Afrizal Malna adalah sosok unik dalam jagad kesenian dan kesusastraan Indonesia. Kehadirannya dalam kancah sastra Indonesia membawa ciri dan jenis baru yang hampir belum pernah terjadi pada era sebelumnya. Puisi pada umumnya menggunakan media bahasa sebagai sarana penyampaiannya, akan tetapi tidak bagi Afrizal. Ia bahkan merasa dirinya sendiri asing ketika menulis puisi menggunakan bahasa. Ketika puisi menggunakan bahasa ia ciptakan, maka pada saat yang bersamaan ia ingin membunuh bahasa tersebut.
Bahasa baginya kerap membuat jarak dari apa yang sesungguhnya ingin disampaikan. Alih-alih bahasa membuat kejernihan dari apa yang ingin dikomunikasikan, ia malah membuat pesan tersebut kabur tak dimengerti.
Afrizal berusaha kembali ke tubuh sebagai media puisi. Tubuh bukan semata tubuh sebagaimana ditafsirkan oleh kaum industrialis misalnya. Lebih dari itu, tubuh merupakan sumber penghayatan utama jauh sebelum bahasa digunakan sebagai media antara. Tidak jarang pula puisi-puisi yang dilahirkannya menggunakan objek material, lingkungan dan media teknologi lainnya sebagai sesuatu yang juga dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Selain membuat puisi, Afrizal juga aktif menulis cerita pendek, novel, esai dan sastra yang dipublikasikan di berbagai media massa. Maka, tidak aneh jika Faruk HT—kritikus dari Universitas Gadjah Mada—pernah pernah
menjuluki karya sastra setelah Afrizal dengan sebutan Afrizalian, suatu sebutan yang ia sendiri mengkritisinya.
Afrizal Malna lahir di Jakarta pada 7 Juni 1957. Ia menyelesaikan pendidikan SMA pada 1976. Setelah lama berselang, baru pada tahun 1981 ia mencoba melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Itu pun tidak selesai.
Setelah itu, selama lebih 10 tahun, ia bekerja di berbagai bidang jasa: perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Pengalaman hidupnya yang keluar sementara dari hiruk-pikuk dunia kesenian dan sastra semakin menambah dan mengasah jiwannya untuk terus berkarya dan berkirpah di dunia seni. Selama ia mendedikasikan dirinya sebagai penulis esai sastra, kurator seni rupa dan penyair, banyak karyanya yang dimuat di berbagai media massa, seperti Horison, Kompas, Berita Buana, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tempo, Jawa Pos, Surabaya Post, Pikiran Rakyat juga di Ulumul Qur’an.
Di dalam berkarya, Afrizal Malna lebih senang menonjolkan dialog antar-objek.
Ia senang melukiskan dunia modern dan kehidupan urban dengan berbagai pernah-pernik di dalamnya. Ia mengkritik penghayatan hanya melalui bahasa. Baginya, penghayatan hidup harus dipahami sebagai penghayatan pengalaman antara tubuh manusia dan berbagai objek yang ada di sekitarnya. Inilah kemudian yang menjadi ciri khas dari puisi yang dilahirkan oleh Afrizal Malna. Terkait kehidupan modern, Afrizal meminati persoalan penghayatan manusia akan berbagai hiruk-pikuk,
kegaduhan serta serpihan-serpihan pengalaman yang lahir dari sebuah komunikasi.
Judul-judul puisi seperti Antropologi Kaleng-Kaleng Coca Cola, Fanta Merah untuk Dewa-Dewa, Migrasi di Kamar Mandi, semuanya merupakan cerminan dari pergulatan yang terus-menerus terjadi antara manusia dengan dunia di sekitarnya.
Pada tahun 1981, Afrizal menerima penghargaan dalam sayembara Kincir Emas dari Radio Nederland Wereldomreop. Karya dramanya berjudul Pertumbuhan di atas Meja Makan, terpilih masuk dalam Antologi Drama Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Lontar dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Things Growing on the Table. Naskah drama tersebut merupakan salah satu contoh representatif untuk karya yang muncul pada era post-modernisme Indonesia. Karya ini menentang penggunaan narasi keseragaman yang dibentuk oleh Orde Baru. Dalam karya dramanya ini, Afrizal yang juga bertindak sebagai editor, membangun suatu
“perpecahan” dengan memecah-belah atau membuat potongan-potongan dialog dari berbagai sumber berlainan, misalnya potongan pidato Presiden Sukarno dan wakilnya, Mohamad Hatta, digabungkan dengan dialog Caligula karya Albert Camus dan Sandyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane.
