• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAT PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK TUNANETRA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PUSAT PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK TUNANETRA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Tingkat Sarjana bidang Senirupa dan Desain

PUSAT PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK TUNANETRA

Ignatius Deo Grasianto ; Dra. Dona Saphiranti, MT.

Program Studi Sarjana Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Email: [email protected]

Kata Kunci : Anak, Kreativitas, Tunanetra,

Abstrak

Tunanetra merupakan suatu kondisi dimana mata mengalami kekurangan daya dalam melihat. Di Indonesia, kebutuhan anak-anak tunanetra untuk mendapatkan perlakuan seperti halnya dengan anak - anak yang normal kurang begitu diperhatikan. Hal ini menandakan bahwa dibutuhkannya suatu fasilitas yang dapat membantu proses pengembangan kreativitas anak - anak tersebut agar tidak dipandang sebelah mata. Fasilitas tersebut adalah Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Tunanetra yang merupakan salah satu fasilitas publik sebagai jawaban atas masih sedikitnya fasilitas yang mampu mewadahi aktivitas bakat dan minat anak tunanetra. Fasilitas ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan untuk beraktivitas dan dapat mendukung interaksi sosial antara anak - anak tersebut, keluarga dan masyarakat awam.

Abstract

Visual impairment is a condition in which the eyes have a short fall in notice. In Indonesia, the needs of children with disabilities to get treatment as well as with the children who are normally less attention. This indicates that the need for a facility that can assist in the development of children's creativity so they are not to be underestimated. The facilities are Pusat Pengembangan Kreativitas Anak Tunanetra which is one of the public facilities in response to at least still able to accommodate the facilities talents and interests of children with visual impairment. The facility is expected to provide comfort to move and can support social interaction between the children, the family and the general public.

1. Pendahuluan

Berdasarkan statistik yang ada, selain dikarenakan adanya keterbatasan pelayanan pendidikan, di dalam masyarakat sendiri masih ada hambatan yaitu pada pola pikir yang mengabaikan potensi anak cacat. Masyarakat memandang kecacatan (disability) sebagai penghalang (handicap) untuk berbuat sesuatu, bukan sebagai pemacu untuk lebih berhasil (Nurkolis, 2002)

Peran serta dari orang tua yang mempunyai anak cacat sendiri masih belum maksimal. Ciptono, anggota Badan Koordinasi Pendidikan Luar Biasa Karisidenan Semarang, dalam wawancaranya, memaparkan bahwa potensi anak cacat sering tidak tergali gara - gara orang tua mereka malu memilki anak cacat. Kebanyakan dari mereka cenderung untuk menutupi kekurangan yang ada pada anak mereka tanpa menyadari bahwa sebenernya anak mereka yang cacat pun memilki kemampuan yang sama, bahkan mungkin bisa lebih daripada anak - anak yang normal.

Adanya pemikiran-pemikiran negative bahwa anak cacat adalah anak yang tidak memilki kelebihan atau potensi dari masyarakat juga harus direvisi. Pada hakikatnya, anak adalah penerus cita - cita bangsa. Demikian pula dengan anak cacat. Meskipun cacat, tetapi kecacatan tersebut bukanlah merupakan sebuah penghalang untuk melakukan sesuatu. Kecacatan haruslah menjadi sebuah pemicu semangat seorang anak untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka dalam dunia khayal dan imajinasi seorang anak.

Kreativitas adalah potensi seseorang untuk menghasilkan karya atau ide yang orisinil. Kreativitas merupakan proses yang digunakan oleh anak untuk mengekspresikan imajinasi, perasaan, dan ide-idenya. Kreativitas timbul dari perasaan

(2)

berpengaruh dalam penempatan konsep warna agar tidak membahayakan anak - anak tunanetra low vision,contoh menempatkan garis atau line berwarna kuning di pintu kaca sejajar dengan gagang pintu agar anak - anak dapat mengidentifikasi dimana letaknya.

