PENGARUH LEVERAGE, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS
TERHADAP RISIKO SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45
DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi
Univer sita s Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Untuk Menyusun Skr ipsi S-1 J ur usan Manajemen
Oleh :
ALFIAN NASHRULLAH 0712010265 / EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”
J AWA TIMUR
USULAN PENELITIAN
PENGARUH LEVERAGE, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS
TERHADAP RISIKO SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45
DI BURSA EFEK INDONESIA
Yang diajukan ALFIAN NASHRULLAH
0712010265 / EM
Telah diseminar kan dan disetujui untuk menyusun skr ipsi
Pembimbing Utama
Dr . Muhadjir Anwar , MM Tanggal :………..
Mengetahui
Ketua Pr ogr am Studi Manajemen
Dr . Muhadjir Anwar , MM
SKRIPSI
PENGARUH LEVERAGE, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS
TERHADAP RISIKO SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45
DI BURSA EFEK INDONESIA
Yang diajukan
ALFIAN NASHRULLAH 0712010265 / EM
disetujui untuk Ujian Lisan oleh
Pembimbing Utama
Dr . Muhadjir Anwar , MM Tanggal :………..
Mengetahui
Wakil Dekan I
SKRIPSI
PENGARUH LEVERAGE, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS
TERHADAP RISIKO SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45
DI BURSA EFEK INDONESIA
Disusun Oleh: ALFIAN NASHRULLAH
0712010265 / EM
Telah Diper tahankan Dihadapan Dan Diter ima Oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogr am Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Univer sitas Pembangunan Nasional ”Veter an” J awa Timur Pada tanggal 25 Mei 2012
dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul :
“PENGARUH LEVERAGE, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS
TERHADAP RISIKO SAHAM PADA PERUSAHAAN LQ 45 DI BURSA
EFEK INDONESIA”
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Progdi Manajemen pada Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa adanya
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala
ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah
memberikan bimbingan dan dorongan kepada peneliti dalam menyelesaikan
6. Bapak dan Ibu, yang telah memberikan dukungan, doa dan semangat dan
segalanya.
7. Semua pihak yang ikut membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan
satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah disajikan masih banyak
kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat
diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala keterbatasan
yang penulis miliki, semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang
berkepentingan.
Surabaya, Mei 2012
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
ABSTRAKSI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 9
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA ... 11
2.1.Penelitian Terdahulu ... 11
2.2. Landasan Teori... 12
2.2.1. Definisi Risiko Pasar ... 12
2.2.2. Operating leverage ... 14
2.2.3. Liquidity ... 17
2.2.4. Return on assets (ROA) ... 20
2.2.5. Pengaruh Leverage terhadap Risiko Saham pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia ... 22
2.4. Hipotesis ... 25
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 26
3.2 Populasi Dan Sampel Penelitian ... 26
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 30
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Perusahaan ... 37
4.1.1. Gambaran Umum Bursa Efek Indonesia ... 37
4.1.2. Visi dan Misi PT. Bursa Efek Indonesia ... 39
4.1.3. Kelompok Saham LQ 45 ... 40
4.2. Hasil Pengujian ... 50
4.2.1. Hasil Pengujian Normalitas ... 50
4.2.2. Hasil Pengujian Asumsi Klasik ... 51
4.2.3. Hasil Pengujian Regresi Linier Berganda ... 54
4.3. Pembahasan ... 55
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 59
5.1. Kesimpulan ... 59
5.2. Saran ... 60
Tabel 4.2. Hasil Pengujian Multikolinieritas... 52
Tabel 4.3. Hasil Pengujian Heteroskedastisitas ... 53
Tabel 4.4. Hasil Pengujian Autokorelasi... 54
Tabel 4.5. Hasil Uji F ... 54
Oleh:
Alfian Nashr ullah
Abstr aksi
Pasar modal merupakan alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan. Bagi pemodal (investor), pasar modal merupakan sarana untuk menanamkan modalnya pada surat berharga, akan tetapi dalam duna bisnis hampir semua investasi mengandung risiko. Beta sebagai suatu ukuran risiko dapat digunakan sebagai estimator return yang akan diperoleh investor. Berdasar permasalahan tersebut dapat diketahui adanya nilai beta yang fluktuatif, dari hasil tersebut peneliti ingin mengetahui apakah tingkat Leverage, Likuiditas dan Profitabilitas berpengaruh Terhadap Risiko Saham pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 – 2010. Dari hasil tersebut jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 31 perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 – 2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan jenis data sekunder. Penelitian ini berlandaskan pendekatan kuantitatif dengan tekhnik analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa dari ketiga variabel yang dipakai yakni variabel financial leverage, Likuiditas,
profitabilitas dan financial leverage tidak berpengaruh berpengaruh terhadap beta
saham perusahaan LQ-45 di Bursa Efek Indonesia. .
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bagi negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, pasar modal
merupakan kesempatan dan tantangan menarik bagi para investor untuk
menanamkan investasinya pada perusahaan-perusahaan. Pasar modal merupakan
salah satu tempat bagi badan usaha untuk memperoleh pembiayaan atau dana
dengan cara penjualan saham, selain itu pasar modal merupakan salah satu
kekuatan bagi perusahaan untuk memobilisasi dana masyarakat. Pasar modal
menjadi alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan. Bagi
pemodal (investor), pasar modal merupakan sarana untuk menanamkan modalnya
pada surat berharga, akan tetapi dalam dunia bisnis hampir semua investasi
mengandung resiko. Dalam kaitannya dengan penanaman modal pada surat
berharga, investor dihadapkan pada resiko sehubungan dengan tingkat bunga yang
diharapkan. Dua kemungkinan yang dihadapi investor perolehan keuntungan yang
besar dengan resiko tertentu atau keuntungan tertentu dengan resiko yang kecil
(Husnan, 2004:169).
Untuk melakukan investasi harus diperhatikan dua unsur yang melekat
pada setiap modal atau dana yang diinvestasikan, yaitu hasil (return) dan resiko
(risk). Dua unsur ini selalu mempunyai hubungan timbal balik yang sebanding.
Umumnya semakin tinggi hasil, semakin besar resiko yang diperoleh dan semakin
yang cukup menarik namun tergolong beresiko tinggi adalah investasi dalam
saham. Untuk meminimalkan resiko dalam membeli dan menjual saham, investor
dapat juga menghubungi dan meminta nasehat dari analisis sekuritas.
Perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang manajemen
keuangan sangat membantu para investor dalam melakukan investasi dalam surat
berharga khususnya saham. Bagi investor, resiko merupakan salah satu komponen
utama dalam investasi selain return. Oleh karena itu, dalam pembuatan keputusan
investasi, investor akan selalu mencari portofolio optimum yang menawarkan
expected return maksimum pada tingkat resiko tertentu atau portofolio yang
menawarkan expected return tertentu dengan resiko yang minimum. Kondisi pasar
saham maupun kondisi perekonomian selalu berubah-ubah, membuat
ketidakpastian bagi investor untuk mendapatkan keuntungan (return). Unsur
ketidakpastian akan selalu melekat dalam dunia investasi. Para investor akan
selalu mendapatkan return yang berbeda dengan yang diharapkan. Resiko timbul
sebagai akibat adanya unsur ketidakpastian. Resiko akan semakin tinggi apabila
terjadi penyimpangan yang semakin besar terhadap return yang diharapkan.
Dengan kata lain apabila dari suatu kesempatan investasi diperoleh tingkat
keuntungan yang tinggi, maka resiko yang ditanggungnya akan tinggi pula.
