• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Paradigma Multidisipliner (JPM)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Paradigma Multidisipliner (JPM)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

20

JPM Vol 2/ No.1/2021

Jurnal Paradigma Multidisipliner (JPM)

Analisis Sektor Basis Sub Sektor Pertanian Terhadap Tenaga Kerja Sektor Pertanian Di Kabupaten Kudus

AGRICULTURE SECTOR BASE BASIS ANALYSIS OF AGRICULTURAL SECTOR WORKERS IN KUDUS REGENCY

Juwita Arinda 1

, Rr. Retno Sugiharti, M.Si. 2

1

Universitas Tidar

[email protected]

Abstrak

___________________________________________________________________

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sub sektor basis pada sektor pertanian terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja sektoral di Kabupaten Kudus dalam kurun waktu 5 (lima) tahun dari tahun 2014- 2018. Data yang digunakan adalah data sekunder sektor pertanian di Kabupaten Kudus tahun 2014-2018.

Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan alat analisis LQ (Location Quotient). Hasil analisis menunjukkan bahwa sub sektor tanaman pangan, sub sektor perkebunan, dan sub sektor perikanan memiliki nilai LQ>1 yang merupakan sub sektor basis pertanian. Sedangkan sub sektor hortikultura dan sub sektor peternakan merupakan sub sektor non basis pertanian karena memiliki nilai LQ<1. Tingginya produktivitas sebuah sub sektor pertanian sehingga menjadi basis akan meningkatkan tingkat penyerapan kerja di Kabupaten Kudus.

Kata kunci: pertanian, sub sektor basis, Kudus

Abstract

________________________________________________________________

This study aims to analyze the basic subsectors in the agricultural sector on the level of absorption of sectoral labor in Kudus District within a period of 5 (five) years from 2014-2018. The data used are secondary data from the agriculture sector in Kudus Regency in 2014-2018. Data collected by the documentation method. This type of research is a quantitative descriptive study with LQ (Location Quotient) analysis tool. The results of the analysis show that the food crops sub-sector, the plantation sub-sector and the fisheries sub-sector have a value of LQ> 1 which is the agriculture-based sub-sector. While the horticulture sub-sector and livestock sub-sector are non-agricultural sub-sectors because they have an LQ value <1. The high productivity of an agricultural sub-sector so that it becomes the basis will increase the level of employment in Kudus Regency.

Keywords: agriculture, base sub sector, Kudus

(2)

21 PENDAHULUAN

Pembangunan ekonomi bertujuan untuk membantu sektor-sektor perekonomian yang ada serta meningkatkan taraf hidup suatu masyarakat di wilayah tertentu, sehingga akan memunculkan peluang-peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat bisa meningkat. Pembangunan ekonomi merupakan suatu kegiatan yang mengusahakan peningkatan taraf hidup masyarakat luas, menambah luasnya kesempatan kerja dalam masyarakat dan pemerataan distribusi pendapatan masyarakat.

Menurut Sukirno (2003), pembangunan ekonomi terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi memiliki ketergantungan pada pembangunan ekonomi karena pelaksanaan pembangunan ekonomi akan mendorong tumbuhnya suatu perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator dalam menentukan keberhasilan suatu pembangunan ekonomi. Menurut Restiatun (2009), peningkatan total nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di suatu wilayah adalah indikator pertumbuhan ekonomi, sehingga struktur suatu perekonomian yang berimbang dan dinamis yang mencerminkan sebuah industri kuat dan maju, serta memiliki suatu basis pertumbuhan pada berbagai sektor yang seimbang dan dapat dipercepat.

Menurut Badan Pusat Statistik (2010), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga merupakan salah satu indikator yang digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai kinerja pertumbuhan ekonomi di suatu daerah tertentu. Berbagai sektor lapangan usaha di suatu daerah yang melakukan kegiatan usahanya tanpa memperhatikan kepemilikan

atas faktor produksi akan menciptakan suatu nilai tambah yang jika ditotalkan akan menghasilkan sebuah nilai yang disebut PDRB.

PDRB dapat dibagi ke dalam beberapa kategori sektor ekonomi, seperti sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor persewaan dan perusahaan, serta jasa lainnya.

Dalam perkembangannya,

pembangunan ekonomi yang mulanya hanya menggunakan PDRB sebagai tolak ukur mulai bergeser ke kualitas sumber daya manusia.

Kualitas sumber daya manusia dapat diposisikan di sisi input maupun di sisi output.

Namun tentunya pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia memiliki keterkaitan yang kuat antara satu sama lain. Hal ini disebabakan keberhasilan pembangunan ekonomi akan tetap mendapat pengaruh dari adanya pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dengan nilai pada PDRB, sehingga pembangunan ekonomi tersebut dapat mempengaruhi kesehjateraan pada suatu masyarakat dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki akan mengalami peningkatan.

Kudus merupakan salah satu

kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang

banyak dilirik oleh para investor. Banyak

investor yang terpaksa ditolak menanamkan

modal mereka di Kudus karena terkendala

masalah lahan. Karena lahan di Kudus dibatasi,

maka banyak investor yang mengundurkan

diri. Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi,

sektor industri lebih menjanjikan daripada

sektor pertanian, karena sektor industri bisa

dengan cepat menyerap banyak tenaga kerja di

Kudus.