2.Proses Studi Kreatif

Tujuan perancangan merupakan terwujudnya fasilitas yang aman dan nyaman bagi anak - anak tunanetra agar dapat beraktifitas mengembangkan bakat dan minat nya dalam hal pengembangan kreativitasnya. Konsep yang diterapkan dalam fasilitas ini adalah modern minimalis,dimana modern yang dimaksudkan dalam hal ini adalah bagaimana penerapan interior ruang dan elemen - elemen yang ada didalamnya dimaksimalkan secara fungsinya tanpa ada banyak ornamen - ornamen yang menyulitkan anak - anak tunanetra pengguna fasilitas tersebut untuk beraktifitas. Begitu juga dengan minimalis yang dimaksud adalah meminimalisir segala kemungkinan - kemungkinan yang dapat membahayakan dan mengganggu kinerja dari proses pengembangan kreativitas di dalam fasilitas ini.

Standarisasi yang sudah dipastikan harus ada adalah syarat - syarat agar memudahkan anak-anak tunanetra bersirkulasi,seperti railing,tactile paving dan sebagainya. Konsep lain yang ditawarkan dan ingin dikembangkan di dalam fasilitas ini adalah penggunaan indra - indra lainnya yang akan digunakan secara maksimal seperti indra penciuman dan pendengaran untuk mengenal orientasi ruang atau melakukan sirkulasi di dalam gedung ini. Seperti diterapkannya area - area dengan bau atau penghawaan tertentu yang dihasilkan oleh tumbuhan - tumbuhan yang khusus dengan wangi atau penghawaan yang khas untuk menandakan setiap area yang akan digunakan. Penggunaan suara - suara juga dapat membantu memudahkan pengenalan area atau wilayah bagi para pengguna fasilitas ini. Seperti penggunaan suara secara buatan (teknologi) menggunakan speaker atau juga menggunakan suara alami seperti air yang mengalir yang di letakkan di beberapa sudut dari bangunan tersebut agar dapat didengar dan dijadikan salah satu patokan orientasi bagi anak- anak tunanetra tersebut.

3. Hasil Studi dan Pembahasan

Keputusan desain yang dihasilkan merupakan sebuah desain yang telah melalui beberapa hasil studi dan eksperimen yang dilakukan seperti perubahan bentuk layout zoning dan blocking yang telah berubah lebih dari 2 kali dengan pertimbangan karakteristik - karakteristik anak - anak tersebut dan keselamatannya. Hal itu dilakukan atas pertimbangan keselamatan, kenyamanan dan efektifitas dalam beraktivitas dan bersirkulasi di dalam fasilitas ini. Seperti karakteristik anak - anak tunanetra yang meraba - raba atau menyusuri dinding untuk bersirkulasi, yang mempengaruhi bentuk atau alur tembok yang digunakan dibentuk sebagian besar tanpa menggunakan sudut yang berbahaya bagi mereka,dan tidak menempatkan objek atau elemen interior yang menonjol diatas tinggi standar antoprometri anak- anak menempel di dinding karena akan membahayakan mereka. Pemilihan material dan bahan yang digunakan juga menjadi studi yang telah dilakukan secara konsisten serta penempatan - penempatan furniture atau organisasi ruang secara detail telah mencapai sebuah keputusan yang telah melalui banyak perubahan. Seperti menggunakan material lantai floor vinyl agar tidak berbahaya bagi anak - anak,penggunaan karpet untuk memberi kesan empuk dan lembut sehingga mereka bisa membedakan area yang digunakan untuk bersirkulasi dan area untuk duduk - duduk di lantai atau bersantai.

(3)

Nama Penulis ke-1

Gambar 1.Denah Lobby

Perbedaan warna lantai yang menyerupai garis untuk menunjukkan alur atau orientasi ruangan fasilitas ini juga bertujuan untuk memberikan informasi secara visual bagi anak - anak tunanetra lowvision agar mengetahui batasan - batasan yang dapat diikuti melalui warna - warna kontras.