Untuk mengukur risiko yang tidak dapat disebar dari suatu sekuritas atau
portofolio relatif terhadap risiko pasar digunakan beta saham. Beta suatu sekuritas
menunjukan kepekaan tingkat keuntungan sekuritas terhadap
perubahan-perubahan pasar. Beta fundamental merupakan koefisien beta yang dihitung
keuangan perusahaan. Salah satu kegunaan dari laporan keuangan adalah
menyediakan sumber informasi bagi investor yang dapat digunakan untuk menilai
prospek keuntungan perusahaan dan hambatan atau risiko yang dihadapi oleh
suatu perusahaan. Investor harus mampu melakukan analisis terhadap kinerja atau
prestasi perusahaan dimana investasi akan dilakukan. Salah satu informasi yang
biasa digunakan investor dalam menilai suatu perusahaan adalah laporan
keuangan.
Laporan keuangan merupakan informasi akuntansi yang menggambarkan
seberapa besar kekayaan perusahaan, seberapa besar penghasilan yang diperoleh
perusahaan serta transaksi-transaksi ekonomi apa saja yang dilakukan yang dapat
mempengaruhi kekayaan dan penghasilan perusahaan. Laporan keuangan sangat
berguna bagi investor untuk membuat keputusan investasi yang terbaik dan
menguntungkan. Berdasarkan analisis terhadap informasi laporan keuangan,
investor dapat mengetahui perbandingan antara nilai intrinsik saham dengan harga
pasar saham perusahaan yang bersangkutan dan atas perbandingan tersebut
investor akan dapat membuat keputusan apakah membeli atau menjual saham
yang bersangkutan. Untuk melakukan penilaian terhadap laporan keuangan,
diperlukan suatu alat ukuran tertentu sehingga besaran yang digunakan dapat
menggambarkan kondisi yang lebih berarti bagi pihak-pihak yang memerlukan
(investor) sebagai bahan pengambilan keputusan.
Ukuran yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan
adalah dalam bentuk rasio. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau
jumlah yang lain (Munawir dalam Aryadi:2002). Dengan menggunakan alat
analisis berupa rasio akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada
penganalisis baik buruknya keadaan atau kondisi suatu perusahaan.
Pada umumnya tindakan memaksimumkan nilai perusahaan juga akan
memaksimumkan harga saham. Dengan demikian, investor sangat berkepentingan
atas laporan keuangan perusahaan, khususnya neraca dan laporan laba-rugi
perusahaan (Brigham dan Houston (2001) dalam Aryadi (2007). Agar investasi
yang dilakukan mendapatkan tingkat keuntungan seperti yang diharapkan,
investor harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat dijadikan petunjuk
guna memprediksi harga saham. Berbagai model dan pendekatan dapat saja
digunakan untuk menilai kewajaran harga saham. Bagi negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia, pasar modal merupakan kesempatan dan tantangan
menarik bagi para investor untuk menanamkan investasinya pada
perusahaan-perusahaan. Pasar modal merupakan salah satu tempat bagi badan usaha untuk
memperoleh pembiayaan atau dana dengan cara penjualan saham, selain itu pasar
modal merupakan salah satu kekuatan bagi perusahaan untuk memobilisasi dana
masyarakat. Pasar modal menjadi alternatif bagi perusahaan untuk memperoleh
sumber pendanaan. Hal ini menunjukan bahwa peran investment company masih
sangat eksis untuk dikembangkan di indonesia,yang mana salah satunya adalah
PT dana reksa yang telah mengkelola portofolio sekuritas dalam sertifikat.
Faktor faktor penting dalam investasi keuangan (financial investment)
adalah perlunyan pemahaman yang diteliti dan mendalam tentang expected
bagian dari informasi akuntansi. Bagi pemodal (investor), pasar modal merupakan
sarana untuk menanamkan modalnya pada surat berharga, akan tetapi dalam dunia
bisnis hampir semua investasi mengandung resiko. Dalam kaitannya dengan
penanaman modal pada surat berharga, investor dihadapkan pada resiko
sehubungan dengan tingkat bunga yang diharapkan. Dua kemungkinan yang
dihadapi investor perolehan keuntungan yang besar dengan resiko tertentu atau
keuntungan tertentu dengan resiko yang kecil (Husnan, 2004:169). Beta pasar
adalah ukuran sensitivitas secara umum suatu saham atas gejolak pasar.
Perbedaan beta pasar antara berbagai perusahaan dipengaruhi secara signifikan
oleh factor-¬faktor khusus perusahaan yang dapat diukur dengan informasi
akuntansi.
Dengan informasi akuntansi dapat dihitung beta akunting. Beta akunting
adalah cara lain yang dapat digunakan dalam menentukan risiko. Penelitian ini
dimaksudkan untuk menguji korelasi antara beta pasar dengan beta akunting pada
perusahaan perbankan Indonesia yang telah go public di Bursa Efek Jakarta. Jika
beta akunting merupakan estimator yang baik dalam menentukan beta pasar maka
beta akunting dapat menggantikan peran beta pasar.
Penelitian tentang pengaruh leverage terhadap beta saham dilakukan oleh
(Na’im dan Sufiyati, 2005). Penelitian ini meneliti pengaruh Leverage, operating
leverage, dan risiko bisnis secara bersama-sama terhap beta saham biasa.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah financial dan operating leverage merupakan
faktor utama yang mempengaruhi beta saham, begitu pula dengan risiko bisnis
penelitian tersebut dapat disimpilkan bahwa terdapat pengaruh secara
bersama-sama antara operating dan Leverage terhadap risiko sistematik saham.
Laverage ratio menggambarkan pengukuran seberapa jauh aktiva
perusahaan dibiayai dengan hutang (Ritanto:1997 dalam Soegiarto:2002).
Semakin tinggi tingkat leverage ratio perusahaan, semakin tinggi risiko
finansialnya.
Liquidity diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi dengan
hutang lancar (Hartono:2000). Liquidity diprediksikan mempunyai hubungan yang
negatif dengan beta, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid
perusahaan, semakin kecil risikonya. Likuiditas yang tinggi akan memperkecil
risiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek kepada
kreditur. Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah berarti makin kecil total aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan
perusahaan untuk dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segara harus
Tabel 1.1 Beta Saham Per usahaan LQ 45 Tahun 2007-2010
Per usahaan 2007 2008 2009 2010
Bank Central Asia Tbk 0,14646 -0,35442 0,31497 0,01893 Semen Gresik (Persero) Tbk 0,35059 0,02045 0,0312 0,54697 PT. Astra Otoparts Tbk 0,19858 -0,03753 -0,35678 0,7459 Perusahaan Gas Negara Tbk 0,28462 -0,24148 0,22777 0,11687 Bank Negara Indonesia Tbk 0,04942 -0,04229 0,34342 0,08718
Indosat Tbk 0,06449 -0,17557 0,14063 -0,29227
United Tractors Tbk -0,14381 0,09263 0,13811 -0,05186 Indofood Sukses Makmur Tbk -0,00887 0,66099 -0,03587 0,27652 Matahari Putra Prima Tbk -0,0673 -0,00239 0,29725 0,0213 Aneka Tambang (Persero) Tbk 0,00402 0,35753 0,97435 -0,48453 Astra International Tbk 0,03741 -0,19834 0,15469 -0,11992 Energi Mega Persada Tbk 0,24946 0,22425 0,14563 -0,00419 PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk 0,24856 0,18664 0,01905 0,10066 Gajah Tunggal Tbk -0,25536 0,29016 0,00023 0,42086 Kalbe Farma Tbk 0,09178 0,08092 0,06564 0,50221 Tempo Scan Pacific Tbk -0,24693 0,19977 -0,80342 0,00378
Sumber : diolah oleh peneliti.
Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa nilai beta saham pada
perusahaan LQ 45 cenderung meningkat, hal ini menandakan risiko saham pada
perusahaan LQ 45 juga meningkat. Penurunan nilai beta saham dalam penelitian
ini diindikasikan oleh variable leverage, likuiditas dan Return on Aset. Oleh
karena itu penelitian ini juga untuk mengkaji konsistensi pengaruh faktor – faktor
yang mempengaruhi beta untuk periode 2007 sampai dengan 2010.
Laverage merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana aktiva
karena itu Leverage mempunyai hubungan Negatif dengan Beta Saham. Jika
perusahaan menggunakan hutang semakin banyak, maka semakin besar beban
tetap yang berupa bunga dan anggsuran pokok pinjaman yang harus dibayar. Ini
akan memperbesar kemungkinan perusahaan menghadapi default akibat
kewajiban yang semakin besar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin
besar financial leverage, makin tinggi risiko keuangannya
Liquidity diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi dengan
hutang lancar (Hartono:2000). Liquidity diprediksikan mempunyai hubungan
yang negatif dengan beta, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid
perusahaan, semakin kecil risikonya. Likuiditas yang tinggi akan memperkecil
risiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek kepada
kreditur. Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah berarti makin kecil total aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan
perusahaan untuk dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segara harus
dipenuhi.
Beta akunting berdasarkan ROA memiliki hubungan negatif pula
dengan beta pasar. Hubungan beta akunting berdasarkan ROA yang negatif
terhadap beta pasar ini mengindikasikan bahwa tingkat keuntungan yang
diperoleh dari total aktiva tidak besar. Bank-bank dalam penelitian ini rata-rata
memiliki ROA yang kurang dari rata-rata tingkat bunga deposito. Beta ROA
negatif kemungkinan disebabkan oleh ROA yang negatif pada hampir semua
bank. Ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh perusahaan mengalami kerugian
negatif sangat besar, terjadi hampir pada seluruh perusahaan Hal ini berarti
perusahaan pada umumnya mengalami kerugian sangat besar.
Berdasar permasalahan tersebut dapat diketahui adanya nilai beta yang
fluktuatif, dari hasil tersebut peneliti ingin mengetahui apakah tingkat Leverage,
Likuiditas dan Profitabilitas berpengaruh Terhadap Risiko Saham pada perusahaan
LQ45 di Bursa Efek Indonesia.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat
merumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Apakah leverage berpengaruh terhadap risiko saham perusahaan LQ45 di
Bursa Efek Indonesia ?
2. Apakah Likuiditas berpengaruh pada risiko saham perusahaan LQ45 di Bursa
Efek Indonesia ?
3. Apakah profitabilitas berpengaruh pada risiko saham perusahaan LQ45 ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh Leverage terhadap risiko saham perusahaan
LQ45 di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh Likuiditas pada risiko saham perusahaan LQ45
di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas risiko saham perusahaan LQ45 di
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun beberapa manfaat yang diharapkan dalam penelitian adalah
sebagai berikut.
1. Bagi peneliti : penelitian ini akan dapat bermanfaat bagi penulis sebagai
bentuk penerapan teori-teori yang telah diajarkan khususnya masalah risiko
saham
2. Bagi Akademisi dan pembaca : untuk pengabdian institusi pendidikan dalam
membuat solusi praktis pada dunia usaha.
3. Bagi peneliti lain : dapat memberikan kontribusi dalam penelitian selanjutnya
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Penelitian Ter dahulu
Keinginan peneliti untuk mengadakan penelitian tentang analisis variabel
yang berpengaruh terhadap Risiko pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek
Indonesia didorong penelitian terdahulu yang dilakukan oleh :
1. Wiwik Utami (2003)
Penelitian ini dengan judul ”Pengaruh Faktor Fundamental Perusahaan
Terhadap Risiko Beta Saham: Periode Krisis Di Bursa Efek Jakarta”.
Masalah yang dikaji adalah: Apakah faktor fundamental perusahaan yang
tercermin dalam variable keuangan secara simultan berpengaruh terhadap
risiko beta saham ? dan Faktor fundamental apa yang secara signifikan
berpengaruh terhadap risiko beta saham ?
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa, Faktor fudamental
perusahaan yang terdiri dari leverage ratio, deviden payout ratio, debt to
equity ratio, asset growth, operating ratio, sales growth, dan kepemilikan
secara bersama-sama mampu menjelaskan 78,8 % dari variasi risiko beta.
Faktor fundamental yang berpengaruh signifikan terhadap risiko beta adalah
leverage ratio, asset growth dan deviden payout ratio.
2.
3. Siti Zubaidah, (2004)
Penelitian ini denan judul Analisis Pengaruh Tingkat Inflasi,
Perubahan Nilai Kurs Terhadap Beta Saham Syariah Pada Perusahaan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor fundamental
perusahaan terhadap beta saham. Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa antara tahun 2001 sampai dengan 2003, kondisi tingkat
inflasi di Indonesia terjadi perubahan yang tidak mencolok, sedang
perubahan kurs terutama antara rupiah dan nilai dollar juga ada
perubahan yang tidak jauh, dapat dikatakan bahwa perubahan nilai kurs
juga cukup stabil. Dari hasil uji hipotesis, dapat diketahui bahwa tingkat
inflasi dan perubahan nilai kurs secara bersamaan berpengaruh secara
tidak signifikan terhadap beta saham syariah sedang, tingkat inflasi dan
perubahan nilai kurs secara parsial berpengaruh secara tidak signifikan
terhadap beta saham syariah. Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Tandelilin (2001)
2.2. Landasan teor i
Adapun untuk mendukung penelitian ini maka landasan teori yang
dibutuhkan antara lain sebagai berikut :
2.2.1. Definisi Risiko Pasar
Risiko pasar adalah merupakan suatu pengukur volatilitas return suatu
sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar, Hartono (2000) dikutip dari
Soeratno (2007). Oleh karena itu Risiko dapat digunakan untuk mengukur fisiko
dari suatu sekuritas atau portofolio relative terhadap risiko pasar. Volatilitas dapat
diartikan sebagai fluktuasi dari return-return suatu sekuritas atau portofolio dalam
sejauh mana tingkat pengembalian suatu saham berubah karena adanya perubahan
dipasar.
Risiko yang lebih besar berarti Risiko lebih tinggi dan akan memiliki
tingkat keuntungan yang diharapkan lebih tinggi pula. Tujuan orang melakukan
investasi adalah untuk menghasilkan sejumlah uang. Tetapi pernyataan tersebut
nampaknya terlalu sederhana sehingga diperlukan adanya jawaban yang tepat
mengenai tujuan investasi yang lebih luas. Tujuan investasi yang lebih luas adalah
meningkatkan kesejahteraan investor. Kesejahteraan dalam hal ini adalah
kesejahteraan moneter, yang bisa diukur dengan penjumlahan pendapatan saat ini
ditambah pendapatan di masa mendatang (Tandelin, 2003).
Dalam berinvestasi setiap investor menginginkan adanya return, tetapi
untuk memperoleh return yang tinggi seorang investor harus menghadapi risiko.
Jika tingkat risiko suatu investasi tinggi maka tinggi pula return dari investasi
tersebut (Husnan, 2001). Risiko adalah variabilitas return dari sesuatu yang
diharapkan. Menurut Horne (1989), risiko saham terdiri dari 2 macam :
1. Risiko sistematik adalah variabilitas dari return saham atau portofolio yang
berhubungan dengan perubahan return pasar secara keseluruhan. Risiko
sistematik ini tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi
2. Risiko tidak sistematik adalah variabilitas dari return saham atau portofolio
yang tidak dapat dijelaskan oleh pergerakan pasar secara umum. Risiko tidak
sistematik ini dapat dihindari dengan diversifikasi.
