STUDI DESKRIPTIF MUSIK DALAM KONTEKS UPACARA MAHA PUJA SHIVARATRI PADA MASYARAKAT HINDU TAMIL DI KUIL SHRI SHIVAN DI KOTA BINJAI
SKRIPSI SARJANA O
L E H
NAMA : ELIZABETH SIAHAAN NIM : 130707035
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
PROGRAM STUDI ETNOMUSIKOLOGI MEDAN 2020
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Studi Deskriptif Musik dalam Konteks Upacara Maha Puja Shivaratri Pada Masyarakat Hindu Tamil Di Kuil Shri Shivan Binjai. Maha Shivaratri adalah festival Hindu yang dirayakan setiap tahun untuk menghormati Dewa Siwa. Dilakukan pada hari ke 13 (14) pada bulan mati (ammawasai).
Pemandian (Lingam) tiap 3 jam sekali dengan tahap yang berbeda-beda. Penelitian ini membahas masalah mengenai bagaimana jalannya upacara Maha Puja Shivaratri, dan membahas penyajian musik saat upacara Maha Puja Shivaratri. Penelitian ini menggunakan mentode secara kualikatif untuk mendapatkan data yang akurat tentang musik dan upacara Maha Puja Shivaratri yang ditampilkan dengan tahap pengerjaan lapangan, pendeskripsian, dan penulisan laporan. Sedangkan untuk mendeskripsikan upacara, penulis menggunakan teori yang digunakan oleh koentjaraningrat (2003:337) yang secara khusus daripada ahli antropologi ialah: (i) tempat upacara keagamaan dilakukan (ii) saat upacara dijalankan (iii) benda-benda dan alat upacara (iv) orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara. Untuk mengetahui bagaimana penyajian musik dalam upacara Maha Puja Shivaratri seperti ritme tamborine, tabla, akordeon, dan manjira yang digunakan dalam mengiringi upacara tersebut, penulis menggunakan teori Bruno Nettl (1964:98) yang memberikan pendekatan 1. Kita dapat menguraikan dan menganalisis apa yang kita dengar, 2. Kita dapat menulis apa yang kita dengar tersebut keatas kertas dan kita dapat mendeskripsikan apa yang kita lihat. Untuk mendeskripsikan musik, teori yang digunakan adalah struktur, ritme, dan melodi yang dikemukakan Bruno Nettl (1964) terdiri dari: tempo, durasi not, meter, dan onomatope. Untuk mengkaji melodi sebagai ekspresi dari raga digunakan teori Weighted Scale oleh Malm (1977) yang mencakup: tangga nada, wilayah nada, formula melodi.
Dalam hal menganalisis musik yang digunakan untuk mengiringi upacara Maha Puja Shivaratri in, penulis mendengarkan berulang kali terhadap rekaman yang telah direkam oleh penulis pada saat penelitian. Skripsi ini menjelaskan deskripsi musik pada upacara Maha Puja Shivaratri pada masyarakat Hindu Tamil di kuil Shri Shivan di Kota Binjai dan di tuliskan dengan sistematis.
Kata Kunci : Maha Puja Shivaratri, Deskripsi Musik dan Upacara
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam skripsi ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka.
Medan,
Elizabeth Siahaan NIM. 130707035
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik. Skripsi ini yang berjudul Studi Deskriptif Musik Dalam Konteks upacara Maha Puja Shivaratri Di Kuil Shri Shivan Binjai disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan program pendidikan Strata 1 (S1) dan memperoleh gelar Sarjana Seni (S.Sn) di Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Hal tersebut berasal dari dalam dan luar diri penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini selanjutnya. Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis dibantu oleh berbagai pihak baik dari proses awal penulisan sampai penyelesaian skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S. selaku Deakan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara dan seluruh jajaran di Dekanat Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Arifninetrirosa, SST, M.A. selaku Ketua Program Studi Etnomusikologi, Universitas Sumatera Utara sekaligus selaku dosen penguji.
4 Bapak Drs. Bebas Sembiring, M.Si. selaku Sekretaris Program Studi Etnomusikologi dan sebagai dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingannya kepada penulis selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
5. Bapak Drs Kumalo Tarigan, M.A , P,Hd. Selaku Dosen pembimbing I berkat saran dan arahan makan penulis semakin termotivasi dan semakin semangat untuk menyelesaikan skrispsi ini.
6. Alm. Bapak Drs. Muhammad Takari M.Hum, Ph.D selaku penguji pada saat seminar proposal yang telah banyak memberikan bahan tambahan pengetahuan penelitian.
7. Bapak Fadlin M.A selaku Dosen penguji II, terimakasih atas masukan dan banyak memberikan bahan tambahan pengetahuan penelitian.
8. Bapak/Ibu Staf Program Studi Departemen Etnomusikologi USU yang telah berjasa dalam memberikan banyak bekal ilmu pengetahuan, bimbingan serta arahan kepada penulis selama penulis menimba ilmu pengetahuan di USU.
9. Orangtua penulis, yaitu Bapak Burju Romi Sailer Siahaan dan Ibu Perobahen br Ginting beserta keluarga penulis terutama abang Eliezer Siahaan yang selalu mendukung disetiap perkuliahan,untuk adik-adik Elivionithalia Siahaan, Elifas Ferrari Siahaan, dan opung yang selalu memotivasi penulis.
10. Bapak Ketua Kuil Shri shivan Binjai Aditya Pratama, S.Ak. Bapak Pinandita S.Asok Kumar, pendeta Kuil Shri Marriaman Binjai Bapak S.Siwa Kumar S.Sos selaku informan penulis yang telah berbaik hati mengijinkan untuk meneliti dan meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang skripsi ini, dan Rajiv Mohan selaku pemusik pada acara tersebut.
11. Sahabat teman seperjuangan semasa kuliah Farida Ros Simarmata, Herlina Maysarah Pasaribu, Cindi N Panjaitan, Desi Wahyuni op.Sunggu, Rigina Janet Sihombing, dan Eridianto Barus, selaku teman yang selalu ada dan membantu penulis.
12. Kak Iga, Noni Hutagalung dan Yosie Karnaen yang sudah selalu membantu menyemangati penulis dalam mengerjakan skripsi.
13. Kepada teman penulis Jeisaya Fransisco Surbakti. Yang telah menemani penulis di saat suka dan duka mengerjakan skripsi.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan dalam tulisan ini yang masih jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap tulisan ini dapat berguna dan menambah pengetahuan serta informasi baru bagi seluruh pembaca.
Medan,
Elizabeth Siahaan NIM 130707035
DAFTAR ISI LEMBAR
PENGESAHAN………i
ABSTRAKSI………ii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR GAMBAR...x
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang Masalah...1
1.2 Pokok Permasalah dan Batasan Masalah...7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian...8
1.3.1 Tujuan Penelitian...8
1.3.2 Manfaat penelitian...8
1.4 Konsep dan Kerangka Teori...8
1.4.1 Konsep...9
1.4.2 Teori...11
1.5 Metode Penelitian...12
1.5.1 Studi Kepustakaan...13
1.5.2 Penelitian Lapangan...13
1.5.3 Kerja Laboraturium...15
1.6 Lokasi Penelitian ...16
BAB II TINJAUAN UMUM MASYARAKAT HINDU TAMIL DI KOTA BINJAI...17
2.1 Asal Usul Orang Tamil...17
2.2 Sejarah Masuknya Masyarakat Tamil Di Kota Binjai...18
2.3 Letak Geografis Kota Binjai...23
2.4 Kebudayaan Masyarakat Tamil Di Kota Medan...25
2.4.1 Sistem Religi/Sistem Kepercayaan Masyarakat Tamil...26
2.4.2 Sistem Peralatan dan Teknologi...36
2.4.3 Sistem Keorganisasian dan Kemasyarakatan...39
2.4.4 Pengetahuan...40
2.4.5 Bahasa...43
2.4.6 Kesenian...47
2.5 Aspek Kesejarahan Kuil Shri Shivan Di Kota Medan...48
2.5.1 Peraturan Dalam Kuil...48
2.5.2 Larangan Dalam Kuil...48
BAB III DESKRIPSI UPACARA MAHA PUJA SHIVARATRI PADA MASYARAKAT HINDU TAMIL DI KUIL SHRI SHIVAN KOTA BINJAI....50
3.1 Norma/Adat Masyarakat Hindu Tamil...50
3.2 Karakteristik Upacara Maha Puja Shivaratri...50
3.3 Tempat Pelaksanaan Upacara...52
3.4 Latar Belakang dan Tujuan Pelaksanaan...53
3.5 Komponen Upacara...53
3.5.1SaatUpacara...53
3.5.2 Benda-Benda dan Bahan-Bahan Upacara...54
3.5.2.1 Benda-benda Yang Digunakan...54
3.5.2.2 Bahan-bahan Yang Digunakan...56
3.6PendukungAcara...57
3.6.1Pendeta/PemimpingUpacara...57
3.6.2Panitia...57
3.6.3Bhakta/Undangan...58
3.6.4Pemusik...58
3.7Kronologis Upacara Maha Puja Shivaratri...59.
