• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Karet

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Karet"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

11 II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Karet

Tanaman karet (Havea Brasiliensis) berasal dari Brazil, Amerika Selatan, tumbuh secara liar di lembah-lembah Amazon. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks.

Daun karet berwarna hijau. Apabila akan rontok berubah warna menjadi kuning atau merah. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3 – 20 centimeter. Panjang tangkai anak daun antara 3 – 10 centimeter. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung runcing, tepinya rata, gundul, dan tidak tajam. Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Buah karet memiliki pembagian ruang yang jelas. Buah yang sudah masak akan pecah dengan sendirinya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah berukuran biji besar dengan kulit keras. Warnanya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola yang khas. Biji karet sebenarnya berbahaya karena mengandung racun.

Akar tanaman karet merupakan akar tunggang yang mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. Adapun beberapa jenis karet alam antara lain sebagai berikut (Swadaya 2008):

1) Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari pohon karet. Menurut pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam, yaitu lateks kebun, sheet angin, slab tipis, dan lump segar.

2) Karet alam konvensional dapat dimasukkan ke dalam beberapa golongan mutu menurut Buku Green Book yang dikeluarkan oleh International Rubber Quality and Packing Conference (IRQPC). Berikut ini adalah jenis-jenis karet alam olahan yang tergolong konvensional menurut Green Book, yaitu ribbed smoked sheet (RSS), white crepe dan pale crepe, estate

(2)

12 brown crepe, compo crepe, thin brown crepe remills, thick blanket crepes ambers, flat bark crepe, pure smoked blanket crepe, dan off crepe.

3) Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya.

4) Karet bongkah atau block rubber adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bandela-bandela dengan ukuran yang telah ditentukan.

5) Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu teknisnya.

6) Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya.

7) Karet reklim atau reclaimed rubber adalah karet yang diolah kembali dari barang-barang karet bekas. Boleh dibilang karet reklim adalah suatu hasil pengolahan scrap yang sudah di vulkanisir.

Setiap jenis karet akan menghasilkan berbagai standar mutu yang harus dapat dipenuhi sesuai syarat atau kriterianya masing-masing, begitu juga dengan salah satu komoditas perkebunan seperti karet. Standar mutu karet alam menjelaskan berapa kadar kotoran yang ada didalam lateks dan berapa tingkat kelenturan (mooney viscosity) karet alam yang dihasilkan. Kadar kelenturan karet alam diukur dengan alat mooney viscometer dalam waktu lima menit dengan suhu 100oC. Tingkat kelenturan karet tidak dapat menjelaskan seberapa baik standar mutu karet alam yang dihasilkan dibandingkan standar mutu karet alam lainnya.

Karena hal tersebut diproduksi sesuai permintaan atau kebutuhan konsumen dalam penggunaannya. Beberapa standar mutu karet dapat dilihat pada Tabel 68.

      

8 [BI] Bank Sentral Republik Indonesia. 2011. Standar Mutu Karet.

http://www.bi.go.id/web/id/DIBI/Info_Eksportir/Profil_komoditi/StandartMutu/mutu_karet.html.

[25 Desember 2011]

(3)

13 Tabel 6. Standar Mutu Komoditi Karet

No Mutu Karet Nomor Standar Nasional

Indonesia

1 Karet SIR 3CV SNI. 06-1903-1990

2 Karet Sir 3 L SNI. 06-1903-1990

3 Karet Sir 3 WF SNI. 06-1903-1990

4 Karet SIR 5 SNI. 06-1903-1990

5 Karet SIR 10 SNI. 06-1903-1990

6 Karet SIR 20 SNI. 06-1903-1990

7 Karet SIR lainnya SNI. 06-1903-1990

8 Karet Spesifikasi teknis (TSRN) lainnya SNI. 06-1903-1990 9 Ban dalam dari karet untuk sepeda motor SNI. 06-1542-1989 10 Ban dalam dari karet untuk scooter SNI. 06-1542-1989 11 Sarung tangan bedah dari karet SNI.06-1301-1989 12 Sarung tangan lainnya dari karet SNI.06-1301-1989 13 Sepatu olahraga dari karet SNI.06-1844-1990

Sumber : Bank Sentral Republik Indonesia (2010)

Semakin banyak standar mutu yang dihasilkan akan menunjukkan semakin banyak jumlah produksi karet alam dalam suatu perusahaan. Konsumsi karet alam pada saat ini masih jauh di bawah karet sentetis atau buatan pabrik. Hal ini dikarenakan karet alam memiliki beberapa kelebihan yang belum dapat digantikan oleh karet sintetis, di antaranya :

1) Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna

2) Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah 3) Tidak mudah panas (low heat build up)

4) Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan (groove cracking resistance)

Selain kelebihannya, karet alam juga memiliki kelemahan dalam penggunaannya. Kelemahan karet alam dalam penggunaannya terletak pada keterbatasannya dalam memenuhi kebutuhan pasar. Saat pasar membutuhkan pasokan tinggi, para produsen karet alam tidak dapat meningkatkan produksi dalam waktu singkat, sehingga harga cenderung tinggi.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Komoditi Perkebunan Memproduksi komoditi perkebunan akan mengalami banyak kendala yang dapat mempengaruhi produksi komoditi tersebut dalam suatu perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya produksi dapat diakibatkan oleh berbagai

(4)

14 faktor-faktor yang tidak terduga ataupun faktor yang dapat dikendalikan dengan baik oleh suatu perusahaan. Variabel yang dapat digunakan sebagai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi, antara lain input-input produksi yang dapat mengurangi dan meningkatkan risiko, seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, luas lahan, bibit, urea, dan lain sebagainya. Sambudi (2005), Tumanggor (2009), Saragih (2010) menggunakan variabel input produksi tersebut sebagai faktor- faktor untuk melihat pengaruh terhadap produksi kopi arabika, kakao, dan kelapa sawit. Penelitian Sambudi (2005) dan Tumanggor (2009) menggunakan variabel luas lahan, tenaga kerja, pupuk, dan pestisida. Tetapi Sambudi (2005) menggunakan variabel tambahan yaitu urea dan bibit, sedangkan Tumanggor (2009) menggunakan variabel tambahan umur tanaman, dan pada penelitian Saragih (2010) hanya menggunakan tiga input produksi, yaitu luas lahan, tenaga kerja, dan pupuk.

Pengaruh suatu variabel terhadap produksi dapat dilihat dari hasil perhitungan statistik yang menggunakan suatu metode untuk menghitung dan menganalisisnya. Variabel luas lahan, tenaga kerja, pupuk, bibit, urea, dan pestisida berpengaruh nyata terhadap produksi kopi arabika pada penelitian Sambudi (2005) dan Saragih (2010) berpengaruh nyata terhadap produksi kelapa sawit yaitu luas lahan dan tenaga kerja. Sedangkan pada penelitian Tumanggor (2009), semua variabel tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap produksi kakao dan termasuk umur tanaman. Maka dari itu, pengaruh nyata atau tidak nya suatu variabel input-input produksi terhadap suatu produksi, tergantung dari komoditi perkebunan yang diteliti yang dapat menjelaskan adanya perbedaan risiko produksi yang dihadapi.

Penelitian terhadap produksi teh sangat berbeda dengan produksi kopi arabika, kakao, ataupun kelapa sawit. Karena variabel yang digunakan dalam produksi teh berbeda dengan variabel input-input produksi yang digunakan pada penelitian sebelumnya. Variabel produksi yang digunakan untuk melihat pengaruh terhadap produksi teh olahan, yaitu teh basah, tenaga kerja, listrik, dan solar.

Penelitian Verianti (2004), Septiana (2005), dan Sukmawati (2006) menyatakan bahwa untuk variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi teh olahan adalah teh basah. Berbeda dengan Penelitian Kartika (1999) yang menyatakan

(5)

15 bahwa teh basah menjadi variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi teh olahan. Variabel solar hanya berpengaruh nyata pada penelitian Septiana (2005), tetapi tidak berpengaruh nyata pada penelitian Kartika (1999) dan Verianti (2004). Variabel lainnya seperti tenaga kerja dan listrik menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi teh olahan.

Metode yang digunakan untuk menghitung pengaruh pada umumnya adalah metode regresi linier berganda dengan pendekatan Ordinary Least Square (OLS). Untuk menggambarkan suatu proses produksi di dalam teori produksi dapat melalui fungsi produksi, yaitu fungsi produksi linier dan fungsi produksi Cobb-douglas. Berdasarkan alat analisis dan metode tersebut, maka pengaruh dari variabel-variabel faktor produksi terhadap produksi dapat dijelaskan melalui hasil nilai peluang yang lebih besar atau lebih kecil dari taraf nyata yang telah ditetapkan dan tanda koefisien akan menjelaskan masing-masing variabel dapat meningkatkan atau menurunkan produksi.

