mencintai tarian yang berakar pada budaya kita masing-masing. Itulah identitas budaya kita yang mewarnai negeri kita,” kata Darryl, mengimbau generasi milenial seangkatannya di seluruh Tanah Air.
Pepatah lama mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohon. Bakat menari dan seni yang mengalir dalam darah Darryl juga berasal dari orangtuanya. Ayahnya, Samuel P Sanggelorang, dikenal sebagai seorang musisi. Adapun ibunya, Juni Minarti, adalah penari lulusan ISI Yogyakarta.
Darryl mewarisi bakat musik dan menari. Tetapi yang tampak lebih kuat padanya adalah bakat menari. Ia mengakui ibunya yang paling berperan dalam mengasah bakat menarinya. Menurut ibunya, Juni Minarti, penari dan koreografer Eko Supriyanto pernah mengatakan kepadanya bahwa Darryl memiliki bakat menari yang besar. Hal itulah yang antara lain kemudian mendorong Juni untuk memotivasi putranya agar semakin giat menekuni dunia tarian. Hasilnya kini sudah terlihat.
Dalam menari, Darryl juga cepat menangkap bila ada gerakan-gerakan baru.
Apakah Darryl akan menjadi penari profesional kelak? Disodori pertanyaan itu, remaja ini masih gamang. Ia bercerita, waktu masih duduk di SD ia pernah bercita-cita jadi pendeta. Ketika duduk di SMP ia ingin jadi pemusik. Namun sekarang ia menjadi penari remaja tergolong yang mumpuni. “Saya belum tahu. Tunggu tamat SMA. Sekarang cita-cita saya memunyai sanggar tari dan melakukan pentas,”
ujarnya.
Akan tetapi, paling tidak kini ia telah merasakan bahwa dunia tarian telah membahagiakannya. “Menari itu membuat kita senang. Juga yang menonton,”
ujarnya. Karena itu, ia selalu mendorong teman-teman menarinya untuk menari dengan baik dan untuk itu perlu latihan yang tekun sebab menari itu tidak gampang.
Menurut Darryl, menari juga memberi manfaat banyak bagi kaum remaja.
“Menari membuat kita kompak sebagai tim, melatih bekerja sama, disiplin, dan saling tenggang rasa,” ungkapnya tentang makna kegiatan menari.
adalah kekhasan dari daerah. Cintailah tarian daerah kalian agar kita membuat daerah kita lebih baik untuk mempromosikan tarian kita ke dunia luar. Itu yang telah saya lakukan,” kata Darryl di akhir perbincangan.
BIODATA
Nama : Darryl Simeon
Tempat/tanggal lahir : Yogyakarta, 12 Oktober 2002 Ayah : Samuel P Sanggelorang
Ibu : Juni Minarti
Pendidikan : SMAN 1 , Jailolo, Halmahera, Maluku Utara PENGHARGAAN
- Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Anak dan Remaja 2018 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Peserta Pentas Budaya HUT Ke-246 Kota Gianyar, Bali (2017)
- Penari “Sasadu on The Sea” pada Festival Teluk Jailolo Tahun 2016, 2017, dan 2018 dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat
- Piagam sebagai Peserta Lomba Tari Provinsi Maluku Utara Tahun 2015 KARIER
- 2018- sekarang: Pembina kelas tarian budaya pada Pusat Pengembangan Anak (PPA) Desa Taboso, Kecamatan Jailolo
- 2017-sekarang: Pembina kelas tarian budaya pada Forum Anak Desa Balisoan dan Desa Balisoan Utara, Jailolo
- 2015-sekarang: Penari Sasadu on The Sea, Festival Jailolo