(3)

22

Tabel 1. Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah), 2018

Lapangan Usaha Produk Domestik Regional

Bruto Atas Dasar Harga Berlaku A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2 320 683.87

B. Pertambangan dan Penggalian 163 742.10

C. Industri Pengolahan 84 374 685.01

D. Pengadaan Listrik dan Gas 45 723.16

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

19 043.23

F. Konstruksi 3 619 912.12

G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

5 652 430.47

H. Transportasi dan Pergudangan 1 080 885.93 I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 1 211 673.43

J. Informasi dan Komunikasi 663 504.23

K. Jasa Keuangan dan Asuransi 1 848 394.15

L. Real Estate 568 766.52

M,N. Jasa Perusahaan 114 648.16

O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

799 284.07

P. Jasa Pendidikan 1 145 781.10

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 334 341.72

R,S,T,U. Jasa lainnya 575 843.09

A. Nilai Tambah Bruto Atas Harga Dasar - B. Pajak Dikurang Subsidi Atas Produk -

C. Produk Domestik Bruto 104 539 342.35

Sumber: BPS Kabupaten Kudus

PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Kudus sebesar 104.54 trilyun rupiah pada tahun 2018 naik sebesar 6,95 persen dengan kontribusi tertinggi pada sektor industri pengolahan, yaitu sebesar 84 374 685.01 miliar rupiah. Sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang merupakan kontribusi terendah pada PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Kudus pada tahun 2018, yaitu sebesar 19 043.23 miliar

rupiah. Sedangkan kontribusi dari sektor pertanian mencapai 2 320 683.87 miliar rupiah.

Kabupaten Kudus adalah kabupaten

yang memiliki lahan pertanian yang cukup

luas, namun sektor pertanian di Kabupaten

Kudus sulit berkembang, karena masyarakat di

Kabupaten Kudus kurang pandai berinovasi

dalam mengolah lahan pertanian. Buruh tani

harian cukup sulit untuk diambil dan terbilang

cukup mahal. Sehingga lahan pertanian

banyak yang digunakan untuk kavlingan.

(4)

23 Pembangunan ekonomi dapat mencapai keberhasilan apabila di suatu daerah mengetahui sektor apa saja yang menjadi sektor basis di daerahnya. Secara teoritis, dengan adanya asumsi peningkatan investasi jika terjadi peningkatan pada sektor basis di suatu daerah maka penyerapan tenaga kerja juga akan mengalami sebuah peningkatan.

Dalam perencanaan pembangunan, masalah ketenagakerjaan perlu diperhatikan. Guna mengimbangi laju pertumbuhan penduduk usia muda yang memasuki pasar tenaga kerja, maka lapangan pekerjaan yang luas perlu disediakan agar kesempatan kerja semakin tinggi. Pengangguran yang terjadi dalam masyarakat dapat disebabkan oleh sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia sehingga akan memunculkan masalah yang lebih kompleks lagi.

Sektor pertanian berperan sebagai tempat yang menyediakan lapangan pekerjaan dan penyedia pangan, serta ekspor dari sektor pertanian dapat menyumbangkan devisa pada sebuah negara. Hal itu menjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang cukup penting di Indonesia, termasuk pada beberapa daerah tertentu di negara Indonesia (Soekartawi, 1995).

Dengan adanya transformasi ekonomi dari sektor primer menuju ke sektor sekunder di Provinsi Jawa Tengah, maka hal tersebut akan berpengaruh pada pertumbuhan sektor pertanian yang mulai mengalami penurunan dan perlambatan. Suatu perubahan yang dilihat dari adanya transformasi ekonomi atau perubahan struktur yang mulanya tradisional menjadi modern memliki keterkaitan dengan perkembangan serta kontribusi berbagai sektor ekonomi terhadap PDRB di suatu wilayah tertentu (Hasani, 2010: 5).

Dari tahun ke tahun, dalam menghasilkan output sektor pertanian untuk

menunjang kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Kudus semakin menurun karena lahan sawah yang dapat digunakan untuk berproduksi dengan baik hanya semusim.

Sektor pertanian di Kabupaten Kudus yang terdiri dari lima sub sektor, yaitu sub sektor tanaman pangan, sub sektor hortikultura, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan, dan sub sektor perikanan memiliki kontribusi dalam total nilai pada PDRB Kabupaten Kudus. Terdapat hasil dari kelima sub sektor pertanian yang masing- masing dapat ditemukan di semua kecamatan di Kabupaten Kudus yang berjumlah sembilan.

Sebagian masyarakat di Kabupaten Kudus banyak yang menanam tanaman bahan pangan seperti padi. Padi memiliki peran yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan di kehidupan sehari-hari.

Produksi padi yang dihasilkan di Kabupaten Kudus pada tahun 2018 sebanyak 159.544 ton.

Bila dibandingkan dengan tahun 2017 produksi padi mengalami penurunan sebesar dua persen.

Jika dibandingkan dengan tahun 2017, pada tahun 2018 terjadi kenaikan pada luas tanam padi sawah dan padi ladang yaitu sebesar 8,22 persen serta mengalami penurunan pada luas panen yaitu sebesar 1,83 persen. Kecamatan Undaan merupakan kecamatan penyandang pangan dengan daerah yang memiliki luas panen terluas untuk padi sawah, yaitu seluas 10.689 hektar. 45 persen dari total produksi padi sawah yang dihasilkan di Kabupaten Kudus atau sebanyak 71.789 ton produksi terdapat di Kecamatan Undaan.