Gambar 2. Tampak Lobby

Gambar 3. Denah Kelas Bahasa

Salah satu kelas yaitu kelas bahasa dengan pola lantai yang membatasi area belajar dengan area sirkulasi di sekitarnya, agar anak - anak dapat mengidentifikasikan perbedaan - perbedaan area sesuai fungsinya. Posisi furniture yang tetap dan tidak berubah - ubah akan membantu mereka menghafal dan mengerti orientasi dari ruangan yang ada.

(4)

Gambar 4. Tampak Kelas Bahasa

Gambar 5. Denah Perpustakaan

Area baca dalam perpustakaan dibagi menjadi beberapa area, yaitu area talking book, area membaca pribadi serta area membaca bersama yang difasilitasi karena melihat adanya keterbatasan buku - buku yang belum semuanya diubah menjadi buku braille. Melihat fenomena itu muncul gagasan untuk memfasilitasi interaksi antara orang awas dengan anak - anak tunanetra, sehingga dapat membacakan buku - buku yang belum di ubah menjadi buku braille atau dengan sistem story telling.

4. Penutup / Kesimpulan

Sebagai suatu fasilitas yang menjadikan anak - anak tunanetra sebagai pengguna utama, maka diperlukan suatu perancangan yang menjadikan anak - anak menyukai hal - hal yang terjadi didalamnya terutama dari segi kenyamanan dan keamanan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu ide dan solusi yang mampu memfasilitasinya, terutama pada desain kali ini sebagai suatu area kegiatan yang mendukung segala kegiatan dalam mendukung kreativitas dan kemandirian dari tiap individu anak tunanetra.

Berikut merupakan perspektif dari beberapa sudut ruangan yang merupakan fasilitas pengembangan kreativitas bagi anak - anak tunanetra,

(5)

Nama Penulis ke-1

Gambar 6. Perspektif Lobby

Gambar 7. Perspektif Kelas Bahasa

(6)

• Masdiana,I. 2005. Pengelolaan Kelas Bagi Siswa Tunanetra di Sekolah Menengah Atas Biasa. Tesis - Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus UPI, Bandung.

• Linda Cain Ruth. 1999. Design Standard for Children's Environments. AIA • Erns & Neufert. Data Arsitek Ernst & Neufert.

Gambar

Gambar 1.Denah Lobby
Gambar 5. Denah Perpustakaan
Gambar 6. Perspektif Lobby

Referensi

Dokumen terkait

Alamat Perumahaan Wahana Harapan Blok B6/9 RT.003/022 Setia Asih Taruma jaya

("Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Status Penguasaan Bangunan Tempat Tinggal","Percentage of Households by

335 Alwaritzi Merupakan variasi dari nama Al Warits (asmaul husna yang artinya Merupakan variasi dari nama Al Warits (asmaul husna yang artinya ‘Allah yang ‘Allah yang mewarisi

HUMAS dari Badan POM dalam kegiatan “Badan POM Sahabat Ibu” dalam melakukan pemberitaan/menyebarkan informasi yang bertujuan untuk mendapatkan respon positif dengan

ABSTRAK Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Petngas Penyuluh Lapangan Pertanian Pada Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan Dan Ketahanan Pangan BP4KKP

Indeks Kekayaan Jenis (R) maupun Indeks Keanekaragaman Jenis (H) hutan kerangas yang telah 15 tahun ditambang pasir kuarsa lebih tinggi dibandingkan dengan yang baru 5

Rahyono (2003) menyatakan intonasi sebuah bahasa memiliki keteraturan yang telah dihayati bersama oleh para penuturnya.Penutur sebuah bahasa tidak memiliki kebebasan yang

Permasalahan inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengangkat dalam sebuah kajian tentang Pola Komunikasi Antara Orang tua asuh dengan Anak Tunagrahita di Unit