Untuk mengetahui sumbangan suatu saham terhadap risiko suatu
seberapa risiko saham tersebut apabila dimiliki secara terpisah, tetapi harus
dengan mengukur risiko pasarnya dan ini akan mendorong untuk mengukur
kepekaan saham tersebut terhadap perubahan pasar. Kepekaan tingkat return
terhadap perubahan pasar disebut dengan Risiko.
Risiko merupakan ukuran risiko yang berasal dari hubungan antara
tingkat return saham terhadap return pasar (Husnan, 2001). Horne (1989)
mendefinisikan Risiko sebagai indeks dari risiko sistematik. Ukuran risiko
sistematik yang biasa digunakan oleh peneliti terdahulu adalah Risiko. Risiko
suatu sekuritas menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu sekuritas
terhadap perubahan pasar. Risiko merupakan suatu pengukur volatilitas return
suatu sekuritas atau return portofolio terhadap return pasar.
Dengan demikian Risiko adalah pengukur sistematik dari suatu sekuritas
terhadap risiko pasar (Jogiyanto, 2003). Menurut Ang (1997) dan Horne (1989)
koefisien Risiko dapat menunjukkan karakteristik suatu sekuritas. Apabila ßi > 1
berarti kenaikan return sekuritas lebih tinggi dari kenaikan return pasar, biasanya
sekuritas tersebut digolongkan dalam aggresive stock. Jika ßi < 1 berarti kenaikan
return sekuritas tersebut lebih rendah dibanding dengan kenaikan return pasar,
biasanya sekuritas tersebut digolongkan dalam defensive stock.
2.2.2. Operating leverage
Operating leverage menunjukkan proporsi biaya perusahaan yang
merupakan biaya tetap. Biaya tetap menjelaskan fluktuasi dari earning before
operating leverage ini disebut sebagai degree of operating leverage yang diukur
dengan membandingkan antara persentase perubahan EBIT dengan persentase
perubahan sales. Berdasarkan Balancing Theory, bahwa, perusahaan yang
memiliki laba sebelum bunga dan pajak (Earning Before Interest and Tax atau
EBIT) yang besar akan memiliki jumlah utang yang besar untuk mengurangi
pembayaran pajak. Dengan perkataan lain, perusahaan yang memiliki laba
yang besar, akan memiliki rasio utang yang besar sehingga perusahaan tersebut
memiliki tingkat resiko yang tinggi. Semakin besar DOL suatu perusahaan
menunjukkan bahwa perusahaan tersebut rentan terhadap perubahan situasi pasar,
sehingga semakin tinggi risikonya.
Leverage merupakan rasio yang memperlihatkan proporsi antara
kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan yang dimiliki. Leverage keuangan
adalah penggunaan utang, apabila hasil pengembalian atas aktiva yang
ditunjukkan oleh besarnya rentabilitas ekonomi lebih besar daripada biaya utang
maka Leverage itu menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal
(rentabilitas modal sendiri) ini juga akan meningkat (Sawir,2005:13).
Rasio Leverage mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan
hutang. Beberapa analis menggunakan istilah rasio solvabilitas, yang berarti
mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya
(Husnan,2003:560).
Leverage adalah cara bagaimana perusahaan membiayai aktivanya, Leverage
keuangan sama dengan penggunaan hutang. Apabila hasil pengembalian atas
dan hasil pengembalian atas modal dengan penggunaan Leverage ini juga akan
meningkat ( Weston,2005: 23).
Rasio Leverage ( utang ) keuangan menunjukkan sejauh mana perusahaan
dibiayai melalui utang ( Van Horne,1998:205), rasio ini menekankan pada peran
penting pendanaan utang bagi perusahaan dengan menunjukkan persentase aktiva
perusahaan yang didukung oleh pendanaan utang ( Van Horne,1998:210). Tetapi
Leverage keuangan juga bagaikan pedang bermata dua. Perusahaan yang
mempunyai rasio utang yang tinggi menghadapi risiko rugi yang lebih tinggi pada
masa resesi, tetapi tingkat pengembalian yang diharapkannya juga lebih tinggi
pada masa cerah. Sebaliknya, perusahaan dengan rasio utang yang rendah tidak
berisiko besar, tetapi peluangnya untuk melipatgandakan pengembalian atas
ekuitas juga kecil (Weston,2005:301).
Menurut Fakhruddin dan Hadianto (2001;59), Rasio Leverage atau rasio utang
adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan
dibiayai oleh utang atau oleh pihak luar. Rasio ini menunjukkan sejauh mana
perusahaan dibiayai atau difinansiir oleh pihak luar atau dengan kata lain finansial
Leverage menunjukkan proporsi atas penggunaan utang untuk membiayai
investasi perusahaan. Rasio Leverage memiliki sejumlah implikasi. Pertama, para
kreditur memandang ekuitas, atau dana yang dipasok pemilik,sebagai suatu
pelindung atau basis penggunaan hutang. Jika pemilik hanya menyediakan
sebagian kecil dari pembiayaan total, risiko perusahaan sebagian besar ditanggung
oleh kreditur. Kedua, dengan mengumpulkan dana melalui hutang, pemilik
terbatas. Ketiga, penggunaan hutang dengan tingkat bunga yang tetap
memperbesar baik keuntungan maupun kerugian bagi pemilik. Keempat,
penggunaan hutang dengan biaya bunga yang tetap dan dengan saat jatuh tempo
yang tertentu memperbesar risiko bahwa perusahaan mungkin tidak dapat
memenuhi kewajiban-kewajibannya. Rasio Leverage menurut Husnan (2001:219)
yang mengukur seberapa banyak dana yang disupply oleh pemilik perusahaan
dalam proporsinya dengan dana yang diperoleh dari kreditur perusahaan. Di
dalam praktiknya rasio Leverage dihitung dengan dua cara. Pertama dengan
memperhatikan data yang ada di neraca. Kedua mengukur resiko utang dari
laporan laba rugi, yaitu seberapa banyak beban utang bisa ditutup oleh
perusahaan. Kedua kelompok rasio ini bersifat saling melengkapi dan umumnya
para analisi menggunakan keduanya. Rasio Leverage mengukur tingkat
solvabilitas suatu perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan
untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut
pada saat itu dilikuidasi. Dengan demikian solvabilitas berarti kemampuan suatu
perusahaan untuk membayar semua utang-utangnya, baik jangka panjang maupun
jangka pendek (Sawir,2005:13).
2.2.3. Liquidity
Liquidity diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi dengan
hutang lancar (Hartono:2000). Liquidity diprediksikan mempunyai hubungan yang
negatif dengan Risiko, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid
perusahaan, semakin kecil risikonya. Likuiditas yang tinggi akan memperkecil
kreditur. Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah berarti makin kecil total aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan
perusahaan untuk dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segara harus
dipenuhi.
Rasio Likuiditas adalah rasio yang memperlihatkan hubungan kas
perusahaan dan aktiva lancar lainnya terhadap kewajiban lancarnya,
(Weston,2005:295), Rasio lancar adalah angka rasio atau “nisbah” yang diperoleh
dengan jalan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini
menunjukkan sampai mana tagihan-tagihan jangka pendek dari para kreditor dapat
dipenuhi dengan aktiva yang diharapkanakan dikonversi menjadi uang tunai
dalam waktu dekat.