Dibanding tahun sebelumnya, pada

tahun 2018 terjadi kenaikan maupun

penurunan pada produksi palawija di

Kabupaten Kudus. Salah satu jenis tanaman

palawija yang mengalami kenaikan yaitu

komoditas ketela pohon yang mengalami

(5)

24 peningkatan produksi sebesar 77,48 persen.

Sedangkan produksi dari jenis tanaman palawija selain komoditas ketela pohon mengalami penurunan.

Pada tahun 2018, tanaman cabe memiliki luas tanaman sayur-sayuran yang paling luas yaitu seluas 325 hektar, tanaman sayur-sayuran lain seperti bawang merah memiliki luas 62 hektar dan tanaman terung dengan luas 38 hektar. Produksi sayuran bawang merah dan ketimun mengalami kenaikan relatif tinggi dibandingkan tanaman lainnya, sedangkan tanaman kacang panjang dan cabe mengalami penurunan produksi.

Pada produksi buah-buahan di Kabupaten Kudus, pisang merupakan buah yang banyak diproduksi yaitu sebesar 128.410 kuintal, diikuti dengan buah rambutan dengan produksi sebesar 32.376 kuintal.

Pada tahun 2018, sebagian besar produksi perkebunan mengalami penurunan, namun jenis tanaman perkebunan seperti cengkeh dan kopi mengalami peningkatan produksi. Tebu, kapuk, kelapa, dan kopi merupakan jenis tanaman perkebunan rakyat yang mempunyai luas tanam yang cukup luas serta hasil produksi yang cukup besar.

Terdapat dua kategori pada sub sektor peternakan, yaitu ternak besar dan ternak kecil. Sapi (perah/potong), kerbau, dan kuda merupakan bagian dari ternak besar.

Sedangkan kambing, domba, dan babi merupakan bagian dari ternak kecil. Serta ayam, itik, dan burung puyuh tergolong ternak unggas. Di tahun 2018, populasi pada ternak sapi mengalami penurunan sebesar 3,95 persen. Populasi ternak kambing mengalami penurunan terbesar pada tahun tersebut yaitu sebesar 4,29 persen, sedangkan domba mengalami penurunan sebesar 16,8 persen.

Ayam kampung yang merupakan ternak unggas mengalami penurunan sedangkan

terjadi kenaikan populasi pada ayam ras jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dua kegiatan usaha dalam sub sektor perikanan yaitu perikanan darat dan perikanan laut. Perikanan laut tidak dapat ditemukan di Kabupaten Kudus sehingga hanya dapat ditemukan budidaya perikanan darat. Pada tahun 2018, ikan budidaya atau kolam mengalami peningkatan produksi dibanding tahun 2017 yaitu sebesar 1,02 persen dan menghasilkan sebanyak 21.247 kuintal produksi. Ikan lele dumbo adalah komoditas terbesar produksi perikanan yang menghasilkan 3,45 persen dari total produksi atau sebanyak 13.354,40 kuintal. Kemudian produksi komoditas lain seperti ikan nila menghasilkan sebanyak 2.074,7 kuintal produksi. Pada tahun 2018, ikan perairan umum di Kabupaten Kudus menghasilkan produksinya sebanyak 5.089,89 kuintal, mengalami penurunan produksi sebesar 14,53 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ikan rucah dan ikan gabus merupakan hasil produksi dengan komoditas terbesar.

Keberhasilan pembangunan ekonomi tak lepas dari besarnya peran sektor pertanian seperti yang telah disampaikan oleh Adriani (2012) yang mengungkapkan bahwa bertambahnya produksi pada sektor pertanian dapat mendorong peningkatan kesempatan kerja di bidang pertanian sebesar 69,677 persen. Angkatan kerja di pasar tenaga kerja pertanian akan meningkat sebesar 3,75 persen.

Pada pasar produk pertanian, produksi sektor

pertanian yang mengalami peningkatan akan

berpengaruh pada naiknya pendapatan

nasional sektor pertanian sebesar 59,23 persen

maupun pada peningkatan investasi sebesar

26,93 persen. Adriani (2012) juga

mengungkapkan bahwa di pasar barang dan

pasar kerja suatu sektor, sektor pertanian

(6)

25 memberikan respon yang paling besar terhadap pertambahan produksi dibandingkan dengan sektor non pertanian. Yudhoyono (2004) menyatakan bahwa sektor pertanian memiliki keterkaitan dengan sektor lain di bagian hulu dan hilir. Sektor pertanian memberikan pengaruh yang positif dari kebijakan peningkatan kemampuan yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja baik pada sektor pertanian maupun sektor non pertanian.

Besarnya peran sektor pertanian merupakan modal terbesar dalam pembangunan ekonomi di Indonesia justru kurang diperhatikan. Tingkat kesejahteraan para petani di Indonesia yang rendah merasa bahwa pembangunan pertanian yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia dapat membawa dampak yang besar.

Transformasi struktur perekonomian nasional yang tidak diikuti oleh kenaikan dari banyaknya tenaga kerja pada sektor pertanian akan mengakibatkan penurunan peran sektor pertanian.

