Yosef Rawi adalah sosok langka, terbilang salah satu penjaga ingatan bangsa ini. Paling tidak untuk lingkup masyarakat Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Lewat tulisan-tulisannya yang sudah dibukukan, Yosef Rawi
“menghidupkan” kembali ingatan akan tradisi-tradisi lokal yang penuh ajaran moral tetapi kini satu per satu mulai hilang dari kehidupan masyarakat pendukungnya.
Hidup di pedalaman Bajawa tak menjadikannya lupa untuk memotret kebesaran budaya Nusantara. Ia sadar, hanya lewat menulislah berbagai keunggulan dan kearifan budaya lokal masyarakat Bajawa dapat terpelihara. Dengan demikian generasi muda akan mendapatkan pegangan hidup dan rujukan di saat mereka mencari identitas budayanya.
Globalisasi yang secara perlahan masuk ke dalam kehidupan masyarakat Bajawa telah banyak memupus tradisi-tradisi lokal yang penuh ajaran moral. Padahal, di dalam tradisi lokal tersebut tersimpan semua petuah hidup yang telah diwariskan oleh para leluhur. Mulai dari ajaran berumah tangga yang baik, kiat menjaga keharmonisan keluarga, hingga bagaimana hidup bersama dalam masyarakat—
bahkan termasuk hidup dengan alam, dan lain sebagainya. Semua itu sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisi. Belum lagi cerita rakyat yang pada masanya menjadi cerita turun-temurun, yang dijadikan sebagai media pembelajaran hidup
masyarakat.
Saat ini semua kekayaan budaya tersebut seakan mulai hilang bagai ditelan bumi.
Masyarakat sudah banyak yang lupa akan mutiara budaya yang sudah mentradisi selama berabad-abad lamanya. Untuk itu, di usianya yang sudah kian senja, Yosef mendedikasikan dirinya untuk mencatat semua ingatan budaya tersebut. Ia berharap ikhtiarnya itu dapat menjadi warisan yang sesungguhnya untuk masyarakat Bajawa khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Yosef Rawi lahir pada bulan September 1936 dari pasangan Mama Yosefina Anu dan Bapak Benyamin Wuda Watu, Aimere. Pada tahun 1944 hingga 1949 ia mulai menikmati pendidikan formal di Sekolah Rakyat Maghilewa dan Sekolah Rakyat Ruto, sebelum pindah ke SD (Standardschool) di Matalako (1949-1952).
Selepas SD, Yosef Rawi yang bercita-cita menjadi guru melanjutkan pendidikan ke sekolah guru B (SGB) di Ndona, Ende (1952-1955) dan sekolah guru A (SGA) di Ndao, Ende (1955-1958). Berselang 10 tahun kemudian, kecintaannya pada dunia pendidikan mengantarkannya untuk menikmati bangku kuliah. Tahun 1968 ia masuk Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan Universitas, Nusa Cendana (Undana) Kupang cabang Ende (sampai tingkat sarjana muda).
Dibandingkan teman-teman seangkatan dari tanah kelahirannya, Yosef Rawi
dapat dikatakan beruntung karena mendapat kesempatan untuk belajar terus dari satu sekolah ke sekolah yang lainnya. Pengalaman tersebut menjadikan Yosef Rawi berbeda dengan teman-teman seusianya. Sedari kecil, Yosep Rawi sudah mulai kagum pada kekayaan budaya Nusantara, yang kemudian mendorong dirinya terjun di dunia pendidikan. Ia tidak tertarik untuk mengembangkan bisnis dan pekerjaan lain di luar dunia pendidikan. Jiwanya untuk mendidik sudah tertanam jauh sejak ia masih kecil.
Semenjak lulus SGA, ia memulai karier sebagai guru di SD Menge, SD Maghilewa, dan SDK Gurusina. Ini terjadi pada tahun 1958-1968. Selama beberapa tahun (1972-1975), Yosef sempat berpindah “tingkat” menjadi guru di SMP Sanjaya Bajawa, sebelum dipercaya sebagai kepala SDN Bajawa V di Watutura (1975-1980), Bajawa. Sebelum menjalani masa pensiun pada 1 Januari 1999, Yosef menjadi Penilik Kebudayaan Kecamatan Aesesa (1980-1983), Penilik TK/SD Kecamatan Aimere (1983-1986), kepala Sub-Bagian Penyusunan Rencana dan Program (PRP) Kantor Depdikbud, Kabupaten Ngada (1986-1993), dan kembali lagi ke dunia pendidikan sebagai Penilik TK/SD di Kecamatan Bajawa (1993-1998).
Masa pensiun tidak menjadikan dirinya hidup santai dan berleha-leha. Keinginan untuk merekam berbagai ingatan dirinya selama berkecimpung dengan masyarakat tradisi mendorong dirinya untuk mulai menuliskan semua hal terkait kebudayaan Bajawa di Ngada. Ingatan-ingatan masa lalu, yang biasanya disimpan dalam bentuk monograf, mulai ditulis ulang dan diperluas lingkupnya. Ia pun mulai berkeliling lagi ke daerah-daerah dan membuka arsip-arsip lama sembari menuliskannya kembali menjadi sebuah tulisan utuh. Meski dengan kemampuan finansial yang terbatas, Yosef Rawi tidak pernah berputus asa untuk terus mencari informasi terkait kekayaan budaya masyarakatnya. Proses memang tidak pernah menghianati hasil.
Demikian pula dengan Yosef. Berkat kesungguhan dan totalitas kerja, beberapa karyanya pun terbit, meski sebagiannya masih dalam bentuk monograf yang baru saja selesai ditulis.
Secara garis besar, karya-karya Yosef Rawi dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu terkait kebudayaan Ngada dan cerita-cerita rakyat. Untuk buku-bukunya yang terkait kebudayaan Ngada banyak memuat cerita tentang pola hidup masyarakat asli Ngada, seperti arsitektur rumah, mata pencaharian, kematian, pesta tahun baru adat,
termasuk berbagai kesenian tradisional, adat yang hampir hilang berikut benda-benda budaya. Adapun untuk cerita-cerita rakyat yang berhasil dihimpunnya di antaranya Wanga Wea, Wolo Ratu Api dan Wolo Awu Awu Bha, termasuk berbagai cerita pendek seperti Lauolo dan Orong, Dedu dan Ngode, Koda dan Buku, Liko Huba, dan lain-lainnya. Semua cerita rakyat itu penuh makna, kaya ajaran moral, serta banyak mengandung kearifan-kearifan local dalam memandang hidup dan kehidupan.
Kini usia Yosef Rawi tak lagi muda, akan tetapi semangatnya untuk mengabadikan berbagai khazanah kebudayaan di Ngada terus berkobar. Ia ibarat oase di tengah-tengah padang pasir yang kian gersang. Atas berbagai usahanya tersebut, maka Yosef Rawi layak mendapatkan apresiasi.
BIODATA
Nama : Yosef Rawi Lahir : September 1936
Orang tua : Mama Yosefina Anu dan Bapak Benyamin Wuda Watu, Aimere
PENDIDIKAN
:
• Sekolah Rakyat Maghilewa dan Sekolah Rakyat Ruto (1944-1949)
• SD (Standardschool) Matalako (1949-1952)
• SGB di Ndona – Ende (1952-1955)
• SGA di Ndao – Ende (1955-1958)
• Fakultas Keguruan Undana Cabang Ende (sampai tingkat Sarjana Muda) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1968-1971)
PENGHARGAAN
:
- Penghargaan Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018 untuk Kategori Satyalancana dalam bidang Sastra dan Budaya