Risiko Likuiditas adalah risiko yang muncul jika suatu pihak tidak dapat
membayar kewajibannya yang jatuh tempo secara tunai. Meskipun pihak tersebut
memiliki aset yang cukup bernilai untuk melunasi kewajibannya, tapi ketika aset
tersebut tidak bisa dikonversikan segera menjadi uang tunai, maka pihak tersebut
dikatakan tidak likuid.
Hal ini bisa terjadi jika pihak pengutang tidak dapat menjual hartanya
karena tidak adanya pihak lain di pasar yang berminat membelinya. Hal ini
berbeda dengan penurunan drastis harga aktiva, karena pada kasus penurunan
harga, pasar berpendapat bahwa aktiva tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak
yang berminat menukar (membeli) aktiva kemungkinan hanya disebabkan karena
biasanya lebih besar kemungkinan terjadi pada pasar yang baru tumbuh atau
bervolume kecil.
Risiko Likuiditas merupakan suatu risiko keuangan karena adanya
ketidakpastian Likuiditas. Suatu lembaga dapat berkurang Likuiditasnya jika
peringkat kreditnya turun, mengalami pengeluaran kas yang tak terduga, atau
peristiwa lain yang menyebabkan pihak lain menghindari transaksi atau
memberikan pinjaman ke lembaga tersebut. Suatu perusahaan juga dapat terpapar
terhadap risiko Likuiditas jika pasar yang diikutinya mengalami penurunan
Likuiditas. Rasio Likuiditas adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan
suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva
lancarnya. Rasio Likuiditas yang umumnya digunakan adalah current ratio.
Current ratio yang tinggi biasanya dianggap menunjukkan tidak terjadi masalah
dalam Likuiditas.
2.2.3.1. Cur r ent ratio
Current ratio adalah rasio untuk menghitung berapa kemampuan
perusahaan dalam membayar hutang lancar dengan aktiva lancar yang tersedia.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban financial jangka pendek. Artinya jika kewajiban-kewajiban
finansial jangka pendek jatuh tempo mampukah perusahaan mengatasi hal
tersebut. Current ratio adalah untuk menghitung berapa kemampuan perusahaan
dalam membayar utang lancar dengan aktiva lancar yang tersedia. Semakin tinggi
rasio ini berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi
mengetahui kesanggupan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya adalah rasio lancar. Menurut Munawir (2002;72), mengatakan bahwa
rasio ini menunjukkan bahwa nilai kekayaan lancar (yang segera dapat dijadikan
uang) ada sekian kalinya hutang jangka pendek. Jika suatu perusahaaan tidak
dapat memenuhi kewajiban dalam jangka pendek maka perusahaan tidak akan
memperoleh kesempatan untuk menghasilkan laba.
Menurut Wetson and Copeland (2005;255), current ratio dihitung dengan
membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Aktiva lancar terdiri dari kas,
surat berharga, piutang, dan persediaan; sedangkan kewajiban lancar terdiri dari
hutang dagang, hutang bank jangka pendek, hutang jangka panjang yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun, pajak yang harus dibayar dan biaya-biaya lain
yang masih harus dibayar. Rasio lancar dijadikan sebagai indikator bahan
pertimbangan bagi investor dalam menilai kinerja suatu perusahaan dan hal ini
akan mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Berikut rumus current ratio
s
(profitabilitas) yang terpenting digunakan untuk memprediksi harga atau return
saham perusahaan publik. Return on assets (ROA) digunakan untuk mengukur
efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan
ROA merupakan rasio antara laba sesudah pajak terhadap total asset.
Semakin besar ROA menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena tingkat
kembalian (return) semakin besar. Return on asset (ROA) juga merupakan perkalian
antara faktor net income margin dengan perputaran aktiva. Net income margin
menunjukkan kemampuan memperoleh laba dari setiap penjualan yang diciptakan
oleh perusahaan, sedangkan perputaran aktiva menujukkan seberapa jauh perusahaan
mampu menciptakan penjualan dari aktiva yang dimilikinya. Apabila salah satu dari
faktor tersebut meningkat (atau keduanya), maka ROA juga akan meningkat. Apabila
ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak
akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham
(Suad Husnan,2001:hal.340).
ROA yang semakin meningkat menunjukkan kinerja perusahaan yang
semakin baik dan para pemegang saham akan memperoleh keuntungan dari dividen
yang diterima semakin meningkat. Dengan semakin meningkatkan dividen yang akan
diterima oleh para pemegang saham merupakan daya tarik bagi para investor dan atau
calon investor untuk menanamkan dananya ke dalam perusahaan tersebut. Dengan
daya tarik tersebut membawa dampak pada calon investor dan atau investor untuk
memiliki saham perusahaan semakin banyak. Jika permintaan atas saham perusahaan
semakin banyak maka harga saham perusahaan tersebut di pasar modal cenderung
meningkat. Dengan meningkatnya harga saham maka capital gain dari saham
tersebut juga meningkat. Hal ini disebabkan karena actual return merupakan selisih
2.2.5. Penga r uh Leverage ter hadap Risiko Saham pada per usahaan LQ45
di Bur sa Efek Indonesia
Laverage merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan
dibiayai dengan hutang. (Husnan:(2001) dalam Hartono: (2000). Oleh karena itu
Leverage mempunyai hubungan Negatif dengan Risiko Saham. Jika perusahaan
menggunakan hutang semakin banyak, maka semakin besar beban tetap yang
berupa bunga dan anggsuran pokok pinjaman yang harus dibayar. Ini akan
memperbesar kemungkinan perusahaan menghadapi default akibat kewajiban
yang semakin besar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin besar
financial leverage, makin tinggi risiko keuangannya.
Menurut Utami (2003:7), Leverage didefinisikan sebagai nilai buku total
hutang jangka panjang dibagi dengan total aktiva. Leverage diprediksi
mempunyai hubungan positip dengan Beta. Bowman (1980) menggunakan
pengukuran leverage dengan formula yang berbeda, yaitu rasio total hutang
dengan total aktiva menurut harga pasar. Hasilnya tidak berbeda, yaitu
mempunyai hubungan positip.
Berdasarkan pendapat diatas maka peneliti mempunyai kesimpulan bahwa
leverage memiliki pengaruh positif terhadap risiko saham.
2.2.6. Pengar uh Likuiditas ter hadap Risiko Saham pada per usahaan LQ45 di
Bur sa Efek Indonesia
Liquidity diukur sebagai current ratio yaitu aktiva lancar dibagi dengan
negatif dengan Risiko, yaitu secara rasional diketahui bahwa semakin likuid
perusahaan, semakin kecil risikonya. Likuiditas yang tinggi akan memperkecil
risiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek kepada
kreditur. Sebaliknya, tingkat likuiditas yang rendah berarti makin kecil total aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan
perusahaan untuk dapat memenuhi semua kewajiban finansial yang segara harus
dipenuhi.
Menurut Utami (2003:7), Likuiditas (Liquidity) diukur dengan current rasio
yaitu aktiva lancar dibagi hutang lancar. Likuiditas diprediksi mempunyai
hubungan yang negatip dengan Beta, secara rasional diketahui bahwa semakin
likuid perusahaan, semakin kecil risikonya..
Berdasarkan pendapat diatas maka peneliti mempunyai kesimpulan bahwa
likuiditas memiliki pengaruh negatif terhadap risiko saham.
2.2.6. Penga r uh Profitabilitas ter hadap Risiko Saham pada per usahaan
LQ45 di Bur sa Efek Indonesia.