Hasil etimasi model yang baik atau kurang baik dapat dilihat dari nilai r- squared yang menyatakan bahwa dari seluruh variabel yang digunakan telah dapat menjelaskan seluruh model fungsi produksi. Artinya, seberapa besar variabel- variabel yang digunakan dapat menjelaskan pengaruh terhadap seluruh kegiatan produksi. R-squared yang tinggi diperoleh oleh Septiana (2005) dengan 97,4 persen, Sambudi (2005) dengan 95,5 persen, kemudian Verianti (2004) dengan 94,4 persen, Saragih (2010) dengan 93,51 persen, dan Sukmawati (2006) dengan 92,3 persen. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian telah dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kopi arabika dan teh.

Kesimpulan dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa terdapat banyak faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pada komoditi perkebunan.

Faktor-faktor tersebut ada yang dapat dikendalikan dengan baik dan ada yang tidak dapat dikendalikan seperti risiko yang diakibatkan oleh faktor alam, seperti curah hujan. Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu. Persamaan metode yang digunakan pada penelitian ini sama dengan metode yang digunakan pada penelitian sebelumnya, yaitu metode regresi linier berganda dengan menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS).

(6)

16 Tujuannya adalah untuk dapat melihat pengaruh antara variabel dependen (Y) terhadap lebih dari satu variabel independen (X1,X2,….,Xn). Sedangkan untuk perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terdapat pada fungsi produksi yang digunakan, komoditi perkebunan yang diteliti, dan variabel faktor produksi yang dianalisis. Fungsi produksi pada penelitian ini menggunakan fungsi produksi linier dan pada penelitian sebelumnya menggunakan fungsi Cobb- Douglas. Komoditi perkebunan yang diteliti pada penelitian ini adalah karet dan komoditi penelitian sebelumnya adalah kopi arabika dan teh. Sedangkan variabel faktor produksi yang dianalisis pada penelitian ini tidak dapat menggunakan variabel input-input produksi seperti yang digunakan pada penelitian sebelumnya.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Karet Alam

Perusahaan menghadapi berbagai macam sumber risiko yang dapat mempengaruhi hasil produksi karet alam yang dihasilkan. Produksi karet alam dapat menghasilkan berbagai standar mutu sesuai Standard Indonesia Rubber (SIR). Penelitian Setyoningsih (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi karet alam adalah lump, silicon emulsion, solar listrik, tenaga kerja lepas, dan tenaga kerja tetap. Sitanggang (2011) menggunakan empat variabel yang diduga dapat mempengaruhi produksi karet, yaitu lahan, pupuk, ethrel dan curah hujan. Berbeda dengan penelitian Rachmawati (2003) yang menggunakan faktor lateks, asam semut, tenaga kerja, listrik, dan solar pada produksi pengolahan karet remah way berulu.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Ordinary Least Square (OLS) dengan menggunakan metode regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh dari faktor-faktor produksi yang dapat mempengaruhi produksi karet alam. Faktor-faktor produksi yang digunakan Rachmawati (2003) berpengaruh nyata terhadap produksi karet alam pada taraf nyata 1 persen. Setyoningsih (2005) menjelaskan bahwa faktor lump, listrik, dan tenaga kerja tetap berpengaruh nyata pada taraf nyata 5 persen, sedangkan solar dan listrik berpengaruh nyata pada taraf nyata 20 persen. Untuk faktor tenaga kerja lepas tidak berpengaruh nyata pada taraf nyata 5 persen ataupun 20 persen. Pada penelitian Sitanggang (2011), faktor ethrel menjadi faktor yang berpengaruh nyata terhadap produksi karet alam pada

(7)

17 taraf nyata 5 persen dan faktor luas lahan, pupuk, curah hujan menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata.

Berbeda dengan penelitian Wiyanto (2009) yang membandingkan kualitas karet desa terprogram pengembangan karet dan desa tidak terprogram pengembangan karet. Hasil perbandingan kualitas menunjukkan bahwa kualitas karet yang diproduksi petani di desa terprogram lebih rendah dibandingkan kualitas karet petani di desa tidak terprogram. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan pembeku tambahan yaitu air ekstrak umbi gadung (Dioscorea hispida Dennst) dan tercampurnya koagulump dengan kotoran seperti tatal, daun, dan karet kering yang berwarna hitam, sehingga petani karet dapat melakukan beberapa kegiatan atau upaya dalam meningkatan kualitas karet.

