Jecko Kurniawan Pui Siompo menghasilkan sedikitnya 20 karya tari yang terinspirasi dari pertemuan kekayaan tradisi Indonesia dan budaya Barat. Gaya penciptaanya tersebut melahirkan aliran baru yang disebut Animal Pop Dance.
Sejak tahun 1997 sedikitnya 34 pertunjukan telah ia gelar di Indonesia dan mancanegara, antara lain di Kampnagel Harmburg, sebuah tempat produksi pertunjukan terbesar di Jerman, untuk karya koreografinya, Terima Kost. Bagi laki-laki kelahiran Jayapura ini, menari adalah belajar hidup dan kehidupan itu sendiri. Di tengah aktivitasnya menghadirkan pertunjukan ke mancanegara, Jecko telaten memberikan pengajaran di sanggarnya, Animal Pop Family, di Jakarta. Ia juga meyediakan waktunya untuk menyusun kurikulum sekolah menari. Jecko sedang berjuang mewujudkan mimpinya membangun sekolah menari, berjenjang dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Tarian adalah budaya sehari-hari di Papua. Demikian Jecko mengawali perbincangan. Tatapannya menerawang mengenang masa remaja, saat ia menari Yospan di kampung halamannya. “Lalu TV masuk ke Papua. Kami nonton TV, melihat tarian dari Barat. Kami senang menggabungkan keduanya,” tutur koreografer yang akrab dipanggil Pace (sebutan bapak dalam bahasa Papua). Lulus
dari SMA, Jecko memutuskan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang menyediakan konsentrasi untuk menari. Ia penasaran, mengapa ada sekolah untuk menari. Padahal, di kampungnya orang menari sudah dengan sendirinya, bagian dari kesehariannya.
Di IKJ Jecko mempelajari berbagai tarian tradisi, mulai dari tarian dari Aceh, Yogya hingga Bali. “Ada kebanggaan, melalui tarian saya bisa lebih mengerti tradisi, kehidupan budaya-budaya di Indonesia,” tuturnya. Tetapi bertahan hidup di Jakarta tidaklah mudah. Jecko sempat ingin pulang kampung. Untunglah para koreografer senior menguatkan hatinya.
Ia kemudian mendalami komposisi, koreografi, dan sejarah tari dunia. Pada tahap itu ia mendapatkan pencerahan bahwa memahami bentuk-bentuk tari juga memahami kebudayaan-kebudayaan di dunia, termasuk kebudayaannya sendiri.
“Ketika memahami bentuk-bentuk tari saya juga belajar kehidupan saya sendiri.
Tari saya mewakili hati saya. Seperti menari Yospan yang merupakan ungkapan rasa masyarakat Papua,” tutur Jecko. Sebagai proses belajarnya, ia juga banyak membantu pertunjukan-pertunjukan tari yang diciptakan oleh para maestro tari, antara lain (alm) Deddy Luthan, Gusmiati Suid dan Sardono W Kusumo.
Tahun 1995 Jecko mulai menciptakan tarian, antara lain Impian. Tahun 1997 ia mengikuti lomba koreografi se-Indonesia yang diselengarakan Gedung Kesenian Jakarta dan meraih penghargaan Best of the Best untuk karya duet Goda atau Temptation. Sejak itu, beberapa produser dan pemerhati tari mulai memberikan perhatian kepadanya. Karyanya mulai tampil di Salihara.
Ia juga mendapatkan tawaran beasiswa memperdalam seni tari ke Amerika Serikat. “Saya nangis. Dulu saya cuma lihat ular di kampung. Sekarang saya bisa
pergi lihat Amerika,” tutur Jecko haru. Jecko semakin bangga dengan Indonesia, ketika ia diminta jamming, para pengamat di Amerika menyukainya. Mereka menemukan karya yang orisinal pada karya Jecko. Pengalaman itu memberikannya
‘petunjuk’ untuk berpikir keras mencari bentuk baru tarian yang bersumber dari tarian-trarian tradisi di Indonesia dan pertemuannya dengan kebudayaan Barat.
Jecko mulai menelaah spirit yang menjadi benang merah pada berbagai tarian tradisi di Indonesia. Ia menemukannya pada yang ia sebut animal spirit, suatu bentuk dasar tarian yang diilhami dari gerak binatang. Di Aceh ia menemukan tarian Ayam, di Papua ia menemukan tarian Burung dan Buaya. Tari-tarian tradisi itu lalu menafsir gerakan binatang dengan cara kebudayaannya sendiri-sendiri. Dari pengamatan itu, dalam upayanya menemukan bentuk baru dari tubuh tariannya, Jecko mengembangkan aliran baru yang mengambil spirit dari gerak binatang yang pada awalnya ia sebut animal spirit atau animal movement. Kemudian ketika ia menangkap spirit tarian-tarian Barat, seperti hip hop, ia menjumpai budaya pop yang dapat berganti-ganti, berubah dan disukai oleh anak-anak muda.
Perenungannya itu mengembangkan bentuk tari yang ia kembangkan dari animal spirit menjadi animal pop. Animal Pop yang lahir dari tradisi seni tari Indonesia.
Karena kekayaan budaya Indonesia itu tak ada duanya, tidak bisa diandingkan.
Tidak bisa ada yang nomor dua atau nomor tiga. Setiap tradisi budaya yang beragam di Indonesia, semuanya menempati nomor satu. “Karena Animal Pop ini terinspirasi kekayaan tradisi Indonesia, saya ingin ketika orang dengar dan menonton bentuk tari Animal Pop mereka menjumpai, merasakan Indonesia,” demikian Jecko menuturkan penciptaannya.
