• Tidak ada hasil yang ditemukan

Musisi Idealis, Pecinta Pendidikan

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 104-109)

Aksan Sjuman yang akrab dipanggil Wong Aksan adalah sosok idealis seorang musisi di Tanah Air. Tidak banyak musisi yang memilih hidup sunyi dalam berkarya seperti Aksan Sjuman. Di mana-mana banyak orang mengejar popularitas agar dapat mendongkrak kehidupannya, bahkan tidak sungkan menempuh jalan apa pun untuk meraih tahta popularitas. Segala cara dihalalkan. Namun itu tidak berlaku bagi musisi yang satu ini.

Bagi Aksan, kreativitasmerupakan daya hidup itu sendiri. Ada pun popularitas hanya bonus saja, yang bisa diambil tapi tidak bisa dijadikan rujukan, apalagi satu-satunya tujuan berkarya. Ketika tempat mengembangkan kreativitas sudah tidak lagi mendukung lahirnya kreativitas baru, tidak sungkan-sungkan ia tinggalkan.

Aksan sadar bahwa jalan menempuh dunia kreatif itu terjal, meski begitu harus dilewati karena di sanalah dinamikanya.

Daya hidup Aksan yang idealis tidak dapat dipisahkan dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga seniman. Sang ayah, Sjuman Djaja, dikenal sebagai seorang sutradara ternama yang banyak malang melintang di dunia perfilman. Sama halnya dengan sang ibu, Farida Oetoyo, yang aktif di dunia seni tari. Pertemuan darah ayah dan ibu itulah yang menjadikan darah seni mengalir deras dalam diri Aksan Sjuman.

Aksan lahir pada 22 September 1970 di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sejak

kecil bakat seni sudah tampak pada diri Aksan. Ia banyak menggandrungi musik-musik klasik, sampai-sampai sebelum usianya masuk kategori remaja ia sudah memiliki ratusan kaset musik klasik. Hobinya tersebut terus berlangsung sampai masa remaja. Ketika duduk di bangku SMP ia mulai mengembangkan hobi musiknya ke jenis musik lainnya, seperti rock dan jazzn.

Sedari kecil Aksan sudah bercita-cita ingin menjadi musisi dan komposer profesional. Cita-cita tersebut lahir dari dalam jiwa Aksan kecil. Pernah suatu kali ia diajak sang ayah datang ke sebuah hotel di Jakarta, menonton pertunjukan Indra Lesmana bermain jazz. Di usia yang relatif masih muda mencintai musik seperti jazz merupakan hal luar biasa. Kedua orangtua Aksan yang mengerti bakat anaknya tidak pernah menghalanginya. Mereka bahkan mendukung Aksan untuk total di dunia musik. Mereka bahkan berpesan kepada Aksan agar ia melakukan apa pun dengan sungguh-sungguh, karena hanya dengan kesungguhan Aksan bisa jadi apa saja. Berbekal nasihat dari kedua orangtuanya inilah Aksan menekuni bidang musik sampai kuliah ke Jerman.

Selama ia menekuni bidang musik di Jerman, tahun 1993, Wong Aksan bersama beberapa teman sekolahnya dari lintas negara membentuk grup musik bernama

“Chicken Takes Time”. Fokus dari grup musik Aksan ialah tampil di beberapa festival-festival tertentu. Namun setelah Wong Aksan menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke Indonesia, nasib grup musik ini pun menjadi tidak jelas dan sisa anggotanya memutuskan membubarkan “Chicken Takes Time” tanpa sempat menelurkan karya satu pun.

Sepulang dari Jerman, Aksan bergabung sebagai drummer grup musik pop rock Dewa 19 setelah album Terbaik Terbaik (1995) selesai. Aksan menggantikan posisi Wawan Juniarso yang keluar dari Dewa 19 setelah album kedua Format Masa Depan (1994) dirilis. Sebelum Aksan bergabung, posisi drummer Dewa 19 diisi oleh additional player, yaitu Ronald Fristianto—eks drummer GIGI, Evo & DR.PM dan Rere Reza—eks drummer Grass Rock, Yovie and Nuno, Blackout & ADA Band. Namun setelah menyelesaikan pembuatan album Pandawa Lima (1997), pada 4 Juni 1998 Aksan memilih keluar dari Dewa 19 karena berbeba haluan musik.