Risiko akunting berdasarkan Profitabilitas memiliki hubungan negatif pula
dengan Risiko pasar. Hubungan Risiko akunting berdasarkan Profitabilitas yang
negatif terhadap Risiko pasar ini mengindikasikan bahwa tingkat keuntungan
yang diperoleh dari total aktiva tidak besar. Bank-bank dalam penelitian ini
rata-rata memiliki Profitabilitas yang kurang dari rata-rata-rata-rata tingkat bunga deposito.
Risiko Profitabilitas negatif kemungkinan disebabkan oleh Profitabilitas yang
perusahaan mengalami kerugian mulai dari tahun 1997 sampai tahun 1999 atau
mass krisis moneter. Profitabilitas bertanda negatif sangat besar, terjadi hampir
pada seluruh perusahaan Hal ini berarti perusahaan pada umumnya mengalami
kerugian sangat besar.
Berdasarkan pendapat diatas maka peneliti mempunyai kesimpulan bahwa
profitabilitas memiliki pengaruh negatif terhadap risiko saham.
2.3. Ker angka Konseptual
Leverage ( X1)
Likuiditas (X2)
Profitabilitas (X3)
2.4. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian dan landasan
teori yang digunakan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Leverage berpengaruh positif terhadap Risiko Saham pada perusahaan LQ45
di Bursa Efek Indonesia.
2. Likuiditas berpengaruh negatif terhadap Risiko Saham pada perusahaan LQ45
di Bursa Efek Indonesia.
3. Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap Risiko Saham pada perusahaan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Definisi Oper asional dan Pengukuran Var iabel
Agar variabel yang digunakan dalam penelitian ini dapat diukur,serta untuk
menghindari adanya kesalapahaman dan penafsiran makna yang berbeda, maka
variabel dalam penelitian ini harus diberi definisi. Adapun definisi dari variabel –
variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Resiko Saham
Merupakan resiko suatu saham yang menunjukan kepekaan suatu return
saham terhadap return pasar. Semakin besar beta suatu saham. Semakin
besar kepekaan return saham tersebut pada perubahaan pasar. Beta pasar
dihitung dengan menggunakan indeks tunggal.
Ri = αi + βi.Rm + εi
Keterangan :
Ri = return saham
Rm = return pasar
αi = intersep dari regresi untuk masing-masing perusahaan ke-i
βi = koefisien beta
b. Leverage
Rasio Leverage (X1), adalah penggunaan aktiva atau dana dimana untuk
penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau
menghitung total utang dibagi dengan total aktiva dari suatu perusahaan
pada periode tertentu. Leverage dapat dihitung dengan rumus :
it
TUit : total utang perusahaan i periode t
TAit : total aktiva perusahaan i periode t
c. Likuiditas
Rasio Likuiditas (X2), adalah merupakan kemampuan perusahaan untuk
dapat menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih. tingkat Likuiditas
(X2), dapat diukur dengan melihat current ratio suatu perusahaan. Current
ratio adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka pendek dengan harta lancar yang dimilikinya.
Current ratio dapat diukur dengan rumus :
s
current = (Weston dan Copeland, 1992:265)
Dimana :
Current asset : total aktiva lancar perusahaan i periode t
d. Profitabilitas
Profitabilitas adalah rasio keuangan perusahaan yang berhubungan
dengan aspek earning atau profitabilitas. Profitabilitas berfungsi untuk
mengukur efektifitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan
memanfaatkan aktiva yang dimiliki. Rasio ini dapat diperoleh dengan
rumus :
ROA =
3.3 . Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan LQ45 di Bursa
Efek Indonesia selama periode 2008 – 2010 yang berjumlah 45 perusahaan.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari sebuah populasi, yang mempunyai ciri
dan karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itu sebuah
sampel harus merupakan representatif dari sebuah populasi, (Sumarsono,
2002 : 44). Dalam melakukan penarikan sampel, digunakan metode
“Simple Random Sampling” yaitu teknik penarikan sampel dimana setiap
anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk ditarik sebagai
sampel, dan setiap anggota diberikan nomor, selanjutnya sampel ditarik
secara random dengan mempergunakan undian atau tabel bilangan
maka dapat ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dalam Umar
e = persen kelonggaran tingkat kesalahan 5%
Maka pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut :
n =
31 perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 – 2010.
No Per usahaan J umlah
3.4. Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. J enis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian merupakan jenis data sekunder,
yaitu data yang diikuti dari prospektus dan neraca dari 17 perusahaan LQ45 di
Bursa Efek Indonesia.
3.4.2. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder diperoleh dari pihak luar yang berupa data laporan keuangan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.4.3. Metode Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan teknik dokumentasi (Nazir, 1988:57) yaitu teknik pengumpulan
data dengan cara mempelajari dan menganalisa dokumentasi laporan keuangan
perusahaan LQ45 selama periode pengamatan tahun 2008 - 2010.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan cara:
1. Dokumentasi
Metode penelitian ini dilakukan dengan mengambil data dari dokumen –
dokumen berupa informasi data perusahaan dan data lainnya yang
behubungan dengan penelitian.
2. Studi Kepustakaan
Studi Kepustakaan adalah penelitian yang mempelajari tentang catatan –
teks maupun jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini, sebagai
pembantu pemecahan guna membahas masalah – masalah yang dihadapi
dalam penulisan ini.
3.5. Teknis Analisis dan Uji Hipotesis
3.5.1. Uji Asumsi Klasik
3.5.1.1. Multikolinier
Multikolinier merupakan suatu keadaan dimana satu atau lebih variabel
independen terdapat korelasi atau hubungan dengan varaibel independen lainnya,
dengan kata lain satu atau lebih variabelnya merupakan suatu fungsi linier dari
variabel independen yang lain. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
Multikolinearitas dilakukan pengujian dengan VIF (Variance Inflation Factors)
test. Dengan ketentuan sebagai berikut : (Santoso,2001:2006) :
• jika VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas
• jika VIF >10, maka terjadi multikolinearitas
3.5.2.2. Heter okedastisitas
Bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi
ketidak samaan varians residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain
tepat, mak disebut homokedastisitas. Dan jika varians berbeda disebut
heterokedastisitas. Model yang baik adalah yang tidak terjadi heterokedastisitas.
Uji heterokedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji White
apakah terjadi heterokedastisitas atau tidak yaitu dengan melihat probabilitas. Bila
probabilitas > 0,05 maka tidak terjadi heterokedastisitas.
3.5.1.2. Autokor elasi
Autokorelasi adalah hubungan yang terjadi diantara anggota-anggota
sampel dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu ( time
series data). Suatu jenis pengujian yang umum digunakan untuk mengetahui
adanya autokorelasi telah dikembangkan oleh J. Durbin dan G. Watson. Pengujian
ini sebagai satatistik dw ( Durbin Watson) yang dihitung berdasarkan jumlah
selisih kuadrat nilai-nilai taksiran faktor-faktor gangguan yang berurut
(Sumodiningrat,1994:231).
Identifikasi gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan kurva di bawah ini.
Gambar 2. Kur va Dur bin Watson
0 dL dU 4-dU 4-dL 4
Tidak ada aut okorelasi
posit if dan t idak ada
3.5.2. Teknik Analisis
Analisis Regresi Berganda adalah alat analisis statistika yang digunakan
untuk mengukur hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel bebas
terhadap variabel terikat.
Persamaan Regresi Linier Berganda :
Y = α + βX 1 + βX 2 + βX 3 + ε
Keterangan :
Y = Risiko Saham
α = bilangan konstanta
β = koefisien regresi
ε = kesalahan pengganggu
X1 = Leverage
X2 = Likuiditas
X3 = Profitabilitas
3.5.3. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan mengenai pengaruh dari
variabel bebas baik secara simultan maupun secara parsial terhadap variabel
terikat dilakukan pengujian hipotesis sebagai berikut :
Uji t
Uji parsial (t-tab) dilakukan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel
variabel independen, yaitu Beta Saham perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia
pada tahun 2008-2010 (Gozhali, 2006 : 108).
