• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN PERANCANGAN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

3

LANDASAN PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum

Metode yang digunakan penulis adalah dengan melakukan tinjauan pustaka melalui riset media buku elektronik cerita Wiro Sableng,film Wiro Sableng, sinetron Wiro Sableng, Komik Wiro Sableng dan internet.

1. Film dan Film Televisi Wiro Sableng 2. Artikel elektronik, website, forum.

- http://id.wikipedia.org/wiki/Wiro_Sableng

- http://koleksikomic.blogspot.com/2011/08/seri-wiro-sableng.html - http://padepokankapakmautnagageni212.blogspot.com/

3. Buku

- Buku Wiro Sableng karya Bastian Tito

- Komik Wiro Sableng karya Bastian Tito yang digambar oleh Arie.

- Komik Batman Earth One - Komik-komik karya Tony Wong - Komik Kickass

4. Narasumber

Dalam survey ini penulis mengemukakan 12 pertanyaan kepada 39

responden, yaitu sebagai berikut.

(2)

a. Apa jenis kelamin responden?

- Laki-laki - Perempuan

b. Berapa usia responden?

- <15-20 - 21-25 - 25-30 - >30

c. Pekerjaan responden?

d. Domisili responden?

e. Apakah responden suka membaca komik? (ya/tidak)

f. Apakah responden mengenal tokoh Wiro Sableng? (ya/tidak) g. Apa yang responden ketahui mengenai Wiro Sableng?

h. Apakah responden menyukai kisah Wiro Sableng? (ya(fans)/biasa saja/tidak)

i. Apakah media komik efektif untuk menceritakan kembali kisah Wiro Sableng? (ya/tidak)

j. Jika dibandingkan dengan komik jepang atau amerika, bagaimana posisi komik Indonesia? (bersaing, berkembang, di bawah)

k. Apakah responden adalah orang yang rela mengeluarkan uang untuk membeli komik? (ya/tidak)

l. Apa yang mempengaruhi responden untuk membeli komik?

(gambar/harga/cerita/melengkapi koleksi)

Dari survey tersebut didapatkan :

a. Responden berjenis kelamin relatif seimbang, yaitu laki-laki 54%, dan perempuan 46%

b. Usia responden mayoritas 21-25 tahun.

c. Sebanyak 72% responden berstatus mahasiswa.

d. Rata-rata responden berdomisili di jabodetabek.

e. 72% suka membaca komik

f. Rata-rata responden mengenal tokoh Wiro Sableng.

(3)

g. Responden menjawab dengan jawaban yang beragam, namun sebagian besar mengetahui Wiro Sableng dengan benar

h. 59% responden menjawab biasa saja.

i. 74% menjawab efektif

j. 5% menjawab bersaing, 44% menjawab sedang berkembang, dan 51%

menjawab jauh di bawah.

k. Jawaban responden relatif seimbang, yaitu 49% untuk ya, dan 51%

untuk tidak.

l. 49% menjawab gambar yang bagus, 74% lebih memilih cerita, 28% lebih mempertimbangkan harga, dan 15% karena telah mengoleksi.

2.1.1 Buku Pembanding/Buku Referensi

Komik Dewa Iblis Awan Api oleh Tony Wong

Gambar 2.1

(4)

Komik Marvel Kickass oleh Mark Millar

Gambar 2.2 2.1.2 Kompetitor

Secara umum komik-komik dari luar Indonesia yang dijadikan kompetitor dalam posisi ini. Namun buku yang paling mendekati untuk dijadikan kompetitor dilihat dari target pasar dan sebagainya ialah “BATMAN EARTH ONE”

Gambar 2.3

(5)

2.2 Tinjauan Khusus 2.2.1 Landasan Teori

2.2.1.1 Komik

Dalam bukunya (Understanding Comics), Scott McCloud mengatakan bahwa komik ialah ‘Gambar-gambar dan lambang- lambang yang jukstaposisi dalam urutan yang disengaja, dengan maksud menyaimpaikan informasi dan/atau untuk menciptakan tanggapan aestetik pada pembaca. Jukstaposisi dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai penempatan dua objek secara berdampingan. Bahkan, Scott McColud juga menyebutkan, bahwa Will Eisner menggunakan istilah seni yang berurutan.