3.8 Deskrisi Alat Musik Pada Upacara Maha Puja Shivaratrri...60
BAB IV TRANSKRPSI DAN ANALISIS...68
4.1 Proses Transkripsi...70
4.2 Pola Ritem...71
4.3 Tangga Nada...80
4.4 Wilayah Nada...80
4.5 Formula Melodi...81
BAB V PENUTUP...84
5.1 Kesimpulan...84
5.2 Saran...85 DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Kota Binjai...24
Gambar 2.2 Huruf Dalam Bahasa India...46
Gambar 2.3 Patung Siwa Pada Kuil Shri Shivan kota Binjai...53
Gambar 2.4 Pemain Musik dan Penyanyi...62
Gambar 2.5 Pemusik...63
Gambar 2.6 Akordeon...67
Gambar 2.7 Tamborin...68
Gambar 2.8 Tabla...69
Gambar 2.9 Pemandian Lingam dengan Air Susu...69
Gambar 3.0 Lingam...70
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Kebudayan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dengan manusia. Manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat. Hampir semua tindakan manusia itu adalah kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan merupakan kebudayaan. Tetapi tindakan yang demikian persentasi kecil. Tindakan yang merupakan kebudayaan dibiasakan melalu proses belajar (Ihromi, 2006:13). Kebudayaan memiliki beberapa unsur salah satunya adalah Kesenian, Kesenian adalah ekspresi yang wujudnya dalam bentuk ide (gagasan), kegiatan,maupun benda (Gultom, 1992:253).
Kesenian tumbuh dan berkembang dalam sebuah masyarakat tertentu karena memerlukan pemuasan akan rasa keindahan atau estetika. Kesenian dapat digunakan dan difungsikan dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat.
Sumatera Timur adalah wilayah yang ada di Pulau sumatera. Kawasan ini didiami oleh beberapa kelompok etnis yaitu Etnis Melayu, Batak Karo, dan Batak Simalungun. Kelompok etnis inilah yang dikenal sebagai penduduk asli Sumatera Timur. Masyarakat Melayu yang mendiami daerah pesisir pantai di Sumatera Timur (Langkat, Deli dan Serdang). Masyarakat Karo di Dataran Tinggi Karo dan
Pada pertengahan abad ke 19 Sumatera Timur merupakan daerah perkebunan tembakau terbesar di Hindia Belanda. Perkebunan Tembakau dibuka oleh Jacob Nienhuys seorang Belanda, dari perkebunan tembakau inilah nama Deli tidak lepas dari Sumatera Timur. Seiring dengan perkembangan perkebunan ini, tembakau menjadi produk yang paling menguntungkan di pasar Eropa, sehingga Deli menjadi termasyur di dunia sebagai kawasan produksi daun pembungkus cerutu. Jumlah perkebunan tembakau yang meningkat pesat membutuhkan banyak kuli, oleh sebab itu didatangkanlah bangsa lain yang juga berbeda etnis ke Sumatera Timur untuk dipekerjakan sebagai tenaga kerja di perkrbunan tersebut, tak hanya orang Cina saja tetapi juga orang India.
Kemasyuran tanah Deli sudah bersinar di Nusantara maupun luar negeri.
Wilayah Belanda yang paling berharga ternyata kerajaan-kerajaan Melayu yakni Langkat, Deli, Serdang, dan Asahan. Wilayah-wilayah ini telah membawa keuntungan besar bagi Belanda karena pertumbuhan perkebunan tembakaunya yang berhasil denga cepat. Berbagai aktivitas yang menyertai perkembangan perkebunan tersebut juga mempengaruhi kota-kota lain seperti kota Medan, Binjai (Langkat), Tebing Tinggi (Deli Serdang), Pematang Siantar (Simalungun), Rantau Perapat (Labuhan Batu) dan lain-lain (Mahyudin, 2014:6)
Salah satu yang menarik dari kota-kota ini adalah Kota Binjai. Kota Binjai adalah salah satu kota yang berada diwilayah provinsi Sumatera Timur yang mengalami perkembangan perkebunan tersebut. Pada masa pemerintaha Belanda, Kota Binjai merupakan tempat kedudukan residen KabupatenLangkat yang masi
berstatus kerajaan dan Langkat merupakan salah satu wilayah yang paling berharga bagi Belanda. Seiring dengan perkembangan perkebunan di sekitar Binjai penduduk Kota Binjai semakin meningkat. Ini menjadikan kota Binjai sebagai kota yang menarik bsnyak para pendatang. Banyak nya pendatang dari luar daerah menjadikan kota ini sebagai kota heterogen yang multietnis. Selain penduduk daerah setempat yang beretnis Melayu, etnis lainnya adalah Jawa, dan Karo. Penduduk yang dating dari luar wilayah nusantara adalah bangsa Cina dan bangsa Inida. Khususnya Etnis Tamil.
Etnis Tamil adalah salah satu etnis pendatang di Sumatera Timur. Etnis Tamil didatangkan oleh penguasa perkebunan dari India Selatan ke Sumatera Timur untuk menjadi tenaga kerja di Perkebunan Tembakau. Para pendatang ini tidak hnaya sebagai buruh, tetapi ada juga yang mapan. Mereka yang mempunyai pendidikan dan keterampilan dapat memperoleh pekerjaan yang baik menjadi pegawai di kantor perkebunan dan juga tukang masak pada istana-istana sultan.
Dari banyaknya Kota di wilayah Sumatera Timur yang didiami oleh etnis Tamil, salah satu kota yang menjadi tempat kelompok etnis Tamil menetap adalah Kota Binjai. Sebagaimana layaknya suatu kelompok masyarakat pendatang, mereka masih terikat dengan agama maupun kebudayaan negeri asalnya. Demikianjuga masyarakat tamil yang berdiam dikawasan kota Binjai dan tempat-tempat lainnya.
Sesuai dengan kecenderungan manusia, penduduk Binjai umumnya memilih untuk hidup berdampingan atau berkumpul didalam lingkungan kelompok yang “searah”
dengannya. Pengertian searah disini dapat berdasarkan etnis, ideology, cultural, ke;as
sosial, dan lain-lain. Pertimbangan yang searah ini tentunya sebagai upaya proses adaptasi, keamanan maupun untuk menghindari konflik antara mereka.
Keberadaan etnis Tamil di Binjai dapat dlihat dari bangunan kuil yang ada di kotaini. Kota Binjai memiliki dua kuil tempat orang India (etnis Tamil) beribadah.
Yang pertama yaitu Kuil Shri Mariamman Binjai yang berdiri pada tahun 1880 berada di Jalan Ahmad Yani dan Kuil Shri Shivan yang berada dijalan Kuil.
Keberadaan kuil ini bukan hanya sekedar tempat beribadah tetapi juga sarana bagi mereka untuk melakukan komunikasi dan tempat berkumpul mereka sebagai sesame pendatang. Kediaman Etnis Tamil juga bisa dilihat dari kehidupan mereka yang berkelompok-kelompok dan adaptasi mereka dengan etnis-etnis lainnya di Kota Binjai. Seperti di Kampung Tamil Kelurahan Timbang Langkat, Kelurahan Mencirim, kelurahan Kartini dan lain-lain.
Seperti diketahui bahwa kota Binjai dihuni oleh banyak etnis, diantaranya adalah Etnis Melayu, Batak Toba, Mandailing, Batak Karo, Simalungun, Nias, Jawa, Aceh, Tionghoa dan Tamil. Masing-masing kelompok etnis ini memiliki keyakina dan kebudayaan yang berbeda-beda. Untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar Kota Binjai, Etnis Tamil berbaur dengsn etnis-etnis yang lainnya melalui Interaksi Sosial, Budaya dan Ekonomi. Salah satunya adalah komunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan kegiatan Ekonomi yang dilakukan kebanyakan adalah berdagang.
Pada tanggal 3 Januari 1946 Departemen Agama Republik Indonesia berdiri yang berfungsi sebagai salah satu bentuk jaminan pelaksanaan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945. Adanya struktur organisasi Departemen Agama. Dalam ajaran agama umat Hindu terdapat 19 para dewa dan 3 dewa khusus agama Hindu yang disebut dengan Trimurti yakni Brahma, Wisnu, Syiwa untuk dipuja dan disembah.
Pembangunan Kuil Shri Shivan dibangun sejak 1984, oleh walikota Binjai H M Idaham, SH, M Si, meresmikan Shri Shivan Kuil Binjai di Kelurahan Timbang Langkat kecamatan Binjai Timur, Sabtu (14/9). Walikota mengucapkan apresiasi dan bangga kepada umat Hindu Etnis Tamil yang telah berhasil membangun kuil dengan semangat kebersamaan. Ini membuktikan tingginya rasa kebersamaan, solidaritas dan toleransi antar umat beragama di Kota Binjai. Dijelaskannya, Kota Binjai dihuni oleh multi kultural dengan berbagai suku, etnis, dan agama. Dengan keberagaman ini, potensi besar untuk memajukan kota kian terbuka. Walikota juga mengajak umat Hindu untuk menjaga kesucian kuil dan sekaligus memeliharanya.
Masyarakat Hindu Tamil memiliki keyakinan sendiri dan upacara ritual.