Ho : β1 = 0 (tidak ada pengaruh antara variabel bebas secara parsial terhadap
Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0,05 dengan derajat bebas
(n-k), dimana n = jumlah pengamatan dan k = jumlah variabel.
Dengan nilai t hitung :
Sumber : Anonim,2003, Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian dan Skripsi, FE UPN “ Veteran” Jawa Timur, Surabaya, hal L-21
Ho diterima jika thit ˃ t tab
Ho ditolak jika thit > ttab
Daerah t olak Ho
Daerah t olak Ho
3.6.2. Uji F
Uji F digunakan menguji signifikansi pengaruh variabel independen, yaitu
Leverage, Likuiditas dan ROA secara individual terhadap variabel independen,
yaitu Beta Saham perusahaan LQ45 di Bursa Efek Indonesia pada tahun
2008-2010 dengan prosedur sebagai berikut :
1. Ho : β1 = β2 =...β t = 0 (X1,X2 dan X3 bersama-sama tidak
berpengaruh terhadap Y)
Ha : β1 = β2 =...β t ≠ 0 (X 1,X2 dan X3 bersama-sama
berpengaruh terhadap Y)
2. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 0,05 dengan
derajat bebas (n-k), dimana n = jumlah pengamatan dan k = jumlah
variabel.
R2 = koefisien determinasi
k = jumlah variabel
d. Daer ah kr itis Ho melalui k ur va distr ibusi F
gambar 3. Kur va Pengujian F
Sumber : Anonim,2003, Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian dan Skripsi, FE UPN “ Veteran” Jawa Timur, Surabaya, hal L-22
Ho diterima jika Fhit ˃ Ftab
Ho ditolak jika ≥ Ftab
Daerah t eri ma Ho
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Desk r ipsi Per usahaan
4.1.1. Ga mba r an Umum Bur sa Efek Indonesia
Perkembangan Bursa di Indonesia dimulai dari pendirian Badan
Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) sebagai pengelola Bursa pada tahun
1977. Pada saat itu merupakan masa paling sulit bagi Bapepam untuk
memperkenalkan dan mengembangkan Bursa di Indonesia. Dengan usaha
yang begitu besar baik dari tenaga SDM maupun dari dana yang
dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Bapepam, untuk pengembangan
Bursa di Indonesia nilainya cukup besar yang tidak mungkin dilakukan
oleh pihak swasta/SRO seperti dewasa ini.
Pengembangan Bursa membutuhkan waktu kurang lebih 15 tahun
untuk dapat menghasilkan 162 emiten. Baru setelah Bapepam berhasil
mengembangkan Bursa di Indonesia dan Bursa sudah menjadi kebutuhan
masyarakat Indonesia khususnya emiten dan investor, kemudian Bursa
diswastanisasikan (tahun 1992).
Dalam perjalanan penswastanisasian Bursa, untuk mendorong
percepatan pencatatan emiten dan perdagangan saham di Indonesia
khususnya di wilayah timur, Pemerintah melalui Bapepam mempelopori
dilanjutkan dengan pendirian BEJ pada tanggal 13 Juli 1992. Pendirian
BEJ adalah seiring dengan penswastanisasian Bursa Efek Indonesia. Pada
tahun 1992, Pemerintah mengalihkan peran Bapepam sebagai
penyelenggara Bursa kepada BEJ melalui swastanisasi Bursa.
Selanjutnya, pada tahun 1993 Pemerintah melalui Perserikatan
Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) mendirikan Bursa Paralel Indonesia
(BPI) untuk mengakomodasi transaksi di luar Bursa (over the counter).
Perkembangan berikutnya, pada tahun 1995 BPI digabungkan dengan
BES dan setelah penggabungan BES telah mampu mengembangkan
fasilitas pencatatan dan perdagangan bagi perusahaan menengah kecil
serta obligasi/ surat utang.
Setelah Bursa Efek Indonesia diswastanisasikan menjadi BEJ dan
BPI digabungkan dengan BES, perkembangan percepatan emiten saham,
emiten obligasi mengalami kenaikan. Namun, lima tahun terakhir (sejak
2002 hingga sekarang) emiten saham dan obligasi mengalami
perlambatan, dan di bidang instrumen lainnya seperti derivatif dapat
dikatakan belum mengalami kemajuan berarti. Kondisi ini mendorong
perlunya perhatian Pemerintah, dalam hal ini Bapepam dan LK, SRO,
dan pelaku pasar, untuk melakukan sesuatu yang strategis untuk
mencapai percepatan pertumbuhan jumlah emiten saham dan obligasi
serta perkembangan produk-produk yang dapat diperdagangakan di
yaitu penggabungan BES dan BEJ. Penggabungan kedua Bursa ini
diyakini dapat menghasilkan sinergi sehingga efisiensi pasar modal dapat
tercapai. Bursa Efek Indonesia (BEI) didirikan oleh pemerintah Indonesia
pada tanggal 1 Desember 2007 yang merupakan penggabungan antara
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).
4.1.2. Visi dan Misi PT. Bur sa Efek Indonesia
a. Visi
Visi Bursa Efek Indonesia tidak terlepas dari latar belakang
dilakukannya penggabungan BES-BEJ sebagaimana dituangkan
dalam Master Plan Pasar Modal 2005-2009 yaitu adanya suatu
keinginan untuk memiliki suatu Bursa yang kuat, bernilai, kredibel,
kompetitif dan berdaya saing global. Bertitik tolak pada keinginan
tersebut, maka visi Bursa Efek Indonesia dapat dinyatakan:
“To be a Strong, Valuable, Credible and World Wide Competitive
Bourse”.
b. Misi
Dalam usaha mencapai visi tersebut, Bursa Efek Indonesia perlu
menetapkan misi yang harus diemban setidaknya mencakup hal-hal
product.
2. to provide high technology infrastructures.
3. to meet customer satisfaction priority.
4. to strengthen investor’s protection.
5. to create market integrity and transparency.
6. to create high competencies and favorable choice for human
resource.
4.1.3. Kelompok Saha m LQ 45
Pada tanggal 24 Februari 1997, penyelenggara Bursa Efek
Indonesia memperkenalkan indeks baru kepada pelaku dan investor pasar
modal untuk memantau kecenderungan pasar dan nama indeks tersebut
adalah LQ45. Sesuai dengan namanya maka perhitungan indeks ini
didasarkan kepada nilai pasar dari 45 saham pilihan yang diseleksi setiap 6
bulan sekali dengan kriteria sebagai berikut:
1. Masuk dalam ranking 60 besar dari total transaksi saham di pasar
reguler (rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir).
2. Ranking berdasarkan kapitalisasi pasar (rata-rata kapatalisasi pasar
selama 12 bulan terakhir).
3. Telah tercatat / listed di Bursa Efek Jakarta minimal 3 bulan.
4. Keadaan keuangan perusahaan dalam prospek pertumbuhan dan
sebagai berikut :
a. Per usahaan Gas Negar a Tbk
Perusahaan Gas Negara Tbk. Didirikan berdasarkan akta notaris
Ny. Rukmasanti Hardjasatya, S.H., No 12 tanggal 3 Oktober 1988. yang
kemudian berubah nama menjadi Perusahaan Gas Negara Tbk
berdasarkan Akta Perubahan no. 9 tanggal 4 Agustus 1989 dari Notaris
yang sama. Akta Pendirian perusahaan dan perubahannya telah
disahkan oleh Menteri kehakiman republik Indonesia dalam surat
keputusan No. C2-10099.HT.01.01.TH.89 tanggal 31 Oktober 1989 dan
diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No.