Melalui bentuk tari ciptaannya itu, Jecko mengabarkan kekayaan tradisi Indonesia melalui pertunjukan di mancanegara; mulai dari Singapura, Jerman hingga Rusia. Seperti pertunjukan We Came from the East di Jerman, sebagai salah satu karya yang membawa misi agar dunia mengetahui bahwa—menurutnya—Indonesia itu tempat lahirnya banyak karya dunia. Seringkali dalam memenuhi pertunjukan itu ia juga diminta untuk memberikan workshop bentuk tari Animal Pop. Seperti pengalamannya di Jepang, ketika ia diminta untuk melatih 100 penari—anak-anak dan dewasa—untuk dipertunjukan pada pembukaan Festival Asian Contemporary Dance di Kobe (2017).
Dari satu bentuk tarian baru itu, Jecko masih ingin mengembangkan banyak mimpi. Koreografer yang sehari-hari memberikan pengajaran di pelataran Taman Ismail Marzuki ini ingin menanam benih kecintaan pada kebudayaan Indonesia melalui tarian. Dalam pengajarannya, ia tidak terbatas mengajarkan menari tapi juga mengajak anak berbincang sejarah, sosial dan agama. Cara kerja sanggar Animal Pop Family yang didirikannya ini juga memperhatikan rasa kekeluargaan dan solidaritas.
“Saya kadang menangis kalau melihat anak yang bakatnya bagus tapi tidak mampu bayar. Jadi kadang kita biayai, agar ia tetap bisa bertahan,” papar Jecko.
Banyak tantangan yang ia hadapi, antara lain tempat memberikan pengajaran dan pembiayaan lainnya. Tapi, menurutnya, itu juga tantangan yang dihadapi banyak orang. Ia tidak mau mengeluh. Selama anak-anak bisa menari, itu akan menjadi benih-benih semangat generasi Indonesia untuk mengenali dan bangga dengan keberaaannya sebagai manusia Indonesia.
Pace Jacko menutup perbincangan dengan cita-citanya mendirikan sekolah menari berjenjang dari TK hingga universitas. Sebuah sistem pendidikan yang memberikan ekstra menari yang memadai. Di setiap libur sekolah, anak-anak akan melalui ujian kelulusan untuk menari sesuai dengan jenjangnya. Saat ini ia
pemikir, otoritas di bidang pendidikan yang dapat bermitra dengannya. “Indonesia itu selain kekayaan alam, punya peluang pada manusianya. Manusia Indonesia memiliki irama, gerak tubuhnya fleksibel. Manusia Indonesia dapat menjadi bangsa yang besar melalui kebudayaannya. Semoga masyarakat dan pemerintah Indonesia menyadari itu,” tutur Jecko.
BIO DATA
Nama : Jecko Kurniawan Pui Siompo Tempat & tanggal lahir : Jayapura, 4 April 1975 Pendidikan : IKJ konsentrasi Tari (1994) Kealian : Pencipta aliran Animal Pop Dance KARYA KOREOGRAfI :
20 karya koreografi, antara lain:
- Erectus (2012)
- We Came From the East (2011)
- Dari BETAMAX sampai DVD Berjajar Pulau-Pulau (2010) - BETAMAX to DVD (2009)
- Behind is in Front (2008)
- Matahari itu Terbit dari Papua (2007) - In Front of Papua (2005)
- Di Kamar Kost Aku Mengganti Baju (2004) - Tikus-Tikus (2003)
- Unanuk (2001) - Buto Huruf (2000) - Sketsta Impian (1999) - Irian Zoom In (1998) - Goda atau Temptation (1997) - Manusia Got (1996)
- Impian (1995)
PERTUNJUKAN
:
34 pertunjukan di Indonesia dan manca negara (2007 – 2018), antara lain:
- International Folk Festival Bangkok untuk karya In Front of Papua Performance Creation (2018)
- Asian Contemporary Dance menghadirkan seratus penari menarikan gaya Animal Pop Dance pada pembukaan festival di Kobe Jepang (2017)
- Kolaburasi Animal Pop dengan ISH Crew Amsterdam di Erasmus Huis, Jakarta (2016)
- Animal Pop Workshop di New Caledonia (2016) - Russian Asean Cultural Festival di Sochi, Rusia (2016) - Melanisian Cultural Festival di Kupang, NTT (2015) - Cabdance Performance di Berlin (2014)
- Kampnagel Theater untuk karya Terima Kos di Harmburg (2010) - The Pasific Dance Platform at the Hongkong Art Festival (2009) - Encounteer-Dance ASIA di Tokyo, Jepang (2008)
- The Opening of Salihara Festival di Jakarta (2008) - “5 Pieces: New Dance Indonesia in Singapore (2007)
- Osaka Asia Contemporary Dance Festival di Osaka, Jepang(2007)
PENGHARGAAN:
- Anugerah Kebudayaan untuk Kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaharu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2018)
- Koreografer Terbaik (Best of the Best) dari Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Award untuk karya Goda atau Temptation (1997)
- Satu dari empat orang Asia yang ditulis pada buku Youth South Asia
- Satu dari 20 orang muda Indonesia yang ditulis pada buku Catatan Emas: Kisah 20 Pemuda Indonesia yang Mengukir Sejarah
Alamat : Jl Kali pasir, Pengarengan RT 13 RW 08, Kebon Sirih, Jakarta