Keyakinan sendiri pada agama Hindu Tamil berupa Panca Sradha yang berarti 5 keyakinan yakni (1) Percaya dengan adanya Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), (2) Percaya adanya Atman (Roh), (3) Percaya adanya hokum karma, (4) Percaya terhadap adanya Samsara (adanya kehidupan kembali atau reinkarnasi), dan
(5 )Moksa Percaya terhadap adanya kebahagiaan rohani yaitu menyatunya Atman dan Samsara, yang dapat dikatakan juga sebuah kesempurnaan akhir.
Dalam melakukan ibadah, umat Hindu Tamil melakukan ritual sembahyang, sembahyang berasal dari kata “sembah” dan “hyang”, artinya menyembah atau memuja hyang. Sebelum ibadah dimulai para pendeta melakukan ritual-ritual agar disaat ibadah akan dimulai, masyarakat Tamil dapat meminta doa dan berkat dari para pendeta untuk di tujukan kepada dewa-dewa leluhur umat Hindu Tamil tersebut . dalam melalukan upacara ibadah, masyarakat Hindu menyayikan lagu puji-pujian dan di iringi dengan dengan berbagai alat music Hindu, lagu pujian yang sering dimainkan oleh masyarakat Hindu Tamil disebut Bhajan.
Bhajan (lagu-lagu kerohanian) adalah suatu proses bernyanyi yang bersumber dari dalam hati, bukannya dari mulut maupun lidah. Setiap lagu yang dinyanyikan bentuk kemalasan, sebagai pujian kepada Tuhan dapat diibaratkan seperti sebilah pedang yang memotong habis setiap nyanyian kidung-kidung suci yang didalam nya mengandung lirik-lirik yang mengagungkan nama-nama Tuhan, Bhajan melambangkan persembahan bakti atau nyanyian dengan hati tulus.
Ada beberapa upacara ritual di dalam masyarakat Tamil, seperti Niscchayam yaitu upacara melamar, parisam yaitu upacara tunangan, thirumanam yaitu upacara perkawinan, walai Kappu upacara pada wanita yang usia kehamilan nya 7-9 bulan.
Alat musik yang digunakan untuk upacara tersebut seperti tabla, tamborin, sange, dan manjira yang dibawakan secara langsung dan tidak menggunakan rekaman audio.
Musik bhajan sangat memiliki peran penting dalam setiap upacara umat Tamil sendiri. Lirik dalam nyanyian adalah sebuah cerita yang adalah pujian kepada Dewa yang diambil dari Kitab Suci Veda.
Adapun aspek utama yang akan penulis bagikan didalam penulisan ini adalah bagaimana upacara Maha Puja Shivaratri dan musik penyajian nya pada masyarakat Hindu Tamil Kota Binjai. Penulis mengangkat penelitian ini menjadi sebuah tulisan ilmiah dan akan menjabarkan lebih lengkap lagi kedalam tulisan dengan judul :
“DESKRIPTIF MUSIK DALAM KONTEKS UPACARA MAHA PUJA SHIVARATRI PADA MASYARAKAT HINDU TAMIL DI KUIL SHRI SHIVAN KOTA BINJAI”.
1.2 Pokok Permasalahan
Setelah mengkaji dan melihat langsung upacara yang di lakukan,maka penulis menentukan dua pokok masalah pembahasan. Adapun pokok permasalahan yang akan di bahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana deskripsi upacara Maha Puja Shivaratri pada masyarakat Hindu Tamil di kuil Shri Shivan binjai?
2. Bagaimana struktur penyajian musik dalam ritual upacara Maha Puja Shivaratri di Kuil Shri Sivan Binjai?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Melalui penyusunan skripsi ini, penulis menentukan tujuan dan memperoleh manfaat penelitian, sesuai dengan latar belakang dan pokok permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya:
1.3.1 Tujuan Peneitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan upacara Maha Puja Shivaratri pada masyarakat Hindu Tamil.
2. Untuk mendeskripsikan musik dalam upacara Maha Puja Shivaratri di kuil Shri Shivan Binjai.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1. Sebagai dokumen kebudayaan Suku Tamil di Kota Binjai dan secara khusus memotivasi generasi muda Suku Tamil Kota Binjai.
2. Sebagai bahan referensi untuk bahan penelitian selanjutnya.
3. Memperluas pengetahuan dan wawancara penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama masa studi jurusan Etnomusikologi.
4. Untuk memenugi syarat menyelesaikan studi S1 pada Program Studi Etnomusikologi, FIB USU.
1.4 Konsep dan Teori
Melalui konsep dan teori, penulis diarahkan dan difokuskan untuk memperoleh gambaran tentang objek penelitian dan memecahkan pokok permasalahan yang telah di tentukan. Selain itu, konsep dan teori juga berfungsi
sebagai pedoman dan dasar untuk mencari dam melengkapi data-data yang di butuhkan.
1.4.1 Konsep
Menurut Soedjadi (2000:14) konsep memiliki pengertian yaitu sebuah ide abstrak yang memungkinkan dapat digunakan untuk keperluan klasifikasi atau penggolongan yang secara umum bisa dituangkan pada suatu istilah atau rangkaian kata (lambing bahasa). Sedangkan koenjaraningrat (2009:85) mengatakan bahwa konsep meupakan penggabungan dan perbandingan bagian-bagian dari suatu penggambaran dengan bagian-bagian dari berbagai penggambaran lain yang sejenis, berdasarkan asas-asas tertentu secara konsisten. Maka dari itu penulis akan memaparkan beberapa konsep yang berhubungan dengan tulisan ini.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pengertian Seni Musik adalah ilmu atau seni yang menyusun nada atau suara ke dalam urutan, kombinasi dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi atau susunan yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.
Musik dalam Oxford Universal Disctionary third Edition (Meriam 1964:27) didefenisikan sebagai berikut: “that one of the fine arts which is concerned with the combination of sounds with a view to beauty of form and the expression of thought of feeling”. Artinya secara harafiah salah satu bagian seni murni yang meliputi kombinasi bunyi-bunyian dengan suatu pandangan dalam memperindah bentuk dan ekspresi hasil pemikiran perasaan. Dalam pengertian diatas musik dapat di artikan
adalah suatu hal yang berkaitan dengan hasil pikiran dan perasaan dimana mengandung kombinasi bunyi-bunyian (ritme, melodi, harmoni, dan warna) dan berbagai ide serta emosi.
Ibadat atau sering disebut dengan kata Ibadah yang diambil dari bahasa Arab, yang artinya adalah: (1) Perbuatan atau pernyataan bakti terhadap Allah atau Tuhan ysng didasari oleh peraturan Agama. (2) Segala usaha yang lahir dari batin sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluk nya. (3) Upacara yang berhubungan dengan agama.
Upacara adat merupakan keperluan simbolis manusia yang mengharapkan keselamatan. Upacara adat itu sendiri merupakan rangkaian tindakan yang ditata oleh adat yang berlaku yang berhubungan dengan berbagai peristiwa (Subagyo,1981;116).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Ibadah adalah upacara yang dilakukan oleh suatu umat untuk memuja Tuhan-Nya (Masyarakat Hindu Tamil).
Kegiatan ibadah yang dilakukan oleh Agama Hindu juga bersifat bersifat upacara yang dilakukan untuk memuja Tuhan.
Upacara Maha Puja Shivaratri merupakan festival Hindu yang dirayakan setiap tahun untuk menghormati Dewa “siwa”. Nama itu juga merujuk pada malam ketika siwa melakukan tarian surgawi. Ada Shivaratri disetiap bulan luni-solar dari kalender Hindu, pada malam ke 13 bulan/ 14 hari, terjadi setahun sekali, pada musim dingin di bulan (februari/ maret,atau phalgun) dan sebelum musim panas, menandai Maha Shivaratri yang berarti “Malam Hebat Siwa”.
1.4.2 Teori
Teori merupakan hal pokok dan alat yang terpenting dari suatu pengetahuan.
Tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang rangkaian fakta saja,tetapi tidak ada nada ilmu pengetahuan (Koentjaraningrat, 1973:10). Maka dari itu penulis menggunakan pedoman dari beberapa teori yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Untuk mendeskripsikan ritual upacara Maha Puja Shivaratri pada masyarakat Hindu Tamil di Kuil Shri Shivan Binjai, penulis menggunakan teori Koentjaraningrat(1985:168) bahwa upacara keagamaan terbagi atas 4 komponen, yaitu : (a) Tempat upacara (b) Saat upacara (c) Benda-benda upacara, (d) Orang yang melakukan dan memimpin upacara.