101 Tambahan No. 3626.
b.Aneka Tambang ( per ser o) Tbk
Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Aneka Tambang
(“Perusahaan”) didirikan dan memulai aktivitas operasi pada tanggal 5 juli
1968 berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 tahun
1968 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 36
tanggal 5 juli 1968 dengan nama “Perusahaan Negara (PN) Aneka
Tambang”. Berdasarkan Pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang
lingkup kegiatan perusahaan terutama bergerak dalam bidang
berkaitan dengan pertambangan berbagai jenis bahan galian tersebut.
Kantor pusat Perusahaan berkedudukan di Jakarta. Saat ini,
Perusahaan mengoperasikan enam unit pertambangan yang masing-masing
berlokasi di Kijang, Pulau Bintan, Riau (bauksit); Pomalaa, Sulawesi
Tenggara (nikel); Pulau gebe, Maluku (nikel); Pulau Gee, Maluku (nikel);
Cilacap, Jawa Tengah (pasir besi); dan gunung Pongkor, Bogor, Jawa
Barat (emas). Perusahaan juga mengoperasikan unit pengolahan dan
pemurnian logam mulia serta unit geologi di Jakarta.
c. PT. Astr a Otopar ts Tbk
PT. Astra Otoparts Tbk (Perusahaan) didirikan berdasarkan akta
notaris No. 50 tanggal 20 September 1991 dari Rukmasanti
Hardjasatya, S.H., notaris di Jakarta, dengan nama PT. Federal
Adiwiraserasi. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam surat keputusan No.
C2-1326.HT.01.01.TH.92 tanggal 11 Pebruari 1992 dan diumumkan dalam
Berita Negara No. 39 Tambahan No. 2208 tanggal 15 Mei 1992.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan,
terakhir dengan akta notaris No. 50 tanggal 11 Mei 2000 dari Sutjipto,
S.H., notaris di Jakarta , terutama mengenai pengeluaran saham dan
efek ekuitas. Perubahan anggaran tersebut memperoleh persetujuan dari
Menteri Hukum dan Perundangan dengan surat keputusan No.
30 Maret 2001.
Perusahaan ini bergerak dalam perdagangan suku cadang
kendaraan bermotor baik impor maupun ekspor dan menjalankan usaha
dalam bidang industri logam, suku cadang kendaraan bermotor dan
industri plastik. Perusahaan ini mulai kegiatan komersialnya pada tahun
1991 dan memiliki divisi perdagangan yang beroperasi di Singapura.
d.PT. Bank Centr al Asia Tbk
Perusahaan ini pertama kali didirikan pada 10 Agustus 1955 di
Jakarta di bawah nama Bank Central Asia. PT. Bank Central Asia
bergerak dalam bidang Perbankan yang berkantor pusat di Wisma BCA
I Jl. Jendral. Sudirman Kav. 22-23 Jakarta 12920.
e. PT. Gajah Tunggal Tbk
PT. Gajah Tunggal Tbk (Perusahaan) didirikan berdasarkan akta
notaris No. 54 tanggal 24 Agustus 1951 dari Raden Meester Soewandi,
SH, dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam
Surat Keputusan No. J.A.5/69/23 tanggal 29 Mei 1952, serta
diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 63 tanggal 5
Agustus 1952.
Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang produksi Ban
kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua. Perusahaan ini
memiliki kantor pusat di Wisma Hayam Wuruk, Jl. Hayam Wuruk No.
PT. Astra Internasional Tbk didirikan pada tanggal 19 Oktober
1963 berdasarkan akta notaris Anwar Mahajudin, S.H., No. 69. Sesuai
dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan.
Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1913
di Surabaya sebagai industri rumah tangga. Pada tahun 1930 industri
rumah tangga ini diresmikan dengan dibentuknya NVBM handel
Maatschapij Sampoerna. Pada tahun 1990, Perusahaan melakukan
penawaran umum sebanyak 27.000.000 saham dengan nilai nominal
sebesar Rp. 1.000 (Rupiah penuh) persaham melalui Bursa Efek
Indonesia dan Surabaya dengan harga penawaran sebesar Rp. 12.600
(Rupiah penuh) per saham.
g. PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (“Perusahaan”) didirikan di
Republik Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1990 dengan nama PT.
Pangan Jaya Intikusuma, berdasarkan akta notaris Benny Kristianto,
S.H., No. 228. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.
C2-2915.HT.01.01.Th.91 tanggal 21 Juli 1991, dan diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia No. 12 Tambahan No. 611 tanggal
11 Februari 1992. Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali
mengalami perubahan, yang terakhir berdasarkan akta No. 42 tanggal
pelaksanaan progam pemilikan saham karyawan atau “ESOP”.
Perubahan-perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dan
Hak Asasi Manusia (sebelumnya Menteri Kehakiman) dalam Surat
Keputusan No. C-14539 HT.01.04.Th.2003 tanggal 25 Juni 2003.
Kantor pusat Perusahaan berlokasi di Gedung Ariobimo Sentral,
Lantai 12, Jl. HR. Rasuna Said X-2, Kav. 5, Jakarta, Indonesia,
sedangkan pabriknya berlokasi di berbagai tempat di pulau Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Perusahaan memulai operasi
komersilnya pada tahun 1990.
h.Ener gi Mega Per sada Tbk
Energi Mega Persada Tbk didirikan di Indonesia pada tanggal 16
Januari 1985 berdasarkan akta notaris Ridwan Suselo, S.H., No. 27. Akta
pendirian tersebut disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
dalam Surat Keputusan No. C2-2876HT.01.01.Th.85 tanggal 17 Mei 1985,
dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 946,
Tambahan No. 57 tanggal 16 Juni 1985. Anggaran dasar Perusahaan telah
beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta notaris Amrul
Partomuan Pohan S.H., LLM., No. 39 tanggal 25 Juli 2003 mengenai,
antara lain, peningkatan saham yang diterbitkan dan ditempatkan oleh
Perusahaan. Perubahan tersebut telah didaftarkan di Menteri Kehakiman
Jl. Jend Sudirman Kav 70-71, Jakarta. Pabriknya berlokasi di Citeureup-
Jawa Barat, dan Tarjun-Kalimantan Selatan.
i. PT. Indonesian Satellite Cor por ation Tbk
PT. Indosat Tbk dirikan oleh American cable dan Radio
Corporation yaitu suatu perusahaan yang didrikan berdasarkan
peraturan perundang-undangan Negara bagian Deleware USA Wynye
Time Maglio dengan akta pendirian No. J.A / 88.24 tertanggal 20
November 1967, dan di daftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta dengan
No. 2037 tertanggal 25 November 1967 dan diumumkan dalam Berita
Negara RI No. 26 pada tambahan No. 24 tertanggal 29 Maret 1968.
j. PT. Kalbe Far ma Tbk
PT. Kalbe Farma Tbk. (“Perusahaan”) didirikan dalam rangka
Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968.
Seperti yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya, ruang lingkup
kegiatan Perusahaan meliputi, antara lain usaha dalam bidang industri
dan distribusi produk farmasi (obat-obatan bagi manusia dan hewan).
Saat ini, Perusahaan terutama bergerak dalam bidang produksi dan
pengembangan produk farmasi. Perusahaan memulai operasi komersial
pada tahun 1966. Perusahaan berkedudukan di Jakarta, dan baik kantor
pusat maupun fasilitas pabrik keduanya berlokasi di Kawasan Industri