Meski keluar dari grup Dewa 19, karier Aksan terus bersinar. Ia kemudian bergabung bersama grup Potret, juga sebagai drummer. Aksan bergabung dengan Potret di album kompilasi From Dawn to Beyond: The Best Of Potret (2001), menggantikam drummer sebelumnya, Arie Ayunir.

Selain bermain musiku, Aksan juga aktif dan mendorong komunitas dalam pembuatan alat-alat musik, baik gitar maupun piano. Ia mengundang masyarakat sekitar di kawasan Tangerang untuk ikut serta dalam menciptakan alat-alat musik.

Untuk gitar misalnya, Aksan sudah melakukan inovasi berupa pemuatan gitar berbahan dasar kayu. Tidak jarang kayu-kayu yang dikumpulkannya itu merupakan kayu sisa dari tebangan pohon. Ia pun sangat peduli pada isu-isu lingkungan hidup.

Sejak 2014, ia mulai fokus membuat piano. Terkait pembuatan piano ini,

Aksan memberikan catatan khusus bahwa di Indonesia pekerjaan pembuatan piano merupakan pekerjaan yang tidak mudah, bahkan dapat dikatakan elite.

Sebab, bidang ini tidak semata mengandalkan keterampilan pengerjaan kayu, akan tetapi membutuhkan ilmu lainnya seperti fisika dan matematika. Bisa dikatakan di Indonesia sendiri pembuatan piano masih sangat tertinggal jauh dibandingkan di negara-negara lain. Untuk “suku cadang”-nya saja kita masih sangat impor dari negara lain karena Indonesia belum mampu memproduksinya.

Selama berkarir di dunia musik, sudah cukup banyak karya yang dilahirkan Aksan. Bersama Dewa 19 melahirkan Pandawa Lima (1997), kemudian bersama Potret menelurkan album From Dawn to Beyond (2001), Positive+POSITIVE (2003) dan I Just Wanna Say I L U (2008). Di bidang ilustrasi musik-film ia menggarap Dunia Mereka (2006), Laskar Pelangi (2008—meraih penghargaan FFB 2009), The Photograph—nominasi Jakmovie Award 2007, Karma (2007), Garuda di Dadaku (2008—nominasi FFI 2009), King (2008—meraih penghargaan FFI 2009, Lost in Love (2007—nominasi FFI 2008), Sang Pemimpi (2009—meraih penghargaan FFB 2010, Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Tanah Air Beta (2010—nominasi FFB 2011), Rindu Purnama (2011), dan Serdadu Kumbang (2011). Adapun karya Aksan sebagai filmografi yaitu Kuldesak (1998), Lovely Luna (2004, cameo), dan Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012, cameo).

Prinsip hidup Aksan: banyak memberi! Baginya, makin banyak memberi itu semakin bagus. Inilah dimensi spiritual dari sosok Aksan. Karena alasan itulah, Aksan mengembangkan karier bukan hanya untuk dirinya saja tapi juga untuk

membuka jalan bagi anak-anak bangsa ikut juga berkarya. Saat ini, selain aktif di bengkel musiknya, Aksan juga aktif dalam mengembangkan program-program pendidikan musik untuk anak-anak sekolah. Ia mengembangkan Sjuman School of Music dan laman (website) khusus terkait program-program musik, film dan dunia tari dengan nama rumahkaryasjuman.com.

PROfIL

:

Nama : Sri Aksana Sjuman alias Aksan Sjuman alias Wong Aksan Lahir : 22 September 1970

Orang Tua : Sjuman Djaja dan Farida Oetoyo Anak : Miyake Shakuntala Sjuman Grup Musik : Potret

Profesi : Pemusik dan Aktor

PENGHARGAAN

:

- Anugerah Kebudayaan Kategori Pelopor, Pencipta, dan Pembaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 104-109)