Afrizal juga menulis esai pengantar untuk sejumlah buku karya para sastrawan Indonesia, di antaranya dalam buku karya Eko Tunas, Juniarso Ridwan, Soni Farid Maulana, Dorothea Rosa Herliany, dan Made Wianta. Esai sastra karyanya yang pernah diterbitkan pada antologi bersama di antaranya Perdebatan
Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto ed, 1986). Sesuatu Indonesia: Esei-Esei dari Pembaca Tak Bersih adalah salah satu buku kumpulan esainya, diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya pada tahun 2000. Esainya dalam “Senimania Republika”, Harian Republika, 1994, memenangi Republika Award. Ia juga menjadi pemenang esai di majalah sastra Horison pada 1997. Sejak 1983 hingga 1993menulis teks pertunjukan Teater Sae. Afrizal pernah mengunjungi beberapa kota di luar negeri, antara lain Swiss dan Hamburg (Jerman), sebagai pembicara dalam diskusi teater dan sastra di beberapa universitas, dalam rangka pertunjukan Teater Sae (Mei-Juni 1993) yang mementaskan naskahnya.
Tahun 1995, bersama Beeri Berhrard Batschelet dan Joseph Praba, Afrizal mementaskan seni instalasi “Hormat dan Sampah” di Solo. Pada tahun 1996 berkolaborasi dengan berbagai seniman dari beragam disiplin mengadakan pertunjukan seni instalasi “Kesibukan Mengamati Batu-batu” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sementara tahun 2003, mementaskan karyanya, Telur Matahari, berkolaborasi dengan Harries Pribadi Bah dan Jecko Kurniawan.
Buku-buku (Karya sendiri dan yang tergabung dalam bunga rampai):
• Abad yang Berlari (1984)
• Perdebatan Sastra Kontekstual (1986)
• Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
• Yang Berdiam dalam Mikropon (1990)
• Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
• Dinamika Budaya dan Politik (1991)
• Arsitektur Hujan (1995)
• Biography of Reading (1995)
• Pistol Perdamaian (1996)
• Kalung Dari Teman (1998)
• Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000)
• Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003)
• Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004)
• Lubang dari Separuh Langit (2005)
• Teman-temanku dari Atap Bahasa (Lapadl Pustaka Yogyakarta, 2008)
• Pada Bantal Berasap (Omah sore, Jakarta-Yogyakarta, 2009)
• Ruang di Bawah Telinga, Biografi Visual Made Wianta (O House Gallery, 2009)
• Perjalanan Teater Kedua, Antologi Tubuh dan Kata (iCan – Indonesia Conteporary Art Network – Yogyakarta; Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, 2010)
• Second Hand Languager Store, Limited Edition (Rumah Hujan, Yogyakarta, 2012)
• Jembatan Ilusi Antara Seni dan Kota (25 Tahun Gedung Kesenian Jakarta, 2012) TERJEMAHAN
:
• Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, 1995)
• Poets, Friends Around the World (Mitoh-Sha, Tokyo, 1997)
• Menagerie 3 (John H. McGlynn, 1997)
• Do Lado Dos Ollos Arredor da poesia, entrevistas con 79 Poetas do Mundo (Emiilio Arauxo, Edicions do cumio, 2001)
• Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997)
• Poets, Friends Around the World (MitohSha, Tokyo, 1997)
• Do Lado Dos Ollos, Arredor de Poesia Entrevistas con 79 Poetas de Mundo (Emilio Arauxo, Edicions, Do Cunio, Travisia de Vigo, 2001)
• Antologia de Poeticas (Maria Emilia Irmler & Danny Susanto, Gramedia, Jakarta, 2008)
• Orientierugen, Zeitschrift Zur Kutur Asiens (Berthold Daumhouser & Wolfgan Kubin, Edition Global, Munchen, 2009)
PENGHARGAAN
:
• Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994),
• Esei majalah Sastra Horison (1997)
• Dewan Kesenian Jakarta (1984)
• Radio Nedherland Wereldomroep untuk naskah drama Surat (1981)
• Dewan Kesenian Jakarta untuk buku puisi Abad Yang Berlari (1987)
• Republika Award dari harian Repulika untuk esei (1994)
• Pusat Pembinaan dan Pengembahan Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Arsitektur Hujan (1996)
• Penghargaan Adibudaya dari Departemen Pendidikan untuk puisi (2006)
• Man of The Year dari majalah Tempo untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa (2008)
• Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan Budaya untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa 2010
• SEA Write Award dari Bangkok untuk buku puisi Teman-temanku Dari Atap Bahasa (2010)
• Kusala Sastra Khatulistiwa kategori puisi melalu karyanya, Museum Penghancur Dokumen (2013)