Suatu daerah akan mendapatkan keuntungan yang baik dan maksimal yang diperoleh dari sektor-sektor yang dimiliki apabila sektor-sektor tersebut dikelola dan diolah secara efektif dan efisien. Sektor pertanian memiliki kemungkinan untuk menjadi sektor basis dari suatu daerah jika kegiatan-kegiatan ekonomi pada sektor pertanian terjadi perkembangan yang cukup baik. Kemudian akan diikuti pada peningkatan PDRB. Jika permintaan produksi pada sektor pertanian terjadi peningkatan yang menyebabkan meningkatnya sektor pertanian, maka akan terjadi pula peningkatan lapangan pekerjaan sehingga penyerapan tenaga kerja pun akan semakin tinggi. Kesejahteraan masyarakat di suatu daerah akan meningkat

apabila banyaknya kesempatan kerja semakin bertambah seperti halnya di Kabupaten Kudus.

Menurut Dessy Adriani dan Elisa Wildayana (2015) dalam penelitian yang berjudul ”Integrasi pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja Sektor Pertanian di Indonesia.” Hasil analisis menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1977-2012, pertumbuhan kesempatan kerja yang bersifat padat karya selalu berada di bawah pertumbuhan ekonomi sehingga tidak mendukung adanya penciptaan kesempatan kerja yang baru. Tenaga kerja pada sektor pertanian telah melebihi kapasitas dari penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian. Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja pada sektor pertanian tidak terkonsolidasi dengan sempurna. Peningkatan pada kualifikasi tenaga kerja di sektor pertanian diperlukan supaya sejalan dengan pekerjaan pada sektor industri sehingga di masa depan, penciptaan kesempatan kerja baru pada sektor pertanian dapat diarahkan ke lapangan kerja yang memiliki keterkaitan dengan industrialisasi pertanian.

Menurut Iwan Setiawan (2006),

penelitian yang berjudul ”Peran Sektor

Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di

Indonesia.” Masalah ketenagakerjaan di

Indonesia yang cukup kompleks merupakan

sebagian imbas dari tingginya angka pada

tingkat pengangguran yang disebabkan karena

adanya krisis ekonomi. Masalah lain dari

ketenagakerjaan yang mulai bermunculan dan

harus segera dihadapi yaitu rendahnya kualitas

tenaga kerja, tingkat upah serta jaminan sosial

yang rendah, dan lain-lain. Sektor pertanian

memiliki peran penting dalam menyerap

tenaga kerja yang ada di tengah kompleksnya

permasalahan tersebut. Pada sektor industri,

jasa, dan perdagangan cenderung semakin

(7)

26 mengalami peningkatan pertambahan tenaga kerja, namun kontribusi sektor pertanian dalam pertambahan tenaga kerja juga masih tergolong cukup tinggi. Akan tetapi, kontribusi dari sektor pertanian dengan kebijakan yang sepenuhnya sejalan dengan sektor pertanian ternyata belum seimbang. Beberapa waktu berlangsung setelah adanya rencana strategis pada pembangunan pertanian dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2004 hingga 2009 yang mencakup dukungan dalam upaya pembangunan pertanian, pemerintah masih belum banyak menunjukkan keterpihakannya terhadap petani maupun pada sektor pertanian. Para petani merasa dirugikan yang disebabkan oleh pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan keinginan para petani.

Contoh nyata dari pemerintah dan petani yang saling bertentangan yaitu naiknya harga pada pupuk, produk impor bidang pertanian, dan lain-lain. Pertentangan antara pemerintah dan petani tersebut menjadikan pihak petani maupun sektor pertanian pada posisi yang tidak terlalu menguntungkan. Tidak jarang pula penduduk usia muda di sebuah pedesaan yang melakukan urbanisasi, akibatnya hanya tersisa tenaga kerja dengan penduduk usia tua yang tetap tinggal di pedesaan, sehingga memunculkan gejala gejala kekurangan buruh tani di pedesaan karena penduduk usia muda tidak tertarik pada sektor pertanian.

Tujuan yang ingin dicapai dari kajian ini yaitu untuk mengetahui sub sektor pertanian yang menjadi sub sektor basis pertanian di Kabupaten Kudus pada tahun 2014-2018.

LANDASAN TEORI Pembangunan Ekonomi

Definisi pembangunan ekonomi diberikan oleh beberapa ahli. Pandangan paradigma tradisional terhadap pembangunan ekonomi yang mengalami peningkatan secara berkelanjutan yaitu pada Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) pada sebuah negara. Peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada suatu provinsi, kabupaten, atau kota merupakan fokus dari makna pembangunan ekonomi pada suatu daerah (Kuncoro, 2004).

Penekanan pada peningkatan income per capita (pendapatan per kapita) mulai muncul dalam definisi pembangunan ekonomi yang telah terjadi perkembangan. Definisi tersebut juga memberikan penekanan pada kemampuan sebuah negara untuk melakukan peningkatan pada output agar dapat melebihi pertumbuhan suatu penduduk. Pandangan yang dimiliki oleh paradigma modern terhadap pembangunan ekonomi tradisional yaitu dengan suatu pola yang berbeda.

Dethronement of GNP (penurunan takhta pertumbuhan ekonomi), garis kemiskinan yang dientaskan, tingkat pengangguran, ketimpangan pada distribusi pendapatan, dan menurunnya angka pengangguran yang ada merupakan beberapa yang mulai dikedepankan oleh beberapa ekonom modern.