Untuk mengetahui penyajian musik dalam upacara Maha Puja Shivaratri seperti tamborin, tabla, sange, yang digunakan dalam mengiringi upacara tersebut sehingga penulis mendengarkan berulangkali terhadap rekaman musik guna proses transkripsi adalah penulis berpedoman menggunakan teori Bruno Nettl (1964: 98) yang memberikan dua pendekatan 1. Kita dapat menguraikan dan menganalisis apa yang kita dengar, 2. Kita dapat menulis apa yang kita dengar tersebut keatas kertas dan kita dapat mendeskripsikan apa yang kita lihat tersebut. Dalam notasi musik, penulis mengacu kepada tulisan Charles Seeger, (1971:24-34), yang mengemukakan bahwa ada dua jenis notasi yang dibedakan menurut notasi tersebut:
Pertama adalah notasi preskriptif, yaitu notasi untuk seorang penyaji (bagaimana ia harus menyajikan sebuah komposisi musik), selanjutnya, dikatakan notasi ini merupakan pedoman tentang bagaimana musik tertentu itu dapat
diwujudkan oleh pemain musik. Kedua adalah notasi deskriptif, yaitu suatu laporan yang disertai notasi secara lengkap tentang bagaimana sebenarnya suatu musikal dalam suatu pertunjukkan diwujudkan. Transkripsi ini digunakan untuk analisis.
Untuk pendekatan analisis, penulis menggunakan dan membuat transkripsi yang deskriptif.
1.5 Metode Penelitian
Menurut Koentjaraningrat (2009:35), metode ilmiah dari sutau pengetahuan merupakan segala cara yang digunakan dalam ilmu tersebut, untuk mencapai suatu kesatuan. Sedangkan penelitian diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoelh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran (Mardalis 2006:24).
Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan metode pendekatan kualitatif yang menggunakan kualitas data. Data yang disajikan dalam bentuk kata- kata atau kalimat dan datanya adalah sekunder seperti dokumen dan dalam penelitian-penelitian yang menggunakan metode pengamatan terlibat atau perticipant observation (M. Sitorus 2003).
Menurut Nettl (1964: 62-64) yaitu terdapat dua hal yang sangat esensial untuk melakukan aktivitas penelitian dalam disiplin ilmu Etnomusikologi yaitu kerja lapangan (field work) dan kerja laboratorium (desk work). Kerja lapangan mencakup pengamatan awal, dokumentasi foto, audio atau audiovisual. Selain itu juga
mencakup wawancara dengan rekaman para informan. Dalam penelitian laboratorium termasuk menganalis data, transkripsi bunyi musik, dan selanjutnya pada tahap akhir yaitu penulisan laporan penelitian yang berbentuk skripsi.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Dalam tahapan ini penulis mencari, mempelajari, dan menggunakan litelatur- literatur yang berhubungan dan dapat membantu pemecahan permasalahan. Dari hasil kepustakaan yang dilakukan penelitian dalam tata cara ibadah bhajan pada hari Jumat di Kuil Shri Shivan Binjai,dalam hubungan ini dengan alat musik Tabla, sange, Tamborin masih sulit didapat.
Tujuan dari studi kepustakaan ini adalah untuk mendapatkan konsep- konsep, teori, serta informasi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembahasan atau penelitian, dan menambah wawasan penulis tentang kebudayaan masyarakat Tamil yang diteliti yang berhubungan dengan kepentingan pembahasan atau penelitian.
1.5.2 Penelitian Lapangan
Sebagai acuan untuk pengumpulan data dilapangan, penulis berpedoman kepada tulisan Harsja W. Bachtiar dan koentjaraningrat dala buku metode-metode penelitian masyarakat. Dalam bku ini tersebut dikatakan, bahwa pengumpulan data dilakukan melalui kerja lapangan (field work) dengan menggunakan:
1. Observasi (pengamatan)
Dalam hal ini penulis mengadakan pengamatan langsung, hal ini sesuai dengan pendapat Harsja W. Bachtiar (1990: 114-115) bahwa seseorang peneliti dalam mendapatkan data-data dilapangan, maka pengamat menghadapi persoalan bagaimana cara mengumpulkan keterangan yang diperlukan tanpa harus bersembunyi,akan tetapi tidak mengakibatkan perubahan oleh kehadiran pengamat pada saat kegiatan-kegiatan yang akan diamatinya.sarana yang dipergunakan, pelaku upacara, dan masalah- masalah lainnya yang relevan dengan pokok permasalahan dalam pengamatan, penulis juga melakukan pencatatan data-data dilapangan sebagai laporan hasil pengamatan penulis.
2. Wawancara
Wawancara untuk memperoleh keterangan atau tujuan penelitian yang dilakukan dengan cara Tanya jawab sambil bertatapan muka antara penulis dan narasumber atau reponden dengan menggunakan alat ynag dinamakan interview guide atau panduan wawancara (Moh. Nazir, 1988: 234). Wawancara juga tidak hanya dilakukan dengan hanya 1 narasumber saja, akan tetapi kepada beberapa orang yang berpengaruh seperti,pendeta, pemain music, dan masyarakat Hindu Tamil guna mendapatkan “koherensi” informasi.
Dengan melakukan wawancara yang menjadi informan kunci yang diteliti adalah musik Bhajan dengan musik pengiringnya yang digabungan dengan beberapa penyanyi. Inforamsi penelitian ini tidak hanya terpaku pada pencarian data dari
informan yang menjadi pelaku (musisi) saja, namun juga akan mempunyai keterkaitan dengan pihak lain diluar dari pemain musik itu sendiri.
3. Perekaman
Perekaman dilakukan setelah penulis melakukan observasi, wawancara, atau pada setiap kegiatan dilakukan ketika penulis melakukan penelitian. Dalam hal ini penulis melakukan perekaman audio dengan menggunakan kamera DSLR NIKKON dan dalam melakukan pengambilan gambar sebagai dokumentasi digunakan kamera dari handphone dan kamera DSLR NIKKON. Pengambilan gambar dan perekaman dilakukan setelah mendapat ijin dari pihak pelaksana atau panitia.
1.5.3 Kerja Laboratorium
Didalam pengerjaan laboratorium, penulis melakukan pengumpulam seluruh data-data yang telah dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara, dan perekaman atau dokumentasi. Penulis juga akan melakukan pentranskripsian dan selanjutnya dianalisa dengan penyusunan yang sistematis dengan mengikuti kerangka penulisan.
Pada proses pentranskripsian, penulis, penulis menggunakan symbol-simbol yang sederhana sehingga dapat dipahami pembaca dan dapat mewakili bunyi tersebut.
Setelah penulis melakukan kerja laboratorium,penulis membuatnya kedalam proses sebuah ilmiah yang berbentuk skripsi sesuai dengan aturan penulisan sebuah karya ilmiah yang sesuai dengan disiplin ilmu Etnomusikologi. Apabila data yang
diperlukan masih kurang lengkap, maka penulis akan melengkapinya dengan menemui informan kunci atau informan lain dan hal ini dilakukan berulang-ulang.
1.6 Lokasi Penelitian
Adapun yang menjadi lokasi peenelitian penulis tentang tulisan ini adalah di Kuil Shri Shivan, jalan Kuil, Timbang Langkat, kec. Binjai Timur, Kota Binjai.
Peneliti tertarik ingin mengetahui sejarah adaptasi etnis Tamil dengan masyarakat di Kota Binjai, tata cara upacara masyarakat Tamil, dan upacara apa saja yang ada.
Dengan ini penulis ingin masyarakat tahu dan mengenal lebih dalam lagi bagaimana upacara pada masyarakat Hindu Tamil di Kota Binjai.
BAB II
TINJAUAN UMUM NASYARAKAT HINDU TAMIL DI KOTA BINJAI 2.1 Asal Usul Orang Tamil
Menurut makrishan dalam Edwin (1995:15-16) bahwa orang Tamil merupakan rumpun bangsa Dravida. Menurut S. Ra dengan sebutan “orang Keling”.
Kata “Keling” sendiri berasal dari bahasa Sanskrit yaitu Kalingga yang mengarah kepada sebuah daerah di India bagian selatan. Disebutkan bahwa bangsa Dravida mendiami negeri kira-kira 1000 tahun sebelum Masehi. Menurut (N. Daldjoeni, 1991) bahwa kulit mereka berwarna gelap (hitam), kemudian kurang lebih 3500 tahun yang lalu negeri ini kedatangan bangsa dari Persia yaitu Aria. Dari adanya ras berkulit putih (Aria) dan berkulit hitam (Dravida) maka penduduk India adalah hasil percampuran keduanya. Warna kulit menjadi pedoman dasar dari penggolongan masyarakat yang disebut Kasta. Masyarakat India yang memiliki kasta yang tertinggi dan masyarakat yang memiliki warna kulit yang gelap merupakan masyarakat yang memiliki kasta yang rendah.
Dalam penggolongan masyarakat (kasta) tersebut, ada tiga pendapat mengenai bangsa-bangsa berkulit hitam tersebut yang sulit dimasukkan kedalam klasifikasi ras umat manusia (N. Daljoeni,1991:131-132), yaitu:
1. Pada mereka tidak terdapat cirri-ciri bangsa negro, mereka juga tidak dapat digolongkan kedalam ras campuran seperti yang orang di Amerika, disebutkan kaum Mulat (campurab ras putih dan hitam)
2. Mereka juga tidak dapat digolongkan kedalam bangsa Negro yakni bangsa kerdil berkulit seperti yang tersebar di Filipina dan Indonesia Utara. Namun ada kemiripan dengan Negrito, yakni selain pendek posturnya, hidung, pipi dan rambut sangat keriting.