2.2.1.2 Panel atau Frame

Dalam Bukunya, Will Eisner menjelaskan fungsi fundamental dari komik ialah menkomunikasikan ide dan/atau cerita, melalui kata-kata dan lambang-lambang termasuk gerakan lambang-lambang tertentu (seperti orang dan benda) ke ruang tertentu. Untuk menjelaskan ke alur yang naratif, hal tersebut harus dipecah menjadi bagian-bagian yang berurutan. Bagian-bagian inilah yang disebut dengan panel atau frame yang membatasi pergerakan cerita.

Ketika panel-panel terangkai berurutan, barulah komik dapat mengkomunikasikan pesan, ide, dan/atau cerita kepada pembaca. Selain isi cerita dan kontinuitasnya, pengaturan frame sangat mempengaruhi pesan yang akan sampai pada pembaca.

2.2.1.3 Cerita atau Storytelling

April Vannini dalam tulisannya “Stories and Storytelling”

menjelaskan, cerita ialah narasi mengenai pengalaman, peristiwa,

ingatan pribadi maupun kolektif, atau aspek dari biografi diri.

(6)

Sedangkan bercerita ialah membagi (sesuatu secara) kepada diri sendiri dan/atau orang lain.

Dalam komik, cerita dan bercerita cukup penting di luar teknik yang baik. Komikus harus bisa membagi cerita frame ke frame, membagi rentang waktu, agar narasi yang disampaikan tercapai.

2.2.1.4 Komik dan Emosi

Emosi dapat diperlihatkan, dan komik harus mempuyai emosi dan menunjukkan emosi. Ide atau pesan yang dapat menimbulkan (sebuah) emosional, atau respon (perasaan) dari pembaca adalah hal vital dalam seni komik. Dalam komik, menurut Scott McCloud, dapat daja dikeluarkan dengan menggunakan ekspresi atau karakter garis dan icon.

Pesan emosional sebuah karakter atau suasana yang dibangun sebisa mungkin dapat mempengaruhi dirasakan pula oleh pembaca.

Contohnya garis-garis di atas kepala karakter yang lazimnya berarti karakter sedang terkejut, pesan emosional itu pula yang harus dirasakan pembaca.

2.2.1.5 Tipografi

Penggunaan huruf dalam komik merupakan salah satu hal yang penting karena merupakan salah satu aspek komunikasi, khususnya komunikasi secara visual. Scott McCloud menganalisis tipografi dalam komik bahwa dalam komunikasi visual yang berkiblat pada Mazhab Amerika, yang dipengaruhi oleh Bauhaus Jerman sangat menekankan pada pengetahuan tipografi dan komposisi.

Tipografi sendiri dalam arti luas ialah penataan atau peletakan dan pola halaman atau setiap objek visual. Tipografi adalah pemilihan, penataan atau segala yang berkaitan dan bertalian dengan pengaturan basis-basis huruf.

Dalam tipografi huruf menjadi satu kesatuan dengan form atau bentuk.

(7)

2.2.1.6 Layout dalam Komik

Gavin Ambrose dan Paul Harris (Layout, 2005) mendefinisikan layout sebagai penyusunan dari elemen-elemen desain yang berhubungan ke dalam sebuah bidang sehingga membentuk susunan artistic. Tujuan utama layout ialah menunjukkan elemen gambar dan lain-lain supaya pesan yang ingin dikomunikasikan dengan cara tertentu yang memudahkan pembaca menerima informasi tersebut.

Dalam komik, Layout gambar-gambar dibuat dan disusun sedemikian rupa agar pesan atau cerita tersampaikan dan memberikan kepahaman bagi pembaca.

2.2.1.7 Grid System

Grid dalam komik mempermudah penataan gambar agar alur cerita atau pesan yang ditampilkan akan baik secara komunikasi maupun estetika. Grid diciptakan sebagai solusi terhadap permasalahan penataan elemen-elemen visual dalam sebuah ruang agar mempermudah penciptaan komposisi visual.