Salah satu faktor lain yang dapat mempengaruhi karet alam adalah adanya sumber risiko yang diakibatkan oleh penyakit. Penyakit yang sering terkena pada tanaman menghasilkan (TM) karet alam adalah penyakit gugur daun kedua, jamur akar putih (fomes), kering alur sadap (Brown bast), dan kerusakan kulit batang karet (Bark Necrosis). Sujatno dan Pawirosoemardjo (2001) menjelaskan bahwa penyebab penyakit jamur akar putih pada tanaman karet adalah jamur Rigidoporus lignosus. Jamur ini termasuk kategori jamur yang bersifat parasit fakultatif yang berarti dapat hidup pada jaringan tanaman yang telah mati dan tidak dapat bertahan lama tanpa adanya sumber makanan. Oleh karena itu, penyakit ini dapat timbul dikarenakan adanya sisa-sisa tunggul dan akar tanaman dilapangan, sehingga dapat menular ke tanaman karet lain yang masih sehat. Gejala penyakit ini ditandai dengan adanya perubahan warna daun secara mendadak, terutama pada daun-daun muda.

Berbeda dengan jamur Fusarium sp. Jamur ini adalah penyebab penyakit kerusakan kulit batang pada tanaman karet. Fusarium merupakan patogen tular tanah (soil borne) yang mampu hidup dan bertahan lama dalam tanah (Sumarmadji 2001). Penelitian Budiman dan Suryaningtyas (2001) menyatakan bahwa tinggginya tingkat populasi jamur fusarium dapat diakibatkan oleh penggunaan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam. Gejala penyakit ini mulai timbul dengan adanya bercak-bercak coklat pada batang. Sedangkan penyakit gugur daun disebabkan oleh jamur corynespora. Gejala yang

(8)

18 ditimbulkan oleh penyakit ini adalah daun akan berubah berwarna kuning, menggulung, layu, dan kemudian akan gugur. Penelitian Nurhayati, Fatma, dan Aminuddin (2010) menyatakan bahwa untuk klon yang tahan akan penyakit gugur daun kedua adalah PB 260, sedangkan untuk klon yang rentan adalah IRR 39, GT 1, BPM 24, dan PR 261.

Penyakit kering alur sadap tidak diakibatkan oleh jamur, tetapi disebabkan adanya gangguan fisiologis tanaman karet yang mengalami ketidakseimbangan antara lateks yang dieksploitasi dengan lateks yang terbentuk kembali (regenerasi/biosintesis). Tahap terakhir yang harus dilakukan adalah pohon harus diistirahatkan terlebih dahulu. Gejala yang timbul adalah tidak mengalirnya lateks apabila dideres atau disadap (Sumarmadji 2001).

Tehnik penyadapan atau penderes lateks terbagi atas dua cara, yaitu dengan cara menderes ke arah bawah dan menderes ke arah atas. Setelah melakukan pembukaan pertama deresan, penderes melanjutkannya dengan menderes lateks ke arah bawah. Pohon karet yang telah selesai dideres dengan ketentuan menderes ke arah bawah, maka akan dilanjutkan untuk menderes ke arah atas. Penelitian Lukman (1996) menyatakan bahwa menderes ke arah atas dapat mengurangi terjadinya penyakit kering alur sadap daripada menderes ke arah bawah, tetapi disimpulkan tidak mempengaruhi kilogram karet kering lateks.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya produksi karet alam adalah populasi tanaman karet. Siagian (2000) menyatakan bahwa semakin tinggi populasi tanaman karet, maka akan semakin rendah produksi karet kering yang dihasilkan, tetapi pengaruhnya tidak nyata dalam statistik.

Kesimpulan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan bahwa terdapat banyak faktor-faktor yang mempengaruhi hasil produksi dan kualitas karet. Persamaan penelitian ini terdapat pada penelitian Rachmawati (2003), Setyoningsih (2005), dan Sitanggang (2011) yang menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) dan metode regresi linier berganda. Selain itu, persamaan juga terdapat pada variabel yang diteliti penelitian ini adalah variabel- variabel penyakit yang dijelaskan pada penelitian Sujatno dan Pawirosoemardjo (2001), Sumarmadji (2001), Budiman dan Suryaningtyas (2001), Nurhayati, Fatma, dan Aminuddin (2010). Perbedaan penelitian ini terdapat pada variabel

(9)

19 faktor-faktor produksi yang diteliti, seperti jumlah pohon yang mati, curah hujan, tenaga kerja yang melakukan kesalahan, jumlah blok yang terkena gugur daun kedua, biaya perawatan Brown Bast/Bark Necrosis dengan variabel input produksi yang diteliti oleh penelitian sebelumnya, seperti solar, listrik, pupuk, lahan, asam semut, lump, dan silicon emulsion, dan ethrel. Tujuan penelitian ini juga menjadi perbedaan, yaitu untuk melihat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi karet alam, sedangkan penelitian Wiyanto (2009) yaitu untuk membandingkan kualitas karet alam desa terprogram dengan desa tidak terprogram.