3. Adapun bagian ketiga dan terpenting yaitu banyak di antara mereka mirip dengan bangsa Aborigin di benua Ausralia.
Pada masa sekarang ada empat Negara bagian di india Selatan yang termasuk kedalam rumpun bangsa Dravida. Keempat Negara bahagian tersebut memiliki sistem budaya termasuk bahasa dan aksara yang berbeda-beda kecuali agama. Keempat Negara bahagian tersebut adalah:
1. Tamil Nadu, bahasa yang dipakai adalah bahasa Tamil.
2. Andhara Pradesh, yang di pakai adalah bahasa Telegu.
3. Karnataka, yang dipakai adalah bahasa Kannada atau Kanarese.
4. Kerala, bahasa yang dipakai adalah Malayalam.
2.2 Sejarah Masuknya Masyarakat Tamil di Kota Binjai dan Sekitarnya Binjai Datangnya etnik Tamil dalam jumlah yang cukup besar, yang hingga sekarang menetap dan membentuk suatu komunitas diberbagai wilayah Sumatera timur dan khususnya di Kota Medan, baru terjadi sejak pertengahan abad ke 19 yaitu sejak dibukanya industri perkebunan di tanah Deli. Namun berdasarkan penemuan arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret dari Ecole Francaise d Extreme-Orient
(EFEO) membuktikan pada abad ke 8 sampai ke 12 di Lobu Tua, Barus1 telah terdapat perkampungan multi etnik terdiri dari etnik Tamil, Cina, Arab dasn sebagainya.
Pada situs Lobu Tua juga ditemukan prasasti dengan tulisan Tamil oleh pejabat Belanda GJJ Deatz tahun 1872. setelah diterjemahkan oleh Prof. Dr. KA Nilakanda dari Universitas Madras India pada tahun 1931. menurutnya batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil di India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang etnik Tamil sebanyak 1500 orang di Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan aturan perdagangan dan ketentuan lainnya. Prasasti Lobu Tua itu berisi tentang aktivitas perdagangan kumpulan
Tamil yang dikenal dengan nama “Mupakat Dewa 1500”. Anggotanya terdiri dari berbagai aliran Brahmana, Wisnu, Mulabhadra dan lain-lain.
Semakin memperkuat bahwa etnik Tamil telah lama masuk ke Sumatera Utara. Lobu Tua ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke 12. Sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.
Komunitas multi etnik ini kemudian bergeser ke daerah lainnya di Sumatera Utara.
Tengku Luckman Sinar yang menulis buku “Orang India di Sumatera Utara” (2008) menyebutkan bahwa bersama para pedagang tersebut turut serta pula seniman- seniman pengukir yang mahir mengukir prasasti dan pendeta Hindu, dan terjadi perkawinan dengan wanita-wanita batak. Menurut Hikayat di Sianjur Mula-Mula
diciptakan aksara Batak yang berasal dari pengaruh aksara Sanksekerta. Oleh DATU TALA DIBABANA marga Borbor, seperti pada nama-nama hari. Sebagai contoh soma=suma di toba, brhaspati=boraspati, Wisnu=Bisnu, Brahma=Borma, dan lain- lain.
Pada etnik Karo terdapat marga (Maha, Meliala, Brahmana, Depari, Pandia, Colia, Pelawi, dan lain-lain) semua masuk dalam grup Sembiring yang secara fisik sama dengan etnik Tamil, juga terdapat dalam upacara adat misalnya “Pekualuh”
(Menghanyutkan abu jenazah di sungai).Ternyata masih ada terdapat sisa-sisa kepercayaan etnik Tamil itu pada mereka (Sinar, 2008). Pada kedatangannya sekitar abad ke 18 dan awal abad ke 19 etnik Tamil kemudian menyebar di beberapa daerah di Sumatera Utara antara lain Binjai, Sejarah kedatangan etnis Tamil, adaptasi dan identitas etnis Tamil di Kota Binjai. Sejarah etnis Tamil di Kota Binjai tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang dibuka pada abad ke-19 di Sumatera Timur oleh kolonial Belanda yaitu Jacobus Nienhuys pada tahun 1863 di Deli. Pada masa pemerintahan Belanda, Kota Binjai masih dalam keresidenan Langkat dan menjadi lahan perkebunan. Melihat adanya Kuil Shri Mariamman dan Shri shivan Koil, maka keberadaan etnis Tamil di Kota Binjai sudah cukup berkembang. Kuil Shri Mariamman Kota Binjai berdiri pada tahun 1880 menjadi bukti sejarah yang menyatakan bahwa etnis Tamil sudah berada di Kota Binjai sebelum tahun 1880.
Beberapa tempat yang banyak didiami oleh etnis Tamil yaitu di Kelurahan Timbang Langkat, Kelurahan Mencirim, dan Kelurahan Kartini. Sebagai sebuah kelompok etnis, Tamil juga melakukan adaptasi di lingkungan sekitar mereka. Sesuai dengan
perkembangan zaman yang semakin modern, perubahan-perubahan terjadi di bidang sosial, budaya dan ekonomi pada etnis Tamil di Kota Binjai disebabkan adanya proses adaptasi. Mengenai identitas etnis Tamil di Kota Binjai, mereka lebih suka dan merasa lebih tepat dengan sebutan “Orang India Tamil”, “Hindu Tamil” ataupun
“Orang Tamil”. Penyebutan ini lebih sering digunakan karena langsung mengarah pada identitas budaya mereka sebagai etnis Tamil dan sebagai orang India. Mereka juga sudah menyebut dirinya sebagai orang Binjai karena lahir dan besar di Kota Binjai.
Etnik Tamil termasuk bangsa Dravida dari India bagian Selatan. Masyarakat umum menyebutnya dengan sebutan “orang keling”. Istilah ini berawal dari kerajaan Kalingga. Ketika buruh-buruh Tamil dipekerjakan di perkebunan Sumatera Utara ditanya tentang asal daerahnya. Mereka hanya menjawab nama kerajaan dimana rajanya dari India yaitu Kalingga. Akan tetapi karena lidah orang Belanda sulit untuk mengucapkan Kalingga, maka terucap Kalinggen dan oleh masyarakat pribumi yang menginginkan kemudahan atau menyingkatnya yang kemudian mengucapkannya dengan sebutan keling.
Kata “Keling” bila dilihat dari sejarah merujuk kepada Benua Keling yang kini bernama India. Sebagaimana pula yang disebut dalam sejarah Melayu dan hikayat Hang Tuah mengenai pelayaran ke benua Keling, Kampung Keling dan lain- lain. Sebutan “Keling “ ini kemudian menjadi lazim diseluruh tanah Melayu. Versi lain (pengakuan informan lapangan) mengatakan bahwa sebutan orang keling dimulai ketika seorang buruh perkebunan dari etnik Tamil membunuh seorang Belanda,
karena peristiwa tersebut maka orang Belanda menyebut orang Tamil dengan sebutan
“Killing man” yang akhirnya berubah menjadi “Keling”.
Penggunaan sebutan “ Keling “ ini pernah ditujukan kepada semua orang- orang Tamil yang berasal dari India. Namun penggunaan sebutan ini perlahan berubah. Di beberapa negara seperti Malaysia dan Indonesia, istilah ini sering dianggap suatu kata makian yang digunakan dengan hati-hati. Kemungkinan perubahan itu disebabkan oleh orang Tamil sendiri yang memandang rendah mereka yang berasal dari India bagian Selatan. Mereka tidak mau dikaitkan dengan panggilan “Keling”. Kemungkinan lain adalah dari sejarah, bahwa kebanyakan pendatang dari India yang awalnya bekerja di ladang yang kemudian dikenal sebagai
“Orang Keling” adalah mereka yang suka mabuk-mabukkan, dan membuat keributan pada perkebunan-perkebunan tempat mereka dipekerjakan.
Oleh karena itu, apabila mereka mencapai taraf ekonomi yang lebih tinggi, mereka akan menjauhkan diri dari sebutan yang memiliki stigma atau anggapan negatif yang berarti kelas bawahan, pemabuk, hina dan kotor. Istilah keling ini hanya ditujukan kepada etnik Tamil yang berkulit hitam. Sehingga panggilan ini apabila disebutkan maka etnik Tamil merasa diejek atau terhina yang lama kelamaan menjadi label negatif bagi etnik Tamil itu sendiri.
Bebagai versi muncul dari masyarakat yang memberi sebutan bagi etnik Tamil tersebut seperti adanya stigma bahwa ada duit tidur di parit dan tidak ada duit tidur di rumah. Hal tersebut yang membuat etnik Tamil merasa di lecehkan karena etnik Tamil di konotasikan sebagai pemabuk dan selalu membuat keonaran atau keributan.
Namun bagi masyarakat Tamil sendiri sebutan orang Tamil dianggap lebih tepat.
Alasannya karena sebutan itu langsung mengarah pada identitas budaya mereka sebagai etnik Tamil. Merujuk pada konseptual mengenai istilah etnik Tamil yang dikenal dengan sebutan Keling, penulis beranggapan bahwa kata Keling berasal dari kata Kalingga yang mengalami keausan bahasa dalam konteks antropologi linguistik.