Dari adanya pandangan tersebut, terjadi perubahan pada paradigma pembangunan yang menyatakan bahwa suatu proses yang multidimensional harus dipandang dalam sebuah pembangunan (Kuncoro, 2003).

Terdapat tiga inti nilai dalam pembangunan suatu daerah yang dianjurkan oleh beberapa ahli (Kuncoro, 2000; Todaro, 2000), yaitu:

1. Ketahanan (sustenance): kemampuan

bertahan hidup dengan melakukan

pemenuhan kebutuhan pokok (pangan,

papan, kesehatan, dan proteksi).

(8)

27 2. Harga diri (self esteem): kebanggan

sebagai manusia yang berada pada suatu daerah harus ditingkatkan melalui pembangunan di suatu daerah yang berarti harus memanusiakan orang.

3. Freedom from servitude: dalam rangka berpartisipasi untuk pembangunan di suatu negara, setiap individu di negara tersebut memiliki kebebasan untuk berpikir, berkembang, berperilaku, dan berusaha.

Sebuah perubahan ciri-ciri penting pada suatu masyarakat seperti keadaan sistem politik serta struktur sosial dan nilai-nilai masyarakat maupun struktur kegiatan ekonomi yang ada dalam masyarakat dalam peningkatan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat merupakan akibat dari suatu proses sebuah pembangunan ekonomi yang didasarkan pada beberapa definisi mengenai pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi tidak hanya mencakup aspek ekonomi, namun juga mencakup beberapa aspek lain yang lebih luas seperti aspek kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Pembangunan ekonomi di suatu negara dikatakan berhasil apabila tingkat pengangguran dan kemiskinan mengalami penurunan, terjadinya peningkatan pada pendapatan masyarakat serta semakin tingginya lulusan perguruan tinggi dan semakin rendahnya anak putus sekolah yang merupakan tanda dari peningkatan pada kualitas sumber daya manusia. Suatu kehidupan masyarakat dapat dikatakan semakin modern apabila terjadi kemajuan pada transportasi dan komunikasi maupun pada industri-industri, semakin rendahnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin, terjadi kemajuan dan perkembangan pada teknologi, semakin banyak kemudahan dalam

akses kesehatan, serta tingkat kriminalitas dalam permasalahan sosial yang mengalami penurunan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Seluruh nilai tambah yang dihasilkan dari berbagai kegiatan ekonomi pada suatu wilayah yang tidak memperhatikan pemilik dari faktor produksinya, apakah penduduk wilayah tersebut ataupun penduduk wilayah lain yang memiliki faktor produksi disebut sebagai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Sukirno, 1994: 105). Salah satu indikator yang menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi adalah PDRB yang memiliki arti bahwa keberhasilan pembangunan suatu daerah dalam periode waktu tertentu maupun arah kebijakan pembangunan di masa depan dapat dinilai serta ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi sebagai tolak ukur.

Kinerja ekonomi pada suatu negara dapat diukur dengan menggunakan salah satu indikator ekonomi makro yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan bagian dari PDRB yang merupakan bagian dari PDB adalah tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kinerja ekonomi pada tingkat wilayah, provinsi, dan kabupaten/kota, sehingga jika terdapat perubahan pada tingkat regional atau wilayah maka PDB akan menerima pengaruhnya, begitu pun sebaliknya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhitung dari total nilai produksi barang dan jasa dihasilkan di suatu regional atau wilayah tertentu dalam periode waktu tertentu (satu tahun) (Atmaja, 2004).

Teori Basis Ekonomi

Dalam Tambunan (2003), Harry W.

Richardson mengemukakan bahwa permintaan

akan barang dan jasa dari daerah lain atau luar

(9)

28 daerah memiliki hubungan langsung dengan faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita yang meningkat, dan peluang kerja pada masyarakat yang semakin luas dihasilkan dari suatu daerah yang melakukan ekspor pada output dari proses produksi yang menggunakan sumber daya produksi dari dalam daerah, termasuk di dalamnya adalah tenaga kerja maupun bahan baku.

Menurut (Arsyad, 1999), teori basis ekonomi menjelaskan bahwa terdapat hubungan langsung antara faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah dengan permintaan akan barang dan jasa non lokal atau luar daerah. Kekayaan daerah maupun munculnya peluang kerja yang baru pada suatu daerah dihasilkan dari penggunaan tenaga kerja serta bahan baku yang termasuk sumber daya lokal yang kemudian diekspor ke daerah lain menjadi faktor dalam tumbuhnya berbagai industri yang ada.

Sektor Pertanian

Menurut (Mosher, 1968), keterlibatan pertumbuhan tanaman maupun hasil dari hewan dalam kegiatan produksi pada setiap usaha petani dimana biaya modal serta pendapatan merupakan hal yang penting adalah dasar dari jenis produksi pada pertanian.

Terdapat beberapa sub sektor pada sektor pertanian, yaitu:

1. Tanaman Pangan

Menurut (Moeljopawiro dan Manwan, 1992), komoditas utama, komoditas potensial, dan komoditas introduksi merupakan tiga kelompok dalam jenis tanaman pangan.

2. Hortikultura

Menurut (Sunu & Wartoyo, 2006), hortikultura berasal dari kata “hortus”

yang memiliki arti garden atau kebun dan “colere” yang berarti (to cultivate atau budidaya). Hortikultura mencakup tanaman taman seperti sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman biofarma.