Grid menciptakan sistematika guna menjaga konsistensi dalam repetisi dari sebuah komposisi.

2.2.1.8 Teori Warna

Dalam buku Understanding Comics, Scott McCloud menjelaskan, warna,

menjadi salah satu daya tarik utama bahkan menyita hampr seluruh perhatian

seniman di seluruh penjuru dunia. Warna bisa menjadi sekutu yang

mengesankan dalam media visual manapun. Warna merupakan perangkat

utama dalam komunikasi visual. Pola warna yang merupakan perpaduan

dapat menghasilkan perasaan tertentu.

(8)

2.3 Analisa Kasus

Faktor Pendukung :

- Cerita Wiro Sableng pernah populer di Indonesia sehingga diadaptasi ke berbagai media. Terakhir sinetron Wiro Sableng yang diperankan oleh Ken Ken dan Abie Cancer.

- Kerinduan para penggemar yang dulu setia mengikuti cerita Wiro Sableng.

Faktor Penghambat :

- Komik-komik dari luar Indonesia yang lebih populer saat ini.

- Remaja dan dewasa Indonesia yang mulai enggan membaca komik karena diaggap sebagai bacaan anak-anak.

2.4 Faktor-faktor (SWOT) Strength

- Cerita fiksi heroik asli Indonesia.

- Memperbaharui komik lama Wiro Sableng dengan gaya baru agar mudah dimengerti.

- Cerita Wiro Sableng populer di Indonesia.

Weakness

- Komik Indonesia yang kurang populer.

- Karakter pendekar Indonesia yang sudah mulai dilupakan.

- Cerita yang berat sehingga tidak menyentuh kalangan anak di bawah umur.

Opportunity

- Pembaca novel yang ingin melihat cerita dalam bentuk yang berbeda.

- Menimbulkan rasa ingin tahu bagi pembaca baru.

- Menimbulkan nostalgia bagi pembaca novel Wiro Sableng

(9)

Threat

- Komik-komik buatan luar Indonesia lebih populer saat ini.

- Minat baca yang rendah.

- Orang dewasa enggan membaca komik.

2.5 Data Khalayak 2.5.1 Demografi

Umur : 18-25 Gender : Pria Status Ekonomi : B

2.5.2 Psikografi

Pekerjaan : Mahasiswa, Pegawai, Pengusaha, Masyarakat Umum Hobi : Membaca, Mengoleksi buku dan komik Indonesia.

Tempat Tinggal : Perkotaan

Gambar

Gambar 2.2  2.1.2 Kompetitor

Referensi

Dokumen terkait

Makna konotatif merupakan hasil perkembangan suatu kosakata. Turun atau naiknya suatu kosakata amat tergantung pada masyarakat pemakai bahasa itu. Konotasi yang dulu bernilai

Merujuk pada uraian di atas, maka penulis berusaha mengkaji mendalam bagaimana representasi berita lingkungan hidup kasus kabut asap serta kognisi sosial dalam

RIAT PRO=INSI SULAWESI TENGA4 BULAN : $ Januari s/d 1 D!s!&#34;#!r $01% BULAN : $ Januari s/d 1 D!s!&#34;#!r

Hal tersebut berdasarkan Perbup Nomor 17 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Sragen Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pembentukan Unit Perlayanan Terpadu Penanggulangan

Oleh sebab itu pustakawan dijaman kegemilangan peradaban posisinya sama dengan ilmuwan, dan oleh karenanya seorang pustakawan dituntut harus cerdas dan memiliki ilmu pengetahuan

Berdasarkan paparan hasil penelitian tentang tingkat penguasaan TBBBI oleh guru sekolah dasar di Kabupaten Lamongan di atas tergolong kurang dengan rerata skor 45.. Tingkat

m biri, kendi saltanat döneminde öteden sjUimleri ile bâtın âlimleri arasında süregelen şa ve münâzaralarda hangi tarafın daha nu anlamak için sarayında ayrı ayrı