1.3 Letak Geografis Kota Binjai
Binjai adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22km disebelah barat ibu kota provinsi Sumatera Utara, Medan. Sebelum berstatus kota Madya, Binjai merupakan salahsatu daerah dalam proyek pembangunan Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan Deli Serdang.Kota Binjai secara geografis terletak pada posisi 3 31' 40” – 3 40' 2” Lintang Utara dan 98 27' 3” - 98 32' 32”
Bujur Timur dan terletak 28 m di atas permukaan laut. Sebenarnya Binjai hanya berjarak 28 km dari Medan bila di hitung dari perbatasan diantara kedua wilayah yang dipisahkan oleh kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada didalam wilayah kota Medan, km 10 sampai km 17 berada dalam wilayah kota Binjai.
Gambar 2.1 peta kota Binjai
Kota Binjai memiliki luas wilayah sekitar 9.023,62 Ha, terdiri dari 5 kecamatan dan 37 kelurahan. Kota di pimpin oleh walikota yang sekarang bernama H. Muhammad Idaham, S.H., M.Si.
Tabel Jumlah Rumah Ibadah Menurut Kelurahan di Kecamatan Binjai Timur.
No Kelurahan Masjid Mushola Gereja Kuil Vihara
1 Mencirim 5 9 1 - -
2 Tunggurono 5 5 6 - -
3 Dataran Tinggi 3 3 - - -
4 Timbang Langkat 3 3 7 1 -
5 Tanah Tinggi 4 7 3 - -
6 Sumber Mulyorejo 7 5 3 - -
7 Sumber Karya 6 7 1 - -
Jumlah 33 39 21 1 -
Sumber: Kecamatan Binjai Timur
2.4 Kebudayaan Masyarakat Tamil Di kota Binjai
Menurut C. Kluckhohn dalam buku yang berjudul Universal Categories of Culture yang di kutip oleh Koentjaraningrat (1990:50) ada 7 unsur kebudayaan universal (culture universal) yang terdapat pada setiap kebudayaan di muka bumi, yaitu terkait dengan kebudayaan masyarakat Tamil di Kota Binjai:
1. Sistem Religi /sistem Kepercayaan, 2. Sistem Mata Pencaharian,
3. Sistem Pengetahuan / Pendidikan, 4. Sistem Peralatan dan Teknologi, 5. Sistem Organisasi Kemasyarakatan, 6. Bahasa dan
7. Kesenian.
Kebudayaan masyarakat Tamil di Kota Binjai akan dijelaskan dalam beberapa penjelasan yang hanya terkait saja dalam penjelasan di atas pada sub bab berikut
2.4.1 Sistem Religi / Sistem Kepercayaan Mayarakat Tamil
pada umumnya etnik tamil banyak menganut agama Hindu.Pelaksanaan ibadah dilakukan setiap hari senin di kuil. Biasanya mereka masing-masing ke kuil terdekat untuk melaksanakan ibadahnya, pelaksanaan ibadah juga harus dilakukan setiap hari di rumah masing-masing. Untuk itu mereka harus menyediakan sebuah ruangan khusus, paling tidak harus disediakan sebuah peti sembahyang yang berbentuk seperti rumah kecil. Peti sembahyang ini mereka namakan sami kumberte.
Ruangan atau sami kumberte itu dianggap suci, dengan demikian tempat tersebut harus terhindar dari sesuatu yang tidak suci, misalnya orang yang sedang haid atau orang yang belum membersihkan diri setelah melakukan hubungan suami istri. Orang-orang yang masih dalam keadaan kotor tersebut dilarang masuk ke ruangan atau tempat sembahyang tersebut. Untuk itulah orang tamil selalu menyediakan sebuah ruangan khusus, kalaupun hanya sebuah peti, maka peti itu harus diletakkan di ruangan tidur anak-anak.
Ruangan sembahyang atau sami kumberte biasanya dilengkapi oleh peralatan- peralatan sembahyang seperti : sudo yaitu semacam wangi-wangian yang mirip seperti kapur barus, tua kale yaitu mangkok tempat meletakkan bunga melati, kamachi walke yaitu lampu, keno yaitu mangkok tempat air, dan lakshmi yaitu sebuah gambar dewa yang diyakini. Pelaksanaan sembahyang di setiap rumah biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari, dan sembahyang ini selalu dikerjakan oleh setiap orang.
Ajaran hindu mengenal 5 kepercayaan (keimanan) yang disebut panca sradha, yaitu :
1. Keyakinan tentang (Brahman) Tuhan Yang Maha Esa ialah Ia yang berkuasa atas segala yang ada di dalam semesta ini. Tidak ada apapun yang luput dari kuasannya. Sang Hyang Widhi Wasa yang terdapat dalam kitab suci Rg Veda disebutkan: “Ekam sat vipra bahudha vadanti” yang artinya “Ia hanya tunggal, para bijaksanawan menyebutnya dengan banyak nama”.
2. Keyakinan tentang Atman (roh leluhur) yang menjadikan adanya hidup disebut “Atman”. Atman itu adalah percikan kecil dari Paramatma, atma yang tertinggi (Brahman). Bila Atman meninggalkan badan, maka makhluk itu mati. Alat-alat tubuh pun hancur kembali pada asalnya. Atman yang menghidupi badan disebut Jiwatma. Jiwatma dapat dipengaruhi oleh karma, hasil dari perbutan selama hidup di dunia ini karena itu Atman tidak akan selalu kembali ke asalnya (Paramatma). Menurut ajaran agama Hindu Jiwatma seseorang yang meninggal dapat mencapai sorga atau jatuh kealam neraka. Orang-orang yang berbuat baik di dunia menuju sorga, dan yang berbuat buruk jatuh ke neraka.
3. Percaya terhadap adanya Karmaphala, apapun yang dibuat manusia membawa akibat. Akibat itu adalah yang baik dan yang buruk akibat yang baik memberi kesenangan sedangkan akibat yang buruk memberi kesusahan. Oleh karena itu seseorang harus berbuat baik karena semua perbuatan (Karma) itu disebut pahala.
1. Keyakinan tentang adanya punarbhawa / reinkarnasi (kelahiran kembali) Jiwatman atau roh itu tidak selamanya di neraka ataupun di sorga. Ia lahir lagi ke dunia ini. Kelahiran kembali ini disebut Samsara/Punarbhava (Reinkarnasi). Bagaimana kelahiran ini tergantung dari karma wasananya.
2. Keyakinan tentang moksa atau nirwana bila seseorang lepas dari ikatan dunia ini ia mencapai moksa. Moksa artinya pelepasan. Inilah tujuan akhir pemeluk agama Hindu. Orang yang telah mencapai moksa tidak lahir kedunia karena tidak ada apapun yang mengikatnya. Ia telah bersatu dengan yang paramatman (Atman yang tertingi atau Sang Hyang Widi).
Hindu sebagai agama yang dianut oleh masyarakat Tamil memiliki 4 (empat) aspek penting yang harus diperhatikan dan dipatuhi oleh setiap pemeluk agama Hindu, yaitu :
1. Sarigai, adalah suatu pemahaman yang didasari pada ritual dan perayaan yang tanpa diketahui arti dan makna yang terkandung pada ritual tersebut dan tidak pernah tahu secara jelas, apakah upacara agama atau upacara adat. Pada tingkatan ini semua kegiatan dilakukan hanya berdasarkan firasat saja, tanpa ada peraturan dan arti yang bisa dipertanggungjawabkan oleh si pelaksana maupun pengikut, seperti kegiatan mengelilingi kuil, membersihkan kuil-kuil dan lain-lain, yang dilakukan secara sukarela ikhlas tanpa pamrih.
2. Kirigai, pada tingkatan ini umat sudah mulai melakukan kegiatan agama dengan mantra dan sedikit tata cara yang bisa dimengerti oleh pengikut, (peratanai) mulai mencari pengetahuan agama dengan membaca, bertanya, dan mengkritik
kenapa, kenapa ... dan kenapa. Sehingga sedikit mengerti bahwa agama Hindu memiliki semua yang diinginkan oleh pemeluknya.
3. Yogam, pada tahap ini pemeluk agama Hindu diartikan sudah menguasai arti dan makna kedua tingkatan yang di atas dan dapat menjelaskannya dengan baik.
tingkatan ini pemeluk Hindu sudah dianggap sangat baik, karena telah masuk ke tahapan pra-yogi. Meningkatkan kerohanian dengan cara membaca, diskusi dan menerima bimbingan guru suci secara teratur dan pada tingkatan ini dianggap siswa telah menjalani yoga dengan teratur. Dimana yoga sendiri terbagi dalam 5 (lima) bagian yaitu : Hatta Yoga, Raja Yoga, Karma Yoga, Bhakti Yoga dan Jnana Yoga.
4. Nyanem, ini adalah tingkatan tertinggi dalam ajaran Hindu, tingkatan ini disebut juga tingkatan para yogi, pada tingkatan ini seseorang sudah 95%
meninggalkan kesenangan duniawi dan telah menguasai dasar dan aspek agama Hindu secara menyeluruh dengan baik. banyak melakukan kegiatan Tirtha Yatra, Dharma Duta, mencipta dan menulis buku-buku yang diperlukan oleh umat.
Kitab suci agama Hindu yang dipercayai sebagai pegangan adalah Weda.