3. Perkebunan

Menurut (Direktorat Jenderal Bina Produksi Pertanian, 2004) Perkebunan diharapkan dapat memberikan hasil yang baik dan maksimal dalam sektor pertanian dengan cara melaksanakan pengelolaan tanah dalam kurun waktu semusim atau tahunan.

4. Peternakan

Peternakan merupakan kegiatan yang melakukan pengembangbiakkan benih, bibit, budidaya ternak, panen, pascapanen, pengolahan dan pemasaran hasil panen.

5. Perikanan

Perikanan merupakan keterkaitan antara suatu tindakan dengan pengelolaan maupun pemanfaatan sumber daya perairan. Upaya dalam pembenihan dan pembesaran pada ikan serta usaha untuk menangkap ikan adalah upaya yang dilaksanakan sehingga output pada sektor perikanan dapat dihasilkan.

Sektor non pertanian terutama sektor

industri berdampingan dengan peranan

penting yang hingga saat ini dimiliki oleh

sektor pertanian di Indonesia. Sebagian besar

masyarakat Indonesia menaruh harapan pada

sektor pertanian untuk kehidupannya

meskipun kontribusi dari sektor pertanian

terhadap negara semakin mengalami

penurunan.

(10)

29 Lahan pertanian yang mengalami ahli fungsi menjadi lahan non pertanian merupakan akibat dari perkembangan kota dan permukiman yang terus-menerus terjadi.

Kondisi ini memiliki dampak pada luas lahan pertanian yang semakin berkurang atau menyempit. Terdapat beberapa solusi sebagai jalan alternatif dalam mengatasi dampak dari kondisi tersebut, yaitu melakukan pembukaan lahan pertanian yang baru ataupun bekerja pada sektor non pertanian.

Kenaikan harga yang terjadi di berbagai kebutuhan hidup petani mulai tidak dapat diimbangi semenjak alih fungsi lahan yang telah terjadi dan berakibat mempengaruhi pendapatan dari sektor pertanian. Pekerjaan sebagai petani semakin terlihat tidak menarik akibat dari semakin rendahnya pendapatan di sektor pertanian. Kondisi tersebut berdampak pada tenaga kerja produktif, khusunya penduduk usia muda yang memiliki minat pada pekerjaan di sektor non pertanian, mereka cenderung mencari pekerjaan di sebuah kota dengan upah yang tergolong cukup baik, sehingga sebuah desa mengalami kekurangan pada tenaga kerja muda yang potensial.

Tenaga Kerja

Salah satu faktor produksi dari sebuah negara adalah tenaga kerja. Seorang individu dapat dikatakan sebagai tenaga kerja apabila individu tersebut sedang melakukan pencarian atau telah melaksanakan sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa dengan syarat memnuhi batasan usia yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang supaya memperoleh hasil atau upah yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurut Simanjuntak (1995), seorang siswa ataupun ibu rumah tangga dapat

dikatakan sebagai tenaga kerja karena tenaga kerja tidak hanya memandang orang yang telah memiliki pekerjaan, penduduk yang sedang melakukan pencarian pekerjaan maupun yang sudah atau sedang bekerja tergolong sebagai tenaga kerja, namun terdapat cakupan yang lebih luas mengenai tenaga kerja yaitu penduduk yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah atau mengurus rumah tangga.

Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Pertanian Dalam kurun waktu tujuh tahun dari tahun 1996-2002, rerata 4-5 orang dari setiap 10 orang tenaga kerja di Indonesia adalah seorang yang sudah bekerja atau sedang berusaha pada bidang lapangan usaha pertanian. Sebesar 44,2 persen penduduk di Indonesia yang sudah memiliki pekerjaan atau sebanyak 42.039.250 orang dari 95.177.102 seluruh pekerja di Indonesia merupakan para penduduk yang bekerja pada sektor pertanian. Dapat dikatakan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis pada bidang tenaga kerja di Indonesia, sehingga sektor pertanian yang apabila diabaikan maka akan menjadikan sangat tidak realistisnya kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. Krisis ekonomi yang dapat menyebabkan keterpurukan pada berbagai bidang atau sektor, sektor pertanian justru tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Bahkan saat terjadi krisis ekonomi, sub sektor perikanan mendapatkan keuntungan yang cukup besar.

Profesi sebagai petani masih mendapat kecenderungan dari para pekerja di Indonesia.

Profesi lain seperti profesional atau teknisi dan managerial atau administrasi yang memiliki tingkat produktivitas tinggi justru mendapatkan proporsi yang sangat rendah.

Namun, seiring berjalannya waktu peralihan

penduduk yang memiliki kecenderungan

(11)

30 untuk bekerja pada sektor non pertanian mengalami peningkatan. Terjadi peningkatan pada tenaga kerja di sektor non pertanian yang cukup menonjol seperti yang terjadi pada sektor perdagangan, sektor jasa, sektor industri, dan sektor konstruksi yaitu lebih dari 16,5 juta orang yang secara keseluruhan mengalami pertumbuhan sebesar enam persen per tahun, sedangkan pada sektor pertanian justru mengalami penurunan tenaga kerja hingga lebih dari 6,7 juta orang dalam kurun waktu delapan tahun dari 1990-1997.