2.4 Gambaran Umum Alur Produksi Karet Alam

Faktor budidaya karet merupakan faktor penting yang harus diperhatikan agar karet dapat tumbuh dengan baik. Karet yang tumbuh dengan teknik budidaya yang baik dapat menghasilkan produksi karet maksimal dengan standar mutu yang tinggi. Kualitas karet tersebut mengakibatkan harga jual menjadi lebih tinggi sehingga keuntungan yang dihasilkan meningkat. Beberapa faktor budidaya karet dapat dilihat pada Gambar 3 (Swadaya 2008) :

                       

Gambar 3. Tahapan Proses Produksi Karet Alam Sumber : Swadaya (2008)

Pemilihan lokasi

Pengolahan tanah dan persiapan tanam

Penanaman bibit karet dengan jenis klon yang

diinginkan

Perawatan tanaman sebelum menghasilkan meliputi kegiatan : 1. Penyulaman bibit 2. Penyiangan

3. Pemupukan tanaman 4. Seleksi dan

penjarangan tanaman 5. Pemeliharaan

tanaman penutup tanah

Perawatan tanaman menghasilkan meliputi kegiatan :

1. Penyiangan

2. Pemupukan tanaman 4. Pemberantasan hama

dan penyakit Peremajaan

(10)

20 Produksi lateks per satuan luas dalam kurun waktu tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, yaitu klon karet yang digunakan, kesesuaian lahan dan agroklimatologi, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan, sistem dan manajemen sadap, dan lain sebagainya. Estimasi produksi dapat didasarkan pada standar produksi yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan setempat atau Balai Penelitian Perkebunan yang bersangkutan. Produksi karet adalah lateks, maka estimasi produksi per hektar per tahun dikonversikan ke dalam satuan getah karet basah yang dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Estimasi Produksi Karet Kering dan Estimasi Produksi Lateks

Tahun Estimasi Produksi

KKK (Ton/Ha)

Estimasi Produksi Lateks (Liter/Ha) Umur (Thn) Sadap

6 1 500 2.000

7 2 1.150 4.600

8 3 1.400 5.600

9 4 1.600 6.400

10 5 1.750 7.000

11 6 1.850 7.400

12 7 2.200 8.800

13 8 2.300 9.200

14 9 2.350 9.400

15 10 2.300 9.200

16 11 2.150 8.600

17 12 2.100 8.400

18 13 2000 8.000

19 14 1.900 7.600

20 15 1.800 7.200

21 16 1.650 6.600

22 17 1.550 6.200

23 18 1.450 5.800

24 19 1.400 5.600

25 20 1.350 5.400

26 21 1.200 4.800

27 22 1000 4.600

28 23 1.150 4.000

29 24 850 3.400

30 25 800 3.200

Sumber : Anwar (2000)

Catatan : Estimasi produksi didasarkan atas asumsi kadar karet kering (KKK) = 25%

Gambar

Gambar 3. Tahapan Proses Produksi Karet Alam           Sumber : Swadaya (2008)
Tabel 7. Estimasi Produksi Karet Kering dan Estimasi Produksi Lateks

Referensi

Dokumen terkait

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Berkreasi dengan memadukan alat musik perkusi tak lazim dengan alat musik modern yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau

1) Struktur ambu tengah dan ambu bawah menggunakan material bambu tali dan kayu rasamala. 2) Struktur ambu atas menggunakan kombinasi material yaitu bambu tali, pipa besi

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan pengusaha dalam mengembangkan nilai tambah produk ikan asin, seperti meningkatkan produksi dan mempertahankan kualitas

Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan

Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dalam Pasal 35 ayat (1) juga menyebutkan bahwa : “ bank syariah dan unit usaha syariah dalam melakukan kegiatan usahanya wajib menerapkan

Saat ini Politeknik Negeri Cilacap telah menyelenggarakan 7 (tujuh) Program Studi dan memiliki 734 mahasiswa aktif. Jumlah pegawai Politeknik Negeri Cilacap sebanyak 106

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) cara perhitungan besaran tarif unit cost layanan pendidikan pada lima jurusan di SMK Kristen 1 Surakarta dengan

Berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme sehingga dapat meningkatkan jumlah ion logam dalam air. Limbah ini berasal dari industry