Weda berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan tertentu atau dilagukan.Kitab weda terdiri dari 4 samhita (himpunan), yaitu :
1. Reg Weda atau Reg Wedasamhita, yang merupakan himpunan syair-syair, mantra-mantra yang memuat ajaran umum dalam bentuk pujian atau pujaan.
2. Sama weda atau Sama Wedasamhita, yang berisikan himpunan mantra-mantra yang memuat ajaran umum mengenai lagu-lagu untuk upacara agama.
3. Yajur Weda atau Yajur Wedasamhita, yang berisikan kumpulan mantra- mantra yang memuat ajaran umum mengenai pokok-pokok Yajus yaitu doa yang berupa puisi dan prosa.
4. Atharwa Weda atau Atharwa Wedasamhita, yang berisikan doa-doa, mantra- mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis, seperti untuk menyembuhkan penyakit, ilmu sihir dan sebagainya.
Masyarakat Tamil di Kota Binjai yang menyebar kebeberapa daerah menganut agama islam, Kristen, hindu, dan budha, namun mayoritas agama yang di anut oleh masyarakat tamil adalah hindu. Masyarakat Hindu Tamil merupakan penggabungan kata antara Hindu dan Tamil. Hindu merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia dan di dunia sedangkan Tamil merupakan salah satu etnis atau suku pendatang yang dating ke Indonesia pada abad ke -19 dan menetap di Indonesia.
Penggabungan kata ini menjadi suatu identitas yang dipakai oleh orang Tamil yang memeluk agama Hindu di suatu kelompok masyarakat.
Kata Hindu berasal dari kata sebutan orang Persia yang dating ke India.
Mereka menyebut sungai Shindu / Indus yang mengalir di daerah barat India sebagai sungai Hindu. Pada waktu masuknya Islam ke India, kata Hindu muncul kembali dalam bentuk Hindustan. Orang-orang India yang memeluk agamanya disebut orang Hindu. Hindu biasanya disebut dengan Sanatana Dharma (Sanskrit) yang berarti Kebenaran Abadi. Dalam masyarakat Hindu Tamil memiliki 4 tingkatan kasta yaitu:
1. Brahmana
Kasta Brahmana merupakan tingkata kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu Tamil.
Orang-orang yang tergolong dalam kaum Brahmana adalah seorang yang memiliki kemampuan dibidang agama atau pendeta. Kaum Brahmana sendiri merupakan kaum yang paling dihormati dan biasanya dijadikan sebagai penasihat raja ketika memutuskan suatu keputusan.
2. Ksatria
Kasta Ksatria merupakan tingkatan kedua kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu Tamil. Orang-orang yang tergolong kedalam kaum Ksatria adalah para raja, prajuirit, dan semua orang yang berperan dalam menjalankan pemerintahan.
3. Waisya
Kasta Waisya merupakan tingkatan ketiga tertinggi dalam masyarkat Hindu Tamil.
Orang-orang yang tergolong kedalam kaum Waisya adalah mereka yang melakukan kegiatan seperti berdagang, bertani, ,aupun beternak. Waisya sendiri memiliki tugas yaitu menyediakan perbekalan bagi seluruh golongan kasta.
4. Sudra
Kasta Sudra merupakan tingkatan keempat tertinggi dalam masyarakat Hindu Tamil.
Orang-orang yang tergolong ke dalam kaum Sudra adalah mereka yang memiliki tugas sebagai pekerja maupun pelayan.
Agama Hindu tidak mempunyai pendiri dan penyebaran dilakukan oleh Kaun Brahmana. Selain tidak mempunyai pendiri, agama Hindu memiliki perbedaan dengan agama lain yaitu tidak memaki istilah Nabi, yang ada adalah Guru, Rsi dan Maharsi. Pelaksanaan ibadah pada masyarakat Hindu Tamil dilakukan setiap hari
selasa dan jumat dikuil. Namun mereka harus melaksanakan ibadah setiap hari di rumah. Untuk itu harus disediakan sebuah ruangan khusus sebagai tempat melakukan ibadah tersebut. Bila tidak mampu menyediakan sebuah ruangan khusus, paling tidak menyediakan sebuah peti sembahyang yang berbentuk seperti rumah kecil. Peti sembahyang ini disebut dengan sami kumberta. Sami kumberta biasanya dengan, sodo yaitu wangi-wangian yang mirip kapur barus (kanfer), tua kale yaitu mangkok tempat meletakkan bunga melati, kamacamawalki yaitu lampu, keno yaitu mangkok tempat air, kalmia yaitu gambar dewa yang diyakini. Pelaksanaan sembahyang di setiap rumah biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari, dan sembahyang ini selalu dikerjakan oleh setiap orang. Masyarakat Hindu Tamil yang beribadah di kuil di pimpin oleh seoarang pendeta sedangkan masyarakat Hindu Tamil disebut dengan jemaat. Pendeta adalah seorang rohaniawan Hindu yang telah madwijati melalui upacara “Diksa” (penyucian seorang welaka menjadi pendeta). Dwijati adalah dilahirkan dari seorang ibu. Dan kedua dilahirkan pula dan diakui oleh seorang guru pengajian(nabhe). Upacara penyucian ini selain ritual ada juga ketentuan-ketentuan yang dikeluarkan oleh PHDI. Pendeta pada Hindu Bali sering menyebut dengan sulinggih, memiliki brata-brata tertentu untuk melaksanakan yang patut ditaatinya dalam hidupnya. Upacara diksa bukan upacara yang sembarangan, hal ini dikarenakan upacara ini merupakan upacara perubahan status belaka dari seorang walaka menjadi sulinggih. Didalam upacara diksa terkandung makna yang mendalam mengenai hubungan batin antara guru nabhe dengan sisyanya (calon diksa). Jemaat
adalah seorang yang beribadah di kuil dan menganut agama Hindu. Pada ajaran agama Hindu, Tuhan merupakan pencipta alam semesta dan isinya.
Kitab suci agama Hindu yang dipercayai adalah Veda. Veda berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan tertentu atau dilagukan. Veda diyakini sebagau kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkan (mewahyukan) adalah Tuhan Yang Maha Esa. Apapun yang diturunkan sebagai ajaranNya kepada umat manusia adalah ajaran suci terlebih dahulu bahwa isinya memberikan petunjuk atau ajaran untuk hidup suci. Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia dan pada saat pralaya (kiamat) nanti. Menurut Maurice Wintermitz, kitab-kitab veda terdiri dari 4 pengelompokan dan masing-masing kelompok tersebut dari sejumlah besar atau kebil yang diterima oleh para Rsi (nabi) berupa mantra-mantra, baik secara individual maupun secara bersama-sama dalam kelompok. Pengelompokan ini adalah:
1. Samhita, yakni himpunan mantra-mantra veda yang mengandung Upacara (doa kebaktian, pemujaan, ucapan-ucapan syukur, petunjuk upacara korban), ajaran filsafat dan lain-lain.
2. Brahmana, yakni uraian yang panjan tentang Ketuhanan / Theologi observasi tentang jalannya upacara korban atau mistis dari upacara korban yang dilakukan individu, kelompok, maupun upacara-upacara besar lainnya.
3. Aranyaka, mengandung acara tentang meditasi atau kehidupan menjadi bertapa di hutan, juga ajaran yoga untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, tentang dunia dan kehidupan umat manusia.
4. Upanisad, mengandung ajaran yang berisikan mistik dan filosofi.
Umat Hindu di Indonesia menyebut Tuha dengan gelar Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Sebutan lain untuk gelar Sang Hyang Widhi adalah Bhatara sebagai pelindung dewa tertinggi, Sang Hyang Parmeswara sebagai raja termulia.
Didalam manifestasinya sebagai dewa, Sang Hyang Widhi Wasa dapat dikelompokkan dalam tiga bagian besar, yang disebut dengan Trimurti yang terdiri dari:
1. Dewa Brahma, bertugas sebagai pencipta alam semesta dan disimbolkan dengan A memiliki empat bagian tangan, yang masing-masing membawa tongkat teratai,kadangkala sendok terkait dengan Brahmana yang terkenal sebagai Dewa Yadnya atau upacara, Weda/kitab suci, selain itu ia juga memegang Busur Genitri Aksamala, menunggangi hamsa (angsa) atau duduk di atas teratai.
2. Dewa Wisnu, bertugas sebagai pemelihara dan pelindung alam semesta dan disimbolkan dengan U yang dilukiskan sebagai dewa yang berkulit hitam kebiru- biruan atau biru gelap; berlengan empat, masing-masing memegang: gada, lotus, sangkala, chakra.
3. Dewa Siwa, bertugas sebagai Pameralima (pengembali segala isi alam semesta ke asalnya) dan simbolkan dengan M yang memiliki cirri-ciri, yakni: bertangan empat,
masing-masing membawa trisula,cemara, tasbih/genitri, kendi, bermata tiga (tri netra), pada hiasan kepalanya terdapat ardha Chandra (bulan sabit), ikat pinggang dari kulit harimau dan hiasan dileher dari ular kobra.