Sebesar 81 persen dari seluruh tenaga kerja pada sektor pertanian sampai saat ini masih didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan dasar atau di bawahnya.

Keterbatasan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat di pedesaan dijadikan sebagai sebuah kendala dalam keterlibatannya pada industri kecil di wilayah pedesaan yang tangah diperhatikan untuk dilakukan perkembangan.

Alih fungsi pada lahan pertanian yang semakin tinggi dan lahan kritis yang semakin meluas menjadikan sektor non pertanian semakin menggeser sektor pertanian.

Kebutuhan pangan bagi penduduk tidak lagi dapat dihasilkan dari lahan pertanian yang subur akibat semakin meluasnya pembangunan pemukiman hingga ke wilayah pedesaan. Semakin meluasnya lahan kritis karena pembukaan lahan baru yang seharusnya dijadikan sebagai lahan konservasi adalah akibat dari munculnya kebutuhan lahan yang semakin mendesak ketika lahan yang akan diolah oleh petani sudah tidak memadai.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif.

Penelitian tersebut menggunakan data yang

dianalisis dengan cara mendeskripsikan dan menggambarkannya dengan pendekatan kuantitatif serta dihitung secara matematis karena data yang digunakan dalam penelitian berupa angka-angka. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis menggunakan rumus LQ (Location Quotien).

Penelitian ini menggunakan data pada sektor pertanian dan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Kudus selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014- 2018. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode dokumentasi atau dengan cara mengumpulkan data dan laporan-laporan yang memiliki keterkaitan dengan sumber aslinya.

Penggunaan data dalam penelitian ini didapatkan dari Publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Kudus dan Provinsi Jawa Tengah.

Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui sub sektor pertanian di Kabupaten Kudus yang menjadi sub sektor basis yaitu dengan menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ). Secara matematis dirumuskan:

𝐿𝑄 = (S𝒾 ∕ N𝒾) (S N ⁄ ) Keterangan:

LQ = Indeks Location Quotient komoditi pertanian

Si = Jumlah produksi komoditi pertanian i di Kabupaten Kudus

Ni = Jumlah produksi total komoditi pertanian di Kabupaten Kudus

S = Jumlah produksi komoditi pertanian i di Provinsi Jawa Tengah

N = Jumlah produksi total komoditi pertanian di Provinsi Jawa Tengah Indikator:

LQ>1, yang berarti komoditi pertanian

tersebut tergolong komoditi basis. Produksi

komoditi pertanian tersebut mampu

memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri dan

dapat diekspor ke wilayah lain.

(12)

31 LQ=1, yang berarti komoditi pertanian tersebut termasuk komoditi non basis.

Produksi komoditi pertanian tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan di wilayahnya sendiri dan tidak dapat diekspor ke wilayah lain.

LQ<1, yang berarti komoditi pertanian tersebut termasuk komoditi non basis.

Produksi komoditi pertanian tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri sehingga impor dari luar wilayah dapat memenuhi kekurangannya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui sub sektor basis pertanian pada sektor pertanian di Kabupaten

Kudus yaitu dengan menggunakan analisis LQ (Location Quotient). Analisis LQ (Location Quotient) digunakan guna menemukan sub sektor yang basis atau non basis atau sektor yang berpotensi untuk ekspor dan sektor yang tidak mampu untuk mengekspor ke luar daerah akibat sektor tersebut bukan termasuk sektor unggulan. Data produksi hasil pertanian di Kabupaten Kudus selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014-2018 dapat digunakan untuk mengetahui sub sektor basis pada sektor pertanian. Berikut merupakan tabel hasil dari analisis LQ pada sub sektor pertanian di Kabupaten Kudus:

Tabel 2. Hasil Perhitungan LQ Sub Sektor Pertanian Kabupaten Kudus Tahun 2014-2018

Sub Sektor 2014 2015 2016 2017 2018 Rerata Tanaman Pangan (Padi Sawah) 2,845 1,558 11,283 1,156 2,002 3,769

Hortikultura (Cabe Rawit) 0,050 0,021 0,201 0,086 0,080 0,087 Perkebunan (Tebu) 8,192 5,049 6,554 81,461 3,133 20,878 Peternakan (Daging Sapi) 0,657 0,899 0,973 0,761 0,866 0,831 Perikanan (Perikanan Kolam) 5,202 0,508 1,395 0,865 1,160 1,826 Sumber: BPS Kabupaten Kudus (data diolah,

2020)

Berdasarkan tabel 2, bahwa dari perhitungan Location Quotient (LQ) pada sektor pertanian di Kabupaten Kudus terdapat lima sub sektor di dalamnya yaitu, yaitu sub sektor tanaman pangan, sub sektor hortikultura, sub sektor perkebunan, sub sektor peternakan, dan sub sektor perikanan.

Sub sektor tanaman pangan dan sub sektor perkebunan merupakan sub sektor pertanian yang selalu memiliki LQ>1 pada setiap tahun. Sub sektor perikanan memiliki LQ>1 pada tahun 2014, 2016, 2017, dan 2018.

Terdapat keunggulan komparatif pada sub

sektor tersebut, sehingga tergolong sebagai sub sektor basis. Hasil dari sub sektor tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Kudus serta dapat diekspor atau dijual ke luar daerah Kabupaten Kudus.