Menurut ajaran agama Hindu, Tuhan disimbolkan dengan aksara AUM atau OM, yaitu suara yang terdengar dari meditasi yang paling terdalam dan dijadikan nama yang paling tepat untuk Tuhan. Hal ini dapat memberitakan arti bahwa Sang Hyang Widhi mempunyai sifat yang Esa yang terdapat pada nama ketiga dewa sekaligus. Selain manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa sebagai dewa yang disebut Tri Murti, terdapat juga tiga pendamping/Sakti, yaitu:
1. Saraswati, yaitu dewi pengetahuan dan kesenian yang digambarkan memiliki empat lengan dengan lambangempat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: piiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Saktinya dewa Brahma, disebut Dewi Kebijaksanaan.
2. Laksmi, yaitu dewi cahaya, kecantikan dan keberuntungan yang digambarkan bersenjatakan manic-manik, kepak perang, labirin, panah, petir, teratai, air panic, gada, tombak, busur, pedang, perisai, bel, keong, anggur cangkir, jerat, trisula dan Sudarsa. Saktinya dewa Wisnu, disebut dengan dewi Kekayaan.
3. Parvati, yaitu dewi rumah tangga dan keibuan. Saktinya dewa Siwa, disebut dewi kekuatan Sakral.
Disamping ketiga bentuk pasangan diatas, ada juga Ganapati/Ganesha, yaitu dewa pendidikan yang merupakan anak pertama dari Siwa dan Parvati, serta Murugu,
yaitu dewa Keindahan dan dipercaya membawa bahasa Tamil, yang merupakan adik dari Ganesha
2.4.2 Sistem Peralatan dan Teknologi
Sistem peralatan pada masyarakat Hindu Tamil sama halnya dengan masyarakat umum yang ada. Hanya saja mereka memerlukan peralatan dan perlengkapan ibadah saat dikuil. Peralatan dan perlengkapan ibadah masyarakat Hindu Tamil akan dijelaskan pada Bab selanjutnya.
Banyak orang Tamil di Kota Binjai memenuhi kebutuhan benda-benda budaya langsung dari negara India, seperti wadah-wadah dari bahan steel dan kuningan, pakaian tradisional atau kain sari, dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan mereka tidak banyak memproduksi benda khas etnik Tamil di negara Indonesia, alasan mereka, benda yang dibeli langsung dari negara India asli dan barang-barang sejenis banyak di pasaran.
Pembuatan makanan dilakukan dengan dua cara, yaitu tidak dimasak dan dimasak. Makanan tidak dimasak berupa makanan yang diasamkan sebagai acar ataupun susu asam yang disebut moore, makanan dimasak terdiri dalam jenis makanan sayuran, daging. Teknik pembuatan makanan adalah dengan cara dikukus, digoreng, dipanggang, dicetak, diasamkan, ditumis dan dibakar. Selain dari hal diatas etnik Tamil telah menggunakan benda-benda atau teknologi peradaban modern.
Sistem teknologi berkaitan dengan sistem pengetahuan etnik Tamil, sehingga sistem teknologi dipengaruhi oleh sistem budaya masyarakat Tamil. Sistem
teknologi adalah suatu rangkaian yang menjadi dasar pemikiran teknologi masyarakat Tamil, hal ini diterapkan dalam sistem teknologi mereka yang menggunakan produk-produk asli buatan mereka yang mana hal ini sejalan dengan pendapat Mahatma Gandhi yang menyarankan untuk menggunakan produk lokal, sampai saat ini etnik Tamil masih tetap menggunakan alat-alat teknologi yang dibuat oleh etnik Tamil sendiri, seperti sepeda motor (Bajaj).
Penggunaaan sistem teknologi sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, berkaitan dengan sistem budaya etnik Tamil dan sistem kepercayaan etnik Tamil, sehingga perkembangan sistem teknologi dan penggunaan teknologi tidak lepas dari pengaruh sistem-sistem lainnya.
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasi masyarakat, dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat Hindu Tamil mempunyai teknologi yang pada umumnya masih manual.
Hal ini dapat dilihat dari sistem peralatan dan perlengkapan ibadah saat di kuil.
Aktivitas keagamaan pada etnik Tamil yang beragama Hindu terwujud pada upacara-upacara keagamaan yang dilakukan secara rutin setiap hari di rumah, sekali seminggu di kuil dan pada hari-hari tertentu di rumah dan di kuil. Aktivitas keagamaan yang menjadi pusat pemujaan adalah upacara berkorban. Upacara berkorban ini merupakan upacara persembahan agar mendapat kemurahan dari para dewa dan untuk memuja roh leluhur, dalam pelaksanaan upacara tersebut
membutuhkan sejumlah upakara, yaitu peralatan dan perlengkapan upacara yang dianggap suci, antara lain :
1. Api atau Agni, merupakan sarana paling utama dalam pelaksanaan upacara dalam agama Hindu terutama dalam Sembah Hyang, api berfungsi bagi dewa yang paling utama, saksi dalam sumpah dan persembahyangan atau sebagai duta mendatangkan para dewa yang memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi etnik Tamil.
2. Air atau Tirtha, secara umum air dalam upacara ritual dipergunakan sebagai alat penyucian segala sarana upacara dalam hal ini air yang dipergunakan adalah air kelapa karena dianggap air kelapa sangat mensucikan disebabkan air pada buah kelapa muncul oleh suatu proses alamiah.
3. Biji-bijian, yang selalu dipergunakan dalam upacara adalah, terdiri dari beras, kacang-kacangan dan lain-lain. Dalam upacara biji-bijian ini digunakan untuk pemakaian sebagai lambang penyucian.
4. Wangi-wangian, sebagai perlambangan angkasa, wangi-wangian selalu dibutuhkan dalam upacara baik yang berbentuk dupa (bathi), kayu cendana atau Sandanem, minyak wangi, bunga-bunga yang wangi atau kemenyan (Shambrani).
5. Daun-daunan, yang selalu digunakan adalah daun sirih, daun wilwa, daun tulsi serta daun pisang. Daun-daun ini berfungsi sebagai alas dan juga sebagai hiasan dan simbol.
6. Bunga-bungaan (Puspam), merupakan sarana yang paling penting dari alat upacara lainnya, pemakaian bunga dipilih karena keharuman baunya.
Adapun bunga yang dipergunakan dilihat dari warnanya, seperti warna merah, kuning. Putih dan ungu.
7. Benda-benda (wastu), digunakan pada tiap upacara antara lain kayu- kayuan tertentu, perak, tembaga dan emas serta batu bata. Batu merupakan simbol keteguhan dan ketetapan iman.
8. Makan-makanan (Prasadham), berbentuk buah-buahan sebagai persembahan bagi para dewa, persembahan yang paling inti berupa nasi atau neiwetiam.
Alat-alat upacara tersebut di atas digunakan sesuai dengan kepentingan upacara. Sehubungan dengan sistem religi etnik Tamil, maka berikut kepercayaan Hindu yang lazim dilaksanakan oleh setiap umatnya. Perayaan hari-hari besar tersebut umumnya dibarengi dengan upacara-upacara yang dilaksanakan di kuil secara bersama-sama atau di rumah masing-masing.
2.4.3 Sistem Keorganisasian dan Kemasyarakatan
Sebelum penulis menguraikan tentang sistem keorganisasian dan kemasyarakatan pada masyarakat Hindu Tamil di kota Binjai, terlebih dahulu penulis akan mengemukakan defenisi masyarakat menurut pendapat Koentjaraningrat (1980:157-161) bahwa “masyarakat” adalah sekumpula manusai yang saling
“bergaul” atau saling “berinteraksi” menurut sistem adat istiadat tertentu yang bersifat Continue dan yang terikat oleh satu rasa identitas bersama.
Masyarakat Hindu Tamil mempunyai organisasi sosial yang bernama “Deli Hindu Sabha” yang disahkan oleh gubernur Sumatera Timur pada tahun 1913.
Organisasi ini dipimpin oleh Ramasamy Sanma dengan sekretaris Ponasamy Dillay untuk pertama kalinya. Dan kepemimpinan selanjutnya dipimpin oleh Senemuthu, Ponasami, Dillay Dallph Singh, Hinder Singh, dan Wally Samy. Tujuan organisasi ini dibentuk adalah untuk mempromosikan kebudayaan dan pendidikan Tamil.
2.4.4 Pengetahuan
Dalam tujuh unsur kebudayaan, salah satunya adalah sistem pengetahuan, sistem ini memegang peran dalam usaha menjaga pengetahuan lokal mereka yang menjadi modal menghadapi lingkungan kehidupan. Pengetahuan etnik Tamil sangat dipengaruhi oleh tradisi leluhur mereka, sebagian besar kehidupan etnik Tamil adalah hasil kebudayaaan yang diturunkan dariu generasi ke generasi. Sistem pengetahuan yang dimiliki etnik Tamil biasanya berkaitan dengan masalah hewan, tumbuhan, kehidupan, kematian, kalender Tamil, keyakinan beragama dan sebagainya.
Pengetahuan yang berkaitan dengan hewan adalah larangan untuk memakan daging sapi, bagi mereka yang beragama Hindu khususnya etnik Tamil. Sapi dalam kehidupan etnik Tamil merupakan hewan suci atau keramat berarti sesuatu yang diasingkan dan diberi larangan atasnya. Menurut etnik Tamil, sapi adalah lambang