Sedangkan pada tahun 2014-2018 untuk sub sektor hortikultura dan sub sektor peternakan serta sub sektor perikanan pada tahun 2015 memiliki LQ<1, sehingga tergolong sub sektor non basis.

Kisaran nilai LQ basis pada produktivitas sub sektor pertanian Kabupaten Kudus dari tahun 2014-2018 antara 1.156-81.461.

Nilai produktivitas sub sektor perkebunan di

tahun 2017 merupakan nilai LQ basis tertinggi.

(13)

32 Sedangkan nilai LQ basis terendah terdapat pada nilai produktivitas sub sektor tanaman pangan di tahun 2017. Kisaran nilai LQ non basis pada produktivitas sub sektor pertanian Kabupaten Kudus dari tahun 2014-2018 antara 0.021-0.973. Nilai produktivitas sub sektor peternakan di tahun 2016 merupakan nilai LQ non basis tertinggi. Sedangkan nilai produktivitas sub sektor hortikultura di tahun 2015 merupakan nilai LQ non basis terendah.

Dengan pernyataan tersebut dapat

disebutkan bahwa terdapat nilai rerata LQ

lebih dari 1 yang dimiliki oleh tiga sub sektor,

yaitu sub sektor tanaman pangan yang

memiliki nilai rata-rata 3.769, sub sektor

perkebunan memiliki nilai rata-rata 20.878,

serta sub sektor perikanan memiliki nilai rata-

rata 1.826. Sedangkan sub sektor hortikultura

dan sub sektor peternakan merupakan sub

sektor dengan nilai rerata LQ kurang dari 1

yaitu sebesar 0.087 dan 0.831.

(14)

33 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Setelah dilakukan penelitian tentang kondisi sub sektor basis pada sektor pertanian di Kabupaten Kudus dan peranannya terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kudus, maka dapat disimpulkan bahwa sub sektor tanaman pangan, sub sektor perkebunan, serta sub sektor perikanan merupakan sub sektor basis pertanian, sedangkan sub sektor hortikultura dan sub sektor peternakan merupakan sub sektor non basis pertanian.

Sub sektor yang menjadi basis pada sektor pertanian telah memberikan hasil produktivitas yang cukup tinggi. Hasil produksi dari sub sektor basis dapat memenuhi kebutuhan dari dalam wilayah maupun dikirim ke luar wilayah. Para pekerja pun yang dibutuhkan semakin banyak, sehingga dapat meningkatkan penyerapam tenaga kerja sektor pertanian di Kabupaten Kudus.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan saran untuk meningkatkan peranan sub sektor basis pertanian terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kudus. Adapun sarannya adalah menjaga kinerja sektor pertanian serta melakukan inovasi pada bidang pertanian agar lahan dapat terolah dengan baik sehingga tenaga kerja dapat terserap lebih banyak dan mengurangi tingkat pengangguran.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyani, Endang. (2016). Konsep Dasar dalam Pembangunan Ekonomi dan Permasalahan Dasar Pembangunan Ekonomi di Negara Berkembang.

Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Adriani, D. & Wildayana, E. (2015). Integrasi pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Kesempatan Kerja Sektor Pertanian di Indonesia. Jurnal Sosiohumaniora, 18 (3).

Setiawan, I. (2006). Peran Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia. Jurnal Geografi GEA, 6 (1).

Indriaty, S. F. (2013). Peranan Sektor Basis Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Gresik. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 1 (3).

Syarifuddin, H. & Dewi, R. M. (2014). Analisis Sektor Basis dan Non Basis Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Kabupaten Mojokerto Tahun 2003-2012. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 2 (3).

Nazzala, A. (2020). Investasi Industri ke

Kudus Banyak Terkendala Lahan. Diakses

tanggal 30 Juli 2020 dari

https://m.bisnis.com/semarang/read/202

00724/535/1270581/investasi-industri-ke-

kudus-banyak-terkendala-lahan

Gambar

Tabel  1.  Produk  Domestik  Bruto  Atas  Dasar  Harga  Berlaku  Menurut  Lapangan  Usaha  (miliar rupiah), 2018

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini diperoleh bahwa dampak yang ditimbulkan karena adanya bencana banjir adalah dampak sosial ekonomi yang berada di klasifikasi sedang,

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa target dan realisasi anggaran pendapatan daerah Kabupaten Magelang pada tahun 2016 sampai

Infrastruktur berperan sebagai katalisator dalam proses ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat baik itu produksi, konsumsi maupun pasar.Infrastruktur menggambarkan

unggulan yang akan menjadi fokus dalam pengembangan pariwisata Kota Magelang sekaligus dijadikan sebagai icon pariwisata daerah. 2) Belum optimalnya komitmen pemerintah Kota

Terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Ambon dengan hasil yang menunjukkan bahwa pembangunan infrastuktur jalan berpengaruh signifkan terhadap PDRB Kota Ambon

Dalam penelitian tersebut, digunakan metode pengumpulan data primer berupa p pengamatan langsung agar dapat melihat kondisi fisik rusunawa dan memberikan kuesioner agar

Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode yang dapat diterapkan dengan baik pada mata pelajaran Pemrograman Web kelas. X

Hasil penelitian ini digunakan sebagai masukan bagi pemerintah terutama pemerintah Kota Magelang agar lebih memperhatikan kondisi permukiman di Kota Magelang dan juga memantau